Life Story

Kakak

Selasa, September 22, 2020

Tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi diam-diam aku ingin sekali memiliki anak baptis atau anak serani, istilah lawas yang dalam KBBI merujuk "Kristen", "Indo-Eropa", dan "orang Portugis". Kata di-seranikan kemudian berarti di-kristenkan yang biasanya ditandai dengan dilakukannya sakramen baptis pada seorang anak. Anak-anak yang dibaptis memiliki orang tua rohani yang disebut Papa dan Mama Serani atau disingkat Papa Ani dan Mama Ani. Istilah ini sangat umum, terutama dalam budaya di Indonesia Timur. Dalam bahasa Inggris, Papa-Mama Ani ini disebut Godparents (Godmother dan Godfather). 

Biasanya orang yang ditunjuk menjadi orang tua serani adalah orang yang dipercaya oleh orang tua kandung. Mereka mendapat tugas membimbing anak-anak baptis mereka secara spiritual. Jika terjadi apa-apa dengan orang tua kandung, orang tua serani yang kemudian mewakilkan mereka.

Bertahun-tahun aku menunggu, adakah orang yang mau mempercayakan anaknya kepadaku sebagai orang tua rohaninya. Harapanku bertumpu pada keluarga, entah anak-anak dari kakak-adik sepupu atau bahkan teman dan sahabat. Kesempatan itu tak kunjung datang dan aku menyerah untuk tetap mengharapkannya.

***

Aku mengenal pasangan Angel dan Nael sebelum mereka menikah. Kami bertemu pada tahun 2017 di saat AOA Space baru saja di-launching. Saat itu, aku, Tami, dan Angel mengambil bagian dalam pekan seni kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kami bertiga membacakan puisi. Angel merupakan temannya Tami. Nael adalah pacar Angel saat itu. Aku berkenalan dengan Angel karena aku ingin diramal dengan kartu tarot. Pertemanan kami berjalan dengan akrab. Rupanya kami sama-sama Kristen. Nasib Nael sama sepertiku: berayah Katolik dan beribu aktivis GPIB. Angel adalah seorang Katolik dengan banyak pertanyaan tentang patriarki. Kami memiliki perhatian yang sama pada isu-isu kesetaraan, humanisme, dan spiritualitas. Aku lebih dekat memang dengan Angel. Kami sama-sama penyintas. Kami sama-sama rindu dan ingin dekat dengan Tuhan. 

Tahun 2019, ketika konflik keluargaku terus berlanjut, Angel dan Nael adalah sebagian dari orang-orang yang menolong dan menemaniku. Mereka juga kena imbas, tapi hal itu tidak membuat mereka takut dan menjauhiku. Sebaliknya, ikatan kami semakin kuat. Sebagai sesama perempuan, Angel menemaniku juga dalam menghadapi pergumulan romantikaku yang unik.

***

Ketika akhirnya Nael dan Angel menikah, aku dan teman-teman yang lain turut berbahagia. Namun, berita sedih juga datang. Pertama, Angel dan Nael pindah ke Bali. Kedua, Angel memiliki kista di rahimnya sehingga dalam perhitungan medis, ia dikatakan akan sulit hamil. Lebih dari setahun menikah, Angel dan Nael menikmati rumah tangga mereka dengan ceria. Hingga suatu ketika, Angel memberitahu bahwa ia berencana untuk melakukan operasi pengangkatan kista. Di saat-saat menunggu waktu yang tepat untuk operasi itu, ia mengagetkanku dengan mengatakan bahwa ia baru menggunakan tespack dan hasilnya positif. 

Perasaanku campur aduk. Antara khwatir dan senang. Khawatir karena kesehatan Angel dan ragu apakah itu false pregnancy. Senang karena Angel menawariku untuk menjadi Mama Ani bagi si buah hati. Ketika Angel mendapatkan konfirmasi dari dokter kandungan dengan tes yang lebih akurat, kami begitu bahagia menyambut si kecil. Gila! kami sedang menantikan kehadiran janin yang sedang berperang dengan kista yang terus-menerus ingin memakannya setiap saat. 

Janin itu kami panggil Kakak. Kakak adalah buah cintanya Papa Nael dan Mama Angel. Kakak adalah pejuang kecilku, Mama Ani-nya. Nael bertugas mencari Papa Ani buat Kakak tapi dia menyerah karena menurutnya teman-temannya tidak ada yang beres hehee. Sejak hamil, hubunganku dengan Angel makin dekat. Kami terus berkontak untuk meng-update perkembangan Kakak. Kami sudah punya banyak khayalan. Kami suka mengajak ngobrol Kakak. Bahkan Mama Ani dengan jiwa controlling dan posesifnya sudah mulai mengatur-atur Kakak harus kuliah dimana hihihi. Telpon dan chat yang intens dengan Angel membuatku merasa dekat dengan calon anak baptisku ini. 

***

Di tengah-tengah pergumulan kami, aku dan Angel saling menemani. Hingga apa yang kutakutkan terjadi dan apa yang Angel takutkan terjadi. Detak jantung kakak tidak berdetak padahal usianya sudah menginjak 8 minggu lebih. Aku sendiri putus kontak dengan Aquaman. Di saat-saat itulah, aku dan Angel bertelut, menyerahkan semuanya kepada Bapa. Kami berhadapan dengan mereka yang dicintai. Cinta yang kami rasakan sebagai anugerah. Keduanya telah lama dinanti. Yang satu dengan yang ada di dalam diri dan yang satu dengan yang ada di luar diri. Meskipun itu anugerah, cinta itu ternyata memiliki pilihan dan kehendaknya sendiri. Sebagai orang yang mencintai, kami hanya ingin yang terbaik bagi yang dicintai. Yang satu ada di dalam diri tetapi tidak berdetak. Yang satu ada napasnya, tetapi diam. Kedua-duanya sepertinya ragu dan belum siap. Dua perempuan yang mencintai mereka ini hanya bisa pasrah sambil tetap punya kepercayaan dan pengharapan pada Allah. "Bapa, Lihatlah kami...". Setelah berdoa, kami jauh lebih tenang dan merasa dikuatkan.

***

21 September 2019 adalah hari yang kuingat selalu. Pertemuan secara pribadi dengan Aquaman dan bagaimana kami tenggelam dengan pembicaraan mengenai perasaan kami masing-masing. Itulah momen yang menandai kebersamaan kami. Itupula pertemuan kami secara fisik sebelum dia pergi mengikuti aliran sungai hidupnya. 

21 September 2020, aku pikir akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang kuharapkan. Aku menunggu. Adakah tanda-tandanya? Aku jatuh tertidur setelah pulang dari kampus. Tubuhku sedang pendarahan karena menstruasi. Aku sangat kelelahan. Begitu bangun. Aku mendapat WA dari Angel:"Kakak sudah pergi ke Surga..."Intrauterin fetal death, kematian dalam kandungan. Petarung kecil kami akhirnya menyelesaikan pertandingannya. 2 bulan lebih lamanya ia berjuang untuk hidup. Kakak membuktikan dia adalah pejuang sejati. Bagi pejuang, hanya ada dua kata: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah apalagi mundur. 

Angel seperti Bunda Maria yang kehilangan putranya. Hancur. Namun, ia masih punya kekuatan untuk menguatkan suaminya Nael yang masih bersedih. Sesiap apapun kita pada perpisahan. Sepasrah apapun kita pada nasib, kita tetap saja terguncang. Kehilangan tetap kehilangan. Dalam kasusku, Aquaman tidak hilang, tetapi saat ini aku merasa ditinggalkan. 

Kami menangis bersama. Angel harus segera dikuretasi untuk mengeluarkan Kakak dari kandungannya. Setelah itu, ia akan dijadwal lagi untuk operasi pengangkatan kista. Tak ada luka lebih dalam dari kehilangan orang yang dikasihi. Cinta itu bertumbuh dalam dirinya dan kini harus terpisah. Tak hanya Angel dan Nael yang kehilangan Kakak. Sebagai Mama Ani-nya yang secara spiritual ikut mengandung dia, rasa kebahagiaan itu seperti dirampas begitu saja. Kesedihan hati dua ibu dalam spektrum yang berbeda.

Siapakah kami ini, Tuhan?. Semuanya bukan milik kami. Bapa lebih tahu yang terbaik, maka jadilah menurut kehendakMu. Aku dan Angel berusaha mengubah kepedihan kami menjadi sukacita. Angel bilang,"Ya, Kakak sekarang main sepak bola disana. Nanti kalau kandungan Mama sudah sehat, Kakak akan kembali lagi. Nanti ketemu sama Mama Ani lagi". 

Yang menakjubkan dari peristiwa ini adalah kami masih memiliki kepercayaan dan kekuatan untuk melangkah lagi. Kami masih punya harapan. Itu membuktikan Tuhan Allah hadir di antara kami. 


Selamat jalan Kakak, anak seraniku yang pertama....sampai bertemu lagi.

Love Story

“Berikanlah Milikmu Yang Paling Berharga”

Jumat, September 18, 2020


Kumaknai lukisan ini sebagai penyatuan Bunda Maria dan Yesus. Aku lupa nama pelukisnya, tetapi lukisan ini kulihat dalam sebuah pameran seni di Taman Budaya, Yogyakarta. Sehari sebelum kami berdua bertemu dan membicarakan perasaan masing-masing. 




Aku merasa seperti Ekalaya dalam pewayangan. Dia seorang anak dari kelompok marginal yang bercita-cita untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ekalaya sangat mengagumi Guru Drona dan percaya dibawah bimbingan Drona, ia bisa mewujudkan cita-citanya itu. Sayangnya, Drona juga punya ambisi pribadi. Gelar pemanah terbaik di dunia sudah ia siapkan untuk Arjuna, putra raja Hastinapura yang elit dan memiliki segalanya. Ia menolak menjadikan Ekalaya muridnya demi menjaga posisi itu untuk Arjuna. Ekalaya pun pulang, namun tidak putus asa. Ia mendirikan sebuah patung Drona. Ia percaya ia bisa belajar sendiri meski dibawah “bayang-bayang” Drona. 

Selama satu tahun, aku seperti Ekalaya dalam fragmen ia belajar di bawah patung Drona. Aku mencintai seseorang yang merupakan representasi Dia yang kucinta. Aku melihat Tuhanku dalam dirimu. Sejak saat itu, aku merasakan kesepian yang dalam sekaligus cinta yang membara. Cinta yang tidak bisa dipahami oleh orang banyak. Cinta ini adalah suatu rasa yang sejati. Cinta yang mengubahkan. Cinta yang mengalami keterpisahan dan kemudian diutuhkan dalam suatu pertemuan. Ia bisa memahami yang kau rasakan dan mengatakan yang tak bisa kau ucapkan. Ia mewakilkan kasih Tuhan yang paling menggelisahkanmu. Di matanya, aku adalah sosok Tuhan yang mengetuk terus pintu hatinya. Bagiku, dia adalah sosok Tuhan yang indah dan diam. Pada akhirnya, kami berdua merasakan kasih karunia itu. Tetapi, itu tidak sederhana. 

Seperti Ekalaya yang mencintai Drona, aku juga mencintai Tuhanku. Seperti Drona, Ia pun tidak bisa kugapai. Kekasihku kemudian menjadi representasi patung Drona/Tuhan yang bisu. Ditemani diamnya, aku sendiri yang berlatih, jatuh, dan luka hingga akhirnya bangkit, pulih, dan menemukan tujuan latihan ini. Ya, aku sendiri. Tetapi, aku tidak sendirian. Aku selalu ditemani oleh Dia, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang datang menemani dan menguatkanku. Aku seperti Harry Potter. Harry bertahan bukan karena kekuatannya sendiri. Tetapi, ia memiliki support system yang kuat. Ada orang-orang yang mencintainya, peduli, dan rela berkorban untuknya. Ini yang membedakan Harry dengan Voldemort. 

