Love Story

1000 Hari

Minggu, Oktober 23, 2022

Waktu saya masih single, hampir setiap hari saya berkhayal bertemu soulmate saya. Eitsss... saya masih tetap dalam misi menyelamatkan dunia kok. Hanya saja, rasanya lebih menyenangkan kalau tidak sendirian. Lalu, Tuhan begitu baik menganugerahkan kepada saya manusia unik yang kemudian menjadi partner saya. Namanya A. 

Saya dan A sudah berelasi selama tiga tahun. Dalam tiga tahun itu, ada banyak suka dan duka yang kami alami. Jujurly, ini relasi saya yang paling lama dan paling aneh. Kebetulan A memang manusia langka. Ada 1 banding sejuta yang seperti dia. Berelasi dengan A berarti siap-siap membuang semua fantasi dan ekspektasi klise tentang bagaimana berelasi seperti orang kebanyakan. A punya caranya sendiri untuk mencintai saya. A membuat saya keluar dari zona nyaman. Ia memberi saya pengalaman yang sama sekali lain. Kami punya cara sendiri dalam berelasi. 

Kalau dulu saya disibukkan dengan bagaimana mendapatkan kekasih, maka sekarang saya disibukkan dengan bagaimana merawat relasi. Yap, namanya juga dua individu beda budaya dan keluarga, proses mencari keseimbangan itu tidak mudah, kawan. Yang satu dari timur, satunya dari barat. Satunya suka sayur, satunya pemakan daging. Yang satu suka musik metal, satunya suka musik R & B. Yang bikin kami tetap bersama adalah karena kami ingin tetap bersama. Hubungan kami ini terdiri dari tiga pihak. Pihak ketiga itu adalah Pribadi yang mempertemukan dan menyatukan kami. Dia adalah dasar, tujuan, dan fokus hubungan kami. Kami berdua mencintai Pribadi ini. Tapi, karena kami gak mungkin menggapai Dia, makanya kami saling merangkul untuk bisa dekat denganNya. Kalau tidak ada Dia, kami bisa bubar atau bahkan tidak bakalan berelasi sejak awal. So, we are so blessed. Saya dan A masih terus belajar dan semoga kami terus bisa saling menemani sampai akhir 

Postingan ini buat A. Ya kali, siapa tahu dia blogwalking ke blog ini dan membaca postingan ini hehehe. I love his witty smile

Selamat 1000 hari, A. 


Love Story

Valentine' s Day

Senin, Februari 15, 2021

Hari Valentine merupakan momen yang dikapitalisasi oleh industri untuk keuntungan sebesar-besarnya atas nama cinta. Jika anda punya pasangan, maka anda harus memberi cokelat, boneka, bunga, plus makan malam romantis yang biasanya tidak murah. Kalau anda tidak punya pasangan, maka siap-siap anda akan menjadi pesakitan dan untuk itu segeralah mencari pasangan agar bisa merasakan "hal-hal manis" yang dipromosikan itu. Valentine's Day sendiri masuk ke Indonesia sekitar akhir tahun 80-an. Dulu waktu masih aktif turun ke jalan, kami berkampanye untuk anti kekerasan terhadap perempuan pas di hari Valentine. Lawan kami adalah kelompok kanan yang mengecam hari Valentine sebagai simbol maksiat dan pergaulan bebas. 

Meskipun itu disebut hari kasih sayang, tapi kasih sayang yang ditawarkan tampaknya dominan tersegmentasi ke hubungan romantis heteroseksual. Bagaimana dengan jenis kasih sayang di antara persahabatan atau orang tua-anak? Meski fakir dalam urusan romantisme, tapi untuk hubungan orang tua-anak dan persahabatan, bolehlah saya berbangga hati. Setiap Valentine's Day Mami akan memberikanku sebatang cokelat Silver Queen untuk menghiburku. Kenapa Silver Queen? Karena itu cokelat yang dia makan pas waktu mengandung saya. Sudah kutawarkan merk lain, tapi beliau tidak mau. 

Biasanya kami akan quality time bersama. Entah nonton film romantis bersama, jalan-jalan keliling kota, makan malam, atau nonton pertunjukkan musik. Dulu, saya tidak mengapresiasi hal-hal itu. Bagi otak remajaku, romantis-romantisan itu harus dengan pacar. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, lebih-lebih ketika Mami sudah tidak ada dan Daddy nun jauh disana, saya justru merindukan momen-momen itu. Persahabatan dengan teman-temanku disini juga memperluas makna kasih. Kami merayakan kasih sayang bersama hampir setiap saat tanpa perlu menunggu Valentine's Day. 

***

Nah, tahun ini, saya tidak sendirian. Saya merayakan Valentine's Day bersama dua sahabatku: Laili dan Tedtod. Ikut serta pacar Tedtod, yang kusamarkan sebagai A. Ceritanya kami double date. Kuteruskan tradisi Mami memberikan mereka sebatang cokelat Silver Queen. Lalu, kami ngobrol tentang kerasnya hidup ini dan tentu saja tentang cinta.

Kami berdiskusi tentang kasus-kasus kekerasan yang kami dampingi. Menjadi agen memang tidak mudah ya, Bun. Kadang-kadang betul-betul menguras emosi. Apalagi, kalau yang didampingi ini adalah orang-orang yang disayang. Kami juga bertukar cerita tentang relasi kami semua yang tidak lazim bagi dunia. Lebih tepatnya, tidak ideal. Ada kebingungan. Ada keraguan. Ada semacam ketidakpastian. Di satu sisi, keadaan ini membuat kami terguncang. Kami membutuhkan akal sehat dan hati yang tulus untuk mau memahami lebih mendalam. Kami harus berperang dengan ego kami. Kami harus kuat melawan nilai-nilai yang sudah ada, yang diidealkan itu. Namun di sisi lain, kami tahu relasi kami penuh kejutan dan petualangan. Pokoknya seru! Setiap saat ada saja yang baru. Suatu keadaan yang tidak bisa ditebak. Saya dan Laili suka gemes sendiri. Sudah kami berdua aneh dan traumatis, pasangan kami pun juga tak kalah nyentriknya. 

Lalu, kalau kami memang beda, mengapa kami ingin selalu diterima di sistem nilai yang menyingkirkan kami ya? Bisakah kami mempengaruhi nilai-nilai itu? Atau jangan-jangan kami justru terjebak kembali di dalamnya? Nilai-nilai yang kami lawan, tapi juga diam-diam kami puja. Arrrhhhgghh..bisa gila memang.

***

Malam itu ditutup tanpa perlu menyimpulkan apa-apa. Kadang-kadang sebuah percakapan bermakna tidak perlu kata usai. 


Happy Valentine's Day.


Love Story

The Answer

Rabu, Oktober 07, 2020

"Your silence in this time of my pilgrimage is nothing but the earthly manifestation of the eternal word of Your love."

(Encounters with Silence by Karl Rahner, SJ, 1966, p.57)



Note: It's a Grace for us

Love Story

Attachment

Minggu, September 27, 2020

Guruku, Bhagawan Eyang Pomo pernah memberi nasehat,”Dalam hidup, kita harus punya sikap prihatin”. Lalu saya bertanya, “Prihatin itu bagaimana, Eyang?”. Eyang menjawab,”Kalau sakit itu diterima. Jangan ditolak, jangan diingkari”. 
 
*** 

Trauma pertama manusia adalah ketika mereka lepas dari rahim Ibu. Itulah rasa sakit pertama kita. Ketika dimuntahkan ke dunia, disitulah tanda keterpisahan itu bermula: rasa sakit dan sedih keluar dari rasa aman dan nyaman bak Adam dan Hawa yang keluar dari Taman Eden. 

Banyak orang bisa berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain dalam level kepentingan bersama. Namun, belum tentu ketika masuk dalam relasi interpersonal yang lebih intim seperti persahabatan dan percintaan, manusia bisa merawat hubungan yang sehat, aman, dan stabil. Persoalan keintiman menjadi suatu masalah yang mendasari timbulnya kekerasan di ranah privat. Jika kekerasan di ranah privat masih terus terjadi, maka jangan heran jika kekerasan di ranah publik juga terjadi. Begitulah kira-kira teori Anthony Giddens dalam karyanya yang terkenal Transformation of Intimacy. Keintiman menjadi dasar menuju demokrasi. 

