Review Film

Posesif

Sabtu, Oktober 28, 2017

Yudhis (Adipati Dolken) dan Lala (Putri Marino) di film Posesif (2017)


Persoalan cinta memang persoalan yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Masalah ini sama peliknya dengan persoalan ekonomi-sosial-budaya-politik yang selalu membuat umat manusia saling debat. Sayangnya, banyak orang berusaha tak hirau dengan soal cinta. Mereka bilang cinta itu remeh-temeh, gak penting. Saya jelas tak sepakat, wong cinta ini masalah substansial dalam hidup manusia kok. Hal yang paling esensial sehingga selalu laku jadi komoditi dalam industri budaya.

Perhatian saya lantas terpaku pada film Posesif (2017) yang disutradari oleh Edwin. Nama Edwin sudah saya kenal gegara film Babi Buta Ingin Terbang (2008), film yang pernah diputar di festival film jaman saya kuliah dulu. Film garapan Edwin terlihat non-mainstream sehingga rasa penasaran untuk menonton film komersial seperti Posesif menjadi faktor utama yang mendorong saya menonton film ini. Faktor kedua adalah karena isunya tentang kekerasan dalam pacaran di kalangan remaja. Hampir dua tahun saya concern ke isu kekerasan seksual dan saya berusaha membaca film ini untuk menemukan tanda-tanda yang digunakan Edwin untuk menghadirkan wacana tentang kekerasan, terutama di kalangan remaja. Ketiga, saya suka dengan Adipati Dolken, entah mengapa wajahnya mengingatkan saya pada Ryan Hidayat (fix gak move on dari idola sejak masih buta huruf :p). 

Saya tidak akan menceritakan resensi film ini (silahkan cari di blog lain). Saya lebih tertarik dengan wacana kekerasan yang diproduksi para pembuat filmnya. Ada beberapa tanda yang menarik didedah. Pertama, kekerasan hadir berulang dalam relasi. Pada mulanya adalah cinta, tetapi cinta bertalian dengan kepemilikan. Kita tak mungkin peduli pada sesuatu yang dengannya tidak kita sayangi. Karena kita sayang, makanya kita merasa memilikinya. Ketika kita sudah merasa memiliki, maka kita akan merasa takut kehilangan. Ada banyak faktor yang membuat obyek yang dicinta bisa hilang, bisa karena keinginan si obyek, bisa karena faktor esktenal lain. Demi melindungi supaya si obyek tak hilang, si subyek yang merasa memiliki berusaha menundukkan si obyek. Ketika si obyek "bebas" , orang-orang yang posesif ini justru menghukum obyek yang dicinta, berikut orang-orang yang mengancam akan merebut si obyek darinya. Di titik inilah, kekerasan tercipta. Kekerasan tidak jatuh dari langit, ia adalah produk dari mekanisme relasi subyek-obyek yang berulang. Hal ini tampak dari perlakukan Ibu Yudhis ke Yudhis dan direproduksi oleh Yudhis ke Lala. Tidak ada kekerasan dalam hubungan yang setara alias subyek dengan subyek. Coba bandingkan bagaimana ayah Lala dengan Lala yang cenderung membebaskan anaknya terhadap pilihan-pilihannya. 

Kedua, rasa sayang yang berubah menjadi rasa kepemilikan itu mengerikan karena akan menciptakan belenggu dalam relasi. Tak ada lagi relasi yang setara, yang satu akan senantiasa menundukkan yang lain untuk menjaga status kepemilikan itu. Kebebasan si korban terancam. Ada adegan menarik dalam film Posesif, ketika Yudhis mengaitkan kalung kepada Lala sebagai hadiah ulang tahun dengan simbol inisal nama mereka. Dalam budaya, kalung (rantai) yang diikat di leher adalah simbol penaklukkan dan kepemilikan. Kita bisa lihat pada anjing yang dirantai lehernya sebagai simbol kepemilikan dan penaklukkan atau para budak tanah jajahan. Mereka yang dirantai tidak bisa bebas, mereka mudah dikendalikan. Selama Lala memakai kalung itu, pilihan-pilihannya selalu disetir oleh Yudhis. Yang menarik dari film ini, Lala berusaha melakukan resistensi dalam diam (adegan ketika ia memilih kuliah di UI yang sebenarnya bertentangan dengan bujukan Yudhis). Relasi subyek-obyek tidak bisa disederhanakan dengan menganggap kontrol ada di si pemilik. Ketika kalung itu hilang, Lala justru mencari Yudhis yang malah "meninggalkan"-nya. Relasi subyek-obyek tidak akan pernah putus sampai salah satu pihak dengan gagah berani melepaskan ikatan itu ("..lepaskanlah ikatanmu dengan aku biar kamu senang..." *nyanyik)

Ketiga, ciri khas konsekuensi dari relasi seperti ini biasanya adalah korban melakukan self-blame atau menyalahkan diri sendiri. Self-blame kerap kali dilakukan korban kekerasan untuk membenarkan  persepsinya tentang kekerasan yang dilakukan pelaku (bisa karena kekerasan itu tanda cinta, dll) dengan tujuan melindungi pelaku (lihat adegan dialog antara Lala dengan ayahnya di tempat cuci piring). Adegan-adegan seperti itu banyak muncul dalam film ini, seperti ketika Lala melarang ayahnya untuk menelpon polisi atau ketika Lala bercerita kepada Ega, sahabatnya. Di kehidupan nyata, ketika kamu berhadapan dengan korban kekerasan dalam rumah tangga (atau pacaran dan cinta bertepuk sebelah tangan :p) tak jarang korban melakukan self-blame seperti ini. Ketika pelaku meminta maaf dengan cara-cara yang lebay yang bagi korban dianggap "romantis" (seperti Yudhis di film ini), korban akan luluh dan merasa bahwa ialah satu-satuya yang bisa mengubah si pelaku menjadi orang yang baik. Keadaan ini kemudian mengingatkan kita pada dongeng Beauty and The Beast dimana Belle berusaha mengubah The Beast menjadi orang baik (dan tampan) lagi. 

Kekerasan fisik dan psikologis yang dihadirkan dalam film ini tak melulu soal relasi. Namun, juga kekerasan simbolik yang dilakukan masyarakat terhadap keperawanan perempuan. Masyarakat patriarkal mengagung-agungkan keperawanan perempuan dan memandang hina perempuan yang sudah tidak perawan. Menariknya, tokoh Lala tidak terbebani dengan hilangnya keperawanannya. Ya, dia memang meminta maaf sebatas karena membuat ayahnya sedih dan malu. Tetapi, sebagai perempuan ia tidak melakukan self-blame seperti perempuan pada umumnya yang melakukan hubungan pra-marital seksual dengan pacarnya. Tampaknya, hubungan seks antara Lala dan Yudhis (meskipun tidak ditampilkan secara visual) terjadi atas persetujuan bersama. Artinya, baik Yudhis dan Lala sama-sama menginginkan hubungan itu, tahu resikonya, serta bertanggung jawab atas pilihan itu. Hubungan seks konsensual seperti ini menghilangkan kultur kekerasan seksual serta menghilangkan beban "perawan" ala masyarakat patriarkal yang ditanggung perempuan. Jika perempuan bertanggung jawab dalam hubungan seks yang konsensual seperti itu, ia tidak perlu meminta pertanggungjawaban atau menyalahkan pihak laki-laki jika sewaktu-waktu relasi mereka berakhir. 

Saya banyak melihat perempuan yang menderita karena sudah terlanjur melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Banyak diantara mereka yang akhirnya memasrahkan diri dalam relasi yang  tidak setara dan menjadi korban kekerasan (fisik, psikologis, seksual). Mereka tidak bisa disalahkan karena mereka dibesarkan dalam masyarakat yang menaruh nilai pada tubuh mereka. Dalam masyarakat patriarki, keperawanan perempuan dimaknai sebagai segel dan barangsiapa yang pertama kali membukanya maka ia menjadi pemilik dari obyek yang dibuka segelnya itu. Perempuan yang segelnya dibuka mau tidak mau akan mengikatkan diri pada si pembuka segel. Maka, tak heran meskipun menderita dalam relasi timpang seperti itu mereka tetap bertahan. Sedih dan mengerikan bukan?.

Overall, film ini berhasil menghadirkan wacana kekerasan dengan baik, baik secara teks maupun visual. Tak ada kesan vulgar dan menggurui. Edwin menawarkan isu ini dengan lembut dan menyusup ke kesadaran penonton. Salut untuk aktingnya Adipati Dolken yang terlihat maksimal disini. Ia sukses menghadirkan karakter Yudhis yang charming sekaligus psycho. Putri Marino juga tampil dengan baik sebagai Lala. Seperti lagu I Just Called To Say I Love You-nya Stevie Wonder di film Babi Buta Ingin Terbang, Edwin juga menyelipkan satu lagu tertentu sebagai "penanda" di film Posesif yaitu lagu Dan yang dinyanyikan Sheila on 7. 

Film ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita bahwa ada sisi gelap dari romansa. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam mendefiniskan tindakan kasih dari orang-orang yang kita cintai. Mendapatkan pendidikan dan membaca buku-buku anti penindasan tidak menjadi jaminan seseorang tidak mereproduksi kekerasan. Selama ia masih memandang relasi antara manusia sebatas subyek-obyek, maka selama itu pula ia akan menundukkan orang lain. Jürgen Habermas pernah bersabda bahwa hanya dengan memandang manusia lain sebagai subyek yang setara, maka dialog akan tercipta untuk menghasilkan pemahaman dan tindakan yang tidak merugikan salah satu pihak. 

Pertanyaannya sekarang, apakah kamu sudah memandang manusia lain sebagai subyek yang setara? Selamat berkontempleasi. Saya mau nyanyi dulu.

"Lupakan saja diriku
Bila itu bisa membuatmu
Kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala..."

Mantra Kalimat

When Universe Speaks to You...

Kamis, Oktober 19, 2017

Me with Mandala, photo by: Junita



For the last couple of days, I have been binge-watched Orange is the New Black, an American serial television, which was suggested by my best friend, Tirta. To be honest, I have been encountered with unpleasant situations lately. I must admit I have some dilemmas, should I choose to survive or to resist?  In terms of deal with things, I suddenly had wanted to get signs in order to convince myself. I didn't care if it's from the sky or maybe someone. I just needed to make myself comfortable. And guess what? I have been touched by some lines from the dialogue between Yoga Jones and Chapman in the film. It was also funny yet mysterious because it happened right after I got "unfortunate situation". By looking at this context, I think universe seemingly speaks to me through the movie.  


