Mantra Kalimat

Percakapan Oliver dan Bill

Minggu, Maret 29, 2020

picture by: Javier Salido (www.unsplash.com)



Suddenly he said: “Can one ever experience pleasure that is not attached to an object? Pure pleasure?” 

I thought about this for a moment, marveling mostly that he had suddenly had this thought and voiced it. But I was not sure I understood. “What do you mean by ‘attached to an object?’” 

“Well, one can say, a piece of music gave you pleasure, or seeing a handsome face, or smelling something delicious. But can pleasure be independent of any influences?” 

I hesitated but thought of a feeling I get sometimes where I am conscious of nothing but a sense of well-being. “Yes, I think so. I am feeling it now. Do you?” 

“Yes, I do. And I think cannabis can bring this out.” 

I smiled. I am charmed that he always calls pot “cannabis”—I imagine Darwin would do the same.

“Oliver, are you experiencing this now?” 

His eyes were still closed: O watching his internal movies. “Yes, oh yes …” 

“Oliver, is this not happiness? Is this pure pleasure the same as happiness?”

“I don’t know. What do you think?” 

“I think not. Pleasure, even if it’s not dependent on an object, involves the senses—is sensuous. Pleasure can bring happiness, but happiness doesn’t necessarily give one pleasure. So which is of the higher order of the two?” 

“Happiness. Happiness is more complex.” 

“Agreed.” 

(disadur dari buku Insomniac City: New York, Oliver, and Me oleh Bill Hayes,  hal 114-115)

Love Story

Pelajaran tentang Hubungan Romantis

Sabtu, Maret 28, 2020

Kata Kak Emma, orang yang sedang jatuh cinta takut pada dua hal: takut ditolak dan takut kehilangan. 

Seorang senior memperkenalkan kami. Namanya Ra. Secara akademik, ia sangat outstanding. Kami sebaya. Namun, ia sudah mengantongi dua gelar master dan PhD. Kami berdua memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan, suka membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tampaknya kami bisa menjadi pasangan intelektual yang serasi, menurut hemat senior saya itu. Maka kami pun berkenalan. Jarak yang membentang di antara kami pun tak menjadi soal. Kami memulainya sebagai teman biasa. Selama kurang lebih 6 tahun, aku dan Ra hanya sesekali ngobrol dan berkirim ucapan selamat ulang tahun via Facebook. Semuanya berjalan smooth, tanpa tahu suatu saat akan bertemu secara fisik. 

Lalu tibalah waktunya. Semuanya tidak terduga. Waktu itu, Ra sedang melakukan riset disertasinya di Indonesia dan berkunjung ke Jogja. Seorang kawan membagi info bahwa ada diskusi dan dia menjadi pembicaranya. Aku ragu untuk datang. Kalau Ra memang menganggapku temannya, kenapa ia tak memberi kabar kalau akan datang ke Jogja? Namun, rasa ragu itu kalah dengan rasa penasaran. Maka, aku berangkat juga menuju kampus tempat diskusi itu dilaksanakan. 

Kami akhirnya bertemu. Ra langsung mengenaliku. Kami pun berjabat tangan dan ngobrol ringan. Dia akan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Aku sendiri juga akan ke Jakarta. Sayangnya, kami beda pesawat. Pertemuan itu ditutup dengan kesepakatan untuk saling berkabar lagi setibanya di Jakarta. Siapa tahu ada momen untuk bertemu lagi. 

Seperti sedang berada dalam film, kami sepakat bertemu lagi. Ada beberapa temanku yang juga ikut dalam pertemuan itu. Ra menjadi pusat perhatiannya. Kami banyak ngobrol tentang dunia aktivisme. Dia adalah seorang marxist muda yang militan. Namanya sedang naik daun di dunia intelektual kaum muda Indonesia. Aku sendiri hanya beruntung mengenalnya jauh sebelum dia tenar. Aku melihatnya sebagai seseorang yang memiliki visi dan misi yang sama. Tampaknya, aku menemukan kamerad-ku. 

