Cerita Lagu

November Rain

Selasa, Februari 28, 2017




So if you want to love me
Then darlin' don't refrain
Or I'll just end up walkin'
In the cold November rain

I know it's hard to keep an open heart 
When even friends seem out to harm you 
But if you could heal a broken heart 
Wouldn't time be out to charm you 

I know that you can love me 
When there's no one left to blame 
So never mind the darkness 
We still can find a way 
'Cause nothin' lasts forever even cold November rain

November Rain adalah bukti bahwa meskipun para personilnya berada di kutub yang berbeda, mereka dapat saling menyeimbangkan.

Permainan piano dan teriakan memilukan Axl Rose
Petikan gitar melodi Slash yang menyayat hati
Betotan bass Duff McKagan yang rendah hati
Petikan gitar Gilby Clarke yang harmonis
Tabuhan drum Matt Sorum yang memberi tenaga

Sangat sulit untuk menyanyikan kembali lagu balada yang hebat ini.


Love Story

Mari Bercinta!

Sabtu, Februari 25, 2017

*tumblr


Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu 
Cukup pintarkah dirimu untuk selalu kunantikan 
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku 
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh

Kebetulan lagu ini yang dinyanyikan Sheila 0n 7 di TV pas si Mami lagi cari-cari channel. Siaran TV nasional (minus TV kabel ya) memang jarang menarik di jam-jam begini. Sebenarnya saya agak kesal tentang perkara TV kabel ini. Dulu kedua orang tua saya yang tercinta berjanji memasang TV kabel pas saya lulus SD. Nyatanya sampai hari ini janji itu belum terpenuhi. Selalu ada alasan si Mami untuk mengeles. Mulai dari “kamu harus konsentrasi belajar” sampai “kamu sudah terlalu besar untuk nonton TV”. Selain itu, meski sudah menginjak tahun keempat tinggal di Jogjes, saya juga belum pernah sekalipun menonton konsernya SO7. Selalu saja ada halangannya meskipun tiket sudah dibeli. Padahal kalau mau dipikir-pikir, kos saya dan rumahnya Duta tidak terlalu jauh loh. Kalau mau disamperin tinggal salto tiga kali. Lalu hubungannya TV kabel dan S07? Tidak ada sih, hanya saja lagu ini mengingatkan saya pada kakak kelas di SMA yang saya taksir setengah mati dulu hehehe.

Kalau ditilik lagi lagu ini baik-baik, lirik lagunya masih relevan dengan kisah cinta hari ini. Ceritanya sih tentang seseorang yang ditinggal pergi pas lagi sayang-sayangnya. Menyebalkan sih, tapi begitulah hidup, kak. Kalau mudah dan happy ending biasanya hanya ada dalam drama korea. 

Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak 
Mengubur semua indah kenangan 
Tapi aku slalu menunggumu disini 
Bila saja kau berubah pikiran

Aiiihh...lagi-lagi topik cinta memang selalu menarik, saudara. Sepanjang hari ini berita-berita di TV sama semua: kunjungan Raja Arab Saudi dengan rombongannya yang berjumlah 1500 orang plus harta benda mereka yang mengundang decak kagum dan iri. Ketimbang mempertanyakan ada apa dibalik kedatangan heboh sang Raja, orang-orang di rumah malah membahas ke-25 pangeran yang dibawa sang Raja, posibilitas para pangeran ketemu jodoh di Bali, sampai memperkirakan jumlah istri sang Raja. Rupanya politik dan cinta saling bertalian erat. Keduanya sama menariknya. Keduanya adalah seni.

Saya lantas merenungkan bahwa dunia ini memang menjadi lebih indah karena cinta. Dunia yang dipenuhi peperangan, pertikaian, kebencian, keserakahan, dan kemarahan pasti karena orang-orangnya kekurangan kasih sayang. Pernah suatu ketika, saya yang lagi jatuh cinta membeli soto yang dijual Pak Min untuk makan malam. Uang saya tinggal 20.000 perak di dompet. Kalau beli nasi sop pisah daging habis 12.000. Jadi, sisa uang saya 8000 rupiah. Saat lagi menunggu makanan yang lagi disiapkan, muncullah Om Peter Lennon. Buat yang di tinggal Jogja, terutama sekitaran Jalan Kaliurang pasti sudah akrab dengan Om Peter. Om Peter selalu membawakan instrumen lagu-lagunya The Beatles dengan gitar dan harmonikanya. Dandanannya retro abis dengan rambut model mangkok, kemeja bunga-bunga, suspender, celana jeans, dan sepatu sneaker. Saya menaksir umur beliau sekitar 50-an. Saya yang sementara terkenang si pujaan hati langsung mellow manja ketika Om Peter memainkan lagu Here, There, and Everywhere. Kebetulan saat itu hubungan saya dengan si Pujaan Hati lagi menggebu-gebunya. Saya jadi ikut bersenandung in a happy way. Om Peter lalu melanjutkan dengan lagu I Wanna Hold Your Hand. Ohh, itu sudah! Segera saya memberikan seluruh sisa uang saya malam itu padanya.

