Life Story

Orbituari: Wulan Zaty Sari

Selasa, Juni 27, 2017

*Kak Wulan dan saya (2013)


Dia pernah bernama Wulan Zaty Sari. Teman-temannya memanggilnya Wulan atau Uland. Karena dia lebih tua tiga tahun dari saya, maka saya memanggilnya Kak Wulan atau Kakak Uland. Berita kematiannya kuterima dengan rasa tak percaya. Di hari kedua Lebaran, tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke-29 tahun, Kak Wulan menghembuskan nafas terakhir setelah menderita melawan kanker payudara. Ia tak pernah bercerita mengidap penyakit yang mematikan ini pada teman-temannya. Penyebab kematiannya ini membuat kami menjadi shock karena ia tak pernah menampakkan tentang sakitnya. Setidaknya bagi kami yang tinggal berjauhan dengannya, ia selalu tampak baik-baik saja. Kepergiannya menjadi rahasia, namun kebaikan hatinya menguar mencabik-cabik rahasia itu.

***

Pertemuanku dengan Kak Wulan bermula ketika kami sama-sama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin. Ia adalah seniorku dan merupakan bagian dari satu keluarga besar KOSMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi, suatu himpunan mahasiswa jurusan di Unhas). Selama kuliah di Unhas, hubungan kami terbilang baik meskipun tidak juga dibilang akrab atau dekat. Tak banyak cerita yang kuketahui tentangnya di masa-masa kuliah di Unhas. Dalam ingatanku, selalu ada yang menarik dari perempuan ini. Tubuhnya kecil, tetapi suaranya besar. Ia punya tawa yang khas dan senyum yang manis memikat. Ia suka naik gunung, membaca buku-buku cultural studies, dan seorang Milanisti sejati. Hanya itu yang kuketahui. 

Namun, Tuhan telah mempertemukan kami dalam suatu simpul hidup yang unik dan singkat. Kak Wulan lebih dulu lulus kuliah dan bersama teman-temannya membuka usaha travel untuk kampung bahasa di Pare, Kediri. Tahun 2013, saya lulus kuliah dan langsung melanjutkan studi S2 di Ilmu Komunikasi, UGM. Sebelum berangkat, beberapa senior KOSMIK mengabarkan jika Kak Wulan juga sedang mengambil S2 disana. Tapi berita itu muncul sebagai sekilas info. Ketika saya sudah pindah ke Jogja dan ngekos dengan Kak Piyo, salah seorang senior KOSMIK juga, Kak Wulan tiba-tiba menelpon saya. Ia mengabarkan bahwa ia masuk di angkatan yang sama dengan saya dan meminta informasi tentang penerimaan mahasiswa baru. Saya gembira luar biasa karena akhirnya saya mendapatkan teman seperjalanan. Saya tidak sendirian. Kami tidak sendirian. 

Telepon itu adalah awal kedekatan kami, bukan saja sebagai senior-junior di KOSMIK atau teman seangkatan di Pasca UGM, tetapi menjadi teman sesama rantau dan terlebih lagi saudara. Kami sama-sama anak tunggal. Hidup merantau pertama kali sungguhlah berat bagi saya. Apalagi menjalani kuliah dengan sistem yang berbeda dengan sebelumnya. Lingkungan dan budaya yang jauh berbeda dengan di Makassar bukanlah perkara mudah. Proses adaptasi bukanlah sesuatu yang diubah dalam semalam. Namun, bersama Kak Wulan-lah perjalanan menempuh semester awal di UGM menjadi lebih ringan. Ia mendorong saya untuk berani dan mandiri. Saya mempercayai dia adalah penolong yang dikirim Tuhan. 

