Sehimpun Puisi

Kursi Kosong

Rabu, September 22, 2010

Aku duduk dan menatap kursi didepanku,
Kosong...
Aku duduk...menatapnya lama...
Berharap ada seseorang yang duduk disitu
Tapi tidak ada siapapun
Kursi itu kosong
Aku mengerdip berkali-kali
Mengucek kedua mataku sampai sakit
Tapi tidak terjadi apa-apa
Kursi itu tetap kosong...
Kapan ?

Sehimpun Puisi

Unexpectedly

Kamis, September 16, 2010

You come to me with unexpectedly way
Slowly....quiet...and gentle
Make me angry and silly in the same time
You got me on my knees

You come to me with unexpectedly way
mysteriously...warm...and cozy
Make me feel like a princess who met her prince charming
You've got me thinking of you

You come to me with unexpectedly way
on April summer breeze and serendipity charm
Now I see something it's happen
You already have my heart

You come to me with unexpectedly way
You know everything about me
Everything that I love and hate
You can see what's inside me
You know my body scent
You read my words
And you listen everything that I say

You come to me with unexpectedly way
You treat me gently
I feel it for you in the blue night
Finally you come
And please don't break my heart

Love Story

"daripada padam lebih baik menyala "

Rabu, September 15, 2010

MK : Mengapa perempuan bisa dengan begitu mudahnya jatuh dengan laki-laki yang memperlakukan mereka secara berbeda. Lewat kata-kata, perhatian, atau bahkan hadiah? Walau mungkin saja si Lelaki tidak bermaksud apa-apa hanya mencoba bersikap baik demi sesama manusia ?

IS : Begitulah perempuan selalu jatuh dengan perasaannya sendiri.

MK : Lalu naasnya, si Lelaki mungkin juga cuma ingin "bermain" saja dengan perempuan ini, tidak serius dan tidak ingin berkomitmen dengannya. Si Perempuan digantung. Dibuat bimbang, blingsatan tidak jelas, rindu-rindu cinta, dan kadang-kadang menangis meminta Tuhan memberinya kepastian.

IS : Lalu kemudian perempuan ini menyadari jika ia dibuat patah hati. Jatuh dan berusaha bangkit lagi

MK : Tega ya ada laki-laki yang seperti itu. Jahat !

IS : Perempuannya mungkin juga yang ke-GR-an

MK : Tapi perempuan mana yang tidak meleleh jika diperlakukan selembut itu ?

IS : Iya juga. Laki-laki seperti selalu 2 langkah di depan dibanding perempuan.

MK : Dimana kah laki-laki yang benar-benar sepenuh hati mencintai perempuan ini ? Jangan- jangan Cinta cuma mitos..

IS : Tapi tanpa laki-laki seperti itu, perasaan perempuan akan mati. Mereka-lah yang selalu menyalakan api itu. Membuat perempuan hidup walaupun harus terluka.

MK : Benar juga. Tidak enak merasakan kosong.

IS : Hampa

MK : Daripada padam lebih baik menyala

IS : Supaya tetap hidup dan bercahaya

Special Moment

Dia, Mbak Pipi

Kamis, September 09, 2010

Hari ini 9 September 2010, dia berulang tahun yang ke- 19 tahun. Kuucapkan banyak doa untukmu. Seorang sahabat baru yang datang menghiasi hari-hariku. SELAMAT ULANG TAHUN, ALVIDHA SEPTIANINGRUM SASTROMIHARDJO

Pertama berjumpa dengannya saat kami, para mahasiswa baru komunikasi 2009 Unhas, datang ke rumah kecil yang akhirnya menjadi rumah kami di kampus : "KOSMIK". Pengumpulan. Ya, kami selalu menyebutnya pengumpulan. Alvidha adalah maba terakhir yang kukenal dari pengumpulan itu. Sebelumnya, aku sudah mengenal Titah, Widy, Chiko, Gina, Ratna, Daniella, Bang Ian, Bang Tyar, dan Ari. Sebagian dari teman-teman angkatanku yang datang ke korps hari itu. Perkenalan kami terjadi ketika bersama-sama akan meminta tanda tangan Dekan. Dia menyebutkan namanya adalah Vivi. Namun saat masuk kampus, dia mengatakan panggil saja Pyonk dan semua orang di kampus pun memanggilnya demikian. Tapi tahukah kalian, asal muasal nama "Pyonk"? Menurut ceritanya "Pyonk" adalah nama yang diberikan oleh sahabatnya sejak kecil, Annis. Sejak saat itu semua orang yang mengenalnya memanggil Alvidha dengan nama Pyonk. Jadi, sebetulnya Annis-lah biang kerok dibalik nama "Pyonk" ini.

