Love Story

Valentine' s Day

Senin, Februari 15, 2021

Hari Valentine merupakan momen yang dikapitalisasi oleh industri untuk keuntungan sebesar-besarnya atas nama cinta. Jika anda punya pasangan, maka anda harus memberi cokelat, boneka, bunga, plus makan malam romantis yang biasanya tidak murah. Kalau anda tidak punya pasangan, maka siap-siap anda akan menjadi pesakitan dan untuk itu segeralah mencari pasangan agar bisa merasakan "hal-hal manis" yang dipromosikan itu. Valentine's Day sendiri masuk ke Indonesia sekitar akhir tahun 80-an. Dulu waktu masih aktif turun ke jalan, kami berkampanye untuk anti kekerasan terhadap perempuan pas di hari Valentine. Lawan kami adalah kelompok kanan yang mengecam hari Valentine sebagai simbol maksiat dan pergaulan bebas. 

Meskipun itu disebut hari kasih sayang, tapi kasih sayang yang ditawarkan tampaknya dominan tersegmentasi ke hubungan romantis heteroseksual. Bagaimana dengan jenis kasih sayang di antara persahabatan atau orang tua-anak? Meski fakir dalam urusan romantisme, tapi untuk hubungan orang tua-anak dan persahabatan, bolehlah saya berbangga hati. Setiap Valentine's Day Mami akan memberikanku sebatang cokelat Silver Queen untuk menghiburku. Kenapa Silver Queen? Karena itu cokelat yang dia makan pas waktu mengandung saya. Sudah kutawarkan merk lain, tapi beliau tidak mau. 

Biasanya kami akan quality time bersama. Entah nonton film romantis bersama, jalan-jalan keliling kota, makan malam, atau nonton pertunjukkan musik. Dulu, saya tidak mengapresiasi hal-hal itu. Bagi otak remajaku, romantis-romantisan itu harus dengan pacar. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, lebih-lebih ketika Mami sudah tidak ada dan Daddy nun jauh disana, saya justru merindukan momen-momen itu. Persahabatan dengan teman-temanku disini juga memperluas makna kasih. Kami merayakan kasih sayang bersama hampir setiap saat tanpa perlu menunggu Valentine's Day. 

***

Nah, tahun ini, saya tidak sendirian. Saya merayakan Valentine's Day bersama dua sahabatku: Laili dan Tedtod. Ikut serta pacar Tedtod, yang kusamarkan sebagai A. Ceritanya kami double date. Kuteruskan tradisi Mami memberikan mereka sebatang cokelat Silver Queen. Lalu, kami ngobrol tentang kerasnya hidup ini dan tentu saja tentang cinta.

Kami berdiskusi tentang kasus-kasus kekerasan yang kami dampingi. Menjadi agen memang tidak mudah ya, Bun. Kadang-kadang betul-betul menguras emosi. Apalagi, kalau yang didampingi ini adalah orang-orang yang disayang. Kami juga bertukar cerita tentang relasi kami semua yang tidak lazim bagi dunia. Lebih tepatnya, tidak ideal. Ada kebingungan. Ada keraguan. Ada semacam ketidakpastian. Di satu sisi, keadaan ini membuat kami terguncang. Kami membutuhkan akal sehat dan hati yang tulus untuk mau memahami lebih mendalam. Kami harus berperang dengan ego kami. Kami harus kuat melawan nilai-nilai yang sudah ada, yang diidealkan itu. Namun di sisi lain, kami tahu relasi kami penuh kejutan dan petualangan. Pokoknya seru! Setiap saat ada saja yang baru. Suatu keadaan yang tidak bisa ditebak. Saya dan Laili suka gemes sendiri. Sudah kami berdua aneh dan traumatis, pasangan kami pun juga tak kalah nyentriknya. 

Lalu, kalau kami memang beda, mengapa kami ingin selalu diterima di sistem nilai yang menyingkirkan kami ya? Bisakah kami mempengaruhi nilai-nilai itu? Atau jangan-jangan kami justru terjebak kembali di dalamnya? Nilai-nilai yang kami lawan, tapi juga diam-diam kami puja. Arrrhhhgghh..bisa gila memang.

***

Malam itu ditutup tanpa perlu menyimpulkan apa-apa. Kadang-kadang sebuah percakapan bermakna tidak perlu kata usai. 


Happy Valentine's Day.


Love Story

The Answer

Rabu, Oktober 07, 2020

"Your silence in this time of my pilgrimage is nothing but the earthly manifestation of the eternal word of Your love."

(Encounters with Silence by Karl Rahner, SJ, 1966, p.57)



Note: It's a Grace for us

Love Story

Attachment

Minggu, September 27, 2020

Guruku, Bhagawan Eyang Pomo pernah memberi nasehat,”Dalam hidup, kita harus punya sikap prihatin”. Lalu saya bertanya, “Prihatin itu bagaimana, Eyang?”. Eyang menjawab,”Kalau sakit itu diterima. Jangan ditolak, jangan diingkari”. 
 
*** 

Trauma pertama manusia adalah ketika mereka lepas dari rahim Ibu. Itulah rasa sakit pertama kita. Ketika dimuntahkan ke dunia, disitulah tanda keterpisahan itu bermula: rasa sakit dan sedih keluar dari rasa aman dan nyaman bak Adam dan Hawa yang keluar dari Taman Eden. 

Banyak orang bisa berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain dalam level kepentingan bersama. Namun, belum tentu ketika masuk dalam relasi interpersonal yang lebih intim seperti persahabatan dan percintaan, manusia bisa merawat hubungan yang sehat, aman, dan stabil. Persoalan keintiman menjadi suatu masalah yang mendasari timbulnya kekerasan di ranah privat. Jika kekerasan di ranah privat masih terus terjadi, maka jangan heran jika kekerasan di ranah publik juga terjadi. Begitulah kira-kira teori Anthony Giddens dalam karyanya yang terkenal Transformation of Intimacy. Keintiman menjadi dasar menuju demokrasi. 

Keintiman bukan persoalan jatuh cinta dan mendapatkan orang yang ditaksir semata. Dalam kuliahnya Mbak Dian Arymami, dosenku dulu di UGM, keintiman melampaui batas-batas seksualitas. Keintiman merupakan “sesuatu yang berada di dalam” tentang apa artinya menjadi manusia dalam relasinya dengan subjek manusia dan non-manusia dan pada ide–ide sosial dalam ruang dan waktu. Keintiman hanya bisa dicapai dengan pengungkapan diri (self disclosure) di antara kedua belah pihak. Keintiman juga tercipta di antara Tuhan dan manusia. Keintiman ini hadir ketika yang Rahasia mengungkapkan dirinya. Jalan ini hanya bisa dicapai dengan rasa. 

*** 

Hubungan kita dengan manusia lainnya saat dewasa sangat ditentukan dengan proses pengasuhan yang diberikan pengasuh utama kita (entah orang tua, kakek-nenek, om-tante, kakak, atau babysitter) di masa awal tumbuh kembang. Begitulah bunyi teori Attachment yang dikemukakan pakar Ilmu Psikologi, John Bowlby. Dulu saya sempat mendiskusikan hal ini dengan Nara, sahabatku yang seorang peneliti kesehatan jiwa. Sayangnya, waktu itu teori Narsistik dan Borderline Personality Disorder jauh lebih menarik buatku. Namun, teori Narsisitik dan Borderline tampaknya terlalu ekstrim dan kurang tepat dalam membaca konflik hubungan asmara saya. Ada hal-hal yang tidak sinkron dan dapat dipatahkan argumentasinya dengan data yang ada. Seperti Archimedes yang berteriak Eureka!, Attachment theory tampaknya jauh lebih cocok untuk memahami pergumulan asmara sekaligus bisa memahami diri dan pasangan dalam berelasi. 

Berdasarkan teori Attachment, dalam berhubungan intim, manusia terbagi ke dalam empat kategori: secure, anxious, dismissive avoidant, dan fearful avoidant. Sebenarnya, keempatnya ini dalam diri manusia, tetapi selalu ada dua yang dominan. 

Pertama, secure. Orang yang secure terbentuk karena ketika ia masih balita, ia mendapatkan kebutuhan emosi yang cukup dari pengasuhnya. Sang pengasuh selalu “hadir” dan membuat dia merasa aman dan stabil. Ketika dewasa, orang-orang secure akan memiliki hubungan intim dengan pasangannya yang stabil dan sehat secara intelektual, emosional, dan spiritual. Mereka bisa meregulasi emosi dan merespon emosi dirinya dan orang lain dengan konstruktif. Mereka bisa mandiri (independent) sekaligus juga bisa co-dependent dengan pasangannya. Mereka tidak posesif dan membebaskan pasangannya. 

Kedua, anxious. Singkatnya, orang yang anxious atau cemas terbentuk karena sewaktu balita sang pengasuh kadang ada dan kadang tidak ada. Mereka merasa ditolak dan diabaikan. Tetapi, karena pengasuhnya kadang muncul, maka mereka butuh untuk diyakinkan. Ada trust issue disini. Saat berhubungan romantis di masa dewasa, orang-orang anxious sering meminta afirmasi atau validasi dari pasangannya. Pertanyaan, apakah aku dicintai? Apakah aku dirindukan? Apakah dia selingkuh?dll merupakan pertanyaan orang-orang cemas yang dipicu rasa insecure. Orang-orang anxious cenderung menjadi needy, clingy, dan mungkin jadi posesif selama ia tidak mendapat validasi dari pasangannya. 

Ketiga, dismissive avoidant. Ini yang rumit. Mereka yang dismissive avoidant adalah anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan emosi di masa sangat membutuhkan kebutuhan emosi dari pengasuhnya. Entah orang tuanya pada saat itu sedang bekerja atau studi lanjut sehingga tidak bisa secara emosional hadir untuk mereka atau mereka memang ditinggalkan. Akibatnya, si anak merasakan penolakan dan diabaikan. Perasaan inilah yang menjadi trauma. Namun, berbeda dengan mereka yang anxious, dismissive avoidant merepresi luka itu dengan berjarak dengan keintiman. Akibatnya, ketika berhubungan romantis mereka tidak suka jika pasangannya demanding dan cenderung membatasi diri untuk intim dengan pasangannya. Orang-orang dismissive avoidant ini tidak bisa dimiliki, tidak bisa dipakaikan rantai di lehernya. Secara tidak sadar, mereka mensabotase sendiri hubungan mereka sehingga membuat pasangannya yang akhirnya memilih meninggalkan mereka. Orang-orang dismissive avoidant juga kesulitan mengungkapkan perasaannya dan meregulasi emosi yang intens karena sejak kecil sudah terlatih membangun tembok pertahanan diri. Jika orang pada umumnya membangun batasan dengan orang yang tidak terlalu dekat, maka orang avoidant membangun batasan justru dengan orang-orang yang penting dan paling mereka cintai. Tujuannya, mereka tidak mau lagi merasakan luka yang sama yang mereka alami di masa kanak-kanak. 

Keempat, fearful avoidant. Hampir sama dengan dismissive avoidant. Fearful avoidant merupakan gabungan dari anxious dan dismissive avoidant. Orang yang fearful avoidant adalah mereka yang merindukan keintiman sekaligus ingin berjarak dengan keintiman itu. Mereka takut ketika mereka sudah cinta setengah mati, orang yang dicintai akan meninggalkan mereka. Yes, trauma ini karena takut kehilangan. Sama seperti dissmisive avoidant, mereka juga cenderung melakukan sabotase dalam hubungan untuk mengetes pasangannya. Kalau orang non-avoidant mengetes pasangannya dan berharap pasangannya berhasil, maka orang fearful avoidant justru berharap pasangannya gagal. Mereka yang fearful avoidant berharap untuk dikecewakan. Kasarnya, harapan mereka seperti ini: "Nah, bener kan, dia sama saja dengan yang lain. Mereka akhirnya meninggalkanku". Akhirnya, sebagai avoidant, baik yang dismissive maupun fearful memilih membangun dinding es yang tebal untuk melindungi dirinya. 