Pertemuan malam itu berakhir sekitar pukul 9 malam. Aku masih belum puas ngobrol maka kutawari ia untuk ngobrol di lobby hotel tempatku menginap. Aku sempat takut Ra menolak ajakanku. Di luar dugaan, dia setuju. Kami ngobrol hingga pukul setengah 1 malam. Pertemuan di Jakarta bermuara pada chatting yang kami lakukan. Aku harus kembali ke Jogja untuk bekerja. Dia harus melakukan penelitian lapangan. Di sela-sela itu, kami ngobrol via chat. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga diskusi intelektual. Kami bertukar pikiran. Kami mengeluarkan keresahan-keresahan yang ada di hati sebagai intelektual muda. Rasanya waktu itu menyenangkan dan semua hal menjadi bermakna. Hubungan itu kira-kira berjalan selama hampir satu tahun.

Namun, diam-diam aku menyimpan resah. Kami ini sebenarnya apa. Tentu dalam perjalanannya, aku membutuhkan kepastian. Lalu, aku mulai menganalisis dan curhat pada sahabatku, Annisa. Annisa mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia kemudian memberi tahu pengetahuan yang sama sekali baru buatku. Menurut Annisa, laki-laki memiliki strategi dalam mendekati perempuan untuk kemudian dijadikan pasangannya. Bagi mereka, perempuan adalah sekumpulan ikan di samudra yang luas. Strategi itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah strategi jaring pukat harimau. Bagai nelayan yang menangkap ikan dengan pukat harimau, maka semua ikan diterima di dalam jaringnya. Dalam tahap ini, mereka menerima semua cewek yang mendekati atau mendekati semua cewek yang mereka sukai. Menurut Annisa, aku sudah masuk di level ini. Strategi kedua adalah tahap menstabilkan api. Sudah tak ada lagi pengejaran berlebihan. Hubungan asmara berada dalam api yang stabil. Setelah masuk dalam tahap ini, dimulailah seleksi. Proses seleksi tentu berdasarkan preferensi yang dipengaruhi oleh pengalaman, konstruksi gender, impian masa kecil, keinginan mencari yang mirip “Ibunya”, dan fantasi seksual yang referensinya berasal dari film porno dan media populer lainnya. Dalam penjelasan yang berperspektif ekonomi-politik, mereka mulai melakukan seleksi berdasarkan kebutuhan dan kepentingan. Maka, perempuan yang paling dekat dengan kebutuhan mereka atau memiliki kapital yang paling banyaklah yang akan menang. Teori ini sudah diuji Annisa dengan metode in-depth interview pada 10 laki-laki dari 3 kota berbeda di Pulau Jawa. Aku sendiri menanyakan hal ini pada Daddy. Dengan bahasa yang sederhana, Daddy menjelaskan padaku. Girls, teori ini nyata adanya. Namun, tidak hanya laki-laki saja yang memakai strategi ini. Perempuan juga ternyata mempraktekkan hal yang sama (kita akan bahas di lain kesempatan).

Di masa itulah, aku mulai mengalami yang dinamakan fenomena diberi harapan palsu. Aku merasa ngambang. Aku merasa sendirian dalam hubungan ini. Aku memberi terus tetapi tidak pernah menerima. Dia tidak pernah benar-benar hadir untukku. Dia masih membalas chat tapi chat-nya seadanya dan hanya untuk tetap terkesan baik. Bagaimanapun kami dihubungkan oleh senior kami yang sama-sama kami hormati. Setelah kupelajari polanya dan diskusi dengan Annisa, aku menemukan bahwa Ra menjadikanku seperti ban serep. Dia memiliki target yang sesungguhnya, tapi belum dia dapatkan. Tampaknya, perempuan yang lebih ia sukai itu juga tidak memberikan kepastian. Maka, untuk mengobati kerinduannya, ia tetap meladeniku (dan mungkin juga para fans-nya yang lain) sebagai pengobat rasa sepinya. 

Lama-kelamaan aku tidak tahan juga. Aku harus mendapatkan kepastian. Jalan satu-satunya adalah mengungkapkan perasaan. Aku kini berhadapan dengan dilema yang sungguh klasik. Aku hidup dalam tatanan kultur patriarki yang akan memandang hina perempuan yang mengungkapkan perasaannya pada laki-laki. Di sisi lain, aku harus memperjuangkan perasaanku. Ditolak ataupun diterima, itu masalah lain. Aku membutuhkan penjelasan. Aku teringat Anthony Giddens dalam bukunya The Transformation of Intimacy bahwa ikhwal demokrasi berasal dari hal-hal privat yang diperjuangkan. Bagaimana bisa memperjuangkan hak-hak publik ketika hak-hak pribadi saja tidak bisa. Saat itu aku merasa seperti pejuang cinta yang heroik. Bagi pejuang, hanya ada dua pilihan: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah atau kalah. 

