Cerita Lagu

"Fear Cannot Be Trusted"

Kamis, November 19, 2020




"...I want to hold you till the fear in me subsides."

(Sometimes When We Touch - Dan Hil)


Lagu ini suka diputar Mami semasa hidup. Penyanyi aslinya bernama Dan Hill. Waktu ditanya cerita dibalik lagu ini, Dan Hill mengatakan bahwa lagu itu dibuat untuk seorang perempuan yang ia cintai. Sayangnya, perempuan itu memilih orang lain sebagai pasangannya. Dan membuat lagu ini dengan tujuan untuk memenangkan hati perempuan itu. Kata Dan, "Mungkin dengan lagu ini, dia akan tahu siapa yang terbaik mencintainya". Tidak ada cerita lanjutan apakah Dan berhasil atau tidak memenangkan hati  perempuan yang dicintainya itu, namun lagu Sometimes When We Touch menjadi hits di dunia bahkan dinyanyikan banyak penyanyi top dari berbagai negara. Menurut saya, versi Olivia Ong yang paling manis. Olivia akhirnya bisa membuat saya mengerti liriknya. Sebelumnya, saya sama sekali kesulitan memahami isi lagu ini. Sejauh ini, saya menyukai lagu ini karena melodinya yang indah. Ya, saya menyukai fisiknya saja. Olivia membuat saya bisa memahami kepribadiannya. 

Setelah menyimak liriknya dengan seksama, lirik lagu ini memang sangat personal. Hanya Dan dan perempuan itu yang tahu maknanya. Tapi, tampaknya keintiman yang intens memang menakutkan. Kadang manusia terlalu fokus pada reaksi yang ditimbulkannya. Keberbedaan itulah yang menciptakan ketakutan. Kita takut sesuatu yang "beda" ini akan hilang. Kita lupa menyadari betapa tidak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan hal ajaib ini. Mengapa kita begitu fokus pada sesuatu yang belum terjadi, pada ketakutan-ketakutan yang belum tentu terbukti? sementara kita sudah diberikan waktu untuk merasakan bahagia, namun malah memilih lari darinya. 

Kata temanku yang seniman, Mas Boy, takut adalah tanda bahwa seseorang ingin serius. Takut karena ia ingin memberikan yang terbaik. Seperti saya yang harus berjarak kurang lebih satu bulan untuk mulai mengurus berkas pengajuan jabatan fungsional dosen. Saya ingin memberikan yang terbaik. Saya ingin menunjukkan bahwa saya sumber daya insani yang layak buat negara ini. Tapi, saya takut. Takut kalau saya tidak bisa melakukan yang terbaik untuk tanah air saya. Takut tidak bisa menjadi guru yang baik bagi murid-murid saya. Saya butuh jeda. Saya butuh berjarak sejenak dari berkas-berkas itu. Saya butuh mengumpulkan niat untuk bergerak. Saya butuh meredakan ketakutan saya. 

Pada akhirnya, saya berhasil. Saya berhasil mengalahkan ketakutan saya karena saya tidak sendirian. Saya ditemani teman-teman saya, Mbak Sika dan Uswah. Mereka berdua yang men-deadline saya. Mereka berdua yang membantu saya mengisi berkas dan mengecek kesiapan berkas-berkas saya. Bersama-sama mereka, saya bisa mengatasi semua keraguan dan ketakutan ini. Sosok berikutnya yang saya banggakan adalah diri saya sendiri karena berani menyambut uluran tangan mereka ketika saya tenggelam dalam rasa takut dan ragu. Kemarin, kami bertiga akhirnya menyetorkan berkas kami ke jurusan untuk diproses. Rasanya luar biasa lega. Semua terjadi indah pada waktunya. Saya berterima kasih pada Mbak Sika dan Uswah yang tidak meninggalkan saya. Sungguh bodoh rasanya bila tetap memilih tenggelam dengan rasa takut dan tidak kemana-mana padahal banyak orang yang bersedia menemani dan menolong. Jika saya tetap takut, saya mungkin akan menyia-nyiakan kesempatan dan peluang indah yang menanti di depan sana. 

Ya, takut itu manusiawi. Takut itu tanda seorang hamba yang sadar ada kekuatan yang mahabesar di luar dirinya. Tapi, kita juga jangan membiarkan diri kita percaya pada rasa takut. Fear cannot be trusted kata Elsa di film Frozen 2. Takut bukan untuk pergi dan menjauh. Takut justru menyediakan ruang bagi kita untuk bersiap-siap melakukan sesuatu. Jangan sampai kita seperti Dan Hill. Ia terlambat menyadari bahwa orang yang dicintainya akhirnya pergi meninggalkannya. Setiap orang memiliki batas waktunya di dunia ini. Penyesalan tidak akan membawamu kemana-mana. Orang yang menyesal dihukum seumur hidup oleh rasa bersalahnya. 

Waktu itu berharga. Jangan biarkan rasa takutmu menghisap waktu dan kebahagiaan yang sudah diberikan kepadamu. 

Life Story

The Torchbearer

Jumat, November 13, 2020


Seperti Hobbit lainnya, Frodo juga senang makan, berpesta, dan tidur-tiduran memandangi langit biru. Tak pernah ia menduga bahwa pada suatu hari, pamannya Bilbo memberinya warisan, sebuah cincin sakti yang memiliki kekuatan dahsyat untuk memerintahkan kekuatan-kekuatan lain bersatu di bawah kendalinya. Dunia menginginkan cincin itu, tetapi Frodo tidak. Ia hanya seorang hobbit tulus hati yang ingin hidup tenang. 

Gandalf memandangi Frodo yang sudah siap dengan mantel dan bekal perjalanannya. Ia menyerahkan sebuah tongkat pada Frodo untuk menempuh terjalnya jalan yang akan dilewati. Hati Gandalf terenyuh. Tak sampai hati menyaksikan tubuh sekecil itu menanggung beban yang luar biasa berat. Beban yang tidak seharusnya ia pikul.

***

It was a gift.  Begitu kata mereka. Sebuah karunia yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Karunia itu diberikan oleh Sang Pemberi Kehidupan dan dirawat oleh mereka yang lebih dulu menerimanya. Namanya juga hadiah, itu tidak bisa diambil kembali. Yang menerima mau lari atau menolak pun tidak akan bisa. Itu hanya akan membuat dirinya lelah dan susah. Karunia itu pada akhirnya harus diterima sebagai bagian dari jati diri. Sesungguhnya, karunia itu tidak sembarangan diberikan kepada para keturunan. Karunia itu juga memilih siapa tuannya. Hanya yang jiwanya tulus dan kuat yang bisa belajar mengendalikan dan menggunakan karunia itu.  Power control itu harus diarahkan demi kepentingan orang banyak. Kekuatan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka yang berhasil akan menjadi penyeimbang semesta. Mereka yang gagal  akan dihisap oleh kekuatan itu dari dalam. Yang berhasil akan serupa dengan Gandalf. Yang gagal akan seperti Gollum.

Frodo harus belajar mengendalikan dirinya. Ia harus mengenal dirinya lebih dulu. Ia harus bertanding dengan dirinya sendiri. Dirinya sendiri adalah guru dan lawan yang terbaik. Untuk bisa menggunakan karunia itu, Frodo harus belajar untuk bisa menyeimbangkan hati, pikiran, hasrat, dan tubuhya. Ia juga harus sadar dengan inner child-nya. Frodo dituntut untuk netral. Ia dituntut untuk mengelola kelima hal tersebut dalam dirinya tanpa berpihak pada salah satu. Ia harus belajar menerima dan mencintai dirinya sendiri apa adanya. Ia harus mengenali semua kekuatan dan kelemahannya serta mengelolanya dengan bijak. 

Ia tidak boleh terlalu marah. Ia tidak boleh terlalu sedih. Ia tidak boleh terlalu bahagia atau bangga. Ia tidak boleh terlalu memiliki sesuatu atau seseorang. Ia tidak boleh dendam. Ia tidak boleh terlalu memiliki ambisi. Ia harus belajar menjadi kecil meskipun memiliki daya yang besar. Ia harus belajar mengikuti gerak Semesta. Ia harus belajar patuh pada The Divine

Jika ia berhasil menguasai dirinya, maka ia akan menjelma sebagai the torchbearer, si pembawa obor. Ada banyak orang-orang yang seperti dia di dunia ini. Mereka yang menerangi orang-orang agar mengikuti Cahaya yang Sejati dan agar kegelapan tidak menguasai dunia. Mereka memiliki karunia masing-masing. Frodo harus berpihak pada jalan Terang, tetapi tidak boleh membenci kegelapan. Baik dan Buruk adalah kaki kanan dan kiri, keduanya tidak bisa dipisahkan. Keduanya berlindung di bawah The Divine

***

Frodo melihat dampak dari beban itu. Ia tidak mau orang-orang yang dicintainya terluka karena dirinya. Maka, ia memutuskan untuk pergi membawa cincin itu ke Mordor. Biarlah ia yang menanggung beban itu sendirian. Tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya. Itu Samwise Gamgee, sahabatnya. Frodo menjauh, tapi Sam terus mengejar meskipun ia harus tenggelam. Frodo tidak sampai hati melihat Sam yang kesulitan. Ia menarik tangan Sam dan mengangkatnya dari dalam air. 

"Apakah kau gila, Sam?," tanya Frodo. "Perjalanan ini berbahaya," ujarnya.

"Aku sudah berjanji pada Tuan Gandalf. Aku tidak akan meninggalkanmu," kata Sam. 

"Oh Sam...," Frodo terharu. 

The Divine tidak akan membuat orang-orang yang melayaniNya sendirian. Ia akan memberi mereka petunjuk. Ia akan membimbing mereka. Ia mengutus mereka berdua-dua, supaya kalau yang satu jatuh, yang lain menopang. Kalau yang satu sedih, yang satu menghibur. Mereka saling menolong, menguatkan, dan mendoakan. Mereka akan bertemu dengan teman-teman seperjalanannya yang lain. Mereka akan menciptakan jaringan kosmis yang indah. 



Cerita Lagu

Sudah - Ardhito Pramono

Minggu, November 01, 2020

 


Sudah, 
Lupakan semua derita
Doa semesta mencairkan 
Luka akan hilang perlahan terobati 

Belajar memahami masa depan 
Tak kah yang disimpan akan tenang 
Melahirkan semua nada indah 
Mencoba menjadi bahagiamu sendiri

Cerita Pendek

Acara Merongrong Kesedihan

Senin, Oktober 26, 2020

Bagaimana caranya mencintai diri sendiri tanpa syarat?


Tampaknya, sejak terlahir ke dunia kita tidak (belum) memiliki metode bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Kita mungkin tahu konsepnya, tapi "bagaimana"-nya itu yang kita tidak tahu. Kita telah diajarkan untuk mengasihi orang lain. Ada banyak standar yang dibuat untuk membuat kategori bahwa kamu mencintai orang lain atau merasa dicintai orang lain. Tapi, bagaimana dengan mencintai diri sendiri? Ada hukum yang mengatakan bahwa untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka kamu harus terlebih dahulu mengasihi dirimu sendiri. Oh Gusti, rasanya pengetahuan dan pengalaman ini sangat sulit dicapai.