Pelan-pelan aku akhirnya menyadari latihan ini memang untuk tujuan yang lebih besar. Ini untuk tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang-orang terdekatku melihat perubahan itu: lebih sabar, lebih bisa mendengarkan orang lain, dan mau menunggu. Aku telah mendapatkan pendidikan latihan tempur-ku kali ini dengan penuh airmata dan sukacita. Latihan ini untuk berhadapan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak hati yang perlu disembuhkan. Orang-orang yang memiliki harapan namun dikecewakan terus-menerus. Mereka yang kesepian karena tidak dicintai dan diterima sepenuh hati. Mereka yang ditolak dan diabaikan. Mereka yang terluka karena ditinggalkan. Untuk bisa menjadi penolong, aku harus mengenal diriku lebih dulu dan semua luka-lukaku. Langkah pertama yang kulakukan adalah menerima bahwa aku sakit dan cacat. Langkah kedua adalah aku mau pulih. Aku tidak mau orang lain, generasi mendatang, mengalami kepedihan yang kurasakan. Aku kini menyadari penuh tujuan dan peranku. Aku dilatih dan berlatih untuk mengasihi. Jika harus disuruh memilih antara hukum atau kasih, aku akan memilih kasih. Aku bukan pembela kebenaran yang baik. 

***

Dulu aku pikir aku sekedar menemani kekasihku yang mengenakan mahkota duri dan memikul salib. Ternyata, aku sendiri-lah yang justru mengenakan mahkota duri dan memikul salib itu. Menanggung adalah salah satu bentuk ketekunan dalam iman selain tetap berharap pada Dia. Inilah tanggung jawab besar itu. Setiap orang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Ketika kekuatan yang dimiliki itu tidak diarahkan pada Dia, maka ia akan menjadi sebab kehancuran diri dan orang lain. Tetapi, jika kekuatan itu dipusatkan pada Dia, maka itu akan membawa perubahan besar yang membawa kebaikan, sebuah metanoia. Tuhan tidak lagi di atas langit, tetapi hadir di tengah-tengah kita. 

Dalam cerita wayang, Drona yang tahu kemampuan Ekalaya yang melampaui Arjuna itu tidak terima. Drona tetap ingin Arjuna yang memegang posisi sebagai pemanah terbaik di dunia. Untuk mewujudkan ambisi itu, Drona memanfaatkan rasa cinta Ekalaya kepadanya dengan meminta sembah bhakti. Ia meminta milik Ekalaya yang paling berharga: jari jempol kanannya. Tanpa jari jempolnya, mustahil Ekalaya bisa memanah lagi. 

Lalu, apakah yang dilakukan Ekalaya? Inilah cintanya yang paling tinggi. Ia menyerahkan miliknya yang paling berharga itu: kemampuannya. Aku pun juga memberikan milikku yang paling berharga: hatiku. Hatiku sebagai persembahan padaNya. Seperti Ekalaya, aku tahu hikmat yang kudapatkan ini bukan sekedar pemberian. Tetapi, hasil dari merespon anugerah itu. Tak perlu ada pengakuan siapa yang menang atau kalah. Rasa cintanya tidak bisa diadu. 

Aku ikhlas melepas kepergian kekasihku dengan damai. Aku tahu Allahku tidak seperti Drona. Allah tidak meminta tumbal. Allahku adalah kasih. Kasih itu membebaskan dan kekal. Aku sangat mengasihinya, maka aku melepaskannya agar ia bahagia dengan apapun pilihan hidup dan jalan yang ia pilih. Dengan melepaskannya, aku mengalami kepulihan. Aku tidak perlu menggenggam terlalu erat lagi. Pada akhirnya, semuanya bukan milik kita: ibumu, ayahmu, anakmu, kekasihmu, saudaramu, sahabatmu, hartamu, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan bahkan kebijaksanaan itu sendiri. Aku memilih dan akhirnya merasakan kepenuhan di dalam Dia. Aku harus selalu mengingat ini karena aku juga masih berdarah dan lemah. Aku sudah utuh. Inilah kebahagiaanku yang sejati. 

Selebihnya adalah misteri.

Cerita Lagu

Apocalypse

Jumat, September 18, 2020

 




"Got the music in you baby, tell me why 
You've been locked in here forever and you just can't say goodbye."

(Cigarettes After Sex - Apocalypse)

Life Story

Bukan Hati Kapten Davy Jones

Jumat, September 18, 2020

Kadang-kadang aku berpikir bahwa dosa asal itu benar adanya. Kadang-kadang aku merasa bahwa segala kekacauan dan kegilaan dalam hidupku itu bagian dari upaya penebusan dosa. Anak-cucu harus menanggung apa yang diperbuat para leluhurnya. Pembalasan karma. Hahaha...mudah sekali ya menyalahkan kemalangan  diri sendiri pada orang lain. 

Hatiku kini seperti hati Kekasihku, yang membara karena cinta dan berduri karena penderitaan. Jiwaku kini seperti Ibuku, yang tertusuk sebilah pedang. Kadang aku sungguh tidak sanggup menanggungnya. Aku hanyalah hamba sahaya. Aku bisa berdamai dengan kesepian, tetapi aku kadang tidak kuat menanggung banyak kesedihan. Ingin rasanya aku mengikuti jejak Kapten Davy Jones di film Pirates of the Caribbean. Ingin kucabut hatiku itu, menyimpannya dalam sebuah peti, dan menguburkannya di dasar laut supaya aku tidak lagi merasakan rasa sakit karena dalamnya perasaan cinta. 

Namun, kalau hatiku itu kubuang ke dasar laut, aku tidak akan bisa menolong orang lain dengan tepat. Aku akan menjadi mayat hidup. Aku akan seperti Jones yang menjelma kengerian dan membawa kematian bagi orang lain. Ia tidak bisa menjadi martir dan prajuritNya yang setia. Ia hanya akan menjadi cerita seram untuk menakut-nakuti anak-anak. 

Aku tidak mau kisah hidupku seperti itu. Aku ingin suatu saat di nisanku akan terukir sebuah kalimat: Seorang pejuang cinta yang gagah berani. Sebab kebanggannya adalah penderitaan dan kesukaran.

Aku mungkin bisa menyerah pada manusia, tetapi aku tidak akan menyerah pada cinta. Sebab hatiku bukan hati kapten Davy Jones. Hatiku adalah hatiNya dan aku berada dalam Dia. 

Semuanya harus tergenapi.


Note: tugas Kapten Davy Jones adalah membantu menyeberangkan jiwa-jiwa di lautan menuju dunia baru.  

Sehimpun Puisi

I Carry Your Heart With Me (I Carry It In) - E.E. Cummings

Rabu, September 09, 2020

i carry your heart with me (i carry it in my heart)
i am never without it (anywhere 
i go you go, my dear; and whatever is done 
by only me is your doing, my darling) 
                                                     i fear 
no fate (for you are my fate, my sweet) i want 
no world (for beautiful you are my world, my true) 
and it’s you are whatever a moon has always meant 
and whatever a sun will always sing is you 

here is the deepest secret nobody knows 
(here is the root of the root and the bud of the bud  
and the sky of the sky of a tree called life; which grows 
higher than soul can hope or mind can hide) 
and this is the wonder that’s keeping the stars apart 
i carry your heart(i carry it in my heart)

Cerita Lagu

Emotion

Jumat, Juli 24, 2020



Pagi-pagi benar saya memutar lagu ini. Tidak tahu kenapa saya teringat untuk memutarnya. Kisahnya sedih. Tapi musiknya asyik. Ceritanya tentang putus cinta. Si subjek yang menyanyi masih belum bisa move on dari mantannya yang ternyata sudah punya pacar baru. Di imajinasi saya, si subjek lagu ini menangis sambil joget-joget asoy. 

Lebih dari itu, sebenarnya saya suka melodinya. Saya lebih menyukai versi Samantha Sang dan Bee Gees daripada Destiny's Child. Versinya Samantha Sang dan Bee Gees ini terasa sekali sound tahun 70-annya. Sound yang membawa suasana gloomy tapi cheerful. Ceria yang sedih. Paradoks.  

Life Story

Banyak Bacot Tentang Humanisme

Rabu, Juli 22, 2020

Halo good people
and evil people
juga people yang belum bisa memilih menjadi good or evil...

Pagi ini saya terbangun dengan banyak pertanyaan di kepala. Saya memang punya banyak pertanyaan dalam hidup. Mungkin ini bagian dari sikap keberimanan saya yang apinya kadang nyala kadang redup, fides quaerens intellectum (iman yang mencari-cari pengertian atau iman yang memahami). Semuanya dipicu beberapa peristiwa yang terjadi secara simultan dan percakapan dengan para sahabat. Pertanyaan-pertanyaan itu cukup banyak: Kenapa orang baik selalu tersakiti? Kenapa orang tulus yang selalu ditinggalkan? Kenapa ya orang mudah memperlakukan manusia lain dengan tidak manusiawi? Kenapa sih orang-orang makin egois? Kenapa ya orang-orang makin mementingkan dirinya sendiri? Kenapa sih ada orang hilang begitu saja padahal sedang pdkt dengan seseorang atau berkomitmen dengan orang itu? Kenapa kita mudah menjadikan manusia lain sebagai barang pemuas kebutuhan? Kenapa ada orang jago ngomong humanisme tapi prakteknya kok nol besar? 

Nah, pertanyaan terakhir ini yang cukup menghentak. Di zaman dimana menjadi spectacle atau tontonan adalah sebuah simbol kemapanan yang wajar diikuti, homo sapiens tampaknya bertransformasi lagi. Saya tetap percaya sifat dasar altruistik manusia itu ada. Tapi, sifat altruistik itu tidak murni lagi. Sifat itu terkontaminasi dengan hal-hal yang imateriel lainnya yang bersifat abstrak seperti pengakuan, status sosial, bahkan kekuasaan. Hal-hal imateriel ini kemudian dipertukarkan dengan hal-hal yang materi. Kita membentuk citra kita untuk dipandang atau dilekatkan dengan sesuatu. Misalnya, untuk menunjukkan bahwa saya orang yang humanis, saya menunjukkan dengan memposting di instagram gambar-gambar plus caption yang bernarasi tentang kebaikan atau penghormatan pada kemanusiaan. Ya, pada titik ini sih hal-hal tersebut masih terasa wajar. Tetapi, ketika kemudian citra itu menjadi tidak matching dengan aksi/tindakan, bukankah kita menjadi pembohong dan menipu diri sendiri dan orang lain? Dimana etika kita?

Dulu saya punya teman-teman yang suka sekali berdandan seperti gembel. Tidur di emperan atau memakai baju yang itu-itu saja. Beberapa juga tidak mandi untuk menunjukkan kegembelannya. Mereka ngomongin tentang ketimpangan kelas dan relasi kuasa. Mereka rajin bicara tentang humanisme dan potensi manusia untuk melakukan hal-hal baik. Mereka tak segan membagi ilmu. Mereka juga tak segan berbagi makanan dengan teman-teman yang kelaparan. Mereka naik angkot atau jalan kaki. Mereka ikut aksi menentang penggusuran. 

