Life Story

Disiapkan dan Dibaharui

Minggu, Februari 02, 2020

Itu kata kunci hari ini. 

Jika kamu ditugaskan untuk menjadi terang, maka kamu juga akan dipersiapkan dan akan terus-menerus diperbaharui. "Kamu mau jadi apa, Meike? Air yang membeku atau lilin yang menyala?". Itu pertanyaan Mbak Sika pada saya setelah mengeluh terlalu lama jadi garam: bertugas memberi rasa, mempengaruhi namun tidak terlihat. Kalau ada diabaikan, tapi kalau tidak ada dicari. "Apa bedanya, Mbak?," tanyaku. Mbak Sika menjelaskan, " Kalau jadi es nanti kamu mencair. Kalau jadi lilin, kamu meleleh. Kamu menerangi orang lain dengan cara mengorbankan dirimu". Aku mengerutkan kening. Kok ngeri ya? 

Mbak Sika tertawa satir. Aku juga tertawa kecut dan menimpali," Hmm...setidaknya kalau jadi lilin, walaupun meleleh, masih bisa diperbaharui. Sisa-sisa lilin yang meleleh itu bisa didaur ulang jadi lilin baru". Mbak Sika tidak setuju dengan pendapatku. Menurutnya, lilin yang meleleh ya tidak berguna lagi. Lalu, aku menjelaskan panjang lebar bagaimana lilin-lilin bekas di gereja ataupun di Goa Bunda Maria dapat diproses kembali menjadi lilin baru. Tidak ada yang sia-sia, bahkan sampah pun dapat menjadi makanan lezat bagi bakteri.

Ngomong-ngomong soal dipersiapkan dan dibaharui, kami akan segera memasuki masa latihan dasar sebagai abdi negara. Percepatan kegiatan ini adalah mujizat mengingat pengalaman sebelumnya dan drama-drama yang terjadi. Dukungan untuk melanjutkan pendidikan begitu mendapatkan fungsional pun dijamin. Saya mau menangis rasanya mendengar kabar itu langsung. Namun, latsar itu jangan dikira tak ada drama. Dengan adanya aturan baru, kami wajib mengikuti tidak saja pendidikan dasar sebagai pelayan publik, tetapi juga pendidikan militer. 

Selain itu, kampus tempatku bekerja masuk dalam komponen cadangan pertahanan negara. Itu artinya selain mewarisi budaya yang militeristik, jika terjadi peperangan, kami juga akan diikutsertakan. Kami harus pintar-pintar membagi diri: kapan jadi ilmuwan yang kerjanya mikir, kapan jadi abdi yang setia melayani, dan kapan jadi tentara yang siap tempur. 

Doakan kami ya teman-teman. Semoga selalu kuat dan tahan banting menghadapi kehidupan ini. Kalian jangan khawatir, kami punya selera humor dan selera makan yang bagus untuk tetap ceria dan semangat. 


Life Story

Surat Buat Juni

Sabtu, Februari 01, 2020

Juni sayang, 

Semoga kamu tetap semangat dan ceria melakukan apa yang sedang kamu persiapkan disana. Hatiku sedih mengetahui bahwa kamu sakit. Seperti gayamu juga, kamu memberitahu ketika dirasa sudah tepat waktunya, yang mana kamu sudah melewati fase sakitnya. Jantung dalam bahasa Inggris disebut heart dan kita memakai kata itu untuk memaknai tindakan cinta. Aku sedang di rumah Bu E waktu itu. Disana ada Pendeta Rosa, suaminya, dan si kecil Ben. Kami sedang makan Tahun Baru bersama. Hidangannya adalah makanan Sulawesi. Ada brene bon dan babi papiong. Kami bercerita banyak hal. Bu E terlihat berbeda setelah sembuh dari sakit. Ia singa betina yang semakin sulit kupahami. Orang-orang yang diurapi Tuhan ini selalu membuatku bingung. Mereka mencintai kita tetapi sekaligus kadang menyingkirkan kita begitu saja. Lalu, mereka bisa datang kembali dalam hidup kita dan kita bisa menerima mereka dengan tangan terbuka. Tanpa dendam, tanpa sakit hati. Setidaknya bagiku. 

