Kisah Perempuan

Sylvia

Rabu, Oktober 16, 2019

Artikel itu menyapaku begitu saja dari halaman majalah Tempo yang terbit beberapa tahun silam. Namanya tak asing. Saya belum terlalu mendalami karya-karyanya, tapi suatu saat akan kucoba menghabiskan waktu dengan membaca pemikirannya. Beberapa puisinya pernah kubaca, tapi waktu itu saya tak punya cukup kemampuan dan pengalaman untuk memahaminya. Saya masih terlalu muda dan naif. Hari ini, saya juga masih muda, tapi mungkin tak senaif dulu.

Sylvia Plath, nama besar dalam dunia sastra. Ia adalah salah satu novelis, penyair, dan cerpenis Amerika ternama. Puisi-puisinya banyak dipakai untuk mengontekskan narasi perempuan di masa itu. Ia mungkin dianggap feminis juga. Sylvia mati bunuh diri. Ia memiliki masalah kesehatan mental yang cukup serius. Pernikahan dengan seorang penyair mapan dan memiliki dua anak ternyata tetap membuatnya merasa sendirian. 

Mengapa sesuatu yang bermula begitu indah, bisa berakhir tragis?

"Dying is an art", begitu kata Sylvia dalam puisinya Lady Lazarus

Life Story

Keindahan

Senin, Agustus 26, 2019

Aku menemukan satu keindahan. Ia bersembunyi di sudut emperan toko di jalan Maliboro yang ramai, bising, dan pesing. Ia berwujud seorang lelaki berwajah rupawan, dengan tatapan mata sayu nan sendu. Rambutnya cepak ala Keanu Reeves di film Speed. Ia memakai topi baseball cap dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam. Ada tindik di telinganya dan banyak tatto di kedua lengan. Tatto-nya agak-agak random: antara tatto macam tutul, tulisan nama "Ilham", arah tanda mata angin, dan abstrak yang tak kutahu apa artinya. Ia sedang menjajakan berbagai macam T-Shirt bertuliskan Yogyakarta atau bergambar Tugu, Malioboro, Keraton, dan Candi-Candi. Oleh-oleh khas yang diincar para turis jika berkunjung ke Yogyakarta.

Aku memandanginya penuh minat. Kureka-reka masa lalunya. Apakah dia mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarganya? Masih adakah ayah dan ibunya? Dimanakah dia tinggal? Apakah dia pernah bersekolah? Apakah dia memiliki saudara? Apakah ia memiliki kekasih? Orang yang seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Jika saja dia datang dari kelas menengah ke atas, dia pasti akan terlihat cemerlang. Kalau saja dia mendapatkan pendidikan tinggi yang membuatnya mengetahui banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, dia pasti sukses dan terpandang. Kalau saja dia bisa bekerja di tempat yang membuatnya memakai dasi atau kemeja Uniqlo, cewek-cewek akan mengelilinginya. Kalau saja dia nongkrong di cafe-cafe urban, dia akan bersenda gurau dengan teman-temannya yang datang dari kelas yang sama dengannya. Kalau harum tubuhnya adalah bau parfum yang menggoda, bukannya mau tengik keringat. Dia lebih cocok hidup di dunia yang kosmopolitan dan sophisticated daripada berjualan kaos di emperan toko seperti ini.

Lalu, aku tercekat.
Aku merasa sedih.
Karena aku berpikiran tidak adil. Siapa aku yang menilai hidupnya untung atau malang? Siapa aku yang menakar kepedihan dan sukacita yang dialaminya? Siapa aku yang mengatur dia harus menjadi "siapa"? Siapa aku yang merasa hidupku lebih baik dari dia?

Aku malu. Bagaimana aku bisa berbuat adil jika berpikir adil saja aku tidak bisa?

Sehimpun Puisi

Kekasih

Kamis, Agustus 22, 2019

Temanku bertemu dengan Kekasihnya 5x dalam sehari
Ia akan mengambil air wudhu setiap waktunya tiba
Lalu masuk di ruang kecil samping kamar kerjaku
Ia memakai bedak, mengoles lipstik tipis2
Harum bunga melati tercium dari parfum yang menguar
Ia memakai mukenanya
Merentangkan sejadah, bersujud sedalam-dalamnya
Kekasihnya ada disana

Aku juga bertemu Kekasihku
Tidak 5x dalam sehari
Tapi kami cukup intens
Dia selalu punya cara untuk menyapaku
Seperti plat H kendaraan bermotor
Yang tertangkap mataku seringkali akhir-akhir ini

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka. 

