Mantra Kalimat

Percakapan Oliver dan Bill

Minggu, Maret 29, 2020

picture by: Javier Salido (www.unsplash.com)



Suddenly he said: “Can one ever experience pleasure that is not attached to an object? Pure pleasure?” 

I thought about this for a moment, marveling mostly that he had suddenly had this thought and voiced it. But I was not sure I understood. “What do you mean by ‘attached to an object?’” 

“Well, one can say, a piece of music gave you pleasure, or seeing a handsome face, or smelling something delicious. But can pleasure be independent of any influences?” 

I hesitated but thought of a feeling I get sometimes where I am conscious of nothing but a sense of well-being. “Yes, I think so. I am feeling it now. Do you?” 

“Yes, I do. And I think cannabis can bring this out.” 

I smiled. I am charmed that he always calls pot “cannabis”—I imagine Darwin would do the same.

“Oliver, are you experiencing this now?” 

His eyes were still closed: O watching his internal movies. “Yes, oh yes …” 

“Oliver, is this not happiness? Is this pure pleasure the same as happiness?”

“I don’t know. What do you think?” 

“I think not. Pleasure, even if it’s not dependent on an object, involves the senses—is sensuous. Pleasure can bring happiness, but happiness doesn’t necessarily give one pleasure. So which is of the higher order of the two?” 

“Happiness. Happiness is more complex.” 

“Agreed.” 

(disadur dari buku Insomniac City: New York, Oliver, and Me oleh Bill Hayes,  hal 114-115)

Love Story

Pelajaran tentang Hubungan Romantis

Sabtu, Maret 28, 2020

Kata Kak Emma, orang yang sedang jatuh cinta takut pada dua hal: takut ditolak dan takut kehilangan. 

Seorang senior memperkenalkan kami. Namanya Ra. Secara akademik, ia sangat outstanding. Kami sebaya. Namun, ia sudah mengantongi dua gelar master dan PhD. Kami berdua memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan, suka membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tampaknya kami bisa menjadi pasangan intelektual yang serasi, menurut hemat senior saya itu. Maka kami pun berkenalan. Jarak yang membentang di antara kami pun tak menjadi soal. Kami memulainya sebagai teman biasa. Selama kurang lebih 6 tahun, aku dan Ra hanya sesekali ngobrol dan berkirim ucapan selamat ulang tahun via Facebook. Semuanya berjalan smooth, tanpa tahu suatu saat akan bertemu secara fisik. 

Lalu tibalah waktunya. Semuanya tidak terduga. Waktu itu, Ra sedang melakukan riset disertasinya di Indonesia dan berkunjung ke Jogja. Seorang kawan membagi info bahwa ada diskusi dan dia menjadi pembicaranya. Aku ragu untuk datang. Kalau Ra memang menganggapku temannya, kenapa ia tak memberi kabar kalau akan datang ke Jogja? Namun, rasa ragu itu kalah dengan rasa penasaran. Maka, aku berangkat juga menuju kampus tempat diskusi itu dilaksanakan. 

Kami akhirnya bertemu. Ra langsung mengenaliku. Kami pun berjabat tangan dan ngobrol ringan. Dia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Aku sendiri juga akan ke Jakarta. Sayangnya, kami beda pesawat. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan untuk saling berkabar lagi setibanya di Jakarta. Siapa tahu ada momen untuk bertemu lagi. 

Seperti sedang berada dalam film, kami sepakat bertemu lagi. Ada beberapa temanku yang juga ikut dalam pertemuan itu. Ra menjadi pusat perhatiannya. Kami banyak ngobrol tentang dunia aktivisme. Dia adalah seorang marxist muda yang militan. Namanya sedang naik daun di dunia intelektual kaum muda Indonesia. Aku sendiri hanya beruntung mengenalnya jauh sebelum dia tenar. Aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Tampaknya, aku menemukan kamerad-ku. 

Pertemuan malam itu berakhir sekitar pukul 9 malam. Aku masih belum puas ngobrol maka kutawari ia untuk ngobrol di lobby hotel tempatku menginap. Aku sempat takut Ra menolak ajakanku. Di luar dugaan, dia setuju. Kami ngobrol hingga pukul setengah 1 malam. Pertemuan di Jakarta bermuara pada chatting yang kami lakukan. Aku harus kembali ke Jogja untuk bekerja. Dia harus melakukan penelitian lapangan. Di sela-sela itu, kami ngobrol via chat. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga diskusi intelektual. Kami bertukar pikiran. Kami mengeluarkan keresahan-keresahan yang ada di hati sebagai intelektual muda. Rasanya waktu itu menyenangkan dan semua hal menjadi bermakna. Hubungan itu kira-kira berjalan selama hampir satu tahun.

Namun, diam-diam aku menyimpan resah. Kami ini sebenarnya apa. Tentu dalam perjalanannya, aku membutuhkan kepastian. Lalu, aku mulai menganalisis dan curhat pada sahabatku, Annisa. Annisa mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia kemudian memberi tahu pengetahuan yang sama sekali baru buatku. Menurut Annisa, laki-laki memiliki strategi dalam mendekati perempuan untuk kemudian dijadikan pasangannya. Bagi mereka, perempuan adalah sekumpulan ikan di samudra yang luas. Strategi itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah strategi jaring pukat harimau. Bagai nelayan yang menangkap ikan dengan pukat harimau, maka semua ikan diterima di dalam jaringnya. Dalam tahap ini, mereka menerima semua cewek yang mendekati atau mendekati semua cewek yang mereka sukai. Menurut Annisa, aku sudah masuk di level ini. Strategi kedua adalah tahap menstabilkan api. Sudah tak ada lagi pengejaran berlebihan. Hubungan asmara berada dalam api yang stabil. Setelah masuk dalam tahap ini, dimulailah seleksi. Proses seleksi tentu berdasarkan preferensi yang dipengaruhi oleh pengalaman, konstruksi gender, impian masa kecil, keinginan mencari yang mirip “Ibunya”, dan fantasi seksual yang referensinya berasal dari film porno dan media populer lainnya. Dalam penjelasan yang berperspektif ekonomi-politik, mereka mulai melakukan seleksi berdasarkan kebutuhan dan kepentingan. Maka, perempuan yang paling dekat dengan kebutuhan mereka atau memiliki kapital yang paling banyaklah yang akan menang. Teori ini sudah diuji Annisa dengan metode in-depth interview pada 10 laki-laki dari 3 kota berbeda di Pulau Jawa. Aku sendiri menanyakan hal ini pada Daddy. Dengan bahasa yang sederhana, Daddy menjelaskan padaku. Girls, teori ini nyata adanya. Namun, tidak hanya laki-laki saja yang memakai strategi ini. Perempuan juga ternyata mempraktekkan hal yang sama (kita akan bahas di lain kesempatan).

Di masa itulah, aku mulai mengalami yang dinamakan fenomena diberi harapan palsu. Aku merasa ngambang. Aku merasa sendirian dalam hubungan ini. Aku memberi terus tetapi tidak pernah menerima. Dia tidak pernah benar-benar hadir untukku. Dia masih membalas chat tapi chat-nya seadanya dan hanya untuk tetap terkesan baik. Bagaimanapun kami dihubungkan oleh senior kami yang sama-sama kami hormati. Setelah kupelajari polanya dan diskusi dengan Annisa, aku menemukan bahwa Ra menjadikanku seperti ban serep. Dia memiliki target yang sesungguhnya, tapi belum dia dapatkan. Tampaknya, perempuan yang lebih ia sukai itu juga tidak memberikan kepastian. Maka, untuk mengobati kerinduannya, ia tetap meladeniku (dan mungkin juga para fans-nya yang lain) sebagai pengobat rasa sepinya. 

Lama-kelamaan aku tidak tahan juga. Aku harus mendapatkan kepastian. Jalan satu-satunya adalah mengungkapkan perasaan. Aku kini berhadapan dengan dilema yang sungguh klasik. Aku hidup dalam tatanan kultur patriarki yang akan memandang hina perempuan yang mengungkapkan perasaannya pada laki-laki. Di sisi lain, aku harus memperjuangkan perasaanku. Ditolak ataupun diterima, itu masalah lain. Aku membutuhkan penjelasan. Aku teringat Anthony Giddens dalam bukunya The Transformation of Intimacy bahwa ikhwal demokrasi berasal dari hal-hal privat yang diperjuangkan. Bagaimana bisa memperjuangkan hak-hak publik ketika hak-hak pribadi saja tidak bisa. Saat itu aku merasa seperti pejuang cinta yang heroik. Bagi pejuang, hanya ada dua pilihan: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah atau kalah. 

