Cerita Lagu

15 Christmas Songs I'd Like To Hear

Sabtu, Desember 12, 2015

Halo Dunia...

Setidaknya dua minggu dari sekarang, Natal sudah tiba. Untuk umat Kristen, empat minggu sebelum Natal adalah masa Adventus/Advent atau penantian. Kalau dianalogikan, masa Advent persis seperti kisah Penelope dan Ullyses. Sejak Ullyses pergi berperang, Penelope selalu menanti Ullyses di tepi laut. Ia tahu Ullyses akan datang meskipun ia tidak tahu kapan. Dalam masa penantiannya, ia  digoda oleh para lelaki dan menteri-menteri yang haus tahta untuk meninggalkan suaminya. Namun, ia tetap teguh menanti suaminya. Pada akhirnya setelah 10 tahun menanti, Ullyses kembali pada Penelope. 

Penantian bukanlah perkara mudah. Kita mengharapkan sesuatu yang kita inginkan terwujud. Setelah kita berusaha, otomatis kita masuk dalam fase menunggu jawaban, apakah iya atau tidak. Kalau jawabannya iya, kita akan berbahagia, tetapi jika tidak, kita harus mengulang semuanya dari awal lagi. Ada orang yang menantikan pekerjaan, ada orang yang menantikan kelahiran anak, ada orang yang menantikan jodoh, ada orang yang menantikan kapan ujian tesisnya dilangsungkan, ada orang yang menunggu visa kerja yang belum keluar dari kedutaan, atau ada orang yang menantikan kapan penyakitnya diangkat dari tubuhnya. Setiap detik adalah masa penantian akan apa yang terjadi selanjutnya. 

Lagu-lagu Natal berikut ini saya rekomendasikan untuk menemanimu menjalani masa penantianmu. Apapun itu. 


15. It's The Most Wonderful Time of The Year - Andy Williams

Lagu-lagu Natal terbagi atas dua kategori. Pertama, lagu-lagu yang bersifat religius dan digunakan dalam ibadah. Lagu-lagu ini biasanya datang dari masa abad pertengahan atau sebelumnya merupakan lagu rakyat. Kedua, lagu-lagu Natal yang lahir dalam kebudayaan populer. Muncul setidaknya sejak industri musik Barat berkembang di awal abad 20. It's The Most Wonderful Time of The Year adalah salah satu lagu Natal yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Amerika, Andy Williams di tahun 1963. Lagu ini paling pas mengawali masa-masa Advent atau menjelang Natal. Musiknya yang grande dan cheerful sukses membawa kita dalam suasana gembira lengkap dengan imitasi momen Natal ala Barat: salju, eggnog, kue jahe, pohon Natal, dan Santa Claus. Beberapa film bertema Natal seperti Surviving Christmas juga menggunakan lagu ini sebagai backsound-nya.




14. Rockin Arroud The Christmas Tree - Brenda Lee

Lagu ini juga dinyanyikan penyanyi legendari Amerika Brenda Lee di tahun 1958. Lagu ini juga jadi backsound di film The Holiday, pas di adegan Cameron Diaz lagi belanja di supermarket di Surrey. Lagu ini juga menghadirkan suasana gembira. Liriknya bercerita tentang momen-momen pada saat Natal. Pohon Natal sebagai penanda Natal. Mistletoe yang tergantung dan membuat banyak pasangan yang berhenti dan berciuman di bawahnya. Namun, lagu ini juga menceritakan sentimental feeling yang hadir pada saat Christmas: apakah feeling dengan keluarga, teman, atau bahkan someone special yang entah dimana.





13. I Saw Mommy Kissing Santa Claus - The Jackson 5

Lagu ini sudah banyak dinyanyikan penyanyi, termasuk The Beatles. Tapi saya paling suka versi The Jackso 5 karena lebih dapat gregetnya. Lagu ini memorable bagi saya sejak masih Sekolah Minggu (yang masuk disini usia balita-SD). Waktu itu kakak-kakak Teruna (tingkatan selanjutnya setelah Sekolah Minggu, biasanya setelah masuk usia SMP-sampai setelah peneguhan Sidi atau usia 17 tahun) yang tergabung dalam Paduan Suara Teruna menyanyikan lagu ini dalam ibadah Natal. Mereka keren banget waktu itu. Selain lagu I Saw Mommy Kissing Santa Claus, mereka juga menyanyikan lagu Oh Happy Day dan I Will Follow Him persis seperti paduan suara remaja di film Sister Act II. Penampilan mereka menjadi perbincangan di gereja. Saya dan teman-teman saya yang masih Sekolah Minggu cuma bisa memble. Sayangnya, saya tidak pernah menyanyikan lagu ini sampai ketika saya masuk Paduan Suara Teruna. Sebagai catatan, kami hanya menyanyikan lagu Oh Happy Day dan di lagu itu saya pernah dipercayakan jadi soloisnya hihihi. 
Oiya, lagu ini ceritanya lucu, bercerita tentang seorang anak yang melihat ibunya mencium Santa Claus (kelak setelah dewasa si anak tahu kalau Santa Claus itu adalah ayahnya hehee..)




12. Oh Christmas Tree - Glee Cast

Lagu ini juga banyak dinyanyikan penyanyi, termasuk penyanyi besar Aretha Franklin. Tapi seperti biasa, saya lebih suka versi Glee Cast yang temponya pas. Biasanya lagu ini temponya lambaaaattt banget. Lagu ini kembali hip di tahun 2010. Saya ingat ponakan saya Blessdy yang waktu itu baru berumur 3 tahun menyanyikan lagu ini untuk acara Natal di playgroupnya. Dan berkat dia, lagu ini menjadi soundtrack sewaktu saya saat merayakan Natal di Ambon.





11. Santa Baby - Eartha Kitt/Glee Cast

Lagu ini juga seangkatan dengan lagu Rockin Arround The Christmas Tree. Dirilis tahun 1953 dan dinyanyikan oleh Eartha Kitt. Santa Baby bercerita tentang seorang perempuan yang menulis daftar hadiah Natal yang mewah kepada Santa Claus. Lagu ini dinyanyikan dengan seksi dan diiringi musik yang jazzy. Kalau mau yang lebih modern, bisa dengarkan juga yang versi Glee Cast. Dua-duanya terasa seksi dan heartwarming.





10. This Christmas - Chris Brown

Lagu ini merupakan soundtrack film This Christmas yang dibintangi juga oleh Chris Brown. Musiknya memang lebih easy listening dan modern. Saya pertama kali mendengarkan lagu ini di Jakarta pada waktu Natal tahun lalu. Lagu ini ada di dalam kompilasi Motown Christmas 2014. Setiap dengar lagu ini saya jadi ingat momen-momen Natal tahun lalu itu bersama keluarga saya disana.





9. All I Want For Christmas Is You - Mariah Carey

Lagu ini selalu jadi lagu Natal yang ada dalam playlist saya. Memang cerita lagunya galau, tapi saya suka karena ada optimisme disana. Mariah Carey menyanyikan lagu ini di tahun 1994 dan sukses bertahan sebagai lagu Natal yang merajai tanggal lagu di dunia. Lagu ini juga sering dinyanyikan ulang oleh penyanyi lain dan muncul sebagai backsound di film-film bertema Natal seperti Love Actually. All I Want For Christmas Is You adalah lagu yang sukses membuat para jomblowan  dn LDR-an bertahan mengharapkan keajaiban cinta bahkan saat Natal. 





8. It's Christmas Time - Smokey Robinson

Sama seperti This Christmas-nya Chris Brown, lagu ini juga saya dengar dalam album Motown Christmas 2014. Di album itu, musiknya lebih fresh dan temponya agak cepat ketimbang versi pertamanya yang dirilis di tahun 1970-an. Oiya, musiknya rada-rada gloomy jadi lebih cocok didengarkan saat malam.





7. Happy Christmas (War is Over) - John Lennon and Yoko Ono

Lagu ini diciptakan oleh John Lennon dan Yoko Ono pada tahun 1971 yang sebenarnya lebih menjurus ke aktivisme mereka saat Perang Vietnam daripada semangat Natalnya. Tapi entah bagaimana, lagu ini tetap dianggap sebagai salah satu lagu Natal (holiday) dan single hits dari John Lennon setelah ia hengkang dari The Beatles.






6. It Came Upon The Midnight Clear - Norah Jones

Lagu Natal ini berasal dari tahun 1800-an. Liriknya memang lebih religius dan biasanya dinyanykan dalam kebaktian. Tapi beberapa penyanyi populer mendaur ulang lagu ini mulai dari Frank Sinatra sampai Norah Jones. Versi dari Norah Jones ini yang paling saya suka karena lebih modern dan temponya pas (versi Frank Sinatra temponya terlalu lambat sementara versi Paul Baloche temponya terlalu cepat). Norah Jones membuat lagu ini lebih easy listening sehingga membuat perasaan kita menjadi heartwarming sekaligus juga jadi mellow. Oiya, kekuatan lagu ini memang di nada-nada minornya. It Came Upon The Midnight pernah muncul jadi backsound di salah satu episode Ally McBeal.





