Review Film

Whiplash & La La Land

Jumat, Januari 27, 2017




Damien Chazelle memiliki keresahan. Keresahan itu hanya bisa dirasakan pecinta musik Jazz. "People wonder why Jazz is dying" adalah keresahan Damien yang ia titipkan dalam karya-karyanya. Teks ini muncul dua kali di film Whiplash (2014) melalui tokoh Terence Fletcher dan La La Land (2016) yang diwakili tokoh Sebastian. Damien sendiri yang menyutradarai, menulis skenario, dan menyumbang sedikit untuk penataan musik dalam dua film ini. Damien hampir seperti Woody Allen tanpa Freud dan Kierkegaard. Proses produksi kedua film ini memang matang. Tidak mengherankan, bila kedua film ini mendapat nominasi dan penghargaan di ajang-ajang apresiasi film di Hollywood. 





Banyak orang melihat kedua film ini tentang tentang cinta dan pengorbanan. Tentang usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai cita-cita dan mimpinya. Ketika kita menonton dua film ini secara berurutan, Damien ingin bilang bahwa kita sekarang krisis generasi yang menjaga dan menghidupkan kebesaran suatu warisan hebat di masa lalu, seperti hutan hujan tropis yang dibakar di Kalimantan atau pegunungan kapur untuk meresap air yang terancam menjadi bahan baku pabrik semen. Generasi ini bukannya tak kreatif, tapi justru apatis dan pragmatis. 

Sebagai pecinta musik Jazz, Damien gelisah bahwa musik yang besar itu perlahan-lahan kehilangan pendengarnya. Jazz adalah "tangisan" dan "teriakan" atas penindasan. Musiknya berbicara tanpa perlu ada lirik. Musik yang besar itu menjadi picisan dengan musisi-musisi jazz baru yang tak lagi bersuara untuk "penindasan" tapi demi industri rekaman. Jazz memang tidak untuk semua orang karena untuk mendengarnya kamu harus mengenalnya dulu. Untuk mengenal Jazz, kamu harus membuka hati. Tetapi, bagaimana Jazz dapat bertahan bila tak ada lagi "teriakan" dan "tangisan" itu? Bagaimana mungkin Jazz dapat didengarkan jika para pendengarnya seperti robot? 

Jazz berbicara tentang perasaan. Dan perasaan sekarang menjadi basi.

Cerita Lagu

"Di Radio Aku Dengar Lagu Kesayanganmu"

Jumat, Januari 27, 2017

*photo: tumblr*



Gombloh tahu pasti bahwa mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman yang istimewa. Ia mengabadikannya sebagai lirik pertama dalam lagu “Kugadaikan Cintaku” -lagu yang legendaris itu- untuk membuat kita –generasi hari ini- belajar menghargai insting dan rasa. Setelah buku, radio adalah media yang memberikan kita kesempatan untuk berimajinasi. Suara-suara itu menyapa kita. Menjadi teman yang mengajak berdialog. Mendengarkan lagu di radio adalah bagian dari dialog itu. Suatu kemewahan yang tidak disadari ketika teknologi sudah semakin canggih. Dan kita hampir lupa, bahwa pernah di suatu masa, radio adalah ruang rindu, tempat para pecinta berkumpul. 

 *** 

Seminggu belakangan ini saya kembali mendengarkan radio. Saya lelah dengan tayangan-tayangan dan berita-berita yang ada di TV maupun di media jejaring sosial yang penuh sengkarut persoalan. Saya sama sekali tidak bahagia mengonsumsinya. Lantas saya memutuskan kembali pada radio sebagai salah satu alternatif katarsis. Kamu bertanya kenapa? Hmm…mungkin secara genetik, radio sudah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Mami saya berprofesi sebagai penyiar, maka sejak dalam kandungan saya sudah akrab dengan radio. Saya menyaksikan sendiri betapa rumitnya sistem radio, mulai dari era manual sampai digital. Saya menjadi saksi dari kegilaan fandom terhadap penyiar-penyiar radio. Saya mengenang masa-masa itu sebagai masa-masa terbaik. Musik-musik hebat masih lahir di zaman itu.