Life Story

Cintailah Dia

Jumat, Juni 28, 2019

Uzul mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Kawasan Babarsari mulai padat seiring matahari pukul 4 sore yang perlahan menuju ke ufuk barat. Ia bercerita tentang takdir yang membawanya sebagai dosen. Sebuah keberuntungan kalau bukan mujizat. Berkali-kali ia tidak menyangka. Ia yang harusnya tak lulus bisa lulus. Ia yang rela melepas posisi dan gaji besar puluhan juta demi sebuah pengabdian. Uzul bertanya bagaimana kita bisa hidup dengan gaji yang sebegitu kecil. Ia sudah terbiasa memegang uang banyak dan tampaknya ia agak susah payah beradaptasi. “Tetapi uang yang banyak itu tidak berkah, selalu cepat habis," Uzul menguatkan diri. Saya yang duduk di jok samping kemudi, memandangnya, dan berkata,"Tenang. Semua pasti akan cukup”

Yu, Vir, dan Us yang duduk di jok belakang kemudian mulai berbagi cerita bagaimana mereka bisa sampai ke posisi ini. Baru saja kami menerima SK yang memantapkan posisi kami dalam dunia sosial, politik, dan ekonomi. Tentu, kami masih berada di fase “percobaan”. Tetapi, penantian panjang yang melelahkan dan seringkali diiringi isak tangis dan tawa bahagia sudah terbayar sudah. 

“Yu, berapa lama kamu menantikan saat ini?,” saya bertanya padanya. 
“Sejak aku masih kecil. Aku suka bermain peran sebagai guru,” Yu menjawab dengan mata berkaca-kaca. 
“Aku juga Yu. Aku menantikannya selama 10 tahun. Sejak Bapa-ku menaruh ide itu di hatiku: kenapa kamu mau menjadi wartawan, kalau kamu bisa menjadi gurunya wartawan?,” aku menjawab sambil mengusap-ngusap 18 angka nomor induk kepegawaianku. 
Vir ikut menimpali,"Kalian berdua memang ingin jadi dosen ya? Kalau aku seperti tercebur kesini. Tidak sengaja,” ujarnya. 
“Aku juga,” Us menambahkan. Ia bercerita petualangannya dari seorang guru, menjadi wartawan, hingga menjadi dosen. Sebuah perjalanan yang panjang di usianya yang belia. 

Mobil Uzul melaju lebih pelan. Jalanan semakin padat. Kami melihat kiri kanan kawasan Babarsari dengan cermat. Berbagai kampus, kantor, cafĂ©, rumah makan, bahkan mall ada disini. Kawasan ini akan menjadi bagian dari kehidupan kami sampai kami pensiun kelak. Mobil berhenti di depan gedung kampus Atma Jaya. Ia terlihat megah. Perasaan saya diliputi melankoli. Teringat tahun 2016, saya menangis sejadi-jadinya ketika tidak diterima menjadi dosen disana. Teringat bahwa saya melepaskan dua kampus lainnya untuk bisa menjadi bagian dari rasa aman dan nyaman dimana komunitas se-iman-ku banyak disana. Waktu itu rasanya begitu pas. Seperti jodoh. Tetapi, ternyata bukan dia yang Tuhan kasih. Berkali-kali saya melamar ke sana, berkali-kali pula saya ditolak. 

Persis di sebelahnya, kampus II kampus kami terlihat. Ia tampak agung dari depan. Kami menelusuri area kampus dan berhenti tepat di parkiran yang mengarahkan kami pada bagian belakang gedung tersebut. Ada rasa gembira yang membuncah di dalam dada. Namun, ada juga rasa perih. Seperti hati-Nya, yang merasakan bara cinta tetapi juga merasakan duri. Saya, Uzul, Vir, Yu, dan Us memandang bagian kampus tersebut dengan takjub dan sedih. Kampus itu tampak tua dan lelah. Ia seperti pejuang perang yang kesepian. Ia merindukan kekasih. Ia membutuhkan perubahan dan pembaharuan. Sayup-sayup terdengar suara Pak Wakil Rektor yang menyambut kami dengan pidatonya, "Kampus ini memiliki semboyan menuntut ilmu dengan hati tulus dan suci. Belajarlah mencintai kampus ini. Karena Anda sudah ditakdirkan berada disini," begitu katanya. Saya merinding. Tak satupun dari kami yang pernah bermimpi akan mengajar di kampus ini. 

