Mantra Kalimat

When Universe Speaks to You...

Kamis, Oktober 19, 2017

Me with Mandala, photo by: Junita



For the last couple days, I have been binge-watched Orange is the New Black, an American serial television, which was suggested by my best friend, Tirta. Honestly, I have been encountered with unpleasant situations and I must admit I have some dilemmas, should I choose to survive or to resist?  In terms of deal with things, I suddenly had wanted to get signs in order to convince myself. I didn't care if it's from the sky or maybe someone. I just needed to make myself comfortable. And guess what? I have been touched by some lines from the dialogue between Yoga Jones and Chapman in the film. It was also funny yet mysterious because it happened right after I got "unfortunate situation". By looking at this context, I think universe seemingly speaks to me through the movie.  


Yoga Jones: Do you know what a Mandala is? 
Champan: Those are those around Buddhist art things
Yoga Jones: The Tibetan monks make them out of dyed sand, laid out into big beautiful designs. And when they’re done, after days or weeks of work, they wipe it all away. 
Chapman: Wow… that’s a lot
Yoga Jones: Try to look at your experience here as a mandala, Chapman. Work hard to make something as meaningful and beautiful as you can. And when you’re done, pack it in and know it was all temporary. You have to remember that. It’s all temporary. 
Chapman: It’s all temporary 
Yoga Jones: I’m telling you. Surviving here is all about perspective

(Orange is The New Black, session 1 ep. 1)

Life Story

Billy Joel, Jakarta Sebelum Pagi, dan Hal-Hal Yang Belum Selesai

Sabtu, Oktober 14, 2017


photo by: Toa Heftiba  (www.unsplash.com)


Ketika kamu bekerja, weekend merupakan waktu yang selalu dinanti. Saya selalu menyukai hari Sabtu (kemudian teringat bahwa waktu sekolah dulu, saya tetap masuk di hari Sabtu) lebih-lebih kalau cuacanya  mendung atau sekalian hujan. Rasanya semua perasaan sendu-romantis menghambur di dada, menyebabkan kantuk, dan berakhir dengan tidur siang yang nikmat.

Sabtu yang mendung juga mengingatkan saya dengan lagunya Roxette yang dimulai dengan lirik, "Milk and toast and honey, make it sunny on a rainy Saturday...". Saya suka lagu itu karena musiknya seksi. Namun, di siang yang mendung kali ini, saya memilih mendengarkan lagunya Billy Joel yang judulnya Just The Way You Are yang diambil dari album kesukaan saya The Stranger (1977). Lagu ini membuat suasana jadi romantis terutama pada suasana mendung meskipun anda mungkin sedang tidak jatuh cinta. Billy Joel menciptakan lagu ini untuk istrinya, Elizabeth, yang kemudian tak lama setelah lagu itu dirilis justru bercerai dengannya. 

Begitulah cinta. Magis dan aneh. Cinta punya banyak dimensi. Dimensi terluar adalah dimensi fisik yang berhubungan dengan hal-hal yang membuat kita menakar seseorang untuk layak dijadikan pasangan. Dimensi yang menurut saya sangat politis. Karena orang bisa tidak dicintai hanya karena agamanya berbeda, rupanya unik (tidak sesuai gambaran manusia ideal versi iklan produk kecantikan), atau karena dia sama sekali tidak cerdas. Cinta yang lain memiliki dimensi substantif, alias mencintai karena sesuatu yang esensial. Itu loh jenis cinta yang meski orangnya berganti rupa atau identitas sekalipun, kamu tetap mencintainya. Mencintai orang karena esensi adalah yang paling sulit sekaligus juga jarang terjadi di dunia yang segala sesuatu mudah dipertukarkan. Meskipun demikian, saya punya satu keyakinan tentang cinta: Jika kamu mencintai, kamu akan melakukan apa saja untuk yang dicinta. Bagi saya, cinta membuat kita melakukan apa saja bahkan jika hal itu diluar batas kemampuan kita.  