Aku akhirnya mengungkapkan perasaanku. Berat untukku. Ada rasa malu dan takut. Tapi, aku menguatkan diri. Aku menyatakan aku menyukainya dan merasa hubungan kita selama setahun sudah cukup membuatku belajar mengenalnya. Lalu, aku menanyakan apakah ia memiliki perasaan yang sama padaku dan mau berelasi serius denganku. Ra menjawab bahwa ia berterima kasih aku memiliki perasaan padanya. Namun, Ra jujur mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Ia ingin berteman denganku saja. Ra mengakui bahwa ia menyukai perempuan lain yang ternyata sudah dekat dengannya setahun ini (hasil diskusi dengan Annisa terbukti). Tapi, dia sendiri juga galau karena sang Nona belum memberikan dia kepastian. Aku menghela napas panjang. Dengan ksatria aku menerima “kematian”-ku. Aku bilang kalau begitu aku tidak bisa lagi berhubungan dengan dia seperti kemarin-kemarin. Aku butuh jarak. Aku butuh waktu untuk menetralkan perasaanku dulu. Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat dan sukses untuknya dan semoga ia berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Ra juga mengucapkan hal yang sama. Hubungan kami benar-benar berakhir.

Tentu setelah itu aku sedih luar biasa. Aku mendengarkan lagu-lagu patah hati. Untuk pertama kalinya, aku mengerti makna lagu November Rain-nya Guns N' Roses. Aku bisa merasakan Axl Rose meneriakkan jeritan jiwaku. Aku mengalami penolakan sekaligus kehilangan. Aku curhat pada Mami. Mami menghiburku. Beliau bilang, “Ya harus diterima kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Itulah saran cinta terakhir dari Mami. Aku menangis sepanjang minggu itu. Sampai semua rasa sakitku menghilang, aku tidak mau menjalin relasi dengan orang lain atau menjadikan orang lain sebagai rebound. Aku mau menyelesaikan dulu luka batinku. Jika aku siap, aku percaya aku akan jatuh cinta lagi. Dalam masa penyembuhan itu, aku menjalani hari-hariku dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan bersama Annisa (yang juga mengalami patah hati), kami berkolaborasi untuk menuliskan pengalaman patah hati kami ke dalam jurnal ilmiah. Tujuannya, kami ingin berbagi pengetahuan dan menguatkan satu sama lain. 

Namun, hidup selalu punya kejutannya sendiri. Beberapa waktu kemudian aku mendapat berita tak terduga. Kabar itu datang dari sahabatku Tedtod. Tedtod bercerita bahwa gadis yang disukai Ra adalah temannya saat masih di Belanda. Gadis itu juga idola di kalangan intelektual muda Indonesia. Sama-sama memiliki kepedulian kepada kemanusiaan dan aktivisme. Gadis itu cantik sekali. Aku bisa melihat bahwa wajar saja Ra memilih dia. Aku menerima bahwa modal sosial gadis itu lebih banyak. Tidak apa-apa. Semua orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Kelak Tedtod memberi tahuku bahwa gadis itu akhirnya tidak bersama dengan Ra. Ia memilih menikah dengan orang lain. 

Dua tahun kemudian, aku bertemu Ra di suatu konferensi akademik. Perasaanku padanya sudah netral. Kami bertemu tidak sengaja. Ia terlihat canggung dan salah tingkah. Kami sempat ngobrol sebentar, tapi rasanya sudah berbeda. Kami seperti dua orang asing. Ia bahkan beberapa kali menghindariku. Semuanya sudah jauh berbeda. Aku mencoba bersikap seperti teman lama. Tapi, Ra sudah tidak bisa biasa lagi. Mungkin inilah kesedihannya, kita pernah tidak saling mengenal, lalu berhubungan, lalu kemudian berpisah, dan menjadi dua orang asing kembali. 

***

Aku mengenang peristiwa itu sebagai pelajaran tentang hubungan romantis. Kadang di kelas aku membagikan pengalaman ini dengan mahasiswa-mahasiswaku. Aku bisa relate dengan perasaan mereka yang jatuh bangun dengan cinta. Ya, jatuh cinta memang bukan pilihan. Itu seperti peristiwa kecelakaan. Akan tetapi, memilih untuk berelasi adalah pilihan sadar dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan konsekuensi. Tak ada relasi yang tanpa penderitaan. Seperti kata Alain de Botton, "It is normal that you are suffering. Life is suffering". Ide berelasi tanpa menderita adalah khayalan. Penderitaan itu terjadi karena kita adalah manusia yang punya kelebihan dan kelemahan. Justru karena kita manusia maka relasi kita tidak sempurna dan kita harus mengakui dan menerima itu. Memutuskan berelasi dengan seseorang adalah seperti memilih penderitaan dari penderitaan yang ada. Setiap kisah cinta hanyalah awal karena selanjutnya adalah proses dan keterampilan untuk sampai pada tindakan cinta.

Peristiwa itu juga mengajariku untuk menguji apakah intensiku tulus untuk mencintai seseorang atau tidak. Kadang kita silau dengan seseorang karena hal-hal yang melekat padanya. Hasrat pada keindahan adalah manusiawi, namun hal itu harus diuji dengan kebenaran. Apakah kita siap menerima bahwa orang yang dipuja dan dipandang wow oleh orang banyak ternyata memiliki sisi-sisi yang ternyata membuat kita kecewa? Apakah kita mencintai seseorang karena "dia" dengan segala kelebihan dan kekurangannya atau karena dia merupakan piala yang diperebutkan banyak orang. Kita pun cenderung menjadikan pasangan kita sebagai pemuas kebutuhan. Hubungan itupun tak lepas dari saling bertransaksi. Tampaknya memang adil dan setara, tetapi apakah itu memanusiakan manusia?

Hal lain yang juga menyakitkan dan membuatku merasa terkhianati adalah kenyataan bahwa banyak intelektual dan aktivis laki-laki yang mempelajari teori anti penindasan tapi ternyata (sadar atau tidak) tetap mempraktekkan penindasan. Banyak juga yang membaca teori feminisme dan mendukung gerakan perempuan tetapi masih patriarkal dan tak mau melepaskan privelese yang diberikan padanya. Melepas privelese, berarti tidak menjadi "laki-laki". Banyak yang akhirnya memilih tetap menjadi "laki-laki" daripada menjadi manusia. Akibatnya, meskipun mereka berbicara tentang kemanusiaan, mereka tidak bisa relate dengan penderitaan kemanusiaan yang sesungguhnya. 

Pada akhirnya, aku sampai pada suatu pertanyaan: bagaimana kita bisa berbicara tentang cinta, jika kita tidak tahu caranya mencintai?

Life Story

5 Hal Yang Dilakukan Saat WFH

Jumat, Maret 20, 2020

Marilah kita mencoba tenang, berusaha mengikuti anjuran Pemerintah demi kebaikan bersama. Berdoalah bagi keselamatan diri sendiri dan orang lain serta mereka yang telah lebih dulu pergi mendahului kita. Life makin gets weird dan mungkin kita tidak punya banyak waktu untuk mengucapkan I Love You, Sorry, dan Thank You pada orang-orang yang kita kasihi. 

Di tengah-tengah kekacauan ini, ada 5 Hal yang bisa kita lakukan saat Work From Home (WFH): 

1. Kerjalah...

Menurut ngana? Tetaplah koordinasi dengan pimpinan dan kolega demi kelancaran pekerjaan bersama (termasuk tugas Anda juga). Kadang kita lupa bahwa tujuan ketika kita "dirumahkan" bukan berarti liburan. Life doesn't stop for anybody, begitu quote dari novel/film The Perks of Being a Wallflower kesukaannya Kak Emma. Sayangnya, kerja dengan teknologi kadang-kadang menyebalkan karena kalau hujan keras bisa saja mempengaruhi jaringan sinyal wifi atau paket data Anda tiba-tiba habis saat debat masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang. Kita akhirnya sadar ada yang terbatas. Ada yang ternyata sementara ketika komunikasi itu termediasi. Secanggih-canggihnya teknologi, tetap tak bisa menggantikan interaksi kontak fisik antar manusia. 