*** 

Terus, konflik asmaranya apa? 

Hmm..masalah muncul ketika si Mbak yang secure dan anxious ini menjalin hubungan dengan si Mas yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Orang yang ada anxious-nya secara inheren percaya bahwa mereka ditolak sementara orang yang ada avoidant-nya percaya bahwa orang-orang akan meninggalkan mereka. Sisi secure si Mbak diperoleh dari ibunya yang selalu hadir setiap saat baik secara fisik, emosional, dan spiritual. Namun, sisi anxious-nya lahir dari ayahnya yang ternyata seorang avoidant sejati. Di masa awal kembang, sang Ayah bertugas di luar kota. Bahasa cinta sang Ayah adalah act of service, ia suka memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Namun, si Mbak akan merasa dicintai kalau diberi quality time. Ia mau berbincang dengan ayahnya tentang apa yang dia jalani dan rasakan dalam percakapan yang mendalam atau paling tidak ayahnya hadir mendukung dia dalam momen-momen di hidupnya. Hal ini bentrok karena Ayahnya punya luka dengan keintiman di masa muda. Menjadi intim dengan orang-orang yang dicintainya sama dengan mengoyak lukanya di masa lalu. Selama bertahun-tahun, si Mbak mencari validasi dari sang Ayah, apakah aku ini dicintai? Apakah aku ditolak? Barulah, ketika ada quality time akhirnya ia memahami bahasa cinta ayahnya. Sungguh, cerita menara Babel tentang pengacauan bahasa memang menjadi sumber konflik manusia. 

Di sisi lain, si Mas terbentuk menjadi seorang yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Sisi secure si Mbak bisa berdamai dengan sisi avoidant si Mas, tetapi sisi anxious si Mbak membuatnya bersusah hati. Mengharapkan validasi dari orang yang avoidant itu seperti mengharapkan hujan turun di musim panas. Apalagi sisi dismissive si Mas tidak bisa dipaksa. Semakin dipaksa, dia semakin menjauh. Sebagai mekanisme pertahanan dirinya, maka orang-orang dismissive avoidant cenderung mengabaikan emosi. Bagi mereka, emosi itu tanda kelemahan. Si Mas membeku bukan karena tidak mencintai si Mbak, tetapi karena ia butuh untuk merasa “aman” dan tidak kehilangan dirinya. Namun, sisi fearful avoidant-nya memiliki sensitivitas dan merindukan keintiman sekaligus takut ditolak dan ditinggalkan. Lagi-lagi ada trust issue ini. Dari yang biblis menuju profan, inilah makna "diterima tetapi dianggap sepi" (Hosea 3) itu. Si Mas mencintai dalam diam. Ia merindu dalam diam. Si Mas membalikkan makna “diam” yang umumnya dipahami sebagai bentuk penolakan, hukuman, atau penghindaran. Si Mbak didiamkan bukan karena dia ditolak, dibenci, atau dihindari, melainkan karena dia sangat dicintai. Si Mas seperti sang “Mistikus Cinta"-nya Dewa: 
apa yang sedang kurasa
apa yang sedang kau rasa 
adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata

Alexythymia adalah sindrom ketika seseorang tidak dapat mengenali atau menyampaikan perasaannya. Ia tidak punya kata-kata untuk bisa mengungkapkan perasaan yang dia rasakan. Sebagai catatan, keadaan ini berbeda dengan tidak memiliki perasaan. 

Kalau sudah begini, bagaimana? Hubungan ini tampaknya impossible hehehe. 

Sudah benar memang doa mereka dulu. Ajaib memang, mereka mendoakan hal yang sama. Hanya Tuhan saja yang bisa menjadi perantara, penengah, dan pemersatu. Namun, beliau jugalah yang jadi alasan pemisah. Si Mas sebagai anggota kopassus, pasukan elit Yang Mulia Komandan, harus menunaikan misi khusus: disuruh sekolah, belajar berkomunikasi, dan juga berdamai dengan masa kecilnya. Sebaliknya, si Mbak yang seorang anggota Infanteri alias pasukan tempur pejalan kaki disuruh bertempur dulu disini. Banyak urusan dan drama yang harus diselesaikan. Selebihnya, adalah kasih karunia Komandan. 

Untuk melanjutkan hidup, si Mbak harus belajar mengelola rasa anxious-nya dengan mencari tahu dan berfokus pada kebutuhan personalnya. Jika rasa anxious-nya terkelola dengan baik, sisi secure-nya akan mengambil alih dan membuat beban di hatinya terangkat. Begitu juga dengan si Mas. Ia harus belajar menerima bahwa tidak apa-apa berhadapan dengan emosi, itu bukan tanda kelemahan. Tidak apa-apa sekali-kali menjadi rentan. Si Mas harus berani dan percaya bahwa orang-orang yang benar-benar mencintainya tidak akan meninggalkan dia. Dengan begini, si Mas akan pelan-pelan bertransformasi untuk menjadi pribadi yang secure. 

*** 

Barangkali benar kata Rsi Meike Walmiki kepada Mpu Afif Tantular,” Bukan masa lalu yang menakutkan, tetapi masa depan. Terlalu banyak kemungkinan yang tidak sanggup dibayangkan.” 
“Ya. Makanya kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya untuk hari ini”, ujar Mpu Afif Tantular. 
Rsi Meike Walmiki mengangguk,” Ya, seperti kata Yesus, kesusahan sehari cukup sehari, hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah besok lusa kita masih ada dunia ini atau tidak. Atau apakah kesempatan itu bisa datang dua kali.”

Love Story

“Berikanlah Milikmu Yang Paling Berharga”

Jumat, September 18, 2020


Kumaknai lukisan ini sebagai penyatuan Bunda Maria dan Yesus. Aku lupa nama pelukisnya, tetapi lukisan ini kulihat dalam sebuah pameran seni di Taman Budaya, Yogyakarta. Sehari sebelum kami berdua bertemu dan membicarakan perasaan masing-masing. 




Aku merasa seperti Ekalaya dalam pewayangan. Dia seorang anak dari kelompok marginal yang bercita-cita untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ekalaya sangat mengagumi Guru Drona dan percaya dibawah bimbingan Drona, ia bisa mewujudkan cita-citanya itu. Sayangnya, Drona juga punya ambisi pribadi. Gelar pemanah terbaik di dunia sudah ia siapkan untuk Arjuna, putra raja Hastinapura yang elit dan memiliki segalanya. Ia menolak menjadikan Ekalaya muridnya demi menjaga posisi itu untuk Arjuna. Ekalaya pun pulang, namun tidak putus asa. Ia mendirikan sebuah patung Drona. Ia percaya ia bisa belajar sendiri meski dibawah “bayang-bayang” Drona. 

Selama satu tahun, aku seperti Ekalaya dalam fragmen ia belajar di bawah patung Drona. Aku mencintai seseorang yang merupakan representasi Dia yang kucinta. Aku melihat Tuhanku dalam dirimu. Sejak saat itu, aku merasakan kesepian yang dalam sekaligus cinta yang membara. Cinta yang tidak bisa dipahami oleh orang banyak. Cinta ini adalah suatu rasa yang sejati. Cinta yang mengubahkan. Cinta yang mengalami keterpisahan dan kemudian diutuhkan dalam suatu pertemuan. Ia bisa memahami yang kau rasakan dan mengatakan yang tak bisa kau ucapkan. Ia mewakilkan kasih Tuhan yang paling menggelisahkanmu. Di matanya, aku adalah sosok Tuhan yang mengetuk terus pintu hatinya. Bagiku, dia adalah sosok Tuhan yang indah dan diam. Pada akhirnya, kami berdua merasakan kasih karunia itu. Tetapi, itu tidak sederhana. 

Seperti Ekalaya yang mencintai Drona, aku juga mencintai Tuhanku. Seperti Drona, Ia pun tidak bisa kugapai. Kekasihku kemudian menjadi representasi patung Drona/Tuhan yang bisu. Ditemani diamnya, aku sendiri yang berlatih, jatuh, dan luka hingga akhirnya bangkit, pulih, dan menemukan tujuan latihan ini. Ya, aku sendiri. Tetapi, aku tidak sendirian. Aku selalu ditemani oleh Dia, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang datang menemani dan menguatkanku. Aku seperti Harry Potter. Harry bertahan bukan karena kekuatannya sendiri. Tetapi, ia memiliki support system yang kuat. Ada orang-orang yang mencintainya, peduli, dan rela berkorban untuknya. Ini yang membedakan Harry dengan Voldemort. 

Pelan-pelan aku akhirnya menyadari latihan ini memang untuk tujuan yang lebih besar. Ini untuk tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang-orang terdekatku melihat perubahan itu: lebih sabar, lebih bisa mendengarkan orang lain, dan mau menunggu. Aku telah mendapatkan pendidikan latihan tempur-ku kali ini dengan penuh airmata dan sukacita. Latihan ini untuk berhadapan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak hati yang perlu disembuhkan. Orang-orang yang memiliki harapan namun dikecewakan terus-menerus. Mereka yang kesepian karena tidak dicintai dan diterima sepenuh hati. Mereka yang ditolak dan diabaikan. Mereka yang terluka karena ditinggalkan. Untuk bisa menjadi penolong, aku harus mengenal diriku lebih dulu dan semua luka-lukaku. Langkah pertama yang kulakukan adalah menerima bahwa aku sakit dan cacat. Langkah kedua adalah aku mau pulih. Aku tidak mau orang lain, generasi mendatang, mengalami kepedihan yang kurasakan. Aku kini menyadari penuh tujuan dan peranku. Aku dilatih dan berlatih untuk mengasihi. Jika harus disuruh memilih antara hukum atau kasih, aku akan memilih kasih. Aku bukan pembela kebenaran yang baik. 

***

Dulu aku pikir aku sekedar menemani kekasihku yang mengenakan mahkota duri dan memikul salib. Ternyata, aku sendiri-lah yang justru mengenakan mahkota duri dan memikul salib itu. Menanggung adalah salah satu bentuk ketekunan dalam iman selain tetap berharap pada Dia. Inilah tanggung jawab besar itu. Setiap orang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Ketika kekuatan yang dimiliki itu tidak diarahkan pada Dia, maka ia akan menjadi sebab kehancuran diri dan orang lain. Tetapi, jika kekuatan itu dipusatkan pada Dia, maka itu akan membawa perubahan besar yang membawa kebaikan, sebuah metanoia. Tuhan tidak lagi di atas langit, tetapi hadir di tengah-tengah kita. 

Dalam cerita wayang, Drona yang tahu kemampuan Ekalaya yang melampaui Arjuna itu tidak terima. Drona tetap ingin Arjuna yang memegang posisi sebagai pemanah terbaik di dunia. Untuk mewujudkan ambisi itu, Drona memanfaatkan rasa cinta Ekalaya kepadanya dengan meminta sembah bhakti. Ia meminta milik Ekalaya yang paling berharga: jari jempol kanannya. Tanpa jari jempolnya, mustahil Ekalaya bisa memanah lagi. 

Lalu, apakah yang dilakukan Ekalaya? Inilah cintanya yang paling tinggi. Ia menyerahkan miliknya yang paling berharga itu: kemampuannya. Aku pun juga memberikan milikku yang paling berharga: hatiku. Hatiku sebagai persembahan padaNya. Seperti Ekalaya, aku tahu hikmat yang kudapatkan ini bukan sekedar pemberian. Tetapi, hasil dari merespon anugerah itu. Tak perlu ada pengakuan siapa yang menang atau kalah. Rasa cintanya tidak bisa diadu. 

