Love Story

Ruth dan Boaz

Selasa, Februari 14, 2017

Akan kuceritakan padamu tentang dongeng yang hampir dilupakan banyak orang. Berbeda dengan kisah cinta populer seperti Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, atau pasangan kekinian Sebastian dan Mia, kisah ini jauh dari romantika pada umumnya. Bagi banyak orang, kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan dan persahabatan. Namun, ada juga yang percaya kisah ini mengingatkan bahwa pertemuan bukanlah hal yang kebetulan. 

 *** 

Pada suatu masa ketika internet belum terpikirkan, tiga perempuan berjalan melalui daerah perbatasan Moab (sekarang masuk daerah Yordania). Perempuan yang paling tua terlihat berjalan mendahului yang lain. Matanya memandang jauh ke depan, mencari-cari negeri kelahirannya yang dibatasi gunung-gunung, hutan-hutan, dan lembah-lembah yang penuh misteri seperti di tanah Papua (barangkali di bawah tanah yang dijejaknya ada kandungan emas yang masih terkubur). Perempuan itu bernama Naomi dan kepedihan tidak pernah jauh darinya. 

Bersama suami dan anak-anaknya, ia meninggalkan tanah kelahiran dan bangsanya di kala negeri mereka sedang mengalami bencana kelaparan. Jika keluarga ini hidup di masa sekarang, maka alasan mereka pergi karena mengungsi dari perang saudara seperti di Suriah. Selama bertahun-tahun, mereka tinggal sebagai orang asing hingga suatu ketika suami dan dua anak laki-lakinya meninggal dunia. Dua perempuan muda yang berdiri di belakang Naomi adalah istri-istri anak-anaknya, perempuan-perempuan asing yang dianggap kafir oleh bangsanya. 

Lalu berkatalah Naomi kepada kedua menantunya, "Tinggalkanlah ibu mertuamu yang renta ini, kembalilah kepada keluarga dan bangsamu, aku membebaskan kalian". Menjawablah menantu pertama. Namanya Orpa. Pada detik pertama, ia menangis terharu tak mau lepas dari ibu mertua, tapi detik berikutnya, ia berpaling dari ibu mertua dan pergi kembali ke negerinya. Kepergian Orpa menyisakan menantu kedua. Perempuan itu juga menangis sedih. Tapi ia tak tega membiarkan ibu mertuanya yang sudah tua itu pulang sendirian ke negerinya. Tak tega ia meninggalkan Naomi tanpa teman. Karena kasihnya, ia memilih mengikuti Naomi meskipun telah dibebaskan. “Bangsamu akan menjadi bangsaku dan Allah-mu akan menjadi Allah-ku”, katanya. Orang-orang kemudian memanggilnya Ruth, yang dalam bahasa Ibrani berarti “teman perempuan” atau bisa juga dimaknai sebagai “persahabatan”. 


Naomi entreating Ruth and Orpah to return to the land of Moab by William Blake (1795)


 *** 

Kepulangan Naomi membawa Ruth menggemparkan orang-orang sekampungnya. Perempuan-perempuan mulai grasak-grusuk bergunjing. Laki-laki tua dan muda memandangi Ruth dengan ingin tahu. Ada tekanan yang mereka rasakan di dalam lingkungan baru itu. Beban itu lebih berat dirasakan Ruth, tidak hanya soal statusnya sebagai janda saja tetapi juga karena identitasnya. Memang ada suatu masyarakat yang memaknai identitas kesukuan dan keagamaannya di atas segala-galanya. Sekalipun Ruth sudah termasuk kaum proselit –yang tidak hanya pindah paspor tapi juga keyakinan- ia masih dianggap orang asing. Sampai hari ini, hal tersebut masih terjadi. Suku, agama, dan kelas sosial sering dipakai sebagai ukuran untuk menentukan kelayakan dan idealitas seorang individu. Manusia dikerdilkan sebatas apa agamanya, darimana ia berasal, dan apakah ia kaya atau miskin. Jika terjadi pernikahan, banyak keluarga melaraskan ketiga elemen ini. Kualitas-kualitas diri si individu tak diperhitungkan lagi. Seseorang ditolak bukan karena ia jahat atau merugikan orang lain, tetapi karena identitas-identitas yang diberikan kepadanya oleh nasib dan negara. 

