Life Story

Rindu

Sabtu, November 30, 2019

Ada orang yang aktif. Yang memiliki inisiatif untuk me-
Ada orang yang pasif. Yang memiliki kesabaran menunggu untuk di-

Jika keduanya terpaut, maka bagaimanakah jadinya? Cinta adalah energi. Energi selalu menggerakkan sesuatu. Tentu, kita juga mengerti bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk mencintai. Untuk menunjukkan perasaannya pada orang yang dicintainya. 

"Keseharian hidupnya seperti itu, tak ada yang berat. Namun, entah mengapa hatinya selalu berat, pikirannya selalu dicekam pertanyaan-pertanyaan, dan sekali waktu, kadang ia merasa terlalu mengalah." (Sitayana - Cok Sawitri, hal. 184). 

Aku ingat Mami Ice. Kepribadiannya tenang, pendiam, dan kalem. Orang-orang seperti ini umumnya dianggap pasif. Mereka tidak ekspresif. Mereka tidak menunjukkan perasaannya. Namun, ternyata anggapan itu bisa keliru. Mami Ice dengan caranya sendiri selalu berusaha untuk hadir bagi kami. Ia yang aktif mencari. Ia yang memberi info terkini. Ia yang mengajak. Dan saya merindukan beliau. Mami Ice juga yang paling sering mencariku. Menanyakan kabar dan bertukar pikiran. Sejak Mami pergi, aku mencurahkan isi hatiku padanya. Emosi-emosiku. Mimpi-mimpiku. Mami Ice mendengarkan dengan serius. Saya rindu jika beliau mengirim pesan WA, "Malam Meike sayang, bagaimana kabarmu anak? semoga sehat ya". Dia memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Minggu lalu Kak Yola, anaknya Mami Ice, datang ke Jogja bersama Chavelle anaknya. Kami: aku, Kak Yola, dan Marcio, adik kami, berjumpa dan saling ngobrol. Kami akhirnya punya waktu untuk berkabung bersama-sama. Kak Yola bercerita semua proses yang dilalui Mami Ice hingga pertarungannya usai. Kak Yola juga bercerita bagaimana ia harus menemani maminya ketika Mami pergi. Mami Ice tidak ngomong, tapi Kak Yola tahu maminya harus ditemani.

Mami, mau saya datang?,“ tanya Kak Yola
Mami Ice menjawab,“ Kalau kau bisa, datang mi.“

Kak Yola juga bercerita bagaimana ia harus mendampingi Kak Ita, adik bungsunya yang akan melahirkan. Pasti sangat berat buat Kakak Ita menghadapi semuanya. Kepergian Ibu dan penantian anaknya yang akan lahir. Sebuah mujizat terjadi, Kak Ita melahirkan normal dengan bayi seberat 5,4 kg. Mereka menangis berpelukan dan memuji Tuhan.

Kak Yola berkata,“ Mami selalu hadir di setiap persalinan putri-putrinya. Sama seperti mamimu yang juga selalu hadir di pernikahan kami,“ ujarnya padaku. Mataku berkaca-kaca. Mami ternyata sangat berarti buat mereka juga. Ibumu adalah ibuku, ibuku adalah ibumu.  Kami sangat sedih, tetapi kesedihan itu tak mematikan pengharapan kami. 

Hari ini sudah satu bulan sejak Mami Ice pergi. Bagaimana kabarmu disana Mami?  

Life Story

Masa Depan

Jumat, November 29, 2019

Mungkin dua atau tiga bulan sebelum Mami pergi, kami terlibat dalam percakapan yang serius dan dalam. Mami masih belum yakin anak ini akan baik-baik saja kalau ditinggalkan. Sementara itu, saya masih dalam fase menggugat dan menyimpan kemarahan yang luar biasa pada Tuhan. Di saat semua jalan tertutup, bahkan celah untuk terbukanya sebuah jendela pun tak tampak, saya meminta dijodohkan oleh Mami. 

