Cerita Pendek

Matilda

Rabu, Mei 20, 2020

Mungkin kesalahannya karena ia memberikan cintanya secara total untuk orang-orang. Entah itu pertemanan atau percintaan. Sebagian dari mereka membalas cintanya dengan sama totalnya, sementara lainnya tidak membalas seperti yang diharapkan. Orang-orang jenis terakhir inilah yang melukai dan mengecewakannya. 

Matilda memandang lurus ke depan. Air matanya sudah kering. Tapi sakit di hatinya tak kunjung reda. Di atas sana, langit mendung pertanda akan hujan. Suatu keadaan yang mulai ganjil mengingat saat ini seharusnya masuk musim kemarau. Matilda mengambil smartphone-nya. Mencari di daftar chatnya. Nama itu. Nama itu sekarang online. Tetapi tak ada kabar atau pertanda apapun darinya. Komunikasi sudah terputus sejak berbulan-bulan yang lalu. Matilda kebingungan. Ia berontak merasakan ketidakadilan. Semakin ia mencoba menalar, semakin ia terjebak pada ketidaktahuan. Semakin ia berusaha merasionalisasi, semakin hatinya lebam. Rasa ingin tahunya menjadi obsesi dan itu tidak sehat bagi jiwanya. 

Ada yang ia tidak mengerti. Ada yang tidak selesai. Tapi, Matilda harus menyelamatkan dirinya. Ia harus mengambil sikap. Setidaknya, ia berani mengucapkan selamat tinggal. Ia mencari kontak berikutnya. Itu adalah sebuah grup chat. Matilda membaca kata demi kata bagaimana kawan-kawannya menunjukkan wajah mereka yang sebenarnya. Ia membutuhkan mereka dan mereka membutuhkannya. Namun, Matilda telah menganggu kemapanan mereka. Matilda ditandai sebagai ancaman dan ia harus mempersiapkan diri pada kemungkinan ia akan disingkirkan. 

Hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras. Suara guntur mulai menggelegar. Matilda merasa sangat lelah. Emosinya. Fisiknya. Ia merasa segala usaha dan cinta yang ia berikan terasa sia-sia. Ada dua godaan orang yang menderita: mengasihani diri dan merasa dirinya istimewa karena menderita. Matilda terjebak di antara keduanya. Ia merasa tak ada gunanya lagi mengasihani diri. Ia sendiri dengan sadar memilih jalan yang sunyi ini. Ia juga merasa terlalu angkuh untuk menyebut dirinya istimewa. Bahwa ia terpilih menjalani derita ini dan akan membuat perubahan. Hahahaha. Matilda tertawa sinis. Ia bahkan tidak bisa mengajak orang yang dicintainya untuk berdialog dengannya. Ia bahkan tidak bisa meyakinkan teman-temannya untuk percaya dan respek padanya. Ia sama sekali tidak istimewa. Ia adalah figuran dalam panggung kehidupan ini. Tempatnya ada di pinggiran. Tidak ada lampu sorot apalagi tepuk tangan. Ia hanya angka dalam tabel milik Pemerintah. 

Bisakah orang yang dilukai, disakiti, dan dikecewakan terus-menerus menulis tentang harapan? Seperti dunia tidak habis-habisnya menghadirkan dagelan, Matilda mendapatkan tugas. Tulislah tentang harapan! Perintah Komandannya terdengar dengan jelas. Matilda harus menulis tentang harapan di tengah-tengah dunia yang sedang krisis harapan. Ia harus menanam harapan di dalam suasana ketidakpastian ini. Ia harus menemukan cahaya dalam dunianya yang sekarang gelap. 

Matilda tidak tahu apa itu harapan. Ia melihat harapan sebagai sesuatu yang samar-samar. Harapan selalu dekat dengan kesuksesan, lalu apakah harapan tidak ada dalam kegagalan? Hidup Matilda adalah serangkaian kehilangan tiba-tiba yang hadir di saat ia tidak melakukan persiapan sama sekali. Ia menemui kegagalan. Bahkan ia sendiri pun adalah kegagalan sehingga jika ia gagal ia akan menyapa kegagalan seperti sobat lama, “ Hey…ketemu lagi kita”. 

Matilda tertawa. Ia sekarang punya kemampuan baru. Ia menangis dalam tawa, tertawa dalam tangis. Ia seperti kupu-kupu malam. Dadanya semakin terasa nyeri. Ya, jantung memompa darah dan alirannya deras berebutan ke dalam bilik-bilik disana. Matilda sangat marah. Tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk marah. Ia diperintahkan untuk memaafkan. Ia diperintahkan untuk mengerti keadannya. Belum selesai ia menghentikan pendarahan di hatinya, ia dipaksa untuk berlari lagi. Seolah ia benar-benar bukan manusia lagi. Ia dipaksa serupa dengan Penciptanya. Matilda tidak sanggup. Ia merasa seperti dituntut setiap waktu. Ia merasa sangat pengalah. Ia merasa telah menyerahkan dirinya dan dirinya bukan lagi miliknya. Ia pelan-pelan melebur pada kekuatan di luar dirinya yang ia tak pernah sanggup untuk dipahami. Ia diperintahkan untuk menjalani. Matilda ingin jadi manusia saja, yang lemah dan bisa jatuh. Manusia yang tidak tahu apa-apa. Manusia yang boleh marah dan dendam. Manusia yang karena keterbatasannya, kemudian dimaklumi, dan dimaafkan. Manusia yang boleh takut dan ragu. Manusia yang berdarah. 

