Life Story

Akhirnya...Brandenburger Tor

Sabtu, Juli 02, 2016

Sebelum membaca tulisan di bawah ini. Bacalah dahulu tulisan berikut.

Sudah?

Oke lanjut...

Sembari menuliskan ini saya jadi teringat judul bukunya Eka Kurniawan yang berjudul "Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi". Kira-kira beberapa bulan yang lalu saya bermimpi. Saya tidak akan pernah melupakan mimpi itu karena begitu nyata. Di dalam mimpi itu saya sedang berada di perbatasan menuju Jerman. Suasananya sangat gelap. Yang terlihat hanyalah Branderburger Tor dengan lampunya yang menyala terang. Simbol reunifikasi Jerman itu menjadi ikon negara dan ibukota-nya Berlin. Saya berusaha menuju Branderburger Tor tetapi seberapa keras saya mencoba, saya hanya sampai di depan gerbangnya tanpa berhasil melalui gerbang itu. 

Saya terbangun dan merasa sedih karena saya tidak tahu kapan saya akan benar-benar menggenapi mimpi itu. Perjuangan melanjutkan pendidikan bukanlah perjalanan yang mudah bagi saya. Membangun sesuatu dari nol bukanlah perkara mudah. Roma memang tidak dibangun dalam semalam. Penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison tidak rampung dalam satu, dua kali percobaan. Tidak mudah namun bukan berarti tidak bisa. Meskipun demikian, saya selalu menyimpan harapan itu di dalam hati. Tetap sabar melakoni peran yang diberikan kepada saya dengan tabah. Saya masih bersyukur karena meskipun jalan yang dilalui tidak mudah, saya banyak diberi kemudahan. Saya mendapatkan teman-teman baru, pengalaman-pengalaman baru, dan perasaan sukacita meskipun yang saya alami berat. Dan Tuhan tidak pernah lupa pada doa yang diucapkan dengan sepenuh hati. Ia setuju. Jawabannya Ya. 


Akhirnya untuk pertama kali...


Meike di Brandenburger Tor, Berlin-Jerman, taken by Mas Agung


Saya masih berjuang untuk meraih cita-cita saya. Semuanya butuh waktu. Semuanya melalui proses. Setidaknya saya sudah diperkenalkan kehidupan disana. Di negara tempat saya ingin sekali menuntut ilmu. Semoga Tuhan menjaga mimpi ini. 

Sehingga Ia akan menjadikan semuanya indah pada waktu-Nya. 





Pankow - Berlin, 19 Juni 2016

Archolic

Tersibaknya Misteri Gereja Gothik Sayidan

Rabu, Juli 08, 2015

Saya tak menyangka bahwa tulisan saya tentang Gereja Gothik Sayidan mendapat banyak respon dari pembaca blog sekalian. Ternyata, bangunan ini memang banyak menarik minat mereka yang menyukai misteri dan arsitektur. Saya termasuk keduanya. Dan saya senang, ternyata saya tidak sendiri. Saya juga bertemu dengan seseorang yang pernah kuliah di Jogja dan mengetahui kisah tentang Gereja Gothik Sayidan. Katanya, bangunan itu dulunya gereja tetapi karena dianggap sesat, makanya ditutup. Lain kesempatan saya bertemu orang lain lagi yang bercerita bahwa gereja itu ditutup atas permintaan masyarakat setempat. Sesungguhnya hal itu cukup aneh, mengingat tempat di sebelah Gereja Gothik Sayidan, berdiri gereja lain. Andaikata masyarakat melarang, mengapa tidak dua-duanya saja ditutup? atau betulkah bangunan itu memang tempat perkumpulan bagi penganut ajaran sesat?

***

Perkenankan saya memperkenalkan sobat saya Yerinta. Kami memiliki banyak kesamaan. Kami sama-sama anak tunggal dan sama-sama memiliki nama Lucia. Kami sama-sama suka filsafat. Yerinta adalah mahasiswa Filsafat di UGM dan saya sendiri sedang pelan-pelan belajar filsafat. Puncaknya, kami sama-sama tertarik dengan Gereja Gothik Sayidan. Dari Yerinta-lah saya baru ngeh, bahwa gereja Gothik Sayidan pernah menjadi lokasi syuting video klip-nya Ari Lasso dalam lagu Perbedaan. Lagu Perbedaan sendiri hits di awal tahun 2000-an, jadi sudah sekitar 10 tahun lebih. Pada saat video klip itu dibuat, Gereja Gothik Sayidan masih bersih dari tetumbuhan merambat. Bangunannya masih kokoh dan megah. Sekarang, kita bisa liat bangunan itu mulai diselimuti tumbuhan rambat, jendelanya yang rusak disana-sini, dan salah satu menara yang mau tumbang. Mungkin saja, hanya Ari Lasso satu-satunya yang diperkenankan masuk ke dalam rumah itu.




Saya dan Yerinta pun mulai membahas Gereja Gothik Sayidan dan informasi yang kami ketahui masing-masing (informasinya hampir sama dengan yang kalian ketahui juga). Merasa bahwa bangunan ini memang misterius, kami berencana melakukan tapak tilas. Tapi, hal itu tak pernah terwujud karena kesibukan masing-masing. Saya juga sudah bertanya pada Eyang, sebagai warga Jogja sejati. Tapi beliau malah tidak tahu bangunan itu. Saya akhirnya memutuskan bertanya pada sumber yang tak bisa diragukan lagi, yaitu Om N. Om N adalah suami dari keponakan Eyang. Om N mengetahui segala seluk beluk kota Yogyakarta maupun daerah di pulau Jawa. Maka, pada suatu kesempatan saya pun menanyakan perihal Gereja Gothik Sayidan.

Di luar dugaan, Om N tahu mengenai tempat itu bahkan mengenal sang pemilik rumah. Sang Pemilik Rumah dan Om N akrab ketika mereka masih sama-sama jadi anak break dance di tahun 80-an. Om N bercerita rumah itu dibangun pada tahun 1980-an oleh keluarga temannya itu. Teman Om N itu seorang Tionghoa dan kaya raya. Rumah itu sebenarnya rumah biasa bukan gereja seperti yang disebutkan orang. Memang sih arsitekturnya seperti gereja pada umumnya, tapi kata Om N itu rumah biasa. Om N sendiri juga merasa sayang bahwa rumah itu sudah tidak terurus lagi. Ketika saya bertanya apa hubungan antara tulisan ullen sentalu di pintu Gereja Gothik Sayidan dan museum Ullen Sentalu, Om N tidak tahu menahu. Dan misteri itu pun tersibak dengan antiklimaks. 

Itulah penyelidikan saya sampai sejauh ini. Saya berspekulasi bahwa bisa saja masyarakat setempat membangun mitos mengenai bangunan itu. Ada banyak hal mengapa suatu tempat layak menjadi mitos. Bisa saja karena ia mengundang decak kagum atau kontroversi. Rumah tinggal dengan banguanan gothik lengkap dengan patung Yesus sebesar gaban itu tentu menimbulkan decak kagum dan rasa heran sekaligus. Apalagi ketika misalnya rumah itu sudah tidak ditinggali lagi. Mungkin, kita bisa menanyakan Ari Lasso yang pernah masuk ke rumah itu dan mungkin juga mengenal pemilik rumahnya. Tapi untuk sementara, misteri itu sudah tersibak....sedikit demi sedikit. 

Traveling

Sangiran dan Masa Lalu yang Samar-Samar

Rabu, Juni 03, 2015

foto: meike


Foto Eugene Dubois muda dengan senyum tipis membuat saya tertarik. Ia tampan. Wajahnya mengingatkanmu pada Joaquin Poenix tanpa kumis. Ia juga sehidup gambaran karakter laki-laki dalam novel-novel Jane Austin. Kecerdasan dan rasa ingin tahu terpancar pada tatapan matanya. Kemudaannya telah menghisapmu. Sungguh. Seseorang yang tak mungkin kau gapai selalu terasa seksi. Ketika kemudian saya mencari gambar lain Dubois di google, saya menemukan fotonya yang jauh berbeda. Foto itu diambil ketika ia sudah mulai menua dengan badan yang tak lagi tegap seperti perwira. Ada kumis khas pria Eropa yang sudah tumbuh di atas bibirnya. Seketika saja foto Dubois muda di museum tampak sia-sia. Betapa menyedihkan sebenarnya bahwa manusia akan menjadi tua. Tak heran Sidharta Gautama menjadi shock karenanya (selain tentu saja kematian dan rasa sakit). Dalam eksistensi manusia, Kala adalah sang Penguasa. Diam-diam saya mencurigai pengelola museum memasang foto muda Dubois sebagai penglaris. 

