Life Story

Ramalan

Kamis, Januari 30, 2014

Namanya Li Hua atau bekennya Belinda. Ia adalah salah satu mahasiswa asing dari Cina yang kuliah di UGM dan juga dulu pernah menempati salah satu kamar di kosku. Meski hanya mengenal sekedarnya, kemarin Eyang menceritakan sesuatu tentang Bel panggilan Belinda alias Li Hua. Seperti layaknya tradisi menyambut Tahun Baru Cina, Bel juga turut mendatangi klenteng untuk berdoa dan meminta ramalan. Maka sampailah Bel di stand ramalan di dalam klenteng. Ia menggoncang-goncangkan kumpulan potongan bambu berbentuk persegi panjang yang ditaruh ke dalam bambu berbentuk tabung dengan ukuran yang lebih besar. Satu potongan bambu jatuh ke tanah dan Bel memungutnya untuk diberikan kepada si Peramal. 

Maka kata si Peramal kepada Bel,"Hai Nona, apakah yang ingin kau tanyakan berkenaan dengan Imlek tahun ini?".
Bel menunduk namun dengan tersipu-sipu ia menjawab,"Saya mau tanya kapan jodoh saya datang, Baba."
Si Tukang Ramal membaca tulisan di potongan bambu Bel, mencocokkan kiri-kanan dengan kitab dan berbagai diagram. Sambil menghela napas panjang, si Tukang Ramal pun menjawab,"Nona, jodoh anda masih lama datangnya." 
Gubrak.

***

Seperti Bel, saya juga pernah diramal. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA dan sedang naksir berat dengan salah seorang kakak kelas. Di saat yang sama pula, salah seorang kawan saya datang ke sekolah saya untuk reuni. Namanya Nani. Saya dan Nani dulu satu sekolah di SD sampai SMP, namun saat masuk SMA ia memutuskan masuk SMA Negeri 1 Makassar (Smansa) dan saya sendiri tetap melanjutkan di SMA Katolik Rajawali (Chara).

Perpisahan dengan Nani membuat banyak hal yang tidak saya ketahui tentangnya terkuak termasuk fakta bahwa ia bisa meramal, sebuah kemampuan yang tidak pernah ia publikasikan sejak kami masih SD. Percaya atau tidak, ramalan Nani bisa mencapai keakuratan 60% sehingga banyak teman-temannya meminta Nani meramal mereka. Siang itu Nani datang ke Chara mengenakan seragam pramuka dengan rok panjang khas sekolah negeri. Maka berduyun-duyunlan kami bertemu Nani, minta diramal.Setelah sebelumnya berada di antrian ke-6, akhirnya giliran saya tiba. Bahkan setelah saya masih ada tujuh teman yang mengantri, hebat benar si Nani. Nani kemudian meminta telapak tangan kiri saya untuk dibaca. Saya pun santai saja mengingat lima teman sebelumnya mendapat ramalan yang bagus-bagus. Pikir saya ramalannya pasti tak kalah bagus dibanding yang sebelumnya.

Nani mencermati garis tangan saya, dengan telunjuknya ia menelusuri lekuk-lekuk garis tangan saya yang bagaikan aliran sungai itu. Setelah ditelaah dengan saksama, Nani kemudian berkata,"Ini garis tangan paling suram yang pernah saya lihat".
Mendengar itu saya seakan tersambar petir (kebetulan waktu itu pas lagi mendung).
"Maksudnya?," saya masih tak rela.
"Iya, kalau soal jodoh susah sekarang, Mei. Kau bakalan jomblo dalam waktu yang tidak ditentukan".
Saya masih tak percaya dengan pendengaran saya. Saya masih ingin mencerca Nani dengan seribu pertanyaan, tetapi antrian di belakang saya sudah menatap saya seperti ingin membunuh. Hari itu saya pulang dengan seribu awan mendung bertengger di atas kepala. Sahabat saya Tirta yang hari itu diramal baik-baik saja percintaannya mencoba menghibur. Itu cuma ramalan belum tentu terjadi.

