Setelah Aqua hadir dalam hidupnya, kini Al mengerti lirik lagu Yesterday. Lagu ini tentang gugatan atas kerinduan yang mendalam: “Why she had to go, I don’t know, she wouldn’t say. I said something wrong, now I long for yesterday…”. Lagu ini tentang orang yang ditepikan, dianggap sepi. Namun, seperti dua elemen tak terpisahkan, meski liriknya sentimentil, mengasihani diri, dan menyalahkan diri, melodinya justru memberi energi positif. Sebuah energi yang menyalakan setiap api yang padam dalam jiwa manusia. Api pengharapan bahwa meskipun kita berpisah, kita akan bertemu lagi.
Pada mulanya, ia adalah daya. Sebuah getaran yang lahir dari kekaguman akan Rahim yang menghadirkannya ke dunia. Rahim itu telah menjadi ibu bagi para perempuan yang berjalan dalam kesunyian hendak mencari kebenaran. Ia adalah darah dagingnya. Ketika Al melihatnya pertama kali, Al mengingat dengan hormat Rahim itu. Pada waktu itu, tak ada yang istimewa. Ia masih suatu rasa yang polos.
Sekarang Al tahu dengan pasti, Sang Cinta ternyata sudah bersama-sama dengan dia sejak semula. Ia tak perlu mencari lagi.
"Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut...."
PS:
penghormatan untuk Gesang dan lagu Bengawan Solo yang abadi.
Ayah bilang," Jangan percaya kata-kata laki-laki. Jangan percaya janjinya. Apapun yang keluar dari mulutnya."
Saya menertawakan perkataan Ayah. Tentu saja saat itu saya sedang dimabuk asmara. Kekasih yang telah lama terpisah karena jarak akhirnya datang berkunjung. Siapa yang tak senang? Rindu berbulan-bulan yang dipendam akhirnya tumpah, meluap seiiring dengan kedatangannya.
Ayahku adalah lelaki yang pencemburu. Saat kekasihku datang ke rumah, Ayah menegur dia dengan sopan akan tetapi matanya tajam mengawasi. Ayah menyambut layaknya tamu-tamunya yang lain, namun sikapnya tetap waspada. Ketika dia pulang, Ayah memanggilku untuk bicara.
" Apa hubungan kalian sebenarnya?," Ayah bertanya.
Dengan mantap saya menjawab," Saya sayang dia Ayah. Kami saling menyayangi. Ayah mengerti kan?."
Wajah Ayah menegang, alisnya terangkat sebelah tanda emosinya sedang naik. "Tapi kalian beda agama. Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan kamu nanti?."
Saya tersenyum. Teringat perkataaan kekasih saya dan janji-janjinya," Bila kami bersama itu adalah hadiah buat kami. Ayah tenang saja, dia serius dengan saya."
Ayah saya tetap tak menurunkan alisnya, " Tapi kamu anak Ayah satu-satunya. Apa dia bisa menjaga kamu baik-baik?"
Meyakinkan Ayah adalah pekerjaan berat. Saya seperti berhadapan dengan diri sendiri. Kami sangat mirip.
"Ayah jangan khawatir. Kami akan saling menjaga," janji saya.
Kekasih saya kemudian lebih sering berkunjung ke rumah. Kala itu dia sudah memutuskan untuk menetap di kota ini. Betapa senang hati saya. Kami akan selalu bersama. Sayangnya, kebersamaan kami diiringi kecemburuan Ayah yang semakin menjadi-jadi. Tak jarang ia memperlihatkan kecemburuannya dengan terang-terangan. Kekasih saya lama-lama gerah. Ia ternyata tak seserius ucapannya tempo hari.
Tidak semua orang suka menceritakan kisah pribadinya pada orang lain. Tidak semua orang suka jika kisah hidupnya diketahui orang lain. Namun, jika ada yang datang dan menceritakan kepadamu kisahnya, itu pasti bukan karena kemauannya sendiri. Beban yang dipikulnya sudah terlalu berat dan memaksa untuk berbagi derita, tanpa ia sadari.
Amy dan Mya adalah dua kakak-beradik. Amy yang lebih dulu lahir telah lebih awal merasakan pahit manis dari kehidupan, bahkan dalam cinta sekalipun. Mya, adiknya, baru bertumbuh dan menginjakkan kaki di dunia yang dewasa baginya.