Masih kuingat ketika kami sama-sama baru pindah ke Jogja. Baik saya maupun Kak Wulan tidak punya kendaraan dan tidak bisa naik kendaraan bermotor. Maka, transportasi umum adalah kawan karib kami. Dulu ia pernah menemani saya malam-malam mencari Toko buku Kanisius di Kotabaru dengan menggunakan Trans Jogja. Tetapi, dasar orang baru kami malah naik Trans Jogja jurusan menuju Janti. Bagi yang tidak tinggal di Jogja, Kotabaru dan Janti adalah dua wilayah yang berlawanan arah. Padahal sebenarnya jarak Kotabaru dan tempat tinggal kami cukup dekat. Kak Wulan dulu ngekos di daerah Sendowo sementara saya di Jalan Kaliurang Km 4,5. Setelah cukup lama tinggal di Jogja, kami sering menertawai kejadian itu.

***

Selama kuliah di UGM, kami menempuh konsentrasi studi yang berbeda. Meski sama-sama satu jurusan, Kak Wulan mengambil konsentrasi Manajemen Komunikasi (MK) sementara saya mengambil Ilmu Komunikasi dan Media (IKM). Jam kuliah kami berbeda dan meskipun ada mata kuliah umum, kelas kami tidak selalu bertemu. Ada satu kuliah yang kebetulan kami sama-sama sekelas, yaitu Metodologi Penelitian Kuantitatif. Demi Tuhan, itu mata kuliah yang paling susah nyangkut di otak saya karena banyak menghitungnya. Kak Wulan juga sama. Namun, disitulah saya melihat semangat dan kegigihannya. Jika ada sesuatu yang ia belum temukan jawabannya, ia akan mencarinya sampai dapat. Di saat saya sudah menyerah, ia selalu membawa harapan, “Tunggu dulu dek nah, kupelajari ki dulu,” begitu ia berkata lalu setelah itu mengajak untuk belajar bersama.

Suatu ketika, di tengah-tengah semester awal yang berjalan, Kak Wulan memberitahuku tentang kesempatan menjadi PNS di BNN (Badan Narkotika Nasional). Ia menghadapi dilema harus memilih antara melanjutkan kuliahnya dan bekerja dengan ritme perjalanan seperti yang ditetapkan bagian penyuluh di BNN. Sesungguhnya ia tampak tak bahagia kuliah disana meskipun nama besar almamater membawa kebanggaan. Ia merasa telah salah masuk konsentrasi yang ternyata sama sekali di luar ekspektasinya. Manajemen Komunikasi lebih dekat dengan sistem public relations sementara passion-nya adalah cultural studies sehingga harusnya ia mengambil Kajian Budaya Media atau paling tidak masuk di konsentrasi yang sama dengan saya. Tapi yang paling membuatnya tidak betah adalah kultur individualisme dan persaingan di kampus. Meski ia perempuan yang periang dan supel, teman dekatnya di konsentrasi itu hanya beberapa. Walaupun demikian, Kak Wulan telah menanamkan rasa aman dan nyaman, suatu ikatan yang membuat teman-teman dekatnya merasa sayang padanya. Ketika akhirnya ia memilih BNN, kami merasa ditinggalkan, kehilangan, namun juga ikut berbahagia atas berkat yang ia dapatkan.

Kami tahu ia memiliki pertimbangannya sendiri. Dalam proses penerimaan BNN, ia selalu bercerita tentang proses yang ia hadapi. Walaupun demikian, Kak Wulan telah memperlihatkan sisi kesetiakawanan dan tanggung jawabnya sebagai “kakak dan teman”. Meski sudah diterima di BNN dan harus segera pindah untuk melakukan prajab, ia tetap menemani kami hingga semester awal berakhir. Kak Wulan membantu kami mengerjakan tugas akhir kuliah sebagai hadiah perpisahan. Disitulah saya melihat Kak Wulan sebagai perekat di antara kelompok kecil kami (saya, Ayu, Mbak Novi, juga teman-teman yang lain seperti Nissa, Feby, Zian, Mas Febri, Lina, dan Mbak Eka). Setelah ia pindah, kami mulai tercerai-berai. Jadwal kuliah yang berbeda dan kesibukan menulis tesis membuat kami terfokus pada diri sendiri.



