Cerita Lagu

Birthday Song

Jumat, Mei 26, 2017


'Cause life continues right or wrong 
When I play this birthday song 
I learned from you 
And you can't even sing...

Love Story

Bau Gosong di Kamar

Rabu, Mei 24, 2017

Ya, bau gosong.

Tercium tiba-tiba seperti dihembuskan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tak ada benda elektronik yang tersambung ke kontak listrik. Tak ada pula benda apapun yang terbakar di kamar. Seorang kawan yang kuceritakan perihal ini berseloroh,"Palingan orang yang lagi bakar sampah". Tetapi mana ada orang yang membakar sampah pada jam 3 subuh?. Lagipula, baunya tak akan sampai ke kamar dan bau sampah yang terbakar berbeda dengan bau gosong yang kucium ini. Ia hanya tercium sejenak lalu menguar bersama udara. 

Waktu itu, saya sedang tertidur, dan di antara sadar dan tidak sadar (kalian tahu kan fase setelah tidur dalam yang kemudian perlahan mencapai titik kesadarannya), saya mencium bau seperti setrika yang terlalu panas atau benda lainnya terbakar seperti diemprot ke hidung saya. Sontak saya langsung terjaga dan melirik ke jam dinding, tepat pukul 3 Subuh. Perasaan saya jadi tidak enak.

Saya langsung teringat cerita Eyang tentang hantu belanda di pusat bahasa UGM. Konon, setiap menjelang magrib selalu tercium bau seperti singkong terbakar. Saya segera meng-googling tentang bau gosong itu dan rata-rata artikel yang muncul bersepakat bahwa itu adalah salah satu tanda dari keberadaan makhluk astral. Jauhhhh sekali, saya pernah mendengar legenda di tanah Jawa. Makhluk itu disebut Genderuwo. Tubuhnya besar, berbulu, bertaring, dan jika ada kesempatan ia suka bercinta dengan manusia. Salah satu tandanya adalah bau gosong itu. 

Genderuwo -dalam kepercayaan rakyat- suka mengambil rupa manusia. Ada genderuwo perempuan dan ada genderuwo laki-laki. Mereka juga dikisahkan suka bersetubuh dengan manusia. Misalnya, genderuwo laki-laki akan mengambil rupa suami atau kekasih perempuan yang mereka sukai. Jika suami mereka pergi, maka Genderuwo akan menyamar sebagai suami si perempuan, menyetubuhinya, dan kelak perempuan itu hamil dan melahirkan anak genderuwo. Hal yang sama juga berlaku dengan genderuwo perempuan kepada manusia laki-laki. Ironisnya, meski hubungan itu terlarang, anak-anak hasil persilangan genderuwo-manusia seringkali menjadi entertainer untuk masyarakat kelas bawah. Kita sering menemukan mereka dalam pasar malam keliling. Mereka menjadi tontonan pelepas duka susahnya hidup. Sampai sejauh, penjelasan medis menganggap mereka yang dijuluki "Genderuwo" adalah orang-orang dengan pengidap kelainan sel kulit atau genetik lainnya.

***

Kembali pada bau gosong itu, saya masih penasaran. Jika otak adalah bagian tubuh manusia yang paling misterius, bisa saja otak saya mengkreasikan suatu halusinasi. Dasar otak manusia kelas menegah, yang tercium justru bau gosong bukannya bau parfum Channel No.5. Tetapi, jika kita menariknya dalam konteks okultisme, maka bau gosong itu adalah tanda dari suatu makhluk lain. Jika benar itu adalah bau si Genderuwo, maka sesungguhnya ia bisa saja mengambil rupa manusia dan bisa saja ia "macam-macam" dengan saya. Persoalannya, kebetulan saya belum menikah dan gebetan saya sedang berjarak jutaan tahun cahaya. Tentunya, jika ia menyamar sebagai si doi, ini akan menimbulkan suatu kegemparan. Kesimpulan, Genderuwo ternyata juga pinter dan rasional. 

Tapi, tunggu dulu. 
Bukankah kisah-kisah makhluk seperti ini antara ada dan tiada. Kita selalu mendengar dari seseorang yang juga mendengar dari seseorang tanpa mereka pernah melihat langsung. Sekalipun kita mempunyai teman yang mengaku bisa melihat hal-hal yang diluar kemampuan kita, tapi bukankah melihat juga persoalan tricky: Ia hanya melihat satu bagian dari keseluruhan sesuatu itu. Saya sendiri lebih memilih melihat  Genderuwo sebagai rekayasa, suatu horror dari hal-hal yang tak diinginkan dari masyarakat, misalnya kisah cinta beda agama, etnis, atau kelas sosial. 