Pada suatu pagi yang dingin, Amy mendatangi Mya dan memberinya sebuah buku.
" Ini buku apa, Kak?," tanya Mya bingung.
" Ini buku kumpulan dongeng. Dulu saya temukan di perpustakaan Markas Besar," jawab Amy. "Mudah-mudahan kamu bisa belajar dari kisah-kisah didalamnya."
Mya mengambil buku itu dari tangan Amy. Ada senyum yang tergambar pada kanvas wajahnya. Amy memperhatikan adiknya sebentar yang mulai membuka satu per satu lembar dalam buku dongeng itu lalu kemudian meninggalkannya.
Dalam buku kumpulan dongeng itu, ada banyak kisah. Ada kisah yang indah tentang pertemuan yang berakhir bahagia. Namun, tak sedikit juga bercerita tentang kesedihan. Ada kisah seorang putri yang ditinggal pergi kekasihnya. Ada lelaki yang memutuskan tak menikah karena patah hati. Ada pasangan yang menderita karena tak bisa bersatu dan masih banyak lagi dongeng yang menurut Mya penuh dengan duka. Lalu tibalah Mya pada kisah "Dua Berlian Dalam Kolam" dan segeralah ia memulai membacanya.
Karena kesalahan yang diperbuat Eross, dua berlian milik Aphrodite jatuh ke bumi. Konon, kedua berlian itu sangat cantik dan merupakan kesayangan Aphrodite. Berlian yang pertama berwana biru, sedangkan yang satunya berwarna merah. Berlian yang berwarna biru ditemukan oleh seorang Kaisar dan kemudian dijadikan perhiasan pada mahkotanya. Berlian yang berwarna merah ditemukan oleh seorang Patih kerajaan dan kemudian dijadikan batu penghias pada sarung pedangnya.
Mulanya kedua berlian ini dekat dengan pemilik barunya. Hingga kemudian terjadi peperangan di kerajaan itu. Karena kekeliruan sang Kaisar, berlian biru terlepas dari mahkota sang Kaisar. Jatuh menggelinding dan tercemplung ke kolam tak jauh dari kerajaan itu. Hal yang sama terjadi pula pada sang Patih. Karena kesalahannya, berlian merah itu terlepas dari sarung pedangnya saat bertarung dengan para musuh. Berlian itu jatuh menggelinding dan tercemplung ke kolam yang sama. Kedua berlian itu, biru dan merah, bertemu. Keduanya terjatuh ke dasar kolam hingga kegelapan menutupi kilaunya.
Keesokan harinya, Amy menemui adiknya yang tengah duduk-duduk sambil membaca di teras.
"Bagaimana buku yang kuberikan kemarin?," tanya Amy sembari duduk di sisi adiknya.
"Ceritanya bagus-bagus tapi ada juga tragis," jawab Mya.
"Begitulah. Yang penting kita dapat belajar dari pesan moral yang ada dalam buku itu,"Amy mengiyakan.
"Aku suka dengan kisah dua berlian dalam kolam itu, Kak. Betapa tak enaknya terhempas begitu saja dari tempat yang tinggi dan jatuh ke dasar kolam. Tanpa ada yang tahu dan mencari,"ujar Mya.
Amy tersenyum menatap adiknya," Berlian tetaplah berlian meski ia jatuh ke dalam kolam yang dalam sekalipun. Tetap berharga dan tetap akan dicari. Hanya saja belum ada yang menemukan."
"Kapan kira-kira berlian itu ditemukan ya kak? kan sayang terlalu lama dalam kolam," tanya Mya.
Amy mengangkat bahunya, "Tak ada yang tahu, dek. Butuh calon pemilik yang tak kenal putus asa untuk bisa menemukannya."
"Mungkinkah berlian itu memilih sendiri siapa pemiliknya, kak?," Mya bertanya lagi.
Amy menghela napas dan menjawab pertanyaan adiknya," Entahlah. Sesuatu tidak mungkin hilang dan berpindah tanpa sebab."
"Tapi kan kalau jatuh ke dalam kolam, malah akan membuat berlian ini hilang selamanya, kak," bantah Mya.
Amy menggeleng,"Everything is not lost. Kadang-kadang ia hanya bersembunyi. Ketika ditemukan itulah pertemuan."
Mya mengernyit," Ihh....ribet ah kak."
