Life Story

Rindu Mami

Senin, Desember 03, 2018

Hari ini genap 5 bulan Mami pergi. Saya rindu sekali sama Mami. Ingin bertemu meski sekilas bayangannya atau baunya saja. Saya rindu dengar suaranya, tawanya. Rindu setiap malam telponan.  Rindu bercerita dan berdiskusi apa saja dengannya. Rindu berdansa bersama. Rindu jalan-jalan berdua saja. Rindu pulang ke rumah dan menemukan Mami sudah menyiapkan semuanya. Desember datang dengan hujan deras. Natal tahun ini entah akan seperti apa. Biasanya Mami yang mengatur dan mengurus semuanya. Tahun ini saya dan Daddy entah harus berbuat apa. Tidak ada satupun dari kami yang tahu memasang pohon Natal. Oiya, pohon Natal-nya patah tahun lalu, tepat sebelum saya ke bandara untuk balik ke Yogya awal tahun ini. 

Subuh itu Mami mengantar saya ke bandara. Saya bilang tidak apa-apa Mami, saya bisa sendiri. Kasihan kalau Mami pulang bolak-balik bandara-rumah-kantor. Mami tetap bersikeras mau mengantar. Di Go-Car kami berpelukan. Mami berbicara, memberikan banyak nasehat. Dia banyak curhat. 

Di bandara, sebelum masuk untuk check-in, kami berpelukan. Saat itu terasa lain. Saya tidak mau mengakui hal ini, tapi rasanya saat itu saya tidak ingin berpisah dengan Mami. Kami berpelukan lama sekali. Tidak biasanya seperti ini. Mami dan saya melepaskan pelukan, saya berjalan menjauhi dia. Saya melihat air mata di pipi Mami. Saat mendekati gate keberangkatan,  saya berbalik lagi dan memeluknya. Sungguh drama sekali kami hari itu. Saya takut melepaskan Mami. Saya takut saya tidak akan bertemu dia lagi. Saya menciuminya bertubi-tubi. Memindai bau tubuh Mami yang khas ke dalam memori saya. Saya tidak mau berpisah. Mami juga. Tapi waktu memang brengsek, kami harus berpisah. Saya melambaikan tangan pada Mami. Mami melihat saya masuk gate, lalu dia pergi. Saya tidak melihat dia lagi. 

Itu kali terakhir saya bertemu fisik dengan Mami. 

Mami, Meike rindu Mami. Apa kabar disana?
Masihkah Mami diam-diam membaca blog ini?

Life Story

Surat Untuk Kak Emma

Sabtu, November 24, 2018

photo by Toa Heftiba (www.unsplash.com)


Dear Kak Ems,

Jika ada hadiah dalam hidup yang tak terduga, salah satunya adalah persahabatan kita. Pertemuan pertama kita di Mace tidak memberikan tanda-tanda bahwa kita sama-sama legal alien di dunia ini hehehe. Waktu itu saya masih menjadi mahasiswa baru dan Kak Ems menjadi alumni yang datang berkunjung ke kampus. Awalnya, kupikir hubungan kita hanya akan sekedar sambil lalu. Waktu itu saya cukup segan dengan Kak Ems. Pikirku sepertinya orang ini tidak bisa dijangkau. Namun, seiringi berjalannya waktu, sebagai sesama legal alien kita bisa saling membaui dan mempercayai satu sama lain. Pada titik tertentu, kita berada di frekuensi yang sama. Dan semuanya terasa pas. Kehadiran satu sama lain seperti potongan-potongan puzzle yang pas ditempatkan untuk saling membentuk gambar. 

Keheningan Kak Ems mengingatkan saya pada para Banthe yang mendiami Biara Mendut di kaki Borobudur. Seperti air tenang danau Sentani di Papua, kita tidak bisa menebak apa yang di dalamnya, ketenangannya itu terasa mematikan. Mungkin cuma Paul McCartney yang bisa melukiskan kekuatanmu dalam Blackbird. "...You were only waiting for this moment to be free". Dan hal ini menyeramkan bagi orang-orang yang tidak mengantisipasinya.