Mami punya banyak teman dan kolega. Salah satu alasan kenapa saya sulit didekati oleh laki-laki lajang di komunitas kami adalah karena Mami. Mereka segan pada Mami dan segan juga padaku. Saya tidak tertarik dengan laki-laki yang tidak bisa diajak berpikir dan merasa. Seganteng, sekaya, atau sehebat apapun dia, kalau saya tak merasakan "klik" atau bahasa administrasinya sesuai dengan visi-misi, saya tak akan banyak bicara dengannya. Dan dengan demikian raut mukaku yang tampak seperti "orang yang lagi marah" itu akan muncul. Itu semakin membuat mereka menjauh. Sistem pertahanan diriku memang canggih hehee.

Ada satu laki-laki dewasa mapan yang kusukai sejak SMP. Dia anak teman gerejanya Mami. Usianya sudah kepala 4. Tapi, demi Tuhan, dia tak tampak seperti orang tua. Makin tua dia makin muda kayak Benjamin Button. Dia suka travelling dan fotografi. Orangnya tampaknya pendiam, tapi mungkin karena saya belum berinteraksi dengannya saja. Kuutarakanlah niatku untuk dijodohkan. Rasa-rasanya waktu itu saya sangat putus asa sampai merasa menikah adalah jalan keluar dari persoalan ini. Jalan pedang menjadi akademisi ini sangat berat. Lalu, apa kata Mami? Dia malah menyebut nama kakaknya laki-laki yang kusukai itu sebagai pembanding. Berbeda dengan dia, kakaknya ini jauh lebih bonafide (dan tentu lebih tua). Dia adalah dokter kandungan terkenal di kota kami. Sudah pasti secara finansial tak diragukan lagi. Untuk ukuran dunia, hidup saya kelak akan bahagia dengan materi yang melimpah dan status kehormatan di tengah-tengah masyarakat tampilan. Saya yang waktu itu berada dalam kondisi putus asa, cukup tergiur dengan fantasi itu. 

Ibu-ibu lain tentu akan langsung menyerahkan putri mereka pada lelaki jenis ini. Tetapi, tidak Mamiku. Jawabannya setelah saya mengutarakan niat itu adalah satu kata mutlak: Tidak. "Bisa saja. Mami tinggal bilang pada Mamanya dan beliau pasti setuju. Anak itu sangat dekat dengan ibunya dan akan mematuhi apa kata ibunya. Tetapi kalau saya perhatikan dia anakya manja. Semuanya diatur ibu. Kalau kamu menikah dengan dia, kamu akan menggantikan posisi ibunya. Kamu akan mengurus dia dan memomong dia seumur hidupmu. Kamu akan hidup dalam sangkar emas. Padahal, kau itu aktivis. Hidupmu harus kau berikan pada orang banyak...."

Bagai mendapat tamparan keras, Mami mengingatkan kembali cita-cita saya. Tampaknya saya masih punya harapan untuk bertahan. Tampaknya saya tidak benar-benar putus asa. Tampaknya saya waktu itu hanya sangat lelah dengan penolakan. Begitulah, saya tak jadi menikah dengan lajang paling diincar di kota kami. Pria itu kemudian dijodohkan dengan teman sekolah minggu saya dulu. Agak tidak nyambung mereka sebenarnya. Kudengar bahwa ayah temanku itu memang ingin menjodohkan putrinya dengan dia dan karena dia ingin menyenangkan ibunya, maka jadilah. Saya sendiri tetap tertatih-tatih berjalan di jalan sunyi untuk menjadi Begawan.