5. Please Come Home For Christmas - Bon Jovi

Lagu ini datang dari era tahun 1960-an dan dinyanyikan oleh penyanyi blues Charles Brown. Lagu ini juga sering didaur ulang oleh banyak penyanyi, termasuk band-band kece seperti Eagles, Bon Jovi, dan Lady Antebellum.





4. It's Gonna Be a Cold Cold Christmas - Dana 

Lagu ini adalah "All I Want For Christmas Is You" tahun 1970-an yang juga mengikuti protonya yaitu Blue Christmas yang dinyanyikan Elvis Presley di tahun 1960-an. Inti lagu-lagu ini adalah: "Natal tuh gak lengkap tanpa kamu, beb...".





3.  I'll Be Home For Christmas - Glee Cast

Lagu ini adalah "Home"-nya Michael Bublè versi Natal. I'll Be Home For Christmas juga merupakan lagu lama yang dirilis tahun 1943 oleh Bing Crosby. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang merindukan rumahnya pada saat Natal. Lagu ini jadi soundtrack Natal saya sewaktu pertama kali pindah ke Jogja. Saat itu dua minggu sebelum Natal, hujan keras pada malam hari, serta setumpuk paper UAS yang harus dipikirkan membuat lagu ini sebagai memori yang tak terlupakan. Lagi-lagi saya suka versi yang dinyanyikan Glee Cast meskipun sudah banyak penyanyi yang mendaur ulang lagu ini.





2. Have Yourself A Merry Little Christmas - James Taylor

Judy Garland mengabadikan lagu ini ketika yang menyanyikannya kepada Margaret O'brien di film Meet Me in St. Louis pada tahun 1943. Lagu yang ditulis Hugh Martin dan Ralph Blane ini dinobatkan sebagai lagu Natal paling sedih sepanjang masa. Sudah tak terhitung berapa penyanyi yang mendaur ulang lagu ini, termasuk Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Michael Bublè, sampai Sam Smith. Tapi saya lebih suka versi yang sederhana seperti yang dinyanyikan James Taylor. Dengan suaranya yang sendu, James Taylor menghidupkan suasana mellow (atau desperate) malam Natal anda.





1. My Grown Up Christmas List - Kelly Clakson

Selama ini Have Yourself A Merry Little Christmas selalu jadi numero uno lagu Natal saya. Tetapi, tahun lalu, posisi itu digantikan dengan lagu My Grown Up Christmas List. Lirik lagunya memang dalam dan unselfishly Christmas wishes. Lagu ini diciptakan oleh David Foster dan (mantan) istrinya Linda Thompson. Saking terinspirasinya dengan lagu ini, saya menuliskan prosa yang dimuat di webzine Revi.us  tahun lalu. Lagu ini mengandung semangat Natal, termasuk kasih yang melampaui segala batas.








P.S.: Untuk Kak Emma, selamat mendengarkan...

Review Buku

Mengenang "Bung": Di Antara Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Kenangan

Kamis, November 19, 2015

photo by  meike



Judul : Buat Bung
Penulis : Bernadetta Diah Aryani
Penerbit: ArkeaBooks
Halaman : 212 hal
Tahun Terbit : 2015


Jatuh cinta datang dengan sepaket persoalan. Ia tak selalu hadir dalam merah muda romansa. Adakalanya jatuh cinta menjelma beban yang menyebabkan subyek yang mencinta jatuh bangun dibuatnya. Siapapun yang sedang jatuh cinta harus bersiap untuk merindu, cemburu, diabaikan, bahkan yang paling pedih yaitu ditolak. Ketika suatu hubungan tidak berlanjut seperti yang diinginkan, maka bersiaplah untuk sebuah perpisahan. Perpisahan itu juga bukan tanpa konsekuensi. Konsekuensi terberat itu adalah kesiapan untuk dilupakan. Namun, bagaimana bila kita tidak bisa melupakan orang yang pernah bersama kita itu? Bagaimana kalau masih ada "sesuatu" yang belum selesai? Bagaimana bila seseorang itu justru mendiami relung hati dan seperti bom waktu menunggu untuk meledak bersama kenangan dan optimisme?

Bernadetta Diah Aryani mengajak kita menelusuri pengalaman pribadi seseorang dalam mengenang sosok yang mendiami hatinya selama bertahun-tahun. Non -terkadang ia dipanggil demikian- tak bisa melupakan seseorang yang ia panggil Bung. Ditulis dalam bentuk prosa dan sebagian dalam bentuk puisi, karya ini tampak seperti antologi yang terpisah yang terbagi atas sembilan bagian besar. Lembar demi lembar memuat satu fragmen dari perasaan Non. Buku ini dimulai dari refleksi Non terhadap sosok Bung. Latar belakang  mengapa ia menuliskan perasaannya itu menjadi pintu gerbang menuju pertemuannya dengan Bung, awal mula hubungan mereka, keretakan hubungan mereka, perpisahan, dan terakhir derita kenangan yang dialami Non. Ada kalanya beberapa tulisan memuat perspektif dari Bung. Saya membacanya dengan hati-hati untuk menjaga spirit dari karya ini secara keseluruhan.

Bernadetta menyajikan kegalauan Non seperti lagu yang memiliki tempo naik-turun. Seperti lagu yang menghentak, ia begitu kuat menggambarkan kegalauan Non di awal cerita. Lalu perlahan ritmenya menjadi lambat seperti di lagu-lagu bertempo slow. Pembaca dibuai dengan irama slow buku ini dan tanpa disadari, Bernadetta mengejutkan pembaca pada hentakan-hentakan irama yang terkandung dalam sebab-musabab dan rahasia percintaan antara Non dan Bung. Anda harus teliti membacanya untuk mendapatkan kejutan-kejutan itu. Dialog-dialog antara Non dengan Bung juga menjadi kunci dalam cerita ini. Di akhir tulisan, pembaca diajak menyelami perasaan Non yang harus survive. Sesungguhnya, Non seperti seorang teman yang sedang curhat kepada kita. Kita diperkenankan mendengarkan segala pergumulannya akan cinta dan kenangannya. Non telah mewakili banyak orang di luar sana yang memiliki sosok yang tersimpan dalam ruang khusus di dalam hati dan tak pernah hilang dari ingatan.

"Dia masih mengingat Anda, Bung. Sejuta kenangan yang dijanjikan pria itu, dia yakini tak dapat menghilangkan jejak-jejak Anda, Bung. Jejak Anda tak akan pernah hilang. Mungkin sedikit akan menjadi kabur dari waktu ke waktu, tapi dia tahu bahwa semua kenangan itu tak akan hilang." (Buat Bung, hal. 192)

Walaupun samar-samar, buku ini juga menyajikan suatu konsep tentang penerimaan dan juga kekuatan dalam mencintai seseorang tanpa harus memilikinya. Kisah ini tidak mengobral kegalauan secara seronok, sebaliknya kepiawaian Bernadetta menulis membuat kegalauan itu terasa puitis dan elegan. Hal ini tampaknya didukung dengan latar belakang Bernadetta yang mantan jurnalis Reader's Digest Indonesia yang sekarang juga menjadi dosen di Universitas Bina Nusantara. Ia mampu menghidupkan karakter Bung meskipun miskin deskripsi detail. Siapapun yang membacanya pasti sepakat bahwa tokoh Bung sangat hidup dan (mungkin) berasal dari orang nyata di luar sana. Novel ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang mengalami pergumulan yang sama dengan Non, mereka yang terjebak di antara jatuh cinta, patah hati, dan kenangan.






Note:
kalau mau pesan bisa langsung ke ArkeaBooks atau kunjungi websitenya di BuatMantan.com

5DaysBlogChallenge

[Day 5: Letter to Yourself] Liebe Meike, ...

Selasa, November 17, 2015

Liebe Meike, 

Malam ini kau sulit tidur padahal dalam 4 jam lagi kau akan mengikuti kelas yang membahas pemikiran Foucault.Untuk mengundang kantuk, kau berusaha menyelesaikan novel terakhir Paulo Coelho yang kau beli, Adultery. Buku itu memang menceritakan tentang peristiwa yang belum kau alami. Tapi, kau tahu sendiri dalam riset tesismu yang kau lakukan, sebuah novel dapat memberi gambaran terhadap suatu peristiwa yang mungkin akan dialami pembacanya. Kisah yang dibaca pembaca sebelumnya dalam novel akan memberi perasaan familiar terhadap peristiwa serupa. Jadi, jika di masa mendatang kau menjadi Linda, kau sudah bisa mengantisipasi perasaan dan situasi tersebut.

Beberapa jam sebelumnya, kau juga membaca berbagai postingan satu-dua teman perempuanmu yang khawatir akan pernikahan. Mereka takut tidak akan mendapatkan pasangan. Mereka takut akan hidup sendiri, menjadi perawan tua, dan mati kesepian. Kau gemas pada mereka. Kau ingin berteriak pada mereka bahwa menjadi single bukanlah sebuah horor. Kau ingin bilang bahwa eksistensi perempuan tidaklah diukur dari ada tidaknya laki-laki yang menjadi pasangan mereka. Kau ingin bilang bahwa pernikahan seharusnya tidak menjadi ajang lomba lari. Kau ingin menjelaskan pernikahan harusnya menjadi persatuan dua manusia untuk hidup bersama dengan bertanggung jawab dan didasari cinta kasih. Kau ingin meneriakkan justru bersama dengan orang yang salah adalah sebuah horor dan bukannya karena untuk sementara kau masih sendiri. Tapi apa daya, kau harus memahami dan menahan diri. Mereka seumpama anak kecil yang mengetahui warna pelangi dari sebuah lagu anak-anak. Mereka tidak tahu bahwa selain merah, kuning, dan hijau juga terdapat jingga, biru, nila, dan ungu. 