Setelah memasuki usia yang baru, sudah berapa banyak bucket list yang kau centang? Saya berani bertaruh bucket list itu tidak mainstream seperti yang dipikirkan kebanyakan orang. Seperti selera musikmu, hal-hal yang kau idamkan justru tidak lazim mesipun kadang akhirnya kita harus berkompromi dengan keadaan. Jika ada yang mempertanyakan mengapa di usia sekarang Kak Ems belum menggapai apa yang kebanyakan orang inginkan, bilang saja, "Nabi Isa di usia saya pun sedang sibuk menyembuhkan dunia". Jika pertanyaan itu masih menganggu sampai usiamu 40 tahun nanti, bilang saja, "Nabi Muhammad pun mengubah dunia di usia yang sama dengan saya". Tentu jokes kita akan dianggap menista agama, tetapi anggap saja orang-orang itu terlalu serius dalam hidup. Wong, Tuhan itu Maha Bercanda kok hehehe.

Kepakkan sayapmu dan bersiaplah untuk terbang. Jalan sudah terbentang. Kau sudah lama menantikan saat ini. Kita hanya perlu bangkit dan berjuang lagi. Betapapun berat dan sulitnya. Tadi malam saya bertemu dengan teman saya, dia orang Kamboja dan beragama Buddha, seorang aktivis perdamaian. Dia bilang begini, " Let it go and let it come, just take a chance...". Dari dia saya mengetahui, dalam perspektif Buddhis, ada tiga hal yang menghalangi manusia mencapai pencerahan: kemelekatan, hasrat, dan delusi. Kalau kita berhasil melampaui ketiga hal ini, kita tidak akan takut menghadapi apapun dan kehilangan apapun. Dan orang-orang yang tidak memiliki rasa takut adalah orang-orang yang paling ditakuti di dunia ini. 

Sekali lagi, selamat ulang tahun.  

Life Story

Konser Guns N' Roses

Senin, November 19, 2018

Guns N' Roses di Jakarta (photo : Meike)


Bayangkan, kamu punya band idola yang lagu-lagunya kamu dengarkan sejak masih balita. Lagu-lagu itu juga mengiringi masa remaja kamu sebagai teman melewati masa pencarian identitas diri, bullying, dan cinta monyet meskipun pada waktu itu kamu belum mengerti makna lagu-lagunya. Cita-cita pertamamu adalah menjadi groupies mereka. Lalu waktu berlalu, alat musik yang dimainkan oleh manusia perlahan digantikan teknologi. Band ini juga mengalami gejolak. Lalu, mereka tinggal sebuah kenangan. Kamu (dan jutaan fans-nya di dunia) menginginkan mereka reuni. Di masa itu, konflik antar anggota band dalam formasi hebat mereka seperti tak mungkin terdamaikan bahkan sampai ketika mereka diakui dalam Rock & Roll Hall of Fame di tahun 2012.

Kita tidak tahu kapan keajaiban terjadi, tetapi bila itu terjadi rasanya seperti mimpi. Tak mudah untuk dipercaya. Guns N' Roses dengan formasi reuni dan ditambah anggota terkini, bergabung dan menggelar konser besar mereka keliling dunia. Indonesia menjadi tuan rumah pertama untuk pembukaan tur mereka di Asia Pasifik. Memang, formasi reuni ini tidak komplit seperti yang kita harapkan pada formasi Appetite for Destruction atau formasi Use Your Illusion. Tapi, apa yang bisa diharapkan lagi dari para fans sejati? Bergabungnya kembali Axl Rose, Slash, dan Duff McKagan saja sudah seperti sebuah doa yang terjawab.

Ketika mengetahui bahwa GNR akan konser pada tanggal 8 November 2018, saya langsung memberi tahu Mami dan kak Emma. Mereka sangat excited dan mendukung ide ini. Mami bahkan ingin menemani saya nonton di Jakarta. Kak Emma sudah menonton konser GNR reunion saat masih di Sydney. Kami berdua tergila-gila dengan Duff McKagan, sang bassis yang tidak hanya jadi rockstar tetapi juga pembaca dan penulis buku. Duff adalah role model bagi mereka yang ingin menjadi penetral dalam sebuah relasi. Ia tidak perlu rebutan panggung dengan dua kawannya, Axl dan Slash, yang memiliki pesona dan bakat yang luar biasa. Duff menemukan caranya sendiri untuk bersinar tanpa perlu lampu sorot mengarah kepadanya. Dan itu yang membuat Kak Emma dan saya tergila-gila (P.S: waktu SMP saya tergila-gilanya sama Axl, tapi waktu nonton video klip Paradise City, saya kepincut Duff disitu hihii..)