Kami berlima kemudian pulang dengan membawa harapan. Semoga kelak kami bisa menjadi pemikir dan pendidik yang berhati tulus dan suci dalam memberikan ilmu bagi generasi bangsa ini. Akan ada banyak kisah dan kenangan yang dilalui. Akan ada banyak pelajaran yang mengubahkan diri. Akan ada banyak prestasi yang terukir. Dan dalam perjalanan ini sebaiknya kita tidak sendiri. 

Cintailah dia.

Aku dan Tuhan

Tuhan Lama vs Tuhan Baru

Kamis, Juni 20, 2019

Tetot : Kenapa ya kita tersingkir?
Memoy: Karena kita melawan Patriarki
Tetot: Iya, kita melawan Tuhan.
Memoy: Kenapa ya orang-orang setia pada Tuhan yang Lama?
Tetot: Tuhan yang mengizinkan pertumpahan darah demi kekuasaan. Tuhan yang melarang perempuan masuk ke tempat ibadah saat menstruasi. Tuhan yang mendukung poligami. Tuhan yang berpihak pada yang kuat daripada yang lemah. Tuhan yang meminta mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Memoy: Padahal ada Tuhan yang baru. Ia penuh kasih. Tuhan ini mengangkat penderitaan perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Tuhan yang mau menyentuh dan mengasihi orang-orang lepra. Tuhan yang mau bergaul dengan pendosa. Tuhan yang mau mengenal dan mendengarkan kisah dari seorang perempuan yang sudah memiliki 7 suami. Tuhan yang mengajarkan orang-orang setia pada pasangannya. Tuhan yang menyuruh kita memberikan pipi kanan ketika pipi kiri ditampar orang. 
Tetot: Iya ya? Mengapa kita setia pada kekerasan daripada pada cinta? 

Mantra Kalimat

Aslan and Lucy

Selasa, Juni 18, 2019



“Please - Aslan,” said Lucy, “Can anything be done to save Edmund?” 
“All shall be done,” said Aslan. “But it may be harder than you think.” 

And then he was silent again for some time. Up to that moment Lucy had been thinking how royal and strong and peaceful his face looked; now it suddenly came into her head that he looked sad as well. But next minute that expression was quite gone. The Lion shook his mane and clapped his paws together.

(The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe). 

Mantra Kalimat

The Shape of You

Kamis, Juni 13, 2019

"Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love. It humbles my heart, for you are everywhere." 

Nukilan puisinya Hakim Sanai dalam Walled Garden of Truth yang muncul di film The Shape of Water (2018). 

Life Story

Kita Tidak Sendiri Lagi, Juni

Rabu, Juni 12, 2019

Cinta adalah pertemuan dan percakapan dua liyan. Dia dapat mengatakan apa yang tidak bisa kamu ucapkan dan kamu dapat mengatakan apa yang tidak bisa dia ucapkan. Dia dapat merasakan apa yang hilang dari dirimu dan kamu dapat merasakan apa yang hilang dari dirinya. Dia memahamimu dan kamu pun memahami dia meski tanpa penjelasan. Kalian akan selalu saling mencari dan pada akhirnya saling menemukan satu sama lain. Entah itu dalam jarak, kisah, lagu, tarian, buku, pesan singkat, angin malam, hujan, dan kering daun pepohonan. Dia tidak akan meninggalkanmu dan kamu tak akan meninggalkan dia sekalipun dia dan kamu punya 1001 alasan untuk saling meninggalkan. Kamu tidak akan segan-segan marah pada dia. Dia tidak akan sungkan untuk mendiamkanmu. Mungkin kamu tak setuju dengan apa yang dia kemukakan dan dia memiliki pandangan berbeda denganmu. Tetapi, kamu dan dia akan belajar menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan. Segala persamaan akan disyukuri tanpa dibandingkan. Di hadapan dia, kamu menjadi dirimu sendiri. Bagimu, dia selalu indah ketika menjadi dirinya sendiri. 