2. Membersihkan rumah atau kamar kos

Banyak hal-hal menarik yang bisa terjadi saat kita membersihkan rumah atau kamar kos. Selain suasananya menjadi segar dan barang-barang menjadi bersih dan rapi, anda juga bisa menemukan hal-hal menarik. Misalnya, ternyata kalau membersihkan debu kita bisa berhadapan dengan makhluk bernama Tungau, sejenis hewan kecil berkaki delapan yang suka hinggap di kasur dan debu. Hasilnya, bagi mereka yang kulitnya sensitif siap-siap saja kulitnya akan gatal-gatal dan merah-merah. Saya mempraktekkan hal ini. Selain bertemu Tungau, saya menemukan sisa oatmeal almarhumah Mami yang tersimpan di kontainer sejak terakhir kali Mami berkunjung. Ambyar-lah sudah pertahanan ini. 

3. Menyulam 

Sebenarnya tujuan menyulam untuk relaksasi. Seorang sahabat saya bahkan menggunakannya sebagai terapi untuk mengatasi kecemasannya. Mungkin ini berhasil di orang lain. Saya anaknya cepat bosan dan kalau sudah tidak menarik lagi, saya tinggalkan. Menyulam sama sekali tidak cocok lagi untuk saya. 

4. Movie Maraton 

Ini kegiatan yang sangat saya sukai sekaligus yang membuat saya merasa bersalah karena justru mengalihkan fokus saya dari kerjaan yang di-WFH-kan. Kalau film lepas masih asik sih. Paling ketika satu film selesai, kita bisa menjauh sejenak, mengendapkannya dulu, dan kembali ke kerjaan utama. Tapi bagaimana kalau itu adalah film serial seperti drama korea atau serial Netflix? Bukannya rileks jadi makin penasaran. Yang tadinya berjanji untuk satu episode aja, tahu-tahu sudah habis satu season. Untuk hal ini, jika Anda tidak kuat iman, lebih baik hindari. 

5. Tidur Siang Plus-Plus 

Yang saya maksud bukan tidur dipijat sambil mandi kucing, melainkan tidur siang beneran. Bayangkan, cuaca mendung di siang hari. Angin berhembus dingin dan lembut. Langit mulai menghitam. Anda sudah makan siang dan mulai mengantuk. Bukalah lebar-lebar pintu kamar Anda,  biarkan angin bermain-main masuk ke dalam kamarmu. Putarlah lagu-lagu Indonesia era 80-an akhir sampai pertengahan 90-an dengan volume rendah. Tidurlah di lantai dengan bermodalkan karpet, bantal kepala, dan guling. Rasakan hembusan angin dan suara Andre Hehanussa bernyanyi Kuta Bali. Ini sebuah kenikmatan hakiki, kawan. 
Catatan: Ini berlaku jika kamar anda di lantai atas dengan model rumah joglo dan memiliki ruang tengah berbentuk taman. Jika tak punya rumah bergaya demikian, cukup kunci pintu kamar anda dan nyalakan kipas angin atau AC. Pastikan rumah atau kamar kos anda aman.  


Selamat mencoba.

Life Story

Kangen

Rabu, Maret 11, 2020

salah satu pemandangan manis yang kutemukan di kota Berlin *dok.pribadi


Kak Ems,

Rindu tidak saja terjadi pada seseorang, tetapi juga bisa terjadi pada sebuah kota. Sebuah tempat yang pernah kita tinggali atau hanya sekedar singgah. Kota yang membuat kita berani menjadi diri sendiri dan tidak takut untuk mengenalnya lebih dekat. Kota yang menyediakan berbagai pengalaman-pengalaman yang mengejutkan. Kota yang membuatmu menjadi pemeran utama di film tentang hidupmu sendiri. Kota yang membuatmu berani kemana-mana sendiri atau menikmati percakapan dengan kawan-kawanmu sambil berjalan kaki. Menikmati pagi yang membawa harapan dan menghadirkan malam yang menghibur setelah satu harimu yang melelahkan berlalu.

Dulu aku pernah begitu merindukan sebuah kota. Kota itu begitu jauh terletak dari tempatku berada sekarang. Sebuah kota impian karena bahkan pernah kuimpikan akan menjadi tempatku menetap. Udaranya yang dingin sejuk, jalan-jalan yang lengang, museum-museum, toko-toko barang antik, bangunan-bangunan Bavaria berwarna cokelat, kuning, atau putih, sampai pub dan klub malam yang kosmopolit. Kota dimana aku akan menimba ilmu disana. Bertemu orang-orang baru. Merasakan pengalaman baru. Menemukan dongeng-dongeng yang menakjubkan yang sama sekali berbeda dari dongeng-dongeng dari tempatku berasal. Di dalam gereja tua yang terletak di jantung kotanya, aku pernah meminta pada Tuhan sampai airmataku berlinang untuk dapat kembali lagi kesana. Bukan sebagai pelancong, tetapi seorang pembelajar yang haus ilmu. Suatu saat, aku akan tinggal dan belajar disana. Mungkin juga bertemu pasanganku. Harapku.

Aku suka quote yang dikatakan Woody Allen di film Manhattan, "He was as tough and romantic as the city he loved".  Aku mengagumi Woody Allen dan karya-karyanya. Siapapun yang menonton film-filmnya pasti sepakat bahwa Allen mampu menghadirkan sebuah kota sebagai karakter dan bukan sekedar latar. New York, Paris, atau Barcelona menjadi persona yang tak hanya memuaskan mata dengan lanskap yang indah dan ikonik, tapi sisi "biasa" dari kehidupan sehari-hari yang abai kita perhatikan. Tokoh lain adalah karakter Carrie Bradshaw yang diperankan Sarah Jessica Parker dalam serial Sex and The City yang mempersonakan dan melibatkan New York dalam hidupnya. Aku suka episode ketika Carrie sedang berelasi romantis dengan New York. Darisitu kita bisa memaknai bahwa sebuah kota memiliki tangan-tangan tak terlihat untuk merajut benang-benang koneksi di antara setiap insan yang hidup dalamnya.

Terkait rasa rinduku, tahukah Kak Ems bahwa aku bertemu dengannya di kota ini bukan di kota yang kuimpikan itu. Itu terjadi pada tahun 2017. Waktu itu aku menghadiri sebuah acara dimana ternyata dia menjadi salah satu panitianya. Kami belum berjumpa waktu itu dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana rupanya. Karena aku harus bertemu dengan mentorku untuk persiapan bertemu calon supervisor S3, aku pulang duluan dari kegiatan itu. Di acara itu sendiri,  masih ada dua sahabatku yang masih tinggal, sebut saja June dan Lion. June memotret secara candid Lion yang sedang reuni dengan teman-teman kuliahnya dulu. Foto itu diposting Lion di Instagramnya. Aku me-like foto itu dan hanya memperhatikan ekspresi lucu Lion dan teman-temannya. Tahun 2018, aku datang ke perpustakaan dan bertemu secara langsung dengannya untuk pertama kali. Aku langsung mengenalinya karena dia berbeda dari kebanyakan orang-orang disana. Waktu itu aku bergumam dalam hati, "Kayaknya yang ini orangnya...". Tak ada yang berkesan dari pertemuan itu. Kami pun tidak berkenalan dan ia hanya melihatku sekilas seperti biasa kita menengok kalau ada customer yang masuk untuk antri di teller bank. Tahun 2019, barulah kami berjumpa lagi dan berkenalan secara resmi. Beberapa waktu kemudian, Lion teringat foto yang dipotret Juni. Dan kami semua terkejut, karena ada satu orang masuk dalam framing foto itu selain Lion dan teman-temannya. It was him!