Paulo Coelho rupanya sepakat. Di halaman 245, ia menulis:

What is really contagious is fear, the costant fear of never finding someone to accompany us to the end of our days. And in the name of this fear we are capable of doing anything, including accepting the wrong person and convincing ourselves that he or she's the one, the only one, who God has placed in our path. 

Lucu ya. Di buku ini kau menemukan beberapa argumen dan pemikiranmu yang sebelumnya tidak pernah kau ceritakan pada orang lain. Well, kau berencana menulisnya di blog tapi tulisan itu tampaknya sangat berat. Tulisan itu adalah dugaanmu terhadap penyebab kekosongan yang diderita manusia. Kau merasa Paulo Coelho mengafirmasi pemikiranmu. Bahkan kau punya pemikiran yang serupa. Dan kau terkejut, karena Paulo Coelho sudah kenyang makan asam garam kehidupan, sementara kau miskin pengalaman. Kau telah mengalami apa yang disebut Einstein sebagai lompatan quantum. Tapi biarlah kita menyebutnya sebagai kebetulan saja. 

Liebe Meike,
Seperti manusia mana pun di dunia. Kau pun mendambakan pasangan. Tetapi, itu bukan lagi satu-satunya tujuanmu. Kau mulai mempertanyakan apa tujuan Tuhan menciptakanmu ke dunia? Apakah kau hanya ingin hidup untuk dirimu sendiri atau untuk orang lain?. Kau memutuskan menjadi seorang guru. Tetapi ketika kau mengintip ke dunia itu, kau merasa tidak layak. Kau merasa belum pantas. Maka, kau ingin terus sekolah dan belajar. Kau menginginkan pengetahuan seperti Ibu kita Hawa menginginkan buah Pengetahuan. Kau tidak takut akan konsekuensi diusir dari Taman "Rumah Tangga" Eden untuk sementara waktu. Ular adalah penyelamatmu. Ia menawarimu kesempatan membuka mata untuk melihat dunia dan bertemu banyak orang. Ular menawarkanmu petualangan mengunjungi negeri-negeri jauh, pengalaman-pengalaman menakjubkan, dan kebersamaan dengan orang-orang yang tak pernah kau duga akan kau temui nanti di perjalanan. Kau memiliki cita-cita dan kau khawatir The Wrong Adam akan menjadi batu sandungan untuk menggapai cita-citamu itu. Kau berdoa untuk sebuah cinta dan masa depan yang penuh harapan.

Ingatlah ini, ketika di masa depan kau menghadapi dilema yang membuatmu harus memilih. 



Viele Liebe Grüβe,

deine Meike

5DaysBlogChallenge

[Day 4: One Important Person] Karena Semua Orang Itu Penting

Senin, November 09, 2015

Maafkan saya yang baru kali ini lama untuk meng-update blog, apalagi menjawab tantangan dari sodari Alvidha. Semoga ia masih menantikan kelanjutannya. Sejujurnya tantangan keempat terasa berat. Karena saya tidak bisa memilih siapa satu orang yang penting dalam hidup saya. Pertama, saya anak tunggal. Jika saya hanya menulis ayah saja, maka ibu saya akan sedih. Kalau saya menulis ibu, maka ayah saya akan cemburu. Kedua orang tua saya adalah orang-orang terpenting dalam hidup saya. Tapi kan soal tantangannya harus satu orang. Orang yang menikah dan berumahtangga akan memilih pasangannya atau anaknya. Kebetulan saya belum bersuami dan belum beranak-pinak. Dan saya pikir menomorsatukan pacar yang belum tentu berakhir di pelaminan sungguh adalah tindakan yang sangat takabur. 

Kalau saya punya saudara, mungkin saya akan menuliskan tentang adik yang tak pernah saya miliki itu. Tapi saya tidak yakin akan menyukai mereka. Secara biologis, kalau saya punya adik perempuan, maka adik tersebut akan lebih cantik, lebih tinggi, dan mungkin lebih pintar. Ah, mungkin adik laki-laki. Tapi kok yah saya gak rela punya adik. Selama ini perhatian dunia tercurah pada saya. Kalau saya punya adik, maka saya harus membaginya dengan si adik. Hmmm....

Bagaimana keluarga? Keluarga saya seperti kisah dalam Mahabharata. Bukan karena tragedinya, tapi karena tokoh-tokohnya tidak pernah luput dari kesalahan. Sebaik apapun mereka, seberapa favoritnya pun mereka. In the end, they're all human and human do mistakes. Lagipula, memfavoritkan salah satu di antara mereka juga bukan perbuatan yang adil karena mereka memiliki kebaikannya masing-masing.

Ketidakadilan. Nah, sepertinya itu masalahnya. Bayangkan, ada manusia yang dipilih menjadi yang "ter" diantara yang lain. Kalau kau yang terpilih sih mungkin enak di elu, tapi bagaimana dengan yang tidak terpilih? yang diabaikan itu? Saya jadi ingat toga kelulusan saya. Lulusan cum laude mengenakan toga yang berbeda dengan yang lulus dengan predikat sangat memuaskan dan lain-lain. Toga tersebut memiliki bis kuning di dada dan lengannya. Siapapun yang kuliah di kampus saya pasti tahu bahwa yang toganya berbeda itu adalah lulusan cum laude sementara yang toganya polos hitam berarti bukan lulusan cum laude. Di satu sisi, toga cum laude adalah bentuk apresiasi terhadap mereka yang memiliki prestasi akademik cemerlang. Tetapi di sisi lain, toga cum laude telah membuat perbedaan sekaligus menciptakan iri hati dan kesedihan. Saya memang mengenakan toga cum laude, tapi saya memikirkan teman-teman saya dan orang lain yang mengenakan toga biasa. Betapa terasa ada pembedaan. Dan pembedaan kadang menganggu rasa keadilan.  

Oleh sebab itu, bagi saya siapapun mereka, memiliki hubungan darah atau tidak, adalah orang-orang yang penting. Mereka harus diperlakukan dengan secara manusiawi. Yah, kecuali saya memutuskan tidak berteman dengan mereka dengan alasan tertentu misalnya ada yang memiliki masalah kejiwaan atau orang jahat yang menciptakan penderitaan pada saya atau orang lain. Mungkin memang ada favoritisme karena ada yang lebih dekat dengan kita dibandingkan yang lain, tapi itu bukan menjadi pengesahan kita memperlakukan orang secara berbeda-beda. Kalau kita bisa, kalau kita mau, semua orang bisa menjadi "important" bagi kita. 

Tapi, kalau dipaksa harus memilih lagi, maka saya akan memilih Dia yang kepadanya segala sembah dan syukur untuk dipanjatkan.

Dia...


5DaysBlogChallenge

[Day 3: Post One Photo & Explaine it] Biar Kuceritakan Tentang MerekaKepadamu

Selasa, Oktober 13, 2015

foto: meike



Pasar Triwindu di kota Solo adalah salah satu pasar barang antik yang memiliki koleksi bagus-bagus di negeri ini. Seorang senior saya yang menjadi designer interior untuk salah satu cafe kece di Makassar bahkan membeli beberapa perabotannya disini. Di antara tumpukan barang-barang antik itu, terselip tumpukan foto-foto tua yang entah darimana asalnya. Mereka terkubur di antara barang-barang bekas pakai yang sudah melampaui zaman, setidaknya berbagai zaman politik di Indonesia. Saya bertanya-tanya dalam hati darimana penjualnya mendapatkan foto-foto ini? Keluarga mana yang tega menelantarkan kenangan-kenangan dalam foto-foto itu? Di antara tumpukan poster, kursi-kursi ukir yang terbuat dari besi dan kayu, telepon tempo dulu, lampu gantung zaman beheula, gramophone, perkakas dapur, sampai aneka perhiasan tusuk konde dan bros pemikat kebaya, foto-foto itu diam membisu sambil menantikan siapa saja yang tertarik membeli mereka.


***

Sebelumnya saya tak tahu kalau ada foto-foto tua yang dijual. Penjual di salah satu gerai yang menjual foto-foto itu yang menawari saya. "Ayo Mbak beli foto orang-orang dulu," begitulah katanya. Dasar saya makhluk terjebak masa lalu, saya menghamipiri gerai itu dan mulai mencermati foto demi foto. Sambil melihat-lihat foto yang kira-kira menarik hati, saya jadi teringat sebuah film yang salah satu adegannya juga menampilkan foto-foto tua seperti ini dijual di loakan. Saya lupa judul filmnya. Film itu tampaknya bercerita tentang seorang perempuan penipu yang membeli satu foto seorang perempuan cantik dan mengatakan bahwa itu adalah ibunya untuk mendapatkan simpati si Orang Kaya yang akan ditipunya. Saya toh tak sedang main film dan tak ada orang kaya untuk ditipu. Namun, foto-foto tua itu meskipun kadang tak jelas juga apa yang difoto sungguh menghadirkan perasaan ekstasi. Mungkin beginilah perasaan arkeolog atau filolog yang menemukan artefak atau manuskrip tua yang terkubur ratusan bahkan ribuan tahun.