Bayangkan, jika cinta merasuki banyak orang, negara-negara akan mengalihkan anggaran untuk perang demi meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. Negara-negara maju mungkin akan berkurang nafsunya untuk merampas sumber daya alam dari negara-negara berkembang. Mereka tentu dengan sukarela akan memberi banyak beasiswa dan bersemangat untuk memberantas buta huruf. Penyakit-penyakit aneh tentu tak akan muncul sehingga para ahli kesehatan tak perlu menderita mencari obat penyembuhnya. Para pejabat tak akan tergiur korupsi karena cinta membuat mereka bahagia meski hanya makan nasi dan garam, sepiring berdua lagi. Konflik agraria pasti akan menurun jumlahnya karena manusia cinta pada alam. Para binatang juga akan hidup damai karena manusia menyayangi mereka seperti dirinya sendiri.

Intinya, jangan takut jatuh cinta. Hidup kita akan selalu indah jika kita rajin bercinta *eh.

Love Story

Cinta, Komedi

Jumat, Februari 24, 2017


*www.pinterest.com

Saya teringat sebuah komedi tentang seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Yah, setidaknya sih dia berpikir demikian. 


 *** 

Ada seorang perempuan yang menyukai seorang laki-laki yang ia tahu pasti tidak mungkin ia gapai. Perempuan itu awalnya tidak berpikir untuk menyukai laki-laki itu. Namun begitulah cinta, terjadi tanpa diduga. Laki-laki itulah yang menghidupkan api asmara sang perempuan yang telah lama padam. Walaupun perempuan itu tahu laki-laki itu tak mungkin dimiliki karena ia adalah milik semua orang, perempuan itu ingin laki-laki itu tahu bahwa ia ada dan mengasihinya. 

Suatu ketika, ia mendapat sebuah momen untuk menyatakan perasaannya. Laki-laki dan Perempuan itu akan bertemu dalam sebuah kegiatan. Perempuan itu berencana memberinya sebuah hadiah yang secara tersirat merupakan pernyataan rasa cintanya. Maka, ia menunggu hari tersebut dengan berdebar-debar. Waktu itu, ia masih dalam kondisi pasca operasi gigi bungsu yang membuat rahangnya masih kram. Tapi ia tak mundur selangkah pun. Sepulang dari kantor ia singgah sebentar ke rumahnya, menaruh berkas-berkas pekerjaannya, berganti tas ransel dengan tote bag yang santai, dan langsung meluncur ke Mall terdekat. Gerimis tak membuatnya patah arang. Hari esok adalah hari yang dinantikannya. Itulah satu-satunya kesempatannya untuk menunjukkan eksistensinya. 

Sesampainya di Mall, perempuan itu bingung sendiri. Apa yang harus diberikan pada lelaki cerdas seperti pujaan hatinya itu? Baju kaos? Hmm…kok gak terkesan intelek ya. Album musik? Tapi toko kaset sudah tidak ada di Mall (Kelak ia tahu laki-laki itu menyukai lagu-lagu dari Kla Project). Perempuan itu gundah gulana. Hadiah ini haruslah berkesan, pikirnya. Hadiah ini haruslah menjadi statement dari perasaannya. Hadiah ini harusnya bermakna sekalipun ia harus membangun seribu candi (eaaaaa). 

Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan akan membeli sebuah buku. Ia memang senang memberi orang hadiah buku. Perempuan ini ingin meniru kebiasaan Pak Hoegeng yang kalau kemana-mana selalu memberikan oleh-oleh berupa buku pada orang-orang. Pengetahuan itu harus dibagi, itulah amalan tertinggi, begitu katanya. Lagipula buku tampaknya memang pilihan jitu untuk tipe laki-laki intelek seperti pujaannya. Selain tentu saja, harganya terjangkau. 