Kak Ems benar, tak ada kepenuhan yang didambakan selain bertemu dengan yang kita rindukan. Atau dalam hal ini, kesempatan untuk berkunjung kembali ke kota yang kita rindukan. Aku berdoa semoga Kak Ems diberi kesempatan lagi untuk kembali ke Sydney. Berpelukan kembali dengan udara dan ambience kota itu. Mengitari jalan-jalan kecilnya. Menonton konser yang digelar disana. Bertemu kembali dengan kawan-kawan lama. Memakan makanan favorit yang disantap saat weekend. Semoga kita masih diperkenankan melalui perziarahan ini dan selalu menemukan teman di setiap tikungan jalan.

salam sayang,
Mei

Life Story

Bertemu Mami Lagi

Minggu, Maret 08, 2020

Aku merindukan Mami. Aku rindu curhat dengannya. Ada banyak perkembangan dalam kehidupan. Ada banyak kisah yang ingin kubagi dengannya. Aku ingin meminta pendapat Mami untuk beberapa hal. Aku butuh saran beliau untuk menghadapi hidup ini: di dunia kerja, dunia sosial, dunia keluarga, dan dunia percintaan. Beberapa hari sebelumnya aku menangisinya. Lalu, sebagai obat rindu aku baca kembali pesan-pesan singkat Mami yang masih kusimpan dan menonton videonya yang sedang bernyanyi lagu andalannya kalau ke acara kawinan: "Ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu...hanya kamu seorang kasihku...tak mau yang lain....". Aku mau bergosip dengan Mami. Aku mau update kalau laki-laki yang dulu tak jadi dijodohkan Mami denganku itu sudah menikah dengan gadis yang disodorkan padanya setelah aku. Pestanya mewah dan meriah. Keduanya tampak sempurna. Aku ikut senang sekaligus menyadari betapa bedanya jalan hidup yang akhirnya kupilih.

Seperti tahu anaknya membutuhkannya, hari ini Mami datang dalam mimpiku. Aku jatuh tertidur antara jam 10 pagi sampai setengah 3 siang. Mimpinya berlapis-lapis, namun yang pasti terasa Mami masih hidup. Ia hadir disana, tampak muda dan segar. Aku tidak ingat dia pakai baju apa. Dalam segala misterinya, aku bisa merasakan itu Mami. Kami ngobrol entah di rumah siapa. Suasananya siang hari. Mami ada disitu mendengarkanku curhat tentang seorang sahabat. Aku tidak ingat bilang apa. Tapi yang jelas membahas sahabat itu. Di mimpi itu, Mami memberikanku ubi goreng yang dipotong bentuk lidi sehingga kalau digoreng jadi lebih crispy dan roti bakar cokelat. Keduanya adalah makanan favoritku dan demi Tuhan rasanya sangat enak. Aku jadi fokus makan daripada curhat. 

Dari responnya Mami kelihatan senang dengan sahabatku itu. Aku tak ingat dia bilang apa. Tapi feeling-nya sih baik-baik saja. Ia mau melihat fotonya. Aku mengambil hapeku dan menyodorkannya pada Mami. Ada fotonya disitu. Tapi, entah mengapa fokusku teralihkan ke ubi bentuk lidi dan roti bakar yang demi Tuhan enak sekali itu. Tak berapa lama kemudian, aku merasa kesadaranku berangsur-angsur kembali. Tanda mimpi ini akan berakhir. Aku kesal karena dua hal: makananku belum habis dan aku tidak tahu reaksi Mami ketika melihat fotonya. Aku terbangun sesaat. Lalu kembali tidur.

Kemudian ada mimpi baru lagi. Lokasinya ada di dalam gereja. Itu gerejanya sahabatku itu. Di sana ada dia dan teman-temannya. Berdiri membelakangi altar. Tapi disitu juga ada sekelompok ibu-ibu berpakaian ungu. Kira-kira tiga baris mereka mengisi bangku di sayap kanan. Itu ibu-ibu PKP, organisasi perempuan gereja yang diikuti Mami dan Mami Ice semasa hidup. Mami pernah menjadi ketuanya juga. Apakah ada Mami dan Mami Ice disana? Aku tidak ingat. Di gereja, terjadi hal yang mengejutkanku. Dua kubu bertemu. Kubu gerejanya dan kubu gerejaku. Ada meja putih panjang di tengah yang memisahkan bangku sayap kanan dan kiri seperti model perjamuan di gereja Protestan. Wait, What? Mereka memang sedang melakukan perjamuan bersama. Aku ada disana juga. Duduk di bangku belakang. Mengamati mereka. Lalu, aku terbangun. Aku tidak mengerti arti mimpi ini. 

Apakah memang ini kejadian mistis? atau hanyalah angan-anganku yang membentuk mimpi itu? entahlah. Satu yang pasti, aku bersyukur aku bisa bertemu Mami lagi meskipun hanya dalam mimpi.


Ps: Besok malamnya, Tedy datang dan memberiku ubi goreng. 

Life Story

Angin Puting Beliung

Jumat, Maret 06, 2020

Kami bertengkar.

Pertengkaran yang tidak diprediksi. Ia sedang kasmaran. Siapa yang bisa menyalahkan orang yang lagi dimabuk asmara? Disitulah kulihat cinta berubah menjadi obsesi. Disitulah aku melihat cinta yang membebaskan berubah menjadi penjara kepemilikan. Semuanya demi ego dan pembuktian diri.

Temanku ini, padanya aku bertekad untuk menemani perjalanannya. Namun, cintanya membuatnya buta. Di tengah medan pertempuran, dia telah salah melangkah. Ia menyalakan bom yang mencelakakan kami semua. Ini menyakitkan karena justru di saat kami seharusnya saling mendukung satu sama lain. Ada banyak beban tugas tak masuk akal, penolakan, dan keadaan tak terduga yang terjadi. Kami berada di dalam pusaran angin puting beliung yang dahsyat. Dan temanku ini membakar lumbung persediaan semangat kami. 

***

Aku marah padanya tapi sekaligus sedih untuknya. Aku kecewa mengapa ia melakukan hal itu. Tapi aku mengerti mengapa ia melakukan itu. Aku terjebak di antara area abu-abu yang membuat tatanan moralku kacau. Aku menjadi tidak konsisten terhadap nilai-nilai yang kupegang. Aku merasa ini kasih, tapi sisi lain diriku mengatakan aku salah menafsirkan kasih itu. Aku bingung harus bagaimana. Mungkin ada yang tidak benar dengan caraku mengasihi. Aku bisa salah. Aku harus mengulang semuanya dari awal.

Kami pernah berbagi cerita bersama dan menangis bersama. Tapi, kasih persahabatan bisa dikalahkan dengan kasih asmara. Mungkinkah sebenarnya aku atau dia tidak benar-benar bersahabat? Mungkinkah kami hanya menggunakan satu sama lain sebagai tempat sampah? Saling curhat tentang hubungan asmara yang tidak diterima dunia dengan orang yang bisa menerimanya rasanya seperti menemukan cahaya dalam gelap. Aku bertanya-tanya, jika aku yang berada di posisinya, apakah aku akan melakukan hal yang sama? Apakah aku akan mengorbankan teman-temanku yang bersamaku sejak semula dan memilih orang yang katanya "kekasih" ini sebagai tujuan hidup? 

Aku ingat Simone de Beauvoir menulis bahwa dalam mencintai laki-laki dan perempuan berbeda memaknainya. Bagi laki-laki, mencintai berarti ekspansi atas kepemilikan. Ini berasal dari pandangan bahwa perempuan adalah obyek atau milik kepunyaan yang menjadi tanda pada status sosial (semakin banyak semakin kaya/kuat/manly). Penaklukkan adalah segalanya. Laki-laki tidak berhasrat pada perempuan yang sudah didapatnya. Mereka tidak akan memancing di kolam yang ikannya sudah didapat. Mereka berhasrat menaklukkan yang belum didapat, yang merupakan yang diincar kalau perlu oleh banyak lelaki. Perempuan seperti sebuah bola yang diperebutkan 21 pria dalam pertandingan sepakbola. 

Sementara itu, perempuan dalam mencintai berarti meleburkan seluruh eksistensinya kepada lelaki yang dicintainya. Jika pada pria, cinta adalah penaklukkan, maka pada perempuan cinta adalah devosi. Tentu, perempuan juga memiliki hasrat untuk ditaklukkan. Mereka juga ingin mengontrol lelakinya. Menjadi pengganti ibu mereka. Seperti ada semacam kemenangan manakala bisa mengubah bad boy menjadi good boy. Maka dimulailah permainan cinta itu, tarik-menarik kekuasaan. Saling takluk dan menaklukkan. Sekilas memang tampak adil dan setara. Tetapi, apakah itu memanusiakan manusia?