Aku ikhlas melepas kepergian kekasihku dengan damai. Aku tahu Allahku tidak seperti Drona. Allah tidak meminta tumbal. Allahku adalah kasih. Kasih itu membebaskan dan kekal. Aku sangat mengasihinya, maka aku melepaskannya agar ia bahagia dengan apapun pilihan hidup dan jalan yang ia pilih. Dengan melepaskannya, aku mengalami kepulihan. Aku tidak perlu menggenggam terlalu erat lagi. Pada akhirnya, semuanya bukan milik kita: ibumu, ayahmu, anakmu, kekasihmu, saudaramu, sahabatmu, hartamu, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan bahkan kebijaksanaan itu sendiri. Aku memilih dan akhirnya merasakan kepenuhan di dalam Dia. Aku harus selalu mengingat ini karena aku juga masih berdarah dan lemah. Aku sudah utuh. Inilah kebahagiaanku yang sejati. 

Selebihnya adalah misteri.

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...

Love Story

Jangan Mendendam, Meskipun Itu Lebih Mudah

Jumat, Mei 08, 2020

Seringlah kini kukenang, di masa yang berat 
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat 
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut 
Kembali sayup kudengar... namaku disebut 

Di doa ibuku, namaku disebut 
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut... 

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang 
Namun kasihnya padaku selalu ku kenang 
Kelak disana kami pun bersama bertelut 
Memuji Tuhan yang dengar namaku disebut

(Di Doa Ibuku - Nikita)


Mami sayang,
Ingatan waktu aku putus cinta untuk pertama kali melintas dengan kuat. Waktu itu Mami memelukku dan berkata, " Jangan menangis, masih banyak yang lebih jahat". Itu bukan sekedar nasihat. Itu lebih mirip peringatan.

Aku menangis dengan hati hancur. Bukan perpisahan yang kutangisi. Tetapi, bagaimana cara orang yang pernah menyayangi kita itu memutuskan hubungan. Ia sama sekali tidak menghargai aku dan hubungan itu. Aku merasa tidak dimanusiakan. Aku seperti barang yang dibuang begitu saja begitu nilai gunanya habis. Ia bahkan membuatku merasa bersalah dan tidak bisa menyalahkan dia. Kelak di kemudian hari aku tahu namanya. Aku mengalami kekerasan simbolik, jenis kekerasan yang sama sekali tidak bisa dibuktikan karena tidak kelihatan, tapi lukanya setara dengan kekerasan fisik. Kekerasan yang terjadi dimana korban menyetujui untuk ditindas dan membenarkan perlakuan pelaku. Dalam dominasi ini, korban menyalahkan dirinya, insecure, bahkan tidak mau keluar dari hubungan itu. Hal yang membuatku sedih, para pelaku kekerasan simbolik ini ada juga yang berasal dari kaum intelektual nan religius yang berbicara tentang humanisme dan kasih. Mereka mempelajari teori ini bukan untuk mencegah supaya kekerasan ini tidak terjadi, tetapi supaya mereka dapat mempraktekkannya dan lepas tanggung jawab. Yang mengerikan, para korbannya tidak bisa meminta pertanggungjawaban pelaku. Sebaliknya, korban yang kemudian disalahkan dan dirisak. 

Ada juga untungnya TNI mengajarkan kami latihan fisik mountainering. Suatu latihan fisik dengan cara memanjat di ketinggian dan kemudian terjun atau melompat dari atas. Kata pelatihku dulu," Ini mungkin berguna buat kalian dalam menghadapi kehidupan sehari-hari". Tentara tidak pandai berfilosofi. Itu bukan pekerjaan mereka. Namun, aku kini memahami maksud latihan fisik ini. Ya, ini latihan untuk membiasakan diri agar kau siap-siap diangkat setinggi-tingginya, lalu kemudian dibanting begitu saja ke tanah.

Kali ini tidak ada Mami yang menghapus air mataku atau memberiku kata-kata penguatan agar aku bisa ikhlas menerima perpisahan. Kali ini tidak ada Mami yang bisa menemaniku menertawai kebodohan dan betapa naifnya aku dalam mencintai. Mami tahu ketika aku mencintai maka aku akan mencintai dengan total. Tapi, aku tidak menyangka bahwa ketulusan di dunia ini ternyata tidak cukup. Kadang orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama atau tidak memilih kita. Ada pertimbangan ekonomi-politik yang memandang manusia seperti komoditas. Apakah manusia ini memberi profit atau tidak. Mereka menilai manusia lain berdasarkan kebutuhan mereka. Betapa mengerikannya kita dikelilingi manusia-manusia yang narsistik.

Mami tahu, aku bukanlah bunga mawar di taman yang diperebutkan dan sesuai dengan standar keindahan. Aku adalah gulma yang dianggap tanaman penganggu karena tidak estetik meskipun aku memiliki kekuatan dan kegunaan untuk menghidupkan dan menyembuhkan. Kekejaman sistemik yang aku rasakan membuatku bertanya-tanya,"Apakah kebaikan justru menarik kejahatan untuk mendekat?". 

Mami tidak usah khawatir. Aku tidak sendirian. Aku punya sepasukan teman-temanku yang menemaniku menghadapi kesulitan ini. Mereka menguatkan dan menghiburku. Mereka meyakinkanku ketika kepercayaan diriku runtuh dan merasa tidak dicintai. Mereka bukti hidup bahwa aku dicintai. Penolakan memang membuat trauma yang dalam. Namun, aku juga belajar mendefiniskan kembali konsep cinta. Aku belajar memahami penis envy-nya Freud dengan jernih. Aku belajar menjadi utuh dengan menjadi diri sendiri. Kesadaranku benar-benar terbentuk untuk menjalani hidup ini. 

Mami, aku memilih tetap mengasihi. Aku memilih tidak menyimpan dendam. Aku marah dan sedih. Iya, itu wajar sebagai reaksi tubuh atas luka emosional yang kurasakan. Tapi, aku tetap tidak mau mendendam. Dendam tidak membawa kita kemana-mana. Dendam yang dipelihara terlalu lama akan menjadi racun bagi diri sendiri. Aku tidak mau mendendam, meskipun itu lebih mudah. Mengampuni memang hal yang paling sulit. Orang yang bisa mengampuni adalah orang yang memiliki kasih yang besar. Dan hanya orang-orang yang memiliki kasih yang bisa mengasihi. Aku memilih tetap mengasihi bukan karena aku putus asa dan merasa tak berdaya. Tapi, justru karena dengan mengasihi aku merasa berdaya. Ya, aku mampu mengasihi dan aku bangga pada diriku yang memilih melakukan itu. Kekuatan itu lahir bukan dari hati semata tetapi juga dari pengertian bahwa mereka dibentuk oleh sistem yang membuat mereka tidak bisa mengasihi. Di dalam sistem kolaborasi patriarki dan kapitalisme ini, mengasihi dianggap perbuatan orang lemah karena ia memberi dirinya. Memberi diri dianggap tidak profitabel. Akhirnya, banyak orang takut mengasihi. Ini logika yang salah karena justru orang yang mampu dan kuat-lah yang bisa memberi. Seperti hanya orang kaya yang mampu memberi sedekah pada orang miskin.

***

Pada akhirnya, aku iba padanya. Betapa berat beban hidupnya sampai ia memilih menjadi orang jahat. Namun, aku mengerti mengapa ia seperti itu. Aku mengerti rasa sakitnya. Mencintai memamg butuh keberanian. Aku bukan dia. Aku tidak takut untuk mencintai. Aku akan berproses dengan perasaan-perasaan ini dan membiarkan semuanya terurai, dimurnikan untuk menjadi energi yang baru. Semua ada hikmahnya. Aku kini dapat membedakan rasanya dicintai dan tidak. Aku kini bisa belajar mengasihi dengan benar. Aku kini tahu apa itu cinta. Aku kini tahu apa yang aku mau. 

Mami, aku percaya Mami selalu mendoakanku dari sana  sama seperti ketika Mami masih ada di bumi. Mami, tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu dan aku akan lebih kuat dari sebelumnya. Aku adalah gulma, semakin dibunuh semakin tidak bisa mati. Gulma akan terus tumbuh meskipun ia dipangkas, dibakar, atau bahkan diracun.

Bagaimana mungkin dia terbunuh, jika ia sudah mati berkali-kali?

Love Story

Selamat Paskah

Jumat, April 10, 2020

Aku akan menceritakan padamu kisah tentang temanku. Namanya Dietrich Bonhoeffer. Aku bertemu pertama kali dengannya di hall Fakultas Teologi, Universitas Humboldt zu Berlin. Ada patung kepala Dietrich disana dan kutipannya dalam bahasa Jerman. Aku tidak tertarik padanya waktu itu. Fokusku hanya tertuju pada kehidupan kampus dan betapa inginnya segera studi lanjut disana. Kampus Teologinya terletak di seberang Museum Seni dan Katedral Berlin. Di tengah-tengahnya, membelah sungai Spree yang sering membawa kapal-kapal ferry kecil. Ruang kelas yang memiliki jendela besar tanpa gorden telah menyajikan pemandangan indah. Betapa aku iri pada mahasiswa yang belajar disana. Mereka mengonsumsi dua hal yang paling kuhasrati: ilmu pengetahuan dan seni semesta. Jika waktu kuliah sudah selesai, kita bisa berjalan kaki untuk membeli es krim atau nongkrong di café tak jauh dari kampus. Langit kelabu kota Berlin menyuguhkan perasaan sendu. Jika kamu beruntung, kamu akan mendengar suara saxophone dari musisi jalanan menyanyikan lagu Raindrops Keep Falling on My Head. Momen itu sangat sederhana, namun magis. 

Beberapa bulan sejak peristiwa itu, aku masuk gereja dan mendengar sang Pendeta menyinggung nama Dietrich. Dia berkisah tentang konsep Dietrich yang terkenal, yaitu cheap grace dan costly grace. Dietrich adalah seorang pendeta, teolog, aktivis, dan martir. Ia mengkritik pemerintahan otoriter Nazi dan orang-orang Kristen zaman itu yang apatis karena membiarkan orang-orang Yahudi mengalami penindasan. Dietrich akhirnya ditangkap, dipenjara, diisolasi, dan pada akhirnya dieksekusi. Pulang dari gereja, aku langsung mencari karyanya dan membaca The Cost of Discipleship. Buku itu memberiku daya untuk berjuang di jalan kemanusiaan sembari memaknai iman dan pilihanku sebagai pengikut Kristus. 

Dari penjelajahan buku-buku seputar Dietrich, aku menemukan secuil kisah tentang hubungannya dengan tunangannya, Maria von Wedemeyer. Tunangannya hanya disebut sedikit sekali di buku-buku keilmuan teologi itu. Tapi, di referensi lain yang lebih nge-pop dan personal, kutemukan bahwa peran Maria sangat vital dalam hidup Dietrich. Dietrich dan Maria terpaut usia yang jauh. Saat mereka bertunangan, Maria berusia 19 tahun dan Dietrich 37 tahun. Mereka berdua datang dari keluarga berpendidikan dan aristokrat Jerman. Tiga bulan setelah bertunangan, Dietrich ditangkap dan dipenjara. Selama kira-kira dua tahun, mereka menjalani hubungan dalam keterpisahan dan isolasi.  Bayangkan, pasangan yang harusnya “consummate their love” ini harus menjalani jalan salib itu. 

Selama dalam penjara, Dietrich dan Maria saling berkirim surat. Dalam surat-suratnya terlihat betapa justru keterpisahan itu menguatkan ikatan hati antara Dietrich dan Maria. Di sisi lain, surat-surat itu juga menunjukkan di balik keteguhan hatinya untuk menghadapi semua represi itu, tak sedikitpun Dietrich tak merasa lemah dan tak berdaya. Ia juga merasakan takut dan kerinduan yang luar biasa. Memori dan keyakinan bahwa orang-orang yang dicintainya selalu ada untuknya menguatkannya: orang tua, saudara-saudaranya, teman-temannya, murid-muridnya di universitas, dan kekasihnya, Maria. 

