Love Story

Nirvana Man

Sabtu, September 29, 2012


lukisan Psyche yang menyinari Eros dengan pelita. Awal dari patah hati Pysche yang berkepanjangan




Ketika saya masuk ke bangunan itu saya tahu bahwa saya telah terpilih. Seorang Sudra yang naik kasta hidup bersama para Brahmana di Nirvana. Mereka adalah dewa-dewi yang tak tersentuh oleh kaum jelata. Semesta begitu baik mengizinkan saya hidup di Nirvana meski hanya 30 hari lamanya. Di tempat itulah saya bertemu dia.

Dia seperti layaknya dewa-dewa lainnya hidup dalam kecukupan seorang Brahmana. Ia tak perlu bekerja keras karena dari tangannya-lah ia membuat segala sesuatu. Lalu siapakah saya ini? yang karena kemurahan hati Semesta sehingga bisa menginjakkan kaki disana. Hidup bersama dewa-dewi dalam dongeng tak sampai 1001 malam seperti kisah Syahrezade.

Pertemuan pertama dengannya terjadi di ruangan megah itu. Kami duduk berseberangan. Saya bisa merasakan bagaimana dia menatap saya. Hingga pada akhirnya mata kami saling bertubrukan. Hanya 5 detik dan mengubah segalanya. Saya bahkan bisa mendengar John Lennon menyanyikan lagu Till' There Was You saat itu.

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa terasa. Setiap pagi dia datang dengan headset yang masih menggantung di telinganya. Lalu memberi sapaan selamat pagi yang rutin setiap senin sampai jumat. Ia akan memberiku senyum manis yang membuat matanya nampak bak segaris tipis.

Saya selalu menikmati percakapan dengannya walau kadang hanya sebentar. Saya suka memandang matanya yang cokelat. Rasanya ingin berenang dalam telaga cokelat itu. Bahkan saya rela tenggelam untuk hidup selamanya disana. Sehingga hanya sayalah satu-satunya yang ia lihat sepanjang hidupnya.

Namun pernahkah kalian mendengar kisah Psyche yang mencintai Eros?
bahwa sangat berbahaya jatuh hati pada para dewa. Mereka dapat membuatmu menjadi manusia paling berbahagia di dunia ini. Namun bila mereka tak menginginkanmu, maka terkutuklah engkau dengan segala perasaan yang kau derita.


Cerita Lagu

His Eye Is On The Sparrow

Rabu, September 26, 2012




Why should I feel discouraged
Why should the shadows come
Why should my heart fell lonely
And long for heaven and home

When Jesus is my portion
A constant friend is he
His eye is on the sparrow
And I know he watches over me
His eye is on the sparrow
And I know he watches me 

I sing because I'm happy
I sing because I'm free


( His Eye Is On The Sparrow - Tanya Blount & Lauryn Hill )



PS : that's the way God speak to me :)

Special Moment

Dear Alvidha...

Senin, September 24, 2012

Dear Alvidha alias Mbak Pipi...

Waktu berlalu begitu cepat dan kita sekarang sudah menapak ke jenjang yang lebih tinggi daripada sekedar mahasiswa baru. Kita hampir sarjana (amin) dan mulai sibuk untuk merancang masa depan. Jika kampus adalah pangkalan ojek, tempat sementara untuk menuju tujuan hidup kita maka bisa dikatakan kita adalah tukang ojek paling cantik di kampus. Bersama-sama mangkal menunggu penumpang untuk diantar kemana-mana. Tentu dalam hal ini penumpang-penumpang ini adalah lelaki-lelaki yang muncul di pangkalan kita. Ada yang memiliki jangka waktu pendek, dan ada yang menjadi pelanggan tetap. Kamu beruntung masih memiliki pelanggan tetap yang setia menemani hari-harimu di kampus. (analogi macam apa ini -__-)

Kamu benar bahwa kita sudah jarang lagi bercakap-cakap seperti dulu. Kita sudah jarang lagi pulang sama-sama, naik pete-pete 07, berhenti di pangkalan bentor yang akan mengantar kita ke rumah masing-masing. Saking seringnya kita pulang bersama, tukang bentor sepanjang jalan Abdesir sudah mengenal kita. Bahkan bila salah satu diantara kita tak ada mereka pasti langsung menanyakan. Kita nyambung dan nyaman satu sama lain tapi kita sungguh berbeda. Terbukti program studi yang kita pilih kemudian memisahkan kita untuk pulang bersama. Begitupun tujuan hidup kita. Namun apapun itu, kamu tetap menjadi orang yang istimewa di hatiku. Sebagai seorang sahabat dan sekaligus saudara perempuan yang tidak pernah saya miliki. Meski kadang-kadang kamu menjengkelkan juga sih heheh...:p