Di masa kejayaan radio, orang masih mau berinteraksi dengan akrab dan intim, bukan hanya selintasan dan berlalu begitu saja. Orang masih ingin terhubung satu dengan yang lain. Entah dengan berkirim salam atau menantikan sandiwara radio sambil tak sabar mengikuti kuisnya. Khusus untuk acara kirim salam, menunggu dengan harap-harap cemas adalah kesenangan tersendiri. Apakah si Fulan akan mengirimkan salam malam ini? atau tiba-tiba kita mendengar pesan dari si Anu yang ternyata sudah jadian dengan si Barbie. Yang lucu kadang ada yang mengirim pesan seperti ini,"Dari Donna di Kotabaru, lagunya Jika- Melly ft Ari Lasso, lagunya buat yang merasa aja..."HAHAHAA. Hal yang paling penting, sejauh ini radio masih menyajikan informasi yang beragam, netral, dan berimbang. Beritanya tidak sampai bikin kepala sakit atau naik darah. Bagaimana mungkin kamu bisa marah? jika setelah berita harga bawang naik, Ike Nurjanah menyanyikan lagu Terlena.

***

Bagi saya, mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman istimewa, tanpa mereduksi pengalaman mendengarkan lagu di music player yang sekarang sudah mudah, canggih, dan ekonomis. Hanya saja, debar-debar itu tidak ada. Mendengarkan lagu di radio seperti ketika kamu sedang naksir dengan seseorang di sekolah. Pertemuan tak terduga dengannya di kantin atau lapangan basket adalah momen yang membuat hatimu berbunga-bunga. Ketidakterdugaan yang membuat mendengarkan lagu di radio menjadi romantis. Ketika kamu mendengarkan lagu melalui music player semuanya sudah terprediksi, tidak ada lagi kejutan. Kamu tidak akan senyum-senyum dikulum ketika tiba-tiba mendengarkan Rossa menyanyikan Nada-Nada Cinta atau merasa de javu sewaktu mendengar Leon Haines Band menyanyikan For You To Remember. Mendengarkan radio juga seperti pengalaman yang sinematik, bisa di kamar saat hujan turun, di perjalanan ketika menuju tempat rekreasi, di tempat perbelanjaan, di warteg depan Kos, atau pas menunggui ban motor yang sedang ditambal. Lagu-lagu yang diputar di radio dapat menambah referensi musik kita atau kalau kita beruntung justru membangkitkan kenangan lama. Kamu terkejut bahwa memori itu masih ada atau bisa saja merasa heran bahwa getar-getar yang dulu pernah dirasakan untuk seseorang saat mendengarkan lagu itu ternyata bisa pudar. Satu lagu ternyata bisa tumpang tindih dengan kenangan-kenangan yang berbeda dan dengan orang-orang yang berbeda pula. Saya juga akhirnya paham mengapa lirik kedua yang ditulis Gombloh adalah, “kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku?”. Radio membuat kita "mencari". Sore itu, radio yang saya dengarkan memutar lagu Born to Make You Happy-nya Britney Spears. Saya langsung teringat sahabat saya Tirta, yang sekarang tinggal di kota seberang dan sudah hampir dua tahun tak berjumpa. Ia adalah fans fanatik Britney Spears dan sangat suka dengan lagu ini. Saya sekonyong-konyong menghubungi dia, “Tir, lagumu diputar di radio…!!!” 

