Sehimpun Puisi

96

Jumat, Desember 06, 2019

96 jiwa jumlahnya
Kami diutus kepada mereka
Kami diperintahkan untuk apapun itu
Kami tidak tahu bagaimana harus memulai
Tapi tampaknya semuanya pelan-pelan terjadi
sudah habis akal rasanya
hanya cinta yang bisa

96 jiwa jumlahnya
wajah-wajah ceria
wajah-wajah penuh harapan
wajah-wajah yang tak tahu
bahwa dalam terik dan mendung
kami duduk dan sidang untuk bertarung

96 jiwa jumlahnya
masa depan mereka menjadi taruhan
masa depan kami juga menjadi taruhan
tak ada kata menyerah
tak ada kata berhenti
satu pasukan khusus sudah turun tangan
demi 96 jiwa

Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna
kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan

Life Story

Andai Hidup Ini Tanpa The Beatles

Senin, Desember 02, 2019

*photo by google


Ini bukan review film. Tapi film ini membuat saya me-review hidup saya. Apa jadinya dunia ini tanpa lagu-lagu dari The Beatles?. Lagu-lagu The Beatles adalah "teman seperjalanan" kita dalam ziarah hidup di dunia ini. Mau senang, mau sedih, lagu-lagu mereka menjadi pelita yang menerangi dan angin yang mengarahkan gerak kita. Kadang-kadang liriknya tidak mudah dimengerti. Mungkin karena sangat personal. Tetapi melodinya berbicara secara universal. Tak ada yang menampik bahwa kolaborasi Lennon-McCartney adalah salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki dunia ini.  Karya-karya mereka adalah perpaduan agung antara akal dan rasa. Meskipun kemudian band ini bubar, keempat personil mampu bercahaya dengan caranya masing-masing. 

Pertemuan pertama saya dengan The Beatles terjadi pada hmmm... tampaknya setelah saya bisa mengingat. The Beatles adalah salah satu band favorit Opa. Mami yang mewarisi pengetahuan musik itu dari Opa, selain ia sendiri juga terpengaruh British Invasion di era itu. Mami mengajari saya berdansa. Beliau partner dansa saya yang setia. I Saw Her Standing There adalah salah satu lagu favorit kami untuk berdansa. 

Waktu kecil saya menyanyikan lagu-lagu The Beatles tanpa pernah mengerti liriknya. Yang saya tahu bahwa melodinya sanggup membawa saya ke suatu alam lain yang indah. Seperti dongeng Alice in Wonderland, manakala saya memutar lagu-lagu The Beatles, saya terlempar ke tempat yang penuh dengan imajinasi: cinta dan humanisme. Kapanpun dan dimanapun, jika mendengarkan lagu-lagu The Beatles, perasaan nostalgia itu hadir. Cinta tak harus pada manusia, bisa pada sebuah kota. Kita bisa tahu betapa Paul begitu mencintai Liverpool dari lagu-lagu yang ia ciptakan. 

Entah sedang jatuh cinta atau patah hati, putus asa atau dalam penantian, aura positif itu selalu menguar. Ada harapan ketika mendengarkan lagu-lagu mereka. Bagi saya, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr adalah para rasul yang memberitakan kabar gembira. Mereka menyampaikan pesan semesta kepada orang-orang yang kesepian. Kepada mereka yang menanti. Kepada mereka yang bersedih. Kepada mereka yang sedang berbahagia. Kadang lagu-lagunya lucu, kadang penuh empati. 

Film Yesterday mengganggu kita dengan pertanyaan yang menjadi momok: "melupakan" dan "terlupakan". Hilangnya The Beatles dari memori dunia mungkin merupakan sebuah metafora akan datangnya era baru yang tak lagi menghargai proses. Di film itu dibahas, satu lagu saat ini diciptakan oleh 16 orang seperti membuat produk di pabrik. Padahal kita tahu, kita butuh keintiman dan saat-saat magis untuk bisa menghasilkan  satu lagu yang baik. Seperti karya seni lainnya, lagu, puisi, atau bahkan karya ilmiah sekalipun adalah formula dari alam semesta untuk menyampaikan suaranya. Dan hanya orang-orang yang mungkin dalam keadaan "trans" atau menyatu dengan di luar sekaligus di dalam dirinya yang bisa menggapainya. 

Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa lagu-lagu The Beatles. Mereka memang salah satu pelopor musik populer dunia. Musik yang lahir dari kalangan orang-orang biasa. Mengapa lagu-lagu The Beatles bisa abadi? Jawabannya mungkin bervariasi, tapi berdasarkan pengalaman saya mendengarkan mereka, jawabannya adalah karena lagu-lagu mereka sederhana dan memiliki emosi.  Pernah suatu kali saya berdiskusi dengan driver Grab yang ternyata lulusan seni musik senar dari ISI Yogyakarta. Dari hasil diskusi kami, lagu-lagu The Beatles banyak menggunakan nada-nada minor. Selain itu, mereka juga menggunakan akord (chord) nada-nada yang ada 7-nya, seperti C7 B7 D7 atau G7. Dalam struktur melodi, sudah ada nada-nada mayor dan minor untuk membentuk lagu. Namun, akord terbentuk jika nada-nada utama yang digabung dengan nada-nada pendukung. Ketika nada-nada pendukung ini dimasukkan, maka lagu itu memiliki emosi. Ia hidup dan memiliki jiwa. Ibarat rumah, nada-nada mayor dan minor adalah pembentuk bangunan, sementara nada-nada pendukung bertugas untuk mewarnai bangunan itu. Nada-nada pendukung ini kalaupun tidak ada juga tidak apa-apa, tetapi kalau ada, maka ia mampu memberi makna. Itulah sebabnya lagu-lagu The Beatles yang melegenda begitu "menikam" hati. 

Kadang-kadang saya merasa seperti nada-nada pendukung itu. Tanpa saya pun, dunia ini tetap berjalan. Saya mungkin bukan yang utama di dunia ini. Juga tidak punya kuasa untuk mengubah dan mengontrol situasi. Bukan pula orang yang tampil dan tenar. Tapi saya ingin hadir dan memberi makna pada hidup ini, setidaknya saya memulainya dengan orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba untuk mempengaruhi. Saya mencoba menghadirkan emosi dalam hidup mereka. Seperti lagu-lagu The Beatles, mungkin dengan cara yang sederhana itu saya bisa hadir dan mengabadi di hati mereka.

Bagaimanapun, Mei ke dalam bahasa Mandarin juga berarti lagu yang indah. 

Life Story

Rindu

Sabtu, November 30, 2019

Ada orang yang aktif. Yang memiliki inisiatif untuk me-
Ada orang yang pasif. Yang memiliki kesabaran menunggu untuk di-

Jika keduanya terpaut, maka bagaimanakah jadinya? Cinta adalah energi. Energi selalu menggerakkan sesuatu. Tentu, kita juga mengerti bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk mencintai. Untuk menunjukkan perasaannya pada orang yang dicintainya. 

"Keseharian hidupnya seperti itu, tak ada yang berat. Namun, entah mengapa hatinya selalu berat, pikirannya selalu dicekam pertanyaan-pertanyaan, dan sekali waktu, kadang ia merasa terlalu mengalah." (Sitayana - Cok Sawitri, hal. 184). 

Aku ingat Mami Ice. Kepribadiannya tenang, pendiam, dan kalem. Orang-orang seperti ini umumnya dianggap pasif. Mereka tidak ekspresif. Mereka tidak menunjukkan perasaannya. Namun, ternyata anggapan itu bisa keliru. Mami Ice dengan caranya sendiri selalu berusaha untuk hadir bagi kami. Ia yang aktif mencari. Ia yang memberi info terkini. Ia yang mengajak. Dan saya merindukan beliau. Mami Ice juga yang paling sering mencariku. Menanyakan kabar dan bertukar pikiran. Sejak Mami pergi, aku mencurahkan isi hatiku padanya. Emosi-emosiku. Mimpi-mimpiku. Mami Ice mendengarkan dengan serius. Saya rindu jika beliau mengirim pesan WA, "Malam Meike sayang, bagaimana kabarmu anak? semoga sehat ya". Dia memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Minggu lalu Kak Yola, anaknya Mami Ice, datang ke Jogja bersama Chavelle anaknya. Kami: aku, Kak Yola, dan Marcio, adik kami, berjumpa dan saling ngobrol. Kami akhirnya punya waktu untuk berkabung bersama-sama. Kak Yola bercerita semua proses yang dilalui Mami Ice hingga pertarungannya usai. Kak Yola juga bercerita bagaimana ia harus menemani maminya ketika Mami pergi. Mami Ice tidak ngomong, tapi Kak Yola tahu maminya harus ditemani.