Foto-foto tua itu dicetak hitam putih pada kertas yang kadang-kadang bergerigi. Beberapa sudah tak jelas warna dan obyeknya. Tanganmu akan terasa kasar karena debu yang menepel disana. Kumpulan foto tua itu dijual dengan berbagai variasi harga. Harga standarnya Rp.5000/foto kalau fotonya masih bagus atau orang-orangnya kece biasanya dijual lebih mahal lagi. Saya pernah kepincut satu foto seorang laki-laki yang tampangnya ganteng banget. Wajahnya mengingatkan saya pada Marlon Brando waktu masih muda. Ia memakai setelah jas. Rambutnya tersisir rapi. Marlon Brando versi Indonesia ini matanya tak menatap ke kamera melainkan agak serong. Tampaknya style foto yang dominan di era itu. Penjualnya menghargainya sampai Rp.20.000. Saya menawar sampai harga standar tetapi si penjual tetap kekeuh tidak mau menurunkan harganya. Karena jengkel dengan penjualnya, saya tak jadi membeli foto itu meskipun sudah jatuh sayang pada lelaki dalam foto itu. 

Foto-foto itu datang dari berbagai zaman. Dilihat dari jenis kertas dan kualitas gambarnya sepertinya datang dari tahun 1940-1970. Foto-foto tua itu mengingatkan saya pada foto-foto tua dalam album keluarga saya. Oma menyimpan beberapa album bersampul kulit yang berisi foto-foto keluarga kami. Dan sungguh ia sangat berhati-hati memperlihatkannya pada saya yang waktu itu masih kecil. Ia menyimpan album-album itu. Begitu rahasianya sampai hilang tersapu waktu dan ingatan. Album foto itu entah dimana. 

Sambil memilih-milih foto, saya mempelajari kehidupan orang dulu-dulu melalui foto-foto itu. Ada pas foto, ada foto angkatan, ada foto kawinan, ada foto rapat, ada foto pribadi dengan aneka gaya sampai ada foto benda-benda. Untuk foto gaya-gaya, tampaknya orang dulu-dulu lebih senang diprotret secara candid atau matanya tidak bertatapan dengan kamera. Biasanya foto tersebut diambil dengan menggunakan kamera pribadi. Kalau mereka menghadap kamera biasanya dilakukan di studio foto. Saya menemukan satu foto keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan bayi mereka. Itu adalah foto favorit saya. Mereka terlihat berbahagia. Di belakang foto itu hanya ada nama tanpa tahun. Nama-nama itu ditulis dengan tulisan tangan khas generasi baby boomers. Nama-namanya adalah Rita Sahara, Eddy Soegito, dan Tantri. Tampaknya Rita dan Eddy adalah pasangan suami istri dan Tantri adalah bayi di foto itu. Ada garis mendatar setelah nama Tantri. Sepertinya pasangan ini belum selesai memberi nama untuk bayi mereka. Kalau ada yang membaca blog ini dan mengenal keluarga ini, tolong sampaikan bahwa saya ingin memberikan foto ini pada mereka. Lalu ada foto pengantin yang difoto dengan model mirorr. Pengantin pria-nya mengingatkan pada Presiden kita hehehe...Ada pula foto dokumentasi kegiatan yang tampaknya seperti Sekolah Minggu. Anehnya, saya merasa salah satu anak perempuan yang ada di foto itu mirip dengan saya sewaktu masih kecil Selain foto-foto tua, saya juga membeli satu postcard yang datang dari tahun 1965 buatan Praha. Kartu pos itu dijual seharga Rp.23.000. Secara sinkronisitas, saya juga baru saja mendapatkan kartu pos dari teman saya Dilla yang baru pulang dari Praha.

Pertanyaan tentang asal foto-foto ini masih belum terjawab. Tampaknya bukan cuma di Indonesia saja karena film barat yang saya tonton itu juga melakukan proses dagang yang sama. Apakah ada keluarga atau keturunannya yang sengaja membuangnya dan dipungut oleh pemulung dan pemulung menjualnya di pasar loak? Apakah memang ada keluarga yang memang tega menjualnya? Apakah foto-foto ini awalnya tersimpan di gudang sebuah rumah tua yang dijual dan pemilik yang baru menemukan dan menjualnya ke loakan? Mungkinkah foto-foto ini dijarah pada kerusuhan 98? Tidak sedikit saya menemukan foto-foto dari keluarga Tionghoa di antara tumpukan itu. Kemungkinan-kemungkinan ini masih bisa bertambah dan saya belum menemukan jawaban yang pasti. Paling tidak untuk sementara, biarkan saja kita menikmati kenangan  dari orang-orang yang berada dalam foto-foto itu. Mungkin mereka masih hidup. Mungkin mereka sudah meninggal. Maka, biarkanlah waktu yang menghubungkan kita seperti ketika waktu juga yang memisahkan kita.


PS: anyway, ini fotonya terhitung satu kan...? hahhaaa....

5DaysBlogChallenge

[Day 2: Your Feeling Today] 4 Fase? Hmmmm....

Rabu, Oktober 07, 2015

www.tumblr.com



#NowPlaying Mocca - Happy


Butuh dua hari kontemplasi untuk menjawab tantangan ke-2 ini. Entah apa yang merasuki Alvidha sehingga memasukkan pertanyaan tentang "bagaimana perasaanmu hari ini" ke dalam tantangan blognya. Saya membayangkan dia duduk dengan memakai jas putih ala dokter sambil sesekali memperbaiki letak jilbabnya yang bersahaja. Laksana psikiater atau psikolog, ia menatap pasiennya dengan penuh perhatian sambil memegang buku notes tanpa garis-garis kesukaannya untuk sesekali digambari ultraman atau alter ego-nya kalau ia sudah bosan. Kita yang ditantang untuk menulis blog ini-lah pasiennya.

Alih-alih mengingat "bagaimana perasaan saya hari ini" (yang terakumulasi dari beberapa hari sebelumnya), saya malah teringat pada agenda bonus majalah Gadis di sekitar awal tahun 2000-an. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP. Agenda itu menarik karena tidak hanya berisi lembar-lembar untuk mencatat PR dan tugas-tugas sekolah, tetapi juga berisi kolom emosi dan pengetahuan tentang kesehatan dan astrologi. Kolom emosi itu yang paling menarik buat saya. Setiap kolom berisi gambar emoticon yang menggambarkan perasaan seseorang dengan skala: gembira, senang, biasa saja, marah, sampai sedih. Semakin ke atas, emosinya semakin positif, sebaliknya semakin ke bawah, emosinya semakin negatif. Setiap hari sepanjang tahun, kita diajak untuk memberi lingkaran penuh (dot) pada salah satu kolom-kolom itu. Tidak boleh lebih dari satu tanda dot. Di akhir bulan, kita akan menarik garis mengikuti setiap dot yang kita isi pada kolom-kolom emosi itu. Hasilnya, akan tergambar kurva yang menggambarkan emosi kita dalam sebulan. Well, ada masa-masa di mana emosi saya dominan berada di area negatif. 

Dalam menyangkut perasaan, tampaknya manusia akan berada dalam empat fase. Saya tidak tahu istilah ilmiahnya tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai fase berjuang, fase menikmati, fase menunggu, dan fase merana. Fase Berjuang adalah keadaan yang menempatkan kita untuk berjuang menggapai tujuan. Entah itu belajar di sekolah; proses menulis, bimbingan, sampai mengurus berkas untuk ujian skripsi/tesis/disertasi; belajar bahasa asing bagi mereka yang ingin sekolah ke luar negeri; orang-orang yang sedang berjuang dalam setiap karir yang mereka geluti; mereka yang berusaha menjadi orang terkenal; sampai mereka yang sedang berusaha membuat pujaan hatinya membalas perasaannya. Oh, fase ini sangat berat. Seperti berada dalam medan peperangan. Kita tidak tahu siapa musuh dan kawan. Kita tidak boleh lengah, karena setiap saat kita bisa dikalahkan. Musuh utama adalah diri sendiri. Musuh berat berikutnya adalah lingkungan internal: entah keluarga, teman, atau pacar yang berusaha menghalangi kita menggapai tujuan. Musuh ketiga adalah lingkungan eksternal yaitu orang-orang atau kelompok luar yang menghambat kita. Dalam fase ini, kita butuh strategi perang yang jitu untuk bertahan hidup. Semua perjuangan itu bermuara pada kemenangan yaitu setiaip tujuan yang kita harapkan. 

Ketika kita berhasil menggapai kemenangan, maka pintu fase kedua akan dibukakan: Fase Menikmati. Ini masanya bersenang-senang. Kita menikmati hidup sampai berat badan kita naik hihii. Pokoknya perasaan bahagia. Tantangan tetap ada tapi tidak mengancam -menggunakan istilah TNI- stabilitas keamanan nasional. Ini adalah masa-masa happy. Maka, nikmatilah. 