Kisah "makluk-makluk" yang dianggap bukan "manusia umumnya" selalu berujung pada persetubuhan dengan "manusia yang umumnya". Masyarakat kita telah menciptakan idealitas-idealitas, bahkan untuk relasi antara manusia. Idealitas itu diterima dan dilanggengkan dengan nilai-nilai dan ukuran-ukuran. Anak perempuan Pak Pendeta tentu diharapkan tidak berkasih-kasihan dengan anak Pak Haji atau anak laki-laki kesayangan Pak Menteri tak diharapkan jatuh cinta dengan asisten muda belia yang bekerja di rumahnya. Pasangan-pasangan yang dianggap tidak ideal dan menganggu tatanan ini dianggap sebagai abjek (subjek yang menghadirkan rasa jijik dan malu sehingga ia dihinakan atau disingkirkan). Dan ia dibangkitkan dalam horror tentang Genderuwo dan istri Pak Lurah yang jelita. 

Ah, mungkin kisah Genderuwo terlalu ndeso. Kisah ini terlalu purba dan anak-anak jaman sekarang lebih suka yang kebarat-baratan. Hmm..bagaimana dengan kisah Shrek dan Princess Fiona? Beauty and The Beast? Putri dan Pangeran Kodok? 

Bagaimana kisah antara aku dan kamu?

Love Story

Monster Feminin

Selasa, Mei 23, 2017

foto: Ahmanet, google


Ahmanet, putri Mesir yang digadang-gadang akan menjadi Firaun selanjutnya, telah dikhianati dan karena itu ia melakukan kudeta dengan membunuh ayahnya dan memohon bala bantuan kekuatan kegelapan. Malang, Putri Firaun yang pintar, jelita, dan jago berkelahi itu tertangkap dan dihukum dengan hukuman paling berat: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, ia dibangkitkan secara tak sengaja dan membalas dendam pada dunia. 

Begitulah cuplikan trailer film The Mummy (2017) franchise terbaru dari film The Mummy yang dulu diperankan oleh Brendan Fraser dan sekarang diganti dengan Tom Cruise. Saya selalu suka film-film aksi-petualangan berbau mitologi dan spiritualitas seperti itu. Bahkan saya dulu sempat bercita-cita menjadi arkeolog dan pada suatu ketika berhasil memecahkan misteri makam Tuthankamen (amboiiii…). Tapi lama kelamaan, saya jadi memikirkan nasib Putri Ahmanet ini. Begitulah ia menjadi moster feminim, seorang perempuan yang dihalangi menjadi pemimpin, disingkirkan, dan kemudian menjadi horror dengan dendam yang membara. 

***

Bukankah di kehidupan nyata kita selalu bertemu perempuan-perempuan yang di-monster-kan seperti ini. Saya jadi teringat Tante Justine (bukan nama sebenarnya), saudara jauh ibu saya. Ia Tante yang sangat penyayang dan baik pada kami. Di masa mudanya ia pernah menjadi pujaan para pemuda. Gadis Ambon-Indo yang rupawan, jago musik dan dansa. Kecintaannya pada musik tak tertandingi. Ia sangat disiplin kalau menyangkut soal itu. Jika paduan suara keluarga akan bernyanyi (biasanya dalam acara pernikahan atau pemakaman), Tante Justine akan tampil mengemuka sebagai dirigen. Telinganya setajam sonar lumba-lumba. Ia bisa mengetahui suara siapa yang fals. Tentu saja saya selalu kebagian delikan matanya. “Marieke, jangan menyanyi keras-keras ya,” begitu katanya. Lalu sepanjang 3 menit lagu itu dinyanyikan, mulut saya cuma mangap-magap lipsync, saking takutnya kalau sampai terlalu keras saya akan diceramahi Tante Justine. Selain itu, Tante Justine memang punya reputasi sebagai orang yang streng dan kalau ia jengkel ia tak segan memaki dalam bahasa Belanda. Terus terang kami, para keponakan, jadi segan padanya. 

Tetapi pada suatu hari, saya menemukan suatu cerita sedih tentangnya. Di masa mudanya Tante Justine pernah jatuh cinta pada seorang lelaki taruna angkatan laut. Di masa itu, tak mudah menjadi kekasih calon prajurit. Rindu bertumpuk-tumpuk dalam surat. Belum ada whatsapp atau line yang bisa bikin kita tiba-tiba chit-chat manja. Konon, kesabaran menjadikan cinta tak lekang oleh waktu. Maka, pasangan kekasih yang muda belia dimabuk asmara itu tahan-tahan saja menjalaninya bertahun-tahun. Jika sang lelaki liburan, mereka akan pergi dansa dansi atau pergi ke bioskop. Bercengkerama di taman kota atau sama-sama masuk gereja. Dunia menjadi indah bagi Tante Justine dan Om Angkatan Laut. 

