Mantra Kalimat

Kata June

Senin, Juli 24, 2017


Karena Dia berkorban tidak setengah-setengah, bahkan sampai mati. Maka, kita juga seharusnya tidak setengah-setengah untuk percaya. 

- Junita. 

Aku dan Tuhan

Gedono

Senin, Juli 17, 2017

*Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, Salatiga (foto: Meike)



Di tempat ini, keheningan adalah sahabat yang dicari. Alam menjadi ruang pertemuan antara yang fana dan yang Ilahi. Sekilas terasa tembok-temboknya mengingatkanmu pada suasana pedesaan di Eropa, namun bangunannya menghidupkan keasrian tanah Jawa dan Sumatra. Romo Mangun, sang arsitek (meskipun tak sampai selesai), adalah lelaki yang romantis. Ia merancang suatu tempat bersemayam bagi para perempuan pemuja misteri Kristus.

Para perempuan itu mengabdikan hidupnya dengan kaul dan ketaatan. Dalam kesederhanaan, mereka menyambut tubuh Kekasihnya dengan doa dan wajah berseri. Seumur hidupnya, mereka memuja Tuhan tujuh kali dalam sehari, mendoakan dunia. Bibir mereka tak hentinya mendaraskan Mazmur. Tangan-tangan mereka tak henti bekerja: menanam sayur-buah, membuat kefir dan butter, juga membersihkan segalanya. 

Hari itu tak banyak orang. Hanya kami dan seorang ibu paruh baya yang datang mencari sang Hening. Seorang perempuan yang cemas hati dan tak kuat dengan kejamnya waktu. Seorang perempuan yang menanti jawaban. Seorang perempuan dengan harapan yang tak muluk. Para lelaki dengan pikirannya masing-masing: pada panggilan atau realita. Masing-masing asyik dengan pergumulannya.

Kala malam, bulan purnama menggantung di langit. Seperti tahu bahwa kami membutuhkan teman. Mungkin juga pertanda akan adanya harapan. Di kala terang, matahari memberikan lukisan indah kompleks pertapaan dengan Gunung Merbabu sebagai latarnya. Siapakah lagi gerangan Sang Seniman itu?

***

Disinilah aku, dengan segala gelisahku, menangis tersedu-sedu.




Gedono, 7-9 Juli 2017

Life Story

Orbituari: Wulan Zaty Sari

Selasa, Juni 27, 2017

*Kak Wulan dan saya (2013)


Dia pernah bernama Wulan Zaty Sari. Teman-temannya memanggilnya Wulan atau Uland. Karena dia lebih tua tiga tahun dari saya, maka saya memanggilnya Kak Wulan atau Kakak Uland. Berita kematiannya kuterima dengan rasa tak percaya. Di hari kedua Lebaran, tiga hari setelah ulang tahunnya yang ke-29 tahun, Kak Wulan menghembuskan nafas terakhir setelah menderita melawan kanker payudara. Ia tak pernah bercerita mengidap penyakit yang mematikan ini pada teman-temannya. Penyebab kematiannya ini membuat kami menjadi shock karena ia tak pernah menampakkan tentang sakitnya. Setidaknya bagi kami yang tinggal berjauhan dengannya, ia selalu tampak baik-baik saja. Kepergiannya menjadi rahasia, namun kebaikan hatinya menguar mencabik-cabik rahasia itu.

***

Pertemuanku dengan Kak Wulan bermula ketika kami sama-sama kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin. Ia adalah seniorku dan merupakan bagian dari satu keluarga besar KOSMIK (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi, suatu himpunan mahasiswa jurusan di Unhas). Selama kuliah di Unhas, hubungan kami terbilang baik meskipun tidak juga dibilang akrab atau dekat. Tak banyak cerita yang kuketahui tentangnya di masa-masa kuliah di Unhas. Dalam ingatanku, selalu ada yang menarik dari perempuan ini. Tubuhnya kecil, tetapi suaranya besar. Ia punya tawa yang khas dan senyum yang manis memikat. Ia suka naik gunung, membaca buku-buku cultural studies, dan seorang Milanisti sejati. Hanya itu yang kuketahui. 