Tentu tidak selamanya orang bahagia. Ada fase di mana manusia berada pada keadaan yang berada di area abu-abu. Tidak senang, tidak juga merana. Ini adalah fase yang tricky. Fase ini adalah Fase Menunggu. Fase ini kerap kali membuat galau karena tidak tahu harus dirayakan dengan tawa atau air mata. Di kolom emosi, tanda dot berada pada garis senyum datar. Iman manusia diuji. Harapannya digantung. Seolah-olah Tuhan bekerja begitu lamban. Fase ini familiar dengan orang yang bersabar menunggu pengumuman beasiswa atau kerja yang tak jelas waktunya, menunggu dilamar kekasih, menunggu hadirnya belahan jiwa, menunggu kelahiran anak, menunggu kematian, sampai menunggu asap di Kalimantan berubah menjadi udara jernih. Kunci bertahan pada fase menunggu adalah kesabaran dan penerimaan. Fase ini mengajarkan kita untuk bersabar pada waktu dan menerima ketidakpastian. Saya berada dalam fase menunggu saat ini.  

Fase Merana adalah fase yang gelap. Jangan takut dan malu mengakui bahwa kita berada pada fase ini. Fase merana membuat cahaya dan harapan kita meredup. Banyak orang menutup dirinya ketika berada dalam fase ini. Sebagian merasa bahwa fase merana adalah tempat bagi orang-orang yang kalah. Fase merana adalah tanda kelemahan. Maka banyak orang berbondong-bondong mengingkari kelemahannya. Mengingkari bahwa mereka lemah dan tak berdaya. Padahal lemah dan tak berdaya adalah sifat hakikat manusia juga. Karena kalau kita kuat dan perkasa kita bukanlah manusia tetapi yang disebut orang beragama sebagai Tuhan. Mengingkari diri bahwa kita terluka sama saja dengan mengingkari kemanusiaan kita. Tak ada orang yang terlahir kuat, kita hanya selalu berusaha menguatkan dan menegarkan diri. Maka, seperti kata Ibu kita Kartini, "Habis gelap terbitlah terang". Karena cahaya dan pengharapan lahir dari kegelapan dan keputusasaan. 

Di fase manakah kamu?

5DaysBlogChallenge

[Day 1: Favorite Things] 6 Suasana Favorit dalam Hidup Saya

Minggu, Oktober 04, 2015

Sejujurnya saya bingung mau menuliskan apa. Ada banyak hal-hal yang masuk dalam kategori “favorite things”. Mulanya saya ingin mereview buku, lagu, atau film kesukaan. Tapi masalahnya, ada lebih dari 1 judul buku, film, dan lagu yang saya sukai. Sangat berat memutuskan mana yang “paling” saya sukai dari hal-hal tersebut karena saya menyukai semuanya. Setiap film, lagu, atau buku memiliki keunikan dan kenangannya sendiri-sendiri. Oleh sebab itu saya memilih suasana yang paling saya sukai. Setidaknya lebih mudah dikategorikan dan tidak terlalu banyak.  


1. Suasana saat mendengarkan lagu-lagu lama. 



pic from www.slate.com


Ohhh..itu surga sekali. Lagu-lagu itu telah menyentuh kedalaman diri kita. Ada suatu kedamaian yang sulit dinalarkan. Kita seperti terikat dengan memori dari lagu-lagu itu yang mungkin kisahnya belum pernah kita alami sebelumnya. Kadang saya merasa perasaan itu tertransfer dari memori kolektif orang-orang yang mendengarkan lagu-lagu itu sebelumnya kepada generasi sesudahnya. Selain itu, perasaan itu mungkin dipicu dari lirik dan melodi yang menjadi alat transenden kenangan yang tersimpan dalam lagu-lagu itu. Jika kau peka dan membuka diri serta tidak menganggap lagu-lagu itu kuno dan kampungan, lagu-lagu itu merasukimu sampai ke relung hati yang tak kau ketahui. Kau akan menemukan suatu perasaan magis yang bercampur dengan kenanganmu sendiri dan hal itu sanggup membuatmu meneteskan air mata. 


2. Foodgasm 



Saya sesungguhnya bingung memasukkan foodgasm sebagai suasana atau sesuatu, yang jelas saya senang sekali kalau mengalami hal ini. Foodgasm (food and orgasm) adalah kenikmatan yang kita peroleh ketika memakan suatu makanan yang disukai atau enak sekali. Seperti orgasme pada hubungan seksual, foodgasm juga terjadi dalam waktu yang singkat, meskipun makannya lama cyn hehe... Foodgasm adalah peristiwa yang berpusat antara dirimu dan obyek yang memberimu kenikmatan. Waktu terasa berhenti tetapi di saat yang sama juga terasa berjalan cepat. Suatu keadaan yang nisbi, kadang-kadang tak beraturan, dan nikmat. Hal itu juga membuatmu kacau dan sedih jika berakhir. Foodgasm biasanya terjadi ketika makanan itu akan habis atau kau memakan bagian yang dirasa lidahmu adalah yang terenak. Foodgasm tidak identik dengan makanan mahal. Sepiring nasi hangat dengan sayur bayam yang dicampur jagung, disajikan dengan ikan layang kecil yang digoreng kering, plus sambel terasi sudah cukup membuat saya melayang. Suasana yang tepat misalnya kebersamaan atau rasa lapar tak tertahankan bisa menjadi pemicunya.


3. Suasana pada saat sore menjelang senja 

menanti senja dengan teman-teman saya di Gili Trawangan


Ini suasana yang saya sukai sekaligus membuat saya takut. Ada pergantian waktu dari terang menuju gelap yang biasanya diselipi angin sepoi-sepoi yang membuat hati kita jadi hangat dan kadang-kadang oleh orang-orang tertentu menjadi suasana ritual memanggil masa lalu. Tapi juga membuat saya ngeri dan merinding. Kadang-kadang saya merasa takut terhisap oleh paranoia dan waktu peralihan itu. Entah mengapa. 
Biasanya suasana ini menyenangkan ketika kita berada di pantai yang mengarah ke laut lepas, pantai di sebuah pulau, suasana dari ketinggian (bisa gedung, bisa daratan tinggi) sambil memandang pemandangan di bawahnya, atau duduk di depan teras rumah sambil melihat orang lalu-lalang. Mungkin suasana ini juga yang menginspirasi orang-orang Barat yang kemudian dibawa orang Belanda ke Indonesia untuk melakukan tradisi minum teh sore-sore sambil makan roti gula atau biskuit. 


4. Suasana Menjelang Natal 

pic from www.images20.com


Suasana menjelang Natal bagi saya dimulai pada minggu kedua Desember. Biasanya akan ditandai dengan diputarnya lagu-lagu Natal. Saya paling suka mendengarkan lagu-lagu Natal sore-sore pas hujan. Saya juga suka ketika sedang berbelanja di Mall atau supermarket dan tokonya memutarkan lagu-lagu Natal. Bagi saya, Malam Natal selalu terasa lebih istimewa daripada waktu hari Natalnya sendiri. Pada hari Natal waktu terasa cepat berlalu. Kau akan lebih sering menerima tamu atau berkunjung daripada merenung. Seperti ada perasaan magis dalam masa penantian. Masa untuk menanti sebuah kedatangan. Perasaan misteri yang sekiranya seperti ketika kau sedang menanti kedatangan seseorang di bandara. Ada harap-harap cemas sekaligus damba. Ada rasa tak sabaran. Ada rindu dan melankoli. Biasanya, di malam itu orang sedang sibuk antara menyiapkan jamuan untuk esok hari, berdoa ke Gereja, atau menikmati acara-acara TV yang everlasting. Sesuatu yang everlasting biasanya juga menghangatkan hati. Sampai saat ini, saya masih berharap untuk tidak perlu bertemu polisi-polisi dengan senjata dan pemeriksaan ketat pada saat akan mengikuti misa Malam Natal. Mau dibilang terganggu jelas, tetapi kita tidak bisa protes karena karena hal itu dilakukan untuk kebaikan umat atau tepatnya mengantisipasi penyerangan bom yang dipicu peristiwa pengebomam Gereja di Malam Natal beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, tujuan kebaikan seperti itu justru menghadirkan perasaan khawatir sekaligus aman disaat yang bersamaan. Adakalanya, ketika pikiran saya sedang berada pada area negatif, saya takut sewaktu-waktu saya tidak berhasil menemui yang saya nantikan. 