Akhir-akhir ini memang saya merasa kesepian. Kadang-kadang saya merasa sendiri menghadapi semuanya. You can call me stupid or something tapi saya juga tidak bisa kuat selamanya. Dan sebagai manusia biasa saya pun rentan oleh perasaan-perasaan seperti itu. Kamu pernah tulis di bbm sesuatu kepada saya yang membuat saya tercenganga dan hampir menangis. Saya yakin kamu telah dipakai oleh Tuhan untuk menegur saya, "Jangan terlalu kecewa, Tuhan itu baik..." 

Saya lupa bahwa saya ternyata tidak sendirian. Saya terlalu larut dengan perasaan-perasaan sedih yang gentayangan di hati saya. Saya lupa bahwa saya masih memiliki orang-orang yang mencintai saya, keluarga, para sahabat, teman-teman, dan kamu. Kalian adalah air segar bagi jiwa saya yang kadang lelah. Kalian memberikan energi baru dan semangat kepada saya. Kalian mengingatkan saya untuk tetap bersyukur apapun yang terjadi.

Untuk persoalan wajah, saya juga tidak tahu mengapa wajah saya bisa terlihat jutek. Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu padahal saya baik-baik saja dan tidak sedang marah. Saya tidak pernah meminta dilahirkan seperti ini. Kadang-kadang saya iri dengan wajahmu yang selalu menampakkan keceriaan dan ketulusan. Membuat siapa saja jatuh sayang padamu. Sedangkan saya? mungkin orang-orang harus mengenal saya dulu untuk menyayangi saya karena sudah takut duluan dengan ekspresi wajah saya. Padahal meski terlihat keras seperti batu karang, percayalah hati saya seperti cheescake di Dapur Cokelat kok....lembut :D

Baiklah atas permintaanmu dan para penggemar saya akan sering-sering memakai rok dan baju warna orange. Penampilan seperti itu mungkin membuat saya terlihat ramah kali ya? hahhaa...

Sekali lagi Mbak meski kita tak selalu bersama dan kalaupun bertemu situasi emosional kita sedang tidak sinkron tapi saya tetap sayang Mbak. Meski kadang-kadang harus berbagi dengan Yohanis Kiding dan Titah Taro, tapi saya tetap punya jatah istimewa di hatimu. Kapan-kapan kita sleepover lagi ya atau kita pergi liburan bareng ke luar negeri. Tenang sudah banyak tiket yang murah hehee...:)

Saya mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah mempertemukan kita. Juga kepada Freddie Mercury dan kawan-kawannya yang membuat kita nyambung saat perkenalan pertama di korps waktu masih jadi maba. Tanpa mereka kita tak akan saling mengenal seperti ini dan ditakdirkan berjalan bergandengan tangan :)


salam cinta dan rindu,



Meike yang akhir-akhir ini dipanggil Mikek sama Mbak :)


Mantra Kalimat

Pain

Senin, September 24, 2012

*via tumblr*



There is no pain, only something that transforms itself into delight and mystery


-Paulo Coelho-


PS: kelar blogwalking dari blognya Paulo Coelho dan menemukan kata-kata ini disana. Is that you, J? to tell me something that I try to struggle on it.  

Cerita Lagu

Dibalik "One of Us" -nya Joan Osborne

Kamis, September 20, 2012

Bagaimana jika Tuhan adalah salah seorang di antara kita?

Kira-kira begitulah yang ingin disampaikan oleh Joan Osborne lewat lagunya One of Us. Lagu ini cukup familiar di telinga saya dan sering diputar di radio. Namun sayangnya saya tidak pernah tahu judul lagunya sampai pada hari ini saat di kelas bahasa Inggris, Mr.Amir memutarkan lagu ini sebagai latihan listening. So thank you so much Mr.Amir for remind me about this song.

