Mantra Kalimat

10 Years Time

Senin, Mei 25, 2020



In ten years time, I want to live in a house with big windows. I want a kitchen large enough to have a kitchen table with four chairs, but not too roomy to ever feel the depth of my aloneness because I’ll probably be alone. But, I think aloneness won’t feel all-consuming with windows that protect me from the world but still let me watch.

 (Maeve Wiley - Sex Education)

Love Story

Cinta Pertama

Sabtu, Mei 23, 2020

Waktu adalah kotak pandora.

Jika sedang mengalami "struggling for enduring emotional pain", saya akan melakukan perjalanan ke dalam diri. Mengingat hal-hal yang pernah terjadi. Mencoba melakukan dekonstruksi trauma-trauma yang saya curigai sebagai akar "mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan" *sambil nyanyi. 

Nah, kali ini saya berjalan-jalan masuk ke memori saya sampai ke awal mula kehidupan. Kembali mempertanyakan hakikat saya mencintainya. Mengapa dari 7 milyar manusia di muka bumi, saya harus jatuh cinta padanya? Mengapa pula seperti kami punya fantasi dan bahasa yang sama? Ada banyak irisan identitas dan pengalaman yang kayaknya kalau disatukan membentuk ikatan sehingga ketika kami dipertemukan kami saling memahami. Hubungan kami bukanlah sebuah pertemuan, melainkan seperti reuni. Sesuatu yang familiar dengan rasa yang berbeda. Oke. Anggap bagian ini hanyalah asumsi saya untuk membuat drama kisah cinta ini semakin menarik dan melankolis. 

 *** 

Ingatan itu berhenti pada saat saya kelas 1 SD. Ada satu kakak kelas yang saya taksir waktu itu. Huruf nama depannnya A, sama dengan Aquaman. Ciri-cirinya mirip Aquaman atau setidaknya warna kulit mereka sama-sama putih. Entah ada turunan Belanda atau tidak, tapi A ini juga agak kelihatan bule. Dia kelas 6 SD saat itu. Well, saya dan Aquaman memang beda 5 tahun dan sama-sama alumni sekolah Katolik yang didirikan oleh spirit kongregasi yang sama. Kisah cinta itu tentu saja tidak terwujud. A lulus SD, saya naik kelas. Kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. 

*** 

Ingatan saya mundur lagi. Kali ini berhenti di tahun 1995. Ada banyak penyanyi hebat yang berjaya di tahun itu. Ingatan itu menguat lagi di tahun 1997. Lagu Kirana dari Dewa 19 menjadi hits dan sering diputar di radio. Saya meminta Mami membuatkan mix tape dengan lagu Kirana dan Sambutlah-Denada di dalamnya. Di masa-masa itu, ada satu manusia yang tak pernah saya lupakan. Heri namanya. 

Entah tulisannya Harry, Heri, atau Hery, tak penting lagi. Di telingaku namanya sesederhana "Heri". Kupanggil dia Kakak Heri. Saya tidak tahu apakah itu nama depan, nama tengah, nama belakang, atau sekedar nama panggilan. Heri adalah teman SMA-nya Kakak Iccank, anaknya Puang Ibu. Puang Ibu adalah orang tua angkatnya Mami. Waktu kecil saya sering dititip di rumah Puang Ibu dan nanti akan dijemput begitu Mami atau Daddy pulang kerja. Nah, Heri dan Kakak Iccank adalah teman segeng di sekolahan. Jadi, sepulang sekolah Heri pasti akan singgah main ke rumahnya Kak Iccank. Rumah Kak Heri pun berdekatan dengan rumah Kak Iccank. Jadi akses itu tak sulit. Disanalah, pertemuan kami terjadi. 

Informasi apa yang bisa kita dapat tentang Heri dari akumulasi ingatan anak kecil pada masa itu? Ia anak orang hebat di kota Makassar. Orang tuanya pejabat. Heri memiliki kakak perempuan (sama dengan Aquaman). Saya tidak tahu apakah Heri hanya dua bersaudara atau lebih. Tapi, yang menarik adalah ibunya. Orang-orang di kota kami meng-highlight figur ibunya Heri dengan kagum dan hormat. Ibunya adalah orang hebat. Perempuan cerdas, tangguh, dan luar biasa (sama seperti ibunya Aquaman). Figur feminis di era itu mungkin. Ibunya kalau tidak salah mantan anggota DPRD, jabatan yang akhirnya juga dipegang oleh kakaknya. Kata Mami yang sempat mewawancarai kakaknya Kak Heri, wajah kakaknya dengan Heri sangat mirip. Apalagi kalau tersenyum. 