Bagi saya menonton konser GNR seperti ziarah batin. Awalnya, saya dan Mami berencana akan menonton konser itu bersama-sama. Tetapi, Mami pergi lebih dulu tanpa bisa dicegah. Dalam keadaan duka, saya ragu untuk menonton konser ini. Tetapi, hati kecil saya seperti terus mendesak, kamu harus nonton Meike, apapun yang terjadi. Ini janji kamu sama Mami. Di luar dugaan, Daddy ternyata mendukung niat saya untuk nonton konser. Sayangnya, Daddy pencinta Meggy Z, Doel Sumbang, dan Rama Aiphama. Jika tidak mungkin kami berdua yang akan nonton konser bersama.

Selain Daddy, Kak Emma juga adalah salah satu orang yang mendukung hal itu. Karena saya terlambat membeli tiket, tiket yang ingin saya beli sesuai budget sudah habis. Di luar dugaan, Mami ternyata sudah menyiapkan segalanya. Ia dan Kak Emma bersatu menambah uang saya untuk membeli tiket di bagian Rockstand Festival A (pas di bawah panggung). Lagi-lagi saya ragu, takut nonton GNR sendiri. Pikiran saya nanti kalau ada apa-apa gimana. Ini pertama kalinya saya menonton konser sendiri. Biasanya dengan Mami atau teman. Tapi, kemudian saya ingat bahwa pasti pengunjung konser ini adalah generasi kelahiran akhir 60-awal 90an jadi tidak mungkin rusuh. Mengingat harga tiketnya juga mahal untuk golongan kelas menengah, maka pasti juga bukan kelompok jenis yang suka bikin rusuh yang bisa masuk di venue. Maka, saya memantapkan hati. Baiklah, let's do it. Kak Emma membantu saya menguruskan urusan tiket. Sementara saya meminta bantuan Cubo untuk mengurus tempat penginapan yang dekat dari stadion Gelora Bung Karno (GBK), tempat konser akan berlangsung.

***

Saya sudah di Jakarta sehari sebelum konser. Cubo menjemput saya di stasiun Gambir.  Tak disangka saat menunggu Grab, saya bertemu dengan suster kepala sekolah sewaktu di SMP. Terakhir bertemu beliau ketika saya lulus SMP. Di masa SMP inilah saya tergila-gila dengan GNR sebagai remaja tanggung. Tirta, sahabat saya, juga tergila-gila dengan Queen. Pertemuan dengan Suster Vinsensia sungguh terasa seperti ketidakterdugaan yang aneh. Dari stasiun, kami lalu menuju hotel, menaruh barang dan jalan-jalan di Grand Indonesia. Malam itu saya ada janji untuk bertemu dengan Kak Ruth Wijaya, seorang blogger yang blognya saya gemari. Saya dan Cubo masih sempat ngobrol sebelum dia pamit untuk kerja. Sementara saya dan Kak Ruth akan melanjutkan kopi darat kami. Lagi-lagi tak dianya, saya bertemu dengan Wiwi, teman SMP-SMA yang sekarang tinggal dan bekerja di Jepang. Saya dan Wiwi terakhir kali bertemu sekitar tahun 2012 atau 2013 (lupa). Wiwi berkali-kali speechless karena tidak menyangka bertemu saya di GI. Saya pun demikian kaget dan herannya. This is weird, berkali-kali Wiwi berkata demikian. Setelah ngobrol sebentar dengan Wiwi, saya dan Kak Ruth menghabiskan sisa malam dengan mengobrol tentang cinta dan harapan (ini akan kita bahas nanti).

***

Hari H konser tiba. Saya sudah mulai mellow karena saking terharunya. Saya tiba di venue pukul 4 sore. Saya bertemu dengan dua orang Mas-Mas baik hati yang kemudian menjadi teman jalan saya sampai di depan pintu masuk. Salah satu dari mereka bertanya, "Kok kamu nonton GNR, kelihatannya kamu bukan dari generasi ini," tanyanya. Saya tersenyum dan menjawab, "I'm an old soul" (eaaa). Kami bercerita tentang baju kaos band yang kami pakai. Mereka berdua mengenakan kaos band bergambar pistol dan mawar, logo GNR yang terkenal itu, sementara saya mengenakan baju kaos bergambar Duff di masa muda yang saya buat tahun lalu bersama Kak Emma tanpa pernah tahu kalau GNR bakalan konser reuni di Indonesia.