Keintiman bukan persoalan jatuh cinta dan mendapatkan orang yang ditaksir semata. Dalam kuliahnya Mbak Dian Arymami, dosenku dulu di UGM, keintiman melampaui batas-batas seksualitas. Keintiman merupakan “sesuatu yang berada di dalam” tentang apa artinya menjadi manusia dalam relasinya dengan subjek manusia dan non-manusia dan pada ide–ide sosial dalam ruang dan waktu. Keintiman hanya bisa dicapai dengan pengungkapan diri (self disclosure) di antara kedua belah pihak. Keintiman juga tercipta di antara Tuhan dan manusia. Keintiman ini hadir ketika yang Rahasia mengungkapkan dirinya. Jalan ini hanya bisa dicapai dengan rasa

*** 

Hubungan kita dengan manusia lainnya saat dewasa sangat ditentukan dengan proses pengasuhan yang diberikan pengasuh utama kita (entah orang tua, kakek-nenek, om-tante, kakak, atau babysitter) di masa awal tumbuh kembang. Begitulah bunyi teori Attachment yang dikemukakan pakar Ilmu Psikologi, John Bowlby. Dulu saya sempat mendiskusikan hal ini dengan Nara, sahabatku yang seorang peneliti kesehatan jiwa. Sayangnya, waktu itu teori Narsistik dan Borderline Personality Disorder jauh lebih menarik buatku. Namun, teori Narsisitik dan Borderline tampaknya terlalu ekstrim dan kurang tepat dalam membaca konflik hubungan asmara saya. Ada hal-hal yang tidak sinkron dan dapat dipatahkan argumentasinya dengan data yang ada. Seperti Archimedes yang berteriak Eureka!, Attachment theory tampaknya jauh lebih cocok untuk memahami pergumulan asmara sekaligus bisa memahami diri dan pasangan dalam berelasi. 

Berdasarkan teori Attachment, dalam berhubungan intim, manusia terbagi ke dalam empat kategori: secure, anxious, dismissive avoidant, dan fearful avoidant. Sebenarnya, keempatnya ini dalam diri manusia, tetapi selalu ada dua yang dominan. 

Pertama, secure. Orang yang secure terbentuk karena ketika ia masih balita, ia mendapatkan kebutuhan emosi yang cukup dari pengasuhnya. Sang pengasuh selalu “hadir” dan membuat dia merasa aman dan stabil. Ketika dewasa, orang-orang secure akan memiliki hubungan intim dengan pasangannya yang stabil dan sehat secara intelektual, emosional, dan spiritual. Mereka bisa meregulasi emosi dan merespon emosi dirinya dan orang lain dengan konstruktif. Mereka bisa mandiri (independent) sekaligus juga bisa co-dependent dengan pasangannya. Mereka tidak posesif dan membebaskan pasangannya. 

Kedua, anxious. Singkatnya, orang yang anxious atau cemas terbentuk karena sewaktu balita sang pengasuh kadang ada dan kadang tidak ada. Mereka merasa ditolak dan diabaikan. Tetapi, karena pengasuhnya kadang muncul, maka mereka butuh untuk diyakinkan. Ada trust issue disini. Saat berhubungan romantis di masa dewasa, orang-orang anxious sering meminta afirmasi atau validasi dari pasangannya. Pertanyaan, apakah aku dicintai? Apakah aku dirindukan? Apakah dia selingkuh?dll merupakan pertanyaan orang-orang cemas yang dipicu rasa insecure. Orang-orang anxious cenderung menjadi needy, clingy, dan mungkin jadi posesif selama ia tidak mendapat validasi dari pasangannya. 

Ketiga, dismissive avoidant. Ini yang rumit. Mereka yang dismissive avoidant adalah anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan emosi di masa sangat membutuhkan kebutuhan emosi dari pengasuhnya. Entah orang tuanya pada saat itu sedang bekerja atau studi lanjut sehingga tidak bisa secara emosional hadir untuk mereka atau mereka memang ditinggalkan. Akibatnya, si anak merasakan penolakan dan diabaikan. Perasaan inilah yang menjadi trauma. Namun, berbeda dengan mereka yang anxious, dismissive avoidant merepresi luka itu dengan berjarak dengan keintiman. Akibatnya, ketika berhubungan romantis mereka tidak suka jika pasangannya demanding dan cenderung membatasi diri untuk intim dengan pasangannya. Orang-orang dismissive avoidant ini tidak bisa dimiliki, tidak bisa dipakaikan rantai di lehernya. Secara tidak sadar, mereka mensabotase sendiri hubungan mereka sehingga membuat pasangannya yang akhirnya memilih meninggalkan mereka. Orang-orang dismissive avoidant juga kesulitan mengungkapkan perasaannya dan meregulasi emosi yang intens karena sejak kecil sudah terlatih membangun tembok pertahanan diri. Jika orang pada umumnya membangun batasan dengan orang yang tidak terlalu dekat, maka orang avoidant membangun batasan justru dengan orang-orang yang penting dan paling mereka cintai. Tujuannya, mereka tidak mau lagi merasakan luka yang sama yang mereka alami di masa kanak-kanak. 

Keempat, fearful avoidant. Hampir sama dengan dismissive avoidant. Fearful avoidant merupakan gabungan dari anxious dan dismissive avoidant. Orang yang fearful avoidant adalah mereka yang merindukan keintiman sekaligus ingin berjarak dengan keintiman itu. Mereka takut ketika mereka sudah cinta setengah mati, orang yang dicintai akan meninggalkan mereka. Yes, trauma ini karena takut kehilangan. Sama seperti dissmisive avoidant, mereka juga cenderung melakukan sabotase dalam hubungan untuk mengetes pasangannya. Kalau orang non-avoidant mengetes pasangannya dan berharap pasangannya berhasil, maka orang fearful avoidant justru berharap pasangannya gagal. Mereka yang fearful avoidant berharap untuk dikecewakan. Kasarnya, harapan mereka seperti ini: "Nah, bener kan, dia sama saja dengan yang lain. Mereka akhirnya meninggalkanku". Akhirnya, sebagai avoidant, baik yang dismissive maupun fearful memilih membangun dinding es yang tebal untuk melindungi dirinya. 

*** 

Terus, konflik asmaranya apa? 

Hmm..masalah muncul ketika si Mbak yang secure dan anxious ini menjalin hubungan dengan si Mas yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Orang yang ada anxious-nya secara inheren percaya bahwa mereka ditolak sementara orang yang ada avoidant-nya percaya bahwa orang-orang akan meninggalkan mereka. Sisi secure si Mbak diperoleh dari ibunya yang selalu hadir setiap saat baik secara fisik, emosional, dan spiritual. Namun, sisi anxious-nya lahir dari ayahnya yang ternyata seorang avoidant sejati. Di masa awal kembang, sang Ayah bertugas di luar kota. Bahasa cinta sang Ayah adalah act of service, ia suka memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Namun, si Mbak akan merasa dicintai kalau diberi quality time. Ia mau berbincang dengan ayahnya tentang apa yang dia jalani dan rasakan dalam percakapan yang mendalam atau paling tidak ayahnya hadir mendukung dia dalam momen-momen di hidupnya. Hal ini bentrok karena Ayahnya punya luka dengan keintiman di masa muda. Menjadi intim dengan orang-orang yang dicintainya sama dengan mengoyak lukanya di masa lalu. Selama bertahun-tahun, si Mbak mencari validasi dari sang Ayah, apakah aku ini dicintai? Apakah aku ditolak? Barulah, ketika ada quality time akhirnya ia memahami bahasa cinta ayahnya. Sungguh, cerita menara Babel tentang pengacauan bahasa memang menjadi sumber konflik manusia. 