Foto terakhir kami sebagai gang (saya, Kak Wulan, Ayu, dan Mbak Novi) sebelum Kak Wulan pindah dari Jogja dan Mbak Novi menikah (2013).


Jogja akan selalu menjadi kota kenangan untuk kami. Disinilah kami berbagi suka duka sebagai perempuan dan perantau. Kami paling sering menertawakan ironi. Mulai dari kusamnya warna kulit gegara bergaul dengan panas matahari, tentang mantan pacar yang berselingkuh dan minta balikan lagi, tentang teman yang berkhianat, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang keinginan mengunjungi kota-kota di luar negeri, dan tentang cita-cita melanjutkan pendidikan. Ya, Kak Wulan selalu ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan ketika ia sudah menjadi PNS pun, melalui telepon, ia menyampaikan cita-citanya untuk sekolah lagi. Tak tanggung-tanggung ia ingin mengejar pendidikan ke luar negeri. 

Di masa perantauan ini, saya mulai mengenal sisi pribadinya yang lain. Pribadi yang berbeda dengan yang saya kenal dulu sewaktu masih sebagai juniornya di Unhas. Ternyata kami adalah teman diskusi yang sinkron (begitu katanya). Satu hal yang sungguh tak terduga, ia ternyata penyuka lagu-lagu lama. Sama seperti saya, Kak Wulan juga mudah terkena radang tenggorokan. Hingga suatu kali, saya bercanda bahwa kita berdua seharusnya menikah dengan dokter THT supaya berobat gratis. Dia tertawa renyah. Di mataku, Kak Wulan adalah pribadi yang humoris sekaligus memiliki prinsip dan kemauan yang keras. Ia termasuk orang yang overthinking sekaligus juga memiliki pertimbangan yang logis. Selain itu, Kak Wulan adalah orang yang bertanggung jawab dan ia selalu mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain. Misalnya, dalam perjalanan kami ke Kediri (sepenggal ceritanya bisa dibaca disini), ia bertindak sebagai kakak yang menjaga. Waktu itu tiba-tiba saya sakit dan Kak Wulan harus merawat saya sekaligus mengurusi keperluannya disana. Dengan badannya yang kecil, ia melakukan semuanya dengan baik. Ia juga tidak pelit dan selalu bertanya mau dibawakan oleh-oleh apa ketika bepergian. Kebaikannya selalu terasa tulus. 

Setelah Kak Wulan pindah Ke Palu di awal tahun 2014, kami mulai jarang kontak-kontakan lagi. Ia mulai sibuk bekerja sementara saya berjuang menyelesaikan kuliah. Ia selalu berkata akan berkunjung ke Jogja lagi untuk bertemu dengan Ayu, Mbak Novi, dan Eyang. Tak kukira bahwa kunjungan kami ke Museum Affandi sebelum ia pindah keesokan harinya adalah pertemuan kami yang terakhir. Di tempat itu, ia mengajarkan saya cara menepuk nyamuk dengan benar hehhee.

***

Waktu berlalu, kami mengejar mimpi masing-masing di jalan berbeda. Sekalipun demikian, kami masih berkontak via medsoc. Setiap lebaran dan ulang tahun kami saling mengucapkan. Hingga terakhir terjadi tahun lalu. Kami masih bertukar info tentang film-film Asia yang berkisah tentang cinta tak kesampaian atau yang tak selesai. Saya benar-benar tidak tahu bahwa di masa itu mungkin saja ia sudah sakit. Suatu kali saya memosting satu twit, “Cinta Buta itu adalah ketika aku lupa aku ini “siapa” dan dia itu “siapa”, lalu Kak Wulan me-reply “Asal kamu jangan lupain aku ya Meikkk”. Itu terjadi sekitar April tahun lalu. Satu hal yang saya sesali, saya tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Bahkan tahun ini saya lupa mengucapkan selamat ulang tahun dan Lebaran seperti sebelumnya. Kepergiannya terasa mendadak dalam ketidaktahuan. 