Sejenak lirik lagunya memiliki tema yang serupa seperti lagu yang ditulis Ahmad Dhani yang dinyanyikannya bersama Chrisye "Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada". Lirik-lirik di kedua lagu ini ingin menyentil kita untuk mencintai Tuhan sebenar-benarnya. Apakah kita benar-benar mencintai Tuhan sebagaimana adanya Dia? ataukah kita hanya mengejar kehidupan kekal yang dijanji-Nya nanti?


One of Us - Joan Osborne




If God had a name, what would it be? 
And would you call it to his face? 
If you were faced with Him in all His glory 
What would you ask if you had just one question? 

And yeah, yeah, God is great 
Yeah, yeah, God is good 
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah 

What if God was one of us?
Just a slob like one of us 
Just a stranger on the bus 
Tryin' to make his way home

If God had a face what would it look like?
And would you want to see if seeing meant 
That you would have to believe in things like heaven 
And in Jesus and the saints and all the prophets? 

And yeah, yeah,
God is great Yeah, yeah, 
God is good Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah

What if God was one of us? 
Just a slob like one of us 
Just a stranger on the bus 
Tryin' to make his way home
Back up to heaven all alone 
Nobody calling on the phone 
Except for the Pope maybe in Rome 

And yeah, yeah, 
God is great 
Yeah, yeah,
God is good 
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah 

What if God was one of us? 
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus 
Tryin' to make his way home
Just like a holy rollin' stone 
Back up to heaven all alone 
Just tryin' to make his way home 

Life Story

Tuhan Tak Pernah Membiarkanmu Sendiri

Rabu, September 19, 2012

Tentang Kesepian.


Tahun ini ada dua kejadian yang membuat saya merasa sangat kesepian. Yang pertama adalah malam menjelang sebelum ulang tahun saya yang ke 21. Entah mengapa tiba-tiba  saya merasa sendirian menghadapi angka 21 itu. Ingin rasanya memiliki seseorang untuk berbagi cerita sambil menunggu pergantian kalender ke hari berikutnya.

Tiba-tiba, HP saya berbunyi. Ada bbm dari salah seorang senior saya, Kak Inna. Kami banyak bercerita tentang cinta dan hidup. Hingga tak terasa saya benar-benar menghadapi hari ulang tahun saya tanpa perlu merasa sepi lagi.

Yang kedua, adalah malam ini. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu perasaan kesepian itu tiba-tiba hadir lagi. Dan malam ini adalah puncaknya. Kesesakan itu bahkan sampai membuat airmata saya mengalir tanpa diminta. Aneh. Sambil mengenang peristiwa-peristiwa yang telah lewat tiba-tiba HP saya berbunyi. Sebuah bbm masuk dari teman sekolah saya dulu. Seseorang yang pernah saya sukai sewaktu SD. Kami banyak bercerita. Tentang masa lalu dan tentang cinta.


Tuhan tak pernah membiarkanmu sendiri. Ada saja caranya untuk mengembalikan senyummu ke sedia kala. Dia kekasih yang romantis bukan?

Life Story

Solitude Tonight

Selasa, September 18, 2012

Sekuntum mawar memimpikan kumbang-kumbang siang dan malam, namun tidak pernah ada seekor kumbang pun yang hinggap padanya. Namun bunga itu tak henti bermimpi. Pada malam-malam panjang, dia membayangkan langit penuh kumbang yang terbang turun untuk memberikan kecupan-kecupan sayang kepada dirinya. Dengan demikian, dia sanggup bertahan hingga keesokan harinya, dan kembali membuka kelopak-kelopaknya untuk menerima sinar matahari.


Suatu malam, rembulan yang mengetahui betapa kesepiannya mawar itu, bertanya," Tidakkah engkau merasa lelah menunggu-nunggu?"

"Mungkin, tetapi aku harus terus mencobanya." 
"Mengapa demikian?"
"Sebab, kalau aku tidak membuka kelopak-kelopakku , aku akan cepat layu."

Kadang-kadang, bila kesepian telah merenggutkan semua keindahaan, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan tetap membuka diri.