Mami, mau saya datang?,“ tanya Kak Yola
Mami Ice menjawab,“ Kalau kau bisa, datang mi.“

Kak Yola juga bercerita bagaimana ia harus mendampingi Kak Ita, adik bungsunya yang akan melahirkan. Pasti sangat berat buat Kakak Ita menghadapi semuanya. Kepergian Ibu dan penantian anaknya yang akan lahir. Sebuah mujizat terjadi, Kak Ita melahirkan normal dengan bayi seberat 5,4 kg. Mereka menangis berpelukan dan memuji Tuhan.

Kak Yola berkata,“ Mami selalu hadir di setiap persalinan putri-putrinya. Sama seperti mamimu yang juga selalu hadir di pernikahan kami,“ ujarnya padaku. Mataku berkaca-kaca. Mami ternyata sangat berarti buat mereka juga. Ibumu adalah ibuku, ibuku adalah ibumu.  Kami sangat sedih, tetapi kesedihan itu tak mematikan pengharapan kami. 

Hari ini sudah satu bulan sejak Mami Ice pergi. Bagaimana kabarmu disana Mami?  

Life Story

Masa Depan

Jumat, November 29, 2019

Mungkin dua atau tiga bulan sebelum Mami pergi, kami terlibat dalam percakapan yang serius dan dalam. Mami masih belum yakin anak ini akan baik-baik saja kalau ditinggalkan. Sementara itu, saya masih dalam fase menggugat dan menyimpan kemarahan yang luar biasa pada Tuhan. Di saat semua jalan tertutup, bahkan celah untuk terbukanya sebuah jendela pun tak tampak, saya meminta dijodohkan oleh Mami. 

Mami punya banyak teman dan kolega. Salah satu alasan kenapa saya sulit didekati oleh laki-laki lajang di komunitas kami adalah karena Mami. Mereka segan pada Mami dan segan juga padaku. Saya tidak tertarik dengan laki-laki yang tidak bisa diajak berpikir dan merasa. Seganteng, sekaya, atau sehebat apapun dia, kalau saya tak merasakan "klik" atau bahasa administrasinya sesuai dengan visi-misi, saya tak akan akan banyak bicara dengannya. Dan dengan demikian raut mukaku yang tampak seperti "orang yang lagi marah" itu akan muncul. Itu semakin membuat mereka menjauh. Sistem pertahanan diriku memang canggih hehee.

Ada satu laki-laki dewasa mapan yang kusukai sejak SMP. Dia anak teman gerejanya Mami. Usianya sudah kepala 4. Tapi, demi Tuhan, dia tak tampak seperti orang tua. Makin tua dia makin muda kayak Benjamin Button. Dia suka travelling dan fotografi. Orangnya tampaknya pendiam, tapi mungkin karena saya belum berinteraksi dengannya saja. Kuutarakanlah niatku untuk dijodohkan. Rasa-rasanya waktu itu saya sangat putus asa sampai merasa menikah adalah jalan keluar dari persoalan ini. Jalan pedang menjadi akademisi ini sangat berat. Lalu, apa kata Mami? Dia malah menyebut nama kakaknya laki-laki yang kusukai itu sebagai pembanding. Berbeda dengan dia, kakaknya ini jauh lebih bonafide (dan tentu lebih tua). Dia adalah dokter kandungan terkenal di kota kami. Sudah pasti secara finansial tak diragukan lagi. Untuk ukuran dunia, hidup saya kelak akan bahagia dengan materi yang melimpah dan status kehormatan di tengah-tengah masyarakat tampilan. Saya yang waktu itu berada dalam kondisi putus asa, cukup tergiur dengan fantasi itu. 

Ibu-ibu lain tentu akan langsung menyerahkan putri mereka pada lelaki jenis ini. Tetapi, tidak Mamiku. Jawabannya setelah saya mengutarakan niat itu adalah satu kata mutlak: Tidak. "Bisa saja. Mami tinggal bilang pada Mamanya dan beliau pasti setuju. Anak itu sangat dekat dengan ibunya dan akan mematuhi apa kata ibunya. Tetapi kalau saya perhatikan dia anakya manja. Semuanya diatur ibu. Kalau kamu menikah dengan dia, kamu akan menggantikan posisi ibunya. Kamu akan mengurus dia dan memomong dia seumur hidupmu. Kamu akan hidup dalam sangkar emas. Padahal, kau itu aktivis. Hidupmu harus kau berikan pada orang banyak...."

Bagai mendapat tamparan keras, Mami mengingatkan kembali cita-cita saya. Tampaknya saya masih punya harapan untuk bertahan. Tampaknya saya tidak benar-benar putus asa. Tampaknya saya waktu itu hanya sangat lelah dengan penolakan. Begitulah, saya tak jadi menikah dengan lajang paling diincar di kota kami. Pria itu kemudian dijodohkan dengan teman sekolah minggu saya dulu. Agak tidak nyambung mereka sebenarnya. Kudengar bahwa ayah temanku itu memang ingin menjodohkan putrinya dengan dia dan karena dia ingin menyenangkan ibunya, maka jadilah. Saya sendiri tetap tertatih-tatih berjalan di jalan sunyi untuk menjadi Begawan.

Lain Mami, lain pula Daddy. Sebagai mantan cowok kluster 1 di pasar perjodohan, Daddy tahu persis permainan laki-laki. Tak heran kalau dia sangat posesif pada saya. Jika mimpi buruk Mami adalah melihat saya hidup dalam sangkar emas, maka ketakutan Daddy adalah saya menikah dengan laki-laki yang memanfaatkan saya demi kepentingannya. Mimpi buruk Daddy adalah melihat saya menikah lalu bekerja keras untuk menghidupi suami dan keluarga suami saya. Berkali-kali dia mengingatkan bahwa saya anak tunggal. Apa yang menjadi milikku akan menjadi milik suami, begitu kira-kira menurut hukum. Itulah sebabnya di ambang usia 30 tahun yang kata orang masa yang pas untuk menikah, Daddy tak kunjung menyuruh atau memaksa saya menikah. Kalau boleh memilih, Daddy ingin menyimpan saya dalam lemari kaca seperti boneka.

***

Saya sendiri apakah ingin menikah? Entahlah. Sudah lama kuputuskan untuk tidak bergantung pada institusi pernikahan. Bagi saya, menikah ok, tidak menikah juga tidak apa-apa. Semua relasi tidak selalu goal-nya menuju pernikahan. Ada ikatan-ikatan yang tak terakomodasi oleh institusi buatan manusia. Dengan karakter dan visi-misiku yang bertabrakan dengan kultur patriarki, tampaknya akan sulit bagiku menemukan suami. Kalau menemukan pun, kami akan hidup dalam kompromi seumur hidup atau sesederhana akan bercerai. Saya sudah bilang pada Mami bahwa saya mungkin tidak akan menikah. Bukan karena saya membenci institusi ini atau tidak mau, tapi struktur telah membuat perempuan-perempuan seperti saya ini sulit untuk dicintai dan diterima. Laki-laki yang diberikan kuasa dalam pernikahan akan mendominasi dan memanipulasi kami. Kalau bukan saya yang ditindas, saya yang akan menindas dia. Rumit, kan. Maka, saya mulai mempersiapkan diri untuk menjalani perspektif "saya sendiri dan akan sendiri lagi". Sederhananya, tidak bergantung pada orang. Di antaranya, ada proses dimana kita bertemu dan berpisah dengan orang-orang. Atas segala keadaan itu, saya pelan-pelan membangun support system. Soulmate tidak selalu berbentuk pasangan, kadang mereka muncul dalam bentuk teman, komunitas, hewan peliharaan, atau tumbuhan. 

***

Tadi malam saya curhat-curhatan dengan Makrus. Kami sedang membicarakan kekasih hatinya yang juga dilanda dilema yang sama. Kekasih hatinya itu tipe yang suka bereksplorasi dan menaklukkan. Sementara Makrus adalah tipe devosi, menyerahkan seluruh cintanya untuk satu orang ini. Namun, meskipun pilu, Makrus memahami kalau gadis itu realistis. Ia akan memilih pria yang dapat memberinya masa depan. Tak ada perempuan yang ingin hidup dalam ketidakpastian. Tentu pria tersebut hendaknya memenuhi ekspektasi dan kepentingannya. Begitupun sebaliknya.

Membayangkan memiliki suami dan anak-anak tampaknya menyenangkan (meskipun saya jadi trauma setelah menonton video orang melahirkan).  Kita tak akan kesepian dan akan bahagia. Hmm, tunggu dulu. Siapa yang menjamin kita takkan kesepian meskipun sedang dalam relasi? Dan bukankah tak ada yang mampu membahagiakan kita selain diri kita sendiri? Pertanyaan berikutnya, apakah memang hal itu benar-benar yang saya butuhkan? Mengingat hidup saya sekarang bukan lagi milik saya, saya sudah tak sanggup membayangkan seperti apa hidup saya kelak. Bukan maksudnya tak punya perencanaan hidup, hanya saja ada hal-hal yang tak bisa kita tolak. Yang Mulia Komandan Tertinggi sudah mengambil alih kendali atas hidup saya dan sebagai prajuritnya, saya harus patuh pada perintah Komandan. Masa depan saya ada dalam perencanaanNya. Dan seperti yang sudah Beliau katakan dan tertulis dalam kitab, "Apa yang Kuberikan tidak sama seperti yang dunia ini berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu ."

