Love Story

Summertime

Jumat, Desember 30, 2016

Hackescher Markt, Mitte, Berlin. Setelah melalui jalan ini, saya bertemu band yang menyanyikan lagu Summertime itu di tikungan (dokumentasi pribadi)




Menjelang hari-hari terakhir di tahun 2016, saya banyak merenung (sampai ketiduran). Tahun 2016 adalah tahun yang penuh warna. Ada airmata dan tawa sukacita. Ada kejutan dan mujizat. Ada dukacita dan kepedihan. Seperti Yin dan Yang, semuanya terasa imbang. Sesuatu yang anehnya juga terasa ganjil. Tahun ini saya belajar menjadi manusia dewasa. Tahun ini saya juga belajar menggunakan otak dan hati dengan seimbang. Namun, seperti manusia-manusia romantis pada umumnya, saya tetap berharap bahwa tahun ini juga akan ditutup dengan hal yang romantis. Sesuatu yang dinantikan, meskipun mungkin dianggap terlambat atau tak penting lagi. Semua orang membutuhkan pertanda ketika takdir tak dapat dipermanai. 

Cuaca di Makassar saat ini sungguh-sungguh tak menentu. Satu jam pertama bisa panas, kemudian dua jam kemudian hujan lebat, lalu setelah hujan keras kira-kira dua jam-an, matahari muncul lagi. Sambil menikmati cuaca yang labil, entah mengapa saya teringat lagu Summertime-nya Billie Holiday. Lagu ini sudah banyak sekali dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi dari berbagai genre musik. Lagu-lagu blues itu banyak sekali mengandung nada-nada minor, tidak selalu easy listening, populer di kalangan tertentu, dan hanya ajaib didengarkan pada momen-momen khusus saja. Seumur hidup mendengarkan lagu itu, saya tidak begitu menikmatinya. Hingga pada suatu hari, saya merasakan langsung keajaiban lagu itu. 

Semuanya bermula pada musim panas tahun ini ketika saya berkunjung ke Berlin. Saat itu saya sedang berjalan-jalan di daerah Mitte, menikmati musim panas dengan langit kelabu. Ada banyak musisi jalanan disekitar sana. Musisi yang kalau di negara kita sudah tampil di café-café mentereng. Adapula keramaian kecil khas flea markets atau kalau di Jogja seperti pasar SunMor UGM. Para penjaja berbagai dagangan mulai makanan, pakaian, hingga buku-buku bertaburan. Sambil menikmati suasana, tiba-tiba terdengar suara perempuan bernyanyi,” Summertime...and the livin’ is easy...”. Perempuan itu mengenakan terusan baby doll putih selutut dan bowler hat warna hitam. Suaranya jazzy lembut namun bertenaga. Ia adalah satu-satunya perempuan dari band yang beranggotakan lima orang. Para lelaki di band itu memainkan gitar, double bass, drum akustik, dan saxophone. Gaya mereka asyik. Saya sempat mencuri pandang pada pemain double bass-nya. Rambutnya gondrong dan wajahnya mengingatkan saya pada Jared Leto. Saya tidak sempat memvideokan penampilan mereka karena teman-teman saya sudah berjalan duluan dan tidak enak menjadi orang yang ditunggu. Momen itu memang sekejap tapi bermakna. Saya tak tahu apakah karena tempatnya, suasananya, cuacanya, atau suara penyanyinya yang mengajak saya jatuh cinta pada musim panas. Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa momen magis tidak dapat direkam dengan teknologi. Ia hanya mampu terekam dalam ingatan dan hati. Sedihnya, setelah kembali ke Indonesia, saya tidak menemukan lagi keajaiban lagu Summertime itu. Ia kembali menjadi lagu yang susah dirasakan dan dipahami. 

Mungkin dalam hidup ini, kita akan bertemu dengan orang-orang yang serupa dengan lagu Summertime (atau lagu apapun yang membuatmu menemukan momen ajaib di saat tertentu saja). Ia indah di saat tertentu dan peristiwa itu tak bisa diulang. Begitu momen itu berlalu, ia menjadi lagu dengan ritme yang sulit dipahami. Sekalipun kata Adorno, kita mungkin bisa “patuh” padanya, mencintainya. Mereka adalah kombinasi sempurna dari ironi dan paradoks. Seperti musim panas di Berlin: panas tapi dingin, dingin tapi panas.

Anonim (kadang-kadang disebut sebagai Oscar Wilde) pernah mengatakan, “You don’t love someone for their looks, or their clothes, or for their fancy car, but because they sing a song only you can hear”. Lama saya merenungi kalimat itu. Jika memang lagu itu ditakdirkan hanya untuk didengarkan mereka, mengapa begitu rumit untuk menyanyikannya bersama-sama? Apakah ada yang tidak menangkap nadanya? Apakah mungkin hanya salah satu pihak saja yang terlalu bersemangat bernyanyi? ataukah jangan-jangan mereka tidak sedang mendengarkan lagu yang sama? Mungkinkah kini lagu itu menjadi lagu Summertime yang telah kehilangan momen magisnya? 