Aku mencuci tanganku di kitchen sink dan baru memperhatikan ada pajangan berisi surat 1 Korintus 13: 4-8 dalam bahasa Inggris digantung dekat kran air. Aku tidak ingat ada pajangan itu disitu padahal kita sudah sering main ke rumah Bu E sejak bertahun-tahun lalu. Sungguh aneh menyadari bahwa banyak hal-hal kecil di sekitar kita yang luput dari perhatian kita. Hal-hal yang justru bermakna ketika kita mau jeli melihat. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri serta sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan…”. Aku membayangkan dulu ketika kamu masih tinggal disana dan sambil mencuci piring kamu juga membaca ayat itu. Terasa indah dan menyakitkan ya. Kita tersenyum sekaligus menangis. Kata Wan, “Itulah salib yang harus kita pikul…”.

***

Juni, aku akhirnya mendapat kesempatan berziarah ke Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran di Bantul. Rencana itu sudah lama kuniatkan tetapi selalu gagal. Dan seperti memang sudah waktunya, kesempatan itu tiba dengan spontan. Nama gerejanya sama dengan  nama SD-ku dulu. Gereja yang arsitekturnya mengikuti keraton-keraton Jawa dan candi yang kental dengan budaya Hindu-Jawa. Di dalam gereja itu, patung Yesus dan Bunda Maria dibuat dalam kekhasan budaya Jawa. Rasanya seperti kembali ke zaman Jawa kuna. Melihat Gusti Prabu Yesus menunjuk hatinya yang membara dan berduri serta Dewi Mariah yang menggendong Yesus kecil disana seperti arca-arca Hindu. Senang rasanya June melihat ada yang berbeda. Sesuatu yang dekat dengan kita, mengingat kita selalu disuguhkan patung Yesus dan Bunda Maria dalam budaya barat. Aku teringat kita sering melakukan perziarahan seperti ini. Pergi keliling gereja atau bahkan ke rumah ibadah agama lain. Jalan kaki menelusuri jalan-jalan kecil di Jogja. Duduk berjam-jam ngobrol sambil makan menu yang itu-itu saja di cafe makanan organik favorit kita. Bercerita tentang kegelisahan dan pergulatan kita. Lalu, membicarakan Antua kesayangan kita. Sungguh sangat romantis ya. 

Aku datang kesana bersama teman kosku. Nama dan ulang tahunnya sama denganmu. Ia juga sedang menghadapi pergumulan yang kurang lebih sama denganku dengan cerita yang berbeda. Kami datang kesana untuk meminta penjelasan sementara orang-orang disana berdoa untuk memohon sesuatu. Pada akhirnya, kami pun juga meminta pertolongan. Ini pergumulan yang tidak bisa kami selesaikan sendiri. Aku merasa sangat lelah. Dan karena lelah aku jadi marah. Kata teman kerjaku," Kalau kamu merasa lelah, berarti kamu sudah berusaha."

Di dalam gereja kami dihampiri seorang koster. Koster adalah orang yang bertanggung jawab mengurus gereja dan segala isinya. Ia seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun-an. Sambil membersihkan gereja, dia mengajak kami mengobrol. Dia menanyakan asal kami dan dimana kami tinggal. Dia sudah tujuh tahun bekerja di gereja itu, sama denganku yang sudah selama itu tinggal di Jogja. Dibandingkan dengan temanku, bapak koster itu lebih sering mengajakku bicara. Dia yang pertama mendekatiku. 

“Mbak, masih kuliah?,” tanyanya.
“Dulu kuliah, Pak. Sekarang sudah kerja,” jawabku. 
“Saya sampai sekarang masih kerja,” balasnya. Sebuah respon yang kurasa ganjil. 