Di sisi lain, Maria berada dalam ketegangan yang hebat antara menepikan hasrat dan kebutuhannya dengan mendukung kekasihnya menghadapi apapun dunia yang sedang dihadapinya. Dietrich bukan orang yang mampu menunjukkan perasannya, namun dalam suratnya akhirnya ia mengatakan bahwa pertemuannya dengan Maria adalah sebuah kasus hominum confusione et dei Providentia. Dietrich menulis begini: 

“Everyday I am overcome anew at how undeservedly I received this happiness, and each day I am deeply moved at what a hard school God has led you through during the last year. And now it appears to be his will that I have to bring you sorrow and suffering … so that our love for each other may achieve the right foundation and the right endurance.” 

Waktu aku membaca itu aku menangis. Bahwa kisah yang mereka miliki begitu tidak biasa. Ada dua orang yang saling mencintai, tetapi ternyata mereka lebih besar mengasihi Allah. Maria pasti memiliki hubungan yang dekat dengan Allah sehingga ia mengerti jalan yang harus dilalui Dietrich dan Dietrich mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan “membayar harga yang ia pilih sebagai pengikut Kristus” dengan mengapresiasi dan mensyukuri kehadiran Maria. 

Pasangan ini bekerjasama untuk mengonversi kerinduan yang menyakitkan menjadi rasa syukur bahwa ada sesuatu yang harus diantisipasi. Mereka mengubah penderitaan menjadi sukacita bahwa relasi mereka benar-benar nyata. Mereka bekerjasama untuk mengubah hal-hal yang menganggu dan menjadi keterbatasan sehingga menghasilkan kesalahpahaman dalam relasi mereka menjadi harapan yang penuh dengan tantangan. Mereka mampu mengubah kesalahan dan emosi menjadi sumber kekuatan dalam hidup mereka. Mereka bekerjasama merespon anugerah itu.

Pada akhirnya, keduanya melihat Allah dalam diri pasangannya masing-masing. 


Selamat Paskah!

Love Story

Pelajaran tentang Hubungan Romantis

Sabtu, Maret 28, 2020

Kata Kak Emma, orang yang sedang jatuh cinta takut pada dua hal: takut ditolak dan takut kehilangan. 

Seorang senior memperkenalkan kami. Namanya Ra. Secara akademik, ia sangat outstanding. Kami sebaya. Namun, ia sudah mengantongi dua gelar master dan PhD. Kami berdua memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan, suka membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tampaknya kami bisa menjadi pasangan intelektual yang serasi, menurut hemat senior saya itu. Maka kami pun berkenalan. Jarak yang membentang di antara kami pun tak menjadi soal. Kami memulainya sebagai teman biasa. Selama kurang lebih 6 tahun, aku dan Ra hanya sesekali ngobrol dan berkirim ucapan selamat ulang tahun via Facebook. Semuanya berjalan smooth, tanpa tahu suatu saat akan bertemu secara fisik. 

Lalu tibalah waktunya. Semuanya tidak terduga. Waktu itu, Ra sedang melakukan riset disertasinya di Indonesia dan berkunjung ke Jogja. Seorang kawan membagi info bahwa ada diskusi dan dia menjadi pembicaranya. Aku ragu untuk datang. Kalau Ra memang menganggapku temannya, kenapa ia tak memberi kabar kalau akan datang ke Jogja? Namun, rasa ragu itu kalah dengan rasa penasaran. Maka, aku berangkat juga menuju kampus tempat diskusi itu dilaksanakan. 

Kami akhirnya bertemu. Ra langsung mengenaliku. Kami pun berjabat tangan dan ngobrol ringan. Dia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Aku sendiri juga akan ke Jakarta. Sayangnya, kami beda pesawat. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan untuk saling berkabar lagi setibanya di Jakarta. Siapa tahu ada momen untuk bertemu lagi. 

Seperti sedang berada dalam film, kami sepakat bertemu lagi. Ada beberapa temanku yang juga ikut dalam pertemuan itu. Ra menjadi pusat perhatiannya. Kami banyak ngobrol tentang dunia aktivisme. Dia adalah seorang marxist muda yang militan. Namanya sedang naik daun di dunia intelektual kaum muda Indonesia. Aku sendiri hanya beruntung mengenalnya jauh sebelum dia tenar. Aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Tampaknya, aku menemukan kamerad-ku. 

Pertemuan malam itu berakhir sekitar pukul 9 malam. Aku masih belum puas ngobrol maka kutawari ia untuk ngobrol di lobby hotel tempatku menginap. Aku sempat takut Ra menolak ajakanku. Di luar dugaan, dia setuju. Kami ngobrol hingga pukul setengah 1 malam. Pertemuan di Jakarta bermuara pada chatting yang kami lakukan. Aku harus kembali ke Jogja untuk bekerja. Dia harus melakukan penelitian lapangan. Di sela-sela itu, kami ngobrol via chat. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga diskusi intelektual. Kami bertukar pikiran. Kami mengeluarkan keresahan-keresahan yang ada di hati sebagai intelektual muda. Rasanya waktu itu menyenangkan dan semua hal menjadi bermakna. Hubungan itu kira-kira berjalan selama hampir satu tahun.

Namun, diam-diam aku menyimpan resah. Kami ini sebenarnya apa. Tentu dalam perjalanannya, aku membutuhkan kepastian. Lalu, aku mulai menganalisis dan curhat pada sahabatku, Annisa. Annisa mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia kemudian memberi tahu pengetahuan yang sama sekali baru buatku. Menurut Annisa, laki-laki memiliki strategi dalam mendekati perempuan untuk kemudian dijadikan pasangannya. Bagi mereka, perempuan adalah sekumpulan ikan di samudra yang luas. Strategi itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah strategi jaring pukat harimau. Bagai nelayan yang menangkap ikan dengan pukat harimau, maka semua ikan diterima di dalam jaringnya. Dalam tahap ini, mereka menerima semua cewek yang mendekati atau mendekati semua cewek yang mereka sukai. Menurut Annisa, aku sudah masuk di level ini. Strategi kedua adalah tahap menstabilkan api. Sudah tak ada lagi pengejaran berlebihan. Hubungan asmara berada dalam api yang stabil. Setelah masuk dalam tahap ini, dimulailah seleksi. Proses seleksi tentu berdasarkan preferensi yang dipengaruhi oleh pengalaman, konstruksi gender, impian masa kecil, keinginan mencari yang mirip “Ibunya”, dan fantasi seksual yang referensinya berasal dari film porno dan media populer lainnya. Dalam penjelasan yang berperspektif ekonomi-politik, mereka mulai melakukan seleksi berdasarkan kebutuhan dan kepentingan. Maka, perempuan yang paling dekat dengan kebutuhan mereka atau memiliki kapital yang paling banyaklah yang akan menang. Teori ini sudah diuji Annisa dengan metode in-depth interview pada 10 laki-laki dari 3 kota berbeda di Pulau Jawa. Aku sendiri menanyakan hal ini pada Daddy. Dengan bahasa yang sederhana, Daddy menjelaskan padaku. Girls, teori ini nyata adanya. Namun, tidak hanya laki-laki saja yang memakai strategi ini. Perempuan juga ternyata mempraktekkan hal yang sama (kita akan bahas di lain kesempatan).

Di masa itulah, aku mulai mengalami yang dinamakan fenomena diberi harapan palsu. Aku merasa ngambang. Aku merasa sendirian dalam hubungan ini. Aku memberi terus tetapi tidak pernah menerima. Dia tidak pernah benar-benar hadir untukku. Dia masih membalas chat tapi chat-nya seadanya dan hanya untuk tetap terkesan baik. Bagaimanapun kami dihubungkan oleh senior kami yang sama-sama kami hormati. Setelah kupelajari polanya dan diskusi dengan Annisa, aku menemukan bahwa Ra menjadikanku seperti ban serep. Dia memiliki target yang sesungguhnya, tapi belum dia dapatkan. Tampaknya, perempuan yang lebih ia sukai itu juga tidak memberikan kepastian. Maka, untuk mengobati kerinduannya, ia tetap meladeniku (dan mungkin juga para fans-nya yang lain) sebagai pengobat rasa sepinya. 

Lama-kelamaan aku tidak tahan juga. Aku harus mendapatkan kepastian. Jalan satu-satunya adalah mengungkapkan perasaan. Aku kini berhadapan dengan dilema yang sungguh klasik. Aku hidup dalam tatanan kultur patriarki yang akan memandang hina perempuan yang mengungkapkan perasaannya pada laki-laki. Di sisi lain, aku harus memperjuangkan perasaanku. Ditolak ataupun diterima, itu masalah lain. Aku membutuhkan penjelasan. Aku teringat Anthony Giddens dalam bukunya The Transformation of Intimacy bahwa ikhwal demokrasi berasal dari hal-hal privat yang diperjuangkan. Bagaimana bisa memperjuangkan hak-hak publik ketika hak-hak pribadi saja tidak bisa. Saat itu aku merasa seperti pejuang cinta yang heroik. Bagi pejuang, hanya ada dua pilihan: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah atau kalah. 

Aku akhirnya mengungkapkan perasaanku. Berat untukku. Ada rasa malu dan takut. Tapi, aku menguatkan diri. Aku menyatakan aku menyukainya dan merasa hubungan kita selama setahun sudah cukup membuatku belajar mengenalnya. Lalu, aku menanyakan apakah ia memiliki perasaan yang sama padaku dan mau berelasi serius denganku. Ra menjawab bahwa ia berterima kasih aku memiliki perasaan padanya. Namun, Ra jujur mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Ia ingin berteman denganku saja. Ra mengakui bahwa ia menyukai perempuan lain yang ternyata sudah dekat dengannya setahun ini (hasil diskusi dengan Annisa terbukti). Tapi, dia sendiri juga galau karena sang Nona belum memberikan dia kepastian. Aku menghela napas panjang. Dengan ksatria aku menerima “kematian”-ku. Aku bilang kalau begitu aku tidak bisa lagi berhubungan dengan dia seperti kemarin-kemarin. Aku butuh jarak. Aku butuh waktu untuk menetralkan perasaanku dulu. Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat dan sukses untuknya dan semoga ia berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Ra juga mengucapkan hal yang sama. Hubungan kami benar-benar berakhir.

Tentu setelah itu aku sedih luar biasa. Aku mendengarkan lagu-lagu patah hati. Untuk pertama kalinya, aku mengerti makna lagu November Rain-nya Guns N' Roses. Aku bisa merasakan Axl Rose meneriakkan jeritan jiwaku. Aku mengalami penolakan sekaligus kehilangan. Aku curhat pada Mami. Mami menghiburku. Beliau bilang, “Ya harus diterima kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Itulah saran cinta terakhir dari Mami. Aku menangis sepanjang minggu itu. Sampai semua rasa sakitku menghilang, aku tidak mau menjalin relasi dengan orang lain atau menjadikan orang lain sebagai rebound. Aku mau menyelesaikan dulu luka batinku. Jika aku siap, aku percaya aku akan jatuh cinta lagi. Dalam masa penyembuhan itu, aku menjalani hari-hariku dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan bersama Annisa (yang juga mengalami patah hati), kami berkolaborasi untuk menuliskan pengalaman patah hati kami ke dalam jurnal ilmiah. Tujuannya, kami ingin berbagi pengetahuan dan menguatkan satu sama lain. 

Namun, hidup selalu punya kejutannya sendiri. Beberapa waktu kemudian aku mendapat berita tak terduga. Kabar itu datang dari sahabatku Tedtod. Tedtod bercerita bahwa gadis yang disukai Ra adalah temannya saat masih di Belanda. Gadis itu juga idola di kalangan intelektual muda Indonesia. Sama-sama memiliki kepedulian kepada kemanusiaan dan aktivisme. Gadis itu cantik sekali. Aku bisa melihat bahwa wajar saja Ra memilih dia. Aku menerima bahwa modal sosial gadis itu lebih banyak. Tidak apa-apa. Semua orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Kelak Tedtod memberi tahuku bahwa gadis itu akhirnya tidak bersama dengan Ra. Ia memilih menikah dengan orang lain. 