Tiba di pintu masuk, kami berpisah karena ternyata saya harus menukarkan tiket di pintu parkir timur. Bapak penjaganya menyuruh saya mengikuti dua orang cewek yang juga ternyata mau menukarkan tiketnya. Mereka adalah Irish dan Tore dari Solo. Bersama mereka, kami berhasil menukarkan tiket. Sejauh mata memandang, para penonton konser mengenakan baju kaos GNR dengan logo khas mereka, gambar album-album GNR, gaya ala Slash dan Axl, dan baju merchandise konser hari itu. Jika ada 50.000 tiket habis terjual dan mungkin jika dikurangi dengan yang tidak hadir, maka ada sekitar 40.000 penonton konser malam itu. Menariknya, cuma saya (sejauh mata memandang), yang memakai kaos gambar Duff (bolehlah pamer hehehe). Saya dan kelompok Irish berpisah, karena mereka ternyata punya teman-teman lain. Untungnya daku ini anaknya independen dan fleksibel, bisa sendiri maupun bergerombol. Ada semacam kekuatan yang terus menggerakkan saya. Tidak apa-apa Meike, jalan terus. All is well. Saya melanjutkan perjalanan nonton konser itu sendiri lagi. Seorang Mas Baik Hati lainnya bersedia memotokan saya dengan kaos Duff di depan penukaran tiket.

Tiba di dalam area konser, sudah banyak penonton yang duduk menjaga tempat. Saya duduk tidak terlalu jauh dari bagian kanan panggung dan mengirimkan foto ke Kak Emma. Kak Emma langsung menelpon saya dan memberi tahu kalau Duff biasanya posisinya di sebelah kiri panggung. Saya langsung ingat di video-video konser mereka, Duff dan Izzy memang selalu di kiri, Axl di tengah, dan Slash di sebelah kanan. Keraguan merambati hati saya lagi. Di satu sisi mau liat Duff langsung lebih dekat, di sisi lain saya ragu apakah saya bisa mendapatkan tempat yang lebih baik dari tempat saya sekarang. Sambil menitip pesan ke Mas-Mas di sebelah saya untuk menjagakan tempat dan bilang kalau dalam 10 menit saya tidak kembali berarti saya sudah mendapatkankan tempat yang baru, saya pun memberanikan diri ke area sebelah kiri panggung.

Di area sebelah kiri sudah banyak manusia, tetapi masih ada sedikit celah. Saya berusaha menembus celah-celah tersebut dan berhasil mendapatkan tempat yang malah lebih baik dari tempat saya tadi. Saya bisa melihat semua personil dengan puas. Ternyata, di tempat ini pula saya berkenalan dengan sepasang suami istri pencinta GNR. Mbak Asti dan suaminya bertemu gara-gara lagu November Rain. Mbak Asti bercerita dulu waktu masih ngekos, dia suka memainkan gitar. Pada suatu ketika, ia memainkan lagu November Rain. Saat ia memainkan lagu itu, tiba-tiba ada suara piano mengikuti irama gitar Mbak Asti. Dari situlah Mbak Asti bertemu suaminya. Selama konser berlangsung, Mbak Asty dan suaminya yang menjaga saya. Kalau saya haus, mereka dan seorang perempuan berwajah khas Indonesia Timur yang berdiri di sebelah saya yang memberi minum. Selalu ada kebaikan-kebaikan yang mengiringi. Waktu itu sudah pukul 6 sore. Konser baru dimulai jam 8 malam. Awan hitam menggantung menyelubungi GBK. Kami berdoa supaya tidak hujan. Kami sudah tidak sabar untuk menonton band idola kami.