Aku akhirnya mengungkapkan perasaanku. Berat untukku. Ada rasa malu dan takut. Tapi, aku menguatkan diri. Aku menyatakan aku menyukainya dan merasa hubungan kita selama setahun sudah cukup membuatku belajar mengenalnya. Lalu, aku menanyakan apakah ia memiliki perasaan yang sama padaku dan mau berelasi serius denganku. Ra menjawab bahwa ia berterima kasih aku memiliki perasaan padanya. Namun, Ra jujur mengatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku. Ia ingin berteman denganku saja. Ra mengakui bahwa ia menyukai perempuan lain yang ternyata sudah dekat dengannya setahun ini (hasil diskusi dengan Annisa terbukti). Tapi, dia sendiri juga galau karena sang Nona belum memberikan dia kepastian. Aku menghela napas panjang. Dengan ksatria aku menerima “kematian”-ku. Aku bilang kalau begitu aku tidak bisa lagi berhubungan dengan dia seperti kemarin-kemarin. Aku butuh jarak. Aku butuh waktu untuk menetralkan perasaanku dulu. Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat dan sukses untuknya dan semoga ia berbahagia dengan perempuan yang dicintainya. Ra juga mengucapkan hal yang sama. Hubungan kami benar-benar berakhir.

Tentu setelah itu aku sedih luar biasa. Aku mendengarkan lagu-lagu patah hati. Untuk pertama kalinya, aku mengerti makna lagu November Rain-nya Guns N' Roses. Aku bisa merasakan Axl Rose meneriakkan jeritan jiwaku. Aku mengalami penolakan sekaligus kehilangan. Aku curhat pada Mami. Mami menghiburku. Beliau bilang, “Ya harus diterima kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Itulah saran cinta terakhir dari Mami. Aku menangis sepanjang minggu itu. Sampai semua rasa sakitku menghilang, aku tidak mau menjalin relasi dengan orang lain atau menjadikan orang lain sebagai rebound. Aku mau menyelesaikan dulu luka batinku. Jika aku siap, aku percaya aku akan jatuh cinta lagi. Dalam masa penyembuhan itu, aku menjalani hari-hariku dengan tetap beraktivitas seperti biasa. Bahkan bersama Annisa (yang juga mengalami patah hati), kami berkolaborasi untuk menuliskan pengalaman patah hati kami ke dalam jurnal ilmiah. Tujuannya, kami ingin berbagi pengetahuan dan menguatkan satu sama lain. 

Namun, hidup selalu punya kejutannya sendiri. Beberapa waktu kemudian aku mendapat berita tak terduga. Kabar itu datang dari sahabatku Tedtod. Tedtod bercerita bahwa gadis yang disukai Ra adalah temannya saat masih di Belanda. Gadis itu juga idola di kalangan intelektual muda Indonesia. Sama-sama memiliki kepedulian kepada kemanusiaan dan aktivisme. Gadis itu cantik sekali. Aku bisa melihat bahwa wajar saja Ra memilih dia. Aku menerima bahwa modal sosial gadis itu lebih banyak. Tidak apa-apa. Semua orang berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya. Kelak Tedtod memberi tahuku bahwa gadis itu akhirnya tidak bersama dengan Ra. Ia memilih menikah dengan orang lain. 

Dua tahun kemudian, aku bertemu Ra di suatu konferensi akademik. Perasaanku padanya sudah netral. Kami bertemu tidak sengaja. Ia terlihat canggung dan salah tingkah. Kami sempat ngobrol sebentar, tapi rasanya sudah berbeda. Kami seperti dua orang asing. Ia bahkan beberapa kali menghindariku. Semuanya sudah jauh berbeda. Aku mencoba bersikap seperti teman lama. Tapi, Ra sudah tidak bisa biasa lagi. Mungkin inilah kesedihannya, kita pernah tidak saling mengenal, lalu berhubungan, lalu kemudian berpisah, dan menjadi dua orang asing kembali. 