***

Al mendengarkan lagu-lagu sedih sebagai bagian dari acara merongrong kesedihan, begitulah istilah yang dipinjam dari sahabatnya, Naartjes. Setelah mendengarkan lagu-lagu sedih, ia akan menangis terhanyut oleh lirik dan melodinya. Setelah itu, dia akan menonton film-film romance yang tidak mungkin terjadi pada dirinya. Ia akan membandingkan fantasi di film dengan fantasinya. Ia akan menangis lagi karena tahu tak mungkin ia akan mengalami yang ideal itu dalam hidupnya. Lalu, setelah itu ia akan masuk ke dalam puncak acara. Ia akan melakukan pembantaian pada dirinya yang di "dalam". Seperti Drupadi, ia akan mengeramasi rambutnya dengan darahnya sendiri. Ia menikmati meminum darahnya sendiri dan berendam di dalam kubangannya. Tenang, ia tidak melukai dirinya secara fisik. Dulu sekali, ia pernah mencobanya. Tetapi, sakit di tubuhnya tidak menyembuhkan sakit yang di "dalam". Baginya, itu sia-sia saja. Ia lebih suka pertumpahan darah secara psikis dan tak terlihat.

Bertahun-tahun kemudian, Al akhirnya tahu yang dia lakukan adalah jahat pada dirinya sendiri. Ia mungkin sudah lebih tua, jadi yang ia lakukan hanya merasa lelah dan ingin semuanya berakhir. Dorongan meniada semakin kuat. Tetapi, dorongan untuk pulih juga sama kuatnya. Ia harus memilih. Mengakhiri sekali untuk selamanya atau berani bangkit. Ia memilih yang kedua. Ia memilih untuk pulih. Ia harus mencari pertolongan. Ia harus berhenti membuat acara yang merongrong kesedihan. Al harus melakukan pertempuran dengan dirinya sendiri. Ia barus bertemu dengan berbagai dimensi dalam dirinya: jiwa, pikiran, dan tubuh.  Ada inner child yang harus dia hadapi. Ia sudah mengidentifikasi akar masalahnya dan sedang berusaha menghadapi dimensi-dimensi tersebut. Kata Gurunya, ia kini mendapat PR untuk mengubah energi cintanya yang terus-menerus untuk orang lain, berbalik menuju dirinya sendiri: mencintai, memaafkan, dan menerima dirinya sendiri tanpa syarat. Ini sangat sulit. 

Bagaimana caranya?


Love Story

Menikah (Part 1)

Sabtu, Oktober 17, 2020

Sebenarnya apa tujuan orang menikah?

Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan teori-teori sosial-humaniora yang canggih. Tapi, aku ingin membagi kisah tentang pernikahan yang aku pikir tidak ada. 

Sahabatku Juni pernah bercerita tentang dua dosennya yang merupakan suami-istri, Pak Link dan Bu Link. Mereka adalah dosen sekaligus misionaris dari Jerman yang diutus ke Indonesia dan mengajar di sekolah teologi di kota kami. Sebenarnya yang pendeta, misionaris, dan teolog itu Pak Link sementara istrinya, Bu Link seorang psikolog. Bu Link mendukung dan menemani perjalanan Pak Link "menjaring manusia" di bumi pertiwi. Kata Juni, kalau Pak Link mau khotbah, ia akan membacakan khotbah yang ditulisnya di depan istrinya terlebih dahulu sebelum di depan jemaat. Bu Link lalu akan memberikan pendapat dan sarannya entah itu tentang gaya khotbah, intonasi, bahkan isi khotbah suaminya. Mereka tinggal berdua di rumah dinas yang disediakan kampus. Mereka sudah lama menikah dan tidak punya anak. Usia mereka sudah paruh baya. Dalam sebuah acara, pernah ada yang bertanya pada Pak Link tentang ketidakhadiran anak dalam keluarga mereka yang selalu tampak harmonis itu.  Jawaban Pak Link sungguh diluar dugaan. Sambil menatap istrinya dari jauh yang sedang sibuk bercerita dengan kolega yang lain, Pak Link menjawab," Saya menikah dengan istri saya bukan untuk memiliki anak, tetapi karena saya ingin hidup dengan dia." 

***

Hubungan orang tuaku juga mengajarkanku tentang cinta. Hubungan mereka tidak bisa dibilang mulus-mulus saja seperti dongeng Disney. Penuh trial and error. Mereka seperti langit dan bumi. Namun, ada juga hal-hal yang membuat mereka dapat berjalan bersama: dua-duanya orang yang takut Tuhan, punya komitmen dan loyalitas yang tinggi, serta selalu memberikan yang terbaik untuk anak. Mami punya dunia sendiri, Daddy punya dunia sendiri. Tetapi, mereka tidak saling ganggu. Komunikasi dan keterbukaan adalah kunci. Mereka juga mengajarkanku etika: kita harus menghormati privasi setiap orang. Daddy punya rutinitas yang membuat dia merasa "secure". Mami sibuk dengan pekerjaannya dan pelayanannya. Tidak ada pertunjukkan afeksi yang berlebihan. Mereka seperti co-exist saja. Aku paling suka kalau mereka sedang berdiskusi, nyambuuung sekali membicarakan apa saja. Mereka juga melibatkan aku dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Jadilah kami, The Three Muskeeters. Aku bersyukur keluargaku demokratis. 

Tapi, badai juga datang dan banyak rahasia-rahasia di masa lalu yang membuat kami tidak bisa tertawa. Perpisahan pernah hampir terjadi dan aku diserang dilema hebat. Namun, akhirnya mereka berusaha mengatasi perbedaan-perbedaan mereka. Mencari titik keseimbangan untuk stabil. Aku belajar setia dari mereka. Jika kamu punya masalah dengan pasanganmu, bicarakanlah berdua, cari titik temu, dan solusinya, bukan mencari pelarian pada orang lain. Bukan pula melakukan kekerasan bagi satu sama lain.  Kejujuran itu penting. Komunikasikan apa yang menganggu hatimu, tetapi jangan lupa untuk mengapresiasi pasanganmu. Jadilah dirimu apa adanya. Hubungan yang baik dan sehat tidak jatuh dari langit, tetapi selalu harus diusahakan. Ambil sela, sebelum melangkah sama-sama lagi. Kita bisa mandiri, tetapi jika bersama kita akan jauh lebih kuat. 

Dari orang tuaku, aku belajar bahwa cinta itu bertahan. Kamu tidak meninggalkan orang-orang yang kamu cintai terlepas segala kelebihan dan kekurangannya. Mami tidak pernah berdoa meminta Tuhan mengubah suaminya, ia meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menghadapi suaminya. Daddy? aku tidak tahu dia berdoa apa. Tetapi, dia tidak meninggalkan kami berdua meskipun dia punya seribu satu alasan untuk pergi. Seumur hidup menjadi anak mereka, aku tidak pernah melihat orang tuaku mesra-mesraan. Tetapi seperti lirik lagu The Smith," to die by your side, well, the pleasure, the privilege is mine", Mami menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Daddy. Bagiku, tak ada kematian yang seindah dan seromantis itu. 

***

Secara umum, konstruksi gender telah mengajarkan perempuan bahwa menikah adalah tujuan hidup. Sebaliknya, laki-laki bisa dengan bebas memilih pengantinnya sebagai properti dan "pengganti ibu" yang akan mengurus dirinya kelak. Bagi laki-laki, ada atau tidaknya perempuan di sisinya tidaklah menganggu eksistensi mereka, meskipun hal itu mengganggu ego maskulinitasnya. Itulah sebabnya, mereka bisa menambah atau "jajan" pasangan jika mau atau kalau tidak ada pun ya tidak masalah. Dunia laki-laki adalah dunia atas cita-citanya, perempuan yang menjadi pasangannya hanya salah satu bagiannya saja. Kadang bahkan dianggap sebagai ancaman atau ganjalan sehingga harus disingkirkan. Beda dengan perempuan, menikah adalah persoalan eksistensi. Laki-laki yang menjadi pasangannya akan menjadi dunianya. Seluruh hidupnya akan dicurahkan untuk pasangannya dan anak-anaknya. Sistem patriarki menciptakan ketergantungan bagi perempuan terhadap laki-laki, mulai soal finansial sampai emosi. Sayangnya, perempuan akan pelan-pelan kehilangan dirinya sendiri setelah menikah. Ia akan semakin jarang dipanggil dengan namanya, melainkan berganti menjadi Ny. Suami dan Ibu dari Fulan, anaknya. Kehilangan diri sendiri merupakan luka bagi perempuan. Di sinilah, jika tidak pandai mengenali diri sendiri dan mencari ruang pembebasan, maka mereka bisa jatuh menjadi monster feminin. Misalnya, mereka menjadi ibu yang narsistik atau queen bee yang menganggap perempuan lain ancaman. 

Menikah adalah peristiwa budaya, sementara jatuh cinta adalah peristiwa takdir. Kita bisa selalu memilih untuk menikah dengan siapapun. Tapi, soal hati itu bisa sedikit lebih rumit. Pertimbangan orang menikah pun tidak semata karena cinta saja. Untuk membangun keluarga, maka merger di antara dua keluarga akan dilakukan. Dalam konteks Indonesia, idealnya pernikahan adalah keselarasan budaya, agama, dan status sosial yang harus sinkron. 

Tidak ada yang salah dengan menjadi istri dan ibu. Aku suka merawat dan yakin bisa jadi istri dan ibu yang baik dan berjuang untuk mereka. Tetapi, aku juga sangat sadar bahwa aku tidak suka dikekang. Aku tidak suka diatur-atur. Aku tidak bisa dibuat patuh. Semakin aku diatur, semakin aku melawan dan akhirnya pergi. Tentu saja laki-laki patriarkal tidak akan suka dan tahan denganku dan akupun tidak akan tahan dan suka dengan mereka. Sampai detik ini, aku tidak bisa terima dengan UU yang masih timpang terhadap perempuan dalam pernikahan. Aku juga tidak suka legitimasi agama yang mengatakan bahwa "istri harus tunduk pada suami" dan "istri harus dibimbing oleh suami sebagai imamnya". Aku adalah imam bagi diriku dan mencari Tuhan dengan caraku sendiri. Aku tidak bisa dipakaikan "topi baja" untuk taat pada suatu sistem yang membuatku menjadi penurut (dan ini paradoks karena sekarang aku sudah dipakaikan "topi baja" oleh sistem yang membuatku harus pandai menjadi si penurut dan anarkis sekaligus hehehe). 

Ya, menikahlah jika kalian mau dan membuat kalian bahagia. Kalau itu standar bahagiamu, maka jalanilah dengan sukacita. Tetapi, ingatlah bahwa tidak semua orang memiliki standar ideal yang sama denganmu.

Life Story

The Poetics of Depression

Rabu, Oktober 14, 2020

Itu adalah judul artikel di salah satu media online tentang Virginia Woolf, salah satu penulis perempuan yang berpengaruh di awal abad ke-20. Tulisan Virginia merupakan narasi diri perempuan yang berada di lapis dalam sehingga layak dikaji untuk membuktikan keberadaan narasi feminin di tengah narasi maskulin yang mendominasi dunia sastra. Kejujuran Virginia menceritakan keresahannya dan depresinya secara puitis menjadi kekuatannya. 

Virginia memang punya sisi gelap. Akumulasi dari rasa kehilangan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya (ibunya, ayahnya, dan saudaranya meninggal dunia dalam waktu berdekatan) membuat dia menderita depresi dan mood swing disorder. Suaminya, Leonard, adalah orang yang paling setia menemani dan menghadapi berbagai serial episode perubahan mood Virginia. Ia bisa sangat marah, sangat sedih, dan menderita serangan panik. Pada akhirnya, Virginia memilih mengakhiri hidupnya. Ia menenggelamkan dirinya di sungai dekat rumahnya. 