Cinta ini melampaui hasrat-hasrat badaniah. Cinta yang selalu utuh dan tak pernah habis. Cinta ini tidak membutuhkan api karena ia adalah terang itu sendiri. Cinta yang tak kenal warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, pilihan hidup, hingga luka masa lalu. Jika kamu berbahagia, dia akan ikut bahagia dan kamu pun akan ikut bahagia manakala dia berbahagia. Jika dia iri padamu, dia akan belajar menerima kelebihanmu dan menerima kekurangannya, begitupun sebaliknya kamu akan mengakui kelebihannya dan belajar menerima kekuranganmu. Kamu tidak akan terburu-buru menghakimi dia dan dia tidak akan mudah percaya sebelum menanyaimu. Jika yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalian akan menjadi jangkar bagi satu sama lain. Jika kamu terluka, dia akan menangis. Yang tertusuk padanya akan berdarah padamu, begitu kata penyair Sutardji Calzoum Bachri. 

Namanya Junita. Tanpa nama akhir. Satu kata saja seperti Musa. Orang-orang memanggilnya Shaloom, artinya damai sejahtera. Dalam hati dia menyimpan rahasia. Dia percaya dia dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi orang lain seperti Yohanes Pembaptis. Maka, dia menyerahkan hidupnya untuk bukan lagi menjadi miliknya. Juni adalah cinta dalam wujud persahabatan. Dia hadir menemani saya, seorang Mei, dalam perjalanan hidup yang berliku dan penuh drama. Pertemuan kami bukanlah cinta pada pandangan pertama. Dia tidak menonjol dan tidak senang menonjolkan diri. Saya cukup menonjol dan senang diperhatikan. Dia duduk di belakang, di sudut ruangan, dan diam mengamati. Saya duduk paling depan, baris utama, dan sibuk berbicara. Saya memiliki suatu kebijaksanaan yang belum terasah sementara dia tidak mengharapkan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya. 

Namun, pada suatu ketika, terjadilah pertemuan dan percakapan itu. Suasana asrama UKDW sudah sepi. Angin sepoi-sepoi berhembus mengajak untuk terlelap. Orang-orang sudah pulang dari kegiatan Sekolah Lintas Iman yang kami ikuti bersama. Saya sedang menunggu ojek langganan yang akan menjemput. Juni menghampiri dan duduk di samping saya. Kami bercakap-cakap. Ia menanyakan cita-cita dan mimpi-mimpi saya. Saya menanyakan bagaimana ia sampai di Jogja dan apa rencananya ke depan. Pada saat itulah, jiwa kami berhadapan seperti bercermin. Persahabatan tidak jatuh dari langit. Relasi ini merupakan interaksi dua subyek yang setara. Dalam proses itu, ternyata kami mengenali dan mencintai Pribadi yang sama. Kami memiliki tujuan yang sama meskipun mengambil peran yang berbeda-beda. Rasanya luar biasa berbahagia bertemu sahabat seperjalanan. Kami juga bertemu (kalau bukan dipertemukan) dengan sahabat-sahabat seperjalanan kami yang lain. Sebuah jaringan yang begitu indah berwarna-warni dengan tawa sedih dan airmata bahagia. Kami bersyukur telah merasakan cinta meskipun kami menanggung beban dan kuk dengan hati yang penuh parutan luka. Sungguh berbahagia mengetahui kita tidak sendiri lagi. 

Selamat ulang tahun, Juni.
Jangan takut, Jangan gelisah, Jangan gentar, dan Jangan patah hati. 

Aku dan Tuhan

Antua

Sabtu, Juni 08, 2019

“Anyway, I’m not good at prayer, but before you think I was a little rough on God, there’s another thing you need to know about my people. Our relationship with God was different from other people and their Gods. Sure there was fear and sacrifice and all, but essentially, we didn’t go to Him, He came to us. He told us we were the chosen. He told us He would help us to multiply to the ends of the earth. He told us He would give us a land of milk and honey. We didn’t go to Him. We didn’t ask. And since He came to us, we figure we can hold Him responsible for what He does and what happens to us. For it is written that “he who can walk away, controls the deal.” And if there’s anything you learn from reading the Bible, it’s that my people walked away a lot. 

You couldn’t turn around that we weren’t off in Babylon worshiping false gods, building false altars, or sleeping with unsuitable women (although the latter may be more of a guy thing than a Jewish thing.) And God pretty much didn’t mind throwing us into slavery or simply massacring us when we did that. We have that kind of relationship with God. We’re family.