Life Story

Disiapkan dan Dibaharui

Minggu, Februari 02, 2020

Itu kata kunci hari ini. 

Jika kamu ditugaskan untuk menjadi terang, maka kamu juga akan dipersiapkan dan akan terus-menerus diperbaharui. "Kamu mau jadi apa, Meike? Air yang membeku atau lilin yang menyala?". Itu pertanyaan Mbak Sika pada saya setelah mengeluh terlalu lama jadi garam: bertugas memberi rasa, mempengaruhi namun tidak terlihat. Kalau ada diabaikan, tapi kalau tidak ada dicari. "Apa bedanya, Mbak?," tanyaku. Mbak Sika menjelaskan, " Kalau jadi es nanti kamu mencair. Kalau jadi lilin, kamu meleleh. Kamu menerangi orang lain dengan cara mengorbankan dirimu". Aku mengerutkan kening. Kok ngeri ya? 

Mbak Sika tertawa satir. Aku juga tertawa kecut dan menimpali," Hmm...setidaknya kalau jadi lilin, walaupun meleleh, masih bisa diperbaharui. Sisa-sisa lilin yang meleleh itu bisa didaur ulang jadi lilin baru". Mbak Sika tidak setuju dengan pendapatku. Menurutnya, lilin yang meleleh ya tidak berguna lagi. Lalu, aku menjelaskan panjang lebar bagaimana lilin-lilin bekas di gereja ataupun di Goa Bunda Maria dapat diproses kembali menjadi lilin baru. Tidak ada yang sia-sia, bahkan sampah pun dapat menjadi makanan lezat bagi bakteri.

Ngomong-ngomong soal dipersiapkan dan dibaharui, kami akan segera memasuki masa latihan dasar sebagai abdi negara. Percepatan kegiatan ini adalah mujizat mengingat pengalaman sebelumnya dan drama-drama yang terjadi. Dukungan untuk melanjutkan pendidikan begitu mendapatkan fungsional pun dijamin. Saya mau menangis rasanya mendengar kabar itu langsung. Namun, latsar itu jangan dikira tak ada drama. Dengan adanya aturan baru, kami wajib mengikuti tidak saja pendidikan dasar sebagai pelayan publik, tetapi juga pendidikan militer. 

Selain itu, kampus tempatku bekerja masuk dalam komponen cadangan pertahanan negara. Itu artinya selain mewarisi budaya yang militeristik, jika terjadi peperangan, kami juga akan diikutsertakan. Kami harus pintar-pintar membagi diri: kapan jadi ilmuwan yang kerjanya mikir, kapan jadi abdi yang setia melayani, dan kapan jadi tentara yang siap tempur. 

Doakan kami ya teman-teman. Semoga selalu kuat dan tahan banting menghadapi kehidupan ini. Kalian jangan khawatir, kami punya selera humor dan selera makan yang bagus untuk tetap ceria dan semangat. 


Life Story

Surat Buat Juni

Sabtu, Februari 01, 2020

Juni sayang, 

Semoga kamu tetap semangat dan ceria melakukan apa yang sedang kamu persiapkan disana. Hatiku sedih mengetahui bahwa kamu sakit. Seperti gayamu juga, kamu memberitahu ketika dirasa sudah tepat waktunya, yang mana kamu sudah melewati fase sakitnya. Jantung dalam bahasa Inggris disebut heart dan kita memakai kata itu untuk memaknai tindakan cinta. Aku sedang di rumah Bu E waktu itu. Disana ada Pendeta Rosa, suaminya, dan si kecil Ben. Kami sedang makan Tahun Baru bersama. Hidangannya adalah makanan Sulawesi. Ada brene bon dan babi papiong. Kami bercerita banyak hal. Bu E terlihat berbeda setelah sembuh dari sakit. Ia singa betina yang semakin sulit kupahami. Orang-orang yang diurapi Tuhan ini selalu membuatku bingung. Mereka mencintai kita tetapi sekaligus kadang menyingkirkan kita begitu saja. Lalu, mereka bisa datang kembali dalam hidup kita dan kita bisa menerima mereka dengan tangan terbuka. Tanpa dendam, tanpa sakit hati. Setidaknya bagiku. 

Aku mencuci tanganku di kitchen sink dan baru memperhatikan ada pajangan berisi surat 1 Korintus 13: 4-8 dalam bahasa Inggris digantung dekat kran air. Aku tidak ingat ada pajangan itu disitu padahal kita sudah sering main ke rumah Bu E sejak bertahun-tahun lalu. Sungguh aneh menyadari bahwa banyak hal-hal kecil di sekitar kita yang luput dari perhatian kita. Hal-hal yang justru bermakna ketika kita mau jeli melihat. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri serta sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan…”. Aku membayangkan dulu ketika kamu masih tinggal disana dan sambil mencuci piring kamu juga membaca ayat itu. Terasa indah dan menyakitkan ya. Kita tersenyum sekaligus menangis. Kata Wan, “Itulah salib yang harus kita pikul…”.

***

Juni, aku akhirnya mendapat kesempatan berziarah ke Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran di Bantul. Rencana itu sudah lama kuniatkan tetapi selalu gagal. Dan seperti memang sudah waktunya, kesempatan itu tiba dengan spontan. Nama gerejanya sama dengan  nama SD-ku dulu. Gereja yang arsitekturnya mengikuti keraton-keraton Jawa dan candi yang kental dengan budaya Hindu-Jawa. Di dalam gereja itu, patung Yesus dan Bunda Maria dibuat dalam kekhasan budaya Jawa. Rasanya seperti kembali ke zaman Jawa kuna. Melihat Gusti Prabu Yesus menunjuk hatinya yang membara dan berduri serta Dewi Mariah yang menggendong Yesus kecil disana seperti arca-arca Hindu. Senang rasanya June melihat ada yang berbeda. Sesuatu yang dekat dengan kita, mengingat kita selalu disuguhkan patung Yesus dan Bunda Maria dalam budaya barat. Aku teringat kita sering melakukan perziarahan seperti ini. Pergi keliling gereja atau bahkan ke rumah ibadah agama lain. Jalan kaki menelusuri jalan-jalan kecil di Jogja. Duduk berjam-jam ngobrol sambil makan menu yang itu-itu saja di cafe makanan organik favorit kita. Bercerita tentang kegelisahan dan pergulatan kita. Lalu, membicarakan Antua kesayangan kita. Sungguh sangat romantis ya. 

Aku datang kesana bersama teman kosku. Nama dan ulang tahunnya sama denganmu. Ia juga sedang menghadapi pergumulan yang kurang lebih sama denganku dengan cerita yang berbeda. Kami datang kesana untuk meminta penjelasan sementara orang-orang disana berdoa untuk memohon sesuatu. Pada akhirnya, kami pun juga meminta pertolongan. Ini pergumulan yang tidak bisa kami selesaikan sendiri. Aku merasa sangat lelah. Dan karena lelah aku jadi marah. Kata teman kerjaku," Kalau kamu merasa lelah, berarti kamu sudah berusaha."

Di dalam gereja kami dihampiri seorang koster. Koster adalah orang yang bertanggung jawab mengurus gereja dan segala isinya. Ia seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun-an. Sambil membersihkan gereja, dia mengajak kami mengobrol. Dia menanyakan asal kami dan dimana kami tinggal. Dia sudah tujuh tahun bekerja di gereja itu, sama denganku yang sudah selama itu tinggal di Jogja. Dibandingkan dengan temanku, bapak koster itu lebih sering mengajakku bicara. Dia yang pertama mendekatiku. 

“Mbak, masih kuliah?,” tanyanya.
“Dulu kuliah, Pak. Sekarang sudah kerja,” jawabku. 
“Saya sampai sekarang masih kerja,” balasnya. Sebuah respon yang kurasa ganjil. 