Dua tahun kemudian, aku bertemu Ra di suatu konferensi akademik. Perasaanku padanya sudah netral. Kami bertemu tidak sengaja. Ia terlihat canggung dan salah tingkah. Kami sempat ngobrol sebentar, tapi rasanya sudah berbeda. Kami seperti dua orang asing. Ia bahkan beberapa kali menghindariku. Semuanya sudah jauh berbeda. Aku mencoba bersikap seperti teman lama. Tapi, Ra sudah tidak bisa biasa lagi. Mungkin inilah kesedihannya, kita pernah tidak saling mengenal, lalu berhubungan, lalu kemudian berpisah, dan menjadi dua orang asing kembali. 

***

Aku mengenang peristiwa itu sebagai pelajaran tentang hubungan romantis. Kadang di kelas aku membagikan pengalaman ini dengan mahasiswa-mahasiswaku. Aku bisa relate dengan perasaan mereka yang jatuh bangun dengan cinta. Ya, jatuh cinta memang bukan pilihan. Itu seperti peristiwa kecelakaan. Akan tetapi, memilih untuk berelasi adalah pilihan sadar dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan konsekuensi. Tak ada relasi yang tanpa penderitaan. Seperti kata Alain de Botton, "It is normal that you are suffering. Life is suffering". Ide berelasi tanpa menderita adalah khayalan. Penderitaan itu terjadi karena kita adalah manusia yang punya kelebihan dan kelemahan. Justru karena kita manusia maka relasi kita tidak sempurna dan kita harus mengakui dan menerima itu. Memutuskan berelasi dengan seseorang adalah seperti memilih penderitaan dari penderitaan yang ada. Setiap kisah cinta hanyalah awal karena selanjutnya adalah proses dan keterampilan untuk sampai pada tindakan cinta.

Peristiwa itu juga mengajariku untuk menguji apakah intensiku tulus untuk mencintai seseorang atau tidak. Kadang kita silau dengan seseorang karena hal-hal yang melekat padanya. Hasrat pada keindahan adalah manusiawi, namun hal itu harus diuji dengan kebenaran. Apakah kita siap menerima bahwa orang yang dipuja dan dipandang wow oleh orang banyak ternyata memiliki sisi-sisi yang ternyata membuat kita kecewa? Apakah kita mencintai seseorang karena "dia" dengan segala kelebihan dan kekurangannya atau karena dia merupakan piala yang diperebutkan banyak orang. Kita pun cenderung menjadikan pasangan kita sebagai pemuas kebutuhan. Hubungan itupun tak lepas dari saling bertransaksi. Tampaknya memang adil dan setara, tetapi apakah itu memanusiakan manusia?

Hal lain yang juga menyakitkan dan membuatku merasa terkhianati adalah kenyataan bahwa banyak intelektual dan aktivis laki-laki yang mempelajari teori anti penindasan tapi ternyata (sadar atau tidak) tetap mempraktekkan penindasan. Banyak juga yang membaca teori feminisme dan mendukung gerakan perempuan tetapi masih patriarkal dan tak mau melepaskan privelese yang diberikan padanya. Melepas privelese, berarti tidak menjadi "laki-laki". Banyak yang akhirnya memilih tetap menjadi "laki-laki" daripada menjadi manusia. Akibatnya, meskipun mereka berbicara tentang kemanusiaan, mereka tidak bisa relate dengan penderitaan kemanusiaan yang sesungguhnya. 

Pada akhirnya, aku sampai pada suatu pertanyaan: bagaimana kita bisa berbicara tentang cinta, jika kita tidak tahu caranya mencintai?

Love Story

Antara Ada dan Tiada

Jumat, Januari 17, 2020

Dulu waktu SMP saya suka dengar lagunya Utopia yang berjudul Antara Ada dan Tiada. Kebetulan lagu itu jadi populer karena menjadi soundtrack sinteron horor remaja. Lagu itu se-dark masa SMP saya yang penuh drama (edodoeee...). Prelude lagunya juga serem dengan suara Pia yang sayup-sayup gothic. Lagu itu menggambarkan rasa letih untuk menggapai sesuatu yang ada tetapi tiada, tiada tetapi ada. Bagian favorit? Setelah interlude dong, dimana harmoninya lebih emosional dengan menaikkan satu laras pada bagian reffrain. 

Di zaman itu pula, saya punya obsesi untuk menjadi anak band. Demi mewujudkan cita-cita yang luhur itu, saya mendaftar ikut ekstrakuriler band sekolah. Ternyata yang masuk eskul itu adalah mereka yang sudah mahir bermain musik, entah itu drum, piano, keyboard, gitar, bass, atau biola. Lalu, yang kemampuan bermain musiknya di bawah standar banyak yang memilih menjadi vokalis. Mereka ini yang sering mewakili sekolah di lomba-lomba paduan suara atau solo. Minimal sebagian adalah penyanyi Mazmur dan solois untuk ibadah bulan Maria. 

Walaupun sebagian besar keluarga saya adalah musisi, waktu pembagian gen saya sama sekali tak berbagi kejeniusan dengan mereka. Main musik tidak pernah beres. Menyanyi juga suara pas-pasan. Akhirnya, saya memilih peran sesuai kapasitas saya yaitu sebagai groupies. Yup, para pemain band itu perlu fans fanatik yang setia bersorak saat mereka tampil. Inspirasi saya waktu itu groupies-nya Guns N’ Roses yang tentu saja seringkali berakhir ricuh. 

Di eskul band itu, saya sempat punya kecengan semasa SMP hahaaa. Dia kakak kelas yang kalau sudah main gitar langsung pusinglah pala Barbie ini saking cool-nya beliau. Si Kakak Kelas ini menginspirasi saya membuat lagu. Suatu bakat yang ternyata terpendam. Sampai SMA, saya masih suka membuat lagu. Tanpa alat musik. Hanya bermodalkan senandung. Saya menyanyikan lagu-lagu itu di depan sahabat saya, Tirta, dengan penuh perasaan. Pernah pula dinyanyikan oleh grup vokal untuk penilaian mata pelajaran Kesenian. 

Oke, kembali ke si kakak Kelas. Setiap band-nya manggung di acara sekolah. Saya dengan siap siaga berdiri di samping panggung bersama groupies yang lain. Dengan berpenampilan kasual tapi ada spirit glam rock-nya, doi menyanyikan Look What You’ve Done-nya JET dengan sempurna. Tak lupa juga kesalehan beliau tersiar ke penjuru sekolah. Kami memang bersekolah di sekolah Katolik, tapi si Kakak Kelas ini rajin izin untuk menunaikan sholat Jumat. Makin so sweet kan ya… Oiya si Dia ini punya adik perempuan yang sekarang jadi bintang film papan atas negeri ini. Dulu saya ingat, adiknya ini posesif dan nempel banget sama kakaknya. Dia sering membuat kami para groupies yang hina ini cemburu setengah pingsan. 

Hari ini saya terkenang kembali masa-masa SMP yang biru sebiru langit biru. 

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka. 

Love Story

Maureen's Love

Selasa, Mei 28, 2019

Maureen adalah keponakan saya. Umurnya baru 10 tahun. Dia sekarang duduk di kelas 4 sekolah dasar bermutu internasional. Suatu hari, sepulang dari sekolah,  dia bercerita bahwa dia sedang jatuh cinta. 

Maureen: Aunty, I think I'm falling in love deh.
Me: Oya? With whom?
Maureen: His name is Carlo
Me: Wow... Do you think he is also falling for you?
Maureen: Yes, he said he loved me a week ago. I just didn't know how to respond him, so I shrugged. 
Me: Why don't you said "thank you"? Just be polite to him.
Maureen: Hmmm. *berpikir*. Well, Aunty, I think I'm going to say I love him back deh.
Me: Eh. Why?
Maureen: Because he is nice to me. Sometimes other boys are mean to me. When I approach them, they don't treat me well. But, Carlo always stays beside me. We love to draw together and he always shares his lunch with me. He is nice. I think I wanna be his girlfriend. Maybe, I will marry him. 
Me: *terhenyak*. Ok, but first, you must finish your school ya. Someday, you can ask Carlo to play at home. I wanna meet him. 
Maureen: Okay. Bye Aunty. 

Kata-kata Maureen, nancep di hati saya. Sebuah kalimat sederhana dari anak perempuan, " I love him because he is nice to me."

Love Story

Tentang Mencintai

Senin, September 10, 2018

Bunda Maria memberikan teladan yang luar biasa dalam mencintai:


"Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau harus kuat melepaskannya..."

Love Story

Bau Gosong di Kamar

Rabu, Mei 24, 2017

Ya, bau gosong.

Tercium tiba-tiba seperti dihembuskan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tak ada benda elektronik yang tersambung ke kontak listrik. Tak ada pula benda apapun yang terbakar di kamar. Seorang kawan yang kuceritakan perihal ini berseloroh,"Palingan orang yang lagi bakar sampah". Tetapi mana ada orang yang membakar sampah pada jam 3 subuh?. Lagipula, baunya tak akan sampai ke kamar dan bau sampah yang terbakar berbeda dengan bau gosong yang kucium ini. Ia hanya tercium sejenak lalu menguar bersama udara. 

Waktu itu, saya sedang tertidur, dan di antara sadar dan tidak sadar (kalian tahu kan fase setelah tidur dalam yang kemudian perlahan mencapai titik kesadarannya), saya mencium bau seperti setrika yang terlalu panas atau benda lainnya terbakar seperti diemprot ke hidung saya. Sontak saya langsung terjaga dan melirik ke jam dinding, tepat pukul 3 Subuh. Perasaan saya jadi tidak enak.

Saya langsung teringat cerita Eyang tentang hantu belanda di pusat bahasa UGM. Konon, setiap menjelang magrib selalu tercium bau seperti singkong terbakar. Saya segera meng-googling tentang bau gosong itu dan rata-rata artikel yang muncul bersepakat bahwa itu adalah salah satu tanda dari keberadaan makhluk astral. Jauhhhh sekali, saya pernah mendengar legenda di tanah Jawa. Makhluk itu disebut Genderuwo. Tubuhnya besar, berbulu, bertaring, dan jika ada kesempatan ia suka bercinta dengan manusia. Salah satu tandanya adalah bau gosong itu. 

Genderuwo -dalam kepercayaan rakyat- suka mengambil rupa manusia. Ada genderuwo perempuan dan ada genderuwo laki-laki. Mereka juga dikisahkan suka bersetubuh dengan manusia. Misalnya, genderuwo laki-laki akan mengambil rupa suami atau kekasih perempuan yang mereka sukai. Jika suami mereka pergi, maka Genderuwo akan menyamar sebagai suami si perempuan, menyetubuhinya, dan kelak perempuan itu hamil dan melahirkan anak genderuwo. Hal yang sama juga berlaku dengan genderuwo perempuan kepada manusia laki-laki. Ironisnya, meski hubungan itu terlarang, anak-anak hasil persilangan genderuwo-manusia seringkali menjadi entertainer untuk masyarakat kelas bawah. Kita sering menemukan mereka dalam pasar malam keliling. Mereka menjadi tontonan pelepas duka susahnya hidup. Sampai sejauh, penjelasan medis menganggap mereka yang dijuluki "Genderuwo" adalah orang-orang dengan pengidap kelainan sel kulit atau genetik lainnya.

***

Kembali pada bau gosong itu, saya masih penasaran. Jika otak adalah bagian tubuh manusia yang paling misterius, bisa saja otak saya mengkreasikan suatu halusinasi. Dasar otak manusia kelas menegah, yang tercium justru bau gosong bukannya bau parfum Channel No.5. Tetapi, jika kita menariknya dalam konteks okultisme, maka bau gosong itu adalah tanda dari suatu makhluk lain. Jika benar itu adalah bau si Genderuwo, maka sesungguhnya ia bisa saja mengambil rupa manusia dan bisa saja ia "macam-macam" dengan saya. Persoalannya, kebetulan saya belum menikah dan gebetan saya sedang berjarak jutaan tahun cahaya. Tentunya, jika ia menyamar sebagai si doi, ini akan menimbulkan suatu kegemparan. Kesimpulan, Genderuwo ternyata juga pinter dan rasional. 

