Sabtu, 02 Juli 2016

Akhirnya...Brandenburger Tor

Sebelum membaca tulisan di bawah ini. Bacalah dahulu tulisan berikut.

Sudah?

Oke lanjut...

Sembari menuliskan ini saya jadi teringat judul bukunya Eka Kurniawan yang berjudul "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi". Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya bermimpi. Saya tidak akan pernah melupakan mimpi itu karena begitu nyata. Di dalam mimpi itu saya sedang berada di perbatasan menuju Jerman. Suasananya sangat gelap. Yang terlihat hanyalah Branderburger Tor dengan lampunya yang menyala terang. Simbol reunifikasi Jerman itu menjadi ikon negara dan ibukota-nya Berlin. Saya berusaha menuju Branderburger Tor tetapi seberapa keras saya mencoba, saya hanya sampai di depan gerbangnya tanpa berhasil melalui gerbang itu. 

Saya terbangun dan merasa sedih karena saya tidak tahu kapan saya akan benar-benar menggenapi mimpi itu. Perjuangan melanjutkan pendidikan bukanlah perjalanan yang mudah bagi saya. Membangun sesuatu dari nol bukanlah perkara mudah. Roma memang tidak dibangun dalam semalam. Penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison tidak rampung dalam satu, dua kali percobaan. Tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa. Meskipun demikian, saya selalu menyimpan harapan itu di dalam hati. Tetap sabar melakoni peran yang diberikan kepada saya dengan tabah. Saya masih bersyukur karena meskipun jalan yang dilalui tidak mudah, saya banyak diberi kemudahan. Saya mendapatkan teman-teman baru, pengalaman-pengalaman baru, dan perasaan sukacita meskipun yang saya alami berat. Dan Tuhan tidak pernah lupa pada doa yang diucapkan dengan sepenuh hati. Ia setuju. Jawabannya Ya. 


Akhirnya untuk pertama kali...


Meike di Brandenburger Tor, Berlin-Jerman, taken by Mas Agung


Saya masih berjuang untuk meraih cita-cita saya. Semuanya butuh waktu. Semuanya melalui proses. Setidaknya saya sudah diperkenalkan kehidupan disana. Di negara tempat saya ingin sekali menuntut ilmu. Semoga Tuhan menjaga mimpi ini. 

Sehingga Ia akan menjadikan semuanya indah pada waktu-Nya. 





Pankow - Berlin, 19 Juni 2016

Rabu, 06 April 2016

(Seminggu setelah Odontektomi)

Gusiku sayang,
Biarkanlah air liur menyelaputi serat-serat dagingmu yang halus.
Biarlah tulang-tulang mudamu tumbuh menutupi rahang dan saraf yang trauma.
Karena luka itu merah, dalam, dan menganga lebar.
Dan kau ajari aku,
Bahwa sakit adalah bagian dari kehidupan.

Jangan kau bersedih atas gigi yang tanggal
atau seserpih akarnya yang menusukmu dalam.
Jangan kau jadi masokis karena rindu.
Relakan ia pergi dalam keadaan patah dan kalah.
Dan belajarlah wahai Gusiku sayang,
bahwa kesembuhan selalu dimulai dari rasa sakit.


(kaliurang, 6 april 2016)

Larung

"Larung Lanang namanya. Anak yang aneh. Beratnya 46 kg. Tapi matanya tajam. Tak ada yang besar pada tubuhnya, tapi aku merasa ia tidak ringan. Ia pendek, tapi aku merasa ia dalam. Ia adalah kontradiksi yang mengejutkan."

 (Larung - Ayu Utami, hal. 104)





NB: dia mengejutkanku.