Di masa itu pula, perempuan masih didefinisikan dengan keberadaan laki-laki di sisinya. Ketika menjadi anak gadis, ia adalah milik ayahnya. Ketika menjadi istri, ia adalah milik suaminya. Ketika ia menjanda, ia tidak bisa berbuat banyak dan hidup dari belas kasihan orang. Harta suaminya akan menjadi milik anak laki-lakinya. Jika ia tak punya anak laki-laki, harta itu beralih ke keluarga suaminya. Sungguh! Hidup ini pilih kasih, pembaca. 

Dalam kemiskinannya, Naomi ingin menjual tanah pusaka suaminya. Tanah pusaka sangat penting bagi bangsa Naomi. Bukan hanya karena terkait warisan, tetapi juga identitas. Menjual tanah pusaka, berarti juga menebus Naomi dan Ruth. Tradisi di masa itu mengharuskan apabila seseorang mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka saudaranya harus mengambil jandanya. Sang lelaki yang nanti menjadi penebus tidak hanya harus membeli tanah itu dan menikahi Ruth (karena Naomi sudah terlalu tua), tetapi anak laki-laki yang dihasilkan akan menyambung keturunan dari almarhum suami Ruth agar garis keturunannya tidak punah. Perkawinan levirat/ipar istilahnya. Tanah dan anak adalah harta paling berharga dan utama bahkan bukti identitas diri. Namun, pernikahan jenis ini sangat dilematis karena berhubungan dengan harga diri seorang laki-laki apalagi jika ia hidup dalam budaya patriarki. Siapakah lelaki tak egois yang mau menolong Naomi dan Ruth? Siapakah yang sanggup menolong kedua perempuan yang malang ini? 

*** 

Pada waktu itu sedang berlangsung musim panen. Menurut tradisi bangsa itu, setiap pemilik ladang harus menyisakan sisa panen dan membiarkan orang-orang miskin untuk memungut jelai yang terjatuh saat panen. Untung di masa itu belum ada pabrik semen atau pembangunan bandara baru, kaum petani aman dari penggusuran dan alam pun lestari. Di sanalah Ruth setiap hari bekerja memungut bulir-bulir jelai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mertuanya. Ia sangat rajin sehingga menjadi buah bibir bagi pekerja-pekerja yang ada disana. Berita itu sampai ke telinga Boaz, sang pemilik ladang, yang ternyata masih saudara dengan suami Naomi. Boaz adalah seorang yang kaya raya, masih lajang, berpenampilan menarik, lulusan perguruan tinggi dari negara maju, tak lupa sembahyang, dan memiliki karakter yang jujur, berintegritas, dan penuh kasih. Pendek kata, Boaz ini eligible bachelor. Sudah pasti banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Mulai dari yang cantik jelita, berpendidikan tinggi, hingga dari keluarga terpandang. Siapakah Ruth bila dibandingkan dengan mereka? 



Ruth and Boaz by Barent Fabritius (1660)



Di ladang itulah, Boaz dan Ruth bertemu. Perbuatan Ruth telah mempesona Boaz. Diam-diam Boaz memerintahkan buruh-buruhnya untuk melindungi Ruth dan tidak lupa mencukupkan tempayan-tempayannya. Ruth tak pernah pulang dengan tangan kosong. Setiap pulang dari pengirikan, Ruth menceritakan kebaikan Boaz pada ibu mertua. Naomi yang mengetahui bahwa Boaz masih saudara suaminya melihatnya sebagai kandidat penebus yang didambakan. 

Ruth sendiri tak pernah berpikir untuk mencari suami. Suaminya baru saja meninggal dan tak ada kesedihan sepedih kehilangan kekasih hati. Namun, ia patuh pada Naomi. Pada malam hari, ia masuk ke tenda Boaz dan duduk di kakinya. Boaz kaget. Namun, ia berkata pada Ruth bahwa hak menebus itu ada pada satu orang lagi, jika orang itu menolak maka hak itu akan jatuh kepadanya. Ruth adalah perempuan baik, maka Boaz menyuruh Ruth untuk tinggal sampai pagi karena tak baik jika ia keluar malam-malam. Keesokan paginya, Boaz memberikan enam jelai untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk Naomi. 