***

Aku mengenang peristiwa itu sebagai pelajaran tentang hubungan romantis. Kadang di kelas aku membagikan pengalaman ini dengan mahasiswa-mahasiswaku. Aku bisa relate dengan perasaan mereka yang jatuh bangun dengan cinta. Ya, jatuh cinta memang bukan pilihan. Itu seperti peristiwa kecelakaan. Akan tetapi, memilih untuk berelasi adalah pilihan sadar dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan konsekuensi. Tak ada relasi yang tanpa penderitaan. Seperti kata Alain de Botton, "It is normal that you are suffering. Life is suffering". Ide berelasi tanpa menderita adalah khayalan. Penderitaan itu terjadi karena kita adalah manusia yang punya kelebihan dan kelemahan. Justru karena kita manusia maka relasi kita tidak sempurna dan kita harus mengakui dan menerima itu. Memutuskan berelasi dengan seseorang adalah seperti memilih penderitaan dari penderitaan yang ada. Setiap kisah cinta hanyalah awal karena selanjutnya adalah proses dan keterampilan untuk sampai pada tindakan cinta.

Peristiwa itu juga mengajariku untuk menguji apakah intensiku tulus untuk mencintai seseorang atau tidak. Kadang kita silau dengan seseorang karena hal-hal yang melekat padanya. Hasrat pada keindahan adalah manusiawi, namun hal itu harus diuji dengan kebenaran. Apakah kita siap menerima bahwa orang yang dipuja dan dipandang wow oleh orang banyak ternyata memiliki sisi-sisi yang ternyata membuat kita kecewa? Apakah kita mencintai seseorang karena "dia" dengan segala kelebihan dan kekurangannya atau karena dia merupakan piala yang diperebutkan banyak orang. Kita pun cenderung menjadikan pasangan kita sebagai pemuas kebutuhan. Hubungan itupun tak lepas dari saling bertransaksi. Tampaknya memang adil dan setara, tetapi apakah itu memanusiakan manusia?

Hal lain yang juga menyakitkan dan membuatku merasa terkhianati adalah kenyataan bahwa banyak intelektual dan aktivis laki-laki yang mempelajari teori anti penindasan tapi ternyata (sadar atau tidak) tetap mempraktekkan penindasan. Banyak juga yang membaca teori feminisme dan mendukung gerakan perempuan tetapi masih patriarkal dan tak mau melepaskan privelese yang diberikan padanya. Melepas privelese, berarti tidak menjadi "laki-laki". Banyak yang akhirnya memilih tetap menjadi "laki-laki" daripada menjadi manusia. Akibatnya, meskipun mereka berbicara tentang kemanusiaan, mereka tidak bisa relate dengan penderitaan kemanusiaan yang sesungguhnya. 

Pada akhirnya, aku sampai pada suatu pertanyaan: bagaimana kita bisa berbicara tentang cinta, jika kita tidak tahu caranya mencintai?

Life Story

5 Hal Yang Dilakukan Saat WFH

Jumat, Maret 20, 2020

Marilah kita mencoba tenang, berusaha mengikuti anjuran Pemerintah demi kebaikan bersama. Berdoalah bagi keselamatan diri sendiri dan orang lain serta mereka yang telah lebih dulu pergi mendahului kita. Life makin gets weird dan mungkin kita tidak punya banyak waktu untuk mengucapkan I Love You, Sorry, dan Thank You pada orang-orang yang kita kasihi. 

Di tengah-tengah kekacauan ini, ada 5 Hal yang bisa kita lakukan saat Work From Home (WFH): 

1. Kerjalah...

Menurut ngana? Tetaplah koordinasi dengan pimpinan dan kolega demi kelancaran pekerjaan bersama (termasuk tugas Anda juga). Kadang kita lupa bahwa tujuan ketika kita "dirumahkan" bukan berarti liburan. Life doesn't stop for anybody, begitu quote dari novel/film The Perks of Being a Wallflower kesukaannya Kak Emma. Sayangnya, kerja dengan teknologi kadang-kadang menyebalkan karena kalau hujan keras bisa saja mempengaruhi jaringan sinyal wifi atau paket data Anda tiba-tiba habis saat debat masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang. Kita akhirnya sadar ada yang terbatas. Ada yang ternyata sementara ketika komunikasi itu termediasi. Secanggih-canggihnya teknologi, tetap tak bisa menggantikan interaksi kontak fisik antar manusia. 

