Cerita Pendek

Acara Merongrong Kesedihan

Senin, Oktober 26, 2020

Bagaimana caranya mencintai diri sendiri tanpa syarat?


Tampaknya, sejak terlahir ke dunia kita tidak (belum) memiliki metode bagaimana caranya mencintai diri sendiri. Kita mungkin tahu konsepnya, tapi "bagaimana"-nya itu yang kita tidak tahu. Kita telah diajarkan untuk mengasihi orang lain. Ada banyak standar yang dibuat untuk membuat kategori bahwa kamu mencintai orang lain atau merasa dicintai orang lain. Tapi, bagaimana dengan mencintai diri sendiri? Ada hukum yang mengatakan bahwa untuk mengasihi Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka kamu harus terlebih dahulu mengasihi dirimu sendiri. Oh Gusti, rasanya pengetahuan dan pengalaman ini sangat sulit dicapai.

***

Al mendengarkan lagu-lagu sedih sebagai bagian dari acara merongrong kesedihan, begitulah istilah yang dipinjam dari sahabatnya, Naartjes. Setelah mendengarkan lagu-lagu sedih, ia akan menangis terhanyut oleh lirik dan melodinya. Setelah itu, dia akan menonton film-film romance yang tidak mungkin terjadi pada dirinya. Ia akan membandingkan fantasi di film dengan fantasinya. Ia akan menangis lagi karena tahu tak mungkin ia akan mengalami yang ideal itu dalam hidupnya. Lalu, setelah itu ia akan masuk ke dalam puncak acara. Ia akan melakukan pembantaian pada dirinya yang di "dalam". Seperti Drupadi, ia akan mengeramasi rambutnya dengan darahnya sendiri. Ia menikmati meminum darahnya sendiri dan berendam di dalam kubangannya. Tenang, ia tidak melukai dirinya secara fisik. Dulu sekali, ia pernah mencobanya. Tetapi, sakit di tubuhnya tidak menyembuhkan sakit yang di "dalam". Baginya, itu sia-sia saja. Ia lebih suka pertumpahan darah secara psikis dan tak terlihat.

Bertahun-tahun kemudian, Al akhirnya tahu yang dia lakukan adalah jahat pada dirinya sendiri. Ia mungkin sudah lebih tua, jadi yang ia lakukan hanya merasa lelah dan ingin semuanya berakhir. Dorongan meniada semakin kuat. Tetapi, dorongan untuk pulih juga sama kuatnya. Ia harus memilih. Mengakhiri sekali untuk selamanya atau berani bangkit. Ia memilih yang kedua. Ia memilih untuk pulih. Ia harus mencari pertolongan. Ia harus berhenti membuat acara yang merongrong kesedihan. Al harus melakukan pertempuran dengan dirinya sendiri. Ia barus bertemu dengan berbagai dimensi dalam dirinya: jiwa, pikiran, dan tubuh.  Ada inner child yang harus dia hadapi. Ia sudah mengidentifikasi akar masalahnya dan sedang berusaha menghadapi dimensi-dimensi tersebut. Kata Gurunya, ia kini mendapat PR untuk mengubah energi cintanya yang terus-menerus untuk orang lain, berbalik menuju dirinya sendiri: mencintai, memaafkan, dan menerima dirinya sendiri tanpa syarat. Ini sangat sulit. 

Bagaimana caranya?


Love Story

Menikah (Part 1)

Sabtu, Oktober 17, 2020

Sebenarnya apa tujuan orang menikah?

Kita bisa menjawab pertanyaan itu dengan teori-teori sosial-humaniora yang canggih. Tapi, aku ingin membagi kisah tentang pernikahan yang aku pikir tidak ada. 