Boaz Casting Barley into Ruth's Veil by Rembrandt (1645)


*** 

Pada bagian ini kita akan mempelajari karakter Boaz. Wahai lelaki, Boaz ini memiliki kekuasaan, tetapi ia tak menggunakannya serampangan. Dicarinya laki-laki yang memiliki hak sebelum dirinya itu. Ditanyainya apakah ia mau menebus pusaka Naomi dan menikahi Ruth. Si Lelaki itu mau saja menebus Naomi, tetapi ia tak mau menikahi Ruth karena akan menodai keturunannya sendiri. Penolakan Lelaki itu dengan langsung memberikan hak bagi Boaz untuk menikahi Ruth. Tentu kita bisa menebak betapa bahagianya Naomi. Tuhan mendatangkan haknya seperti siang hari melalui ketaatan menantunya. Pusaka Naomi pun selamatlah. Kisah Ruth dan Boaz menjadi bukti bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia tak peduli pada identitasmu. Ia tak peduli apakah kamu difabel atau memiliki keterbatasan. Ia tidak peduli sekalipun kamu adalah orang asing di negeri yang jauh. Pertemuan Ruth dan Boaz sudah termaktub dalam rencana-rencana Ilahi. Dari pernikahan Boaz dan Ruth, lahirlah anak laki-laki bernama Obed. Obed kelak memperanakkan Isai. Isai memperanakkan Daud. Dan kelak dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus. 

 ***

Tidak mudah memiliki sikap setia dalam menjalani hidup. Dalam menghadapi tantangan, seringkali kita akan seperti Orpa yang meski awalnya taat, tapi kemudian menyerah karena keadaan. Ketidakpastian dan rasa tidak nyaman kelak membuat kita harus memilih: berhenti atau tetap lanjut. Di tempat kerja misalnya, kita sering mengalami iklim kerja yang tidak mendukung. Kita mendapati ada rekan kerja yang menusuk dari belakang, memfitnah, atau menghalangi-halangi kita untuk maju. Kita punya pilihan untuk mundur, tapi kita juga punya pilihan untuk tetap tinggal. Ruth punya pilihan untuk meninggalkan Naomi, tetapi ia memilih untuk tinggal bersama ibu mertuanya. Tidak hanya itu saja, demi menyelamatkan garis keturunan Naomi, ia menikahi Boaz. Ada pengorbanan disini. 

Kitab Ruth tidak terlalu banyak memberikan gambaran romantisme dalam hubungan mereka. Namun, kita bisa belajar banyak dari kisah Ruth dan Boaz bahwa pertemuan mereka adalah untuk saling menopang. Ruth merasa mendapat "teman" dengan perhatian yang diberikan Boaz yang memastikan jelai-jelainya selalu ada. Ruth merasa "dihibur dan ditenangkan" bahwa hari esok ia masih menyambung hidup bersama mertuanya. Di sisi lain, Boaz menjadi contoh bahwa laki-laki pun tidak selalu terpikat hanya dengan kecantikan atau kepandaian semata. Bayangkan saja jika kau dicintai hanya karena rupa dan latar belakang yang hebat-hebat saja. Ketika hal yang jasmaniah itu merosot seiring dengan berjalannya waktu, apakah kita masih akan dicintai dengan cara yang sama? 

Boaz bisa memilih perempuan mana pun dari kelas yang lebih tinggi dari seorang Ruth. Namun, ternyata kesetiaan Ruth pada mertuanya dan terlebih pada Allah yang justru memesona hati Boaz. Kita kembali diingatkan bahwa karakter seseorang menjadi elemen penting yang tak bisa disepelekan. Karakter kitalah yang menentukan "siapa" kita dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus, maka getarannya pun akan dirasakan oleh siapa saja, seperti Boaz yang tersentuh dengan apa yang Ruth lakukan. 

***

Selamat Hari Valentine.





PS: berdasarkan diskusi dengan dua perempuan teolog: Kak Audra dan June. 

