Review Film

Reply 1988

Sabtu, Juni 20, 2020



Bagi yang ingin bernostalgia kembali di tahun 1980-an, yang menyukai percakapan mendalam tentang keluarga, persahabatan, dan cinta, yang suka musik-musik tahun 80-an, yang suka fashion tahun 80-an, yang ingin nonton drakor yang "beda" gak kayak modelan telenovela seperti biasanya, dan yang ingin dapat insight dengan quote-quote yang gak cheesy dan menggurui, maka serial Reply 1988 sangat direkomendasikan. 

Peringatan: beberapa cerita sangat riil dengan kehidupan nyata, mengembalikan memori di zaman kita masih kecil, memicu jatuhnya airmata dan memancing tawa, serta memberi candu untuk nonton terus meskipun ada 20 episode dan masing-masing episode berdurasi 1 jam-an. 

Love Story

Queer Romance

Jumat, Juni 19, 2020

Halo sahabat,

Enam bulan terakhir ini saya belajar menghadapi ketidakjelasan, ketidakstabilan, ketidakterbatasan, ketidakmungkinan, ketidaknyamanan, dan ketidaktahuan yang sungguh melelahkan. Saya seperti berhadapan dengan udara dan air bersamaan. Air mengikuti bentuk, tetapi tidak bisa digenggam. Udara menempati ruang, tetapi tidak bentuk ruang. Bayangin dong, saya yang lahir dibawah naungan elemen tanah yang stabil, solid, teguh, dan jelas ini harus menghadapi sesuatu yang berkebalikannya. 

Tapi saya selalu punya pilihan. Ketimbang lari dari kenyataan, saya memilih belajar dan berdamai dengan sisi-sisi kehidupan yang membuat kita tidak nyaman. Saya belajar berdamai dengan keadaan yang ngambang kayak tai di kali. Saya belajar hidup di dalam keadaan "antara". Tidak ada hitam putih, ya dan tidak. Saya sedang berada dalam situasi yang queer, situasi yang sedang berproses untuk "menjadi". Sesuatu yang cair dan tak sederhana. Saya tidak bisa langsung memilih menjadi optimis atau pesimis. Saya kini berada di antara keduanya. Nggak enak banget kan perasaannya? hehee. Selamat datang di dunia baru saya. Dunia yang saya sebut queer romance dalam ruang heteronormatif. Queer romance adalah hubungan romantis dengan partner anda dalam situasi yang tidak fixed, tidak stabil, cair, dan ke-ngambang-an. Tenang, relasi ini juga berlaku di hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan keluarga. 

Orang awam akan melihat ini sebagai usaha yang sia-sia dan tidak pasti. Buang-buang waktu saja, mending cari yang pasti-pasti. Namun, sebagai seorang ilmuwan sosial dan passionate lover, bagi saya ini seperti sebuah dunia yang baru. Seperti Alice yang memasuki dunia ajaib penuh hal-hal gaib yang mencengangkan. Perspektif saya jadi diperluas untuk mengeksplorasi hidup yang penuh warna-warni. Saya bersyukur bahwa saya diperkenankan menghadapi hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Manusia itu memang unik, maka cara berkomunikasi dan bertindaknya bisa beda-beda. Ya, tentu ada yang termasuk reaksi "umum", "normal", "kebanyakan", atau "biasanya". Tetapi, kita tidak bisa menafikan bahwa ada hal-hal primer yang khas yang tidak bisa digeneralkan. Dengan mempertimbangkan betapa unik dan kompleksnya manusia, maka tentu ada banyak model dan bentuk jenis-jenis relasi antar manusia.

Berikut, ada dua lagu dari Sheila Majid yang diiringi permainan akustik Tohpati. Kedua lagu ini ceritanya kurang lebih sama yaitu tentang menunggu kembalinya sang kekasih yang tiba-tiba menghilang. 

Lagu yang pertama berjudul "Haruskah Ku Pergi" ini musiknya lebih sendu dan terkesan pesimis. 