Sayangnya, mendengarkan radio bukan perkara sepele. Ia datang dari zaman dimana untuk meraih sesuatu itu tidak mudah. Jika di music player kamu hanya tinggal mengetik lagu yang kamu inginkan, maka untuk radio kamu harus tabah mencari frekuensi yang tepat. Ini belum lagi gangguan kresek-krusuk karena gelombang sangat mempengaruhi kejernihan suara. Menemukan stasiun radio yang memutar lagu-lagu yang sesuai dengan selera adalah seperti mencari jodoh. Faktor lainnya, tentu saja penyiarnya. Penyiar adalah Lee Min Ho di drama-drama Korea yang kamu tonton. Suaranya (dan ini sangat relatif) adalah ketertarikan seksual. Isi pembicaraan si Penyiar adalah kepribadiannya. Penyiar adalah salah satu faktor yang membuat kita betah mendengarkan suatu program radio, setia mendengarkan radio itu juga. Pernah suatu hari Mami bilang, setiap kali ia mendengarkan lagu If Tommorow Never Comes-nya Ronand Keating, ia selalu terkenang masa-masa sebelum ia meninggalkan Pro 2. "Itu tidak mudah untuk saya," ujarnya. Beberapa hari belakangan ini si Mami juga ikut mendengarkan radio yang saya putar. Setiap kali ada lagu yang familiar atau ia sukai, ia menjerit kegirangan. Tempo hari Mami bilang kalau nanti ia pensiun, ia akan membeli seperangkat pemutar stereo yang canggih dan records yang ia inginkan. Ia berencana menikmati hari tuanya dengan mendengarkan musik. Saya tertawa terbahak-bahak,” Mam, dimana mau beli CD-nya? Disc Tarra disini sudah pada tutup kali..”. Mami saya kaget. Ia tidak percaya. 

***

Malam itu hujan keras. Saya masih mendengarkan radio yang sama sejak tadi siang. Penyiarnya bersuara bariton yang manly dan ia sedang memutar lagu-lagu Indonesia tahun 80-an. Saat membacakan request-an pendengar, ia terkenang masa lalunya dan suaranya bergetar menahan haru. Saya tertegun, tak peduli gendermu apa, ketika melodi menyentuh hatimu, kamu lebur di dalamnya. Suara pintu depan terbuka. Mami baru saja pulang dari kantor. Beberapa saat kemudian, Ia masuk ke kamar saya bersamaan dengan terputarnya lagu The First Cut Is The Deepest versi Rod Stewart di radio. Saya dan Mami bercakap-cakap sebentar, lalu entah siapa yang duluan menginisiasi, kami sudah berpelukan dan berdansa. Rod Stewart terus bernyanyi dan kami juga ikut bernyanyi. Kami bahagia sekali malam itu hingga tanpa sadar kami menangis haru. Ketika mendengar lagu ini di suatu hari nanti, saya akan mengenangnya sebagai salah satu malam yang romantis antara saya dengan Mami. Tidak ada kata-kata berbunga yang mampu mendeskripsikan perasaan kami malam itu. Kami percaya, kami mengalami momen magis. Momen indah yang takkan terlupakan sampai kapan pun. Kisah ini akan selalu diceritakan sebagai kenangan manis. 

Dan semua itu karena sebuah radio.




Pengetahuan

Ber-Kindle-ria

Kamis, Januari 12, 2017



We are three awesome people who read a lot, yet we cannot resist new technologies. Forgive us, dear paperbook. 


A.M.S. 

Life Story

Kupu-Kupu Malam

Kamis, Januari 05, 2017

photo: http://manualdaloucaresolvida.blogspot.co.id/



Malam ini saya dan Satky ngobrol manja via whatsapp tentang banyak hal, termasuk ASEAN Community. Tentu saja, ASEAN Community yang kami bahas tak selalu intelek, kebalikannya justru kami akan teringat berbagai peristiwa konyol ketika kami KKN. Tahun 2012, saya dan Satky sama-sama menjadi mahasiswa KKN Internasional angkatan pertama di perbatasan Malaysia-Thailand, tepatnya posko kami terletak di Kedah. Nah, ASEAN Community ini menjadi topik empu yang didiskusikan bersama dengan para mahasiswa di Universiti Utara Malaysia. Setelah KKN berakhir, dalam kurun waktu 2012-2015, hingga ASEAN Community benar-benar terjadi, kami berdua lebih banyak menggunakan kata itu untuk mencibir sesuatu yang tidak kami senangi sebagai guyonan sarkastis. Tapi yang namanya cibiran bukanlah perbuatan yang baik, anak muda. Guyonan kami itu ternyata berimbas karma. Satky menjadi dosen Hubungan Internasional yang sekarang sibuk mengurus akreditasi standar ASEAN akibat pengaruh ASEAN Community sementara saya secara tidak terduga menjadi peneliti muda di pusat studi tentang Asia Tenggara yang pasti akan membahas ASEAN Community. 