Siapakah mereka ini sebenarnya? Ya, teman-teman ini kebanyakan anak-anak orang kaya. Mereka punya priviledge. Sebagian anak pejabat dan sebagian lagi keturunan bangsawan yang harta kekayaannya tak habis tujuh turunan. Mereka bisa menolong orang lain karena memang mereka mampu untuk menolong. Saya sempat mengagumi mereka atas keberaniannya menyuarakan suara kaum tertindas. Saya kagum akan keberpihakan mereka. Namun, saya pelan-pelan curiga apakah mereka ini benar-benar hatinya tulus atau jangan-jangan mereka sedang mengalami sindrom Sidharta Gautama? Itu loh, sindrom yang banyak dialami anak-anak orang kaya yang melihat kemiskinan dan penderitaan sebagai hal yang eksotik. Saya ragu mereka memang benar-benar berempati pada orang-orang lemah atau sebenarnya itu pemberontakan untuk melawan Patriak atau Matriak di rumahnya? Mereka kemudian terbagi dua: Mereka yang dengan bersemangat melihat penderitaan bagai anak kecil yang memandang makhluk-makhluk air dari balik aquarium raksasa atau mereka yang benar-benar tenggelam bersama mereka yang benar-benar terpinggirkan. 

Lalu masalahnya dimana? Kan hak setiap orang untuk memilih mau berpijak dimana. Nah, beberapa kejadian membuat saya bingung. Saya menemukan inkonsistensi dan tidak adanya korelasi antara apa yang mereka bicarakan dengan kemudian relasi-relasi interpersonal dan berkomunitas yang mereka lakoni. Pacar-pacar mereka mengadu sebab mengalami kekerasan baik fisik, psikis, dan seksual. Tapi, yang paling parah jenis kekerasan simbolik. Waktu itu kami belum belajar Bourdieu dan kekerasan simbolik masih menjadi istilah asing. Tapi, yang mereka rasakan hampir sama. Ada kekuatan (biasanya lewat wacana yang mereka buat) yang kemudian menudukkan pacar-pacar mereka ini. Ada ikatan tidak kasat mata untuk mengikat mereka kepada fantasi tentang relasi yang romantis dan indah. Pacar-pacar mereka ini ditundukkan secara body, mind, and soul dan mereka bersedia patuh padanya. Akibatnya fatal, pacar-pacar ini hanya bisa pasrah dan memaklumi apabila diperlakukan kasar dan tidak adil. Dalam berkomunitas, mereka ternyata terbagi-bagi lagi. Ada yang suka mengadu domba. Ini taktiknya proxy war banget. Ada yang opurtunis. Ada lagi yang sebenarnya apatis tapi suka mencitrakan kepedulian yang mendalam. So, humanisme yang kau bacotkan itu apa ya? Bagaimana orang lain bisa percaya kontribusimu pada masyarakat jika dalam hubungan interpersonal saja kamu sudah menjadi tiran? 

Sejak saat itu, saya jadi belajar tidak mudah terkesima dengan orang-orang. Ini juga tidak mudah buat saya karena saya liyan dan ada sejenis hasrat untuk bisa fit in di dunia yang menolak saya. Dengan kenal atau dekat dengan mereka, saya seperti merasa diterima. Sayangnya, hanya karena mereka punya kisah hidup yang wow dan bicaranya sangat inspiratif, belum tentu mereka adalah orang-orang yang tulus hati dan punya kemauan menolong orang lain. Belum tentu mereka tetap mau memperlakukan manusia lain dengan manusiawi. Belum tentu orang-orang yang bacot tentang humanisme adalah orang-orang yang bisa memanusiakan manusia. 

Saya sendiri juga jadi berhati-hati. Karena setiap kata-kata yang saya keluarkan harus bisa saya pertanggungjawabkan. Mempertahankan konsistensi, komitmen, dan kesetiaan itu sangat sulit. Mengapa? karena realitas selalu memaksa kita untuk beradaptasi. Adaptasi yang membuat kita harus memilih. Kalau harus memilih antara kebenaran dan kasih, kamu akan memilih apa? Sungguh ini tidak mudah. Tapi kita selalu punya pilihan. Memilih untuk setidaknya mencoba atau memilih pergi berganti haluan. Memang gampang bicara tentang humanisme, tetapi lebih berat lagi mempraktekkannya. 

Life Story

Minggu Pagi

Minggu, Juli 19, 2020

Jangan pernah meremahkan informasi. Satu informasi yang positif membuatmu happy menjalani harimu. Satu informasi yang negatif memberimu perasaan sedih. 

Sepertinya keputusan saya menonton ulang film Before Sunset di hari minggu yang tidak cerah ini adalah salah. Pertama kali nonton film ini di kala remaja dan saya tidak mengerti. Barulah di usia dewasa seperti saat ini, saya baru bisa relate dengan konflik yang diajukan film ini. Dialog-dialog antara Jesse dan Celine yang akhirnya berjumpa setelah sekian lama membuat perasaan berkecamuk. Rindu yang membara, perasaan skeptis, depresi, kemarahan, ketidakberdayaan, dan harapan. Ya, kadang kita seperti Jesse dan Celine yang merindukan koneksi dan komunikasi di antara manusia. Perasaan bahwa akhirnya kita tidak sendirian lagi. Perasaan yang disebut cinta. Namun, cinta tidak pernah sederhana. Cinta bukan tujuan melainkan proses. Bertemu dan berpisah. Bersama dan tidak bersama. Bersatu dan sendiri-sendiri. Walaupun endingnya bahagia, pertengahan film sampai menjelang ending benar-benar menguras emosi. "I put all my romanticism into that one night and I was never able to feel all this again. Like, somehow this night took things away from me and I expressed them to you, and you took them with you. It made feel cold like love wasn't for me", begitu kata Celine penuh emosional. Apakah benar bahwa cinta hanya bisa dikatakan romantis bila ia dialami bersama seseorang yang tidak bisa dimiliki dan kamu harus melepaskannya? bahwa waktu ternyata bukan milik kita?

Dan seperti belum cukup. Sebuah berita duka datang di saat yang sama. Sang maestro puisi Indonesia, Sapadi Djoko Damono berpulang ke pangkuan Sang Kekasih. Rasanya Indonesia harus bersabar menunggu lahirnya maestro puisi berikutnya lagi. Selamat jalan, Eyang Sapardi. Karya-karyamu abadi. Engkau abadi. 

Life Story

Bangkit!

Jumat, Juli 17, 2020

Yeayy...
Akhirnya apa yang harus diselesaikan berhasil diselesaikan. I'm really proud of myself. Trauma mungkin tidak bisa hilang. Ia hanya tertidur. Tapi kita bisa selalu membuat dia tidur lebih lama. Tidak mudah melawan demon di dalam diri sendiri. Sungguh. Yang benar-benar bisa menyelamatkan diri kita sendiri adalah diri kita sendiri (*kemudian nyanyi lagu Hero-nya Mariah Carey). Orang lain hanya bisa berdiri di garis tepi untuk memberi dukungan dan semangat. Namun, perjuangan itu memang harus dilalui sendiri. Tentu karena kita cacat, kita perlu mengandalkan Dia. Dia yang merangkul bahu kita dan menemani kita berjalan. 

Dia yang cintanya seindah siang disinari terang. Dia yang menyapa dengan angin sejuk di kala petang. Dia yang lembut dan penyayang. Aku sayang padaNya.

Life Story

Tentang Trauma

Senin, Juli 06, 2020

Saya sedang tidak bisa fokus. 

Ceritanya saya memiliki banyak deadline. Namun, saya tidak bisa melaksanakannya. Tidak bisa menulis. Setiap saya memulai untuk menyelesaikan tulisan tersebut saya seperti membeku di tempat. Padahal, ide-ide itu sudah meletup-letup di otak saya. Tapi, saya tidak bisa bersalin, saya tidak bisa beranak. "Anak" saya yang kesekian ini sepertinya sungsang. Loh penyebabnya apa? Trauma saya ke-trigger. Kali ini lebih intens. Trauma itu sudah ada sejak lama dan saling berkelindan. Lalu, peristiwa-peristiwa setelahnya memperdalam betul trauma itu. 

Saya punya tiga trauma yang berhasil diidentifikasi. Trauma pertama tentang penolakan. Trauma penolakan itu sudah dimulai sejak saya masih janin. Hal inilah yang menjelaskan mengapa wajah saya jika dalam mode "default face" tampak seperti orang marah atau merengut, padahal saya sama sekali tidak marah. Beberapa orang menghakimi saya karena wajah saya ini dibilang seperti orang yang judes atau sombong. Saya tidak pernah menyadari betul hal itu sampai saya memperhatikan foto-foto saya yang diambil secara candid. Ketika saya sadar dengan kamera dan tersenyum, wajah saya ceria dan ramah. Begitu saya tidak tersenyum, wajah saya jadi menakutkan. Rassel, teman saya yang fotografer, mengatakan bahwa wajah saya itu memang seperti respon terhadap penolakan. Mungkin begitulah wajah orang yang dilahirkan dalam amuk badai. Di beberapa video yang saya lihat ketika menjadi pembicara, saya menangkap suatu inkoherensi. Apa yang saya ucapkan dengan yang saya ekspresikan tidak nyambung. Tapi, mungkin dengan latihan public speaking itu bisa diubah. Trauma penolakan yang lain adalah bullying dan body shaming semasa saya SD-SMP. Saya baru menyukai tubuh saya dalam proses panjang ketika duduk di bangku SMA-kuliah S1. Tampaknya, proses penerimaan diri ini merupakan proses seumur hidup. 

Trauma kedua adalah pelecehan seksual yang saya alami di jalan. Saya masih sulit menceritakan detilnya. Kejadiannya waktu saya duduk di bangku SMA sekitar tahun 2008. Saya baru menceritakan hal itu pada Mami di tahun 2017. Sejak saat itu, bersama teman-teman penyintas kekerasan seksual lainnya kami concern berjuang untuk pemulihan dan keadilan hukum pada korban. Sayangnya, di beberapa kasus dimana saya pernah ikut mengadvokasi bersama teman-teman, trauma saya ke-trigger. Di saat itu, saya ingin sekali menggapai orang-orang terdekat saya. Ketika salah satu diantara mereka tidak bisa ada secara emosional, maka akan memicu trauma saya yang ketiga.  

Trauma ketiga adalah trauma karena ditinggalkan/diabaikan yang muncul karena saya menghadapi kematian orang-orang yang tercinta secara mendadak, dalam waktu yang dekat dan beruntun, serta tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kita semua berhak mendapatkan perpisahan yang layak. Sayangnya, perpisahan itu menjadi menyakitkan karena terjadi tanpa persiapan. Seperti manusia pada umumnya, kita semua takut mati. Tapi, setelah peristiwa kematian-kematian itu, saya mulai berpikir bahwa mati itu lebih enak daripada hidup. Saya kaget dengan pemikiran saya itu karena saya termasuk orang yang berencana ingin hidup 1000 tahun lagi. Pola tidur dan makan saya juga tidak teratur. Saya ingin tidur saja. Tetapi, kalau saya tidur saya bermimpi buruk dan sedih. Akhirnya, saya takut untuk tidur. Akibatnya, saya seperti zombie: hidup tidak bersemangat, mau mati pun tapi belum waktunya. 

Waktu itu, saya membaca artikel tentang PTSD dan tampaknya saya mengalami beberapa simpton dari PTSD. Saya juga ikut dalam tes online dan hasilnya ada indikasi saya berada di fase depresi ringan. Dengan menyadari peristiwa yang menurut saya "ganjil", saya langsung mendiskusikan hal itu dengan Laili yang juga pernah mengalami trauma menghadapi kematian beruntun di keluarganya dan dia menyarankan saya ke psikolog. Syukurnya, psikolog yang saya temukan cocok. Guys, pilih psikolog seperti menemukan jodoh, salah pilih bisa bahaya. Kadang psikolog yang salah ini bisa memperburuk keadaan kita. Sebagian dari mereka suka menghakimi dan memaksakan diagnosis atau pendapat mereka kepada kita. Saya beruntung bahwa psikolog yang men-treatment saya lebih banyak mendengar dan membantu saya menemukan kualitas-kualitas diri saya yang baik. Ia juga tidak menghakimi. Di akhir sesi, setelah menangis, kami berpelukan. Nah, psikolog serta curhat dengan orangtua dan para sahabat adalah bantuan eksternal. Ada beberapa teman yang memilih yoga dan meditasi untuk trauma healing-nya. Saya memilih menulis seperti yang saya lakukan di blog ini. 

