Life Story

Jalan-Jalan

Kamis, Mei 19, 2022

Pikiran ini muncul waktu sedang di dalam kereta api dari Yogyakarta menuju Solo. Kita bisa saja cepat sampai ke tujuan. Tetapi, kita akan melewatkan banyak pemandangan. 

Bukankah hidup ini lebih bermakna justru ketika kita menikmati setiap menitnya? 

HealingJournal

Day 11: Hilal

Rabu, April 13, 2022

Hilalnya sudah kelihatan. Memang bukan cahaya yang dinanti. Bukan nasib yang berubah. Tetapi, perspektif.


Apa lawan dari tragedi? Komedi. 

HealingJournal

Day 10: Reward

Senin, April 11, 2022

Hari kesepuluh. Tiba-tiba tanpa diduga saya mendapat uang sebesar Rp.250.000 dari bank BNI sebagai reward karena terlalu sering menggunakan mbanking. Hmmm… saya jarang sih mendapat model reward atau hadiah begini jadi disyukuri saja. Inikah yang dinamakan keberuntungan? Tidak perlu usaha, tapi bisa langsung dapat?

Sementara sesuatu yang diusahakan itu lain lagi. Kadang rasanya letih. Kadang terganjal. Kadang mau menyerah. Sekarang rasanya seperti menunggu nomor antrian. Saya masih menanti.

HealingJournal

Day 9 : Mari Kita Olahraga!

Minggu, April 10, 2022

Sudah tiga hari belakangan ini saya memantapkan diri untuk berolahraga. Kalau orang lain berolahraga untuk hidup sehat, saya berolahraga supaya bisa makan lagi hehehe. 

Bercandaaaa! Jadi ceritanya, berat badan saya naik drastis disebabkan beratnya beban salib yang membuat beta lari ke makanan. Abis makan langsung tidur kayak ular, jadinya kurang gerak kan. Akibatnya, badan saya menjadi tidak seimbang seperti badan Pikachu: gede di atas, tapi kakinya mungil. Tubuh mengirimkan informasi itu melalui lutut yang mulai ngilu-ngilu pertanda tidak kuat menumpu badan saya. Begitulah...apa boleh buat. Biar kita tetap kuat menjalani derita hidup ini, mari kita barengi dengan berdoa dan berolahraga. 

Awalnya, saya memulai acara olahraga ini dengan niat dulu. Kumpul niatnya sekitar dua bulan. Lalu mikir dulu mau memilih olahraga apa. Tidak ada proses instan dalam berolahraga. Tapi, kita bisa memilih yang mana yang nyaman. Mau lari, malas karena medannya gak oke. Mau ke gym mahal. Ya, udah goler-goler di tempat tidur dulu sambil ngemil kue taiyaki dan nonton Netflix. 

Lalu, saya ingat akan sepeda statis peninggalan Eyang yang tidak terpakai. Dulu Eyang membeli sepeda statis itu untuk melatih gerakan persendiannya pasca kena serangan stroke. Setelah googling khasiat naik sepeda statis, ternyata cocok dengan kebutuhan saya. Kenapa tidak naik sepeda beneran? karena saya tidak berani naik sepeda di jalan yang ramai, buta arah, dan tidak punya sepedanya juga.

Bagaikan marmut yang berlari di roda yang tidak bergerak, begitulah saya dengan sepeda statis ini. Cara olahraganya biasa saja sih. 10 menit dulu untuk 2 hari. Lalu nanti naik jadi 15 menit. Nanti naik lagi 20 menit begitu seterusnya sampai saya sanggup sepedaan 30 menit x dua kali sehari pagi dan sore. Kedengarannya gampang ya naik sepeda statis doang. Tapi, gengs, 10 menit itu rasanya kayak lamaaaaa banget. Apalagi kalau beban kayunya ditambah. Beneran sama aja kayak lari deh. Keringatan juga kita. 

Supaya saya tidak bosan dan merasa proses ini berat, saya membutuhkan distraksi supaya saya tidak fokus ke waktu. Caranya dengan mendengarkan lagu atau kalau tidak sambil nonton film. Lumayanlah bisa membantu meski kadang mengeluh juga, "Hahh...udah capek begini ternyata baru 4 menit?"

Kalau orang lain olahraga menggunakan lagu-lagu yang upbeat dan ceria, saya kebalikannya. Saya menggunakan lagu-lagu cinta yang sedih-sedih manja. Kayak tadi nih sepedaan diiringi lagunya Vierra dan Stinky hahahaha. Sebenarnya sih ini pereferensi saja gess. Kebetulan saya kalau terhanyut melankolia jadi suka lupa sama waktu. Kan tujuan saya memang mengalihkan diri dari waktu biar bisa enjoy sama olahraganya dan bukan pada hasil olahraganya. Yang penting konsisten! Eaaaaa. 