Pengetahuan

Rethinking Sex

Sabtu, Februari 11, 2017


"Many of us learned in high school biology that sex chromosomes determine a baby's sex, full stop: XX means it's a girl; XY means it's a boy. But, on occasion, XX and XY don't tell the whole story." (National Geographic : Gender Revolution, January 2017, p. 51)

Cerita Lagu

Oops...I Did It Again

Senin, Februari 06, 2017

Saya bukan penggemar lagu ini bahkan ketika populer hampir dua puluh tahun lalu. Yang saya ingat, Britney punya cara khas yang membuat lagu Oops...I Did It Again sangat lekat dengan karakternya. Terutama di bagian "yeah....yeah...yeaaahh....". Ada yang lucu pula dalam lagu ini, yaitu ketika si Cowok Astronot memberikan berlian kepada Britney dan Britney bertanya apakah berlian tersebut adalah berlian yang dibuang oleh si wanita tua di lautan. Well, sepertinya yang dia maksud Rose di film Titanic. Ini tipikal kebudayaan pop, saling merujuk hihihi. 




Tapi orang bisa berubah. Sebuah lagu seperti senjata juga, tergantung siapa yang memegangnya. Tadi siang, Zus Tami mengirimkan lagu ini pada saya. Lagu Oops I Did It Again yang sangat melekat dengan Britney berubah warna dari pop ke jazz. Vokal Haley Reinhart, salah satu jebolan American Idol, sukses memberi warna baru. Apalagi pas dia nyanyi di bagian "Oopss...". Seksi sekali. 




Sesungguhnya saya mulai memperhatikan lagu ini sejak menjadi salah satu backsound di serial Grey's Anatomy season 12. Oops..I Did It Again dinyanyikan ulang Freedom Fry secara akustik dan suasananya terasa agak gothic. Ciri khas Britney yang ceria dan bitch berubah menjadi muram dan agak evil. Disitulah, saya mulai melihat lagu ini dengan cara yang berbeda. Saya jadi suka. Betapa memang sesuatu sangat bergantung dengan suasana hati. 



Apapun bentuk covernya, lagu-lagu ini akan mendapat momennya ketika diputar pada suasana yang pas. Versi mana yang Anda lebih suka?

Review Film

Whiplash & La La Land

Jumat, Januari 27, 2017




Damien Chazelle memiliki keresahan. Keresahan itu hanya bisa dirasakan pecinta musik Jazz. "People wonder why Jazz is dying" adalah keresahan Damien yang ia titipkan dalam karya-karyanya. Teks ini muncul dua kali di film Whiplash (2014) melalui tokoh Terence Fletcher dan La La Land (2016) yang diwakili tokoh Sebastian. Damien sendiri yang menyutradarai, menulis skenario, dan menyumbang sedikit untuk penataan musik dalam dua film ini. Damien hampir seperti Woody Allen tanpa Freud dan Kierkegaard. Proses produksi kedua film ini memang matang. Tidak mengherankan, bila kedua film ini mendapat nominasi dan penghargaan di ajang-ajang apresiasi film di Hollywood. 





Banyak orang melihat kedua film ini tentang tentang cinta dan pengorbanan. Tentang usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai cita-cita dan mimpinya. Ketika kita menonton dua film ini secara berurutan, Damien ingin bilang bahwa kita sekarang krisis generasi yang menjaga dan menghidupkan kebesaran suatu warisan hebat di masa lalu, seperti hutan hujan tropis yang dibakar di Kalimantan atau pegunungan kapur untuk meresap air yang terancam menjadi bahan baku pabrik semen. Generasi ini bukannya tak kreatif, tapi justru apatis dan pragmatis. 

Sebagai pecinta musik Jazz, Damien gelisah bahwa musik yang besar itu perlahan-lahan kehilangan pendengarnya. Jazz adalah "tangisan" dan "teriakan" atas penindasan. Musiknya berbicara tanpa perlu ada lirik. Musik yang besar itu menjadi picisan dengan musisi-musisi jazz baru yang tak lagi bersuara untuk "penindasan" tapi demi industri rekaman. Jazz memang tidak untuk semua orang karena untuk mendengarnya kamu harus mengenalnya dulu. Untuk mengenal Jazz, kamu harus membuka hati. Tetapi, bagaimana Jazz dapat bertahan bila tak ada lagi "teriakan" dan "tangisan" itu? Bagaimana mungkin Jazz dapat didengarkan jika para pendengarnya seperti robot? 