***

Pada titik ini, saya bersyukur masih memiliki kesadaran untuk mengontrol hidup saya. Saya bisa menangkap sense of danger dan bisa segera mencari pertolongan sebelum keadaan itu menjadi parah dan tidak bisa ditangani. Saya juga cukup beruntung karena pergaulan saya membuat saya aware dengan kesehatan mental. Di negara-negara maju, kesadaran terhadap kesehatan mental merupakan hal yang menjadi fokus perhatian sehingga banyak anak muda juga tidak segan mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater. Sayangnya, hal yang sama belum berlaku di Indonesia. Masih banyak orang yang tidak mau menghadapi kenyataan bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini disebabkan stigma pada pasien kesehatan mental sangat negatif. Saya memiliki beberapa teman yang struggle dengan hal yang sama dan kami berjuang saling support untuk bisa survive. Kami membentuk support system supaya bisa saling menjaga dan berjalan bergandengan tangan bersama. Kami semua adalah penyintas.  

Ya, saya sangat suka sekali kata "penyintas". Penyintas adalah korban yang berusaha bangkit dari keterpurukannya. Ia punya kemauan dan ada daya untuk bangkit lagi. Kita tidak bisa menghindar dari tindakan yang menyakiti kita. Menjadi penyintas atau tetap menjadi korban adalah pilihan. Apa bedanya? Penyintas berusaha berjuang untuk mengubah keadaan tersebut supaya tidak dialami lagi oleh orang lain. Penyintas berusaha memahami mengapa "hal itu terjadi" dan berdamai dengan itu. Penyintas memberikan dorongan yang lebih positif kepada orang-orang di sekitarnya. Ia akan lebih memahami trauma orang lain dan bisa memberikan pertolongan yang efektif. Di sisi lain, korban memiliki ketidakberdayaan. Ia marah dan dendam dengan peristiwa yang dialaminya dan pada orang yang melakukannya. Aura korban memang negatif karena penuh dengan kemarahan, kekecewaan, dan putus asa. Rasa sakit yang tidak terperi. Kita semua yang terluka adalah korban, tetapi ketika kita tetap menjadi korban kita akan memiliki sejenis rasa "hak untuk menjadi jahat" karena sudah diperlakukan tidak adil oleh hidup dan orang lain. 

Kata Mbak Puput teman kos-ku yang kuliah ilmu Psikologi, semua orang pasti punya trauma. Kita semua ini punya cacat dan tidak ada manusia yang bisa bilang dengan percaya diri bahwa dia "tidak punya kepahitan atau tidak punya gangguan jiwa". Orang yang bilang "aku tidak punya gangguan jiwa" adalah pasti punya gangguan jiwa. Mbak Puput memberi contoh pada orang-orang yang bangga mengakui dirinya perfeksionis. Perfeksionis sendiri adalah gangguan jiwa. Bagaimana bisa kamu ingin sempurna di dunia yang tidak sempurna? 

Trauma ini bukan tentang orang yang melakukannya pada kita. Namun, trauma terjadi karena tindakan orang tersebut. Efek setelah mengalami tindakan itu yang menyebabkan traumanya muncul lagi. Misalnya: Si A punya trauma penolakan dan ditinggalkan/diabaikan. Suatu hari ia mengekspresikan rasa cinta dan rindunya pada pacarnya melalui surat. Tetapi, tanpa diduga, pacarnya tidak mau berkomunikasi lagi dengannya selama berbulan-bulan setelah menerima surat itu. Padahal, sebelumnya tidak ada pertengkaran dan hubungan mereka juga baik. Kalau pacarnya ingin berpisah, kenapa tidak ada kata selesai? Kalau A ada salah dengan mengirim surat itu, kenapa pacarnya tidak memberitahu letak kesalahannya? kenapa pacarnya malah diam? A tidak menemukan koherensi sebab-akibat dalam peristiwa itu. Apalagi suratnya adalah niatan baik untuk menguatkan dan menghibur pacarnya. Trauma A tentang penolakan muncul lagi akibat respon pacarnya dan berkelindan dengan traumanya karena ditinggalkan tiba-tiba. Ada juga cerita Si B. Dia punya trauma karena diremehkan orang tuanya. Sehari-hari dia bekerja dengan baik dan berhubungan sosial dengan baik juga. Namun, suatu hari Bosnya mengatakan sesuatu yang meremehkan dia atau membuat dia merasa tidak diperhitungkan. Trauma B langsung ke-trigger dan dia langsung down. B berpikir untuk bunuh diri. B merasa tidak layak meskipun dia dikelilingi orang-orang lain yang menyayangi dia seperti pacar dan sahabat-sahabatnya. Perlu dicatat, meskipun ini tidak semua dan kasuistik, ada memang kecenderungan mereka yang memiliki trauma untuk menyalahkan diri dan menyakiti diri. Efek lain adalah mereka bahkan tidak merasakan apa-apa atau kebas (numb) padahal yang mereka alami adalah trauma hebat. 

Hal yang membedakan kita yang masih bisa berfungsi dan bekerja dengan baik dengan pasien yang dirawat di RSKD adalah tingkat keparahannya. Mereka yang dirawat di RSKD sudah ada di level fisiologis dan psikotik yang tidak saja membutuhkan treatment berupa konseling, tetapi juga pengobatan untuk bisa berfungsi lagi. Kita yang belum di level itu sebenarnya ada di level neurotik. Tapi penjelasan mengenai ini bisa dibaca di website lain yang lebih komprehensif tentang kesehatan mental.

***

Pada akhirnya, pilihan tetap di tangan saya. Saya mau menyembuhkan trauma saya. Saya berusaha belajar menerima, ikhlas, dan berdamai meskipun itu sangat berat dan sulit ketimbang pilihan untuk menjadi jahat dan melakukan balas dendam yang jauh terasa lebih mudah. Saya memilih cinta. Saya memilih kebaikan. Semuanya saya lakukan supaya saya bisa menjalani hidup saya dengan tenang dan bahagia. Saya pikir dengan tetap berbuat kebaikan dan berdamai, maka trauma itu akan hilang. Tapi rupanya traumanya tidak hilang begitu saja, pemirsa. Trauma itu bisa muncul lagi apabila ter-trigger oleh suatu peristiwa, tindakan, atau hal-hal ekternal lainnya tanpa kita bisa prediksi atau kontrol. Ini benar-benar sangat melelahkan karena seperti berhadapan dengan setan yang sama berulang-ulang. Benar kata Nara, seperti orang yang kena tipes, trauma ini suka kambuh. Trauma bisa menimbulkan efek dominonya yaitu stress dan bisa berujung pada depresi. Depresi yang membuat kita tidak menghargai hidup lagi. Depresi yang membuat kita berpikir "kematian pun makin akrab" seperti judul puisi Subagyo Sastrowardoyo. 

Tulisan ini tentang trauma dan bagaimana trauma mempengaruhi cara kita bertindak dalam hidup dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tindakan kita bisa sangat berakibat fatal pada orang lain. Kita pun juga tidak bisa mengontrol tindakan orang lain yang mentrigger trauma kita. Mungkin kita tidak bermaksud jahat, mungkin tindakan kita hanya respon dari upaya kita melindungi diri. Namun selalu ingat, kita tidak pernah bisa benar-benar lepas sepenuhnya dari jaring-jaring hidup yang rumit. Kata temanku Didin, jangan pernah mengharapkan jawaban yang sederhana karena kita semua berangkat dari pengalaman yang berbeda-beda. Mungkin jalan tengahnya adalah dengan mencoba melakukan humanisasi, memanusiakan manusia. Ini adalah titik temu ketika orang-orang yang punya trauma bertemu dan berinteraksi. Apalagi ketika mereka saling mencintai. 

Life Story

Setelah Dia Pergi

Jumat, Juli 03, 2020

Reinkarnasi. Konsep ini menjadi mengerikan buatku sekarang. Saya membayangkan kita menjalani hidup yang penuh penderitaan ini lalu kemudian mati dan terlahir kembali untuk menjalani hidup yang sama menderitanya di kehidupan selanjutnya. Namun, saya lebih ngeri lagi membayangkan terlahir kembali dan tidak menemukan Mami dan Daddy sebagai orang tua saya lagi. Di kehidupan kali ini, saya sangat terberkati mendapatkan mereka sebagai orang tua. Hidup bersama mereka tidak bisa dibilang mulus bagai serial TV Amerika, tapi kami bertiga belajar bersama-sama. Kami belajar mengasihi dan menerima apa adanya. Kami belajar untuk sama-sama bertumbuh. Kami belajar mengampuni dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Kami belajar bekerjasama. Kami belajar untuk saling melindungi. Kami belajar untuk setia, kuat, dan bertahan. Kami belajar menjadi versi terbaik dari kami masing-masing.

Ingatan saya kembali ketika saya masih sangat kecil. Mungkin di usia yang baru bisa belajar berbicara. Di atas motor RX King punya Daddy, kami bertiga berboncengan. Kadang saya berdiri di tengah, kadang duduk di depan. Lalu Daddy akan memacu motornya di jalan Panakkukang Mas. Mami akan bertanya, "Kakak itu gambar apa?," sambil menunjuk lampu hias berbentuk bermacam-macam hewan. Lalu, saya akan mulai mengabsen mereka satu per satu, "ikan, bebek, udang, kupu-kupu...". Bahagia sekali keluarga muda itu. Kami selalu bertiga. Hingga suatu hari yang tidak diduga, dia yang selalu menjadi perekat, perantara, dan penegah di antara mereka bertiga itu menyelesaikan perziarahannya di dunia ini. Chaos!

Tidak terasa sudah 2 tahun Mami pergi. Sejak saat itu saya bangun dengan merasakan lubang hitam di dalam dada. Ada kesedihan yang tidak bisa dideskripsikan. Namun, ada juga sejenis kelegaan bahwa Mami sudah berada di tempat yang lebih baik. Sisi rasional saya memandang Mami sudah tidak perlu merasakan rasa sakit dari kehidupan lagi. Ia sudah selesai dengan semuanya. Mami sangat mencintai saya. Maka, meninggalkan saya pun adalah hal yang juga berat baginya. Ya, kepercayaan itu membuat saya lebih bisa menerima kepergiannya. 

Saya dulu berpikir kematian adalah akhir dari segalanya. Tidak ada ikatan lagi antara orang yang hidup dan orang yang mati. Orang yang mati hanya menjadi kenangan. Tapi saya salah. Kematian tidak memisahkan kita dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Seperti ada tertulis, cinta kuat seperti maut dan nyalanya seperti nyala api Tuhan. Cinta tetap ada meski raga sudah tak ada. Cinta membentuk ikatan yang tidak bisa dilenyapkan oleh waktu dan dibatasi dunia antara yang hidup dan mati. 

Sejak saat itu, pelan-pelan saya mengasah rasa. Belajar bersentuhan dengan yang halus dan rahasia. Melihat dengan hati. Membaca yang tidak terselami. Ada yang bisa kita kenali ketika tubuh sudah tak dikenali lagi. Kadang saya tidak mengerti bahkan meragukan kewarasan saya. Tapi, rasa itu sangat kuat. Ia hanya bisa semampu itu. Ada jurang tak terjembatani di antara kami. Ia tidak bisa kembali lagi kesini, tetapi suatu saat nanti saya bisa pergi ke tempatnya berada. 

