Kaum Kritis : Plis deh... analisis baik-baik. Kalian senang Astrid bebas dari suaminya yang peselingkuh itu. Kalian senang Astrid bisa membela dirinya. But, Hellooo??? Astrid ini lebih tajir mampus dan powerful dari suaminya (sebaiknya baca bukunya karena lebih jelas kesatirannya daripada filmnya yang merayakan konsumerisme ini). Kalau kamu masih menganggap Astrid menderita, kalian salah. Tidak ada orang yang berkuasa yang menderita.
Kaum Optimis dan Pesimis saling berpandangan, nggak ngerti.
"I'm not that regular of a person, and they really like regular."
Ibu saya selalu mengingatkan,"Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan adalah penyelesaian dari segala masalah. Justru sebaliknya masalah yang baru akan muncul". Untuk itulah ibu selalu mendidik saya untuk tidak tergantung pada orang lain, bahkan pada suami nanti. Karena sangat berbahaya menggantungkan hidupmu pada manusia. Tapi kalau tidak menikah juga maka kita akan kesepian secara mental-seksual dan akhirnya mati dengan cara dikremasi lalu abunya ditebar di 7 tempat berbeda karena tak ada anak-cucu yang mau menjenguk makan neneknya.
"Karena mereka bukan lagi dua melainkan satu...."
Pernikahan adalah salah satu fase yang menakjubkan dalam hidup manusia. Bagaimana dua orang bertemu, menjalin kasih, dan akhirnya memutuskan hidup bersama. Lembaga perkawinan adalah jalan yang harus ditempuh untuk melegalkan keputusan itu. Untuk melindungi hal-hal yang kiranya dapat terjadi di kemudian hari. Jika untuk disebut pemain timnas harus mengenakan seragam, maka seragam itu adalah lembaga pernikahan dan pemain timnas adalah pasangan yang akan menikah.
Bagi saya, pernikahan bukan hanya sebagai pelegalan atas hubungan fisik semata tapi persatuan dua orang yang tak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali maut. Maka untuk sampai ke tahap ini bukan dilalaui dengan cara main-main. Memilih seseorang untuk menjadi pendamping kita selamanya harus melalui proses jatuh bangun dan berdarah-darah yang panjang. Kadang-kadang dalam pertemuan dengan si belahan jiwa ini kita menjalaninya dengan cara-cara yang variatif. Ada yang mesti bertemu dengan orang yang salah dulu, pertemuan romantis ala film, atau bahkan perjodohan. Tuhan selalu punya beragam scene yang dia pilihkan agar ciptaannya bertemu dengan pasangan jiwanya masing-masing.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat bercakap-cakap dengan seorang kakak yang akan segera menikah. Ia mengemukakan bagaimana ribetnya mengurus pernikahan. Untuk urusan materil seperti persiapan baju pengantin, gedung, undangan, atau bahkan foto pre wedding harus diurus dengan baik-baik. Belum lagi soalan psikologis yang katanya bikin dumba-dumba geleter. "Banyak yang harus disiapin. Mulai dari kesiapan jadi istri orang, menyatukan dua keluarga, sampai apa yang akan terjadi di hari pertama setelah menikah. Ini pengucapan janji sehidup-semati yang tidak main-main," ujar sang kakak.
Lewat penuturannya, saya pun tergelitik untuk bertanya. Sebenarnya ini pertanyaan yang saya simpan sejak masih ABG. Ini mungkin juga terpengaruh bacaan Oh Mama Oh Papa dan sinetron Janjiku yang booming di jamannya. "Apakah setelah menikah nanti orang yang kita nikahi ini akan tetap sama perilakunya seperti sebelum menikah atau malah berubah?". Pertanyaan saya ini lantas dijawab demikian, " Kita manusia yang selalu berubah, namanya juga inovasi dan kreasi, jadi saya tidak takut sama perubahan. Kalau arahnya positif bagus berarti. Tapi kalau kebalikannya, mungkin ada yang salah dengan cara kita. "
Jawaban dari sang kakak yang akan menikah ini memberi perspektif baru bagi saya terhadap pernikahan. Yang tadinya dipenuhi ketakutan-ketakutan dramatis menjadi hal lain yang lebih realistis. Jika kita siap untuk menikah maka kita harus siap dengan perubahan. Hidup manusia adalah perjalanan menemukan Sang Pencipta. Dan ada fase dimana kita membutuhkan penolong untuk bersama-sama berjalan menuju Dia. Tuhan tahu itu dan dia menyiapkan masing-masing penolong bagi kita. Sebab Dia sendiri yang bilang," Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja....aku akan memberi penolong baginya yang sepadan dengan dia."