Inilah yang terkonfirmasi dari novel Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Novelnya diceritakan dengan penuturan yang unik. Mungkin hanya orang yang punya selera humor bagus yang mengerti cara Ziggy bercerita. Dari novel inilah, saya menemukan tokoh Abel, seorang yang memiliki phobia terhadap suara dan sentuhan. Abel jatuh cinta pada Emina, yang suaranya lantang dan anaknya heboh. Kebayang kan, bagaimana Abel harus mengutarakan perasaannya dengan mengatasi ketakutan-ketakutannya itu. Sebagai catatan, orang yang phobia bisa mati karena ketakutannya. Abel merasa ditusuk-tusuk atau terbakar jika ada yang menyentuhnya atau ingin mati rasanya ketika mendengar suara yang besar. Ketika akhirnya ia berupaya mengaitkan telunjuknya ke telunjuk Emina, bisa Anda bayangkan betapa beraninya ia?

Seperti Abel saya punya ketakutan saya sendiri. Saya takut dengan waktu, bahkan sejak dalam kandungan. Saya tidak sabar dengan proses. Saya lahir satu bulan lebih cepat daripada bayi-bayi pada umumnya. Bukan karena komplikasi seperti pada bayi-bayi pada umumnya tapi karena kesalahan si bayi sendiri. Mami selalu menceritakan kisah itu pada saya dan pada orang-orang yang sudi mendengarkan. Beliau lalu mengutip perkataan dokter Abadi Gunawan, dokter kandungan paling top di Makassar itu bahwa anaknya tidak sabar berada dalam rahimnya," Si bayi terlilit tali pusarnya sendiri akibat mencari jalan keluar". Begitulah kisah kelahiran saya yang prematur diceritakan berulang-ulang. 

Namun kali ini, saya harus mengalahkan diri saya, ketakutkan saya demi cinta saya padanya. Ia tidak mudah digapai. Ia berdiri di puncak Himalaya. Dan kau tahu, jika kau ingin mendaki puncak Himalaya maka persiapannya tidak sama seperti ketika kau ingin mencapai puncak Semeru. Kau tahu resikonya. Kau tahu kesulitannya. Tapi kau tetap melakukannya. Kau mencintainya, maka kau berusaha mengalahkan dirimu untuk melalui semuanya itu demi mendapatkannya. Untuk seseorang yang selau dikabulkan keinginannya sesuai waktu yang dikehendakinya, menunda dan menunggu sesuatu seperti membuatnya ditusuk dan dibakar. Tapi saya harus tetap tabah, demi cinta. Demi sesuatu yang belum selesai.  

Cinta pada ilmu pengetahuan membuatmu penuh. Namun, jalannya sunyi dan berliku. Saya tak menduga, jalannya memang sesepi ini. 


Archolic

Work

Sabtu, Agustus 12, 2017


On my father's birthday, I push myself to work for better life in the future.


location: Lotus Mio, Tirtodipuran, Jogja

Life Story

Let It Be

Kamis, Agustus 03, 2017

"Akan ada saatnya Sang Bunda memampukan kita mengatakan jadilah kehendak-Mu," Suster Tres berkata lembut. Ia tersenyum dengan tatapan matanya yang dalam. Dinding-dinding batu yang berasal dari perut Merbabu semakin membuat suasana menjadi dingin di ruangan itu. Padahal di luar sana, matahari sedang terik-teriknya. 

Di seberang meja, saya duduk membeku penuh dengan tissue, airmata, dan ingus. Sungguh tampak tak menarik. Perempuan rahib itu memahami bahwa airmata adalah bahasa yang tak memiliki sistem linguistik. Ia tidak dapat dilogikakan. Airmata berkata-kata dengan bahasa yang hanya bisa dirasakan. Airmata itu bercerita panjang lebar tentang penglihatan-penglihatan. Airmata itu menuturkan ketakutan-ketakutan. Kalau kamu takut gelap, maka gelap itu harus diterangi. 

Suster Tres mengakhiri pertemuan itu dengan memeluk saya erat. Selama di perantauan, saya sangat jarang dipeluk seperti ini. Bagai dua sahabat lama kami berpelukan. Dada dengan dada, lengan melingkar penuh. 

Saya tak menduga bahwa hari itu akan datang secepat ini.