Perbincangan mengenai ASEAN Community selalu menghantarkan pada salah satu pengalaman ketika kami berkunjung ke Thailand Selatan, tepatnya di Hatyai. Setelah seharian melakukan kunjungan lapangan kesana-kesini, anak-anak memutuskan mencari hiburan. Karena anak-anak laki-laki banyak ingin menonton Thai Girl Show, maka kami terpaksa menuju kesana. Rupanya klub Thai Girl Show yang didatangi berbeda dengan diimajinasikan (waktu itu saya pikir kita akan menonton Tiger Show), bisa dipastikan terkejutnya saya ketika dibawa ke tempat dimana perempuan-perempuan menjadi obyek laki-laki. Tentu saja tak gratis masuk kesana. Kami patungan 300 Baht per orang. Mengetahui kenyataan itu, sebagian besar dari kami memutuskan pergi darisana dan memilih jalan-jalan ke pantai, sementara sebagian besar lagi memutuskan tinggal. Satky adalah satu-satunya laki-laki yang memutuskan ikut rombongan ke pantai sementara saya dan dua teman perempuan yang lain memutuskan tinggal demi rasa penasaran.

***

Klub itu tidak terlalu besar, mungkin hanya bisa menampung 50-70 orang. Di sudut yang diberi lampu sorot (mirip dengan panggung untuk stand up comedy), seorang perempuan masuk dengan mengenakan pakaian minim, ia lalu striptease. Percayalah, pertunjukkan itu sangat tidak sebanding bila dibandingkan adegan striptease-nya Demi Moore di film Striptease. Saat itu saya menyadari bahwa selain rombongan kami yang sekitar 15 orang, ada beberapa tamu laki-laki yang juga berada disitu. Malam itu tidak terlalu ramai, mungkin juga karena baru pukul 9 malam. Kami bertiga hanyalah pengunjung perempuan disitu. Perempuan-perempuan yang lain bukanlah pengunjung. Mereka punya tugas untuk menemani para tamu, dipeluk dan diajak ngobrol entah apa. Tak lama setelah perempuan pertama striptease, muncul perempuan kedua. Wajahnya manis, masih belia. Ia juga mengenakan pakaian super minim dan menari-nari menggoda. Saya memandang perempuan itu dengan sedih. Ia seharusnya berada di dalam rumah, belajar, atau membuat PR. Tapi malam ini ia bekerja demi menyambung hidupnya. Hal ini yang pula memiriskan hati adalah karena uang yang didapatnya tentulah tak seberapa karena akan dipotong oleh pemilik klub dan petugas keamanannya. Pendapatan mereka total akan bergantung pada kebaikan hati para tamu. Perempuan cilik itu masih meliuk-liuk. Sepatu hak tinggi bling-bling ukuran 12 cm yang dipakainya terlihat longgar. Teriris hatiku melihatnya. Kelak saya akhirnya tahu kalau pertunjukkan Thai Girl Show lebih akrobatik daripada pertunjukkan malam itu. 