To Kak Mamar yang akan menikah,
"karena cinta kuat seperti maut....nyalanya seperti nyala api Tuhan"

Pada suatu hari di suatu masa...
Ada sebuah Baju yang selalu dipajang di etalase toko dan belum ada yang membelinya. Baju itu bukan baju biasa. Ia adalah baju keluaran terbaru dengan model yang unik. Sang Desainer sangat serius dalam membuatnya. Ia merancang sendiri polanya, mengukur kainnya, mengguntingnya dengan teliti, dan menjahitnya dengan kedua tangannya sendiri hingga voila..jadilah sebuah baju yang menawan. Modelnya tidak mengenal zaman. Dalam era apapun ia cocok dikenakan.
Dengan bangga, sang Desainer meneruskan baju itu untuk dijual di Toko Pakaian ternama di kota itu. Sang Pemilik toko langsung terkesima dan langsung mengenakannya pada salah satu manekin terbaiknya. Dilabelinya harga yang tinggi dan langsung dipajangnya baju yang hanya satu berada di toko pakainnya. Cuma satu.
Setiap orang yang melewati toko pakaian itu pasti berhenti dan memandang baju itu dengan kagum. Mereka lalu memasuki toko itu dan melihat label harganya. Mahal. Mereka tidak punya cukup uang untuk membeli. Saking takutnya, untuk mencoba memakainya pun mereka tak berani. Takut rusak jikalau dicoba dan tak sanggup membayar gantinya.
Di lain sisi, banyak pula baju-baju cantik yang dijual di toko pakaian itu. Tapi mereka memiliki kembaran dengan berbagai ukuran. Sebagian dari mereka juga sudah laku terbeli. Baju-baju yang belum laku kemudian dilepaskan dari manekin dan dijual dengan harga murah. Namun tidak demikian dengan Baju ini. Ia tetap dipajang di etalase toko itu. Ia terlalu sayang jika didiskon atau diobral. Ia tidak serendah itu.
Waktu demi waktu berlalu, Baju itu masih terus terpajang disana. Diam-diam sang Baju bertanya-tanya, kapan ia terbeli? Kapan ia termiliki ?
Sudah lama ia menanti pembeli. Setiap dilihatnya calon pembeli yang memandangnya kagum, ia berharap calon pembeli itu segera memilikinya. Tapi pembeli-pembeli itu hanya datang melihat dibalik kaca tanpa ada niat untuk membeli. Memilikinya. Ia selalu iri ketika ada baju-baju lain yang dibawa ke kasir untuk dibeli, tapi belum ada yang berani untuk melakukan itu padanya. Sang Baju kecewa. Ia patah hati.
Lama...
Sang Baju terus menunggu. Ia menantikan pembeli yang akan membawanya pulang.
Pada suatu hari yang cerah, ada seorang calon pembeli melintas di depan toko pakaian itu. Seperti calon pembeli yang lain, ia jatuh cinta kepada Baju itu. Ingin sekali dimiliki dan dikenakannya. Ia masuk ke dalam toko dan melihat angka yang tertera di label. Seketika itupula wajahnya terlihat sedih. Harganya terlalu mahal dan ia tidak bisa membelinya. Ia menyentuh Baju itu. Bahannya begitu bagus dan ia pasti akan terlihat menawan jika memakainya. Dengan penuh keberanian, ia mencoba Baju itu. Biarlah ia tak membelinya paling tidak ia pernah memakainya walaupun cuma sekali. Dan yah....betapa menawannya ia dengan Baju itu.
Calon pembeli itu bahagia dan menikmati saat-saat mencoba Baju itu. Sang Baju juga senang luar biasa. Setelah sekian lama akhirnya ada juga yang mencobanya. Namun, raut wajah calon pembeli itu menjadi muram. Ia melepaskan Baju itu kembali. Calon pembeli itu tidak bisa memilikinya walaupun ia terlihat menawan dengan Baju itu. Ia melihat baju lain yang diobral di toko pakaian itu. Lalu, dibelinya satu yang cocok untuknya. Sang baju kembali dikenakan pada manekinnya. Calon pembeli itu keluar dari toko dengan menenteng baju yang dibelinya tanpa menoleh kepada sang Baju. Air mata sang Baju mulai menetes.
Hati sang Baju hancur. Sungguh tega para pembeli itu. Apakah mereka tidak tahu rasanya diterbangkan ke langit dan dihempaskan begitu saja ke tanah di saat yang sama? Untuk sebuah baju yang telah lama dipajang, ia terluka.