Aku lalu pergi ke depan altar. Suasana dalam gereja cukup sepi. Aku mengambil beberapa foto, memperhatikan tahta para Imam dan patung-patung malaikat penjaga Tabernakel, dan akhirnya berhenti di pojok dimana patung Gusti Prabu Yesus berada. Kebanyakan peziarah lebih memilih berdoa di dalam candi yang terletak di samping gereja. Patungnya memang sama. Tapi, entah mengapa aku langsung duduk bersimpuh disana dan menggugat Yang Mulia. Kutanyakan dalam hati mengapa Ia selalu membelanya? Mengapa harus aku yang dituntut mengerti? Kapan aku yang dimengerti?. Lamat-lamat kemarahanku berubah menjadi permohonan agar orang yang dikasihi selalu dijaga dan dikuatkan dimanapun ia berada. Setelah puas berkeluh kesah, aku berjalan kembali ke bangku belakang gereja dimana temanku duduk menunggu. Tapi, mataku tiba-tiba tertumbuk pada gambar yang terlukis di kaca patri dekat patung Dewi Mariah. 

Bapak koster yang tadi menyapa kami ada disana. Lalu, aku bertanya: “Pak, gambar di kaca patri itu dari cerita Orang Samaria yang baik hati ya?,” tanyakau meminta konfirmasi. 

Bapak koster yang sedang menyapu itu mendogakkan kepalanya menatapku dan tersenyum. “Iya. Kok kamu tahu?,” ia malah balik bertanya. 

Aku mengerutkan kening, “ Ya iyalah Pak. Orang Kristen pasti tahu,” jawabku yakin. Aku jadi bingung dengan jawaban bapak koster ini. Semua orang Kristen bahkan orang non-Kristen yang banyak membaca pasti pernah mendengar kisah orang Samaria yang baik hati. Itu adalah kisah yang populer. The Good Samaritan adalah perumpaaan yang dipakai Yesus dan dicatat dalam Injil Lukas. Orang-orang memakai kisah ini untuk menggambarkan kebaikan pada orang lain meskipun kita tidak mengenal orang tersebut. Kebaikan yang digerakkan karena belas kasih tidak pandang bulu. 

Sambil lanjut menyapu, dia kembali menjawabku,” Oh begitu ya?,” tanyanya dengan nada menguji. 

“Iya Pak. Itu kan ada di Kitab Suci. Kan kita harus kenal siapa yang kita sembah,” jawabku. Tanpa sadar, kakiku berjalan menuju bapak koster. Ia berhenti menyapu dan menatapku. Lalu berkata,“Kalau begitu kamu jangan kenal saya, nanti kamu menyembah saya”. Ia tidak sedang bercanda. 

Aku tercekat. Seperti gadis SMA yang malu-malu dengan pujaan hatinya, aku lantas membalasnya demikian, “ Kalau sama kamu, kalau kenal ya kita jadi sahabat.” 

Raut wajah bapak koster itu berubah. Ia tersenyum lalu tertawa. Wajah yang sangat ramah dan akrab. Ia seperti seorang guru yang puas dengan jawaban muridnya. Aku juga tertawa. Lalu kemudian pergi dari hadapannya. Aku tidak melihat dia lagi sampai kami beranjak dari gereja. 

Setelah berjarak dari peristiwa itu. Pada malam harinya menjelang tidur, aku tiba-tiba teringat percakapanku dengan koster itu. Rasanya percakapan tersebut tidak lazim antara seorang koster dengan orang yang datang berziarah. Aku merinding sekaligus berbunga-bunga mengingat percakapan itu. Lalu, aku teringat kamu. Dan aku merasa kamu perlu mengetahui kisah ini. 

Juni, baik-baiklah disana. Aku berdoa semoga kamu selalu sehat dan siap dengan pentahbisanmu. Semoga aku juga bisa hadir disana. Aku juga berdoa jika kamu pun nanti bisa hadir di hari pengangkatan sumpah jabatanku. Semoga Antua membuka jalan ya. 

I Love You, Juni.