Suatu ketika saya juga pernah diramal oleh Seseorang. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri memgikuti tes di UGM dan seleksi untuk beasiswa calon dosen. Ia memiliki indera keenam sejak kecil dan karena kemampuan itulah ia bisa melihat arwah orang yang sudah mati dan melihat hasil dari sesuatu. Misalnya orang-orang akan bertanya siapa yang akan menang dari pertandingan sepak bola antara PSM dengan Persija. Jika ia menjawab PSM maka PSM-lah yang akan menang. Percaya tidak percaya ramalannya kebukti. Nah waktu itu Mami iseng-iseng bertanya, Meike jadi sekolah di Jogja atau tidak? Dan jawabannya adalah Belanda dan Amerika. Berulang kali ditanyakan ia selalu menjawab di Belanda atau Amerika. Saya tidak suka dengan jawabannya dan jujur saja agak resah dibuatnya. Lama-kelamaan saya memikirkan ramalan itu, saya memutuskan melihat dari segi positifnya, ya bisa saja suatu hari nanti saya berada di kedua negara itu. Tapi keputusan mengenai mau jadi apa saya di masa depan ada di tangan saya sendiri. Dengan izin Sang Pemilik Hidup, saya membuktikan ramalan itu keliru. 

***

Memang benar bahwa ada sebuah masa dimana ramalan cukup memengaruhi kehidupan manusia. Kita pernah mendengar ramalan Nostradamus tentang akhir dunia, ramalan raja Jayabaya akan datangnya Ratu Adil yang memerintah Nusantara, dan mungkin sedikit lebih modern dan ilmiah adalah ramalan Karl Marx akan matinya Kapitalisme ( namun karena semakin hari kuku kapitalisme semakin kuat mencengkeram sehingga ketimpangan masih terus terjadi maka banyak yang bilang ramalan Marx ini utopis). Lalu ada juga ramalan bintang atau zodiak, sebuah perhitungan dengan menggunakan ilmu astrologi atau perbintangan, orang-orang yang bernaung dalam rasi bintang tertentu akan menjalani kisah sesuai dengan laju bintang tersebut. Tapi benarkah?

Masa remaja saya dihabiskan dengan banyak membaca majalah remaja. Dan dimasa itu pula, ramalan termasuk ramalan bintang menjadi sesuatu yang sangat memengaruhi kehidupan seseorang, khususnya dalam persoalan cinta. Mungkin karena pada waktu itu awal milenium, perpindahan tahun 1900 ke tahun 2000 sehingga masa depan menjadi misteri yang menarik. Kami memang tahu bahwa sebuah ramalan belum tentu terbukti kebenarannya, akan tetapi benar-tidaknya sebuah ramalan tetap memberi andil dalam menambah kegembiraan dan kegalauan seseorang.

Setiap membuka majalah, rubrik zodiak langsung menjadi incaran. Kita akan membaca ramalan bintang kita dulu meneliti bagian karir ( padahal waktu itu masih SMP) dan kemudian beralih ke bagian asmara. Kalau ramalannya bagus, hati senang, kalau jelek, mood bisa rusak. Setelah itu, kita akan membaca zodiak pasangan kita ( alias gebetan). Entah sengaja atau tidak, biasanya space untuk zodiak pasangan hanya khusus persoalan asmara. Kalau bagian asmara pasangannya bagus, wuihh serasa berbunga-bunga sepanjang hari. Pernah juga suatu ketika demam menggunakan kartu tarot merajalela. Tiba-tiba saja banyak teman saya yang jadi peramal dadakan. Gaya mereka sih belum se-gypsi peramal di tivi-tivi, tapi judgement mereka terhadap keadaan seseorang sudah menyamai Mama Laurent.

Ketika saya dan teman-teman sekolah sepakat membuat majalah sekolah ( ikhwal saya mengenal dunia Jurnalistik), kami membuat rubrik tentang ramalan bintang. Pertanyaannya siapa yang akan mengisi rubriknya? Tirta, sahabat saya itu mengajukan diri mengisi rubrik itu. Caranya? Dengan mengarang. Kalau bagian zodiaknya pasti bagus-bagus. Kebetulan Tirta berada dalam rasi bintang Gemini. Maka diluar Gemini, ramalannya pasti jelek. Setelah itu ramalan menjadi sesuatu yang bullshit bagi saya.

Saya tertarik dengan kata-kata Foucault bahwa "pengetahuan adalah kekuasaan". Siapa yang memiliki pengetahuan lebih jelas memiliki kuasa daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan. Guru bisa lebih berkuasa daripada muridnya, karena ia memiliki pengetahuan yang lebih dari muridnya. Orang yang memiliki pengetahuan mampu melegitimasi sesuatu bukan saja oleh argumentasi dirinya, tapi orang-orang di sekitarnya yang takjub dengan apa yang diketahuinya juga ikut membenarkan. Jangankan ramalan, keputusan yang akan diambil suatu organisasi harus meminta persetujuan orang-orang yang dianggap sebagai datuk-datuk organisasi itu. Mereka dianggap pemegang kebenaran, legitimasi dari mereka adalah patron yang harus diikuti. Termasuk legitimasi terhadap orang. Oh yang ini pintar, yang ini cantik, yang disana suka memerah orang, dsb.