Meskipun pertunjukkan itu masih berlangsung, tetapi teman-teman laki-lakiku menyuruh kami bertiga perempuan yang ada disitu untuk segera pulang. Mereka tak nyaman ketika kami berada disitu disaat mereka mulai memesan bir tower dan beberapa diantara mereka sudah duduk berdempetan dengan perempuan. Dalam kesedihan dan kejengkelan, saya membayar minuman cola yang kami pesan dan langsung pulang. Peristiwa itu tidak pernah disinggung lagi karena entah mengapa ada yang melapor ke pacar-pacar teman-teman yang pergi ke klub malam itu. Pacar-pacar mereka marah, dan teman-teman itu marah kepada kami yang tak berada di klub. Sampai hari ini, siapapun yang telah mengadukan perihal itu tetap menjadi misteri. Dan peristiwa itu menjadi drama KKN yang paling absurd. Setidaknya bagiku.

***

Masa-masa KKN sudah lama berlalu, tapi aku tidak pernah melupakan pengalaman di malam itu. Bayangan anak perempuan itu tetap menghantui. Ia menjadi tanda bahaya bahwa perdagangan manusia masih terjadi sampai hari ini. Ia menjadi peringatan bahwa anak perempuan sangat rentan untuk menjadi pekerja seks komersial. Ia menjadi mimpi buruk bagi masa depan negara berkembang yang belum signifikan memperhatikan masalah perempuan dengan seksama. Apalagi sekarang adalah era ASEAN Community. Kompetensi yang semakin ketat tentu akan menyingkirkan mereka yang berada di lapisan terbawah dalam piramida ekonomi. Mereka yang tak bisa bertahan, selamanya secara sistemik berada dalam black hole penderitaan ekonomi dan sosial. Waktu aku menceritakan hal itu pada Satky, ia menulis dalam chatnya,”Bergetar hatiku bayangkan. Apalagi mereka tutur katanya lembut. Ramah-ramah sama pelanggan. Tapi dibalik senyuman itu ada kenyataan pahit”. 

Hatyai bukanlah satu-satunya tempat yang membuatku menyadari industri seks begitu merajai dunia. Aku teringat perempuan muda berpakaian seksi yang terlihat acuh pada laki-laki yang terlalu genit padanya di sebuah restaurant di Mall Malioboro pada jam 10 pagi. Perempuan-perempuan berpakaian minim yang duduk di depan klub sambil berpangku kaki dan merokok di sepanjang jalan Nusantara di Makassar dan sebuah klub di daerah Demangan, Jogja. Pekerja seks transgender yang aku temui tak sengaja di jalan-jalan sempit di Berlin dan di daerah Bukit Bintang, Malaysia. Perempuan-perempuan yang berlalu lalang dengan bule yang memeluk mereka erat di daerah merah Bangkok. Jika memang benar bahwa tak ada manusia yang meminta dilahirkan menjadi penjaja diri, maka saya bertanya dengan sedih, “Apakah nasib ada ditangan Tuhan atau di tangan Negara? Apakah kita ini korban takdir atau korban sistem? 

Sambil menuliskan ini saya teringat lagu lama yang dinyanyikan Titiek Puspa dengan getir: 

Dosakah yang dia kerjakan 
Sucikah mereka yang datang 
Kadang dia tersenyum dalam tangis 
Kadang dia menangis di dalam senyuman

Life Story

2017

Rabu, Januari 04, 2017

photo: tumblr


Januari masih dingin oleh resah dan gelisah. Masih ada 361 hari yang akan dilalui. Masih ada waktu yang tak terbatas untuk mendefiniskan peristiwa. Masih ada kejutan dan misteri yang harus dihadapi. Walaupun demikian, harapan masih menyala-nyala. Dan meskipun ketakutan yang rasional tak bisa dihindari, Tuhan selalu memegang tanganmu erat. 