Namun, Tuhan telah mempertemukan kami dalam suatu simpul hidup yang unik dan singkat. Kak Wulan lebih dulu lulus kuliah dan bersama teman-temannya membuka usaha travel untuk kampung bahasa di Pare, Kediri. Tahun 2013, saya lulus kuliah dan langsung melanjutkan studi S2 di Ilmu Komunikasi, UGM. Sebelum berangkat, beberapa senior KOSMIK mengabarkan jika Kak Wulan juga sedang mengambil S2 disana. Tapi berita itu muncul sebagai sekilas info. Ketika saya sudah pindah ke Jogja dan ngekos dengan Kak Piyo, salah seorang senior KOSMIK juga, Kak Wulan tiba-tiba menelpon saya. Ia mengabarkan bahwa ia masuk di angkatan yang sama dengan saya dan meminta informasi tentang penerimaan mahasiswa baru. Saya gembira luar biasa karena akhirnya saya mendapatkan teman seperjalanan. Saya tidak sendirian. Kami tidak sendirian. 

Telepon itu adalah awal kedekatan kami, bukan saja sebagai senior-junior di KOSMIK atau teman seangkatan di Pasca UGM, tetapi menjadi teman sesama rantau dan terlebih lagi saudara. Kami sama-sama anak tunggal. Hidup merantau pertama kali sungguhlah berat bagi saya. Apalagi menjalani kuliah dengan sistem yang berbeda dengan sebelumnya. Lingkungan dan budaya yang jauh berbeda dengan di Makassar bukanlah perkara mudah. Proses adaptasi bukanlah sesuatu yang diubah dalam semalam. Namun, bersama Kak Wulan-lah perjalanan menempuh semester awal di UGM menjadi lebih ringan. Ia mendorong saya untuk berani dan mandiri. Saya mempercayai dia adalah penolong yang dikirim Tuhan. 

Masih kuingat ketika kami sama-sama baru pindah ke Jogja. Baik saya maupun Kak Wulan tidak punya kendaraan dan tidak bisa naik kendaraan bermotor. Maka, transportasi umum adalah kawan karib kami. Dulu ia pernah menemani saya malam-malam mencari Toko buku Kanisius di Kotabaru dengan menggunakan Trans Jogja. Tetapi, dasar orang baru kami malah naik Trans Jogja jurusan menuju Janti. Bagi yang tidak tinggal di Jogja, Kotabaru dan Janti adalah dua wilayah yang berlawanan arah. Padahal sebenarnya jarak Kotabaru dan tempat tinggal kami cukup dekat. Kak Wulan dulu ngekos di daerah Sendowo sementara saya di Jalan Kaliurang Km 4,5. Setelah cukup lama tinggal di Jogja, kami sering menertawai kejadian itu.

***

Selama kuliah di UGM, kami menempuh konsentrasi studi yang berbeda. Meski sama-sama satu jurusan, Kak Wulan mengambil konsentrasi Manajemen Komunikasi (MK) sementara saya mengambil Ilmu Komunikasi dan Media (IKM). Jam kuliah kami berbeda dan meskipun ada mata kuliah umum, kelas kami tidak selalu bertemu. Ada satu kuliah yang kebetulan kami sama-sama sekelas, yaitu Metodologi Penelitian Kuantitatif. Demi Tuhan, itu mata kuliah yang paling susah nyangkut di otak saya karena banyak menghitungnya. Kak Wulan juga sama. Namun, disitulah saya melihat semangat dan kegigihannya. Jika ada sesuatu yang ia belum temukan jawabannya, ia akan mencarinya sampai dapat. Di saat saya sudah menyerah, ia selalu membawa harapan, “Tunggu dulu dek nah, kupelajari ki dulu,” begitu ia berkata lalu setelah itu mengajak untuk belajar bersama.