Excerpt From: Christopher Moore. “Lamb, the Gospel According to Biff, Christ's Childhood Pal.” 

Note: "Antua" berarti beliau dalam bahasa Melayu Ambon.

Life Story

28

Kamis, Mei 30, 2019

Saya percaya bahwa setiap orang diberikan suatu “duri dalam daging” yang membuatnya menanggung kepedihan dan penderitaan. “Duri dalam daging” itu akan membuatnya mengajukan berbagai pertanyaan, keluhan, bahkan gugatan atas pegangan yang diyakininya. Tak mudah menanggung rasa sakit itu. Ada trauma. Sebuah luka yang belum kering. Rasa itu menjadi horor, sebuah kutukan yang tercipta dari pola berulang yang sama. Sesuatu yang awalnya saya pikir adalah bencana. Saya merasakan ketidakadilan. Saya merasa menjadi pecundang. Orang yang kalah. 

Tahun ini saya genap berusia 28 tahun. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap tanggal 9 Mei, tepat pada pergantian jam 12, Mami akan membangunkan saya dan menyanyikan lagu “Happy Birthday”. Kadang dengan kue ultah yang lilinnya menyala, kadang juga tidak. Ketika saya merantau ke Jogja untuk sekolah, maka ia akan segera menelpon. Satu yang selalu ada, doa. Ia akan selalu mendoakan saya. Tahun ini adalah perayaan ulang tahun pertama tanpa Mami. Tak ada telpon. Tak ada nyanyian “Happy Birthday”. Tak ada doa, ciuman, dan pelukan secara langsung. Malam itu, beliau seperti ada dan tiada. Sebaris pesan dari Daddy masuk. Ia mengucapkan selamat ulang tahun dan berpesan untuk berdoa pada Tuhan dan Bunda Maria. Daddy bukan family man. Ia tidak terbiasa dengan keintiman. Tapi, saya tahu ia mencintaiku lebih dari apapun. 

Malam itu saya berdoa. Dengan berlinang air mata. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang “duri dalam daging”. Saya meminta jawaban. Dan Dia menjawabku. Saya pikir ulang tahunku kali ini akan berlalu dengan biasa saja. Saya ingin merayakannya seorang diri. Makan mie dan membeli kue ulang tahun sendiri. Namun, hidup selalu memberi kejutan. Para sahabatku datang dan mengejutkanku. Ada rasa hangat di dalam dada. Kebahagiaan yang tak terucapkan ketika saya mengetahui betapa saya dicintai oleh mereka. Saya juga mendapat teman baru dan kesempatan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang akan saya ajar. Di momen itulah, saya menyadari mengapa kampus itulah yang dipilihkan untuk saya. Dan saya diberikan tanggung jawab dan peran disana. Semua adalah mujizat yang hanya bisa dimaknai dalam hening. D

Saya pun menyadari bahwa “duri dalam daging” ini ternyata sebuah tegangan. Sesuatu yang dipakai untuk membuat saya tetap eling. Keadaan ini membantuku untuk waspada dari semua rasa, nafsu, dan syahwat yang positif dan negatif. Rasa-rasa yang ada dalam diri manusia. Tegangan ini memurnikan tabiat anak tunggal yang merasa seluruh alam semesta berputar mengelilinginya. Sebuah kemelekatan. Sebuah obsesi. Saya kini mengetahui bahwa semua rasa itu harus diterima dan dijaga keseimbangannya. Belajar mengenali potensi diri. Belajar untuk menerima apa yang menjadi keberuntunagn dan ketidakberuntungan saya. Belajar sportif. Belajar untuk waspada atas potensi-potensi baik dan jahat dalam diri. Yang melampaui batas harus dinetralkan melalui sikap refleksi dan pemurnian. Dan pada akhirnya, belajar untuk pasrah. Dengan kesadaran dan kekuatan ini, saya dapat bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri saya. Sebuah metanoia.

Terima kasih Tuhan untuk kasih karunia-Mu.