***

Bagi orang-orang yang tidak mengalami depresi atau tidak pernah berhadapan dengan mereka yang menderita depresi, dorongan untuk meniada sepertinya tampak konyol. Tapi percayalah, bahwa kesedihan dan kesakitan yang ditanggung mereka itu tidak tertahankan. Kebanyakan mereka yang depresi memilih bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya. Mereka tidak bisa melihat terang. Mereka tidak bisa memiliki harapan. Mereka kesulitan merasakan bahwa mereka dicintai. Mereka selalu merasa lelah, memberi terus-menerus tetapi tidak menerima kembali: entah cinta, respek, atau apresiasi. Orang-orang depresi menderita rasa bersalah, takut, dan melakukan self-abuse karena merasa diri mereka tidak berarti. Mereka percaya bahwa keberadaan mereka tidak penting dan tidak diinginkan di dunia ini. Orang depresi banyak melakukan "penundaan" menuju klimaks rasa sakitnya dengan melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya. Rasa sakit menjadi semacam adiksi. Dengan merasa sakit, maka semakin benarlah perasaan dan pikiran bahwa mereka adalah penyebab malapetaka: ibumu atau ayahmu meninggalkanmu karena kamu bukan anak baik, kekasihmu meninggalkanmu karena kamu tidak sempurna, teman-temanmu menjauh karena kamu tidak memiliki apa-apa, atau apapun pekerjaan atau usaha yang kamu lakukan semuanya sia-sia. 

Orang-orang depresi berjalan dalam jurang yang gelap. Sangat sedikit orang-orang yang menemani mereka dan ketika menemani mereka pun, kita tidak tahu harus berbuat apa. Aku teringat perkataan sahabatku yang berjuang bertahun-tahun dengan sakitnya, "Apakah karena kita begitu ingin dicintai dan diterima sampai kita terus-menerus yang berusaha? yang mengemis?"

***

Aku sekarang menyukai tema kehancuran: kesakitan, penderitaan, kehilangan, ditinggalkan, diabaikan, kesepian, keterpisahan, ketidakpastian, ketidakterdugaan, kerapuhan, kegilaan, dan penantian. Di tengah kehancuran, aku menemukan keindahan. Sebuah paradoks. A happy sad story or a happy horror story.  Rasanya seperti berenang dalam black hole. Jalan kehancuran kupilih (atau dipilihkan?) untuk melakukan ziarah ke dalam diri. Ini adalah jalan sunyi menuju penciptaan yang baru.

Akhirnya, aku memberanikan dan menguatkan diri untuk memanggil inner child-ku atau kusebut sweet child o'mine seperti judul lagunya Guns N' Roses. Dialah luka batinku di masa kecil yang kubawa sampai dewasa. Dalam bayanganku, dia berwujud anak kecil  berusia kurang lebih 5 tahun berkulit putih dengan mata sipit, rambut ikal kecokelatan, mengenakan kaos warna merah gambar Satria Baja Hitam, celana jeans pendek, sepatu Keds warna merah, dan topi bowler warna biru tua. Kecemasanku adalah produk dari trauma yang dia alami dulu. Dia-lah yang melakukan self abuse bertahun-tahun: pikiran-pikiran jahat dan sedih yang terus-menerus muncul manakala trauma-ku ke-trigger. Dia-lah yang merengek memaksakan keinginannya ketika tidak dituruti. Dia-lah yang akan membanting pintu dan menyakiti dirinya. Kata-katanya selalu terasa benar. Dia adalah si Jenius. Dia sebenarnya lucu dan suka tertawa. Dia yang penyayang dan akan memberikan segalanya kepada yang dicintainya. Tetapi, ketika dia merasa tidak dicintai, dia akan berbalik menyalahkan dirinya karena ada bagian dari dirinya yang tidak diterima, suatu keadaan yang divergent. Dia anak perempuan tetapi ekspresi gender-nya androgini. Dia bisa sangat maskulin sekaligus bisa sangat feminin dan bisa diantara keduanya. Aku pikir traumaku dulu hanya seputar Daddy issue dan Oma (dan aku sudah berdamai dengan itu). Namun, ternyata ada trauma yang tersembunyi. Trauma itu tentang identitasku yang hybrid. Aku harus membunuh identitasku yang satu, untuk bisa diterima di lingkungan tertentu. Kecemasanku membutuhkan validasi. Trauma itu juga dimiliki Mamiku. Tidak, trauma tidak diturunkan secara genetik, melainkan melalui pola asuh dan faktor pendukung seperti lingkungan tempat kita dibesarkan atau perlakuan orang-orang yang berinteraksi dengan kita. 

Inner child-ku itu memandangiku. Ia tampak sangat sedih, sendiri, dan kedinginan. Wajahnya hidup dalam beberapa fotoku yang diambil secara candid, wajah orang yang ditolak. Ia selalu merengut: antara sedih dan marah. Ia sering menggugat. Tapi, suaranya tidak didengarkan. Psikolog bilang aku harus melepaskan inner child-ku. Tetapi, itu tidak mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan atau berpisah dengan dia. Dia adalah bagian diriku. Yang bisa kulakukan adalah berdamai dengannya, menerimanya, dan bekerjasama dengannya. Tentu itu semua tidak bisa dalam sekali waktu. Ini baru tahap awalnya. 

Aku lalu merentangkan tangan, mengundang anak kecil itu mendekat. Ia pelan-pelan menghampiriku. Ia masih kaku, tapi badannya akhirnya tumpah di pelukanku: Meike tidak ditolak, kamu sangat dicintai. Maafkan aku ya...aku mencintaimu, Meike.” 

Seperti kata Kermit, the Frog, "Maybe you don't need the whole world to love you. Maybe you just need one person.”

And that person is you, diri kita sendiri. 



Aku sedang bergandengan tangan dengan inner child-ku sambil mendengarkan lagu ini, "Someday we'll find it, the rainbow connection...the lovers, the dreamers, and me..". 

Love Story

The Answer

Rabu, Oktober 07, 2020

"Your silence in this time of my pilgrimage is nothing but the earthly manifestation of the eternal word of Your love."

(Encounters with Silence by Karl Rahner, SJ, 1966, p.57)



Note: It's a Grace for us

Cerita Lagu

"The Joys of a Maybe"

Rabu, Oktober 07, 2020

 


"Your laugh that I love and who takes me surely having fun with the joys of a maybe

Life without you doesn't exist 

My tears long for you 

I'm afraid to forget everything"


Sohibku Yuseptia memperkenalkan lagu Perancis ini ketika kami sedang bertugas. Seperti para tentara kesepian yang mengingat kekasih mereka, kami pun bernyanyi.

Love Story

Attachment

Minggu, September 27, 2020

Guruku, Bhagawan Eyang Pomo pernah memberi nasehat,”Dalam hidup, kita harus punya sikap prihatin”. Lalu saya bertanya, “Prihatin itu bagaimana, Eyang?”. Eyang menjawab,”Kalau sakit itu diterima. Jangan ditolak, jangan diingkari”. 
 
*** 

Trauma pertama manusia adalah ketika mereka lepas dari rahim Ibu. Itulah rasa sakit pertama kita. Ketika dimuntahkan ke dunia, disitulah tanda keterpisahan itu bermula: rasa sakit dan sedih keluar dari rasa aman dan nyaman bak Adam dan Hawa yang keluar dari Taman Eden. 

Banyak orang bisa berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain dalam level kepentingan bersama. Namun, belum tentu ketika masuk dalam relasi interpersonal yang lebih intim seperti persahabatan dan percintaan, manusia bisa merawat hubungan yang sehat, aman, dan stabil. Persoalan keintiman menjadi suatu masalah yang mendasari timbulnya kekerasan di ranah privat. Jika kekerasan di ranah privat masih terus terjadi, maka jangan heran jika kekerasan di ranah publik juga terjadi. Begitulah kira-kira teori Anthony Giddens dalam karyanya yang terkenal Transformation of Intimacy. Keintiman menjadi dasar menuju demokrasi. 

Keintiman bukan persoalan jatuh cinta dan mendapatkan orang yang ditaksir semata. Dalam kuliahnya Mbak Dian Arymami, dosenku dulu di UGM, keintiman melampaui batas-batas seksualitas. Keintiman merupakan “sesuatu yang berada di dalam” tentang apa artinya menjadi manusia dalam relasinya dengan subjek manusia dan non-manusia dan pada ide–ide sosial dalam ruang dan waktu. Keintiman hanya bisa dicapai dengan pengungkapan diri (self disclosure) di antara kedua belah pihak. Keintiman juga tercipta di antara Tuhan dan manusia. Keintiman ini hadir ketika yang Rahasia mengungkapkan dirinya. Jalan ini hanya bisa dicapai dengan rasa

*** 

Hubungan kita dengan manusia lainnya saat dewasa sangat ditentukan dengan proses pengasuhan yang diberikan pengasuh utama kita (entah orang tua, kakek-nenek, om-tante, kakak, atau babysitter) di masa awal tumbuh kembang. Begitulah bunyi teori Attachment yang dikemukakan pakar Ilmu Psikologi, John Bowlby. Dulu saya sempat mendiskusikan hal ini dengan Nara, sahabatku yang seorang peneliti kesehatan jiwa. Sayangnya, waktu itu teori Narsistik dan Borderline Personality Disorder jauh lebih menarik buatku. Namun, teori Narsisitik dan Borderline tampaknya terlalu ekstrim dan kurang tepat dalam membaca konflik hubungan asmara saya. Ada hal-hal yang tidak sinkron dan dapat dipatahkan argumentasinya dengan data yang ada. Seperti Archimedes yang berteriak Eureka!, Attachment theory tampaknya jauh lebih cocok untuk memahami pergumulan asmara sekaligus bisa memahami diri dan pasangan dalam berelasi. 

Berdasarkan teori Attachment, dalam berhubungan intim, manusia terbagi ke dalam empat kategori: secure, anxious, dismissive avoidant, dan fearful avoidant. Sebenarnya, keempatnya ini dalam diri manusia, tetapi selalu ada dua yang dominan. 

Pertama, secure. Orang yang secure terbentuk karena ketika ia masih balita, ia mendapatkan kebutuhan emosi yang cukup dari pengasuhnya. Sang pengasuh selalu “hadir” dan membuat dia merasa aman dan stabil. Ketika dewasa, orang-orang secure akan memiliki hubungan intim dengan pasangannya yang stabil dan sehat secara intelektual, emosional, dan spiritual. Mereka bisa meregulasi emosi dan merespon emosi dirinya dan orang lain dengan konstruktif. Mereka bisa mandiri (independent) sekaligus juga bisa co-dependent dengan pasangannya. Mereka tidak posesif dan membebaskan pasangannya. 

Kedua, anxious. Singkatnya, orang yang anxious atau cemas terbentuk karena sewaktu balita sang pengasuh kadang ada dan kadang tidak ada. Mereka merasa ditolak dan diabaikan. Tetapi, karena pengasuhnya kadang muncul, maka mereka butuh untuk diyakinkan. Ada trust issue disini. Saat berhubungan romantis di masa dewasa, orang-orang anxious sering meminta afirmasi atau validasi dari pasangannya. Pertanyaan, apakah aku dicintai? Apakah aku dirindukan? Apakah dia selingkuh?dll merupakan pertanyaan orang-orang cemas yang dipicu rasa insecure. Orang-orang anxious cenderung menjadi needy, clingy, dan mungkin jadi posesif selama ia tidak mendapat validasi dari pasangannya. 