Namun, rupanya membeli buku untuk seseorang yang senang membaca juga susah-susah gampang. Perempuan itu berpikir lagi, jangan-jangan buku yang akan ia berikan sudah pernah dibaca oleh laki-laki itu. Jangan-jangan laki-laki itu justru tidak menyukai buku itu atau tidak sesuai dengan selera dan level si lelaki. Kira-kira dua jam lamanya perempuan itu kebingungan sendiri di dalam toko buku. Akhirnya, ia menuruti instingnya. Pilihannya jatuh pada sebuah kumpulan cerpen berjudul Blind Willow, Sleeping Woman karya Haruki Murakami. Bukunya ringan tapi mengajak merenung. Selain itu, ada beberapa cerita tentang perjalanan dan pizza. Lelaki ini suka merenung. Ia pernah sekolah di Italia dan telah melakukan banyak perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Pas! 

Perempuan itu berjalan menuju kasir hendak membayar buku yang akan diberikan pada si pujaan hati. Saat ingin membayar, perempuan itu kelimpungan mencari dompetnya yang entah bagaimana tidak ada disana. Jangan-jangan ketinggalan di rumah sewaktu ia berganti tas tadi. Untung saja handphone-nya tersimpan di kantong celana. Ia menelpon mas ojek langganannya untuk segera menjemputnya. Dititipinya pesan kepada Mbak Kasir yang baik hati untuk menjaga buku itu, maklum bukunya tinggal satu biji. 15 menit kemudian, Mas Ojek, abdinya yang setia sudah menunggu di parkiran Mall. Perempuan itu bergegas kembali ke rumah. Memakan waktu sekitar 10 menit jika tidak macet. Tiba di rumah, dompet itu memang berada di sana. Buru-buru ia mengambilnya dan kembali menuju Mall. Buku itu masih ada. Ia membayar dan pulang. 

*** 

Malam itu ia tak bisa tidur. Ia lelah, bibirnya masih kram, tapi ia sangat bersemangat menyambut hari esok. Pertemuan dengan lelaki itu tinggal menunggu hitungan jam. Buku itu sudah dibungkus rapi dengan kertas kado motif batik. Dibungkus dengan sempurna. Setiap lipatannya memiliki arti (duileee). Sebelum dibungkus, ia membaca secara skimming buku itu. Ia memang belum pernah membaca buku itu, setidaknya jika laki-laki itu mengajak ngobrol tentang buku itu, ia bisa mengikuti (hmm dasaarrr…). Dari hasil skimming-nya, ia menstabilo kalimat-kalimat yang secara implisit menyatakan perasaannya ke si lelaki. Ia berharap laki-laki itu memecahkan kode-kodenya (etdaaahh).  
***

Pagi pun tiba. Masih setengah mengantuk, perempuan itu bergegas mandi. Hari itu ia akan berdandan cantik rupawan. Matanya masih bengkak karena kurang tidur, tapi tak ada lagi rasa kantuk yang tinggal. Ia pun menuju tempat pertemuan itu. Si laki-laki telah ada disana. Menyambutnya dengan senyum ramah. Lutut perempuan itu lemas. Ia berpura-pura bersikap biasa, namun ia tahu hatinya melonjak-lonjak gembira. Tibalah momen yang ditunggu. Si lelaki rupanya akan pamit duluan dari kegiatan itu. Sial, ia tak punya waktu banyak. Segera si Perempuan menghampiri laki-laki itu yang tengah membereskan kertas-kertas kerjanya. 

“Ehem..ehem..”, perempuan itu berdehem dan kemudian menyebut nama laki-laki itu. 
Laki-laki itu menoleh memandangnya. Ia tak berkata apa-apa, tapi matanya berkata,” Ya, ada apa?” “Ini buat kamu,” perempuan itu menyerahkan kado itu untuk si laki-laki. 
Laki-laki itu tidak segera menerimanya. Tangan si perempuan yang memegang kado itu masih tergantung di udara. Yawlah, Perempuan itu rasanya mau menggali lubang dan membenamkan kepalanya disitu. 
Ini untuk apa ya?,” laki-laki itu bertanya. 
“Ini hadiah Paskah untuk kamu,” Perempuan itu sudah mau menangis karena malu. 