Di sisi lain, si Mas terbentuk menjadi seorang yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Sisi secure si Mbak bisa berdamai dengan sisi avoidant si Mas, tetapi sisi anxious si Mbak membuatnya bersusah hati. Mengharapkan validasi dari orang yang avoidant itu seperti mengharapkan hujan turun di musim panas. Apalagi sisi dismissive si Mas tidak bisa dipaksa. Semakin dipaksa, dia semakin menjauh. Sebagai mekanisme pertahanan dirinya, maka orang-orang dismissive avoidant cenderung mengabaikan emosi. Bagi mereka, emosi itu tanda kelemahan. Si Mas membeku bukan karena tidak mencintai si Mbak, tetapi karena ia butuh untuk merasa “aman” dan tidak kehilangan dirinya. Namun, sisi fearful avoidant-nya memiliki sensitivitas dan merindukan keintiman sekaligus takut ditolak dan ditinggalkan. Lagi-lagi ada trust issue ini. Dari yang biblis menuju profan, inilah makna "diterima tetapi dianggap sepi" (Hosea 3) itu. Si Mas mencintai dalam diam. Ia merindu dalam diam. Si Mas membalikkan makna “diam” yang umumnya dipahami sebagai bentuk penolakan, hukuman, atau penghindaran. Si Mbak didiamkan bukan karena dia ditolak, dibenci, atau dihindari, melainkan karena dia sangat dicintai. Si Mas seperti sang “Mistikus Cinta"-nya Dewa: 
apa yang sedang kurasa
apa yang sedang kau rasa 
adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata

Alexythymia adalah sindrom ketika seseorang tidak dapat mengenali atau menyampaikan perasaannya. Ia tidak punya kata-kata untuk bisa mengungkapkan perasaan yang dia rasakan. Sebagai catatan, keadaan ini berbeda dengan tidak memiliki perasaan. 

Kalau sudah begini, bagaimana? Hubungan ini tampaknya impossible hehehe. 

Sudah benar memang doa mereka dulu. Ajaib memang, mereka mendoakan hal yang sama. Hanya Tuhan saja yang bisa menjadi perantara, penengah, dan pemersatu. Namun, beliau jugalah yang jadi alasan pemisah. Si Mas sebagai anggota kopassus, pasukan elit Yang Mulia Komandan, harus menunaikan misi khusus: disuruh sekolah, belajar berkomunikasi, dan juga berdamai dengan masa kecilnya. Sebaliknya, si Mbak yang seorang anggota Infanteri alias pasukan tempur pejalan kaki disuruh bertempur dulu disini. Banyak urusan dan drama yang harus diselesaikan. Selebihnya, adalah kasih karunia Komandan. 

Untuk melanjutkan hidup, si Mbak harus belajar mengelola rasa anxious-nya dengan mencari tahu dan berfokus pada kebutuhan personalnya. Jika rasa anxious-nya terkelola dengan baik, sisi secure-nya akan mengambil alih dan membuat beban di hatinya terangkat. Begitu juga dengan si Mas. Ia harus belajar menerima bahwa tidak apa-apa berhadapan dengan emosi, itu bukan tanda kelemahan. Tidak apa-apa sekali-kali menjadi rentan. Si Mas harus berani dan percaya bahwa orang-orang yang benar-benar mencintainya tidak akan meninggalkan dia. Dengan begini, si Mas akan pelan-pelan bertransformasi untuk menjadi pribadi yang secure

*** 

Barangkali benar kata Rsi Meike Walmiki kepada Mpu Afif Tantular,” Bukan masa lalu yang menakutkan, tetapi masa depan. Terlalu banyak kemungkinan yang tidak sanggup dibayangkan.” 
Ya. Makanya kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya untuk hari ini”, ujar Mpu Afif Tantular. 
Rsi Meike Walmiki mengangguk,” Ya, seperti kata Yesus, kesusahan sehari cukup sehari, hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah besok lusa kita masih ada dunia ini atau tidak. Atau apakah kesempatan itu bisa datang dua kali.”

Love Story

“Berikanlah Milikmu Yang Paling Berharga”

Jumat, September 18, 2020


Kumaknai lukisan ini sebagai penyatuan Bunda Maria dan Yesus. Aku lupa nama pelukisnya, tetapi lukisan ini kulihat dalam sebuah pameran seni di Taman Budaya, Yogyakarta. Sehari sebelum kami berdua bertemu dan membicarakan perasaan masing-masing. 




Aku merasa seperti Ekalaya dalam pewayangan. Dia seorang anak dari kelompok marginal yang bercita-cita untuk menjadi pemanah terbaik di dunia. Ekalaya sangat mengagumi Guru Drona dan percaya dibawah bimbingan Drona, ia bisa mewujudkan cita-citanya itu. Sayangnya, Drona juga punya ambisi pribadi. Gelar pemanah terbaik di dunia sudah ia siapkan untuk Arjuna, putra raja Hastinapura yang elit dan memiliki segalanya. Ia menolak menjadikan Ekalaya muridnya demi menjaga posisi itu untuk Arjuna. Ekalaya pun pulang, namun tidak putus asa. Ia mendirikan sebuah patung Drona. Ia percaya ia bisa belajar sendiri meski dibawah “bayang-bayang” Drona. 

Selama satu tahun, aku seperti Ekalaya dalam fragmen ia belajar di bawah patung Drona. Aku mencintai seseorang yang merupakan representasi Dia yang kucinta. Aku melihat Tuhanku dalam dirimu. Sejak saat itu, aku merasakan kesepian yang dalam sekaligus cinta yang membara. Cinta yang tidak bisa dipahami oleh orang banyak. Cinta ini adalah suatu rasa yang sejati. Cinta yang mengubahkan. Cinta yang mengalami keterpisahan dan kemudian diutuhkan dalam suatu pertemuan. Ia bisa memahami yang kau rasakan dan mengatakan yang tak bisa kau ucapkan. Ia mewakilkan kasih Tuhan yang paling menggelisahkanmu. Di matanya, aku adalah sosok Tuhan yang mengetuk terus pintu hatinya. Bagiku, dia adalah sosok Tuhan yang indah dan diam. Pada akhirnya, kami berdua merasakan kasih karunia itu. Tetapi, itu tidak sederhana. 

Seperti Ekalaya yang mencintai Drona, aku juga mencintai Tuhanku. Seperti Drona, Ia pun tidak bisa kugapai. Kekasihku kemudian menjadi representasi patung Drona/Tuhan yang bisu. Ditemani diamnya, aku sendiri yang berlatih, jatuh, dan luka hingga akhirnya bangkit, pulih, dan menemukan tujuan latihan ini. Ya, aku sendiri. Tetapi, aku tidak sendirian. Aku selalu ditemani oleh Dia, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang datang menemani dan menguatkanku. Aku seperti Harry Potter. Harry bertahan bukan karena kekuatannya sendiri. Tetapi, ia memiliki support system yang kuat. Ada orang-orang yang mencintainya, peduli, dan rela berkorban untuknya. Ini yang membedakan Harry dengan Voldemort. 

Pelan-pelan aku akhirnya menyadari latihan ini memang untuk tujuan yang lebih besar. Ini untuk tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang-orang terdekatku melihat perubahan itu: lebih sabar, lebih bisa mendengarkan orang lain, dan mau menunggu. Aku telah mendapatkan pendidikan latihan tempur-ku kali ini dengan penuh airmata dan sukacita. Latihan ini untuk berhadapan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ada banyak hati yang perlu disembuhkan. Orang-orang yang memiliki harapan namun dikecewakan terus-menerus. Mereka yang kesepian karena tidak dicintai dan diterima sepenuh hati. Mereka yang ditolak dan diabaikan. Mereka yang terluka karena ditinggalkan. Untuk bisa menjadi penolong, aku harus mengenal diriku lebih dulu dan semua luka-lukaku. Langkah pertama yang kulakukan adalah menerima bahwa aku sakit dan cacat. Langkah kedua adalah aku mau pulih. Aku tidak mau orang lain, generasi mendatang, mengalami kepedihan yang kurasakan. Aku kini menyadari penuh tujuan dan peranku. Aku dilatih dan berlatih untuk mengasihi. Jika harus disuruh memilih antara hukum atau kasih, aku akan memilih kasih. Aku bukan pembela kebenaran yang baik. 

***

Dulu aku pikir aku sekedar menemani kekasihku yang mengenakan mahkota duri dan memikul salib. Ternyata, aku sendiri-lah yang justru mengenakan mahkota duri dan memikul salib itu. Menanggung adalah salah satu bentuk ketekunan dalam iman selain tetap berharap pada Dia. Inilah tanggung jawab besar itu. Setiap orang memiliki kekuatan di dalam dirinya. Ketika kekuatan yang dimiliki itu tidak diarahkan pada Dia, maka ia akan menjadi sebab kehancuran diri dan orang lain. Tetapi, jika kekuatan itu dipusatkan pada Dia, maka itu akan membawa perubahan besar yang membawa kebaikan, sebuah metanoia. Tuhan tidak lagi di atas langit, tetapi hadir di tengah-tengah kita. 