Saya tidak punya kuasa untuk mengubah atau mengontrol. Saya hanya menjalani semampunya. Tenang, Komandan tidak seotoriter itu. Jika bukan kita yang diubah untuk mengikuti situasi itu, maka situasi itu yang diubah untuk mengikuti kita. Saya dan Juni sudah pernah membahas ini. Siapa yang tak butuh cinta dan afeksi? Tapi kami sadar peran dan posisi kami. Hidup kami kompleks dan tidak mudah. Kami lebih baik memilih sendiri daripada membuat laki-laki yang kami cintai menderita hidup bersama kami. Saya dan Juni mengimani jika memang kami diberikan pasangan, maka orang tersebut adalah anugerahNya. Ia pasti mampu menemani. Komandan pasti akan memberikan pasangan yang sepadan. Supaya kalau yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalau yang satu terbungkam, yang lain akan meneguhkan supaya ia dapat berteriak lantang. 


Life Story

Kenapa Saya Jatuh Cinta Pada Kurt Cobain?

Senin, November 25, 2019

sumber foto: google


Di sela-sela menyusun borang standar 9, izinkan saya menuliskan mengapa saya jatuh cinta pada Abang Kurt. 

1. Kurt memilih satu gadis yang paling tidak menarik di kelasnya untuk menjadi pacarnya dan berhubungan seks pertama kali dengan gadis itu. Menurut saya, bukan persoalan "menarik" atau "tidak menarik", tetapi dia bisa melihat keindahan yang tidak dilihat orang lain. 

2. Kurt menulis lagu-lagunya yang hampir semuanya seolah-olah berkata, "It's okay to be you. An abnormal...". 

3. Kurt tahu bahwa tidak apa-apa kalau kita sedih, marah, dan frustasi. Tidak apa-apa meneriakkan kalau kita sedih karena ditolak dan diabaikan. 

4. Kurt jenius. Menggunakan nama "Nirvana" untuk sebuah band beranggotakan anak- anak muda kulit putih? It's Wow. 

5. Kurt loyal sebagai pasangan. Pacar-pacarnya tidak banyak dan semuanya bertahan dalam kurun waktu yang lama. 

6. Dia menulis lagu "Heart-Shaped Box". Berdasarkan hasil diskusi saya dengan Sophie, "hati berbentuk kotak" merupakan metafora dari sesuatu yang seharusnya "berisi sesuatu" tetapi pada kenyataannya kosong. Mengapa kita mencintai seseorang yang destruktif bagi kita? Oh poor Kurt

7. Kalau senyum manis. Dia lucu in his own way. 

8. Salah satu left-handed guitarist

9. Kalau ngomong sesukanya. Tidak berpura-pura. 

10. Warna matanya biru.

Kurt, tunggu aku jalan-jalan ke Seattle ya...

Life Story

Surat Untuk Mami (1)

Selasa, November 19, 2019

Dear Mami, Bagaimana kabarmu disana? Pasti Mami bahagia. Apakah disana sudah bertemu dengan Mami Ice? Ihhh kalian berdua tidak mau pisah lama-lama ya. Bisa kubayangkan kalian berdua pasti senang bernyanyi dan berdoa dengan hati gembira melebihi ketika kalian masih di dunia. Tak lupa Papi Nes juga ikut mengiringi kalian bernyanyi dan melatih nada-nada yang mungkin terdengar fals. Tahu sendiri kan, telinga Papi Nes setajam pendengaran ultrasonik ikan paus hehehe.

Daddy baik-baik saja, Mam. Dia rajin sekarang berdoa dan ke gereja. Mungkin mengikuti teladanmu adalah caranya terkoneksi denganmu lagi. Katanya, dia diajak ikut nyanyi di koor gereja. Saya agak pesimis, soalnya suara Daddy cempreng hihihi. Tapi kalau itu membuatnya bahagia, ya tidak apa-apa. Oiya, saya sudah tahu bagaimana cara meng-treatment dia dengan benar. Kalau dia mulai rewel, kubiarkan saja dulu dia beberapa hari. Saya sedang belajar tidak memasukkannya dalam hati. Sering kusadari bahwa ketegaran ini bermula dari memiliki ayah seperti dia.

Meike merindukan Mami setiap saat. Tahukah Mami, Meike masih menyimpan nomor WA Mami di hape, berharap nama Mami muncul dan kita bisa ngobrol seperti dulu lagi. Ahhh, waktu begitu cepat berlalu ya Mam. Kini sudah 1 tahun lebih setelah Mami pergi. Banyak yang terjadi Mam. Mami pasti tahu itu. Kadang-kadang rindu ini terlalu hebat sampai saya tak kuat menanggungnya. Sejak kepergianmu, Meike bangun pagi dengan lubang hitam di dada. Terlalu sakit. Tapi, ajaibnya seperti ada energi positif. Energi cinta itu membuat kita masih bisa bertemu di ruang-ruang semiotik. Ada pengharapan bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Mami tahu, saya baru memberanikan diri mendengar rekaman suaramu. Waktu pulang kemarin, kupaksa Daddy mencari recorder itu. Pas kubuka, ternyata masih ada rekaman interview-mu dengan Makrus waktu dia ke Makassar dulu dan rekaman suara Mami yang lain. Mami, ingat kan, Makrus yang menemaniku menyebrangi lautan Samudra Hindia untuk bisa pulang melihat jasadmu. Heroik sekali Makrus waktu itu. Macam ksatria berbaju zirah dia, tapi yang naik pesawat hehehe. 

Mami tahu tidak? bahwa tanggal kematian Mami ternyata merupakan hari perayaan Santo Thomas. Iya, Mam, Thomas si peragu. Mami sering bilang saya ini "peragu" akan janji Tuhan. Mami selalu percaya bahwa Meike akan sampai di posisi ini, meskipun bagiku waktu itu rasanya hampir mustahil. Menurutku, Thomas itu kritis, Mam. Dan Tuhan juga tampaknya tidak keberatan dengan orang yang ragu dan kritis. 

Ada satu hal yang juga kusyukuri. Terima kasih ya Mami sudah mengajarkan kepada saya untuk melihat bahwa kematian adalah sahabat lama yang layak untuk disambut dengan rindu. “Tugasku sudah selesai, sekarang lanjutkan perjuanganmu”. Begitu katamu Mam. Kata-kata yang baru kupahami setelah kepergianmu. Kata Kak Ruth, Mami seperti moksha. Mami mati dalam keadaan terberkati. Mami menyambutnya dalam hening. Dying gracefully. Yang kusesali adalah tidak bisa menemanimu di saat terakhir. Kita bahkan tidak diizinkan mengucapkan salam perpisahan. Mami tahu, kita tak akan berpisah selamanya.

Oiya, Meike mau cerita kalau Meike sekarang mengalami yang Mami lakukan hampir seumur hidup Mami: absen sebagai pegawai hahahaa. Susah juga ya Mam. Harus bangun pagi dan sebagainya. Jadi ingat betapa Mami kesal kalau saya membuat Mami terlambat. Betapa jauh perjalanan pulang balik demi supaya Mami menunaikan tugas yang Mami cintai. Mami mencintai pekerjaan Mami. Dan banyak orang yang merasakan sinar kasihnya sekarang. 

Saya juga mau cerita kalau saya sedang berelasi dengan seseorang Mam. Mami tahu sendiri siapa hehee. Tapi saya ingat ketika terakhir kali saya curhat tentang seseorang yang pernah dekat dulu, Mami bilang,”Ya harus diterima. Kalau kita bukan menjadi pilihan hatinya”. Sedih rasanya mendapati perasaan kita tidak berbalas. Sedih rasanya tidak dicintai kembali. Atau ketika mereka tidak mencintai kita dengan cara yang sama seperti yang kita harapkan. Tapi yang ini beda, Mam. Dia memahami dan menerima perasaan Meike. Dia bisa mengenali dan membedakan Meike dari yang lain. Kami begitu berbeda, sekaligus begitu mirip. Dia revolusioner, sementara Meike rebel. Dia tidak bisa diikat, sementara Meike tidak bisa dikekang. Kami sama-sama menyerahkan hidup kami untuk orang banyak. Bila bersamanya, ketakutan Mami bahwa saya akan hidup seperti burung dalam sangkar emas kemungkinan besar tidak terjadi. Tapi begitulah, kisah kami tidak lazim. Maklum kami berdua juga dua manusia yang tidak lazim hehehe. Tapi aku berharap Mami lega, Tuhan akhirnya mempertemukan Meike dengan padanan katanya. 

Meike masih punya banyak PR. Meike mau belajar untuk melepaskan kemelekatan seperti Mami. Belajar menerima. Dan memiliki pengharapan bahwa segala sesuatu akan indah pada waktuNya. Bahwa anugrah Tuhan bukan sekedar pemberian, tetapi suatu proses merespon panggilan dan bekerja bersama-sama dengan Allah. Tidak mudah. Tapi Dia selalu meneguhkan kita. 