Pemilik toko melihat kesedihan sang Baju. Ia membelai sang Baju dengan penuh kasih.
" Sebenarnya bisa saja aku menurunkan hargamu dan kuobral agar kau laku. Pasti akan banyak sekali yang berebutan untuk memilikimu,"kata Pemilik Toko. "Tapi itu tidak kulakukan karena kamu bukanlah baju biasa. Kau harus berada di tangan yang tepat. Kau harus dikenakan pada pembeli yang berani membelimu. Berani memilikimu."
Sang baju mengangkat wajahnya yang sedih," Kapankah itu, Tuan," tanyanya sambil terisak-isak.
Pemilik Toko lalu menjawab," Sabarlah, waktunya akan tepat untukmu."
*finally, setelah stuck tanpa ide menulis.
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
( salah satu bait dalam Lagu "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R Supratman )
Apa persamaan antara Kartini dengan kita yang hidup di zaman sekarang ?
Selain karena kelaminnya sama ( tentu saja ), Kartini dan kita juga sama-sama menderita hal populer yang disebut Galau. Kalau sedang mengalami kegalauan, kita bisa langsung curhat di status FB atau berkicau di twitter. Nah, hal yang sama juga menimpa Kartini. Karena Internet belum ada pada zaman itu, maka Kartini yang galau langsung menulis surat kepada para sahabatnya: Stella Zeehandelaar, Nyonya Abendanon, dan Ny. Van Kool. Curhat Kartini dalam surat-surat itu kemudian dikumpulkan oleh Tuan Abendanon dan dijadikan buku yang kita kenal dengan judul "Habis Gelap, Terbitlah Terang". Lewat tulisannya, Kartini langsung dinobatkan sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Ia dijadikan Pahlawan dan dibuatkan hari besar untuk memperingati jasa-jasanya. Semuanya itu berawal dari rasa galau dan keinginan untuk curhat.
Lalu kenapa seorang tukang curhat seperti Kartini bisa menjadi Pahlawan Nasional ?
Mengenai kepahlawanan Kartini memang mengundang pro dan kontra di kalangan perempuan
sendiri. Pantaskah Kartini disebut pahlawan ? Pahlawan macam apa yang berkoar-koar lalu menyerah pada sistem? ( * lirik kak Dwi Ananta Sari ).Kartini memang berbeda. Ia melawan dalam diam. Ia tidak berjuang dengan senjata atau bermandi darah. Ia hanya mampu melawan dengan ujung penanya. Usaha kongkrit yang dilakukannya adalah membuat sekolah kecil agar perempuan-perempuan yang tinggal di sekitarnya dapat mengecap pendidikan walaupun hanya untuk sekedar baca-tulis.
Banyak pahlawan perempuan yang mati dalam medan pertempuran demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun yang berjuang untuk nasib perempuan sendiri hanya sedikit. Sejarah mencatat, bahwa Kartini-lah yang pertama kali memikirkan nasib kaum perempuan pada zaman itu. Ingat! pada masa Kartini hidup belum ada organisasi yang mampu mewadahi bumiputera untuk melawan penjajah dalam ranah intelektualitas. Budi Utomo sebagai organisasi pertama bumiputera lahir empat tahun setelah Kartini wafat. Maka Kartini sudah tentu tidak punya wadah untuk melawan sistem yang ada. Ia hanya mampu menuliskan kegelisahannya, menuliskan pemikirannya, dan tentu saja curhat yang melahirkan gagasan-gagasan hebat bahwa pendidikan adalah kunci bagi majunya sebuah bangsa.
Dalam hidupnya, Kartini juga banyak mendapat kekecewaan. Ia tidak mendapatkan restu Ayahnya untuk sekolah ke Belanda hanya karena ia perempuan. Budaya Jawa bagi Kartini adalah penjara untuk maju dan berkembang. Kartini juga hanya bisa pasrah ketika akhirnya dinikahkan dengan Raden Mas Ario Joyodiningrat. Ia juga hanya bisa diam ketika suaminya berpoligami ( mengenai budaya Jawa tentang gundik dapat dibaca dalam novel "Gadis Pantai" karangan Pramoedya Ananta Toer ). Kartini mengajarkan kita melawan dengan cara lain. Bukankah lewat tulisan kita bisa melawan? Bukankah hanya dengan status dan kicauan twit pun kita bisa melawan ?
Lalu apa yang dilawan ?
Hanya Perempuan sendiri yang tahu apa musuh terbesarnya.