Yoga Jones: Do you know what a Mandala is? 
Champan: Those are those around Buddhist art things
Yoga Jones: The Tibetan monks make them out of dyed sand, laid out into big beautiful designs. And when they’re done, after days or weeks of work, they wipe it all away. 
Chapman: Wow… that’s a lot
Yoga Jones: Try to look at your experience here as a mandala, Chapman. Work hard to make something as meaningful and beautiful as you can. And when you’re done, pack it in and know it was all temporary. You have to remember that. It’s all temporary. 
Chapman: It’s all temporary 
Yoga Jones: I’m telling you. Surviving here is all about perspective

(Orange is The New Black, session 1 ep. 1)

Life Story

Billy Joel, Jakarta Sebelum Pagi, dan Hal-Hal Yang Belum Selesai

Sabtu, Oktober 14, 2017


photo by: Toa Heftiba  (www.unsplash.com)


Ketika kamu bekerja, weekend merupakan waktu yang selalu dinanti. Saya selalu menyukai hari Sabtu (kemudian teringat bahwa waktu sekolah dulu, saya tetap masuk di hari Sabtu) lebih-lebih kalau cuacanya  mendung atau sekalian hujan. Rasanya semua perasaan sendu-romantis menghambur di dada, menyebabkan kantuk, dan berakhir dengan tidur sampai siang yang nikmat.

Sabtu yang mendung juga mengingatkan saya dengan lagunya Roxette yang dimulai dengan lirik, "Milk and toast and honey, make it sunny on a rainy Saturday...". Saya suka lagu itu karena musiknya seksi. Namun, di siang yang mendung kali ini, saya memilih mendengarkan lagunya Billy Joel yang judulnya Just The Way You Are yang diambil dari album kesukaan saya The Stranger (1977). Lagu ini membuat suasana jadi romantis terutama pada suasana mendung meskipun anda mungkin sedang tidak jatuh cinta. Billy Joel menciptakan lagu ini untuk istrinya, Elizabeth, yang kemudian tak lama setelah lagu itu dirilis justru bercerai dengannya. 

Begitulah cinta. Magis dan aneh. Cinta punya banyak dimensi. Dimensi terluar adalah dimensi fisik yang berhubungan dengan hal-hal yang membuat kita menakar seseorang untuk layak dijadikan pasangan. Dimensi yang menurut saya sangat politis. Karena orang bisa tidak dicintai hanya karena agamanya berbeda, rupanya unik (tidak sesuai gambaran manusia ideal versi iklan produk kecantikan), atau karena dia sama sekali tidak cerdas. Cinta yang lain memiliki dimensi substantif, alias mencintai karena sesuatu yang esensial. Itu loh jenis cinta yang meski orangnya berganti rupa atau identitas sekalipun, kamu tetap mencintainya. Mencintai orang karena esensi adalah yang paling sulit sekaligus juga jarang terjadi di dunia yang segala sesuatu mudah dipertukarkan. Meskipun demikian, saya punya satu keyakinan tentang cinta: Jika kamu mencintai, kamu akan melakukan apa saja untuk yang dicinta. Bagi saya, cinta membuat kita melakukan apa saja bahkan jika hal itu diluar batas kemampuan kita.  

Inilah yang terkonfirmasi dari novel Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Novelnya diceritakan dengan penuturan yang unik. Mungkin hanya orang yang punya selera humor bagus yang mengerti cara Ziggy bercerita. Dari novel inilah, saya menemukan tokoh Abel, seorang yang memiliki phobia terhadap suara dan sentuhan. Abel jatuh cinta pada Emina, yang suaranya lantang dan anaknya heboh. Kebayang kan, bagaimana Abel harus mengutarakan perasaannya dengan mengatasi ketakutan-ketakutannya itu. Sebagai catatan, orang yang phobia bisa mati karena ketakutannya. Abel merasa ditusuk-tusuk atau terbakar jika ada yang menyentuhnya atau ingin mati rasanya ketika mendengar suara yang besar. Ketika akhirnya ia berupaya mengaitkan telunjuknya ke telunjuk Emina, bisa Anda bayangkan betapa beraninya ia?

Seperti Abel saya punya ketakutan saya sendiri. Saya takut dengan waktu, bahkan sejak dalam kandungan. Namun kali ini, saya harus mengalahkan diri saya, ketakutkan saya demi cinta saya padanya. Ia tidak mudah digapai. Ia berdiri di puncak Himalaya. Dan kau tahu, jika kau ingin mendaki puncak Himalaya maka persiapannya tidak sama seperti ketika kau ingin mencapai puncak Semeru. Kau tahu resikonya. Kau tahu kesulitannya. Tapi kau tetap melakukannya. Kau mencintainya, maka kau berusaha mengalahkan dirimu untuk melalui semuanya itu demi mendapatkannya. Untuk seseorang yang selau dikabulkan keinginannya sesuai waktu yang dikehendakinya, menunda dan menunggu sesuatu seperti membuatnya ditusuk dan dibakar. Tapi saya harus tetap tabah, demi cinta. Demi sesuatu yang belum selesai.  

Cinta pada ilmu pengetahuan membuatmu penuh. Namun, jalannya sunyi dan berliku. Saya tak menduga, jalannya memang sesepi ini. 


Archolic

Work

Sabtu, Agustus 12, 2017


On my father's birthday, I push myself to work for better life in the future.


location: Lotus Mio, Tirtodipuran, Jogja

Life Story

Let It Be

Kamis, Agustus 03, 2017

"Akan ada saatnya Sang Bunda memampukan kita mengatakan jadilah kehendak-Mu," Suster Tres berkata lembut. Ia tersenyum dengan tatapan matanya yang dalam. Dinding-dinding batu yang berasal dari perut Merbabu semakin membuat suasana menjadi dingin di ruangan itu. Padahal di luar sana, matahari sedang terik-teriknya. 

Di seberang meja, saya duduk membeku penuh dengan tissue, airmata, dan ingus. Sungguh tampak tak menarik. Perempuan rahib itu memahami bahwa airmata adalah bahasa yang tak memiliki sistem linguistik. Ia tidak dapat dilogikakan. Airmata berkata-kata dengan bahasa yang hanya bisa dirasakan. Airmata itu bercerita panjang lebar tentang penglihatan-penglihatan. Airmata itu menuturkan ketakutan-ketakutan. Kalau kamu takut gelap, maka gelap itu harus diterangi. 

Suster Tres mengakhiri pertemuan itu dengan memeluk saya erat. Selama di perantauan, saya sangat jarang dipeluk seperti ini. Bagai dua sahabat lama kami berpelukan. Dada dengan dada, lengan melingkar penuh. 

Saya tak menduga bahwa hari itu akan datang secepat ini.

Life Story

Drona

Selasa, Agustus 01, 2017

Tersebutlah seorang resi yang sakti mandraguna bernama Guru Drona. Ia ahli bidang kemiliteran dan juga kitab-kitab kebijaksanaan. Banyak orang ingin berguru padanya, termasuk para pangeran dinasti Kuru. Demi masa depan bangsa dan negara, maka berangkatlah kelima putra Pandu dan keseratus Kurawa berguru pada sang Brahmana. 

Di antara murid-muridnya, ada satu yang menarik hati sang Resi. Dialah Arjuna, putra Bapak Pandu dan Ibu Kunti. Arjuna memang terlahir dengan segala yang indah dan terbaik. Ketampanan, kecerdikan, dan ketangkasannya tak tertandingi. Tak hanya ahli berstrategi, Arjuna juga jago di bidang seni. Sungguhlah si Arjuna menantu idaman Papi-Mami di rumah. Jangan lupa dia anak Raja, bahkan putra kandung Raja Kahyangan, Indra. 

Guru Drona jatuh hati pada Arjuna. Ia menjadi murid kesayangan bahkan sejak pertama bertemu. Arjuna sangat menonjol di bidang memanah. Maka, berkatalah Drona di dalam hatinya, “Akan kujadikan Arjuna pemanah terbaik di dunia”. Si Arjuna juga jadi jumawa. Tahu gurunya mendukungnya sepenuh jiwa raga, Arjuna kadang bikin jengkel Duryodana dan saudara-saudaranya. Itu loh si Arjuna gayanya macam orang-orang masa kini yang suka merendah supaya minta dipuji-puji terus. 

Begitulah proses pendidikan Drona pada Arjuna. Arjuna dipilih karena dia memiliki potensi besar di masa depan. Drona bisa berlindung padanya untuk kekuasaan maupun ambisi-ambisinya. Tapi, kan Arjuna itu hidup di hutan bukan di Istana? Ya ya ya…memang sih meskipun hidupnya menderita karena ulah paman Sengkuni, tapi Arjuna tetaplah datang dari kaum Ksatria, kaum penguasa. Semenderita apapun si Arjuna, dunia masih memihaknya. Lagipula Tante Kunti masih saudara dengan Balarāma dan Sri Khrisna, siapa yang berani menantang? 

Tetapi suatu hari datang seorang anak hutan bernama Ekalaya. Meski sama-sama tinggal di hutan, Ekalaya ini stratanya beda dengan Arjuna. Ia tak diketahui asal usulnya, ia kaum minoritas lapis entah ke berapa. Meskipun demikian, Ekalaya anak yang cerdas dan berbakat. Ia sangat ngefans dengan Drona dan ingin berguru padanya. Kemampuan alamiah tiada tara yang dimiliki Ekalaya adalah memanah. Sesuatu yang justru digadang-gadang Drona untuk Arjuna. Nah loh! 

Ekalaya datang pada Drona memohon untuk berilmu padanya. Drona memperhatikan anak itu dengan tatapan meremahkan. Arjuna juga ada disitu, diam-diam mencibir. Drona berkata menguji,”Baiklah anak muda tunjukkan kemampuanmu”. Ekalaya pun beraksi, namun dari semua ketangkasannya pada bagian memanahlah yang membuat Drona kagum, ia bahkan berkata dalam hati,"Sungguh anak ini lebih jago dari Arjuna”. Arjuna yang melihat kepiawaian Ekalaya langsung keder. Kurawa juga ada disitu, terpesona sekaligus senang ada yang bisa melebihi kemampuan Arjuna. 

Begitu menyelesaikan atraksinya, Ekalaya berlutut di hadapan Drona. Drona sesungguhnya ingin sekali merekrut anak minoritas ini sebagai muridnya. Tetapi, ia teringat akan ambisinya juga potensi masa depan yang dimiliki Arjuna. Apalah artinya anak minoritas ini dibandingkan Arjuna? Lagipula, Drona juga ingin menjaga perasaan Arjuna yang dilihatnya sudah mau menangis. Perasaan mayoritas lebih penting dari anak minoritas di depannya ini. Dengan tega hati, Drona berkata tidak pada Ekalaya. 