Cerita Pendek

Al dan Aqua

Jumat, Januari 31, 2020

photo by Kristopher Roller (www.unsplash.com)


Rindu menjadi beban di hatinya akhir-akhir ini. Begitulah Al memikirkan hubungannya dengan Aqua. Aqua menghilang setelah Al mengirimkan surat cintanya yang pertama. Entah menghilangnya Aqua dan surat cinta Al saling berhubungan atau tidak, yang jelas Al merindukan Aqua. Al mengerti kalau Aqua harus pergi dan menjadikan dirinya bukan prioritas. Al turut menjiwai panggilan Aqua, karena Al juga mendapat panggilan itu. Al mengerti, namun belum seratus persen menerima. Aqua hidup di air, sementara Al di darat. Aqua menikmati dalam kesunyian, Al menikmati dalam kegaduhan. 

Aqua adalah seorang prajurit di garda terdepan. Ia masuk dalam komponen utama pertahanan. Sebagai anggota komando pasukan khusus, Aqua menyerahkan hidup dan matinya pada sang Komandan. Ia adalah orang yang hidup untuk menjalankan tugas dan misi. Tugas dan misinya itu adalah prioritas dan yang utama. Tak ada batas waktu dan tempat, karena kapanpun dan dimanapun perintah itu bisa muncul mendadak. Aqua harus siap setiap saat untuk melayani dan mengabdi kepada siapa saja dan dimana saja. Bukannya ia tak bisa memilih, namun menjalankan perintah Komandan adalah airnya. Aqua tidak bisa hidup di darat lama-lama. Ia harus fokus sebagai ikan yang berenang sendirian di arus yang deras. 

Sama seperti Aqua, Al juga seorang prajurit. Bedanya, Al masuk dalam komponen cadangan. Al ikut bertempur di garda terdepan, tapi bukan paling depan. Itu artinya, ia harus menunggu di markas komando, kalau-kalau Komandan memanggilnya untuk turun membantu, lalu dikembalikan lagi ke markas begitu Komandan merasa sudah cukup fungsinya. Al banyak menunggu, Aqua banyak bekerja. Al butuh berbicara, Aqua butuh meditasi. Mereka seperti rasi bintang Virgo dan Libra: hidup pararel, bersama namun terpisah. 

***

Al menyukai lagu-lagu The Beatles. Waktu kecil ia sering dinyanyikan lagu-lagu The Beatles oleh ibunya. Ibunya akan memainkan gitar dan bernyanyi dengan hati. Ibu juga akan bercerita tentang pengalamannya mendengarkan The Beatles. Al ingat Ibunya pernah bercerita tentang teman SMA-nya yang juga suka The Beatles. Temannya itu sangat suka menyanyikan lagu Hey Jude. Di masa mendatang, temannya membuka cafĂ© bernuansa The Beatles dan ibunya menyanyi disana dalam acara reuni. Ibunya tampak keren dan penuh dengan energi positif. Peristiwa itu terjadi dua bulan sebelum ibunya pergi untuk selamanya. 

Dari semua personil The Beatles, Al paling menyukai Paul McCartney. Menurutnya, lagu-lagu yang diciptakan Paul penuh dengan energi positif. Meskipun liriknya sedih dan melodinya menggunakan akord 7 sehingga sangat emosional, lagu-lagu ciptaan Paul tidak ditujukan untuk membuat orang sedih berlarut-larut. Lagu-lagu Paul menghadirkan pengharapan. Banyak orang memperingatkan untuk tidak memiliki ekspektasi dan harapan yang tinggi karena kalau realisasinya tak sebanding maka akan sangat mengecewakan. Pada diri Paul-lah, Al menemukan kemiripannya. Mereka berdua percaya bahwa harapan membuat manusia tetap hidup dan merasakan cinta kasih. Jika Lennon sinis pada hidup, maka Paul sebaliknya, ia memiliki optimisme.