2. Membersihkan rumah atau kamar kos

Banyak hal-hal menarik yang bisa terjadi saat kita membersihkan rumah atau kamar kos. Selain suasananya menjadi segar dan barang-barang menjadi bersih dan rapi, anda juga bisa menemukan hal-hal menarik. Misalnya, ternyata kalau membersihkan debu kita bisa berhadapan dengan makhluk bernama Tungau, sejenis hewan kecil berkaki delapan yang suka hinggap di kasur dan debu. Hasilnya, bagi mereka yang kulitnya sensitif siap-siap saja kulitnya akan gatal-gatal dan merah-merah. Saya mempraktekkan hal ini. Selain bertemu Tungau, saya menemukan sisa oatmeal almarhumah Mami yang tersimpan di kontainer sejak terakhir kali Mami berkunjung. Ambyar-lah sudah pertahanan ini. 

3. Menyulam 

Sebenarnya tujuan menyulam untuk relaksasi. Seorang sahabat saya bahkan menggunakannya sebagai terapi untuk mengatasi kecemasannya. Mungkin ini berhasil di orang lain. Saya anaknya cepat bosan dan kalau sudah tidak menarik lagi, saya tinggalkan. Menyulam sama sekali tidak cocok lagi untuk saya. 

4. Movie Maraton 

Ini kegiatan yang sangat saya sukai sekaligus yang membuat saya merasa bersalah karena justru mengalihkan fokus saya dari kerjaan yang di-WFH-kan. Kalau film lepas masih asik sih. Paling ketika satu film selesai, kita bisa menjauh sejenak, mengendapkannya dulu, dan kembali ke kerjaan utama. Tapi bagaimana kalau itu adalah film serial seperti drama korea atau serial Netflix? Bukannya rileks jadi makin penasaran. Yang tadinya berjanji untuk satu episode aja, tahu-tahu sudah habis satu season. Untuk hal ini, jika Anda tidak kuat iman, lebih baik hindari. 

5. Tidur Siang Plus-Plus 

Yang saya maksud bukan tidur dipijat sambil mandi kucing, melainkan tidur siang beneran. Bayangkan, cuaca mendung di siang hari. Angin berhembus dingin dan lembut. Langit mulai menghitam. Anda sudah makan siang dan mulai mengantuk. Bukalah lebar-lebar pintu kamar Anda,  biarkan angin bermain-main masuk ke dalam kamarmu. Putarlah lagu-lagu Indonesia era 80-an akhir sampai pertengahan 90-an dengan volume rendah. Tidurlah di lantai dengan bermodalkan karpet, bantal kepala, dan guling. Rasakan hembusan angin dan suara Andre Hehanussa bernyanyi Kuta Bali. Ini sebuah kenikmatan hakiki, kawan. 
Catatan: Ini berlaku jika kamar anda di lantai atas dengan model rumah joglo dan memiliki ruang tengah berbentuk taman. Jika tak punya rumah bergaya demikian, cukup kunci pintu kamar anda dan nyalakan kipas angin atau AC. Pastikan rumah atau kamar kos anda aman.  


Selamat mencoba.

Life Story

Kangen

Rabu, Maret 11, 2020

salah satu pemandangan manis yang kutemukan di kota Berlin *dok.pribadi


Kak Ems,

Rindu tidak saja terjadi pada seseorang, tetapi juga bisa terjadi pada sebuah kota. Sebuah tempat yang pernah kita tinggali atau hanya sekedar singgah. Kota yang membuat kita berani menjadi diri sendiri dan tidak takut untuk mengenalnya lebih dekat. Kota yang menyediakan berbagai pengalaman-pengalaman yang mengejutkan. Kota yang membuatmu menjadi pemeran utama di film tentang hidupmu sendiri. Kota yang membuatmu berani kemana-mana sendiri atau menikmati percakapan dengan kawan-kawanmu sambil berjalan kaki. Menikmati pagi yang membawa harapan dan menghadirkan malam yang menghibur setelah satu harimu yang melelahkan berlalu.

