Life Story

Mato'ko

Minggu, November 04, 2018

Fedora, Gunung Kidul

Untuk sampai berada disini, saya butuh waktu untuk menguatkan hati. Laili, Juni, dan Tami memberikan jawaban yang hampir sama. Saya harus pergi. Hal ini harus saya hadapi. Tidak mudah, tetapi ada pelajaran penting yang harus saya dapatkan meskipun caranya harus dengan menahan diri dari rasa teralienasi dan ketidaknyamanan. Mato'ko, begitu kata Juni. Orang yang bijak akan tetap bijak meskipun berulang kali ingin disingkirkan. Warna putih tetap putih. Kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipindahtangankan.

Ya, saya mendapatkan banyak pelajaran sejauh ini, padahal baru beberapa jam saja saya bergumul dengan mereka. Saya belajar untuk lebih banyak diam. Saya belajar untuk mendengarkan. Saya belajar untuk mengamati. Hal ini tidak mudah karena biasanya saya yang mendominasi, biasanya saya yang paling banyak berbicara, biasanya lampu sorot hanya terarah kepada saya. Namun, kali ini, saya belajar menjadi bawahan, a follower. Laili benar, musuh kita adalah kebodohan dan keserahakan. Kita tidak takut, tetapi kita harus menghadapi ketidaknyamanan ini sebagai proses belajar supaya kita tidak mengulangi kekerasan yang terus terjadi. Tami bilang, kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak mudah untuk disingkirkan.

Sejauh ini, dalam diam saya mendengarkan hampir semua prasangka saya terbukti benar. Dalam diam saya menilai bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Dalam diam dan teralienasi, saya menemukan ketenangan untuk melawan. Diam adalah kata-kata itu sendiri. Diam adalah sikap. Saya berupaya membuktikan bahwa saya bukan pengecut. Saya berupaya melawan rasa ketidaknyamanan, bahkan mungkin trauma saya sendiri. Sebuah berlian, tetaplah berlian meskipun ia dicemplungkan ke dalam lumpur. Itu kata-kata senior saya, Kak Darma, dulu sekali. Kata-kata itu terulang lagi. Diingatkan melalui Juni. Kau harus pergi. Begitu katanya. Begitu kata mereka.

Life Story

Jamur Matsutake

Jumat, Oktober 19, 2018

Apa yang menarik dari jamur? Berbeda dengan bunga, jamur tumbuh tanpa diduga. Ia menggambarkan sebuah keadaan yang tak bisa diprediksi: entah kehancuran atau kebaikan. Di Jepang, jamur Matsutake memiliki bau yang khas, bau melankolis perlambang berakhirnya musim panas dan datangnya musim gugur. Hal itu seperti suatu keadaan yang dulu pernah direnungkan Nietzsche. Masa penantian mengenai suatu ketidakterbatasan akan lahirnya modernitas. Nietzsche menyarankan kita untuk menjadi pengurai enigma di atas bukit. Berdiri berjarak dari realitas dan kebenaran. Tapi, apakah kita bisa bertahan sekarang? 

Keadaan yang tidak terduga juga tak hanya dialami dalam kehidupan alam. Pertemanan pun seringkali tak terduga. Hari ini kita bisa berkawan, tetapi besok kita adalah lawan. Yang saya sesali adalah kita bisa saja dengan mudah menghapus seribu kebaikan dengan satu kesalahan. Kita bisa dengan mudah membuang orang yang mengalami penderitaan yang sama dengan kita ketika kekuasaan dan uang berhasil membeli kita. Sistem kapitalisme tidak hanya memperlakukan alam sebagai obyek yang digarap terus-menerus (jika kita tidak berubah kita akan menunggu kehancurannya), tetapi juga mendehumanisasi orang-orang di sekitar kita. Relasi sosial menjadi transaksional, untung dan rugi. Kita tidak berpihak lagi pada kebenaran. Kita tidak lagi melakukan verifikasi realitas. Apa yang menjadi suara dominan, adalah yang benar. Kita -manusia- adalah makhluk yang paling buas di dunia ini. 

Mami pernah bilang, “Hidup akan lebih mudah jika mengikuti arus. Namun, kita adalah orang-orang yang memilih melawan arus sehingga tidak mengherankan jika kita menemui banyak kesulitan.” 

Saya jadi teringat Juni yang saat ini sedang menjalani masa vikariatnya. Ia tiba di Poso tepat sehari sebelum gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan Donggala. Bisa dibayangkan betapa berat sekaligus dahsyatnya karya yang ia perbuat pertama kali disana. 