Ketiga, dismissive avoidant. Ini yang rumit. Mereka yang dismissive avoidant adalah anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan emosi di masa sangat membutuhkan kebutuhan emosi dari pengasuhnya. Entah orang tuanya pada saat itu sedang bekerja atau studi lanjut sehingga tidak bisa secara emosional hadir untuk mereka atau mereka memang ditinggalkan. Akibatnya, si anak merasakan penolakan dan diabaikan. Perasaan inilah yang menjadi trauma. Namun, berbeda dengan mereka yang anxious, dismissive avoidant merepresi luka itu dengan berjarak dengan keintiman. Akibatnya, ketika berhubungan romantis mereka tidak suka jika pasangannya demanding dan cenderung membatasi diri untuk intim dengan pasangannya. Orang-orang dismissive avoidant ini tidak bisa dimiliki, tidak bisa dipakaikan rantai di lehernya. Secara tidak sadar, mereka mensabotase sendiri hubungan mereka sehingga membuat pasangannya yang akhirnya memilih meninggalkan mereka. Orang-orang dismissive avoidant juga kesulitan mengungkapkan perasaannya dan meregulasi emosi yang intens karena sejak kecil sudah terlatih membangun tembok pertahanan diri. Jika orang pada umumnya membangun batasan dengan orang yang tidak terlalu dekat, maka orang avoidant membangun batasan justru dengan orang-orang yang penting dan paling mereka cintai. Tujuannya, mereka tidak mau lagi merasakan luka yang sama yang mereka alami di masa kanak-kanak. 

Keempat, fearful avoidant. Hampir sama dengan dismissive avoidant. Fearful avoidant merupakan gabungan dari anxious dan dismissive avoidant. Orang yang fearful avoidant adalah mereka yang merindukan keintiman sekaligus ingin berjarak dengan keintiman itu. Mereka takut ketika mereka sudah cinta setengah mati, orang yang dicintai akan meninggalkan mereka. Yes, trauma ini karena takut kehilangan. Sama seperti dissmisive avoidant, mereka juga cenderung melakukan sabotase dalam hubungan untuk mengetes pasangannya. Kalau orang non-avoidant mengetes pasangannya dan berharap pasangannya berhasil, maka orang fearful avoidant justru berharap pasangannya gagal. Mereka yang fearful avoidant berharap untuk dikecewakan. Kasarnya, harapan mereka seperti ini: "Nah, bener kan, dia sama saja dengan yang lain. Mereka akhirnya meninggalkanku". Akhirnya, sebagai avoidant, baik yang dismissive maupun fearful memilih membangun dinding es yang tebal untuk melindungi dirinya. 

*** 

Terus, konflik asmaranya apa? 

Hmm..masalah muncul ketika si Mbak yang secure dan anxious ini menjalin hubungan dengan si Mas yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Orang yang ada anxious-nya secara inheren percaya bahwa mereka ditolak sementara orang yang ada avoidant-nya percaya bahwa orang-orang akan meninggalkan mereka. Sisi secure si Mbak diperoleh dari ibunya yang selalu hadir setiap saat baik secara fisik, emosional, dan spiritual. Namun, sisi anxious-nya lahir dari ayahnya yang ternyata seorang avoidant sejati. Di masa awal kembang, sang Ayah bertugas di luar kota. Bahasa cinta sang Ayah adalah act of service, ia suka memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Namun, si Mbak akan merasa dicintai kalau diberi quality time. Ia mau berbincang dengan ayahnya tentang apa yang dia jalani dan rasakan dalam percakapan yang mendalam atau paling tidak ayahnya hadir mendukung dia dalam momen-momen di hidupnya. Hal ini bentrok karena Ayahnya punya luka dengan keintiman di masa muda. Menjadi intim dengan orang-orang yang dicintainya sama dengan mengoyak lukanya di masa lalu. Selama bertahun-tahun, si Mbak mencari validasi dari sang Ayah, apakah aku ini dicintai? Apakah aku ditolak? Barulah, ketika ada quality time akhirnya ia memahami bahasa cinta ayahnya. Sungguh, cerita menara Babel tentang pengacauan bahasa memang menjadi sumber konflik manusia. 

Di sisi lain, si Mas terbentuk menjadi seorang yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Sisi secure si Mbak bisa berdamai dengan sisi avoidant si Mas, tetapi sisi anxious si Mbak membuatnya bersusah hati. Mengharapkan validasi dari orang yang avoidant itu seperti mengharapkan hujan turun di musim panas. Apalagi sisi dismissive si Mas tidak bisa dipaksa. Semakin dipaksa, dia semakin menjauh. Sebagai mekanisme pertahanan dirinya, maka orang-orang dismissive avoidant cenderung mengabaikan emosi. Bagi mereka, emosi itu tanda kelemahan. Si Mas membeku bukan karena tidak mencintai si Mbak, tetapi karena ia butuh untuk merasa “aman” dan tidak kehilangan dirinya. Namun, sisi fearful avoidant-nya memiliki sensitivitas dan merindukan keintiman sekaligus takut ditolak dan ditinggalkan. Lagi-lagi ada trust issue ini. Dari yang biblis menuju profan, inilah makna "diterima tetapi dianggap sepi" (Hosea 3) itu. Si Mas mencintai dalam diam. Ia merindu dalam diam. Si Mas membalikkan makna “diam” yang umumnya dipahami sebagai bentuk penolakan, hukuman, atau penghindaran. Si Mbak didiamkan bukan karena dia ditolak, dibenci, atau dihindari, melainkan karena dia sangat dicintai. Si Mas seperti sang “Mistikus Cinta"-nya Dewa: 
apa yang sedang kurasa
apa yang sedang kau rasa 
adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata

Alexythymia adalah sindrom ketika seseorang tidak dapat mengenali atau menyampaikan perasaannya. Ia tidak punya kata-kata untuk bisa mengungkapkan perasaan yang dia rasakan. Sebagai catatan, keadaan ini berbeda dengan tidak memiliki perasaan. 

Kalau sudah begini, bagaimana? Hubungan ini tampaknya impossible hehehe. 

Sudah benar memang doa mereka dulu. Ajaib memang, mereka mendoakan hal yang sama. Hanya Tuhan saja yang bisa menjadi perantara, penengah, dan pemersatu. Namun, beliau jugalah yang jadi alasan pemisah. Si Mas sebagai anggota kopassus, pasukan elit Yang Mulia Komandan, harus menunaikan misi khusus: disuruh sekolah, belajar berkomunikasi, dan juga berdamai dengan masa kecilnya. Sebaliknya, si Mbak yang seorang anggota Infanteri alias pasukan tempur pejalan kaki disuruh bertempur dulu disini. Banyak urusan dan drama yang harus diselesaikan. Selebihnya, adalah kasih karunia Komandan. 

Untuk melanjutkan hidup, si Mbak harus belajar mengelola rasa anxious-nya dengan mencari tahu dan berfokus pada kebutuhan personalnya. Jika rasa anxious-nya terkelola dengan baik, sisi secure-nya akan mengambil alih dan membuat beban di hatinya terangkat. Begitu juga dengan si Mas. Ia harus belajar menerima bahwa tidak apa-apa berhadapan dengan emosi, itu bukan tanda kelemahan. Tidak apa-apa sekali-kali menjadi rentan. Si Mas harus berani dan percaya bahwa orang-orang yang benar-benar mencintainya tidak akan meninggalkan dia. Dengan begini, si Mas akan pelan-pelan bertransformasi untuk menjadi pribadi yang secure

*** 

Barangkali benar kata Rsi Meike Walmiki kepada Mpu Afif Tantular,” Bukan masa lalu yang menakutkan, tetapi masa depan. Terlalu banyak kemungkinan yang tidak sanggup dibayangkan.” 
Ya. Makanya kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya untuk hari ini”, ujar Mpu Afif Tantular. 
Rsi Meike Walmiki mengangguk,” Ya, seperti kata Yesus, kesusahan sehari cukup sehari, hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah besok lusa kita masih ada dunia ini atau tidak. Atau apakah kesempatan itu bisa datang dua kali.”

Life Story

Kakak

Selasa, September 22, 2020

Tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi diam-diam aku ingin sekali memiliki anak baptis atau anak serani, istilah lawas yang dalam KBBI merujuk "Kristen", "Indo-Eropa", dan "orang Portugis". Kata di-seranikan kemudian berarti di-kristenkan yang biasanya ditandai dengan dilakukannya sakramen baptis pada seorang anak. Anak-anak yang dibaptis memiliki orang tua rohani yang disebut Papa dan Mama Serani atau disingkat Papa Ani dan Mama Ani. Istilah ini sangat umum, terutama dalam budaya di Indonesia Timur. Dalam bahasa Inggris, Papa-Mama Ani ini disebut Godparents (Godmother dan Godfather). 

Biasanya orang yang ditunjuk menjadi orang tua serani adalah orang yang dipercaya oleh orang tua kandung. Mereka mendapat tugas membimbing anak-anak baptis mereka secara spiritual. Jika terjadi apa-apa dengan orang tua kandung, orang tua serani yang kemudian mewakilkan mereka.

Bertahun-tahun aku menunggu, adakah orang yang mau mempercayakan anaknya kepadaku sebagai orang tua rohaninya. Harapanku bertumpu pada keluarga, entah anak-anak dari kakak-adik sepupu atau bahkan teman dan sahabat. Kesempatan itu tak kunjung datang dan aku menyerah untuk tetap mengharapkannya.

***

Aku mengenal pasangan Angel dan Nael sebelum mereka menikah. Kami bertemu pada tahun 2017 di saat AOA Space baru saja di-launching. Saat itu, aku, Tami, dan Angel mengambil bagian dalam pekan seni kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kami bertiga membacakan puisi. Angel merupakan temannya Tami. Nael adalah pacar Angel saat itu. Aku berkenalan dengan Angel karena aku ingin diramal dengan kartu tarot. Pertemanan kami berjalan dengan akrab. Rupanya kami sama-sama Kristen. Nasib Nael sama sepertiku: berayah Katolik dan beribu aktivis GPIB. Angel adalah seorang Katolik dengan banyak pertanyaan tentang patriarki. Kami memiliki perhatian yang sama pada isu-isu kesetaraan, humanisme, dan spiritualitas. Aku lebih dekat memang dengan Angel. Kami sama-sama penyintas. Kami sama-sama rindu dan ingin dekat dengan Tuhan. 

Tahun 2019, ketika konflik keluargaku terus berlanjut, Angel dan Nael adalah sebagian dari orang-orang yang menolong dan menemaniku. Mereka juga kena imbas, tapi hal itu tidak membuat mereka takut dan menjauhiku. Sebaliknya, ikatan kami semakin kuat. Sebagai sesama perempuan, Angel menemaniku juga dalam menghadapi pergumulan romantikaku yang unik.

***

Ketika akhirnya Nael dan Angel menikah, aku dan teman-teman yang lain turut berbahagia. Namun, berita sedih juga datang. Pertama, Angel dan Nael pindah ke Bali. Kedua, Angel memiliki kista di rahimnya sehingga dalam perhitungan medis, ia dikatakan akan sulit hamil. Lebih dari setahun menikah, Angel dan Nael menikmati rumah tangga mereka dengan ceria. Hingga suatu ketika, Angel memberitahu bahwa ia berencana untuk melakukan operasi pengangkatan kista. Di saat-saat menunggu waktu yang tepat untuk operasi itu, ia mengagetkanku dengan mengatakan bahwa ia baru menggunakan testpack dan hasilnya positif. 