Selain itu kita juga suka keburu percaya dan mensugesti diri kita untuk mengimaninya. Bukan rahasia umum lagi kalau pikiran manusia sanggup memengaruhi dirinya. Sakit yang diderita seseorang kebanyakan berasal dari pikirannya. Makanya kita selalu disuruh berpikir positif ketimbang negatif supaya energi positif itu mampu memberika kesegaran bagi jasmani dan rohani. Ingat kan pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita juga sering dinasehati supaya jangan banyak pikiran. Banyak pikiran menyebabkan stress, kalau orang sudah stress maka banyaklah penyakit yang muncul: sakit kepala-lah, demam-lah, bahkan pada perempuan bisa mengganggu siklus menstruasi.

Lama saya memikirkan ramalan Nani. Apalagi dengan mencocokkan dengan kenyataan yang saya alami, cinta yang layu sebelum berkembang. Namun, lama-kelamaan saya menyadari bahwa segala kejadian yang terjadi dalam hidup saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ramalan Nani itu. Setiap orang harus menanggung beban-nya masing-masing. Beban itu yang akan membentuk karakter kita, kepribadian kita. Tanpa masalah dan pencobaan, manusia tidak bisa menjadi sebuah bejana yang indah. Beban dan cobaan itu yang memroses, menempa, dan membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Ingatlah bahwa hanya Tuhan yang mampu mengubah hidupmu dan berkuasa akan masa depanmu. Bahkan peramal paling sakti di dunia pun akhirnya mati, ia saja tak mampu mempertahankan hidupnya, mengapa kamu berpikir ia sanggup memengaruhi hidupmu?

Kita pun juga lebih suka mendengar sesuatu yang indah-indah ketimbang yang duka-duka. Pada konteks ramalan, kalau ramalannya bagus kita senang tapi kalau jelek kita tidak terima. Kita kadang lupa bahwa berita baik maupun buruk, anugerah atau bencana, adalah makanan kita sebagai manusia. Dalam segala sesuatu kita harus menerima pemberian-Nya dengan sukacita.Sendiri ataupun bersama dengan orang lain sama saja. Hidup harus dirayakan dengan tetap bersyukur.


Tidak bisa tidur dan menjelang hari Imlek
Gong Xi Fat Chai, xin nian kuai le

Life Story

Sliding Doors : Perkara 60 Detik

Kamis, Januari 23, 2014



Pagi itu cuaca cukup cerah di London. Helen pun bersiap-siap berangkat ke kantor. Ia menciumi pacarnya Gerry yang sedang tidur kemudian keluar rumah, membeli sandwich sebagai sarapan, dan akhrinya ia tiba di kantor. Rupanya ia sudah ditunggu oleh para koleganya dan bummm...ia dipecat. Seketika itu juga London menjadi tak ramah padanya. Ia melangkahkan kakinya dengan gusar dan masuk ke lift. Takdir rupanya menunggunya disana. Tak sengaja anting-antingnya jatuh dan seorang lelaki memungut dan mengembalikan padanya. Tak ada perkenalan. Hanya ucapan terima kasih.

Helen kemudian memutuskan pulang ke rumah untuk membenahi perasaannya yang tak enak. Ia memutuskan naik kereta api. Ia harus bergegas kalau tidak ia akan terlambat menaiki kereta yang menuju daerah apartemennya. Rupanya usahanya tidak berjalan mulus. Banyaknya orang hingga anak kecil yang menghalangi jalannya menyulitkan Helen sampai tempat waktu. Ia ketinggalan kereta. Hanya kira-kira 60 detik jika ia lebih cepat saja, ia akan sampai naik ke kereta tersebut.

Begitulah kira-kira adegan pembuka dalam film Sliding Doors (1998) yang dibintangi Gwyneth Paltrow. Selanjutnya, film ini akan menampilkan dua adegan: yang satu menggambarkan jalan cerita jika Helen naik ke kereta dan yang kedua jika ia tidak naik ke kereta itu. Persis seperti judulnya, alur film ini seperti pintu slide yang sering ada di rumah-rumah mewah. Kisah ini mengangkat tema mengenai takdir, apakah dua orang bertemu memang sudah digariskan demikian atau karena kebetulan. Dengan filosofi pararel universe sebagai nafas filmnya, cerita yang terjalin menjadi tidak biasa. Cenderung membuat kita mikir pada akhirnya. 