Dari cerita sahabat-sahabatnya (Kak Era, Kak Anita, dan Kak Riana), saya mengetahui bahwa Kak Wulan baru bercerita tentang penyakitnya Januari tahun ini, waktu itu sudah stadium 2. Maret tahun ini, sel kanker sudah menyebar ke paru-parunya, itu artinya sudah memasuki stadium 4. Kak Wulan kemudian memutuskan cuti dan dirawat oleh keluarganya di Barru. Dari selentingan kabar, saya mendengar ia menolak di-treatment. Akhir Juni, Kak Wulan meninggal di pelukan ibunya dengan membawa setumpuk cita-cita dan impiannya. 


 *** 


Tahun 2013, dalam perjalanan naik kereta malam menuju Kediri,

“Meik, harus ko dengar ini lagu dek” 
“Lagu apa kak?” 
“Lagu Kereta Malam. Lagu lama mi. Bagus ki lagunya. Lagunya Franky dan Jane” 
“Buseeettt…jadulnya kak..hahhahaa.” 

Kak Wulan mengambil hapenya dan memasangkan earphone ke telinga saya. Mengalunlah suara Jane Sahilatua, adik Franky Sahilatua. 

 “Duh Kak…Liriknya sedih, tapi musiknya kayak panggil arwah.” 
“Ihh…tapi lagunya bagus…” 

Sayup-sayup Kak Wulan ikut menyanyikan lagu itu… 

Dengan kereta malam 
Ku pulang sendiri 
Mengikuti rasa rindu 
Pada kampung halamanku 
Pada Ayah yang menunggu 
Pada Ibu yang mengasihiku 

Duduk dihadapanku seorang ibu 
Dengan wajah sendu kelabu 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Seakan ingin memeluk diriku 
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada 
Karena sakit dan tak terobati 
Yang wajahnya mirip denganku 


Selamat Jalan Kak Wulan. Kau akan selalu dirindukan. 

Cerita Lagu

Bintang Lima

Minggu, Juni 25, 2017

*google


Kenangan memiliki banyak spektrum: mulai yang standar seperti manis, pahit, lucu, dan traumatis hingga yang bikin dilema: dibuang sayang tapi disimpan juga jangan, dikenang atau dihapus selamanya. Salah satu album musik yang membawa banyak kenangan adalah album Dewa yang berjudul Bintang Lima. Album ini berisi 11 lagu ( 2 lagu adalah instrument) dan merupakan album penting dari fase post-Ari Lasso. Ada dua personil baru yang diperkenalkan melalui album ini: Elfonda Mekel alias Once, sang vokalis dan Tyo Nugros, sang drummer. Ada semacam "kekhawatiran" saat itu bahwa Once tidak mampu menggantikan karisma Ari Lasso. Beruntungnya, sosok dan warna vokal Once justru telah mentransformasi Dewa menjadi lebih dewasa. Sayang sekali, band ini mati suri pada akhirnya (dan Dhani berubah menjadi seperti sekarang). Saya beruntung pernah menyaksikan konser reuni-nya Dewa 19 dua tahun lalu. Dulu waktu zaman Once, saya mencari-cari Ari Lasso. Giliran Ari Lasso yang tampil, saya mencari-cari Once. Begitulah hidup, yang tak ada dicari, yang ada dicuekin *eh. 

Kembali ke album Bintang Lima, album ini memiliki kenangan tersendiri untuk saya karena inilah album pertama yang saya beli dengan uang jajan sendiri. Harganya waktu itu sekitar 17.000-an (atau 20.000? hmmm lupa yang jelas tak sampai 50.000 karena anak SD tak punya uang jajan sebanyak itu dulu hehehe). Saya membeli album ini gegara suka banget dengan lagu Roman Picisan yang waktu itu sering diputar di radio. Roman Picisan memang hits perdana yang dilempar dari album Bintang Lima. Lagu ini memang grande, musik maupun liriknya memang puitis, klasik, dan sekaligus bikin ngilu. 