Apa itu harapan? Mungkin sejenis kelegaan bahwa ada daya untuk melangkah lagi. Harapan bukan pintu keluar dari labirin persoalan yang membuat kepala dan hatinya sakit. Harapan adalah “perasaan” bahwa ada jalan keluar, bahwa akan ada cerita baru lagi, orang-orang baru lagi, teman-teman baru lagi. 

Harapan mewujud dalam aksi untuk mencari pintu keluar. Dalam labirin yang gelap, Matilda berjalan sambil menangis mencari pintu keluar itu. 

Cerita Pendek

Al dan Aqua

Jumat, Januari 31, 2020

photo by Kristopher Roller (www.unsplash.com)


Rindu menjadi beban di hatinya akhir-akhir ini. Begitulah Al memikirkan hubungannya dengan Aqua. Aqua menghilang setelah Al mengirimkan surat cintanya yang pertama. Entah menghilangnya Aqua dan surat cinta Al saling berhubungan atau tidak, yang jelas Al merindukan Aqua. Al mengerti kalau Aqua harus pergi dan menjadikan dirinya bukan prioritas. Al turut menjiwai panggilan Aqua, karena Al juga mendapat panggilan itu. Al mengerti, namun belum seratus persen menerima. Aqua hidup di air, sementara Al di darat. Aqua menikmati dalam kesunyian, Al menikmati dalam kegaduhan. 

Aqua adalah seorang prajurit di garda terdepan. Ia masuk dalam komponen utama pertahanan. Sebagai anggota komando pasukan khusus, Aqua menyerahkan hidup dan matinya pada sang Komandan. Ia adalah orang yang hidup untuk menjalankan tugas dan misi. Tugas dan misinya itu adalah prioritas dan yang utama. Tak ada batas waktu dan tempat, karena kapanpun dan dimanapun perintah itu bisa muncul mendadak. Aqua harus siap setiap saat untuk melayani dan mengabdi kepada siapa saja dan dimana saja. Bukannya ia tak bisa memilih, namun menjalankan perintah Komandan adalah airnya. Aqua tidak bisa hidup di darat lama-lama. Ia harus fokus sebagai ikan yang berenang sendirian di arus yang deras. 

Sama seperti Aqua, Al juga seorang prajurit. Bedanya, Al masuk dalam komponen cadangan. Al ikut bertempur di garda terdepan, tapi bukan paling depan. Itu artinya, ia harus menunggu di markas komando, kalau-kalau Komandan memanggilnya untuk turun membantu, lalu dikembalikan lagi ke markas begitu Komandan merasa sudah cukup fungsinya. Al banyak menunggu, Aqua banyak bekerja. Al butuh berbicara, Aqua butuh meditasi. Mereka seperti rasi bintang Virgo dan Libra: hidup pararel, bersama namun terpisah. 

***

Al menyukai lagu-lagu The Beatles. Waktu kecil ia sering dinyanyikan lagu-lagu The Beatles oleh ibunya. Ibunya akan memainkan gitar dan bernyanyi dengan hati. Ibu juga akan bercerita tentang pengalamannya mendengarkan The Beatles. Al ingat Ibunya pernah bercerita tentang teman SMA-nya yang juga suka The Beatles. Temannya itu sangat suka menyanyikan lagu Hey Jude. Di masa mendatang, temannya membuka café bernuansa The Beatles dan ibunya menyanyi disana dalam acara reuni. Ibunya tampak keren dan penuh dengan energi positif. Peristiwa itu terjadi dua bulan sebelum ibunya pergi untuk selamanya. 

Dari semua personil The Beatles, Al paling menyukai Paul McCartney. Menurutnya, lagu-lagu yang diciptakan Paul penuh dengan energi positif. Meskipun liriknya sedih dan melodinya menggunakan akord 7 sehingga sangat emosional, lagu-lagu ciptaan Paul tidak ditujukan untuk membuat orang sedih berlarut-larut. Lagu-lagu Paul menghadirkan pengharapan. Banyak orang memperingatkan untuk tidak memiliki ekspektasi dan harapan yang tinggi karena kalau realisasinya tak sebanding maka akan sangat mengecewakan. Pada diri Paul-lah, Al menemukan kemiripannya. Mereka berdua percaya bahwa harapan membuat manusia tetap hidup dan merasakan cinta kasih. Jika Lennon sinis pada hidup, maka Paul sebaliknya, ia memiliki optimisme.

Lennon-McCartney, photo by Linda McCartney


Al suka mendengarkan lagu Yesterday berulang-ulang. Lagu itu membuat hatinya terasa hangat. Lagu itu diciptakan Paul McCartney dan kemudian dibantu John Lennon sebagaimana mereka selalu menjadi partner Lennon-McCartney. Meski tersentuh dengan melodinya, Al sama sekali tidak mengerti liriknya. Paul mendapatkan ilham melodi lagu itu dalam mimpi saat ia menginap di rumah pacarnya. Saat terbangun, Paul langsung berlari dan mencari piano, takut ia melupakan melodi yang tercipta dalam tidurnya itu. Seperti pesan semesta, siapapun yang mendengarkan lagu Yesterday, dalam suasana hati apapun, pasti akan tersentuh. Lagu itu sederhana tanpa banyak instrumen musik dan dinyanyikan sendiri oleh Paul. Lagu yang memamg ditujukan untuk mengabadi. Lagu itu seperti berkata, “kesedihanmu ini hanyalah sementara, tenanglah selalu ada harapan…”.