Jazz berbicara tentang perasaan. Dan perasaan sekarang menjadi basi.

Cerita Lagu

"Di Radio Aku Dengar Lagu Kesayanganmu"

Jumat, Januari 27, 2017

*photo: tumblr*



Gombloh tahu pasti bahwa mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman yang istimewa. Ia mengabadikannya sebagai lirik pertama dalam lagu “Kugadaikan Cintaku” -lagu yang legendaris itu- untuk membuat kita –generasi hari ini- belajar menghargai insting dan rasa. Setelah buku, radio adalah media yang memberikan kita kesempatan untuk berimajinasi. Suara-suara itu menyapa kita. Menjadi teman yang mengajak berdialog. Mendengarkan lagu di radio adalah bagian dari dialog itu. Suatu kemewahan yang tidak disadari ketika teknologi sudah semakin canggih. Dan kita hampir lupa, bahwa pernah di suatu masa, radio adalah ruang rindu, tempat para pecinta berkumpul. 

 *** 

Seminggu belakangan ini saya kembali mendengarkan radio. Saya lelah dengan tayangan-tayangan dan berita-berita yang ada di TV maupun di media jejaring sosial yang penuh sengkarut persoalan. Saya sama sekali tidak bahagia mengonsumsinya. Lantas saya memutuskan kembali pada radio sebagai salah satu alternatif katarsis. Kamu bertanya kenapa? Hmm…mungkin secara genetik, radio sudah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Mami saya berprofesi sebagai penyiar, maka sejak dalam kandungan saya sudah akrab dengan radio. Saya menyaksikan sendiri betapa rumitnya sistem radio, mulai dari era manual sampai digital. Saya menjadi saksi dari kegilaan fandom terhadap penyiar-penyiar radio. Saya mengenang masa-masa itu sebagai masa-masa terbaik. Musik-musik hebat masih lahir di zaman itu.

Di masa kejayaan radio, orang masih mau berinteraksi dengan akrab dan intim, bukan hanya selintasan dan berlalu begitu saja. Orang masih ingin terhubung satu dengan yang lain. Entah dengan berkirim salam atau menantikan sandiwara radio sambil tak sabar mengikuti kuisnya. Khusus untuk acara kirim salam, menunggu dengan harap-harap cemas adalah kesenangan tersendiri. Apakah si Fulan akan mengirimkan salam malam ini? atau tiba-tiba kita mendengar pesan dari si Anu yang ternyata sudah jadian dengan si Barbie. Yang lucu kadang ada yang mengirim pesan seperti ini,"Dari Donna di Kotabaru, lagunya Jika- Melly ft Ari Lasso, lagunya buat yang merasa aja..."HAHAHAA. Hal yang paling penting, sejauh ini radio masih menyajikan informasi yang beragam, netral, dan berimbang. Beritanya tidak sampai bikin kepala sakit atau naik darah. Bagaimana mungkin kamu bisa marah? jika setelah berita harga bawang naik, Ike Nurjanah menyanyikan lagu Terlena.

***

Bagi saya, mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman istimewa, tanpa mereduksi pengalaman mendengarkan lagu di music player yang sekarang sudah mudah, canggih, dan ekonomis. Hanya saja, debar-debar itu tidak ada. Mendengarkan lagu di radio seperti ketika kamu sedang naksir dengan seseorang di sekolah. Pertemuan tak terduga dengannya di kantin atau lapangan basket adalah momen yang membuat hatimu berbunga-bunga. Ketidakterdugaan yang membuat mendengarkan lagu di radio menjadi romantis. Ketika kamu mendengarkan lagu melalui music player semuanya sudah terprediksi, tidak ada lagi kejutan. Kamu tidak akan senyum-senyum dikulum ketika tiba-tiba mendengarkan Rossa menyanyikan Nada-Nada Cinta atau merasa de javu sewaktu mendengar Leon Haines Band menyanyikan For You To Remember. Mendengarkan radio juga seperti pengalaman yang sinematik, bisa di kamar saat hujan turun, di perjalanan ketika menuju tempat rekreasi, di tempat perbelanjaan, di warteg depan Kos, atau pas menunggui ban motor yang sedang ditambal. Lagu-lagu yang diputar di radio dapat menambah referensi musik kita atau kalau kita beruntung justru membangkitkan kenangan lama. Kamu terkejut bahwa memori itu masih ada atau bisa saja merasa heran bahwa getar-getar yang dulu pernah dirasakan untuk seseorang saat mendengarkan lagu itu ternyata bisa pudar. Satu lagu ternyata bisa tumpang tindih dengan kenangan-kenangan yang berbeda dan dengan orang-orang yang berbeda pula. Saya juga akhirnya paham mengapa lirik kedua yang ditulis Gombloh adalah, “kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku?”. Radio membuat kita "mencari". Sore itu, radio yang saya dengarkan memutar lagu Born to Make You Happy-nya Britney Spears. Saya langsung teringat sahabat saya Tirta, yang sekarang tinggal di kota seberang dan sudah hampir dua tahun tak berjumpa. Ia adalah fans fanatik Britney Spears dan sangat suka dengan lagu ini. Saya sekonyong-konyong menghubungi dia, “Tir, lagumu diputar di radio…!!!” 