Saya ingat banget ketika membeli album ini. Waktu itu setelah pulang sekolah, Daddy mengantarkan saya ke Disc Tarra, hujan keras pula. Kasetnya kemudian diputar berulang-ulang, tidak peduli baru bangun tidur, lagi kerja PR, hingga mau tidur lagi. Tentu saja saya ikut bernyanyi. Nyanyinya dengan sepenuh hati dong. Waktu itu lagu Dua Sejoli juga jadi soundtrack salah satu sinetron di Indosiar. Kalau gak salah yang main Cindy Fatika Sari dan Tengku Firmansyah. Meski masih jadi anak SD yang miskin pengalamana cinta, saya sudah terhanyut dan belajar banyak dari lagu-lagu di album itu. Kelak, beberapa lagunya masih relevan menjadi soundtrack kisah percintaan saya hingga kini. 

Demi totalitas sebagai Baladewa, saya juga membaca buku-bukunya Kahlil Gibran. Khusus untuk album Bintang Lima, Dhani memang banyak mengambil syair-syair puisi dari Kahlil Gibran. Buku penyair Lebanon yang saya baca pas zaman itu adalah Sayap-Sayap Patah dan Jesus The Son of Man. Meski tidak selalu mengerti kisah yang ditulis Gibran, saya menemukan bahwa cinta mengundang banyak penderitaan tetapi anehnya dalam penderitaan itu orang justru menemukan kebahagiaan. Saya mengingat dengan jelas sebuah larik puisi Gibran yang dijadikan lagu di album ini:

Bila cinta memanggilmu
Kau ikut kemana ia pergi
Walau jalan terjal berliku
Walau perih slalu menunggu

(Cinta adalah misteri - Dewa)

Meski hapal semua lagu-lagu di album Bintang Lima. Lagu andalan saya adalah Risalah Hati. Lagunya sedih dan kok bisa cewek banget ya (kelak saya tahu kalau Bunda Maia yang tulis liriknya). Ceritanya tentang seseorang yang jatuh cinta tetapi sayangnya cintanya tidak berbalas atau paling tidak orang yang dicintai itu tidak memiliki kadar cinta yang sama dengannya. Oleh karenanya, seseorang ini menuliskan risalahnya. Yang kusukai dari lagu ini, meski menderita banget tetapi sang pecinta tetap optimis merebut hati orang yang dicintainya itu. Selain itu, ada lagu Hidup Adalah Perjuangan (yang katanya Royyan mengutip kalimatnya Nietzsche) dan Lagu Cinta yang selalu bikin hati hangat setiap kali memasuki fase awal naksir seseorang. 

Di awal tahun 2000-an, album ini memang termasuk populer. Beberapa teman saya di kelas juga penyuka album ini. Bersama Jean dan Tirta, kami mencari not angka lagu Roman Picisan untuk dimainkan di pianika. Kadang kalau guru tidak ada di kelas, kita akan bernyanyi bersama. Paling asyik pakai lagu Sayap-Sayap Patah, Separuh Nafas, atau Cemburu. Ketika menyanyikan lagu-lagu itu, kami merasa sangat keren. Seorang teman saya yang bernama Bryan (entah dimana ia sekarang) memberikan stiker hati dan sayap yang merupakan logo album Bintang Lima. Stiker itu saya tempel di kaset saya dan masih ada sampai sekarang. Selain Bryan, ada Tono. Kami berdua suka sama-sama menyanyikan Sayap-Sayap Patah. Beberapa hari yang lalu saya melihat ia memposting sedang mendengarkan kembali album Bintang Lima di salah satu medsos-nya.

Hal itu kemudian membuat saya teringat drama antara Tono dan Siska di masa lalu. Siska, sahabat saya itu, menyukai Tono sejak kelas 1 SD. Kami semua memang teman akrab, sama-sama satu kelompok belajar hingga satu kelompok dance perpisahan kelas. Saya senang bergaul dengan keduanya karena kami nyambung ngobrol apa saja. Tono dan Siska sama-sama Gemini. Dua-duanya memang pribadi yang pintar dan charming. Dua-duanya memiliki wawasan yang luas. Jika penerimaan rapor tiba, mereka berdua peringkatnya berdekatan macam Satre dan de Beauvior di masa kuliah. Pendek kata mereka cocok!