Sudah dulu ya Mam. Nanti kita lanjut lagi.

Aku dan Tuhan

Dan Gunungnya Tidak Pindah

Senin, November 18, 2019

Perempuan yang kusayangi ini tidak pernah banyak bicara. Tetapi, ia selalu hadir menemani. Ia bukan hanya sekedar Tante, ia adalah ibu sambungku. Berbeda dengan Mami yang ceria dan ekspresif, Mami Ice memiliki pembawaan yang kalem dan tenang. Ia tidak akan bercerita kalau tidak ditanya. Kata Mama Ani, kakak Mami Ice, sejak kecil Mami Ice anaknya sabar. Kalau Mami masih bisa fleksibel dan berkompromi untuk hal-hal tertentu, Mami Ice kebalikannya, ia sangat strict dan tegas.

Dunia pelayananku dibentuk di rumah Mami Ice. Bersama Papi Nes, suaminya, dan empat orang putri mereka yang kupanggil Kak Jeane, Kak Yola, Kak Is, dan Kak Ita, aku dan Mami menemukan keluarga. Waktu kecil aku suka dibawa mengikuti mereka pelayanan. Banyak keadaan suka-duka yang dialami dan dihadapi bersama. Ada hubungan yang dibentuk oleh manusia, tetapi ada hubungan yang dibentuk oleh Tuhan. Keluarga kami yang saling mengangkat saudara ini termasuk hubungan yang kedua. Bersama-sama kami tak pernah merasa sendirian. Ketika Papi Nes pergi duluan, Mami menemani Mami Ice. Kemana-mana pergi berpelayanan berdua. 

4 Juni 2018, Mami mengirimkan foto-foto kegiatan mereka di Toraja. Ada satu foto yang menarik perhatianku. Foto Mami dan Mami Ice berdua dengan latar belakang patung Yesus memberkati di Burake. Tak ada firasat apa-apa. 3 Juli 2018 pukul 5.30 WIB, Daddy menelpon dengan suara panik nyaris menangis. Mami tidak sadarkan diri. Aku bingung tetapi mencoba tenang. Mami bukannya baik-baik saja? Daddy memintaku menelpon Mami Ice dan Mami Ely, adiknya Mami Ice. Mereka bertiga adalah “kakak-kakak perempuan” Mami. Mami Ice segera ke rumah. Mami Ice dan Daddy mengambil keputusan membawa Mami ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku menelpon Om, kakak kandung Mami satu-satunya. Ia hanya berkata akan datang ke rumah sakit. Tapi sampai Mami pergi, ia tak kunjung datang. 

Malam terakhir sebelum Mami dimakamkan, terjadi ribut-ribut besar. Oma dan Om “menyerang” Daddy di depan umum. Aku segera memeluk Daddy dan menahannya supaya tidak roboh. Ia tidak tidur 3 hari. Fisik dan psikisnya lemah. Oma dan Om ditenangkan oleh seorang sepupu Mami dengan menggunakan bahasa Tana. Tak ada orang Maluku lagi yang berbicara bahasa Tana. Itu adalah bahasa asli Maluku dan dilakukan untuk berkomunikasi dengan leluhur. Ada apa ini? Setelah menenangkan Daddy, aku berlari menghampiri Mami Ice dan memeluknya. Ia tak berkata-kata selain balas memelukku. Aku menangis sesegukan. Ada semacam beban yang diberikan ke pundakku saat itu. Beban yang tak aku mengerti. Di depan jenazah Mami aku berbicara dalam hati. “Mami, salib apa yang kau wariskan padaku?”. 

Dua minggu setelah Mami dikubur, terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup kami sekali lagi. Aku dan Daddy ditemani Mami Ice dan Mami Ely, serta Papi Toni, suami Mami Ely. Kami saling mendoakan dan menguatkan. Satu keluarga sedarah terputus, tetapi satu keluarga tak sedarah menjadi pengganti. Sejak Mami tidak ada, Mami Ice dan Mami Ely praktis menjadi Ibu pengganti. Mereka bergantian menanyakan kabarku. Melibatkanku dalam dunia pelayanan mereka. Kadang-kadang aku merasa seperti menjadi “pengganti” Mami bagi mereka. Tapi, di sisi lain aku menyadari bahwa mereka tak ingin memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga kami. 

Tahun 2019, menjadi tahun yang baru dan ganjil bagi kami. Kami menyadari kami benar-benar kehilangan satu orang yang menjadi pengait di antara kami. Seringkali Mami Ice dan Mami Ely mengajakku bercerita seperti yang mereka selalu lakukan dengan Mami. Aku entah mengapa merasa terobligasi untuk menjadi pihak yang menggantikan Mami. Mereka bercerita banyak hal tentang hidup dan pelayanan mereka. 

September 2019, aku sudah mulai jarang mendapatkan WA dari Mami Ice. Ini aneh. Biasanya hampir tiap minggu ia mengirimkan ucapan selamat dan bertukar kabar. Aku mengirim WA ke Mami Ice, tetapi tak ada balasan. Tante Oce yang kujumpai di gereja kemudian memberi tahu kalau Mami Ice masuk rumah sakit. Katanya sesak napas. Kutanyakan keadaan Mami Ice pada Kak Jean dan Kak Yola. Katanya, Mami Ice akan melakukan operasi kecil. Ada air di paru-parunya yang harus dikeluarkan. Sebelum melakukan operasi, aku melakukan video call dengan Mami Ice. Di seberang sana, ia menatapku dan tersenyum. Ada yang ganjil dengan caranya menatapku. Tatapan matanya adalah tatapan mata sayang. Tetapi, ia seperti “melihat” Mami. Tatapan itu seperti mengucapkan perpisahan. Ia lebih banyak diam. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Tiga hari kemudian, Mami Ely tiba di Jogja dan memintaku menemaninya ke Semarang. Dalam perjalanan itulah, Mami Ely memberi tahu kalau Mami Ice didiagnosis oleh dokter mengidap kanker paru-paru stadium 4. Aku lemas. Aku ingin marah tetapi tidak bisa. Aku ingin tertawa satir, tetapi ini sama sekali tidak lucu. Aku merasakan kehampaan. Aku teringat foto Mami dan Mami Ice di Burake. 

Kutelpon Daddy mengabarkan keadaan Mami Ice. Daddy-lah yang kemudian melaporkan kondisi Mami Ice dengan mengunjunginya di rumah sakit, mengirim foto-foto dan video. Iman dapat menghadapi, tetapi psikis tidak. Di tengah-tengah duka itu dan drama kantor yang semakin kacau, aku kehilangan suaraku sampai tiga minggu. Bagaimana aku bisa mengajar dengan suara nyaris berbisik? Aku tidak bisa sering-sering video call dengan Mami Ice karena kemoterapi yang ia jalani dan suaraku yang habis. Ketika suaraku sudah kembali muncul, aku langsung video call dengannya. Disitu aku mengatakan aku mencintainya dan merindukannya. Aku memohon maaf tidak bisa pulang karena masa CPNS tidak membolehkan aku untuk mengambil cuti. Mami Ice bilang tidak apa-apa, ia mengerti aku baru saja memulai perjalananku meniti karir di dunia pendidikan. 

Seminggu setelah itu, Mami Ely mengabari kalau kondisi Mami Ice kritis. Kemoterapi tidak membawa perubahan apa-apa. Subuh itu, dokter bahkan mengatakan ia tak akan bisa melewati sampai malam. 30 Oktober 2019, aku berdoa meminta kemurahan Tuhan. Tidak ada yang mustahil baginya, tetapi biarlah kehendakNya yang jadi. Aku sudah pasrah. Aku mendoakan anak-anak dan saudara-saudara Mami Ice. Rasanya kejadian di pagi hari ketika Mami juga akan pergi terulang lagi. Dalam perjalanan ke kampus, aku memutar lagu kesukaan Mami Ice yang berjudul Never, Never, Never dari Shirley Bassey. Aku berkata dalam hati, “Kalau Mami Ice mau pergi, Meike ikhlas”. Sehabis berkata demikian, WA dari Mami Ely masuk. Mami Ice sudah pergi. Suara Shirley Bassey melengking seiring airmataku yang turun membasahi pipi. “Imposible to live with you, but I know I could never live without you..."