Lain Mami, lain pula Daddy. Sebagai mantan cowok kluster 1 di pasar perjodohan, Daddy tahu persis permainan laki-laki. Tak heran kalau dia sangat posesif pada saya. Jika mimpi buruk Mami adalah melihat saya hidup dalam sangkar emas, maka ketakutan Daddy adalah saya menikah dengan laki-laki yang memanfaatkan saya demi kepentingannya. Mimpi buruk Daddy adalah melihat saya menikah lalu bekerja keras untuk menghidupi suami dan keluarga suami saya. Berkali-kali dia mengingatkan bahwa saya anak tunggal. Apa yang menjadi milikku akan menjadi milik suami, begitu kira-kira menurut hukum. Itulah sebabnya di ambang usia 30 tahun yang kata orang masa yang pas untuk menikah, Daddy tak kunjung menyuruh atau memaksa saya menikah. Kalau boleh memilih, Daddy ingin menyimpan saya dalam lemari kaca seperti boneka.

***

Saya sendiri apakah ingin menikah? Entahlah. Sudah lama kuputuskan untuk tidak bergantung pada institusi pernikahan. Bagi saya, menikah ok, tidak menikah juga tidak apa-apa. Semua relasi tidak selalu goal-nya menuju pernikahan. Ada ikatan-ikatan yang tak terakomodasi oleh institusi buatan manusia. Dengan karakter dan visi-misiku yang bertabrakan dengan kultur patriarki, tampaknya akan sulit bagiku menemukan suami. Kalau menemukan pun, kami akan hidup dalam kompromi seumur hidup atau sesederhana akan bercerai. Saya sudah bilang pada Mami bahwa saya mungkin tidak akan menikah. Bukan karena saya membenci institusi ini atau tidak mau, tapi struktur telah membuat perempuan-perempuan seperti saya ini sulit untuk dicintai dan diterima. Laki-laki yang diberikan kuasa dalam pernikahan akan mendominasi dan memanipulasi kami. Kalau bukan saya yang ditindas, saya yang akan menindas dia. Rumit, kan. Maka, saya mulai mempersiapkan diri untuk menjalani perspektif "saya sendiri dan akan sendiri lagi". Sederhananya, tidak bergantung pada orang. Di antaranya, ada proses dimana kita bertemu dan berpisah dengan orang-orang. Atas segala keadaan itu, saya pelan-pelan membangun support system. Soulmate tidak selalu berbentuk pasangan, kadang mereka muncul dalam bentuk teman, komunitas, hewan peliharaan, atau tumbuhan. 

***

Tadi malam saya curhat-curhatan dengan Makrus. Kami sedang membicarakan kekasih hatinya yang juga dilanda dilema yang sama. Kekasih hatinya itu tipe yang suka bereksplorasi dan menaklukkan. Sementara Makrus adalah tipe devosi, menyerahkan seluruh cintanya untuk satu orang ini. Namun, meskipun pilu, Makrus memahami kalau gadis itu realistis. Ia akan memilih pria yang dapat memberinya masa depan. Tak ada perempuan yang ingin hidup dalam ketidakpastian. Tentu pria tersebut hendaknya memenuhi ekspektasi dan kepentingannya. Begitupun sebaliknya.

Membayangkan memiliki suami dan anak-anak tampaknya menyenangkan (meskipun saya jadi trauma setelah menonton video orang melahirkan).  Kita tak akan kesepian dan akan bahagia. Hmm, tunggu dulu. Siapa yang menjamin kita takkan kesepian meskipun sedang dalam relasi? Dan bukankah tak ada yang mampu membahagiakan kita selain diri kita sendiri? Pertanyaan berikutnya, apakah memang hal itu benar-benar yang saya butuhkan? Mengingat hidup saya sekarang bukan lagi milik saya, saya sudah tak sanggup membayangkan seperti apa hidup saya kelak. Bukan maksudnya tak punya perencanaan hidup, hanya saja ada hal-hal yang tak bisa kita tolak. Yang Mulia Komandan Tertinggi sudah mengambil alih kendali atas hidup saya dan sebagai prajuritnya, saya harus patuh pada perintah Komandan. Masa depan saya ada dalam perencanaanNya. Dan seperti yang sudah Beliau katakan dan tertulis dalam kitab, "Apa yang Kuberikan tidak sama seperti yang dunia ini berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu ."