Mereka pasangan yang diidealkan dan dikagumi. Betapa serasi. Tante Justine sangat mencintai lelaki itu dan keliatannya lelaki itu juga demikian. Mereka berencana menikah. Namun, malang tak dapat ditolak, lelaki pujaan Tante Justine membatalkan pernikahan. Selidik punya selidik, lelaki itu justru berselingkuh dengan perempuan lain yang kelak menjadi istrinya sekarang. Perempuan itu ternyata sahabat Tante Justine, yang selalu ditemaninya curhat tentang si Om Angkatan Laut. Sejak saat itu, konon Tante Justine jadi bitter dan streng. Tapi tenang saja, ia tak menjelma nenek sihir meski patah hati. Tante Justine akhirnya menikah dengan pria yang memiliki masa depan yang secerah Bintang Timur. Sudah kubilang kan, Tanteku itu wanita pujaan bangsa.  

Namun, meski waktu berjalan dan presiden Indonesia berganti-ganti, cinta Tante Justine tak kunjung padam, paling tidak apinya masih menyala sedikit-sedikit. Maka setiap kali ia mendengar lagu Hawaiian Wedding Song ia akan bersedih dan teringat mantan kekasihnya itu. Pernah dalam pesta pernikahan kakak sepupuku, lagu Hawaiian Wedding Song dinyanyikan dan meski ia berdansa dengan suaminya, matanya tampak terkenang sesuatu. 

***

Di tahun 1999, film The Mummy pertama kali ditayangkan dengan karakter Imhotep sebagai mumi-nya. Imhotep adalah pendeta kepercayaan Firaun yang jatuh cinta pada Anack Su Namun, selir kesayangan Firaun. Kisah cinta terlarang mereka, membuat Imhotep dan Anack Su Namun bersekongkol membunuh Firaun agar mereka dapat bersama. Seperti nasib Ahmanet, paspampresnya Firaun, Madjai, menangkap Imhotep dan Anack Su Namun mati bunuh diri. Imhotep dihukum dengan kutukan kejam: dimumi hidup-hidup. Ribuan tahun kemudian, makamnya tak sengaja dibuka dan mumi ini akhirnya ingin balas dendam, mengusai dunia, plus membangkitkan kekasihnya dari kematian. Yang saya salut, Imhotep harus mengalami dua kali kematian untuk bersama Anack Su Namun yang pada akhirnya mengkhianati dia. Saya jadi kasihan pada Imhotep waktu nonton The Mummy Returns (2001) saat ia melihat Anack Su Namun meninggalkannya. Patah hati, Imhotep menyerahkan nyawanya sekali lagi. 

Dua cerita mumi ini meskipun keliatannya mirip sebenarnya sangat berbeda. Perempuan “dimumikan” karena ia ingin menjadi pemimpin, tetapi Laki-Laki dimumikan karena cinta dan kekuasaan. Monster maskulin selalu menampakkan kegagahan, eskpresi sesualitas yang positif. Sementara monster feminim selalu menampakkan rasa jijik akan ekspresi seksualitas itu. Seks menjadi senjata sekaligus horror yang ditakuti. Seperti Tante Justine, orang-orang menjustifikasi sikap kerasnya karena ia pernah kecewa dan dendam di masa lalu. Orang-orang tak bersimpati pada luka dan sakitnya. Seumur hidup ia diikuti dengan kisah masa lalunya yang diungkit-ungkit dalam bisik-bisik dari mulut ke mulut. Meskipun ia berbahagia dengan kehidupannya hari ini. 

Dan ya, seperti yang dianggap normal, orang-orang tak pernah bertanya lagi tentang kabar si Om Angkatan laut.

Special Moment

26

Senin, Mei 22, 2017

Ada sebuah cerita dari Injil yang mengguncang iman saya sejak kecil. 

Suatu ketika Isa menyuruh para murid duluan naik ke perahu sementara Ia sendiri pergi ke gunung untuk berdoa. Di tengah perjalanan, angin ribut datang dan perahu para murid pun oleng diterjang ombak. Di saat itu, datanglah Isa berjalan di atas air menghampiri murid-muridnya. Murid-murid yang matanya rada rabun karena air hujan histeris karena berpikir Ia adalah hantu. Tetapi sosok itu semakin mendekat, dan Isa berteriak, “Tenanglah. Jangan takut, ini Aku”. Maka, Petrus, salah seorang murid-Nya itu balas berteriak, “Jika kau benar-benar Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air”. Isa membalas,”Datanglah”. Petrus pun turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Isa. Tetapi, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam. Ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!”. Segera Isa mengulurkan tangannya dan memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”. 