Bagaimana ciri-ciri Heri? Seingatku tubuhnya proporsional. Tinggi semampai, berkulit putih bersih, bermata teduh, dan senyumnya tulus. Ia memenuhi kriteria konstruksi ketampanan laki-laki Bugis. Ia mengingatkan kita pada figur Ahmad Dhani waktu masih muda. Rambutnya agak bergelombang, pendek, dan belah tengah. Ya, selain sama-sama bertubuh proporsional dan berkulit putih bersih, Aquaman dan Heri tentu tidak mirip secara wajah. Namun, memang ada sesuatu dalam diri Aquaman yang akhirnya kusadari mengingatkanku pada Heri (atau sebaliknya?). Heri dimataku selalu tampak sendu, lembut, dan puitik. Ada kombinasi maskulin dan feminim dalam dirinya yang mempesonaku. Hal-hal itu yang kutangkap ada pada Aquaman juga.

Aku suka sekali melihat Heri kalau memakai baju seragam SMA. Celana anak SMA tahun 90-an yang gabungan antara baggy atau semi cutbray. Karena kakinya jenjang, Kak Heri memakai model kemeja junkies dan celana semi cutbray, sementara Kak Iccank dengan kemeja junkies dan celana baggy. Begitulah gambaran maskulinitas cowok-cowok cool, tampan, dan kaya pada masanya. Untuk bisa mengingat ini, saya nonton ulang film Catatan Akhir Sekolah

Berhubung mereka adalah cowok-cowok kluster satu, maka mereka tentu selalu dikelilingi banyak perempuan. Pacar-pacar mereka tentu tak ketinggalan ikut nongkrong dan kadang kalau beruntung bisa melihat mereka bercanda ria. Pacar-pacar mereka cantik-cantik semua. Kak Heri tentu punya pacar juga. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku suka memperhatikan Kak Heri dari jauh. Jika ia melihatku, ia akan menegurku. Ia memberiku senyumnya dan berkata dengan sayang, "Adek Meike...,". Aku tak punya banyak kesempatan bercakap-cakap dengannya. Atau tak mengingat percakapan yang mendalam dengannya. Atau aku yang lupa? Entahlah. Mungkin di matanya aku adalah anak kecil. Tak ada yang peduli dengan isi hati anak kecil. 

Waktu berlalu. Kehidupan berputar. Heri masuk dalam pusaran kenakalan anak muda di zamannya: narkoba. Tentu karena dia mampu membeli dan pergaulannya di level seperti itu. Entah sejak kapan dia demikian, tapi kita tahu bersama pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an penggunaan narkoba di kalangan anak muda memang mengerikan. Heri masuk dalam pusaran itu dan menjadi pecandu. Ia menjual barang-barang dari rumahnya dan konon membuat ibunya sangat sedih. Ketergantungan obat membuat Heri berubah. Ia tak menjadi anak manis lagi. Ia menjadi momok yang menyedihkan. Orang-orang mengelus dada dan menyayangkan keadaan Heri," Kasihan anak itu...kasihan ibunya ya?". Seingatku, Kak Heri belum menikah. 

Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP. Saya dan Mami lebaranan di rumah Puang Ibu. Tak lama, Kak Heri datang dan bercakap-cakap dengan kami. Kami tertawa-tawa mendengar dia bercerita tentang masa lalu. Suatu ketika pula, saya dan Mami baru pulang makan dari New York Chicken di jalan Pettarani ketika tiba-tiba ada yang berteriak memanggil kami. Itu ternyata Kak Heri. Dalam gelap malam, saya seperti tak percaya dengan yang saya lihat. Ia tetap tampan di mataku, tapi ia tak bercahaya lagi. Ia menanyakan kami darimana dan mau kemana. Pertanyaan kami yang sama untuknya. Setelah menyapa kami, Kak Heri pergi. Tubuhnya kurus. Ia tampak dekil dan menyedihkan. Pujaan hatiku yang diam-diam kusimpan di relung hatiku. Pujaan hatiku yang kudedikasikan semua lagu-lagu cinta tahun 90-an untuknya. Itulah pertemuan terakhirku dengan Kak Heri. Beberapa waktu kemudian, kami mendengar berita bahwa Kak Heri meninggal dunia karena overdosis. Ia selalu dikenang sebagai orang yang baik. 