Kerinduan pada orang yang tidak kita ketahui kapan akan bertemu juga memiliki momen magisnya sendiri. Dalam ketidakpastian dan tanda tanya. Dalam harapan dan debar-debar. Ia seperti sepenggal lirik lagu Tommorow dalam pertujukan musikal Annie, “You’re always a day away”.

Aku dan Tuhan

Natal Tahun Ini

Selasa, Desember 27, 2016

sumber: tumblr



Sudah dua hari berlalu sejak Natal dan saya masih mendapat ucapan selamat dan mengucapkan selamat dalam suasana kasih dan persaudaraan. Dari semua ucapan-ucapan itu, ada beberapa kawan yang menanyakan kado Natal apa yang telah saya terima. Saya sudah lama tak menerima kado dalam bentuk fisik. Pertukaran kado merupakan tradisi, sementara keluarga saya tak ikut tradisi itu. Cara keluarga saya memaknai Natal telah mendidik saya bahwa bisa merayakan Natal bersama dengan keadaan yang baik adanya adalah kado yang luar biasa dan itu jauh lebih bermakna daripada apapun. Tahun ini, salah satu Oma saya berpulang padahal biasanya setiap Natal kami akan sowan ke rumah beliau. Kami gembira menyambut Natal, tapi kami juga diliputi rasa sendu.

Pertanyaan tentang kado itu membuat saya berpikir bahwa orang-orang telah mengidentikkan Natal dengan kado. Natal memang selalu dikonstruksi sebagai hari yang penuh sukacita. Ada banyak kemeriahan bahkan kemewahan yang lahir dari selebrasi ini. Tahun ini saya malah merasakan Christmas spirit justru hadir di Mal-Mal dibandingkan di dalam Gereja. Sejak masa Advent, Gereja terlihat murung. Ornamen keceriaan Natal tetap ada di gereja, tetapi seperti gadis cantik yang patah hati, ia bermuram durja. Berbagai peristiwa dan tekanan yang dialami Gereja (dari perbatasan Palestina-Israel, Suriah, Jerman, sampai Indonesia) menjadikan Gereja memaknai Natal dengan bijak. 

Tak ada yang salah sesungguhnya dengan sukacita dan semarak. Bagi yang mengimani, Natal adalah hari yang penuh kebahagiaan karena keselamatan telah nyata bagi kami. Seperti seorang tahanan yang bebas dari penjara, kami menyambut hari Natal dengan gegap gempita. Ada sukacita, ada damai, dan ada debar-debar. Namun, Natal tidak selalu tentang perayaan dan sukacita. Natal tidak selalu tentang kebahagiaan. June, sahabatku yang juga seorang teolog, pernah berkata bahwa keselamatan lahir bersamaan dengan penderitaan. Ada saudara kembar tak terpisahkan dan harus direnguk bersamaan untuk menyambutnya. Ia mengatakan itu dengan sedih. 

June juga yang pertama kali mengajakku merefleksikan kisah Kelahiran Mesias yang terjadi dua millennium yang lalu dengan cara yang berbeda. Kami berfokus pada konteks politik di masa itu. Kisah sedih yang bermula dari kedatangan tiga orang Majus. Para Majusi adalah orang-orang asing. Teks lain merujuk mereka sebagai raja dari negara-negara tetangga di luar Israel. Teks lain juga berbicara bahwa mereka adalah para mistikus yang mempercayai sihir dan mitologi. Kedatangan Pemimpin Baru yang merevolusi umat manusia telah diramalkan sejak ratusan tahun lalu, disimpan selama berabad-abad dan dibacakan setiap hari Sabat. 

Para Majusi melihat bintang-Nya. Bintang Timur, bintang di atas segala bintang. Bintang yang menandakan suatu peristiwa besar di dalam mitologi. Bintang itu menunjuk suatu tempat. Para Majusi pun bergegas kesana dengan membawa persembahan: emas, kemenyan, dan mur. Dalam perjalanannya itu, mereka bertanya-tanya dimana sang Raja yang baru saja dilahirkan itu. Orang-orang asing yang datang ini menggemparkan orang-orang lokal. Tak terkecuali penguasa disana, Raja Herodes, yang terkejut dan kemudian merasa terancam. Ia memanggil penasehat dan ahli-ahli Taurat yang mengonfirmasi ramalan purba tentang kedatangan Mesias. Tak puas, Herodes memanggil para Majusi, bertanya-tanya darimana mengetahui hal itu, sambil menitip pesan, “Kalau udah ketemu Anak itu, kabari gue ya…” 

Namun para Majus tak kembali menemui Herodes. Mereka (secara politik) melindungi Anak itu. Raja Herodes berang bukan main. Kemunculan pemimpin baru selalu menakutkan bagi pemimpin lama. Dititahkannya untuk menyingkirkan lawan politiknya itu. Tentu saja bukan dengan potongan video yang diposting di Youtube. Herodes menitahkan terjadinya kejahatan kemanusiaan yang mengerikan. Ia dengan hati dingin melakukan operasi pembantaian anak-anak laki-laki berusia dua tahun ke bawah yang berada di seluruh daerah kekuasaannya. Apakah kau bisa membayangkan betapa paradoksnya sukacita Natal bila diiringi tangisan ribuan bayi yang tewas dan ribuan ibu yang meratapi kematian mereka? Ini sebuah turbulen. 