"...Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula."
( Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902 )
Selamat Hari Kartini, 21 April 2011
Saya lebih suka menyebutnya Hari Perempuan Nasional. ^^
PS : Marilah menggunakan kata "Perempuan" yang berarti empu, pemilik. Ketimbang "Wanita" yang berarti betina, pelayan, binatang.
avatar by AlstrojoAkhir-akhir ini keberanian saya mengendur untuk memasuki dunia baru. Tiba-tiba saya menjadi kipka kecil yang penakut. Ketakutan saya telah membuat semangat untuk berkarya disana menjadi redup. Motivasi saya hilang entah kemana. Mendadak tempat tidur dan rumah menjadi sarang empuk untuk beraktivitas. Tidur.
Lalu semua masalah muncul. Ada beberapa dijadikan pelajaran dan ujian tahan mental. Kemudian ada juga kejutan kecil yang menyenangkan. Namun lebih daripada itu semua, saya takut. Pertanyaan penting yang selalu saya tanyakan kepada diri saya adalah : kemana perginya Superwomen ini?
Saya tidak melihat Perempuan Pemberani itu lagi. Dari dalam cermin terefleksi gadis penakut yang terlalu pengecut untuk memasuki dunia baru. Si Kipka telah menguasai raganya.
Tidak ada yang dapat menggantikan bau khas sehabis hujan di sore hari. Bau yang mampu meremangkan bulu roma dan menghadirkan sensasi yang membuat berahi. Ahh..suasana sehabis hujan yang kusukai. Apalagi di tiap kisahnya selalu ada yang berbeda. Seperti sore ini, saat saya selesai hunting foto untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi.
Saya dan Ela, teman saya, berboncengan setelah hunting di SCR alias Sentral Cakar Ratulangi. Suhu udara yang mendingin akibat guyuran hujan membuat kami berdua lapar. Saya pun mengusulkan untuk makan sate. Ela sepakat. Ia menyarankan penjual sate langganannya. Namun sayang seribu sayang. Si Mas Penjual Sate rupanya belum jualan. Masih terlalu dini memang saat itu.
Ela kemudian memutar laju motornya. Kami memutar lewat jalan yang disingkat Ablam. Ela lalu bercerita tentang masa-masa saat ia pernah tinggal disitu. Sepeda motor Ela terus melaju menghasilkan cipratan becek dari jalanan yang tak teraspal. Kanal besar menjadi perantara antara dua jalan yang saling bersisian. Anak-anak kecil berlarian tak beraturan sambil mengangkat tinggi-tinggi layang-layangnya. Saya berteriak. Benang gelas layang-layang itu cukup dekat dengan jarak pandang mata Ela. Saya agak trauma dengan benang gelas karena pernah teriris sewaktu kecil untung jari saya tidak putus. Waktu itu saya sedang mengayuh sepeda dan merasa ada yang tidak wajar dengan sepeda saya. Kontan saya berhenti dan menyelidiki apa yang terjadi. Ada benang yang nyangkut di rodanya. Saya pikir itu adalah benang biasa. Saya lalu menariknya dan mengalirlah darah segar dari buku-buku jari saya. Saya melongo. 5 menit kemudian saya menangis.
Ela masih lanjut bercerita bahkan setelah saya berhenti menjerit melihat benang gelas yang sudah berlalu. Tiba-tiba Ela berkata pada saya,
Ela : Liat ko rumah besar yang pagarnya tinggi dan berkawat..
Saya : Mana?
Ela : Itu yang sebelah kanan.
Saya : Oh iya. Kenapa dengan rumah itu?
Ela : tempat prostitusi itu disitu.
Saya : APAA...masa???
Ela : dehh..kalau malam banyak mobil kesitu nah..
Saya : kayak Nusantara?
Ela : iyo. Tapi terselubung ki...
Saya termenung.
Sebuah tempat prostitusi di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang di bawah garis kemiskinan? Ini suatu kewajaran. Kewajaran yang disengaja.
Kita pasti sudah sering mendengar istilah 3 B yang selalu didengung-dengungkan ketika musim kontes kecantikan telah tiba. 3 B merupakan kepanjangan dari beauty ( kecantikan ), brain ( kecerdasan), dan behavior ( kepribadian ). 3 B adalah kriteria penting yang harus dimiliki oleh peserta sebelum dinobatkan sebagai Ratu Sejagat. Di kampus kita juga ada mahasiswa tipikal seperti itu. Mereka juga memiliki 3 B. Tapi jangan salah 3 B yang dimaksud bukan 3 B milik kontes Miss-Miss itu tetapi 3 B yang dimaksud adalah behel, blackberry, dan belah tengah. Wujud mahasiswa yang menempel pada hedonisme.