Perasaanku campur aduk. Antara khawatir dan senang. Khawatir karena kesehatan Angel dan ragu apakah itu false pregnancy. Senang karena Angel menawariku untuk menjadi Mama Ani bagi si buah hati. Ketika Angel mendapatkan konfirmasi dari dokter kandungan dengan tes yang lebih akurat, kami begitu bahagia menyambut si kecil. Gila! kami sedang menantikan kehadiran janin yang sedang berperang dengan kista yang terus-menerus ingin memakannya setiap saat. 

Janin itu kami panggil Kakak. Kakak adalah buah cintanya Papa Nael dan Mama Angel. Kakak adalah pejuang kecilku, Mama Ani-nya. Nael bertugas mencari Papa Ani buat Kakak tapi dia menyerah karena menurutnya teman-temannya tidak ada yang beres hehee. Sejak hamil, hubunganku dengan Angel makin dekat. Kami terus berkontak untuk meng-update perkembangan Kakak. Kami sudah punya banyak khayalan. Kami suka mengajak ngobrol Kakak. Bahkan Mama Ani dengan jiwa controlling dan posesifnya sudah mulai mengatur-atur Kakak harus kuliah dimana hihihi. Telpon dan chat yang intens dengan Angel membuatku merasa dekat dengan calon anak baptisku ini. 

***

Di tengah-tengah pergumulan kami, aku dan Angel saling menemani. Hingga apa yang kutakutkan terjadi dan apa yang Angel takutkan terjadi. Detak jantung kakak tidak berdetak padahal usianya sudah menginjak 8 minggu lebih. Aku sendiri putus kontak dengan Aquaman. Di saat-saat itulah, aku dan Angel bertelut, menyerahkan semuanya kepada Bapa. Kami berhadapan dengan mereka yang dicintai. Cinta yang kami rasakan sebagai anugerah. Keduanya telah lama dinanti. Yang satu dengan yang ada di dalam diri dan yang satu dengan yang ada di luar diri. Meskipun itu anugerah, cinta itu ternyata memiliki pilihan dan kehendaknya sendiri. Sebagai orang yang mencintai, kami hanya ingin yang terbaik bagi yang dicintai. Yang satu ada di dalam diri tetapi tidak berdetak. Yang satu ada napasnya, tetapi diam. Kedua-duanya sepertinya ragu dan belum siap. Dua perempuan yang mencintai mereka ini hanya bisa pasrah sambil tetap punya kepercayaan dan pengharapan pada Allah. "Bapa, Lihatlah kami...". Setelah berdoa, kami jauh lebih tenang dan merasa dikuatkan.

***

21 September 2019 adalah hari yang kuingat selalu. Pertemuan secara pribadi dengan Aquaman dan bagaimana kami tenggelam dengan pembicaraan mengenai perasaan kami masing-masing. Itulah momen yang menandai kebersamaan kami. Itupula pertemuan kami secara fisik sebelum dia pergi mengikuti aliran sungai hidupnya. 

21 September 2020, aku pikir akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang kuharapkan. Aku menunggu. Adakah tanda-tandanya? Aku jatuh tertidur setelah pulang dari kampus. Tubuhku sedang pendarahan karena menstruasi. Aku sangat kelelahan. Begitu bangun. Aku mendapat WA dari Angel:"Kakak sudah pergi ke Surga..."Intrauterin fetal death, kematian dalam kandungan. Petarung kecil kami akhirnya menyelesaikan pertandingannya. 2 bulan lebih lamanya ia berjuang untuk hidup. Kakak membuktikan dia adalah pejuang sejati. Bagi pejuang, hanya ada dua kata: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah apalagi mundur. 

Angel seperti Bunda Maria yang kehilangan putranya. Hancur. Namun, ia masih punya kekuatan untuk menguatkan suaminya Nael yang masih bersedih. Sesiap apapun kita pada perpisahan. Sepasrah apapun kita pada nasib, kita tetap saja terguncang. Kehilangan tetap kehilangan. Dalam kasusku, Aquaman tidak hilang, tetapi saat ini aku merasa ditinggalkan. 

Kami menangis bersama. Angel harus segera dikuretasi untuk mengeluarkan Kakak dari kandungannya. Setelah itu, ia akan dijadwal lagi untuk operasi pengangkatan kista. Tak ada luka lebih dalam dari kehilangan orang yang dikasihi. Cinta itu bertumbuh dalam dirinya dan kini harus terpisah. Tak hanya Angel dan Nael yang kehilangan Kakak. Sebagai Mama Ani-nya yang secara spiritual ikut mengandung dia, rasa kebahagiaan itu seperti dirampas begitu saja. Kesedihan hati dua ibu dalam spektrum yang berbeda.

Siapakah kami ini, Tuhan?. Semuanya bukan milik kami. Bapa lebih tahu yang terbaik, maka jadilah menurut kehendakMu. Aku dan Angel berusaha mengubah kepedihan kami menjadi sukacita. Angel bilang,"Ya, Kakak sekarang main sepak bola disana. Nanti kalau kandungan Mama sudah sehat, Kakak akan kembali lagi. Nanti ketemu sama Mama Ani lagi". 

Yang menakjubkan dari peristiwa ini adalah kami masih memiliki kepercayaan dan kekuatan untuk melangkah lagi. Kami masih punya harapan. Itu membuktikan Tuhan Allah hadir di antara kami. 


Selamat jalan Kakak, anak seraniku yang pertama....sampai bertemu lagi.

Love Story

“Berikanlah Milikmu Yang Paling Berharga”

Jumat, September 18, 2020


Kumaknai lukisan ini sebagai penyatuan Bunda Maria dan Yesus. Aku lupa nama pelukisnya, tetapi lukisan ini kulihat dalam sebuah pameran seni di Taman Budaya, Yogyakarta. Sehari sebelum kami berdua bertemu dan membicarakan perasaan masing-masing. 




Aku merasa seperti Ekalaya dalam pewayangan. Dia seorang anak dari kelompok marginal yang bercita-cita untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ekalaya sangat mengagumi Guru Drona dan percaya dibawah bimbingan Drona, ia bisa mewujudkan cita-citanya itu. Sayangnya, Drona juga punya ambisi pribadi. Gelar pemanah terbaik di dunia sudah ia siapkan untuk Arjuna, putra raja Hastinapura yang elit dan memiliki segalanya. Ia menolak menjadikan Ekalaya muridnya demi menjaga posisi itu untuk Arjuna. Ekalaya pun pulang, namun tidak putus asa. Ia mendirikan sebuah patung Drona. Ia percaya ia bisa belajar sendiri meski dibawah “bayang-bayang” Drona. 

Selama satu tahun, aku seperti Ekalaya dalam fragmen ia belajar di bawah patung Drona. Aku mencintai seseorang yang merupakan representasi Dia yang kucinta. Aku melihat Tuhanku dalam dirimu. Sejak saat itu, aku merasakan kesepian yang dalam sekaligus cinta yang membara. Cinta yang tidak bisa dipahami oleh orang banyak. Cinta ini adalah suatu rasa yang sejati. Cinta yang mengubahkan. Cinta yang mengalami keterpisahan dan kemudian diutuhkan dalam suatu pertemuan. Ia bisa memahami yang kau rasakan dan mengatakan yang tak bisa kau ucapkan. Ia mewakilkan kasih Tuhan yang paling menggelisahkanmu. Di matanya, aku adalah sosok Tuhan yang mengetuk terus pintu hatinya. Bagiku, dia adalah sosok Tuhan yang indah dan diam. Pada akhirnya, kami berdua merasakan kasih karunia itu. Tetapi, itu tidak sederhana. 

Seperti Ekalaya yang mencintai Drona, aku juga mencintai Tuhanku. Seperti Drona, Ia pun tidak bisa kugapai. Kekasihku kemudian menjadi representasi patung Drona/Tuhan yang bisu. Ditemani diamnya, aku sendiri yang berlatih, jatuh, dan luka hingga akhirnya bangkit, pulih, dan menemukan tujuan latihan ini. Ya, aku sendiri. Tetapi, aku tidak sendirian. Aku selalu ditemani oleh Dia, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang datang menemani dan menguatkanku. Aku seperti Harry Potter. Harry bertahan bukan karena kekuatannya sendiri. Tetapi, ia memiliki support system yang kuat. Ada orang-orang yang mencintainya, peduli, dan rela berkorban untuknya. Ini yang membedakan Harry dengan Voldemort. 

Pelan-pelan aku akhirnya menyadari latihan ini memang untuk tujuan yang lebih besar. Ini untuk tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang-orang terdekatku melihat perubahan itu: lebih sabar, lebih bisa mendengarkan orang lain, dan mau menunggu. Aku telah mendapatkan pendidikan latihan tempur-ku kali ini dengan penuh airmata dan sukacita. Latihan ini untuk berhadapan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak hati yang perlu disembuhkan. Orang-orang yang memiliki harapan namun dikecewakan terus-menerus. Mereka yang kesepian karena tidak dicintai dan diterima sepenuh hati. Mereka yang ditolak dan diabaikan. Mereka yang terluka karena ditinggalkan. Untuk bisa menjadi penolong, aku harus mengenal diriku lebih dulu dan semua luka-lukaku. Langkah pertama yang kulakukan adalah menerima bahwa aku sakit dan cacat. Langkah kedua adalah aku mau pulih. Aku tidak mau orang lain, generasi mendatang, mengalami kepedihan yang kurasakan. Aku kini menyadari penuh tujuan dan peranku. Aku dilatih dan berlatih untuk mengasihi. Jika harus disuruh memilih antara hukum atau kasih, aku akan memilih kasih. Aku bukan pembela kebenaran yang baik. 

***

Dulu aku pikir aku sekedar menemani kekasihku yang mengenakan mahkota duri dan memikul salib. Ternyata, aku sendiri-lah yang justru mengenakan mahkota duri dan memikul salib itu. Menanggung adalah salah satu bentuk ketekunan dalam iman selain tetap berharap pada Dia. Inilah tanggung jawab besar itu. Setiap orang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Ketika kekuatan yang dimiliki itu tidak diarahkan pada Dia, maka ia akan menjadi sebab kehancuran diri dan orang lain. Tetapi, jika kekuatan itu dipusatkan pada Dia, maka itu akan membawa perubahan besar yang membawa kebaikan, sebuah metanoia. Tuhan tidak lagi di atas langit, tetapi hadir di tengah-tengah kita. 

Dalam cerita wayang, Drona yang tahu kemampuan Ekalaya yang melampaui Arjuna itu tidak terima. Drona tetap ingin Arjuna yang memegang posisi sebagai pemanah terbaik di dunia. Untuk mewujudkan ambisi itu, Drona memanfaatkan rasa cinta Ekalaya kepadanya dengan meminta sembah bhakti. Ia meminta milik Ekalaya yang paling berharga: jari jempol kanannya. Tanpa jari jempolnya, mustahil Ekalaya bisa memanah lagi. 

Lalu, apakah yang dilakukan Ekalaya? Inilah cintanya yang paling tinggi. Ia menyerahkan miliknya yang paling berharga itu: kemampuannya. Aku pun juga memberikan milikku yang paling berharga: hatiku. Hatiku sebagai persembahan padaNya. Seperti Ekalaya, aku tahu hikmat yang kudapatkan ini bukan sekedar pemberian. Tetapi, hasil dari merespon anugerah itu. Tak perlu ada pengakuan siapa yang menang atau kalah. Rasa cintanya tidak bisa diadu. 