Aku lalu pergi ke depan altar. Suasana dalam gereja cukup sepi. Aku mengambil beberapa foto, memperhatikan tahta para Imam dan patung-patung malaikat penjaga Tabernakel, dan akhirnya berhenti di pojok dimana patung Gusti Prabu Yesus berada. Kebanyakan peziarah lebih memilih berdoa di dalam candi yang terletak di samping gereja. Patungnya memang sama. Tapi, entah mengapa aku langsung duduk bersimpuh disana dan menggugat Yang Mulia. Kutanyakan dalam hati mengapa Ia selalu membelanya? Mengapa harus aku yang dituntut mengerti? Kapan aku yang dimengerti?. Lamat-lamat kemarahanku berubah menjadi permohonan agar orang yang dikasihi selalu dijaga dan dikuatkan dimanapun ia berada. Setelah puas berkeluh kesah, aku berjalan kembali ke bangku belakang gereja dimana temanku duduk menunggu. Tapi, mataku tiba-tiba tertumbuk pada gambar yang terlukis di kaca patri dekat patung Dewi Mariah. 

Bapak koster yang tadi menyapa kami ada disana. Lalu, aku bertanya: “Pak, gambar di kaca patri itu dari cerita Orang Samaria yang baik hati ya?,” tanyakau meminta konfirmasi. 

Bapak koster yang sedang menyapu itu mendogakkan kepalanya menatapku dan tersenyum. “Iya. Kok kamu tahu?,” ia malah balik bertanya. 

Aku mengerutkan kening, “ Ya iyalah Pak. Orang Kristen pasti tahu,” jawabku yakin. Aku jadi bingung dengan jawaban bapak koster ini. Semua orang Kristen bahkan orang non-Kristen yang banyak membaca pasti pernah mendengar kisah orang Samaria yang baik hati. Itu adalah kisah yang populer. The Good Samaritan adalah perumpaaan yang dipakai Yesus dan dicatat dalam Injil Lukas. Orang-orang memakai kisah ini untuk menggambarkan kebaikan pada orang lain meskipun kita tidak mengenal orang tersebut. Kebaikan yang digerakkan karena belas kasih tidak pandang bulu. 

Sambil lanjut menyapu, dia kembali menjawabku,” Oh begitu ya?,” tanyanya dengan nada menguji. 

“Iya Pak. Itu kan ada di Kitab Suci. Kan kita harus kenal siapa yang kita sembah,” jawabku. Tanpa sadar, kakiku berjalan menuju bapak koster. Ia berhenti menyapu dan menatapku. Lalu berkata,“Kalau begitu kamu jangan kenal saya, nanti kamu menyembah saya”. Ia tidak sedang bercanda. 

Aku tercekat. Seperti gadis SMA yang malu-malu dengan pujaan hatinya, aku lantas membalasnya demikian, “ Kalau sama kamu, kalau kenal ya kita jadi sahabat.” 

Raut wajah bapak koster itu berubah. Ia tersenyum lalu tertawa. Wajah yang sangat ramah dan akrab. Ia seperti seorang guru yang puas dengan jawaban muridnya. Aku juga tertawa. Lalu kemudian pergi dari hadapannya. Aku tidak melihat dia lagi sampai kami beranjak dari gereja. 

Setelah berjarak dari peristiwa itu. Pada malam harinya menjelang tidur, aku tiba-tiba teringat percakapanku dengan koster itu. Rasanya percakapan tersebut tidak lazim antara seorang koster dengan orang yang datang berziarah. Aku merinding sekaligus berbunga-bunga mengingat percakapan itu. Lalu, aku teringat kamu. Dan aku merasa kamu perlu mengetahui kisah ini. 

Juni, baik-baiklah disana. Aku berdoa semoga kamu selalu sehat dan siap dengan pentahbisanmu. Semoga aku juga bisa hadir disana. Aku juga berdoa jika kamu pun nanti bisa hadir di hari pengangkatan sumpah jabatanku. Semoga Antua membuka jalan ya. 

I Love You, Juni.

Cerita Pendek

Al dan Aqua

Jumat, Januari 31, 2020

photo by Kristopher Roller (www.unsplash.com)


Rindu menjadi beban di hatinya akhir-akhir ini. Begitulah Al memikirkan hubungannya dengan Aqua. Aqua menghilang setelah Al mengirimkan surat cintanya yang pertama. Entah menghilangnya Aqua dan surat cinta Al saling berhubungan atau tidak, yang jelas Al merindukan Aqua. Al mengerti kalau Aqua harus pergi dan menjadikan dirinya bukan prioritas. Al turut menjiwai panggilan Aqua, karena Al juga mendapat panggilan itu. Al mengerti, namun belum seratus persen menerima. Aqua hidup di air, sementara Al di darat. Aqua menikmati dalam kesunyian, Al menikmati dalam kegaduhan. 

Aqua adalah seorang prajurit di garda terdepan. Ia masuk dalam komponen utama pertahanan. Sebagai anggota komando pasukan khusus, Aqua menyerahkan hidup dan matinya pada sang Komandan. Ia adalah orang yang hidup untuk menjalankan tugas dan misi. Tugas dan misinya itu adalah prioritas dan yang utama. Tak ada batas waktu dan tempat, karena kapanpun dan dimanapun perintah itu bisa muncul mendadak. Aqua harus siap setiap saat untuk melayani dan mengabdi kepada siapa saja dan dimana saja. Bukannya ia tak bisa memilih, namun menjalankan perintah Komandan adalah airnya. Aqua tidak bisa hidup di darat lama-lama. Ia harus fokus sebagai ikan yang berenang sendirian di arus yang deras. 

Sama seperti Aqua, Al juga seorang prajurit. Bedanya, Al masuk dalam komponen cadangan. Al ikut bertempur di garda terdepan, tapi bukan paling depan. Itu artinya, ia harus menunggu di markas komando, kalau-kalau Komandan memanggilnya untuk turun membantu, lalu dikembalikan lagi ke markas begitu Komandan merasa sudah cukup fungsinya. Al banyak menunggu, Aqua banyak bekerja. Al butuh berbicara, Aqua butuh meditasi. Mereka seperti rasi bintang Virgo dan Libra: hidup pararel, bersama namun terpisah. 

***

Al menyukai lagu-lagu The Beatles. Waktu kecil ia sering dinyanyikan lagu-lagu The Beatles oleh ibunya. Ibunya akan memainkan gitar dan bernyanyi dengan hati. Ibu juga akan bercerita tentang pengalamannya mendengarkan The Beatles. Al ingat Ibunya pernah bercerita tentang teman SMA-nya yang juga suka The Beatles. Temannya itu sangat suka menyanyikan lagu Hey Jude. Di masa mendatang, temannya membuka cafĂ© bernuansa The Beatles dan ibunya menyanyi disana dalam acara reuni. Ibunya tampak keren dan penuh dengan energi positif. Peristiwa itu terjadi dua bulan sebelum ibunya pergi untuk selamanya. 

Dari semua personil The Beatles, Al paling menyukai Paul McCartney. Menurutnya, lagu-lagu yang diciptakan Paul penuh dengan energi positif. Meskipun liriknya sedih dan melodinya menggunakan akord 7 sehingga sangat emosional, lagu-lagu ciptaan Paul tidak ditujukan untuk membuat orang sedih berlarut-larut. Lagu-lagu Paul menghadirkan pengharapan. Banyak orang memperingatkan untuk tidak memiliki ekspektasi dan harapan yang tinggi karena kalau realisasinya tak sebanding maka akan sangat mengecewakan. Pada diri Paul-lah, Al menemukan kemiripannya. Mereka berdua percaya bahwa harapan membuat manusia tetap hidup dan merasakan cinta kasih. Jika Lennon sinis pada hidup, maka Paul sebaliknya, ia memiliki optimisme.

Lennon-McCartney, photo by Linda McCartney


Al suka mendengarkan lagu Yesterday berulang-ulang. Lagu itu membuat hatinya terasa hangat. Lagu itu diciptakan Paul McCartney dan kemudian dibantu John Lennon sebagaimana mereka selalu menjadi partner Lennon-McCartney. Meski tersentuh dengan melodinya, Al sama sekali tidak mengerti liriknya. Paul mendapatkan ilham melodi lagu itu dalam mimpi saat ia menginap di rumah pacarnya. Saat terbangun, Paul langsung berlari dan mencari piano, takut ia melupakan melodi yang tercipta dalam tidurnya itu. Seperti pesan semesta, siapapun yang mendengarkan lagu Yesterday, dalam suasana hati apapun, pasti akan tersentuh. Lagu itu sederhana tanpa banyak instrumen musik dan dinyanyikan sendiri oleh Paul. Lagu yang memamg ditujukan untuk mengabadi. Lagu itu seperti berkata, “kesedihanmu ini hanyalah sementara, tenanglah selalu ada harapan…”.