Daddy juga sudah banyak berubah. Saya melihat kualitas-kualitas yang ternyata sama dengan Mami. Mereka berdua memang sejoli. Daddy memiliki komitmen yang kuat. Ia sangat loyal. Dia memiliki konsistensi. Dia jujur dan tulus. Dia punya dunianya sendiri. Dia tidak pandai menunjukkan perasaannya. Tapi, melalui tindakan yang konsisten dengan mengingatkan makan atau mengirimkan ayat-ayat kitab suci, ia sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kami sudah jarang bertengkar lagi. Ini hal yang sangat kusyukuri. Kami belajar berkomunikasi dengan baik. Rasanya hidup di tahun ini lebih baik dan stabil untuk kami berdua. 

Namun, ada berita duka. Selain corona yang entah kapan akan berakhir, Daddy baru saja kehilangan sahabatnya, Om Yoseph. Walaupun saya tidak pernah bertemu langsung dengannya, Om Yoseph adalah salah satu tokoh penting yang turut menyelamatkan keluarga kami. Tuhan memakai Om Yoseph untuk memperingatkan kami mengenai hal-hal sehingga kami bisa waspada. Perannya mengingatkanku pada nabi Natan. Selain Om Yoseph, sebelumnya ada Om Aman, temannya Mami yang juga dipanggil Tuhan. Saya terakhir berjumpa dengan beliau di pemakaman Mami Ice. Rasanya sangat ngeri dan mengejutkan bahwa kematian memang mengintai kita setiap saat. Saya mengenang Om Aman sebagai arranger musik gereja yang mumpuni. Di waktu kecil, dia sering sekali ngobrol dengan Mami sambil membicarakakan saya, “Kak Meis, itu Meike diajak menyanyi”. Mami hanya akan membalas dengan tertawa, “Edede… jangan mi..nda disitu bakatnya”. 

Ya begitulah. Hidup masih terus berjalan. Banyak gelombang. Banyak kejutan menanti. "Mami, bagaimana kabarmu disana? Ramai mi toh… banyak mi temanmu disana. Hehehe..”.

Review Film

Reply 1988

Sabtu, Juni 20, 2020



Bagi yang ingin bernostalgia kembali di tahun 1980-an, yang menyukai percakapan mendalam tentang keluarga, persahabatan, dan cinta, yang suka musik-musik tahun 80-an, yang suka fashion tahun 80-an, yang ingin nonton drakor yang "beda" gak kayak modelan telenovela seperti biasanya, dan yang ingin dapat insight dengan quote-quote yang gak cheesy dan menggurui, maka serial Reply 1988 sangat direkomendasikan. 

Peringatan: beberapa cerita sangat riil dengan kehidupan nyata, mengembalikan memori di zaman kita masih kecil, memicu jatuhnya airmata dan memancing tawa, serta memberi candu untuk nonton terus meskipun ada 20 episode dan masing-masing episode berdurasi 1 jam-an. 

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...

Life Story

Kita Memiliki Kekuatan, Juni

Jumat, Juni 12, 2020

Meine Liebe Juni, 

Kata-kata memiliki energi. Kata-kata memiliki nyawa. Setiap kata yang kita ucapkan bisa menghidupkan, namun juga bisa mematikan. Kata-kata itu adalah senjata, seperti pedang yang tajam. Pedang itu bersama kita, si “anak panah yang runcing” yang disembunyikan Tuhan di dalam tabungNya. 

Aku takjub melihat bagaimana kata-kata bekerja. Ada percobaan ilmiah yang dilakukan ilmuwan Jepang bernama Masaru Emoto. Ia menguji apakah air dapat bereaksi dengan pikiran-pikiran yang positif dan negatif. Emoto menyiapkan dua gelas air. Setiap hari, air di Gelas A dicurahkan dengan kata-kata positif seperti: cinta, kebahagiaan, harapan, dll. Air di Gelas B setiap hari diberikan dengan kata-kata negatif: seperti benci, buruk, jahat, dll. Hasilnya, ketika dipotret, molekul-molekul air di Gelas A membentuk struktur yang sangat indah sedangkan molekul-molekul air di Gelas B membentuk struktur yang sangat buruk. Kita mungkin bisa meragukan reliabilitas percobaan tersebut, tapi kita juga bisa memikirkannya lebih jauh. Faktanya, 60 % tubuh manusia dewasa berisi air. Setiap kata yang kita ucapkan ternyata memberi efek bagi emosi dan perasaan kita. Jika kita mengawali hari kita dengan kata-kata penuh cinta dan positif, yakinlah kita akan lebih semangat menjalani hari itu meskipun banyak tantangan. Namun, kalau hari kita diawali dengan marah-marah, cibiran, atau hinaan, kerjaan apapun yang kita kerjakan, meskipun tidak ada tantangan, tetap terasa sangat berat. 

Liebe Juni, kamu adalah orang yang memiliki pedang itu. Kamu adalah salah satu anak panah yang disimpan dalam tabungNya. Satu kata dari bibirmu akan sangat berpengaruh dalam menuntun dan menerangi jalan orang-orang yang kamu temui. Pendapatmu akan sangat penting bagi mereka yang mencintaimu. Mereka yang awalnya tidak sanggup lagi berjalan, dapat berlari setelah mendengar kata-katamu. Bagi yang tidak menyukaimu, kata-katamu akan terasa seperti pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka. Mereka akan merasa terkoyak-koyak dengan sayatan kata-katamu. Kamu telah menelanjangi mereka dengan kata-kata. 

“Bangkitlah”, “Bangunlah”, “Majulah”, “Jalanlah,” “Pergilah”, “Marilah”, adalah beberapa kata yang sering aku baca di kitab suci. Kata-kata yang mendorong orang-orang bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu itu kadang tidak bisa diterima akal sehat dan bertentangan dengan realitas. Ingat kan, bagaimana Tuhan menyuruh Nuh membuat perahu dan dia ditertawakan orang-orang. Tetapi, Nuh tetap meneruskan pekerjaannya sampai selesai. Ya, sesuatu itu kadang membuat kita kesepian. Sesuatu itu kadang membuat kita dibenci dan dijauhi. Hal yang membuat hati sedih adalah kadang-kadang orang-orang yang tidak menerima kita adalah orang-orang yang justru paling kita harapkan menerima kita. Orang-orang yang melarang atau memarahi kita itu justru adalah orang-orang yang paling kita butuhkan pengertian dan dukungannya. 

Setelah Mami pergi dan banyak peristiwa-peristiwa di luar nalar yang terjadi, aku mulai mengasah kemampuan-kemampuan yang celestial, Juni. Aku percaya bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan, sebaliknya mereka saling beriringan. Aku menyiapkan waktu khusus memandangi benda-benda langit. Aku tahu kamu juga melakukan itu, kan. Tahukah kamu? saat bulan purnama tiba, air di permukaan laut naik. Begitu juga dengan air di dalam  tubuh kita. Oleh sebab itu, kata temanku yang belajar yoga, mereka tidak boleh melakukan yoga saat bulan purnama. Efeknya nanti bisa buruk pada kesehatan. Yoga dipraktekkan bukan untuk membuat badan langsing. Yoga dipraktekkan untuk membangkitkan energi yang tertidur. Siklus haid kita beriringan dengan siklus bulan purnama, 14 hari kurang lebih. Konon, para perempuan bijak dari abad lampau melakukan pemujaan pada Tuhan dengan cara mensikronkan tubuh mereka dengan alam. Dengan demikian, mereka bisa berdialog dengan alam semesta. Pengetahuan itu didapatkan melalui melihat dengan mata batin, memahami apa yang didengarkan, mendengar apa yang dibaca, dan membaca apa yang tidak terlihat. Hampir semuanya bersandar pada intuisi, atau kalau kata Mami: feeling. Ilmu pengetahuan modern dengan metodologinya kugunakan untuk berani menyangsikan “sesuatu” yang kutemukan itu. Seperti semacam safety belt supaya aku tidak jatuh pada kepercayaan buta. 

Sekalipun beriringan, iman dan ilmu pengetahuan berada dalam ranah yang berbeda. Ilmu pengetahuan berada di ranah akal atau rasio. Semuanya bisa diukur dan dibuktikan secara indrawi. Tetapi, iman berada dalam ranah rasa. Sesuatu yang sulit dibuktikan secara indrawi. Ilmu pengetahuan punya batasan. Iman tidak terbatas. Allah tidak bisa dijangkau dengan ilmu pengetahuan, akal kita tidak sampai. Namun, ilmu pengetahuan membantu kita mengenal Allah. Allah dijangkau dengan iman. Dengan iman, kita bisa merasakan “cara kerja” Allah.

Kita diberikan tugas itu. Peran untuk membangun dan meruntuhkan, menanam dan menuai. Menguatkan yang lemah, melembutkan yang keras. Menghibur yang sedih, membalut yang luka. Kita akan melakukan itu semua dengan kekuatan yang terletak pada kata-kata. Energi yang bisa menghidupkan dan mematikan. Oya, satu hal lagi. Kadang-kadang kita juga harus fleksibel untuk sesuatu yang tidak pernah kita duga terjadi. Kita harus selalu siap siaga seperti prajurit di medan perang. Aku teringat kata-kata Lieutenant Mattias di film Frozen 2, “ Be prepared. Just when you think you found your way, life will throw you onto a new path….”. 

Selamat ulang tahun, Juni. Selamat merayakan hari kelahiranmu. Aku bersyukur pada Allah karena menjadikanmu teman seperjalananku. Selamat menantikan kejutan dari si dia (atau sudahkah? Hehehe. Nanti cerita ya). Selamat melayani domba-dombamu. Selamat menjalani masa-masa sebelum pengurapanmu. Selamat menantikannya dengan tekun. 

Aku mencintaimu. 

deine, 
Meike

Aku dan Tuhan

Tuhan Menolong Orang Yang Ingin Berhenti Menyakiti Dirinya Sendiri

Senin, Juni 01, 2020

Lukisan Daud dan Mefiboset



Semua orang punya blackhole. (Makrus)

Tetapi, pilihan mereka untuk tetap di dalam blackhole atau keluar dari blackhole yang membuat perbedaan. (Meike)



Saya merupakan salah satu orang-orang yang disebut Harold S Kushner, seorang Rabbi Yahudi dan teolog, sebagai “orang-orang yang masih ingin tetap percaya pada Tuhan meskipun telah disakiti oleh kehidupan”. Ia menulis sebuah buku spiritualitas berjudul Why Bad Things Happen to Good People yang ditujukan untuk orang-orang seperti kami ini. Buku itu mempertanyakan mengapa hal-hal buruk menimpa orang-orang yang “baik”. 

Ya, tidak bisa dipungkiri kita hidup dalam dunia yang kejam dan tidak adil. Namun, ada konflik disini. Kami adalah golongan orang-orang yang dibesarkan dengan mengimani ajaran agama untuk berbuat baik. Jika kita baik pada orang, orang akan baik pada kita. Jika kita melakukan sesuatu dengan tulus, hal itu juga akan sampai ke hati orang itu. Hidup sesederhana apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai. Entah cepat atau lambat. 

Hal ini ternyata membentuk kami seperti anak baik dan Tuhan sebagai orang tua yang memberi hadiah atau hukuman. Bila kamu jadi anak baik, maka Tuhan akan memberikan ganjaran yang baik pula. Bila kamu melanggar dan melawan Tuhan, kamu akan menerima hukuman. Maka, bila terjadi sesuatu yang menyakiti kita padahal kita merasa tidak berbuat salah atau jahat, Tuhan seharusnya bisa dong mencegah hal itu. Namun, kenyataannya penderitaan tetap terjadi. Dan kita pun seperti Ayub (dalam tradisi Yahudi-Kristen) menggugat Tuhan dengan pertanyaan abadi: Mengapa? 