Aku ikhlas melepas kepergian kekasihku dengan damai. Aku tahu Allahku tidak seperti Drona. Allah tidak meminta tumbal. Allahku adalah kasih. Kasih itu membebaskan dan kekal. Aku sangat mengasihinya, maka aku melepaskannya agar ia bahagia dengan apapun pilihan hidup dan jalan yang ia pilih. Dengan melepaskannya, aku mengalami kepulihan. Aku tidak perlu menggenggam terlalu erat lagi. Pada akhirnya, semuanya bukan milik kita: ibumu, ayahmu, anakmu, kekasihmu, saudaramu, sahabatmu, hartamu, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan bahkan kebijaksanaan itu sendiri. Aku memilih dan akhirnya merasakan kepenuhan di dalam Dia. Aku harus selalu mengingat ini karena aku juga masih berdarah dan lemah. Aku sudah utuh. Inilah kebahagiaanku yang sejati. 

Selebihnya adalah misteri.

Cerita Lagu

Apocalypse

Jumat, September 18, 2020

 




"Got the music in you baby, tell me why 
You've been locked in here forever and you just can't say goodbye."

(Cigarettes After Sex - Apocalypse)

Life Story

Bukan Hati Kapten Davy Jones

Jumat, September 18, 2020

Kadang-kadang aku berpikir bahwa dosa asal itu benar adanya. Kadang-kadang aku merasa bahwa segala kekacauan dan kegilaan dalam hidupku itu bagian dari upaya penebusan dosa. Anak-cucu harus menanggung apa yang diperbuat para leluhurnya. Pembalasan karma. Hahaha...mudah sekali ya menyalahkan kemalangan  diri sendiri pada orang lain. 

Hatiku kini seperti hati Kekasihku, yang membara karena cinta dan berduri karena penderitaan. Jiwaku kini seperti Ibuku, yang tertusuk sebilah pedang. Kadang aku sungguh tidak sanggup menanggungnya. Aku hanyalah hamba sahaya. Aku bisa berdamai dengan kesepian, tetapi aku kadang tidak kuat menanggung banyak kesedihan. Ingin rasanya aku mengikuti jejak Kapten Davy Jones di film Pirates of the Caribbean. Ingin kucabut hatiku itu, menyimpannya dalam sebuah peti, dan menguburkannya di dasar laut supaya aku tidak lagi merasakan rasa sakit karena dalamnya perasaan cinta. 

Namun, kalau hatiku itu kubuang ke dasar laut, aku tidak akan bisa menolong orang lain dengan tepat. Aku akan menjadi mayat hidup. Aku akan seperti Jones yang menjelma kengerian dan membawa kematian bagi orang lain. Ia tidak bisa menjadi martir dan prajuritNya yang setia. Ia hanya akan menjadi cerita seram untuk menakut-nakuti anak-anak. 

Aku tidak mau kisah hidupku seperti itu. Aku ingin suatu saat di nisanku akan terukir sebuah kalimat: Seorang pejuang cinta yang gagah berani. Sebab kebanggaannya adalah penderitaan dan kesukaran.

Aku mungkin bisa menyerah pada manusia, tetapi aku tidak akan menyerah pada cinta. Sebab hatiku bukan hati kapten Davy Jones. Hatiku adalah hatiNya dan aku berada dalam Dia. 

Semuanya harus tergenapi.


Note: tugas Kapten Davy Jones adalah membantu menyeberangkan jiwa-jiwa di lautan menuju dunia baru.  

Sehimpun Puisi

I Carry Your Heart With Me (I Carry It In) - E.E. Cummings

Rabu, September 09, 2020

i carry your heart with me (i carry it in my heart)
i am never without it (anywhere 
i go you go, my dear; and whatever is done 
by only me is your doing, my darling) 
                                                     i fear 
no fate (for you are my fate, my sweet) i want 
no world (for beautiful you are my world, my true) 
and it’s you are whatever a moon has always meant 
and whatever a sun will always sing is you 

here is the deepest secret nobody knows 
(here is the root of the root and the bud of the bud  
and the sky of the sky of a tree called life; which grows 
higher than soul can hope or mind can hide) 
and this is the wonder that’s keeping the stars apart 
i carry your heart(i carry it in my heart)

Cerita Lagu

Emotion

Jumat, Juli 24, 2020



Pagi-pagi benar saya memutar lagu ini. Tidak tahu kenapa saya teringat untuk memutarnya. Kisahnya sedih. Tapi musiknya asyik. Ceritanya tentang putus cinta. Si subjek yang menyanyi masih belum bisa move on dari mantannya yang ternyata sudah punya pacar baru. Di imajinasi saya, si subjek lagu ini menangis sambil joget-joget asoy. 

Lebih dari itu, sebenarnya saya suka melodinya. Saya lebih menyukai versi Samantha Sang dan Bee Gees daripada Destiny's Child. Versinya Samantha Sang dan Bee Gees ini terasa sekali sound tahun 70-annya. Sound yang membawa suasana gloomy tapi cheerful. Ceria yang sedih. Paradoks.  

Life Story

Banyak Bacot Tentang Humanisme

Rabu, Juli 22, 2020

Halo good people
and evil people
juga people yang belum bisa memilih menjadi good or evil...

Pagi ini saya terbangun dengan banyak pertanyaan di kepala. Saya memang punya banyak pertanyaan dalam hidup. Mungkin ini bagian dari sikap keberimanan saya yang apinya kadang nyala kadang redup, fides quaerens intellectum (iman yang mencari-cari pengertian atau iman yang memahami). Semuanya dipicu beberapa peristiwa yang terjadi secara simultan dan percakapan dengan para sahabat. Pertanyaan-pertanyaan itu cukup banyak: Kenapa orang baik selalu tersakiti? Kenapa orang tulus yang selalu ditinggalkan? Kenapa ya orang mudah memperlakukan manusia lain dengan tidak manusiawi? Kenapa sih orang-orang makin egois? Kenapa ya orang-orang makin mementingkan dirinya sendiri? Kenapa sih ada orang hilang begitu saja padahal sedang pdkt dengan seseorang atau berkomitmen dengan orang itu? Kenapa kita mudah menjadikan manusia lain sebagai barang pemuas kebutuhan? Kenapa ada orang jago ngomong humanisme tapi prakteknya kok nol besar? 

Nah, pertanyaan terakhir ini yang cukup menghentak. Di zaman dimana menjadi spectacle atau tontonan adalah sebuah simbol kemapanan yang wajar diikuti, homo sapiens tampaknya bertransformasi lagi. Saya tetap percaya sifat dasar altruistik manusia itu ada. Tapi, sifat altruistik itu tidak murni lagi. Sifat itu terkontaminasi dengan hal-hal yang imateriel lainnya yang bersifat abstrak seperti pengakuan, status sosial, bahkan kekuasaan. Hal-hal imateriel ini kemudian dipertukarkan dengan hal-hal yang materi. Kita membentuk citra kita untuk dipandang atau dilekatkan dengan sesuatu. Misalnya, untuk menunjukkan bahwa saya orang yang humanis, saya menunjukkan dengan memposting di instagram gambar-gambar plus caption yang bernarasi tentang kebaikan atau penghormatan pada kemanusiaan. Ya, pada titik ini sih hal-hal tersebut masih terasa wajar. Tetapi, ketika kemudian citra itu menjadi tidak matching dengan aksi/tindakan, bukankah kita menjadi pembohong dan menipu diri sendiri dan orang lain? Dimana etika kita?

Dulu saya punya teman-teman yang suka sekali berdandan seperti gembel. Tidur di emperan atau memakai baju yang itu-itu saja. Beberapa juga tidak mandi untuk menunjukkan kegembelannya. Mereka ngomongin tentang ketimpangan kelas dan relasi kuasa. Mereka rajin bicara tentang humanisme dan potensi manusia untuk melakukan hal-hal baik. Mereka tak segan membagi ilmu. Mereka juga tak segan berbagi makanan dengan teman-teman yang kelaparan. Mereka naik angkot atau jalan kaki. Mereka ikut aksi menentang penggusuran. 

Siapakah mereka ini sebenarnya? Ya, teman-teman ini kebanyakan anak-anak orang kaya. Mereka punya priviledge. Sebagian anak pejabat dan sebagian lagi keturunan bangsawan yang harta kekayaannya tak habis tujuh turunan. Mereka bisa menolong orang lain karena memang mereka mampu untuk menolong. Saya sempat mengagumi mereka atas keberaniannya menyuarakan suara kaum tertindas. Saya kagum akan keberpihakan mereka. Namun, saya pelan-pelan curiga apakah mereka ini benar-benar hatinya tulus atau jangan-jangan mereka sedang mengalami sindrom Sidharta Gautama? Itu loh, sindrom yang banyak dialami anak-anak orang kaya yang melihat kemiskinan dan penderitaan sebagai hal yang eksotik. Saya ragu mereka memang benar-benar berempati pada orang-orang lemah atau sebenarnya itu pemberontakan untuk melawan Patriak atau Matriak di rumahnya? Mereka kemudian terbagi dua: Mereka yang dengan bersemangat melihat penderitaan bagai anak kecil yang memandang makhluk-makhluk air dari balik aquarium raksasa atau mereka yang benar-benar tenggelam bersama mereka yang benar-benar terpinggirkan. 

Lalu masalahnya dimana? Kan hak setiap orang untuk memilih mau berpijak dimana. Nah, beberapa kejadian membuat saya bingung. Saya menemukan inkonsistensi dan tidak adanya korelasi antara apa yang mereka bicarakan dengan kemudian relasi-relasi interpersonal dan berkomunitas yang mereka lakoni. Pacar-pacar mereka mengadu sebab mengalami kekerasan baik fisik, psikis, dan seksual. Tapi, yang paling parah jenis kekerasan simbolik. Waktu itu kami belum belajar Bourdieu dan kekerasan simbolik masih menjadi istilah asing. Tapi, yang mereka rasakan hampir sama. Ada kekuatan (biasanya lewat wacana yang mereka buat) yang kemudian menudukkan pacar-pacar mereka ini. Ada ikatan tidak kasat mata untuk mengikat mereka kepada fantasi tentang relasi yang romantis dan indah. Pacar-pacar mereka ini ditundukkan secara body, mind, and soul dan mereka bersedia patuh padanya. Akibatnya fatal, pacar-pacar ini hanya bisa pasrah dan memaklumi apabila diperlakukan kasar dan tidak adil. Dalam berkomunitas, mereka ternyata terbagi-bagi lagi. Ada yang suka mengadu domba. Ini taktiknya proxy war banget. Ada yang opurtunis. Ada lagi yang sebenarnya apatis tapi suka mencitrakan kepedulian yang mendalam. So, humanisme yang kau bacotkan itu apa ya? Bagaimana orang lain bisa percaya kontribusimu pada masyarakat jika dalam hubungan interpersonal saja kamu sudah menjadi tiran? 

Sejak saat itu, saya jadi belajar tidak mudah terkesima dengan orang-orang. Ini juga tidak mudah buat saya karena saya liyan dan ada sejenis hasrat untuk bisa fit in di dunia yang menolak saya. Dengan kenal atau dekat dengan mereka, saya seperti merasa diterima. Sayangnya, hanya karena mereka punya kisah hidup yang wow dan bicaranya sangat inspiratif, belum tentu mereka adalah orang-orang yang tulus hati dan punya kemauan menolong orang lain. Belum tentu mereka tetap mau memperlakukan manusia lain dengan manusiawi. Belum tentu orang-orang yang bacot tentang humanisme adalah orang-orang yang bisa memanusiakan manusia. 