Perasaan Siska pada Tono terkuak ketika kami duduk di kelas 3 SMP. Kebetulan kami melanjutkan ke SMP (dan SMA) yang sama. Sayangnya, setelah memendam perasaan selama 9 tahun, Siska harus menerima kenyataan pahit. Tono tidak memiliki perasaan yang sama pada Siska. Ia malah menghindari Siska setelah mengetahui perasaannya. Hubungan pertemanan mereka jadi renggang. Siska tidak hanya kehilangan orang yang disukainya, tetapi juga temannya sendiri. Kami akhirnya mengetahui bahwa Tono ternyata naksir cewek lain. Pengalaman "cinta bertepuk sebelah tangan" ini mengajarkan kami banyak hal, termasuk refleksi kritis terhadap konstruksi "cantik" dan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Belasan tahun berlalu, namun kenangan-kenangan itu masih tersimpan rapi. Saya masih bertanya-tanya bagaimaan proses seleksi kenangan itu? apa kriteria hingga satu kenangan terpilah dan masuk kotak sampah. Manakah yang akan tinggal dan terpatri di ingatan. Saya tidak tahu jawabannya.



Ps: Kusarankan kalian membaca tulisan ini sambil mendengarkan album Bintang Lima-nya Dewa. 

Cerita Lagu

Smells Like "Grunge"

Minggu, Juni 04, 2017

www.google.com


Celana jeans robek-robek, sepatu DocMart atau Converse All Star, kemeja flanel kota-kotak, gelang tumpuk-tumpuk di tangan: entah dari besi, plastik, atau kulit, dan rambut semi-gondrong yang sengaja diacak-acak adalah trademark dari grunge. Kebebasan anak muda. Kebangkitan yang terpinggirkan.

Seorang kawan kemarin berdandan demikian. Ia lahir di pertengahan 1990-an. Tepat di tahun kematiannya Kurt Cobain. Waktu kutanya tentang grunge, ia sama sekali tak tahu barang apa itu. Malah ia menyangka itu film horor Jepang. Saya bertanya lagi apa ia mendengarkan lagu-lagunya Nirvana, Pearl Jam, Alice in Chains, Soundgarden, atau Mudhoney? ia sekali lagi menggeleng. 

***

Grunge lahir sebagai sub-kultur yang berkembang di kota Seattle, USA. Di tahun 1970-an hingga awal 1980-an, dunia musik Amerika didominasi dengan band punk-rock dan hair metal yang berkiblat di Los Angeles atau New York. Seattle dianggap "kota kecil" yang tak terlalu penting, bahkan banyak tur band yang melangkahi kota ini. Saya sendiri belum pernah ke Seattle, tetapi suatu saat akan menginjakkan kaki disana. Saya ingin melakukan ziarah musik dan Seattle adalah salah satu kota penting dalam percaturan musik pop dunia. 

Menjelang akhir tahun 1980-an, karena tak sering dihampiri musisi besar, sekumpulan anak-anak muda kota Seattle mulai mencari alternatif hiburan. Ya, mereka mulai memainkan musik mereka sendiri. Musik mereka cenderung bersifat personal yang menggambarkan ekspresi emosi yang dalam. Kebanyakan dari mereka berasal dari kelas menengah dan sesungguhnya tidak diperhitungkan dalam kelompok sosial. Mereka rutin memainkan musik mereka di klub-klub kecil atau di garasi, menyanyikan kesedihan dan perasaan terasing. Musik mereka dianggap sebagai musik rock-alternatif, dengan bunyi meraung-raung dan suara yang ditarik malas-malasan, menandakan sebuah perasaan yang tercabik. Pengaruh punk-rock masih kuat, namun jenis musik ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Bunyi musik ini menawarkan kejujuran: sedih, marah, sinis, depresi, cinta, dan gembira. The "Seattle Sound" pun lahir, inilah yang dikenal sebagai grunge

