Kisah Perempuan

Komentar Untuk Astrid (Crazy Rich Asian)

Rabu, September 19, 2018

*Astrid Leong Teo (portrayed by Gemma Chan)



Tak ada yang lebih sempurna dari Astrid. Ia adalah produk dua sistem besar di dunia: patriarki dan kapitalisme. Untungnya Astrid adalah tokoh fiktif tentang idealnya perempuan yang harusnya hidup di dunia. Cantik, pintar, kaya raya, dan baik hati pula. Astrid is the Goddess, the best of them all. Gadis kecil yang rumahnya dalam gerobak sampah tak sanggup bermimpi menjadi Astrid di saat dewasa. Tapi kalau sungguh makhluk seperti ini ada di dunia, maka waktu pembagian gen dan nasib, kita kemana aja ya? 

Maka, simaklah pembicaraan empat kelompok manusia mengenai kisah Astrid.

Kaum Pesimis: Alamak. Sudah sesempurna itu masih juga diselingkuhin suami. Gimana dengan kita yang bagaikan remah-remahan rempeyek. 

Kaum Optimis: Nah, itu membuktikan bahwa kecantikan, kepintaran, atau kekayaan bukan segalanya. Kekayaan batin yang sumbadra itu yang dicari.

Kaum Pesimis: Tapi...tapi... Pak Karno dulu rela loh ninggalin Ibu Inggit demi Ibu Fat. Kurang sumbadra apa coba Ibu Inggit itu. Semuanya diserahkan demi perjuangan Pak Karno. Toh, tetap ditinggalkan demi alasan ingin punya anak sendiri. Sekalinya menikah dengan Bu Fat dan punya banyak anak, si Bapak juga tetap cari gadis-gadis lain (4 yang diakui negara, 9 yang diketahui publik, dan tak terungkap entah berapa). Apa sih yang dicari? Apa sih yang butuh untuk mendapat pengakuan?

Kaum Optimis: *kemudian hening*

Kaum Kritis : Plis deh... analisis baik-baik. Kalian senang Astrid bebas dari suaminya yang peselingkuh itu. Kalian senang Astrid bisa membela dirinya. But, Hellooo??? Astrid ini lebih tajir mampus dan powerful dari suaminya (sebaiknya baca bukunya karena lebih jelas kesatirannya daripada filmnya yang merayakan konsumerisme ini). Kalau kamu masih menganggap Astrid menderita, kalian salah. Tidak ada orang yang berkuasa yang menderita.

Kaum Optimis dan Pesimis saling berpandangan, nggak ngerti.

Tiba-tiba muncullah Kaum Religius yang selalu bisa melihat dua sisi sama baiknya.

Kaum Religius: Wahai Kaum Pesimis dan Kaum Optimis, berhentilah menggosip. Astrid hanyalah tokoh fiktif. Mari kita berdoa untuk mengadapi masalah yang lebih realistis. Semoga pemilihan presiden tahun depan lancar jaya. Jangan lupa untuk memilih anggota legislatif yang kompeten juga. Ingat loh, presiden dan para legislator sama pentingnya. Bisa-bisa undang-undang kita kacau balau kalau para legislatornya para preman dan penipu. 

Kaum Pesimis dan Kaum Optimis bengong. 

"Kaum Religius ini kayak Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung go*** !!! 

Love Story

Tentang Mencintai

Senin, September 10, 2018

Bunda Maria memberikan teladan yang luar biasa dalam mencintai:


"Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau harus kuat melepaskannya..."

Aku dan Tuhan

Ia Telah Menyelesaikan Pertandingannya Dengan Baik

Minggu, September 09, 2018



photo by Johann Siemens (https://unsplash.com/search/photos/tree)


Hari itu akhirnya datang juga. Hari yang paling kutakutkan seumur hidup. Yang pernah kubayangkan akan kuhadapi dengan suami dan anak-anakku kelak. Tetapi kenyataannya, aku menghadapinya bersama Daddy berdua. Kami sedang berjalan dalam badai, tetapi Tuhan berjalan bersama kami. Ia menguatkan langkah kami untuk saling menguatkan dan mendampingi. Ia tidak pernah membiarkan kami berjalan sendirian. Ia selalu mengirimkan orang-orang yang menolong kami seperti dahulu Simon dari Kirene menolong-Nya memikul salib. 

Ya, hari itu tiba tanpa semarak. Ia datang dengan tanda-tanda yang baru bisa kucerna setelah semuanya terjadi. Mami telah pergi. Ia tak bisa dijangkau secara fisik lagi. Tetapi jika kau peka saja sedikit. Ketika kau melihat dengan mata rohanimu, Mami tidak pergi kemana-mana. Ia tetap mengiringi. Ia tetap mendoakanmu. Ia bersamamu meski tak terjangkau oleh nafas dan denyut jantung. Mami ada dimana-mana. Tidak terasa perbedaannya. Ia seolah tidak pernah mati. Ia mendapat kehidupan kekal seperti yang dijanjikan Tuhan pada kita. Hanyalah tirai yang membatasi kita untuk bersentuhan dengannya secara fisik. Tetapi dia lebih hidup daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bersedih jika aku tahu bahwa Ibuku berbahagia disana?