Laki-laki itu berpikir sejenak. Lalu, dengan agak ragu mengambil kado itu dari tangan si perempuan. "Terima kasih ya,” kata laki-laki itu. 

Perempuan itu tersenyum lalu berlalu dari hadapan laki-laki itu. Tak berapa lama kemudian laki-laki itu meninggalkan tempat pertemuan. Perempuan itu berharap laki-laki itu melirik ke arahnya ketika berjalan meninggalkan ruangan. Laki-laki itu berjalan terus. Tidak menoleh sedikit pun. 

*** 

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Laki-laki dan perempuan itu masih berjumpa meskipun frekuensinya mulai berkurang. Setelah lewat beberapa minggu, perempuan itu akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan laki-laki itu. 

“Bukunya sudah dibaca?,” tanyanya. 
Laki-laki itu tampak kikuk. Ia tidak siap ditanya demikian. Ia terlihat salah tingkah. 
“Belum selesai. Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik,” jawab laki-laki itu sambil lalu. 

Si perempuan mikir, situ kan lulusan universitas di Roma, masa bahasa Inggrisnya gak bagus sih? Jadi dulu nulis disertasi pakai bahasa latin? (Wow, sadyeesssst). Satu hal yang membuat perempuan itu bersyukur atas pengalamannya mencintai laki-laki itu. Meskipun sangat singkat, ia menyadari ketika kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apa saja untuk memelihara hubugan itu. Untuk pertama kalinya, perempuan itu hanya menerima. Hanya dengan membuat laki-laki itu tersenyum saja ia sudah senang. Ia tidak meminta apa-apa lagi. Ia bahagia dalam kesunyiannya. 

Sang Nasib melihat perempuan itu. Ia telah melakukan sebuah perbuatan kasih tanpa syarat. Suatu hari Sang Nasib membalas ketulusan perempuan itu dengan membuatnya mengalami dua jam perjalanan bersama laki-laki itu. Laki-laki itu yang menyetir, dan perempuan itu duduk di sampingnya. Mereka bercakap-cakap tentang apa saja. Laki-laki itu tertawa-tawa mendengar perempuan itu bercerita dan melontarkan lelucon. Ketika perjalanan itu harus berakhir, perempuan itu sadar inilah hari terakhir mereka bersama. Laki-laki itu mengantarnya ke sebuah biara kecil. Hujan turun sangat deras. Perempuan itu mengucapkan terima kasih. Laki-laki itu mengangguk. 

Mereka tak pernah bertemu lagi. 

Ironisnya, rumah perempuan dan tempat tinggal laki-laki itu hanya berjarak tiga kilometer. 


***

Saya mengenal perempuan itu dengan baik. Saya pikir, setelah kejadian ini, ia mulai belajar mencintai dengan cara yang dewasa. Kadangkala, hidup itu seperti yang dideskripsikan Woody Allen,”Life is a comedy written by sadistic comedy writer”. Saking sedihnya, kita hanya sanggup menertawakannya saja.

Love Story

Ruth dan Boaz

Selasa, Februari 14, 2017

Akan kuceritakan padamu tentang dongeng yang hampir dilupakan banyak orang. Berbeda dengan kisah cinta populer seperti Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, atau pasangan kekinian Sebastian dan Mia, kisah ini jauh dari romantika pada umumnya. Bagi banyak orang, kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan dan persahabatan. Namun, ada juga yang percaya kisah ini mengingatkan bahwa pertemuan bukanlah hal yang kebetulan. 

 *** 

Pada suatu masa ketika internet belum terpikirkan, tiga perempuan berjalan melalui daerah perbatasan Moab (sekarang masuk daerah Yordania). Perempuan yang paling tua terlihat berjalan mendahului yang lain. Matanya memandang jauh ke depan, mencari-cari negeri kelahirannya yang dibatasi gunung-gunung, hutan-hutan, dan lembah-lembah yang penuh misteri seperti di tanah Papua (barangkali di bawah tanah yang dijejaknya ada kandungan emas yang masih terkubur). Perempuan itu bernama Naomi dan kepedihan tidak pernah jauh darinya. 

Bersama suami dan anak-anaknya, ia meninggalkan tanah kelahiran dan bangsanya di kala negeri mereka sedang mengalami bencana kelaparan. Jika keluarga ini hidup di masa sekarang, maka alasan mereka pergi karena mengungsi dari perang saudara seperti di Suriah. Selama bertahun-tahun, mereka tinggal sebagai orang asing hingga suatu ketika suami dan dua anak laki-lakinya meninggal dunia. Dua perempuan muda yang berdiri di belakang Naomi adalah istri-istri anak-anaknya, perempuan-perempuan asing yang dianggap kafir oleh bangsanya. 

