Kisah Perempuan

Sylvia

Rabu, Oktober 16, 2019

Artikel itu menyapaku begitu saja dari halaman majalah Tempo yang terbit beberapa tahun silam. Namanya tak asing. Saya belum terlalu mendalami karya-karyanya, tapi suatu saat akan kucoba menghabiskan waktu dengan membaca pemikirannya. Beberapa puisinya pernah kubaca, tapi waktu itu saya tak punya cukup kemampuan dan pengalaman untuk memahaminya. Saya masih terlalu muda dan naif. Hari ini, saya juga masih muda, tapi mungkin tak senaif dulu.

Sylvia Plath, nama besar dalam dunia sastra. Ia adalah salah satu novelis, penyair, dan cerpenis Amerika ternama. Puisi-puisinya banyak dipakai untuk mengontekskan narasi perempuan di masa itu. Ia mungkin dianggap feminis juga. Sylvia mati bunuh diri. Ia memiliki masalah kesehatan mental yang cukup serius. Pernikahan dengan seorang penyair mapan dan memiliki dua anak ternyata tetap membuatnya merasa sendirian. 

Mengapa sesuatu yang bermula begitu indah, bisa berakhir tragis?

"Dying is an art", begitu kata Sylvia dalam puisinya Lady Lazarus

Life Story

Keindahan

Senin, Agustus 26, 2019

Aku menemukan satu keindahan. Ia bersembunyi di sudut emperan toko di jalan Maliboro yang ramai, bising, dan pesing. Ia berwujud seorang lelaki berwajah rupawan, dengan tatapan mata sayu nan sendu. Rambutnya cepak ala Keanu Reeves di film Speed. Ia memakai topi baseball cap dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam. Ada tindik di telinganya dan banyak tatto di kedua lengan. Tatto-nya agak-agak random: antara tatto macam tutul, tulisan nama "Ilham", arah tanda mata angin, dan abstrak yang tak kutahu apa artinya. Ia sedang menjajakan berbagai macam T-Shirt bertuliskan Yogyakarta atau bergambar Tugu, Malioboro, Keraton, dan Candi-Candi. Oleh-oleh khas yang diincar para turis jika berkunjung ke Yogyakarta.

Aku memandanginya penuh minat. Kureka-reka masa lalunya. Apakah dia mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarganya? Masih adakah ayah dan ibunya? Dimanakah dia tinggal? Apakah dia pernah bersekolah? Apakah dia memiliki saudara? Apakah ia memiliki kekasih? Orang yang seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Jika saja dia datang dari kelas menengah ke atas, dia pasti akan terlihat cemerlang. Kalau saja dia mendapatkan pendidikan tinggi yang membuatnya mengetahui banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, dia pasti sukses dan terpandang. Kalau saja dia bisa bekerja di tempat yang membuatnya memakai dasi atau kemeja Uniqlo, cewek-cewek akan mengelilinginya. Kalau saja dia nongkrong di cafe-cafe urban, dia akan bersenda gurau dengan teman-temannya yang datang dari kelas yang sama dengannya. Kalau harum tubuhnya adalah bau parfum yang menggoda, bukannya mau tengik keringat. Dia lebih cocok hidup di dunia yang kosmopolitan dan sophisticated daripada berjualan kaos di emperan toko seperti ini.

Lalu, aku tercekat.
Aku merasa sedih.
Karena aku berpikiran tidak adil. Siapa aku yang menilai hidupnya untung atau malang? Siapa aku yang menakar kepedihan dan sukacita yang dialaminya? Siapa aku yang mengatur dia harus menjadi "siapa"? Siapa aku yang merasa hidupku lebih baik dari dia?

Aku malu. Bagaimana aku bisa berbuat adil jika berpikir adil saja aku tidak bisa?

Sehimpun Puisi

Kekasih

Kamis, Agustus 22, 2019

Temanku bertemu dengan Kekasihnya 5x dalam sehari
Ia akan mengambil air wudhu setiap waktunya tiba
Lalu masuk di ruang kecil samping kamar kerjaku
Ia memakai bedak, mengoles lipstik tipis2
Harum bunga melati tercium dari parfum yang menguar
Ia memakai mukenanya
Merentangkan sejadah, bersujud sedalam-dalamnya
Kekasihnya ada disana

Aku juga bertemu Kekasihku
Tidak 5x dalam sehari
Tapi kami cukup intens
Dia selalu punya cara untuk menyapaku
Seperti plat H kendaraan bermotor
Yang tertangkap mataku seringkali akhir-akhir ini

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka. 

