Mantra Kalimat

Aslan and Lucy

Selasa, Juni 18, 2019



“Please - Aslan,” said Lucy, “Can anything be done to save Edmund?” 
“All shall be done,” said Aslan. “But it may be harder than you think.” 

And then he was silent again for some time. Up to that moment Lucy had been thinking how royal and strong and peaceful his face looked; now it suddenly came into her head that he looked sad as well. But next minute that expression was quite gone. The Lion shook his mane and clapped his paws together.

(The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe). 

Mantra Kalimat

The Shape of You

Kamis, Juni 13, 2019

"Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love. It humbles my heart, for you are everywhere." 

Nukilan puisinya Hakim Sanai dalam Walled Garden of Truth yang muncul di film The Shape of Water (2018). 

Life Story

Kita Tidak Sendiri Lagi, Juni

Rabu, Juni 12, 2019

Cinta adalah pertemuan dan percakapan dua liyan. Dia dapat mengatakan apa yang tidak bisa kamu ucapkan dan kamu dapat mengatakan apa yang tidak bisa dia ucapkan. Dia dapat merasakan apa yang hilang dari dirimu dan kamu dapat merasakan apa yang hilang dari dirinya. Dia memahamimu dan kamu pun memahami dia meski tanpa penjelasan. Kalian akan selalu saling mencari dan pada akhirnya saling menemukan satu sama lain. Entah itu dalam jarak, kisah, lagu, tarian, buku, pesan singkat, angin malam, hujan, dan kering daun pepohonan. Dia tidak akan meninggalkanmu dan kamu tak akan meninggalkan dia sekalipun dia dan kamu punya 1001 alasan untuk saling meninggalkan. Kamu tidak akan segan-segan marah pada dia. Dia tidak akan sungkan untuk mendiamkanmu. Mungkin kamu tak setuju dengan apa yang dia kemukakan dan dia memiliki pandangan berbeda denganmu. Tetapi, kamu dan dia akan belajar menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan. Segala persamaan akan disyukuri tanpa dibandingkan. Di hadapan dia, kamu menjadi dirimu sendiri. Bagimu, dia selalu indah ketika menjadi dirinya sendiri. 

Cinta ini melampaui hasrat-hasrat badaniah. Cinta yang selalu utuh dan tak pernah habis. Cinta ini tidak membutuhkan api karena ia adalah terang itu sendiri. Cinta yang tak kenal warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, pilihan hidup, hingga luka masa lalu. Jika kamu berbahagia, dia akan ikut bahagia dan kamu pun akan ikut bahagia manakala dia berbahagia. Jika dia iri padamu, dia akan belajar menerima kelebihanmu dan menerima kekurangannya, begitupun sebaliknya kamu akan mengakui kelebihannya dan belajar menerima kekuranganmu. Kamu tidak akan terburu-buru menghakimi dia dan dia tidak akan mudah percaya sebelum menanyaimu. Jika yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalian akan menjadi jangkar bagi satu sama lain. Jika kamu terluka, dia akan menangis. Yang tertusuk padanya akan berdarah padamu, begitu kata penyair Sutardji Calzoum Bachri. 

Namanya Junita. Tanpa nama akhir. Satu kata saja seperti Musa. Orang-orang memanggilnya Shaloom, artinya damai sejahtera. Dalam hati dia menyimpan rahasia. Dia percaya dia dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi orang lain seperti Yohanes Pembaptis. Maka, dia menyerahkan hidupnya untuk bukan lagi menjadi miliknya. Juni adalah cinta dalam wujud persahabatan. Dia hadir menemani saya, seorang Mei, dalam perjalanan hidup yang berliku dan penuh drama. Pertemuan kami bukanlah cinta pada pandangan pertama. Dia tidak menonjol dan tidak senang menonjolkan diri. Saya cukup menonjol dan senang diperhatikan. Dia duduk di belakang, di sudut ruangan, dan diam mengamati. Saya duduk paling depan, baris utama, dan sibuk berbicara. Saya memiliki suatu kebijaksanaan yang belum terasah sementara dia tidak mengharapkan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya. 

Namun, pada suatu ketika, terjadilah pertemuan dan percakapan itu. Suasana asrama UKDW sudah sepi. Angin sepoi-sepoi berhembus mengajak untuk terlelap. Orang-orang sudah pulang dari kegiatan Sekolah Lintas Iman yang kami ikuti bersama. Saya sedang menunggu ojek langganan yang akan menjemput. Juni menghampiri dan duduk di samping saya. Kami bercakap-cakap. Ia menanyakan cita-cita dan mimpi-mimpi saya. Saya menanyakan bagaimana ia sampai di Jogja dan apa rencananya ke depan. Pada saat itulah, jiwa kami berhadapan seperti bercermin. Persahabatan tidak jatuh dari langit. Relasi ini merupakan interaksi dua subyek yang setara. Dalam proses itu, ternyata kami mengenali dan mencintai Pribadi yang sama. Kami memiliki tujuan yang sama meskipun mengambil peran yang berbeda-beda. Rasanya luar biasa berbahagia bertemu sahabat seperjalanan. Kami juga bertemu (kalau bukan dipertemukan) dengan sahabat-sahabat seperjalanan kami yang lain. Sebuah jaringan yang begitu indah berwarna-warni dengan tawa sedih dan airmata bahagia. Kami bersyukur telah merasakan cinta meskipun kami menanggung beban dan kuk dengan hati yang penuh parutan luka. Sungguh berbahagia mengetahui kita tidak sendiri lagi. 

