Life Story

Tentang Trauma

Senin, Juli 06, 2020

Saya sedang tidak bisa fokus. 

Ceritanya saya memiliki banyak deadline. Namun, saya tidak bisa melaksanakannya. Tidak bisa menulis. Setiap saya memulai untuk menyelesaikan tulisan tersebut saya seperti membeku di tempat. Padahal, ide-ide itu sudah meletup-letup di otak saya. Tapi, saya tidak bisa bersalin, saya tidak bisa beranak. "Anak" saya yang kesekian ini sepertinya sungsang. Loh penyebabnya apa? Trauma saya ke-trigger. Kali ini lebih intens. Trauma itu sudah ada sejak lama dan saling berkelindan. Lalu, peristiwa-peristiwa setelahnya memperdalam betul trauma itu. 

Saya punya tiga trauma yang berhasil diidentifikasi. Trauma pertama tentang penolakan. Trauma penolakan itu sudah dimulai sejak saya masih janin. Hal inilah yang menjelaskan mengapa wajah saya jika dalam mode "default face" tampak seperti orang marah atau merengut, padahal saya sama sekali tidak marah. Beberapa orang menghakimi saya karena wajah saya ini dibilang seperti orang yang judes atau sombong. Saya tidak pernah menyadari betul hal itu sampai saya memperhatikan foto-foto saya yang diambil secara candid. Ketika saya sadar dengan kamera dan tersenyum, wajah saya ceria dan ramah. Begitu saya tidak tersenyum, wajah saya jadi menakutkan. Rassel, teman saya yang fotografer, mengatakan bahwa wajah saya itu memang seperti respon terhadap penolakan. Mungkin begitulah wajah orang yang dilahirkan dalam amuk badai. Di beberapa video yang saya lihat ketika menjadi pembicara, saya menangkap suatu inkoherensi. Apa yang saya ucapkan dengan yang saya ekspresikan tidak nyambung. Tapi, mungkin dengan latihan public speaking itu bisa diubah. Trauma penolakan yang lain adalah bullying dan body shaming semasa saya SD-SMP. Saya baru menyukai tubuh saya dalam proses panjang ketika duduk di bangku SMA-kuliah S1. Tampaknya, proses penerimaan diri ini merupakan proses seumur hidup. 

Trauma kedua adalah pelecehan seksual yang saya alami di jalan. Saya masih sulit menceritakan detilnya. Kejadiannya waktu saya duduk di bangku SMA sekitar tahun 2008. Saya baru menceritakan hal itu pada Mami di tahun 2017. Sejak saat itu, bersama teman-teman penyintas kekerasan seksual lainnya kami concern berjuang untuk pemulihan dan keadilan hukum pada korban. Sayangnya, di beberapa kasus dimana saya pernah ikut mengadvokasi bersama teman-teman, trauma saya ke-trigger. Di saat itu, saya ingin sekali menggapai orang-orang terdekat saya. Ketika salah satu diantara mereka tidak bisa ada secara emosional, maka akan memicu trauma saya yang ketiga.  

Trauma ketiga adalah trauma karena ditinggalkan/diabaikan yang muncul karena saya menghadapi kematian orang-orang yang tercinta secara mendadak, dalam waktu yang dekat dan beruntun, serta tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Kita semua berhak mendapatkan perpisahan yang layak. Sayangnya, perpisahan itu menjadi menyakitkan karena terjadi tanpa persiapan. Seperti manusia pada umumnya, kita semua takut mati. Tapi, setelah peristiwa kematian-kematian itu, saya mulai berpikir bahwa mati itu lebih enak daripada hidup. Saya kaget dengan pemikiran saya itu karena saya termasuk orang yang berencana ingin hidup 1000 tahun lagi. Pola tidur dan makan saya juga tidak teratur. Saya ingin tidur saja. Tetapi, kalau saya tidur saya bermimpi buruk dan sedih. Akhirnya, saya takut untuk tidur. Akibatnya, saya seperti zombie: hidup tidak bersemangat, mau mati pun tapi belum waktunya. 