Walaupun dibayangi penderitaan dan kesedihan, sukacita Natal tetap terang benderang. Ia menjadi matahari dalam dingin dan gelapnya dunia. Pada hari itu, orang-orang diperkenankan untuk berharap sesuatu yang istimewa akan terjadi. Meskipun sesuatu itu sangat tak mungkin terjadi. Simbol Santa Claus menjadi bermakna karena kita boleh percaya pada kemustahilan, percaya pada keajaiban. Pada hari itu, anak akan bertemu dengan orang tuanya, kekasih akan bertemu dengan kekasihnya, dan sahabat yang telah lama tak berjumpa akan bertemu kembali. Tangis bayi mungil yang dibungkus lampin itu mengingatkan kita akan harapan. Tetapi, tangis ribuan bayi yang dibantai mengingatkan kita akan derita dan ketidakadilan. 

Mungkin begitulah cara Tuhan menyapa manusia. Meskipun kau telah melihat berbagai ketidakadilan. Meskipun penderitaan berat menekan hidupmu. Kau hanya perlu ingat satu hal: kau selalu punya Harapan.


Selamat Natal.

Life Story

Cinta?

Selasa, Desember 20, 2016

"If both people are into each other, then a big romantic gesture works: Dobler, but if one person isn't into the other, the same gesture comes off serial-killer crazy: Dahmer." (How I Met Your Mother)

Katanya cinta menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Mulai dari yang remeh-temeh seperti membangun seribu candi sampai mengakibatkan dua kerajaan hancur seperi kisah Helen dari Troya. Sayangnya, kita lupa bahwa ada perspektif yang mendefiniskan suatu tindakan cinta. Seperti malam ini, sambil menunggu makan malam siap, saya menonton ulang film Endless Love (1981) yang dibintangi Brooke Shields dan Martin Hewitt. Pertama kali menonton film itu sewaktu saya masih SMP. Karena masih unyu’, saya mengenang film itu sebagai film tentang remaja pria yang membakar rumah pacarnya. Kini saya memahami, David, tokoh di film itu, membakar rumah Jade, pacarnya, hanya supaya ia bisa merebut hati orang tua Jade dan mereka bisa bertemu lagi. David ingin menjadi pahlawan. Namun dunia tidak melihat tindakan itu sebagaimana David menginginkannya. Atas tindakannya, ia dipidana dan masuk rumah sakit jiwa. Lain halnya ketika kita menonton film Notting Hill (1999), ketika William (Hugh Grant) muncul di konferensi pers-nya Anna (Julia Roberts) dan menanyakan apakah Anna mau memaafkan dirinya. Selanjutnya, kita tahu bersama bahwa scene berikutnya adalah salah satu adegan paling romantis dan ikonik dalam sejarah film romance modern di dunia. 

Sesungguhnya persoalan cinta memang rumit. Apakah harus dialami satu pihak atau harus kedua belah pihak? Kita harus berterimakasih pada orang Yunani yang dengan penuh dedikasi membuat klasifikasi cinta pada bahasa mereka, sehingga kita, yang cukup keren dengan kata cinta, kasih, dan sayang ini bisa lebih variatif memaknai cinta. Agape merujuk pada cinta ilahi, yang tak terbatas. Filia, merujuk pada kasih persahabatan. Storge, cinta dari orang tua ke anak. Terakhir, Eros adalah cinta berdasarkan hasrat. Hari ini cinta menjelma banyak makna. Menipu orang bisa karena cinta. Memfitnah orang juga dimungkinkan karena cinta. Bahkan, cinta mendasari orang untuk membunuh.

Banyak orang jadi takut jatuh cinta karena takut terluka. Orang menjadi kehilangan rasa percaya karena takut dikhianati. Orang menjadi curiga pada sesamanya. Prasangka semakin menguat. Yesus mengajak kita melihat dunia seperti mata kanak-kanak. Sayangnya, kita telah kehilangan kanak-kanak kita. Kita menjadi pendendam. Menjadi dingin karena kecewa. Sinis karena marah dan sedih. Terlebih lagi kita takut untuk mencintai dan dicintai. Kita takut hati akan hancur lagi. Padahal bukankah hati manusia memang terbuat untuk hancur dan sembuh lagi? Dari tepi sungai Yordan, Lelaki itu memandangi Yerusalem dari jauh. Ia menangisi kota itu. Yerusalem tertawa-tawa. Yerusalem mendidih karena amarah dan dendam. Airmata Lelaki itu bercucuran. 