Ekalaya pulang dengan rasa kecewa di hatinya. Mungkin juga marah dan sedih. Ia tahu diri. Dibandingkan Arjuna ia bukanlah aset yang diharapkan. Ekalaya tinggal sebagai nomad, tak punya basis organisasi apalagi potensi jaringan dimana-mana. Ia hanya punya bakat dan ketekunan. Cita-citanya sederhana, ia ingin menghabiskan seumur hidupnya untuk mencari ilmu. Tak ingin ia menjadi penguasa karena ia diam-diam ingin menjadi seorang resi seperti pujaannya, Drona. 

Meskipun merasa tidak berdaya, Ekalaya tidak putus asa. “Jika Guru Drona tidak mau memilihku menjadi muridnya, maka aku akan membangun “Drona” bagi diriku sendiri". Ekalaya kemudian menebang pohon jati, lalu ia memahat pohon itu dengan sempurna menyerupai rupa Drona. Di bawah patung Drona, ia berlatih setiap hari tanpa henti. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa meskipun hanya melalui “bayang-bayang” Drona. 

Bertahun-tahun kemudian, para Pandawa dan Kurawa telah remaja. Mereka telah hampir menguasai ilmu dari Drona. Kini tibalah waktunya untuk ujian. Masing-masing anak Pandu dan Kurawa maju memamerkan keahliannya. Drona tersenyum puas melihat anak didiknya, terlebih pada Arjuna. Arjuna saat itu memamerkan keahliannya memanah. Drona puas dalam hati telah menciptakan pemanah terbaik di dunia. Di tengah-tengah atraksi Arjuna, muncul panah lain. Panah itu mengalahkan panah-panah Arjuna. Arjuna terperangah tak percaya, Drona apalagi. Pemilik panah itu dengan gagah berani menampakkan dirinya. Dialah Ekalaya yang dulu ditolak Drona menjadi muridnya. Dengan resah Drona menghampiri Ekalaya. 

“Darimana engkau mempelajari ilmu memanah sehebat itu anak muda?,” tanya Drona 
“Dari yang mulia Guru,”kata Ekalaya. Lalu, ia menyambung,” Setiap hari aku berlatih tanpa jemu di bawah patung Guru Drona yang kudirikan sendiri bagiku." 
Drona terkesiap. 

Anak ini meskipun hanya berlatih di bawah “bayang-bayang”-nya tetapi Ekalaya jauh lebih mumpuni daripada Arjuna yang tinggal satu atap dengannya. Gelar pemanah terbaik di dunia yang tadinya digenggam Arjuna terancam jatuh pada Ekalaya. Tidak, gelar pemanah itu tidak boleh jatuh ke tangan Ekalaya. Drona bimbang. Ambisinya terancam karena anak hutan ini. Dilihatnya Arjuna yang menatapnya dengan tatapan “awas ya kalau gue gak dapat gelar ini, nanti kalau jadi raja gue gak kasih lo jatah jadi pejabat”. Maka Drona membuat keputusan yang membuat geger dunia ilmu pendidikan, juga murid-muridnya termasuk Duryodana. 

“Baiklah karena kau telah berlatih di bawah “pengawasanku” maka aku akan meminta sembah bakti-mu sebagai murid,” begitu Drona bersabda. Di zaman itu, sudah lazim jika seorang guru meminta apa saja sebagai balasan dari ilmu yang diwariskannya kepada murid-muridnya, dan murid-muridnya tidak boleh menolak. Ekalaya senang sekali, ia akhirnya mendapat pengakuan dari “guru”-nya itu.

“Apakah itu Guru?,” tanya Ekalaya. 
Dengan dingin Drona berkata,”Berikanlah aku satu jempol kanan-mu”

Ekalaya tercengang tak percaya. Jempol itulah kunci dari kemampuan memanahnya. Arjuna ikut terkejut tapi dalam hati lega juga sih. Duryodana yang biasanya terkenal antagonis mendadak jadi melankolis. Semua orang berharap cemas apa reaksi Ekalaya. 

Di luar sangkaan, Ekalaya berlutut di hadapan Drona. Ia mengeluarkan sangkur dari kantong celananya. Dengan dramatis ia memotong jempolnya dan menyerahkannya pada Drona sebagai sembah bakti. Drona mengambilnya dengan takzim. Lalu menyuruh Ekalaya pulang. 
“So sorry, next time aja kamu kesini ya…” 

Sejak hari itu, Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia. Tak ada yang dapat menandinginya. Bagaimana dengan Ekalaya? Well, kita tak pernah tahu nasib Ekalaya. Siapa yang peduli dengan minoritas seperti dia?

Cerita Lagu

George Michael - Faith

Rabu, Juli 26, 2017



Lagu "Faith" juga suka saya putar akhir-akhir ini. Berulang-ulang bahkan. Mungkin jika joox bisa bicara, dia akan mengeluh hehee. George Michael adalah salah satu penyanyi penting dari masa kecil saya mengingat si Mami suka banget putar lagu-lagunya. Mantan personil grup Wham! yang berdarah Yunani-Inggris ini charming dan sexy sih hehehee. 

Memang belakangan ini, ada beberapa album yang saya dengarkan secara serius: Nirvana, George Michael, David Bowie, dan Ace of Base. Sampai sejauh ini, George Michael adalah musisi gay beriman yang mampu membuat saya berempati dengan kisah cinta homoseksual dan perjuangan mempertahankan identitas LGBT. Salute to him and may God rest his soul. Yeah, mungkin lagu-lagu itu lahir karena dia memang punya iman. 

Oh but I need some time off from that emotion 
Time to pick my heart up off the floor 
Oh when that love comes down without devotion 
Well it takes a strong man baby 
But I'm showing you the door 
‘Cause I gotta have faith

Cerita Lagu

Ace of Base - The Sign

Rabu, Juli 26, 2017


Grup musik asal Swedia ini memang hits banget di era 90-an. Aliran pop-disko yang mereka usung memang memberikan pengaruh besar bagi jagat musik. Kita bisa liat warisan mereka pada penyanyi-penyanyi masa kini seperti Lady Gaga dan Katy Perry. Ace of Base terdiri dari empat personil: Buddha, Joker, Linn, dan Jenny. Saya suka banget suaranya Linn, sengau-merdu gimanaaa gitu. Kadang terdengar manja, kadang sangat bertenaga. 

Pertama kali dengar lagu-lagunya Ace of Base pas masih kecil dulu. Jadi, kalau sekarang mendengarkan ulang albumnya, ada beberapa lagu yang terasa familiar seperti All That She Wants, Angel Eyes, Beautiful Life, dan Happy Nation, seolah-olah mereka menunggu untuk dipanggil keluar dari ingatan. 

Lagu "The Sign" menjadi lagu yang suka saya putar berulang-ulang akhir-akhir ini. Bukan saja karena liriknya "gue banget" tetapi musiknya memang familiar dengan masa kecil. Waktu ke Gedono awal Juli kemarin, saya menyanyi ala-ala Linn di bawah bulan pucat seperti di lirik lagunya. Ceritanya kami sedang dalam perjalanan ke Gereja untuk mengikuti doa pukul 3 subuh. Saat itu bulan purnama, namun karena tertutup awan, bulannya menjadi terlihat pucat.

Under the pale moon 
Where I see a lot of stars 
Is enough, enough 
I saw the sign and it opened up my eyes 

Lagu ini dirilis tahun 1993 dan mendunia. Di video klipnya, muncul simbol ank yang artinya kunci kehidupan yang sering dibawa Dewa Anubis. Simbol ank sendiri disadur menjadi semacam simbol "salib" ke dalam tradisi Kristen Koptik di Mesir. Pertanyaan saya, mengapa simbol ank harus ada di lagu yang bercerita tentang orang yang memutuskan move on dari seseorang yang tidak membalas cintanya?

Mantra Kalimat

Kata June

Senin, Juli 24, 2017


Karena Dia berkorban tidak setengah-setengah, bahkan sampai mati. Maka, kita juga seharusnya tidak setengah-setengah untuk percaya. 

- Junita. 

Aku dan Tuhan

Gedono

Senin, Juli 17, 2017

*Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, Salatiga (foto: Meike)



Di tempat ini, keheningan adalah sahabat yang dicari. Alam menjadi ruang pertemuan antara yang fana dan yang Ilahi. Sekilas terasa tembok-temboknya mengingatkanmu pada suasana pedesaan di Eropa, namun bangunannya menghidupkan keasrian tanah Jawa dan Sumatra. Romo Mangun, sang arsitek (meskipun tak sampai selesai), adalah lelaki yang romantis. Ia merancang suatu tempat bersemayam bagi para perempuan pemuja misteri Kristus.

Para perempuan itu mengabdikan hidupnya dengan kaul dan ketaatan. Dalam kesederhanaan, mereka menyambut tubuh Kekasihnya dengan doa dan wajah berseri. Seumur hidupnya, mereka memuja Tuhan tujuh kali dalam sehari, mendoakan dunia. Bibir mereka tak hentinya mendaraskan Mazmur. Tangan-tangan mereka tak henti bekerja: menanam sayur-buah, membuat kefir dan butter, juga membersihkan segalanya. 

Hari itu tak banyak orang. Hanya kami dan seorang ibu paruh baya yang datang mencari sang Hening. Seorang perempuan yang cemas hati dan tak kuat dengan kejamnya waktu. Seorang perempuan yang menanti jawaban. Seorang perempuan dengan harapan yang tak muluk. Para lelaki dengan pikirannya masing-masing: pada panggilan atau realita. Masing-masing asyik dengan pergumulannya.

Kala malam, bulan purnama menggantung di langit. Seperti tahu bahwa kami membutuhkan teman. Mungkin juga pertanda akan adanya harapan. Di kala terang, matahari memberikan lukisan indah kompleks pertapaan dengan Gunung Merbabu sebagai latarnya. Siapakah lagi gerangan Sang Seniman itu?

***

Disinilah aku, dengan segala gelisahku, menangis tersedu-sedu.