Dalam cerita wayang, Drona yang tahu kemampuan Ekalaya yang melampaui Arjuna itu tidak terima. Drona tetap ingin Arjuna yang memegang posisi sebagai pemanah terbaik di dunia. Untuk mewujudkan ambisi itu, Drona memanfaatkan rasa cinta Ekalaya kepadanya dengan meminta sembah bhakti. Ia meminta milik Ekalaya yang paling berharga: jari jempol kanannya. Tanpa jari jempolnya, mustahil Ekalaya bisa memanah lagi. 

Lalu, apakah yang dilakukan Ekalaya? Inilah cintanya yang paling tinggi. Ia menyerahkan miliknya yang paling berharga itu: kemampuannya. Aku pun juga memberikan milikku yang paling berharga: hatiku. Hatiku sebagai persembahan padaNya. Seperti Ekalaya, aku tahu hikmat yang kudapatkan ini bukan sekedar pemberian. Tetapi, hasil dari merespon anugerah itu. Tak perlu ada pengakuan siapa yang menang atau kalah. Rasa cintanya tidak bisa diadu. 

Aku ikhlas melepas kepergian kekasihku dengan damai. Aku tahu Allahku tidak seperti Drona. Allah tidak meminta tumbal. Allahku adalah kasih. Kasih itu membebaskan dan kekal. Aku sangat mengasihinya, maka aku melepaskannya agar ia bahagia dengan apapun pilihan hidup dan jalan yang ia pilih. Dengan melepaskannya, aku mengalami kepulihan. Aku tidak perlu menggenggam terlalu erat lagi. Pada akhirnya, semuanya bukan milik kita: ibumu, ayahmu, anakmu, kekasihmu, saudaramu, sahabatmu, hartamu, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan bahkan kebijaksanaan itu sendiri. Aku memilih dan akhirnya merasakan kepenuhan di dalam Dia. Aku harus selalu mengingat ini karena aku juga masih berdarah dan lemah. Aku sudah utuh. Inilah kebahagiaanku yang sejati. 

Selebihnya adalah misteri.

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...

Love Story

Cinta Pertama

Sabtu, Mei 23, 2020

Waktu adalah kotak pandora.

Jika sedang mengalami "struggling for enduring emotional pain", saya akan melakukan perjalanan ke dalam diri. Mengingat hal-hal yang pernah terjadi. Mencoba melakukan dekonstruksi trauma-trauma yang saya curigai sebagai akar "mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan" *sambil nyanyi. 

Nah, kali ini saya berjalan-jalan masuk ke memori saya sampai ke awal mula kehidupan. Kembali mempertanyakan hakikat saya mencintainya. Mengapa dari 7 milyar manusia di muka bumi, saya harus jatuh cinta padanya? Mengapa pula seperti kami punya fantasi dan bahasa yang sama? Ada banyak irisan identitas dan pengalaman yang kayaknya kalau disatukan membentuk ikatan sehingga ketika kami dipertemukan kami saling memahami. Hubungan kami bukanlah sebuah pertemuan, melainkan seperti reuni. Sesuatu yang familiar dengan rasa yang berbeda. Oke. Anggap bagian ini hanyalah asumsi saya untuk membuat drama kisah cinta ini semakin menarik dan melankolis. 

 *** 

Ingatan itu berhenti pada saat saya kelas 1 SD. Ada satu kakak kelas yang saya taksir waktu itu. Huruf nama depannnya A, sama dengan Aquaman. Ciri-cirinya mirip Aquaman atau setidaknya warna kulit mereka sama-sama putih. Entah ada turunan Belanda atau tidak, tapi A ini juga agak kelihatan bule. Dia kelas 6 SD saat itu. Well, saya dan Aquaman memang beda 5 tahun dan sama-sama alumni sekolah Katolik yang didirikan oleh spirit kongregasi yang sama. Kisah cinta itu tentu saja tidak terwujud. A lulus SD, saya naik kelas. Kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. 

*** 

Ingatan saya mundur lagi. Kali ini berhenti di tahun 1995. Ada banyak penyanyi hebat yang berjaya di tahun itu. Ingatan itu menguat lagi di tahun 1997. Lagu Kirana dari Dewa 19 menjadi hits dan sering diputar di radio. Saya meminta Mami membuatkan mix tape dengan lagu Kirana dan Sambutlah-Denada di dalamnya. Di masa-masa itu, ada satu manusia yang tak pernah saya lupakan. Heri namanya. 

Entah tulisannya Harry, Heri, atau Hery, tak penting lagi. Di telingaku namanya sesederhana "Heri". Kupanggil dia Kakak Heri. Saya tidak tahu apakah itu nama depan, nama tengah, nama belakang, atau sekedar nama panggilan. Heri adalah teman SMA-nya Kakak Iccank, anaknya Puang Ibu. Puang Ibu adalah orang tua angkatnya Mami. Waktu kecil saya sering dititip di rumah Puang Ibu dan nanti akan dijemput begitu Mami atau Daddy pulang kerja. Nah, Heri dan Kakak Iccank adalah teman segeng di sekolahan. Jadi, sepulang sekolah Heri pasti akan singgah main ke rumahnya Kak Iccank. Rumah Kak Heri pun berdekatan dengan rumah Kak Iccank. Jadi akses itu tak sulit. Disanalah, pertemuan kami terjadi. 

Informasi apa yang bisa kita dapat tentang Heri dari akumulasi ingatan anak kecil pada masa itu? Ia anak orang hebat di kota Makassar. Orang tuanya pejabat. Heri memiliki kakak perempuan (sama dengan Aquaman). Saya tidak tahu apakah Heri hanya dua bersaudara atau lebih. Tapi, yang menarik adalah ibunya. Orang-orang di kota kami meng-highlight figur ibunya Heri dengan kagum dan hormat. Ibunya adalah orang hebat. Perempuan cerdas, tangguh, dan luar biasa (sama seperti ibunya Aquaman). Figur feminis di era itu mungkin. Ibunya kalau tidak salah mantan anggota DPRD, jabatan yang akhirnya juga dipegang oleh kakaknya. Kata Mami yang sempat mewawancarai kakaknya Kak Heri, wajah kakaknya dengan Heri sangat mirip. Apalagi kalau tersenyum. 

Bagaimana ciri-ciri Heri? Seingatku tubuhnya proporsional. Tinggi semampai, berkulit putih bersih, bermata teduh, dan senyumnya tulus. Ia memenuhi kriteria konstruksi ketampanan laki-laki Bugis. Ia mengingatkan kita pada figur Ahmad Dhani waktu masih muda. Rambutnya agak bergelombang, pendek, dan belah tengah. Ya, selain sama-sama bertubuh proporsional dan berkulit putih bersih, Aquaman dan Heri tentu tidak mirip secara wajah. Namun, memang ada sesuatu dalam diri Aquaman yang akhirnya kusadari mengingatkanku pada Heri (atau sebaliknya?). Heri dimataku selalu tampak sendu, lembut, dan puitik. Ada kombinasi maskulin dan feminin dalam dirinya yang mempesonaku. Hal-hal itu yang kutangkap ada pada Aquaman juga.

Aku suka sekali melihat Heri kalau memakai baju seragam SMA. Celana anak SMA tahun 90-an yang gabungan antara baggy atau semi cutbray. Karena kakinya jenjang, Kak Heri memakai model kemeja junkies dan celana semi cutbray, sementara Kak Iccank dengan kemeja junkies dan celana baggy. Begitulah gambaran maskulinitas cowok-cowok cool, tampan, dan kaya pada masanya. Untuk bisa mengingat ini, saya nonton ulang film Catatan Akhir Sekolah

Berhubung mereka adalah cowok-cowok kluster satu, maka mereka tentu selalu dikelilingi banyak perempuan. Pacar-pacar mereka tentu tak ketinggalan ikut nongkrong dan kadang kalau beruntung bisa melihat mereka bercanda ria. Pacar-pacar mereka cantik-cantik semua. Kak Heri tentu punya pacar juga. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku suka memperhatikan Kak Heri dari jauh. Jika ia melihatku, ia akan menegurku. Ia memberiku senyumnya dan berkata dengan sayang, "Adek Meike...,". Aku tak punya banyak kesempatan bercakap-cakap dengannya. Atau tak mengingat percakapan yang mendalam dengannya. Atau aku yang lupa? Entahlah. Lagipula, aku selalu tersipu malu bila dia ada di dekatku. Mungkin di matanya aku adalah anak kecil pemalu. Tak ada yang peduli dengan isi hati anak kecil. 