2016 berlalu dengan banyak peristiwa mengejutkan. Mulai dengan drama tentang cita-cita dan kemandirian secara ekonomi, masuk dalam dunia akademik, hingga pertemuan dengan orang-orang luar biasa yang menjadi teman-teman baru. Selain itu, saya sangat bersyukur bahwa akhirnya saya berhasil memenuhi keinginan saya untuk mengunjungi tanah leluhur. Sebagai perantau yang multietnis, tanah leluhur merupakan akar yang mendefinisikan hidup seseorang. Seseorang bisa bangga berkeliling dunia, tetapi jika ia tak pernah mengunjungi tanah leluhurnya, maka ia akan kehilangan setengah dirinya. Sebagai orang yang multietnis, sungguh tidak mudah memberikan jawaban sederhana atas pertanyaan, “kamu orang mana?”. Saya pertama kali mengunjungi Maluku tahun 2009. Itu kali pertama saya naik pesawat dan pergi ke luar Sulawesi. Kata Mami,” Sebelum kamu kemana-mana, kamu harus menginjakkan kaki ke tanah leluhurmu”. Ajaib, setelah tahun 2009, pasti dalam setahun itu saya akan mengunjungi kota-kota bahkan negara-negara lainnya. Tahun 2015, penelitian tesis membuat saya akhirnya menginjakkan kaki ke Nusa Tenggara Timur. Dan tahun 2016, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Belanda meskipun hanya sebentar. 

Saya selalu terharu ketika mengunjungi tanah-tanah leluhur saya. Peristiwa-peristiwa itu menjelma magis bagi saya. Ajaibnya, hujan juga selalu turun seolah menyambut kedatangan saya untuk pertama kali. Kamu bisa berkata bahwa itu hanya kebetulan karena saya bepergian saat hujan sedang turun. Tetapi, ketika kita percaya bahwa tanah terikat dengan jiwa manusia, maka hujan itu adalah keharuan tanah dan roh-roh nenek moyang saya. Begitupula ketika saya melihat Amsterdam dari ketinggian. Saya menitikkan air mata dengan mengetahui bahwa di negeri yang asing ini terdapat orang-orang yang berbagi DNA yang sama dengan saya. Waktu itu hujan turun deras sekali. 

***

2016 juga mengajarkan tentang arti profesionalitas dan persahabatan. Pekerjaan ternyata seperti jodoh, pakai feeling, dan iklim tempat kerja sangat menentukan berkembang atau tidaknya seseorang. Gaji tidak selalu menjadi persoalan jika iklimnya baik. Namun, jika iklimnya buruk, kita menjadi tidak betah. Begitupun dengan persahabatan, sangat sulit ternyata menemukan teman yang baik bahkan setelah bertahun-tahun berteman. Tuntutan hidup dan kerasnya kehidupan banyak menjadikan manusia berubah dengan sangat drastis. Survival is fittest ternyata berlaku, senyata dengan homo homini lupus. Tapi percayalah, Tuhan akan selalu mengirimkan teman-teman yang akan menjadi teman-teman seperjalanan. Hanya saja kadang kita harus siap bahwa teman-teman itu juga memiliki tujuan dan jalan yang tidak selalu searah dengan kita. 

2017 akan menjadi tahun yang asyik dengan petualangan yang baru. Bagi saya tahun ini akan penting mengingat saya sedang dalam fase puncak berjuang untuk lanjut sekolah lagi. Karena pengelolaan keuangan saya tidak baik di tahun 2016, maka di tahun 2017 saya ingin mulai rajin menabung. Mungkin juga melakukan investasi kecil-kecilan seperti beli emas atau valuta asing. Saya juga ingin rajin-rajin olahraga. Cuma ini agak pesimis dilakukan karena jadwal saya tidak menentu. Tapi, tahun ini saya akan mencoba yoga atau meditasi. Meditasi sangat baik untuk melatih kesadaran dan emosi. 

Di tahun 2017, saya akan tetap berusaha travelling. Tahun ini saya harus menyempatkan berkunjung ke Candi Ceto dan Candi Sukuh di Karanganyar dan ke Baluran. Kalau ke luar negeri? Hmmm saya belum tahu, tapi saya berharap bisa ke negara-negara yang belum pernah saya kunjungi. Saya juga akan tetap meluangkan waktu untuk nonton konser musik. Faktanya, saya sudah punya tiket konsernya David Foster yang akan tampil di Jogja bulan April nanti. Saya juga mau sering-sering melukis. Sebenarnya saya sudah beli beberapa kanvas, cat air, dan kuas. Tapi karena tak punya waktu dan kadang-kadang malas, melukisnya jadi sedikit tertunda.