Sahabatku Juni pernah bercerita tentang dua dosennya yang merupakan suami-istri, Pak Link dan Bu Link. Mereka adalah dosen sekaligus misionaris dari Jerman yang diutus ke Indonesia dan mengajar di sekolah teologi di kota kami. Sebenarnya yang pendeta, misionaris, dan teolog itu Pak Link sementara istrinya, Bu Link seorang psikolog. Bu Link mendukung dan menemani perjalanan Pak Link "menjaring manusia" di bumi pertiwi. Kata Juni, kalau Pak Link mau khotbah, ia akan membacakan khotbah yang ditulisnya di depan istrinya terlebih dahulu sebelum di depan jemaat. Bu Link lalu akan memberikan pendapat dan sarannya entah itu tentang gaya khotbah, intonasi, bahkan isi khotbah suaminya. Mereka tinggal berdua di rumah dinas yang disediakan kampus. Mereka sudah lama menikah dan tidak punya anak. Usia mereka sudah paruh baya. Dalam sebuah acara, pernah ada yang bertanya pada Pak Link tentang ketidakhadiran anak dalam keluarga mereka yang selalu tampak harmonis itu.  Jawaban Pak Link sungguh diluar dugaan. Sambil menatap istrinya dari jauh yang sedang sibuk bercerita dengan kolega yang lain, Pak Link menjawab," Saya menikah dengan istri saya bukan untuk memiliki anak, tetapi karena saya ingin hidup dengan dia." 

***

Hubungan orang tuaku juga mengajarkanku tentang cinta. Hubungan mereka tidak bisa dibilang mulus-mulus saja seperti dongeng Disney. Penuh trial and error. Mereka seperti langit dan bumi. Namun, ada juga hal-hal yang membuat mereka dapat berjalan bersama: dua-duanya orang yang takut Tuhan, punya komitmen dan loyalitas yang tinggi, serta selalu memberikan yang terbaik untuk anak. Mami punya dunia sendiri, Daddy punya dunia sendiri. Tetapi, mereka tidak saling ganggu. Komunikasi dan keterbukaan adalah kunci. Mereka juga mengajarkanku etika: kita harus menghormati privasi setiap orang. Daddy punya rutinitas yang membuat dia merasa "secure". Mami sibuk dengan pekerjaannya dan pelayanannya. Tidak ada pertunjukkan afeksi yang berlebihan. Mereka seperti co-exist saja. Aku paling suka kalau mereka sedang berdiskusi, nyambuuung sekali membicarakan apa saja. Mereka juga melibatkan aku dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Jadilah kami, The Three Muskeeters. Aku bersyukur keluargaku demokratis. 

Tapi, badai juga datang dan banyak rahasia-rahasia di masa lalu yang membuat kami tidak bisa tertawa. Perpisahan pernah hampir terjadi dan aku diserang dilema hebat. Namun, akhirnya mereka berusaha mengatasi perbedaan-perbedaan mereka. Mencari titik keseimbangan untuk stabil. Aku belajar setia dari mereka. Jika kamu punya masalah dengan pasanganmu, bicarakanlah berdua, cari titik temu, dan solusinya, bukan mencari pelarian pada orang lain. Bukan pula melakukan kekerasan bagi satu sama lain.  Kejujuran itu penting. Komunikasikan apa yang menganggu hatimu, tetapi jangan lupa untuk mengapresiasi pasanganmu. Jadilah dirimu apa adanya. Hubungan yang baik dan sehat tidak jatuh dari langit, tetapi selalu harus diusahakan. Ambil sela, sebelum melangkah sama-sama lagi. Kita bisa mandiri, tetapi jika bersama kita akan jauh lebih kuat. 

Dari orang tuaku, aku belajar bahwa cinta itu bertahan. Kamu tidak meninggalkan orang-orang yang kamu cintai terlepas segala kelebihan dan kekurangannya. Mami tidak pernah berdoa meminta Tuhan mengubah suaminya, ia meminta Tuhan memberinya kekuatan untuk menghadapi suaminya. Daddy? aku tidak tahu dia berdoa apa. Tetapi, dia tidak meninggalkan kami berdua meskipun dia punya seribu satu alasan untuk pergi. Seumur hidup menjadi anak mereka, aku tidak pernah melihat orang tuaku mesra-mesraan. Tetapi seperti lirik lagu The Smith," to die by your side, well, the pleasure, the privilege is mine", Mami menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan Daddy. Bagiku, tak ada kematian yang seindah dan seromantis itu. 