Waktu berlalu. Kehidupan berputar. Heri masuk dalam pusaran kenakalan anak muda di zamannya: narkoba. Tentu karena dia mampu membeli dan pergaulannya di level seperti itu. Entah sejak kapan dia demikian, tapi kita tahu bersama pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an penggunaan narkoba di kalangan anak muda memang mengerikan. Heri masuk dalam pusaran itu dan menjadi pecandu. Ia menjual barang-barang dari rumahnya dan konon membuat ibunya sangat sedih. Ketergantungan obat membuat Heri berubah. Ia tak menjadi anak manis lagi. Ia menjadi momok yang menyedihkan. Orang-orang mengelus dada dan menyayangkan keadaan Heri," Kasihan anak itu...kasihan ibunya ya?". Seingatku, Kak Heri belum menikah. 

Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP. Saya dan Mami lebaranan di rumah Puang Ibu. Tak lama, Kak Heri datang dan bercakap-cakap dengan kami. Kami tertawa-tawa mendengar dia bercerita tentang masa lalu. Suatu ketika pula, saya dan Mami baru pulang makan dari New York Chicken di jalan Pettarani ketika tiba-tiba ada yang berteriak memanggil kami. Itu ternyata Kak Heri. Dalam gelap malam, saya seperti tak percaya dengan yang saya lihat. Ia tetap tampan di mataku, tapi ia tak bercahaya lagi. Ia menanyakan kami darimana dan mau kemana. Pertanyaan kami yang sama untuknya. Setelah menyapa kami, Kak Heri pergi. Tubuhnya kurus. Ia tampak dekil dan menyedihkan. Pujaan hatiku yang diam-diam kusimpan di relung hatiku. Pujaan hatiku yang kudedikasikan semua lagu-lagu cinta tahun 90-an untuknya. Itulah pertemuan terakhirku dengan Kak Heri. Beberapa waktu kemudian, kami mendengar berita bahwa Kak Heri meninggal dunia karena overdosis. Ia selalu dikenang sebagai orang yang baik. 

*** 

Ada rasa sendu sekaligus lucu ketika ingatan itu kembali dan fakta bahwa nama baptis Aquaman adalah Heri dalam bentuk yang lebih fancy.

Love Story

Jangan Mendendam, Meskipun Itu Lebih Mudah

Jumat, Mei 08, 2020

Seringlah kini kukenang, di masa yang berat 
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat 
Melintas gambar ibuku, sewaktu bertelut 
Kembali sayup kudengar... namaku disebut 

Di doa ibuku, namaku disebut 
Di doa ibuku dengar ada namaku disebut... 

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang 
Namun kasihnya padaku selalu ku kenang 
Kelak disana kami pun bersama bertelut 
Memuji Tuhan yang dengar namaku disebut

(Di Doa Ibuku - Nikita)


Mami sayang,
Ingatan waktu aku putus cinta untuk pertama kali melintas dengan kuat. Waktu itu Mami memelukku dan berkata, " Jangan menangis, masih banyak yang lebih jahat". Itu bukan sekedar nasihat. Itu lebih mirip peringatan.

Aku menangis dengan hati hancur. Bukan perpisahan yang kutangisi. Tetapi, bagaimana cara orang yang pernah menyayangi kita itu memutuskan hubungan. Ia sama sekali tidak menghargai aku dan hubungan itu. Aku merasa tidak dimanusiakan. Aku seperti barang yang dibuang begitu saja begitu nilai gunanya habis. Ia bahkan membuatku merasa bersalah dan tidak bisa menyalahkan dia. Kelak di kemudian hari aku tahu namanya. Aku mengalami kekerasan simbolik, jenis kekerasan yang sama sekali tidak bisa dibuktikan karena tidak kelihatan, tapi lukanya setara dengan kekerasan fisik. Kekerasan yang terjadi dimana korban menyetujui untuk ditindas dan membenarkan perlakuan pelaku. Dalam dominasi ini, korban menyalahkan dirinya, insecure, bahkan tidak mau keluar dari hubungan itu. Hal yang membuatku sedih, para pelaku kekerasan simbolik ini ada juga yang berasal dari kaum intelektual nan religius yang berbicara tentang humanisme dan kasih. Mereka mempelajari teori ini bukan untuk mencegah supaya kekerasan ini tidak terjadi, tetapi supaya mereka dapat mempraktekkannya dan lepas tanggung jawab. Yang mengerikan, para korbannya tidak bisa meminta pertanggungjawaban pelaku. Sebaliknya, korban yang kemudian disalahkan dan dirisak. 

Ada juga untungnya TNI mengajarkan kami latihan fisik mountainering. Suatu latihan fisik dengan cara memanjat di ketinggian dan kemudian terjun atau melompat dari atas. Kata pelatihku dulu," Ini mungkin berguna buat kalian dalam menghadapi kehidupan sehari-hari". Tentara tidak pandai berfilosofi. Itu bukan pekerjaan mereka. Namun, aku kini memahami maksud latihan fisik ini. Ya, ini latihan untuk membiasakan diri agar kau siap-siap diangkat setinggi-tingginya, lalu kemudian dibanting begitu saja ke tanah.

Kali ini tidak ada Mami yang menghapus air mataku atau memberiku kata-kata penguatan agar aku bisa ikhlas menerima perpisahan. Kali ini tidak ada Mami yang bisa menemaniku menertawai kebodohan dan betapa naifnya aku dalam mencintai. Mami tahu ketika aku mencintai maka aku akan mencintai dengan total. Tapi, aku tidak menyangka bahwa ketulusan di dunia ini ternyata tidak cukup. Kadang orang yang kita cintai tidak memiliki perasaan yang sama atau tidak memilih kita. Ada pertimbangan ekonomi-politik yang memandang manusia seperti komoditas. Apakah manusia ini memberi profit atau tidak. Mereka menilai manusia lain berdasarkan kebutuhan mereka. Betapa mengerikannya kita dikelilingi manusia-manusia yang narsistik.

Mami tahu, aku bukanlah bunga mawar di taman yang diperebutkan dan sesuai dengan standar keindahan. Aku adalah gulma yang dianggap tanaman penganggu karena tidak estetik meskipun aku memiliki kekuatan dan kegunaan untuk menghidupkan dan menyembuhkan. Kekejaman sistemik yang aku rasakan membuatku bertanya-tanya,"Apakah kebaikan justru menarik kejahatan untuk mendekat?". 

Mami tidak usah khawatir. Aku tidak sendirian. Aku punya sepasukan teman-temanku yang menemaniku menghadapi kesulitan ini. Mereka menguatkan dan menghiburku. Mereka meyakinkanku ketika kepercayaan diriku runtuh dan merasa tidak dicintai. Mereka bukti hidup bahwa aku dicintai. Penolakan memang membuat trauma yang dalam. Namun, aku juga belajar mendefiniskan kembali konsep cinta. Aku belajar memahami penis envy-nya Freud dengan jernih. Aku belajar menjadi utuh dengan menjadi diri sendiri. Kesadaranku benar-benar terbentuk untuk menjalani hidup ini. 

Mami, aku memilih tetap mengasihi. Aku memilih tidak menyimpan dendam. Aku marah dan sedih. Iya, itu wajar sebagai reaksi tubuh atas luka emosional yang kurasakan. Tapi, aku tetap tidak mau mendendam. Dendam tidak membawa kita kemana-mana. Dendam yang dipelihara terlalu lama akan menjadi racun bagi diri sendiri. Aku tidak mau mendendam, meskipun itu lebih mudah. Mengampuni memang hal yang paling sulit. Orang yang bisa mengampuni adalah orang yang memiliki kasih yang besar. Dan hanya orang-orang yang memiliki kasih yang bisa mengasihi. Aku memilih tetap mengasihi bukan karena aku putus asa dan merasa tak berdaya. Tapi, justru karena dengan mengasihi aku merasa berdaya. Ya, aku mampu mengasihi dan aku bangga pada diriku yang memilih melakukan itu. Kekuatan itu lahir bukan dari hati semata tetapi juga dari pengertian bahwa mereka dibentuk oleh sistem yang membuat mereka tidak bisa mengasihi. Di dalam sistem kolaborasi patriarki dan kapitalisme ini, mengasihi dianggap perbuatan orang lemah karena ia memberi dirinya. Memberi diri dianggap tidak profitabel. Akhirnya, banyak orang takut mengasihi. Ini logika yang salah karena justru orang yang mampu dan kuat-lah yang bisa memberi. Seperti hanya orang kaya yang mampu memberi sedekah pada orang miskin.