Sebenarnya tidak ada yang salah ketika teman-teman kita ini menjadikan 3 B sebagai identitasnya. Masalahnya adalah karakter mereka yang apatis membuat kita sering ketiban sial. Ayo mengakulah! Berapa banyak di antara kamu yang sering dimintai absen oleh mereka? Berapa banyak di antara kalian kena marah senior atas ulah mereka yang sering bolos pengkaderan? Berapa banyak dari kalian yang patah hati karena cinta ditolak atau karena gebetan kalian naksir pada mereka? Seberapa besar usahamu belajar pasti nilaimu tidak lebih tinggi dibanding mereka. Tidak aktif dalam perkuliahan namun IP-nya selangit. Ya, kalian sadar pemberian nilai juga bisa melihat fisik seseorang. Tanpa sadar kalian menjadi jengkel dengan orang-orang seperti mereka, para mahasiswa 3 B.
Di samping urusan akademik yang mengganggu, urusan pergaulan juga sering membuat kita melirik sinis ke arah mereka. Jarang di antara mereka yang mau bergaul dengan mahasiswa lain yang tidak teridentifikasi sebagai 3 B. Kalaupun kamu diajak ngobrol ya itu karena ada U dibalik B. Kalau bukan titip absen ya titip tugas. Entah mengapa kalian juga susah menolak mereka. Apalagi buat yang cowok-cowok, ayo ngaku….hehee…
Tanpa ada maksud mendiskreditkan teman-teman kita yang mahasiswa 3 B, kenyataannya sebagian besar memang seperti itu. Bahkan tanpa sadar kita sering meremehkan mereka. Di lain sisi, mereka juga tidak menyukai mahasiswa di luar kelompok elitnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak semua dari mahasiswa 3 B ini se-negatif yang kita pikir. Ada yang baik, cerdas, mau bergaul dengan siapa saja, dan memiliki simpati yang besar. Sekarang bagaimana pintar-pintarnya kita bergaul dengan mereka. Jangan hanya duduk dan mencemooh penampilan mereka. Mereka tetap sama seperti kita hanya saja pemikirannya berbeda. Ada yang seluas langit biru dan ada yang sedangkal selokan.
Malam di kota Makassar selalu punya cerita sendiri dan di hari 16 Pon di bulan maret terjadi sebuah adegan yang mewarnai cerita Makassar.
Tiga orang kawan pulang dengan wajah cemberut. Mempertanyakan kepekaan teman-temannya. Malam tidak pernah ramah kepada perempuan, maka biarkan kami bersikap seolah Tuan.
Permintaan itu sangat sederhana. Kalau kita ini searah, mengapa kita tidak jalan bergandengan tangan untuk tiba di tujuan yang sama ?
Mengapa begitu sulit membuat dirimu mengikuti apa yang disebut orang barat dengan istilah Gentleman ? Sayang sekali, padahal Indonesia dijajah 3, 5 abad oleh Belanda.
Kami bukannya manja, tapi jika dalam terang saja kami sering dicelakai bagaimana jika malam? Adakah jaminannya? Mungkin jika posisinya ditukar kalian akan mengerti.
Semua petaka itu kualamatkan sedemikian rupa sebagai kesumat kepada Helm. "Tidak ada helm-ku " adalah jawaban tanpa tedeng aling-aling yang selalu kalian berikan ketika kami mengemis minta tolong.
Tapi aneh sungguh aneh, kalau yang meminta itu adalah kekasihmu atau pujaan hatimu, Helm kecil pelindung batok kepala yang rapuh itu muncul tiba-tiba entah darimana. Ada perjuangan disitu. Demi...
Lalu, lihat kami baik-baik! kepada wajah para pengemis ini.
Duhai kawan yang mengaku Pria Sejati....
18 Februari 2011
Selamat Ulang Tahun Persatuan Kaum Perempuan GPIB yang ke-46.
Nanti jika aku sudah menjadi istri dari seseorang, menjadi seorang ibu, aku pasti akan bergabung dengan kalian. Menjadi Perempuan Gereja yang bersaksi dan melayani.