Saya sendiri juga jadi berhati-hati. Karena setiap kata-kata yang saya keluarkan harus bisa saya pertanggungjawabkan. Mempertahankan konsistensi, komitmen, dan kesetiaan itu sangat sulit. Mengapa? karena realitas selalu memaksa kita untuk beradaptasi. Adaptasi yang membuat kita harus memilih. Kalau harus memilih antara kebenaran dan kasih, kamu akan memilih apa? Sungguh ini tidak mudah. Tapi kita selalu punya pilihan. Memilih untuk setidaknya mencoba atau memilih pergi berganti haluan. Memang gampang bicara tentang humanisme, tetapi lebih berat lagi mempraktekkannya. 

Life Story

Minggu Pagi

Minggu, Juli 19, 2020

Jangan pernah meremahkan informasi. Satu informasi yang positif membuatmu happy menjalani harimu. Satu informasi yang negatif memberimu perasaan sedih. 

Sepertinya keputusan saya menonton ulang film Before Sunset di hari minggu yang tidak cerah ini adalah salah. Pertama kali nonton film ini di kala remaja dan saya tidak mengerti. Barulah di usia dewasa seperti saat ini, saya baru bisa relate dengan konflik yang diajukan film ini. Dialog-dialog antara Jesse dan Celine yang akhirnya berjumpa setelah sekian lama membuat perasaan berkecamuk. Rindu yang membara, perasaan skeptis, depresi, kemarahan, ketidakberdayaan, dan harapan. Ya, kadang kita seperti Jesse dan Celine yang merindukan koneksi dan komunikasi di antara manusia. Perasaan bahwa akhirnya kita tidak sendirian lagi. Perasaan yang disebut cinta. Namun, cinta tidak pernah sederhana. Cinta bukan tujuan melainkan proses. Bertemu dan berpisah. Bersama dan tidak bersama. Bersatu dan sendiri-sendiri. Walaupun endingnya bahagia, pertengahan film sampai menjelang ending benar-benar menguras emosi. "I put all my romanticism into that one night and I was never able to feel all this again. Like, somehow this night took things away from me and I expressed them to you, and you took them with you. It made feel cold like love wasn't for me", begitu kata Celine penuh emosional. Apakah benar bahwa cinta hanya bisa dikatakan romantis bila ia dialami bersama seseorang yang tidak bisa dimiliki dan kamu harus melepaskannya? bahwa waktu ternyata bukan milik kita?

Dan seperti belum cukup. Sebuah berita duka datang di saat yang sama. Sang maestro puisi Indonesia, Sapadi Djoko Damono berpulang ke pangkuan Sang Kekasih. Rasanya Indonesia harus bersabar menunggu lahirnya maestro puisi berikutnya lagi. Selamat jalan, Eyang Sapardi. Karya-karyamu abadi. Engkau abadi. 

Life Story

Bangkit!

Jumat, Juli 17, 2020

Yeayy...
Akhirnya apa yang harus diselesaikan berhasil diselesaikan. I'm really proud of myself. Trauma mungkin tidak bisa hilang. Ia hanya tertidur. Tapi kita bisa selalu membuat dia tidur lebih lama. Tidak mudah melawan demon di dalam diri sendiri. Sungguh. Yang benar-benar bisa menyelamatkan diri kita sendiri adalah diri kita sendiri (*kemudian nyanyi lagu Hero-nya Mariah Carey). Orang lain hanya bisa berdiri di garis tepi untuk memberi dukungan dan semangat. Namun, perjuangan itu memang harus dilalui sendiri. Tentu karena kita cacat, kita perlu mengandalkan Dia. Dia yang merangkul bahu kita dan menemani kita berjalan. 

Dia yang cintanya seindah siang disinari terang. Dia yang menyapa dengan angin sejuk di kala petang. Dia yang lembut dan penyayang. Aku sayang padaNya.

Life Story

Tentang Trauma

Senin, Juli 06, 2020

Saya sedang tidak bisa fokus. 

Ceritanya saya memiliki banyak deadline. Namun, saya tidak bisa melaksanakannya. Tidak bisa menulis. Setiap saya memulai untuk menyelesaikan tulisan tersebut saya seperti membeku di tempat. Padahal, ide-ide itu sudah meletup-letup di otak saya. Tapi, saya tidak bisa bersalin, saya tidak bisa beranak. "Anak" saya yang kesekian ini sepertinya sungsang. Loh penyebabnya apa? Trauma saya ke-trigger. Kali ini lebih intens. Trauma itu sudah ada sejak lama dan saling berkelindan. Lalu, peristiwa-peristiwa setelahnya memperdalam betul trauma itu. 

Saya punya tiga trauma yang berhasil diidentifikasi. Trauma pertama tentang penolakan. Trauma penolakan itu sudah dimulai sejak saya masih janin. Hal inilah yang menjelaskan mengapa wajah saya jika dalam mode "default face" tampak seperti orang marah atau merengut, padahal saya sama sekali tidak marah. Beberapa orang menghakimi saya karena wajah saya ini dibilang seperti orang yang judes atau sombong. Saya tidak pernah menyadari betul hal itu sampai saya memperhatikan foto-foto saya yang diambil secara candid. Ketika saya sadar dengan kamera dan tersenyum, wajah saya ceria dan ramah. Begitu saya tidak tersenyum, wajah saya jadi menakutkan. Rassel, teman saya yang fotografer, mengatakan bahwa wajah saya itu memang seperti respon terhadap penolakan. Mungkin begitulah wajah orang yang dilahirkan dalam amuk badai. Di beberapa video yang saya lihat ketika menjadi pembicara, saya menangkap suatu inkoherensi. Apa yang saya ucapkan dengan yang saya ekspresikan tidak nyambung. Tapi, mungkin dengan latihan public speaking itu bisa diubah. Trauma penolakan yang lain adalah bullying dan body shaming semasa saya SD-SMP. Saya baru menyukai tubuh saya dalam proses panjang ketika duduk di bangku SMA-kuliah S1. Tampaknya, proses penerimaan diri ini merupakan proses seumur hidup. 

Trauma kedua adalah pelecehan seksual yang saya alami di jalan. Saya masih sulit menceritakan detilnya. Kejadiannya waktu saya duduk di bangku SMA sekitar tahun 2008. Saya baru menceritakan hal itu pada Mami di tahun 2017. Sejak saat itu, bersama teman-teman penyintas kekerasan seksual lainnya kami concern berjuang untuk pemulihan dan keadilan hukum pada korban. Sayangnya, di beberapa kasus dimana saya pernah ikut mengadvokasi bersama teman-teman, trauma saya ke-trigger. Di saat itu, saya ingin sekali menggapai orang-orang terdekat saya. Ketika salah satu diantara mereka tidak bisa ada secara emosional, maka akan memicu trauma saya yang ketiga.  

Trauma ketiga adalah trauma karena ditinggalkan/diabaikan yang muncul karena saya menghadapi kematian orang-orang yang tercinta secara mendadak, dalam waktu yang dekat dan beruntun, serta tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kita semua berhak mendapatkan perpisahan yang layak. Sayangnya, perpisahan itu menjadi menyakitkan karena terjadi tanpa persiapan. Seperti manusia pada umumnya, kita semua takut mati. Tapi, setelah peristiwa kematian-kematian itu, saya mulai berpikir bahwa mati itu lebih enak daripada hidup. Saya kaget dengan pemikiran saya itu karena saya termasuk orang yang berencana ingin hidup 1000 tahun lagi. Pola tidur dan makan saya juga tidak teratur. Saya ingin tidur saja. Tetapi, kalau saya tidur saya bermimpi buruk dan sedih. Akhirnya, saya takut untuk tidur. Akibatnya, saya seperti zombie: hidup tidak bersemangat, mau mati pun tapi belum waktunya. 

Waktu itu, saya membaca artikel tentang PTSD dan tampaknya saya mengalami beberapa simpton dari PTSD. Saya juga ikut dalam tes online dan hasilnya ada indikasi saya berada di fase depresi ringan. Dengan menyadari peristiwa yang menurut saya "ganjil", saya langsung mendiskusikan hal itu dengan Laili yang juga pernah mengalami trauma menghadapi kematian beruntun di keluarganya dan dia menyarankan saya ke psikolog. Syukurnya, psikolog yang saya temukan cocok. Guys, pilih psikolog seperti menemukan jodoh, salah pilih bisa bahaya. Kadang psikolog yang salah ini bisa memperburuk keadaan kita. Sebagian dari mereka suka menghakimi dan memaksakan diagnosis atau pendapat mereka kepada kita. Saya beruntung bahwa psikolog yang men-treatment saya lebih banyak mendengar dan membantu saya menemukan kualitas-kualitas diri saya yang baik. Ia juga tidak menghakimi. Di akhir sesi, setelah menangis, kami berpelukan. Nah, psikolog serta curhat dengan orangtua dan para sahabat adalah bantuan eksternal. Ada beberapa teman yang memilih yoga dan meditasi untuk trauma healing-nya. Saya memilih menulis seperti yang saya lakukan di blog ini. 

***

Pada titik ini, saya bersyukur masih memiliki kesadaran untuk mengontrol hidup saya. Saya bisa menangkap sense of danger dan bisa segera mencari pertolongan sebelum keadaan itu menjadi parah dan tidak bisa ditangani. Saya juga cukup beruntung karena pergaulan saya membuat saya aware dengan kesehatan mental. Di negara-negara maju, kesadaran terhadap kesehatan mental merupakan hal yang menjadi fokus perhatian sehingga banyak anak muda juga tidak segan mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater. Sayangnya, hal yang sama belum berlaku di Indonesia. Masih banyak orang yang tidak mau menghadapi kenyataan bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini disebabkan stigma pada pasien kesehatan mental sangat negatif. Saya memiliki beberapa teman yang struggle dengan hal yang sama dan kami berjuang saling support untuk bisa survive. Kami membentuk support system supaya bisa saling menjaga dan berjalan bergandengan tangan bersama. Kami semua adalah penyintas.  

Ya, saya sangat suka sekali kata "penyintas". Penyintas adalah korban yang berusaha bangkit dari keterpurukannya. Ia punya kemauan dan ada daya untuk bangkit lagi. Kita tidak bisa menghindar dari tindakan yang menyakiti kita. Menjadi penyintas atau tetap menjadi korban adalah pilihan. Apa bedanya? Penyintas berusaha berjuang untuk mengubah keadaan tersebut supaya tidak dialami lagi oleh orang lain. Penyintas berusaha memahami mengapa "hal itu terjadi" dan berdamai dengan itu. Penyintas memberikan dorongan yang lebih positif kepada orang-orang di sekitarnya. Ia akan lebih memahami trauma orang lain dan bisa memberikan pertolongan yang efektif. Di sisi lain, korban memiliki ketidakberdayaan. Ia marah dan dendam dengan peristiwa yang dialaminya dan pada orang yang melakukannya. Aura korban memang negatif karena penuh dengan kemarahan, kekecewaan, dan putus asa. Rasa sakit yang tidak terperi. Kita semua yang terluka adalah korban, tetapi ketika kita tetap menjadi korban kita akan memiliki sejenis rasa "hak untuk menjadi jahat" karena sudah diperlakukan tidak adil oleh hidup dan orang lain. 

Kata Mbak Puput teman kos-ku yang kuliah ilmu Psikologi, semua orang pasti punya trauma. Kita semua ini punya cacat dan tidak ada manusia yang bisa bilang dengan percaya diri bahwa dia "tidak punya kepahitan atau tidak punya gangguan jiwa". Orang yang bilang "aku tidak punya gangguan jiwa" adalah pasti punya gangguan jiwa. Mbak Puput memberi contoh pada orang-orang yang bangga mengakui dirinya perfeksionis. Perfeksionis sendiri adalah gangguan jiwa. Bagaimana bisa kamu ingin sempurna di dunia yang tidak sempurna? 