Sayangnya, mendengarkan radio bukan perkara sepele. Ia datang dari zaman dimana untuk meraih sesuatu itu tidak mudah. Jika di music player kamu hanya tinggal mengetik lagu yang kamu inginkan, maka untuk radio kamu harus tabah mencari frekuensi yang tepat. Ini belum lagi gangguan kresek-krusuk karena gelombang sangat mempengaruhi kejernihan suara. Menemukan stasiun radio yang memutar lagu-lagu yang sesuai dengan selera adalah seperti mencari jodoh. Faktor lainnya, tentu saja penyiarnya. Penyiar adalah Lee Min Ho di drama-drama Korea yang kamu tonton. Suaranya (dan ini sangat relatif) adalah ketertarikan seksual. Isi pembicaraan si Penyiar adalah kepribadiannya. Penyiar adalah salah satu faktor yang membuat kita betah mendengarkan suatu program radio, setia mendengarkan radio itu juga. Pernah suatu hari Mami bilang, setiap kali ia mendengarkan lagu If Tommorow Never Comes-nya Ronand Keating, ia selalu terkenang masa-masa sebelum ia meninggalkan Pro 2. "Itu tidak mudah untuk saya," ujarnya. Beberapa hari belakangan ini si Mami juga ikut mendengarkan radio yang saya putar. Setiap kali ada lagu yang familiar atau ia sukai, ia menjerit kegirangan. Tempo hari Mami bilang kalau nanti ia pensiun, ia akan membeli seperangkat pemutar stereo yang canggih dan records yang ia inginkan. Ia berencana menikmati hari tuanya dengan mendengarkan musik. Saya tertawa terbahak-bahak,” Mam, dimana mau beli CD-nya? Disc Tarra disini sudah pada tutup kali..”. Mami saya kaget. Ia tidak percaya. 

***

Malam itu hujan keras. Saya masih mendengarkan radio yang sama sejak tadi siang. Penyiarnya bersuara bariton yang manly dan ia sedang memutar lagu-lagu Indonesia tahun 80-an. Saat membacakan request-an pendengar, ia terkenang masa lalunya dan suaranya bergetar menahan haru. Saya tertegun, tak peduli gendermu apa, ketika melodi menyentuh hatimu, kamu lebur di dalamnya. Suara pintu depan terbuka. Mami baru saja pulang dari kantor. Beberapa saat kemudian, Ia masuk ke kamar saya bersamaan dengan terputarnya lagu The First Cut Is The Deepest versi Rod Stewart di radio. Saya dan Mami bercakap-cakap sebentar, lalu entah siapa yang duluan menginisiasi, kami sudah berpelukan dan berdansa. Rod Stewart terus bernyanyi dan kami juga ikut bernyanyi. Kami bahagia sekali malam itu hingga tanpa sadar kami menangis haru. Ketika mendengar lagu ini di suatu hari nanti, saya akan mengenangnya sebagai salah satu malam yang romantis antara saya dengan Mami. Tidak ada kata-kata berbunga yang mampu mendeskripsikan perasaan kami malam itu. Kami percaya, kami mengalami momen magis. Momen indah yang takkan terlupakan sampai kapan pun. Kisah ini akan selalu diceritakan sebagai kenangan manis. 

Dan semua itu karena sebuah radio.