*** 

Pada dasarnya kita percaya bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta. Ialah yang menciptakan alam semesta dengan hukum-hukumnya, segala makhluk ciptaan, termasuk manusia, dan bahkan bagaimana dunia ini bekerja. Saya tidak akan banyak menjelaskan tentang persoalan ini yang bisa dikaji dari berbagai sudut pandang teologi, filsafat, kosmologi, ilmu-ilmu alam, dan ilmu sosial-humaniora. Saya mau bercerita tentang penderitaan dan rasa sakit yang ditimbulkannya dan peran Tuhan ketika hal ini terjadi. 

*** 

Saya lahir dan dibesarkan dalam tradisi Kristen. Ayah saya Katolik dan ibu saya Protestan. Dua jenis aliran yang memiliki sejarah pertikaian yang panjang. Konflik internal pertama saya dengan Tuhan adalah karena melihat orang tua saya bertengkar hebat tentang di gereja mana saya akan dibaptis. Saya termasuk dibaptis di usia yang cukup besar, kelas 2 SD. Usia yang katakanlah telat untuk ukuran anak yang dibesarkan Kristen karena biasanya mereka dibaptis di usia balita. Lalu, pertanyaan itu muncul dari Ibu saya,“Meike, mau dibaptis di gereja mana?”. Saya diharuskan memilih (suatu kebebasan yang saya syukuri di kemudian hari bahwa orang tua saya demokratis). Tapi persoalannya, saya tidak ingin memilih. Tidak bisakah saya menjadi keduanya? Ibu saya menggeleng. Negara tidak mengizinkan itu. Maka, akhirnya saya memilih dibaptis di gereja Protestan, ikut tradisi Ibu saya. Alasannya, karena Ibulah yang lebih getol mengajari saya tentang Kekristenan. Dialah Imam yang sesungguhnya di dalam rumah. Ayah saya waktu itu tidak pernah dan tidak tahu cara memimpin hal-hal yang bersifat keagamaan di rumah. Sebagai kompensasi, saya akhirnya disekolahkan dari SD-SMA di sekolah Katolik. Keputusan yang membuat saya mendapatkan pengetahuan mengenai dua tradisi ini dengan imbang. Hal ini yang kusyukuri sekaligus membuatku banyak berkonflik dengan Tuhan.

 *** 

Saya terlahir sebagai anak tunggal. Pada awalnya, saya tidak tahu bagaimana caranya berbagi. Anak tunggal selalu merasa bahwa the world revolves around me. Ibu saya berusaha keras mengajari saya untuk berbagi dan punya empati pada orang lain. Ia mendidik saya untuk mengurangi keegoisan saya. Waktu kecil saya ingin sekali punya saudara: kakak atau adik. Mereka lahir dalam kumpulan saudara-saudara dari extended family. Saya juga punya banyak teman-teman sehingga saya tidak menjadi anak yang penyendiri dan kesepian. Tapi, diam-diam saya membangun kepercayaan bahwa saya memang sendirian. Diam-diam saya membentuk satu ruang kosong yang terletak di lubuk hati saya yang terdalam. Ruang kosong untuk diisi Tuhan sebagai sahabat paling setia saya. Tuhan adalah segalanya bagi saya. Sahabat tempat curhat. Pribadi tempat saya meminta apapun. Penjaga dan pelindung nomor satu. Bahkan sebagai Kekasih yang didamba. Dengan latar belakang ini, tampaknya jika terjadi turbulensi yang menyebabkan penderitaan dalam hidup saya, maka Tuhan adalah sosok pertama yang akan saya persalahkan. Sosok kedua? tentu diri saya sendiri. 

Rabbi Kushner mengatakan bahwa orang-orang yang menderita memang cenderung menyalahkan dirinya. Penyebabnya, pertama, karena orang-orang ini selalu berpikir sebab-akibat. Jika A memperlakukan saya dengan kejam, itu pasti akibat dari apa yang saya perbuat. Lalu, saya akan menyalahkan diri atas apa yang saya perbuat sebagai akibat dari perbuatan A kepada saya. Kedua, orang-orang seperti ini tidak bisa mengontrol pikirannya sendiri. Harap diingat bahwa nama tengah saya “overthinking” dan saya punya gangguan kepribadian yang disebut "obsessive compulsive disorder" yang meskipun tidak parah tetapi melahirkan sifat perfeksionis. Kasarnya, aku ingin sempurna (sesuai kehendakku) di dalam dunia yang tidak sempurna. Mati kan gue, hehehe. Saya akan terus-menerus memikirkan dan mencari penjelasan masuk akal tentang semua hal. Disinilah godaan untuk menyalahkan orang lain muncul. Tapi anehnya, saya cukup jarang menyalahkah orang yang membuat saya terluka. Saya jarang sekali memikirkan bahwa persoalannya bukan pada diri saya atau perbuatan saya, tetapi pada orang tersebut yang tidak mampu mempersepsi dan merespon interaksi dengan baik dan tepat. Subjek orang lain yang saya salahkan disini tak lain dan tak bukan adalah Tuhan. Rabbi Kushner bilang orang-orang seperti saya ini lupa atau mungkin tidak tahu bahwa ada fenomena-fenomena yang tidak ada hubungan sebab-akibat. Sometimes there is no reason. 

*** 

Lalu bagaimana ketika penderitaan itu terjadi? Bagaimana dengan rasa sakit yang ditanggung? Orang yang menyalahkan dirinya cenderung untuk menyakiti dirinya. Kadang-kadang saya bingung mengapa dengan segala peristiwa sedih yang saya alami saya belum juga melakukan upaya bunuh diri. Lalu, saya teringat bahwa saya selalu punya “si setan” yaitu sisi pikiran negatif saya yang terus-menerus menyakiti saya dengan pikiran-pikiran jahat. Jahat karena ia mendukakan hati. Ia merampok semua sukacita saya. “Si Setan” inilah yang menyalahkan saya terus-menerus dan membunuh jiwa saya secara psikologis. Saya memang tidak melakukan bunuh diri secara fisik, tetapi secara psikis, saya sudah mati berkali-kali. Psikolog yang membantu saya dulu pernah bilang bahwa tampaknya berbagai peristiwa yang saya alami membuat saya menskip beberapa fase berkabung. Jadi, harusnya saya ada di fase “marah”, tetapi oleh keadaan, saya dipaksa ke fase “menerima”. Tampaknya, luka-luka yang terendap itu bisa muncul begitu saja ke permukaan begitu suatu peristiwa memicunya. Disinilah, pembantaian terhadap diri sendiri dimulai dan terjadi berulang-ulang. Inilah blackhole saya. 

*** 

Orang yang menyakiti diri sendiri cenderung akan mengisolasi dirinya. Ia tidak mau ditolong oleh orang lain. Salah satu residu yang tercipta adalah timbulnya rasa iri pada orang lain yang ia anggap hidupnya lebih beruntung dari hidupnya sendiri. Padahal, ia tidak tahu bahwa orang tersebut juga memiliki blackhole-nya sendiri. Di saat seperti ini, manakala dunia terasa kejam dan tidak adil. Tuhan hadir dan mau menolong orang-orang seperti kami ini. 

Tuhan menjelma seperti dalam kisah Daud dan Mefiboset. Melalui Daud, Tuhan menunjukkan cintanya dengan tidak melupakan Mefiboset yang hidupnya penuh dengan penderitaan: priviledge-nya diambil, kakek dan orang tuanya meninggal, kedua kakinya pincang, miskin sampai harus tinggal di rumah orang lain, dan dilupakan. Tuhan mengangkat Mefiboset yang seperti anjing yang mati untuk hidup sederajat dengan Raja Daud. 

Bagaimana caranya? 

Hal pertama yang dilakukan adalah doa. Doa bukan untuk meminta Tuhan menghentikan atau mengubah penderitaan ini. Doa disini adalah sebuah pengakuan bahwa kita lemah dan tak berdaya dengan keadaan yang kita alami. Doa meminta Tuhan memberi kekuatan untuk membuat kita berani menjalani hidup setelah ini. Doa untuk mengampuni diri sendiri, orang yang menyakiti kita atau keadaan yang membuat kita tidak berdaya, serta terutama Tuhan yang menciptakan dunia yang tidak sempurna ini. Dunia yang di dalamnya ada kebaikan dan kejahatan. Doa untuk menerima dan mengampuni. Orang yang beriman kadang menantikan jawaban Tuhan untuk penderitannya. 

Menurut Rabbi Kushner, “jawaban” bisa berarti dua hal: penjelasan dan respon. Penjelasan bisa diperoleh dengan kepandaian kita. Kita bisa menemukan penjelasan mengenai mengapa semua ini bisa terjadi, tetapi itu ternyata tidak meringankan rasa sakit dan rasa ketidakadilan yang kita rasakan. Maka, kita perlu melihat cara yang kedua yaitu respon kita terhadap penderitaan. Respon ini berarti kita mengampuni dunia yang tidak sempurna, kita mengampuni Tuhan atas segala yang terjadi, kita menggapai orang-orang lain: keluarga, teman, dan orang-orang yang menawarkan bantuan untuk menemani kita menghadapi penderitaan ini, dan terakhir respon kita untuk melanjutkan hidup meskipun semuanya terjadi. 

*** 

Ada penjelasan menarik bahwa Tuhan tidak bisa mencegah penderitaan terjadi karena ia meninggalkan “ruang” untuk manusia menjadi manusia. Dalam kitab Kejadian 1:26, Tuhan bersabda, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…”. Menurut Rabbi Kushner, “Kita” disini adalah Tuhan dan binatang. Manusia punya insting yang sama seperti binatang. Manusia dan hewan bisa makan, tidur, mati, berhubungan seks, dan menemukan pasangan. Manusia dan hewan bisa bereaksi terhadap sesuatu di dalam maupun di luar dirinya. Tetapi, ada yang membedakan manusia dengan hewan. Misalnya, manusia dan hewan bisa berhubungan seks, namun seks bisa menjadi problem buat manusia. Dalam penciptaan, Tuhan menyediakan ruang bagi manusia yang bahkan Tuhan sendiri mengatur agar Dia tidak ikut campur yaitu ruang untuk memilih (freewill).

Tuhan adalah sang Pencipta. Tetapi, Dia menciptakan pula aturan main untuk diriNya dan ciptaanNya. Tuhan tidak bisa mengendalikan hukum-hukum alam, evolusi, dan kebebasan moral manusia. Segala penderitaan di bumi ini terjadi karena residu dari mekanisme hukum-hukum tersebut. Residu yang harus dihadapi semua ciptaan. Penderitaan yang disebabkan oleh seseorang terhadap orang lain dipahami sebagai bagian dari pilihan yang dipilih orang tersebut. Penderitaan bisa karena nasib buruk, konsekuensi atau resiko dari pilihan, atau bahkan hukum alam yang tidak fleksibel. Rabbi Kushner menolak Tuhan sebagai pribadi yang mahakuasa yang tega melihat anaknya menderita untuk suatu alasan yang hanya Dia sendiri yang tahu meskipun itu konon untuk hal yang baik. Rabbi Kushner memilih melihat Tuhan sebagai sosok yang baik dan penuh kasih. Tuhan yang tidak menghukum atau memberi ganjaran. Tuhan sebagai sosok yang sedih dan ikut menangis ketika melihat kita terluka. Konsep Tuhan seperti ini sejalan dengan konsep Tuhan yang terproyeksikan dalam diri Yesus. 