Minggu, 27 Maret 2016

Jalan Salib

sumber gambar: www.mysoulpurpose.org


1.     Yesus dihukum mati
    Ingatanku masih jelas mengingat hari itu, sejelas aku mengingat ulang tahunku sendiri. Aku memutuskan berjalan di jalan para Begawan. Aku ingin menjadi brahmani. Hidup tanpa pikat duniawi. Aku ingin mengabdi pada pengetahuan dan kemanusiaan. Hadiahku pasti. Jiwaku merdeka karena aku berdaulat atas tubuh dan pengetahuanku. Aku menerimanya dengan penuh iman dan bersandar pada Allah. Aku percaya Allah berjalan di depanku seperti ketika dulu Ia berjalan memimpin Israel ke luar dari tanah Mesir.

2.     Yesus memanggul salib
     Ternyata tidak mudah menjadi seorang brahmani. Kau harus berguru pada para Begawan. Kau harus mengabdi pada mereka. Kesunyian adalah kawanmu yang paling karib. Kadang kau merasa sendiri. Kadang kau tak dimengerti. Ada masa di mana aku merasa kesepian dan merindukan pelukan. Tubuhku lelah dan pikiranku seolah tak pernah beristirahat. Aku ingin menyerah, tetapi cita-cita mengalahkan kepengecutanku. Begitulah murid. Begitulah abdi. Manisnya memabukkan tetapi pahitnya membuat nyinyir. Inilah salibku. Aku mengenang masa-masa itu sebagai momen kedekatanku dengan Allah. Jika Ia di pihakku, siapakah yang mengalahkanku?. Seperti Yesus, aku juga memikul salibku dengan penuh cinta. Aku tahu ini berat. Aku tahu jalannya panjang dan berliku. Tapi cinta yang menguatkanku untuk bertahan.

3.     Yesus Jatuh Untuk Pertama Kalinya
     Kadang-kadang aku merasa Allah lupa bahwa manusia memiliki waktu yang lebih pendek dari waktu-Nya. Aku dianugerahi kehendak bebas. Aku tak mau menunggu dalam diam. Dan kesempatan-kesempatan pun datang menjelang. Aku kini berhadapan dengan persimpangan jalan. Semuanya terasa masuk akal, namun hanya satu yang memikat. Aku dan ukuran kemanusiawianku menilainya dan berharap inilah yang terbaik. Saat itu aku juga berpikir mungkin inilah jalan Tuhan. Rasanya waktu itu Roh Kudus bekerja di dalamku. Wajahku bersinar dan ada rasa optimis. Setiap proses kulalui dengan percaya diri. Aku merasa aku layak. Aku merasa niat tulusku akan membawaku ke puncak. Sayangnya, aku terjatuh. Aku berharap lebih pada salah satunya. Aku telah terpikat pada simbol-simbol dunia. Aku berdoa, “Tuhan izinkan aku marah pada-Mu.”

4.     Yesus Berjumpa dengan Ibunya
    Perjuanganmu akan terasa ringan jika orang tuamu mendukung. Ibuku adalah orang yang memberiku semangat dunia. Imannya mengagumkanku. Jika aku lemah, aku merasa iman ibuku yang menyelamatkanku. Namun, hari itu aku meragukan imanku, yang tampaknya tidak sebesar biji sesawi pun. Aku bahkan berpihak pada Kain, Anak Sulung, Lucifer, dan seluruh tokoh antagonis dalam dongeng-dongeng. Aku seakan memahami perasaan mereka. Perasaan kecewa terkhianati dan menuduh Allah memiliki kecenderungan untuk pilih kasih. Oh, dan jangan lupakan Ayub. Allah dan Ayub adalah pasangan BDSM paling legendaris sepanjang masa. Aku tak tahu lagi, apakah aku dikasihi oleh-Nya atau tidak. Aku tak tahu lagi apakah aku menikmati penderitaan ini, atau Allah senang menyiksaku sebagai tanda cinta. Ibuku melihatku seperti Anak Hilang. Ia memilih pergi dari kamarku begitu aku menyebut Lucifer dan aku berbagai nama tengah yang sama.