***

Setelah Aqua hadir dalam hidupnya, kini Al mengerti lirik lagu Yesterday. Lagu ini tentang gugatan atas kerinduan yang mendalam: “Why she had to go, I don’t know, she wouldn’t say. I said something wrong, now I long for yesterday…”. Lagu ini tentang orang yang ditepikan, dianggap sepi. Namun, seperti dua elemen tak terpisahkan, meski liriknya sentimentil, mengasihani diri, dan menyalahkan diri, melodinya justru memberi energi positif. Sebuah energi yang menyalakan setiap api yang padam dalam jiwa manusia. Api pengharapan bahwa meskipun kita berpisah, kita akan bertemu lagi. 

Hidup telah memberi banyak pada Al. Walaupun ia menghadapinya dalam keramaian yang melemahkan keyakinannya, Al selalu mendapatkan pesan semesta dalam hal-hal kecil yang menguatkan. Kini Al tahu mengapa ia belum bisa menerima beban ini. Hal itu memang terasa berat dan tak adil. Ia harus menanggung rindu untuk dua orang.

Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (2)

Rabu, Mei 29, 2019

[sambungan dari Al dan Bintang di Langit (1)]



Pada mulanya, ia adalah daya. Sebuah getaran yang lahir dari kekaguman akan Rahim yang menghadirkannya ke dunia. Rahim itu telah menjadi ibu bagi para perempuan yang berjalan dalam kesunyian hendak mencari kebenaran. Ia adalah darah dagingnya. Ketika Al melihatnya pertama kali, Al mengingat dengan hormat Rahim itu. Pada waktu itu, tak ada yang istimewa. Ia masih suatu rasa yang polos. 

Kali berikutnya, Al bertemu dengannya lagi. Ia menjelma sebuah keindahan. Al terpana. Menemukan 1 liter bensin yang telah membakar api dalam dirinya. Ia membangkitkan memori tentang kakak kelas yang dulu hanya bisa dipandanginya dari jauh. Ia melihatnya bagaikan bintang di langit. Betapa menggiurkannya bisa memiliki bintang di langit. Suatu kebanggaan bila ia bisa memetiknya. Menjadi unggul dari yang lain. Rasa yang tak berdosa itu berubah menjadi nafsu. 

Disinilah Al pada malam ini. Duduk di sebelah sang Bintang di Langit. Tubuh Al seperti terpaku pada kursi kayu yang didudukinya. Al tidak menjadi dirinya sendiri. Ia menjelma seseorang yang tak dikenali para sahabatnya. Dengan nafsu untuk menaklukkan, Al ingin membuktikan diri. Ia lupa sang Bintang tak mengenalnya. Sang Bintang adalah orang asing dan kehadirannya merupakan suatu misteri. Al bertingkah mencari perhatian. Nafsu yang serampangan menjadi rantai bagi diri Al. Rasa yang polos, yang tadinya memancar indah, menjadi redup dan gelap. Menelan Al bulat-bulat. Pada titik ini, nafsu menjadi syahwat. 

Al kini dikuasai syahwat. Energi negatif memancar dari dalam dirinya. Ia telah menyakiti dirinya dan juga sahabatnya. Sang Bintang semakin jauh dari jangkauan Al. Namun, Al dikenal dan disayangi oleh Bapanya. Sang Bapa memperhatikan Al dan ingin menyelamatkan Al dari dirinya sendiri. Al dan sang Bintang kembali bertemu. Pada perjumpaan itu, Sang Bintang memandang Al sebelah mata. Ia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Al. Al kaget. Ia tersadar. Syahwat ini harus diuji. Ia harus dimurnikan sehingga ia menjelma kembali sebagai rasa yang polos. 

Malam itu Al membalikkan keadaan. Sang Bintang mulai memperhitungkan Al. Malam itu posisi Al menjadi setara. Ia tidak lagi menjadi hamba dari fantasinya. Betapa mengerikannya hubungan yang sejak semula tidak setara. Kita merasa mendapatkan anugerah karena sang Bintang memilih kita. Dalam hubungan itu, selamanya kita akan berada di bawah kendali sang Bintang. Terciptalah relasi tuan dan hamba. Sang Hamba akan menyerahkan apapun untuk memiliki dan menyenangkan sang Tuan. Sang Tuan akan bertindak sesuka hatinya kepada si Hamba dan tak ingin melepaskan karena nikmat kuasa sangat menggetarkan. Hubungan kekerasan yang hanya bisa diputus oleh si Hamba sendiri ketika ia sadar bahwa ia adalah korban kekerasan dan telah diperbudak. Al tidak ingin seorang Bintang di langit. Ia tak mau sebuah relasi tuan-hamba. Ia ingin lawan intelektual yang setara. Seorang teman seperjalanan. 

Semakin Al berinteraksi dengan sang Bintang, semakin tampak kemanusiaannya. Yang indah tak selalu benar dan yang benar tak selalu indah. Al mendapatkan kesadarannya kembali. Dialah sesungguhnya sang Bintang di langit. Jika ia jatuh cinta, maka ia harus mencintai dengan percaya diri. 