Kamis, 30 Mei 2019, pada hari Kenaikan Yesus Kristus 
yang juga jatuh pada Kamis, 9 Mei 1991
hari dimana saya memilih lahir ke dunia

Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (2)

Rabu, Mei 29, 2019

[sambungan dari Al dan Bintang di Langit (1)]



Pada mulanya, ia adalah daya. Sebuah getaran yang lahir dari kekaguman akan Rahim yang menghadirkannya ke dunia. Rahim itu telah menjadi ibu bagi para perempuan yang berjalan dalam kesunyian hendak mencari kebenaran. Ia adalah darah dagingnya. Ketika Al melihatnya pertama kali, Al mengingat dengan hormat Rahim itu. Pada waktu itu, tak ada yang istimewa. Ia masih suatu rasa yang polos. 

Kali berikutnya, Al bertemu dengannya lagi. Ia menjelma sebuah keindahan. Al terpana. Menemukan 1 liter bensin yang telah membakar api dalam dirinya. Ia membangkitkan memori tentang kakak kelas yang dulu hanya bisa dipandanginya dari jauh. Ia melihatnya bagaikan bintang di langit. Betapa menggiurkannya bisa memiliki bintang di langit. Suatu kebanggaan bila ia bisa memetiknya. Menjadi unggul dari yang lain. Rasa yang tak berdosa itu berubah menjadi nafsu. 

Disinilah Al pada malam ini. Duduk di sebelah sang Bintang di Langit. Tubuh Al seperti terpaku pada kursi kayu yang didudukinya. Al tidak menjadi dirinya sendiri. Ia menjelma seseorang yang tak dikenali para sahabatnya. Dengan nafsu untuk menaklukkan, Al ingin membuktikan diri. Ia lupa sang Bintang tak mengenalnya. Sang Bintang adalah orang asing dan kehadirannya merupakan suatu misteri. Al bertingkah mencari perhatian. Nafsu yang serampangan menjadi rantai bagi diri Al. Rasa yang polos, yang tadinya memancar indah, menjadi redup dan gelap. Menelan Al bulat-bulat. Pada titik ini, nafsu menjadi syahwat. 

Al kini dikuasai syahwat. Energi negatif memancar dari dalam dirinya. Ia telah menyakiti dirinya dan juga sahabatnya. Sang Bintang semakin jauh dari jangkauan Al. Namun, Al dikenal dan disayangi oleh Bapanya. Sang Bapa memperhatikan Al dan ingin menyelamatkan Al dari dirinya sendiri. Al dan sang Bintang kembali bertemu. Pada perjumpaan itu, Sang Bintang memandang Al sebelah mata. Ia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Al. Al kaget. Ia tersadar. Syahwat ini harus diuji. Ia harus dimurnikan sehingga ia menjelma kembali sebagai rasa yang polos. 

Malam itu Al membalikkan keadaan. Sang Bintang mulai memperhitungkan Al. Malam itu posisi Al menjadi setara. Ia tidak lagi menjadi hamba dari fantasinya. Betapa mengerikannya hubungan yang sejak semula tidak setara. Kita merasa mendapatkan anugerah karena sang Bintang memilih kita. Dalam hubungan itu, selamanya kita akan berada di bawah kendali sang Bintang. Terciptalah relasi tuan dan hamba. Sang Hamba akan menyerahkan apapun untuk memiliki dan menyenangkan sang Tuan. Sang Tuan akan bertindak sesuka hatinya kepada si Hamba dan tak ingin melepaskan karena nikmat kuasa sangat menggetarkan. Hubungan kekerasan yang hanya bisa diputus oleh si Hamba sendiri ketika ia sadar bahwa ia adalah korban kekerasan dan telah diperbudak. Al tidak ingin seorang Bintang di langit. Ia tak mau sebuah relasi tuan-hamba. Ia ingin lawan intelektual yang setara. Seorang teman seperjalanan. 

Semakin Al berinteraksi dengan sang Bintang, semakin tampak kemanusiaannya. Yang indah tak selalu benar dan yang benar tak selalu indah. Al mendapatkan kesadarannya kembali. Dialah sesungguhnya sang Bintang di langit. Jika ia jatuh cinta, maka ia harus mencintai dengan percaya diri. 

Sang Bapa tersenyum. Ia adalah sang Cinta. Ia adalah pertanyaan yang menemukan jawaban. Sebuah sinyal yang bersahabat dalam kegelapan. Sebuah rasa untuk setia dan bertahan. Ia menerangi Al ketika Al hangus terbakar asmara. Cinta seharusnya memang menerangi, sebuah energi untuk membebaskan.

Sekarang Al tahu dengan pasti, Sang Cinta ternyata sudah bersama-sama dengan dia sejak semula. Ia tak perlu mencari lagi. 