Dalam perjalanan menuju bandara, aku menziarahi makam Mami. Sudah setahun lebih dan banyak hal telah terjadi. Tak jauh dari makam Mami, terdapat makam Papi Nes dan Mami Ice. Ya, Mami Ice dan Papi Nes dimakamkan dalam satu liang lahat. Mereka berdekatan. Mereka semua dimakamkan di baris terdepan. Para punggawa gereja yang tak mau duduk di belakang ini sama-sama mendapatkan tempat peristirahatan terbaik di kota kami. Aku meninggalkan Makassar dengan dada yang terasa sakit. Rasanya seperti ditusuk pedang di tempat yang sama untuk kedua kali. Kehilangan tetap kehilangan. Dua ibu dalam kematian yang beruntun. Aku mengimani mereka kini sudah berbahagia di sana. Penderitaan mereka sudah berakhir. Kini mereka sudah berkumpul dan bernyanyi memuji Tuhan tak henti. Tinggal aku berdua dengan Mami Ely. Dengan bahasa kami yang sederhana, kami saling memaknai kepergian orang-orang yang kami cintai. Kami merasakan trauma yang hebat, tetapi kami tetap percaya. Tuhan selalu hadir dan menari bersama kami di dalam badai. 

Catatan: berjarak dari peristiwa itu, dengan psikosomatik yang kuderita dan keenggananku "melapor" tiap minggu padaNya, aku mulai menyadari bahwa peristiwa ini bukan tentang aku. Ini bukan tentang aku yang menggugat dan berteriak,”Kenapa diambil lagi?”. Ini adalah tentang Mami Ice yang memang harus pergi dengan cara demikian. Ia masih diberi kesempatan untuk mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya sangat mencintainya. Sebagian penderita kanker menerima mujizat Tuhan seperti gunung yang berhasil dipindahkan. Namun, dalam kasus Mami Ice, ia tetap percaya sekalipun gunungnya tidak pindah. Itupun juga adalah sebuah mujizat.

Kisah Perempuan

Sylvia

Rabu, Oktober 16, 2019

Artikel itu menyapaku begitu saja dari halaman majalah Tempo yang terbit beberapa tahun silam. Namanya tak asing. Saya belum terlalu mendalami karya-karyanya, tapi suatu saat akan kucoba menghabiskan waktu dengan membaca pemikirannya. Beberapa puisinya pernah kubaca, tapi waktu itu saya tak punya cukup kemampuan dan pengalaman untuk memahaminya. Saya masih terlalu muda dan naif. Hari ini, saya juga masih muda, tapi mungkin tak senaif dulu.

Sylvia Plath, nama besar dalam dunia sastra. Ia adalah salah satu novelis, penyair, dan cerpenis Amerika ternama. Puisi-puisinya banyak dipakai untuk mengontekskan narasi perempuan di masa itu. Ia mungkin dianggap feminis juga. Sylvia mati bunuh diri. Ia memiliki masalah kesehatan mental yang cukup serius. Pernikahan dengan seorang penyair mapan dan memiliki dua anak ternyata tetap membuatnya merasa sendirian. 

Mengapa sesuatu yang bermula begitu indah, bisa berakhir tragis?

"Dying is an art", begitu kata Sylvia dalam puisinya Lady Lazarus

Life Story

Keindahan

Senin, Agustus 26, 2019

Aku menemukan satu keindahan. Ia bersembunyi di sudut emperan toko di jalan Maliboro yang ramai, bising, dan pesing. Ia berwujud seorang lelaki berwajah rupawan, dengan tatapan mata sayu nan sendu. Rambutnya cepak ala Keanu Reeves di film Speed. Ia memakai topi baseball cap dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam. Ada tindik di telinganya dan banyak tatto di kedua lengan. Tatto-nya agak-agak random: antara tatto macam tutul, tulisan nama "Ilham", arah tanda mata angin, dan abstrak yang tak kutahu apa artinya. Ia sedang menjajakan berbagai macam T-Shirt bertuliskan Yogyakarta atau bergambar Tugu, Malioboro, Keraton, dan Candi-Candi. Oleh-oleh khas yang diincar para turis jika berkunjung ke Yogyakarta.

Aku memandanginya penuh minat. Kureka-reka masa lalunya. Apakah dia mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarganya? Masih adakah ayah dan ibunya? Dimanakah dia tinggal? Apakah dia pernah bersekolah? Apakah dia memiliki saudara? Apakah ia memiliki kekasih? Orang yang seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Jika saja dia datang dari kelas menengah ke atas, dia pasti akan terlihat cemerlang. Kalau saja dia mendapatkan pendidikan tinggi yang membuatnya mengetahui banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, dia pasti sukses dan terpandang. Kalau saja dia bisa bekerja di tempat yang membuatnya memakai dasi atau kemeja Uniqlo, cewek-cewek akan mengelilinginya. Kalau saja dia nongkrong di cafe-cafe urban, dia akan bersenda gurau dengan teman-temannya yang datang dari kelas yang sama dengannya. Kalau harum tubuhnya adalah bau parfum yang menggoda, bukannya mau tengik keringat. Dia lebih cocok hidup di dunia yang kosmopolitan dan sophisticated daripada berjualan kaos di emperan toko seperti ini.

Lalu, aku tercekat.
Aku merasa sedih.
Karena aku berpikiran tidak adil. Siapa aku yang menilai hidupnya untung atau malang? Siapa aku yang menakar kepedihan dan sukacita yang dialaminya? Siapa aku yang mengatur dia harus menjadi "siapa"? Siapa aku yang merasa hidupku lebih baik dari dia?

Aku malu. Bagaimana aku bisa berbuat adil jika berpikir adil saja aku tidak bisa?

Sehimpun Puisi

Kekasih

Kamis, Agustus 22, 2019

Temanku bertemu dengan Kekasihnya 5x dalam sehari
Ia akan mengambil air wudhu setiap waktunya tiba
Lalu masuk di ruang kecil samping kamar kerjaku
Ia memakai bedak, mengoles lipstik tipis2
Harum bunga melati tercium dari parfum yang menguar
Ia memakai mukenanya
Merentangkan sejadah, bersujud sedalam-dalamnya
Kekasihnya ada disana

Aku juga bertemu Kekasihku
Tidak 5x dalam sehari
Tapi kami cukup intens
Dia selalu punya cara untuk menyapaku
Seperti plat H kendaraan bermotor
Yang tertangkap mataku seringkali akhir-akhir ini

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka. 

Life Story

Cintailah Dia

Jumat, Juni 28, 2019

Uzul mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Kawasan Babarsari mulai padat seiring matahari pukul 4 sore yang perlahan menuju ke ufuk barat. Ia bercerita tentang takdir yang membawanya sebagai dosen. Sebuah keberuntungan kalau bukan mujizat. Berkali-kali ia tidak menyangka. Ia yang harusnya tak lulus bisa lulus. Ia yang rela melepas posisi dan gaji besar puluhan juta demi sebuah pengabdian. Uzul bertanya bagaimana kita bisa hidup dengan gaji yang sebegitu kecil. Ia sudah terbiasa memegang uang banyak dan tampaknya ia agak susah payah beradaptasi. “Tetapi uang yang banyak itu tidak berkah, selalu cepat habis," Uzul menguatkan diri. Saya yang duduk di jok samping kemudi, memandangnya, dan berkata,"Tenang. Semua pasti akan cukup”

Yu, Vir, dan Us yang duduk di jok belakang kemudian mulai berbagi cerita bagaimana mereka bisa sampai ke posisi ini. Baru saja kami menerima SK yang memantapkan posisi kami dalam dunia sosial, politik, dan ekonomi. Tentu, kami masih berada di fase “percobaan”. Tetapi, penantian panjang yang melelahkan dan seringkali diiringi isak tangis dan tawa bahagia sudah terbayar sudah. 

“Yu, berapa lama kamu menantikan saat ini?,” saya bertanya padanya. 
“Sejak aku masih kecil. Aku suka bermain peran sebagai guru,” Yu menjawab dengan mata berkaca-kaca. 
“Aku juga Yu. Aku menantikannya selama 10 tahun. Sejak Bapa-ku menaruh ide itu di hatiku: kenapa kamu mau menjadi wartawan, kalau kamu bisa menjadi gurunya wartawan?,” aku menjawab sambil mengusap-ngusap 18 angka nomor induk kepegawaianku. 
Vir ikut menimpali,"Kalian berdua memang ingin jadi dosen ya? Kalau aku seperti tercebur kesini. Tidak sengaja,” ujarnya. 
“Aku juga,” Us menambahkan. Ia bercerita petualangannya dari seorang guru, menjadi wartawan, hingga menjadi dosen. Sebuah perjalanan yang panjang di usianya yang belia. 

Mobil Uzul melaju lebih pelan. Jalanan semakin padat. Kami melihat kiri kanan kawasan Babarsari dengan cermat. Berbagai kampus, kantor, cafĂ©, rumah makan, bahkan mall ada disini. Kawasan ini akan menjadi bagian dari kehidupan kami sampai kami pensiun kelak. Mobil berhenti di depan gedung kampus Atma Jaya. Ia terlihat megah. Perasaan saya diliputi melankoli. Teringat tahun 2016, saya menangis sejadi-jadinya ketika tidak diterima menjadi dosen disana. Teringat bahwa saya melepaskan dua kampus lainnya untuk bisa menjadi bagian dari rasa aman dan nyaman dimana komunitas se-iman-ku banyak disana. Waktu itu rasanya begitu pas. Seperti jodoh. Tetapi, ternyata bukan dia yang Tuhan kasih. Berkali-kali saya melamar ke sana, berkali-kali pula saya ditolak. 