Lalu, bagaimana dengan pembunuhan Duta Besar Rusia di Turki kemarin? Bagaimana bisa seorang petugas kepolisian menembak sendiri orang yang semestinya ia lindungi. Terlepas dari latar belakang politik dan ideologi, mungkinkah cinta menggerakkan Mevlut Mert Aydintas untuk menembak Andrei Karlov? Apakah kita perlu bersimpati pada teror ketika penguasa tidak mendengar jeritan rakyat yang tertindas? Apakah darah adalah satu-satunya bukti tanda cinta?

 Ah…Apakah cinta itu?

Life Story

Like a Virgin

Senin, Desember 19, 2016

Di tahun 1984, Madonna, the Queen of Pop, merilis hits singlenya yang berjudul Like a Virgin. Sepanjang karirnya di dekade 1980-an, Madonna telah mencerminkan diri sebagai perempuan pemberontak yang independen nan seksi. Segala hal dieksplorasinya, termasuk kerap kali menggunakan simbol-simbol agama, terutama Kristen, meski tidak selalu untuk menyampaikan maksud lagunya. Di video klipnya, Madonna mengenakan kalung salib dan simbol St.Mark, yaitu kepala singa. Meskipun sebenarnya lagu Like a Virgin bercerita tentang bagaimana seseorang bertahan dalam situasi sulit dan kemudian bertemu dengan orang yang memberinya harapan atau membuatnya move on, Madonna dan seksualitasnya menginterpretasi lagu itu dengan cara yang berbeda. Ia telah membangkitkan “iblis betina” di dalam diri setiap anak perempuan.





Karir Madonna juga tak luput dari kontroversi. Eksploitasi Madonna terhadap simbol-simbol Kristen mendapat kecaman oleh Gereja-Gereja di Barat, terutama Katolik dan beberapa Reformed Church. Madonna dianggap melakukan penistaan agama. Gereja mengeluarkan fatwa, menyanyikan lagu dan ngefans sama Madonna dianggap menyembah Lucifer, si raja Iblis. Saya lantas teringat seorang teman yang tumbuh di kalangan fundamentalis Kristen. Ia tak pernah mendengarkan Rolling Stones atau Madonna. Bahkan komik dan Pokemon pun dibakar di lingkungan rumahnya. Menariknya, antipati Gereja terhadap Madonna justru menguntungkan posisinya. Magnet Madonna sebagai ikon budaya Pop justru semakin menguat. Para kawula muda pun menyembah dirinya. Ini mungkin mirip dengan elektabilitas Ahok dalam masa pemilihan Gubernur DKI Jakarta saat ini. Semakin Gereja mensetankan Madonna, semakin keras golongan konservatif menyerang Ahok, Madonna dan Ahok justru mendapat simpati. Madonna jadi orang kaya, Ahok? Hmmm… kemungkinan ia bisa terpilih kembali.

Pemaknaan terhadap sesuatu sangat tergantung terhadap subyek yang memaknai. Maka, kita juga perlu hati-hati dalam menerima makna yang diberikan kepada kita. Saya ingat waktu pertama kali belajar fotografi. Seorang pemateri di pelatihan tersebut mengatakan bahwa foto yang bagus tidak selalu dipengaruhi oleh kamera yang canggih. Mata orang yang menggunakan kamera adalah faktor utama. The man behind the gun, begitu ia menyebutkan sebuah frase yang kemudian kucatat dalam hati. Senjatanya boleh sama, tetapi orang yang menggunakannya bisa berbeda. Setiap orang memiliki interpretasi dan motif yang berbeda-beda. Sama seperti saat ini. Menjelang Natal, suasana di pertokoan dan pusat perbelanjaan sangat semarak. Ornamen Sinterklas atau Santa Claus, Pohon Natal megah, dan lampu-lampu kelap-kelip dipadukan dengan instrumen atau lagu-lagu Natal menciptakan suasana yang syahdu. Ada sukacita dan juga rasa damai. Suasana yang sebetulnya paradoks karena justru dialami di Mal-Mal, bukan di Gereja. Gereja saat ini sedang berduka. Ini adalah masa Advent yang berat. Bahkan dekorasi Natal terlihat murung. Sukacita dan damai itu digerogoti perasaan takut dan cemas. Gereja seperti anak perawan yang bingung dan takut melintas di jalan. Segerombolan orang datang, berteriak-teriak, dan melarang pemasangan atribut Natal. Orang dilarang beribadah di tempat umum. Belum lagi ancaman teror bom. Dan yang menyedihkan kata “kafir” muncul entah darimana, tersemat seperti kata “lonte”.

Tadi malam saya menonton video yang diposting Ayu Utami di Twitter. Video lagu Like a Virgin. Kali ini bukan Madonna yang menyanyikan lagu itu. Seorang biarawati Katolik yang menyanyikannya. Seperti Madonna, kalung salib juga tergantung di dadanya. Suster Cristina namanya. Meskipun rambutnya tertutup kerudung, jubah biarawatinya menutup aurat, dan ia memakai kacamata, sungguh ia memiliki mata yang indah.