***

Dubois datang ke Jawa lebih dari seratus tahun lalu untuk mencari the missing link dari teori evolusi. Darwin dan teori Evolusi-nya percaya bahwa manusia merupakan penyempurnaan dari kera. Homo erectus (manusia kera) mulanya berkembang di berbagai daerah di belahan dunia. Namun, karena lingkungan, banyak yang punah. Homo erectus yang menjadi cikal-bakal manusia kini dan satu-satunya yang bertahan adalah yang berasal dari Afrika. Mereka-lah Adam dan Hawa homo sapiens secara scientific. Homo erectus Afrika inilah yang berimigrasi dari menempati kepulauan-kepulauan termasuk Indonesia. Dari segi bahasa, perpindahan tersebut menyebabkan persamaan struktur pada bangsa-bangsa berbahasa Austronesia lainnya. 

Sudah bukan berita baru bila teori evolusi mengundang banyak perdebatan. Fakta lain mengatakan bahwa manusia dan simpanse berbagi 97% gen yang sama. Manusia dan simpanse juga sama-sama dominan menganut patriarkhi. Namun di sisi lain, para neurologist dan linguist tidak sependapat dengan itu. Paling tidak menurut mereka ukuran otak manusia dan kera jelas berbeda. Keadaan ini menyebabkan manusia mampu menciptakan bahasa sementara kera tidak. Selain itu, fungsi rahang manusia dan kera juga berbeda. Rahang manusia digunakan untuk berbicara sementara rahang kera digunakan untuk memecah biji-bijian. Namun, hal yang menarik kemudian terjadi dalam pemetaan penguasa di jagat raya ini. Pada mulanya adalah kawanan dinausaurus (reptil), lalu primata, dan akhirnya manusia. Pertanyaannya, apakah manusia akan berkuasa lagi? Lalu, apabila manusia punah, siapakah yang akan menggantikan manusia?

homo erectus dan aktivitas *foto: meike


Dalam film Lucy, secara ekplisit dijabarkan konsep survival is the fittest dari teori Darwin. Entah sengaja entah kebetulan, Lucy -nama pemeran utama di film itu- adalah nama yang diberikan pada australopithecus afarensis atau dikenal sebagai manusia perempuan pertama. Nama itu juga menjadi nama tengah saya. Dalam teori itu terkandung pemaknaan bahwa apabila lingkungan suatu makhluk hidup tidak mendukung maka ia akan mati, namun apabila lingkungannya mendukung maka ia akan bereproduksi. Dengan kata lain, makhluk hidup yang kuat adalah makluk hidup yang mampu beradaptasi. Proses adaptasi membuat manusia mampu bertahan hidup. Karena ia bertahan hidup maka ia memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Dalam proses reproduksi, manusia tidak hanya sekedar beranak, tetapi juga mewariskan memori dan pengetahuan ke dalam generasi berikutnya. Tidak hanya memori dan pengetahuan saja yang diwariskan, St. Agustinus menambahkan sesuatu yang kemudian sangat menakutkan manusia beragama selama berabad-abad: dosa. Konsep dosa asal lahir dari sebuah proses bertahan hidup. Hal ini berlawanan dengan apa yang dinyanyikan grup band Padi. Ya, manusia rupanya tidak lahir sebagai selembar kertas putih. 

Di pojokan sana berdiri tiruan homo floresiensis atau manusia Flores. Homo floresiensis ditemukan di Liang Bua, Flores. Konon, merekalah nenek moyang manusia kerdil atau hobbit. Apabila ditemukan di Flores, maka bisa jadi, mereka adalah nenek moyang saya juga. Perempuan homo floresiensis itu dibuat oleh Elizabeth Daynès. Manusia dan segala pengetahuannya telah merekonstruksi homo floresiensis sedemikian rupa. Mendekati kemiripannya yang sesungguhnya. Dan disanalah ia berdiri dengan gamang, perempuan homo floresiensis memegang sebatang kayu dan menatap kosong kepada setiap pengunjung. Ada yang melihatnya dengan seksama dan ada yang tak peduli sama sekali. Perasaan sedih itu menyeruak lagi. Betapa dulu ia adalah ibu dari seseorang, kekasih dari seseorang, atau anak dari seseorang. Mungkin ia adalah seorang matriak yang karena kondisi alam ataukah insiden kemudian menjadi punah dan hilang dari sejarah. Tengkoraknya yang ditemukan di Liang Bua tidak banyak bercerita. Jika para geologist percaya sebongkah batu bisa menceritakan sejarah manusia, maka tengkorak itu hanya memberi misteri yang sampai kini masih diterka. Paling tidak, tiruan yang dibuat Elizabeth ini menyatakan banyak hal. Meskipun itu hanyalah masa lalu yang samar-samar.




Mengingat Kak Nunu dengan idenya yang luar biasa untuk berkunjung ke Sangiran dan Kak Ipa yang setia menemani.

Archolic

Archolic: Cinta, Pembunuh Jenuh, dan Hujan Sore-Sore

Kamis, April 02, 2015

foto: Meike


Saya sudah lupa persisnya kapan saya jatuh cinta pada arsitektur dan interior design meskipun saya juga tidak berniat menjadi arsitek dan designer. Pertama, saya tidak bisa menggambar. Kedua, saya tidak bisa matematika sehingga mengharapkan saya masuk jurusan teknik hampir sama mustahilnya melihat ikan hidup di darat. Ketiga, saya merasa lebih cocok menjadi "penikmat" daripada "pembuat". Keempat, memang tidak minat juga. Dengan demikian, jadilah saya archolic (bukan alkoholik ya!) sebutan dari gabungan kata "architecture" dan "holic" (i invented them hihiii..). Yup, sebutan bagi mereka yang menyukai arsitektur dan interior termasuk suasana dan atmosfir yang diciptakan tanpa berkecipung di dunia per-arsitekturan dan per-design interior-an. Well, menyukai lagu-lagunya Nirvana atau Pearl Jam tidak berarti menjadikan kita semua anak grunge, kan?

Sore itu saya berencana mencari bahan untuk menyusun bab 2. Perpustakaan memang tempat yang menyenangkan, tapi thanks to UGM, kita bisa mengakses jurnal di mana saja dengan syarat punya koneksi internet dan tentunya berstatus mahasiswa UGM. Di Jogja, banyak sekali cafè-cafè dengan arsitektur dan interior yang menarik (di Makassar juga sudah mulai berjamuran). Saya senang dengan bangunan indische atau kolonial dan favorit saya adalah Indische Coffee yang berada di Benteng Vreedeburg (kurang kolonial apa lagi coba?). Beberapa orang yang datang ke Jogja dan ingin bertemu saya biasa saya ajak kesana. Tapi kali ini ingin sesuatu yang berbeda. Hasil blogwalking saya di blognya ruthwijaya yang membuat saya menemukan Epic Coffee & Epilog Furniture. Btw, mbak Ruth ini hampir saja saya jadikan informan penelitian tesis saya, sayangnya kami belum berjodoh (pssstt...). 

Jujur saja, ketika melihat arsitektur dan interior-nya Epic Coffe ini saya langsung surprise, masa sih yang beginian sudah ada di Jogja. Tapi, yah...ternyata memang benar adanya. Epic Coffee ini terletak di daerah Palagan, patokannya dari Hyatt, kira-kira 100 meter ke utara. Bangunannya berbentuk warehouse dengan langit-langit yang tinggi dan jendela-jendela besar. Ketika memasuki bangunan, kita akan bertemu dengan bar di mana para barista akan membuat kopi-kopinya. Makanan yang dijual memang dominan barat tapi ada juga beberapa makanan yang tradisional. Saya sesungguhnya bukan pecinta kopi meski bapak saya punya kebun kopi di Flores sana. Tapi, saya cukup surprise ternyata Epic juga menyediakan kopi Flores sebagai salah satu menu andalannya. Sayang sekali, karena saya tidak doyan minum kopi hitam, saya hanya memesan minuman kopi yang sudah divariasi seperti Cappucino dan Frappucino. 


*nice isn't? *foto: meike


*berasa kayak di Filosofi Kopi, foto:meike


 cara cerdik dan manis untuk menyimpan majalah *foto: meike


suasana di dalam Cafe *foto: meike


kalau bosan di dalam ruangan, kita bisa memilih tempat di luar ruangan yang cozy dengan taman-taman di sekelilingnya *foto:meike


Sayangnya, sore itu hujan turun deras sekali sehingga saya tidak bisa memotret arsitekturnya dari depan. Suara Peggy Lee yang menyanyikan I'm Confessin' semakin membuat suasana menjadi syahdu. Dinginnya udara (bukan disebabkan AC) membuat perasaan gloomy (entah karena persoalan akademik atau hati) semakin membuat biru perasaan. Sambil mendownload beberapa artikel, saya tidak bisa menafikan bahwa suasana "gudang" kental terasa. Ini menjadi keunikan tersendiri. Bukan tanpa alasan, arsitekturnya bergaya warehouse seperti ini. Epic Coffee harus berbagi ruangan dengan saudaranya Epilog Furniture yang menjual berbagai furniture. Trust me, berada di sana membuatmu ingin memiliki rumah dan memborong perabotan-perabotan ini. 


*welcome to the Epilog Furniture, foto: meike



all this furnish makes you crazy, isn't? *foto: meike


meja berwarna biru tosca yang saya taksir ini harganya sekitar Rp. 1.800.000-an loh *foto:meike



classical dining table *foto:meike


*mejanya ini pengen banget kubawa pulang, foto:meike


satu set begini cocok untuk rumah idaman saya deh hihiii..*foto:meike


Memang beberapa perabot kental dengan nuansa western dan minimalis. Mungkin kalau kamu mau punya rumah seperti para Hobbit atau mau buka cafè dengan suasana western-boneka-homey seperti ini, kamu pasti gatal untuk membeli (atau meniru) furnish-furnish yang ada di sini. Saya memotret beberapa, siapa tahu bisa dibuat sendiri dengan harga yang lebih miring. Soalnya, ada beberapa lemari yang harganya sampai mencapai 20 juta rupiah. Dengan menikmati dan keinginan memiliki perabotan seperti itu, hmm...sepertinya memang harus kerja keras.

Cafè ini hanya punya satu kekurangan: ia tidak memiliki operator musik yang cangih. Masa hujan-hujan di sore hari lagunya disko-diskoan, syukurnya bunyinya juga samar-samar karena kalah bersaing dengan suara hujan. Untungnya saya juga selalu punya playlist di laptop. Malam kemudian menyapa dan hujan juga sudah reda. Saya memutuskan pulang. Sebelum meninggalkan tempat ini -masih dengan bau petrichor-,  saya memotret bangunan Epic di waktu malam. Not bad. Ketenangan dan atmosfir yang dihadirkan bangunan ini menjadi senjata untuk membunuh rasa jenuh. 


Good night, everybody *foto: meike




love, meike
pada hari april mop, sehari menjelang Kamis Putih

Life Story

Mengunjungi "Ayah"

Jumat, Maret 27, 2015

Tulisan Kota Kupang*foto: meike




Tiba-tiba saya diliputi rasa kehilangan.

Suara menderembum dari pendingin ruangan yang mungkin umurnya sebaya dengan saya membuat suasana menjadi horor. Maklum mesin tua. Kadang-kadang bunyinya seperti orang yang sedang jalan mondar-mandir, kadang-kadang seperti suara orang mengetuk-ngetuk meja. Bisingnya membuat saya tidak tahan. Tapi, saya juga tidak mau mematikannya, selain karena nanti pengap tanpa bunyi-bunyian, telinga saya malah semakin peka. Bisa-bisa saya skizofrenik nanti. Untuk menyemarakkan suasana, saya menyalakan TV. Biarlah suara cerewet televisi menjadi teman yang akrab untuk saat ini. Saya tidak tahan dengan kesunyian ganjil yang dihadirkan ruangan itu setiap malam. Apalagi setelah pagi tadi mendengar cerita bahwa ternyata sayalah satu-satunya yang menginap di lantai 3 hotel tua itu. Maka jadilah, suara-suara dari ac dan TV saling beradu, menciptakan harmonisasi yang sama sekali tidak sukses. Selain itu, sendiri di kamar hotel juga akan membuatmu waspada sehingga kau akan sulit tertidur meskipun tubuhmu sudah lelah dan matamu terpejam.

Sebelum tayangan komedi berubah menjadi acara panggil arwah, saya buru-buru mengganti channel ke tayangan berita. Dan begitulah...dengan latar belakang berita kematian mantan perdana menteri Singapura, perasaan kehilangan itu muncul lagi. Saya merasa sedih. Namun, bukan sedih yang "sedih" tapi sedih yang tidak membuatmu putus asa. Laksana seorang anak yang berjumpa dengan ayahnya setelah sekian lama tak bersua, lalu belum genap berpelukan mereka terpaksa  berpisah. Perpisahan itu pun terjadi tanpa semarak. Hening. Ada jarak yang membuat kami lebih baik berpisah dalam diam. Ada kemesraan yang lebih intim meski kami hanya bertatapan saja. Ada perekat di bibir yang membuat kata-kata tak mampu diucapkan. Tapi rasa itu nyata, memenuhi hati, sehingga jika saya tak kuat, akan membumbung melewati rongga dada dan meledak berupa air bah di pelupuk mata. Begitulah ketika tanah Timor berhasil kujajaki. Kota Kupang yang seperti lagu tua yang didendangkan orang-orang tua sejak lama. Tanah yang selama 23 tahun hanya mampu dikenal sebatas cerita orang. Tanah yang kuyakini adalah ayahku, darahku setengah berasal. 

Jangan dianggap ini begitu klise. Karena akhirnya saya tahu bahwa Timor bukanlah ayah saya melainkan saudaranya, Flores. 23 tahun, bayangkan! 23 tahun saya percaya bahwa saya orang Timor. Saya dipiara dalam pengetahuan tentang ayah yang ternyata paman sendiri. Dan kenyataan itu tidak hanya membawa keceriaan karena mengetahui memiliki ekstasinya sendiri. Ada rasa sesak disana. Bahwa kau selama ini salah sangka. Kadang-kadang prasangka membuat kita perlahan-lahan menghakimi. Jika kau salah menghakimi, maka prasangka jenis ini akan membuatmu merasa bersalah dan menyesal. Akan tetapi, prasangka yang saya rasakan tidak menghakimi melainkan memberikan kesadaran. Ia tidak memberi rasa bersalah dan menyesal tetapi ia datang dengan pengertian bahwa akhirnya kau mengetahui akarmu yang sejati.  

***

Kupang adalah kota yang menyenangkan dengan orang-orang yang ramah. Mereka tak ragu menyapamu dengan bahasa daerah mereka. Mereka juga tak ragu bercakap meski kau berasal entah dari mana. Kupang bukanlah kota milik satu etnis. Ia adalah kota yang menampung siapapun dan darimana saja berasal. Di sana ada orang Timor, Flores, Sumba, Alor, Timor-Timur, Maluku Tenggara, Bugis-Makassar, Jawa, dan kelompok imigran pencari suaka politik dari Timur Tengah. Mereka berkumpul bersama dengan berbagai bahasa. Dalam perbedaan budaya saling menyatu namun tetap memperlihatkan kekhasan masing-masing. Kau akan takjub bahwa di pelosok Flores sana, seorang perempuan Jawa masih tetap melaksanakan tradisinya tanpa jemu. Kau juga akan maklum bahwa meski berada jauh dari kampung halaman, tetap saja kehidupan sebagai nelayan didominasi orang-orang Bugis-Makassar. Tradisi ternyata tak mudah hilang meskipun tanah air hampir-hampir seperti dongeng.

Saya tertidur ketika suara TV mengumandangkan adzan subuh. Saya bermimpi tentang seseorang di masa lalu yang saya lupa siapa. Tidak begitu jelas juga peristiwa apa yang terjadi di alam sana. Saya terbangun hampir pukul 11 siang. Saya harus check out dari hotel jam 12 siang. Saya harus check in di bandara pukul 2 siang. Dan tak lupa saya harus mencari daging se'i babi khas Kupang. Saya belum berfoto di depan tulisan Kupang di Taman Nostalgia, dan masih mencari oleh-oleh syal tenun untuk teman di Jogja. Masih langsik, saya mandi saat itu. Sial! showernya tidak menyala. Saya memakai baju kembali dan hendak memanggil pelayan hotel. Tapi begitu saya coba lagi, showernya nyala dan airnya deras. Saya merasa dikerjai. Setelah selesai berdandan dan mengecek barang-barang saya keluar dari kamar itu. Cuaca masih cerah. Matahari bersinar gembira sekali siang itu. Kemarin, Kak Dicky bercerita bahwa Kupang akhir-akhir ini sudah jarang hujan. Ia bertanya bagaimana dengan di Jogja dan Makassar dan saya menjawab masih hujan meskipun dengan jadwal yang tak pasti.



Se'i Babi dan sayur daun papaya *foto:meike



Kata "Nostalgia" itu loh...:p *foto: Jeffry



Sebelum ke bandara El Tari, saya menyempatkan diri untuk singgah di Taman Nostalgia dan berfoto di depan tulisan "Kupang" itu. Jeffry, supir hotel yang berasal dari Kefa menjadi fotografer saya hari itu. Tak jauh dari Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian yang kembar dengan saudara-saudaranya di kota Ambon, Yogyakarta, Bali, Palu, dan Ciamis. Saya pikir tak ada salahnya berfoto di sana meskipun saya sudah pernah berfoto di depan Gong Perdamaian di Ambon. Mungkin suatu saat bisa jadi koleksi. Aneh juga, gong perdamaian itu ada di rumah "ayah" dan "ibu". Saya tak memperhatikan kalau matahari sudah tertutup awan. Langit mendung pertanda akan hujan.


Dalam perjalanan itu, hujan keras turun. Padahal selama tiga hari saya di Kupang, tak pernah turun hujan. Saya teringat salah satu filosofi yang ada di Papua, Maluku, dan ternyata sama juga dengan di tanah Timor ini.  Tubuh dan jiwa terikat dengan tanah leluhur. Bahkan di Papua, tanah bisa menjadi tak subur justru ketika jiwa manusianya yang rusak. Koneksitivitas itu yang membuat perasaan selalu ingin pulang menghimpit mereka yang menjadi perantau. Saya yakin, hari itu ayah saya juga bersedih melepas kepergian saya. Maka hujan pun turun dengan deras.


***

Pesawat saya take off pukul 4 sore. Selama saya dari perjalanan ke bandara sampai pesawat yang saya tumpangi tiba. Hujan masih deras turun. Saya menelpon Mami mengabarkan cuaca yang buruk. Mami bilang saya harus berdoa supaya cuacanya cerah kembali. Sejak kasus jatuhya pesawat Air Asia, cuaca buruk dan awan hitam menjadi faktor utama penyebab orang paranoid naik pesawat. Tapi, perasaan saya biasa saja. Saya tetap berdoa namun tetap merasa bahwa hujan kali ini bukanlah hujan semata. Ia adalah sasmita, pertanda. Ia bukan musibah pada saat ini. Anehnya, ketika saya akan naik ke pesawat. Hujan berhenti. Lalu cahaya matahari perlahan-lahan merembes. Ketika pesawat mulai berada dalam 11 menit paling menegangkan dan melewati udara Kupang, cuaca cerah sekali. Matahari menyambut dengan genit.

Sementara langit Kupang di belakang sana sudah menghapus air matanya sambil tersenyum. 

Archolic

Tentang Apa yang Mereka Sebut "Gereja Gothic Sayidan"

Sabtu, Maret 07, 2015

Gambar 1. Gereja Gothic Sayidan, foto: Meike




Sesuatu yang dianggap misteri, selalu muncul dengan cara yang misterius.

Smartphone memang membuat kita semakin tenggelam dalam pusaran revolusi informasi. Tidak saja karena kita berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda ruang dan waktu (mungkin untuk berkomunikasi dengan arwah kita masih menggunakan cara tradisional: doa dan main jelankung) tapi kita juga dapat mendapatkan informasi apa saja dalam hitungan detik. Termasuk saya, apalagi kalau sedang BAB, saya tak lupa membawa handphone atau buku. Jangan il-feel dulu pada saya. Maksud saya baik sesungguhnya. Kamar mandi kos saya letaknya di luar dan berhadapan langsung dengan taman. Saya hanya ingin memusatkan perhatian pada sesuatu (selain ee' saya) sembari tidak terganggu dengan pikiran yang aneh-aneh (membayangkan kamu diintip lagi boker sama makhluk halus itu tidak menyenangkan, sodara)

Saya sudah lupa apakah saya sekedar iseng atau niat mencari artikel mengenai tempat-tempat angker di Jogja. Dan nyasarlah saya pada sebuah blog. Beberapa tempat disebut-sebut mulai dari Benteng Vreedeburg (ini sebenarnya tempat nongkrong favorit saya, ada kafe bergaya indische di dalam sana), keraton, sampai Ambarukmo Plaza (Amplaz, yang punya singkatan sama dengan Ambon Plaza di Ambon). Nah, entah di urutan ke berapa saya melihat sebuah bangunan gaya gothic yang mengingatkan pada Dom di kota Köln. Bangunan itu disebut Gereja Gothic Sayidan. Letaknya di daerah Gondomanan. Untuk mencapainya harus masuk gang dulu. Kalau mau lihat view bangunannya seperti foto-foto ini masuknya lewat gang Gondomanan sebelah barat. Kalau mau liat view yang kelihatan patung Tuhan Yesus-nya, masuknya lewat gang Gondomanan sebelah timur. Persis di belakang Gereja GKI Gondomanan. Kalau pernah masuk Taman Sari, terutama area Istana Air-nya  suasananya hampir mirip-mirip begitu. Bangunan itu berdiri dengan anggun sekaligus dingin. Ia diapit oleh rumah-rumah sederhana yang ada sekelilingnya. 

Sebenarnya ada beberapa versi cerita yang menjelaskan bangunan ini. Ada yang bilang itu adalah gereja karena memang arsitekturnya seperti gereja-gereja di Eropa abad pertengahan lengkap dengan salib dan patung Tuhan Yesus yang menunjuk ke arah keraton. Tapi, ada juga yang bilang bahwa itu sebenarnya rumah tinggal dan salah satu bagian rumahnya merupakan pabrik batik yang sudah tak terpakai. Rumah itu milik keluarga Tionghoa yang dibangun tahun 1980-an. Arsitektur pintu masuknya memang sangat kental dengan gaya Cina. Sayang sekali, rumah atau gereja itu sudah lama diabaikan oleh pemiliknya. Bangunan cantik itu tidak terlihat mengerikan. Saya justru melihat kesedihan di sana. Ia bagaikan perawan yang kesepian ataukah seorang janda yang ditinggal suami? Selain banyak bagian yang rusak, juga bangunannya sudah dijalari tumbuhan yang merambat. Saat saya mengambil beberapa foto, ada seorang bapak yang sedang naik motor, memelankan laju motornya dan berkata pada saya, "Angker, Mbak". Lalu ia pergi begitu saja (tidak pakai pesawat tempur seperti Iwan Fals).

Saya pikir kesan angker bisa saja diciptakan. Orang Indonesia senang menikmati dan menjual mitos. Mitos-mitos itu kadang-kadang tidak bisa dibuktikan. Sayang sekali juga, para pengunjung hanya bisa menikmati keindahannya dari luar. Pintu gerbangnya sudah dikunci entah sejak kapan. Kata orang-orang yang nekat manjat ke dalam, bercerita, bahwa di dalamnya  ada altar seperti di gereja dan tulisan-tulisan berbahasa Belanda. 

Apa hubungannya dengan saya?

Saya ingin sekali kesana. Saya menyenangi arsitektur selain tentu saja nostalgia. Entah mengapa saya selalu merasa terikat dengan indische wonhaus seperti itu. Tapi saya tidak tahu di mana saya akan menemukan gereja gothic Sayidan ini. Apalagi bangunan ini disebut angker oleh penduduk sekitar. Pernah katanya ada anak arsitektur UGM yang ingin meneliti bangunan ini. Di pinggir gang ia berjumpa dengan anak-anak kecil yang mau mengantarnya ke rumah itu. Sang mahasiswa arsitektur itu akhirnya tiba di depan rumah namun begitu ia berbalik, anak-anak kecil sudah tidak ada. Tapi, cerita ini banyak yang meragukan kebenarannya. Rasionalitas mengajak kita berpikir bahwa di dalam gang ada banyak gang-gang kecil lain, jadi wajar saja kalau anak-anak kecil itu sudah lari-lari entah kemana. Lagipula jarak dari gereja gothic Sayidan dengan pintu masuk gang tidak sebegitu jauh.

Karena penasaran itulah saya ingin kesana. Tapi saya tak tahu alamat dan jalan menuju sana (entah mengapa saya melupakan GPS dan Mas Hendri, mungkin saya sebetulnya takut juga kalau sendiri. entahlah). Saya pernah mengajak beberapa teman dan Mbak Truly tapi tak satu pun terealisasi. Pupuslah keinginan saya jalan-jalan ke gereja gothic Sayidan ini.

***

Dua hari yang lalu, untuk menjaga kewarasan, saya memutuskan mengerjakan beberapa halaman tesis saya di cafe. Favorit saya tetap di Indische Cafe di dalam benteng Vreedeburg itu. Saya butuh ketenangan dan kenangan hehe. Lalu, saya menelpon ojek langganan saya yang setia, Mas Hendri. Sebelumnya saya bilang mau mampir dulu ke shopping untuk membeli pesanan buku seorang kawan. Mas Hendri pun mengantar saya. Tanpa saya perhatikan, ia ternyata melalui jalan-jalan tikus yang ternyata tembus dengan jembatan Sayidan (kalau tahu lagunya Shaggy Dog pasti tak asing dengan "Sayidan"). Melewati jembatan Sayidan bukan pertama kalinya bagi saya. Hanya saja saya tak pernah memperhatikan kiri-kanan kalau melewati jalan itu. Dan...disanalah ia..berdiri dengan angkuh di antara rumah-rumah sederhana penuh sesak. Saya memutuskan untuk berkunjung kesana. Mas Hendri apa boleh buat setia mengantar.



Gambar 2. Patung Tuhan Yesus yang menunjuk ke Keraton, foto: Meike



Gambar 3. Masih surprise dengan arsitekturnya, foto: Meike



Gambar 4. Pintu gerbang dengan arsitektur Cina, foto: Meike



Gambar 5. Tulisan "Ullen Sentalu" di plang pintu, foto : Meike


Setelah melihat secara langsung Gereja Gothic Sayidan. Saya jadi kepikiran tentang bangunan itu. Ada memang semacam misteri dalam rumah itu. Bukan persoalan hantu dan sebangsanya. Tapi lebih seperti teka-teki.

1. Jika penduduk sekitar mengatakan itu adalah rumah sebenarnya sangat aneh juga. Karena arsitekturnya jelas-jelas menunjukkan rumah ibadah. Saya pikir orang Kristen yang paling saleh sekalipun tidak pernah berpikir membangun rumahnya dengan pancang salib dimana-mana dan ditambah patung Yesus sebesar itu di atas rumah. Orang Protestan tentu menolak mentah-mentah, wong di gereja sendiri saja tak satu pun patung biar sebiji. Umat Katolik mungkin saja. Tapi orang Katolik jarang menyimpan patung Yesus, mereka lebih banyak menyimpan patung Bunda Maria. Itu pun patung sebesar itu akan dibuatkan goa (seperti penampakan Maria di goa Lourdes kepada  gadis cilik Bernadetta). Lalu, kalaupun itu gereja, mengapa patung Yesusnya harus dengan gaya menujuk. Patung Yesus yang paling umum dan paling banyak adalah salib dengan tubuh Yesus di sana, patung hati kudus Yesus (yang menunjuk dadanya), dan Yesus memberkati seperti patung Christo Redentor di Rio de Janeiro. Kenapa Yesus harus menujuk dan arahnya harus ke keraton?

2. Jika dikatakan bekas pabrik batik mungkin saja karena tulisan Ullen Sentalu yang berkorelasi dengan Museum Ullen Sentalu. Ullen Sentalu merupakan akronim dari bahasa Jawa “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Lampu blencong adalah penerang yang biasanya digunakan dalam pertunjukan wayang. Blencong seperti pelita dalam bahasa kita. Sejujurnya sewaktu saya mengetahui makna Ullen Sentalu itu saya jadi familiar dengan sesuatu. Ya, saya punya tafsir biblical sendiri. Ullen Sentalu hampir sama seperti tertulis dalam kitab Mazmur 119: 105 yaitu "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku". Museum Ullen Sentalu sendiri adalah museum batik dan juga barang-barang milik keraton. Konon, pemilik museum Ullen Sentalu dekat dengan pihak Keraton.

Untuk menemukan jawaban sepertinya harus memulai dengan museum Ullen Sentalu. Petunjuk pertama sepertinya mengarah ke museum Ullen Sentalu. Data-data yang dikumpulkan akan saya dapatkan dari orang-orang Jogja lama, seperti siapa lagi kalau bukan Eyang Pomo. Tapi, Eyang Pomo ternyata sudah lupa dengan tempat ini. Ia malah mengira yang saya maksud adalah gereja Bintaran yang memang letaknya tak jauh dari sana. Saya disarakan menanyakan itu pada Om Nanang, menantunya, yang banyak tahu tentang tempat-tempat di pulau Jawa.

Singkatnya, rasa penasaran saya belum terpenuhi. Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin obesis saya pada masa lalu yang membuat keinginan itu begitu kuat dan terkadang sangat impulsif.



Kalau rahasia itu tidak dibukakan untukmu, jangan coba-coba untuk mengintip - Ayu Utami, Simple Miracles)



baca kelanjutan kisahnya disini

Life Story

Gili Trawangan-Gili Meno - Gili Air: Sebuah Marathon

Senin, Desember 08, 2014

Pulaunya masih terlihat kecil. Jauh lebih tepatnya. Rasanya seperti mimpi. Dari dalam bis kupotret pulau Gili Trawangan yang masih sekitar 20 menit sampai dengan speed boat kesana. 

*Gili Trawangan dari jauh*



Laut biru dan pasir putih adalah pemandangan yang menyambut saya ketika untuk pertama kali menginjakkan kaki ke pulau kecil (Gili) Trawangan. Ada 3 Gili yang berdekatan dengan pulau Lombok yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Saya dan teman-teman memilih singgah di pulau pertama, Gili Trawangan. Kami akan stay 2 hari sebelum menuju ke Gili Meno dan Gili Air. Jika kau berasal dari daerah yang banyak pantai, maka pemandangan seperti di Gili Trawangan bukan hal yang baru. Bahkan mungkin karang-karang yang ada di ketiga Gili ini tak seindah yang ada di Bunaken, Lovina, Derawan, atau bahkan Samalona. Tapi ada sesuatu yang menarik dari Gili-gili ini. Begitu hening, begitu tenang. Tentu saja sudah terlihat bagaimana investor masuk dan membangun hotel-hotel mewah sehingga kau akan takjub dengan sulapan mereka yang fantastis. Sepintas kau merasa seperti berpindah negara. Ini masih di Indonesia, kan?



*fasilitas yang disediakan hotel untuk berjemur, foto: Dwi Pela atau Herlina*



Tentu saja ini masih di Indonesia. Pulau kecil ini telah disulap sedemikian cantiknya. Kau hanya akan menemukan sedikit wajah Indonesia (di luar penduduk setempat) berwisata disini. Begitu banyaknya wisatawan asing sehingga kau merasa berada di suatu negara yang bukan Indonesia. Kau menjelma hobbit-hobbit karena mereka begitu tinggi dan besar-besar. Ada rasa rendah diri, bahwa mengapa Tuhan menciptakan orang Indonesia tak segagah orang bule. Begitu pula ketika akhirnya saya dan teman-teman lebih memilih penginapan murah meriah yang dibuka oleh penduduk lokal. Di sisi lain, bule-bule itu menginap di hotel-hotel mewah. Tentu juga ada orang Indonesia yang menginap di sana. Tapi kau sudah bisa menebak dari kelas sosial mana mereka.

Sementara para bule menikmati hotel berbintang yang menyediakan kursi-kursi untuk berjemur, kami  menikmati penginapan murah yang masih jauh masuk ke gang-gang. Penginapan atau nama kerennya homestay itu seperti rumah penduduk pada umumnya yang dengan segala upaya disulap agar layak disebut penginapan. Cukup untuk melepas lelah tapi tak cukup untuk mandi karena airnya seasin air laut dan tak ada air panas. Maklum saja harganya juga Rp.150.000/malam yang bisa ditempati oleh 3 orang. Kamar itu terdiri dari satu tempat tidur ukuran king size, 1 kamar mandi dalam, 1 kipas angin, dan 1 handuk. 

Setelah menyimpan barang, saya dan teman-teman memustuskan jalan-jalan. Betapa inginnya saya berjemur sambil membaca buku di kursi-kursi berjemur itu. Tetapi konon, katanya kursi-kursi itu disediakan untuk tamu yang menginap di hotel/resort di sana. Akan tetapi, jika kau bukan tamu hotel dan ingin berjemur, kau cukup membayar Rp.100.000.

Pantai-pantai disini jarang digunakan untuk mandi-mandi sebagaimana kalau kita ingin mandi-mandi di Tanjung Bayang atau Pantai Parangtritis. Pantai-pantai disini memiliki banyak karang-karang kecil yang jika mengenai telapak kakimu lumayan bikin nyeri, kalau sial bisa berdarah. Lagipula permukaan pantai tidak rata. Bisa-bisa kau jatuh karena landasan yang tadinya dangkal tiba-tiba menjelma jurang atau palung. Miriplah dengan situasi pantai di Maluku. Kebanyakan orang lebih senang snorkling atau diving. Sebagian juga ingin berseluncur. Bisa dihitung juga orang Indonesia yang berseluncur. Kita lebih senang memancing ikan. 

Menjelang sunset saya memutuskan ingin membaca di tepi pantai. Ada satu spot yang dilegitimasi untuk melihat matahari terbenam. Saya membawa karya terbaru Paulo Coelho yang berjudul Adultery dengan niat menyelesaikan beberapa chapter buku itu selama liburan. Tentu saja kemudian buku itu menjelma properti untuk foto-foto ketimbang dibaca. Ada memang saat kita membutuhkan untuk diisi, namun ada saat ketika kita ingin mengeluarkan sesuatu. Namun, jika kau bersinggungan dengan alam, kau hanya ingin menikmatinya secara total. 

Mungkin disaat seperti ini kau dapat memikirkan kemungkinan tak terbatas yang terbentang di seberang lautan sana. Suatu kesadaran yang membuat orang-orang Eropa kemudian memutuskan menjelajahi dunia untuk menemukan dunia baru. Masa depan baru. Kekasih baru.



akjh
*best moment for me*


Ada satu adegan dalam epik Mahabharata, ketika Karna yang merupakan putra Dewa Surya meminta restu ayahnya sebelum perang Bharatayudha. Di momen inilah, Karna bersikukuh untuk menjalankan dharmanya. Ia membuat keputusan laksana Ksatria bahwa ia akan memberikan apa saja yang ada pada dirinya selama ia mampu kepada siapa yang meminta. Dewa Surya datang menampakkan diri pada putranya dan memperingatkan Karna bahwa Dewa Indra akan datang meminta perisai dan anting-anting miliknya. Padahal, perisai dan anting-anting milik Karna inilah yang membuatnya tak terkalahkan dari apapun. Sikap Karna ini membuat saya terharu bagaimana ia mampu melepaskan kemelekatannya pada apapun. Ia percaya pada kemampuannya sendiri bahwa seorang ksatria tidak hanya dilahirkan tetapi menjadi karena kemampuannya. Tetapi tetap saja, manusia tidak bisa mengontrol di luar dirinya. 

Selalu ada kekuatan yang lebih besar dari kita yang tak bisa ditembus oleh akal. Sesuatu itu oleh orang beragama disebut Tuhan.


ugjk
*Menunggu Sunset*



Garis terakhir matahari sudah hilang. Malam kini sebagai raja dari semesta. Kami memiliki agenda untuk berkeliling pulau naik sepeda malam-malam. Saya sejujurnya sudah lupa bagaimana cara mengendarai sepeda. Mau tak mau saya harus menyewa sepeda, mengumpulkan keberanian dan voila...saya bisa juga ternyata meskpun teman-teman saya cukup khawatir dengan gaya saya naik sepeda yang seperti ingin menabrak apapun yang ada di depannya. Saya memang menabrak sepeda orang lain namun bukan karena kebodohan saya naik sepeda tetapi karena sepeda itu memiliki rem yang blong. Pada akhirnya, saya naik sepeda untuk dua orang yang dikemudikan teman saya Gilang. Keliling pulau, malam-malam, liat galaksi bimasakti yang tak bisa diabadikan oleh kamera handphone (pada akhirnya kami sepakat bahwa kamera terbaik adalah mata manusia), liat mercu suar, dan hadiah berupa pegal linu di sekujur tubuh plus pantat yang sakit karena sadel sepeda yang tak bersahabat. Saya butuh olahraga banyak sepertinya.

Saya dan tiga teman yang lain juga ikutan party yang memainkan lagu-lagu reggae. Bisa ditebak, cuma kami yang masih sadar di ruangan itu dan tentu saja pribumi.


restaurant seafood yang ada di sepanjang jalan di Gili Trawangan


cafe-cafe yang ada di sepajang jalan


*sekitar jam 8 ke atas, cafe dan bar disini akan menyuguhkan live music. 



Pagi itu saya dan teman-teman sudah standby di dermaga untuk aktivitas snorkling di tiga gili. Kami juga akan sekalian pulang hari itu. Maka, kami sudah siap meninggalkan Gili Trawangan dengan tas backpack dan koper (yang jenisnya koper salah satunya milik saya). Kami akan langsung ke Lombok setibanya di Gili Air. Kapal mesin itu tiba sekitar pukul 11. Rombongan kami yang pribumi dan ditambah seorang gadis dari Kalimantan, serta seorang lelaki keturunan Tionghoa yang bekerja di Malaysia, selain itu semuanya bule. Saya dan teman-teman yang berjalan duluan memasuki kapal karena barang-barang kami banyaknya minta ampun. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut yang tentu juga diwarnai dengan suara-suara berisik kami. Kami orang Indonesia, kami sangat ramah dan suka ngobrol, right? Iseng-iseng saya menoleh ke belakang. Saya cukup terpana melihat rapinya antrian di belakang kami. Tak ada yang amburadul. Para bule itu setia menanti rombongan kurcaci di depan mereka masuk duluan. Melihat budaya antri orang asing, kawan, saya jadi sedih. Mengapa kita tak bisa antri untuk hal-hal yang bahkan sederhana?


eehkll
*buddy travel sekaligus buddy thesis*



Kapal berhenti di perairan Gili Meno. Saya tak singgah di pulau ini. Jadi saya tak bisa cerita banyak mengenai Gili Meno selain kabar bahwa pulau ini masih sepi dibanding dengan Gili Trawangan dan banyak diisi pasangan yang lagi honey moon. Keadaan Gili Meno hampir sama dengan Gili Air. 

Saya cukup menemani teman-teman saya lagi snorkling. Betapa sejuknya berendam di air laut yang asin dan biru. Betapa akrabnya mereka dengan dunia bawah. Sementara saya terjebak dengan barang-barang dan trauma yang tak kunjung sembuh. Saya cemburu karena saya tak bisa berenang dan tidak berani, maka saya menerima kepecundangan saya untuk tinggal di atas perahu. Selalu ada yang menjadi penjaga. 


aaskgg
*The young lady and the sea :p*


*para wisatawan yang snorkling yang di Gili Meno*



*salah seorang teman saya, Yue, yang juga ikut snorkling*



Gili Air suatu siang. Ini perhentian terakhir kami yang akan dilanjutkan dengan naik speed boat lagi ke pulau Lombok. Waktu liburan semakin menipis. Tetapi pemandangan laut yang biru, pasir pantai, dan masyarakat Gili Meno yang beramai-ramai menonton sinetron Rhoma Irama membawa sebuah nostalgia sekaligus fatamorgana. Bagaimana bisa? di pulau terpencil seperti ini dengan makanan yang mahal-mahal, dengan bule-bule dari berbagai macam negara, dengan wisatawan domestik yang masih bisa dihitung jari, masyarakat lokal yang seperti parasit di tanahnya sendiri tetap bahagia menikmati drama tak berkesudahan antara Rhoma-Ani-Rika. Lalu ada juga pedagang obat-obat herbal untuk menguatkan penis yang sibuk menawari teman-teman saya. Siang itu ditutup dengan makan mie ayam yang tidak bisa dibilang enak plus bakso yang lebih cocok disebut gumpalan kanji. 

Ah iya, perahu yang akan membawa kami ke Lombok datang tepat pukul 3 sore. Kali ini didominasi orang-orang lokal (plus ternak mereka) yang ingin menyebrang. Tak antri, orang-orang berdesak-desakan. Tak ada keteraturan sebagaimana ketika kami naik perahu pertama kali mengelilingi Gili-Gili ini.

Entah bagaimana definisi adab kali ini.




Perjalanan ini memang cukup singkat dan inilah yang membuat saya ingin kembali lagi kesana. Mungkin datang dengan pasangan (seperti kebanyakan orang yang kesana), mungkin dengan keluarga atau teman. Atau kalaupun sendiri (seperti tidak lazimnya), saya ingin betul-betul menikmati suasana membaca buku di tepi pantai. Itu sudah saya tekadkan. 




Selamat Berlibur,


M


Love Story

Senggigi Menggigil

Jumat, November 28, 2014

*Pantai Senggigi*



Sudah hampir pukul 6 sore, tapi aku masih betah duduk di tepi pantai. Seperti ditusuk paku-paku kenangan, pantatku tak bergeser dari pasir-pasir putih, erat menyatu, membuatku makin khusyuk memandangi sepotong senja dibalik awan kelabu. Langit masih bermuram durja tanda hujan lebat usai melaksanakan tugasnya. Bajuku masih setengah kering. Agak lengket memang tapi siapa yang peduli. Di sana tak ada orang-orang yang mengaku pacar dan cerewet menyuruh ganti baju. Lagipula tak ada baju ganti yang kubawa. Aku hanya membawa sepotong ingatan.

Suasana pantai mulai sepi. Hanya segelintir orang yang bertahan. Ada pedagang mutiara yang menjajakan mutiara-mutiaranya pada pengunjung pantai. Dan meski sudah diusir beberapa kali oleh pengunjung yang itu-itu juga, mereka setia kembali. Ada beberapa pasangan yang asyik bercumbu. Mungkin awalnya mereka ingin melihat matahari terbenam, tetapi justru matahari-lah yang menonton mereka, malu-malu dari balik awan kelabu. Dan, ada sekelompok manusia yang tampak sedang merenung. Mereka umumnya sendirian. Mereka mengambil jarak dari keramaian. Kelompok itu sudah akrab dengan laut.

Tak jauh dari tempatku duduk, seorang perempuan berambut pirang juga duduk menatap lurus ke arah pantai. Jujur saja, aku tak rela berbagi matahari terbenam dengan orang lain. Sudah cukup persaingan dengan manusia-manusia yang resah dan galau di tepi pantai. Pasangan yang sedang bercumbu bukanlah saingan berat. Mereka tak peduli dengan matahari karena mereka punya dunia sendiri yang terselip dalam pelukan pasangannya. Tapi aku dan perempuan bule itu sedang bersaing. Siapa yang paling menarik perhatian dari sang Surya. Awan kelabu keparat itu masih menutup setengah lingkaran dari matahariku yang mulai tenggelam. Sekilas aku melihat perempuan bule itu menangis.

Matahari sudah total terbenam. Pacarku si Matahari sudah berlabuh ke belahan bumi yang lain. Tinggal menanti sebentar lagi sebelum cerminannya muncul mengukir senyum di angkasa. Dengan susah payah aku berdiri, mengebaskan pasir dari celana pendek jeans-ku. Bajuku hampir kering. Sial, kakiku kram. Perempuan bule itu juga berdiri. Ia tersenyum padaku dan meminta untuk difotokan dengan latar pantai dan langit yang mulai gelap. Setelah kuambil fotonya, ia mengucapkan terima kasih. Bahasa Indonesianya cukup lancar. Ia bercerita bahwa ia berasal dari Belgia dan sudah keliling Asia Tenggara. Ia pernah beberapa bulan di Jawa. Ia seorang volunteer.

Kami bercakap-cakap sebelum akhirnya ia menanyakan arah menuju pantai Kuta. Aku tak tahu. Tapi  sebagai orang Indonesia yang ramah pada orang asing, aku menjawab juga dengan menyuruhnya naik angkot sampai terminal. Perempuan bule itu malah menawariku untuk join. Padahal sudah kukatakan keberadaanku di Lombok bukan untuk jalan-jalan ke Pantai Kuta. Tapi ia masih memaksa. Aku mulai meragukan kemampuan bahasa Inggrisku. Atau bisa saja bahasa Inggris perempuan bule itu juga sama kacaunya. Anehnya, ia berkali-kali mengatakan, " I don't wanna be alone..."

Percakapan itu tidak bermuara pada kesepakatan. Ia berkali-kali mengatakan kalau ia tak mau pergi sendiri kesana. Aku memanggil seorang penjual mutiara yang tak jauh berdiri dari sana. Wajah penjual mutiara yang letih itu kembali bersinar. Ia datang dengan harapan satu-dua cincin atau kalungnya laku. Betapa, kecewanya ia ketika tahu bahwa aku memanggilnya hanya untuk menanyakan alur transportasi guna menolong perempuan bule itu.

Perempuan bule itu dengan gigih tetap mengatakan bahwa ia tak mau ke pantai kuta sendiri. Aku meninggalkan percakapan antara si perempuan bule dan penjual mutiara yang mulai memanas. Penjual mutiara berkata, "Carilah travelmate. Kalian join saja supaya ongkosnya murah". Sementara si perempuan bule itu tetap bersikukuh, "I don't wanna be alone". Sebelum aku memasuki resto bar yang terletak tak jauh dari tepi pantai, aku masih mendengar dengan suara lelah si penjual mutiara berkata, "Belilah mutiara ini, cuma 20.000". 

***

Angin malam mulai berhembus. Aku mulai menggigil di pantai Senggigi. Rasa dingin itu tidak hanya menerpa tubuh tetapi juga sesuatu di dalam sana yang mulai meragu namun tetap berharap. Sayup-sayup suara band akustik menyanyikan lagu lama:
...
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
Ah, what will it take till you believe in me
The way that I believe in you?



mungkin dia sudah lelah.



Ps: Lirik lagu "Just The Way You Are-Billy Joel

Life Story

Lombok dan Drama Malam Pertama

Senin, November 17, 2014

Nusa Tenggara baik yang ada di sebelah Barat maupun Timur adalah pulau-pulau yang tak pernah terpikirkan akan saya kunjungi. Ironisnya, di dalam darah saya mengalir darah Nusa Tenggara Timur, tepatnya tanah Flores, daerah asal ayah saya. Akan tetapi, kali ini takdir membawa saya ke Nusa Tenggara, bukan di sebelah Timur memang, tetapi di sebelah Barat. Saat ini saya hanya beberapa meter saja jauhnya dari Pantai Senggigi, Lombok. 

***

Waktu saya ke Papua untuk mengikuti konferensi Jaringan Antariman, saya berkenalan dengan Syamsul. Secara kebetulan, saya dan Syamsul menaiki feri yang sama ketika kami berkunjung di dua kampung di daerah Sentani. Dia tinggal di Lombok. Ia juga sempat mengutarakan ajakan untuk berkunjung ke Lombok. Saya cuma senyum-senyum saja. Tanda tak yakin tapi siapa yang tahu? masa depan selalu jadi misteri.

Lalu, apa hubungan antara Syamsul dalam cerita perjalanan ini? 
Beberapa bulan kemudian, ISKI atau Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia akan mengadakan konferensi nasional komunikasi. Tentunya sebagai pembelajar komunikasi, saya dan beberapa teman-teman angkatan yang tertarik dengan kajian akademik tak ketinggalan untuk terlibat. Kami mengirimkan paper dan akhirnya diterima untuk dipresentasikan. Coba tebak, ISKI memilih Lombok sebagai tempat pertemuan itu. Maka, di sinilah saya, di Lombok. Masih antara percaya dan tidak percaya.

Perjalanan saya dari Jogja menuju Lombok cukup melelahkan, meskipun saya memilih rute darat dan udara. Saya naik kereta ke Surabaya dan dari Surabaya melanjutkan perjalanan ke Lombok dengan pesawat. Dalam perjalanan kali ini saya bersama Mbak Eka, teman angkatan saya yang menjadi partner in crime. Tentu, setelah konferensi kami akan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan sebelum berkutat kembali dengan proposal tesis masing-masing. 

Saya dan Mbak Eka tiba pas magrib waktu Lombok. Untuk menghemat dana, kami memutuskan naik damri dengan memabayar seharga Rp.30.000 perak. Kalau naik taksi sekitar Rp.150.000 - Rp. 200.000. Tujuan kami akan ke Senggigi karena itu daerah wisata. Karena baik saya dan Mbak Eka belum pernah sekalipun ke Lombok, kami hanya mengandalkan pertolongan Tuhan dan Google. Secara kebetulan kami memiliki teman yang tinggal di Lombok. Siapa lagi kalau bukan Syamsul dan Pak Indra, temannya Mbak Eka. Kami juga memberi tahu mereka bahwa kami akan Lombok.

Namun, dasar perempuan-perempuan tangguh, kami juga tak ingin merepotkan orang. Kami berencana menghubungi mereka setibanya di kota Mataram. Akan tetapi, sebuah peristiwa tak mengenakkan terjadi. Malam itu rupanya kami berdua saja penumpang yang turun di Senggigi. Ketika bus sudah sampai di terminal, saya merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika saya bertanya kepada Pak Supir untuk meyakinkan perhentian selanjutnya adalah Senggigi, si Pak Supir yang duduk di muka mulai menjawab dengan tak pasti, "Ah ya, nanti dilihat ya, Mbak". Ia kemudian menelpon seseorang dengan menggunakan bahasa setempat. Yeah, meskipun tak mengerti bahasa Lombok, entah mengapa saya mengerti maksud si Pak Supir: Ia berencana mengoper kami kepada rekannya yang entah di mana. Bayangkan! Sudah hampir jam 9 Malam, dua anak perawan di sarang bus Damri. Hati macam apa yang tak risau?

Saya dan Mbak Eka mulai menangkap gelagat mencurigakan. Kami sepakat menghubungi rekan kami masing-masing. Saya menghubungi Syamsul. Syamsul merespon dengan cepat. Ia mengira saya baru turun dari pesawat, sehingga ia menyarankan saya turun di Labuapi, nanti dia akan jemput. Tetapi, saya sudah berada jauh dari Labuapi. Saya dan Mbak Eka berada di bandara lama yang terletak di daerah kota. Mbak Eka juga menghubungi Pak Indra. Bedanya, Pak Indra menghadapinya dengan cukup serius, ia malah ingin berbicara dengan Pak Supir. 

Bus Damri yang disiapkan Pemerintah itu berhenti di bandara lama. Penumpang sudah pada turun semua, kecuali kami. Saya dan Mbak Eka tentu saja mulai panik dan makin gelisah. Apalagi si Pak Supir sudah mulai banyak tidak kosisten ngomongnya. Ia bilang kami akan diturunkan di terminal kembali tetapi damri tak kunjung jalan. Feeling saya dan Mbak Eka sudah tak enak, tanpa koordinasi kami sepakat turun dari damri sekarang. Saya dan Mbak Eka mulai mengangkat koper kami dari bagasi di dalam mobil dengan panik (mana berat lagi!). Mobil tak kunjung dibukakan juga pintunya. Saya dan Mbak Eka sudah meminta dengan nada keras. Mobil itu malah jalan. Kami panik. 

Tiba-tiba saja, ada suara pintu diketuk-ketuk dengan keras. Ada bapak-bapak yang mengejar damri tersebut. Pak Supir terpaksa menghentikan mobil itu. Ternyata bapak itu ingin mengambil tasnya yang tertinggal. Saya dan Mbak Eka langsung tanpa ba-bi-bu langsung turun. Kami bersyukur ada bapak yang tertinggal tasnya itu mengejar damri kami. Tentu ini bukan kebetulan biasa. Si Pak Supir tetap mengejar kami yang berjalan dengan tergesa-gesa. Ia kemudian memohon maaf. Seperti takut untuk dilaporkan. Secara ajaib juga, baik Syamsul dan Pak Indra dalam perjalanan untuk menjemput kami.

***

Rupanya keadaan meningkatkan pariwisata Indonesia, khususnya Lombok dan menciptakan keadaan yang menyenangkan bagi wisatawan menjadi PR besar bagi pemerintah Indonesia. Menurut cerita Pak Indra dan Syamsul, kadang-kadang kalau malam (and only kalau malam) supir damri di Lombok itu suka "nakal". Mereka kadang menambah uang angkutan atau tidak menurunkan penumpang di tujuan yang semestinya. Padahal aturan mengenai itu sangat jelas. Banyak turis asing sering mendapat perlakuan seperti ini dan melakukan komplain besar-besaran. Apa yang menimpa kami memang tidak menyenangkan. Tetapi kami bersyukur, kami masih baik-baik saja, tidak dirampok atau diperkosa seperti ketakutan kami. Setelah itu, Pak Indra mengantarkan saya dan Mbak Eka di hotel yang berada di pusat kota untuk beristirahat. Saya pun sudah menepati janji saya pada Syamsul untuk menghubunginya kalau berada di Lombok. 

***

Begitulah dunia ini berputar pada sebuah lingkaran. Kita tidak pernah tahu alasan apa di belakang seseorang yang kita kenal, meskipun bisa saja orang tersebut menjadi perpanjangan tangan Ilahi untuk menolongmu dari kesulitan. Drama malam pertama kami di kota Lombok memang memberikan cerita tersendiri dan tidak mempengaruhi kesan saya pada Lombok yang seperti pulau-pulau di Indonesia, luar biasa indahnya. Untungnya saya tidak seperti kebanyakan orang yang suka menggeneralisir hal-hal apa saja yang ditonton di televisi. Saya tetap percaya, sebuah kota memiliki warna-warni, termasuk gelap dan kelabu sekalipun. 

Udah ah...saya mau menikmati matahari terbenam di pantai Senggigi dulu.



Cheers,


Meike





PS: Foto-foto dan cerita selanjutnya menyusul ya...

Life Story

Papua, Surga Kecil Jatuh Ke Bumi

Senin, Juli 14, 2014

salam damai dari Danau Sentani


Stereotip memang racun. Dilekatkan semena-mena pada suatu tempat atau seseorang karena orang yang melekatkan stereotip itu belum pernah kesana atau mengenalnya sepenuh hati.  

Saya sedang membaca novel berjudul Athena, hadiah ulang tahun dari Kakak Emma, diatas pesawat yang akan membawa saya menuju kota Jayapura, Papua. Ini benar-benar tidak kongruen sama sekali. Tapi disaat-saat seperti ini, apapun akan kau lakukan untuk membunuh waktu. Bukan main waktu yang diperlukan dari Jogja yang letaknya di jantung pulau Jawa menuju ujung timur Papua. Setelah transit di Jakarta, pesawat tersebut lalu membawa kami selama 5 jam non-stop menuju bumi Cendrawasih. 

Sebelum berangkat, saya meminum doxycyline, obat antibiotik yang bisa juga buat anti malaria berdasarkan resepnya Elsye, dokter umum lulusan UGM yang berdarah Ambon-Toraja dan besar di Papua. Maka kuserahkan urusan kesehatanku pada Elsye karena dia sudah terpercaya dan berpengalaman. "Sekali kena malaria, tidak akan pernah sembuh. Ia akan muncul sekali-kali waktu tanpa diduga," begitu katanya. Saya merinding ngeri. Kok kayak rindu ya? 

****

Jam 5 subuh, matahari sudah muncul menyinari timur Indonesia. Untung pesawatnya menurunkan ketinggiannya sehingga saya bisa melihat hamparan permadani hijau yang membentang di tanah Papua. Saya tiba pukul setengah 6  dengan cuaca yang mulai terik. 

Pikiran pertama yang muncul adalah cerita-cerita tentang orang Papua yang memiliki "bau khas" yang tidak biasa terhirup dengan hidungmu. Tapi jangan sekali-kali kau mencoba menutup hidung di depan mereka. Itu tidak sopan dan mereka akan tersinggung. Selain bau khas, terdapat banyak bekas ludahan sirih-pinang di jalan-jalan seputar bandara atau pasar. Sepanjang perjalanan, saya mencoba untuk tidak menutup hidung karena itu pertanda tidak sopan. Tapi, tunggu dulu. Tak ada satupun bau khas yang saya cium. Semuanya terasa wajar dan biasa saja. Stereotip pertama terpatahkan. Mungkin juga karena beda medan. Tapi saya tetap bersyukur bahwa soal bau khas itu tidak menjangkau semua orang.

Saya menuju pengambilan bagasi, dan menemukan bahwa bandara lumayan bersih. Aman. Tapi kemudian saya shock ketika melihat halaman bandara dan terasnya. Banyak sekali bekas ludahan sirih-pinang dimana-mana. Agak jijik juga, mungkin karena tidak terbiasa. Stereotip kedua terbukti kebenarannya. Tapi ada makna lain. Sirih-pinang, gula-gula adat itu adalah sebuah tradisi, kebiasaan. Bahkan itulah yang disuguhkan pertama kali sebelum air susu ibu memberi kehidupan bagi bayi-bayi. Jadi bagaiman caranya bisa menghentikan tradisi turun-temurun seperti itu?

***

Seperti orang awam, stereotip itu melekat karena kita tidak pernah ke suatu tempat dan tidak mengenal orang yang dilekatkan stereotip itu. Sebelum menginjakkan kaki ke Papua, pikiran saya dipenuhi hal-hal negatif tentang orang Papua. Bukan saja karena mereka  berbeda secara ras dan kultural, tapi juga pandangan kita yang tidak bisa memandang "perbedaan" itu sebagai hal yang unik dan harta yang hakiki. Umumnya, masyarakat kita memandang perbedaan sebagai hal yang mengganggu sehingga kita cenderung menghina orang yang berbeda dengan kita. Tapi apakah perbedaan itu?

Saya akan membagi cerita-cerita perjalanan saya ke tanah Papua dalam beberapa seri. Setelah menginjakkan kaki disana, pandangan saya terhadap tanah Papua dan orang Papua berubah 180 derajat. Saya jatuh cinta pada tanah ini, seperti Otto dan Geisler, misionaris Jerman yang pertama kali tiba di tanah Papua dan berseru, "Terberkatilah tanah ini..."

Sebuah lagu yang dinyanyikan Edo Kondologit mengalun perlahan, memberikan makna dalam dan membuat saya tak henti-hentinya menitikkan air mata. Saya tidak tahu juga mengapa saya menangis. Gunung-gunung tinggi di Sentani menjadi saksi bisu, seorang lagi manusia Indonesia datang ke tanah ini. Ketika akhirnya mata saya melihat secara langsung danau Sentani, maka tahulah saya sebab musabab mengapa saya menangis. Karya Ilahi, buatan Tuhan dalam bentuk alam dan jiwa-jiwa yang tinggal disana. Sumber daya alam yang begitu kaya bahkan kaki saya menari-nari diatas emas yang cuma beberapa meter jauhnya di bawah sana. 

"Tanah Papua, tanah yang kaya, 
Surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah, sebanyak madu
adalah harta harapan...."