***

Secara umum, konstruksi gender telah mengajarkan perempuan bahwa menikah adalah tujuan hidup. Sebaliknya, laki-laki bisa dengan bebas memilih pengantinnya sebagai properti dan "pengganti ibu" yang akan mengurus dirinya kelak. Bagi laki-laki, ada atau tidaknya perempuan di sisinya tidaklah menganggu eksistensi mereka, meskipun hal itu mengganggu ego maskulinitasnya. Itulah sebabnya, mereka bisa menambah atau "jajan" pasangan jika mau atau kalau tidak ada pun ya tidak masalah. Dunia laki-laki adalah dunia atas cita-citanya, perempuan yang menjadi pasangannya hanya salah satu bagiannya saja. Kadang bahkan dianggap sebagai ancaman atau ganjalan sehingga harus disingkirkan. Beda dengan perempuan, menikah adalah persoalan eksistensi. Laki-laki yang menjadi pasangannya akan menjadi dunianya. Seluruh hidupnya akan dicurahkan untuk pasangannya dan anak-anaknya. Sistem patriarki menciptakan ketergantungan bagi perempuan terhadap laki-laki, mulai soal finansial sampai emosi. Sayangnya, perempuan akan pelan-pelan kehilangan dirinya sendiri setelah menikah. Ia akan semakin jarang dipanggil dengan namanya, melainkan berganti menjadi Ny. Suami dan Ibu dari Fulan, anaknya. Kehilangan diri sendiri merupakan luka bagi perempuan. Di sinilah, jika tidak pandai mengenali diri sendiri dan mencari ruang pembebasan, maka mereka bisa jatuh menjadi monster feminin. Misalnya, mereka menjadi ibu yang narsistik atau queen bee yang menganggap perempuan lain ancaman. 

Menikah adalah peristiwa budaya, sementara jatuh cinta adalah peristiwa takdir. Kita bisa selalu memilih untuk menikah dengan siapapun. Tapi, soal hati itu bisa sedikit lebih rumit. Pertimbangan orang menikah pun tidak semata karena cinta saja. Untuk membangun keluarga, maka merger di antara dua keluarga akan dilakukan. Dalam konteks Indonesia, idealnya pernikahan adalah keselarasan budaya, agama, dan status sosial yang harus sinkron. 

Tidak ada yang salah dengan menjadi istri dan ibu. Aku suka merawat dan yakin bisa jadi istri dan ibu yang baik dan berjuang untuk mereka. Tetapi, aku juga sangat sadar bahwa aku tidak suka dikekang. Aku tidak suka diatur-atur. Aku tidak bisa dibuat patuh. Semakin aku diatur, semakin aku melawan dan akhirnya pergi. Tentu saja laki-laki patriarkal tidak akan suka dan tahan denganku dan akupun tidak akan tahan dan suka dengan mereka. Sampai detik ini, aku tidak bisa terima dengan UU yang masih timpang terhadap perempuan dalam pernikahan. Aku juga tidak suka legitimasi agama yang mengatakan bahwa "istri harus tunduk pada suami" dan "istri harus dibimbing oleh suami sebagai imamnya". Aku adalah imam bagi diriku dan mencari Tuhan dengan caraku sendiri. Aku tidak bisa dipakaikan "topi baja" untuk taat pada suatu sistem yang membuatku menjadi penurut (dan ini paradoks karena sekarang aku sudah dipakaikan "topi baja" oleh sistem yang membuatku harus pandai menjadi si penurut dan anarkis sekaligus hehehe). 

Ya, menikahlah jika kalian mau dan membuat kalian bahagia. Kalau itu standar bahagiamu, maka jalanilah dengan sukacita. Tetapi, ingatlah bahwa tidak semua orang memiliki standar ideal yang sama denganmu.