Mamiku telah memberikan teladan sepanjang hidupnya. Seorang perempuan yang tetap setia dan bersandar pada Tuhan. Ia adalah ibu dan seorang sahabat. Mami telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik. Ia telah sampai di garis akhir. Dan ia tetap memelihara iman. Ia adalah bukti nyata bagaimana orang yang hidup di dalam Kristus dan dan mati di dalam Kristus. Ia mati dalam keadaan siap. Ia meminta dipangil dalam keadaan siap. Ia taat sampai mati. Ia telah mempersiapkan segala sesuatu.

Mami menghembuskan nafas terakhir di pelukan Daddy, kekasihnya yang setia. Ia dikelilingi oleh orang-orang banyak yang mencintainya. Ia telah berpamitan dengan orang-orang. Ia telah menikmati sisa hidupnya. Ia bahkan telah menyiapkan kostum yang ia akan pakai untuk bertemu dengan Tuhan. Semasa hidup, Mami paling membenci ketidakadilan, segregasi, dan penindasan. Ia terlahir sebagai putri Maluku Tengah dengan campuran Belanda yang jasadnya dibungkus kain tenun Maluku Tenggara. Ia konsisten memperjuangkan hal-hal itu bahkan sampai mati. Mami pergi pada jam yang sama dengan Yesus. Ia dikuburkan pada hari Jumat Pertama. Dalam tradisi Gereja Katolik, hanya orang-orang terberkati yang mengalami hal itu. Peringatan 40 Hari kepergian Mami bertepatan dengan perayaan Bunda Maria diangkat ke surga dan ulang tahun Daddy. 

Mami menyimpan segala perkara di dalam hatinya. Ia yang selalu berkata “jadilah kehendak-Mu”. Mami memberikan contoh yang luar biasa untuk tidak perlu takut menjalani hidup. Ia memilih mengejar harta rohani daripada mengumpulkan harta duniawi. Ia dan Daddy yang mewariskan kepadaku keinginan untuk mengejar pengetahuan. Harta benda bisa lenyap, tetapi pengetahuan tidak akan berlalu.

Mami tidak punya apa-apa selain selalu memberikan hati dan kehadirannya untuk orang lain. Saat ia pergi, berbagai macam orang dari latar belakang suku, agama, kelas sosial, dan ideologi datang memberikan penghormatan terakhir. Orang-orang menangis tidak saja karena kehilangan, tetapi tangis itu juga bermakna harapan. Mami mendapat tempat terdepan di pemakaman umum di kota kami. Semasa hidup Mami tidak suka duduk di belakang, tidak dalam gereja tidak dalam acara-acara apapun. Ia mengajarkanku untuk percaya diri dan berani. Mami selalu percaya Tuhan akan menyiapkan semuanya. Dan memang benar. Tuhan kemudian memberikan tempat peristirahatan yang terbaik untuknya. Mami bahkan membuka jalan bagi kami.

Ada sebuah rahasia yang Mami simpan dalam hatinya. Rahasia besar yang kini sedang kami hadapi. Aku memegang tangan Daddy erat-erat. Mendampinginya dan menguatkannya seperti dulu Mami melakukannya. Mami adalah seorang pendoa, makanya jiwanya akan selalu mendoakan siapa saja. Terngiang kembali suara Mami di telepon sebelum ia pergi menghadap Kekasihnya beberapa waktu yang lalu, “Tuhan, selamatkan anakku….”

Selamat jalan Mami. Sampai bertemu kembali.

08 September, pada hari peringatan ulang tahun perkawinan orang tuaku yang ke-28 tahun.

Life Story

Hal-Hal Yang Sederhana

Kamis, Juni 14, 2018

Kapan terakhir kali kamu memberi tempat pada hal-hal yang sederhana?

Berjalan kaki berkilo-kilo sambil bercakap-cakap dengan temanmu? Bernyanyi dan sesekali bergoyang dalam ritmenya. Seperti bintang jatuh, keindahan itu membuatmu terkejut dan kagum. Keindahan itu hanya sementara.

Kapan terakhir kali kamu menjawab "Ya" pada spontanitas? 

Tidak peduli apakah akan berakhir bahagia atau sedih, ketidakterdugaan selalu mengejutkan. Ia terasa sangat jauh sekaligus terasa dekat. Ia adalah magnet. Dau kau besi tua yang berkarat. Apalagi yang bisa dibanggakan dari dirimu selain konsistensi?.

Kapan terakhir kali kamu memberi ruang pada ketidakpastian?