*** 

Ada rasa sendu sekaligus lucu ketika ingatan itu kembali dan fakta bahwa nama baptis Aquaman adalah Heri dalam bentuk yang lebih fancy.

Aku dan Tuhan

"Aku Pergi Takkan lama"

Sabtu, Mei 23, 2020

Sudah menjadi kebiasaanku jika langit sedang cerah dan banyak bintang, maka aku akan mencari bintang yang paling terang dan mengklaim-nya sebagai bintangku. Dia yang menemaniku. Seperti malam ini, suatu kegembiraan manakala malam-malam sebelumnya menampakkan langit kelabu. 

 *** 

Ingatanku melayang pada perempuan-perempuan pesisir di kota Makassar. Pertemuanku dengan mereka teramat singkat dan diliputi kesedihan yang menggigit. Waktu itu aku sedang melakukan riset tentang perempuan pencari kerang yang termarginalkan pasca reklamasi pantai. Area laut yang menjadi lahan pencaharian mereka diprivatisasi. Hal itu tidak saja mempengaruhi keadaan ekonomi mereka, tetapi juga jiwa mereka. Mereka terpisah dengan kekasihnya, sang laut yang setia memberi. 

Aku datang ke rumah Ibu Ani, salah satu perempuan pencari kerang dengan niat untuk mewawancarainya sebagai salah satu informan. Sejak reklamasi, ia dan teman-temannya tidak bisa leluasa lagi mencari kerang. Untuk mencukupi kebutuhannya, mereka juga harus membeli ulang dari penjual lain di pasar lelang ikan. Itu berarti modalnya harus banyak dan keuntungannya menjadi berkurang dibandingkan ketika dulu mengandalkan laut. 

Rumah Bu Ani sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan beratap seng. Rumahnya berlantai tanah. Jangan mimpi melihat tegel keramik atau marmer. Rumah-rumah khas pesisir memang dibuat seperti itu untuk gampang bertahan dari air dan arah angin. Mungkin juga supaya mudah dibongkar. Disitulah, Ibu Ani tinggal bersama suami dan 8 anaknya. 

Seusai wawancara, Ibu Ani mengambil seember besar penuh berisi kerang sebagai oleh-oleh bagi saya. Saya menolak menerimanya. Pertama, rasanya ada yang tak benar secara etika. Kedua, saya juga tidak memberinya apa-apa jika itu mau dianggap sebagai relasi transaksional. Bukannya sombong atau tidak berterima kasih, tapi saya tahu kerang-kerang itu adalah harta paling berharga Bu Ani. Kerang-kerang itu bisa menambah napas Bu Ani sekeluarga hingga beberapa hari ke depan.  Kerang-kerang itu akan lebih berarti buat Bu Ani daripada buat saya, lebih-lebih karena saya sendiri tidak doyan makan kerang. Namun, Bu Ani tetap bersikeras untuk memberi kerang-kerang itu. Ia bilang ia akan merasa sangat sedih jika saya menolaknya. 

Akhirnya, saya pulang ke rumah dengan membawa seeember penuh kerang yang entah akan dibuat apa. Di rumah, hanya Mami yang makan kerang dan lama-lama dia takut darah tinggi karena makan kerang tiap hari. Akhirnya, Mami mengolah sisa kerang-kerang itu menjadi kerang rica-rica dan membawa ke kantornya. Pulang dari kantor, Mami melaporkan kalau kerang-kerang itu habis dimakan orang-orang dan semuanya senang. Kerang-kerang itu menjadi berkat. 

Sudah beberapa tahun berlalu sejak kejadian itu. Riset itu sendiri sudah dipublikasikan di buku Ekofeminisme IV. Namunyang akhir-akhir ini membuatku teringat peristiwa itu adalah bahwa dalam keterbatasannya, seseorang masih mau memberi. Ia tidak hanya sekedar memberi. Ia memberi sesuatu yang paling berharga dari miliknya untuk orang lain. Ia memberi miliknya yang paling berharga untuk orang asing yang mungkin belum tentu akan kembali menjenguknya. Sebegitu dalamnya ia menghargai orang asing yang mau mendengarkan cerita sedihnya. Dan meskipun orang asing itu sudah lama pergi dari hadapannya dan mungkin Bu Ani sudah lupa juga pada wajahnya, suatu simpul kenangan yang indah tetap mengikat mereka. Suatu pelajaran penting: orang tulus memberi bukan karena mampu, orang tulus memberi karena mengasihi. Seperti tulisan-tulisan itu, yang aku berikan untukmu karena itulah yang terbaik yang aku miliki. 