Life Story

The Poetics of Depression

Rabu, Oktober 14, 2020

Itu adalah judul artikel di salah satu media online tentang Virginia Woolf, salah satu penulis perempuan yang berpengaruh di awal abad ke-20. Tulisan Virginia merupakan narasi diri perempuan yang berada di lapis dalam sehingga layak dikaji untuk membuktikan keberadaan narasi feminin di tengah narasi maskulin yang mendominasi dunia sastra. Kejujuran Virginia menceritakan keresahannya dan depresinya secara puitis menjadi kekuatannya. 

Virginia memang punya sisi gelap. Akumulasi dari rasa kehilangan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya (ibunya, ayahnya, dan saudaranya meninggal dunia dalam waktu berdekatan) membuat dia menderita depresi dan mood swing disorder. Suaminya, Leonard, adalah orang yang paling setia menemani dan menghadapi berbagai serial episode perubahan mood Virginia. Ia bisa sangat marah, sangat sedih, dan menderita serangan panik. Pada akhirnya, Virginia memilih mengakhiri hidupnya. Ia menenggelamkan dirinya di sungai dekat rumahnya. 

***

Bagi orang-orang yang tidak mengalami depresi atau tidak pernah berhadapan dengan mereka yang menderita depresi, dorongan untuk meniada sepertinya tampak konyol. Tapi percayalah, bahwa kesedihan dan kesakitan yang ditanggung mereka itu tidak tertahankan. Kebanyakan mereka yang depresi memilih bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya. Mereka tidak bisa melihat terang. Mereka tidak bisa memiliki harapan. Mereka kesulitan merasakan bahwa mereka dicintai. Mereka selalu merasa lelah, memberi terus-menerus tetapi tidak menerima kembali: entah cinta, respek, atau apresiasi. Orang-orang depresi menderita rasa bersalah, takut, dan melakukan self-abuse karena merasa diri mereka tidak berarti. Mereka percaya bahwa keberadaan mereka tidak penting dan tidak diinginkan di dunia ini. Orang depresi banyak melakukan "penundaan" menuju klimaks rasa sakitnya dengan melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya. Rasa sakit menjadi semacam adiksi. Dengan merasa sakit, maka semakin benarlah perasaan dan pikiran bahwa mereka adalah penyebab malapetaka: ibumu atau ayahmu meninggalkanmu karena kamu bukan anak baik, kekasihmu meninggalkanmu karena kamu tidak sempurna, teman-temanmu menjauh karena kamu tidak memiliki apa-apa, atau apapun pekerjaan atau usaha yang kamu lakukan semuanya sia-sia. 

Orang-orang depresi berjalan dalam jurang yang gelap. Sangat sedikit orang-orang yang menemani mereka dan ketika menemani mereka pun, kita tidak tahu harus berbuat apa. Aku teringat perkataan sahabatku yang berjuang bertahun-tahun dengan sakitnya, "Apakah karena kita begitu ingin dicintai dan diterima sampai kita terus-menerus yang berusaha? yang mengemis?"

***

Aku sekarang menyukai tema kehancuran: kesakitan, penderitaan, kehilangan, ditinggalkan, diabaikan, kesepian, keterpisahan, ketidakpastian, ketidakterdugaan, kerapuhan, kegilaan, dan penantian. Di tengah kehancuran, aku menemukan keindahan. Sebuah paradoks. A happy sad story or a happy horror story.  Rasanya seperti berenang dalam black hole. Jalan kehancuran kupilih (atau dipilihkan?) untuk melakukan ziarah ke dalam diri. Ini adalah jalan sunyi menuju penciptaan yang baru.