Diciptakan Tuhan baiklah adanya
Jangan direndahkan harkat insaninya
Jangan disakiti Tuhan membelanya
Istri dalam rumah bagai kembang mawar
Harumnya menebar indahlah warnanya
Bagai pohon anggur berbuah yang lebat
Bahwa sukacita di dalam rumahmu
Ada perempuan yang sangat terbeban
Di tengah tantangan hidup yang kian berat
Hingga siang malam harus kerja keras
Tuhan memberkati tiap usahanya
...kudengar dia menjadi lonte sekarang.
" Sudah kayak lonte dia sekarang...," ujar salah seorang temanku yang kutemui beberapa waktu yang lalu. Ia menyeruput rokoknya dalam-dalam. Tersenyum sinis dan mengejek pada seorang kawan di masa lalu.
"Kasihan..," sobatku yang lain mengatakan hal yang serupa.
Kecantikan memang anugerah tapi bisa juga menjadi petaka. Dia yang kuketahui tak pernah punya masalah dengan lelaki. Semua teman-teman lelaki ingin menjadi kekasihnya. Wajahnya cantik dengan tubuh padat nan seksi. Kulitnya putih mulus tanpa cacat. Ia juga berasal dari kalangan berada. Kecantikannya menjadi perhatian. Buah dadanya menjadi perbincangan khas para teman-temanku yang berjakun. Bagaimana tidak, mereka bercerita di depanku seakan-akan aku tak merasa leceh diperlakukan seperti itu. Susah memang jika menjadi teman curhat laki-laki. Hal-hal tabu pun menjadi biasa.
Walaupun dia menjadi primadona di kalangan teman-teman lelaki, dia ternyata nge-fans dengan geng kami. Ia menyimpan foto-foto kami di HP-nya. Fotoku bersama sobatku yang lain, foto kami se-geng, foto temanku yang lain dengan teman se-geng yang lain, pokonya dia mengumpulkan hal-hal tentang kami. Ia ingin bergaul dengan kami. Ingin menjadi bagian kami. Tapi, kami sebaliknya. Tidak suka padanya.
Walau berwajah cantik, perangainya tidak bisa dibilang cantik. Agak sombong dan tukang pamer. Mau dibilang. Sifat-sifat inilah yang membuatnya sering diperalat oleh teman-temannya sendiri. Bahkan kadang-kadang oleh kami juga.
Aku sebenarnya tidak begitu membencinya. Namun suatu kejadian dimana ia menjadi kaki tangan temanku yang psikopat telah membuatku ingin memakannya mentah-mentah. Aku pernah membentaknya, mencacinya, bahkan sering meneriakinya jika ia lewat di depanku. Sungguh ! apa yang dia perbuat dulu begitu sangat menyakitkan hati. Karena dia tahu ia bersalah, ia hanya diam. Tak mampu melawan.
Terakhir ia kulihat saat penerimaan mahasiswa baru. Ia lewat di depanku. Aku meneriakinya. Masih ada bara amarah di hatiku. Ia hanya tertunduk berusaha menghindar. Bersalah. Ya, hukuman sosial bagi yang bersalah. Teman-teman se-fakultasnya juga tidak menyukainya. Kebetulan aku memiliki beberapa teman yang se-fakultas dengannya. Dan sifat buruknya ternyata menimbulkan bumerang pada dirinya sendiri.
Oiya, aku sudah bilang tidak kalau pada saat itu ia sudah berbadan dua ?
Kecantikan memang bisa menjadi anugerah atau petaka. Anugerah jika kau bisa menjaganya, petaka jika tidak. Dia termasuk perempuan yang tidak. Diserahkannya dirinya pada sembarang lelaki. Ia mengandung. Menikah karena terpaksa. Ia menjual Tuhan.
Aku merasa kasihan padanya. Ia memiliki potensi dan bakat jika ia mau lebih berusaha. Namun, salah jalan dan tersesat. Walaupun suaminya kudengar anak orang kaya, tapi tetap saja statusnya pengangguran. Ia sering dipukul. Akhirnya bercerai. Anaknya diasuh oleh ibunya.
Aku pikir dengan segala kejadian yang menimpanya akan membuatnya berubah. Ternyata tidak. Ia kembali memasuki dunianya yang lama. Menyerahkan dirinya kepada sembarang lelaki.
...kudengar ia menjadi lonte sekarang.
Benarkah itu ?