Waktu itu, saya membaca artikel tentang PTSD dan tampaknya saya mengalami beberapa simpton dari PTSD. Saya juga ikut dalam tes online dan hasilnya ada indikasi saya berada di fase depresi ringan. Dengan menyadari peristiwa yang menurut saya "ganjil", saya langsung mendiskusikan hal itu dengan Laili yang juga pernah mengalami trauma menghadapi kematian beruntun di keluarganya dan dia menyarankan saya ke psikolog. Syukurnya, psikolog yang saya temukan cocok. Guys, pilih psikolog seperti menemukan jodoh, salah pilih bisa bahaya. Kadang psikolog yang salah ini bisa memperburuk keadaan kita. Sebagian dari mereka suka menghakimi dan memaksakan diagnosis atau pendapat mereka kepada kita. Saya beruntung bahwa psikolog yang men-treatment saya lebih banyak mendengar dan membantu saya menemukan kualitas-kualitas diri saya yang baik. Ia juga tidak menghakimi. Di akhir sesi, setelah menangis, kami berpelukan. Nah, psikolog serta curhat dengan orangtua dan para sahabat adalah bantuan eksternal. Ada beberapa teman yang memilih yoga dan meditasi untuk trauma healing-nya. Saya memilih menulis seperti yang saya lakukan di blog ini. 

***

Pada titik ini, saya bersyukur masih memiliki kesadaran untuk mengontrol hidup saya. Saya bisa menangkap sense of danger dan bisa segera mencari pertolongan sebelum keadaan itu menjadi parah dan tidak bisa ditangani. Saya juga cukup beruntung karena pergaulan saya membuat saya aware dengan kesehatan mental. Di negara-negara maju, kesadaran terhadap kesehatan mental merupakan hal yang menjadi fokus perhatian sehingga banyak anak muda juga tidak segan mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater. Sayangnya, hal yang sama belum berlaku di Indonesia. Masih banyak orang yang tidak mau menghadapi kenyataan bahwa mereka mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini disebabkan stigma pada pasien kesehatan mental sangat negatif. Saya memiliki beberapa teman yang struggle dengan hal yang sama dan kami berjuang saling support untuk bisa survive. Kami membentuk support system supaya bisa saling menjaga dan berjalan bergandengan tangan bersama. Kami semua adalah penyintas.  

Ya, saya sangat suka sekali kata "penyintas". Penyintas adalah korban yang berusaha bangkit dari keterpurukannya. Ia punya kemauan dan ada daya untuk bangkit lagi. Kita tidak bisa menghindar dari tindakan yang menyakiti kita. Menjadi penyintas atau tetap menjadi korban adalah pilihan. Apa bedanya? Penyintas berusaha berjuang untuk mengubah keadaan tersebut supaya tidak dialami lagi oleh orang lain. Penyintas berusaha memahami mengapa "hal itu terjadi" dan berdamai dengan itu. Penyintas memberikan dorongan yang lebih positif kepada orang-orang di sekitarnya. Ia akan lebih memahami trauma orang lain dan bisa memberikan pertolongan yang efektif. Di sisi lain, korban memiliki ketidakberdayaan. Ia marah dan dendam dengan peristiwa yang dialaminya dan pada orang yang melakukannya. Aura korban memang negatif karena penuh dengan kemarahan, kekecewaan, dan putus asa. Rasa sakit yang tidak terperi. Kita semua yang terluka adalah korban, tetapi ketika kita tetap menjadi korban kita akan memiliki sejenis rasa "hak untuk menjadi jahat" karena sudah diperlakukan tidak adil oleh hidup dan orang lain. 

Kata Mbak Puput teman kos-ku yang kuliah ilmu Psikologi, semua orang pasti punya trauma. Kita semua ini punya cacat dan tidak ada manusia yang bisa bilang dengan percaya diri bahwa dia "tidak punya kepahitan atau tidak punya gangguan jiwa". Orang yang bilang "aku tidak punya gangguan jiwa" adalah pasti punya gangguan jiwa. Mbak Puput memberi contoh pada orang-orang yang bangga mengakui dirinya perfeksionis. Perfeksionis sendiri adalah gangguan jiwa. Bagaimana bisa kamu ingin sempurna di dunia yang tidak sempurna? 