Suatu ketika, di tengah-tengah semester awal yang berjalan, Kak Wulan memberitahuku tentang kesempatan menjadi PNS di BNN (Badan Narkotika Nasional). Ia menghadapi dilema harus memilih antara melanjutkan kuliahnya dan bekerja dengan ritme perjalanan seperti yang ditetapkan bagian penyuluh di BNN. Sesungguhnya ia tampak tak bahagia kuliah disana meskipun nama besar almamater membawa kebanggaan. Ia merasa telah salah masuk konsentrasi yang ternyata sama sekali di luar ekspektasinya. Manajemen Komunikasi lebih dekat dengan sistem public relations sementara passion-nya adalah cultural studies sehingga harusnya ia mengambil Kajian Budaya Media atau paling tidak masuk di konsentrasi yang sama dengan saya. Tapi yang paling membuatnya tidak betah adalah kultur individualisme dan persaingan di kampus. Meski ia perempuan yang periang dan supel, teman dekatnya di konsentrasi itu hanya beberapa. Walaupun demikian, Kak Wulan telah menanamkan rasa aman dan nyaman, suatu ikatan yang membuat teman-teman dekatnya merasa sayang padanya. Ketika akhirnya ia memilih BNN, kami merasa ditinggalkan, kehilangan, namun juga ikut berbahagia atas berkat yang ia dapatkan.

Kami tahu ia memiliki pertimbangannya sendiri. Dalam proses penerimaan BNN, ia selalu bercerita tentang proses yang ia hadapi. Walaupun demikian, Kak Wulan telah memperlihatkan sisi kesetiakawanan dan tanggung jawabnya sebagai “kakak dan teman”. Meski sudah diterima di BNN dan harus segera pindah untuk melakukan prajab, ia tetap menemani kami hingga semester awal berakhir. Kak Wulan membantu kami mengerjakan tugas akhir kuliah sebagai hadiah perpisahan. Disitulah saya melihat Kak Wulan sebagai perekat di antara kelompok kecil kami (saya, Ayu, Mbak Novi, juga teman-teman yang lain seperti Nissa, Feby, Zian, Mas Febri, Lina, dan Mbak Eka). Setelah ia pindah, kami mulai tercerai-berai. Jadwal kuliah yang berbeda dan kesibukan menulis tesis membuat kami terfokus pada diri sendiri.



Foto terakhir kami sebagai gang (saya, Kak Wulan, Ayu, dan Mbak Novi) sebelum Kak Wulan pindah dari Jogja dan Mbak Novi menikah (2013).


Jogja akan selalu menjadi kota kenangan untuk kami. Disinilah kami berbagi suka duka sebagai perempuan dan perantau. Kami paling sering menertawakan ironi. Mulai dari kusamnya warna kulit gegara bergaul dengan panas matahari, tentang mantan pacar yang berselingkuh dan minta balikan lagi, tentang teman yang berkhianat, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, tentang keinginan mengunjungi kota-kota di luar negeri, dan tentang cita-cita melanjutkan pendidikan. Ya, Kak Wulan selalu ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan ketika ia sudah menjadi PNS pun, melalui telepon, ia menyampaikan cita-citanya untuk sekolah lagi. Tak tanggung-tanggung ia ingin mengejar pendidikan ke luar negeri. 