Tapi, tunggu dulu. 
Bukankah kisah-kisah makhluk seperti ini antara ada dan tiada. Kita selalu mendengar dari seseorang yang juga mendengar dari seseorang tanpa mereka pernah melihat langsung. Sekalipun kita mempunyai teman yang mengaku bisa melihat hal-hal yang diluar kemampuan kita, tapi bukankah melihat juga persoalan tricky: Ia hanya melihat satu bagian dari keseluruhan sesuatu itu. Saya sendiri lebih memilih melihat  Genderuwo sebagai rekayasa, suatu horror dari hal-hal yang tak diinginkan dari masyarakat, misalnya kisah cinta beda agama, etnis, atau kelas sosial. 

Kisah "makluk-makluk" yang dianggap bukan "manusia umumnya" selalu berujung pada persetubuhan dengan "manusia yang umumnya". Masyarakat kita telah menciptakan idealitas-idealitas, bahkan untuk relasi antara manusia. Idealitas itu diterima dan dilanggengkan dengan nilai-nilai dan ukuran-ukuran. Anak perempuan Pak Pendeta tentu diharapkan tidak berkasih-kasihan dengan anak Pak Haji atau anak laki-laki kesayangan Pak Menteri tak diharapkan jatuh cinta dengan asisten muda belia yang bekerja di rumahnya. Pasangan-pasangan yang dianggap tidak ideal dan menganggu tatanan ini dianggap sebagai abjek (subjek yang menghadirkan rasa jijik dan malu sehingga ia dihinakan atau disingkirkan). Dan ia dibangkitkan dalam horror tentang Genderuwo dan istri Pak Lurah yang jelita. 

Ah, mungkin kisah Genderuwo terlalu ndeso. Kisah ini terlalu purba dan anak-anak jaman sekarang lebih suka yang kebarat-baratan. Hmm..bagaimana dengan kisah Shrek dan Princess Fiona? Beauty and The Beast? Putri dan Pangeran Kodok? 

Bagaimana kisah antara aku dan kamu?

Love Story

Monster Feminin

Selasa, Mei 23, 2017

foto: Ahmanet, google


Ahmanet, putri Mesir yang digadang-gadang akan menjadi Firaun selanjutnya, telah dikhianati dan karena itu ia melakukan kudeta dengan membunuh ayahnya dan memohon bala bantuan kekuatan kegelapan. Malang, Putri Firaun yang pintar, jelita, dan jago berkelahi itu tertangkap dan dihukum dengan hukuman paling berat: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, ia dibangkitkan secara tak sengaja dan membalas dendam pada dunia. 

Begitulah cuplikan trailer film The Mummy (2017) franchise terbaru dari film The Mummy yang dulu diperankan oleh Brendan Fraser dan sekarang diganti dengan Tom Cruise. Saya selalu suka film-film aksi-petualangan berbau mitologi dan spiritualitas seperti itu. Bahkan saya dulu sempat bercita-cita menjadi arkeolog dan pada suatu ketika berhasil memecahkan misteri makam Tuthankamen (amboiiii…). Tapi lama kelamaan, saya jadi memikirkan nasib Putri Ahmanet ini. Begitulah ia menjadi moster feminim, seorang perempuan yang dihalangi menjadi pemimpin, disingkirkan, dan kemudian menjadi horror dengan dendam yang membara. 

***

Bukankah di kehidupan nyata kita selalu bertemu perempuan-perempuan yang di-monster-kan seperti ini. Saya jadi teringat Tante Justine (bukan nama sebenarnya), saudara jauh ibu saya. Ia Tante yang sangat penyayang dan baik pada kami. Di masa mudanya ia pernah menjadi pujaan para pemuda. Gadis Ambon-Indo yang rupawan, jago musik dan dansa. Kecintaannya pada musik tak tertandingi. Ia sangat disiplin kalau menyangkut soal itu. Jika paduan suara keluarga akan bernyanyi (biasanya dalam acara pernikahan atau pemakaman), Tante Justine akan tampil mengemuka sebagai dirigen. Telinganya setajam sonar lumba-lumba. Ia bisa mengetahui suara siapa yang fals. Tentu saja saya selalu kebagian delikan matanya. “Marieke, jangan menyanyi keras-keras ya,” begitu katanya. Lalu sepanjang 3 menit lagu itu dinyanyikan, mulut saya cuma mangap-magap lipsync, saking takutnya kalau sampai terlalu keras saya akan diceramahi Tante Justine. Selain itu, Tante Justine memang punya reputasi sebagai orang yang streng dan kalau ia jengkel ia tak segan memaki dalam bahasa Belanda. Terus terang kami, para keponakan, jadi segan padanya. 

Tetapi pada suatu hari, saya menemukan suatu cerita sedih tentangnya. Di masa mudanya Tante Justine pernah jatuh cinta pada seorang lelaki taruna angkatan laut. Di masa itu, tak mudah menjadi kekasih calon prajurit. Rindu bertumpuk-tumpuk dalam surat. Belum ada whatsapp atau line yang bisa bikin kita tiba-tiba chit-chat manja. Konon, kesabaran menjadikan cinta tak lekang oleh waktu. Maka, pasangan kekasih yang muda belia dimabuk asmara itu tahan-tahan saja menjalaninya bertahun-tahun. Jika sang lelaki liburan, mereka akan pergi dansa dansi atau pergi ke bioskop. Bercengkerama di taman kota atau sama-sama masuk gereja. Dunia menjadi indah bagi Tante Justine dan Om Angkatan Laut. 

Mereka pasangan yang diidealkan dan dikagumi. Betapa serasi. Tante Justine sangat mencintai lelaki itu dan keliatannya lelaki itu juga demikian. Mereka berencana menikah. Namun, malang tak dapat ditolak, lelaki pujaan Tante Justine membatalkan pernikahan. Selidik punya selidik, lelaki itu justru berselingkuh dengan perempuan lain yang kelak menjadi istrinya sekarang. Perempuan itu ternyata sahabat Tante Justine, yang selalu ditemaninya curhat tentang si Om Angkatan Laut. Sejak saat itu, konon Tante Justine jadi bitter dan streng. Tapi tenang saja, ia tak menjelma nenek sihir meski patah hati. Tante Justine akhirnya menikah dengan pria yang memiliki masa depan yang secerah Bintang Timur. Sudah kubilang kan, Tanteku itu wanita pujaan bangsa.  

Namun, meski waktu berjalan dan presiden Indonesia berganti-ganti, cinta Tante Justine tak kunjung padam, paling tidak apinya masih menyala sedikit-sedikit. Maka setiap kali ia mendengar lagu Hawaiian Wedding Song ia akan bersedih dan teringat mantan kekasihnya itu. Pernah dalam pesta pernikahan kakak sepupuku, lagu Hawaiian Wedding Song dinyanyikan dan meski ia berdansa dengan suaminya, matanya tampak terkenang sesuatu. 

***

Di tahun 1999, film The Mummy pertama kali ditayangkan dengan karakter Imhotep sebagai mumi-nya. Imhotep adalah pendeta kepercayaan Firaun yang jatuh cinta pada Anack Su Namun, selir kesayangan Firaun. Kisah cinta terlarang mereka, membuat Imhotep dan Anack Su Namun bersekongkol membunuh Firaun agar mereka dapat bersama. Seperti nasib Ahmanet, paspampresnya Firaun, Madjai, menangkap Imhotep dan Anack Su Namun mati bunuh diri. Imhotep dihukum dengan kutukan kejam: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, makamnya tak sengaja dibuka dan mumi ini akhirnya ingin balas dendam, mengusai dunia, plus membangkitkan kekasihnya dari kematian. Yang saya salut, Imhotep harus mengalami dua kali kematian untuk bersama Anack Su Namun yang pada akhirnya mengkhianati dia. Saya jadi kasihan pada Imhotep waktu nonton The Mummy Returns (2001) saat ia melihat Anack Su Namun meninggalkannya. Patah hati, Imhotep menyerahkan nyawanya sekali lagi. 

Dua cerita mumi ini meskipun keliatannya mirip sebenarnya sangat berbeda. Perempuan “dimumikan” karena ia ingin menjadi pemimpin, tetapi Laki-Laki dimumikan karena cinta dan kekuasaan. Monster maskulin selalu menampakkan kegagahan, eskpresi sesualitas yang positif. Sementara monster feminim selalu menampakkan rasa jijik akan ekspresi seksualitas itu. Seks menjadi senjata sekaligus horror yang ditakuti. Seperti Tante Justine, orang-orang menjustifikasi sikap kerasnya karena ia pernah kecewa dan dendam di masa lalu. Orang-orang tak bersimpati pada luka dan sakitnya. Seumur hidup ia diikuti dengan kisah masa lalunya yang diungkit-ungkit dalam bisik-bisik dari mulut ke mulut. Meskipun ia berbahagia dengan kehidupannya hari ini. 

Dan ya, seperti yang dianggap normal, orang-orang tak pernah bertanya lagi tentang kabar si Om Angkatan laut.

Love Story

Suami Dari Masa Depan

Minggu, Maret 12, 2017

Tadi malam secara tidak sengaja saya menemukan film webseries berjudul Sore: Istri Dari Masa Depan. Ceritanya tentang seorang laki-laki bernama Jonathan yang tiba-tiba didatangi seorang perempuan bernama Sore yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Sutradaranya ternyata kakak kelas saya dulu waktu SMA, Yandy Laurens. Saya tidak tahu apakah Yandy masih ingat pada saya atau tidak, tapi dia adalah orang yang mengurut kaki saya yang engkel gegara lompat dari lantai 2 sekolah (serius loh!). Waktu itu ada acara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di sekolah dan salah satu outbond-nya adalah melompat dari lantai dua. Dibawah sudah bertumpuk-tumpuk matras dan ada tali tambang yang kuat untuk menopang badan (ini tujuannya untuk mengurangi resiko cedera). Saat itu banyak anak yang ingin membuktikan diri sebagai Superman, apalagi kalau dia cewek, termasuk saya. Kalau pakai tali kan lama, nah saya langsung saja lompat (dan saya bukan satu-satunya). Untung kaki kiri saya tidak patah meskipun waktu itu rasanya seperti berjalan dengan daging tanpa tulang. Yandy sebagai wakil ketua Osis (dia kelas 3 waktu itu, saya masih kelas 1), panitia, dan anak basket segera berinisiatif memberikan pertolongan pertama: diurut. Waktu itu -diantara sakit dan ngilu-, saya kok bisa-bisanya berkhayal berada dalam film romantis. Karena yang kakinya engkel banyak, kemungkinan Yandy mengurut banyak anak juga. Hari ini, Yandy menjadi salah satu sutradara yang pernah meraih piala Citra dan kaki kiri saya sampai sekarang kayak mesin yang sekrupnya longgar. 

Anyway, ide cerita film itu kok seperti yang pernah saya impikan. Terbukti karena saya sudah menebak ending filmnya. Mungkin inilah kata Jung tentang memori kolektif, mungkin sungguh pikiran manusia saling terhubung. Saya pernah berkhayal bagaimana kira-kira kalau suatu hari nanti, di tengah situasi perasaan saya yang mendung, muncul seorang laki-laki yang mengaku sebagai suami saya dari masa depan. Saya sih waktu itu belum punya figur yang seperti apa. Masih tertutup kabut. Tetapi karena menonton film Sore tadi malam dan karena saat ini saya lagi menelisik karakter-nya Duff McKagan, maka figur "suami masa depan" saya itu ya seperti Duff, tapi Duff versi tahun 1988-1992. 

Saya membayangkan pulang kantor, tiba-tiba ada cowok setinggi 6 kaki, berambut pirang gondrong, memakai kaos Ramones, dan celana hitam ketat plus boots menunggu saya di beranda. Dia akan menyapa saya dengan senyumnya yang seperti ditahan-tahan itu. Agak malu-malu, tapi hangat dan menyayangi. Sepertinya saya akan langsung pingsan. Begitu sadar, daku sudah berada di pangkuan doski yang langsung berujar, "Are you okay, honey?". Oh oh oh, aku pingsan lagi. 