5. Suasana malam di Jogja 

Jogja, setiap sudut menyimpan kenangan


Suasana malam di Jogja adalah suasana nostalgia. Di setiap sudutnya terdapat kenangan, selain tentu saja di kota itu juga banyak terjadi peristiwa bersejarah. Kenangan-kenangan bahagia menjadi abadi sehingga orang-orang ingin datang lagi ke kota ini. Namun, ada juga suatu melankoli yang menyihir orang untuk nyaman dengan kenangan-kenangan yang membuat sedih. Suasana malam disana tidak membuat kenangan sedih menjadi hal yang menyedihkan atau memalukan, tetapi sebaliknya kenangan itu justru bertransformasi menjadi perasaan optimis dan penerimaan (nrimo) yang tak disangka-sangka. Mungkin itulah sebabnya Katon Bagaskara menciptakan lagu Yogyakarta, Doel Sumbang menciptakan lagu Malioboro, Shaggy Dog menulis lagu Sayidan, dan Ismail Marzuki menciptakan lagu Sepasang Mata Bola
Pernah suatu ketika saya jalan-jalan ke Malioboro setelah melakukan perjalanan yang mempertemukan saya dengan pujaan hati yang sudah tak bertemu sekian tahun. Waktu itu saya sedang melankolis mengingat entah kapan lagi kami akan berpapasan jalan hidup. Apalagi pertemuan terakhir itu mengisyaratkan pupusnya harapan untuk bertemu kembali. Sambil menunggu antrian membeli es krim di gerai McDonald yang berada di luar Mall Malioboro, saya menonton pertunjukkan seniman-senian jalanan yang memainkan angklung dan alat-alat musik perkusi sederhana lainnya. Saya teringat dia tanpa berharap dia repot-repot mengingat saya. Tepat ketika itu, setelah memainkan berbagai macam lagu dangdut dan campursari, mereka memainkan lagu Farid Harja yang berjudul Ini Rindu. Kalau kamu jadi saya, bagaimana perasaanmu? 


6. Suasana ketika ngobrol dengan orang yang nyambung dan menyenangkan 
Saya suka sekali suasana ketika sedang ngobrol dengan orang-orang yang nyambung. Atmosfernya itu menyenangkan. Kau seperti merasa "akhirnya ada yang mengerti dirimu" atau "ada yang menerimamu". Kau seperti buku langka yang akhirya bertemu dengan kolektor yang juga mencarimu kemana-mana. Rasanya waktu berjalan cepat sekali dan kita merasa “Loh, kok gak kerasa ya?”. Tidak peduli apakah waktu itu kami sedang menunggu angkot di halte atau duduk di kantin yang kebersihannya diragukan. Kita sangguh tahan berbicara apa saja meskipun bau busuk sampah tak terurai masuk ke dalam mulut. Adakalanya pula kita berbincang di tempat yang bagus. Café dengan desain interior yang menarik. Suasana nyaman ruang ber-AC di tengah cuaca tropis yang membuat gerah. Di manapun tempatnya, ketika waktunya tepat dan bertemu orang yang nyambung rasanya sangat luar biasa menyenangkan. Sayangnya, kau bisa kecanduan untuk bertemu lagi dan lagi. Kau juga bisa diliputi rasa sedih ketika waktu dan aktivitas memisahkan pembicaraan itu. Ya, mau bagaimana lagi: ada waktu untuk bertemu, ada waktu untuk berpisah.




PS: seiring bertambahnya umur, daftar ini  akan terus bertambah

5DaysBlogChallenge

5 Days Blog Challenge From Alvidha

Jumat, Oktober 02, 2015





Dear Alvidha
Setelah bertapa naik gunung turun lembah, akhirnya saya memutuskan menjawab tantangan blog darimu. Dalam 5 hari ke depan, saya akan menulis postingan sesuai daftar yang kamu berikan. Mari kita berdoa, semoga daku tak terhalang oleh banyaknya janji temu dan kemalasan. 

Don't miss it :)

Life Story

Pernikahan Perak

Selasa, September 08, 2015

jalannya tidak selalu dapat ia ketahui
bahasanya tidak selalu ia pahami
pikirannya juga tidak mudah untuk dimengerti
ada masa ketika tak ada kata "sepakat"
namun ada kalanya "sepakat" tidak dibutuhkan lagi
karena mereka sehati
karena mereka sejiwa

memang tidak mudah berjalan bersama
namun tidak mudah melepaskan genggaman tangan
ada kalanya kesusahan menyerang
ada kalanya putus asa menggoda 
tetapi sukacita tetap ada
dan tawa itu senantiasa menghiasi
wajah-wajah yang juga dihinggapi air mata
ada dedikasi
ada pengorbanan
tak ada pernikahan yang sempurna
tak ada pasangan yang sempurna
tak ada suami yang sempurna
tak ada istri yang sempurna
tak ada anak yang sempurna
sempurna adalah harapan
dan kita semua berusaha menjadi





Untuk orang tua saya yang sampai di usia 25 tahun pernikahan....



Love Story

Aston

Jumat, September 04, 2015

sumber foto : weheartit.com



Jadi ceritanya begini. 


Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP. Mami baru saja membeli album kompilasi berjudul Alone. Di dalam album itu ada lagu Lovefool dari The CardigansThe First Cut is The Deepest-nya Sheryl Crow, Songbird versi Eva Cassidy, dan Easy-nya Lionel Richie. Sampul album itu juga se-gloomy judul albumnya, berwarna ungu violet dengan gambar boneka Teddy Bear berekspresi muram. Album itu dan foto Wang Lee Hom di majalah Gadis adalah penyebab terciptanya khayalan bernama Aston. 

Aston berwajah Wang Lee Hom, tinggal di jalan Pengayoman, dan kuliah jurusan Arsitektur di Unhas. Ia adalah pacar khayalan saya. Mengapa namanya Aston? Saya kurang tahu. Itu di luar kesadaran saya. Bisa saja diilhami nama sebuah hotel berbintang, tapi yang pasti Gaston Castano belum dikenal waktu itu (heh?). Kisah saya dan Aston begulir setiap malam. Dalam khayalan itu, saya sudah kuliah. Saya menjadi mahasiswa Arsitektur di Unhas. Kami jadi pasangan senior idola para junior saat Ospek. Kami mengenakan jaket almamater warna merah yang menjadi ciri khas Unhas. Ia sangat keren dengan jaket itu. Pokoknya "Architecture's Sweethearts"-lah kalau mau meniru pasangan John Cussack dan Catherine Zeta-Jones dalam film America's Sweethearts

Saya senang sekali memutar album itu sambil berfantasi dengan mata tertutup tentang hubungan saya dengan Aston. Entah itu siang hari ketika matahari sedang terik-teriknya atau ketika malam datang dan membelai saya sampai jatuh tertidur. Berkhayal memang indah walaupun di kehidupan nyata kita sering menjumpai kisah pasangan seperti itu yang berakhir dengan pengkhianatan si cowok dengan junior paling cantik di angkatannya. 

Orang bilang khayalan sering berbanding terbalik dengan kenyataan. Bisa lebih baik atau bahkan lebih buruk. Kenyataannya, saya kuliah di jurusan Komunikasi bukan di Arsitektur. Pada waktu saya masuk kuliah, Ospek sudah dihapuskan. Pacar saya semasa kuliah tak ada mirip-miripnya dengan Aston. Satu-satunya yang menjadi dream come true dari khayalan itu adalah saya berhasil masuk Unhas dan mengenakan jaket almamater warna merah seperti di khayalan saya. Aston? Tentu saja dia tidak nyata dan tidak menjadi kenyataan. Percayalah, ketika kau kuliah, berfantasi menjadi kemewahan tersendiri. Lagipula khayalan tentang Aston bertahan sampai saya masuk SMA. Di SMA, Aston yang imajiner tergantikan dengan sosok lain dari kehidupan nyata. Tapi itu kita bahas di lain waktu.

Syahdan, datanglah hari ini. Sambil men-scroll Facebook, saya menemukan foto seorang cowok yang wajahnya mirip Aston dari akun seorang teman. Mulai dari bentuk tubuh, mata, rambut, dan kriteria lain seperti pendidikan dan agamanya juga persis seperti khayalan saya. Dia tentu saja bukan Wang Lee Hom. Dia manusia lain. Orang Indonesia juga. Aston-ku. Dan sayup-sayup terdengar suara Byran Adams bernyanyi:

"I swear to you
I will always be there for you 
There's nothin' I won't do 
I promise you
All my life I will live for you
We will make it through..."

Api harapan saya menyala. Aston-ku menjadi nyata. Lalu setelah saya cek profilnya..hmm, dia memang memenuhi kriteria idaman saya. Saya mencari-cari lagi, siapa tahu dia belum punya pacar. Kalau dia tak punya pacar, saya bisa saja minta teman saya itu menjodohkan kami. Dan setelah mengecek di profilnya, tak ada tanda-tanda dia memiliki pacar atau sedang berumah tangga. Api harapan saya semakin berkobar. Sepertinya Dewa Kama menyapa saya malam ini, mengabulkan permohonan yang telah terkubur sekian lama. Tapi tunggu dulu...

Sebagai orang yang pernah belajar jurnalistik, kita harus mengecek fakta (check) dan mengecek ulang fakta (recheck). Selain itu, jangan percaya dengan satu sumber informasi. Kita harus mencari sumber lain untuk menguatkan fakta yang ada di lapangan. Maka dengan prinsip-prinsip jurnalisme, saya mengujungi Mbah Gugel dan mengetik namanya. Tak banyak informasi di sana. Namun, di barisan ketiga artikel yang muncul, ada sebuah website yang berjudul namanya dan nama seorang perempuan.

Saya mengklik website itu (menurut ngana?) sambil berdoa semoga nama itu berwajah lain, bukan wajah Aston-ku. Lama juga website itu terbuka. Mungkin jaringan yang lambat. Mungkin Dewa Kama lagi-lagi menguji kesabaran saya yang telah menunggu sejak kelas 3 SMP untuk bertemu dengan Aston yang hidup di dunia nyata. Dan...