Di masa perantauan ini, saya mulai mengenal sisi pribadinya yang lain. Pribadi yang berbeda dengan yang saya kenal dulu sewaktu masih sebagai juniornya di Unhas. Ternyata kami adalah teman diskusi yang sinkron (begitu katanya). Satu hal yang sungguh tak terduga, ia ternyata penyuka lagu-lagu lama. Sama seperti saya, Kak Wulan juga mudah terkena radang tenggorokan. Hingga suatu kali, saya bercanda bahwa kita berdua seharusnya menikah dengan dokter THT supaya berobat gratis. Dia tertawa renyah. Di mataku, Kak Wulan adalah pribadi yang humoris sekaligus memiliki prinsip dan kemauan yang keras. Ia termasuk orang yang overthinking sekaligus juga memiliki pertimbangan yang logis. Selain itu, Kak Wulan adalah orang yang bertanggung jawab dan ia selalu mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain. Misalnya, dalam perjalanan kami ke Kediri (sepenggal ceritanya bisa dibaca disini), ia bertindak sebagai kakak yang menjaga. Waktu itu tiba-tiba saya sakit dan Kak Wulan harus merawat saya sekaligus mengurusi keperluannya disana. Dengan badannya yang kecil, ia melakukan semuanya dengan baik. Ia juga tidak pelit dan selalu bertanya mau dibawakan oleh-oleh apa ketika bepergian. Kebaikannya selalu terasa tulus. 

Setelah Kak Wulan pindah Ke Palu di awal tahun 2014, kami mulai jarang kontak-kontakan lagi. Ia mulai sibuk bekerja sementara saya berjuang menyelesaikan kuliah. Ia selalu berkata akan berkunjung ke Jogja lagi untuk bertemu dengan Ayu, Mbak Novi, dan Eyang. Tak kukira bahwa kunjungan kami ke Museum Affandi sebelum ia pindah keesokan harinya adalah pertemuan kami yang terakhir. Di tempat itu, ia mengajarkan saya cara menepuk nyamuk dengan benar hehhee.

***

Waktu berlalu, kami mengejar mimpi masing-masing di jalan berbeda. Sekalipun demikian, kami masih berkontak via medsoc. Setiap lebaran dan ulang tahun kami saling mengucapkan. Hingga terakhir terjadi tahun lalu. Kami masih bertukar info tentang film-film Asia yang berkisah tentang cinta tak kesampaian atau yang tak selesai. Saya benar-benar tidak tahu bahwa di masa itu mungkin saja ia sudah sakit. Suatu kali saya memosting satu twit, “Cinta Buta itu adalah ketika aku lupa aku ini “siapa” dan dia itu “siapa”, lalu Kak Wulan me-reply “Asal kamu jangan lupain aku ya Meikkk”. Itu terjadi sekitar April tahun lalu. Satu hal yang saya sesali, saya tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Bahkan tahun ini saya lupa mengucapkan selamat ulang tahun dan Lebaran seperti sebelumnya. Kepergiannya terasa mendadak dalam ketidaktahuan. 

Dari cerita sahabat-sahabatnya (Kak Era, Kak Anita, dan Kak Riana), saya mengetahui bahwa Kak Wulan baru bercerita tentang penyakitnya Januari tahun ini, waktu itu sudah stadium 2. Maret tahun ini, sel kanker sudah menyebar ke paru-parunya, itu artinya sudah memasuki stadium 4. Kak Wulan kemudian memutuskan cuti dan dirawat oleh keluarganya di Barru. Dari selentingan kabar, saya mendengar ia menolak di-treatment. Akhir Juni, Kak Wulan meninggal di pelukan ibunya dengan membawa setumpuk cita-cita dan impiannya. 


 *** 


Tahun 2013, dalam perjalanan naik kereta malam menuju Kediri,

“Meik, harus ko dengar ini lagu dek” 
“Lagu apa kak?” 
“Lagu Kereta Malam. Lagu lama mi. Bagus ki lagunya. Lagunya Franky dan Jane” 
“Buseeettt…jadulnya kak..hahhahaa.” 

Kak Wulan mengambil hapenya dan memasangkan earphone ke telinga saya. Mengalunlah suara Jane Sahilatua, adik Franky Sahilatua. 

 “Duh Kak…Liriknya sedih, tapi musiknya kayak panggil arwah.” 
“Ihh…tapi lagunya bagus…” 

Sayup-sayup Kak Wulan ikut menyanyikan lagu itu… 

Dengan kereta malam 
Ku pulang sendiri 
Mengikuti rasa rindu 
Pada kampung halamanku 
Pada Ayah yang menunggu 
Pada Ibu yang mengasihiku 

Duduk dihadapanku seorang ibu 
Dengan wajah sendu kelabu 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Penuh rasa haru ia menatapku 
Seakan ingin memeluk diriku 
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada 
Karena sakit dan tak terobati 
Yang wajahnya mirip denganku 


Selamat Jalan Kak Wulan. Kau akan selalu dirindukan. 