Amy tertawa. "Misteri tak selamanya tetap menjadi misteri. Pada suatu saat, misteri itu akan terkuak dengan sendirinya. Termasuk siapa yang akan menemukan kedua berlian itu."
Amy dan Mya tertawa bersama. Mereka berdua tahu itu adalah kisah mereka yang tenggelam di dasar kolam kerajaan. Dua berlian yang menunggu ditemukan, untuk menemukan.
Ps : story for the real Amy and Mya on 13th Friday ^^
Kamu tahu? Perbedaan antara cinta dan benci itu tipis. Mungkin sulitnya sama seperti kita mengupas bawang dengan kuku. Mungkin perihnya sama seperti ketika kita jatuh saat bermain. Yang jelas aku mencintaimu sekaligus membencimu.
Kamu tahu? bahwa setiap malam aku akan menggali ingatan supaya aku bisa bertemu kamu. Aku mengingat setiap cerita yang pernah kita tulis bersama. Kekuatan alam juga membantuku untuk mengingatmu. Sehingga apapun yang pernah menyangkut tentang kamu ataupun tentang kita berdua dulu membuatku buru-buru membalut hati. Takut darahnya merembes lagi.
Kamu tahu? setiap bertemu kamu pikiranku berubah psikopat. Aku ingin mengguncangkan otakmu supaya ingatanmu kembali. Aku ingin merobek-robek wajahmu supaya aku mengenali wajah yang dulu memandangiku. Aku ingin memukulmu agar kamu bisa memaafkan dan menerima dirimu. Aku ingin berteriak di telingamu agar kamu berhenti menyalahkan diri.
Kamu tahu bagaimana rasanya membenci sekaligus mencintai seseorang di saat yang bersamaan? Sama seperti kamu ingin muntah tapi tidak bisa. Sesak. Kupu-kupu di perutku berdisko begitu melihatmu. Jangankan langsung melihatmu, mendengar namamu disebut, mereka langsung triping.
Kamu tahu? Aku ingin memandang matamu lagi atau merasakan bagaimana kamu menyentuhku. Aku kangen bau parfum-mu. Aku ingin memelukmu. Tapi, Aku tidak kenal kamu lagi. Aku tak mau mabuk lagi. Sudah cukup. Aku sudah kena liver.
*ini mau diikutkan #kangenmantanunite tapi udah telat hehe...^^

Ia berkaca pada cermin di hadapannya. Dilepasnya satu-persatu pakaian bekas pertunjukkan semalam. Dilihatnya mata yang kini balas menatapnya. Perlahan dihapusnya make-up tebal yang menutupi wajahnya. Kini wajahnya sudah bersih. Tak ada polesan lagi. Kecantikannya kini terlihat alami. Lola berjalan keluar dari kamarnya. Tubuhnya hampir setengah telanjang. Hanya ditutupi korset dan celana dalam. Stocking hitam masih membungkus kakinya berikut stilleto hitamnya. Ia terlihat seksi dan menggoda. Jika Ibunya melihatnya dalam keadaan seperti ini ia akan diteriaki layaknya pelacur di rumah bordil.
Lola mengambil piringan hitam dan memutarnya pada gramaphone tua yang dibeli dari Mrs. Bertha tetangganya dulu. Ia kemudian menuju sisi apartemen yang menghadap ke jendela. Cahaya matahari perlahan merembes melalui gorden putih. Ia berbaring di lantai kayu yang dingin. Dinyalakan sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskannya. Bibirnya mulai memutih. Sayup-sayup terdengar suara Karen Carpenter bernyanyi...
are we really happy here
with this lonely game we play?
Kringg....Kring...Kring....
Bunyi telepon yang terus-menerus berdering terdengar menyeramkan di telinga Lola. Ia tidak
bisa melarikan. Dari dulu ia tidak pernah diberikan pilihan. Pilihan yang harus terpaksa diambilnya. Dalam minggu ini, sudah 34 kali telepon di apartemennya berdering. Hanya ada satu penelpon yang tak pernah bosan mengganggu hidupnya. Sebenarnya bukan salah Mr. Franco, si rentenir tempat ia meminjam uang tempo hari. Ini adalah kesalahan Cecilia, ibunya yang suka mabuk-mabukkan hingga akhirnya jatuh sakit. Ini adalah salah Marco, kakaknya yang penjudi dan adiknya Marcia yang masih harus disekolahkan. Lalu ada kakak perempuannya, Belinda dengan dua anaknya yang masih kecil. Dua tahun lalu, Belinda resmi bercerai dengan suaminya yang seorang pegawai bank. Dan sekarang, mereka semua bertumpu pada Lola untuk membiayai hidupnya. Ini adalah pilihan Lola untuk menyelamatkan keluarganya setelah ayahnya meninggalkan mereka. Ya, inilah pilihannya. Lebih tepatnya ia tak punya pilihan.