( Paulo Coelho - Seperti Sungai yang Mengalir)


Review Film

Testpack, Sebuah Kegalauan Untuk Memiliki Suami Seperti Reza Rahadian

Jumat, September 07, 2012



Jagat raya twitter heboh dengan premier perdana film "Testpack" yang disutradarai oleh Monty Tiwa. Saya pun jadi ikutan tertarik ingin menonton karena film tersebut diangkat dari novel metropop berjudul sama karya Ninit Yunita. Belum lagi didukung sohib saya Gina yang berhasil menjadi PR yang baik agar kami penasaran menonton film yang dibintangi oleh Reza Rahadian dan Acha Septriasa ini. Maka hari ini, setelah gagal mengikuti kuliah internship karena salah jadwal, saya, Ratna, dan Gina memutuskan untuk menonton film itu di bioskop.

Testpack sebenarnya memiliki plot yang sederhana dengan mengambil setting kehidupan pasangan muda yang hidup di kota besar. Adalah Rahmat (Reza Rahadian) dan Arista alias Tata  (Acha Septriasa) , pasutri muda yang menikah selama 7 tahun namun belum dikaruniai anak. Segala upaya dilakukan Rahmat dan Tata untuk bisa memiliki momongan. Desakan ibu mertua dan niat untuk membahagiakan suami membuat Tata rela melakukan apa saja mulai dari memakan makanan pembuat kesuburan, riset tentang sex education, sampai melakukan invitro untuk menyuntikkan hormon di tubuhnya. Rahmat sang suami pun mendukung Tata agar mereka memiliki momongan. Selanjutnya film ini dipenuhi adegan mesra khas pasangan suami istri yang sanggup membuat orang-orang mupeng setengah mati.

Kehidupan Rahmat dan Tata sedikit mengalami gangguan ketika Tata mengetahui biang dari susahnya mereka memiliki anak. Belum lagi kedatangan Shinta (Renata Kusmanto), model cantik yang merupakan mantan kekasih Rahmat tiba-tiba hadir. Film ini kemudian menggambarkan perasaan senasib yang diderita Rahmat dan Shinta bergantian dengan kegalauan Tata terhadap rumah tangganya. Entah saya yang kurang baik menyimak film ini atau Monty Tiwa yang kurang berhasil membuat film ini menarik dengan konfliknya, film Testpack sangat datar untuk ukuran film yang disutradarai oleh seorang Monty Tiwa. Beberapa properti yang ditampilkan di film ini menjadi tidak masuk akal seperti mobil yang dikendarai Shinta yang tidak mencerminkan kendaraan yang dimiliki oleh model dengan bayaran tertinggi di Asia. Kemunculan banyaknya cameo di film ini hanya sebagai bumbu humor tanpa pesan berarti. Ending di film ini juga cenderung dipaksakan selesai. Mungkin maksudnya untuk membuat penonton tersentuh dengan drama bandara saat Rahmat mengejar Tata, tapi toh penonton dibiarkan menggantung dan kemudian dikejutkan dengan hadirnya Tata yang tiba-tiba menyadari betapa ia mencintai Rahmat. Sedikit menjengkelkan walau akhirnya happy ending.

Overall, film ini terselamatkan dengan memasang Reza Rahadian yang benar-benar sukses membawakan peran sebagai suami idaman. Serius, saya pribadi langsung mupeng dan segera berdoa semoga mendapatkan suami baik, ganteng, dan mapan seperti Reza Rahadian. Akting Acha juga bagus meski proporsi tubuhnya yang mungil membuat dia nampak seperti adiknya Rahmat ketimbang istrinya.

Sekali lagi meski film ini biasa-biasa saja, setidaknya lebih mendingan ketimbang film horor esek-esek Indonesia atau film bertema religius yang asbtrak.



Reza Rahadian, yang begini mi ini mau dibawa menghadap Mommy dan Daddy :p

Traveling

Hello, Kamboja

Minggu, September 02, 2012

olkihy

gerbang masuk ke Kamboja dari kota Aranyaprathet, Thailand bagian Timur



Ini sebuah pelajaran bagi siapapun yang ingin melakukan perjalanan atau travelling ke negara orang. Kita harus tahu bagaimana situasi dan kondisi politik, cuaca, dan bahkan epidemi apa yang terjadi disana. Melakukan perjalanan tanpa pengetahuan sama dengan menyelam di air dangkal. Sia-sia.