Saya tidak punya kuasa untuk mengubah atau mengontrol. Saya hanya menjalani semampunya. Tenang, Komandan tidak seotoriter itu. Jika bukan kita yang diubah untuk mengikuti situasi itu, maka situasi itu yang diubah untuk mengikuti kita. Saya dan Juni sudah pernah membahas ini. Siapa yang tak butuh cinta dan afeksi? Tapi kami sadar peran dan posisi kami. Hidup kami kompleks dan tidak mudah. Kami lebih baik memilih sendiri daripada membuat laki-laki yang kami cintai menderita hidup bersama kami. Saya dan Juni mengimani jika memang kami diberikan pasangan, maka orang tersebut adalah anugerahNya. Ia pasti mampu menemani. Komandan pasti akan memberikan pasangan yang sepadan. Supaya kalau yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalau yang satu terbungkam, yang lain akan meneguhkan supaya ia dapat berteriak lantang. 


Life Story

Kenapa Saya Jatuh Cinta Pada Kurt Cobain?

Senin, November 25, 2019

sumber foto: google


Di sela-sela menyusun borang standar 9, izinkan saya menuliskan mengapa saya jatuh cinta pada Abang Kurt. 

1. Kurt memilih satu gadis yang paling tidak menarik di kelasnya untuk menjadi pacarnya dan berhubungan seks pertama kali dengan gadis itu. Menurut saya, bukan persoalan "menarik" atau "tidak menarik", tetapi dia bisa melihat keindahan yang tidak dilihat orang lain. 

2. Kurt menulis lagu-lagunya yang hampir semuanya seolah-olah berkata, "It's okay to be you. An abnormal...". 

3. Kurt tahu bahwa tidak apa-apa kalau kita sedih, marah, dan frustasi. Tidak apa-apa meneriakkan kalau kita sedih karena ditolak dan diabaikan. 

4. Kurt jenius. Menggunakan nama "Nirvana" untuk sebuah band beranggotakan anak- anak muda kulit putih? It's Wow. 

5. Kurt loyal sebagai pasangan. Pacar-pacarnya tidak banyak dan semuanya bertahan dalam kurun waktu yang lama. 

6. Dia menulis lagu "Heart-Shaped Box". Berdasarkan hasil diskusi saya dengan Sophie, "hati berbentuk kotak" merupakan metafora dari sesuatu yang seharusnya "berisi sesuatu" tetapi pada kenyataannya kosong. Mengapa kita mencintai seseorang yang destruktif bagi kita? Oh poor Kurt

7. Kalau senyum manis. Dia lucu in his own way. 

8. Salah satu left-handed guitarist

9. Kalau ngomong sesukanya. Tidak berpura-pura. 

10. Warna matanya biru.

Kurt, tunggu aku jalan-jalan ke Seattle ya...

Life Story

Surat Untuk Mami (1)

Selasa, November 19, 2019

Dear Mami, Bagaimana kabarmu disana? Pasti Mami bahagia. Apakah disana sudah bertemu dengan Mami Ice? Ihhh kalian berdua tidak mau pisah lama-lama ya. Bisa kubayangkan kalian berdua pasti senang bernyanyi dan berdoa dengan hati gembira melebihi ketika kalian masih di dunia. Tak lupa Papi Nes juga ikut mengiringi kalian bernyanyi dan melatih nada-nada yang mungkin terdengar fals. Tahu sendiri kan, telinga Papi Nes setajam pendengaran ultrasonik ikan paus hehehe.