5.     Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene
     Ketidakmampuanku memahami Allah membuatku marah dan sedih. Aku tidak tahu lagi: mana iman, mana cita-cita, atau mana kehendak Allah dan mana hawa nafsuku. Aku menjelma orang yang tidak aku sukai. Aku menjadi nyinyir. Banyak orang nyinyir saat ini. Mereka memposting kebencian mereka ke jagat dunia maya. Tak ada orang baik di mata mereka. Tapi nyinyirku berbeda. Seperti kata temanku, Afif, mereka nyinyir karena benci, tetapi aku nyinyir karena sedih. Aku bertemu Simone sebagai bagian dari perjalanan panjangku di sebuah kota tempatku memuridkan diri. Simone, gadis manis dengan hati devosi pada Yesus dan Bunda Maria. Ia adalah Platonian di dunia yang modern. Seperti semua pengikut Kristus, kami memikul salib kami dengan penuh cinta. Sampai suatu ketika, kami berpapasan di jalan salib yang kami lalui. Kami merasa terkhianati. Kami merasa ditinggal sendiri. Kami merasa tak berdaya. Aku dan Simone memikul salib masing-masing sambil saling menguatkan. Seperti ada tertulis, seorang sahabat menaruh kasih setiap saat dan menjadi saudara dalam setiap kesukaran.

6.     Wajah Yesus diusap oleh Veronica
    Mereka adalah oase di tengah gurun gersang. Setiap pagi aku mengawali hariku dan bermain bersama mereka. Mereka membantuku menata kembali keinginanku yang sudah berkeping-keping. Mereka –seperti sedang bermain puzzle- mencocokkan kembali potongan demi potongan agar gambar mimpiku kembali utuh. Kita akan memulainya lagi dari awal. Kamu tidak sendiri memikulnya. Berkata mereka kepadaku. Veronica menghapus kegelisahanku. Ia memantik harapanku kembali. Waktu itu aku tak tahu harus kemana. Jalan di depanku terasa gelap. Veronika datang membawa sapu tangan putih dan menghapus air mataku. Ia menancapkan kembali mimpi yang pernah kutunda. Ia meyakinkan aku untuk mencoba kembali. Bangkit dan berjuang demi sebuah harapan di Tanah Perjanjian.

7.     Yesus jatuh untuk kedua kalinya
     Aku bertemu kembali dengan serangkaian proses untuk mewujudkan mimpiku itu. Betapa berat sesungguhnya memulai kembali mimpi yang baru di atas puing-puing mimpi yang retak. Dalam proses itu, aku perlahan-lahan melangkah tahap demi tahap. Tahap pertama begitu. Tahap kedua begini. Aku lalui dengan setia. Seringkali aku dihantui kegagalan seperti mimpiku yang sebelumnya. Aku takut. Tapi api harapanku masih menyala. Dan aku tak mau kalah sebelum berperang. Aku ingin seperti Paulus, aku ingin melakukan pertarungan yang  baik.

8.     Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya
     Aku berusaha menjadi lilin meskipun saat ini aku tak yakin apakah aku mampu bersinar. Dalam perjalananku, aku bertemu banyak orang. Ada orang-orang yang mendukungku. Ada orang-orang yang menantikan kejatuhanku. Ada yang mencintaiku. Ada pula yang diam-diam menyimpan dengki. Mereka datang dan pergi. Mereka berlaku sesuai perannya masing-masing. Hidup ini memang berat. Perjalananku juga tidak mudah. Mereka yang berdarah-darah kemudian melahirkan diri mereka yang baru. Seorang yang berhati malaikat, yang menyediakan pelukan bagi siapapun yang berbeban berat. Seorang lagi menjelma iblis yang menyimpan bara di hatinya. Luka-luka itu mengeras serupa kerak di panic-panci gosong. Setiap orang bisa memilih ingin menjadi apa. Aku memilih menjadi malaikat. Aku memilih mengeluarkan dendam di hatiku. Aku tahu lagi-lagi itu tak mudah. Tapi aku mau berusaha. Aku mau belajar. Aku sudah memilih.  Cinta.