Love Story

Maureen's Love

Selasa, Mei 28, 2019

Maureen adalah keponakan saya. Umurnya baru 10 tahun. Dia sekarang duduk di kelas 4 sekolah dasar bermutu internasional. Suatu hari, sepulang dari sekolah,  dia bercerita bahwa dia sedang jatuh cinta. 

Maureen: Aunty, I think I'm falling in love deh.
Me: Oya? With whom?
Maureen: His name is Carlo
Me: Wow... Do you think he is also falling for you?
Maureen: Yes, he said he loved me a week ago. I just didn't know how to respond him, so I shrugged. 
Me: Why don't you said "thank you"? Just be polite to him.
Maureen: Hmmm. *berpikir*. Well, Aunty, I think I'm going to say I love him back deh.
Me: Eh. Why?
Maureen: Because he is nice to me. Sometimes other boys are mean to me. When I approach them, they don't treat me well. But, Carlo always stays beside me. We love to draw together and he always shares his lunch with me. He is nice. I think I wanna be his girlfriend. Maybe, I will marry him. 
Me: *terhenyak*. Ok, but first, you must finish your school ya. Someday, you can ask Carlo to play at home. I wanna meet him. 
Maureen: Okay. Bye Aunty. 

Kata-kata Maureen, nancep di hati saya. Sebuah kalimat sederhana dari anak perempuan, " I love him because he is nice to me."

Aku dan Tuhan

Percaya

Selasa, Mei 28, 2019

Apa itu percaya? Bagaimana sikap orang yang percaya?

Dua pertanyaan ini menganggu saya akhir-akhir ini. Sebagai orang yang perfeksionis, saya berdiri di atas keyakinan pada diri saya sendiri untuk mencapai tujuan hidup yang saya tetapkan. Saya terlatih dengan sadar untuk menyusun rencana dan langkah-langkah untuk masa depan saya. Saya tahu apa yang saya inginkan. Saya tahu kapasitas dan batas-batas yang saya terapkan dalam diri saya. Orang-orang bilang saya terlalu keras, tetapi bagi saya itu adalah prinsip. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari ini selain nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu?

Namun, bagaimana jika dalam perjalanan menggapai tujuan tersebut, saya mengalami putaran haluan yang mengacaukan rencana dan cita-cita saya. Bagaimana bisa? seseorang yang tahu pasti dan sedang berjalan menuju jalur yang sudah seharusnya justru mendapatkan hasil yang 180 derajat berkebalikan dengan yang diharapkan. Untuk pertama kalinya, saya merasa tak berdaya. Saya sangat marah. Saya berusaha bangkit dan mencoba. Tetapi, saya jatuh dan gagal. Untuk pertama kalinya saya mempertanyakan keputusan Tuhan. Ada keengganan untuk percaya lagi.  

Hal ini menciptakan sejenis keraguan pada Tuhan. Saya diam-diam menyimpan rasa sangsi apakah misalnya jodoh yang Tuhan kasih (kalau Dia mau kasih) akan cocok dengan saya. Apakah saya akan menyukai pilihan-pilihan Tuhan dalam hidup saya? atau Seseorang yang Tuhan pilihkan untuk saya? Lalu, sampai sejauh mana saya bisa mengendalikan hidup saya? Kapan saya bisa membedakan tuntunan Tuhan dan ego saya? Ketika saya masuk gereja minggu ini, saya mendapat jawaban. Sebuah tamparan telak atau mungkin pengingat: "Damai sejahtera Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang dunia ini berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu!"

Saya menangis. 
Mengapa harus saya? Mengapa saya harus hidup untuk tidak sama dengan dunia ini? Mengapa tempat yang Kau pilihkan terlalu penuh dengan kesedihan dan kebencian? Mengapa harus aku yang menggarami air yang tawar?

Tuhan, ajarilah aku untuk percaya. Percaya pada apa yang kau berikan.


Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (1)

Rabu, April 24, 2019

“Aku suka dia,” Al menunjuk laki-laki yang berdiri hanya beberapa meter dari kami duduk. Kulitnya putih bersih, agak kurus, tapi tingginya cukup semampai untuk ukuran orang Indonesia. Hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, tapi matanya akan menyipit jika ia tersenyum. Wajah yang ramah. Dia sering terlihat salah tingkah dan canggung. Ia tampan tapi kadang terkesan biasa saja. Ia seperti air, mengalir dan mengikuti bentuk. 
 “Serius? Itu kan….,”aku melotot
“Iya…,” Al memotong cepat. 
“Dan sebentar lagi dia akan menjadi…,”aku menyambung dan segera dipotong Al. 
“Iya,” ia menjawab namun matanya tak lepas dari lelaki itu. 