Daddy baik-baik saja, Mam. Dia rajin sekarang berdoa dan ke gereja. Mungkin mengikuti teladanmu adalah caranya terkoneksi denganmu lagi. Katanya, dia diajak ikut nyanyi di koor gereja. Saya agak pesimis, soalnya suara Daddy cempreng hihihi. Tapi kalau itu membuatnya bahagia, ya tidak apa-apa. Oiya, saya sudah tahu bagaimana cara meng-treatment dia dengan benar. Kalau dia mulai rewel, kubiarkan saja dulu dia beberapa hari. Saya sedang belajar tidak memasukkannya dalam hati. Sering kusadari bahwa ketegaran ini bermula dari memiliki ayah seperti dia.

Meike merindukan Mami setiap saat. Tahukah Mami, Meike masih menyimpan nomor WA Mami di hape, berharap nama Mami muncul dan kita bisa ngobrol seperti dulu lagi. Ahhh, waktu begitu cepat berlalu ya Mam. Kini sudah 1 tahun lebih setelah Mami pergi. Banyak yang terjadi Mam. Mami pasti tahu itu. Kadang-kadang rindu ini terlalu hebat sampai saya tak kuat menanggungnya. Sejak kepergianmu, Meike bangun pagi dengan lubang hitam di dada. Terlalu sakit. Tapi, ajaibnya seperti ada energi positif. Energi cinta itu membuat kita masih bisa bertemu di ruang-ruang semiotik. Ada pengharapan bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Mami tahu, saya baru memberanikan diri mendengar rekaman suaramu. Waktu pulang kemarin, kupaksa Daddy mencari recorder itu. Pas kubuka, ternyata masih ada rekaman interview-mu dengan Makrus waktu dia ke Makassar dulu dan rekaman suara Mami yang lain. Mami, ingat kan, Makrus yang menemaniku menyebrangi lautan Samudra Hindia untuk bisa pulang melihat jasadmu. Heroik sekali Makrus waktu itu. Macam ksatria berbaju zirah dia, tapi yang naik pesawat hehehe. 

Mami tahu tidak? bahwa tanggal kematian Mami ternyata merupakan hari perayaan Santo Thomas. Iya, Mam, Thomas si peragu. Mami sering bilang saya ini "peragu" akan janji Tuhan. Mami selalu percaya bahwa Meike akan sampai di posisi ini, meskipun bagiku waktu itu rasanya hampir mustahil. Menurutku, Thomas itu kritis, Mam. Dan Tuhan juga tampaknya tidak keberatan dengan orang yang ragu dan kritis. 

Ada satu hal yang juga kusyukuri. Terima kasih ya Mami sudah mengajarkan kepada saya untuk melihat bahwa kematian adalah sahabat lama yang layak untuk disambut dengan rindu. “Tugasku sudah selesai, sekarang lanjutkan perjuanganmu”. Begitu katamu Mam. Kata-kata yang baru kupahami setelah kepergianmu. Kata Kak Ruth, Mami seperti moksha. Mami mati dalam keadaan terberkati. Mami menyambutnya dalam hening. Dying gracefully. Yang kusesali adalah tidak bisa menemanimu di saat terakhir. Kita bahkan tidak diizinkan mengucapkan salam perpisahan. Mami tahu, kita tak akan berpisah selamanya.

Oiya, Meike mau cerita kalau Meike sekarang mengalami yang Mami lakukan hampir seumur hidup Mami: absen sebagai pegawai hahahaa. Susah juga ya Mam. Harus bangun pagi dan sebagainya. Jadi ingat betapa Mami kesal kalau saya membuat Mami terlambat. Betapa jauh perjalanan pulang balik demi supaya Mami menunaikan tugas yang Mami cintai. Mami mencintai pekerjaan Mami. Dan banyak orang yang merasakan sinar kasihnya sekarang. 