Gedono, 7-9 Juli 2017

Life Story

Orbituari: Wulan Zaty Sari

Selasa, Juni 27, 2017

*Kak Wulan dan saya (2013)


Dia pernah bernama Wulan Zaty Sari. Teman-temannya memanggilnya Wulan atau Uland. Karena dia lebih tua tiga tahun dari saya, maka saya memanggilnya Kak Wulan atau Kakak Uland. Berita kematiannya kuterima dengan rasa tak percaya. Di hari kedua Lebaran, tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke-29 tahun, Kak Wulan menghembuskan nafas terakhir setelah menderita melawan kanker payudara. Ia tak pernah bercerita mengidap penyakit yang mematikan ini pada teman-temannya. Penyebab kematiannya ini membuat kami menjadi shock karena ia tak pernah menampakkan tentang sakitnya. Setidaknya bagi kami yang tinggal berjauhan dengannya, ia selalu tampak baik-baik saja. Kepergiannya menjadi rahasia, namun kebaikan hatinya menguar mencabik-cabik rahasia itu.

***

Pertemuanku dengan Kak Wulan bermula ketika kami sama-sama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin. Ia adalah seniorku dan merupakan bagian dari satu keluarga besar KOSMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi, suatu himpunan mahasiswa jurusan di Unhas). Selama kuliah di Unhas, hubungan kami terbilang baik meskipun tidak juga dibilang akrab atau dekat. Tak banyak cerita yang kuketahui tentangnya di masa-masa kuliah di Unhas. Dalam ingatanku, selalu ada yang menarik dari perempuan ini. Tubuhnya kecil, tetapi suaranya besar. Ia punya tawa yang khas dan senyum yang manis memikat. Ia suka naik gunung, membaca buku-buku cultural studies, dan seorang Milanisti sejati. Hanya itu yang kuketahui. 

Namun, Tuhan telah mempertemukan kami dalam suatu simpul hidup yang unik dan singkat. Kak Wulan lebih dulu lulus kuliah dan bersama teman-temannya membuka usaha travel untuk kampung bahasa di Pare, Kediri. Tahun 2013, saya lulus kuliah dan langsung melanjutkan studi S2 di Ilmu Komunikasi, UGM. Sebelum berangkat, beberapa senior KOSMIK mengabarkan jika Kak Wulan juga sedang mengambil S2 disana. Tapi berita itu muncul sebagai sekilas info. Ketika saya sudah pindah ke Jogja dan ngekos dengan Kak Piyo, salah seorang senior KOSMIK juga, Kak Wulan tiba-tiba menelpon saya. Ia mengabarkan bahwa ia masuk di angkatan yang sama dengan saya dan meminta informasi tentang penerimaan mahasiswa baru. Saya gembira luar biasa karena akhirnya saya mendapatkan teman seperjalanan. Saya tidak sendirian. Kami tidak sendirian. 

Telepon itu adalah awal kedekatan kami, bukan saja sebagai senior-junior di KOSMIK atau teman seangkatan di Pasca UGM, tetapi menjadi teman sesama rantau dan terlebih lagi saudara. Kami sama-sama anak tunggal. Hidup merantau pertama kali sungguhlah berat bagi saya. Apalagi menjalani kuliah dengan sistem yang berbeda dengan sebelumnya. Lingkungan dan budaya yang jauh berbeda dengan di Makassar bukanlah perkara mudah. Proses adaptasi bukanlah sesuatu yang diubah dalam semalam. Namun, bersama Kak Wulan-lah perjalanan menempuh semester awal di UGM menjadi lebih ringan. Ia mendorong saya untuk berani dan mandiri. Saya mempercayai dia adalah penolong yang dikirim Tuhan. 

Masih kuingat ketika kami sama-sama baru pindah ke Jogja. Baik saya maupun Kak Wulan tidak punya kendaraan dan tidak bisa naik kendaraan bermotor. Maka, transportasi umum adalah kawan karib kami. Dulu ia pernah menemani saya malam-malam mencari Toko buku Kanisius di Kotabaru dengan menggunakan Trans Jogja. Tetapi, dasar orang baru kami malah naik Trans Jogja jurusan menuju Janti. Bagi yang tidak tinggal di Jogja, Kotabaru dan Janti adalah dua wilayah yang berlawanan arah. Padahal sebenarnya jarak Kotabaru dan tempat tinggal kami cukup dekat. Kak Wulan dulu ngekos di daerah Sendowo sementara saya di Jalan Kaliurang Km 4,5. Setelah cukup lama tinggal di Jogja, kami sering menertawai kejadian itu.

***

Selama kuliah di UGM, kami menempuh konsentrasi studi yang berbeda. Meski sama-sama satu jurusan, Kak Wulan mengambil konsentrasi Manajemen Komunikasi (MK) sementara saya mengambil Ilmu Komunikasi dan Media (IKM). Jam kuliah kami berbeda dan meskipun ada mata kuliah umum, kelas kami tidak selalu bertemu. Ada satu kuliah yang kebetulan kami sama-sama sekelas, yaitu Metodologi Penelitian Kuantitatif. Demi Tuhan, itu mata kuliah yang paling susah nyangkut di otak saya karena banyak menghitungnya. Kak Wulan juga sama. Namun, disitulah saya melihat semangat dan kegigihannya. Jika ada sesuatu yang ia belum temukan jawabannya, ia akan mencarinya sampai dapat. Di saat saya sudah menyerah, ia selalu membawa harapan, “Tunggu dulu dek nah, kupelajari ki dulu,” begitu ia berkata lalu setelah itu mengajak untuk belajar bersama.

Suatu ketika, di tengah-tengah semester awal yang berjalan, Kak Wulan memberitahuku tentang kesempatan menjadi PNS di BNN (Badan Narkotika Nasional). Ia menghadapi dilema harus memilih antara melanjutkan kuliahnya dan bekerja dengan ritme perjalanan seperti yang ditetapkan bagian penyuluh di BNN. Sesungguhnya ia tampak tak bahagia kuliah disana meskipun nama besar almamater membawa kebanggaan. Ia merasa telah salah masuk konsentrasi yang ternyata sama sekali di luar ekspektasinya. Manajemen Komunikasi lebih dekat dengan sistem public relations sementara passion-nya adalah cultural studies sehingga harusnya ia mengambil Kajian Budaya Media atau paling tidak masuk di konsentrasi yang sama dengan saya. Tapi yang paling membuatnya tidak betah adalah kultur individualisme dan persaingan di kampus. Meski ia perempuan yang periang dan supel, teman dekatnya di konsentrasi itu hanya beberapa. Walaupun demikian, Kak Wulan telah menanamkan rasa aman dan nyaman, suatu ikatan yang membuat teman-teman dekatnya merasa sayang padanya. Ketika akhirnya ia memilih BNN, kami merasa ditinggalkan, kehilangan, namun juga ikut berbahagia atas berkat yang ia dapatkan.

Kami tahu ia memiliki pertimbangannya sendiri. Dalam proses penerimaan BNN, ia selalu bercerita tentang proses yang ia hadapi. Walaupun demikian, Kak Wulan telah memperlihatkan sisi kesetiakawanan dan tanggung jawabnya sebagai “kakak dan teman”. Meski sudah diterima di BNN dan harus segera pindah untuk melakukan prajab, ia tetap menemani kami hingga semester awal berakhir. Kak Wulan membantu kami mengerjakan tugas akhir kuliah sebagai hadiah perpisahan. Disitulah saya melihat Kak Wulan sebagai perekat di antara kelompok kecil kami (saya, Ayu, Mbak Novi, juga teman-teman yang lain seperti Nissa, Feby, Zian, Mas Febri, Lina, dan Mbak Eka). Setelah ia pindah, kami mulai tercerai-berai. Jadwal kuliah yang berbeda dan kesibukan menulis tesis membuat kami terfokus pada diri sendiri.



Foto terakhir kami sebagai gang (saya, Kak Wulan, Ayu, dan Mbak Novi) sebelum Kak Wulan pindah dari Jogja dan Mbak Novi menikah (2013).


Jogja akan selalu menjadi kota kenangan untuk kami. Disinilah kami berbagi suka duka sebagai perempuan dan perantau. Kami paling sering menertawakan ironi. Mulai dari kusamnya warna kulit gegara bergaul dengan panas matahari, tentang mantan pacar yang berselingkuh dan minta balikan lagi, tentang teman yang berkhianat, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang keinginan mengunjungi kota-kota di luar negeri, dan tentang cita-cita melanjutkan pendidikan. Ya, Kak Wulan selalu ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan ketika ia sudah menjadi PNS pun, melalui telepon, ia menyampaikan cita-citanya untuk sekolah lagi. Tak tanggung-tanggung ia ingin mengejar pendidikan ke luar negeri. 

Di masa perantauan ini, saya mulai mengenal sisi pribadinya yang lain. Pribadi yang berbeda dengan yang saya kenal dulu sewaktu masih sebagai juniornya di Unhas. Ternyata kami adalah teman diskusi yang sinkron (begitu katanya). Satu hal yang sungguh tak terduga, ia ternyata penyuka lagu-lagu lama. Sama seperti saya, Kak Wulan juga mudah terkena radang tenggorokan. Hingga suatu kali, saya bercanda bahwa kita berdua seharusnya menikah dengan dokter THT supaya berobat gratis. Dia tertawa renyah. Di mataku, Kak Wulan adalah pribadi yang humoris sekaligus memiliki prinsip dan kemauan yang keras. Ia termasuk orang yang overthinking sekaligus juga memiliki pertimbangan yang logis. Selain itu, Kak Wulan adalah orang yang bertanggung jawab dan ia selalu mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain. Misalnya, dalam perjalanan kami ke Kediri (sepenggal ceritanya bisa dibaca disini), ia bertindak sebagai kakak yang menjaga. Waktu itu tiba-tiba saya sakit dan Kak Wulan harus merawat saya sekaligus mengurusi keperluannya disana. Dengan badannya yang kecil, ia melakukan semuanya dengan baik. Ia juga tidak pelit dan selalu bertanya mau dibawakan oleh-oleh apa ketika bepergian. Kebaikannya selalu terasa tulus. 

Setelah Kak Wulan pindah Ke Palu di awal tahun 2014, kami mulai jarang kontak-kontakan lagi. Ia mulai sibuk bekerja sementara saya berjuang menyelesaikan kuliah. Ia selalu berkata akan berkunjung ke Jogja lagi untuk bertemu dengan Ayu, Mbak Novi, dan Eyang. Tak kukira bahwa kunjungan kami ke Museum Affandi sebelum ia pindah keesokan harinya adalah pertemuan kami yang terakhir. Di tempat itu, ia mengajarkan saya cara menepuk nyamuk dengan benar hehhee.