Suara Suster Cristina mengalun merdu. Lembut namun bertenaga. Like a Virgin menjelma lagu spiritual yang seksi begitu kata Mbak Ayu. Lirik lagu itu berubah makna. Bukan anak tak perawan yang merasa seperti perawan lagi. Tapi lebih jauh. Seorang Perawan yang melepaskan dirinya untuk menjadi tabut perjanjian Allah. Padahal lagu itu adalah lagu yang sama dengan yang dinyanyikan Madonna tiga dekade silam. Pemberontakan menjelma pemujaan. Begitulah, the man behind the gun bekerja.

Namun, siapa aku yang membuat penilaian. Seperti kata Awkarin, “ Kalian semua suci, aku penuh dosa…”

Life Story

Maukah Anda Berbagi Pengalaman Denganku?

Senin, Oktober 17, 2016



Maukah Anda berbagi pengalaman menonton film-film drama/romantis Indonesia pada saya?

Film-film apa saja yang membekas di benak Anda?
Apa yang Anda rasakan setelah menonton film-film itu?
Bagaimana Anda memandang relasi percintaan yang digambarkan di dalam film-film itu?
Bagaimana film-film itu mempengaruhi relasi percintaan Anda sendiri?

Jika Anda berkenan, silahkan mengirim e-mail pada saya : meikekarolus@gmail.com


Terima kasih!

Life Story

Akhirnya...Brandenburger Tor

Sabtu, Juli 02, 2016

Sebelum membaca tulisan di bawah ini. Bacalah dahulu tulisan berikut.

Sudah?

Oke lanjut...

Sembari menuliskan ini saya jadi teringat judul bukunya Eka Kurniawan yang berjudul "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi". Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya bermimpi. Saya tidak akan pernah melupakan mimpi itu karena begitu nyata. Di dalam mimpi itu saya sedang berada di perbatasan menuju Jerman. Suasananya sangat gelap. Yang terlihat hanyalah Branderburger Tor dengan lampunya yang menyala terang. Simbol reunifikasi Jerman itu menjadi ikon negara dan ibukota-nya Berlin. Saya berusaha menuju Branderburger Tor tetapi seberapa keras saya mencoba, saya hanya sampai di depan gerbangnya tanpa berhasil melalui gerbang itu. 

Saya terbangun dan merasa sedih karena saya tidak tahu kapan saya akan benar-benar menggenapi mimpi itu. Perjuangan melanjutkan pendidikan bukanlah perjalanan yang mudah bagi saya. Membangun sesuatu dari nol bukanlah perkara mudah. Roma memang tidak dibangun dalam semalam. Penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison tidak rampung dalam satu, dua kali percobaan. Tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa. Meskipun demikian, saya selalu menyimpan harapan itu di dalam hati. Tetap sabar melakoni peran yang diberikan kepada saya dengan tabah. Saya masih bersyukur karena meskipun jalan yang dilalui tidak mudah, saya banyak diberi kemudahan. Saya mendapatkan teman-teman baru, pengalaman-pengalaman baru, dan perasaan sukacita meskipun yang saya alami berat. Dan Tuhan tidak pernah lupa pada doa yang diucapkan dengan sepenuh hati. Ia setuju. Jawabannya Ya. 


Akhirnya untuk pertama kali...


Meike di Brandenburger Tor, Berlin-Jerman, taken by Mas Agung


Saya masih berjuang untuk meraih cita-cita saya. Semuanya butuh waktu. Semuanya melalui proses. Setidaknya saya sudah diperkenalkan kehidupan disana. Di negara tempat saya ingin sekali menuntut ilmu. Semoga Tuhan menjaga mimpi ini. 

Sehingga Ia akan menjadikan semuanya indah pada waktu-Nya. 





Pankow - Berlin, 19 Juni 2016

Sehimpun Puisi

(Seminggu setelah Odontektomi)

Rabu, April 06, 2016

Gusiku sayang,
Biarkanlah air liur menyelaputi serat-serat dagingmu yang halus.
Biarlah tulang-tulang mudamu tumbuh menutupi rahang dan saraf yang trauma.
Karena luka itu merah, dalam, dan menganga lebar.
Dan kau ajari aku,
Bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan.

Jangan kau bersedih atas gigi yang tanggal
atau seserpih akarnya yang menusukmu dalam.
Jangan kau jadi masokis karena rindu.
Relakan ia pergi dalam keadaan patah dan kalah.
Dan belajarlah wahai Gusiku sayang,
bahwa kesembuhan selalu dimulai dari rasa sakit.


(kaliurang, 6 april 2016)

Mantra Kalimat

Larung

Rabu, April 06, 2016

"Larung Lanang namanya. Anak yang aneh. Beratnya 46 kg. Tapi matanya tajam. Tak ada yang besar pada tubuhnya, tapi aku merasa ia tidak ringan. Ia pendek, tapi aku merasa ia dalam. Ia adalah kontradiksi yang mengejutkan."