***

Setelah Aqua hadir dalam hidupnya, kini Al mengerti lirik lagu Yesterday. Lagu ini tentang gugatan atas kerinduan yang mendalam: “Why she had to go, I don’t know, she wouldn’t say. I said something wrong, now I long for yesterday…”. Lagu ini tentang orang yang ditepikan, dianggap sepi. Namun, seperti dua elemen tak terpisahkan, meski liriknya sentimentil, mengasihani diri, dan menyalahkan diri, melodinya justru memberi energi positif. Sebuah energi yang menyalakan setiap api yang padam dalam jiwa manusia. Api pengharapan bahwa meskipun kita berpisah, kita akan bertemu lagi. 

Hidup telah memberi banyak pada Al. Walaupun ia menghadapinya dalam keramaian yang melemahkan keyakinannya, Al selalu mendapatkan pesan semesta dalam hal-hal kecil yang menguatkan. Kini Al tahu mengapa ia belum bisa menerima beban ini. Hal itu memang terasa berat dan tak adil. Ia harus menanggung rindu untuk dua orang.

Life Story

Tentang Menghakimi

Minggu, Januari 19, 2020

"Manusia bisa salah," sahut Kak SY. "Manusia sering salah. Semua begitu. Mereka, aku, kamu. Sama saja. Memang ada hukum negara dan undang-undang yang menentukan tindakan mana yang salah dan tidak. Tapi, di antara kita sendiri siapa yang punya hak buat menentukan benar dan salah? Siapa yang punya hak untuk menjadi hakim? Apakah kamu atau aku berani bilang bahwa anak-anak pendeta yang todong-todongan pistol itu lebih banyak salahnya daripada kita? Apakah kita berani menggunakan diri kita sendiri sebagai tolak ukur kebenaran?"

"Kita semua cacat dan terluka, Markus," renung Singa Yehuda. Tangannya meraih bingkai yang tergeletak begitu saja di sisi komputer di atas meja belajarnya. Bingkai itu menyimpan dan melindungi sebuah kenangan baik-baik. Terlihat foto Mawarsaron yang sedang belajar jalan dibimbing oleh Singa Yehuda yang tertawa riang. Ia meraba foto itu perlahan-lahan. "Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat." 

(Lusifer, Lusifer - Venerdi Handoyo, hal. 60-61)



Ini adalah salah satu cuplikan dari novel Lusifer, Lusifer karya Venerdi Handoyo yang menghentakku. Satu bagian kecil yang membuatku mempertanyakan tatanan moralku sendiri. Bagian yang mempertanyakan keakuanku dan kuasa dalam diriku. Apakah dengan memiliki pengetahuan, nilai-nilai, taat pada hukum dan norma, bahkan memiliki spiritualitas lantas membuat kita menjadi orang suci dan terlepas dari tindakan yang tak bercacat cela? Lalu, takarannya apa dan siapa yang kita jadikan patokan? Jika kita mengikuti ukuran-ukuran tersebut, apakah lantas otomatis membuat diri kita menjadi orang benar? sehingga kita dengan mudah menunjukkan jari dan menghakimi orang-orang yang tak sejalan dengan kita? Orang-orang yang kita pandang menyimpang karena tidak masuk dalam ukuran-ukuran itu? Lalu, untuk apa Sang Penebus datang ke dunia bila manusia sudah mengikuti ukuran-ukuran yang katanya benar itu? Untuk apa penyelamatan terjadi kalau kita semua dianggap benar dengan mengikuti hukum-hukum itu? 

Sebagai orang yang mempelajari teori-teori anti penindasan, saya mengetahui bahwa dunia ini dibentuk oleh banyak sistem yang membuat manusia saling menindas satu dengan yang lain.  Kekerasan terjadi dimana-mana dan seperti kata Guruku, cinta tertawan di dalam penjara paling gelap dalam kitab-kitab suci. Patriarki, kapitalisme, kolonialisme, feodalisme, seksisme, misoginis, dan lain sebagainya adalah beberapa sistem yang masuk ke dalam budaya yang hidup di dalam masyarakat kita. Manusia memang dilahirkan setara, tetapi tidak dibesarkan setara. Disitulah ketidakadilan bermula dan kita mati-matian berjuang mencari keadilan. Ada perbedaan kelas sosial, budaya, dan tradisi yang membuat kita tidak bisa dengan mudah menerima orang-orang yang berbeda dengan kita. Ada kesombongan atau kalau kata temanku Yu semacam "ego sektoral" yang membuat kita selalu merasa kelompok kita lebih baik dari yang lain. Ego yang juga menurun di dalam alam bawah sadar kita bahwa kita jauh lebih baik dari orang lain. 

Suatu hari seorang temanku perempuan datang bercerita bahwa ia jatuh cinta dan menjalin relasi dengan suami orang. Sebagai seseorang yang mempelajari teori feminisme, tentu saja nalarku akan cenderung menyalahkan temanku dan laki-laki itu. Tapi, apa yang bisa kulakukan sebagai temannya? Ia mencariku untuk mendapatkan dukungan. Ia butuh bercerita kepadaku untuk meluapkan apa yang ada di dalam isi hatinya yang tidak bisa ia tumpahkan kepada keluarga, saudara, atau bahkan teman-temannya yang lain. Ia bahkan tidak bisa seterbuka itu menceritakan perasaan-perasaannya pada laki-laki yang ia cintai. Temanku sadar dan tahu bahwa ia salah secara hukum, nilai, dan norma. Ia tahu ia dan pasangannnya itu berbuat tidak adil kepada sang istri. Tapi hati temanku sudah memilih. Cinta tak bisa disalahkan. Kita bisa memilih menikah dengan siapa, tetapi siapa yang bisa menolak jatuh cinta dengan siapa? Jatuh cinta pada seseorang seperti peristiwa kecelakaan, sebaik apapun kau mempersiapkan kendaraanmu, jika memang harus jatuh, maka akan jatuh. Entah itu karena kau terkena karma atau intervensi Ilahi. 

Temanku bukan datang dari keluarga berantakan. Bukan pula orang yang punya tabiat menganggu relasi orang lain. Ia manis dan baik hati. Ia suka melakukan hal-hal kecil yang membuat hati hangat. Ia peduli dan perhatian kepada teman-temannya. Mencintai suami orang bukanlah cita-citanya. Ia selalu bermimpi memiliki suami yang baik dan anak-anak yang lucu. Ketika ia terlibat hubungan dengan laki-laki itu, saya tidak punya kapasitas untuk melakukan penguatan macam apa. Mendukung dia untuk terus menjalin cinta dengan suami orang? Menemui laki-laki itu dan menyuruh dia menyelesaikan masalahnya dengan istrinya? Oh tentu tidak. Saya tidak bisa mengintervensi hubungan mereka. Yang saya bisa lakukan adalah menemani teman saya. Sepahit dan segelap apapun jalan yang ia tempuh. Tugas saya adalah memastikan dia tidak merasa sendirian menjalani apapun yang ia jalani. 

Pada titik inilah saya menyadari sekaligus mempertanyakan satu hal. Tuhan adalah Cinta sementara manusia diajarkan untuk mematuhi hukum, nilai, dan norma. Namun, mengapa Cinta bekerja dengan melawan semua hukum, nilai, dan norma yang dibuat manusia? 

Love Story

Antara Ada dan Tiada

Jumat, Januari 17, 2020

Dulu waktu SMP saya suka dengar lagunya Utopia yang berjudul Antara Ada dan Tiada. Kebetulan lagu itu jadi populer karena menjadi soundtrack sinteron horor remaja. Lagu itu se-dark masa SMP saya yang penuh drama (edodoeee...). Prelude lagunya juga serem dengan suara Pia yang sayup-sayup gothic. Lagu itu menggambarkan rasa letih untuk menggapai sesuatu yang ada tetapi tiada, tiada tetapi ada. Bagian favorit? Setelah interlude dong, dimana harmoninya lebih emosional dengan menaikkan satu laras pada bagian reffrain. 