***

Pukul 20.00 WIB, Kikan datang dari belakang panggung dan memimpin audiens menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semuanya menyanyi dengan khidmat. Saya melirik kiri-kanan, ternyata benar, para penonton banyak dari kalangan kelahiran 60-90an awal. Yang mengejutkan ada yang berasal dari generasi 90-an akhir. Para penonton ada yang datang sendiri, ada yang bersama pasangan, ada yang bersama ayah atau ibunya, dan ada yang bersama teman-temannya. Jika Mami masih ada, kami berdua pasti sudah asyik disini seperti ketika kami dulu menonton konser Mr.Big dan Kahitna. I miss Mami so much that night

Sekitar pukul 20.15 WIB, satu-satu personil GNR mulai masuk dan menghentak dengan lagu pembuka, It's So Easy dari album Appetite for Destruction. Penonton histeris. Semua ikut bergoyang. Benar kata Kak Emma, menonton idolamu langsung adalah sebuah pengalaman magis. Saya menangis dong. Masing tidak percaya dengan yang saya alami. Duff, Axl, dan Slash muncul secara nyata di depan saya. Personil GNR yang lama masih ada Dizzy Reed pada keyboard. Sisa anggota lain pasca kejayaan Use Your Illusions juga tampil maksimal, seperti Richard Fortus (gitar) , Melissa Reed (penyintesis), dan Frank Ferrer (drum). Axl tampil maksimal meskipun ia mudah ngos-ngosan tapi tak mudah menyanyikan lagu-lagu GNR yang nada-nadanya beraneka ragam dalam waktu tiga jam. Axl Rose memang kece badai. Untungnya ada Duff, Mellisa, dan Richard yang menutupi kekosongan kalau Axl kelepasan nada.

Selama tiga jam tampil, GNR secara adil membawakan lagu-lagu hits dari enam album mereka: Appetite For Destruction, Lies, The Spaghetti Incident?, Use Your Illusion 1 dan 2, dan Chinese Democracy. Berturut-turut lagu-lagu hits dinyanyikan seperti Rocket Queen, Sweet Child O' Mine, Welcome To The Jungle, November Rain, Mr. Brownstone, You Could Be Mine, Live and Let Die, Civil War, Nightrain, Estranged, Yerterdays, Used To Loved Her, This I Love, dan Better. Duff muncul menyanyikan medley You Can't Put Your Arms Around A Memory dan Attitude dari album The Spaghetti Incident?. Ada juga beberapa lagu yang diambil dari penyanyi lain, salah satunya band-nya Slash dan Duff, Velvet Revolver dengan hits mereka Slither. Sayang So Fine tidak dinyanyikan malam itu.

Malam itu saya sangat menikmati penampilan mereka. Saya mengambil beberapa foto dan merekam saat Duff menyanyi dengan iphone 5s saya (penonton tidak boleh membawa kamera pro). Tapi, untuk beberapa lagu hits yang memorable dan penting bagi saya, saya diam. Saya ingin menikmati kehadiran mereka langsung menyanyikan lagu-lagu yang dulunya hanya bisa saya dengar dari tape dan CD player. Keinginan saya menyaksikan mereka langsung dengan segala panca indra saya terwujud. Kelak, akan saya ceritakan pada anak cucu hehee. 

***

Lalu momen magis pun terjadi.
Sewaktu Axl mulai menyanyikan lagu Knockin' On Heaven's Door, saya menengadah ke atas langit. Angin dingin menyentuh wajah saya. Saya seperti merasakan kehadiran Mami. Seperti dia juga ikut nonton bersama saya. Saya menangis. 

Mama take this badge from me 
I can't use it anymore 
It's getting dark too dark to see 
Feels like I'm knockin' on heaven's door

Lagu ini seperti lagu GNR yang lain, punya beberapa part yang cukup panjang untuk instrumen musik. Di saat itulah, di antara bagian bridge lagu,  saya melihat Duff berdiri di sana di antara celah kepala orang-orang. Dia seperti menatap ke arah saya. Secara rasional, ini mungkin efek Barnum atau mungkin saya sedang berhalusinasi. Tapi, saya benar-benar merasa terkoneksi dengan Duff. Duff menulis di bukunya bahwa kadang ia tidak bisa melihat penonton karena gelap (efek cahaya panggung) meskipun ia mengaku sangat senang jika menemukan wajah para fans yang bahagia dengan permainan musik mereka. Well, peduli setan. Malam itu untuk sekitar 15 detik saya merasa terkoneksi dengan Duff. Tatapannya seolah berkomunikasi dengan tatapan saya. Ekspresi wajah saya menyambut dan nyambung dengan ekspresi wajah dia. Ketika Duff mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuknya ke langit, saya mengikutinya. Saya merinding. Ini magis. Jika kita terlalu sibuk mengambil foto dan video di setiap lagu, kita tidak akan mengalami pengalaman terkoneksi dengan Sang Musisi seperti ini. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan penonton konser GNR di Jepang pada tahun 1992. It was a breathtaking experience.