*** 

Aku menceritakan kisah kerang Bu Ani pada Juni dan Juni membalasnya dengan menceritakan kisah sebelum Yesus naik ke surga. Dalam kisah itu, Yesus meminta makanan pada murid-muridnya dan mereka memberinya sepotong ikan goreng (Lukas 24 : 36 - 49). “Bayangkan, mereka hanya memberinya sepotong ikan goreng”, tak habis Juni menalarnya. Ya, kadang memang kita hanya mampu memberi dalam spontanitas dan kemampuan kita pada momen itu. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan selalu menerima apapun yang kita persembahkan untuknya. 

Itulah pertanyaanku sejak semula. Apa yang bisa kuberikan bagiMu, wahai Engkau yang memiliki segalanya? Dapatkah kita seperti anak kecil dalam lagu Natal “Little Drummer Boy”?. Anak kecil yang mempersembahkan permainan drumnya untuk bayi Yesus. Ia memainkan drum yang terbaik untuk sang Raja. Itulah yang berharga dan yang sanggup ia berikan. 

Sebelum Yesus naik ke surga ia mengucapkan bahwa Ia akan menyertai kita selamanya. Tidak pernah perjalanan ini dijanjikan ringan atau tanpa rintangan. Tapi, Ia selalu beserta kita. Itu janjiNya. Maka, ketika aku menangis, aku harus mengingat bahwa aku sedang menangis bersamaNya. Jika aku tertawa, maka aku pun sedang tertawa denganNya. Hari ini adalah hari KenaikanNya. Ia pergi. Tapi, Ia akan kembali lagi. Seperti lagu yang diciptakan Minggus Tahitoe dan dinyanyikan kembali oleh putranya, Ello, “Aku pergi takkan lama. Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi, asalkan engkau tetap menanti…”

Setialah. Berjaga-jagalah. 

Cerita Lagu

Bintang

Rabu, Mei 20, 2020



Meski mungkin aku yang harus pergi 
Tak apa tanpa harus ku mengerti 
Biar aku melangkah 
Menemani bintang menerangi malam 
Jangan resahkan aku 
Yang penting bahagia untukmu selalu kasihku

(Kahitna - Bintang)

Cerita Pendek

Matilda

Rabu, Mei 20, 2020

Mungkin kesalahannya karena ia memberikan cintanya secara total untuk orang-orang. Entah itu pertemanan atau percintaan. Sebagian dari mereka membalas cintanya dengan sama totalnya, sementara lainnya tidak membalas seperti yang diharapkan. Orang-orang jenis terakhir inilah yang melukai dan mengecewakannya. 

Matilda memandang lurus ke depan. Air matanya sudah kering. Tapi sakit di hatinya tak kunjung reda. Di atas sana, langit mendung pertanda akan hujan. Suatu keadaan yang mulai ganjil mengingat saat ini seharusnya masuk musim kemarau. Matilda mengambil smartphone-nya. Mencari di daftar chatnya. Nama itu. Nama itu sekarang online. Tetapi tak ada kabar atau pertanda apapun darinya. Komunikasi sudah terputus sejak berbulan-bulan yang lalu. Matilda kebingungan. Ia berontak merasakan ketidakadilan. Semakin ia mencoba menalar, semakin ia terjebak pada ketidaktahuan. Semakin ia berusaha merasionalisasi, semakin hatinya lebam. Rasa ingin tahunya menjadi obsesi dan itu tidak sehat bagi jiwanya. 

Ada yang ia tidak mengerti. Ada yang tidak selesai. Tapi, Matilda harus menyelamatkan dirinya. Ia harus mengambil sikap. Setidaknya, ia berani mengucapkan selamat tinggal. Ia mencari kontak berikutnya. Itu adalah sebuah grup chat. Matilda membaca kata demi kata bagaimana kawan-kawannya menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya. Ia membutuhkan mereka dan mereka membutuhkannya. Namun, Matilda telah menganggu kemapanan mereka. Matilda ditandai sebagai ancaman dan ia harus mempersiapkan diri pada kemungkinan ia akan disingkirkan. 

Hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Suara guntur mulai menggelegar. Matilda merasa sangat lelah. Emosinya. Fisiknya. Ia merasa segala usaha dan cinta yang ia berikan terasa sia-sia. Ada dua godaan orang yang menderita: mengasihani diri dan merasa dirinya istimewa karena menderita. Matilda terjebak di antara keduanya. Ia merasa tak ada gunanya lagi mengasihani diri. Ia sendiri dengan sadar memilih jalan yang sunyi ini. Ia juga merasa terlalu angkuh untuk menyebut dirinya istimewa. Bahwa ia terpilih menjalani derita ini dan akan membuat perubahan. Hahahaha. Matilda tertawa sinis. Ia bahkan tidak bisa mengajak orang yang dicintainya untuk berdialog dengannya. Ia bahkan tidak bisa meyakinkan teman-temannya untuk percaya dan respek padanya. Ia sama sekali tidak istimewa. Ia adalah figuran dalam panggung kehidupan ini. Tempatnya ada di pinggiran. Tidak ada lampu sorot apalagi tepuk tangan. Ia hanya angka dalam tabel milik Pemerintah. 

Bisakah orang yang dilukai, disakiti, dan dikecewakan terus-menerus menulis tentang harapan? Seperti dunia tidak habis-habisnya menghadirkan dagelan, Matilda mendapatkan tugas. Tulislah tentang harapan! Perintah Komandannya terdengar dengan jelas. Matilda harus menulis tentang harapan di tengah-tengah dunia yang sedang krisis harapan. Ia harus menanam harapan di dalam suasana ketidakpastian ini. Ia harus menemukan cahaya dalam dunianya yang sekarang gelap. 

Matilda tidak tahu apa itu harapan. Ia melihat harapan sebagai sesuatu yang samar-samar. Harapan selalu dekat dengan kesuksesan, lalu apakah harapan tidak ada dalam kegagalan? Hidup Matilda adalah serangkaian kehilangan tiba-tiba yang hadir di saat ia tidak melakukan persiapan sama sekali. Ia menemui kegagalan. Bahkan ia sendiri pun adalah kegagalan sehingga jika ia gagal ia akan menyapa kegagalan seperti sobat lama, “ Hey…ketemu lagi kita”. 

Matilda tertawa. Ia sekarang punya kemampuan baru. Ia menangis dalam tawa, tertawa dalam tangis. Ia seperti kupu-kupu malam. Dadanya semakin terasa nyeri. Ya, jantung memompa darah dan alirannya deras berebutan ke dalam bilik-bilik disana. Matilda sangat marah. Tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk marah. Ia diperintahkan untuk memaafkan. Ia diperintahkan untuk mengerti keadannya. Belum selesai ia menghentikan pendarahan di hatinya, ia dipaksa untuk berlari lagi. Seolah ia benar-benar bukan manusia lagi. Ia dipaksa serupa dengan Penciptanya. Matilda tidak sanggup. Ia merasa seperti dituntut setiap waktu. Ia merasa sangat pengalah. Ia merasa telah menyerahkan dirinya dan dirinya bukan lagi miliknya. Ia pelan-pelan melebur pada kekuatan di luar dirinya yang ia tak pernah sanggup untuk pahami. Ia diperintahkan untuk menjalani. Matilda ingin jadi manusia saja, yang lemah dan bisa jatuh. Manusia yang tidak tahu apa-apa. Manusia yang boleh marah dan dendam. Manusia yang karena keterbatasannya, kemudian dimaklumi, dan dimaafkan. Manusia yang boleh takut dan ragu. Manusia yang berdarah. 

Apa itu harapan? Mungkin sejenis kelegaan bahwa ada daya untuk melangkah lagi. Harapan bukan pintu keluar dari labirin persoalan yang membuat kepala dan hatinya sakit. Harapan adalah “perasaan” bahwa ada jalan keluar, bahwa akan ada cerita baru lagi, orang-orang baru lagi, teman-teman baru lagi. 

Harapan mewujud dalam aksi untuk mencari pintu keluar. Dalam labirin yang gelap, Matilda berjalan sambil menangis mencari pintu keluar itu.