***

Pada akhirnya, aku iba padanya. Betapa berat beban hidupnya sampai ia memilih menjadi orang jahat. Namun, aku mengerti mengapa ia seperti itu. Aku mengerti rasa sakitnya. Mencintai memamg butuh keberanian. Aku bukan dia. Aku tidak takut untuk mencintai. Aku akan berproses dengan perasaan-perasaan ini dan membiarkan semuanya terurai, dimurnikan untuk menjadi energi yang baru. Semua ada hikmahnya. Aku kini dapat membedakan rasanya dicintai dan tidak. Aku kini bisa belajar mengasihi dengan benar. Aku kini tahu apa itu cinta. Aku kini tahu apa yang aku mau. 

Mami, aku percaya Mami selalu mendoakanku dari sana  sama seperti ketika Mami masih ada di bumi. Mami, tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu dan aku akan lebih kuat dari sebelumnya. Aku adalah gulma, semakin dibunuh semakin tidak bisa mati. Gulma akan terus tumbuh meskipun ia dipangkas, dibakar, atau bahkan diracun.

Bagaimana mungkin dia terbunuh, jika ia sudah mati berkali-kali?

Love Story

Selamat Paskah

Jumat, April 10, 2020

Aku akan menceritakan padamu kisah tentang temanku. Namanya Dietrich Bonhoeffer. Aku bertemu pertama kali dengannya di hall Fakultas Teologi, Universitas Humboldt zu Berlin. Ada patung kepala Dietrich disana dan kutipannya dalam bahasa Jerman. Aku tidak tertarik padanya waktu itu. Fokusku hanya tertuju pada kehidupan kampus dan betapa inginnya segera studi lanjut disana. Kampus Teologinya terletak di seberang Museum Seni dan Katedral Berlin. Di tengah-tengahnya, membelah sungai Spree yang sering membawa kapal-kapal ferry kecil. Ruang kelas yang memiliki jendela besar tanpa gorden telah menyajikan pemandangan indah. Betapa aku iri pada mahasiswa yang belajar disana. Mereka mengonsumsi dua hal yang paling kuhasrati: ilmu pengetahuan dan seni semesta. Jika waktu kuliah sudah selesai, kita bisa berjalan kaki untuk membeli es krim atau nongkrong di café tak jauh dari kampus. Langit kelabu kota Berlin menyuguhkan perasaan sendu. Jika kamu beruntung, kamu akan mendengar suara saxophone dari musisi jalanan menyanyikan lagu Raindrops Keep Falling on My Head. Momen itu sangat sederhana, namun magis. 

Beberapa bulan sejak peristiwa itu, aku masuk gereja dan mendengar sang Pendeta menyinggung nama Dietrich. Dia berkisah tentang konsep Dietrich yang terkenal, yaitu cheap grace dan costly grace. Dietrich adalah seorang pendeta, teolog, aktivis, dan martir. Ia mengkritik pemerintahan otoriter Nazi dan orang-orang Kristen zaman itu yang apatis karena membiarkan orang-orang Yahudi mengalami penindasan. Dietrich akhirnya ditangkap, dipenjara, diisolasi, dan pada akhirnya dieksekusi. Pulang dari gereja, aku langsung mencari karyanya dan membaca The Cost of Discipleship. Buku itu memberiku daya untuk berjuang di jalan kemanusiaan sembari memaknai iman dan pilihanku sebagai pengikut Kristus. 

Dari penjelajahan buku-buku seputar Dietrich, aku menemukan secuil kisah tentang hubungannya dengan tunangannya, Maria von Wedemeyer. Tunangannya hanya disebut sedikit sekali di buku-buku keilmuan teologi itu. Tapi, di referensi lain yang lebih nge-pop dan personal, kutemukan bahwa peran Maria sangat vital dalam hidup Dietrich. Dietrich dan Maria terpaut usia yang jauh. Saat mereka bertunangan, Maria berusia 19 tahun dan Dietrich 37 tahun. Mereka berdua datang dari keluarga berpendidikan dan aristokrat Jerman. Tiga bulan setelah bertunangan, Dietrich ditangkap dan dipenjara. Selama kira-kira dua tahun, mereka menjalani hubungan dalam keterpisahan dan isolasi.  Bayangkan, pasangan yang harusnya “consummate their love” ini harus menjalani jalan salib itu. 

Selama dalam penjara, Dietrich dan Maria saling berkirim surat. Dalam surat-suratnya terlihat betapa justru keterpisahan itu menguatkan ikatan hati antara Dietrich dan Maria. Di sisi lain, surat-surat itu juga menunjukkan di balik keteguhan hatinya untuk menghadapi semua represi itu, tak sedikitpun Dietrich tak merasa lemah dan tak berdaya. Ia juga merasakan takut dan kerinduan yang luar biasa. Memori dan keyakinan bahwa orang-orang yang dicintainya selalu ada untuknya menguatkannya: orang tua, saudara-saudaranya, teman-temannya, murid-muridnya di universitas, dan kekasihnya, Maria. 

Di sisi lain, Maria berada dalam ketegangan yang hebat antara menepikan hasrat dan kebutuhannya dengan mendukung kekasihnya menghadapi apapun dunia yang sedang dihadapinya. Dietrich bukan orang yang mampu menunjukkan perasannya, namun dalam suratnya akhirnya ia mengatakan bahwa pertemuannya dengan Maria adalah sebuah kasus hominum confusione et dei Providentia. Dietrich menulis begini: 

“Everyday I am overcome anew at how undeservedly I received this happiness, and each day I am deeply moved at what a hard school God has led you through during the last year. And now it appears to be his will that I have to bring you sorrow and suffering … so that our love for each other may achieve the right foundation and the right endurance.” 

Waktu aku membaca itu aku menangis. Bahwa kisah yang mereka miliki begitu tidak biasa. Ada dua orang yang saling mencintai, tetapi ternyata mereka lebih besar mengasihi Allah. Maria pasti memiliki hubungan yang dekat dengan Allah sehingga ia mengerti jalan yang harus dilalui Dietrich dan Dietrich mendapatkan kekuatan untuk melanjutkan “membayar harga yang ia pilih sebagai pengikut Kristus” dengan mengapresiasi dan mensyukuri kehadiran Maria. 

Pasangan ini bekerjasama untuk mengonversi kerinduan yang menyakitkan menjadi rasa syukur bahwa ada sesuatu yang harus diantisipasi. Mereka mengubah penderitaan menjadi sukacita bahwa relasi mereka benar-benar nyata. Mereka bekerjasama untuk mengubah hal-hal yang menganggu dan menjadi keterbatasan sehingga menghasilkan kesalahpahaman dalam relasi mereka menjadi harapan yang penuh dengan tantangan. Mereka mampu mengubah kesalahan dan emosi menjadi sumber kekuatan dalam hidup mereka. Mereka bekerjasama merespon anugerah itu.

Pada akhirnya, keduanya melihat Allah dalam diri pasangannya masing-masing. 


Selamat Paskah!

Love Story

Pelajaran tentang Hubungan Romantis

Sabtu, Maret 28, 2020

Kata Kak Emma, orang yang sedang jatuh cinta takut pada dua hal: takut ditolak dan takut kehilangan. 

Seorang senior memperkenalkan kami. Namanya Ra. Secara akademik, ia sangat outstanding. Kami sebaya. Namun, ia sudah mengantongi dua gelar master dan PhD. Kami berdua memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan, suka membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tampaknya kami bisa menjadi pasangan intelektual yang serasi, menurut hemat senior saya itu. Maka kami pun berkenalan. Jarak yang membentang di antara kami pun tak menjadi soal. Kami memulainya sebagai teman biasa. Selama kurang lebih 6 tahun, aku dan Ra hanya sesekali ngobrol dan berkirim ucapan selamat ulang tahun via Facebook. Semuanya berjalan smooth, tanpa tahu suatu saat akan bertemu secara fisik. 