Website itu terbuka. Tak ada apa-apa di sana selain foto dua orang yang saling berpelukan. Perempuan itu memeluk tubuh lelaki itu. Wajah mereka sumringah bahagia. Itu Aston-ku dan calon istrinya. Mereka akan menikah besok. Ya, besok. Api harapanku terasa disemprot satu kompi pemadam kebakaran. Byran Adams membanting gitarnya dan Dewa Kama tertawa ngakak di pojok sana sambil berkata," Kena lu..". Ini adalah dagelan dengan ending yang berulang.


Tuhan dan selera humornya....

Aku dan Tuhan

Pada Bulan Purnama

Kamis, September 03, 2015

Bulan purnama telah tampak sekalipun langit masih terang. Senja bahkan tak mampu menutupi kecantikan Dewi Ratih. Dengan berkebaya ala Bali, saya berboncengan dengan Nirvanda menuju Pura. Sudah sejak lama saya ingin mengikuti upacara sembahyang umat Hindu. Apakah itu upacara rutin seperti upacara Purnama dan Tilem atau upacara khusus seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi. Sayang, selalu ada halangan. Keinginan itu berawal karena kesukaan saya membaca kisah Mahabharata sejak kecil, lalu berlanjut dengan membaca 1/10 Bhagavad Gita yang membuat saya berhenti makan anjing, dan dipicu peristiwa pada suatu sore. Saat itu saya berpapasan dengan Dayu dan Nirvanda yang sedang siap-siap berangkat menuju Pura. Mereka mengenakan kebaya Bali. Sebuah selendang berbentuk pita mengikat erat di pinggang mereka yang ramping. Saya terkesan. Mereka berdandan sedemikian indah untuk bertemu Sang Hyang Widhi. 

Mau kemana? 
Mau ke Pura, Mbak. 
Ohhh...ada upacara apa? 
Tilem, Mbak. 
Apa itu? 
Bulan Mati. Setelah Purnama, lalu bulan Tilem (mati). Lalu, kembali purnama lagi. 
Lalu secara spontan saya berseloroh, "Nanti kapan-kapan, saya boleh ikut sembahyang?."
Boleh Mbak. 

Dan “nanti” selalu berujung pada penundaan yang entah sampai kapan. Begitulah. Kesempatan itu terhalang sampai setahun berlalu. Akhirnya pada Sabtu lalu, genap sudah keinginan itu. Saya dan Nirvanda ke Pura untuk mengikuti upacara Purnama. Ia tampak terkejut ketika saya mengatakan ingin ikut dan bertanya mengapa. Saya jawab karena ingin tahu. Tetapi diam-diam saya meyakini bahwa Tuhan itu universal. Dia ada dimana-mana. Dalam segala agama. Dalam tradisi dan ritual manapun. Hanya masing-masing kita mengenali-Nya dengan nama yang berbeda. Nirvanda juga sepikiran. Maka berangkatlah kami bersama-sama mengenakan kebaya putih, kain endek Bali, dan selendang merah muda yang mencolok. Kain endek dan seledang yang saya kenakan adalah kain yang saya titip pada Nirvanda sewaktu dia pulang ke Bali setahun silam. Siapa sangka, saya malah memakai kain itu tepat ketika akan pergi ke pura bersama dia.


Berpakaian kebaya Bali setahun lalu. Kebaya yang sama saya pakai ketika pergi ke Pura bersama Nirvanda. Sayang, tak ada kesempatan untuk berfoto berdua. (foto: truly)



Pura Jagatnatha terletak agak jauh dari poros jalan Solo. Banguntapan nama daerahnya. Sebuah daerah yang tampaknya banyak dihuni oleh orang Bali. Hal ini terlihat dengan lumayan banyak rumah berarsitektur Bali lengkap dengan sanggah di depannya. Tak jauh dari Pura, kami melewati banyak tempat makan babi. Orang Bali memang pemakan daging babi sebab sapi adalah binatang suci dan tak boleh dimakan. 

Apa karena sapi adalah Nandi, kendaraan Btara Syiwa? 
Nirvanda mengangguk. Ya, selain itu sapi adalah lambang ibu. Sebab dari susunyalah mengalirkan kehidupan. 

Langit sudah gelap ketika saya dan Nirvanda sampai di Pura. Sudah banyak orang yang berada di Pura, entah yang mau pulang maupun yang baru datang. Orang-orang yang beribadah didominasi para pemuda dan pemudi. Sejauh mata memandang golongan orang tua tidak terlalu banyak. Saya berasumsi bahwa mungkin mereka sudah ke Pura pagi tadi atau memilih mengikuti upacara bersama pada jam 7 malam nanti. Sambil menunggui Nirvanda membeli canang untuk berdoa, tiba-tiba saya merasa terasing. Secara fisik, tak ada sedikitpun jejak Bali pada diri saya. Saya merasa kerdil di antara mereka semua. Saya tersadar bahwa identitas saya semakin nyata. Di situlah untuk pertama kali saya merasa terlihat lebih Flores-Ambon-Belanda dibanding sebelumnya. Identitas etnis itu mewariskan agama pada saya sama seperti Nirvanda dan lainnya yang mewarisi agama dari identitas etnisnya. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu. Saya lalu meminta satu canang pada Nirvanda. 

Mbak Meike mau berdoa? 
Ya. Saya mau ikut berdoa. 

Kami memasuki gerbang Pura. Alas kaki harus dilepas. Permukaan lapangan bersemen langsung menyambut telapak kaki kami. Di depan gerbang terdapat tempayan berisi air suci. Nirvanda memerciki dirinya dengan air suci. Ia menoleh pada saya dengan tatapan apakah-saya-mau-juga-diperciki, saya melangkah maju membiarkan kepala saya diperciki air suci. Air suci yang dipercikkan ke kepala itu mengingatkan saya pada momen ketika saya dibaptis dan pada tradisi gereja Katolik yang mengambil air suci sambil melakukan tanda salib sebelum masuk dan keluar gereja. Betapa sesungguhnya banyak ritual yang mengambil makna yang serupa. 

Kami lalu memasuki gerbang utama. Di meja panjang, Nirvanda mempersiapkan sesaji, canang, dan dupa. Dupa melambangkan unsur api yaitu sang Hyang Agni. Di atas canang itu, Nadia menaruh sekeping uang logam sebagai persembahan. Setelah selesai mempersiapkan semuanya, Nirvanda melangkah mendahului saya menuju tugu atau pelinggih yang ada di dalam pura. Seperti anak yang baru mengikuti upacara sembahyang dan mengikuti ibunya dengan takjub, begitulah saya mengikuti Nirvanda kemana-mana. Nirvanda juga lebih tinggi dan ramping dari saya, sehingga gambaran maternal itu kian terang.


Pelinggih dan Pedanda di Pura Narmada yang dibangun Raja Karanganyar, Gusti Ngurah, di Lombok, NTB (foto:meike)



Sebelum melangkah ke pelinggih, Nirvanda meyakinkan saya apakah saya ingin menghampiri satu-per satu pelinggih itu. Kalau saya tidak salah ingat ada lima pelinggih, dengan satu pelinggih utama di tengah. Saya bisa saja memilih menunggu sambil duduk di lapangan. Tapi saya ingin ikut. Saya ingin ikut sembahyang. Pelinggih utama disebut padmasana merupakan simbol dari Trimurti: Brahma-Wisnu-Syiwa. Kesitulah kami pertama-tama. Saya memperhatikan Nirvanda meletakkan canang dengan dupa di atasnya, lalu ngayap dan berdoa. Pelinggih itu paling besar dibandingkan yang lainnya. Nirvanda menjelaskan kemudian bahwa bagian dasar pelinggih berbentuk Bedawang Nala, seperti penyu dan naga. Secara keseluruhan berbentuk tegak dengan bagian bawah yang lebar menyerupai padma (teratai). Dalam berbagai kepercayaan, bunga teratai adalah simbol Tuhan. Gelap malam membuat saya tidak bisa melihat rupa pelinggih itu dengan jelas, namun samar-samar ia mengingatkan saya pada candi,  Candi Prambanan tepatnya. Dari cerita Nirvanda, masing-masing Pura memiliki pelinggih yang berbeda-beda. Pelinggih yang ada di Pura ini berbeda dengan yang ada di Pura Karanganyar Lombok, setidaknya dari arsitekturnya. Pelinggih di Puri Narmada (Lombok) berbentuk rumah yang bersusun tiga khas arsitektur Bali sementara pelinggih di Jagatnatha terbuat dari batu ala candi-candi yang banyak ditemui di Jawa. Pelinggih padmasana itu bagaikan tubuh perempuan yang anggun dengan latar bulan Purnama. Angin malam berhembus menyentuh tengkuk dan mengalirkan desir di dada.