Kami berteman, saling bercerita, melewati banyak kejadian bersama, dan merasa cocok satu sama lain. Kali berikutnya bersama Titah, aku memanggilnya Mbak Pipi. Itu adalah nama panggilannya di rumah. Aku pun merasa panggilan itu lebih akrab. Dan Alvidha menyukainya. Katanya ia merasa "bersaudara" dengan orang yang memanggilnya "Mbak Pipi". Menurutku panggilan "Mbak Pipi" lebih homey.

Mbak Pipi setelah lebih kukenal ternyata memiliki banyak kesamaan denganku walaupun tentu saja perbedaan pun mengikutinya. Kami berdua sama-sama tinggal di daerah Toddopuli. Itulah yang membuatku sering datang atau pulang bersama-sama dari segala tempat bersamanya. Kami sama-sama suka Queen. Walaupun Mbak mengaku anak metal. Lalu wajah innocent-nya membuat orang berpikir Mbak pasti perempuan pendengar band manis macam Vierra. Tidak! Mbak anak punk sejati. Lalu kami berdua sama-sama bertubuh berisi kalau tidak mau dibilang gendut. Tapi gendut-gendut seksi ya. Kami juga suka membaca. Mbak suka baca komik sementara aku suka baca novel. Kami juga sama-sama menyukai laki-laki yang mirip dengan ayah kami serta yang berpostur lebih tinggi dari kami. Mbak tidak suka makan bakso sedangkan aku-lah yang selalu menghabiskan jatah bakso-nya. Mbak suka Jude Law dan Brad Pitt. Aku juga, namun lebih mencintai Johnny Depp, Keanu Reeves, dan Robert Downey, Jr. Kami juga berbeda selera antara Fofo Saroaatmadja dan Marty Natalegawa (gambaran potensial suami idaman ) tapi kalau lebih muda sedikit kami sama-sama memilih Winky Wiryawan.
Tahukah kalian, bahwa banyak orang yang mengatakan kalau aku dan Mbak adalah anak kembar ? Ya. Mulai dari teman-teman seangkatan, para senior, hingga dosen yang suka mengira kami saudara kembar atau suka salah menyebut.

coba tebak yang mana Mbak yang mana Meike disini ?



Mbak Pipi adalah sahabat yang enak diajak bicara apa saja. Dia adalah salah satu teman curhatku. Jika aku sudah mulai mellow tidak jelas, Mbak Pipi akan membalikkan hal-hal negatif yang kupikirkan dengan hal-hal positif yang tidak pernah kupikirkan sama sekali. Ia selalu membangkitkan api semangat-ku yang mulai redup. Ia punya persediaan "minyak tanah" untuk membuatku terus menyala. Begitu pun sebaliknya. Aku selalu memberinya motivasi jika ia sudah tidak konsisten dan malas dalam melakukan aktivitasnya atau memberinya penghiburan kalau ia sedang merasa sedih. Kami saling menguatkan. Kami saling menopang.

Mbak Pipi memiliki ketertarikan yang besar pada desain dan periklanan. Saat mengikuti workshop periklanan KPP Kosmik, ia yang paling terlihat antusias. Menurutku, disitulah minat, bakat, bahkan jiwanya berada. Ia pun juga sudah mulai menerima order desain dari orang-orang bahkan ada yang dari luar kota. Waktu ulang tahunku yang ke-19 kemarin dia membuatkan tiga gambar desain sebagai kado. Mendesain membutuhkan imajinasi serta kemampuan teknik, dan ia memiliki keduanya. Kami sering juga bertukar ilmu. Kami saling mengajari dengan kemampuan yang kami miliki masing-masing. Aku masih tidak menyangka ocehan panjang lebar-ku tentang paham feminisme ia dengarkan dan bahkan menjadi hal yang mulai mempengaruhi hidupnya.