Di zaman itu pula, saya punya obsesi untuk menjadi anak band. Demi mewujudkan cita-cita yang luhur itu, saya mendaftar ikut ekstrakuriler band sekolah. Ternyata yang masuk eskul itu adalah mereka yang sudah mahir bermain musik, entah itu drum, piano, keyboard, gitar, bass, atau biola. Lalu, yang kemampuan bermain musiknya di bawah standar banyak yang memilih menjadi vokalis. Mereka ini yang sering mewakili sekolah di lomba-lomba paduan suara atau solo. Minimal sebagian adalah penyanyi Mazmur dan solois untuk ibadah bulan Maria. 

Walaupun sebagian besar keluarga saya adalah musisi, waktu pembagian gen saya sama sekali tak berbagi kejeniusan dengan mereka. Main musik tidak pernah beres. Menyanyi juga suara pas-pasan. Akhirnya, saya memilih peran sesuai kapasitas saya yaitu sebagai groupies. Yup, para pemain band itu perlu fans fanatik yang setia bersorak saat mereka tampil. Inspirasi saya waktu itu groupies-nya Guns N’ Roses yang tentu saja seringkali berakhir ricuh. 

Di eskul band itu, saya sempat punya kecengan semasa SMP hahaaa. Dia kakak kelas yang kalau sudah main gitar langsung pusinglah pala Barbie ini saking cool-nya beliau. Si Kakak Kelas ini menginspirasi saya membuat lagu. Suatu bakat yang ternyata terpendam. Sampai SMA, saya masih suka membuat lagu. Tanpa alat musik. Hanya bermodalkan senandung. Saya menyanyikan lagu-lagu itu di depan sahabat saya, Tirta, dengan penuh perasaan. Pernah pula dinyanyikan oleh grup vokal untuk penilaian mata pelajaran Kesenian. 

Oke, kembali ke si kakak Kelas. Setiap band-nya manggung di acara sekolah. Saya dengan siap siaga berdiri di samping panggung bersama groupies yang lain. Dengan berpenampilan kasual tapi ada spirit glam rock-nya, doi menyanyikan Look What You’ve Done-nya JET dengan sempurna. Tak lupa juga kesalehan beliau tersiar ke penjuru sekolah. Kami memang bersekolah di sekolah Katolik, tapi si Kakak Kelas ini rajin izin untuk menunaikan sholat Jumat. Makin so sweet kan ya… Oiya si Dia ini punya adik perempuan yang sekarang jadi bintang film papan atas negeri ini. Dulu saya ingat, adiknya ini posesif dan nempel banget sama kakaknya. Dia sering membuat kami para groupies yang hina ini cemburu setengah pingsan. 

Hari ini saya terkenang kembali masa-masa SMP yang biru sebiru langit biru. 

Life Story

Selamat Datang 2020!

Rabu, Januari 01, 2020

Happy New Year gaes....

Sebuah ucapan selamat tahun baru dari seseorang yang bangun tidur, makan, dan tidur lagi di awal tahun ini. Yap, that's me. Sungguh tak ada hari libur bagi tentara. Setiap hari adalah pertempuran. Setiap saat ada tugas tak terduga yang harus dijawab dengan "Siap laksanakan!". Banyak drama dan juga hal-hal yang tak masuk akal. Yang kusyukuri adalah bahwa saya punya teman-teman sepeleton yang asyik dan punya selera humor yang keren. Saya menyebut mereka Peleton Barbarsari. Kami ada sepuluh orang. Sepuluh orang yang ditakdirkan berada disana hingga entah sampai kapan. 

Bagaimana kalian menghabiskan malam tahun baru kalian?

Hari terakhir di tahun 2019, saya dan teman-teman masih berkutat dengan pekerjaan, tepatnya menyelesaikan mission imposible. Sejak beberapa hari sebelumnya kami berencana untuk merayakan malam tahun baru dengan bakar-bakar, masak-masak, dan makan-makan. Ini untuk merayakan kebersamaan kami. Melatih kekompakan sembari berharap jika kami sudah mapan berdiri sendiri-sendiri, kami tidak saling menghancurkan hehehe. Budaya kompetisi harus dihilangkan, budaya kolaborasi harus dihidupkan. Rantai kekerasan harus diputus. 

Nah, pulang kantor sudah pukul 5 sore. Saya lanjut dari kampus menuju gereja. Tadinya mau masuk di gereja GPIB, tapi waktunya tidak pas. Hujan turun membasahi bumi dengan irama 3/4. Lalu, saya menuju gereja Katolik di Kotabaru. Tapi tampaknya itu ibadah biasa, bukan ibadah malam Tahun Baru. Ibadah Tahun Baru akan dirayakan keesokan harinya. Saya lalu ke gereja HKBP di sebelahnya yang untungnya masih baru mulai. Sayangnya, semua lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Batak. Saya tidak begitu menikmatinya karena saya datang terlambat dan duduk di bangku luar yang tak bisa melihat ke layar LCD.

Sambil mendengarkan khotbah Pak Pendeta, saya teringat tradisi yang selalu saya lakukan bersama Mami yaitu doa bersama pada malam Natal dan malam Tahun Baru. Biasanya kami melakukannya setelah pulang gereja. Saya tidak tahu kapan dimulainya tradisi ini, tapi tradisi ini kulihat ada di keluarga Mami Ice juga. Mungkin ini tradisi orang Ambon, mungkin tradisi Gereja Protestan, entahlah. Tapi rasanya selalu ganjil kalau tidak melakukan hal itu. Kata Kak Is, anak Mami Ice, tradisi ini sangat sakral. Sayangnya Daddy tidak memiliki rasa yang sama dengan tradisi itu. Maka, setiap malam Natal atau Malam Tahun Baru pasti akan diwarnai dengan drama. Rupanya itu juga yang dialami Kak Is. Baik Daddy maupun Kak Yud, suami Kak Is, berasal dari suku dan tradisi gereja yang berbeda dengan kami. Disinilah ujiannya. Bagaimana bisa menerima dan menyelaraskan perbedaan-perbedaan atau mungkin lebih tepatnya membebaskan diri dari keinginan-keinginan yang ingin dipaksakan kepada orang-orang terkasih. Sebuah pekerjaan berat atas nama cinta, saudara-saudara. 

Pulang gereja, saya kesulitan mendapatkan ojek online. Maka, saya menghubungi ojek langganan saya, Mas Hendri yang setia mengantar saya kemana-mana sejak saya pindah ke Jogja di tahun 2013. Di tahun 2019, kami mengalami kecelakaan bersama. Ban motornya tiba-tiba meletus saat sedang jalan di aspal. Kami berdua jatuh. Tempurung lutut Mas Hendri retak sehingga ia harus digips sampai tiga bulan lamanya. Kaki kanan saya, khususnya dari bawah lutut sampai tulang kering  terhantam ke aspal juga dan menghasilkan luka lecet dan memar. Itu sebuah keajaiban mengingat saya yang digonceng. Malam itu, setelah lama tak berboncengan. Kami melalui jalan tempat kami jatuh dulu. Saya mengakui saya masih trauma. Takut jatuh lagi. Syukurnya, saya tiba di rumah dengan selamat lalu bersiap-siap untuk menuju rumah Ari, tempat yang disepakati Peleton Barbarsari untuk merayakan tahun baru bersama. Saya berangkat dengan Mas Hendri lagi. Kami mengarungi jalan Kaliurang yang lumayan tak ramai sambil rekonsiliasi dengan luka-luka kami.

Sampai di rumah Ari, saya langsung bergabung dengan Peleton dan mulai bekerja menurut pembagian tugas masing-masing. Med bawa ikan dari kolam ikannya, Rev dan pacarnya Ve bakar jagung, Yu bawa ayam, Us dan suaminya urus bumbu dan bakar ayam, Ari jadi tuan rumah yang baik, Vir dan Acel bakar ikan dengan saya yang memberi penerang pada ikan yang lagi dibakar dan sudah masak, dan Jul sebagai seksi icip-icip. Tak ada kembang api atau petasan karena rumah Ari dikelilingi anak-anak kecil dan bayi yang akan terganggu. Pergantian malam tahun baru ini seperti Malam Kudus: sunyi senyap dengan sesekali tercium bau tahi dari kandang sapi yang tak jauh jaraknya dari rumah Ari. 

Begitulah, saya merayakan Tahun Baru dengan intim dan sederhana. Selamat datang 2020!