Life Story

Mato'ko

Minggu, November 04, 2018

Fedora, Gunung Kidul

Untuk sampai berada disini, saya butuh waktu untuk menguatkan hati. Laili, Juni, dan Tami memberikan jawaban yang hampir sama. Saya harus pergi. Hal ini harus saya hadapi. Tidak mudah, tetapi ada pelajaran penting yang harus saya dapatkan meskipun caranya harus dengan menahan diri dari rasa teralienasi dan ketidaknyamanan. Mato'ko, begitu kata Juni. Orang yang bijak akan tetap bijak meskipun berulang kali ingin disingkirkan. Warna putih tetap putih. Kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dipindahtangankan.

Ya, saya mendapatkan banyak pelajaran sejauh ini, padahal baru beberapa jam saja saya bergumul dengan mereka. Saya belajar untuk lebih banyak diam. Saya belajar untuk mendengarkan. Saya belajar untuk mengamati. Hal ini tidak mudah karena biasanya saya yang mendominasi, biasanya saya yang paling banyak berbicara, biasanya lampu sorot hanya terarah kepada saya. Namun, kali ini, saya belajar menjadi bawahan, a follower. Laili benar, musuh kita adalah kebodohan dan keserahakan. Kita tidak takut, tetapi kita harus menghadapi ketidaknyamanan ini sebagai proses belajar supaya kita tidak mengulangi kekerasan yang terus terjadi. Tami bilang, kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak mudah untuk disingkirkan.

Sejauh ini, dalam diam saya mendengarkan hampir semua prasangka saya terbukti benar. Dalam diam saya menilai bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Dalam diam dan teralienasi, saya menemukan ketenangan untuk melawan. Diam adalah kata-kata itu sendiri. Diam adalah sikap. Saya berupaya membuktikan bahwa saya bukan pengecut. Saya berupaya melawan rasa ketidaknyamanan, bahkan mungkin trauma saya sendiri. Sebuah berlian, tetaplah berlian meskipun ia dicemplungkan ke dalam lumpur. Itu kata-kata senior saya, Kak Darma, dulu sekali. Kata-kata itu terulang lagi. Diingatkan melalui Juni. Kau harus pergi. Begitu katanya. Begitu kata mereka.