Perjalanan grunge tidak serta merta langsung diterima dunia. Musik ini lahir dari kalangan tertindas, orang-orang yang ditolak,  disepelekan, di-bully, atau para pengecut, mereka bahkan tidak mampu mengatakan cinta kepada orang yang mereka sukai di sekolah. Berbeda dengan pahlawan rockstar yang memakai celana ketat dan jaket kulit yang mahal, mereka memilih memakai pakaian sehari-hari: sepatu converse, kemeja flanel, celana jeans robek-robek. Kadang-kadang celana pendek dan kaos oblong. Tak ada yang menyangka Seattle akan mempengaruhi dunia musik sampai Nirvana mengeluarkan album Nevermind di tahun 1991 dan menempati posisi nomor satu di jagat tangga lagu dunia. MTV kemudian mempublikasikan mereka dengan masif. Hasilnya, Grunge resmi mewabah dan menggantikan dominasi aliran glam rock/metal di dunia. Semua anak 1990-an mendengarkan musik grunge dan menggunakan gaya berpakaian mereka bahkan sampai sekarang. Musik kaum terbuang kini didengarkan sebagai sesuatu yang keren. Grunge style dianggap trendy. Gosip mengenai para senimannya menjadi komoditi. Dan orang-orang mulai tidak lagi memperhatikan musik grunge. Teriakan frustasi mereka perlahan diabaikan. 

***

Kawan saya terhenyak mendengar cerita saya tentang grunge. Ia merasa bersalah memakai sesuatu yang tidak ia ketahui. Kukatakan padanya begitulah kita semua, korban budaya populer. Secara sadar atau tidak sadar kita akan selalu ingin mengonsumsi demi menjadi imitasi dari idola kita. 

Lalu bagaimana dengan para idola itu? Mereka juga frustasi. Mereka yang tadinya bukan siapa-siapa kini menjadi pusat dunia. Obat-obatan dan alkohol menjadi sesuatu yang membuat mereka merasa waras. Harga yang mahal untuk popularitas. 

Sebagai anak kandung grunge, saya berkata kepada kawan itu dengan gaya ala Guru Drona kepada Arjuna, "It's okay. Kadang-kadang kita memang tidak paham apa yang kita cintai."



PS: In memory of Kurt Cobain (1967-1994) from Nirvana as well as Chris Cornell (1964-2017) from Soundgarden and Audioslave. 

Love Story

Selibat

Sabtu, Juni 03, 2017

Dulu pernah kubaca dalam novelnya Ayu Utami, "Para selibat itu seperti anjing, menarik karena mereka terikat". Tidak pernah terlintas di otakku untuk berhasrat pada seorang Imam. Memikirkannya pun ngeri. Lebih-lebih berkhayal jadi istri Pendeta. Ughh...bebannya berat euy. Mending jadi kaum awam saja tak perlu bertanggung jawab pada dosa umat, tak perlu punya beban sosial menjadi teladan. Saya paham mengapa Nietzsche seperti itu, sebagai anak pendeta yang hidup dalam kungkungan kelamnya Gereja di masa lalu, ia pasti berontak ingin bebas dan merdeka.

Tapi pikiran itu lambat laun berubah. Rupanya untuk golongan minoritas seperti saya, kaum Imam inilah yang mampu menjadi lawan berpikir yang tangguh. Kaum lelaki awam baik dari Katolik atau Protestan amat sangat jarang kutemukan yang seperti itu. Mereka umumnya menjalani hidup lurus-lurus seperti mengikuti siklus. Langka ada gelora dan riak. Sementara para calon Pendeta ini kok cepat banget punya pacar atau menikah?