Akhirnya, aku memberanikan dan menguatkan diri untuk memanggil inner child-ku atau kusebut sweet child o'mine seperti judul lagunya Guns N' Roses. Dialah luka batinku di masa kecil yang kubawa sampai dewasa. Dalam bayanganku, dia berwujud anak kecil  berusia kurang lebih 5 tahun berkulit putih dengan mata sipit, rambut ikal kecokelatan, mengenakan kaos warna merah gambar Satria Baja Hitam, celana jeans pendek, sepatu Keds warna merah, dan topi bowler warna biru tua. Kecemasanku adalah produk dari trauma yang dia alami dulu. Dia-lah yang melakukan self abuse bertahun-tahun: pikiran-pikiran jahat dan sedih yang terus-menerus muncul manakala trauma-ku ke-trigger. Dia-lah yang merengek memaksakan keinginannya ketika tidak dituruti. Dia-lah yang akan membanting pintu dan menyakiti dirinya. Kata-katanya selalu terasa benar. Dia adalah si Jenius. Dia sebenarnya lucu dan suka tertawa. Dia yang penyayang dan akan memberikan segalanya kepada yang dicintainya. Tetapi, ketika dia merasa tidak dicintai, dia akan berbalik menyalahkan dirinya karena ada bagian dari dirinya yang tidak diterima, suatu keadaan yang divergent. Dia anak perempuan tetapi ekspresi gender-nya androgini. Dia bisa sangat maskulin sekaligus bisa sangat feminin dan bisa diantara keduanya. Aku pikir traumaku dulu hanya seputar Daddy issue dan Oma (dan aku sudah berdamai dengan itu). Namun, ternyata ada trauma yang tersembunyi. Trauma itu tentang identitasku yang hybrid. Aku harus membunuh identitasku yang satu, untuk bisa diterima di lingkungan tertentu. Kecemasanku membutuhkan validasi. Trauma itu juga dimiliki Mamiku. Tidak, trauma tidak diturunkan secara genetik, melainkan melalui pola asuh dan faktor pendukung seperti lingkungan tempat kita dibesarkan atau perlakuan orang-orang yang berinteraksi dengan kita. 

Inner child-ku itu memandangiku. Ia tampak sangat sedih, sendiri, dan kedinginan. Wajahnya hidup dalam beberapa fotoku yang diambil secara candid, wajah orang yang ditolak. Ia selalu merengut: antara sedih dan marah. Ia sering menggugat. Tapi, suaranya tidak didengarkan. Psikolog bilang aku harus melepaskan inner child-ku. Tetapi, itu tidak mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan atau berpisah dengan dia. Dia adalah bagian diriku. Yang bisa kulakukan adalah berdamai dengannya, menerimanya, dan bekerjasama dengannya. Tentu itu semua tidak bisa dalam sekali waktu. Ini baru tahap awalnya. 

Aku lalu merentangkan tangan, mengundang anak kecil itu mendekat. Ia pelan-pelan menghampiriku. Ia masih kaku, tapi badannya akhirnya tumpah di pelukanku: Meike tidak ditolak, kamu sangat dicintai. Maafkan aku ya...aku mencintaimu, Meike.” 

Seperti kata Kermit, the Frog, "Maybe you don't need the whole world to love you. Maybe you just need one person.”

And that person is you, diri kita sendiri. 



Aku sedang bergandengan tangan dengan inner child-ku sambil mendengarkan lagu ini, "Someday we'll find it, the rainbow connection...the lovers, the dreamers, and me..". 

Love Story

The Answer

Rabu, Oktober 07, 2020

"Your silence in this time of my pilgrimage is nothing but the earthly manifestation of the eternal word of Your love."

(Encounters with Silence by Karl Rahner, SJ, 1966, p.57)



Note: It's a Grace for us

Cerita Lagu

"The Joys of a Maybe"

Rabu, Oktober 07, 2020

 


"Your laugh that I love and who takes me surely having fun with the joys of a maybe

Life without you doesn't exist 

My tears long for you 

I'm afraid to forget everything"


Sohibku Yuseptia memperkenalkan lagu Perancis ini ketika kami sedang bertugas. Seperti para tentara kesepian yang mengingat kekasih mereka, kami pun bernyanyi.