Lalu tibalah waktunya. Semuanya tidak terduga. Waktu itu, Ra sedang melakukan riset disertasinya di Indonesia dan berkunjung ke Jogja. Seorang kawan membagi info bahwa ada diskusi dan dia menjadi pembicaranya. Aku ragu untuk datang. Kalau Ra memang menganggapku temannya, kenapa ia tak memberi kabar kalau akan datang ke Jogja? Namun, rasa ragu itu kalah dengan rasa penasaran. Maka, aku berangkat juga menuju kampus tempat diskusi itu dilaksanakan. 

Kami akhirnya bertemu. Ra langsung mengenaliku. Kami pun berjabat tangan dan ngobrol ringan. Dia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Aku sendiri juga akan ke Jakarta. Sayangnya, kami beda pesawat. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan untuk saling berkabar lagi setibanya di Jakarta. Siapa tahu ada momen untuk bertemu lagi. 

Seperti sedang berada dalam film, kami sepakat bertemu lagi. Ada beberapa temanku yang juga ikut dalam pertemuan itu. Ra menjadi pusat perhatiannya. Kami banyak ngobrol tentang dunia aktivisme. Dia adalah seorang marxist muda yang militan. Namanya sedang naik daun di dunia intelektual kaum muda Indonesia. Aku sendiri hanya beruntung mengenalnya jauh sebelum dia tenar. Aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Tampaknya, aku menemukan kamerad-ku. 

Pertemuan malam itu berakhir sekitar pukul 9 malam. Aku masih belum puas ngobrol maka kutawari ia untuk ngobrol di lobby hotel tempatku menginap. Aku sempat takut Ra menolak ajakanku. Di luar dugaan, dia setuju. Kami ngobrol hingga pukul setengah 1 malam. Pertemuan di Jakarta bermuara pada chatting yang kami lakukan. Aku harus kembali ke Jogja untuk bekerja. Dia harus melakukan penelitian lapangan. Di sela-sela itu, kami ngobrol via chat. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga diskusi intelektual. Kami bertukar pikiran. Kami mengeluarkan keresahan-keresahan yang ada di hati sebagai intelektual muda. Rasanya waktu itu menyenangkan dan semua hal menjadi bermakna. Hubungan itu kira-kira berjalan selama hampir satu tahun.

Namun, diam-diam aku menyimpan resah. Kami ini sebenarnya apa. Tentu dalam perjalanannya, aku membutuhkan kepastian. Lalu, aku mulai menganalisis dan curhat pada sahabatku, Annisa. Annisa mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia kemudian memberi tahu pengetahuan yang sama sekali baru buatku. Menurut Annisa, laki-laki memiliki strategi dalam mendekati perempuan untuk kemudian dijadikan pasangannya. Bagi mereka, perempuan adalah sekumpulan ikan di samudra yang luas. Strategi itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah strategi jaring pukat harimau. Bagai nelayan yang menangkap ikan dengan pukat harimau, maka semua ikan diterima di dalam jaringnya. Dalam tahap ini, mereka menerima semua cewek yang mendekati atau mendekati semua cewek yang mereka sukai. Menurut Annisa, aku sudah masuk di level ini. Strategi kedua adalah tahap menstabilkan api. Sudah tak ada lagi pengejaran berlebihan. Hubungan asmara berada dalam api yang stabil. Setelah masuk dalam tahap ini, dimulailah seleksi. Proses seleksi tentu berdasarkan preferensi yang dipengaruhi oleh pengalaman, konstruksi gender, impian masa kecil, keinginan mencari yang mirip “Ibunya”, dan fantasi seksual yang referensinya berasal dari film porno dan media populer lainnya. Dalam penjelasan yang berperspektif ekonomi-politik, mereka mulai melakukan seleksi berdasarkan kebutuhan dan kepentingan. Maka, perempuan yang paling dekat dengan kebutuhan mereka atau memiliki kapital yang paling banyaklah yang akan menang. Teori ini sudah diuji Annisa dengan metode in-depth interview pada 10 laki-laki dari 3 kota berbeda di Pulau Jawa. Aku sendiri menanyakan hal ini pada Daddy. Dengan bahasa yang sederhana, Daddy menjelaskan padaku. Girls, teori ini nyata adanya. Namun, tidak hanya laki-laki saja yang memakai strategi ini. Perempuan juga ternyata mempraktekkan hal yang sama (kita akan bahas di lain kesempatan).

Di masa itulah, aku mulai mengalami yang dinamakan fenomena diberi harapan palsu. Aku merasa ngambang. Aku merasa sendirian dalam hubungan ini. Aku memberi terus tetapi tidak pernah menerima. Dia tidak pernah benar-benar hadir untukku. Dia masih membalas chat tapi chat-nya seadanya dan hanya untuk tetap terkesan baik. Bagaimanapun kami dihubungkan oleh senior kami yang sama-sama kami hormati. Setelah kupelajari polanya dan diskusi dengan Annisa, aku menemukan bahwa Ra menjadikanku seperti ban serep. Dia memiliki target yang sesungguhnya, tapi belum dia dapatkan. Tampaknya, perempuan yang lebih ia sukai itu juga tidak memberikan kepastian. Maka, untuk mengobati kerinduannya, ia tetap meladeniku (dan mungkin juga para fans-nya yang lain) sebagai pengobat rasa sepinya. 

Lama-kelamaan aku tidak tahan juga. Aku harus mendapatkan kepastian. Jalan satu-satunya adalah mengungkapkan perasaan. Aku kini berhadapan dengan dilema yang sungguh klasik. Aku hidup dalam tatanan kultur patriarki yang akan memandang hina perempuan yang mengungkapkan perasaannya pada laki-laki. Di sisi lain, aku harus memperjuangkan perasaanku. Ditolak ataupun diterima, itu masalah lain. Aku membutuhkan penjelasan. Aku teringat Anthony Giddens dalam bukunya The Transformation of Intimacy bahwa ikhwal demokrasi berasal dari hal-hal privat yang diperjuangkan. Bagaimana bisa memperjuangkan hak-hak publik ketika hak-hak pribadi saja tidak bisa. Saat itu aku merasa seperti pejuang cinta yang heroik. Bagi pejuang, hanya ada dua pilihan: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah atau kalah. 

Aku akhirnya mengungkapkan perasaanku. Berat untukku. Ada rasa malu dan takut. Tapi, aku menguatkan diri. Aku menyatakan aku menyukainya dan merasa hubungan kita selama setahun sudah cukup membuatku belajar mengenalnya. Lalu, aku menanyakan apakah ia memiliki perasaan yang sama padaku dan mau berelasi serius denganku. Ra menjawab bahwa ia berterima kasih aku memiliki perasaan padanya. Namun, Ra jujur mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Ia ingin berteman denganku saja. Ra mengakui bahwa ia menyukai perempuan lain yang ternyata sudah dekat dengannya setahun ini (hasil diskusi dengan Annisa terbukti). Tapi, dia sendiri juga galau karena sang Nona belum memberikan dia kepastian. Aku menghela napas panjang. Dengan ksatria aku menerima “kematian”-ku. Aku bilang kalau begitu aku tidak bisa lagi berhubungan dengan dia seperti kemarin-kemarin. Aku butuh jarak. Aku butuh waktu untuk menetralkan perasaanku dulu. Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat dan sukses untuknya dan semoga ia berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Ra juga mengucapkan hal yang sama. Hubungan kami benar-benar berakhir.

Tentu setelah itu aku sedih luar biasa. Aku mendengarkan lagu-lagu patah hati. Untuk pertama kalinya, aku mengerti makna lagu November Rain-nya Guns N' Roses. Aku bisa merasakan Axl Rose meneriakkan jeritan jiwaku. Aku mengalami penolakan sekaligus kehilangan. Aku curhat pada Mami. Mami menghiburku. Beliau bilang, “Ya harus diterima kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Itulah saran cinta terakhir dari Mami. Aku menangis sepanjang minggu itu. Sampai semua rasa sakitku menghilang, aku tidak mau menjalin relasi dengan orang lain atau menjadikan orang lain sebagai rebound. Aku mau menyelesaikan dulu luka batinku. Jika aku siap, aku percaya aku akan jatuh cinta lagi. Dalam masa penyembuhan itu, aku menjalani hari-hariku dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan bersama Annisa (yang juga mengalami patah hati), kami berkolaborasi untuk menuliskan pengalaman patah hati kami ke dalam jurnal ilmiah. Tujuannya, kami ingin berbagi pengetahuan dan menguatkan satu sama lain. 