Persis di sebelahnya, kampus II kampus kami terlihat. Ia tampak agung dari depan. Kami menelusuri area kampus dan berhenti tepat di parkiran yang mengarahkan kami pada bagian belakang gedung tersebut. Ada rasa gembira yang membuncah di dalam dada. Namun, ada juga rasa perih. Seperti hati-Nya, yang merasakan bara cinta tetapi juga merasakan duri. Saya, Uzul, Vir, Yu, dan Us memandang bagian kampus tersebut dengan takjub dan sedih. Kampus itu tampak tua dan lelah. Ia seperti pejuang perang yang kesepian. Ia merindukan kekasih. Ia membutuhkan perubahan dan pembaharuan. Sayup-sayup terdengar suara Pak Wakil Rektor yang menyambut kami dengan pidatonya, "Kampus ini memiliki semboyan menuntut ilmu dengan hati tulus dan suci. Belajarlah mencintai kampus ini. Karena Anda sudah ditakdirkan berada disini," begitu katanya. Saya merinding. Tak satupun dari kami yang pernah bermimpi akan mengajar di kampus ini. 

Kami berlima kemudian pulang dengan membawa harapan. Semoga kelak kami bisa menjadi pemikir dan pendidik yang berhati tulus dan suci dalam memberikan ilmu bagi generasi bangsa ini. Akan ada banyak kisah dan kenangan yang dilalui. Akan ada banyak pelajaran yang mengubahkan diri. Akan ada banyak prestasi yang terukir. Dan dalam perjalanan ini sebaiknya kita tidak sendiri. 

Cintailah dia.

Aku dan Tuhan

Tuhan Lama vs Tuhan Baru

Kamis, Juni 20, 2019

Tetot : Kenapa ya kita tersingkir?
Memoy: Karena kita melawan Patriarki
Tetot: Iya, kita melawan Tuhan.
Memoy: Kenapa ya orang-orang setia pada Tuhan yang Lama?
Tetot: Tuhan yang mengizinkan pertumpahan darah demi kekuasaan. Tuhan yang melarang perempuan masuk ke tempat ibadah saat menstruasi. Tuhan yang mendukung poligami. Tuhan yang berpihak pada yang kuat daripada yang lemah. Tuhan yang meminta mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Memoy: Padahal ada Tuhan yang baru. Ia penuh kasih. Tuhan ini mengangkat penderitaan perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Tuhan yang mau menyentuh dan mengasihi orang-orang lepra. Tuhan yang mau bergaul dengan pendosa. Tuhan yang mau mengenal dan mendengarkan kisah dari seorang perempuan yang sudah memiliki 7 suami. Tuhan yang mengajarkan orang-orang setia pada pasangannya. Tuhan yang menyuruh kita memberikan pipi kanan ketika pipi kiri ditampar orang. 
Tetot: Iya ya? Mengapa kita setia pada kekerasan daripada pada cinta? 

Mantra Kalimat

Aslan and Lucy

Selasa, Juni 18, 2019



“Please - Aslan,” said Lucy, “Can anything be done to save Edmund?” 
“All shall be done,” said Aslan. “But it may be harder than you think.” 

And then he was silent again for some time. Up to that moment Lucy had been thinking how royal and strong and peaceful his face looked; now it suddenly came into her head that he looked sad as well. But next minute that expression was quite gone. The Lion shook his mane and clapped his paws together.

(The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe). 

Mantra Kalimat

The Shape of You

Kamis, Juni 13, 2019

"Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love. It humbles my heart, for you are everywhere." 

Nukilan puisinya Hakim Sanai dalam Walled Garden of Truth yang muncul di film The Shape of Water (2018). 

Life Story

Kita Tidak Sendiri Lagi, Juni

Rabu, Juni 12, 2019

Cinta adalah pertemuan dan percakapan dua liyan. Dia dapat mengatakan apa yang tidak bisa kamu ucapkan dan kamu dapat mengatakan apa yang tidak bisa dia ucapkan. Dia dapat merasakan apa yang hilang dari dirimu dan kamu dapat merasakan apa yang hilang dari dirinya. Dia memahamimu dan kamu pun memahami dia meski tanpa penjelasan. Kalian akan selalu saling mencari dan pada akhirnya saling menemukan satu sama lain. Entah itu dalam jarak, kisah, lagu, tarian, buku, pesan singkat, angin malam, hujan, dan kering daun pepohonan. Dia tidak akan meninggalkanmu dan kamu tak akan meninggalkan dia sekalipun dia dan kamu punya 1001 alasan untuk saling meninggalkan. Kamu tidak akan segan-segan marah pada dia. Dia tidak akan sungkan untuk mendiamkanmu. Mungkin kamu tak setuju dengan apa yang dia kemukakan dan dia memiliki pandangan berbeda denganmu. Tetapi, kamu dan dia akan belajar menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan. Segala persamaan akan disyukuri tanpa dibandingkan. Di hadapan dia, kamu menjadi dirimu sendiri. Bagimu, dia selalu indah ketika menjadi dirinya sendiri. 

Cinta ini melampaui hasrat-hasrat badaniah. Cinta yang selalu utuh dan tak pernah habis. Cinta ini tidak membutuhkan api karena ia adalah terang itu sendiri. Cinta yang tak kenal warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, pilihan hidup, hingga luka masa lalu. Jika kamu berbahagia, dia akan ikut bahagia dan kamu pun akan ikut bahagia manakala dia berbahagia. Jika dia iri padamu, dia akan belajar menerima kelebihanmu dan menerima kekurangannya, begitupun sebaliknya kamu akan mengakui kelebihannya dan belajar menerima kekuranganmu. Kamu tidak akan terburu-buru menghakimi dia dan dia tidak akan mudah percaya sebelum menanyaimu. Jika yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalian akan menjadi jangkar bagi satu sama lain. Jika kamu terluka, dia akan menangis. Yang tertusuk padanya akan berdarah padamu, begitu kata penyair Sutardji Calzoum Bachri. 

Namanya Junita. Tanpa nama akhir. Satu kata saja seperti Musa. Orang-orang memanggilnya Shaloom, artinya damai sejahtera. Dalam hati dia menyimpan rahasia. Dia percaya dia dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi orang lain seperti Yohanes Pembaptis. Maka, dia menyerahkan hidupnya untuk bukan lagi menjadi miliknya. Juni adalah cinta dalam wujud persahabatan. Dia hadir menemani saya, seorang Mei, dalam perjalanan hidup yang berliku dan penuh drama. Pertemuan kami bukanlah cinta pada pandangan pertama. Dia tidak menonjol dan tidak senang menonjolkan diri. Saya cukup menonjol dan senang diperhatikan. Dia duduk di belakang, di sudut ruangan, dan diam mengamati. Saya duduk paling depan, baris utama, dan sibuk berbicara. Saya memiliki suatu kebijaksanaan yang belum terasah sementara dia tidak mengharapkan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya. 

Namun, pada suatu ketika, terjadilah pertemuan dan percakapan itu. Suasana asrama UKDW sudah sepi. Angin sepoi-sepoi berhembus mengajak untuk terlelap. Orang-orang sudah pulang dari kegiatan Sekolah Lintas Iman yang kami ikuti bersama. Saya sedang menunggu ojek langganan yang akan menjemput. Juni menghampiri dan duduk di samping saya. Kami bercakap-cakap. Ia menanyakan cita-cita dan mimpi-mimpi saya. Saya menanyakan bagaimana ia sampai di Jogja dan apa rencananya ke depan. Pada saat itulah, jiwa kami berhadapan seperti bercermin. Persahabatan tidak jatuh dari langit. Relasi ini merupakan interaksi dua subyek yang setara. Dalam proses itu, ternyata kami mengenali dan mencintai Pribadi yang sama. Kami memiliki tujuan yang sama meskipun mengambil peran yang berbeda-beda. Rasanya luar biasa berbahagia bertemu sahabat seperjalanan. Kami juga bertemu (kalau bukan dipertemukan) dengan sahabat-sahabat seperjalanan kami yang lain. Sebuah jaringan yang begitu indah berwarna-warni dengan tawa sedih dan airmata bahagia. Kami bersyukur telah merasakan cinta meskipun kami menanggung beban dan kuk dengan hati yang penuh parutan luka. Sungguh berbahagia mengetahui kita tidak sendiri lagi. 

Selamat ulang tahun, Juni.
Jangan takut, Jangan gelisah, Jangan gentar, dan Jangan patah hati. 