9.     Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
    Kejatuhanku dimulai lagi dari rasa iri. Iri yang membakar hati Kain dan Anak Sulung yang menggugat Bapanya. Setiap kali aku melihat mereka datang, hatiku diliputi rasa sedih. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memiliki kapital yang lebih banyak. Di dunia ini, orang-orang yang kalah adalah mereka yang tidak punya kapital. Kapital datang melalui relasi yang banyak, lahir dari keluarga terpandang, teraplikasi melalui hidup di luar negeri yang sekaligus juga mengasah kemampuan berbahasa, dan kemudian menjadi primadona di mata laki-laki selevelnya. Tak sulit bagi mereka untuk menjadi ideal. Kapitalnya kuat. Dan aku terpaksa merunduk, karena modalku hanyalah sebuah niat tulus. Niat tulus ternyata tak cukup untuk hidup di dunia ini. Aku bertanya-tanya benarkah semuanya kembali pada nasib? Tuhan atau negara-kah yang memilah nasib manusia sehingga yang satu berbeda dengan yang lain? Lalu mengapa ada yang hidupnya sempurna dan beruntung sementara ada yang hidupnya penuh penderitaan sejak ia dilahirkan ke dunia?

10. Pakaian Yesus ditanggalkan
    Ia datang tanpa semarak. Begitulah sang Mesias dilukiskan dalam kitab Yesaya. Ia mengambil rupa seorang hamba sehingga barangsiapa yang melihatnya akan memalingkan muka. Aku mengenalnya karena itu aku mencintaiNya. Setiap kali aku menangis aku memanggil namanya. Setiap kali aku berbahagia, aku mengucap namanya. Jika aku marah aku juga menyalahkanNya. Tapi Ia tetap mengasihiku. Ia berbicara padaku dengan caraNya. Ia kekasihku dan sahabatku. Kau tahu kan, kalau kau punya sahabat atau orang dekat kau tak akan sungkan untuk menceritakan apa saja atau mengumpat apa saja. Ia bersama dengan aku sejak semula. Namun, ada kalanya aku merasa Ia tega padaku yaitu ketika aku melihat ada orang lain yang mendapatkan apa yang sebenarnya hatiku mau. Mengapa Ia dengan mudah menghampiri doa orang lain, sementara doaku ia lewati?

11. Yesus disalibkan
   Jantungku tak lagi merah terbakar dan berduri. Jantungku tinggal berduri. Baranya padam bersama airmata. Aku merasa tidak berdaya. Dalam pararel Universe, aku melihat Yesus berusaha menyangkali dirinya, bersusah payah membuat dirinya tiada berdaya. Ia toh bisa saja mengedipkan mata dan cawan itu berlalu dari-Nya. Tapi Ia tidak melakukannya. Anak Manusia tetap teguh pada cinta-Nya. Kami berdua serempak berteriak “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku” namun dengan motivasi berbeda.

12. Yesus wafat di kayu salib
     Aku ingat doaku malam itu. Dalam perasaan gelisah dan tak berdaya, aku berujar, “ kehendakMu saja Bapa, apa yang kau pandang baik”. Dan Tuhan berkata tidak. Aku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya untuk dibelikan sebuah boneka beruang yang dipajang di etalase toko mainan. Boneka beruang itu berukuran sedang dan tampak nyaman untuk dipeluk. Aku menginginkannya karena boneka itulah yang mampu aku gapai. Harganya toh tak mahal-mahal amat. Tapi ibuku tak mau membelikannya. Ibu berpikir, tak semua keinginan anak harus dituruti. Anak itu akan menjadi manja dan tak memiliki karakter kuat. Bila badai datang ia tak mampu menjadi nakhoda yang mengendalikan kapal di tengah lautan luas. Ia nanti mudah terombang-ambing, terbawa arus, dan pada akhirnya karam. Maka, ibu memilih mendidik anaknya, anak satu-satunya itu supaya menjadi batu karang yang teguh. Lagipula ibunya merasa anaknya tidak butuh bermain boneka beruang lagi. Anaknya sudah beranjak besar dan lebih membutuhkan buku-buku ensiklopedia yang akan cocok dan memang dibutuhkan anak itu untuk mengasah dirinya. Boneka beruang itu tidak mendewasakan anaknya. Aku memandang salib Yesus. Hari itu aku tahu keinginanku tersalib disana.