Sang Bapa tersenyum. Ia adalah sang Cinta. Ia adalah pertanyaan yang menemukan jawaban. Sebuah sinyal yang bersahabat dalam kegelapan. Sebuah rasa untuk setia dan bertahan. Ia menerangi Al ketika Al hangus terbakar asmara. Cinta seharusnya memang menerangi, sebuah energi untuk membebaskan.

Sekarang Al tahu dengan pasti, Sang Cinta ternyata sudah bersama-sama dengan dia sejak semula. Ia tak perlu mencari lagi. 

Cerita Pendek

Al dan Bintang di Langit (1)

Rabu, April 24, 2019

“Aku suka dia,” Al menunjuk laki-laki yang berdiri hanya beberapa meter dari kami duduk. Kulitnya putih bersih, agak kurus, dan tingginya proporsional untuk ukuran orang Indonesia. Hidungnya mancung, bibirnya agak tebal, tapi matanya akan menyipit jika ia tersenyum. Wajah yang ramah sekaligus sendu. Dia sering terlihat salah tingkah dan canggung. Ia tampan tapi kadang terkesan biasa saja. Ia seperti air, mengalir dan mengikuti bentuk. 
 “Serius? Itu kan….,”aku melotot
“Iya…,” Al memotong cepat. 
“Dan sebentar lagi dia akan menjadi…,”aku menyambung dan segera dipotong Al. 
“Iya,” ia menjawab namun matanya tak lepas dari lelaki itu. 

Setahun kemudian kami berjumpa lagi dengan lelaki pujaan Al. Iya jauh lebih percaya diri.  Ia banyak tersenyum sehingga wajahnya bercahaya. Suaranya merdu. Ya, Pesonanya semakin menguar. Ia telah menjelma manusia baru. Dengan kemampuan yang ia miliki, dengan modal sosial yang diberikan padanya sejak lahir, dengan latar belakang yang ia punya, dan nama besar rumah yang ia tempati, lelaki itu segera menjadi bintang baru. Ia tak hanya punya Al sebagai pengagum dari jauh, tetapi juga para fans perempuan maupun laki-laki yang mengidolakannya. 

“Al, fans-nya banyak sekali. Pulang yuk.” 
“Jangan dulu, Pilar. Tunggu sebentar lagi,” Al membujukku. 
“Tapi kepalaku sudah pusing ini. Betis sudah pegal,” aku menggerutu. 

Hari itu Al mengajakku mengikuti seminar dimana lelaki pujaannya menjadi pembicara utama. Ya, dia bintangnya malam itu. Dia berbeda sekali dengan setahun lalu ketika kami melihatnya. Tubuhnya sekarang lebih berisi. Ia mengenakan kemeja blue-navy berpotongan slim fit dengan denim yang melekat di badannya yang padat. Jika Al bersandar di dada atau punggungnya, yakinlah anak itu tidak akan rela untuk berpisah. 

“Pilar, kenapa sih aku selalu jatuh cinta pada bintang di langit?,” Al bertanya ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. 
“Mungkin karena orang-orang seperti dia hanya akan lebih indah dipandang dari jauh. Kalau dia beneran jadi pacarmu, mungkin banyak yang musuhin kamu. Kamu juga harus kuat hati dengan rasa cemburu. Ah, terlalu banyak rintangannya. Tapi, kamu akan memiliki semacam kebanggaan karena berhasil memilikinya,” aku menjawab polos.
 
Al terdiam. Lelaki itu seperti bintang di langit dan Al seperti pungguk yang merindukannya. 

“Kenapa sih kamu menyebut dia bintang di langit?,”aku bertanya. 
“Karena dia hanya bisa dilihat dari jauh. Ia tidak bisa digapai. Bahkan jika kami berdekatan pun,” jawab Al.



(bersambung)




Cerita Pendek

Memori dalam Bengawan Solo

Rabu, Februari 19, 2014

"Bengawan Solo riwayatmu ini 
Sedari dulu jadi perhatian insani..."

Klik.
Siri mematikan tape yang memutar lagu Bengawan Solo, eyang uti-nya sudah jatuh tertidur. Siri ingin membangunkannya, meminta neneknya untuk pindah istirahat di dalam kamar tapi ia urung. Segan. Tape itu bukan satu-satunya barang mewah yang ada di rumah eyang uti di Jogja. Ada TV LCD 32 inc keluaran merk terkenal yang dibelikan ibunya untuk mengganti tv tabung yang dulu dibeli entah di jaman apa. Tapi TV LCD itu juga berada di ruangan yang sama dengan tape itu. Eyang putri -yang ketika Siri masih kecil hanya mampu ia panggil eyang uti, panggilan yang terbawa sampai dewasa- lebih suka mendengarkan lagu ketimbang nonton TV. Celakanya lagi, eyang uti hanya mendengarkan satu lagu yang diputar terus-menerus, lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang. Siri tidak bisa membantah eyang uti, padahal sumpah mati ia ingin sekali nonton infotaiment. 

