Archolic

Work

Sabtu, Agustus 12, 2017


On my father's birthday, I push myself to work for better life in the future.


location: Lotus Mio, Tirtodipuran, Jogja

Life Story

Let It Be

Kamis, Agustus 03, 2017

"Akan ada saatnya Sang Bunda memampukan kita mengatakan jadilah kehendak-Mu," Suster Tres berkata lembut. Ia tersenyum dengan tatapan matanya yang dalam. Dinding-dinding batu yang berasal dari perut Merbabu semakin membuat suasana menjadi dingin di ruangan itu. Padahal di luar sana, matahari sedang terik-teriknya. 

Di seberang meja, saya duduk membeku penuh dengan tissue, airmata, dan ingus. Sungguh tampak tak menarik. Perempuan rahib itu memahami bahwa airmata adalah bahasa yang tak memiliki sistem linguistik. Ia tidak dapat dilogikakan. Airmata berkata-kata dengan bahasa yang hanya bisa dirasakan. Airmata itu bercerita panjang lebar tentang penglihatan-penglihatan. Airmata itu menuturkan ketakutan-ketakutan. Kalau kamu takut gelap, maka gelap itu harus diterangi. 

Suster Tres mengakhiri pertemuan itu dengan memeluk saya erat. Selama di perantauan, saya sangat jarang dipeluk seperti ini. Bagai dua sahabat lama kami berpelukan. Dada dengan dada, lengan melingkar penuh. 

Saya tak menduga bahwa hari itu akan datang secepat ini.

Life Story

Drona

Selasa, Agustus 01, 2017

Tersebutlah seorang resi yang sakti mandraguna bernama Guru Drona. Ia ahli bidang kemiliteran dan juga kitab-kitab kebijaksanaan. Banyak orang ingin berguru padanya, termasuk para pangeran dinasti Kuru. Demi masa depan bangsa dan negara, maka berangkatlah kelima putra Pandu dan keseratus Kurawa berguru pada sang Brahmana. 

Di antara murid-muridnya, ada satu yang menarik hati sang Resi. Dialah Arjuna, putra Bapak Pandu dan Ibu Kunti. Arjuna memang terlahir dengan segala yang indah dan terbaik. Ketampanan, kecerdikan, dan ketangkasannya tak tertandingi. Tak hanya ahli berstrategi, Arjuna juga jago di bidang seni. Sungguhlah si Arjuna menantu idaman Papi-Mami di rumah. Jangan lupa dia anak Raja, bahkan putra kandung Raja Kahyangan, Indra. 

Guru Drona jatuh hati pada Arjuna. Ia menjadi murid kesayangan bahkan sejak pertama bertemu. Arjuna sangat menonjol di bidang memanah. Maka, berkatalah Drona di dalam hatinya, “Akan kujadikan Arjuna pemanah terbaik di dunia”. Si Arjuna juga jadi jumawa. Tahu gurunya mendukungnya sepenuh jiwa raga, Arjuna kadang bikin jengkel Duryodana dan saudara-saudaranya. Itu loh si Arjuna gayanya macam orang-orang masa kini yang suka merendah supaya minta dipuji-puji terus. 

Begitulah proses pendidikan Drona pada Arjuna. Arjuna dipilih karena dia memiliki potensi besar di masa depan. Drona bisa berlindung padanya untuk kekuasaan maupun ambisi-ambisinya. Tapi, kan Arjuna itu hidup di hutan bukan di Istana? Ya ya ya…memang sih meskipun hidupnya menderita karena ulah paman Sengkuni, tapi Arjuna tetaplah datang dari kaum Ksatria, kaum penguasa. Semenderita apapun si Arjuna, dunia masih memihaknya. Lagipula Tante Kunti masih saudara dengan Balarāma dan Sri Khrisna, siapa yang berani menantang? 

Tetapi suatu hari datang seorang anak hutan bernama Ekalaya. Meski sama-sama tinggal di hutan, Ekalaya ini stratanya beda dengan Arjuna. Ia tak diketahui asal usulnya, ia kaum minoritas lapis entah ke berapa. Meskipun demikian, Ekalaya anak yang cerdas dan berbakat. Ia sangat ngefans dengan Drona dan ingin berguru padanya. Kemampuan alamiah tiada tara yang dimiliki Ekalaya adalah memanah. Sesuatu yang justru digadang-gadang Drona untuk Arjuna. Nah loh! 