Lalu berkatalah Naomi kepada kedua menantunya, "Tinggalkanlah ibu mertuamu yang renta ini, kembalilah kepada keluarga dan bangsamu, aku membebaskan kalian". Menjawablah menantu pertama. Namanya Orpa. Pada detik pertama, ia menangis terharu tak mau lepas dari ibu mertua, tapi detik berikutnya, ia berpaling dari ibu mertua dan pergi kembali ke negerinya. Kepergian Orpa menyisakan menantu kedua. Perempuan itu juga menangis sedih. Tapi ia tak tega membiarkan ibu mertuanya yang sudah tua itu pulang sendirian ke negerinya. Tak tega ia meninggalkan Naomi tanpa teman. Karena kasihnya, ia memilih mengikuti Naomi meskipun telah dibebaskan. “Bangsamu akan menjadi bangsaku dan Allah-mu akan menjadi Allah-ku”, katanya. Orang-orang kemudian memanggilnya Ruth, yang dalam bahasa Ibrani berarti “teman perempuan” atau bisa juga dimaknai sebagai “persahabatan”. 


Naomi entreating Ruth and Orpah to return to the land of Moab by William Blake (1795)


 *** 

Kepulangan Naomi membawa Ruth menggemparkan orang-orang sekampungnya. Perempuan-perempuan mulai grasak-grusuk bergunjing. Laki-laki tua dan muda memandangi Ruth dengan ingin tahu. Ada tekanan yang mereka rasakan di dalam lingkungan baru itu. Beban itu lebih berat dirasakan Ruth, tidak hanya soal statusnya sebagai janda saja tetapi juga karena identitasnya. Memang ada suatu masyarakat yang memaknai identitas kesukuan dan keagamaannya di atas segala-galanya. Sekalipun Ruth sudah termasuk kaum proselit –yang tidak hanya pindah paspor tapi juga keyakinan- ia masih dianggap orang asing. Sampai hari ini, hal tersebut masih terjadi. Suku, agama, dan kelas sosial sering dipakai sebagai ukuran untuk menentukan kelayakan dan idealitas seorang individu. Manusia dikerdilkan sebatas apa agamanya, darimana ia berasal, dan apakah ia kaya atau miskin. Jika terjadi pernikahan, banyak keluarga melaraskan ketiga elemen ini. Kualitas-kualitas diri si individu tak diperhitungkan lagi. Seseorang ditolak bukan karena ia jahat atau merugikan orang lain, tetapi karena identitas-identitas yang diberikan kepadanya oleh nasib dan negara. 

Di masa itu pula, perempuan masih didefinisikan dengan keberadaan laki-laki di sisinya. Ketika menjadi anak gadis, ia adalah milik ayahnya. Ketika menjadi istri, ia adalah milik suaminya. Ketika ia menjanda, ia tidak bisa berbuat banyak dan hidup dari belas kasihan orang. Harta suaminya akan menjadi milik anak laki-lakinya. Jika ia tak punya anak laki-laki, harta itu beralih ke keluarga suaminya. Sungguh! Hidup ini pilih kasih, pembaca. 

Dalam kemiskinannya, Naomi ingin menjual tanah pusaka suaminya. Tanah pusaka sangat penting bagi bangsa Naomi. Bukan hanya karena terkait warisan, tetapi juga identitas. Menjual tanah pusaka, berarti juga menebus Naomi dan Ruth. Tradisi di masa itu mengharuskan apabila seseorang mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka saudaranya harus mengambil jandanya. Sang lelaki yang nanti menjadi penebus tidak hanya harus membeli tanah itu dan menikahi Ruth (karena Naomi sudah terlalu tua), tetapi anak laki-laki yang dihasilkan akan menyambung keturunan dari almarhum suami Ruth agar garis keturunannya tidak punah. Perkawinan levirat/ipar istilahnya. Tanah dan anak adalah harta paling berharga dan utama bahkan bukti identitas diri. Namun, pernikahan jenis ini sangat dilematis karena berhubungan dengan harga diri seorang laki-laki apalagi jika ia hidup dalam budaya patriarki. Siapakah lelaki tak egois yang mau menolong Naomi dan Ruth? Siapakah yang sanggup menolong kedua perempuan yang malang ini? 