***

Saras berpikir dengan membelikan ibunya sebuah televisi akan memberikan hiburan baginya. Setidaknya tinggal seorang diri di rumah seluas 1000 meter persegi terasa sangat besar untuk ibunya yang hampir seabad menjalani kehidupan. Saras berpikir anaknya, Siri, akan lebih betah menemani neneknya. Seumur hidup anak itu hidup di kota besar, Jakarta. Ibukota negara yang dahulu daerahnya disatukan oleh Gadjah Mada dan disebut sebagai Nusantara. Saras teringat dulu ia ke Jakarta untuk melarikan diri dari ibunya. Ia tidak nyaman tinggal bersama ibunya setelah ayahnya meninggal. Ia masih kecil tapi ia bisa merasakan ibunya sangat dingin pada ayahnya. Ia masih kecil tapi ia bisa merasakan kepedihan tak terbahasa yang dipendam ibunya. Ia menyalahkan ibunya atas kematian ayah. Bahkan ketika ia menikah pun, ia tak mengundang ibunya. Waktu itu ia masih diliputi kemarahan. Kelahiran Siri-lah yang melunakkan hatinya. Ia ingat ibunya, perempuan priyayi yang dingin itu. Ia kasihan.

Siri lantas tumbuh menjadi anak yang individualistis dan apatis. Saras tidak ingin anaknya semakin parah sikapnya apalagi pergaulan ibukota yang lebih kejam dari belantara. Itulah sebabnya setiap liburan sekolah, dikirimnyalah Siri berlibur ke Jogja, menemani neneknya yang renta. Saras berpikir Siri akan berubah menjadi lebih ramah, lebih peduli terhadap orang lain, lebih rendah hati. Suasana Jogja yang ramah dan nyaman diharapkan mampu melembutkan hati Siri. Lagipula ibunya pasti senang ditemani cucu perempuan satu-satunya itu. Dengan begitu, Saras akan perlahan-lahan membayar utangnya. Utang berisi kebersamaan dengan ibu kandungnya sendiri.

***

"Aliran Bengawan Solo ini sampai ke Blora, Nak. Jauh...jauh sampai ke laut," begitu kata bapak pada Sri yang baru berumur 8 tahun. Sri sangat suka jika diajak bapak melewati sungai Bengawan Solo meskipun hanya tepiannya saja yang terjangkau matanya dari atas delman. Ketika usianya 15 tahun, bukan lagi Bengawan Solo yang menarik perhatiannya. Tetapi pemuda yang sering duduk di tepiannya. Sri suka memandanginya diam-diam. Memandangi punggung pemuda itu dari jauh. Sekalipun delman itu melaju meninggalkan lekuk Bengawan Solo, bayangan pemuda itu semakin lekat dalam benak Sri. Katanya pemuda itu bisa bernyanyi, suaranya menyejukkan. Pernah Sri nekat, diam-diam menonton pertunjukkan pemuda itu di kampung sebelah. Ia tertangkap pelayan bapaknya. Sri dihukum tak boleh keluar rumah selama dua minggu. Sri memang dikurung tapi pemuda itu tak pernah keluar dari ingatannya.

Waktu tentara Jepang masuk ke kota Solo, suasana berubah 360 derajat. Bapaknya yang keturunan bangsawan itu cepat-cepat mengungsikan putrinya. Namun kemana pula mengungsikan anak gadisnya yang tumbuh ranum sedangkan tentara Jepang menjadikan hampir semua perempuan desa sebagai jugun ianfu? Maka oleh ayahnya, Sri, disamarkan menjadi anak lelaki. Dadanya ditutupi berlembar-lembar kain. Rambut panjang hitam kebanggaanya dipotong pendek seperti bocah lanang. Sri menangis berhari-hari. Dukanya bertambah dalam ketika didengarnya pemuda yang punggungnya ia tatap dari pinggir sungai Bengawan Solo itu telah menikah. Bertahun-tahun kemudian, Sri tahu bahwa orang-orang Jepang itu, orang-orang yang membuatnya menyamar seperti bocah lanang sangat suka dengan lagu ciptaan pemuda itu. Lagu yang bercerita tentang keindahan sungai Bengawan Solo.  

***

"Eyang....Yang...,"Siri memanggil lembut neneknya. Disapunya lengan neneknya lembut. Eyang uti tak kunjung bangun. Kali ini Siri lebih keras menyapu lengan neneknya. Tak ada respon. Siri mulai khawatir. Diguncang-guncangnya bahu neneknya. Kepala neneknya yang miring ke samping semakin lemas. Siri menegang. Diraihnya gagang telepon. Kepalanya seketika terasa pusing, raungan ambulans baru saja meninggalkan halaman rumah. 

"Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu 
Air meluap sampai jauh 
Dan akhirnya ke laut...."






PS:
penghormatan untuk Gesang dan lagu Bengawan Solo yang abadi. 

Cerita Pendek

Surat Cinta Yang Tak Dikirimkan

Minggu, Juli 07, 2013

*google*



Selamat ulang tahun, selamat menikmati usia akhir 20-anmu. 

Kau tahu Thomas Alva Edison menemukan 999 cara untuk menciptakan lampu pijar sebelum cara ke-1000 yang dilakukannya berhasil. Coba bayangkan kalau dia berhenti pada percobaan kedua,ketiga, atau mungkin ke-476, dunia ini pasti bagaikan pohon natal tanpa hiasan. Aku berharap suatu saat bisa meneladani kegigihan Thomas Alva Edison.

Ide surat-menyurat itu datang karena aku tahu kita berbagi bulan lahir yang sama. Kita hanya berbeda 9 hari dan 7 tahun. Aku tahu persoalan umur sensitif bagimu. Tapi bukankah Celine Dion dan suaminya berbeda puluhan tahun begitupun Soekarno dengan Ibu Dewi? Maka jangan salahkan aku jika berharap ada surat untukku suatu hari nanti. 