Udah dulu ya, selamat Minggu Palma dan salam olahraga!

HealingJournal

Day 8: "Jangan Tanyakan Mengapa Karena Aku Tak Tahu..."

Sabtu, April 09, 2022

Hari kedelapan. Belum ada tanda-tanda perubahan nasib. Namun, perasaan saya sudah lebih mendingan. Saya tahunya dari mimpi saya semalam. Waktu #Day 1, mimpi saya buruk. Perasaan tertolak itu muncul di alam bawah sadar dan termanifestasi dalam ikon-ikon yang mengingatkan saya pada hal-hal yang berhubungan dengan pergumulan saya saat ini. Tapi tadi malam saya mimpinya manis. Mungkinkah mimpi kali ini adalah pertanda dan bukannya proyeksi insecurity saya? Biarlah kita simpan di alam kemungkinan dulu. Nanti waktu yang akan menjawab.  

***

Suatu ketika saya mendengarkan lagu Salahkah Aku Terlalu Mencintai-mu dari duo Ratu yang diputar di dalam cafe tempat saya biasa nongkrong. Sambil ikut nyanyi-nyanyi penuh penghayatan, saya tiba-tiba terkaget sendiri karena umur lagu ini ternyata sudah hampir 20 tahun. "Wah, waktu cepat sekali berlalu ya?". Saya mendengarkan lagu ini pertama kali waktu masih SMP dan bayi-bayi yang dilahirkan di tahun lagu ini dirilis adalah anak-anak yang sekarang menjadi mahasiswa saya. 

Kadang-kadang, saya sedih mendengar jawaban mahasiswa kalau ditanya soal cita-cita. Kebanyakan mindset-nya ingin menjadi pekerja. Selain jadi buruh, mahasiswa yang kaya pengennya jadi pengusaha. Jarang sekali yang punya minat di dunia pemikiran. Saya jadi menyadari kalau kebanyakan mahasiswa saya memang berasal dari kelas menengah yang pikirannya sudah dikondisikan untuk bekerja dan mengonsumsi. Kelas menengah adalah target pasar paling besar dalam sistem kapitalisme. 

Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan sahabat saya, Angel. Kenapa ya kita susah sekali mempengaruhi orang-orang dengan ide tentang pembebasan? Begitu kami berbicara tentang keadilan dan kesetaraan gender langsung kami ter-block. Meskipun ada juga yang senang dan kemudian pelan-pelan bertransformasi. 

Saya merenung. Yang ditakuti manusia kan keadaan yang tidak pasti. Sementara sistem patriarki sudah mapan dan menawarkan kestabilan. Sesuatu yang bisa diprediksi. Bagaimana kami bisa menang, apabila penjara yang ditawarkan itu membuat orang aman, nyaman, dan stabil? Feminisme adalah gagasan yang masih mencari-cari bentuk sebagai hasil perlawanan dari sistem yang sudah ada. Keadaan ini menyebabkan ketidakpastian dan ketidakamanan. Menjadi feminis berarti memiliki kesadaran bahwa dirinya berada dalam penjara. Bebas dari penjara yang satu, bisa masuk lagi ke penjara yang lain. Kadang-kadang bebas, tapi kadang-kadang juga masih terjebak. Sikap reflektif dan kritis pada diri sendiri dan dunia ini penting sekali disini. Yang kita lawan sesuatu yang mengontrol alam bawa sadar kita. Sesuatu yang disebut Gramsci sebagai hegemoni

Pembebasan berarti membiarkan diri masuk dalam kemungkinan tidak terbatas. Bebas berarti memiliki keleluasaan untuk menjalani hidup dengan sadar. Tapi, rupanya pembebasan itu bisa menjadi mengerikan buat manusia. Seperti bangsa Israel yang meski sudah bebas dari penjajahan Mesir, tapi kadang-kadang rindu untuk kembali dijajah ketika menghadapi rintangan. "Duh, ngapain sih kita susah-susah begini? Lebih enak dulu waktu masih di Mesir...". Kerentanan dan sulitnya beradaptasi menghasilkan tindakan yang inkonsisten. Pantaslah dulu Musa suka ngamuk-ngamuk sama mereka ya hehehe. 

Jujurly, saya juga masih merasakan turbulensi antara kondisi internal dan eskternal sebagai resiko atas pilihan menjalani skenario hidup yang saya desain sendiri. Menjadi beda ternyata meminta harga yang mahal. Berapa banyak orang yang mau bikin susah diri untuk bertahan dalam ketidakpastian? Berapa banyak di antara kita yang kuat? Mengapa kita tetap bertahan meski tahu jalannya tidak mudah?

Sayup-sayup suara Pinkan Mambo mengalun,"Jangan tanyakan mengapa, karena aku tak tahu..."

***