Sejujurnya saya belum tahu apa yang akan saya lakukan kalau bertemu suami masa depan saya, apalagi kalau figurnya kayak Duff. Mungkin lazimnya, saya akan minta dia bercerita bagaimana kita bertemu. Apa yang membuat dia jatuh cinta pada saya. Mengapa dia mau menikah dengan saya. Mungkin saya mau minta diajarin main bass, gitar, dan drum juga, siapa tahu kita bisa membentuk band rock 'n roll baru. Mungkin kita akan diskusi tentang filsafat dan agama. Mungkin kita akan membahas perkembangan musik dunia lengkap dengan sejarahnya. Mungkin saya akan minta diajak main ke kampung halamannya di Seattle. Mungkin kita akan nonton konser band punk. Mungkin dia akan menyanyikan lagu You Can't Put Your Arms Around a Memory dan saya akan menari-nari di sekitarnya. Mungkin kita akan berciuman.

Mungkin saya akan bilang padanya, "Saya tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Dan dia akan membalasnya," Terima kasih sudah menunggu."




Love Story

Sweet Child O' Mine

Minggu, Maret 05, 2017

She's got a smile that it seems to me
Reminds me of childhood memories
Where everything was as fresh as the bright blue sky
(Sweet Child O' Mine - Guns N' Roses)



Saya selalu penasaran dengan bagaimana cara semesta bekerja. 

Setiap kali jatuh cinta, entah mengapa segala sesuatu tentang subyek tersebut akan selalu muncul dimana-mana sebagai kejutan yang manis dan menggetarkan. "Orang asing" ini menjelma iklan komersil yang menggoda dan membuat dadamu berdesir. Tiba-tiba namanya menjadi familiar. Ia muncul dalam percakapan orang-orang yang bahkan kau tidak kenal saat sedang menunggu angkot. Salah satu nama lengkapnya menjadi nama toko mebel atau apotik. Hampir semua orang yang kau tahu tiba-tiba menjadi kenalannya, dari memang teman hingga hanya sekedar pernah mendengar. Nama kota tempatnya tinggal tiba-tiba muncul dalam film yang kau tonton secara tidak sengaja di TV. Idolanya, buku-buku yang ia baca, musik yang ia dengar, film-film yang ia sukai tiba-tiba menjadi sangat bermakna ketika kau melihat atau mendengarnya. Belum lagi informasi-informasi yang kau dapatkan tanpa sengaja dari cerita orang-orang sehingga kau pelan-pelan menilai dirinya. Seakan-akan dunia menyodorkan segala sesuatu tentang sang subyek kepadamu. Kita pun merasa terkoneksi dengan subyek tersebut. Sekalipun sang subyek begitu jauh untuk digapai. 

Saya punya sebuah cerita. Saya adalah penggemar berat band Guns N' Roses. Selain kualitas musik dan kultur yang ia sebarkan ke segala penjuru dunia, band ini merupakan penanda ingatan penting di masa kanak-kanak saya. Kemudian, ada masa yang putus sehingga saya hanya mengingat mereka samar-samar. Obsesi itu muncul lagi ketika saya duduk di bangku SMP. Itu tahun 2004 dan internet hanya bisa diakses oleh orang kaya. MTV tidak segahar di tahun 80-90-an lagi. Lupakan YouTube, lupakan Google. Untuk menyuntik lagu-lagu di toko HP harus membayar 50.000 itupun tidak banyak karena keterbatasan memory card dan harga memory card dengan kapasitas besar saat itu cukup mahal. Dengan setia, saya bertekun menanti video klip mereka setiap hari di MTV atau VH1. Pagi, siang, malam. Saya merindukan kenangan itu. Saya jatuh cinta pada masa lalu. 

Saya mulai memburu segala sesuatu tentang GNR. Barang sekecil apapun, informasi sekecil apapun akan sangat berarti. Saya membeli banyak majalah, termasuk Rolling Stones namun informasi yang saya dapatkan sangat sedikit. Semua teman sekolah saya tahu kalau saya menyukai mereka. Lalu datanglah keajaiban-keajaiban. Ketabahan saya berbuah manis pada suatu hari ketika VH1 memutar vidklip Sweet Child O' Mine dan Patience. Guru les matematika saya -seorang mahasiswi fakultas MIPA- memberi info bahwa seorang temannya menjual poster Axl Rose dan GNR. Saya langsung beli dua. Poster wajah Axl Rose yang jadi cover majalah Rolling Stones yang ukurannya paling besar (satu dinding full) dan band GNR formasi album Appetite for Destruction. Saya tempel di dinding kamar, hingga seorang tante yang pernah berkunjung berkomentar, "kamarmu seperti studio musik". Dunia kemudian perlahan-lahan membawa "mereka" pada saya. 

Seorang teman dengan senang hati mencarikan gambar-gambar GNR di internet untuk saya. Ketika bertemu kami langsung kirim-kiriman via Bluetooth. Teman tersebut juga yang memberikan CD MP3 semua kumpulan album GNR plus vidklipnya sebagai hadiah Natal. Sayang sekali, menjelang kelulusan SMA kami sudah jarang berinteraksi karena beda kelas dan beda ideologi. Tapi saya tidak pernah lupa pada kebaikan hatinya. Suatu kali, saya jalan-jalan di Mall dan menemukan stand penjual baju-baju kaos band. Saya menemukan satu kaos yang ada gambar GNR-nya. Bajunya sekarang sudah ketat, tapi masih bisa dipakai. Itu satu-satunya baju kaos band yang saya punya. Saya punya rule untuk tidak mau memakai baju kaos band jika lagu-lagunya tidak pernah saya dengar hanya karena band-band tersebut keren di mata kawula muda. Selain itu, simbol-simbol GNR tiba-tiba muncul di film-film Indonesia (coba nonton film 30 Hari Mencari Cinta dan Catatan Akhir Sekolah). Walaupun sebegitu cintanya saya pada GNR, formasi awal band tersebut telah retak meskipun bandnya belum bubar. Seberapa keras pun saya menggilai mereka, mereka hanyalah masa lalu.

Rasa tersebut tidak menggebu-gebu lagi ketika saya kuliah. Namun, saya tetap menjadi penggemar mereka. Tahun 2012, GNR menggelar konser di Jakarta, namun GNR hari ini bukan GNR yang saya kenal. Saya menginginkan mereka reuni, kalau perlu formasi Appetite for Destruction. Tahun 2016, Tuhan menjawab doa saya (dan penggemar mereka di seluruh dunia), meskipun tidak lengkap seperti dalam formasi asli, namun GNR tetap GNR dengan adanya Axl, Slash, dan Duff, serta beberapa personil baru yang memberikan kesegaran pada musik dan penampilan mereka. Saya baru mengetahui hal itu ketika Kak Emma memberitahu saya bahwa GNR versi reuni ini akan konser di Sydney bulan Februari yang lalu. Kak Emma mengirimkan video-video mereka, dan sungguh saya menangis terharu dibuatnya. Semoga saya mendapat kesempatan yang sama untuk menonton konser GNR reuni ini di kemudian hari. Efeknya, kami membicarakan mereka hampir tiap hari. Kami seperti Penny Lane di film Almost Famous. Namun, Penny Lane yang suka membaca dan menulis. 

Kini dengan mudahnya akses internet, informasi tentang GNR bisa saya dapatkan dengan mudah. Saya bisa menonton wawancara dan konser-konser mereka di tahun 1988-1992 hanya dengan mengetik di YouTube. Saya kasmaran lagi persis seperti ketika masih SMP. Namun, kali ini lebih sok-sok seperti pengamat musik. Saya mulai membaca ulang biografi band ini, lalu senyum-senyum manja sambil tidak lupa melaporkan informasi-informasi yang saya dapatkan ke Kak Emma. Kami tidak hanya membicarakan GNR saja, tapi mengaitkan dengan situasi musik di Amerika saat itu, mulai dari Seattle Sound (dan kebangkitan genre grunge) hingga konflik antar band rock. Percakapan kami mungkin jika dikumpulkan bisa menjadi paper mahasiswa studi musik populer di universitas hihihi. 

*** 

Masih dalam suasana "kasmaran", tadi saya menonton film Captain Fantastic. Saya suka bagaimana cara Ben dan Leslie mendidik anak-anak mereka. Belum lagi konflik yang menghadang mereka ketika melawan dunia yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme. Film ini tidak hanya bercerita tentang bagaimana seharusnya menjadi "keluarga" tetapi juga memberikan kita gambaran seharusnya melihat dunia di sekitar kita. Menjadi manusia laki-laki dan perempuan, menjadi anak, menjadi orang tua, menjadi saudara, dan menjadi pasangan suami-istri. Selalu ada alternatif dalam hidup ini dan kita bisa memilih meskipun pilihan itu terkadang memaksa kita untuk bernegosiasi. 

Dan, di akhir film mereka menyanyikan lagu Sweet Child O' Mine.

Love Story

Mari Bercinta!

Sabtu, Februari 25, 2017

*tumblr


Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu 
Cukup pintarkah dirimu untuk selalu kunantikan 
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku 
Mampukah kita bertahan di saat kita jauh

Kebetulan lagu ini yang dinyanyikan Sheila 0n 7 di TV pas si Mami lagi cari-cari channel. Siaran TV nasional (minus TV kabel ya) memang jarang menarik di jam-jam begini. Sebenarnya saya agak kesal tentang perkara TV kabel ini. Dulu kedua orang tua saya yang tercinta berjanji memasang TV kabel pas saya lulus SD. Nyatanya sampai hari ini janji itu belum terpenuhi. Selalu ada alasan si Mami untuk mengeles. Mulai dari “kamu harus konsentrasi belajar” sampai “kamu sudah terlalu besar untuk nonton TV”. Selain itu, meski sudah menginjak tahun keempat tinggal di Jogjes, saya juga belum pernah sekalipun menonton konsernya SO7. Selalu saja ada halangannya meskipun tiket sudah dibeli. Padahal kalau mau dipikir-pikir, kos saya dan rumahnya Duta tidak terlalu jauh loh. Kalau mau disamperin tinggal salto tiga kali. Lalu hubungannya TV kabel dan S07? Tidak ada sih, hanya saja lagu ini mengingatkan saya pada kakak kelas di SMA yang saya taksir setengah mati dulu hehehe.

Kalau ditilik lagi lagu ini baik-baik, lirik lagunya masih relevan dengan kisah cinta hari ini. Ceritanya sih tentang seseorang yang ditinggal pergi pas lagi sayang-sayangnya. Menyebalkan sih, tapi begitulah hidup, kak. Kalau mudah dan happy ending biasanya hanya ada dalam drama korea. 

Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak 
Mengubur semua indah kenangan 
Tapi aku slalu menunggumu disini 
Bila saja kau berubah pikiran

Aiiihh...lagi-lagi topik cinta memang selalu menarik, saudara. Sepanjang hari ini berita-berita di TV sama semua: kunjungan Raja Arab Saudi dengan rombongannya yang berjumlah 1500 orang plus harta benda mereka yang mengundang decak kagum dan iri. Ketimbang mempertanyakan ada apa dibalik kedatangan heboh sang Raja, orang-orang di rumah malah membahas ke-25 pangeran yang dibawa sang Raja, posibilitas para pangeran ketemu jodoh di Bali, sampai memperkirakan jumlah istri sang Raja. Rupanya politik dan cinta saling bertalian erat. Keduanya sama menariknya. Keduanya adalah seni.