Lennon-McCartney, photo by Linda McCartney


Al suka mendengarkan lagu Yesterday berulang-ulang. Lagu itu membuat hatinya terasa hangat. Lagu itu diciptakan Paul McCartney dan kemudian dibantu John Lennon sebagaimana mereka selalu menjadi partner Lennon-McCartney. Meski tersentuh dengan melodinya, Al sama sekali tidak mengerti liriknya. Paul mendapatkan ilham melodi lagu itu dalam mimpi saat ia menginap di rumah pacarnya. Saat terbangun, Paul langsung berlari dan mencari piano, takut ia melupakan melodi yang tercipta dalam tidurnya itu. Seperti pesan semesta, siapapun yang mendengarkan lagu Yesterday, dalam suasana hati apapun, pasti akan tersentuh. Lagu itu sederhana tanpa banyak instrumen musik dan dinyanyikan sendiri oleh Paul. Lagu yang memamg ditujukan untuk mengabadi. Lagu itu seperti berkata, “kesedihanmu ini hanyalah sementara, tenanglah selalu ada harapan…”.

***

Setelah Aqua hadir dalam hidupnya, kini Al mengerti lirik lagu Yesterday. Lagu ini tentang gugatan atas kerinduan yang mendalam: “Why she had to go, I don’t know, she wouldn’t say. I said something wrong, now I long for yesterday…”. Lagu ini tentang orang yang ditepikan, dianggap sepi. Namun, seperti dua elemen tak terpisahkan, meski liriknya sentimentil, mengasihani diri, dan menyalahkan diri, melodinya justru memberi energi positif. Sebuah energi yang menyalakan setiap api yang padam dalam jiwa manusia. Api pengharapan bahwa meskipun kita berpisah, kita akan bertemu lagi. 

Hidup telah memberi banyak pada Al. Walaupun ia menghadapinya dalam keramaian yang melemahkan keyakinannya, Al selalu mendapatkan pesan semesta dalam hal-hal kecil yang menguatkan. Kini Al tahu mengapa ia belum bisa menerima beban ini. Hal itu memang terasa berat dan tak adil. Ia harus menanggung rindu untuk dua orang.

Life Story

Tentang Menghakimi

Minggu, Januari 19, 2020

"Manusia bisa salah," sahut Kak SY. "Manusia sering salah. Semua begitu. Mereka, aku, kamu. Sama saja. Memang ada hukum negara dan undang-undang yang menentukan tindakan mana yang salah dan tidak. Tapi, di antara kita sendiri siapa yang punya hak buat menentukan benar dan salah? Siapa yang punya hak untuk menjadi hakim? Apakah kamu atau aku berani bilang bahwa anak-anak pendeta yang todong-todongan pistol itu lebih banyak salahnya daripada kita? Apakah kita berani menggunakan diri kita sendiri sebagai tolak ukur kebenaran?"

"Kita semua cacat dan terluka, Markus," renung Singa Yehuda. Tangannya meraih bingkai yang tergeletak begitu saja di sisi komputer di atas meja belajarnya. Bingkai itu menyimpan dan melindungi sebuah kenangan baik-baik. Terlihat foto Mawarsaron yang sedang belajar jalan dibimbing oleh Singa Yehuda yang tertawa riang. Ia meraba foto itu perlahan-lahan. "Kalau iman membuat kita merasa tidak bercacat cela maka kita sudah jauh tersesat." 

(Lusifer, Lusifer - Venerdi Handoyo, hal. 60-61)