Lola menghisap rokoknya lagi. Telepon itu berhenti berdering. Namun, Lola yakin dalam sejam lagi pintu rumahnya akan didobrak. Mr.Franco tidak akan melepaskannya begitu saja meski Lola baru saja membayar setengah dari bunga yang diutanginya. Kemarin, Lucy, anak bungsu Belinda terkena demam berdarah sehingga anak kecil yang baru berumur 4 tahun itu harus segera dirawat di rumah sakit. Obat Cecilia yang harganya lumayan mahal juga harus dibeli setiap kali habis. Lusa nanti, Marcia membutuhkan uang untuk study tour di sekolahnya. Tentu saja, Marcia juga harus membawa uang jajan karena Lola tidak tega melihat adiknya merana tanpa sepeser uang pun. Lalu bagaimana dengan Marco? seperti biasa ia terlibat perkelahian setiap kali kalah main judi. Ia ditahan di kantor polisi dan harus segera dijamin. Jika tidak, Marco akan berakhir di penjara dengan dakwaan. Lola sendiri juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, membayar sewa apartemen kecilnya, serta membeli kosmetik dan pakaian untuk menunjang penampilannya. Maka, Lola dengan berat hati harus berurusan dengan Mr. Franco.
Lola masih berbaring pada lantai kayu apartemennya. Ia masih mengenakan korset, celana dalam, dan stocking hitam. Stiletto hitam juga masih melekat pada kakinya. Lola menghisap rokoknya lagi dalam-dalam. Bibirnya semakin memutih. Matahari semakin tinggi di langit. Lola Morreti hampir mati.
" Lola," pria separoh baya yang tampan dan kaya raya itu segera berteriak memanggil Lola. Mata Mr. Tony berbinar-binar memandang Lola.
Lola yang tengah sibuk menghitung segala utang dalam pikirannya segera tersadar akan sosok pria yang setiap malam mendatangi klub dan menjadi penggemarnya itu.
" Selamat malam, Mr. Tony," sapa Lola ketika Lola sudah berhadapan dengan Mr. Tony.
" Selamat malam, Lola. Sudah siap untuk malam ini?," tanya Mr. Tony.
" Iya. Saya akan menampilkan yang terbaik," ujar Lola sambil tersenyum.
" God bless you, Lola," Mr. Tony mengucapkan itu sambil mencium pipi Lola dan beranjak pergi.
Lola tersenyum. Ini bukan kali pertama Mr. Tony menciumnya. Mungkin perasaan Mr. Tony belum berubah sedikit pun padanya. Kebaikan tidak akan membuat Lola luluh untuk rela dijadikan simpanan lelaki itu.
Lamat-lamat dari kebisingan tempat itu, terdengar sebuah lagu...
her name was Lola
she was the showgirl
with yellow feathers in her hair and a dress cut down to there
she would merengue and do the cha-cha
and while she tried to be a star, Tony always tended bar
-----THE END----
PS : bikin cerpen lagi malam ini karenan terinspirasi lagu Copacabana dari Barry Manilow
*photo by tumblr

Lagi-lagi di sore hari dan pas sehabis hujan. Dim-Dim datang ke rumah dengan mengenakan baju berwarna biru muda. Payungnya yang berwarna kuning tampak kontras dengan bajunya. Lembut menyejukkan mata. Perumahan kelas menengah yang menjadi background terlihat kumuh di belakangnya.
" M, buka pintu dong...," ujarnya menyambutku yang baru saja bangun dari tidur siang. Aku membuka pintu dan malas-malasan mencari kunci untuk membukakan Dim-Dim pagar.
" Darimana Dim?," tanyaku
" Dari rumah, " jawabnya seraya masuk dan langsung menuju kamarku.
"Eh jeng, tamunya nggak dikasih minum?," singgungnya padaku.