Setahun kemudian kami berjumpa lagi dengan lelaki pujaan Al. Iya jauh lebih percaya diri.  Ia banyak tersenyum sehingga wajahnya bercahaya. Suaranya merdu. Ya, Pesonanya semakin menguar. Ia telah menjelma manusia baru. Dengan kemampuan yang ia miliki, dengan modal sosial yang diberikan padanya sejak lahir, dengan latar belakang yang ia punya, dan nama besar rumah yang ia tempati, lelaki itu segera menjadi bintang baru. Ia tak hanya punya Al sebagai pengagum dari jauh, tetapi juga para fans perempuan maupun laki-laki yang mengidolakannya. 

“Al, fans-nya banyak sekali. Pulang yuk.” 
“Jangan dulu, Pilar. Tunggu sebentar lagi,” Al membujukku. 
“Tapi kepalaku sudah pusing ini. Betis sudah pegal,” aku menggerutu. 

Hari itu Al mengajakku mengikuti seminar dimana lelaki pujaannya menjadi pembicara utama. Ya, dia bintangnya malam itu. Dia berbeda sekali dengan setahun lalu ketika kami melihatnya. Tubuhnya sekarang lebih berisi. Ia mengenakan kemeja blue-navy berpotongan slim fit dengan denim yang melekat di badannya yang padat. Jika Al bersandar di dada atau punggungnya, yakinlah anak itu tidak akan rela untuk berpisah. 

“Pilar, kenapa sih aku selalu jatuh cinta pada bintang di langit?,” Al bertanya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. 
“Mungkin karena orang-orang seperti dia hanya akan lebih indah dipandang dari jauh. Kalau dia beneran jadi pacarmu, mungkin banyak yang musuhin kamu. Kamu juga harus kuat hati dengan rasa cemburu. Ah, terlalu banyak rintangannya. Tapi, kamu akan memiliki semacam kebanggaan karena berhasil memilikinya,” aku menjawab polos.
 
Al terdiam. Lelaki itu seperti bintang di langit dan Al seperti pungguk yang merindukannya. 

“Kenapa sih kamu menyebut dia bintang di langit?,”aku bertanya. 
“Karena dia hanya bisa dilihat dari jauh. Ia tidak bisa digapai. Bahkan jika kami berdekatan pun,” jawab Al.



(bersambung)




Aku dan Tuhan

Kapel

Rabu, April 03, 2019

Akhir-akhir ini saya suka bergereja di kapel RS Panti Rapih. Thanks to Lioni yang memperkenalkan saya dengan tempat itu. Misa dilaksanakan dengan tata cara Katolik dan berbahasa Inggris. Jadi, bisa lah sedikit-sedikit latihan merasakan misa kalau suatu saat melanjutkan sekolah ke negeri seberang. Tapi yang lebih istimewa lagi karena misa-nya diadakan di rumah sakit. Tempat itu selalu menakutkan bagi saya. Disitulah kehidupan dan kematian bertemu. Setiap jam ada saja yang pergi mendahului kita. Setiap jam ada juga yang terlahir ke dunia. Di tengah-tengah paradoks itu ada doa yang dipanjatkan sebagai jembatan antara yang hidup dan yang mati.

Biasanya saya datang misa yang dihelat pada sore hari. Di setiap misa itupula selalu bertepatan dengan hujan. Suasana rumah sakit yang sendu dan langit mendung yang gelap merupakan kombinasi munculnya rasa sesak yang ganjil. Kau tahu ketika kau menangis tapi tidak bisa, kau ingin marah tapi tidak bisa melampiaskan. Kau hanya bisa diam dan merenung. Kadang-kadang berkeluh kesah. Tapi lebih sering kau ingin teriak. Meskipun lagi-lagi tidak bisa. 

Kau tidak bisa marah pada persona yang kau cintai. Kau gemas. Tapi juga rindu pada-Nya. 




Peringatan 9 Bulan Mami Pergi
14 hari menjelang Pemilu
18 hari menjelang Paskah