Satu hal yang membuatku betah berlama-lama dengan Mbak dan mungkin bagi kami berdua
adalah fakta bahwa Mbak Pipi mirip dengan Mommy-ku. Serius. Mbak mirip dengan Mommy bukan secara fisik maksudku. Tapi lewat sosok dan pembawaannya, ia selalu mengingatkanku pada Mommy. Di samping itu, ada fakta bahwa mereka berdua memiliki silsilah keluarga yang sama. Mommy dan Mbak adalah anak tengah dari tiga bersaudara dengan kakak laki-laki dan adik perempuan. Kurang lebih mereka punya feeling yang sama. Begitupun dengan Mbak Pipi. Jika ia memotretku ia selalu mengatakan kalau aku mirip Mamanya waktu muda.

Dimanapun dia berada, sosok Mbak Pipi selalu dinantikan. Keberadaannya membuat orang lain ceria. Ia sosok pribadi yang kocak dan menyenangkan. Tapi jangan sekali-kali membuatnya marah. Tiada maaf bagimu! hehe...piss Mbak :p
Ia selalu menjadi "somebody" dimana pun dia berada. Tahukan kalian juga, kalau ternyata aku dan Mbak Pipi dihubungkan oleh orang-orang yang sama-sama kami kenal ? Sehingga kami sering saling celetuk " Ih..kau kenal juga dia ? " atau " Ihh..dari mana kau kenal si anu ? "
Kami sama-sama anak gaul rupanya. hahahaaa...

Senang bisa mengenalmu Alvidha, sepertinya takdir kita harus saling mengenal dan bersahabat. Kita berdua sama-sama dua kepiting yang melawan dunia. ^^

Kisah Perempuan

Kalau Cinta Mesti Dipukul Ya...?

Senin, September 06, 2010

Sebenarnya ini adalah pertanyaan lama yang masih terendap untuk ditanyakan. Kebingungan dan keprihatinan yang muncul ketika saya menyaksikan dua sejoli atau katakanlah orang yang sedang berpacaran yang seolah-olah dunia adalah milik mereka berdua, kadang-kadang melakukan kekerasan terhadap pasangan mereka sendiri.


Kejadian ini sering saya saksikan. Pertama kali menyaksikannya ketika saya masih SMA. Saat itu, saya ingin membeli majalah remaja edisi terbaru. Untuk sampai ke kios majalah langganan di jalan Hertasning, saya harus naik becak. Maka dalam perjalanan itulah saya menyaksikan dari arah seberang, berdiri dua sejoli. Mereka sepertinya berhenti di pinggir jalan ini untuk bertengkar. Karena terparkir sebuah motor tak jauh dari pasangan ini. Si Perempuan sedang menangis dan si Lelaki berteriak-teriak penuh kemarahan. Ia memukul kepala si Perempuan dengan helm standar hingga si Perempuan terjungkal ke belakang. Tangis Perempuan itu semakin pecah. Saya tidak sempat menyaksikan kelanjutannya lagi karena becak yang saya tumpangi terus berlalu. Tapi saya masih sempat menoleh ke belakang dan melihat sudah ada beberapa orang lelaki yang sepertinya penjual buah dekat tempat itu yang berusaha melerai.


Lain tempat lain juga kejadian. Saat itu saya sedang berboncengan dengan seorang teman. Kami melintas di jalan Cendrawasih. Saat sedang melaju itu, kami melihat di sisi jalan raya banyak dikerumuni orang. Teman saya lalu memelankan motornya. Kami melihat seorang perempuan dan seorang lelaki bertengkar. Si lelaki menampar pipi perempuannya. Usianya agak setengah baya, jadi kami berasumsi bahwa pasangan ini adalah pasangan suami-istri. Si Perempuan kemudian berlari menghindar sambil berteriak-teriak, lalu si Lelaki memburu Perempuan itu dan memakinya dengan kata-kata kasar. Tak cuma memaki si Lelaki juga menarik kasar tangan perempuan itu dan menyeretnya entah kemana. Kami tak menyaksikan lebih lanjut karena teman saya terus melajukan motornya.