Lalu bagaimana kita bisa melanjutkan hidup?

Semua tergantung pada pilihan hidup kita akhirnya. Disinilah agama, moral, dan etika membantu kita menemukan panduan untuk bisa membedakan mana yang baik dan jahat. Kamu bisa memilih untuk tetap berkubang dengan deritamu dan menjadi sosok pemarah, pendendam, dan menjahati orang lain karena kamu memang punya hak untuk jahat sebab kamu telah menjadi korban dari ketidakadilan dunia. Namun, kamu juga bisa memilih menjadi sosok yang meskipun telah menderita tetapi kamu memilih menerima ketidaksempurnaan hidup ini dan berusaha mencari ke dalam diri apakah masih ada cinta disana? Kamu bisa memilih untuk mengasihi. Ini dapat membantumu meredakan rasa sakit dan lebih berani menjalani hidup.

Cinta adalah anugerah Tuhan. Anugerah yang membutuhkan respon manusia. Cinta inilah yang akan meniup arang yang menyelimuti hatimu sehingga tampaklah cahaya. Cinta yang membuatmu tidak melakukan upaya bunuh diri dan justru sebaliknya menjadi kreatif dalam kegelapan. Penciptaan lahir bukan dari kekosongan tetapi dari kehancuran. Kamu akan menjadi lebih peka dan lebih efektif menolong orang lain karena kamu tahu rasanya menjadi orang yang menderita. Kamu memutuskan menjadi orang yang menginspirasi dengan mengasihi dan menolong orang lain. Kita bisa memilih menjadi "language of God", orang-orang yang membantu Tuhan eksis dan aktif di dunia, sehingga Tuhan tidak sekedar menjadi Pencipta. Hidup tidak mungkin tanpa penderitaan. Tetapi, kamu selalu bisa memilih.

Respon saya? 

Ya Tuhan, susah amat jadi homo sapiens ya. Tapi, ini akan menjadi jalan ninjaku… hehehe.

Mantra Kalimat

10 Years Time

Senin, Mei 25, 2020



In ten years time, I want to live in a house with big windows. I want a kitchen large enough to have a kitchen table with four chairs, but not too roomy to ever feel the depth of my aloneness because I’ll probably be alone. But, I think aloneness won’t feel all-consuming with windows that protect me from the world but still let me watch.

 (Maeve Wiley - Sex Education)

Love Story

Cinta Pertama

Sabtu, Mei 23, 2020

Waktu adalah kotak pandora.

Jika sedang mengalami "struggling for enduring emotional pain", saya akan melakukan perjalanan ke dalam diri. Mengingat hal-hal yang pernah terjadi. Mencoba melakukan dekonstruksi trauma-trauma yang saya curigai sebagai akar "mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan" *sambil nyanyi. 

Nah, kali ini saya berjalan-jalan masuk ke memori saya sampai ke awal mula kehidupan. Kembali mempertanyakan hakikat saya mencintainya. Mengapa dari 7 milyar manusia di muka bumi, saya harus jatuh cinta padanya? Mengapa pula seperti kami punya fantasi dan bahasa yang sama? Ada banyak irisan identitas dan pengalaman yang kayaknya kalau disatukan membentuk ikatan sehingga ketika kami dipertemukan kami saling memahami. Hubungan kami bukanlah sebuah pertemuan, melainkan seperti reuni. Sesuatu yang familiar dengan rasa yang berbeda. Oke. Anggap bagian ini hanyalah asumsi saya untuk membuat drama kisah cinta ini semakin menarik dan melankolis. 

 *** 

Ingatan itu berhenti pada saat saya kelas 1 SD. Ada satu kakak kelas yang saya taksir waktu itu. Huruf nama depannnya A, sama dengan Aquaman. Ciri-cirinya mirip Aquaman atau setidaknya warna kulit mereka sama-sama putih. Entah ada turunan Belanda atau tidak, tapi A ini juga agak kelihatan bule. Dia kelas 6 SD saat itu. Well, saya dan Aquaman memang beda 5 tahun dan sama-sama alumni sekolah Katolik yang didirikan oleh spirit kongregasi yang sama. Kisah cinta itu tentu saja tidak terwujud. A lulus SD, saya naik kelas. Kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. 

*** 

Ingatan saya mundur lagi. Kali ini berhenti di tahun 1995. Ada banyak penyanyi hebat yang berjaya di tahun itu. Ingatan itu menguat lagi di tahun 1997. Lagu Kirana dari Dewa 19 menjadi hits dan sering diputar di radio. Saya meminta Mami membuatkan mix tape dengan lagu Kirana dan Sambutlah-Denada di dalamnya. Di masa-masa itu, ada satu manusia yang tak pernah saya lupakan. Heri namanya. 

Entah tulisannya Harry, Heri, atau Hery, tak penting lagi. Di telingaku namanya sesederhana "Heri". Kupanggil dia Kakak Heri. Saya tidak tahu apakah itu nama depan, nama tengah, nama belakang, atau sekedar nama panggilan. Heri adalah teman SMA-nya Kakak Iccank, anaknya Puang Ibu. Puang Ibu adalah orang tua angkatnya Mami. Waktu kecil saya sering dititip di rumah Puang Ibu dan nanti akan dijemput begitu Mami atau Daddy pulang kerja. Nah, Heri dan Kakak Iccank adalah teman segeng di sekolahan. Jadi, sepulang sekolah Heri pasti akan singgah main ke rumahnya Kak Iccank. Rumah Kak Heri pun berdekatan dengan rumah Kak Iccank. Jadi akses itu tak sulit. Disanalah, pertemuan kami terjadi. 

Informasi apa yang bisa kita dapat tentang Heri dari akumulasi ingatan anak kecil pada masa itu? Ia anak orang hebat di kota Makassar. Orang tuanya pejabat. Heri memiliki kakak perempuan (sama dengan Aquaman). Saya tidak tahu apakah Heri hanya dua bersaudara atau lebih. Tapi, yang menarik adalah ibunya. Orang-orang di kota kami meng-highlight figur ibunya Heri dengan kagum dan hormat. Ibunya adalah orang hebat. Perempuan cerdas, tangguh, dan luar biasa (sama seperti ibunya Aquaman). Figur feminis di era itu mungkin. Ibunya kalau tidak salah mantan anggota DPRD, jabatan yang akhirnya juga dipegang oleh kakaknya. Kata Mami yang sempat mewawancarai kakaknya Kak Heri, wajah kakaknya dengan Heri sangat mirip. Apalagi kalau tersenyum. 

Bagaimana ciri-ciri Heri? Seingatku tubuhnya proporsional. Tinggi semampai, berkulit putih bersih, bermata teduh, dan senyumnya tulus. Ia memenuhi kriteria konstruksi ketampanan laki-laki Bugis. Ia mengingatkan kita pada figur Ahmad Dhani waktu masih muda. Rambutnya agak bergelombang, pendek, dan belah tengah. Ya, selain sama-sama bertubuh proporsional dan berkulit putih bersih, Aquaman dan Heri tentu tidak mirip secara wajah. Namun, memang ada sesuatu dalam diri Aquaman yang akhirnya kusadari mengingatkanku pada Heri (atau sebaliknya?). Heri dimataku selalu tampak sendu, lembut, dan puitik. Ada kombinasi maskulin dan feminin dalam dirinya yang mempesonaku. Hal-hal itu yang kutangkap ada pada Aquaman juga.

Aku suka sekali melihat Heri kalau memakai baju seragam SMA. Celana anak SMA tahun 90-an yang gabungan antara baggy atau semi cutbray. Karena kakinya jenjang, Kak Heri memakai model kemeja junkies dan celana semi cutbray, sementara Kak Iccank dengan kemeja junkies dan celana baggy. Begitulah gambaran maskulinitas cowok-cowok cool, tampan, dan kaya pada masanya. Untuk bisa mengingat ini, saya nonton ulang film Catatan Akhir Sekolah

Berhubung mereka adalah cowok-cowok kluster satu, maka mereka tentu selalu dikelilingi banyak perempuan. Pacar-pacar mereka tentu tak ketinggalan ikut nongkrong dan kadang kalau beruntung bisa melihat mereka bercanda ria. Pacar-pacar mereka cantik-cantik semua. Kak Heri tentu punya pacar juga. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku suka memperhatikan Kak Heri dari jauh. Jika ia melihatku, ia akan menegurku. Ia memberiku senyumnya dan berkata dengan sayang, "Adek Meike...,". Aku tak punya banyak kesempatan bercakap-cakap dengannya. Atau tak mengingat percakapan yang mendalam dengannya. Atau aku yang lupa? Entahlah. Lagipula, aku selalu tersipu malu bila dia ada di dekatku. Mungkin di matanya aku adalah anak kecil pemalu. Tak ada yang peduli dengan isi hati anak kecil. 

Waktu berlalu. Kehidupan berputar. Heri masuk dalam pusaran kenakalan anak muda di zamannya: narkoba. Tentu karena dia mampu membeli dan pergaulannya di level seperti itu. Entah sejak kapan dia demikian, tapi kita tahu bersama pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an penggunaan narkoba di kalangan anak muda memang mengerikan. Heri masuk dalam pusaran itu dan menjadi pecandu. Ia menjual barang-barang dari rumahnya dan konon membuat ibunya sangat sedih. Ketergantungan obat membuat Heri berubah. Ia tak menjadi anak manis lagi. Ia menjadi momok yang menyedihkan. Orang-orang mengelus dada dan menyayangkan keadaan Heri," Kasihan anak itu...kasihan ibunya ya?". Seingatku, Kak Heri belum menikah. 

Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP. Saya dan Mami lebaranan di rumah Puang Ibu. Tak lama, Kak Heri datang dan bercakap-cakap dengan kami. Kami tertawa-tawa mendengar dia bercerita tentang masa lalu. Suatu ketika pula, saya dan Mami baru pulang makan dari New York Chicken di jalan Pettarani ketika tiba-tiba ada yang berteriak memanggil kami. Itu ternyata Kak Heri. Dalam gelap malam, saya seperti tak percaya dengan yang saya lihat. Ia tetap tampan di mataku, tapi ia tak bercahaya lagi. Ia menanyakan kami darimana dan mau kemana. Pertanyaan kami yang sama untuknya. Setelah menyapa kami, Kak Heri pergi. Tubuhnya kurus. Ia tampak dekil dan menyedihkan. Pujaan hatiku yang diam-diam kusimpan di relung hatiku. Pujaan hatiku yang kudedikasikan semua lagu-lagu cinta tahun 90-an untuknya. Itulah pertemuan terakhirku dengan Kak Heri. Beberapa waktu kemudian, kami mendengar berita bahwa Kak Heri meninggal dunia karena overdosis. Ia selalu dikenang sebagai orang yang baik. 

*** 

Ada rasa sendu sekaligus lucu ketika ingatan itu kembali dan fakta bahwa nama baptis Aquaman adalah Heri dalam bentuk yang lebih fancy.

Aku dan Tuhan

"Aku Pergi Takkan lama"

Sabtu, Mei 23, 2020

Sudah menjadi kebiasaanku jika langit sedang cerah dan banyak bintang, maka aku akan mencari bintang yang paling terang dan mengklaim-nya sebagai bintangku. Dia yang menemaniku. Seperti malam ini, suatu kegembiraan manakala malam-malam sebelumnya menampakkan langit kelabu. 