Life Story

Cintailah Dia

Jumat, Juni 28, 2019

Uzul mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Kawasan Babarsari mulai padat seiring matahari pukul 4 sore yang perlahan menuju ke ufuk barat. Ia bercerita tentang takdir yang membawanya sebagai dosen. Sebuah keberuntungan kalau bukan mujizat. Berkali-kali ia tidak menyangka. Ia yang harusnya tak lulus bisa lulus. Ia yang rela melepas posisi dan gaji besar puluhan juta demi sebuah pengabdian. Uzul bertanya bagaimana kita bisa hidup dengan gaji yang sebegitu kecil. Ia sudah terbiasa memegang uang banyak dan tampaknya ia agak susah payah beradaptasi. “Tetapi uang yang banyak itu tidak berkah, selalu cepat habis," Uzul menguatkan diri. Saya yang duduk di jok samping kemudi, memandangnya, dan berkata,"Tenang. Semua pasti akan cukup”

Yu, Vir, dan Us yang duduk di jok belakang kemudian mulai berbagi cerita bagaimana mereka bisa sampai ke posisi ini. Baru saja kami menerima SK yang memantapkan posisi kami dalam dunia sosial, politik, dan ekonomi. Tentu, kami masih berada di fase “percobaan”. Tetapi, penantian panjang yang melelahkan dan seringkali diiringi isak tangis dan tawa bahagia sudah terbayar sudah. 

“Yu, berapa lama kamu menantikan saat ini?,” saya bertanya padanya. 
“Sejak aku masih kecil. Aku suka bermain peran sebagai guru,” Yu menjawab dengan mata berkaca-kaca. 
“Aku juga Yu. Aku menantikannya selama 10 tahun. Sejak Bapa-ku menaruh ide itu di hatiku: kenapa kamu mau menjadi wartawan, kalau kamu bisa menjadi gurunya wartawan?,” aku menjawab sambil mengusap-ngusap 18 angka nomor induk kepegawaianku. 
Vir ikut menimpali,"Kalian berdua memang ingin jadi dosen ya? Kalau aku seperti tercebur kesini. Tidak sengaja,” ujarnya. 
“Aku juga,” Us menambahkan. Ia bercerita petualangannya dari seorang guru, menjadi wartawan, hingga menjadi dosen. Sebuah perjalanan yang panjang di usianya yang belia. 

Mobil Uzul melaju lebih pelan. Jalanan semakin padat. Kami melihat kiri kanan kawasan Babarsari dengan cermat. Berbagai kampus, kantor, cafĂ©, rumah makan, bahkan mall ada disini. Kawasan ini akan menjadi bagian dari kehidupan kami sampai kami pensiun kelak. Mobil berhenti di depan gedung kampus Atma Jaya. Ia terlihat megah. Perasaan saya diliputi melankoli. Teringat tahun 2016, saya menangis sejadi-jadinya ketika tidak diterima menjadi dosen disana. Teringat bahwa saya melepaskan dua kampus lainnya untuk bisa menjadi bagian dari rasa aman dan nyaman dimana komunitas se-iman-ku banyak disana. Waktu itu rasanya begitu pas. Seperti jodoh. Tetapi, ternyata bukan dia yang Tuhan kasih. Berkali-kali saya melamar ke sana, berkali-kali pula saya ditolak. 

Persis di sebelahnya, kampus II kampus kami terlihat. Ia tampak agung dari depan. Kami menelusuri area kampus dan berhenti tepat di parkiran yang mengarahkan kami pada bagian belakang gedung tersebut. Ada rasa gembira yang membuncah di dalam dada. Namun, ada juga rasa perih. Seperti hati-Nya, yang merasakan bara cinta tetapi juga merasakan duri. Saya, Uzul, Vir, Yu, dan Us memandang bagian kampus tersebut dengan takjub dan sedih. Kampus itu tampak tua dan lelah. Ia seperti pejuang perang yang kesepian. Ia merindukan kekasih. Ia membutuhkan perubahan dan pembaharuan. Sayup-sayup terdengar suara Pak Wakil Rektor yang menyambut kami dengan pidatonya, "Kampus ini memiliki semboyan menuntut ilmu dengan hati tulus dan suci. Belajarlah mencintai kampus ini. Karena Anda sudah ditakdirkan berada disini," begitu katanya. Saya merinding. Tak satupun dari kami yang pernah bermimpi akan mengajar di kampus ini. 

Kami berlima kemudian pulang dengan membawa harapan. Semoga kelak kami bisa menjadi pemikir dan pendidik yang berhati tulus dan suci dalam memberikan ilmu bagi generasi bangsa ini. Akan ada banyak kisah dan kenangan yang dilalui. Akan ada banyak pelajaran yang mengubahkan diri. Akan ada banyak prestasi yang terukir. Dan dalam perjalanan ini sebaiknya kita tidak sendiri. 

Cintailah dia.