*lonte = sebutan kasar untuk pelacur
ilustrasi by Laura Rickus "Women Collection"
Kasus Ditje Budiasih
Kasus Sum Kuning
Kasus pemerkosaan kepada Sumariyem atau biasa disebut kasus Sum Kuning ini mengingatkan kita pada sebuah sinetron yang dibintangi Bunga Zaenal dan Evan Sanders yang bercerita tentang seorang gadis desa yang diperkosa beramai-ramai dan dibuang dipinggir jalan. Ternyata cerita sinetron ini terjadi di dunia nyata. Tanggal 21 September 1970, seorang gadis penjual telur bernama Sum Kuning diculik dan diperkosa oleh tujuh orang pemuda. Setelah diperkosa gadis itu kemudian diturunkan begitu saja di jalan. Sum Kuning kemudian melaporkan hal ini pada kepolisian tapi malah dituduh berbohong dan diduga sebagai anggota Gerwani. Proses penyidikan tersebut pun berlangsung tidak dengan cara manusiawi. Seperti halnya sandiwara, polisi kemudian menangkap terdakwa-terdakwa yang diduga melakukan kejahatan tersebut. Ironisnya, terdakwa-terdakwa palsu ini sengaja dihadirkan untuk melindungi pelaku-pelaku sebenarnya yang konon adalah anak-anak pejabat di era itu.
***
Dua kasus di atas adalah sebagian contoh dari keadilan yang disembunyikan di negeri kita. Aparat kepolisian yang diharapkan sebagai tempat menegakkan hukum dan keadilan justru tidak mampu melakukannya. Malahan ikut-ikutan bermain dalam peran sandiwara kasus-kasus pidana ini. Ketakutan pada orang-orang yang memiliki kuasa begitu mengintimidasi mereka. Orang-orang yang memiliki kuasalah yang selalu menjadi sutradara dalam sandiwara yang jauh dari batas keadilan.
Saya lalu berpikir dengan melalui jalur jurnalistik yang saya pelajari. Kasus-kasus di atas dapat muncul di permukaan karena peran-peran pers pada saat itu yang terbilang berani memberitakan kasus-kasus pidana yang melibatkan orang-orang yang berkuasa. Para jurnalis atau wartawan harus berhati-hati agar jangan sampai yang ditulisnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Tak jarang bahwa mereka yang melakukan investigasi berita sudah tahu yang sebenarnya terjadi tetapi urung dituliskan karena takut dipecat atau yang lebih parah kehilangan nyawa. Dengan tugas yang berat itu, saya yakin pemberian upah yang layak patut diberikan kepada para kuli tinta yang memberitakan kebenaran.
Bagaimanapun bobroknya sistem peradilan di Indonesia, kita semua pasti selalu berharap bahwa kinerja aparat penegak hukum di negeri kita dapat menjadi lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya. Ungkapan “ Hukum manusia bisa diputar-balikkan, tapi hukum Tuhan siapa yang sanggup menghindar ” memang ada benarnya. Orang-orang yang sepatutnya dihukum memang bisa lari, tapi siapa yang tahu jika akhirat sudah di ambang pintu. Kita semua pasti tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat keadilan akan muncul kembali di negari tercinta ini. Seperti pula kata Tolstoy, “ Tuhan mengetahui semuanya, tetapi menunggu…”
Ketika masih kecil dan melihat perjuangan kakak-kakak Mahasiswa di tahun 1998 baca ini , mereka laksana pahlawan yang berperang demi keadilan rakyat. Bahkan tidak sedikit yang bersimpati kepada mereka. Saat itu, segenap rakyat Indonesia menumpukan harapan mereka pada para aktivis ini. Aktivis ini juga bukan berarti hanya mencakup para mahasiswa saja tetapi juga orang-orang yang tergabung dalam LSM-LSM dengan basis politik dan tujuan tertentu.
Gambaran laki-laki ideal dengan tubuh sempurna telah ada sejak zaman dulu. Salah satu seniman hebat sepanjang masa, Michaelangelo Buonarroti membuat gambaran indah tentang laki-laki dalam salah satu karya-nya yang dikagumi hingga sekarang, David. Sosok patung Daud ( David ) dengan tubuh telanjang dan otot-otot maskulin yang memberi kesan bahwa David selain tampan juga memiliki tubuh atletis idaman semua pria. Walaupun sampai sekarang kita tidak tahu bagaimana rupa Raja Daud, tapi patung David ini secara tidak langsung membuat pandangan kita terstruktur seperti itu. Siapa tahu sebenarnya Daud itu pendek dan gemuk ? Ya kan. Walaupun begitu berdasarkan kenyataannya, Alkitab pernah mencatat bahwa Daud memang berwajah tampan, taat kepada Allah, jago bikin puisi, menari, menyanyi, main alat musik, cerdik, panglima perang yang hebat, dsb. Daud memang pria kesayangan Allah dan idaman semua perempuan.