Dulu aku pernah begitu merindukan sebuah kota. Kota itu begitu jauh terletak dari tempatku berada sekarang. Sebuah kota impian karena bahkan pernah kuimpikan akan menjadi tempatku menetap. Udaranya yang dingin sejuk, jalan-jalan yang lengang, museum-museum, toko-toko barang antik, bangunan-bangunan Bavaria berwarna cokelat, kuning, atau putih, sampai pub dan klub malam yang kosmopolit. Kota dimana aku akan menimba ilmu disana. Bertemu orang-orang baru. Merasakan pengalaman baru. Menemukan dongeng-dongeng yang menakjubkan yang sama sekali berbeda dari dongeng-dongeng dari tempatku berasal. Di dalam gereja tua yang terletak di jantung kotanya, aku pernah meminta pada Tuhan sampai airmataku berlinang untuk dapat kembali lagi kesana. Bukan sebagai pelancong, tetapi seorang pembelajar yang haus ilmu. Suatu saat, aku akan tinggal dan belajar disana. Mungkin juga bertemu pasanganku. Harapku.

Aku suka quote yang dikatakan Woody Allen di film Manhattan, "He was as tough and romantic as the city he loved".  Aku mengagumi Woody Allen dan karya-karyanya. Siapapun yang menonton film-filmnya pasti sepakat bahwa Allen mampu menghadirkan sebuah kota sebagai karakter dan bukan sekedar latar. New York, Paris, atau Barcelona menjadi persona yang tak hanya memuaskan mata dengan lanskap yang indah dan ikonik, tapi sisi "biasa" dari kehidupan sehari-hari yang abai kita perhatikan. Tokoh lain adalah karakter Carrie Bradshaw yang diperankan Sarah Jessica Parker dalam serial Sex and The City yang mempersonakan dan melibatkan New York dalam hidupnya. Aku suka episode ketika Carrie sedang berelasi romantis dengan New York. Darisitu kita bisa memaknai bahwa sebuah kota memiliki tangan-tangan tak terlihat untuk merajut benang-benang koneksi di antara setiap insan yang hidup dalamnya.

Terkait rasa rinduku, tahukah Kak Ems bahwa aku bertemu dengannya di kota ini bukan di kota yang kuimpikan itu. Itu terjadi pada tahun 2017. Waktu itu aku menghadiri sebuah acara dimana ternyata dia menjadi salah satu panitianya. Kami belum berjumpa waktu itu dan aku sama sekali tidak tahu bagaimana rupanya. Karena aku harus bertemu dengan mentorku untuk persiapan bertemu calon supervisor S3, aku pulang duluan dari kegiatan itu. Di acara itu sendiri,  masih ada dua sahabatku yang masih tinggal, sebut saja June dan Lion. June memotret secara candid Lion yang sedang reuni dengan teman-teman kuliahnya dulu. Foto itu diposting Lion di Instagramnya. Aku me-like foto itu dan hanya memperhatikan ekspresi lucu Lion dan teman-temannya. Tahun 2018, aku datang ke perpustakaan dan bertemu secara langsung dengannya untuk pertama kali. Aku langsung mengenalinya karena dia berbeda dari kebanyakan orang-orang disana. Waktu itu aku bergumam dalam hati, "Kayaknya yang ini orangnya...". Tak ada yang berkesan dari pertemuan itu. Kami pun tidak berkenalan dan ia hanya melihatku sekilas seperti biasa kita menengok kalau ada customer yang masuk untuk antri di teller bank. Tahun 2019, barulah kami berjumpa lagi dan berkenalan secara resmi. Beberapa waktu kemudian, Lion teringat foto yang dipotret Juni. Dan kami semua terkejut, karena ada satu orang masuk dalam framing foto itu selain Lion dan teman-temannya. It was him!