 (Larung - Ayu Utami, hal. 104)





NB: dia mengejutkanku.

Life Story

Jalan Salib

Minggu, Maret 27, 2016

sumber gambar: www.mysoulpurpose.org


1.     Yesus dihukum mati
    Ingatanku masih jelas mengingat hari itu, sejelas aku mengingat ulang tahunku sendiri. Aku memutuskan berjalan di jalan para Begawan. Aku ingin menjadi brahmani. Hidup tanpa pikat duniawi. Aku ingin mengabdi pada pengetahuan dan kemanusiaan. Hadiahku pasti. Jiwaku merdeka karena aku berdaulat atas tubuh dan pengetahuanku. Aku menerimanya dengan penuh iman dan bersandar pada Allah. Aku percaya Allah berjalan di depanku seperti ketika dulu Ia berjalan memimpin Israel ke luar dari tanah Mesir.

2.     Yesus memanggul salib
     Ternyata tidak mudah menjadi seorang brahmani. Kau harus berguru pada para Begawan. Kau harus mengabdi pada mereka. Kesunyian adalah kawanmu yang paling karib. Kadang kau merasa sendiri. Kadang kau tak dimengerti. Ada masa di mana aku merasa kesepian dan merindukan pelukan. Tubuhku lelah dan pikiranku seolah tak pernah beristirahat. Aku ingin menyerah, tetapi cita-cita mengalahkan kepengecutanku. Begitulah murid. Begitulah abdi. Manisnya memabukkan tetapi pahitnya membuat nyinyir. Inilah salibku. Aku mengenang masa-masa itu sebagai momen kedekatanku dengan Allah. Jika Ia di pihakku, siapakah yang mengalahkanku?. Seperti Yesus, aku juga memikul salibku dengan penuh cinta. Aku tahu ini berat. Aku tahu jalannya panjang dan berliku. Tapi cinta yang menguatkanku untuk bertahan.

3.     Yesus Jatuh Untuk Pertama Kalinya
     Kadang-kadang aku merasa Allah lupa bahwa manusia memiliki waktu yang lebih pendek dari waktu-Nya. Aku dianugerahi kehendak bebas. Aku tak mau menunggu dalam diam. Dan kesempatan-kesempatan pun datang menjelang. Aku kini berhadapan dengan persimpangan jalan. Semuanya terasa masuk akal, namun hanya satu yang memikat. Aku dan ukuran kemanusiawianku menilainya dan berharap inilah yang terbaik. Saat itu aku juga berpikir mungkin inilah jalan Tuhan. Rasanya waktu itu Roh Kudus bekerja di dalamku. Wajahku bersinar dan ada rasa optimis. Setiap proses kulalui dengan percaya diri. Aku merasa aku layak. Aku merasa niat tulusku akan membawaku ke puncak. Sayangnya, aku terjatuh. Aku berharap lebih pada salah satunya. Aku telah terpikat pada simbol-simbol dunia. Aku berdoa, “Tuhan izinkan aku marah pada-Mu.”

4.     Yesus Berjumpa dengan Ibunya
   Perjuanganmu akan terasa ringan jika orang tuamu mendukung. Ibuku adalah orang yang memberiku semangat dunia. Imannya mengagumkanku. Jika aku lemah, aku merasa iman ibuku yang menyelamatkanku. Namun, hari itu aku meragukan imanku, yang tampaknya tidak sebesar biji sesawi pun. Aku bahkan berpihak pada Kain, Anak Sulung, Lucifer, dan seluruh tokoh antagonis dalam dongeng-dongeng. Aku seakan memahami perasaan mereka. Perasaan kecewa terkhianati dan menuduh Allah memiliki kecenderungan untuk pilih kasih. Oh, dan jangan lupakan Ayub. Allah dan Ayub adalah pasangan BDSM paling legendaris sepanjang masa. Aku tak tahu lagi, apakah aku dikasihi oleh-Nya atau tidak. Aku tak tahu lagi apakah aku menikmati penderitaan ini, atau Allah senang menyiksaku sebagai tanda cinta. Ibuku melihatku seperti Anak Hilang. Ia memilih pergi dari kamarku begitu aku menyebut Lucifer dan aku berbagai nama tengah yang sama.