13. Yesus diturunkan dari salib
     Biarlah kehendak Bapa yang jadi. Meskipun aku frustasi tak mengerti rencana-Nya. Meskipun aku tak tahu kapan waktu-Nya. Aku belajar berserah dan bersabar. Sudut-sudut egoisku dibentuk, dilas dengan pergumulan. Karena kuk yang Kupasang itu ringan, begitu kataNya. Akhir-akhir ini ketika bulan sedang merah, aku senang memperhatikan darah yang perlahan-lahan menuruni selangkanganku menuju ke paha, betis, dan kakiku. Aku  teringat darahnya yang juga mengalir menuruni paha, betis, dan kakiNya. Aku teringat darimana aku berasal. Siapakah aku itu.

14. Yesus dimakamkan
     Ada masa menabur, ada masa menuai. Segala sesuatu ada waktunya. Dalam hening aku berdoa. Memohon agar hatiku dipulihkan. Rasa kecewa dan marah masih ada. Tapi aku merasa, seperti pintu kubur batu yang perlahan terbuka, kecewa dan marah itu perlahan memudar, ditembusi cahaya iman, pengharapan, dan kasih. Dan paling besar di antara semuanya itu adalah kasih. 


Minggu, 13 Maret 2016

Senyum Paling Indah Di Dunia

Dia memiliki senyum paling indah di dunia
dan aku tergoda mencurinya
diam-diam aku petik bibirnya
kusembunyikan geliginya
di balik blusku merah muda
kemana-mana selalu kubawa

Dia memiliki senyum paling indah di dunia
aku mengukirnya di balik kelopak mataku
atau menguburnya di suatu tempat
tersembunyi jauh di dekat jantung
hingga tak ada orang yang tahu
sehingga aku tak hangus terbakar cemburu

Dia memiliki senyum paling indah di dunia
aku menyebut namanya
dalam doa pengakuan dosa
aku bilang ia mengingatkan aku
pada lelaki pemanah dalam kitab Mahabharata
dan lelaki suci yang dipaku di salib
ia milik semua orang
namun aku pencuri yang menyimpan senyumnya



kaliurang, 13 Maret 2016

Rabu, 17 Februari 2016

Permintaan Maaf

Hello World...


Selamat Natal 2015
Selamat Tahun Baru 2016
Selamat Tahun Baru Cina 2016
Selamat Valentine

Maafkan baru bisa mengupdate lagi. Ada banyak hal yang terjadi dan saya tak sabar untuk berbaginya dengan kalian. Tapi sungguh, saat ini banyak juga yang merintangi untuk intens nge-blog lagi. Blog ini tidak mati (dan semoga tidak), termasuk mati suri. Blog ini tepatnya sedang liburan. Saat ini saya sedang berusaha menyelesaikan apa yang harus diselesaikan supaya kita bisa bersua kembali.

Saya merindukan kalian wahai para pembaca setia, pembaca diam-diam, dan pembaca numpang lewat. Semuanya pembaca.

Maafkan.

Sabtu, 12 Desember 2015

15 Christmas Songs I'd Like To Hear

Halo Dunia...