Tahun 2016 juga menjadi tahun dimana produktivitas ngeblog saya menurun drastis. Saya ngeblog sejak tahun 2009 saat masih duduk di kelas tiga SMA. Makanya harap maklum, kalau alamat blog ini masih terkesan childish dan alay. Saya sempat berpikir untuk berimigrasi ke wordpress,  tetapi karena dalam proses translasi itu akan ada tulisan yang hilang, saya urungkan niat itu. Saya tidak rela melepas 8 tahun cerita kehidupan saya begitu saja. Blog ini adalah bukti sejarah mengenai perkembangan kemanusiaan saya di era digital. Mungkin saya akan berimigrasi, ketika blogger dan google telah kiamat. Maka, karena waktu masih ada di tahun 2017, saya ingin produktif menulis lagi. Ngeblog sesungguhnya sangat baik untuk melatih diri berefleksi/berpikir dan menyusun logika menulis. Ngomong-ngomong, blog ini menjadi populer gara-gara saya menulis tentang Gereja Gothic Sayidan di Jogja. Bahkan page rank-nya pernah berada di urutan ketiga. Sepertinya tahun 2016 membuat blog ini bertransformasi dari kisah roman picisan menjadi cerita horor. 

Dari segi karakter, saya ingin belajar menjadi orang yang penyabar, tenang, dan berusaha berpikir seimbang, alias melihat persoalan dari cara pandang positif dan negatifnya. Tahun 2016 dan tahun-tahun sebelumnya saya suka sekali curigaan atau negative thinking pada sesuatu atau seseorang. Di tahun 2017, saya tidak ingin terlalu overthinking hingga menyalahkan diri sendiri oleh karena sesuatu yang terjadi diluar perkiraan. Rasanya lelah sekali. Hal lain yang penting adalah belajar menjadi orang yang rendah hati. Sungguh berpengetahuan adalah godaan untuk mendapatkan pengakuan. Mendapat pengakuan sih boleh-boleh saja, tetapi ketika hal itu membuat kita menjadi sombong, lupa diri, menilai diri tinggi, dan meremehkan orang lain maka itu tidak baik bagi kesehatan diri sendiri dan kebaikan bagi sesama. Lagipula, jika apa yang kau kerjakan dilakukan dengan sepenuh hati, maka gaungnya akan bergema ke segala penjuru dunia. 

Lalu, bagaimana dengan cinta? 

Suara Once Mekel mengalun lembut menyanyikan Lagu Cinta dari album Bintang Lima-nya Dewa. Liriknya cukup dalam, mungkin waktu itu Ahmad Dhani masih serius baca Kahlil Gibran dan sufi-sufi: 

Cinta adalah ruang dan waktu 
datang dan menghilang
Semua karunia Sang Pencipta 

Tahun 2016 menjadi tahun dimana banyak teman-teman sepantaran saya akhirnya menikah. Saya turut berbahagia untuk mereka, mendoakan yang ingin segera menyusul, dan diam-diam menantikan waktu bagi saya juga tiba. Di tahun 2017, saya perlu memahami cinta lebih dalam. Saya percaya cinta haruslah universal. Namun, ada jenis cinta yang merupakan karunia, tidak terjadi setiap hari, dan tidak pada sembarang orang. Jenis cinta yang membuatmu terikat pada seseorang secara seksual, emosional, dan spiritual. Dulu, warisan Platonian mengajarkan cinta jenis ini sebagai sesuatu yang tidak egosentris. Cinta sesederhana saya mencintaimu tanpa perlu kamu membalasnya. Cinta adalah melihatmu bahagia meskipun tidak harus bersama saya. Tapi cinta jenis ini dilematis karena manusia jadi sulit berprokreasi (mungkin karena banyak cinta yang ditolak dan kematian Ibu dan anak tinggi). Cinta jenis ini mengancam keberlangsungan hidup manusia. Maka, jenis cinta ini harus ditiadakan dengan sistem ekonomi yang menuntut untung-rugi, take and give. Cinta menjadi serumit tentang apa yang saya berikan ke kamu harus kamu balas sama besarnya. Cinta berubah menjadi penderitaan, ketika yang dicinta tak termiliki. Cinta jenis ini mendatangkan keuntungan berkali lipat pada industri kebudayaan. 