Ini adalah salah satu cuplikan dari novel Lusifer, Lusifer karya Venerdi Handoyo yang menghentakku. Satu bagian kecil yang membuatku mempertanyakan tatanan moralku sendiri. Bagian yang mempertanyakan keakuanku dan kuasa dalam diriku. Apakah dengan memiliki pengetahuan, nilai-nilai, taat pada hukum dan norma, bahkan memiliki spiritualitas lantas membuat kita menjadi orang suci dan terlepas dari tindakan yang tak bercacat cela? Lalu, takarannya apa dan siapa yang kita jadikan patokan? Jika kita mengikuti ukuran-ukuran tersebut, apakah lantas otomatis membuat diri kita menjadi orang benar? sehingga kita dengan mudah menunjukkan jari dan menghakimi orang-orang yang tak sejalan dengan kita? Orang-orang yang kita pandang menyimpang karena tidak masuk dalam ukuran-ukuran itu? Lalu, untuk apa Sang Penebus datang ke dunia bila manusia sudah mengikuti ukuran-ukuran yang katanya benar itu? Untuk apa penyelamatan terjadi kalau kita semua dianggap benar dengan mengikuti hukum-hukum itu? 

Sebagai orang yang mempelajari teori-teori anti penindasan, saya mengetahui bahwa dunia ini dibentuk oleh banyak sistem yang membuat manusia saling menindas satu dengan yang lain.  Kekerasan terjadi dimana-mana dan seperti kata Guruku, cinta tertawan di dalam penjara paling gelap dalam kitab-kitab suci. Patriarki, kapitalisme, kolonialisme, feodalisme, seksisme, misoginis, dan lain sebagainya adalah beberapa sistem yang masuk ke dalam budaya yang hidup di dalam masyarakat kita. Manusia memang dilahirkan setara, tetapi tidak dibesarkan setara. Disitulah ketidakadilan bermula dan kita mati-matian berjuang mencari keadilan. Ada perbedaan kelas sosial, budaya, dan tradisi yang membuat kita tidak bisa dengan mudah menerima orang-orang yang berbeda dengan kita. Ada kesombongan atau kalau kata temanku Yu semacam "ego sektoral" yang membuat kita selalu merasa kelompok kita lebih baik dari yang lain. Ego yang juga menurun di dalam alam bawah sadar kita bahwa kita jauh lebih baik dari orang lain. 

Suatu hari seorang temanku perempuan datang bercerita bahwa ia jatuh cinta dan menjalin relasi dengan suami orang. Sebagai seseorang yang mempelajari teori feminisme, tentu saja nalarku akan cenderung menyalahkan temanku dan laki-laki itu. Tapi, apa yang bisa kulakukan sebagai temannya? Ia mencariku untuk mendapatkan dukungan. Ia butuh bercerita kepadaku untuk meluapkan apa yang ada di dalam isi hatinya yang tidak bisa ia tumpahkan kepada keluarga, saudara, atau bahkan teman-temannya yang lain. Ia bahkan tidak bisa seterbuka itu menceritakan perasaan-perasaannya pada laki-laki yang ia cintai. Temanku sadar dan tahu bahwa ia salah secara hukum, nilai, dan norma. Ia tahu ia dan pasangannnya itu berbuat tidak adil kepada sang istri. Tapi hati temanku sudah memilih. Cinta tak bisa disalahkan. Kita bisa memilih menikah dengan siapa, tetapi siapa yang bisa menolak jatuh cinta dengan siapa? Jatuh cinta pada seseorang seperti peristiwa kecelakaan, sebaik apapun kau mempersiapkan kendaraanmu, jika memang harus jatuh, maka akan jatuh. Entah itu karena kau terkena karma atau intervensi Ilahi. 

Temanku bukan datang dari keluarga berantakan. Bukan pula orang yang punya tabiat menganggu relasi orang lain. Ia manis dan baik hati. Ia suka melakukan hal-hal kecil yang membuat hati hangat. Ia peduli dan perhatian kepada teman-temannya. Mencintai suami orang bukanlah cita-citanya. Ia selalu bermimpi memiliki suami yang baik dan anak-anak yang lucu. Ketika ia terlibat hubungan dengan laki-laki itu, saya tidak punya kapasitas untuk melakukan penguatan macam apa. Mendukung dia untuk terus menjalin cinta dengan suami orang? Menemui laki-laki itu dan menyuruh dia menyelesaikan masalahnya dengan istrinya? Oh tentu tidak. Saya tidak bisa mengintervensi hubungan mereka. Yang saya bisa lakukan adalah menemani teman saya. Sepahit dan segelap apapun jalan yang ia tempuh. Tugas saya adalah memastikan dia tidak merasa sendirian menjalani apapun yang ia jalani. 