Padmasana di Puri Jagatnatha (sumber foto: purahindu.wordpress.com)



Setelah itu, kami berjalan searah jarum jam menuju pelinggih-pelinggih lain yang mengelilingi padmasana, termasuk pelinggih di sebelah timur tempat Btara Surya bersemayam. Nirvanda meletakkan canang dan dupa serta melakukan ngayap pada setiap pelinggih yang kami datangi. Entah mengapa saya teringat tabernakel, tempat di mana hosti sebagai tubuh Kristus disimpan dalam tradisi gereja Katolik. Setiap kali melewati tabernakel, orang harus berlutut dan melakukan tanda salib. Pelinggih atau tabernakel mengingatkan saya bahwa Tuhan atau sang Hyang dalam bentuk materi ada disana. Ini tentu berbeda dengan penyembahan berhala. Berhala tidak selalu berbentuk patung. Berhala bisa kekayaaan, kekuasaan, bahkan pacar. Bagi saya berhala adalah ketika kita mengagungkan atau mendahulukan yang lain melebihi dari Yang Kuasa. Mengakses facebook, path, atau instagram saat ibadah sedang berlangsung itu baru berhala. 

Setelah menghampiri setiap pelinggih di dalam pura, saya dan Nirvanda pun melakukan sembahyang. Ada dua macam model sembahyang. Pertama, sembahyang bersama yang dipimpin seorang pedanda. Biasanya ada pembacaan dharma dan khotbah. Kedua, sembahyang secara pribadi. Kami memilih yang kedua. Katanya kalau yang pertama cukup lama. Ini tentu hal yang baru bagi saya. Seumur hidup, saya melakukan ibadah ke gereja secara kolektif. Doa pribadi biasanya dilakukan di rumah dengan waktu yang bersangkutan inginkan. Adapula kebaktian yang diadakan di rumah-rumah, tapi itupun juga secara kolektif. Semua itu adalah bagian dari karakteristik gereja yang koinonia (persekutuan). 

Kami mengambil tempat di lapangan yang menghadap ke padmasana. Tak ada kursi. Lapangan itu sudah disemen dan ada beberapa bagian yang ditumbuhi rumput. Adapun tata cara berdoa, yaitu bagi laki-laki berdoa dengan cara duduk bersila sementara bagi perempuan dengan cara bersimpuh. Lagi-lagi hal ini berbeda dengan ketika beribadah dalam gereja di mana umat duduk di atas kursi, berada dalam ruangan yang nyaman, dan ber-AC. Di dalam pura kami benar-benar duduk di lapangan bersemen. Tak ada atap yang menaungi. Hanya ada umat dan alam semesta. 

Nirvanda memberitahukan tata cara berdoa Hindu. Ia menyebutkan suatu mantra tapi saya tak tahu mantra itu. Satu-satunya mantra dalam Hindu yang saya tahu hanya Mantram Gayatri. Itupun yang versi India. Mantram Gayatri Hindu Bali ternyata agak berbeda dengan India. Maka, saya hanya duduk sambil sesekali melirik ke Nirvanda. Ia khusyuk membacakan mantra, dalam posisi bersimpuh, kedua tangannya dikatupkan di depan dada dengan dua ibu jari saling menempel. Keadaan bersimpuh membuat saya tak nyaman karena tak kuat menahan kram. Beberapa kali posisi saya berganti-ganti. Sebaliknya, Nirvanda yang sudah terbiasa tak goyah sedikit pun. Saya lalu berdoa, tanpa mantra apapun. Saya mengucapkan puja-puji pada Tuhan semesta alam dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus: Tritunggal. Itulah Tuhan yang saya kenal, yang pribadinya saya rasakan selama ini. Doa itu lebih berisi ungkapan syukur. Belum ada permohonan. Hanya pujian. Setelah mengucapkan amin, saya melirik Nirvanda. Rupanya matanya masih terpejam. 

Sambil menunggu instruksi selanjutnya dari Nirvanda, pandangan saya lalu terarah ke padmasana. Rasa asing menyergap lagi. Biasanya saya menghadap salib, namun kini saya berhadapan dengan pelinggih simbol Trimurti. Dalam rasa asing itu, saya berpikir bahwa konsep Trimurti dalam agama Hindu relevan (meskipun tidak persis sama) dengan konsep Tritunggal dalam tradisi kekristenan saya. Orang Kristen percaya bahwa Kristus adalah firman yang menjadi manusia. Ia sehakekat dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Mereka adalah pribadi yang allos (sesuatu yang lain dari jenis yang sama) bukan hetero (sesuatu yang lain dari jenis yang berbeda). Bukankah ini tak jauh berbeda dengan Rama, Sri Krishna, atau Begawan Parasurama yang merupakan salah satu dari sepuluh avatar Btara Wisnu? Bukankah Mahadewa Syiwa yang menjelmakan Wisnu dan Brahma untuk melakukan tugasnya masing-masing? Namun, seperti pertikaian antara Katolik dan Protestan di Eropa pada abad pertengahan, pertikaian antara penganut Syiwa dan penganut Wisnu juga terjadi di Nusantara. Bagaimana bisa umat yang menyembah Tuhan yang sama saling bertikai? 

Pikiran saya terhenti, Nirvanda menginstruksikan tata cara berdoa selanjutnya. Kami mengambil sedikit kelopak bunga dalam canang, menyelipkannya di sela-sela ujung jari, dan dengan tangan terkatup terangkat sejajar dengan kepala, kami berdoa. Kata Nirvanda, pada bagian ini kita bebas menghaturkan permohonan. Gerakan itu diulang sebanyak 4 kali. Pada gerakan ketiga, salah satu kelopak bunga diselipkan pada rambut. 

Angin kembali berhembus ketika kami sama-sama berdoa. Terasa damai dan sejuk hati ini. Cuaca begitu cerah, langit terang oleh Purnama. Saya pernah mengalami perasaan serupa ketika berdoa di dalam gereja Immanuel Gambir di Jakarta pada ibadah Natal tahun lalu. Rasa syahdu itu datang kembali, pada tempat yang berbeda, pada ritual yang berbeda. Dalam posisi bersimpuh itu, saya seperti tertarik dalam suasana Nusantara abad ke-9 sampai 12 M. Di masa itulah kerajaan-kerajaan Hindu berkuasa di tanah air. Meskipun kejayaan itu telah berlalu, namun warisan Hindu masih hidup dalam kehidupan kita sampai hari ini. Istilah “Ibu Pertiwi” yang disebut-sebut itu mengacu pada Btari Parwati. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara kita pun lahir dari pemikiran para raja-raja Hindu itu hampir seribu tahun yang lalu. Setelah berdoa, kami menghampiri meja panjang dekat pelinggih untuk sekali lagi diperciki air suci dan mengambil beras yang nanti akan diletakkan di dahi dan bagian pusat leher yang letaknya sejajar dengan tulang belikat. Beras yang menempel di dahi dan leher itu tidak boleh dibersihkan, melainkan dibiarkan saja sampai jatuh sendiri. Di saat yang bersamaan seorang pendanda yang memakai sarung dan baju serba putih mulai memimpin upacara bersama-sama. Karena kami sudah sembahyang, kami tak ikut. Upacara itu ditutup dengan memberikan sesajen pada penghuni pohon beringin di depan Pura. 

Sebelum pulang, saya dan Nirvanda singgah untuk makan malam. Kami mampir makan daging babi di rumah makan Bali yang tak jauh dari Pura. Kami bercakap-cakap tentang banyak hal. Termasuk pergumulan perempuan dengan agama minoritas di Indonesia: menemukan pasangan yang seiman. Selain minornya jumlah kami, ada faktor-faktor lain. Nirvanda bercerita bahwa ia berbenturan dengan sistem kasta sementara saya jarang menemukan cowok Kristen yang pikirannya dalam. Ada sih, biasanya Katolik. Tapi entah mengapa dalam situasi yang saya temui, cowok-cowok Katolik kadang melihat cewek Protestan "berbeda" dengan mereka.

***

Malam itu memberikan saya suatu pengertian yang lebih luas tentang iman. Di titik inilah saya menyadari bahwa sungguh kita tidak boleh memaksakan agama pada orang lain, bahkan melalui pernikahan sekalipun. Kita tidak bisa memaksakan iman kita pada orang lain. Iman adalah persoalan meyakini. Dan untuk yakin orang harus percaya dulu. Untuk percaya kita terlebih dulu mengenal. Walaupun saya senang membaca tentang Hinduisme dan tahu tentang dewa-dewa Hindu, tetap saja bukan sosok Syiwa atau Wisnu yang saya kenal. Begitupula sebaliknya, orang-orang dari agama Hindu tidak mengenali sosok Muhammad, Yesus, atau Yahwe. Agama bukan cuma persoalan identitas dan ritual. Agama adalah persoalan iman. Iman tidak bisa diukur dengan rasionalisasi. Sebagai catatan, tidak semua pula orang beragama itu beriman. Persoalan tentang Tuhan selamanya menjadi misteri. Saya lantas teringat kalimat imanmu menyelamatkan engkau yang sering dikatakan Yesus setelah ia menyembuhkan orang-orang dari penyakitnya. Mengapa harus iman yang menandai suatu perbuatan mujizat?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Begitulah yang tertulis dalam kitab Ibrani ribuan tahun lalu. Ya, mungkin karena iman-lah yang membantu kita mengenali Sang Ilahi. Karena iman kita mengasihi Dia, sebagaimana apapun Dia.  

Sekian.