Seperti penjudi, kita mempertaruhkan kepercayaan kita pada sesuatu yang tak tampak. Kamu mendengar banyak berita gembira, tetapi berita gembira itu bukan untukmu. Kamu adalah penonton di drama kehidupan orang lain. 

Kapan terakhir kali kamu membuat pilihan: menjadi orang baik atau orang yang setia?

Dua hal ini tidak sama. Yang pertama adalah milik orang merdeka, sementara yang satu adalah milik para budak. Manusia yang setara memilih berbuat kebaikan. Seorang budak tak punya kuasa atas dirinya. Lalu, kamu -orang merdeka- mulai menghitung-hitung kebaikan-kebaikanmu. Kamu lupa, dunia ini kekurangan orang-orang yang dalam dan mencari makna. Banyak orang terjebak pada ilusi yang artifisial. Maka, tidak ada ganjaran untuk berbuat baik atau setia. Itu adalah tugasmu.

Kapan terakhir kali kamu jatuh cinta?

Melepaskan dirimu pada ketidakterukuran. Melepaskan dirimu dalam perasaan yang tak pasti. Membiarkan hatimu bahagia dan terluka di saat yang sama. Membiarkan dirimu memiliki harapan untuk bertemu meskipun yang tampak hanya bayangannya saja. Pertanyaannya, bagaimana bisa kita menyukai seseorang yang tidak kita kenal? Mengapa kita tidak pernah mendapat kesempatan untuk saling mengenal?

Kapan terakhir kali kita memandang jiwa?

Ia tidak rupawan. Orang yang melihat dia lalu memalingkan muka. Tetapi, ia menanggung penderitaan kita. Ia sendiri tertikam karena pemberontakan kita. Dan oleh bilur-bilurnya, kita menjadi sembuh.


Kapan terakhir kali kita menjadi kanak-kanak?

Membiarkan diri percaya pada dunia. Membuka diri pada berbagai kemungkinan. Membiarkan diri meledak seperti kembang api di malam takbir, menggelegar dalam hening. Tak ada rasa takut, tak ada rasa malu. 

Kapan terakhir kali kamu merasa iri?

Setiap orang menghadapi pertarungannya masing-masing. Namun, bisakah kita tetap percaya sekaligus berbahagia apabila sesuatu yang hati kita inginkan justru dimiliki orang lain? Mengapa ada yang dilimpahi berkat dan anugerah sementara yang lain direnggut kebahagiannya begitu ia lahir ke dunia? Mengapa ada ketidakadilan?

Kapan kamu terakhir kamu merasa Tuhan berdiam diri melihat penderitaanmu?

Tidak, sayang. Tuhan tidak pernah salah. Jika ada sesuatu yang salah, maka itu adalah salahmu. Ya, kamu, manusia yang hina dan lemah. Kamu yang tak berdaya. 

Life Story

Menunggu

Rabu, Juni 13, 2018

photo by Meike


Setiap orang mengalami pertarungannya sendiri. Pertarungan saya yang paling berat adalah melawan waktu. Saya lahir satu bulan lebih awal dari yang semestinya. Saya tak sabar ingin keluar dari rahim Ibu, gerakan saya yang berenang kesana-kemari mencari jalan keluar dalam cairan amniotik membuat saya terlilit tali pusar. Saya tercekik, tak bisa bergerak. Di luar perut Ibu, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan pertarungan itu. Kejadian itu seperti sepenggal lirik lagunya Ebiet G Ade, "...sebab semua peristiwa hanya di rongga dada, pergulatan yang panjang dalam kesunyian". Namun, Tuhan tetap baik meskipun kadang kita tidak tahu mau-Nya apa. Ia mengizinkan anak itu lahir lebih awal. Tak pernah dibiarkan hidup anak itu menderita. Semua keinginannya terpenuhi. Tapi waktu datang merebut kepercayaan kanak-kanaknya. Harga sebuah kedewasaan menghasilkan sikap skeptis. Ia berjuang dan menanti dalam ketidakpastian.

Lama saya merenungi perjalanan saya akhir-akhir ini. Saya tahu tujuan saya dan sudah mengikuti track yang harus dilalui untuk sampai kesana. Namun kadangkala, seperti perjalanan kereta api dari Yogyakarta menuju Surabaya, perjalanan terasa melelahkan dan lama justru dalam perjalanan antara sebelum sampai tujuan, yaitu antara Solo dan Madiun. Jika dua perhentian ini sudah dilewati, rasanya tujuan semakin dekat. Rasa inilah yang saya derita. 

Waktu tak bisa dilawan. Ia adalah hukum yang tetap. Perspektifmu-lah yang menentukan sebuah ukuran: lambat atau cepat. Pada akhirnya, kesabaran adalah sebuah usaha, suatu sikap dan bukan semata-mata sifat lahiriah seseorang.