Film ini diproduseri sutradara kawakan Sydney Pollack dan disutradarai oleh Peter Howitt. Entah ini ada hubungannya atau tidak, seperti film Sabrina (1995) yang disutradarai Pollack, film ini termasuk kategori film romantis yang terkesan dingin meskipun bukan Pollack yang menyutradarainya. Jangan mengharapkan film ini akan seperti film-filmnya Gary Marshall atau Nancy Meyers yang penuh dengan aktor-aktor ganteng dan cantik serta backsound musik jazz yang manis (kecuali lagunya Elton John, Dido, dan Aqua yang jadi soundtrack di film ini). Kalau lebih diperhatikan lagi, film romantis Pollack memang lebih cenderung realistis dengan isi cerita yang lebih filosofis. Selain itu pemerannya juga lebih realistis, setidaknya bagi saya Gwyneth (meskipun dia mantan pacar Brad Pitt dan sekarang jadi istrinya Chris Martin) tidak bisa dibilang cantik-cantik banget. Selain itu, pemeran utamanya John Hanna yang memerankan tokoh James lebih banyak dikenal sebagai pemeran pendukung (ingat tokoh Jonathan di serial The Mummy?). Ke-biasa-an ini membuat kita yang menonton film ini seperti menonton kehidupan orang lain saja. 

***

Seusai menonton film ini saya jadi bertanya-tanya (diskusi ini sangat cocok jika ada Kak Emma), what if adalah pertanyaan paling pas untuk menerangkan kegundahan ini. Misalnya:

Saya janji ketemu dengan seorang kawan di sebuah cafe jam 7 malam. Atas kesepakatan itu, saya minimal harus berangkat dari rumah setengah jam sebelumnya. Namun karena sore itu hujan, saya terpaksa harus menunggu sampai reda. Untungnya ojek yang mengantar berhasil membuat saya hanya terlambat 15 menit dari waktu yang sudah disepakati. Saat memasuki cafe, saya berpapasan dengan seorang laki-laki kira-kira berusia enam atau tujuh tahun diatas saya. Ia sedang bersama seorang perempuan. Saya tidak terlalu memperhatikannya karena buru-buru harus menemui teman saya itu sedangkan laki-laki itu juga buru-buru masuk ke dalam mobilnya diikuti perempuan itu, sepertinya mereka baru pulang kantor karena laki-laki itu masih memakai setelan kerja, kemeja warna biru ke-abu-abuan yang digulung sampai siku. Perempuan itu juga mengenakan setelan blazer warna cokelat. Bersilanganlah kami. 

Saya akhirnya menjumpai teman saya itu. Untungnya ia mengerti keterlambatan saya karena persoalan cuaca. Kami memesan makanan. Saya memesan mie Penang sedangkan teman saya memesan satu set teriyaki. Saya kemudian ke tempat cuci tangan, entah ada angin apa saya terpeleset, untungnya di cafe sedang sepi. Saya bangkit sendiri dan kemudian menuju tempat duduk saya. 

Coba bayangkan jika saya datang setengah jam lebih awal.

Saya masuk ke dalam cafe. Rupanya malam itu tidak terlalu banyak orang, hanya satu keluarga dan pasangan yang sedang melahap makanan mereka yang hampir habis. Sepertinya pasangan itu baru pulang kerja karena laki-lakinya masih mengenakan setelan kerja, kemeja biru keabu-abuan yang lengannya digulung sampai siku sedangkan perempuanya mengenakan setelan blazer warna cokelat. Saya dan teman saya kemudian memesan makanan. Saya memesan mie Penang, teman saya memesan satu set teriyaki. Saya pamit pada teman saya untuk cuci tangan, disaat yang sama laki-laki itu juga menuju tempat cuci tangan. Kami sama-sama tiba di tempat cuci tangan. Namun, saya lebih duluan selesai. Entah ada angin apa, saya terpeleset. Laki-laki itu rupanya berbaik hati menolong saya berdiri. "Hati-hati mbak, lantainya memang agak licin", ia berkata sambil tersenyum. Akhirnya saya memperhatikan bahwa laki-laki ini tipe idaman gue banget. Ia kemudian kembali ke mejanya begitupun saya. Di masa yang akan datang, rupanya laki-laki ini adalah jodoh saya, pemirsa. Kami akan bertemu tiga atau empat tahun lagi. Soalnya saat ini, ia masih pacaran dengan perempuan itu #hiks.