Terakhir saya melihat hal yang sama terjadi di kampus. Saat itu sore hari, saya duduk-duduk di gazebo dekat parkiran fakultas untuk menunggu Ibu saya menjemput. Posisi saya waktu itu saling berbelakangan dengan pasangan yang tampaknya sedang bertengkar. Mengapa saya bilang demikian, karena si Perempuan memohon-mohon kepada kekasihnya untuk tidak meninggalkannya. Sedangkan sang Lelaki, dengan ketus malah mencaci si Perempuan. Lalu dengan ekor mata saya melihat si Lelaki menoyor kepala si Perempuan. Bukannya, melawan si Perempuan malah menangis terisak-isak. Langsung saja saya pergi dari tempat itu dan lebih memilih menunggu di halte. Saya tidak tahan melihat kejadian itu serta merasa tidak berdaya untuk menolong.

Sebuah pertanyaan lalu terlintas di benak saya “Kalau cinta mesti dipukul ya ? ”

Bagaimana tingkat kekerasan rumah tangga tidak tinggi kalau dalam tahap pacaran saja kekerasan itu sering terjadi. Lalu perempuan-perempuan ini juga begitu lemahnya menerima sikap kekerasan itu. Saya tidak mau menjadi hakim, karena saya toh juga tidak mengetahui alasan “mereka-mereka” yang saya lihat kejadiannya di atas itu bertengkar. Tapi sepantasnya, kekerasan secara fisik ataupun mental tidaklah layak kita berikan kepada sesama manusia.

Please, jangan sakiti Perempuan. Saya tahu Laki-Laki melakukan begitu banyak pengorbanan untuk mendapatkan perempuannya. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, Perempuan yang Laki-Laki cintai tidak untuk disakiti.

Yang Perempuan juga jangan menyakiti dan semena-mena terhadap Laki-laki ya….

Semuanya harus seimbang demi terciptanya kedamaian.


NB : Tulisan ini juga dipost di Kompasiana dan menjadi Headline

Love Story

Tentang Aku dan Hujan

Senin, September 06, 2010

Hujan.
Yah, sebuah fenomena alam yang sering kita alami. Bahkan mungkin bagi Indonesia, hujan sudah disahkan menjadi musim. Dan setiap dari kita pasti memiliki cerita tentang hujan. Hujan dan kenangan.

Hujan selalu hadir. Bahkan tahun ini ia tidak mengenal waktu. Hujan turun tiap bulan. Saya pernah bertaruh dengan Kak Yudha kalau hujan tidak akan turun di bulan Agustus. Berdasarkan pengalaman saya selama tinggal di Makassar, Agustus masuk ke musim kemarau atau panas. Tapi Kak Yudha dengan santainya mengatakan bahwa hujan pasti akan turun di bulan Agustus. Faktanya, hal itu terjadi. Saya kalah taruhan tidak tahu kapan harus menepati janji kepada si Kakak.

Seperti saya bilang, Hujan selalu punya cerita untuk setiap orang. Para petani akan bahagia jika hujan turun. Itu artinya mereka akan mengerjakan sawahnya dan mulai siap-siap untuk memanen. Hujan bagi anak sekolah memiliki dua arti. Pertama, sebagai ajang di saat kita bisa tidur pulas dan malas datang ke sekolah. Kedua, adalah

musibah jika berangkat ke sekolah. Selain pasti bangunnya terlambat (tidur sangat enak saat hujan di pagi hari kan?) tentunya transportasi ke sekolah akan sulit. Apalagi kalau hujan keras. Saya selalu benci keadaan dimana hujan turun saat saya berangkat ke sekolah.

Saat membaca blog-nya Alvidha tentang romantisnya hujan. Saya sependapat dengannya. Hujan selalu membawa kesan melankolis. Dimana seolah-olah langit menangis. Entah karena bahagia atau sedih. Tanyakan saja pada langit, dan akan dibalas dengan suara guntur atau cahaya kilat. Seolah-olah langit mengerti apa yang kita katakan.