Lalu saat itu pun datang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyadari bahwa sudah cukup bagiku untuk mempertahankan hubungan yang ganjil ini. Butuh waktu untuk mencerna dan membaca dengan seksama tanda-tanda yang kau berikan bahwa komunikasi itu hanya semu. Aku gagal menciptakan lampu pijar di hatimu yang mampu melihatku lebih dari sekedar yang kau tahu. Tapi aku tetap berdoa semoga akan ada yang berhasil menciptakannya sehingga kau mampu melihat dalam kegelapan. 

Akhirnya di hari 359 aku memutuskan tak akan meneruskan hubungan yang ganjil ini. Aku memutuskan tidak akan membuatmu tak nyaman. Aku tak akan mengganggumu lagi. Bukan...bukan karena aku merasa tak pantas untukmu ataupun sebaliknya. Bukan karena perbedaan yang mencolok di antara kita atau karena aku menyerah dengan tidak menciptakan lampu pijar dengan cara ke-1001. Itu semua aku lakukan karena aku sampai pada pengertian bahwa cara terbaik untuk mencintai adalah dengan membebaskan, cara terbaik untuk memiliki adalah dengan melepaskan. 

Karena aku kini mengerti untuk tidak menahan seseorang yang tidak ingin berada di sampingku. 



Yang cuma mampu memandang punggungmu dari kejauhan,


Sarah

Cerita Pendek

Mei

Senin, Mei 21, 2012



"Ini anakmu?," saya bertanya sekali lagi.

Lelaki yang sedang berdiri di depanku dan menggandeng seorang anak kecil kira-kira berusia 3 tahun itu menggangguk. 
"Bryan, ayo salam sama tante...,"ujarnya. Anak kecil itu nyengir kemudian menghampiriku. Meraih tanganku yang tanpa sadar tak mau terjulur dan  menciuminya. Setelah itu, dengan malu-malu kembali  kepada ayahnya.

"Bryan pemalu, Mei. Tapi dia pintar sekali. Guru-gurunya di play group selalu puas dengan prakarya yang dibuatnya," lelaki ini kembali melanjutkan ceritanya.

Saya tetap tertegun. Menatap bergantian antara Bryan dan ayahnya. Kenangan lima tahun lalu kemudian menyeruak seperti film yang diputar di bioskop. Film yang memasang  saya dan Barry, ayah Bryan sebagai bintangnya. Kisah sepasang kekasih yang saling mencintai sampai virus bernama Karina datang dan merusak semuanya. Dia mengambil Barry, menghancurkan hati saya, plus dengan telak mengalahkan saya dengan menghadiahi Barry makhluk kecil bernama Bryan. Tak ada yang tersisa. Tinggal Bryan yang gantian memandangi saya. Si Tante yang aneh begitu mungkin pikirnya.

"Karina mana?," dengan susah payah saya bertanya. Kenapa juga pertanyaannya  harus tentang dia. Saya merutuk.

"Karina...Karina...sudah tiada, Mei," gantian kini Barry yang tergagap menjawab pertanyaan saya. "Karina mengalami pendarahan setelah melahirkan Bryan. Ia meninggal beberapa jam setelah melahirkan."

Tanpa sadar saya tersenyum. Senyuman yang lebih mirip seringai. Seperti sangat puas mendengar istri Barry dan ibu dari Bryan itu akhirnya berakhir dalam tanah berukuran 2x3 meter. Rasanya sakit hati selama lima tahun yang dipendam dan menjadi luka yang tak kunjung sembuh itu ditetesi antiseptik setelah sekian lama memborok dan membusuk.

"Mei, sebelum Karina meninggal dia menyebut namamu. Dia minta maaf. Sangat minta maaf. Saya pun demikian Mei. Maafkan saya," Barry, lelaki yang dulu pernah saya cintai dengan sepenuh hati  ini mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Suaranya serak. Ada rasa penyesalan, bersalah, dan kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Wajah meminta pengampunan.

"Saya sudah memaafkan kalian. Tapi hati saya tidak bisa sembuh. Apa yang kamu dan Karina lakukan tidak bisa membuat hati saya sembuh. Tidak bisa, Barry," ucapan itu tanpa sadar keluar dari mulut saya. Saya juga kaget. 

"Meilani, saya benar-benar minta maaf," Barry mengulangi permintaan maafnya. "Kehidupan saya setelah ditinggalkan Karina terlunta-lunta tanpa arah. Ijazah sarjana tak menjamin pekerjaan layak bisa saya dapatkan. Kalau bukan karena bantuan Papa dan Mama, Bryan mungkin tidak bisa dihidupi seperti ini. Saya tahu kamu sekarang sudah menjadi penulis besar sekaligus menjadi dosen di perguruan tinggi populer, saya tahu kamu sudah menikah dengan diplomat tampan dan kaya raya. Saya pun tahu bahwa kamu juga tengah hamil sekarang. Tapi tolong Mei, biarkan masa lalu menjadi masa lalu. Saya dan Karina telah berdosa padamu izinkan saya tenang menjalani hidup dengan maaf darimu," kata-kara Barry meluncur disertai wajah memelasnya.