Trauma ini bukan tentang orang yang melakukannya pada kita. Namun, trauma terjadi karena tindakan orang tersebut. Efek setelah mengalami tindakan itu yang menyebabkan traumanya muncul lagi. Misalnya: Si A punya trauma penolakan dan ditinggalkan/diabaikan. Suatu hari ia mengekspresikan rasa cinta dan rindunya pada pacarnya melalui surat. Tetapi, tanpa diduga, pacarnya tidak mau berkomunikasi lagi dengannya selama berbulan-bulan setelah menerima surat itu. Padahal, sebelumnya tidak ada pertengkaran dan hubungan mereka juga baik. Kalau pacarnya ingin berpisah, kenapa tidak ada kata selesai? Kalau A ada salah dengan mengirim surat itu, kenapa pacarnya tidak memberitahu letak kesalahannya? kenapa pacarnya malah diam? A tidak menemukan koherensi sebab-akibat dalam peristiwa itu. Apalagi suratnya adalah niatan baik untuk menguatkan dan menghibur pacarnya. Trauma A tentang penolakan muncul lagi akibat respon pacarnya dan berkelindan dengan traumanya karena ditinggalkan tiba-tiba. Ada juga cerita Si B. Dia punya trauma karena diremehkan orang tuanya. Sehari-hari dia bekerja dengan baik dan berhubungan sosial dengan baik juga. Namun, suatu hari Bosnya mengatakan sesuatu yang meremehkan dia atau membuat dia merasa tidak diperhitungkan. Trauma B langsung ke-trigger dan dia langsung down. B berpikir untuk bunuh diri. B merasa tidak layak meskipun dia dikelilingi orang-orang lain yang menyayangi dia seperti pacar dan sahabat-sahabatnya. Perlu dicatat, meskipun ini tidak semua dan kasuistik, ada memang kecenderungan mereka yang memiliki trauma untuk menyalahkan diri dan menyakiti diri. Efek lain adalah mereka bahkan tidak merasakan apa-apa atau kebas (numb) padahal yang mereka alami adalah trauma hebat. 

Hal yang membedakan kita yang masih bisa berfungsi dan bekerja dengan baik dengan pasien yang dirawat di RSKD adalah tingkat keparahannya. Mereka yang dirawat di RSKD sudah ada di level fisiologis dan psikotik yang membutuhkan treatment dan pengobatan untuk bisa berfungsi lagi. Kita yang belum di level itu sebenarnya ada di level neurotik. Tapi penjelasan mengenai ini bisa dibaca di website lain yang lebih komprehensif tentang kesehatan mental.

***

Pada akhirnya, pilihan tetap di tangan saya. Saya mau menyembuhkan trauma saya. Saya berusaha belajar menerima, ikhlas, dan berdamai meskipun itu sangat berat dan sulit ketimbang pilihan untuk menjadi jahat dan melakukan balas dendam yang jauh terasa lebih mudah. Saya memilih cinta. Saya memilih kebaikan. Semuanya saya lakukan supaya saya bisa menjalani hidup saya dengan tenang dan bahagia. Saya pikir dengan tetap berbuat kebaikan dan berdamai, maka trauma itu akan hilang. Tapi rupanya traumanya tidak hilang begitu saja, pemirsa. Trauma itu bisa muncul lagi apabila ter-trigger oleh suatu peristiwa, tindakan, atau hal-hal ekternal lainnya tanpa kita bisa prediksi atau kontrol. Ini benar-benar sangat melelahkan karena seperti berhadapan dengan setan yang sama berulang-ulang. Benar kata Nara, seperti orang yang kena tipes, trauma ini suka kambuh. Trauma bisa menimbulkan efek dominonya yaitu stress dan bisa berujung pada depresi. Depresi yang membuat kita tidak menghargai hidup lagi. Depresi yang membuat kita berpikir "kematian pun makin akrab" seperti judul puisi Subagyo Sastrowardoyo. 

Tulisan ini tentang trauma dan bagaimana trauma mempengaruhi cara kita bertindak dalam hidup dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Tindakan kita bisa sangat berakibat fatal pada orang lain. Kita pun juga tidak bisa mengontrol tindakan orang lain yang mentrigger trauma kita. Mungkin kita tidak bermaksud jahat, mungkin tindakan kita hanya respon dari upaya kita melindungi diri. Namun selalu ingat, kita tidak pernah bisa benar-benar lepas sepenuhnya dari jaring-jaring hidup yang rumit. Jangan pernah mengharapkan segala sesuatu menjadi sederhana karena kita semua berangkat dari pengalaman yang berbeda-beda. Mungkin jalan tengahnya adalah dengan mencoba melakukan humanisasi, memanusiakan manusia. Ini adalah titik temu ketika orang-orang yang punya trauma bertemu dan berinteraksi. Apalagi ketika mereka saling mencintai. 