Pararel universe memang konsep yang sedikit ngejelimet dengan persoalan waktu. Waktu adalah sistem yang membuat kita kabur untuk membedakan mana yang takdir dan mana yang cuma kebetulan. Namun, setelah menimbang dengan seksama, dalam konteks ini baik takdir maupun waktu adalah sistem yang berjalan tetap. Yang sering mempermainkan mereka adalah pilihan kita. Kitalah yang tanpa sadar mengacaukan sistem mereka. Kita adalah subjek yang menentukan apakah akan mengikuti sesuai sistem atau keluar dan berimprovisasi dari sistem. Mengapa saya harus menunggu hujan reda padahal saya bisa saja datang dengan menggunakan taksi?. Pada akhirnya, dari pertanyaan "what if..." kita akan berujung pada sebuah pernyataan "seandainya...".

Kita tidak sadar bahwa detik sekalipun sanggup merubah jalan cerita hidup kita. Ahhh...hidup manusia lebih rumit dari seluruh film di muka bumi dijadikan satu. 

Life Story

Who Will Be Your Future Husband?

Rabu, Januari 22, 2014

*pic google*


Ini adalah percakapan saya dengan Mbak Truly di waktu hujan sore-sore.

Meike : I have a vision since I was 15 that my future husband is an architect. An architect who love literature and music. Someone like Keanu Reeves in The Lake House with Le Corbusier and Paul McCartney inside his soul. 

Mbak Truly : I Have a vision too,  that my husband is a psychiatrist.

Meike : Hmmm....like Freud?

Mbak Truly : Like Jung.


Kesimpulan:

Mostly, we are like death men.

Life Story

The Theme Song

Rabu, Januari 22, 2014

*pic google*


Dalam salah satu episode serial Ally McBeal ada scene yang menampilkan Ally sedang mengikuti terapi pada seorang psikiater yang juga psikiaternya John, rekan kerjanya di firma hukum Fish & Cage. Sang psikiater menyarankan agar Ally dan John untuk melakukan terapi theme song. Mereka diwajibkan memilih lagu yang akan terputar hanya di pikiran mereka, lagu itulah yang menjadi theme song-nya ketika mereka akan memulai aktivitas atau menghadapi momen-momen penting. Tujuan terapi ini agar mereka merasa percaya diri, menjadi bersemangat disaat-saat genting, atau menghindarkan mereka dari mati gaya. Tentu saja lagu yang dipilih harus lagu yang ceria, punya beat yang membuat mereka mampu ikut bergoyang sekaligus merasa relax. 

Sebelum menonton film ini dan mengetahui tentang terapi theme song, saya juga sering mendengarkan lagu hanya di pikiran saya. Tiba-tiba saja ada lagu yang terputar secara otomatis dan hanya saya yang bisa mendengarnya. Efeknya saya bisa ikut bersenandung atau bergoyang, tergantung irama lagunya. Rupanya lagu juga bisa dipakai sebagai terapi (dalam kasus Ally dan John) dan meskipun saya tidak menggunakan lagu sebagai terapi, saya sepakat lagu mampu menggerakkan sesuatu dalam diri kita. Sebuah lagu...bayangkan hanya sebuah lagu, seseorang mampu melewati satu hari yang berat di hidupnya. 

Selain memiliki playlist dalam pikiran, saya juga seperti mesin otomatis lagu. Setiap ada satu kata yang terucap atau diucapkan orang lain dan itu related dengan sebuah lagu maka secara spontan saya akan menyanyikan lagunya. Misalnya, kalau membaca atau mendengar kata "Chicago" maka secara spontan saya akan menyanyikan salah satu lagu dari band Chicago, "If you leave me now...you'll take away the biggest part of me..uh uh uh uh...baby, please don't go...". Kebiasaan ini membuat saya dulu dijuluki Meike Jamil (mengikuti Saiful Jamil yang suka menyambung kata dengan lagu) oleh teman-teman kuliah saya dulu.