“Ini tidak mudah dan juga melelahkan, Mei. Tapi selalu ada hal-hal kecil yang menguatkan”. Ia menyambung di chat terakhir kami berbincang-bincang, "Kuatkan ko hatimu untuk hal ini dan hal-hal yang ada di depan". 

Ketika Juni menyatakan hal itu, saya merasa jantung saya berdetak lebih cepat dua kali. Saya merinding. Ia tidak sedang menghibur. Ia sedang memperingatkan.

Kisah Perempuan

Komentar Untuk Astrid (Crazy Rich Asian)

Rabu, September 19, 2018

*Astrid Leong Teo (portrayed by Gemma Chan)



Tak ada yang lebih sempurna dari Astrid. Ia adalah produk dua sistem besar di dunia: patriarki dan kapitalisme. Untungnya Astrid adalah tokoh fiktif tentang idealnya perempuan yang harusnya hidup di dunia. Cantik, pintar, kaya raya, dan baik hati pula. Astrid is the Goddess, the best of them all. Gadis kecil yang rumahnya dalam gerobak sampah tak sanggup bermimpi menjadi Astrid di saat dewasa. Tapi kalau sungguh makhluk seperti ini ada di dunia, maka waktu pembagian gen dan nasib, kita kemana aja ya? 

Maka, simaklah pembicaraan empat kelompok manusia mengenai kisah Astrid.

Kaum Pesimis: Alamak. Sudah sesempurna itu masih juga diselingkuhin suami. Gimana dengan kita yang bagaikan remah-remahan rempeyek. 

Kaum Optimis: Nah, itu membuktikan bahwa kecantikan, kepintaran, atau kekayaan bukan segalanya. Kekayaan batin yang sumbadra itu yang dicari.

Kaum Pesimis: Tapi...tapi... Pak Karno dulu rela loh ninggalin Ibu Inggit demi Ibu Fat. Kurang sumbadra apa coba Ibu Inggit itu. Semuanya diserahkan demi perjuangan Pak Karno. Toh, tetap ditinggalkan demi alasan ingin punya anak sendiri. Sekalinya menikah dengan Bu Fat dan punya banyak anak, si Bapak juga tetap cari gadis-gadis lain (4 yang diakui negara, 9 yang diketahui publik, dan tak terungkap entah berapa). Apa sih yang dicari? Apa sih yang butuh untuk mendapat pengakuan?

Kaum Optimis: *kemudian hening*

Kaum Kritis : Plis deh... analisis baik-baik. Kalian senang Astrid bebas dari suaminya yang peselingkuh itu. Kalian senang Astrid bisa membela dirinya. But, Hellooo??? Astrid ini lebih tajir mampus dan powerful dari suaminya (sebaiknya baca bukunya karena lebih jelas kesatirannya daripada filmnya yang merayakan konsumerisme ini). Kalau kamu masih menganggap Astrid menderita, kalian salah. Tidak ada orang yang berkuasa yang menderita.

Kaum Optimis dan Pesimis saling berpandangan, nggak ngerti.

Tiba-tiba muncullah Kaum Religius yang selalu bisa melihat dua sisi sama baiknya.

Kaum Religius: Wahai Kaum Pesimis dan Kaum Optimis, berhentilah menggosip. Astrid hanyalah tokoh fiktif. Mari kita berdoa untuk mengadapi masalah yang lebih realistis. Semoga pemilihan presiden tahun depan lancar jaya. Jangan lupa untuk memilih anggota legislatif yang kompeten juga. Ingat loh, presiden dan para legislator sama pentingnya. Bisa-bisa undang-undang kita kacau balau kalau para legislatornya para preman dan penipu. 

Kaum Pesimis dan Kaum Optimis bengong. 

"Kaum Religius ini kayak Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung go*** !!! 

Love Story

Tentang Mencintai

Senin, September 10, 2018

Bunda Maria memberikan teladan yang luar biasa dalam mencintai:


"Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau harus kuat melepaskannya..."

Aku dan Tuhan

Ia Telah Menyelesaikan Pertandingannya Dengan Baik

Minggu, September 09, 2018



photo by Johann Siemens (https://unsplash.com/search/photos/tree)


Hari itu akhirnya datang juga. Hari yang paling kutakutkan seumur hidup. Yang pernah kubayangkan akan kuhadapi dengan suami dan anak-anakku kelak. Tetapi kenyataannya, aku menghadapinya bersama Daddy berdua. Kami sedang berjalan dalam badai, tetapi Tuhan berjalan bersama kami. Ia menguatkan langkah kami untuk saling menguatkan dan mendampingi. Ia tidak pernah membiarkan kami berjalan sendirian. Ia selalu mengirimkan orang-orang yang menolong kami seperti dahulu Simon dari Kirene menolong-Nya memikul salib. 