5.     Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene
     Ketidakmampuanku memahami Allah membuatku marah dan sedih. Aku tidak tahu lagi: mana iman, mana cita-cita, atau mana kehendak Allah dan mana hawa nafsuku. Aku menjelma orang yang tidak aku sukai. Aku menjadi nyinyir. Banyak orang nyinyir saat ini. Mereka memposting kebencian mereka ke jagat dunia maya. Tak ada orang baik di mata mereka. Tapi nyinyirku berbeda. Seperti kata temanku, Afif, mereka nyinyir karena benci, tetapi aku nyinyir karena sedih. Aku bertemu Simone sebagai bagian dari perjalanan panjangku di sebuah kota tempatku memuridkan diri. Simone, gadis manis dengan hati devosi pada Yesus dan Bunda Maria. Ia adalah Platonian di dunia yang modern. Seperti semua pengikut Kristus, kami memikul salib kami dengan penuh cinta. Sampai suatu ketika, kami berpapasan di jalan salib yang kami lalui. Kami merasa terkhianati. Kami merasa ditinggal sendiri. Kami merasa tak berdaya. Aku dan Simone memikul salib masing-masing sambil saling menguatkan. Seperti ada tertulis, seorang sahabat menaruh kasih setiap saat dan menjadi saudara dalam setiap kesukaran.

6.     Wajah Yesus diusap oleh Veronica
    Mereka adalah oase di tengah gurun gersang. Setiap pagi aku mengawali hariku dan bermain bersama mereka. Mereka membantuku menata kembali keinginanku yang sudah berkeping-keping. Mereka –seperti sedang bermain puzzle- mencocokkan kembali potongan demi potongan agar gambar mimpiku kembali utuh. Kita akan memulainya lagi dari awal. Kamu tidak sendiri memikulnya. Berkata mereka kepadaku. Veronica menghapus kegelisahanku. Ia memantik harapanku kembali. Waktu itu aku tak tahu harus kemana. Jalan di depanku terasa gelap. Veronika datang membawa sapu tangan putih dan menghapus air mataku. Ia menancapkan kembali mimpi yang pernah kutunda. Ia meyakinkan aku untuk mencoba kembali. Bangkit dan berjuang demi sebuah harapan di Tanah Perjanjian.

7.     Yesus jatuh untuk kedua kalinya
     Aku bertemu kembali dengan serangkaian proses untuk mewujudkan mimpiku itu. Betapa berat sesungguhnya memulai kembali mimpi yang baru di atas puing-puing mimpi yang retak. Dalam proses itu, aku perlahan-lahan melangkah tahap demi tahap. Tahap pertama begitu. Tahap kedua begini. Aku lalui dengan setia. Seringkali aku dihantui kegagalan seperti mimpiku yang sebelumnya. Aku takut. Tapi api harapanku masih menyala. Dan aku tak mau kalah sebelum berperang. Aku ingin seperti Paulus, aku ingin melakukan pertarungan yang  baik.

8.     Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya
     Aku berusaha menjadi lilin meskipun saat ini aku tak yakin apakah aku mampu bersinar. Dalam perjalananku, aku bertemu banyak orang. Ada orang-orang yang mendukungku. Ada orang-orang yang menantikan kejatuhanku. Ada yang mencintaiku. Ada pula yang diam-diam menyimpan dengki. Mereka datang dan pergi. Mereka berlaku sesuai perannya masing-masing. Hidup ini memang berat. Perjalananku juga tidak mudah. Mereka yang berdarah-darah kemudian melahirkan diri mereka yang baru. Seorang yang berhati malaikat, yang menyediakan pelukan bagi siapapun yang berbeban berat. Seorang lagi menjelma iblis yang menyimpan bara di hatinya. Luka-luka itu mengeras serupa kerak di panic-panci gosong. Setiap orang bisa memilih ingin menjadi apa. Aku memilih menjadi malaikat. Aku memilih mengeluarkan dendam di hatiku. Aku tahu lagi-lagi itu tak mudah. Tapi aku mau berusaha. Aku mau belajar. Aku sudah memilih.  Cinta.

9.     Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
    Kejatuhanku dimulai lagi dari rasa iri. Iri yang membakar hati Kain dan Anak Sulung yang menggugat Bapanya. Setiap kali aku melihat mereka datang, hatiku diliputi rasa sedih. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memiliki kapital yang lebih banyak. Di dunia ini, orang-orang yang kalah adalah mereka yang tidak punya kapital. Kapital datang melalui relasi yang banyak, lahir dari keluarga terpandang, teraplikasi melalui hidup di luar negeri yang sekaligus juga mengasah kemampuan berbahasa, dan kemudian menjadi primadona di mata laki-laki selevelnya. Tak sulit bagi mereka untuk menjadi ideal. Kapitalnya kuat. Dan aku terpaksa merunduk, karena modalku hanyalah sebuah niat tulus. Niat tulus ternyata tak cukup untuk hidup di dunia ini. Aku bertanya-tanya benarkah semuanya kembali pada nasib? Tuhan atau negara-kah yang memilah nasib manusia sehingga yang satu berbeda dengan yang lain? Lalu mengapa ada yang hidupnya sempurna dan beruntung sementara ada yang hidupnya penuh penderitaan sejak ia dilahirkan ke dunia?