Life Story

Setelah Dia Pergi

Jumat, Juli 03, 2020

Reinkarnasi. Konsep ini menjadi mengerikan buatku sekarang. Saya membayangkan kita menjalani hidup yang penuh penderitaan ini lalu kemudian mati dan terlahir kembali untuk menjalani hidup yang sama menderitanya di kehidupan selanjutnya. Namun, saya lebih ngeri lagi membayangkan terlahir kembali dan tidak menemukan Mami dan Daddy sebagai orang tua saya lagi. Di kehidupan kali ini, saya sangat terberkati mendapatkan mereka sebagai orang tua. Hidup bersama mereka tidak bisa dibilang mulus bagai serial TV Amerika, tapi kami bertiga belajar bersama-sama. Kami belajar mengasihi dan menerima apa adanya. Kami belajar untuk sama-sama bertumbuh. Kami belajar mengampuni dan memperbaiki kesalahan-kesalahan. Kami belajar bekerjasama. Kami belajar untuk saling melindungi. Kami belajar untuk setia, kuat, dan bertahan. Kami belajar menjadi versi terbaik dari kami masing-masing.

Ingatan saya kembali ketika saya masih sangat kecil. Mungkin di usia yang baru bisa belajar berbicara. Di atas motor RX King punya Daddy, kami bertiga berboncengan. Kadang saya berdiri di tengah, kadang duduk di depan. Lalu Daddy akan memacu motornya di jalan Panakkukang Mas. Mami akan bertanya, "Kakak itu gambar apa?," sambil menunjuk lampu hias berbentuk bermacam-macam hewan. Lalu, saya akan mulai mengabsen mereka satu per satu, "ikan, bebek, udang, kupu-kupu...". Bahagia sekali keluarga muda itu. Kami selalu bertiga. Hingga suatu hari yang tidak diduga, dia yang selalu menjadi perekat, perantara, dan penegah di antara mereka bertiga itu menyelesaikan perziarahannya di dunia ini. Chaos!

Tidak terasa sudah 2 tahun Mami pergi. Sejak saat itu saya bangun dengan merasakan lubang hitam di dalam dada. Ada kesedihan yang tidak bisa dideskripsikan. Namun, ada juga sejenis kelegaan bahwa Mami sudah berada di tempat yang lebih baik. Sisi rasional saya memandang Mami sudah tidak perlu merasakan rasa sakit dari kehidupan lagi. Ia sudah selesai dengan semuanya. Mami sangat mencintai saya. Maka, meninggalkan saya pun adalah hal yang juga berat baginya. Ya, kepercayaan itu membuat saya lebih bisa menerima kepergiannya. 

Saya dulu berpikir kematian adalah akhir dari segalanya. Tidak ada ikatan lagi antara orang yang hidup dan orang yang mati. Orang yang mati hanya menjadi kenangan. Tapi saya salah. Kematian tidak memisahkan kita dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Seperti ada tertulis, cinta kuat seperti maut dan nyalanya seperti nyala api Tuhan. Cinta tetap ada meski raga sudah tak ada. Cinta membentuk ikatan yang tidak bisa dilenyapkan oleh waktu dan dibatasi dunia antara yang hidup dan mati. 

Sejak saat itu, pelan-pelan saya mengasah rasa. Belajar bersentuhan dengan yang halus dan rahasia. Melihat dengan hati. Membaca yang tidak terselami. Ada yang bisa kita kenali ketika tubuh sudah tak dikenali lagi. Kadang saya tidak mengerti bahkan meragukan kewarasan saya. Tapi, rasa itu sangat kuat. Ia hanya bisa semampu itu. Ada jurang tak terjembatani di antara kami. Ia tidak bisa kembali lagi kesini, tetapi suatu saat nanti saya bisa pergi ke tempatnya berada. 

Daddy juga sudah banyak berubah. Saya melihat kualitas-kualitas yang ternyata sama dengan Mami. Mereka berdua memang sejoli. Daddy memiliki komitmen yang kuat. Ia sangat loyal. Dia memiliki konsistensi. Dia jujur dan tulus. Dia punya dunianya sendiri. Dia tidak pandai menunjukkan perasaannya. Tapi, melalui tindakan yang konsisten dengan mengingatkan makan atau mengirimkan ayat-ayat kitab suci, ia sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kami sudah jarang bertengkar lagi. Ini hal yang sangat kusyukuri. Kami belajar berkomunikasi dengan baik. Rasanya hidup di tahun ini lebih baik dan stabil untuk kami berdua. 