"Barry, Meilani yang lima tahun lalu kamu kenal tidak seperti Meilani yang kamu temui hari ini," saya berdehem pelan. "Kamu tidak akan lagi melihat wajah gadis yang terisak-isak saat melihatmu bersama Karina di kampus. Tak ada lagi gadis yang masih mengingat-ingat janji-janji yang kamu  ucapkan dulu. Ketika Karina datang, kamu lupa bahwa saya masih ada dan dengan teganya kalian memadu kasih di belakang saya. Kamu tidak pernah tahu, betapa sakitnya hati saya melihat kalian berduaan sampai akhirnya Karina hamil. Kamu tidak pernah tahu rasanya menjadi orang yang paling berduka melihat pernikahan kalian. Saya seperti gelas yang berhasil kamu hancurkan. Setiap hari saya berjuang menghadapi keadaan ini. Sampai Aston datang dan benar-benar menjadi malaikat untuk saya," semua perkataan yang ingin saya katakan sejak lima tahun silam akhirnya tumpah.

Barry menunduk. Tampak sangat merasa bersalah. Sedangkan orang-orang yang menghadiri acara seminar dimana saya yang menjadi pembicaranya mulai berdatangan. 

"Sorry. Saya harus masuk ke dalam. Kalau mau lihat seminar saya kamu bisa hubungi panitia. Bilang saja kamu temannya Ibu Meilani," saya pamit dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dari dompet. "Bryan, ini untuk beli susu ya, " saya menepuk-nepuk kepala anak itu. Wajahnya sangat mirip dengan Karina.

"Mei...saya balik duluan ya. Kedatangan saya kesini memang hanya untuk minta maaf sama kamu," Barry akhirnya bersuara.

"Sudahlah. Sekarang saya sudah bahagia. Anggap saja ini karma untuk kalian," saya tersenyum.

"Mei....," Barry menatap saya tak percaya.

"Duluan ya...dadada Bryan...," saya membalikkan badan. Dari ekor mata, saya melihat Barry dan Bryan berjalan menuju parkiran. Barry tampak sangat terpukul. Si penghancur gelas itu kini benar-benar hancur.






Cerita Pendek

Ayah dan Kekasih

Kamis, April 19, 2012



Ayah bilang," Jangan percaya kata-kata laki-laki. Jangan percaya janjinya. Apapun yang keluar dari mulutnya."

Saya menertawakan perkataan Ayah. Tentu saja saat itu saya sedang dimabuk asmara. Kekasih yang telah lama terpisah karena jarak akhirnya datang berkunjung. Siapa yang tak senang? Rindu berbulan-bulan yang dipendam akhirnya tumpah, meluap seiiring dengan kedatangannya.

Ayahku adalah lelaki yang pencemburu. Saat kekasihku datang ke rumah, Ayah menegur dia dengan sopan akan tetapi matanya tajam mengawasi. Ayah menyambut layaknya tamu-tamunya yang lain, namun sikapnya tetap waspada. Ketika dia pulang, Ayah memanggilku untuk bicara.

" Apa hubungan kalian sebenarnya?," Ayah bertanya.
Dengan mantap saya menjawab," Saya sayang dia Ayah. Kami saling menyayangi. Ayah mengerti kan?."

Wajah Ayah menegang, alisnya terangkat sebelah tanda emosinya sedang naik. "Tapi kalian beda agama. Bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana dengan kamu nanti?."

Saya tersenyum. Teringat perkataaan kekasih saya dan janji-janjinya," Bila kami bersama itu adalah hadiah buat kami. Ayah tenang saja, dia serius dengan saya."

Ayah saya tetap tak menurunkan alisnya, " Tapi kamu anak Ayah satu-satunya. Apa dia bisa menjaga kamu baik-baik?"

Meyakinkan Ayah adalah pekerjaan berat. Saya seperti berhadapan dengan diri sendiri. Kami sangat mirip.
"Ayah jangan khawatir. Kami akan saling menjaga," janji saya.

Kekasih saya kemudian lebih sering berkunjung ke rumah. Kala itu dia sudah memutuskan untuk menetap di kota ini. Betapa senang hati saya. Kami akan selalu bersama. Sayangnya, kebersamaan kami diiringi kecemburuan Ayah yang semakin menjadi-jadi. Tak jarang ia memperlihatkan kecemburuannya dengan terang-terangan. Kekasih saya lama-lama gerah. Ia ternyata tak seserius ucapannya tempo hari.

****

"Jadi, Lyla sudah putus dengan pacarnya ya Bu?," tanya Ayah pada Ibu. 
"Iya, Yah. Tadi malam ia menangis di pelukan Ibu. Pacar pertamanya sih jadi wajar dia sangat terluka," jawab Ibu.
Ayah tersenyum puas, "Syukurlah kalau begitu."





PS : restu Ayah adalah doa. I love you, Dad ^^

Cerita Pendek

Dua Berlian Dalam Kolam

Jumat, April 13, 2012



Tidak semua orang suka menceritakan kisah pribadinya pada orang lain. Tidak semua orang suka jika kisah hidupnya diketahui orang lain. Namun, jika ada yang datang dan menceritakan kepadamu kisahnya, itu pasti bukan karena kemauannya sendiri. Beban yang dipikulnya sudah terlalu berat dan memaksa untuk berbagi derita, tanpa ia sadari. 