Hal itulah yang saya alami saat mendatangi Kamboja kira-kira hampir 3 minggu yang lalu. Karena visa turis yang saya gunakan hampir expired maka saya, Dayan, dan Jihad kemudian mulai menyusun rencana negara mana lagi yang akan kami datangi. Pada awalnya kami ingin ke Myanmar. Tujuannya sih karena sebelum ke Myanmar kami bisa singgah ke Chiang Mai dan Chiang Rai di utara Thailand. Disanalah pusat kerajinan etnik, The Golden of Triangle (museum opium), bahkan suku Karen yang terkenal dengan leher mereka yang panjang berada. Karena tanpa informasi yang lengkap namun sudah merasa baik-baik saja semuanya, kami mengulur-ulur waktu hingga batas visa kami tinggal 2 hari.

Beberapa hari sebelum berangkat kami mendapat informasi dari kedutaan bahwa untuk ke Myanmar agak sulit. Hanya boleh singgah 1 hari dan setelah itu harus segera meninggalkan negara itu. Tindakan tersebut dilakukan karena ada konflik di negara itu. Kami bisa menetap beberapa hari  disana jika ada orang Myanmar yang bersedia menjadi penjamin atau kami ini adalah abdi negara yang punya visa dinas. Tanpa kedua hal tersebut mustahil kami bisa menembus Myanmar. Maka pupuslah harapan  kami untuk ke Myanmar yang perjalanannya memakan waktu hampir 1 hari.

Plan B kami yang kedua adalah mengunjungi Kamboja. Untuk sampai ke Kamboja tidaklah sulit. Kami bisa tinggal beberapa hari atau kalau cuma ingin singgah dalam sehari pun bisa ditempuh dengan pulang-pergi dari Kamboja - Bangkok. Singkat cerita kami akan ke Kamboja. Sayang beribu saya, lewat informasi yang kami dapat menjelang hari keberangkatan ternyata di Kamboja sedang mewabah virus EV-71, sebuah virus yang menyerang anak kecil dan bahkan sudah banyak merenggut nyawa anak-anak. Karena virus ini pula, pemerintah Kerajaan Kamboja bahkan meliburkan anak-anak sekolah. Karena tidak mau mengambil resiko, kami hanya melakukan perjalanan satu hari pulang-pergi Kamboja - Bangkok. Padahal saya sangat ingin berkunjung ke Angkor Wat yang katanya menghabiskan waktu beberapa jam dari Phnom Penh.


asdr

foto dulu sebelum masuk antrian cap passport :p


ophgtrh.hj

miniatur Angkor Wat yang ada di dalam Grand Palace, Bangkok


Suatu hari nanti saya akan kembali kesana. Saya harus melihat Angkor Wat yang sebenarnya. Entah kapan, entah dengan siapa. Semoga. 



Special Moment

Bertemu Dengan Dee

Sabtu, September 01, 2012

o8575

Saya dan Dee


Setelah tidak mengikuti perkembangan dunia karena mengalami kedukaan, saya tiba-tiba dikejutkan dengan kabar dari sohib saya Titah kira-kira dua hari yang lalu.

     " Mei, ada Dee sebentar sore di MP. Acara nonton barengnya Perahu Kertas," ujar Titah.

Kontan saya langsung menyambut dengan antusias. Dewi Lestari atau dikenal dengan nama pena Dee, adalah salah satu penulis Indonesia favorit saya. Semua buku karangan Dee sudah khatam saya baca. Mulai dari 4 serial Supernova, Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, dan yang terakhir Madre. Bertemu dengan Dee secara langsung dan meminta tanda tangan untuk semua bukunya adalah impian bagi para pembaca setia karya-karyanya. Namun sayangnya, hari itu ternyata bertepatan dengan P2MB sehingga saya tidak mungkin menghadiri acara itu karena tanggung jawab yang diberikan oleh Jurusan Ilmu Komunikasi untuk mengawal para mahasiswa baru dalam P2MB tersebut.

     " Aihhh, Titah...nda bisa k...ada maba saya urus. Tapi kalau semesta alam raya berkehendak ketemu ja itu sama Dee," ujar saya setengah menyerah.