Namun, ada berita duka. Selain corona yang entah kapan akan berakhir, Daddy baru saja kehilangan sahabatnya, Om Yoseph. Walaupun saya tidak pernah bertemu langsung dengannya, Om Yoseph adalah salah satu tokoh penting yang turut menyelamatkan keluarga kami. Tuhan memakai Om Yoseph untuk memperingatkan kami mengenai hal-hal sehingga kami bisa waspada. Perannya mengingatkanku pada nabi Natan. Selain Om Yoseph, sebelumnya ada Om Aman, temannya Mami yang juga dipanggil Tuhan. Saya terakhir berjumpa dengan beliau di pemakaman Mami Ice. Rasanya sangat ngeri dan mengejutkan bahwa kematian memang mengintai kita setiap saat. Saya mengenang Om Aman sebagai arranger musik gereja yang mumpuni. Di waktu kecil, dia sering sekali ngobrol dengan Mami sambil membicarakakan saya, “Kak Meis, itu Meike diajak menyanyi”. Mami hanya akan membalas dengan tertawa, “Edede… jangan mi..nda disitu bakatnya”. 

Ya begitulah. Hidup masih terus berjalan. Banyak gelombang. Banyak kejutan menanti. "Mami, bagaimana kabarmu disana? Ramai mi toh… banyak mi temanmu disana. Hehehe..”.

Review Film

Reply 1988

Sabtu, Juni 20, 2020



Bagi yang ingin bernostalgia kembali di tahun 1980-an, yang menyukai percakapan mendalam tentang keluarga, persahabatan, dan cinta, yang suka musik-musik tahun 80-an, yang suka fashion tahun 80-an, yang ingin nonton drakor yang "beda" gak kayak modelan telenovela seperti biasanya, dan yang ingin dapat insight dengan quote-quote yang gak cheesy dan menggurui, maka serial Reply 1988 sangat direkomendasikan. 

Peringatan: beberapa cerita sangat riil dengan kehidupan nyata, mengembalikan memori di zaman kita masih kecil, memicu jatuhnya airmata dan memancing tawa, serta memberi candu untuk nonton terus meskipun ada 20 episode dan masing-masing episode berdurasi 1 jam-an. 

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...

Life Story

Kita Memiliki Kekuatan, Juni

Jumat, Juni 12, 2020

Meine Liebe Juni, 

Kata-kata memiliki energi. Kata-kata memiliki nyawa. Setiap kata yang kita ucapkan bisa menghidupkan, namun juga bisa mematikan. Kata-kata itu adalah senjata, seperti pedang yang tajam. Pedang itu bersama kita, si “anak panah yang runcing” yang disembunyikan Tuhan di dalam tabungNya. 

Aku takjub melihat bagaimana kata-kata bekerja. Ada percobaan ilmiah yang dilakukan ilmuwan Jepang bernama Masaru Emoto. Ia menguji apakah air dapat bereaksi dengan pikiran-pikiran yang positif dan negatif. Emoto menyiapkan dua gelas air. Setiap hari, air di Gelas A dicurahkan dengan kata-kata positif seperti: cinta, kebahagiaan, harapan, dll. Air di Gelas B setiap hari diberikan dengan kata-kata negatif: seperti benci, buruk, jahat, dll. Hasilnya, ketika dipotret, molekul-molekul air di Gelas A membentuk struktur yang sangat indah sedangkan molekul-molekul air di Gelas B membentuk struktur yang sangat buruk. Kita mungkin bisa meragukan reliabilitas percobaan tersebut, tapi kita juga bisa memikirkannya lebih jauh. Faktanya, 60 % tubuh manusia dewasa berisi air. Setiap kata yang kita ucapkan ternyata memberi efek bagi emosi dan perasaan kita. Jika kita mengawali hari kita dengan kata-kata penuh cinta dan positif, yakinlah kita akan lebih semangat menjalani hari itu meskipun banyak tantangan. Namun, kalau hari kita diawali dengan marah-marah, cibiran, atau hinaan, kerjaan apapun yang kita kerjakan, meskipun tidak ada tantangan, tetap terasa sangat berat. 

Liebe Juni, kamu adalah orang yang memiliki pedang itu. Kamu adalah salah satu anak panah yang disimpan dalam tabungNya. Satu kata dari bibirmu akan sangat berpengaruh dalam menuntun dan menerangi jalan orang-orang yang kamu temui. Pendapatmu akan sangat penting bagi mereka yang mencintaimu. Mereka yang awalnya tidak sanggup lagi berjalan, dapat berlari setelah mendengar kata-katamu. Bagi yang tidak menyukaimu, kata-katamu akan terasa seperti pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka. Mereka akan merasa terkoyak-koyak dengan sayatan kata-katamu. Kamu telah menelanjangi mereka dengan kata-kata. 