Lalu momen yang lebih religius pun terjadi.
Dengan segala kegagalan, penundaan, luka, dan kemarahan yang saya alami, Axl menyambung dengan lagu Don't Cry.

And please remember 
That I never lied 
And please remember 
How I felt inside now, honey 
You got to make it your own way 
But you'll be alright now, sugar 
You'll feel better tomorrow 
Come the morning light now, babe

Don't you cry tonight 
I still love you, baby 
Don't you cry tonight 
Don't you cry tonight 
There's a heaven above you baby 
And don't you cry tonight

Okay. Saya menangis lagi. Saya merasa malam itu Yesus ngomong ke saya melalui suara Axl. Setelah menyanyikan Don't Cry, GNR menyambung dengan akustik lagu Patience. Damn! Enough Jesus, Enough!. Saya ikut menyanyikan Patience dengan gaya seperti para umat Karismatik menyanyi. Yes, I sang religiously to this song with tears on my cheeks. 

Said sugar make it slow and we'll come together fine 
All we need is just a little patience

Konser malam itu ditutup dengan lagu Paradise City. GNR tampil solo tanpa band pembuka dan penonton tetap setia selama tiga jam. Mereka tampil prima dan terlihat solid untuk memberikan penampilan terbaik. Penonton malam itu terlihat puas sekali dan berdecak kagum berkali-kali. Saya pun demikian. Malam itu saya sangat bahagia. Sampai hari ini saya belum bisa move on dari pengalaman ini.

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, konser GNR adalah ziarah batin bagi saya yang penuh drama dan airmata. Sejak awal rencana untuk datang ke konser ini, saya berhadapan dengan keraguan, ketakutan, dan rasa malu saya. Biasanya selalu ada Mami yang menemani dan memastikan saya baik-baik saja. Namun, sekarang tidak ada Mami yang secara fisik bisa saya andalkan. Dan keajaiban sungguh terjadi.  Saya selalu mendapat teman. Saya tidak dibiarkan sendiri atau merasa sendirian. Jika bukan karena telpon Kak Emma, saya tak mungkin melihat Duff dari sisi kiri panggung dan bertemu dengan Mbak Asty dan suaminya. Firasat saya malam itu kuat sekali. Mami sudah menyiapkan semuanya. Ia menjaga saya. Ia memastikan saya baik-baik saja.

Jika Tuhan bekerja begitu detil dalam hal-hal kecil di hidup kita, kenapa kita selalu takut untuk hal-hal yang besar yang kita harapkan? Pertanyaan ini masih menggantung di langit malam bersama gerimis yang mulai turun. Saya kembali ke hotel. Dan tidak bisa tidur. Tiba-tiba ada lalat hitam di dalam kamar. Saya tersenyum. Mari Mami, kita berdoa.

***

Enjoy the photos...


Duff, Axl, dan Slash (photo : Meike)


Duff, my hero (photo: Meike)


Amazing stage. Richard Fortus (gitar) dan Duff (bass) (photo: Meike)


 Formasi Appetite, minus Steven dan Izzy. Axl was supercool (photo: Meike)


The one and only, Slash (photo : Meike)

GNR's babe (difotoin mas-mas baik hati)

Life Story

Mato'ko

Minggu, November 04, 2018

Fedora, Gunung Kidul

Untuk sampai berada disini, saya butuh waktu untuk menguatkan hati. Laili, Juni, dan Tami memberikan jawaban yang hampir sama. Saya harus pergi. Hal ini harus saya hadapi. Tidak mudah, tetapi ada pelajaran penting yang harus saya dapatkan meskipun caranya harus dengan menahan diri dari rasa teralienasi dan ketidaknyamanan. Mato'ko, begitu kata Juni. Orang yang bijak akan tetap bijak meskipun berulang kali ingin disingkirkan. Warna putih tetap putih. Kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipindahtangankan.