Apakah cuma saya yang memiliki kemampuan gramaphone otomatis dalam pikiran? setahu saya beberapa orang yang saya kenal juga memiliki kemampuan yang sama. Rata-rata mereka yang memiliki kemampuan ini menyenangi musik. Musik bagi mereka adalah korek api yang siap membakar sumbu di dalam jiwa mereka agar tangguh menghadapi hidup. Tapi saya pikir, besar kemungkinan semua orang memiliki kemampuan ini. Hanya saja mereka belum menyadarinya. Bagaimanapun musik yang teraplikasi dalam lagu-lagu yang kita dengar adalah karya estetika manusia. 




ps: sedang mendengarkan theme song saya, Marvin Gaye & Tammi Terrel - Ain't No Mountain High Enough. 

Life Story

Catatan Awal Tahun yang Terlambat

Selasa, Januari 21, 2014

Akhirnya saya sampai di momen ini. Momen dimana saya untuk sementara beristirahat dari perjuangan akademik. Perjuangan dimana ada tanggung jawab disana. Tanggung jawab atas berkat yang telah diberikan kepada saya. 

Saya rindu menulis. Menulis sesuatu yang saya sukai, tentang cinta dan kehidupan itu sendiri. Selama ini saya menulis sejumlah paper sebagai aktualisasi saya di dunia akademik. Tapi entah mengapa saya merasa menulis berubah menjadi sebuah beban. Otak saya harus bekerja dua kali lipat, pikiran saya harus jernih dalam menganalisa. Bukannya saya tidak suka menulis paper (saya suka kok, bagaimanapun itu adalah amunisi saya untuk ikut conference atau seminar-seminar nanti), yang saya maksud adalah menulis dengan rasa. Menulis tanpa merasa akan dinilai. Menulis paper menjadi beban karena saya tahu pada akhirnya tulisan saya akan dinilai. Dan karena ingin mendapatkan nilai terbaik, beban itu makin tambah berat, itulah yang membuat menulis jadi tidak menyenangkan.

Saya ingin kembali bercinta dengan tulisan-tulisan saya. Akhir-akhir ini, saya merasa semua nafsu menulis saya tidak tersalurkan dan hal itu membuat saya jadi uring-uringan. Saya iri pada orang-orang yang meski sibuk tapi masih tetap menyempatkan diri untuk menulis. Hari ini hari ke 21 di tahun 2014 dan saya bertekad untuk mengubah cara hidup saya yang lama: malas. Kemalasan yang sering akut ini benar-benar mengacaukan stabilitas kehidupan saya. Ini penyakit dan harus segera diobati.

Dalam rangka menunjang daya menulis, saya sudah membeli banyak buku sebagai amunisi, salah satunya buku berjudul Kopi Sumatera di Amerika karya Yusran Darmawan, senior saya di kampus. Tulisan-tulisan dalam buku ini sebagian besar sudah saya baca melalui blog beliau. Buku yang ditulis Kak Yus benar-benar seperti bensin yang membuat api dalam diri saya yang mulai redup jadi membara kembali. Mungkin kami berdua menapaki jalan yang berbeda, namun pengalaman beliau yang dituliskannya mampu memberi saya pelajaran dan pengertian tentang arti beradaptasi dan berjuang. 

Selanjutnya, saya berhasil meng-copy film dari warnet. Di Jogja, warnet masih melekat dalam sanubari anak mudanya. Salah satunya adalah karena warnet-warnet ini menyediakan stock-stock film sehingga orang tidak perlu capek mendonlot atau membeli kaset dvd. Bahkan kalau ke warnet, saya harus mengantri, bayangkan antri di warnet untuk copy film. Berhubung saya sangat suka film-film lama maka warnet menjadi surga bagi saya untuk mendapatkan film-film itu. 

Stock film-film saya ini membuat liburan saya menjadi menyenangkan. Film-film serial dari era 90-an seperti : Ally McBeal, Dawson's Creek atau dorama Jepang seperti Strawberry on The Shortcake, Long Vocation, Anchor Woman, Terms For A Witch, dan tak ketinggalan film-film romantis era 90-an sampai awal 2000-an dari Hollywood, Indonesia, sampai Asia lengkap tersimpan rapi di hardisk saya. Rasanya ingin cepat-cepat melahap semua film-film itu.

Untuk liburan semester ini saya memutuskan tidak pulang ke Makassar. Saya ingin menikmati Jogja dengan perasaan tenang. Jika ada rejeki saya ingin berkelana sembari mengeksplor pulau Jawa. Bukannya saya tidak rindu Makassar, tapi ada waktu dimana kita harus keluar dari rumah untuk mencari ilmu dan berkenalan dengan dunia luar. Singkatnya, saya ingin berpetualang. Dalam konteks ini, saya teringat kalimat lama," dimana tanah kupijak, disitulah rumahku."