Saya juga mau cerita kalau saya sedang berelasi dengan seseorang Mam. Mami tahu sendiri siapa hehee. Tapi saya ingat ketika terakhir kali saya curhat tentang seseorang yang pernah dekat dulu, Mami bilang,”Ya harus diterima. Kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Sedih rasanya mendapati perasaan kita tidak berbalas. Sedih rasanya tidak dicintai kembali. Atau ketika mereka tidak mencintai kita dengan cara yang sama seperti yang kita harapkan. Tapi yang ini beda, Mam. Dia memahami dan menerima perasaan Meike. Dia bisa mengenali dan membedakan Meike dari yang lain. Kami begitu berbeda, sekaligus begitu mirip. Dia revolusioner, sementara Meike rebel. Dia tidak bisa diikat, sementara Meike tidak bisa dikekang. Kami sama-sama menyerahkan hidup kami untuk orang banyak. Bila bersamanya, ketakutan Mami bahwa saya akan hidup seperti burung dalam sangkar emas kemungkinan besar tidak terjadi. Tapi begitulah, kisah kami tidak lazim. Maklum kami berdua juga dua manusia yang tidak lazim hehehe. Tapi aku berharap Mami lega, Tuhan akhirnya mempertemukan Meike dengan padanan katanya. 

Meike masih punya banyak PR. Meike mau belajar untuk melepaskan kemelekatan seperti Mami. Belajar menerima. Dan memiliki pengharapan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktuNya. Bahwa anugrah Tuhan bukan sekedar pemberian, tetapi suatu proses merespon panggilan dan bekerja bersama-sama dengan Allah. Tidak mudah. Tapi Dia selalu meneguhkan kita. 

Sudah dulu ya Mam. Nanti kita lanjut lagi.

Aku dan Tuhan

Dan Gunungnya Tidak Pindah

Senin, November 18, 2019

Perempuan yang kusayangi ini tidak pernah banyak bicara. Tetapi, ia selalu hadir menemani. Ia bukan hanya sekedar Tante, ia adalah ibu sambungku. Berbeda dengan Mami yang ceria dan ekspresif, Mami Ice memiliki pembawaan yang kalem dan tenang. Ia tidak akan bercerita kalau tidak ditanya. Kata Mama Ani, kakak Mami Ice, sejak kecil Mami Ice anaknya sabar. Kalau Mami masih bisa fleksibel dan berkompromi untuk hal-hal tertentu, Mami Ice kebalikannya, ia sangat strict dan tegas.

Dunia pelayananku dibentuk di rumah Mami Ice. Bersama Papi Nes, suaminya, dan empat orang putri mereka yang kupanggil Kak Jeane, Kak Yola, Kak Is, dan Kak Ita, aku dan Mami menemukan keluarga. Waktu kecil aku suka dibawa mengikuti mereka pelayanan. Banyak keadaan suka-duka yang dialami dan dihadapi bersama. Ada hubungan yang dibentuk oleh manusia, tetapi ada hubungan yang dibentuk oleh Tuhan. Keluarga kami yang saling mengangkat saudara ini termasuk hubungan yang kedua. Bersama-sama kami tak pernah merasa sendirian. Ketika Papi Nes pergi duluan, Mami menemani Mami Ice. Kemana-mana pergi berpelayanan berdua. 

4 Juni 2018, Mami mengirimkan foto-foto kegiatan mereka di Toraja. Ada satu foto yang menarik perhatianku. Foto Mami dan Mami Ice berdua dengan latar belakang patung Yesus memberkati di Burake. Tak ada firasat apa-apa. 3 Juli 2018 pukul 5.30 WIB, Daddy menelpon dengan suara panik nyaris menangis. Mami tidak sadarkan diri. Aku bingung tetapi mencoba tenang. Mami bukannya baik-baik saja? Daddy memintaku menelpon Mami Ice dan Mami Ely, adiknya Mami Ice. Mereka bertiga adalah “kakak-kakak perempuan” Mami. Mami Ice segera ke rumah. Mami Ice dan Daddy mengambil keputusan membawa Mami ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku menelpon Om, kakak kandung Mami satu-satunya. Ia hanya berkata akan datang ke rumah sakit. Tapi sampai Mami pergi, ia tak kunjung datang. 