...
katakan padaku
apakah salahku?
kau terdiam tak berkata
menjauh dan menghilang

haruskah ku pergi
sendiri menyepi
meninggalkan cinta kita untuk selamanya
mengapa terjadi?
kau pergi dariku
Tuhan, tolong bimbing aku
akankah dia bisa kembali?


Lagu yang kedua berjudul "Kunanti" musik dan liriknya lebih optimis. Seperti ada harapan untuk bertemu kembali.


...
walau kau tak disini
tak lelah ku menunggu senyummu
membelaiku, memelukku
rajut kisah kasih kita berdua 
indah selamanya

dengar hai kasih
aku menunggumu
apakah jua terasa getaran itu
walau kau pergi tinggalkan diriku
Oh Tuhan, kumohon bawa dia kepadaku
disini kehadiranmu kunanti



Saya suka mendengarkan kedua lagu ini bergantian. Tapi, kalau kamu tanya perasaan saya condong kemana? Hmmm... hehehe...

Life Story

Kita Memiliki Kekuatan, Juni

Jumat, Juni 12, 2020

Meine Liebe Juni, 

Kata-kata memiliki energi. Kata-kata memiliki nyawa. Setiap kata yang kita ucapkan bisa menghidupkan, namun juga bisa mematikan. Kata-kata itu adalah senjata, seperti pedang yang tajam. Pedang itu bersama kita, si “anak panah yang runcing” yang disembunyikan Tuhan di dalam tabungNya. 

Aku takjub melihat bagaimana kata-kata bekerja. Ada percobaan ilmiah yang dilakukan ilmuwan Jepang bernama Masaru Emoto. Ia menguji apakah air dapat bereaksi dengan pikiran-pikiran yang positif dan negatif. Emoto menyiapkan dua gelas air. Setiap hari, air di Gelas A dicurahkan dengan kata-kata positif seperti: cinta, kebahagiaan, harapan, dll. Air di Gelas B setiap hari diberikan dengan kata-kata negatif: seperti benci, buruk, jahat, dll. Hasilnya, ketika dipotret, molekul-molekul air di Gelas A membentuk struktur yang sangat indah sedangkan molekul-molekul air di Gelas B membentuk struktur yang sangat buruk. Kita mungkin bisa meragukan reliabilitas percobaan tersebut, tapi kita juga bisa memikirkannya lebih jauh. Faktanya, 60 % tubuh manusia dewasa berisi air. Setiap kata yang kita ucapkan ternyata memberi efek bagi emosi dan perasaan kita. Jika kita mengawali hari kita dengan kata-kata penuh cinta dan positif, yakinlah kita akan lebih semangat menjalani hari itu meskipun banyak tantangan. Namun, kalau hari kita diawali dengan marah-marah, cibiran, atau hinaan, kerjaan apapun yang kita kerjakan, meskipun tidak ada tantangan, tetap terasa sangat berat. 

Liebe Juni, kamu adalah orang yang memiliki pedang itu. Kamu adalah salah satu anak panah yang disimpan dalam tabungNya. Satu kata dari bibirmu akan sangat berpengaruh dalam menuntun dan menerangi jalan orang-orang yang kamu temui. Pendapatmu akan sangat penting bagi mereka yang mencintaimu. Mereka yang awalnya tidak sanggup lagi berjalan, dapat berlari setelah mendengar kata-katamu. Bagi yang tidak menyukaimu, kata-katamu akan terasa seperti pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka. Mereka akan merasa terkoyak-koyak dengan sayatan kata-katamu. Kamu telah menelanjangi mereka dengan kata-kata. 

