Sehimpun Puisi

96

Jumat, Desember 06, 2019

96 jiwa jumlahnya
Kami diutus kepada mereka
Kami diperintahkan untuk apapun itu
Kami tidak tahu bagaimana harus memulai
Tapi tampaknya semuanya pelan-pelan terjadi
sudah habis akal rasanya
hanya cinta yang bisa

96 jiwa jumlahnya
wajah-wajah ceria
wajah-wajah penuh harapan
wajah-wajah yang tak tahu
bahwa dalam terik dan mendung
kami duduk dan sidang untuk bertarung

96 jiwa jumlahnya
masa depan mereka menjadi taruhan
masa depan kami juga menjadi taruhan
tak ada kata menyerah
tak ada kata berhenti
satu pasukan khusus sudah turun tangan
demi 96 jiwa

Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna
kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan

Life Story

Andai Hidup Ini Tanpa The Beatles

Senin, Desember 02, 2019

*photo by google


Ini bukan review film. Tapi film ini membuat saya me-review hidup saya. Apa jadinya dunia ini tanpa lagu-lagu dari The Beatles?. Lagu-lagu The Beatles adalah "teman seperjalanan" kita dalam ziarah hidup di dunia ini. Mau senang, mau sedih, lagu-lagu mereka menjadi pelita yang menerangi dan angin yang mengarahkan gerak kita. Kadang-kadang liriknya tidak mudah dimengerti. Mungkin karena sangat personal. Tetapi melodinya berbicara secara universal. Tak ada yang menampik bahwa kolaborasi Lennon-McCartney adalah salah satu yang terbaik yang pernah dimiliki dunia ini.  Karya-karya mereka adalah perpaduan agung antara akal dan rasa. Meskipun kemudian band ini bubar, keempat personil mampu bercahaya dengan caranya masing-masing. 

Pertemuan pertama saya dengan The Beatles terjadi pada hmmm... tampaknya setelah saya bisa mengingat. The Beatles adalah salah satu band favorit Opa. Mami yang mewarisi pengetahuan musik itu dari Opa, selain ia sendiri juga terpengaruh British Invasion di era itu. Mami mengajari saya berdansa. Beliau partner dansa saya yang setia. I Saw Her Standing There adalah salah satu lagu favorit kami untuk berdansa. 

Waktu kecil saya menyanyikan lagu-lagu The Beatles tanpa pernah mengerti liriknya. Yang saya tahu bahwa melodinya sanggup membawa saya ke suatu alam lain yang indah. Seperti dongeng Alice in Wonderland, manakala saya memutar lagu-lagu The Beatles, saya terlempar ke tempat yang penuh dengan imajinasi: cinta dan humanisme. Kapanpun dan dimanapun, jika mendengarkan lagu-lagu The Beatles, perasaan nostalgia itu hadir. Cinta tak harus pada manusia, bisa pada sebuah kota. Kita bisa tahu betapa Paul begitu mencintai Liverpool dari lagu-lagu yang ia ciptakan. 

Entah sedang jatuh cinta atau patah hati, putus asa atau dalam penantian, aura positif itu selalu menguar. Ada harapan ketika mendengarkan lagu-lagu mereka. Bagi saya, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr adalah para rasul yang memberitakan kabar gembira. Mereka menyampaikan pesan semesta kepada orang-orang yang kesepian. Kepada mereka yang menanti. Kepada mereka yang bersedih. Kepada mereka yang sedang berbahagia. Kadang lagu-lagunya lucu, kadang penuh empati. 

Film Yesterday mengganggu kita dengan pertanyaan yang menjadi momok: "melupakan" dan "terlupakan". Hilangnya The Beatles dari memori dunia mungkin merupakan sebuah metafora akan datangnya era baru yang tak lagi menghargai proses. Di film itu dibahas, satu lagu saat ini diciptakan oleh 16 orang seperti membuat produk di pabrik. Padahal kita tahu, kita butuh keintiman dan saat-saat magis untuk bisa menghasilkan  satu lagu yang baik. Seperti karya seni lainnya, lagu, puisi, atau bahkan karya ilmiah sekalipun adalah formula dari alam semesta untuk menyampaikan suaranya. Dan hanya orang-orang yang mungkin dalam keadaan "trans" atau menyatu dengan di luar sekaligus di dalam dirinya yang bisa menggapainya. 

Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa lagu-lagu The Beatles. Mereka memang salah satu pelopor musik populer dunia. Musik yang lahir dari kalangan orang-orang biasa. Mengapa lagu-lagu The Beatles bisa abadi? Jawabannya mungkin bervariasi, tapi berdasarkan pengalaman saya mendengarkan mereka, jawabannya adalah karena lagu-lagu mereka sederhana dan memiliki emosi.  Pernah suatu kali saya berdiskusi dengan driver Grab yang ternyata lulusan seni musik senar dari ISI Yogyakarta. Dari hasil diskusi kami, lagu-lagu The Beatles banyak menggunakan nada-nada minor. Selain itu, mereka juga menggunakan akord (chord) nada-nada yang ada 7-nya, seperti C7 B7 D7 atau G7. Dalam struktur melodi, sudah ada nada-nada mayor dan minor untuk membentuk lagu. Namun, akord terbentuk jika nada-nada utama yang digabung dengan nada-nada pendukung. Ketika nada-nada pendukung ini dimasukkan, maka lagu itu memiliki emosi. Ia hidup dan memiliki jiwa. Ibarat rumah, nada-nada mayor dan minor adalah pembentuk bangunan, sementara nada-nada pendukung bertugas untuk mewarnai bangunan itu. Nada-nada pendukung ini kalaupun tidak ada juga tidak apa-apa, tetapi kalau ada, maka ia mampu memberi makna. Itulah sebabnya lagu-lagu The Beatles yang melegenda begitu "menikam" hati. 

Kadang-kadang saya merasa seperti nada-nada pendukung itu. Tanpa saya pun, dunia ini tetap berjalan. Saya mungkin bukan yang utama di dunia ini. Juga tidak punya kuasa untuk mengubah dan mengontrol situasi. Bukan pula orang yang tampil dan tenar. Tapi saya ingin hadir dan memberi makna pada hidup ini, setidaknya saya memulainya dengan orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba untuk mempengaruhi. Saya mencoba menghadirkan emosi dalam hidup mereka. Seperti lagu-lagu The Beatles, mungkin dengan cara yang sederhana itu saya bisa hadir dan mengabadi di hati mereka.

Bagaimanapun, Mei ke dalam bahasa Mandarin juga berarti lagu yang indah.