Aku dan Tuhan

Antua

Sabtu, Juni 08, 2019

“Anyway, I’m not good at prayer, but before you think I was a little rough on God, there’s another thing you need to know about my people. Our relationship with God was different from other people and their Gods. Sure there was fear and sacrifice and all, but essentially, we didn’t go to Him, He came to us. He told us we were the chosen. He told us He would help us to multiply to the ends of the earth. He told us He would give us a land of milk and honey. We didn’t go to Him. We didn’t ask. And since He came to us, we figure we can hold Him responsible for what He does and what happens to us. For it is written that “he who can walk away, controls the deal.” And if there’s anything you learn from reading the Bible, it’s that my people walked away a lot. 

You couldn’t turn around that we weren’t off in Babylon worshiping false gods, building false altars, or sleeping with unsuitable women (although the latter may be more of a guy thing than a Jewish thing.) And God pretty much didn’t mind throwing us into slavery or simply massacring us when we did that. We have that kind of relationship with God. We’re family.

Excerpt From: Christopher Moore. “Lamb, the Gospel According to Biff, Christ's Childhood Pal.” 

Note: "Antua" berarti beliau dalam bahasa Melayu Ambon.

Life Story

28

Kamis, Mei 30, 2019

Saya percaya bahwa setiap orang diberikan suatu “duri dalam daging” yang membuatnya menanggung kepedihan dan penderitaan. “Duri dalam daging” itu akan membuatnya mengajukan berbagai pertanyaan, keluhan, bahkan gugatan atas pegangan yang diyakininya. Tak mudah menanggung rasa sakit itu. Ada trauma. Sebuah luka yang belum kering. Rasa itu menjadi horor, sebuah kutukan yang tercipta dari pola berulang yang sama. Sesuatu yang awalnya saya pikir adalah bencana. Saya merasakan ketidakadilan. Saya merasa menjadi pecundang. Orang yang kalah. 

Tahun ini saya genap berusia 28 tahun. Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setiap tanggal 9 Mei, tepat pada pergantian jam 12, Mami akan membangunkan saya dan menyanyikan lagu “Happy Birthday”. Kadang dengan kue ultah yang lilinnya menyala, kadang juga tidak. Ketika saya merantau ke Jogja untuk sekolah, maka ia akan segera menelpon. Satu yang selalu ada, doa. Ia akan selalu mendoakan saya. Tahun ini adalah perayaan ulang tahun pertama tanpa Mami. Tak ada telpon. Tak ada nyanyian “Happy Birthday”. Tak ada doa, ciuman, dan pelukan secara langsung. Malam itu, beliau seperti ada dan tiada. Sebaris pesan dari Daddy masuk. Ia mengucapkan selamat ulang tahun dan berpesan untuk berdoa pada Tuhan dan Bunda Maria. Daddy bukan family man. Ia tidak terbiasa dengan keintiman. Tapi, saya tahu ia mencintaiku lebih dari apapun. 

Malam itu saya berdoa. Dengan berlinang air mata. Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang “duri dalam daging”. Saya meminta jawaban. Dan Dia menjawabku. Saya pikir ulang tahunku kali ini akan berlalu dengan biasa saja. Saya ingin merayakannya seorang diri. Makan mie dan membeli kue ulang tahun sendiri. Namun, hidup selalu memberi kejutan. Para sahabatku datang dan mengejutkanku. Ada rasa hangat di dalam dada. Kebahagiaan yang tak terucapkan ketika saya mengetahui betapa saya dicintai oleh mereka. Saya juga mendapat teman baru dan kesempatan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa yang akan saya ajar. Di momen itulah, saya menyadari mengapa kampus itulah yang dipilihkan untuk saya. Dan saya diberikan tanggung jawab dan peran disana. Semua adalah mujizat yang hanya bisa dimaknai dalam hening. 

Saya pun menyadari bahwa “duri dalam daging” ini ternyata sebuah tegangan. Sesuatu yang dipakai untuk membuat saya tetap eling. Keadaan ini membantuku untuk waspada dari semua rasa, nafsu, dan syahwat yang positif dan negatif. Rasa-rasa yang ada dalam diri manusia. Tegangan ini memurnikan tabiat anak tunggal yang merasa seluruh alam semesta berputar mengelilinginya. Sebuah kemelekatan. Sebuah obsesi. Saya kini mengetahui bahwa semua rasa itu harus diterima dan dijaga keseimbangannya. Belajar mengenali potensi diri. Belajar untuk menerima apa yang menjadi keberuntunagn dan ketidakberuntungan saya. Belajar sportif. Belajar untuk waspada atas potensi-potensi baik dan jahat dalam diri. Yang melampaui batas harus dinetralkan melalui sikap refleksi dan pemurnian. Dan pada akhirnya, belajar untuk pasrah. Dengan kesadaran dan kekuatan ini, saya dapat bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri saya. Sebuah metanoia.

Terima kasih Tuhan untuk kasih karunia-Mu.


Kamis, 30 Mei 2019, pada hari Kenaikan Yesus Kristus 
yang juga jatuh pada Kamis, 9 Mei 1991
hari dimana saya memilih lahir ke dunia

Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (2)

Rabu, Mei 29, 2019

[sambungan dari Al dan Bintang di Langit (1)]



Pada mulanya, ia adalah daya. Sebuah getaran yang lahir dari kekaguman akan Rahim yang menghadirkannya ke dunia. Rahim itu telah menjadi ibu bagi para perempuan yang berjalan dalam kesunyian hendak mencari kebenaran. Ia adalah darah dagingnya. Ketika Al melihatnya pertama kali, Al mengingat dengan hormat Rahim itu. Pada waktu itu, tak ada yang istimewa. Ia masih suatu rasa yang polos. 

Kali berikutnya, Al bertemu dengannya lagi. Ia menjelma sebuah keindahan. Al terpana. Menemukan 1 liter bensin yang telah membakar api dalam dirinya. Ia membangkitkan memori tentang kakak kelas yang dulu hanya bisa dipandanginya dari jauh. Ia melihatnya bagaikan bintang di langit. Betapa menggiurkannya bisa memiliki bintang di langit. Suatu kebanggaan bila ia bisa memetiknya. Menjadi unggul dari yang lain. Rasa yang tak berdosa itu berubah menjadi nafsu. 

Disinilah Al pada malam ini. Duduk di sebelah sang Bintang di Langit. Tubuh Al seperti terpaku pada kursi kayu yang didudukinya. Al tidak menjadi dirinya sendiri. Ia menjelma seseorang yang tak dikenali para sahabatnya. Dengan nafsu untuk menaklukkan, Al ingin membuktikan diri. Ia lupa sang Bintang tak mengenalnya. Sang Bintang adalah orang asing dan kehadirannya merupakan suatu misteri. Al bertingkah mencari perhatian. Nafsu yang serampangan menjadi rantai bagi diri Al. Rasa yang polos, yang tadinya memancar indah, menjadi redup dan gelap. Menelan Al bulat-bulat. Pada titik ini, nafsu menjadi syahwat. 

Al kini dikuasai syahwat. Energi negatif memancar dari dalam dirinya. Ia telah menyakiti dirinya dan juga sahabatnya. Sang Bintang semakin jauh dari jangkauan Al. Namun, Al dikenal dan disayangi oleh Bapanya. Sang Bapa memperhatikan Al dan ingin menyelamatkan Al dari dirinya sendiri. Al dan sang Bintang kembali bertemu. Pada perjumpaan itu, Sang Bintang memandang Al sebelah mata. Ia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Al. Al kaget. Ia tersadar. Syahwat ini harus diuji. Ia harus dimurnikan sehingga ia menjelma kembali sebagai rasa yang polos. 

Malam itu Al membalikkan keadaan. Sang Bintang mulai memperhitungkan Al. Malam itu posisi Al menjadi setara. Ia tidak lagi menjadi hamba dari fantasinya. Betapa mengerikannya hubungan yang sejak semula tidak setara. Kita merasa mendapatkan anugerah karena sang Bintang memilih kita. Dalam hubungan itu, selamanya kita akan berada di bawah kendali sang Bintang. Terciptalah relasi tuan dan hamba. Sang Hamba akan menyerahkan apapun untuk memiliki dan menyenangkan sang Tuan. Sang Tuan akan bertindak sesuka hatinya kepada si Hamba dan tak ingin melepaskan karena nikmat kuasa sangat menggetarkan. Hubungan kekerasan yang hanya bisa diputus oleh si Hamba sendiri ketika ia sadar bahwa ia adalah korban kekerasan dan telah diperbudak. Al tidak ingin seorang Bintang di langit. Ia tak mau sebuah relasi tuan-hamba. Ia ingin lawan intelektual yang setara. Seorang teman seperjalanan. 

Semakin Al berinteraksi dengan sang Bintang, semakin tampak kemanusiaannya. Yang indah tak selalu benar dan yang benar tak selalu indah. Al mendapatkan kesadarannya kembali. Dialah sesungguhnya sang Bintang di langit. Jika ia jatuh cinta, maka ia harus mencintai dengan percaya diri. 

Sang Bapa tersenyum. Ia adalah sang Cinta. Ia adalah pertanyaan yang menemukan jawaban. Sebuah sinyal yang bersahabat dalam kegelapan. Sebuah rasa untuk setia dan bertahan. Ia menerangi Al ketika Al hangus terbakar asmara. Cinta seharusnya memang menerangi, sebuah energi untuk membebaskan.