Ada kebutuhan manusia untuk percaya. Dengan percaya, kita menemukan rasa stabil, suatu rasa aman bahwa “semuanya baik-baik saja”. Percaya membuka ruang untuk mengantungkan diri pada “sesuatu”. "Sesuatu" itu membuat kita aman menghadapi masa depan, suatu ketidakpastian. Konsep “percaya” ini tricky karena bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan kita. Inilah yang menjengkelkan Nietzsche yang mengagung-agungkan manusia yang kuat dan bebas. Konsep "kuat" dan "bebas" memang multitafsir sekaligus menggoda. Tetapi kita juga punya rasa takut yang alamiah. Adakalanya kita membutuhkan rasa percaya agar kita tidak takut lagi, agar aman lagi. Kita membutuhkan tangan yang digenggam, bahu untuk bersandar, kutipan ayat-ayat suci yang menguatkan, bahkan jimat dari para leluhur. Apapun yang membuatmu stabil dari ketegangan. Para Ignasian (pengikut spiritualitas St.Ignatius Loyola) percaya bahwa manusia harus mengatasi rasa takutnya. "Jika kamu takut sesuatu, sesuatu itu harus dihadapi, gelap harus diterangi". Dan untuk menerangi kegelapan kita membutuhkan "pelita". Sesuatu yang menjadi "pegangan".  

Seberapa hebatnya kita sebagai manusia, pada akhirnya kita akan menghadapi situasi seperti Petrus. Awalnya, kita selalu “yakin” pada apapun yang kita perbuat, tetapi bila “angin” cobaan dan kesulitan datang, mampukah kita tegar berjalan atau justru takut dan tenggelam? Ketika saya membaca kisah ini saat masih anak-anak, saya meragu apakah saya mampu berjalan di atas air. Seiring bertambahnya usia, saya justru semakin mengikuti jejak Petrus. Saya percaya kuat-kuat dan pasti namun ketika ada badai datang, saya mulai bimbang. Saya takut cita-cita saya tidak terwujud. Saya ragu apakah saya akan menemukan seseorang untuk menjadi teman seperjalanan dalam hidup. 

Di hari ulang tahun saya yang ke-26, saya takut jika saya mati hari itu, tak ada yang peduli atau merasa kehilangan (well, keluarga dan para sahabat tentu bersedih) tetapi dunia akan terus berjalan seperti biasa. Ada dan tidak adanya dirimu tak ada bedanya. Setelah hari ke-40, kuburmu mulai jarang dikunjungi. Lalu waktu menghapus kenangan tentang dirimu. Ini mengerikan. Itulah sebabnya saya tak suka kuburan seberapa cantik, berseni, dan beradabnya kuburan itu. Tempat itu mengingatkan saya pada pelupaan. 

Saya merindukan rasa percaya itu. Rasa pasti bahwa ada Pribadi yang selalu menyediakan dan melakukan apapun untuk kebaikan saya. Rasa percaya seperti anak-anak pada orang tuanya. Seorang anak yang menangis di tengah orang asing akan langsung reda tangisannya ketika ia melihat ayah dan ibunya. Rasa percaya yang pelan-pelan dirampas oleh ironi, waktu, dan pengetahuan.

Karena semakin bertambahnya usia, saya menyadari saya tidak tahu apa-apa.
Selamat ulang tahun.



Note:


Saya menuliskan ini sambil mendengarkan salah satu album favorit saya dari dekade 1970-an. Homeless Brother (1974) adalah album filosofis dan hobo-nya Don McLean yang dikenal dunia lewat lagu American Pie dan Vincent (Stary-Stary Night). Lagu-lagu favorit saya antara lain Did You Know, The Legend of Andrew McCrew, Winter Has Me In Its Grip, dan Wonderful Baby. 

Special Moment

Kado Ulang Tahun Ter-Rock 'n Roll

Jumat, Mei 05, 2017

*dok.pribadi

Paket itu akhirnya tiba setelah penantian berbulan-bulan. Sebuah kado ulang tahun yang datang lebih dini. Kado itu adalah barang-barang langka yang susah didapatkan di negara ini. Barang-barang yang kubutuhkan dan sekaligus kuinginkan. Ia melewati dua benua, dua negara, dan tiga kota. Ia beralih dari tangan-tangan yang satu ke tangan-tangan yang lain. Ia melalui banyak memori dan peristiwa. Ia bersama perasaan yang sedih dan gelisah, gembira dan bersemangat. Setelah mendiskusikan dan terhanyut dalam romantisasi dan dramatisasi, akhirnya saya bisa memegangnya secara langsung. Rasanya seperti memeluk idola itu sendiri. Membaca kisah-kisahnya membuat saya seperti mendengarkan sang Idola bercerita. Saya hanyut ke sebuah masa dimana manusia benar-benar bermain musik dan bukan mesin. Sebuah masa dimana gender tidak dipertanyakan. Sebuah masa dimana rock 'n roll menjadi gaya hidup dan ideologi. 

Terima kasih Kak Emma.