Hujan pernah membuat sebuah kenangan untuk saya. Saya menyebutnya November Rain seperti judul lagunya Guns'n Roses. Saat itu kejadiannya di bulan November. Di saat itu saya menyadari bahwa kisah saya hampir mirip dengan novel yang juga sudah di film-kan "Cintapuccino". Saya persis Rahmi yang mengalami November Rain dengan Nimo-nya. Itulah sebabnya saya menyukai lagu Hujan yang dinyanyikan Utopia.

Satu-satunya hal yang suka dari Hujan adalah suasana setelah hujan turun di sore hari. Bau khas yang membuat hati saya tenang. Dingin tapi menyejukkan. Saya bahkan punya fantasi sendiri dengan suasana setelah hujan di sore hari. Dan setiap membayangkannya saya selalu tersipu malu.


"..Aku selalu bahagia saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri..." (Hujan - Utopia)

Kisah Perempuan

Mana Lebih Kejam Fitnah atau Pembunuhan ???

Sabtu, September 04, 2010

Ekstrim sekali judulnya ya...hehehe....

Ada sebuah pameo dalam masyarakat kita : " fitnah lebih kejam daripada pembunuhan". Kalau dipikir-pikir memakai logika, pembunuhan memang tidak sama dengan fitnah tapi artinya hampir sama. Pembunuhan adalah menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja. Sedangkan fitnah adalah membuat sebuah pemberitaan tidak benar mengenai seseorang untuk membunuh karakternya. Misalnya, bikin gosip yang tidak baik atau mengarang cerita yang tidak benar tentang seseorang demi kepentingan sendiri padahal cerita atau gosip yang dibuat itu bisa merugikan orang yang difitnah. Efek dari fitnah itu diantaranya : orang-orang menjauhi individu yang menjadi korban fitnah, korban fitnah jadi susah untuk dipercaya lagi, atau parahnya didiskualifikasikan dari pergaulan.

Intinya antara membunuh dan memfitnah itu sama. Sama-sama "membunuh" orang. Pembunuhan adalah membunuh secara fisik sedangkan fitnah adalah membunuh citra seseorang.

Dua-duanya tidak mengenakkan. Dua-duanya kejam. Dua-duanya sama tidak baiknya.

Lalu bagaimana jika yang melakukan fitnah adalah orang yang kita kenal dengan baik? Bahkan mungkin dikatakan seorang teman. Seorang sahabat. hmmmm rasanya pasti menyakitkan. Sungguh tega !
Bahkan apabila dia tahu kondisi batin subjek yang difitnah itu. Sepertinya orang-orang itu lebih cocok jadi binatang daripada jadi manusia.

Sekarang saya mengerti bagaimana kondisi batin para janda kembang. Janda kembang yang selalu diidentikkan sebagai pengganggu suami orang atau perusak rumah tangga nomor satu. Atau mungkin para single ladies yang sering dicemburui oleh para pacar teman-teman laki-lakinya. Orang-orang yang selalu dijadikan kambing hitam untuk menutupi diri dari rasa cemburu berlebihan.

Kenapa harus janda atau single ladies ? Ya iyalah, karena peremuan-perempuan ini tidak punya suami atau pacar yang bisa membela dan melindungi mereka. Jadi, bisa saja dijadikan kambing hitam. Diperlakukan seenaknya. Coba seandainya mereka tidak sendiri. Ingat film Bridget Jones Diary's 2 ? Bagaimana Mark Darcy berusaha mati-matian membebaskan Bridget yang ditahan polisi Thailand gara-gara tas-nya dimasukkan narkoba.

Para janda dan single ladies tidak memiliki Mark Darcy yang akan membela dan melindungi mereka mati-matian. Tapi Kami punya Kekasih Agung yang mencintai kami apa adanya. Pelindung nomor satu yang tidak pernah tidur. Kami mempunyai Tuhan yang tidak buta. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Tahu.

Kami punya Tuhan yang bisa melihat iblis yang menyamar menjadi malaikat.