Ya, hari itu tiba tanpa semarak. Ia datang dengan tanda-tanda yang baru bisa kucerna setelah semuanya terjadi. Mami telah pergi. Ia tak bisa dijangkau secara fisik lagi. Tetapi jika kau peka saja sedikit. Ketika kau melihat dengan mata rohanimu, Mami tidak pergi kemana-mana. Ia tetap mengiringi. Ia tetap mendoakanmu. Ia bersamamu meski tak terjangkau oleh nafas dan denyut jantung. Mami ada dimana-mana. Tidak terasa perbedaannya. Ia seolah tidak pernah mati. Ia mendapat kehidupan kekal seperti yang dijanjikan Tuhan pada kita. Hanyalah tirai yang membatasi kita untuk bersentuhan dengannya secara fisik. Tetapi dia lebih hidup daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bersedih jika aku tahu bahwa Ibuku berbahagia disana?

Mamiku telah memberikan teladan sepanjang hidupnya. Seorang perempuan yang tetap setia dan bersandar pada Tuhan. Ia adalah ibu dan seorang sahabat. Mami telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik. Ia telah sampai di garis akhir. Dan ia tetap memelihara iman. Ia adalah bukti nyata bagaimana orang yang hidup di dalam Kristus dan mati di dalam Kristus. Ia mati dalam keadaan siap. Ia meminta dipangil dalam keadaan siap. Ia taat sampai mati. Ia telah mempersiapkan segala sesuatu.

Mami menghembuskan nafas terakhir di pelukan Daddy, kekasihnya yang setia. Ia dikelilingi oleh orang-orang banyak yang mencintainya. Ia telah berpamitan dengan orang-orang. Ia telah menikmati sisa hidupnya. Ia bahkan telah menyiapkan kostum yang ia akan pakai untuk bertemu dengan Tuhan. Semasa hidup, Mami paling membenci ketidakadilan, segregasi, dan penindasan. Ia terlahir sebagai putri Maluku Tengah dengan campuran Belanda yang jasadnya dibungkus kain tenun Maluku Tenggara. Ia konsisten memperjuangkan hal-hal itu bahkan sampai mati. Mami pergi pada jam yang sama dengan Yesus. Ia dikuburkan pada hari Jumat Pertama. Dalam tradisi Gereja Katolik, hanya orang-orang terberkati yang mengalami hal itu. Peringatan 40 Hari kepergian Mami bertepatan dengan perayaan Bunda Maria diangkat ke surga dan ulang tahun Daddy. 

Mami menyimpan segala perkara di dalam hatinya. Ia yang selalu berkata “jadilah kehendak-Mu”. Mami memberikan contoh yang luar biasa untuk tidak perlu takut menjalani hidup. Ia memilih mengejar harta rohani daripada mengumpulkan harta duniawi. Ia dan Daddy yang mewariskan kepadaku keinginan untuk mengejar pengetahuan. Harta benda bisa lenyap, tetapi pengetahuan tidak akan berlalu.

Mami tidak punya apa-apa selain selalu memberikan hati dan kehadirannya untuk orang lain. Saat ia pergi, berbagai macam orang dari latar belakang suku, agama, kelas sosial, dan ideologi datang memberikan penghormatan terakhir. Orang-orang menangis tidak saja karena kehilangan, tetapi tangis itu juga bermakna harapan. Mami mendapat tempat terdepan di pemakaman umum di kota kami. Semasa hidup Mami tidak suka duduk di belakang, tidak dalam gereja tidak dalam acara-acara apapun. Ia mengajarkanku untuk percaya diri dan berani. Mami selalu percaya Tuhan akan menyiapkan semuanya. Dan memang benar. Tuhan kemudian memberikan tempat peristirahatan yang terbaik untuknya. Mami bahkan membuka jalan bagi kami.

Ada sebuah rahasia yang Mami simpan dalam hatinya. Rahasia besar yang kini sedang kami hadapi. Aku memegang tangan Daddy erat-erat. Mendampinginya dan menguatkannya seperti dulu Mami melakukannya. Mami adalah seorang pendoa, makanya jiwanya akan selalu mendoakan siapa saja. Terngiang kembali suara Mami di telepon sebelum ia pergi menghadap Kekasihnya beberapa waktu yang lalu, “Tuhan, selamatkan anakku….”

Selamat jalan Mami. Sampai bertemu kembali.

08 September, pada hari peringatan ulang tahun perkawinan orang tuaku yang ke-28 tahun.