Dalam hal percintaan, saya memiliki dua role model. Pertama, pada Eyang yang mengajarkan saya mencintai dengan cara membebaskan. Ia tak memaksakan kehendaknya pada pasangannya. Ia menjalani hidupnya dengan nrimo. Kedua, pada Ibu, yang sudah kuanggap sebagai ibu dan nenekku sekaligus. Beliau mengajarkan untuk berani mengambil resiko. Ia adalah putri raja Mandar yang memilih menikah dengan pria rakyat jelata. Tentunya perjuangannya sangat berat untuk ukuran masa itu. Ibu pula yang menunjukkan menjadi perempuan yang menjadi diri sendiri, ekspresif, namun tetap anggun dan tenang dalam situasi apapun. 

Jenis cinta yang diajarkan Eyang adalah tentang pengertian, memahami pasangan, dan membebaskannya melakukan apa yang membuatnya bahagia. Tapi, jenis cinta yang diajarkan Ibu hanya bisa terjadi jika kedua belah pihak sama-sama berjuang dan mengambil resiko. Sampai disini aku memahami, bahwa jatuh cinta adalah peristiwa mengambil resiko. Ketika kita tidak berani mengambil resiko, cinta itu menjelma lagu cengeng di radio. Orang-orang yang takut mengambil resiko akan mengambil jarak dan membangun benteng perlindungan. Mereka akan menjadi dua jenis pecinta: mereka yang menikmati rasa cinta semu dari para penggemar dan hidup dalam kamuflase atau mereka yang menikmati kesendirian dengan hati dingin dan beku. Cinta menggerakkan manusia melakukan sesuatu. Cinta membuat orang mengambil resiko. Tetapi langkah ini hanya bisa dilakukan jika ada kepercayaan. Cinta tanpa kepercayaan adalah kesia-siaan. Dan Hey, untuk percaya pada seseorang adalah resiko karena kita bisa dikhianati dan dilukai. Inilah yang membuat orang takut bercinta lagi. Kita seharusnya belajar menjadi pecinta seperti anak-anak kecil yang tidak takut bermain kembali meskipun jatuh dan terluka berulang-ulang. Cinta akan menggerakkan kita melakukan sesuatu, sekalipun hati itu telah dihancurkan seperti Tembok Berlin dan remahannya dijadikan souvenir untuk turis. 

***

Tahun 2017, saya ingin belajar berdoa yang baik. Selama ini doa saya terpaku pada diri sendiri, doa yang egois. Maka, saya ingin belajar mendoakan orang lain, mendoakan negara, bahkan mungkin mengingat yang telah tiada. Saya juga ingin berhenti memperlakukan Tuhan seperti tukang ramal. Karena Tuhan tidak bekerja dengan cara yang dipikirkan manusia.

Waktu memang tak terbatas. Itulah sebabnya manusia membuat periodisasi untuk mengukur kemampuan dirinya dan perubahan dalam dirinya. Tahun-tahun berganti. Manusia pun berubah. Tetapi, karakter yang baik akan bertahan. Karakter itu dibentuk dengan tempaan-tempaan sukacita, harapan, tawa, airmata, amarah, luka, dan kesedihan. Tak terkecuali di tahun 2017. 

Selamat Tahun Baru!




PS: Tulisan ini adalah blog challenge dengan sahabat saya, Amdya. Kami saling menantang untuk membuat tulisan tentang resolusi tahun 2017. Terima kasih telah membacanya :)