***

Waktu berlalu, kami mengejar mimpi masing-masing di jalan berbeda. Sekalipun demikian, kami masih berkontak via medsoc. Setiap lebaran dan ulang tahun kami saling mengucapkan. Hingga terakhir terjadi tahun lalu. Kami masih bertukar info tentang film-film Asia yang berkisah tentang cinta tak kesampaian atau yang tak selesai. Saya benar-benar tidak tahu bahwa di masa itu mungkin saja ia sudah sakit. Suatu kali saya memosting satu twit, “Cinta Buta itu adalah ketika aku lupa aku ini “siapa” dan dia itu “siapa”, lalu Kak Wulan me-reply “Asal kamu jangan lupain aku ya Meikkk”. Itu terjadi sekitar April tahun lalu. Satu hal yang saya sesali, saya tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Bahkan tahun ini saya lupa mengucapkan selamat ulang tahun dan Lebaran seperti sebelumnya. Kepergiannya terasa mendadak dalam ketidaktahuan. 

Dari cerita sahabat-sahabatnya (Kak Era, Kak Anita, dan Kak Riana), saya mengetahui bahwa Kak Wulan baru bercerita tentang penyakitnya Januari tahun ini, waktu itu sudah stadium 2. Maret tahun ini, sel kanker sudah menyebar ke paru-parunya, itu artinya sudah memasuki stadium 4. Kak Wulan kemudian memutuskan cuti dan dirawat oleh keluarganya di Barru. Dari selentingan kabar, saya mendengar ia menolak di-treatment. Akhir Juni, Kak Wulan meninggal di pelukan ibunya dengan membawa setumpuk cita-cita dan impiannya. 


 *** 


Tahun 2013, dalam perjalanan naik kereta malam menuju Kediri,

“Meik, harus ko dengar ini lagu dek” 
“Lagu apa kak?” 
“Lagu Kereta Malam. Lagu lama mi. Bagus ki lagunya. Lagunya Franky dan Jane” 
“Buseeettt…jadulnya kak..hahhahaa.” 

Kak Wulan mengambil hapenya dan memasangkan earphone ke telinga saya. Mengalunlah suara Jane Sahilatua, adik Franky Sahilatua. 

 “Duh Kak…Liriknya sedih, tapi musiknya kayak panggil arwah.” 
“Ihh…tapi lagunya bagus…” 

Sayup-sayup Kak Wulan ikut menyanyikan lagu itu… 

Dengan kereta malam 
Ku pulang sendiri 
Mengikuti rasa rindu 
Pada kampung halamanku 
Pada Ayah yang menunggu 
Pada Ibu yang mengasihiku 

Duduk dihadapanku seorang ibu 
Dengan wajah sendu kelabu 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Seakan ingin memeluk diriku 
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada 
Karena sakit dan tak terobati 
Yang wajahnya mirip denganku 


Selamat Jalan Kak Wulan. Kau akan selalu dirindukan. 

Cerita Lagu

Bintang Lima

Minggu, Juni 25, 2017

*google


Kenangan memiliki banyak spektrum: mulai yang standar seperti manis, pahit, lucu, dan traumatis hingga yang bikin dilema: dibuang sayang tapi disimpan juga jangan, dikenang atau dihapus selamanya. Salah satu album musik yang membawa banyak kenangan adalah album Dewa yang berjudul Bintang Lima. Album ini berisi 11 lagu ( 2 lagu adalah instrument) dan merupakan album penting dari fase post-Ari Lasso. Ada dua personil baru yang diperkenalkan melalui album ini: Elfonda Mekel alias Once, sang vokalis dan Tyo Nugros, sang drummer. Ada semacam "kekhawatiran" saat itu bahwa Once tidak mampu menggantikan karisma Ari Lasso. Beruntungnya, sosok dan warna vokal Once justru telah mentransformasi Dewa menjadi lebih dewasa. Sayang sekali, band ini mati suri pada akhirnya (dan Dhani berubah menjadi seperti sekarang). Saya beruntung pernah menyaksikan konser reuni-nya Dewa 19 dua tahun lalu. Dulu waktu zaman Once, saya mencari-cari Ari Lasso. Giliran Ari Lasso yang tampil, saya mencari-cari Once. Begitulah hidup, yang tak ada dicari, yang ada dicuekin *eh. 

Kembali ke album Bintang Lima, album ini memiliki kenangan tersendiri untuk saya karena inilah album pertama yang saya beli dengan uang jajan sendiri. Harganya waktu itu sekitar 17.000-an (atau 20.000? hmmm lupa yang jelas tak sampai 50.000 karena anak SD tak punya uang jajan sebanyak itu dulu hehehe). Saya membeli album ini gegara suka banget dengan lagu Roman Picisan yang waktu itu sering diputar di radio. Roman Picisan memang hits perdana yang dilempar dari album Bintang Lima. Lagu ini memang grande, musik maupun liriknya memang puitis, klasik, dan sekaligus bikin ngilu. 

Saya ingat banget ketika membeli album ini. Waktu itu setelah pulang sekolah, Daddy mengantarkan saya ke Disc Tarra, hujan keras pula. Kasetnya kemudian diputar berulang-ulang, tidak peduli baru bangun tidur, lagi kerja PR, hingga mau tidur lagi. Tentu saja saya ikut bernyanyi. Nyanyinya dengan sepenuh hati dong. Waktu itu lagu Dua Sejoli juga jadi soundtrack salah satu sinetron di Indosiar. Kalau gak salah yang main Cindy Fatika Sari dan Tengku Firmansyah. Meski masih jadi anak SD yang miskin pengalamana cinta, saya sudah terhanyut dan belajar banyak dari lagu-lagu di album itu. Kelak, beberapa lagunya masih relevan menjadi soundtrack kisah percintaan saya hingga kini. 

Demi totalitas sebagai Baladewa, saya juga membaca buku-bukunya Kahlil Gibran. Khusus untuk album Bintang Lima, Dhani memang banyak mengambil syair-syair puisi dari Kahlil Gibran. Buku penyair Lebanon yang saya baca pas zaman itu adalah Sayap-Sayap Patah dan Jesus The Son of Man. Meski tidak selalu mengerti kisah yang ditulis Gibran, saya menemukan bahwa cinta mengundang banyak penderitaan tetapi anehnya dalam penderitaan itu orang justru menemukan kebahagiaan. Saya mengingat dengan jelas sebuah larik puisi Gibran yang dijadikan lagu di album ini:

Bila cinta memanggilmu
Kau ikut kemana ia pergi
Walau jalan terjal berliku
Walau perih slalu menunggu

(Cinta adalah misteri - Dewa)

Meski hapal semua lagu-lagu di album Bintang Lima. Lagu andalan saya adalah Risalah Hati. Lagunya sedih dan kok bisa cewek banget ya (kelak saya tahu kalau Bunda Maia yang tulis liriknya). Ceritanya tentang seseorang yang jatuh cinta tetapi sayangnya cintanya tidak berbalas atau paling tidak orang yang dicintai itu tidak memiliki kadar cinta yang sama dengannya. Oleh karenanya, seseorang ini menuliskan risalahnya. Yang kusukai dari lagu ini, meski menderita banget tetapi sang pecinta tetap optimis merebut hati orang yang dicintainya itu. Selain itu, ada lagu Hidup Adalah Perjuangan (yang katanya Royyan mengutip kalimatnya Nietzsche) dan Lagu Cinta yang selalu bikin hati hangat setiap kali memasuki fase awal naksir seseorang. 

Di awal tahun 2000-an, album ini memang termasuk populer. Beberapa teman saya di kelas juga penyuka album ini. Bersama Jean dan Tirta, kami mencari not angka lagu Roman Picisan untuk dimainkan di pianika. Kadang kalau guru tidak ada di kelas, kita akan bernyanyi bersama. Paling asyik pakai lagu Sayap-Sayap Patah, Separuh Nafas, atau Cemburu. Ketika menyanyikan lagu-lagu itu, kami merasa sangat keren. Seorang teman saya yang bernama Bryan (entah dimana ia sekarang) memberikan stiker hati dan sayap yang merupakan logo album Bintang Lima. Stiker itu saya tempel di kaset saya dan masih ada sampai sekarang. Selain Bryan, ada Tono. Kami berdua suka sama-sama menyanyikan Sayap-Sayap Patah. Beberapa hari yang lalu saya melihat ia memposting sedang mendengarkan kembali album Bintang Lima di salah satu medsos-nya.

Hal itu kemudian membuat saya teringat drama antara Tono dan Siska di masa lalu. Siska, sahabat saya itu, menyukai Tono sejak kelas 1 SD. Kami semua memang teman akrab, sama-sama satu kelompok belajar hingga satu kelompok dance perpisahan kelas. Saya senang bergaul dengan keduanya karena kami nyambung ngobrol apa saja. Tono dan Siska sama-sama Gemini. Dua-duanya memang pribadi yang pintar dan charming. Dua-duanya memiliki wawasan yang luas. Jika penerimaan rapor tiba, mereka berdua peringkatnya berdekatan macam Satre dan de Beauvior di masa kuliah. Pendek kata mereka cocok!

Perasaan Siska pada Tono terkuak ketika kami duduk di kelas 3 SMP. Kebetulan kami melanjutkan ke SMP (dan SMA) yang sama. Sayangnya, setelah memendam perasaan selama 9 tahun, Siska harus menerima kenyataan pahit. Tono tidak memiliki perasaan yang sama pada Siska. Ia malah menghindari Siska setelah mengetahui perasaannya. Hubungan pertemanan mereka jadi renggang. Siska tidak hanya kehilangan orang yang disukainya, tetapi juga temannya sendiri. Kami akhirnya mengetahui bahwa Tono ternyata naksir cewek lain. Pengalaman "cinta bertepuk sebelah tangan" ini mengajarkan kami banyak hal, termasuk refleksi kritis terhadap konstruksi "cantik" dan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Belasan tahun berlalu, namun kenangan-kenangan itu masih tersimpan rapi. Saya masih bertanya-tanya bagaimaan proses seleksi kenangan itu? apa kriteria hingga satu kenangan terpilah dan masuk kotak sampah. Manakah yang akan tinggal dan terpatri di ingatan. Saya tidak tahu jawabannya.



Ps: Kusarankan kalian membaca tulisan ini sambil mendengarkan album Bintang Lima-nya Dewa. 

Cerita Lagu

Smells Like "Grunge"

Minggu, Juni 04, 2017

www.google.com


Celana jeans robek-robek, sepatu DocMart atau Converse All Star, kemeja flanel kota-kotak, gelang tumpuk-tumpuk di tangan: entah dari besi, plastik, atau kulit, dan rambut semi-gondrong yang sengaja diacak-acak adalah trademark dari grunge. Kebebasan anak muda. Kebangkitan yang terpinggirkan.

