Life Story

Rumah Idaman

Minggu, September 29, 2013

Saya selalu suka dengn bangunan berarsitektur kolonial. Setiap jalan-jalan ke kota lain pasti yang saya perhatikan adalah bangunan lamanya. Kemarin saya berkunjung di sebuah cafe di daerah Kotabaru. Cafe itu baru saja di-launching. Arsitekturnya bergaya kolonial. Konon, rumah itu sudah lama berdiri mungkin sejak tahun 50-an. Pemilik rumah sudah tidak menempati rumah itu lagi lalu kemudian menyewakan sebagai tempat bimbingan belajar. Kemudian, disewakan lagi sebagai cafe. 

Saya selalu penasaran dengan cerita dibalik rumah-rumah tua. Kehidupan macam apa yang dijalani penghuninya dulu. Kisah-kisah seperti apa yang terjadi? Apakah romantis atau tragis? Sambil menikmati malam di rumah tua itu, saya kemudian memutuskan membuat impian. Ya, kelak jika sudah memiliki uang yang cukup saya ingin membangun  rumah ( atau mungkin membeli) rumah bergaya kolonial. Lalu kemudian memadukannya dengan desaign interior yang lebih modern misalnya perabotan minimalist atau retro. 

Membayangkannya saja sudah bikin senang. Tinggal menemukan partner yang memiliki visi dan misi yang sama. 


karena sudah malam jadi bangunan rumahnya tidak kelihatan


ruang tamu 


ada pintu lagi di ruang tamunya


konon ruang tengah


ruang makan atau dapur


mungkin disini dulu meja makannya


dulunya ini kamar tidur


mungkin ini ruang keluarga


view dari ex-kamar tidur

semacam bar



lokasi : Legend Cafe, Kotabaru, Yogyakarta

Life Story

Would You Be Happier?

Sabtu, September 28, 2013

*tumblr*


Orang yang mengatakan "hidup adalah perjalanan" tentunya sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Mereka yang mendefenisikan hidup sebagai sebuah perjalanan tentu telah memetakan "tempat-tempat" yang akan dia kunjungi. "Tempat-tempat" itu kita kenal sebagai cita-cita. Hidup tanpa cita-cita seperti makan gorengan tanpa sambal. Datar. Dan sebagai seorang traveller kehidupan, kita pun sudah punya itinerary menuju "tempat-tempat" itu.

Pernah suatu ketika dalam perjalanan pulang dari kampus saya tiba-tiba berpikir,"Inilah rutinitas itu". Sebuah fase dimana dahulu kau berusaha keras untuk menggapainya. Saat itu kau berusaha keras dan berdoa tanpa putus agar berada di posisi sekarang. Lalu apakah kau bahagia? Apakah kau lebih bahagia dibandingkan fase yang dahulu kau jalani?

Tiba-tiba saja suara Andrea Corr mengalun di kepala saya, "Would you be happier if you were someone together? Would sun shine brighter if you played a bigger part? Would you be wonderful if it wasn't for the weather? I think you're gonna be just fine". Dan zepp...saya jadi sadar. Tak ada gunanya mengeluh dengan segala ritme yang baru, lingkungan, atau orang-orang baru yang kau temui. Tak ada gunanya membanding-bandingkan kehidupan yang dulu atau milik orang lain. Saya hampir melupakan visi-misi saya untuk berada disini. Kalau meminjam lagunya Air Supply kira-kira duo itu akan mengejek dengan kalimat,"I've forgotten what I started fighting for". Yeah, atmosfir tempat baru membuat saya jadi tertatih-tatih melangkah. Padahal konon "a traveller doesn't thing they're foreigner". Saya hanya merasa kurang berjuang untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah diberikan ini. Saya lupa memasukkan  kata "bersenang-senang" dalam fase yang kini harus saya hadapi. Semoga saya segera tersadar dan mulai menikmati perjalanan ini. 

Andrea dan saudara-saudaranya benar, " Don't worry baby, you're gonna be just fine."

Review Buku

Feminisme Dalam Dongeng

Minggu, September 22, 2013



Judul Buku     : Feminisme Dalam Dongeng
Penulis           : Meike Lusye Karolus
Penerbit         : Graha Ilmu
Tahun Terbit  : 2013
ISBN            : 978-602-262-040-2


Inilah "anak ketiga" saya. Namanya "Feminisme Dalam Dongeng". Kehadirannya di dunia tulis-menulis penuh dengan drama dari ngidam, mengandung, sampai melahirkan. Tidak pernah terpikirkan bagi saya untuk membuat sebuah buku berbau ilmiah. Cita-cita saya sederhana, saya ingin menulis novel atau kumpulan cerpen. Tapi ternyata menulis novel atau hal-hal berbau sastra sungguh diluar dugaan. Waktu yang diperlukan cukup lama. Kadang saya stuck, tak tahu harus membawa cerita itu kemana. Akhirnya, novel itu,ditinggalkan dan lama-kelamaan terlupakan.

Dongeng menjadi hal yang sangat dekat dengan saya. Kesenangan pada dongeng inilah yang menjadi nyawa dalam penelitian ini. Sejak kecil saya sangat suka membaca dongeng-dongeng. Entah itu dari buku atau diceritakan orang tua. Namun, perasaan saya menjadi tak enak kala saya beranjak remaja lalu menuju dewasa. Ada yang aneh. Mengapa perempuan harus menunggu? Mengapa perempuan yang jatuh cinta harus diam-diam menyimpan perasaannya. Jika mereka berusaha mengekspresikannya, mereka dicap negatif. Dibilangnya cewek agresif-lah, kegatelan-lah, dan celaan lainnya. Anehnya hal itu tidak berlaku buat laki-laki. Laki-laki sangat wajar bahkan harus mengejar perempuan. Padahal tidak sedikit teman laki-laki saya yang pemalu, bagaimana mau mengejar atau menyatakan cinta, berdekatan pun mereka tidak sanggup. Saya merasa ada yang ganjil. Sesuatu yang tidak adil. Ini bukanlah kodrat, ini adalah peran dan peran bisa dipertukarkan.

Keresahan-keresahan itu membuat saya mendiskusikan hal ini dengan sahabat-sahabat saya. Rata-rata pembicaraan itu berakhir dengan,"So, where's my Prince Charming?Does he exist?". Tapi persoalannya hidup tidak seperti dalam dongeng, bahwa kepasrahan akan membawa pada sebuah kemenangan seperti Putri Salju yang diselamatkan Pangerannya. Hidup penuh perjuangan, kita lahir ke dunia saja dengan perjuangan seorang ibu yang mengejan sekuat tenaga. Kita berhak memperjuangkan hak kita, termasuk memperjuangkan perasaan-perasaan kita. Namanya juga perjuangan, selalu butuh korban. Dalam hidup selalu ada konsekuensi.

Tapi tentu saja keresahan-keresahan saya itu harus bisa dibuktikan secara ilmiah. Saya harus menunjukkan ada diskursus dalam dongeng tersebut. Mengapa sih perempuan selalu dikonstruksi sebagai tokoh yang lemah dan pasrah? Jadinya saya meneliti diskursus dalam teks dongeng Putri Salju dan 7 Kurcaci. Saya ingin memperlihatkan konstruksi perempuan dalam dongeng. Hasilnya, dongeng tidak sesederhana yang kita pikir. Tidak hanya berfungsi mendidik atau menghibur, tapi juga mempengaruhi sampai ke tataran psikis dan tindakan. Dalam dongeng ada wacana yang terus diproduksi. Dongeng Putri Salju yang terus mengalami perubahan cerita seiring perkembangan zaman membuat saya terheran-terheran. Ada apa ini? Dan yap, rupanya ada kekuasaan maskulin  yang bersembunyi disana.

Ketika skripsi ini selesai saya pun berpikir,"alangkah bagusnya jika skripsi ini diketahui banyak orang". Tentu saja kerja keras mengerjakan skripsi akan terbayar lunas jika banyak orang yang membacanya. Sesuai dengan tujuannya bahwa skripsi harus bermanfaat bagi banyak orang. Tapi pertanyaannya, "Siapa yang mau repot-repot ke kampus membaca skripsi orang kecuali mahasiswa akhir yang mau skripsian?". Saya lantas berharap andaikata skripsi ini dapat dibukukan, dibaca, dan memberikan informasi bagi banyak orang. Sungguh materi tidak penting bagi saya. Namun saya ingin keresahan saya diketahui banyak orang. Saya ingin memperlihatkan kebenaran bahwa ketidakadilan benar-benar nyata di dunia ini. 

Kalian tahu, doa yang sungguh-sungguh diucapkan dapat memindahkan sebuah gunung. Pucuk dicinta ulam pun tiba, tawaran untuk membukukan buku ini bagaikan doa yang dijabah. Semoga saja buku ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Terima kasih untuk kedua orang tua saya, para dosen Ilmu Komunikas Unhas terutama pembimbing skripsi saya (Pak Iqbal dan Pak Mul), para sahabat teman curhat, orang-orang baik yang sudi saya serap ilmu dan ceritanya, untuk mereka yang memberikan pelajaran berharga tentang arti "mencinta", "menunggu", dan "mengharap". Terutama untuk semua perempuan lajang dimanapun kalian berada. Pesan saya,"Menunggu Ksatria Berkuda Putih boleh-boleh saja, tapi jika dia tidak datang, sebaiknya berpikir untuk membeli kendaraan sendiri hihihii..."


Selamat membaca, semoga bermanfaat. 




NB: Bukunya bisa diperoleh di toko-toko buku seluruh Indonesia atau via online di web Graha Ilmu. 


Life Story

Usaha Penyelamatan Srintil dan Anaknya

Sabtu, September 07, 2013


Tinggal di Jawa membuat saya akrab dengan nama-nama yang sebelumnya saya temukan dalam novel-novel sastra terbitan Balai Pustaka. Salah satu nama yang familiar adalah Srintil. Srintil menjadi nama tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang diterbitkan di tahun 1982 dengan latar peristiwa Tragedi'65. Di tahun 2011, Srintil dihidupkan oleh sosok yang diperankan Prisia Nasution dalam film yang berjudul "Sang Penari". Tapi saya akan bercerita tentang Srintil yang lain. Srintil yang saya kenal. Srintil, kucing betina belang-belang milik Eyang.

Sudah tiga hari ini, suasana sore dan malam di Yogya terasa gloomy. Sorenya mendung. Malamnya pun tanpa bintang. Angin dingin pun menjadi teman setia. Dua hari ini saya menemani Eyang nonton tivi di pedepokannya. Seperti biasa pada pukul setengah 9, Eyang akan masuk ke kamarnya untuk istirahat. Biasanya saya dan Mbak Par atau anak kos yang lain seperti Mbak Indri atau Mbak Trully masih tinggal untuk ngobrol lalu kemudian masuk ke kamar masing-masing. 

Malam ini lain. Cuma saya serta Srintil dan kedua anaknya yang menemani Eyang sampai acara On The Spot selesai. Saya pun pamit untuk mandi. Eyang juga lebih dini masuk ke kamarnya. Pedepokan yang merangkap perpustakaan pribadi Eyang pun ditutup oleh Mbak Par. Suasana jadi hening, sesekali suara gaduh timbul yang disebabkan ulah Srintil anak-beranak. Pukul 9 malam, sambil membaca majalah Cita Cinta terdengar suara seperti kecemplung. Saya mendengarnya dengan jelas karena kamar saya bersebelahan dengan kamar mandi. Tak lama setelah itu terdengar suara "meong" yang lirih.

Awalnya saya tak mengacuhkan tapi lama-lama suara gaduh air dan rintihan kucing itu semakin menyayat hati. Dalam hal tertentu saya mengalami kontradiksi. Saya menyukai binatang tapi jijik untuk memegangnya. Hal ini sama kontranya ketika saya menyukai alam seperti gunung dan lautan tapi tidak berani menjelajahinya. Dalam kasus ini, mengangkat kucing yang kemungkinan mati dalam bak mandi itu sangat tidak kece.

Saya pun menuju kamar mandi dan mendapati Srintil-lah yang mengeong. Ia berdiri di atas tepi bak mandi sambil melihat ke dalam bak. Ketika mendengarkan langkah kaki saya, Srintil menoleh. Demi Langit! saya kaget melihat ekspresi Srintil dan suara yang dibuatnya. Meski sebelah mata Srintil sudah copot, tapi tatapannya nyata: khawatir dan panik. Jika ada komunikasi antar manusia maka ini adalah komunikasi antar manusia dan hewan. Srintil bicara dan saya mengerti. Ia seolah berkata," Mbak Ike, tolong anak saya kecebur ke dalam bak!!! Cepat cari pertolongan!!!"

Dalam imajinasi saya, saya melihat seorang ibu yang histeris melihat anaknya jatuh dalam sumur tanpa bisa berbuat apa-apa. Dengan segera saya berlari ke kamar Mbak Par dan memberi tahu kejadian ini. Mungkin saja anak si Srintil sudah meninggal. Beberapa waktu lalu, Mbak Par dan Kak Phio menemukan bangkai kucing di belakang kamar kos kami, masakan harus ditambah lagi?

Akhirnya kali ini yang bertindak adalah Pak Jono, suami Mbak Par. Ia segera menuju ke kamar mandi. Saya dan Mbak Par mengekor di belakang, bercampur ngeri dan geli. Angin malam pun semakin menusuk. Daster tipis yang saya kenakan   sama sekali tidak menolong untuk menghangatkan.

Saat Pak Jono masuk ke kamar mandi, Srintil langsung loncat dari tepi bak mandi. Pak Jono segera mengeluarkan anak kucing itu dari bak. Syukurlah ia tidak mati. Srintil membawa kedua anaknya lari sembunyi ke belakang lemari. Bisa saya bayangkan, Srintil dan kedua anaknya sudah berpelukan sambil bilang," kamu tidak apa-apa,Nak?". Saya bersimpati dengan Srintil sejak mengetahui bahwa semua anak jantannya tidak pernah berumur panjang. Tadinya kucing ini sangat menyebalkan karena sebagai kucing, ia terlalu kepo dengan pakaian dalam gadis-gadis penghuni kos. Srintil dan anak-anaknya kadang tidur di atas pakaian atau menarik-narik bh atau celana dari jemuran berdiri. Tentunya kejadian salah satu anaknya yang kecebur di bak mandi membuat Srintil hampir serangan jantung. Kejadian kritis sudah berlalu. Semoga anak Srintil yang kecebur itu baik-baik saja. Apesnya, besok pagi giliran kami yang sibuk membersihkan kamar mandi.

***

Setiap hari bagi saya adalah pelajaran. Binatang meski tak punya akal pikiran namun memiliki naluri yang sama dengan manusia. Naluri itu yang mampu membuat mereka berkomunikasi. Naluri pula-lah yang menggerakkan kita untuk mengerti meski akal kita tidak pernah belajar secara formal bahasa kucing. Adapun manusia yang kadang menyepelekan nalurinya, yang tidak menggunakan akal pikirannya justru malah berkomunikasi seperti binatang. Dan binatang dengan segala keterbatasannya lebih manusiawi daripada manusia.




PS: lain kali pintu kamar mandi harus ditutup rapat!