*** 

Pada waktu itu sedang berlangsung musim panen. Menurut tradisi bangsa itu, setiap pemilik ladang harus menyisakan sisa panen dan membiarkan orang-orang miskin untuk memungut jelai yang terjatuh saat panen. Untung di masa itu belum ada pabrik semen atau pembangunan bandara baru, kaum petani aman dari penggusuran dan alam pun lestari. Di sanalah Ruth setiap hari bekerja memungut bulir-bulir jelai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mertuanya. Ia sangat rajin sehingga menjadi buah bibir bagi pekerja-pekerja yang ada disana. Berita itu sampai ke telinga Boaz, sang pemilik ladang, yang ternyata masih saudara dengan suami Naomi. Boaz adalah seorang yang kaya raya, masih lajang, berpenampilan menarik, lulusan perguruan tinggi dari negara maju, tak lupa sembahyang, dan memiliki karakter yang jujur, berintegritas, dan penuh kasih. Pendek kata, Boaz ini eligible bachelor. Sudah pasti banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Mulai dari yang cantik jelita, berpendidikan tinggi, hingga dari keluarga terpandang. Siapakah Ruth bila dibandingkan dengan mereka? 



Ruth and Boaz by Barent Fabritius (1660)



Di ladang itulah, Boaz dan Ruth bertemu. Perbuatan Ruth telah mempesona Boaz. Diam-diam Boaz memerintahkan buruh-buruhnya untuk melindungi Ruth dan tidak lupa mencukupkan tempayan-tempayannya. Ruth tak pernah pulang dengan tangan kosong. Setiap pulang dari pengirikan, Ruth menceritakan kebaikan Boaz pada ibu mertua. Naomi yang mengetahui bahwa Boaz masih saudara suaminya melihatnya sebagai kandidat penebus yang didambakan. 

Ruth sendiri tak pernah berpikir untuk mencari suami. Suaminya baru saja meninggal dan tak ada kesedihan sepedih kehilangan kekasih hati. Namun, ia patuh pada Naomi. Pada malam hari, ia masuk ke tenda Boaz dan duduk di kakinya. Boaz kaget. Namun, ia berkata pada Ruth bahwa hak menebus itu ada pada satu orang lagi, jika orang itu menolak maka hak itu akan jatuh kepadanya. Ruth adalah perempuan baik, maka Boaz menyuruh Ruth untuk tinggal sampai pagi karena tak baik jika ia keluar malam-malam. Keesokan paginya, Boaz memberikan enam jelai untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk Naomi. 


Boaz Casting Barley into Ruth's Veil by Rembrandt (1645)


*** 

Pada bagian ini kita akan mempelajari karakter Boaz. Wahai lelaki, Boaz ini memiliki kekuasaan, tetapi ia tak menggunakannya serampangan. Dicarinya laki-laki yang memiliki hak sebelum dirinya itu. Ditanyainya apakah ia mau menebus pusaka Naomi dan menikahi Ruth. Si Lelaki itu mau saja menebus Naomi, tetapi ia tak mau menikahi Ruth karena akan menodai keturunannya sendiri. Penolakan Lelaki itu dengan langsung memberikan hak bagi Boaz untuk menikahi Ruth. Tentu kita bisa menebak betapa bahagianya Naomi. Tuhan mendatangkan haknya seperti siang hari melalui ketaatan menantunya. Pusaka Naomi pun selamatlah. Kisah Ruth dan Boaz menjadi bukti bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia tak peduli pada identitasmu. Ia tak peduli apakah kamu difabel atau memiliki keterbatasan. Ia tidak peduli sekalipun kamu adalah orang asing di negeri yang jauh. Pertemuan Ruth dan Boaz sudah termaktub dalam rencana-rencana Ilahi. Dari pernikahan Boaz dan Ruth, lahirlah anak laki-laki bernama Obed. Obed kelak memperanakkan Isai. Isai memperanakkan Daud. Dan kelak dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus. 