 *** 

Ingatanku melayang pada perempuan-perempuan pesisir di kota Makassar. Pertemuanku dengan mereka teramat singkat dan diliputi kesedihan yang menggigit. Waktu itu aku sedang melakukan riset tentang perempuan pencari kerang yang termarginalkan pasca reklamasi pantai. Area laut yang menjadi lahan pencaharian mereka diprivatisasi. Hal itu tidak saja mempengaruhi keadaan ekonomi mereka, tetapi juga jiwa mereka. Mereka terpisah dengan kekasihnya, sang laut yang setia memberi. 

Aku datang ke rumah Ibu Ani, salah satu perempuan pencari kerang dengan niat untuk mewawancarainya sebagai salah satu informan. Sejak reklamasi, ia dan teman-temannya tidak bisa leluasa lagi mencari kerang. Untuk mencukupi kebutuhannya, mereka juga harus membeli ulang dari penjual lain di pasar lelang ikan. Itu berarti modalnya harus banyak dan keuntungannya menjadi berkurang dibandingkan ketika dulu mengandalkan laut. 

Rumah Bu Ani sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan beratap seng. Rumahnya berlantai tanah. Jangan mimpi melihat tegel keramik atau marmer. Rumah-rumah khas pesisir memang dibuat seperti itu untuk gampang bertahan dari air dan arah angin. Mungkin juga supaya mudah dibongkar. Disitulah, Ibu Ani tinggal bersama suami dan 8 anaknya. 

Seusai wawancara, Ibu Ani mengambil seember besar penuh berisi kerang sebagai oleh-oleh bagi saya. Saya menolak menerimanya. Pertama, rasanya ada yang tak benar secara etika. Kedua, saya juga tidak memberinya apa-apa jika itu mau dianggap sebagai relasi transaksional. Bukannya sombong atau tidak berterima kasih, tapi saya tahu kerang-kerang itu adalah harta paling berharga Bu Ani. Kerang-kerang itu bisa menambah napas Bu Ani sekeluarga hingga beberapa hari ke depan.  Kerang-kerang itu akan lebih berarti buat Bu Ani daripada buat saya, lebih-lebih karena saya sendiri tidak doyan makan kerang. Namun, Bu Ani tetap bersikeras untuk memberi kerang-kerang itu. Ia bilang ia akan merasa sangat sedih jika saya menolaknya. 

Akhirnya, saya pulang ke rumah dengan membawa seeember penuh kerang yang entah akan dibuat apa. Di rumah, hanya Mami yang makan kerang dan lama-lama dia takut darah tinggi karena makan kerang tiap hari. Akhirnya, Mami mengolah sisa kerang-kerang itu menjadi kerang rica-rica dan membawa ke kantornya. Pulang dari kantor, Mami melaporkan kalau kerang-kerang itu habis dimakan orang-orang dan semuanya senang. Kerang-kerang itu menjadi berkat. 

Sudah beberapa tahun berlalu sejak kejadian itu. Riset itu sendiri sudah dipublikasikan di buku Ekofeminisme IV. Namunyang akhir-akhir ini membuatku teringat peristiwa itu adalah bahwa dalam keterbatasannya, seseorang masih mau memberi. Ia tidak hanya sekedar memberi. Ia memberi sesuatu yang paling berharga dari miliknya untuk orang lain. Ia memberi miliknya yang paling berharga untuk orang asing yang mungkin belum tentu akan kembali menjenguknya. Sebegitu dalamnya ia menghargai orang asing yang mau mendengarkan cerita sedihnya. Dan meskipun orang asing itu sudah lama pergi dari hadapannya dan mungkin Bu Ani sudah lupa juga pada wajahnya, suatu simpul kenangan yang indah tetap mengikat mereka. Suatu pelajaran penting: orang tulus memberi bukan karena mampu, orang tulus memberi karena mengasihi. Seperti tulisan-tulisan itu, yang aku berikan untukmu karena itulah yang terbaik yang aku miliki. 

*** 

Aku menceritakan kisah kerang Bu Ani pada Juni dan Juni membalasnya dengan menceritakan kisah sebelum Yesus naik ke surga. Dalam kisah itu, Yesus meminta makanan pada murid-muridnya dan mereka memberinya sepotong ikan goreng (Lukas 24 : 36 - 49). “Bayangkan, mereka hanya memberinya sepotong ikan goreng”, tak habis Juni menalarnya. Ya, kadang memang kita hanya mampu memberi dalam spontanitas dan kemampuan kita pada momen itu. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan selalu menerima apapun yang kita persembahkan untuknya. 

Itulah pertanyaanku sejak semula. Apa yang bisa kuberikan bagiMu, wahai Engkau yang memiliki segalanya? Dapatkah kita seperti anak kecil dalam lagu Natal “Little Drummer Boy”?. Anak kecil yang mempersembahkan permainan drumnya untuk bayi Yesus. Ia memainkan drum yang terbaik untuk sang Raja. Itulah yang berharga dan yang sanggup ia berikan. 

Sebelum Yesus naik ke surga ia mengucapkan bahwa Ia akan menyertai kita selamanya. Tidak pernah perjalanan ini dijanjikan ringan atau tanpa rintangan. Tapi, Ia selalu beserta kita. Itu janjiNya. Maka, ketika aku menangis, aku harus mengingat bahwa aku sedang menangis bersamaNya. Jika aku tertawa, maka aku pun sedang tertawa denganNya. Hari ini adalah hari KenaikanNya. Ia pergi. Tapi, Ia akan kembali lagi. Seperti lagu yang diciptakan Minggus Tahitoe dan dinyanyikan kembali oleh putranya, Ello, “Aku pergi takkan lama. Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi, asalkan engkau tetap menanti…”

Setialah. Berjaga-jagalah. 

Cerita Lagu

Bintang

Rabu, Mei 20, 2020



Meski mungkin aku yang harus pergi 
Tak apa tanpa harus ku mengerti 
Biar aku melangkah 
Menemani bintang menerangi malam 
Jangan resahkan aku 
Yang penting bahagia untukmu selalu kasihku

(Kahitna - Bintang)

Cerita Pendek

Matilda

Rabu, Mei 20, 2020

Mungkin kesalahannya karena ia memberikan cintanya secara total untuk orang-orang. Entah itu pertemanan atau percintaan. Sebagian dari mereka membalas cintanya dengan sama totalnya, sementara lainnya tidak membalas seperti yang diharapkan. Orang-orang jenis terakhir inilah yang melukai dan mengecewakannya. 

Matilda memandang lurus ke depan. Air matanya sudah kering. Tapi sakit di hatinya tak kunjung reda. Di atas sana, langit mendung pertanda akan hujan. Suatu keadaan yang mulai ganjil mengingat saat ini seharusnya masuk musim kemarau. Matilda mengambil smartphone-nya. Mencari di daftar chatnya. Nama itu. Nama itu sekarang online. Tetapi tak ada kabar atau pertanda apapun darinya. Komunikasi sudah terputus sejak berbulan-bulan yang lalu. Matilda kebingungan. Ia berontak merasakan ketidakadilan. Semakin ia mencoba menalar, semakin ia terjebak pada ketidaktahuan. Semakin ia berusaha merasionalisasi, semakin hatinya lebam. Rasa ingin tahunya menjadi obsesi dan itu tidak sehat bagi jiwanya. 

Ada yang ia tidak mengerti. Ada yang tidak selesai. Tapi, Matilda harus menyelamatkan dirinya. Ia harus mengambil sikap. Setidaknya, ia berani mengucapkan selamat tinggal. Ia mencari kontak berikutnya. Itu adalah sebuah grup chat. Matilda membaca kata demi kata bagaimana kawan-kawannya menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya. Ia membutuhkan mereka dan mereka membutuhkannya. Namun, Matilda telah menganggu kemapanan mereka. Matilda ditandai sebagai ancaman dan ia harus mempersiapkan diri pada kemungkinan ia akan disingkirkan. 

Hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Suara guntur mulai menggelegar. Matilda merasa sangat lelah. Emosinya. Fisiknya. Ia merasa segala usaha dan cinta yang ia berikan terasa sia-sia. Ada dua godaan orang yang menderita: mengasihani diri dan merasa dirinya istimewa karena menderita. Matilda terjebak di antara keduanya. Ia merasa tak ada gunanya lagi mengasihani diri. Ia sendiri dengan sadar memilih jalan yang sunyi ini. Ia juga merasa terlalu angkuh untuk menyebut dirinya istimewa. Bahwa ia terpilih menjalani derita ini dan akan membuat perubahan. Hahahaha. Matilda tertawa sinis. Ia bahkan tidak bisa mengajak orang yang dicintainya untuk berdialog dengannya. Ia bahkan tidak bisa meyakinkan teman-temannya untuk percaya dan respek padanya. Ia sama sekali tidak istimewa. Ia adalah figuran dalam panggung kehidupan ini. Tempatnya ada di pinggiran. Tidak ada lampu sorot apalagi tepuk tangan. Ia hanya angka dalam tabel milik Pemerintah. 

Bisakah orang yang dilukai, disakiti, dan dikecewakan terus-menerus menulis tentang harapan? Seperti dunia tidak habis-habisnya menghadirkan dagelan, Matilda mendapatkan tugas. Tulislah tentang harapan! Perintah Komandannya terdengar dengan jelas. Matilda harus menulis tentang harapan di tengah-tengah dunia yang sedang krisis harapan. Ia harus menanam harapan di dalam suasana ketidakpastian ini. Ia harus menemukan cahaya dalam dunianya yang sekarang gelap. 

Matilda tidak tahu apa itu harapan. Ia melihat harapan sebagai sesuatu yang samar-samar. Harapan selalu dekat dengan kesuksesan, lalu apakah harapan tidak ada dalam kegagalan? Hidup Matilda adalah serangkaian kehilangan tiba-tiba yang hadir di saat ia tidak melakukan persiapan sama sekali. Ia menemui kegagalan. Bahkan ia sendiri pun adalah kegagalan sehingga jika ia gagal ia akan menyapa kegagalan seperti sobat lama, “ Hey…ketemu lagi kita”. 

Matilda tertawa. Ia sekarang punya kemampuan baru. Ia menangis dalam tawa, tertawa dalam tangis. Ia seperti kupu-kupu malam. Dadanya semakin terasa nyeri. Ya, jantung memompa darah dan alirannya deras berebutan ke dalam bilik-bilik disana. Matilda sangat marah. Tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk marah. Ia diperintahkan untuk memaafkan. Ia diperintahkan untuk mengerti keadannya. Belum selesai ia menghentikan pendarahan di hatinya, ia dipaksa untuk berlari lagi. Seolah ia benar-benar bukan manusia lagi. Ia dipaksa serupa dengan Penciptanya. Matilda tidak sanggup. Ia merasa seperti dituntut setiap waktu. Ia merasa sangat pengalah. Ia merasa telah menyerahkan dirinya dan dirinya bukan lagi miliknya. Ia pelan-pelan melebur pada kekuatan di luar dirinya yang ia tak pernah sanggup untuk pahami. Ia diperintahkan untuk menjalani. Matilda ingin jadi manusia saja, yang lemah dan bisa jatuh. Manusia yang tidak tahu apa-apa. Manusia yang boleh marah dan dendam. Manusia yang karena keterbatasannya, kemudian dimaklumi, dan dimaafkan. Manusia yang boleh takut dan ragu. Manusia yang berdarah. 

Apa itu harapan? Mungkin sejenis kelegaan bahwa ada daya untuk melangkah lagi. Harapan bukan pintu keluar dari labirin persoalan yang membuat kepala dan hatinya sakit. Harapan adalah “perasaan” bahwa ada jalan keluar, bahwa akan ada cerita baru lagi, orang-orang baru lagi, teman-teman baru lagi. 

Harapan mewujud dalam aksi untuk mencari pintu keluar. Dalam labirin yang gelap, Matilda berjalan sambil menangis mencari pintu keluar itu.