Sekarang Al tahu dengan pasti, Sang Cinta ternyata sudah bersama-sama dengan dia sejak semula. Ia tak perlu mencari lagi. 

Love Story

Maureen's Love

Selasa, Mei 28, 2019

Maureen adalah keponakan saya. Umurnya baru 10 tahun. Dia sekarang duduk di kelas 4 sekolah dasar bermutu internasional. Suatu hari, sepulang dari sekolah,  dia bercerita bahwa dia sedang jatuh cinta. 

Maureen: Aunty, I think I'm falling in love deh.
Me: Oya? With whom?
Maureen: His name is Carlo
Me: Wow... Do you think he is also falling for you?
Maureen: Yes, he said he loved me a week ago. I just didn't know how to respond him, so I shrugged. 
Me: Why don't you said "thank you"? Just be polite to him.
Maureen: Hmmm. *berpikir*. Well, Aunty, I think I'm going to say I love him back deh.
Me: Eh. Why?
Maureen: Because he is nice to me. Sometimes other boys are mean to me. When I approach them, they don't treat me well. But, Carlo always stays beside me. We love to draw together and he always shares his lunch with me. He is nice. I think I wanna be his girlfriend. Maybe, I will marry him. 
Me: *terhenyak*. Ok, but first, you must finish your school ya. Someday, you can ask Carlo to play at home. I wanna meet him. 
Maureen: Okay. Bye Aunty. 

Kata-kata Maureen, nancep di hati saya. Sebuah kalimat sederhana dari anak perempuan, " I love him because he is nice to me."

Aku dan Tuhan

Percaya

Selasa, Mei 28, 2019

Apa itu percaya? Bagaimana sikap orang yang percaya?

Dua pertanyaan ini menganggu saya akhir-akhir ini. Sebagai orang yang perfeksionis, saya berdiri di atas keyakinan pada diri saya sendiri untuk mencapai tujuan hidup yang saya tetapkan. Saya terlatih dengan sadar untuk menyusun rencana dan langkah-langkah untuk masa depan saya. Saya tahu apa yang saya inginkan. Saya tahu kapasitas dan batas-batas yang saya terapkan dalam diri saya. Orang-orang bilang saya terlalu keras, tetapi bagi saya itu adalah prinsip. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari ini selain nilai-nilai dan prinsip-prinsip itu?

Namun, bagaimana jika dalam perjalanan menggapai tujuan tersebut, saya mengalami putaran haluan yang mengacaukan rencana dan cita-cita saya. Bagaimana bisa? seseorang yang tahu pasti dan sedang berjalan menuju jalur yang sudah seharusnya justru mendapatkan hasil yang 180 derajat berkebalikan dengan yang diharapkan. Untuk pertama kalinya, saya merasa tak berdaya. Saya sangat marah. Saya berusaha bangkit dan mencoba. Tetapi, saya jatuh dan gagal. Untuk pertama kalinya saya mempertanyakan keputusan Tuhan. Ada keengganan untuk percaya lagi.  

Hal ini menciptakan sejenis keraguan pada Tuhan. Saya diam-diam menyimpan rasa sangsi apakah misalnya jodoh yang Tuhan kasih (kalau Dia mau kasih) akan cocok dengan saya. Apakah saya akan menyukai pilihan-pilihan Tuhan dalam hidup saya? atau Seseorang yang Tuhan pilihkan untuk saya? Lalu, sampai sejauh mana saya bisa mengendalikan hidup saya? Kapan saya bisa membedakan tuntunan Tuhan dan ego saya? Ketika saya masuk gereja minggu ini, saya mendapat jawaban. Sebuah tamparan telak atau mungkin pengingat: "Damai sejahtera Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang dunia ini berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu!"

Saya menangis. 
Mengapa harus saya? Mengapa saya harus hidup untuk tidak sama dengan dunia ini? Mengapa tempat yang Kau pilihkan terlalu penuh dengan kesedihan dan kebencian? Mengapa harus aku yang menggarami air yang tawar?

Tuhan, ajarilah aku untuk percaya. Percaya pada apa yang kau berikan.


Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (1)

Rabu, April 24, 2019

“Aku suka dia,” Al menunjuk laki-laki yang berdiri hanya beberapa meter dari kami duduk. Kulitnya putih bersih, agak kurus, dan tingginya proporsional untuk ukuran orang Indonesia. Hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, tapi matanya akan menyipit jika ia tersenyum. Wajah yang ramah sekaligus sendu. Dia sering terlihat salah tingkah dan canggung. Ia tampan tapi kadang terkesan biasa saja. Ia seperti air, mengalir dan mengikuti bentuk. 
 “Serius? Itu kan….,”aku melotot
“Iya…,” Al memotong cepat. 
“Dan sebentar lagi dia akan menjadi…,”aku menyambung dan segera dipotong Al. 
“Iya,” ia menjawab namun matanya tak lepas dari lelaki itu. 

Setahun kemudian kami berjumpa lagi dengan lelaki pujaan Al. Iya jauh lebih percaya diri.  Ia banyak tersenyum sehingga wajahnya bercahaya. Suaranya merdu. Ya, Pesonanya semakin menguar. Ia telah menjelma manusia baru. Dengan kemampuan yang ia miliki, dengan modal sosial yang diberikan padanya sejak lahir, dengan latar belakang yang ia punya, dan nama besar rumah yang ia tempati, lelaki itu segera menjadi bintang baru. Ia tak hanya punya Al sebagai pengagum dari jauh, tetapi juga para fans perempuan maupun laki-laki yang mengidolakannya. 

“Al, fans-nya banyak sekali. Pulang yuk.” 
“Jangan dulu, Pilar. Tunggu sebentar lagi,” Al membujukku. 
“Tapi kepalaku sudah pusing ini. Betis sudah pegal,” aku menggerutu. 

Hari itu Al mengajakku mengikuti seminar dimana lelaki pujaannya menjadi pembicara utama. Ya, dia bintangnya malam itu. Dia berbeda sekali dengan setahun lalu ketika kami melihatnya. Tubuhnya sekarang lebih berisi. Ia mengenakan kemeja blue-navy berpotongan slim fit dengan denim yang melekat di badannya yang padat. Jika Al bersandar di dada atau punggungnya, yakinlah anak itu tidak akan rela untuk berpisah. 

“Pilar, kenapa sih aku selalu jatuh cinta pada bintang di langit?,” Al bertanya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. 
“Mungkin karena orang-orang seperti dia hanya akan lebih indah dipandang dari jauh. Kalau dia beneran jadi pacarmu, mungkin banyak yang musuhin kamu. Kamu juga harus kuat hati dengan rasa cemburu. Ah, terlalu banyak rintangannya. Tapi, kamu akan memiliki semacam kebanggaan karena berhasil memilikinya,” aku menjawab polos.
 
Al terdiam. Lelaki itu seperti bintang di langit dan Al seperti pungguk yang merindukannya. 

“Kenapa sih kamu menyebut dia bintang di langit?,”aku bertanya. 
“Karena dia hanya bisa dilihat dari jauh. Ia tidak bisa digapai. Bahkan jika kami berdekatan pun,” jawab Al.



(bersambung)




Aku dan Tuhan

Kapel

Rabu, April 03, 2019

Akhir-akhir ini saya suka bergereja di kapel RS Panti Rapih. Thanks to Lioni yang memperkenalkan saya dengan tempat itu. Misa dilaksanakan dengan tata cara Katolik dan berbahasa Inggris. Jadi, bisa lah sedikit-sedikit latihan merasakan misa kalau suatu saat melanjutkan sekolah ke negeri seberang. Tapi yang lebih istimewa lagi karena misa-nya diadakan di rumah sakit. Tempat itu selalu menakutkan bagi saya. Disitulah kehidupan dan kematian bertemu. Setiap jam ada saja yang pergi mendahului kita. Setiap jam ada juga yang terlahir ke dunia. Di tengah-tengah paradoks itu ada doa yang dipanjatkan sebagai jembatan antara yang hidup dan yang mati.

Biasanya saya datang misa yang dihelat pada sore hari. Di setiap misa itupula selalu bertepatan dengan hujan. Suasana rumah sakit yang sendu dan langit mendung yang gelap merupakan kombinasi munculnya rasa sesak yang ganjil. Kau tahu ketika kau menangis tapi tidak bisa, kau ingin marah tapi tidak bisa melampiaskan. Kau hanya bisa diam dan merenung. Kadang-kadang berkeluh kesah. Tapi lebih sering kau ingin teriak. Meskipun lagi-lagi tidak bisa. 

Kau tidak bisa marah pada persona yang kau cintai. Kau gemas. Tapi juga rindu pada-Nya. 




Peringatan 9 Bulan Mami Pergi
14 hari menjelang Pemilu
18 hari menjelang Paskah