Kak Ems benar, tak ada kepenuhan yang didambakan selain bertemu dengan yang kita rindukan. Atau dalam hal ini, kesempatan untuk berkunjung kembali ke kota yang kita rindukan. Aku berdoa semoga Kak Ems diberi kesempatan lagi untuk kembali ke Sydney. Berpelukan kembali dengan udara dan ambience kota itu. Mengitari jalan-jalan kecilnya. Menonton konser yang digelar disana. Bertemu kembali dengan kawan-kawan lama. Memakan makanan favorit yang disantap saat weekend. Semoga kita masih diperkenankan melalui perziarahan ini dan selalu menemukan teman di setiap tikungan jalan.

salam sayang,
Mei

Life Story

Bertemu Mami Lagi

Minggu, Maret 08, 2020

Aku merindukan Mami. Aku rindu curhat dengannya. Ada banyak perkembangan dalam kehidupan. Ada banyak kisah yang ingin kubagi dengannya. Aku ingin meminta pendapat Mami untuk beberapa hal. Aku butuh saran beliau untuk menghadapi hidup ini: di dunia kerja, dunia sosial, dunia keluarga, dan dunia percintaan. Beberapa hari sebelumnya aku menangisinya. Lalu, sebagai obat rindu aku baca kembali pesan-pesan singkat Mami yang masih kusimpan dan menonton videonya yang sedang bernyanyi lagu andalannya kalau ke acara kawinan: "Ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu...hanya kamu seorang kasihku...tak mau yang lain....". Aku mau bergosip dengan Mami. Aku mau update kalau laki-laki yang dulu tak jadi dijodohkan Mami denganku itu sudah menikah dengan gadis yang disodorkan padanya setelah aku. Pestanya mewah dan meriah. Keduanya tampak sempurna. Aku ikut senang sekaligus menyadari betapa bedanya jalan hidup yang akhirnya kupilih.

Seperti tahu anaknya membutuhkannya, hari ini Mami datang dalam mimpiku. Aku jatuh tertidur antara jam 10 pagi sampai setengah 3 siang. Mimpinya berlapis-lapis, namun yang pasti terasa Mami masih hidup. Ia hadir disana, tampak muda dan segar. Aku tidak ingat dia pakai baju apa. Dalam segala misterinya, aku bisa merasakan itu Mami. Kami ngobrol entah di rumah siapa. Suasananya siang hari. Mami ada disitu mendengarkanku curhat tentang seorang sahabat. Aku tidak ingat bilang apa. Tapi yang jelas membahas sahabat itu. Di mimpi itu, Mami memberikanku ubi goreng yang dipotong bentuk lidi sehingga kalau digoreng jadi lebih crispy dan roti bakar cokelat. Keduanya adalah makanan favoritku dan demi Tuhan rasanya sangat enak. Aku jadi fokus makan daripada curhat. 

Dari responnya Mami kelihatan senang dengan sahabatku itu. Aku tak ingat dia bilang apa. Tapi feeling-nya sih baik-baik saja. Ia mau melihat fotonya. Aku mengambil hapeku dan menyodorkannya pada Mami. Ada fotonya disitu. Tapi, entah mengapa fokusku teralihkan ke ubi bentuk lidi dan roti bakar yang demi Tuhan enak sekali itu. Tak berapa lama kemudian, aku merasa kesadaranku berangsur-angsur kembali. Tanda mimpi ini akan berakhir. Aku kesal karena dua hal: makananku belum habis dan aku tidak tahu reaksi Mami ketika melihat fotonya. Aku terbangun sesaat. Lalu kembali tidur.

Kemudian ada mimpi baru lagi. Lokasinya ada di dalam gereja. Itu gerejanya sahabatku itu. Di sana ada dia dan teman-temannya. Berdiri membelakangi altar. Tapi disitu juga ada sekelompok ibu-ibu berpakaian ungu. Kira-kira tiga baris mereka mengisi bangku di sayap kanan. Itu ibu-ibu PKP, organisasi perempuan gereja yang diikuti Mami dan Mami Ice semasa hidup. Mami pernah menjadi ketuanya juga. Apakah ada Mami dan Mami Ice disana? Aku tidak ingat. Di gereja, terjadi hal yang mengejutkanku. Dua kubu bertemu. Kubu gerejanya dan kubu gerejaku. Ada meja putih panjang di tengah yang memisahkan bangku sayap kanan dan kiri seperti model perjamuan di gereja Protestan. Wait, What? Mereka memang sedang melakukan perjamuan bersama. Aku ada disana juga. Duduk di bangku belakang. Mengamati mereka. Lalu, aku terbangun. Aku tidak mengerti arti mimpi ini. 