Trauma ini bukan tentang orang yang melakukannya pada kita. Namun, trauma terjadi karena tindakan orang tersebut. Efek setelah mengalami tindakan itu yang menyebabkan traumanya muncul lagi. Misalnya: Si A punya trauma penolakan dan ditinggalkan/diabaikan. Suatu hari ia mengekspresikan rasa cinta dan rindunya pada pacarnya melalui surat. Tetapi, tanpa diduga, pacarnya tidak mau berkomunikasi lagi dengannya selama berbulan-bulan setelah menerima surat itu. Padahal, sebelumnya tidak ada pertengkaran dan hubungan mereka juga baik. Kalau pacarnya ingin berpisah, kenapa tidak ada kata selesai? Kalau A ada salah dengan mengirim surat itu, kenapa pacarnya tidak memberitahu letak kesalahannya? kenapa pacarnya malah diam? A tidak menemukan koherensi sebab-akibat dalam peristiwa itu. Apalagi suratnya adalah niatan baik untuk menguatkan dan menghibur pacarnya. Trauma A tentang penolakan muncul lagi akibat respon pacarnya dan berkelindan dengan traumanya karena ditinggalkan tiba-tiba. Ada juga cerita Si B. Dia punya trauma karena diremehkan orang tuanya. Sehari-hari dia bekerja dengan baik dan berhubungan sosial dengan baik juga. Namun, suatu hari Bosnya mengatakan sesuatu yang meremehkan dia atau membuat dia merasa tidak diperhitungkan. Trauma B langsung ke-trigger dan dia langsung down. B berpikir untuk bunuh diri. B merasa tidak layak meskipun dia dikelilingi orang-orang lain yang menyayangi dia seperti pacar dan sahabat-sahabatnya. Perlu dicatat, meskipun ini tidak semua dan kasuistik, ada memang kecenderungan mereka yang memiliki trauma untuk menyalahkan diri dan menyakiti diri. Efek lain adalah mereka bahkan tidak merasakan apa-apa atau kebas (numb) padahal yang mereka alami adalah trauma hebat. 

Hal yang membedakan kita yang masih bisa berfungsi dan bekerja dengan baik dengan pasien yang dirawat di RSKD adalah tingkat keparahannya. Mereka yang dirawat di RSKD sudah ada di level fisiologis dan psikotik yang tidak saja membutuhkan treatment berupa konseling, tetapi juga pengobatan untuk bisa berfungsi lagi. Kita yang belum di level itu sebenarnya ada di level neurotik. Tapi penjelasan mengenai ini bisa dibaca di website lain yang lebih komprehensif tentang kesehatan mental.

***

Pada akhirnya, pilihan tetap di tangan saya. Saya mau menyembuhkan trauma saya. Saya berusaha belajar menerima, ikhlas, dan berdamai meskipun itu sangat berat dan sulit ketimbang pilihan untuk menjadi jahat dan melakukan balas dendam yang jauh terasa lebih mudah. Saya memilih cinta. Saya memilih kebaikan. Semuanya saya lakukan supaya saya bisa menjalani hidup saya dengan tenang dan bahagia. Saya pikir dengan tetap berbuat kebaikan dan berdamai, maka trauma itu akan hilang. Tapi rupanya traumanya tidak hilang begitu saja, pemirsa. Trauma itu bisa muncul lagi apabila ter-trigger oleh suatu peristiwa, tindakan, atau hal-hal ekternal lainnya tanpa kita bisa prediksi atau kontrol. Ini benar-benar sangat melelahkan karena seperti berhadapan dengan setan yang sama berulang-ulang. Benar kata Nara, seperti orang yang kena tipes, trauma ini suka kambuh. Trauma bisa menimbulkan efek dominonya yaitu stress dan bisa berujung pada depresi. Depresi yang membuat kita tidak menghargai hidup lagi. Depresi yang membuat kita berpikir "kematian pun makin akrab" seperti judul puisi Subagyo Sastrowardoyo. 

Tulisan ini tentang trauma dan bagaimana trauma mempengaruhi cara kita bertindak dalam hidup dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tindakan kita bisa sangat berakibat fatal pada orang lain. Kita pun juga tidak bisa mengontrol tindakan orang lain yang mentrigger trauma kita. Mungkin kita tidak bermaksud jahat, mungkin tindakan kita hanya respon dari upaya kita melindungi diri. Namun selalu ingat, kita tidak pernah bisa benar-benar lepas sepenuhnya dari jaring-jaring hidup yang rumit. Kata temanku Didin, jangan pernah mengharapkan jawaban yang sederhana karena kita semua berangkat dari pengalaman yang berbeda-beda. Mungkin jalan tengahnya adalah dengan mencoba melakukan humanisasi, memanusiakan manusia. Ini adalah titik temu ketika orang-orang yang punya trauma bertemu dan berinteraksi. Apalagi ketika mereka saling mencintai. 

Life Story

Setelah Dia Pergi

Jumat, Juli 03, 2020

Reinkarnasi. Konsep ini menjadi mengerikan buatku sekarang. Saya membayangkan kita menjalani hidup yang penuh penderitaan ini lalu kemudian mati dan terlahir kembali untuk menjalani hidup yang sama menderitanya di kehidupan selanjutnya. Namun, saya lebih ngeri lagi membayangkan terlahir kembali dan tidak menemukan Mami dan Daddy sebagai orang tua saya lagi. Di kehidupan kali ini, saya sangat terberkati mendapatkan mereka sebagai orang tua. Hidup bersama mereka tidak bisa dibilang mulus bagai serial TV Amerika, tapi kami bertiga belajar bersama-sama. Kami belajar mengasihi dan menerima apa adanya. Kami belajar untuk sama-sama bertumbuh. Kami belajar mengampuni dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Kami belajar bekerjasama. Kami belajar untuk saling melindungi. Kami belajar untuk setia, kuat, dan bertahan. Kami belajar menjadi versi terbaik dari kami masing-masing.

Ingatan saya kembali ketika saya masih sangat kecil. Mungkin di usia yang baru bisa belajar berbicara. Di atas motor RX King punya Daddy, kami bertiga berboncengan. Kadang saya berdiri di tengah, kadang duduk di depan. Lalu Daddy akan memacu motornya di jalan Panakkukang Mas. Mami akan bertanya, "Kakak itu gambar apa?," sambil menunjuk lampu hias berbentuk bermacam-macam hewan. Lalu, saya akan mulai mengabsen mereka satu per satu, "ikan, bebek, udang, kupu-kupu...". Bahagia sekali keluarga muda itu. Kami selalu bertiga. Hingga suatu hari yang tidak diduga, dia yang selalu menjadi perekat, perantara, dan penegah di antara mereka bertiga itu menyelesaikan perziarahannya di dunia ini. Chaos!

Tidak terasa sudah 2 tahun Mami pergi. Sejak saat itu saya bangun dengan merasakan lubang hitam di dalam dada. Ada kesedihan yang tidak bisa dideskripsikan. Namun, ada juga sejenis kelegaan bahwa Mami sudah berada di tempat yang lebih baik. Sisi rasional saya memandang Mami sudah tidak perlu merasakan rasa sakit dari kehidupan lagi. Ia sudah selesai dengan semuanya. Mami sangat mencintai saya. Maka, meninggalkan saya pun adalah hal yang juga berat baginya. Ya, kepercayaan itu membuat saya lebih bisa menerima kepergiannya. 

Saya dulu berpikir kematian adalah akhir dari segalanya. Tidak ada ikatan lagi antara orang yang hidup dan orang yang mati. Orang yang mati hanya menjadi kenangan. Tapi saya salah. Kematian tidak memisahkan kita dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Seperti ada tertulis, cinta kuat seperti maut dan nyalanya seperti nyala api Tuhan. Cinta tetap ada meski raga sudah tak ada. Cinta membentuk ikatan yang tidak bisa dilenyapkan oleh waktu dan dibatasi dunia antara yang hidup dan mati. 

Sejak saat itu, pelan-pelan saya mengasah rasa. Belajar bersentuhan dengan yang halus dan rahasia. Melihat dengan hati. Membaca yang tidak terselami. Ada yang bisa kita kenali ketika tubuh sudah tak dikenali lagi. Kadang saya tidak mengerti bahkan meragukan kewarasan saya. Tapi, rasa itu sangat kuat. Ia hanya bisa semampu itu. Ada jurang tak terjembatani di antara kami. Ia tidak bisa kembali lagi kesini, tetapi suatu saat nanti saya bisa pergi ke tempatnya berada. 

Daddy juga sudah banyak berubah. Saya melihat kualitas-kualitas yang ternyata sama dengan Mami. Mereka berdua memang sejoli. Daddy memiliki komitmen yang kuat. Ia sangat loyal. Dia memiliki konsistensi. Dia jujur dan tulus. Dia punya dunianya sendiri. Dia tidak pandai menunjukkan perasaannya. Tapi, melalui tindakan yang konsisten dengan mengingatkan makan atau mengirimkan ayat-ayat kitab suci, ia sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kami sudah jarang bertengkar lagi. Ini hal yang sangat kusyukuri. Kami belajar berkomunikasi dengan baik. Rasanya hidup di tahun ini lebih baik dan stabil untuk kami berdua. 

Namun, ada berita duka. Selain corona yang entah kapan akan berakhir, Daddy baru saja kehilangan sahabatnya, Om Yoseph. Walaupun saya tidak pernah bertemu langsung dengannya, Om Yoseph adalah salah satu tokoh penting yang turut menyelamatkan keluarga kami. Tuhan memakai Om Yoseph untuk memperingatkan kami mengenai hal-hal sehingga kami bisa waspada. Perannya mengingatkanku pada nabi Natan. Selain Om Yoseph, sebelumnya ada Om Aman, temannya Mami yang juga dipanggil Tuhan. Saya terakhir berjumpa dengan beliau di pemakaman Mami Ice. Rasanya sangat ngeri dan mengejutkan bahwa kematian memang mengintai kita setiap saat. Saya mengenang Om Aman sebagai arranger musik gereja yang mumpuni. Di waktu kecil, dia sering sekali ngobrol dengan Mami sambil membicarakakan saya, “Kak Meis, itu Meike diajak menyanyi”. Mami hanya akan membalas dengan tertawa, “Edede… jangan mi..nda disitu bakatnya”. 

Ya begitulah. Hidup masih terus berjalan. Banyak gelombang. Banyak kejutan menanti. "Mami, bagaimana kabarmu disana? Ramai mi toh… banyak mi temanmu disana. Hehehe..”.

Review Film

Reply 1988

Sabtu, Juni 20, 2020



Bagi yang ingin bernostalgia kembali di tahun 1980-an, yang menyukai percakapan mendalam tentang keluarga, persahabatan, dan cinta, yang suka musik-musik tahun 80-an, yang suka fashion tahun 80-an, yang ingin nonton drakor yang "beda" gak kayak modelan telenovela seperti biasanya, dan yang ingin dapat insight dengan quote-quote yang gak cheesy dan menggurui, maka serial Reply 1988 sangat direkomendasikan. 

Peringatan: beberapa cerita sangat riil dengan kehidupan nyata, mengembalikan memori di zaman kita masih kecil, memicu jatuhnya airmata dan memancing tawa, serta memberi candu untuk nonton terus meskipun ada 20 episode dan masing-masing episode berdurasi 1 jam-an. 

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...