Pada titik inilah saya menyadari sekaligus mempertanyakan satu hal. Tuhan adalah Cinta sementara manusia diajarkan untuk mematuhi hukum, nilai, dan norma. Namun, mengapa Cinta bekerja dengan melawan semua hukum, nilai, dan norma yang dibuat manusia? 

Love Story

Antara Ada dan Tiada

Jumat, Januari 17, 2020

Dulu waktu SMP saya suka dengar lagunya Utopia yang berjudul Antara Ada dan Tiada. Kebetulan lagu itu jadi populer karena menjadi soundtrack sinteron horor remaja. Lagu itu se-dark masa SMP saya yang penuh drama (edodoeee...). Prelude lagunya juga serem dengan suara Pia yang sayup-sayup gothic. Lagu itu menggambarkan rasa letih untuk menggapai sesuatu yang ada tetapi tiada, tiada tetapi ada. Bagian favorit? Setelah interlude dong, dimana harmoninya lebih emosional dengan menaikkan satu laras pada bagian reffrain. 

Di zaman itu pula, saya punya obsesi untuk menjadi anak band. Demi mewujudkan cita-cita yang luhur itu, saya mendaftar ikut ekstrakuriler band sekolah. Ternyata yang masuk eskul itu adalah mereka yang sudah mahir bermain musik, entah itu drum, piano, keyboard, gitar, bass, atau biola. Lalu, yang kemampuan bermain musiknya di bawah standar banyak yang memilih menjadi vokalis. Mereka ini yang sering mewakili sekolah di lomba-lomba paduan suara atau solo. Minimal sebagian adalah penyanyi Mazmur dan solois untuk ibadah bulan Maria. 

Walaupun sebagian besar keluarga saya adalah musisi, waktu pembagian gen saya sama sekali tak berbagi kejeniusan dengan mereka. Main musik tidak pernah beres. Menyanyi juga suara pas-pasan. Akhirnya, saya memilih peran sesuai kapasitas saya yaitu sebagai groupies. Yup, para pemain band itu perlu fans fanatik yang setia bersorak saat mereka tampil. Inspirasi saya waktu itu groupies-nya Guns N’ Roses yang tentu saja seringkali berakhir ricuh. 

Di eskul band itu, saya sempat punya kecengan semasa SMP hahaaa. Dia kakak kelas yang kalau sudah main gitar langsung pusinglah pala Barbie ini saking cool-nya beliau. Si Kakak Kelas ini menginspirasi saya membuat lagu. Suatu bakat yang ternyata terpendam. Sampai SMA, saya masih suka membuat lagu. Tanpa alat musik. Hanya bermodalkan senandung. Saya menyanyikan lagu-lagu itu di depan sahabat saya, Tirta, dengan penuh perasaan. Pernah pula dinyanyikan oleh grup vokal untuk penilaian mata pelajaran Kesenian. 

Oke, kembali ke si kakak Kelas. Setiap band-nya manggung di acara sekolah. Saya dengan siap siaga berdiri di samping panggung bersama groupies yang lain. Dengan berpenampilan kasual tapi ada spirit glam rock-nya, doi menyanyikan Look What You’ve Done-nya JET dengan sempurna. Tak lupa juga kesalehan beliau tersiar ke penjuru sekolah. Kami memang bersekolah di sekolah Katolik, tapi si Kakak Kelas ini rajin izin untuk menunaikan sholat Jumat. Makin so sweet kan ya… Oiya si Dia ini punya adik perempuan yang sekarang jadi bintang film papan atas negeri ini. Dulu saya ingat, adiknya ini posesif dan nempel banget sama kakaknya. Dia sering membuat kami para groupies yang hina ini cemburu setengah pingsan. 

Hari ini saya terkenang kembali masa-masa SMP yang biru sebiru langit biru.