Ya, saya mendapatkan banyak pelajaran sejauh ini, padahal baru beberapa jam saja saya bergumul dengan mereka. Saya belajar untuk lebih banyak diam. Saya belajar untuk mendengarkan. Saya belajar untuk mengamati. Hal ini tidak mudah karena biasanya saya yang mendominasi, biasanya saya yang paling banyak berbicara, biasanya lampu sorot hanya terarah kepada saya. Namun, kali ini, saya belajar menjadi bawahan, a follower. Laili benar, musuh kita adalah kebodohan dan keserahakan. Kita tidak takut, tetapi kita harus menghadapi ketidaknyamanan ini sebagai proses belajar supaya kita tidak mengulangi kekerasan yang terus terjadi. Tami bilang, kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak mudah untuk disingkirkan.

Sejauh ini, dalam diam saya mendengarkan hampir semua prasangka saya terbukti benar. Dalam diam saya menilai bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Dalam diam dan teralienasi, saya menemukan ketenangan untuk melawan. Diam adalah kata-kata itu sendiri. Diam adalah sikap. Saya berupaya membuktikan bahwa saya bukan pengecut. Saya berupaya melawan rasa ketidaknyamanan, bahkan mungkin trauma saya sendiri. Sebuah berlian, tetaplah berlian meskipun ia dicemplungkan ke dalam lumpur. Itu kata-kata senior saya, Kak Darma, dulu sekali. Kata-kata itu terulang lagi. Diingatkan melalui Juni. Kau harus pergi. Begitu katanya. Begitu kata mereka.

Life Story

Jamur Matsutake

Jumat, Oktober 19, 2018

Apa yang menarik dari jamur? Berbeda dengan bunga, jamur tumbuh tanpa diduga. Ia menggambarkan sebuah keadaan yang tak bisa diprediksi: entah kehancuran atau kebaikan. Di Jepang, jamur Matsutake memiliki bau yang khas, bau melankolis perlambang berakhirnya musim panas dan datangnya musim gugur. Hal itu seperti suatu keadaan yang dulu pernah direnungkan Nietzsche. Masa penantian mengenai suatu ketidakterbatasan akan lahirnya modernitas. Nietzsche menyarankan kita untuk menjadi pengurai enigma di atas bukit. Berdiri berjarak dari realitas dan kebenaran. Tapi, apakah kita bisa bertahan sekarang? 

Keadaan yang tidak terduga juga tak hanya dialami dalam kehidupan alam. Pertemanan pun seringkali tak terduga. Hari ini kita bisa berkawan, tetapi besok kita adalah lawan. Yang saya sesali adalah kita bisa saja dengan mudah menghapus seribu kebaikan dengan satu kesalahan. Kita bisa dengan mudah membuang orang yang mengalami penderitaan yang sama dengan kita ketika kekuasaan dan uang berhasil membeli kita. Sistem kapitalisme tidak hanya memperlakukan alam sebagai obyek yang digarap terus-menerus (jika kita tidak berubah kita akan menunggu kehancurannya), tetapi juga mendehumanisasi orang-orang di sekitar kita. Relasi sosial menjadi transaksional, untung dan rugi. Kita tidak berpihak lagi pada kebenaran. Kita tidak lagi melakukan verifikasi realitas. Apa yang menjadi suara dominan, adalah yang benar. Kita -manusia- adalah makhluk yang paling buas di dunia ini. 

Mami pernah bilang, “Hidup akan lebih mudah jika mengikuti arus. Namun, kita adalah orang-orang yang memilih melawan arus sehingga tidak mengherankan jika kita menemui banyak kesulitan.” 

Saya jadi teringat Juni yang saat ini sedang menjalani masa vikariatnya. Ia tiba di Poso tepat sehari sebelum gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan Donggala. Bisa dibayangkan betapa berat sekaligus dahsyatnya karya yang ia perbuat pertama kali disana. 

“Ini tidak mudah dan juga melelahkan, Mei. Tapi selalu ada hal-hal kecil yang menguatkan”. Ia menyambung di chat terakhir kami berbincang-bincang, "Kuatkan ko hatimu untuk hal ini dan hal-hal yang ada di depan". 

Ketika Juni menyatakan hal itu, saya merasa jantung saya berdetak lebih cepat dua kali. Saya merinding. Ia tidak sedang menghibur. Ia sedang memperingatkan.