Cerita Lagu

Bintang Lima

Minggu, Juni 25, 2017

*google


Kenangan memiliki banyak spektrum: mulai yang standar seperti manis, pahit, lucu, dan traumatis hingga yang bikin dilema: dibuang sayang tapi disimpan juga jangan, dikenang atau dihapus selamanya. Salah satu album musik yang membawa banyak kenangan adalah album Dewa yang berjudul Bintang Lima. Album ini berisi 11 lagu ( 2 lagu adalah instrument) dan merupakan album penting dari fase post-Ari Lasso. Ada dua personil baru yang diperkenalkan melalui album ini: Elfonda Mekel alias Once, sang vokalis dan Tyo Nugros, sang drummer. Ada semacam "kekhawatiran" saat itu bahwa Once tidak mampu menggantikan karisma Ari Lasso. Beruntungnya, sosok dan warna vokal Once justru telah mentransformasi Dewa menjadi lebih dewasa. Sayang sekali, band ini mati suri pada akhirnya (dan Dhani berubah menjadi seperti sekarang). Saya beruntung pernah menyaksikan konser reuni-nya Dewa 19 dua tahun lalu. Dulu waktu zaman Once, saya mencari-cari Ari Lasso. Giliran Ari Lasso yang tampil, saya mencari-cari Once. Begitulah hidup, yang tak ada dicari, yang ada dicuekin *eh. 

Kembali ke album Bintang Lima, album ini memiliki kenangan tersendiri untuk saya karena inilah album pertama yang saya beli dengan uang jajan sendiri. Harganya waktu itu sekitar 17.000-an (atau 20.000? hmmm lupa yang jelas tak sampai 50.000 karena anak SD tak punya uang jajan sebanyak itu dulu hehehe). Saya membeli album ini gegara suka banget dengan lagu Roman Picisan yang waktu itu sering diputar di radio. Roman Picisan memang hits perdana yang dilempar dari album Bintang Lima. Lagu ini memang grande, musik maupun liriknya memang puitis, klasik, dan sekaligus bikin ngilu. 

Saya ingat banget ketika membeli album ini. Waktu itu setelah pulang sekolah, Daddy mengantarkan saya ke Disc Tarra, hujan keras pula. Kasetnya kemudian diputar berulang-ulang, tidak peduli baru bangun tidur, lagi kerja PR, hingga mau tidur lagi. Tentu saja saya ikut bernyanyi. Nyanyinya dengan sepenuh hati dong. Waktu itu lagu Dua Sejoli juga jadi soundtrack salah satu sinetron di Indosiar. Kalau gak salah yang main Cindy Fatika Sari dan Tengku Firmansyah. Meski masih jadi anak SD yang miskin pengalamana cinta, saya sudah terhanyut dan belajar banyak dari lagu-lagu di album itu. Kelak, beberapa lagunya masih relevan menjadi soundtrack kisah percintaan saya hingga kini. 

Demi totalitas sebagai Baladewa, saya juga membaca buku-bukunya Kahlil Gibran. Khusus untuk album Bintang Lima, Dhani memang banyak mengambil syair-syair puisi dari Kahlil Gibran. Buku penyair Lebanon yang saya baca pas zaman itu adalah Sayap-Sayap Patah dan Jesus The Son of Man. Meski tidak selalu mengerti kisah yang ditulis Gibran, saya menemukan bahwa cinta mengundang banyak penderitaan tetapi anehnya dalam penderitaan itu orang justru menemukan kebahagiaan. Saya mengingat dengan jelas sebuah larik puisi Gibran yang dijadikan lagu di album ini:

Bila cinta memanggilmu
Kau ikut kemana ia pergi
Walau jalan terjal berliku
Walau perih slalu menunggu

(Cinta adalah misteri - Dewa)

Meski hapal semua lagu-lagu di album Bintang Lima. Lagu andalan saya adalah Risalah Hati. Lagunya sedih dan kok bisa cewek banget ya (kelak saya tahu kalau Bunda Maia yang tulis liriknya). Ceritanya tentang seseorang yang jatuh cinta tetapi sayangnya cintanya tidak berbalas atau paling tidak orang yang dicintai itu tidak memiliki kadar cinta yang sama dengannya. Oleh karenanya, seseorang ini menuliskan risalahnya. Yang kusukai dari lagu ini, meski menderita banget tetapi sang pecinta tetap optimis merebut hati orang yang dicintainya itu. Selain itu, ada lagu Hidup Adalah Perjuangan (yang katanya Royyan mengutip kalimatnya Nietzsche) dan Lagu Cinta yang selalu bikin hati hangat setiap kali memasuki fase awal naksir seseorang. 

Di awal tahun 2000-an, album ini memang termasuk populer. Beberapa teman saya di kelas juga penyuka album ini. Bersama Jean dan Tirta, kami mencari not angka lagu Roman Picisan untuk dimainkan di pianika. Kadang kalau guru tidak ada di kelas, kita akan bernyanyi bersama. Paling asyik pakai lagu Sayap-Sayap Patah, Separuh Nafas, atau Cemburu. Ketika menyanyikan lagu-lagu itu, kami merasa sangat keren. Seorang teman saya yang bernama Bryan (entah dimana ia sekarang) memberikan stiker hati dan sayap yang merupakan logo album Bintang Lima. Stiker itu saya tempel di kaset saya dan masih ada sampai sekarang. Selain Bryan, ada Tono. Kami berdua suka sama-sama menyanyikan Sayap-Sayap Patah. Beberapa hari yang lalu saya melihat ia memposting sedang mendengarkan kembali album Bintang Lima di salah satu medsos-nya.

Hal itu kemudian membuat saya teringat drama antara Tono dan Siska di masa lalu. Siska, sahabat saya itu, menyukai Tono sejak kelas 1 SD. Kami semua memang teman akrab, sama-sama satu kelompok belajar hingga satu kelompok dance perpisahan kelas. Saya senang bergaul dengan keduanya karena kami nyambung ngobrol apa saja. Tono dan Siska sama-sama Gemini. Dua-duanya memang pribadi yang pintar dan charming. Dua-duanya memiliki wawasan yang luas. Jika penerimaan rapor tiba, mereka berdua peringkatnya berdekatan macam Satre dan de Beauvior di masa kuliah. Pendek kata mereka cocok!

Perasaan Siska pada Tono terkuak ketika kami duduk di kelas 3 SMP. Kebetulan kami melanjutkan ke SMP (dan SMA) yang sama. Sayangnya, setelah memendam perasaan selama 9 tahun, Siska harus menerima kenyataan pahit. Tono tidak memiliki perasaan yang sama pada Siska. Ia malah menghindari Siska setelah mengetahui perasaannya. Hubungan pertemanan mereka jadi renggang. Siska tidak hanya kehilangan orang yang disukainya, tetapi juga temannya sendiri. Kami akhirnya mengetahui bahwa Tono ternyata naksir cewek lain. Pengalaman "cinta bertepuk sebelah tangan" ini mengajarkan kami banyak hal, termasuk refleksi kritis terhadap konstruksi "cantik" dan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Belasan tahun berlalu, namun kenangan-kenangan itu masih tersimpan rapi. Saya masih bertanya-tanya bagaimaan proses seleksi kenangan itu? apa kriteria hingga satu kenangan terpilah dan masuk kotak sampah. Manakah yang akan tinggal dan terpatri di ingatan. Saya tidak tahu jawabannya.



Ps: Kusarankan kalian membaca tulisan ini sambil mendengarkan album Bintang Lima-nya Dewa.