Setidaknya dua minggu dari sekarang, Natal sudah tiba. Untuk umat Kristen, empat minggu sebelum Natal adalah masa Adventus/Advent atau penantian. Kalau dianalogikan, masa Advent persis seperti kisah Penelope dan Ullyses. Sejak Ullyses pergi berperang, Penelope selalu menanti Ullyses di tepi laut. Ia tahu Ullyses akan datang meskipun ia tidak tahu kapan. Dalam masa penantiannya, ia  digoda oleh para lelaki dan menteri-menteri yang haus tahta untuk meninggalkan suaminya. Namun, ia tetap teguh menanti suaminya. Pada akhirnya setelah 10 tahun menanti, Ullyses kembali pada Penelope. 

Penantian bukanlah perkara mudah. Kita mengharapkan sesuatu yang kita inginkan terwujud. Setelah kita berusaha, otomatis kita masuk dalam fase menunggu jawaban, apakah iya atau tidak. Kalau jawabannya iya, kita akan berbahagia, tetapi jika tidak, kita harus mengulang semuanya dari awal lagi. Ada orang yang menantikan pekerjaan, ada orang yang menantikan kelahiran anak, ada orang yang menantikan jodoh, ada orang yang menantikan kapan ujian tesisnya dilangsungkan, ada orang yang menunggu visa kerja yang belum keluar dari kedutaan, atau ada orang yang menantikan kapan penyakitnya diangkat dari tubuhnya. Setiap detik adalah masa penantian akan apa yang terjadi selanjutnya. 

Lagu-lagu Natal berikut ini saya rekomendasikan untuk menemanimu menjalani masa penantianmu. Apapun itu. 


15. It's The Most Wonderful Time of The Year - Andy Williams

Lagu-lagu Natal terbagi atas dua kategori. Pertama, lagu-lagu yang bersifat religius dan digunakan dalam ibadah. Lagu-lagu ini biasanya datang dari masa abad pertengahan atau sebelumnya merupakan lagu rakyat. Kedua, lagu-lagu Natal yang lahir dalam kebudayaan populer. Muncul setidaknya sejak industri musik Barat berkembang di awal abad 20. It's The Most Wonderful Time of The Year adalah salah satu lagu Natal yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Amerika, Andy Williams di tahun 1963. Lagu ini paling pas mengawali masa-masa Advent atau menjelang Natal. Musiknya yang grande dan cheerful sukses membawa kita dalam suasana gembira lengkap dengan imitasi momen Natal ala Barat: salju, eggnog, kue jahe, pohon Natal, dan Santa Claus. Beberapa film bertema Natal seperti Surviving Christmas juga menggunakan lagu ini sebagai backsound-nya.




14. Rockin Arroud The Christmas Tree - Brenda Lee

Lagu ini juga dinyanyikan penyanyi legendari Amerika Brenda Lee di tahun 1958. Lagu ini juga jadi backsound di film The Holiday, pas di adegan Cameron Diaz lagi belanja di supermarket di Surrey. Lagu ini juga menghadirkan suasana gembira. Liriknya bercerita tentang momen-momen pada saat Natal. Pohon Natal sebagai penanda Natal. Mistletoe yang tergantung dan membuat banyak pasangan yang berhenti dan berciuman di bawahnya. Namun, lagu ini juga menceritakan sentimental feeling yang hadir pada saat Christmas: apakah feeling dengan keluarga, teman, atau bahkan someone special yang entah dimana.