Esoknya lewat twit yang di RT oleh kak Dwiagustriani saya mengetahui bahwa tanggal 2 September nanti Dee akan melakukan booksigning di Gramedia Mall Panakukkang (MP). Saya senang bukan kepalang dan langsung menghubungi Titah untuk menemani saya. Lagi-lagi kandas, kali ini Titah tidak bisa menemani saya karena harus seminar KKN di kampus. Saya tidak menyerah pokoknya harus ada yang menemani saya ke acara booksigning-nya Dee. Saya teringat Alvidha alias Mbak Pipi dan segera menghubungi beliau secepat kilat. Mbak Pipi akhirnya mau menemani saya. Maka hari ini pun berangkatlah kami untuk bertemu Dee.

Suasana Gramedia MP sudah ramai saat saya dan Mbak Pipi tiba. Kami juga bertemu dengan beberapa senior seperti Kak Triayu, Kak Jejen, dan Kak Idel. Ada juga mantan teman angkatan kami, Zulfadli yang akhirnya bersua setelah 3 tahun tak bertemu. Saya juga bertemu kakak kelas saya waktu SMA, Cendani yang setahu saya kuliah di Amerika.

Tak lama kemudian, Dee datang dengan disambut sorakan para penggemarnya. Dengan memakai cardigan hitam dan celana jeans, Dee tampil minimalis namun tetap elegan. Ada juga 3 pemain dari Perahu Kertas yaitu Elyzia Mulachela ( Luhde ), Sylvia Fully R ( Noni ), dan Kimberly Ryder ( Wanda ).

Saat giliran saya tiba untuk meminat tanda tangan Dee, saya pun memperkenalkan diri dan bercerita bahwa Dee pernah mengomentari tulisan saya di blog saat saya me-review buku Madre. Dee tersenyum dengan ramah sambil menandatangani buku Partikel saya. Saya pun sempat ngobrol singkat dengan Dee.

Meike : "Mbak Dee, saya sangat ter-influence sekali dengan Bodhi. Sampai saya bilang pada diri sendiri kalau saya harus keliling Asia Tenggara juga seperti Bodhi. Dan akhirnya semesta membawa saya keliling Asia Tenggara kemarin.

Dee : Oya, wah hebat dong. Saya aja malah nggak pernah keliling Asia Tenggara loh...(sambil tertawa).

Meike : (dengan wajah kaget) Terus darimana dong Mbak dapat detail settingnya?

Dee : Dari wawancara sama orang... (dan kami berdua pun tertawa)

Meike : Tahu nggak Mbak. Saya juga ketemu sama orang yang namanya Somchai loh persis kayak Bodhi

Dee : Wah....jangan-jangan Somchai yang sama dengan yang ketemu Bodhi (ketawa lagi)

Meike : Hmm..kayaknya nggak deh Mbak..orangnya beda cuma namanya aja yang sama...Oiya Mbak, tiga buku saya yang lain gak sempat  saya bawa karena lagi dipinjam orang

Dee : yaa..sayang banget, kalau lengkap kamu bisa dapat poster tadi.

(setelah booksigning)

Meike : terima kasih mbak...

Dee : iya sama-sama....

setelah hahahhihi, cipika-cipiki, dan foto bareng Dee, saya dan Mbak Pipi pun pulang dari acara booksigning. Tak ada yang lebih  menyenangkan selain bertemu penulis favoritmu yang tulisan-tulisannya memberikan pengaruh dalam hidupmu. Waktu yang terbatas pun tidak menyurutkanmu untuk mengobrol dengan penulis yang buku-bukunya pernah mengambil bagian dalam hidupmu. Sekali lagi Sinkronisitas, bahwa bertemu dengan Dewi Lestari tahun ini bukanlah karena sebuah kebetulan. Alam semesta raya sangat baik padamu, Mei.

Enjoy some photos shoot :


Dewi Lestari, the author *photo : alstrojo



Dee saat booksigning *photo by : alstrojo



ketiga pemain dalam film Perahu Kertas *photo : alstrojo


654jj

Dee dan saya dalam obrolan singkat kami *photo :alstrojo


34hj

saat boksigning *photo : alstrojo


0okgh5

tetap datang demi Dee meski sedang tidak enak badan *photo : alstrojo



Alvidha a.k.a Mbak Pipi a.k.a Alstrojo, sang fotografer hari ini :p *photo : meike



komentas Dee di blog saya tentang Madre 



Kejutan lain juga terjadi hari ini. Tulisan saya tentang KKN International Unhas dimuat dimuat di harian Fajar (01/09/2012) dalam rubrik Akademika.