Namun, hidup selalu punya kejutannya sendiri. Beberapa waktu kemudian aku mendapat berita tak terduga. Kabar itu datang dari sahabatku Tedtod. Tedtod bercerita bahwa gadis yang disukai Ra adalah temannya saat masih di Belanda. Gadis itu juga idola di kalangan intelektual muda Indonesia. Sama-sama memiliki kepedulian kepada kemanusiaan dan aktivisme. Gadis itu cantik sekali. Aku bisa melihat bahwa wajar saja Ra memilih dia. Aku menerima bahwa modal sosial gadis itu lebih banyak. Tidak apa-apa. Semua orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Kelak Tedtod memberi tahuku bahwa gadis itu akhirnya tidak bersama dengan Ra. Ia memilih menikah dengan orang lain. 

Dua tahun kemudian, aku bertemu Ra di suatu konferensi akademik. Perasaanku padanya sudah netral. Kami bertemu tidak sengaja. Ia terlihat canggung dan salah tingkah. Kami sempat ngobrol sebentar, tapi rasanya sudah berbeda. Kami seperti dua orang asing. Ia bahkan beberapa kali menghindariku. Semuanya sudah jauh berbeda. Aku mencoba bersikap seperti teman lama. Tapi, Ra sudah tidak bisa biasa lagi. Mungkin inilah kesedihannya, kita pernah tidak saling mengenal, lalu berhubungan, lalu kemudian berpisah, dan menjadi dua orang asing kembali. 

***

Aku mengenang peristiwa itu sebagai pelajaran tentang hubungan romantis. Kadang di kelas aku membagikan pengalaman ini dengan mahasiswa-mahasiswaku. Aku bisa relate dengan perasaan mereka yang jatuh bangun dengan cinta. Ya, jatuh cinta memang bukan pilihan. Itu seperti peristiwa kecelakaan. Akan tetapi, memilih untuk berelasi adalah pilihan sadar dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan konsekuensi. Tak ada relasi yang tanpa penderitaan. Seperti kata Alain de Botton, "It is normal that you are suffering. Life is suffering". Ide berelasi tanpa menderita adalah khayalan. Penderitaan itu terjadi karena kita adalah manusia yang punya kelebihan dan kelemahan. Justru karena kita manusia maka relasi kita tidak sempurna dan kita harus mengakui dan menerima itu. Memutuskan berelasi dengan seseorang adalah seperti memilih penderitaan dari penderitaan yang ada. Setiap kisah cinta hanyalah awal karena selanjutnya adalah proses dan keterampilan untuk sampai pada tindakan cinta.

Peristiwa itu juga mengajariku untuk menguji apakah intensiku tulus untuk mencintai seseorang atau tidak. Kadang kita silau dengan seseorang karena hal-hal yang melekat padanya. Hasrat pada keindahan adalah manusiawi, namun hal itu harus diuji dengan kebenaran. Apakah kita siap menerima bahwa orang yang dipuja dan dipandang wow oleh orang banyak ternyata memiliki sisi-sisi yang ternyata membuat kita kecewa? Apakah kita mencintai seseorang karena "dia" dengan segala kelebihan dan kekurangannya atau karena dia merupakan piala yang diperebutkan banyak orang. Kita pun cenderung menjadikan pasangan kita sebagai pemuas kebutuhan. Hubungan itupun tak lepas dari saling bertransaksi. Tampaknya memang adil dan setara, tetapi apakah itu memanusiakan manusia?

Hal lain yang juga menyakitkan dan membuatku merasa terkhianati adalah kenyataan bahwa banyak intelektual dan aktivis laki-laki yang mempelajari teori anti penindasan tapi ternyata (sadar atau tidak) tetap mempraktekkan penindasan. Banyak juga yang membaca teori feminisme dan mendukung gerakan perempuan tetapi masih patriarkal dan tak mau melepaskan privelese yang diberikan padanya. Melepas privelese, berarti tidak menjadi "laki-laki". Banyak yang akhirnya memilih tetap menjadi "laki-laki" daripada menjadi manusia. Akibatnya, meskipun mereka berbicara tentang kemanusiaan, mereka tidak bisa relate dengan penderitaan kemanusiaan yang sesungguhnya. 

Pada akhirnya, aku sampai pada suatu pertanyaan: bagaimana kita bisa berbicara tentang cinta, jika kita tidak tahu caranya mencintai?

Love Story

Antara Ada dan Tiada

Jumat, Januari 17, 2020

Dulu waktu SMP saya suka dengar lagunya Utopia yang berjudul Antara Ada dan Tiada. Kebetulan lagu itu jadi populer karena menjadi soundtrack sinteron horor remaja. Lagu itu se-dark masa SMP saya yang penuh drama (edodoeee...). Prelude lagunya juga serem dengan suara Pia yang sayup-sayup gothic. Lagu itu menggambarkan rasa letih untuk menggapai sesuatu yang ada tetapi tiada, tiada tetapi ada. Bagian favorit? Setelah interlude dong, dimana harmoninya lebih emosional dengan menaikkan satu laras pada bagian reffrain. 

Di zaman itu pula, saya punya obsesi untuk menjadi anak band. Demi mewujudkan cita-cita yang luhur itu, saya mendaftar ikut ekstrakuriler band sekolah. Ternyata yang masuk eskul itu adalah mereka yang sudah mahir bermain musik, entah itu drum, piano, keyboard, gitar, bass, atau biola. Lalu, yang kemampuan bermain musiknya di bawah standar banyak yang memilih menjadi vokalis. Mereka ini yang sering mewakili sekolah di lomba-lomba paduan suara atau solo. Minimal sebagian adalah penyanyi Mazmur dan solois untuk ibadah bulan Maria. 

Walaupun sebagian besar keluarga saya adalah musisi, waktu pembagian gen saya sama sekali tak berbagi kejeniusan dengan mereka. Main musik tidak pernah beres. Menyanyi juga suara pas-pasan. Akhirnya, saya memilih peran sesuai kapasitas saya yaitu sebagai groupies. Yup, para pemain band itu perlu fans fanatik yang setia bersorak saat mereka tampil. Inspirasi saya waktu itu groupies-nya Guns N’ Roses yang tentu saja seringkali berakhir ricuh. 

Di eskul band itu, saya sempat punya kecengan semasa SMP hahaaa. Dia kakak kelas yang kalau sudah main gitar langsung pusinglah pala Barbie ini saking cool-nya beliau. Si Kakak Kelas ini menginspirasi saya membuat lagu. Suatu bakat yang ternyata terpendam. Sampai SMA, saya masih suka membuat lagu. Tanpa alat musik. Hanya bermodalkan senandung. Saya menyanyikan lagu-lagu itu di depan sahabat saya, Tirta, dengan penuh perasaan. Pernah pula dinyanyikan oleh grup vokal untuk penilaian mata pelajaran Kesenian. 

Oke, kembali ke si kakak Kelas. Setiap band-nya manggung di acara sekolah. Saya dengan siap siaga berdiri di samping panggung bersama groupies yang lain. Dengan berpenampilan kasual tapi ada spirit glam rock-nya, doi menyanyikan Look What You’ve Done-nya JET dengan sempurna. Tak lupa juga kesalehan beliau tersiar ke penjuru sekolah. Kami memang bersekolah di sekolah Katolik, tapi si Kakak Kelas ini rajin izin untuk menunaikan sholat Jumat. Makin so sweet kan ya… Oiya si Dia ini punya adik perempuan yang sekarang jadi bintang film papan atas negeri ini. Dulu saya ingat, adiknya ini posesif dan nempel banget sama kakaknya. Dia sering membuat kami para groupies yang hina ini cemburu setengah pingsan. 

Hari ini saya terkenang kembali masa-masa SMP yang biru sebiru langit biru. 

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka.