Life Story

Mato'ko

Minggu, November 04, 2018

Fedora, Gunung Kidul

Untuk sampai berada disini, saya butuh waktu untuk menguatkan hati. Laili, Juni, dan Tami memberikan jawaban yang hampir sama. Saya harus pergi. Hal ini harus saya hadapi. Tidak mudah, tetapi ada pelajaran penting yang harus saya dapatkan meskipun caranya harus dengan menahan diri dari rasa teralienasi dan ketidaknyamanan. Mato'ko, begitu kata Juni. Orang yang bijak akan tetap bijak meskipun berulang kali ingin disingkirkan. Warna putih tetap putih. Kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipindahtangankan.

Ya, saya mendapatkan banyak pelajaran sejauh ini, padahal baru beberapa jam saja saya bergumul dengan mereka. Saya belajar untuk lebih banyak diam. Saya belajar untuk mendengarkan. Saya belajar untuk mengamati. Hal ini tidak mudah karena biasanya saya yang mendominasi, biasanya saya yang paling banyak berbicara, biasanya lampu sorot hanya terarah kepada saya. Namun, kali ini, saya belajar menjadi bawahan, a follower. Laili benar, musuh kita adalah kebodohan dan keserahakan. Kita tidak takut, tetapi kita harus menghadapi ketidaknyamanan ini sebagai proses belajar supaya kita tidak mengulangi kekerasan yang terus terjadi. Tami bilang, kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak mudah untuk disingkirkan.

Sejauh ini, dalam diam saya mendengarkan hampir semua prasangka saya terbukti benar. Dalam diam saya menilai bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Dalam diam dan teralienasi, saya menemukan ketenangan untuk melawan. Diam adalah kata-kata itu sendiri. Diam adalah sikap. Saya berupaya membuktikan bahwa saya bukan pengecut. Saya berupaya melawan rasa ketidaknyamanan, bahkan mungkin trauma saya sendiri. Sebuah berlian, tetaplah berlian meskipun ia dicemplungkan ke dalam lumpur. Itu kata-kata senior saya, Kak Darma, dulu sekali. Kata-kata itu terulang lagi. Diingatkan melalui Juni. Kau harus pergi. Begitu katanya. Begitu kata mereka.

Life Story

Jamur Matsutake

Jumat, Oktober 19, 2018

Apa yang menarik dari jamur? Berbeda dengan bunga, jamur tumbuh tanpa diduga. Ia menggambarkan sebuah keadaan yang tak bisa diprediksi: entah kehancuran atau kebaikan. Di Jepang, jamur Matsutake memiliki bau yang khas, bau melankolis perlambang berakhirnya musim panas dan datangnya musim gugur. Hal itu seperti suatu keadaan yang dulu pernah direnungkan Nietzsche. Masa penantian mengenai suatu ketidakterbatasan akan lahirnya modernitas. Nietzsche menyarankan kita untuk menjadi pengurai enigma di atas bukit. Berdiri berjarak dari realitas dan kebenaran. Tapi, apakah kita bisa bertahan sekarang? 

Keadaan yang tidak terduga juga tak hanya dialami dalam kehidupan alam. Pertemanan pun seringkali tak terduga. Hari ini kita bisa berkawan, tetapi besok kita adalah lawan. Yang saya sesali adalah kita bisa saja dengan mudah menghapus seribu kebaikan dengan satu kesalahan. Kita bisa dengan mudah membuang orang yang mengalami penderitaan yang sama dengan kita ketika kekuasaan dan uang berhasil membeli kita. Sistem kapitalisme tidak hanya memperlakukan alam sebagai obyek yang digarap terus-menerus (jika kita tidak berubah kita akan menunggu kehancurannya), tetapi juga mendehumanisasi orang-orang di sekitar kita. Relasi sosial menjadi transaksional, untung dan rugi. Kita tidak berpihak lagi pada kebenaran. Kita tidak lagi melakukan verifikasi realitas. Apa yang menjadi suara dominan, adalah yang benar. Kita -manusia- adalah makhluk yang paling buas di dunia ini. 

Mami pernah bilang, “Hidup akan lebih mudah jika mengikuti arus. Namun, kita adalah orang-orang yang memilih melawan arus sehingga tidak mengherankan jika kita menemui banyak kesulitan.” 

Saya jadi teringat Juni yang saat ini sedang menjalani masa vikariatnya. Ia tiba di Poso tepat sehari sebelum gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan Donggala. Bisa dibayangkan betapa berat sekaligus dahsyatnya karya yang ia perbuat pertama kali disana. 

“Ini tidak mudah dan juga melelahkan, Mei. Tapi selalu ada hal-hal kecil yang menguatkan”. Ia menyambung di chat terakhir kami berbincang-bincang, "Kuatkan ko hatimu untuk hal ini dan hal-hal yang ada di depan". 

Ketika Juni menyatakan hal itu, saya merasa jantung saya berdetak lebih cepat dua kali. Saya merinding. Ia tidak sedang menghibur. Ia sedang memperingatkan.

Kisah Perempuan

Komentar Untuk Astrid (Crazy Rich Asian)

Rabu, September 19, 2018

*Astrid Leong Teo (portrayed by Gemma Chan)



Tak ada yang lebih sempurna dari Astrid. Ia adalah produk dua sistem besar di dunia: patriarki dan kapitalisme. Untungnya Astrid adalah tokoh fiktif tentang idealnya perempuan yang harusnya hidup di dunia. Cantik, pintar, kaya raya, dan baik hati pula. Astrid is the Goddess, the best of them all. Gadis kecil yang rumahnya dalam gerobak sampah tak sanggup bermimpi menjadi Astrid di saat dewasa. Tapi kalau sungguh makhluk seperti ini ada di dunia, maka waktu pembagian gen dan nasib, kita kemana aja ya? 

Maka, simaklah pembicaraan empat kelompok manusia mengenai kisah Astrid.

Kaum Pesimis: Alamak. Sudah sesempurna itu masih juga diselingkuhin suami. Gimana dengan kita yang bagaikan remah-remahan rempeyek. 

Kaum Optimis: Nah, itu membuktikan bahwa kecantikan, kepintaran, atau kekayaan bukan segalanya. Kekayaan batin yang sumbadra itu yang dicari.

Kaum Pesimis: Tapi...tapi... Pak Karno dulu rela loh ninggalin Ibu Inggit demi Ibu Fat. Kurang sumbadra apa coba Ibu Inggit itu. Semuanya diserahkan demi perjuangan Pak Karno. Toh, tetap ditinggalkan demi alasan ingin punya anak sendiri. Sekalinya menikah dengan Bu Fat dan punya banyak anak, si Bapak juga tetap cari gadis-gadis lain (4 yang diakui negara, 9 yang diketahui publik, dan tak terungkap entah berapa). Apa sih yang dicari? Apa sih yang butuh untuk mendapat pengakuan?

Kaum Optimis: *kemudian hening*

Kaum Kritis : Plis deh... analisis baik-baik. Kalian senang Astrid bebas dari suaminya yang peselingkuh itu. Kalian senang Astrid bisa membela dirinya. But, Hellooo??? Astrid ini lebih tajir mampus dan powerful dari suaminya (sebaiknya baca bukunya karena lebih jelas kesatirannya daripada filmnya yang merayakan konsumerisme ini). Kalau kamu masih menganggap Astrid menderita, kalian salah. Tidak ada orang yang berkuasa yang menderita.

Kaum Optimis dan Pesimis saling berpandangan, nggak ngerti.

Tiba-tiba muncullah Kaum Religius yang selalu bisa melihat dua sisi sama baiknya.

Kaum Religius: Wahai Kaum Pesimis dan Kaum Optimis, berhentilah menggosip. Astrid hanyalah tokoh fiktif. Mari kita berdoa untuk mengadapi masalah yang lebih realistis. Semoga pemilihan presiden tahun depan lancar jaya. Jangan lupa untuk memilih anggota legislatif yang kompeten juga. Ingat loh, presiden dan para legislator sama pentingnya. Bisa-bisa undang-undang kita kacau balau kalau para legislatornya para preman dan penipu. 

Kaum Pesimis dan Kaum Optimis bengong. 

"Kaum Religius ini kayak Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung go*** !!! 

Love Story

Tentang Mencintai

Senin, September 10, 2018

Bunda Maria memberikan teladan yang luar biasa dalam mencintai:


"Semakin kau mencintai seseorang, semakin kau harus kuat melepaskannya..."

Aku dan Tuhan

Ia Telah Menyelesaikan Pertandingannya Dengan Baik

Minggu, September 09, 2018



photo by Johann Siemens (https://unsplash.com/search/photos/tree)


Hari itu akhirnya datang juga. Hari yang paling kutakutkan seumur hidup. Yang pernah kubayangkan akan kuhadapi dengan suami dan anak-anakku kelak. Tetapi kenyataannya, aku menghadapinya bersama Daddy berdua. Kami sedang berjalan dalam badai, tetapi Tuhan berjalan bersama kami. Ia menguatkan langkah kami untuk saling menguatkan dan mendampingi. Ia tidak pernah membiarkan kami berjalan sendirian. Ia selalu mengirimkan orang-orang yang menolong kami seperti dahulu Simon dari Kirene menolong-Nya memikul salib. 

Ya, hari itu tiba tanpa semarak. Ia datang dengan tanda-tanda yang baru bisa kucerna setelah semuanya terjadi. Mami telah pergi. Ia tak bisa dijangkau secara fisik lagi. Tetapi jika kau peka saja sedikit. Ketika kau melihat dengan mata rohanimu, Mami tidak pergi kemana-mana. Ia tetap mengiringi. Ia tetap mendoakanmu. Ia bersamamu meski tak terjangkau oleh nafas dan denyut jantung. Mami ada dimana-mana. Tidak terasa perbedaannya. Ia seolah tidak pernah mati. Ia mendapat kehidupan kekal seperti yang dijanjikan Tuhan pada kita. Hanyalah tirai yang membatasi kita untuk bersentuhan dengannya secara fisik. Tetapi dia lebih hidup daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bersedih jika aku tahu bahwa Ibuku berbahagia disana?

Mamiku telah memberikan teladan sepanjang hidupnya. Seorang perempuan yang tetap setia dan bersandar pada Tuhan. Ia adalah ibu dan seorang sahabat. Mami telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik. Ia telah sampai di garis akhir. Dan ia tetap memelihara iman. Ia adalah bukti nyata bagaimana orang yang hidup di dalam Kristus dan mati di dalam Kristus. Ia mati dalam keadaan siap. Ia meminta dipangil dalam keadaan siap. Ia taat sampai mati. Ia telah mempersiapkan segala sesuatu.

Mami menghembuskan nafas terakhir di pelukan Daddy, kekasihnya yang setia. Ia dikelilingi oleh orang-orang banyak yang mencintainya. Ia telah berpamitan dengan orang-orang. Ia telah menikmati sisa hidupnya. Ia bahkan telah menyiapkan kostum yang ia akan pakai untuk bertemu dengan Tuhan. Semasa hidup, Mami paling membenci ketidakadilan, segregasi, dan penindasan. Ia terlahir sebagai putri Maluku Tengah dengan campuran Belanda yang jasadnya dibungkus kain tenun Maluku Tenggara. Ia konsisten memperjuangkan hal-hal itu bahkan sampai mati. Mami pergi pada jam yang sama dengan Yesus. Ia dikuburkan pada hari Jumat Pertama. Dalam tradisi Gereja Katolik, hanya orang-orang terberkati yang mengalami hal itu. Peringatan 40 Hari kepergian Mami bertepatan dengan perayaan Bunda Maria diangkat ke surga dan ulang tahun Daddy. 

Mami menyimpan segala perkara di dalam hatinya. Ia yang selalu berkata “jadilah kehendak-Mu”. Mami memberikan contoh yang luar biasa untuk tidak perlu takut menjalani hidup. Ia memilih mengejar harta rohani daripada mengumpulkan harta duniawi. Ia dan Daddy yang mewariskan kepadaku keinginan untuk mengejar pengetahuan. Harta benda bisa lenyap, tetapi pengetahuan tidak akan berlalu.

Mami tidak punya apa-apa selain selalu memberikan hati dan kehadirannya untuk orang lain. Saat ia pergi, berbagai macam orang dari latar belakang suku, agama, kelas sosial, dan ideologi datang memberikan penghormatan terakhir. Orang-orang menangis tidak saja karena kehilangan, tetapi tangis itu juga bermakna harapan. Mami mendapat tempat terdepan di pemakaman umum di kota kami. Semasa hidup Mami tidak suka duduk di belakang, tidak dalam gereja tidak dalam acara-acara apapun. Ia mengajarkanku untuk percaya diri dan berani. Mami selalu percaya Tuhan akan menyiapkan semuanya. Dan memang benar. Tuhan kemudian memberikan tempat peristirahatan yang terbaik untuknya. Mami bahkan membuka jalan bagi kami.

Ada sebuah rahasia yang Mami simpan dalam hatinya. Rahasia besar yang kini sedang kami hadapi. Aku memegang tangan Daddy erat-erat. Mendampinginya dan menguatkannya seperti dulu Mami melakukannya. Mami adalah seorang pendoa, makanya jiwanya akan selalu mendoakan siapa saja. Terngiang kembali suara Mami di telepon sebelum ia pergi menghadap Kekasihnya beberapa waktu yang lalu, “Tuhan, selamatkan anakku….”

Selamat jalan Mami. Sampai bertemu kembali.

08 September, pada hari peringatan ulang tahun perkawinan orang tuaku yang ke-28 tahun.

Life Story

Hal-Hal Yang Sederhana

Kamis, Juni 14, 2018

Kapan terakhir kali kamu memberi tempat pada hal-hal yang sederhana?

Berjalan kaki berkilo-kilo sambil bercakap-cakap dengan temanmu? Bernyanyi dan sesekali bergoyang dalam ritmenya. Seperti bintang jatuh, keindahan itu membuatmu terkejut dan kagum. Keindahan itu hanya sementara.

Kapan terakhir kali kamu menjawab "Ya" pada spontanitas? 

Tidak peduli apakah akan berakhir bahagia atau sedih, ketidakterdugaan selalu mengejutkan. Ia terasa sangat jauh sekaligus terasa dekat. Ia adalah magnet. Dau kau besi tua yang berkarat. Apalagi yang bisa dibanggakan dari dirimu selain konsistensi?.

Kapan terakhir kali kamu memberi ruang pada ketidakpastian?

Seperti penjudi, kita mempertaruhkan kepercayaan kita pada sesuatu yang tak tampak. Kamu mendengar banyak berita gembira, tetapi berita gembira itu bukan untukmu. Kamu adalah penonton di drama kehidupan orang lain. 

Kapan terakhir kali kamu membuat pilihan: menjadi orang baik atau orang yang setia?

Dua hal ini tidak sama. Yang pertama adalah milik orang merdeka, sementara yang satu adalah milik para budak. Manusia yang setara memilih berbuat kebaikan. Seorang budak tak punya kuasa atas dirinya. Lalu, kamu -orang merdeka- mulai menghitung-hitung kebaikan-kebaikanmu. Kamu lupa, dunia ini kekurangan orang-orang yang dalam dan mencari makna. Banyak orang terjebak pada ilusi yang artifisial. Maka, tidak ada ganjaran untuk berbuat baik atau setia. Itu adalah tugasmu.

Kapan terakhir kali kamu jatuh cinta?

Melepaskan dirimu pada ketidakterukuran. Melepaskan dirimu dalam perasaan yang tak pasti. Membiarkan hatimu bahagia dan terluka di saat yang sama. Membiarkan dirimu memiliki harapan untuk bertemu meskipun yang tampak hanya bayangannya saja. Pertanyaannya, bagaimana bisa kita menyukai seseorang yang tidak kita kenal? Mengapa kita tidak pernah mendapat kesempatan untuk saling mengenal?

Kapan terakhir kali kita memandang jiwa?

Ia tidak rupawan. Orang yang melihat dia lalu memalingkan muka. Tetapi, ia menanggung penderitaan kita. Ia sendiri tertikam karena pemberontakan kita. Dan oleh bilur-bilurnya, kita menjadi sembuh.


Kapan terakhir kali kita menjadi kanak-kanak?

Membiarkan diri percaya pada dunia. Membuka diri pada berbagai kemungkinan. Membiarkan diri meledak seperti kembang api di malam takbir, menggelegar dalam hening. Tak ada rasa takut, tak ada rasa malu. 

Kapan terakhir kali kamu merasa iri?

Setiap orang menghadapi pertarungannya masing-masing. Namun, bisakah kita tetap percaya sekaligus berbahagia apabila sesuatu yang hati kita inginkan justru dimiliki orang lain? Mengapa ada yang dilimpahi berkat dan anugerah sementara yang lain direnggut kebahagiannya begitu ia lahir ke dunia? Mengapa ada ketidakadilan?

Kapan kamu terakhir kamu merasa Tuhan berdiam diri melihat penderitaanmu?

Tidak, sayang. Tuhan tidak pernah salah. Jika ada sesuatu yang salah, maka itu adalah salahmu. Ya, kamu, manusia yang hina dan lemah. Kamu yang tak berdaya. 

Life Story

Menunggu

Rabu, Juni 13, 2018

photo by Meike


Setiap orang mengalami pertarungannya sendiri. Pertarungan saya yang paling berat adalah melawan waktu. Saya lahir satu bulan lebih awal dari yang semestinya. Saya tak sabar ingin keluar dari rahim Ibu, gerakan saya yang berenang kesana-kemari mencari jalan keluar dalam cairan amniotik membuat saya terlilit tali pusar. Saya tercekik, tak bisa bergerak. Di luar perut Ibu, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan pertarungan itu. Kejadian itu seperti sepenggal lirik lagunya Ebiet G Ade, "...sebab semua peristiwa hanya di rongga dada, pergulatan yang panjang dalam kesunyian". Namun, Tuhan tetap baik meskipun kadang kita tidak tahu mau-Nya apa. Ia mengizinkan anak itu lahir lebih awal. Tak pernah dibiarkan hidup anak itu menderita. Semua keinginannya terpenuhi. Tapi waktu datang merebut kepercayaan kanak-kanaknya. Harga sebuah kedewasaan menghasilkan sikap skeptis. Ia berjuang dan menanti dalam ketidakpastian.

Lama saya merenungi perjalanan saya akhir-akhir ini. Saya tahu tujuan saya dan sudah mengikuti track yang harus dilalui untuk sampai kesana. Namun kadangkala, seperti perjalanan kereta api dari Yogyakarta menuju Surabaya, perjalanan terasa melelahkan dan lama justru dalam perjalanan antara sebelum sampai tujuan, yaitu antara Solo dan Madiun. Jika dua perhentian ini sudah dilewati, rasanya tujuan semakin dekat. Rasa inilah yang saya derita. 

Waktu tak bisa dilawan. Ia adalah hukum yang tetap. Perspektifmu-lah yang menentukan sebuah ukuran: lambat atau cepat. Pada akhirnya, kesabaran adalah sebuah usaha, suatu sikap dan bukan semata-mata sifat lahiriah seseorang.

Life Story

Filosofi Bolu Meranti dan Bolu Bakar

Senin, April 30, 2018

Saya tidak suka kue bolu. Tetapi bolu Meranti yang hanya didapatkan di Medan ini mengubah selera saya. Saya jadi penggila bolu Meranti sehingga kenalan dekat yang akan ke Medan hampir pasti akan kena pajak bolu Meranti. Sebulan yang lalu saya meminta sahabat saya yang sedang dalam perjalanan dinas ke Medan untuk membawakan sekotak bolu Meranti keju favorit saya. Membayangkan makan bolu dengan perpaduan krim dan potongan keju saja sudah membuat saya menetaskan liur. Saya berharap sekali saat itu. Sahabat saya pun berjanji akan membawakan bolu Meranti itu. Namun, apa yang terjadi? Sepulangnya dari Medan, ia memang membawa sekotak bolu Meranti tetapi bolu Meranti itu bukan untuk saya saja. Kotak bolu Meranti yang dibawanya berisi tiga gulung bolu dengan aneka rasa: keju, mocca, dan blueberry. Bolu Meranti itu dinikmati beramai-ramai dengan teman-teman yang lain. Kecewa? Ya. Saya berharap bolu Meranti itu akan spesial untuk saya, maka ketika harus membaginya dengan orang lain, saya merasa sedih yang ganjil. 

Tiga minggu kemudian, teman kos saya liburan ke Bandung. Awalnya saya juga titip untuk dibawakan brownies Kartika yang terkenal itu. Teman saya berjanji akan membawanya meski tampaknya ia tidak terlalu yakin. Bandung sangat macet dan kadang yang kita cari tidak selalu ada. Jadi, saya juga tidak berharap banyak. Siang tadi ia mengetuk pintu kamar saya dan memberikan sekotak bolu bakar rasa keju dari Bandung. Saya tidak pernah makan bolu bakar sebelumnya. Bolu bakar yang dimaksud tampak seperti hibrida roti bakar bandung dan kue bolu Meranti. Ada taburan keju dan krim di tengahnya. Malam ini sambil makan bolu bakar itu, saya merefleksikan kedua peristiwa tersebut.

Kadang-kadang ketika kau mengharapkan sesuatu, sesuatu itu ternyata bukanlah untukmu. Di sisi lain, ketika kau tidak terlalu berharap banyak, sesuatu yang tidak pernah kau minta (namun tampaknya seperti pengganti dari yang kau harapkan) tiba-tiba hadir dan terasa tepat. Sesuatu itu hanya diperuntukkan untukmu. Sesuatu seperti bolu bakar itu.

Sekian. 

Life Story

Layfe

Jumat, April 20, 2018


Bagaimana rasanya menjadi bagian dari ketidakadilan?

Lelah. Sangat Lelah. 

Rasanya seperti ada hubungan patron-klien yang tidak terputus. Seperti ada relasi kuasa abadi yang tidak bisa diubah. Kau adalah korban ketidakadilan, kau melihat ketidakadilan di depan matamu, kau melakukan ketidakadilan kepada orang lain, dan kau tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah bahkan mencari solusi dari hal itu. Kita terjebak di dalam dunia yang tidak adil. Parahnya, sistem agama mengajarkan kita untuk tetap percaya pada Tuhan. Tuhan yang disembah di langit maupun yang menjelma sistem universal yang menjebloskan kita ke dalam dunia yang penuh penderitaan. Samsara. Dukha. Bisakah kita tetap percaya pada seseorang yang mengecewakan kita? Bisakah kita tetap setia ketika kita merasa ditinggalkan? 

Bayangkan, satu-satunya kekuatanmu di dunia. Satu-satunya yang paling kau cintai dan imani. Satu-satunya yang kau pegang. Dan Dia pula yang mengkhianatimu. Meninggalkanmu di tengah jalan ketika api harapanmu berkobar. Kini, kau merangkak, berdarah, penuh luka dan memar kembali mengulang dari nol. Tanpa kekuatan. Tanpa modal. Tanpa kawan. Sendirian di jalan yang terlalu sunyi. 

Sisifus dikutuk hal yang sama. Ia dikutuk para Dewa untuk mendorong batu besar sampai ke puncak gunung. Begitu sampai di puncak, ia harus mendorong kembali batu itu ke bawah, duk...duk…duk...gluduk….Lalu ia mulai lagi mendorong batu itu ke atas, dan melemparkannya kembali ke bawah. Begitu terus seumur hidupnya. Orang awam melihatnya sebagagi tindakan sia-sia, tak berguna, dan tanpa harapan. Tetapi filsuf Perancis, Albert Camus, melihatnya sebagai upaya mempertajam kesadaran. Setiap kali Sisifus mengulang pekerjaan itu, kesadarannya terbangun. Ia mengenali setiap langkah yang ia lewati. Ia tak melupakan setiap lekuk, tanjakan, dan lubang yang ia temui. Mungkin kadang ia berhenti sejenak dan menikmati pemadangan dari atas gunung, melihat pelangi sehabis hujan, atau melihat matahari dan bulan yang menyapanya. Ia makin sensitif memaknai perjuangannya.

Begitukah hidup?

Life Story

Catatan

Senin, Maret 26, 2018

Halo Duniaaaa....

Rasanya sudah lama sekali saya tak memposting tulisan di blog tercinta ini. Terlalu banyak peristiwa yang telah kualami (*sambil nyanyi) memang akhir-akhir ini sampai tak sanggup untuk dituliskan. Begitu mau dituliskan, momennya sudah hilang. Ya, kayak saat ini, saat saya ingin curhat tentang peristiwa yang saya alami akhir-akhir ini. Tak sanggup. Sungguh.

Peristiwa yang saya maksud sebenarnya dimulai sejak tahun lalu. Tapi ternyata tidak selesai juga hanya dengan bergantinya angka di tahun Masehi. Hal-hal yang awalnya saya pikir bisa dengan legowo saya terima ternyata juga tak mudah dilakukan. Ada dendam. Ada rindu. Di antara keduanya yang paling gigih memang harapan. Harapan untuk terwujud, harapan untuk bersatu.

Saya juga belajar banyak hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh kawula muda yang memasuki usia pertengahan 20-an. Saya belajar bahwa Tuhan (setidaknya Tuhan yang saya imani) dan hukum karma adalah dua perkara yang sama sekali tidak sederhana. Tuhan tidak selalu bisa dijawab dengan logika linear dan iman tidak selalu bisa mengafirmasi sesuatu. Hukum karma juga tak bisa dilihat dalam hubungan timbal-balik semata, hitam-putih seperti itu. Buktinya, ada banyak orang baik hidup dalam penderitaan sementara orang jahat mendapatkan segala keindahan dunia.

Ibu saya selalu bilang,"Jadi orang jahat itu gampang, tetapi paling susah menjadi orang baik". Saya sepakat dengan Ibu, tetapi masalahnya hal-hal yang "baik" itu belum tentu "benar". Kadang persoalan baik-tidak baik, benar-salah, berkelindan sehingga kita pun tak tahu kita ini sebenarnya pelaku kejahatan atau korban. Pada satu persoalan, pertukaran posisi dimungkinakan terjadi. 

Lalu, tentang cinta.
Saya juga banyak belajar tentang cinta. Terutama cinta romantis-erotis yang saya pikir telah menjadi ahlinya. Setelah saya menggali lagi, ternyata selama ini saya salah mencintai. Selama ini ternyata saya cenderung lebih mencintai diri sendiri ketimbang subyek yang saya cintai itu. Subyek yang saya cintai hanyalah proyeksi dari idealitas saya. Saya tak pernah benar-benar mencintai seseorang selain diri saya sendiri. Apa yang saya kagumi atau sukai dari orang tersebut sebenarnya adalah "diri" saya yang ada padanya. Hasil dari cinta egois seperti ini bermuara pada ketidakmengertian saya padanya. Saya tak bisa memahami dia. Saya tak pernah benar-benar mengenali luka-lukanya. Saya senang akhirnya toxic relationship yang terjalin hampir satu tahun itu akhirnya berakhir juga. Saya sadar selama ini saya hanya berelasi dengan "diri sendiri". 

Well, begitulah. Saya ingin menuliskan lagi beberapa hal. Tapi nanti saja. Driver ojol sudah tiba dengan membawa sebungkus nasi padang pesanan saya. 

Ciao. 

Review Film

Nonton Dilan

Jumat, Februari 02, 2018

sumber: harian nasional


Pernahkah kamu melakukan sesuatu yang sebetulnya pernah kamu cela tetapi di kemudian hari kamu malah melakukannya? 

Yang kumaksud tidak hanya sekedar mencela cowok-cowok badboy namun kalau dideketin mereka ternyata bisa luluh, tetapi juga mencela produk media populer jaman now, misalnya nonton film Dilan 1990 dan malah sampai membaca dua buku lanjutannya dalam waktu dua hari karena saking penasarannya. 

Yep. Saya kena karma dan karma memang tidak pandang bulu meskipun kita rajin sembahyang dan tak lupa menabung. Setelah nonton Dilan 1990, Laili mengirim pesan melalui wa dan terjadilah percakapan ini: 

Laili: "Gue cuma heran kenapa tipe-tipe cewek yang disukai cowok tahun 1990 sampai 2018 sama semua?"
Meike: "Konstruksinya kayak gimana?
Laili: "Secara fisik yang kalem, rambut panjang, kurus, halus, lembut..."

Percakapan itu berlanjut dengan bagaimana Laili melting melihat Dilan persisten mengejar Milea. Cara pdkt Dilan memang unik, ada usaha disana. Bayangkan pertemuan pertama saja, Dilan merayu Milea dengan cara diramal. Pada saat Milea ulang tahun, orang-orang mengucapkan selamat dengan cara yang klise, tetapi Dilan justru memberi kado TTS yang sudah diisi semua biar Milea tidak pusing mencari jawabannya. Waktu Milea sakit, ia mengirim mbok tukang pijat. Semua cewek senang dikasih surat cinta, tetapi Dilan mengirimkan surat cinta kepada Milea melalui Bu RT atau Simbok. Perbuatan Dillan yang lain adalah memberi cokelat yang ia titipkan kepada pengantar koran dan menelpon Milea tiap hari. Belum lagi puisi-puisi yang ia tulis untuk Milea yang diam-diam ditunjukkan oleh ibunya Dilan. Ia juga rela tidak solider dengan teman-teman geng motornya yang ingin tawuran karena Milea mau jalan-jalan hari itu juga. Semua yang Dilan lakukan membuat cewek-cewek mupeng, mereka ingin diperlakukan manis seperti itu. Anak muda itu sudah puas dengan pencapaiannya sebagai panglima tempur geng motor dan membuat Milea ketawa. 

"Aku cuma pengen punya cowok yang bisa buat aku ketawa, Meik," katanya lirih sewaktu aku ketemu dia keesokan harinya.
"Iya ya. Cowok-cowok yang dekat sama kita semuanya bikin dahi berkerut". Kami berdua tertawa ngakak. 

Saya akhirnya benar-benar menonton Dilan 1990 bersama Shinta. Kami ingin menikmati film ini dengan khusyuk bersama segenap murid-murid SMP dan SMA yang mendominasi bioskop sore itu. Lupakan dulu sejenak senjata teori-teori kritis yang dipelajari. Harus kuakui, gombalan Dilan memang receh, konyol, kadang-kadang jijay, bodoh, tapi anehnya....manis. Satu kata: kontradiksi. Film ini lebih mengeksplorasi proses bagaimana Dilan pdkt ke Milea hingga mereka jadian dengan cara yang unik dan mengesankan. Maklumlah, di jaman itu teknologi komunikasi belum canggih dan suasana represif ORBA masih kuat. 

Menurut Shinta, Dilan itu sebenarnya seperti anak-anak Kiri jaman now. Mereka datang dari kelas menengah ke atas dengan akses bacaan, memiliki semangat perlawanan, dan punya orang tua yang sanggup membelikan mereka motor. Kata Dilan, syarat jadi anggota geng motor ada dua: punya motor dan mau. Dalam masa yang represif, rasa keadilan mereka terganggu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali dengan menjadikan hidup ini sebagai komedi satir. Rasa perlawanan itu akhirnya terkonversi ke dalam semangat ber-geng motor. Geng motor disini bukan yang kita anggap begal sekarang. Geng motor-nya Dilan hanya akan tawuran kalau mereka diserang duluan. Ingat, jaman itu tidak ada kebebasan untuk berserikat dan berorganisasi. Kumpul-kumpul seperti itu membuat mereka tetap waras. 

Shinta menambahkan bahwa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Pidi Baiq, penulis novel Dilan, adalah kehidupan remaja tahun 1990-an seperti relasi mereka dalam keluarga, bagaimana mereka berkomunikasi, konflik apa saja yang mereka hadapi, hingga aktivitas dan kesukaan apa yang sedang hits di zaman itu. Dilan 1990 membantu kita membaca periode 1990-an melalui kacamata Dilan dan Milea. Kita juga bisa melihat Bandung tahun 1990-an yang masih sepi dan adem. Aku manggut-manggut setuju mendengarnya. Pemilihan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla juga pas. Film ini tidak lebay dan terkesan sendu. Menurut kami berdua, si Iqbaal cocok menghidupkan sosok Dilan karena wajahnya yang imut, gemes, dan terkesan bandel. Maskulinnya tidak dengan bentuk badan yang kekar, tetapi dengan sikap.

"Shin, setelah ini aku gak keberatan deh kalau pacaran sama berondong."

Kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Arts

Wednesday Addams's Sticker

Jumat, Januari 05, 2018

*photo by meike

In a daylight of 90's films, Wednesday Addams (beautifully portrayed by Christina Ricci) is maybe one of the intriguing characters that has ever lived in the cinema. Her normal face that looks like a serial killer and her classic black dresses as her signature fashion color our little world through the whole sequel of The Addams Family. She is an enigma, a beautiful one with mystery and cynic. Wednesday teaches us no matter what people say and the world brings, we must be ourselves, be who you are and be proud of it.  

My good friend, Aisyah Azalya, who regularly I call Ai, is an outstanding illustrator with the ability in Information and Technology area. She is the only one female web developer that I have already known so far.  She is indeed a geek, but beautiful and stylish in her modest hijab. Now, with her tremendous talent, she made this beautiful Wednesday and transformed it into stickers, so that we can easily to be entertained by the sarcasm of Wednesday. Wednesday Addams's sticker is just one of her artworks.

If you are interested to take a look on her works or to purchase some of them, you can visit her Instagram @syhzly. There are plenty of artworks and it is affordable for everyone. 

Life Story

All Things Must Pass

Jumat, Januari 05, 2018



Adalah album legendaris milik George Harrison, salah satu personil The Beatles yang mendapatkan pencerahan di ambang bubarnya The Beatles. Album ini dirilis di tahun 1970 dan menelurkan beberapa hits kece sepanjang masa seperti What is LifeMy Sweet Lord, All Things Must Pass, dan Isn’t It Pity. Saya pribadi menyukai keseluruhan album ini dan judulnya yang sangat kontemplatif. Album ini bukti bahwa spritualitas dan budaya pop bisa berpadu harmonis. 

Segala sesuatu harus berlalu. Kalimat sederhana yang menyuguhkan kedalaman makna. Apa yang harus berlalu? Kebahagiaan? Penderitaan? Natal yang didamba dan kemudian berlalu sekejap mata? Tahun 2017 berlalu dan 2018 menggantinya dengan tergesa-gesa? Saya kaget bahwa saya bangun pagi dengan penanggalan di angka 4. Tiba-tiba saja, semua drama yang terjadi di tahun 2017, rasa senang, bahagia, duka, kemarahan, kekecewaan, dan derita berlalu begitu saja seperti dalam hentakan kaki atau petikan jari. Just like that, all things must pass. 

Roda-roda pesawat melaju perlahan. Pesawat itu membawa dua orang perempuan yang ingin pulang ke rumah. June dan saya duduk bersisian di dalam pesawat itu. 

“Kamu pulang untuk bersiap dan saya pulang untuk memulai,” June berkata lirih padaku. 

Segala sesuatu yang akan datang menjadi petualangan baru yang harus dijalani. Ini adalah tahun penantian sekaligus tahun pemantapan. Semoga kita diberi kesabaran, ketekunanan, kewaspadaan, dan khidmat untuk melaluinya. Semoga iman kita menjadi pijakan yang kuat untuk mengatasi segala takut, ragu, dan khawatir. June menangis lirih bersamaan dengan melajunya pesawat yang meninggalkan landasan lapangan terbang. Ia berpamitan dengan Yogyakarta sekali lagi. Kita tidak pernah tahu kejutan yang menanti, misteri yang akan dihadapi, sekaligus kebahagian dan penderitaan yang mengelilinginya. Sebab segala sesuatu telah tersedia. 

 Semoga Tuhan menguatkan langkah juang kita.