“Bangkitlah”, “Bangunlah”, “Majulah”, “Jalanlah,” “Pergilah”, “Marilah”, adalah beberapa kata yang sering aku baca di kitab suci. Kata-kata yang mendorong orang-orang bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu itu kadang tidak bisa diterima akal sehat dan bertentangan dengan realitas. Ingat kan, bagaimana Tuhan menyuruh Nuh membuat perahu dan dia ditertawakan orang-orang. Tetapi, Nuh tetap meneruskan pekerjaannya sampai selesai. Ya, sesuatu itu kadang membuat kita kesepian. Sesuatu itu kadang membuat kita dibenci dan dijauhi. Hal yang membuat hati sedih adalah kadang-kadang orang-orang yang tidak menerima kita adalah orang-orang yang justru paling kita harapkan menerima kita. Orang-orang yang melarang atau memarahi kita itu justru adalah orang-orang yang paling kita butuhkan pengertian dan dukungannya. 

Setelah Mami pergi dan banyak peristiwa-peristiwa di luar nalar yang terjadi, aku mulai mengasah kemampuan-kemampuan yang celestial, Juni. Aku percaya bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan, sebaliknya mereka saling beriringan. Aku menyiapkan waktu khusus memandangi benda-benda langit. Aku tahu kamu juga melakukan itu, kan. Tahukah kamu? saat bulan purnama tiba, air di permukaan laut naik. Begitu juga dengan air di dalam  tubuh kita. Oleh sebab itu, kata temanku yang belajar yoga, mereka tidak boleh melakukan yoga saat bulan purnama. Efeknya nanti bisa buruk pada kesehatan. Yoga dipraktekkan bukan untuk membuat badan langsing. Yoga dipraktekkan untuk membangkitkan energi yang tertidur. Siklus haid kita beriringan dengan siklus bulan purnama, 14 hari kurang lebih. Konon, para perempuan bijak dari abad lampau melakukan pemujaan pada Tuhan dengan cara mensikronkan tubuh mereka dengan alam. Dengan demikian, mereka bisa berdialog dengan alam semesta. Pengetahuan itu didapatkan melalui melihat dengan mata batin, memahami apa yang didengarkan, mendengar apa yang dibaca, dan membaca apa yang tidak terlihat. Hampir semuanya bersandar pada intuisi, atau kalau kata Mami: feeling. Ilmu pengetahuan modern dengan metodologinya kugunakan untuk berani menyangsikan “sesuatu” yang kutemukan itu. Seperti semacam safety belt supaya aku tidak jatuh pada kepercayaan buta. 

Sekalipun beriringan, iman dan ilmu pengetahuan berada dalam ranah yang berbeda. Ilmu pengetahuan berada di ranah akal atau rasio. Semuanya bisa diukur dan dibuktikan secara indrawi. Tetapi, iman berada dalam ranah rasa. Sesuatu yang sulit dibuktikan secara indrawi. Ilmu pengetahuan punya batasan. Iman tidak terbatas. Allah tidak bisa dijangkau dengan ilmu pengetahuan, akal kita tidak sampai. Namun, ilmu pengetahuan membantu kita mengenal Allah. Allah dijangkau dengan iman. Dengan iman, kita bisa merasakan “cara kerja” Allah.

Kita diberikan tugas itu. Peran untuk membangun dan meruntuhkan, menanam dan menuai. Menguatkan yang lemah, melembutkan yang keras. Menghibur yang sedih, membalut yang luka. Kita akan melakukan itu semua dengan kekuatan yang terletak pada kata-kata. Energi yang bisa menghidupkan dan mematikan. Oya, satu hal lagi. Kadang-kadang kita juga harus fleksibel untuk sesuatu yang tidak pernah kita duga terjadi. Kita harus selalu siap siaga seperti prajurit di medan perang. Aku teringat kata-kata Lieutenant Mattias di film Frozen 2, “ Be prepared. Just when you think you found your way, life will throw you onto a new path….”. 

Selamat ulang tahun, Juni. Selamat merayakan hari kelahiranmu. Aku bersyukur pada Allah karena menjadikanmu teman seperjalananku. Selamat menantikan kejutan dari si dia (atau sudahkah? Hehehe. Nanti cerita ya). Selamat melayani domba-dombamu. Selamat menjalani masa-masa sebelum pengurapanmu. Selamat menantikannya dengan tekun. 

Aku mencintaimu. 

deine, 
Meike