Seorang kawan kemarin berdandan demikian. Ia lahir di pertengahan 1990-an. Tepat di tahun kematiannya Kurt Cobain. Waktu kutanya tentang grunge, ia sama sekali tak tahu barang apa itu. Malah ia menyangka itu film horor Jepang. Saya bertanya lagi apa ia mendengarkan lagu-lagunya Nirvana, Pearl Jam, Alice in Chains, Soundgarden, atau Mudhoney? ia sekali lagi menggeleng. 

***

Grunge lahir sebagai sub-kultur yang berkembang di kota Seattle, USA. Di tahun 1970-an hingga awal 1980-an, dunia musik Amerika didominasi dengan band punk-rock dan hair metal yang berkiblat di Los Angeles atau New York. Seattle dianggap "kota kecil" yang tak terlalu penting, bahkan banyak tur band yang melangkahi kota ini. Saya sendiri belum pernah ke Seattle, tetapi suatu saat akan menginjakkan kaki disana. Saya ingin melakukan ziarah musik dan Seattle adalah salah satu kota penting dalam percaturan musik pop dunia. 

Menjelang akhir tahun 1980-an, karena tak sering dihampiri musisi besar, sekumpulan anak-anak muda kota Seattle mulai mencari alternatif hiburan. Ya, mereka mulai memainkan musik mereka sendiri. Musik mereka cenderung bersifat personal yang menggambarkan ekspresi emosi yang dalam. Kebanyakan dari mereka berasal dari kelas menengah dan sesungguhnya tidak diperhitungkan dalam kelompok sosial. Mereka rutin memainkan musik mereka di klub-klub kecil atau di garasi, menyanyikan kesedihan dan perasaan terasing. Musik mereka dianggap sebagai musik rock-alternatif, dengan bunyi meraung-raung dan suara yang ditarik malas-malasan, menandakan sebuah perasaan yang tercabik. Pengaruh punk-rock masih kuat, namun jenis musik ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Bunyi musik ini menawarkan kejujuran: sedih, marah, sinis, depresi, cinta, dan gembira. The "Seattle Sound" pun lahir, inilah yang dikenal sebagai grunge

Perjalanan grunge tidak serta merta langsung diterima dunia. Musik ini lahir dari kalangan tertindas, orang-orang yang ditolak,  disepelekan, di-bully, atau para pengecut, mereka bahkan tidak mampu mengatakan cinta kepada orang yang mereka sukai di sekolah. Berbeda dengan pahlawan rockstar yang memakai celana ketat dan jaket kulit yang mahal, mereka memilih memakai pakaian sehari-hari: sepatu converse, kemeja flanel, celana jeans robek-robek. Kadang-kadang celana pendek dan kaos oblong. Tak ada yang menyangka Seattle akan mempengaruhi dunia musik sampai Nirvana mengeluarkan album Nevermind di tahun 1991 dan menempati posisi nomor satu di jagat tangga lagu dunia. MTV kemudian mempublikasikan mereka dengan masif. Hasilnya, Grunge resmi mewabah dan menggantikan dominasi aliran glam rock/metal di dunia. Semua anak 1990-an mendengarkan musik grunge dan menggunakan gaya berpakaian mereka bahkan sampai sekarang. Musik kaum terbuang kini didengarkan sebagai sesuatu yang keren. Grunge style dianggap trendy. Gosip mengenai para senimannya menjadi komoditi. Dan orang-orang mulai tidak lagi memperhatikan musik grunge. Teriakan frustasi mereka perlahan diabaikan. 

***

Kawan saya terhenyak mendengar cerita saya tentang grunge. Ia merasa bersalah memakai sesuatu yang tidak ia ketahui. Kukatakan padanya begitulah kita semua, korban budaya populer. Secara sadar atau tidak sadar kita akan selalu ingin mengonsumsi demi menjadi imitasi dari idola kita. 

Lalu bagaimana dengan para idola itu? Mereka juga frustasi. Mereka yang tadinya bukan siapa-siapa kini menjadi pusat dunia. Obat-obatan dan alkohol menjadi sesuatu yang membuat mereka merasa waras. Harga yang mahal untuk popularitas. 

Sebagai anak kandung grunge, saya berkata kepada kawan itu dengan gaya ala Guru Drona kepada Arjuna, "It's okay. Kadang-kadang kita memang tidak paham apa yang kita cintai."



PS: In memory of Kurt Cobain (1967-1994) from Nirvana as well as Chris Cornell (1964-2017) from Soundgarden and Audioslave. 

Cerita Lagu

Birthday Song

Jumat, Mei 26, 2017


'Cause life continues right or wrong 
When I play this birthday song 
I learned from you 
And you can't even sing...

Love Story

Bau Gosong di Kamar

Rabu, Mei 24, 2017

Ya, bau gosong.

Tercium tiba-tiba seperti dihembuskan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tak ada benda elektronik yang tersambung ke kontak listrik. Tak ada pula benda apapun yang terbakar di kamar. Seorang kawan yang kuceritakan perihal ini berseloroh,"Palingan orang yang lagi bakar sampah". Tetapi mana ada orang yang membakar sampah pada jam 3 subuh?. Lagipula, baunya tak akan sampai ke kamar dan bau sampah yang terbakar berbeda dengan bau gosong yang kucium ini. Ia hanya tercium sejenak lalu menguar bersama udara. 

Waktu itu, saya sedang tertidur, dan di antara sadar dan tidak sadar (kalian tahu kan fase setelah tidur dalam yang kemudian perlahan mencapai titik kesadarannya), saya mencium bau seperti setrika yang terlalu panas atau benda lainnya terbakar seperti diemprot ke hidung saya. Sontak saya langsung terjaga dan melirik ke jam dinding, tepat pukul 3 Subuh. Perasaan saya jadi tidak enak.

Saya langsung teringat cerita Eyang tentang hantu belanda di pusat bahasa UGM. Konon, setiap menjelang magrib selalu tercium bau seperti singkong terbakar. Saya segera meng-googling tentang bau gosong itu dan rata-rata artikel yang muncul bersepakat bahwa itu adalah salah satu tanda dari keberadaan makhluk astral. Jauhhhh sekali, saya pernah mendengar legenda di tanah Jawa. Makhluk itu disebut Genderuwo. Tubuhnya besar, berbulu, bertaring, dan jika ada kesempatan ia suka bercinta dengan manusia. Salah satu tandanya adalah bau gosong itu. 

Genderuwo -dalam kepercayaan rakyat- suka mengambil rupa manusia. Ada genderuwo perempuan dan ada genderuwo laki-laki. Mereka juga dikisahkan suka bersetubuh dengan manusia. Misalnya, genderuwo laki-laki akan mengambil rupa suami atau kekasih perempuan yang mereka sukai. Jika suami mereka pergi, maka Genderuwo akan menyamar sebagai suami si perempuan, menyetubuhinya, dan kelak perempuan itu hamil dan melahirkan anak genderuwo. Hal yang sama juga berlaku dengan genderuwo perempuan kepada manusia laki-laki. Ironisnya, meski hubungan itu terlarang, anak-anak hasil persilangan genderuwo-manusia seringkali menjadi entertainer untuk masyarakat kelas bawah. Kita sering menemukan mereka dalam pasar malam keliling. Mereka menjadi tontonan pelepas duka susahnya hidup. Sampai sejauh, penjelasan medis menganggap mereka yang dijuluki "Genderuwo" adalah orang-orang dengan pengidap kelainan sel kulit atau genetik lainnya.

***

Kembali pada bau gosong itu, saya masih penasaran. Jika otak adalah bagian tubuh manusia yang paling misterius, bisa saja otak saya mengkreasikan suatu halusinasi. Dasar otak manusia kelas menegah, yang tercium justru bau gosong bukannya bau parfum Channel No.5. Tetapi, jika kita menariknya dalam konteks okultisme, maka bau gosong itu adalah tanda dari suatu makhluk lain. Jika benar itu adalah bau si Genderuwo, maka sesungguhnya ia bisa saja mengambil rupa manusia dan bisa saja ia "macam-macam" dengan saya. Persoalannya, kebetulan saya belum menikah dan gebetan saya sedang berjarak jutaan tahun cahaya. Tentunya, jika ia menyamar sebagai si doi, ini akan menimbulkan suatu kegemparan. Kesimpulan, Genderuwo ternyata juga pinter dan rasional. 

Tapi, tunggu dulu. 
Bukankah kisah-kisah makhluk seperti ini antara ada dan tiada. Kita selalu mendengar dari seseorang yang juga mendengar dari seseorang tanpa mereka pernah melihat langsung. Sekalipun kita mempunyai teman yang mengaku bisa melihat hal-hal yang diluar kemampuan kita, tapi bukankah melihat juga persoalan tricky: Ia hanya melihat satu bagian dari keseluruhan sesuatu itu. Saya sendiri lebih memilih melihat  Genderuwo sebagai rekayasa, suatu horror dari hal-hal yang tak diinginkan dari masyarakat, misalnya kisah cinta beda agama, etnis, atau kelas sosial. 

Kisah "makluk-makluk" yang dianggap bukan "manusia umumnya" selalu berujung pada persetubuhan dengan "manusia yang umumnya". Masyarakat kita telah menciptakan idealitas-idealitas, bahkan untuk relasi antara manusia. Idealitas itu diterima dan dilanggengkan dengan nilai-nilai dan ukuran-ukuran. Anak perempuan Pak Pendeta tentu diharapkan tidak berkasih-kasihan dengan anak Pak Haji atau anak laki-laki kesayangan Pak Menteri tak diharapkan jatuh cinta dengan asisten muda belia yang bekerja di rumahnya. Pasangan-pasangan yang dianggap tidak ideal dan menganggu tatanan ini dianggap sebagai abjek (subjek yang menghadirkan rasa jijik dan malu sehingga ia dihinakan atau disingkirkan). Dan ia dibangkitkan dalam horror tentang Genderuwo dan istri Pak Lurah yang jelita. 

Ah, mungkin kisah Genderuwo terlalu ndeso. Kisah ini terlalu purba dan anak-anak jaman sekarang lebih suka yang kebarat-baratan. Hmm..bagaimana dengan kisah Shrek dan Princess Fiona? Beauty and The Beast? Putri dan Pangeran Kodok? 

Bagaimana kisah antara aku dan kamu?

Love Story

Monster Feminin

Selasa, Mei 23, 2017

foto: Ahmanet, google


Ahmanet, putri Mesir yang digadang-gadang akan menjadi Firaun selanjutnya, telah dikhianati dan karena itu ia melakukan kudeta dengan membunuh ayahnya dan memohon bala bantuan kekuatan kegelapan. Malang, Putri Firaun yang pintar, jelita, dan jago berkelahi itu tertangkap dan dihukum dengan hukuman paling berat: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, ia dibangkitkan secara tak sengaja dan membalas dendam pada dunia. 