Ekalaya datang pada Drona memohon untuk berilmu padanya. Drona memperhatikan anak itu dengan tatapan meremahkan. Arjuna juga ada disitu, diam-diam mencibir. Drona berkata menguji,”Baiklah anak muda tunjukkan kemampuanmu”. Ekalaya pun beraksi, namun dari semua ketangkasannya pada bagian memanahlah yang membuat Drona kagum, ia bahkan berkata dalam hati,"Sungguh anak ini lebih jago dari Arjuna”. Arjuna yang melihat kepiawaian Ekalaya langsung keder. Kurawa juga ada disitu, terpesona sekaligus senang ada yang bisa melebihi kemampuan Arjuna. 

Begitu menyelesaikan atraksinya, Ekalaya berlutut di hadapan Drona. Drona sesungguhnya ingin sekali merekrut anak minoritas ini sebagai muridnya. Tetapi, ia teringat akan ambisinya juga potensi masa depan yang dimiliki Arjuna. Apalah artinya anak minoritas ini dibandingkan Arjuna? Lagipula, Drona juga ingin menjaga perasaan Arjuna yang dilihatnya sudah mau menangis. Perasaan mayoritas lebih penting dari anak minoritas di depannya ini. Dengan tega hati, Drona berkata tidak pada Ekalaya. 

Ekalaya pulang dengan rasa kecewa di hatinya. Mungkin juga marah dan sedih. Ia tahu diri. Dibandingkan Arjuna ia bukanlah aset yang diharapkan. Ekalaya tinggal sebagai nomad, tak punya basis organisasi apalagi potensi jaringan dimana-mana. Ia hanya punya bakat dan ketekunan. Cita-citanya sederhana, ia ingin menghabiskan seumur hidupnya untuk mencari ilmu. Tak ingin ia menjadi penguasa karena ia diam-diam ingin menjadi seorang resi seperti pujaannya, Drona. 

Meskipun merasa tidak berdaya, Ekalaya tidak putus asa. “Jika Guru Drona tidak mau memilihku menjadi muridnya, maka aku akan membangun “Drona” bagi diriku sendiri". Ekalaya kemudian menebang pohon jati, lalu ia memahat pohon itu dengan sempurna menyerupai rupa Drona. Di bawah patung Drona, ia berlatih setiap hari tanpa henti. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa meskipun hanya melalui “bayang-bayang” Drona. 

Bertahun-tahun kemudian, para Pandawa dan Kurawa telah remaja. Mereka telah hampir menguasai ilmu dari Drona. Kini tibalah waktunya untuk ujian. Masing-masing anak Pandu dan Kurawa maju memamerkan keahliannya. Drona tersenyum puas melihat anak didiknya, terlebih pada Arjuna. Arjuna saat itu memamerkan keahliannya memanah. Drona puas dalam hati telah menciptakan pemanah terbaik di dunia. Di tengah-tengah atraksi Arjuna, muncul panah lain. Panah itu mengalahkan panah-panah Arjuna. Arjuna terperangah tak percaya, Drona apalagi. Pemilik panah itu dengan gagah berani menampakkan dirinya. Dialah Ekalaya yang dulu ditolak Drona menjadi muridnya. Dengan resah Drona menghampiri Ekalaya. 

“Darimana engkau mempelajari ilmu memanah sehebat itu anak muda?,” tanya Drona 
“Dari yang mulia Guru,”kata Ekalaya. Lalu, ia menyambung,” Setiap hari aku berlatih tanpa jemu di bawah patung Guru Drona yang kudirikan sendiri bagiku." 
Drona terkesiap. 

Anak ini meskipun hanya berlatih di bawah “bayang-bayang”-nya tetapi Ekalaya jauh lebih mumpuni daripada Arjuna yang tinggal satu atap dengannya. Gelar pemanah terbaik di dunia yang tadinya digenggam Arjuna terancam jatuh pada Ekalaya. Tidak, gelar pemanah itu tidak boleh jatuh ke tangan Ekalaya. Drona bimbang. Ambisinya terancam karena anak hutan ini. Dilihatnya Arjuna yang menatapnya dengan tatapan “awas ya kalau gue gak dapat gelar ini, nanti kalau jadi raja gue gak kasih lo jatah jadi pejabat”. Maka Drona membuat keputusan yang membuat geger dunia ilmu pendidikan, juga murid-muridnya termasuk Duryodana. 

“Baiklah karena kau telah berlatih di bawah “pengawasanku” maka aku akan meminta sembah bakti-mu sebagai murid,” begitu Drona bersabda. Di zaman itu, sudah lazim jika seorang guru meminta apa saja sebagai balasan dari ilmu yang diwariskannya kepada murid-muridnya, dan murid-muridnya tidak boleh menolak. Ekalaya senang sekali, ia akhirnya mendapat pengakuan dari “guru”-nya itu.