Maka banyak para perempuan-perempuan intelek ini senang dengan para selibat. Tidak terikat, tapi kebutuhan berdialog terpenuhi. Beberapa orang menganggap ini absurd dan tak senonoh. Tapi sungguh tidak mudah menemukan calon belahan jiwa yang punya pemikiran setara dan di saat yang sama pula kita berhasrat secara spiritual, emosi, dan seksual. Jumlah orang Kristen di Indonesia sekitar 17 juta bila dibandingkan penduduk Muslim yang sekitar 200 juta-an. Saya makin bersimpati pada agama minoritas lain macam Buddha, Hindu, dan agama-agama lokal lain. Seorang teman perempuan Hindu pernah mengeluhkan hal yang sama. Apalagi dia berasal dari kasta Brahmana, makin sedihlah dia. Kelompok minoritas tidak punya banyak pilihan. Belum lagi ternyata di dalam kelompok minoritas ini juga terbagi-bagi berdasarkan kelompok atau afiliasinya. Dan biasanya, kelompok minoritas berusaha mengeratkan kekerabatan mereka dengan hanya menikahi kelompoknya saja. 

Tentu ada pilihan lain. Kristen merupakan agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Tapi tidak di Indonesia. Untuk menemukan calon suami Kristen yang teruji dan berbobot kita harus mencari dari negara lain. Duh, berat di ongkos, Zus. Ini biasanya dikejar kaum kaya maupun kaum terdidik. Yang kelas menengah ke bawah, kuat-kuat saja berdoa ya. Dengan demikian, mari kita kalkulasikan kemungkinan bertemu jodoh di tanah air. Bayangkan sekali lagi: ada 17 juta orang Kristen. Kelihatannya banyak ya. Tapi tunggu dulu. 17 juta itu dipotong dengan yang sudah tua dan masih anak-anak. Dipotong dengan yang sudah menikah. Dipotong dengan yang masuk kategori LGBT. Dipotong lagi dengan yang diterima berdasarkan etnis, kelas sosial, denominasi gereja. Dipotong lagi yang pemikirannya sejalan. Dipotong lagi yang tingkat pendidikannya setara. Dipotong lagi dari golongan itu yang masih single. Dipotong lagi dengan mereka yang mau sama saya. Dipotong lagi dengan yang tidak patriarkis. Dipotong lagi dengan yang disetujui keluarga besar. Duh Gusti!

Ada sih peluang untuk menikah dengan pasangan yang berbeda agama. Tapi, relasi seperti ini meminta harga yang mahal. Selain harus selesai dulu dengan diri sendiri, kita pun harus kuat secara sosial dan ekonomi. Kedua calon mempelai harus memiliki posisi tawar yang kuat. Menurut saya sih, dengan adanya globalisasi dan pengaruh kedalaman spiritualitas seseorang, keberagaman niscaya terjadi. Sungguh sangat jahat menyuruh orang pindah agama hanya untuk melegalkan pernikahan. Menindas dan tidak adil. Pernikahan beda agama maupun sesama jenis menjadi rumit di negeri ini, negeri yang ajaibnya melegalkan anak perempuan dibawah 18 tahun untuk menikah. 

Jadi, biarkan dulu untuk sementara kami menikmati rasa kagum dengan para Imam. Bagaimanapun hati perempuan adalah perapian, apinya terus membara demi menghalau dinginnya cuaca. Mungkin memang kami pasangan spiritual para selibat. Seperti anjing, mereka kadang-kadang suka menyalak dan mengigit kalau didekati. Namun, percayalah mereka sungguh (diam-diam) rindu akan belaian. Walaupun tekad mereka menikahi komunitas begitu kuat, sebagai individu mereka pun merasakan getaran terhadap individu lainnya. Sesungguhnya menyukai Imam juga seperti mengagumi Rockstars. Mereka punya banyak groupies. Mereka milik semua orang. Mereka tidak akan menjanjikan apa-apa. Maka, kau harus kuat untuk berbagi dirinya dengan orang lain.  Jika kau memiliki hasrat memilikinya seorang diri, bersiaplah patah hati. 

Hadeu, memikirkan para selibat, lama-lama bikin sembelit.