Begitulah cuplikan trailer film The Mummy (2017) franchise terbaru dari film The Mummy yang dulu diperankan oleh Brendan Fraser dan sekarang diganti dengan Tom Cruise. Saya selalu suka film-film aksi-petualangan berbau mitologi dan spiritualitas seperti itu. Bahkan saya dulu sempat bercita-cita menjadi arkeolog dan pada suatu ketika berhasil memecahkan misteri makam Tuthankamen (amboiiii…). Tapi lama kelamaan, saya jadi memikirkan nasib Putri Ahmanet ini. Begitulah ia menjadi moster feminim, seorang perempuan yang dihalangi menjadi pemimpin, disingkirkan, dan kemudian menjadi horror dengan dendam yang membara. 

***

Bukankah di kehidupan nyata kita selalu bertemu perempuan-perempuan yang di-monster-kan seperti ini. Saya jadi teringat Tante Justine (bukan nama sebenarnya), saudara jauh ibu saya. Ia Tante yang sangat penyayang dan baik pada kami. Di masa mudanya ia pernah menjadi pujaan para pemuda. Gadis Ambon-Indo yang rupawan, jago musik dan dansa. Kecintaannya pada musik tak tertandingi. Ia sangat disiplin kalau menyangkut soal itu. Jika paduan suara keluarga akan bernyanyi (biasanya dalam acara pernikahan atau pemakaman), Tante Justine akan tampil mengemuka sebagai dirigen. Telinganya setajam sonar lumba-lumba. Ia bisa mengetahui suara siapa yang fals. Tentu saja saya selalu kebagian delikan matanya. “Marieke, jangan menyanyi keras-keras ya,” begitu katanya. Lalu sepanjang 3 menit lagu itu dinyanyikan, mulut saya cuma mangap-magap lipsync, saking takutnya kalau sampai terlalu keras saya akan diceramahi Tante Justine. Selain itu, Tante Justine memang punya reputasi sebagai orang yang streng dan kalau ia jengkel ia tak segan memaki dalam bahasa Belanda. Terus terang kami, para keponakan, jadi segan padanya. 

Tetapi pada suatu hari, saya menemukan suatu cerita sedih tentangnya. Di masa mudanya Tante Justine pernah jatuh cinta pada seorang lelaki taruna angkatan laut. Di masa itu, tak mudah menjadi kekasih calon prajurit. Rindu bertumpuk-tumpuk dalam surat. Belum ada whatsapp atau line yang bisa bikin kita tiba-tiba chit-chat manja. Konon, kesabaran menjadikan cinta tak lekang oleh waktu. Maka, pasangan kekasih yang muda belia dimabuk asmara itu tahan-tahan saja menjalaninya bertahun-tahun. Jika sang lelaki liburan, mereka akan pergi dansa dansi atau pergi ke bioskop. Bercengkerama di taman kota atau sama-sama masuk gereja. Dunia menjadi indah bagi Tante Justine dan Om Angkatan Laut. 

Mereka pasangan yang diidealkan dan dikagumi. Betapa serasi. Tante Justine sangat mencintai lelaki itu dan keliatannya lelaki itu juga demikian. Mereka berencana menikah. Namun, malang tak dapat ditolak, lelaki pujaan Tante Justine membatalkan pernikahan. Selidik punya selidik, lelaki itu justru berselingkuh dengan perempuan lain yang kelak menjadi istrinya sekarang. Perempuan itu ternyata sahabat Tante Justine, yang selalu ditemaninya curhat tentang si Om Angkatan Laut. Sejak saat itu, konon Tante Justine jadi bitter dan streng. Tapi tenang saja, ia tak menjelma nenek sihir meski patah hati. Tante Justine akhirnya menikah dengan pria yang memiliki masa depan yang secerah Bintang Timur. Sudah kubilang kan, Tanteku itu wanita pujaan bangsa.  

Namun, meski waktu berjalan dan presiden Indonesia berganti-ganti, cinta Tante Justine tak kunjung padam, paling tidak apinya masih menyala sedikit-sedikit. Maka setiap kali ia mendengar lagu Hawaiian Wedding Song ia akan bersedih dan teringat mantan kekasihnya itu. Pernah dalam pesta pernikahan kakak sepupuku, lagu Hawaiian Wedding Song dinyanyikan dan meski ia berdansa dengan suaminya, matanya tampak terkenang sesuatu. 

***

Di tahun 1999, film The Mummy pertama kali ditayangkan dengan karakter Imhotep sebagai mumi-nya. Imhotep adalah pendeta kepercayaan Firaun yang jatuh cinta pada Anack Su Namun, selir kesayangan Firaun. Kisah cinta terlarang mereka, membuat Imhotep dan Anack Su Namun bersekongkol membunuh Firaun agar mereka dapat bersama. Seperti nasib Ahmanet, paspampresnya Firaun, Madjai, menangkap Imhotep dan Anack Su Namun mati bunuh diri. Imhotep dihukum dengan kutukan kejam: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, makamnya tak sengaja dibuka dan mumi ini akhirnya ingin balas dendam, mengusai dunia, plus membangkitkan kekasihnya dari kematian. Yang saya salut, Imhotep harus mengalami dua kali kematian untuk bersama Anack Su Namun yang pada akhirnya mengkhianati dia. Saya jadi kasihan pada Imhotep waktu nonton The Mummy Returns (2001) saat ia melihat Anack Su Namun meninggalkannya. Patah hati, Imhotep menyerahkan nyawanya sekali lagi. 

Dua cerita mumi ini meskipun keliatannya mirip sebenarnya sangat berbeda. Perempuan “dimumikan” karena ia ingin menjadi pemimpin, tetapi Laki-Laki dimumikan karena cinta dan kekuasaan. Monster maskulin selalu menampakkan kegagahan, eskpresi sesualitas yang positif. Sementara monster feminim selalu menampakkan rasa jijik akan ekspresi seksualitas itu. Seks menjadi senjata sekaligus horror yang ditakuti. Seperti Tante Justine, orang-orang menjustifikasi sikap kerasnya karena ia pernah kecewa dan dendam di masa lalu. Orang-orang tak bersimpati pada luka dan sakitnya. Seumur hidup ia diikuti dengan kisah masa lalunya yang diungkit-ungkit dalam bisik-bisik dari mulut ke mulut. Meskipun ia berbahagia dengan kehidupannya hari ini. 

Dan ya, seperti yang dianggap normal, orang-orang tak pernah bertanya lagi tentang kabar si Om Angkatan laut.

Special Moment

26

Senin, Mei 22, 2017

Ada sebuah cerita dari Injil yang mengguncang iman saya sejak kecil. 

Suatu ketika Isa menyuruh para murid duluan naik ke perahu sementara Ia sendiri pergi ke gunung untuk berdoa. Di tengah perjalanan, angin ribut datang dan perahu para murid pun oleng diterjang ombak. Di saat itu, datanglah Isa berjalan di atas air menghampiri murid-muridnya. Murid-murid yang matanya rada rabun karena air hujan histeris karena berpikir Ia adalah hantu. Tetapi sosok itu semakin mendekat, dan Isa berteriak, “Tenanglah. Jangan takut, ini Aku”. Maka, Petrus, salah seorang murid-Nya itu balas berteriak, “Jika kau benar-benar Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air”. Isa membalas,”Datanglah”. Petrus pun turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Isa. Tetapi, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. Ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!”. Segera Isa mengulurkan tangannya dan memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”. 

Ada kebutuhan manusia untuk percaya. Dengan percaya, kita menemukan rasa stabil, suatu rasa aman bahwa “semuanya baik-baik saja”. Percaya membuka ruang untuk mengantungkan diri pada “sesuatu”. "Sesuatu" itu membuat kita aman menghadapi masa depan, suatu ketidakpastian. Konsep “percaya” ini tricky karena bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan kita. Inilah yang menjengkelkan Nietzsche yang mengagung-agungkan manusia yang kuat dan bebas. Konsep "kuat" dan "bebas" memang multitafsir sekaligus menggoda. Tetapi kita juga punya rasa takut yang alamiah. Adakalanya kita membutuhkan rasa percaya agar kita tidak takut lagi, agar aman lagi. Kita membutuhkan tangan yang digenggam, bahu untuk bersandar, kutipan ayat-ayat suci yang menguatkan, bahkan jimat dari para leluhur. Apapun yang membuatmu stabil dari ketegangan. Para Ignasian (pengikut spiritualitas St.Ignatius Loyola) percaya bahwa manusia harus mengatasi rasa takutnya. "Jika kamu takut sesuatu, sesuatu itu harus dihadapi, gelap harus diterangi". Dan untuk menerangi kegelapan kita membutuhkan "pelita". Sesuatu yang menjadi "pegangan".  

Seberapa hebatnya kita sebagai manusia, pada akhirnya kita akan menghadapi situasi seperti Petrus. Awalnya, kita selalu “yakin” pada apapun yang kita perbuat, tetapi bila “angin” cobaan dan kesulitan datang, mampukah kita tegar berjalan atau justru takut dan tenggelam? Ketika saya membaca kisah ini saat masih anak-anak, saya meragu apakah saya mampu berjalan di atas air. Seiring bertambahnya usia, saya justru semakin mengikuti jejak Petrus. Saya percaya kuat-kuat dan pasti namun ketika ada badai datang, saya mulai bimbang. Saya takut cita-cita saya tidak terwujud. Saya ragu apakah saya akan menemukan seseorang untuk menjadi teman seperjalanan dalam hidup. 

Di hari ulang tahun saya yang ke-26, saya takut jika saya mati hari itu, tak ada yang peduli atau merasa kehilangan (well, keluarga dan para sahabat tentu bersedih) tetapi dunia akan terus berjalan seperti biasa. Ada dan tidak adanya dirimu tak ada bedanya. Setelah hari ke-40, kuburmu mulai jarang dikunjungi. Lalu waktu menghapus kenangan tentang dirimu. Ini mengerikan. Itulah sebabnya saya tak suka kuburan seberapa cantik, berseni, dan beradabnya kuburan itu. Tempat itu mengingatkan saya pada pelupaan. 

Saya merindukan rasa percaya itu. Rasa pasti bahwa ada Pribadi yang selalu menyediakan dan melakukan apapun untuk kebaikan saya. Rasa percaya seperti anak-anak pada orang tuanya. Seorang anak yang menangis di tengah orang asing akan langsung reda tangisannya ketika ia melihat ayah dan ibunya. Rasa percaya yang pelan-pelan dirampas oleh ironi, waktu, dan pengetahuan.