13. I Saw Mommy Kissing Santa Claus - The Jackson 5

Lagu ini sudah banyak dinyanyikan penyanyi, termasuk The Beatles. Tapi saya paling suka versi The Jackso 5 karena lebih dapat gregetnya. Lagu ini memorable bagi saya sejak masih Sekolah Minggu (yang masuk disini usia balita-SD). Waktu itu kakak-kakak Teruna (tingkatan selanjutnya setelah Sekolah Minggu, biasanya setelah masuk usia SMP-sampai setelah peneguhan Sidi atau usia 17 tahun) yang tergabung dalam Paduan Suara Teruna menyanyikan lagu ini dalam ibadah Natal. Mereka keren banget waktu itu. Selain lagu I Saw Mommy Kissing Santa Claus, mereka juga menyanyikan lagu Oh Happy Day dan I Will Follow Him persis seperti paduan suara remaja di film Sister Act II. Penampilan mereka menjadi perbincangan di gereja. Saya dan teman-teman saya yang masih Sekolah Minggu cuma bisa memble. Sayangnya, saya tidak pernah menyanyikan lagu ini sampai ketika saya masuk Paduan Suara Teruna. Sebagai catatan, kami hanya menyanyikan lagu Oh Happy Day dan di lagu itu saya pernah dipercayakan jadi soloisnya hihihi. 
Oiya, lagu ini ceritanya lucu, bercerita tentang seorang anak yang melihat ibunya mencium Santa Claus (kelak setelah dewasa si anak tahu kalau Santa Claus itu adalah ayahnya hehee..)




12. Oh Christmas Tree - Glee Cast

Lagu ini juga banyak dinyanyikan penyanyi, termasuk penyanyi besar Aretha Franklin. Tapi seperti biasa, saya lebih suka versi Glee Cast yang temponya pas. Biasanya lagu ini temponya lambaaaattt banget. Lagu ini kembali hip di tahun 2010. Saya ingat ponakan saya Blessdy yang waktu itu baru berumur 3 tahun menyanyikan lagu ini untuk acara Natal di playgroupnya. Dan berkat dia, lagu ini menjadi soundtrack sewaktu saya saat merayakan Natal di Ambon.





11. Santa Baby - Eartha Kitt/Glee Cast

Lagu ini juga seangkatan dengan lagu Rockin Arround The Christmas Tree. Dirilis tahun 1953 dan dinyanyikan oleh Eartha Kitt. Santa Baby bercerita tentang seorang perempuan yang menulis daftar hadiah Natal yang mewah kepada Santa Claus. Lagu ini dinyanyikan dengan seksi dan diiringi musik yang jazzy. Kalau mau yang lebih modern, bisa dengarkan juga yang versi Glee Cast. Dua-duanya terasa seksi dan heartwarming.





10. This Christmas - Chris Brown

Lagu ini merupakan soundtrack film This Christmas yang dibintangi juga oleh Chris Brown. Musiknya memang lebih easy listening dan modern. Saya pertama kali mendengarkan lagu ini di Jakarta pada waktu Natal tahun lalu. Lagu ini ada di dalam kompilasi Motown Christmas 2014. Setiap dengar lagu ini saya jadi ingat momen-momen Natal tahun lalu itu bersama keluarga saya disana.





9. All I Want For Christmas Is You - Mariah Carey

Lagu ini selalu jadi lagu Natal yang ada dalam playlist saya. Memang cerita lagunya galau, tapi saya suka karena ada optimisme disana. Mariah Carey menyanyikan lagu ini di tahun 1994 dan sukses bertahan sebagai lagu Natal yang merajai tanggal lagu di dunia. Lagu ini juga sering dinyanyikan ulang oleh penyanyi lain dan muncul sebagai backsound di film-film bertema Natal seperti Love Actually. All I Want For Christmas Is You adalah lagu yang sukses membuat para jomblowan  dn LDR-an bertahan mengharapkan keajaiban cinta bahkan saat Natal. 





8. It's Christmas Time - Smokey Robinson

Sama seperti This Christmas-nya Chris Brown, lagu ini juga saya dengar dalam album Motown Christmas 2014. Di album itu, musiknya lebih fresh dan temponya agak cepat ketimbang versi pertamanya yang dirilis di tahun 1970-an. Oiya, musiknya rada-rada gloomy jadi lebih cocok didengarkan saat malam.





7. Happy Christmas (War is Over) - John Lennon and Yoko Ono

Lagu ini diciptakan oleh John Lennon dan Yoko Ono pada tahun 1971 yang sebenarnya lebih menjurus ke aktivisme mereka saat Perang Vietnam daripada semangat Natalnya. Tapi entah bagaimana, lagu ini tetap dianggap sebagai salah satu lagu Natal (holiday) dan single hits dari John Lennon setelah ia hengkang dari The Beatles.