Saya lantas merenungkan bahwa dunia ini memang menjadi lebih indah karena cinta. Dunia yang dipenuhi peperangan, pertikaian, kebencian, keserakahan, dan kemarahan pasti karena orang-orangnya kekurangan kasih sayang. Pernah suatu ketika, saya yang lagi jatuh cinta membeli soto yang dijual Pak Min untuk makan malam. Uang saya tinggal 20.000 perak di dompet. Kalau beli nasi sop pisah daging habis 12.000. Jadi, sisa uang saya 8000 rupiah. Saat lagi menunggu makanan yang lagi disiapkan, muncullah Om Peter Lennon. Buat yang di tinggal Jogja, terutama sekitaran Jalan Kaliurang pasti sudah akrab dengan Om Peter. Om Peter selalu membawakan instrumen lagu-lagunya The Beatles dengan gitar dan harmonikanya. Dandanannya retro abis dengan rambut model mangkok, kemeja bunga-bunga, suspender, celana jeans, dan sepatu sneaker. Saya menaksir umur beliau sekitar 50-an. Saya yang sementara terkenang si pujaan hati langsung mellow manja ketika Om Peter memainkan lagu Here, There, and Everywhere. Kebetulan saat itu hubungan saya dengan si Pujaan Hati lagi menggebu-gebunya. Saya jadi ikut bersenandung in a happy way. Om Peter lalu melanjutkan dengan lagu I Wanna Hold Your Hand. Ohh, itu sudah! Segera saya memberikan seluruh sisa uang saya malam itu padanya.

Bayangkan, jika cinta merasuki banyak orang, negara-negara akan mengalihkan anggaran untuk perang demi meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. Negara-negara maju mungkin akan berkurang nafsunya untuk merampas sumber daya alam dari negara-negara berkembang. Mereka tentu dengan sukarela akan memberi banyak beasiswa dan bersemangat untuk memberantas buta huruf. Penyakit-penyakit aneh tentu tak akan muncul sehingga para ahli kesehatan tak perlu menderita mencari obat penyembuhnya. Para pejabat tak akan tergiur korupsi karena cinta membuat mereka bahagia meski hanya makan nasi dan garam, sepiring berdua lagi. Konflik agraria pasti akan menurun jumlahnya karena manusia cinta pada alam. Para binatang juga akan hidup damai karena manusia menyayangi mereka seperti dirinya sendiri.

Intinya, jangan takut jatuh cinta. Hidup kita akan selalu indah jika kita rajin bercinta *eh.

Love Story

Cinta, Komedi

Jumat, Februari 24, 2017


*www.pinterest.com

Saya teringat sebuah komedi tentang seorang perempuan yang sedang jatuh cinta. Yah, setidaknya sih dia berpikir demikian. 


 *** 

Ada seorang perempuan yang menyukai seorang laki-laki yang ia tahu pasti tidak mungkin ia gapai. Perempuan itu awalnya tidak berpikir untuk menyukai laki-laki itu. Namun begitulah cinta, terjadi tanpa diduga. Laki-laki itulah yang menghidupkan api asmara sang perempuan yang telah lama padam. Walaupun perempuan itu tahu laki-laki itu tak mungkin dimiliki karena ia adalah milik semua orang, perempuan itu ingin laki-laki itu tahu bahwa ia ada dan mengasihinya. 

Suatu ketika, ia mendapat sebuah momen untuk menyatakan perasaannya. Laki-laki dan Perempuan itu akan bertemu dalam sebuah kegiatan. Perempuan itu berencana memberinya sebuah hadiah yang secara tersirat merupakan pernyataan rasa cintanya. Maka, ia menunggu hari tersebut dengan berdebar-debar. Waktu itu, ia masih dalam kondisi pasca operasi gigi bungsu yang membuat rahangnya masih kram. Tapi ia tak mundur selangkah pun. Sepulang dari kantor ia singgah sebentar ke rumahnya, menaruh berkas-berkas pekerjaannya, berganti tas ransel dengan tote bag yang santai, dan langsung meluncur ke Mall terdekat. Gerimis tak membuatnya patah arang. Hari esok adalah hari yang dinantikannya. Itulah satu-satunya kesempatannya untuk menunjukkan eksistensinya. 

Sesampainya di Mall, perempuan itu bingung sendiri. Apa yang harus diberikan pada lelaki cerdas seperti pujaan hatinya itu? Baju kaos? Hmm…kok gak terkesan intelek ya. Album musik? Tapi toko kaset sudah tidak ada di Mall (Kelak ia tahu laki-laki itu menyukai lagu-lagu dari Kla Project). Perempuan itu gundah gulana. Hadiah ini haruslah berkesan, pikirnya. Hadiah ini haruslah menjadi statement dari perasaannya. Hadiah ini harusnya bermakna sekalipun ia harus membangun seribu candi (eaaaaa). 

Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan akan membeli sebuah buku. Ia memang senang memberi orang hadiah buku. Perempuan ini ingin meniru kebiasaan Pak Hoegeng yang kalau kemana-mana selalu memberikan oleh-oleh berupa buku pada orang-orang. Pengetahuan itu harus dibagi, itulah amalan tertinggi, begitu katanya. Lagipula buku tampaknya memang pilihan jitu untuk tipe laki-laki intelek seperti pujaannya. Selain tentu saja, harganya terjangkau. 

Namun, rupanya membeli buku untuk seseorang yang senang membaca juga susah-susah gampang. Perempuan itu berpikir lagi, jangan-jangan buku yang akan ia berikan sudah pernah dibaca oleh laki-laki itu. Jangan-jangan laki-laki itu justru tidak menyukai buku itu atau tidak sesuai dengan selera dan level si lelaki. Kira-kira dua jam lamanya perempuan itu kebingungan sendiri di dalam toko buku. Akhirnya, ia menuruti instingnya. Pilihannya jatuh pada sebuah kumpulan cerpen berjudul Blind Willow, Sleeping Woman karya Haruki Murakami. Bukunya ringan tapi mengajak merenung. Selain itu, ada beberapa cerita tentang perjalanan dan pizza. Lelaki ini suka merenung. Ia pernah sekolah di Italia dan telah melakukan banyak perjalanan ke berbagai penjuru dunia. Pas! 

Perempuan itu berjalan menuju kasir hendak membayar buku yang akan diberikan pada si pujaan hati. Saat ingin membayar, perempuan itu kelimpungan mencari dompetnya yang entah bagaimana tidak ada disana. Jangan-jangan ketinggalan di rumah sewaktu ia berganti tas tadi. Untung saja handphone-nya tersimpan di kantong celana. Ia menelpon mas ojek langganannya untuk segera menjemputnya. Dititipinya pesan kepada Mbak Kasir yang baik hati untuk menjaga buku itu, maklum bukunya tinggal satu biji. 15 menit kemudian, Mas Ojek, abdinya yang setia sudah menunggu di parkiran Mall. Perempuan itu bergegas kembali ke rumah. Memakan waktu sekitar 10 menit jika tidak macet. Tiba di rumah, dompet itu memang berada di sana. Buru-buru ia mengambilnya dan kembali menuju Mall. Buku itu masih ada. Ia membayar dan pulang. 

*** 

Malam itu ia tak bisa tidur. Ia lelah, bibirnya masih kram, tapi ia sangat bersemangat menyambut hari esok. Pertemuan dengan lelaki itu tinggal menunggu hitungan jam. Buku itu sudah dibungkus rapi dengan kertas kado motif batik. Dibungkus dengan sempurna. Setiap lipatannya memiliki arti (duileee). Sebelum dibungkus, ia membaca secara skimming buku itu. Ia memang belum pernah membaca buku itu, setidaknya jika laki-laki itu mengajak ngobrol tentang buku itu, ia bisa mengikuti (hmm dasaarrr…). Dari hasil skimming-nya, ia menstabilo kalimat-kalimat yang secara implisit menyatakan perasaannya ke si lelaki. Ia berharap laki-laki itu memecahkan kode-kodenya (etdaaahh).  
***

Pagi pun tiba. Masih setengah mengantuk, perempuan itu bergegas mandi. Hari itu ia akan berdandan cantik rupawan. Matanya masih bengkak karena kurang tidur, tapi tak ada lagi rasa kantuk yang tinggal. Ia pun menuju tempat pertemuan itu. Si laki-laki telah ada disana. Menyambutnya dengan senyum ramah. Lutut perempuan itu lemas. Ia berpura-pura bersikap biasa, namun ia tahu hatinya melonjak-lonjak gembira. Tibalah momen yang ditunggu. Si lelaki rupanya akan pamit duluan dari kegiatan itu. Sial, ia tak punya waktu banyak. Segera si Perempuan menghampiri laki-laki itu yang tengah membereskan kertas-kertas kerjanya. 

“Ehem..ehem..”, perempuan itu berdehem dan kemudian menyebut nama laki-laki itu. 
Laki-laki itu menoleh memandangnya. Ia tak berkata apa-apa, tapi matanya berkata,” Ya, ada apa?” “Ini buat kamu,” perempuan itu menyerahkan kado itu untuk si laki-laki. 
Laki-laki itu tidak segera menerimanya. Tangan si perempuan yang memegang kado itu masih tergantung di udara. Yawlah, Perempuan itu rasanya mau menggali lubang dan membenamkan kepalanya disitu. 
“Ini untuk apa ya?,” laki-laki itu bertanya. 
“Ini hadiah Paskah untuk kamu,” Perempuan itu sudah mau menangis karena malu. 

Laki-laki itu berpikir sejenak. Lalu, dengan agak ragu mengambil kado itu dari tangan si perempuan. "Terima kasih ya,” kata laki-laki itu. 

Perempuan itu tersenyum lalu berlalu dari hadapan laki-laki itu. Tak berapa lama kemudian laki-laki itu meninggalkan tempat pertemuan. Perempuan itu berharap laki-laki itu melirik ke arahnya ketika berjalan meninggalkan ruangan. Laki-laki itu berjalan terus. Tidak menoleh sedikit pun. 

*** 

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Laki-laki dan perempuan itu masih berjumpa meskipun frekuensinya mulai berkurang. Setelah lewat beberapa minggu, perempuan itu akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan laki-laki itu. 

“Bukunya sudah dibaca?,” tanyanya. 
Laki-laki itu tampak kikuk. Ia tidak siap ditanya demikian. Ia terlihat salah tingkah. 
“Belum selesai. Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik,” jawab laki-laki itu sambil lalu. 

Si perempuan mikir, situ kan lulusan universitas di Roma, masa bahasa Inggrisnya gak bagus sih? Jadi dulu nulis disertasi pakai bahasa latin? (Wow, sadyeesssst). Satu hal yang membuat perempuan itu bersyukur atas pengalamannya mencintai laki-laki itu. Meskipun sangat singkat, ia menyadari ketika kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apa saja untuk memelihara hubugan itu. Untuk pertama kalinya, perempuan itu hanya menerima. Hanya dengan membuat laki-laki itu tersenyum saja ia sudah senang. Ia tidak meminta apa-apa lagi. Ia bahagia dalam kesunyiannya. 

Sang Nasib melihat perempuan itu. Ia telah melakukan sebuah perbuatan kasih tanpa syarat. Suatu hari Sang Nasib membalas ketulusan perempuan itu dengan membuatnya mengalami dua jam perjalanan bersama laki-laki itu. Laki-laki itu yang menyetir, dan perempuan itu duduk di sampingnya. Mereka bercakap-cakap tentang apa saja. Laki-laki itu tertawa-tawa mendengar perempuan itu bercerita dan melontarkan lelucon. Ketika perjalanan itu harus berakhir, perempuan itu sadar inilah hari terakhir mereka bersama. Laki-laki itu mengantarnya ke sebuah biara kecil. Hujan turun sangat deras. Perempuan itu mengucapkan terima kasih. Laki-laki itu mengangguk. 

Mereka tak pernah bertemu lagi. 

Ironisnya, rumah perempuan dan tempat tinggal laki-laki itu hanya berjarak tiga kilometer. 


***

Saya mengenal perempuan itu dengan baik. Saya pikir, setelah kejadian ini, ia mulai belajar mencintai dengan cara yang dewasa. Kadangkala, hidup itu seperti yang dideskripsikan Woody Allen,”Life is a comedy written by sadistic comedy writer”. Saking sedihnya, kita hanya sanggup menertawakannya saja.