 ***

Tidak mudah memiliki sikap setia dalam menjalani hidup. Dalam menghadapi tantangan, seringkali kita akan seperti Orpa yang meski awalnya taat, tapi kemudian menyerah karena keadaan. Ketidakpastian dan rasa tidak nyaman kelak membuat kita harus memilih: berhenti atau tetap lanjut. Di tempat kerja misalnya, kita sering mengalami iklim kerja yang tidak mendukung. Kita mendapati ada rekan kerja yang menusuk dari belakang, memfitnah, atau menghalangi-halangi kita untuk maju. Kita punya pilihan untuk mundur, tapi kita juga punya pilihan untuk tetap tinggal. Ruth punya pilihan untuk meninggalkan Naomi, tetapi ia memilih untuk tinggal bersama ibu mertuanya. Tidak hanya itu saja, demi menyelamatkan garis keturunan Naomi, ia menikahi Boaz. Ada pengorbanan disini. 

Kitab Ruth tidak terlalu banyak memberikan gambaran romantisme dalam hubungan mereka. Namun, kita bisa belajar banyak dari kisah Ruth dan Boaz bahwa pertemuan mereka adalah untuk saling menopang. Ruth merasa mendapat "teman" dengan perhatian yang diberikan Boaz yang memastikan jelai-jelainya selalu ada. Ruth merasa "dihibur dan ditenangkan" bahwa hari esok ia masih menyambung hidup bersama mertuanya. Di sisi lain, Boaz menjadi contoh bahwa laki-laki pun tidak selalu terpikat hanya dengan kecantikan atau kepandaian semata. Bayangkan saja jika kau dicintai hanya karena rupa dan latar belakang yang hebat-hebat saja. Ketika hal yang jasmaniah itu merosot seiring dengan berjalannya waktu, apakah kita masih akan dicintai dengan cara yang sama? 

Boaz bisa memilih perempuan mana pun dari kelas yang lebih tinggi dari seorang Ruth. Namun, ternyata kesetiaan Ruth pada mertuanya dan terlebih pada Allah yang justru memesona hati Boaz. Kita kembali diingatkan bahwa karakter seseorang menjadi elemen penting yang tak bisa disepelekan. Karakter kitalah yang menentukan "siapa" kita dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus, maka getarannya pun akan dirasakan oleh siapa saja, seperti Boaz yang tersentuh dengan apa yang Ruth lakukan. 

***

Selamat Hari Valentine.





PS: berdasarkan diskusi dengan dua perempuan teolog: Kak Audra dan June. 

Pengetahuan

Rethinking Sex

Sabtu, Februari 11, 2017


"Many of us learned in high school biology that sex chromosomes determine a baby's sex, full stop: XX means it's a girl; XY means it's a boy. But, on occasion, XX and XY don't tell the whole story." (National Geographic : Gender Revolution, January 2017, p. 51)

Cerita Lagu

Oops...I Did It Again

Senin, Februari 06, 2017

Saya bukan penggemar lagu ini bahkan ketika populer hampir dua puluh tahun lalu. Yang saya ingat, Britney punya cara khas yang membuat lagu Oops...I Did It Again sangat lekat dengan karakternya. Terutama di bagian "yeah....yeah...yeaaahh....". Ada yang lucu pula dalam lagu ini, yaitu ketika si Cowok Astronot memberikan berlian kepada Britney dan Britney bertanya apakah berlian tersebut adalah berlian yang dibuang oleh si wanita tua di lautan. Well, sepertinya yang dia maksud Rose di film Titanic. Ini tipikal kebudayaan pop, saling merujuk hihihi. 




Tapi orang bisa berubah. Sebuah lagu seperti senjata juga, tergantung siapa yang memegangnya. Tadi siang, Zus Tami mengirimkan lagu ini pada saya. Lagu Oops I Did It Again yang sangat melekat dengan Britney berubah warna dari pop ke jazz. Vokal Haley Reinhart, salah satu jebolan American Idol, sukses memberi warna baru. Apalagi pas dia nyanyi di bagian "Oopss...". Seksi sekali. 




Sesungguhnya saya mulai memperhatikan lagu ini sejak menjadi salah satu backsound di serial Grey's Anatomy season 12. Oops..I Did It Again dinyanyikan ulang Freedom Fry secara akustik dan suasananya terasa agak gothic. Ciri khas Britney yang ceria dan bitch berubah menjadi muram dan agak evil. Disitulah, saya mulai melihat lagu ini dengan cara yang berbeda. Saya jadi suka. Betapa memang sesuatu sangat bergantung dengan suasana hati. 



Apapun bentuk covernya, lagu-lagu ini akan mendapat momennya ketika diputar pada suasana yang pas. Versi mana yang Anda lebih suka?