Malam terakhir sebelum Mami dimakamkan, terjadi ribut-ribut besar. Oma dan Om “menyerang” Daddy di depan umum. Aku segera memeluk Daddy dan menahannya supaya tidak roboh. Ia tidak tidur 3 hari. Fisik dan psikisnya lemah. Oma dan Om ditenangkan oleh seorang sepupu Mami dengan menggunakan bahasa Tana. Tak ada orang Maluku lagi yang berbicara bahasa Tana. Itu adalah bahasa asli Maluku dan dilakukan untuk berkomunikasi dengan leluhur. Ada apa ini? Setelah menenangkan Daddy, aku berlari menghampiri Mami Ice dan memeluknya. Ia tak berkata-kata selain balas memelukku. Aku menangis sesegukan. Ada semacam beban yang diberikan ke pundakku saat itu. Beban yang tak aku mengerti. Di depan jenazah Mami aku berbicara dalam hati. “Mami, salib apa yang kau wariskan padaku?”. 

Dua minggu setelah Mami dikubur, terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup kami sekali lagi. Aku dan Daddy ditemani Mami Ice dan Mami Ely, serta Papi Toni, suami Mami Ely. Kami saling mendoakan dan menguatkan. Satu keluarga sedarah terputus, tetapi satu keluarga tak sedarah menjadi pengganti. Sejak Mami tidak ada, Mami Ice dan Mami Ely praktis menjadi Ibu pengganti. Mereka bergantian menanyakan kabarku. Melibatkanku dalam dunia pelayanan mereka. Kadang-kadang aku merasa seperti menjadi “pengganti” Mami bagi mereka. Tapi, di sisi lain aku menyadari bahwa mereka tak ingin memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga kami. 

Tahun 2019, menjadi tahun yang baru dan ganjil bagi kami. Kami menyadari kami benar-benar kehilangan satu orang yang menjadi pengait di antara kami. Seringkali Mami Ice dan Mami Ely mengajakku bercerita seperti yang mereka selalu lakukan dengan Mami. Aku entah mengapa merasa terobligasi untuk menjadi pihak yang menggantikan Mami. Mereka bercerita banyak hal tentang hidup dan pelayanan mereka. 

September 2019, aku sudah mulai jarang mendapatkan WA dari Mami Ice. Ini aneh. Biasanya hampir tiap minggu ia mengirimkan ucapan selamat dan bertukar kabar. Aku mengirim WA ke Mami Ice, tetapi tak ada balasan. Tante Oce yang kujumpai di gereja kemudian memberi tahu kalau Mami Ice masuk rumah sakit. Katanya sesak napas. Kutanyakan keadaan Mami Ice pada Kak Jean dan Kak Yola. Katanya, Mami Ice akan melakukan operasi kecil. Ada air di paru-parunya yang harus dikeluarkan. Sebelum melakukan operasi, aku melakukan video call dengan Mami Ice. Di seberang sana, ia menatapku dan tersenyum. Ada yang ganjil dengan caranya menatapku. Tatapan matanya adalah tatapan mata sayang. Tetapi, ia seperti “melihat” Mami. Tatapan itu seperti mengucapkan perpisahan. Ia lebih banyak diam. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Tiga hari kemudian, Mami Ely tiba di Jogja dan memintaku menemaninya ke Semarang. Dalam perjalanan itulah, Mami Ely memberi tahu kalau Mami Ice didiagnosis oleh dokter mengidap kanker paru-paru stadium 4. Aku lemas. Aku ingin marah tetapi tidak bisa. Aku ingin tertawa satir, tetapi ini sama sekali tidak lucu. Aku merasakan kehampaan. Aku teringat foto Mami dan Mami Ice di Burake. 