“Apakah itu Guru?,” tanya Ekalaya. 
Dengan dingin Drona berkata,”Berikanlah aku satu jempol kanan-mu”

Ekalaya tercengang tak percaya. Jempol itulah kunci dari kemampuan memanahnya. Arjuna ikut terkejut tapi dalam hati lega juga sih. Duryodana yang biasanya terkenal antagonis mendadak jadi melankolis. Semua orang berharap cemas apa reaksi Ekalaya. 

Di luar sangkaan, Ekalaya berlutut di hadapan Drona. Ia mengeluarkan sangkur dari kantong celananya. Dengan dramatis ia memotong jempolnya dan menyerahkannya pada Drona sebagai sembah bakti. Drona mengambilnya dengan takzim. Lalu menyuruh Ekalaya pulang. 
“So sorry, next time aja kamu kesini ya…” 

Sejak hari itu, Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia. Tak ada yang dapat menandinginya. Bagaimana dengan Ekalaya? Well, kita tak pernah tahu nasib Ekalaya. Siapa yang peduli dengan minoritas seperti dia?

Cerita Lagu

George Michael - Faith

Rabu, Juli 26, 2017



Lagu "Faith" juga suka saya putar akhir-akhir ini. Berulang-ulang bahkan. Mungkin jika joox bisa bicara, dia akan mengeluh hehee. George Michael adalah salah satu penyanyi penting dari masa kecil saya mengingat si Mami suka banget putar lagu-lagunya. Mantan personil grup Wham! yang berdarah Yunani-Inggris ini charming dan sexy sih hehehee. 

Memang belakangan ini, ada beberapa album yang saya dengarkan secara serius: Nirvana, George Michael, David Bowie, dan Ace of Base. Sampai sejauh ini, George Michael adalah musisi gay beriman yang mampu membuat saya berempati dengan kisah cinta homoseksual dan perjuangan mempertahankan identitas LGBT. Salute to him and may God rest his soul. Yeah, mungkin lagu-lagu itu lahir karena dia memang punya iman. 

Oh but I need some time off from that emotion 
Time to pick my heart up off the floor 
Oh when that love comes down without devotion 
Well it takes a strong man baby 
But I'm showing you the door 
‘Cause I gotta have faith

Cerita Lagu

Ace of Base - The Sign

Rabu, Juli 26, 2017


Grup musik asal Swedia ini memang hits banget di era 90-an. Aliran pop-disko yang mereka usung memang memberikan pengaruh besar bagi jagat musik. Kita bisa liat warisan mereka pada penyanyi-penyanyi masa kini seperti Lady Gaga dan Katy Perry. Ace of Base terdiri dari empat personil: Buddha, Joker, Linn, dan Jenny. Saya suka banget suaranya Linn, sengau-merdu gimanaaa gitu. Kadang terdengar manja, kadang sangat bertenaga. 

Pertama kali dengar lagu-lagunya Ace of Base pas masih kecil dulu. Jadi, kalau sekarang mendengarkan ulang albumnya, ada beberapa lagu yang terasa familiar seperti All That She Wants, Angel Eyes, Beautiful Life, dan Happy Nation, seolah-olah mereka menunggu untuk dipanggil keluar dari ingatan. 

Lagu "The Sign" menjadi lagu yang suka saya putar berulang-ulang akhir-akhir ini. Bukan saja karena liriknya "gue banget" tetapi musiknya memang familiar dengan masa kecil. Waktu ke Gedono awal Juli kemarin, saya menyanyi ala-ala Linn di bawah bulan pucat seperti di lirik lagunya. Ceritanya kami sedang dalam perjalanan ke Gereja untuk mengikuti doa pukul 3 subuh. Saat itu bulan purnama, namun karena tertutup awan, bulannya menjadi terlihat pucat.

Under the pale moon 
Where I see a lot of stars 
Is enough, enough 
I saw the sign and it opened up my eyes 

Lagu ini dirilis tahun 1993 dan mendunia. Di video klipnya, muncul simbol ank yang artinya kunci kehidupan yang sering dibawa Dewa Anubis. Simbol ank sendiri disadur menjadi semacam simbol "salib" ke dalam tradisi Kristen Koptik di Mesir. Pertanyaan saya, mengapa simbol ank harus ada di lagu yang bercerita tentang orang yang memutuskan move on dari seseorang yang tidak membalas cintanya?