Selamat ulang tahun, Juni.
Jangan takut, Jangan gelisah, Jangan gentar, dan Jangan patah hati. 

Aku dan Tuhan

Antua

Sabtu, Juni 08, 2019

“Anyway, I’m not good at prayer, but before you think I was a little rough on God, there’s another thing you need to know about my people. Our relationship with God was different from other people and their Gods. Sure there was fear and sacrifice and all, but essentially, we didn’t go to Him, He came to us. He told us we were the chosen. He told us He would help us to multiply to the ends of the earth. He told us He would give us a land of milk and honey. We didn’t go to Him. We didn’t ask. And since He came to us, we figure we can hold Him responsible for what He does and what happens to us. For it is written that “he who can walk away, controls the deal.” And if there’s anything you learn from reading the Bible, it’s that my people walked away a lot. 

You couldn’t turn around that we weren’t off in Babylon worshiping false gods, building false altars, or sleeping with unsuitable women (although the latter may be more of a guy thing than a Jewish thing.) And God pretty much didn’t mind throwing us into slavery or simply massacring us when we did that. We have that kind of relationship with God. We’re family.

Excerpt From: Christopher Moore. “Lamb, the Gospel According to Biff, Christ's Childhood Pal.” 

Note: "Antua" berarti beliau dalam bahasa Melayu Ambon.

Life Story

28

Kamis, Mei 30, 2019

Saya percaya bahwa setiap orang diberikan suatu “duri dalam daging” yang membuatnya menanggung kepedihan dan penderitaan. “Duri dalam daging” itu akan membuatnya mengajukan berbagai pertanyaan, keluhan, bahkan gugatan atas pegangan yang diyakininya. Tak mudah menanggung rasa sakit itu. Ada trauma. Sebuah luka yang belum kering. Rasa itu menjadi horor, sebuah kutukan yang tercipta dari pola berulang yang sama. Sesuatu yang awalnya saya pikir adalah bencana. Saya merasakan ketidakadilan. Saya merasa menjadi pecundang. Orang yang kalah. 

Tahun ini saya genap berusia 28 tahun. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap tanggal 9 Mei, tepat pada pergantian jam 12, Mami akan membangunkan saya dan menyanyikan lagu “Happy Birthday”. Kadang dengan kue ultah yang lilinnya menyala, kadang juga tidak. Ketika saya merantau ke Jogja untuk sekolah, maka ia akan segera menelpon. Satu yang selalu ada, doa. Ia akan selalu mendoakan saya. Tahun ini adalah perayaan ulang tahun pertama tanpa Mami. Tak ada telpon. Tak ada nyanyian “Happy Birthday”. Tak ada doa, ciuman, dan pelukan secara langsung. Malam itu, beliau seperti ada dan tiada. Sebaris pesan dari Daddy masuk. Ia mengucapkan selamat ulang tahun dan berpesan untuk berdoa pada Tuhan dan Bunda Maria. Daddy bukan family man. Ia tidak terbiasa dengan keintiman. Tapi, saya tahu ia mencintaiku lebih dari apapun. 

Malam itu saya berdoa. Dengan berlinang air mata. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang “duri dalam daging”. Saya meminta jawaban. Dan Dia menjawabku. Saya pikir ulang tahunku kali ini akan berlalu dengan biasa saja. Saya ingin merayakannya seorang diri. Makan mie dan membeli kue ulang tahun sendiri. Namun, hidup selalu memberi kejutan. Para sahabatku datang dan mengejutkanku. Ada rasa hangat di dalam dada. Kebahagiaan yang tak terucapkan ketika saya mengetahui betapa saya dicintai oleh mereka. Saya juga mendapat teman baru dan kesempatan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang akan saya ajar. Di momen itulah, saya menyadari mengapa kampus itulah yang dipilihkan untuk saya. Dan saya diberikan tanggung jawab dan peran disana. Semua seperti mujizat yang hanya bisa dimaknai dalam hening. 

Saya pun menyadari bahwa “duri dalam daging” ini ternyata sebuah tegangan. Sesuatu yang dipakai untuk membuat saya tetap eling. Keadaan ini membantuku untuk waspada dari semua rasa, nafsu, dan syahwat yang positif dan negatif. Rasa-rasa yang ada dalam diri manusia. Tegangan ini memurnikan tabiat anak tunggal yang merasa seluruh alam semesta berputar mengelilinginya. Sebuah kemelekatan. Sebuah obsesi. Saya kini mengetahui bahwa semua rasa itu harus diterima dan dijaga keseimbangannya. Belajar mengenali potensi diri. Belajar untuk menerima apa yang menjadi keberuntunagn dan ketidakberuntungan saya. Belajar sportif. Belajar untuk waspada atas potensi-potensi baik dan jahat dalam diri. Yang melampaui batas harus dinetralkan melalui sikap refleksi dan pemurnian. Dan pada akhirnya, belajar untuk pasrah. Dengan kesadaran dan kekuatan ini, saya dapat bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri saya. Sebuah metanoia.

Terima kasih Tuhan untuk kasih karunia-Mu.


Kamis, 30 Mei 2019, pada hari Kenaikan Yesus Kristus 
yang juga jatuh pada Kamis, 9 Mei 1991
hari dimana saya memilih lahir ke dunia