Kutelpon Daddy mengabarkan keadaan Mami Ice. Daddy-lah yang kemudian melaporkan kondisi Mami Ice dengan mengunjunginya di rumah sakit, mengirim foto-foto dan video. Iman dapat menghadapi, tetapi psikis tidak. Di tengah-tengah duka itu dan drama kantor yang semakin kacau, aku kehilangan suaraku sampai tiga minggu. Bagaimana aku bisa mengajar dengan suara nyaris berbisik? Aku tidak bisa sering-sering video call dengan Mami Ice karena kemoterapi yang ia jalani dan suaraku yang habis. Ketika suaraku sudah kembali muncul, aku langsung video call dengannya. Disitu aku mengatakan aku mencintainya dan merindukannya. Aku memohon maaf tidak bisa pulang karena masa calon pegawai tidak membolehkan aku untuk mengambil cuti. Mami Ice bilang tidak apa-apa, ia mengerti aku baru saja memulai perjalananku meniti karir di dunia pendidikan. 

Seminggu setelah itu, Mami Ely mengabari kalau kondisi Mami Ice kritis. Kemoterapi tidak membawa perubahan apa-apa. Subuh itu, dokter bahkan mengatakan ia tak akan bisa melewati sampai malam. 30 Oktober 2019, aku berdoa meminta kemurahan Tuhan. Tidak ada yang mustahil baginya, tetapi biarlah kehendakNya yang jadi. Aku sudah pasrah. Aku mendoakan anak-anak dan saudara-saudara Mami Ice. Rasanya kejadian di pagi hari ketika Mami juga akan pergi terulang lagi. Dalam perjalanan ke kampus, aku memutar lagu kesukaan Mami Ice yang berjudul Never, Never, Never dari Shirley Bassey. Aku berkata dalam hati, “Kalau Mami Ice mau pergi, Meike ikhlas”. Sehabis berkata demikian, WA dari Mami Ely masuk. Mami Ice sudah pergi. Suara Shirley Bassey melengking seiring airmataku yang turun membasahi pipi. “Imposible to live with you, but I know I could never live without you..."

Dalam perjalanan menuju bandara, aku menziarahi makam Mami. Sudah setahun lebih dan banyak hal telah terjadi. Tak jauh dari makam Mami, terdapat makam Papi Nes dan Mami Ice. Ya, Mami Ice dan Papi Nes dimakamkan dalam satu liang lahat. Mereka berdekatan. Mereka semua dimakamkan di baris terdepan. Para punggawa gereja yang tak mau duduk di belakang ini sama-sama mendapatkan tempat peristirahatan terbaik di kota kami. Aku meninggalkan Makassar dengan dada yang terasa sakit. Rasanya seperti ditusuk pedang di tempat yang sama untuk kedua kali. Kehilangan tetap kehilangan. Dua ibu dalam kematian yang beruntun. Aku mengimani mereka kini sudah berbahagia di sana. Penderitaan mereka sudah berakhir. Kini mereka sudah berkumpul dan bernyanyi memuji Tuhan tak henti. Tinggal aku berdua dengan Mami Ely. Dengan bahasa kami yang sederhana, kami saling memaknai kepergian orang-orang yang kami cintai. Kami merasakan trauma yang hebat, tetapi kami tetap percaya. Tuhan selalu hadir dan menari bersama kami di dalam badai. 

Catatan: berjarak dari peristiwa itu, dengan psikosomatik yang kuderita dan keenggananku "melapor" tiap minggu padaNya, aku mulai menyadari bahwa peristiwa ini bukan tentang aku. Ini bukan tentang aku yang menggugat dan berteriak,”Kenapa diambil lagi?”. Ini adalah tentang Mami Ice yang memang harus pergi dengan cara demikian. Ia masih diberi kesempatan untuk mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya sangat mencintainya. Sebagian penderita kanker menerima mujizat Tuhan seperti gunung yang berhasil dipindahkan. Namun, dalam kasus Mami Ice, ia tetap percaya sekalipun gunungnya tidak pindah. Itupun juga adalah sebuah mujizat.