Apakah memang ini kejadian mistis? atau hanyalah angan-anganku yang membentuk mimpi itu? entahlah. Satu yang pasti, aku bersyukur aku bisa bertemu Mami lagi meskipun hanya dalam mimpi.


Ps: Besok malamnya, Tedy datang dan memberiku ubi goreng. 

Life Story

Angin Puting Beliung

Jumat, Maret 06, 2020

Kami bertengkar.

Pertengkaran yang tidak diprediksi. Ia sedang kasmaran. Siapa yang bisa menyalahkan orang yang lagi dimabuk asmara? Disitulah kulihat cinta berubah menjadi obsesi. Disitulah aku melihat cinta yang membebaskan berubah menjadi penjara kepemilikan. Semuanya demi ego dan pembuktian diri.

Temanku ini, padanya aku bertekad untuk menemani perjalanannya. Namun, cintanya membuatnya buta. Di tengah medan pertempuran, dia telah salah melangkah. Ia menyalakan bom yang mencelakakan kami semua. Ini menyakitkan karena justru di saat kami seharusnya saling mendukung satu sama lain. Ada banyak beban tugas tak masuk akal, penolakan, dan keadaan tak terduga yang terjadi. Kami berada di dalam pusaran angin puting beliung yang dahsyat. Dan temanku ini membakar lumbung persediaan semangat kami. 

***

Aku marah padanya tapi sekaligus sedih untuknya. Aku kecewa mengapa ia melakukan hal itu. Tapi aku mengerti mengapa ia melakukan itu. Aku terjebak di antara area abu-abu yang membuat tatanan moralku kacau. Aku menjadi tidak konsisten terhadap nilai-nilai yang kupegang. Aku merasa ini kasih, tapi sisi lain diriku mengatakan aku salah menafsirkan kasih itu. Aku bingung harus bagaimana. Mungkin ada yang tidak benar dengan caraku mengasihi. Aku bisa salah. Aku harus mengulang semuanya dari awal.

Kami pernah berbagi cerita bersama dan menangis bersama. Tapi, kasih persahabatan bisa dikalahkan dengan kasih asmara. Mungkinkah sebenarnya aku atau dia tidak benar-benar bersahabat? Mungkinkah kami hanya menggunakan satu sama lain sebagai tempat sampah? Saling curhat tentang hubungan asmara yang tidak diterima dunia dengan orang yang bisa menerimanya rasanya seperti menemukan cahaya dalam gelap. Aku bertanya-tanya, jika aku yang berada di posisinya, apakah aku akan melakukan hal yang sama? Apakah aku akan mengorbankan teman-temanku yang bersamaku sejak semula dan memilih orang yang katanya "kekasih" ini sebagai tujuan hidup? 

Aku ingat Simone de Beauvoir menulis bahwa dalam mencintai laki-laki dan perempuan berbeda memaknainya. Bagi laki-laki, mencintai berarti ekspansi atas kepemilikan. Ini berasal dari pandangan bahwa perempuan adalah obyek atau milik kepunyaan yang menjadi tanda pada status sosial (semakin banyak semakin kaya/kuat/manly). Penaklukkan adalah segalanya. Laki-laki tidak berhasrat pada perempuan yang sudah didapatnya. Mereka tidak akan memancing di kolam yang ikannya sudah didapat. Mereka berhasrat menaklukkan yang belum didapat, yang merupakan yang diincar kalau perlu oleh banyak lelaki. Perempuan seperti sebuah bola yang diperebutkan 21 pria dalam pertandingan sepakbola. 

Sementara itu, perempuan dalam mencintai berarti meleburkan seluruh eksistensinya kepada lelaki yang dicintainya. Jika pada pria, cinta adalah penaklukkan, maka pada perempuan cinta adalah devosi. Tentu, perempuan juga memiliki hasrat untuk ditaklukkan. Mereka juga ingin mengontrol lelakinya. Menjadi pengganti ibu mereka. Seperti ada semacam kemenangan manakala bisa mengubah bad boy menjadi good boy. Maka dimulailah permainan cinta itu, tarik-menarik kekuasaan. Saling takluk dan menaklukkan. Sekilas memang tampak adil dan setara. Tetapi, apakah itu memanusiakan manusia?