10. Pakaian Yesus ditanggalkan
    Ia datang tanpa semarak. Begitulah sang Mesias dilukiskan dalam kitab Yesaya. Ia mengambil rupa seorang hamba sehingga barangsiapa yang melihatnya akan memalingkan muka. Aku mengenalnya karena itu aku mencintaiNya. Setiap kali aku menangis aku memanggil namanya. Setiap kali aku berbahagia, aku mengucap namanya. Jika aku marah aku juga menyalahkanNya. Tapi Ia tetap mengasihiku. Ia berbicara padaku dengan caraNya. Ia kekasihku dan sahabatku. Kau tahu kan, kalau kau punya sahabat atau orang dekat kau tak akan sungkan untuk menceritakan apa saja atau mengumpat apa saja. Ia bersama dengan aku sejak semula. Namun, ada kalanya aku merasa Ia tega padaku yaitu ketika aku melihat ada orang lain yang mendapatkan apa yang sebenarnya hatiku mau. Mengapa Ia dengan mudah menghampiri doa orang lain, sementara doaku ia lewati?

11. Yesus disalibkan
   Jantungku tak lagi merah terbakar dan berduri. Jantungku tinggal berduri. Baranya padam bersama airmata. Aku merasa tidak berdaya. Disana, aku melihat Yesus berusaha menyangkali dirinya, bersusah payah membuat dirinya tiada berdaya. Ia toh bisa saja mengedipkan mata dan cawan itu berlalu dari-Nya. Tapi Ia tidak melakukannya. Anak Manusia tetap teguh pada cinta-Nya. Kami berdua serempak berteriak “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku” namun dengan motivasi berbeda.

12. Yesus wafat di kayu salib
     Aku ingat doaku malam itu. Dalam perasaan gelisah dan tak berdaya, aku berujar, “ kehendakMu saja Bapa, apa yang kau pandang baik”. Dan Tuhan berkata tidak. Aku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya untuk dibelikan sebuah boneka beruang yang dipajang di etalase toko mainan. Boneka beruang itu berukuran sedang dan tampak nyaman untuk dipeluk. Aku menginginkannya karena boneka itulah yang mampu aku gapai. Harganya toh tak mahal-mahal amat. Tapi ibuku tak mau membelikannya. Ibu berpikir, tak semua keinginan anak harus dituruti. Anak itu akan menjadi manja dan tak memiliki karakter kuat. Bila badai datang ia tak mampu menjadi nakhoda yang mengendalikan kapal di tengah lautan luas. Ia nanti mudah terombang-ambing, terbawa arus, dan pada akhirnya karam. Maka, ibu memilih mendidik anaknya, anak satu-satunya itu supaya menjadi batu karang yang teguh. Lagipula ibunya merasa anaknya tidak butuh bermain boneka beruang lagi. Anaknya sudah beranjak besar dan lebih membutuhkan buku-buku ensiklopedia yang akan cocok dan memang dibutuhkan anak itu untuk mengasah dirinya. Boneka beruang itu tidak mendewasakan anaknya. Aku memandang salib Yesus. Hari itu aku tahu keinginanku tersalib disana.

13. Yesus diturunkan dari salib
     Biarlah kehendak Bapa yang jadi. Meskipun aku frustasi tak mengerti rencana-Nya. Meskipun aku tak tahu kapan waktu-Nya. Aku belajar berserah dan bersabar. Sudut-sudut egoisku dibentuk, dilas dengan pergumulan. Karena kuk yang Kupasang itu ringan, begitu kataNya. Akhir-akhir ini ketika bulan sedang merah, aku senang memperhatikan darah yang perlahan-lahan menuruni selangkanganku menuju ke paha, betis, dan kakiku. Aku  teringat darahnya yang juga mengalir menuruni paha, betis, dan kakiNya. Aku teringat darimana aku berasal. Siapakah aku itu.

14. Yesus dimakamkan
     Ada masa menabur, ada masa menuai. Segala sesuatu ada waktunya. Dalam hening aku berdoa. Memohon agar hatiku dipulihkan. Rasa kecewa dan marah masih ada. Tapi aku merasa, seperti pintu kubur batu yang perlahan terbuka, kecewa dan marah itu perlahan memudar, ditembusi cahaya iman, pengharapan, dan kasih. Dan paling besar di antara semuanya itu adalah kasih. 


Life Story

Permintaan Maaf

Rabu, Februari 17, 2016

Hello World...


Selamat Natal 2015
Selamat Tahun Baru 2016
Selamat Tahun Baru Cina 2016
Selamat Valentine

Maafkan baru bisa mengupdate lagi. Ada banyak hal yang terjadi dan saya tak sabar untuk berbaginya dengan kalian. Tapi sungguh, saat ini banyak juga yang merintangi untuk intens nge-blog lagi. Blog ini tidak mati (dan semoga tidak), termasuk mati suri. Blog ini tepatnya sedang liburan. Saat ini saya sedang berusaha menyelesaikan apa yang harus diselesaikan supaya kita bisa bersua kembali.

Saya merindukan kalian wahai para pembaca setia, pembaca diam-diam, dan pembaca numpang lewat. Semuanya pembaca.

Maafkan.