6. It Came Upon The Midnight Clear - Norah Jones

Lagu Natal ini berasal dari tahun 1800-an. Liriknya memang lebih religius dan biasanya dinyanykan dalam kebaktian. Tapi beberapa penyanyi populer mendaur ulang lagu ini mulai dari Frank Sinatra sampai Norah Jones. Versi dari Norah Jones ini yang paling saya suka karena lebih modern dan temponya pas (versi Frank Sinatra temponya terlalu lambat sementara versi Paul Baloche temponya terlalu cepat). Norah Jones membuat lagu ini lebih easy listening sehingga membuat perasaan kita menjadi heartwarming sekaligus juga jadi mellow. Oiya, kekuatan lagu ini memang di nada-nada minornya. It Came Upon The Midnight pernah muncul jadi backsound di salah satu episode Ally McBeal.





5. Please Come Home For Christmas - Bon Jovi

Lagu ini datang dari era tahun 1960-an dan dinyanyikan oleh penyanyi blues Charles Brown. Lagu ini juga sering didaur ulang oleh banyak penyanyi, termasuk band-band kece seperti Eagles, Bon Jovi, dan Lady Antebellum.





4. It's Gonna Be a Cold Cold Christmas - Dana 

Lagu ini adalah "All I Want For Christmas Is You" tahun 1970-an yang juga mengikuti protonya yaitu Blue Christmas yang dinyanyikan Elvis Presley di tahun 1960-an. Inti lagu-lagu ini adalah: "Natal tuh gak lengkap tanpa kamu, beb...".





3.  I'll Be Home For Christmas - Glee Cast

Lagu ini adalah "Home"-nya Michael Bublè versi Natal. I'll Be Home For Christmas juga merupakan lagu lama yang dirilis tahun 1943 oleh Bing Crosby. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang merindukan rumahnya pada saat Natal. Lagu ini jadi soundtrack Natal saya sewaktu pertama kali pindah ke Jogja. Saat itu dua minggu sebelum Natal, hujan keras pada malam hari, serta setumpuk paper UAS yang harus dipikirkan membuat lagu ini sebagai memori yang tak terlupakan. Lagi-lagi saya suka versi yang dinyanyikan Glee Cast meskipun sudah banyak penyanyi yang mendaur ulang lagu ini.





2. Have Yourself A Merry Little Christmas - James Taylor

Judy Garland mengabadikan lagu ini ketika yang menyanyikannya kepada Margaret O'brien di film Meet Me in St. Louis pada tahun 1943. Lagu yang ditulis Hugh Martin dan Ralph Blane ini dinobatkan sebagai lagu Natal paling sedih sepanjang masa. Sudah tak terhitung berapa penyanyi yang mendaur ulang lagu ini, termasuk Frank Sinatra, Ella Fitzgerald, Michael Bublè, sampai Sam Smith. Tapi saya lebih suka versi yang sederhana seperti yang dinyanyikan James Taylor. Dengan suaranya yang sendu, James Taylor menghidupkan suasana mellow (atau desperate) malam Natal anda.





1. My Grown Up Christmas List - Kelly Clakson

Selama ini Have Yourself A Merry Little Christmas selalu jadi numero uno lagu Natal saya. Tetapi, tahun lalu, posisi itu digantikan dengan lagu My Grown Up Christmas List. Lirik lagunya memang dalam dan unselfishly Christmas wishes. Lagu ini diciptakan oleh David Foster dan (mantan) istrinya Linda Thompson. Saking terinspirasinya dengan lagu ini, saya menuliskan prosa yang dimuat di webzine Revi.us  tahun lalu. Lagu ini mengandung semangat Natal, termasuk kasih yang melampaui segala batas.








P.S.: Untuk Kak Emma, selamat mendengarkan...