Karena semakin bertambahnya usia, saya menyadari saya tidak tahu apa-apa.
Selamat ulang tahun.



Note:

Saya menuliskan ini sambil mendengarkan salah satu album favorit saya dari dekade 1970-an. Homeless Brother (1974) adalah album filosofis dan hobo-nya Don McLean yang dikenal dunia lewat lagu American Pie dan Vincent (Stary-Stary Night). Lagu-lagu favorit saya antara lain Did You Know, The Legend of Andrew McCrew, Winter Has Me In Its Grip, dan Wonderful Baby. 

Special Moment

Kado Ulang Tahun Ter-Rock 'n Roll

Jumat, Mei 05, 2017

*dok.pribadi

Paket itu akhirnya tiba setelah penantian berbulan-bulan. Sebuah kado ulang tahun yang datang lebih dini. Kado itu adalah barang-barang langka yang susah didapatkan di negara ini. Barang-barang yang kubutuhkan dan sekaligus kuinginkan. Ia melewati dua benua, dua negara, dan tiga kota. Ia beralih dari tangan-tangan yang satu ke tangan-tangan yang lain. Ia melalui banyak memori dan peristiwa. Ia bersama perasaan yang sedih dan gelisah, gembira dan bersemangat. Setelah mendiskusikan dan terhanyut dalam romantisasi dan dramatisasi, akhirnya saya bisa memegangnya secara langsung. Rasanya seperti memeluk idola itu sendiri. Membaca kisah-kisahnya membuat saya seperti mendengarkan sang Idola bercerita. Saya hanyut ke sebuah masa dimana manusia benar-benar bermain musik dan bukan mesin. Sebuah masa dimana gender tidak dipertanyakan. Sebuah masa dimana rock 'n roll menjadi gaya hidup dan ideologi. 

Terima kasih Kak Emma. 

Cerita Lagu

Soundtrack of the Week

Selasa, Mei 02, 2017




But she said, where'd you wanna go? 
How much you wanna risk? 
I'm not looking for somebody with some superhuman gifts, some superhero, some fairytale bliss 
Just something I can turn to 
Somebody I can miss


P.S: Tampaknya The Chainsmokers menjadi satu-satunya kelompok musik masa kini yang saya akui lagu-lagunya. 

Sehimpun Puisi

Terjadilah

Selasa, April 18, 2017

Tubuhku adalah kapel kecil di atas bukit
Hatiku adalah Tabernakel
Kau berdiam disana
Menjaga dan menetap

Aku tak selalu memahami-Mu
Aku tak tahu rencana-Mu
Maka, mampukanlah aku
Agar aku bisa berkata seperti Maria, "Terjadilah"
Dan mengaku seperti Yesus di depan sengsara-Nya," Jadilah kehendak-Mu"


Jogja, 14 April 2017
Pada Jumat Agung

Aku dan Tuhan

Tenebrae

Senin, April 17, 2017




Jalan setapak menuju kapel itu dipenuhi taburan bunga. Di setiap siku kelokan, terdapat satu lilin yang apinya menari pelan ditiup angin magrib. Hening. Saya memeluk lengan June dengan erat. Suasana kedukaan mulai terasa. Ada rasa ganjil, namun bukan ketakutan. Ganjil ini menghadirkan kesedihan yang pasti. Pintu kapel terbuka lebar. Bau harum bunga dan dupa mulai tercium. Bebauan yang mengingatkan saya pada bau pemakaman Panaikang di Makassar. Saya dan June tercekat, memandang takjub sekaligus sedih akan pemandangan di depan kami. Di hadapan salib dan altar, terletak tiruan peti mati yang terbuat dari styrofoam. Peti itu ditutupi kain tile dan di atasnya ditaburi bunga. Di depan peti itu diletakkan potret Yesus. Ritual ini lazimnya dilakukan pada orang Kristen yang meninggal dunia. Selain itu, ada 8 lilin yang diletakkan di atas altar dengan rangkaian membentuk segitiga. Lilin-lilin itu belum dinyalakan. 

Kodong, Tuhanku… (Kodong, anak-Ku...

***

Sebelum memasuki kapel, kami membungkuk dalam, menghormati dan menyembah Ia yang bersemayam disana. Patung-patung di dalam kapel dibungkus kain ungu, tanda perkabungan. Kami duduk lesehan di depan altar, sangat dekat hingga bisa melihat raut wajah Yesus yang lembut. Ini pengalaman pertama bagi saya dan June. Kami datang dari tradisi yang sama sekali berbeda. Ironis memang, karena praktik ini sudah dilakukan gereja-gereja dan biara-biara kuno. Para frater mulai masuk melakukan persiapan. Ada yang menyiapkan nyanyian dan dibantu para pemuda dari OMK (Orang Muda Katolik). Sebagian lagi mempersiapkan teknis peribadatan. Umat mulai berdatangan: para romo, frater, suster-suster, dan umat awam. Kapel kecil itu mulai terisi penuh. Kedelapan lilin mulai dinyalakan. Ibadah dimulai. Kami mulai menyanyikan lagu-lagu dari Gita Taizé. 

Tinggalah bersama Aku di dalam doa (aku disini, Tuhan)

***

Tujuh sabda Yesus di kayu salib mulai dibacakan satu-persatu. Setiap selesai pembacaan satu sabda dan renungan, maka satu lilin akan dimatikan. Begitu seterusnya hingga tersisa lilin yang berada tengah. Lilin yang paling besar dari semua lilin disana. Lampu-lampu kapel juga perlahan-lahan dimatikan. Nyanyian Taizé yang bersifat meditatif mendukung suasana itu. Namun bukan berarti nyanyian petang itu selalu bersifat religi. Seorang solois menyanyikan lagu Let It Be dari The Beatles untuk merespon pembacaan dan renungan sabda ketiga. Sabda ketiga adalah ketika Yesus melihat ibu-Nya dari atas kayu salib dengan percakapan yang terkenal dengan kalimat "Ibu inilah anakmu" itu. Saya selalu mengenal Let It Be sebagai lagu sekuler yang humanis. Oh, tidak. Malam itu, lagu ini bercerita tentang Maria. Penderitaan Kristus adalah penderitaan Maria juga. Sang Bunda telah mengetahui segalanya. Ia tahu bahwa jiwanya akan tertusuk sebilah pedang seperti perkataan Simeon. Namun, perempuan ini berkata "Terjadilah...let it be..". Perkataan yang diikuti Yesus di depan sengsara-Nya, "Jadilah kehendak-Mu...". Penyerahan total Maria dan kekuatannya mendampingi putranya hingga mati di kayu salib telah menggetarkan dunia.

Terkadang dalam hidup kita tidak bisa lagi mengubah sesuatu atau keadaan. Ada kalanya, jalan terbaik adalah berserah. Penyerahan bukan kekalahan. Penyerahan adalah mengakui bahwa kita memiliki keterbatasan. Paul McCartney menciptakan dan menyanyikan lagu ini dalam kesedihan, kebimbangan, dan kesulitannya di masa-masa berakhirnya The Beatles. Ia bermimpi ibunya yang telah meninggal mendatanginya dan berkata, "It will be alright, just let it be...". Ketika Maria berkata "Jadilah kehendak-Mu", ia sudah tahu dan bersedia menjalani sukacita dan penderitaan secara bersamaan. Ia menyimpan perkara di dalam hatinya. 

When I find myself in times of trouble Mother Mary comes to me 
Speaking words of wisdom, let it be

***


Pembacaan sabda ketujuh telah selesai. Lilin ketujuh telah dimatikan. Lampu di ruangan kapel telah dimatikan semuanya. Satu-satunya cahaya adalah dari lilin yang kedelapan. Itulah simbol Yesus sang Terang dan Ketenangan Dunia. Romo mengambil lilin itu dan mengaraknya ke kanan, ke kiri (sakristi), ke tengah, dan pada akhirnya menjauhi altar (keluar kapel). Semakin cahaya lilin itu menjauhi altar, maka umat membuat suara gaduh: memukul bangku, bertepuk tangan, berteriak, atau apa saja yang menciptakan keributan. Situasi ini menyimbolkan keadaan dunia yang kacau ketika ditinggalkan Yesus. Dunia telah kehilangan harapan. Lalu kegelapan memenuhi dunia. Itulah Tenebrae.

***

Setelah mengambil saat teduh, kami keluar dari kapel. Orang-orang saling bersalaman. Layaknya perkabungan tak ada yang bersuara keras. Berjalan pun pelan-pelan. Saya dan June masih shock. Liturgi adalah perjalanan  kehidupan: kelahiran, masa bertumbuh, hingga kematian. Selama ini kami menjalani "liturgi" yang monoton. Ibadah Jumat Agung terasa sama saja dengan ibadah minggu biasanya. Ada kerinduan untuk memerlukan distingsi. Ketika kami akhirnya bertemu dengan salah satu tradisi purba Gereja, kami menyadari betapa mahalnya harga Reformasi Gereja. Betapa logos telah menjauhkan kami dari tradisi Gereja mula-mula. Reformasi telah membebaskan kami dari kekuasaan Gereja yang lalim, tetapi juga sekaligus mencabut kami dari akarnya. Umat hasil reformasi Gereja terdisartikulasi dari pengalaman purba koinonia-nya. Hari ini, tradisi seperti itu bisa saja dianggap "sesat" atau "menyimpang". Padahal disimilaritas seperti ini membuka ruang bagi ekspresi iman. 

Seperti Maria, para perempuan, para murid, dan Yusuf dari Arimatea yang menguburkan Yesus, kami pulang dari "pemakaman Tuhan" dengan tanda tanya di hati masing-masing.  

Apa yang telah terjadi pada Gereja hari ini?






P.S: Terima kasih untuk Celine, Tika, dan para frater yang mengundang kami untuk mengikuti Tenebrae (Kegelapan) di Skolastikat SCJ (Sacerdotum a Sacro Corde Jesu/Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus). Ibadah Tenebrae merupakan gabungan ibadah pagi dan ibadah sabda. Biasanya digabung dengan sabda-sabda dari Mazmur, Deutrokanonika, dan Perjanjian Baru. Paus menyerukan agar umat melakukan ibadah ini pada pekan suci terutama pada Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Tenebrae biasanya dilakukan pada jam 3 subuh, tetapi ibadah yang kami lakukan kemarin diadakan jam 7 Malam 

Kodong = Kasihan (dengan prihatin); bahasa Makassar.

Frase "terjadilah" diambil dari kalimat Maria yang ketika itu didatangi Malaikat Gabriel dalam pewartaannya tentang kelahiran Kristus, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38).