" Iya, tunggu, cerewet...,"ucapku setengah mengumpat. Dim-Dim tertawa.
Di dapur aku bingung ingin berbuat apa. Butuh waktu sepersekian detik untukku mengumpulkan nyawa. Otakku lambat laun bekerja. Di kulkas ada sirup dan minuman soda, tapi rasanya tidak cocok untuk suhu dingin sehabis hujan. Lalu kuputuskan untuk membuat teh panas yang mesti kuobrak-abrik lemari untuk mencari gula. Teh untuk Dim-Dim kuseduh dalam mug bergambar hello kitty, pemberian temanku Hans sewaku ia study ke Jepang.
"Terima kasih, M,"ujarnya padaku.
"Ada perihal apa sampai kau datang ke rumah?," tanyaku.
"Jangan begitu dong, M. Tenang, kita santai-santai dulu-lah," Dim-Dim menyeruput tehnya.
Aku mulai tak sabar. Pasti ada hal penting sampai Dim-Dim datang ke rumah. Namun, tak ada tanda-tanda ia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Kali terakhir Dim-Dim datang ke rumah adalah ketika ia nangis-nangis merutuki mantan pacarnya yang memilih menikah dengan orang lain. Ia terlihat tenang dan baik-baik saja. Tidak seperti kemarin, meraung-raung tidak jelas.
"Dim, ada apa?," aku sudah mulai tak sabar.
Bukannya menjawab pertanyaanku Dim-Dim malah mengambil majalah fashion yang ada ada di dekat kakiku. Membolak-baliknya. Kadang-kadang ia tersenyum. Manis sekali.
"Dominique, apa yang terjadi?," tanyaku lagi menyebut nama lengkapnya.
Wajah Dim-Dim terangkat. Ia menghela nafas sebelum melihat ke arahku. Membalas pandanganku.
"Aku ingin jadi biarawati M....,"ujarnya lirih hampir tak terdengar.
Aku terperangah. Detik berikutnya aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Yang benar saja Dim. Kamu mau jadi suster? hahahaaaa....," aku tak bisa menahan tawaku.
Dim-Dim tidak tertawa. Ia menatapku lurus-lurus. Dominique Bernadette, sahabatku, perempuan ateis satu ini tiba-tiba percaya pada Tuhan dan ingin menjadi pelayannya? Apa ini salah satu tanda-tanda akhir zaman?
"Jangan bercanda, Dim. Lihat Gereja dari jauh saja kau sudah buang muka sekarang malah ingin tinggal di dalamnya?," aku melanjutkan tawaku.
"Aku serius M. Aku ingin masuk biara...,"ujarnya lagi. Tampaknya ia sedang serius. Ini ekspresi langka yang baru saja aku lihat lagi dari Dim-Dim. Ekspresi ia sedang serius. Ada tiga kejadian yang membuatku melihat ekspresi ini. Pertama, waktu ia memberi tahu bahwa ayahnya meninggal dunia. Kedua, waktu ia bilang ia tak percaya lagi pada Tuhan. Ketiga, adalah saat ini. Ia bilang ingin menjadi biarawati.
Aku berhenti tertawa. Mencoba mengatur posisi dudukku dan berdehem sekali lagi.
"Ini bukan karena kamu patah hati kan? Bukan karena kamu ditinggal kawin atau putus asa dalam dunia percintaan?," tanyaku memastikan.
"Tidak M. Aku tidak sedang patah hati. Justru sebaliknya. Aku sedang jatuh cinta. Ia mengubah hidupku. Ia menyentuh hatiku, M," seperti ada cahaya yang terpancar dari wajah Dim-Dim ketika ia mengatakannya.
Aku termenung. Dim-Dim tipikal perempuan yang sulit jatuh cinta. Sekali jatuh cinta akan selamanya ia mencinta.
"Oya?, kau jatuh cinta pada siapa?," tanyaku penasaran.
Dim-Dim tersenyum. ia mengarahkan telunjuknya menuju gambar yang terpampang di dinding kamarku. Gambar yang setiap malam sebelum tidur akan aku pandangi sambil bertelut.
Tiba-tiba aku merasa seperti berhadapan dengan Sang Bunda.
*iseng-iseng bikin cerpen sambil lihat bentor-bentor depan rumah yang lagi putar lagu melayu band Malaysia.