Patung David karya Michaelangelo BuonarrotiSaya juga suka membaca novel. Mulai dari novel-novel teenlit, metropop, terjemahan, hingga seri Harlequin. Dari kisah cinta merah muda sampai tentang kehidupan yang menginspirasi. Saya suka membaca novel yang mendeskripsikan tokoh laki-lakinya dengan sempurna. Hal ini membuat saya lebih mudah membayangkan tokoh utama perempuan sebagai saya dan si "laki-laki rekayasa penulis" sebagai tokoh utama laki-lakinya. Lambat laun deskripsi sempurna laki-laki dalam novel membuat saya berpikir indah tentang tubuh laki-laki. Hingga kemudian mengkonstruksi wujud laki-laki idaman hampir sama seperti dituliskan dalam novel-novel. Itu dulu, saya akhirnya menyadari kenyataan jauh lebih indah dibanding imajinasi penulis novel. Tidak segampang itu membuat perempuan jatuh cinta dengan ketampanan belaka.
Saya akan memberikan contohnya. Novel Lelaki Terindah karangan Andrei Aksana memiliki deskriptif yang sempurna untuk tokoh utama laki-laki. Novel Lelaki Terindah yang bercerita tentang cinta terlarang sepasang laki-laki menjadi novel wajib yang sanggup menguras air mata teman-teman saya yang menyebut diri mereka gay.
" Namanya Rafki. Belum pernah kudengar nama seindah itu. Melafalkan huruf demi huruf yang merangkum namanya, alam seperti mendentingkan komposisi nada dalam alunan simfoni yang menggetarkan. Begitu sepadan dengan penampilan fisiknya yang mengundang decak. Membuat mata tak rela berkedip sekejap pun. Mengagumi mahakarya yang tiada tandingan. Jantan. Gagah. Memukau. Menggoda...( hal.18 )
" Ketika ia berkata, otot-otot yang menyembul di balik kausnya tampak ikut mengejang. Rafki duduk seenaknya. Dengan kedua kaki berselonjor dan mengangkang. Celana jeans-nya yang ketat memperlihatkan semua lekuk kejantanannya..." ( hal. 20 )
" Siapa yang sanggup menolak pemuda setampan ini. Tubuhnya tinggi atletis. Dadanya bidang. Setiap perempuan pasti berdesir melihatnya. Ingin berlabuh dalam dekapannya. Tak mau melepaskan lagi. Wajahnya demikian rupawan. Sang pemahat tak meninggalkan cela sedikit pun dalam karyanya. Matanya yang gemerlap seperti telaga berkilauan tertimpa sinar matahari... membuat semua perempuan ingin berenang menyelami, meski basah dan tenggelam, tak mau naik ke daratan lagi..." ( hal. 27 )
Akhir-akhir ini di Makassar mulai berjamur tempat fitness. Entah itu dalam bentuk rumah yang penuh dengan alat-alat berat pengolah tubuh atau studio fitness yang eksklusif dan berkelas. Saya juga sering gerah melihat teman-teman laki-laki saya yang hobi fitness untuk membentuk tubuhnya agar atletis, seksi, dan ideal. Untuk merawat tubuh sih OK, tapi untuk merubah diri hingga meninggalkan tujuan hidupnya yaitu belajar, itu sangat NOT OK !
Laki-laki hari ini juga berkurang ketertarikannya dalam dunia pendidikan. Di kelas saja, bisa dihitung laki-laki yang aktif dalam perkuliahan. Kalau disuruh bikin tugas kuliah, malasnya minta ampun. Tapi, kalau urusan olahraga, pembentukan tubuh, apalagi main game, mereka sangat aktif. Kalau diprotes mereka punya segudang dalih : " Ini kan nalurinya cowok " atau " kami juga butuh refreshing" . Laki-laki zaman sekarang malah lebih rajin ke lapangan futsal daripada melamar pekerjaan, bikin usaha sendiri, atau minimal ambil S2. Mereka sepertinya lebih tertarik ikut olimpiade daripada menghadapi persaingan kerja di era globalisasi ini. Saya tidak menggeneralisir semua laki-laki seperti itu, sama seperti kata Om Meggy Z " Tidak semua laki-laki...."
Untuk para laki-laki sebenarnya sederhana saja :
Jadilah diri kalian. Berusahalah untuk survive dalam hidup. Kami tidak butuh otot untuk makan. Kami butuh cinta kalian dan usaha kalian. Kami butuh pria cerdas untuk dijadikan suami bukan pria berotot untuk dijadikan tukang pukul.
Terima kasih.