“Bangkitlah”, “Bangunlah”, “Majulah”, “Jalanlah,” “Pergilah”, “Marilah”, adalah beberapa kata yang sering aku baca di kitab suci. Kata-kata yang mendorong orang-orang bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu itu kadang tidak bisa diterima akal sehat dan bertentangan dengan realitas. Ingat kan, bagaimana Tuhan menyuruh Nuh membuat perahu dan dia ditertawakan orang-orang. Tetapi, Nuh tetap meneruskan pekerjaannya sampai selesai. Ya, sesuatu itu kadang membuat kita kesepian. Sesuatu itu kadang membuat kita dibenci dan dijauhi. Hal yang membuat hati sedih adalah kadang-kadang orang-orang yang tidak menerima kita adalah orang-orang yang justru paling kita harapkan menerima kita. Orang-orang yang melarang atau memarahi kita itu justru adalah orang-orang yang paling kita butuhkan pengertian dan dukungannya. 

Setelah Mami pergi dan banyak peristiwa-peristiwa di luar nalar yang terjadi, aku mulai mengasah kemampuan-kemampuan yang celestial, Juni. Aku percaya bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan, sebaliknya mereka saling beriringan. Aku menyiapkan waktu khusus memandangi benda-benda langit. Aku tahu kamu juga melakukan itu, kan. Tahukah kamu? saat bulan purnama tiba, air di permukaan laut naik. Begitu juga dengan air di dalam  tubuh kita. Oleh sebab itu, kata temanku yang belajar yoga, mereka tidak boleh melakukan yoga saat bulan purnama. Efeknya nanti bisa buruk pada kesehatan. Yoga dipraktekkan bukan untuk membuat badan langsing. Yoga dipraktekkan untuk membangkitkan energi yang tertidur. Siklus haid kita beriringan dengan siklus bulan purnama, 14 hari kurang lebih. Konon, para perempuan bijak dari abad lampau melakukan pemujaan pada Tuhan dengan cara mensikronkan tubuh mereka dengan alam. Dengan demikian, mereka bisa berdialog dengan alam semesta. Pengetahuan itu didapatkan melalui melihat dengan mata batin, memahami apa yang didengarkan, mendengar apa yang dibaca, dan membaca apa yang tidak terlihat. Hampir semuanya bersandar pada intuisi, atau kalau kata Mami: feeling. Ilmu pengetahuan modern dengan metodologinya kugunakan untuk berani menyangsikan “sesuatu” yang kutemukan itu. Seperti semacam safety belt supaya aku tidak jatuh pada kepercayaan buta. 

Sekalipun beriringan, iman dan ilmu pengetahuan berada dalam ranah yang berbeda. Ilmu pengetahuan berada di ranah akal atau rasio. Semuanya bisa diukur dan dibuktikan secara indrawi. Tetapi, iman berada dalam ranah rasa. Sesuatu yang sulit dibuktikan secara indrawi. Ilmu pengetahuan punya batasan. Iman tidak terbatas. Allah tidak bisa dijangkau dengan ilmu pengetahuan, akal kita tidak sampai. Namun, ilmu pengetahuan membantu kita mengenal Allah. Allah dijangkau dengan iman. Dengan iman, kita bisa merasakan “cara kerja” Allah.

Kita diberikan tugas itu. Peran untuk membangun dan meruntuhkan, menanam dan menuai. Menguatkan yang lemah, melembutkan yang keras. Menghibur yang sedih, membalut yang luka. Kita akan melakukan itu semua dengan kekuatan yang terletak pada kata-kata. Energi yang bisa menghidupkan dan mematikan. Oya, satu hal lagi. Kadang-kadang kita juga harus fleksibel untuk sesuatu yang tidak pernah kita duga terjadi. Kita harus selalu siap siaga seperti prajurit di medan perang. Aku teringat kata-kata Lieutenant Mattias di film Frozen 2, “ Be prepared. Just when you think you found your way, life will throw you onto a new path….”. 

Selamat ulang tahun, Juni. Selamat merayakan hari kelahiranmu. Aku bersyukur pada Allah karena menjadikanmu teman seperjalananku. Selamat menantikan kejutan dari si dia (atau sudahkah? Hehehe. Nanti cerita ya). Selamat melayani domba-dombamu. Selamat menjalani masa-masa sebelum pengurapanmu. Selamat menantikannya dengan tekun. 

Aku mencintaimu. 

deine, 
Meike