Amy dan Mya adalah dua kakak-beradik. Amy yang lebih dulu lahir telah lebih awal merasakan pahit manis dari kehidupan, bahkan dalam cinta sekalipun. Mya, adiknya, baru bertumbuh dan  menginjakkan kaki di dunia yang dewasa baginya.

Pada suatu pagi yang dingin, Amy mendatangi Mya dan memberinya sebuah buku.

" Ini buku apa, Kak?," tanya Mya bingung.
" Ini buku kumpulan dongeng. Dulu saya temukan di perpustakaan Markas Besar," jawab Amy. "Mudah-mudahan kamu bisa belajar dari kisah-kisah didalamnya."

Mya mengambil buku itu dari tangan Amy. Ada senyum yang tergambar pada kanvas wajahnya. Amy memperhatikan adiknya sebentar yang mulai membuka satu per satu lembar dalam buku dongeng itu lalu kemudian meninggalkannya.

Dalam buku kumpulan dongeng itu, ada banyak kisah. Ada kisah yang indah tentang pertemuan yang berakhir bahagia. Namun, tak sedikit juga bercerita tentang kesedihan. Ada kisah seorang putri yang ditinggal pergi kekasihnya. Ada lelaki yang memutuskan tak menikah karena patah hati. Ada pasangan yang menderita karena tak bisa bersatu dan masih banyak lagi dongeng yang menurut Mya penuh dengan duka. Lalu tibalah Mya pada kisah "Dua Berlian Dalam Kolam" dan segeralah ia memulai membacanya.

Karena kesalahan yang diperbuat Eross, dua berlian milik Aphrodite jatuh ke bumi. Konon, kedua berlian itu sangat cantik dan merupakan kesayangan Aphrodite. Berlian yang pertama berwana biru, sedangkan yang satunya berwarna merah. Berlian yang berwarna biru ditemukan oleh seorang Kaisar dan kemudian dijadikan perhiasan pada mahkotanya. Berlian yang berwarna merah ditemukan oleh seorang Patih kerajaan dan kemudian dijadikan batu penghias pada sarung pedangnya. 
Mulanya kedua berlian ini dekat dengan pemilik barunya. Hingga kemudian terjadi peperangan di kerajaan itu. Karena kekeliruan sang Kaisar, berlian biru terlepas dari mahkota sang Kaisar. Jatuh menggelinding dan tercemplung ke kolam tak jauh dari kerajaan itu. Hal yang sama terjadi pula pada sang Patih. Karena kesalahannya, berlian merah itu terlepas dari sarung pedangnya saat bertarung dengan para musuh. Berlian itu jatuh menggelinding dan tercemplung ke kolam yang sama. Kedua berlian itu, biru dan merah, bertemu. Keduanya terjatuh ke dasar kolam hingga kegelapan menutupi kilaunya.


Keesokan harinya, Amy menemui adiknya yang tengah duduk-duduk sambil membaca di teras.

"Bagaimana buku yang kuberikan kemarin?," tanya Amy sembari duduk di sisi adiknya.

"Ceritanya bagus-bagus tapi ada juga tragis," jawab Mya.

"Begitulah. Yang penting kita dapat belajar dari pesan moral yang ada dalam buku itu,"Amy mengiyakan.

"Aku suka dengan kisah dua berlian dalam kolam itu, Kak. Betapa tak enaknya terhempas begitu saja dari tempat yang tinggi dan jatuh ke dasar kolam. Tanpa ada yang tahu dan mencari,"ujar Mya.

Amy tersenyum menatap adiknya," Berlian tetaplah berlian meski ia jatuh ke dalam kolam yang dalam sekalipun. Tetap berharga dan tetap akan dicari. Hanya saja belum ada yang menemukan."

"Kapan kira-kira berlian itu ditemukan ya kak? kan sayang terlalu lama dalam kolam," tanya Mya.

Amy mengangkat bahunya, "Tak ada yang tahu, dek. Butuh calon pemilik yang tak kenal putus asa untuk bisa  menemukannya."

"Mungkinkah berlian itu memilih sendiri siapa pemiliknya, kak?," Mya bertanya lagi.

Amy menghela napas dan menjawab pertanyaan adiknya," Entahlah. Sesuatu tidak mungkin hilang dan berpindah tanpa sebab."

"Tapi kan kalau jatuh ke dalam kolam, malah akan membuat berlian ini hilang selamanya, kak," bantah Mya.

Amy menggeleng,"Everything is not lost. Kadang-kadang ia hanya bersembunyi. Ketika ditemukan itulah pertemuan."

Mya mengernyit," Ihh....ribet ah kak."

Amy tertawa. "Misteri tak selamanya tetap menjadi misteri. Pada suatu saat, misteri itu akan terkuak dengan sendirinya. Termasuk siapa yang akan menemukan kedua berlian itu."

Amy dan Mya tertawa bersama. Mereka berdua tahu itu adalah kisah mereka yang tenggelam di dasar kolam kerajaan. Dua berlian yang menunggu ditemukan, untuk menemukan.



Ps : story for the real Amy and Mya on 13th Friday ^^







Cerita Pendek

KAMU TAHU?

Sabtu, Januari 21, 2012

Kamu tahu? Perbedaan antara cinta dan benci itu tipis. Mungkin sulitnya sama seperti kita mengupas bawang dengan kuku. Mungkin perihnya sama seperti ketika kita jatuh saat bermain. Yang jelas aku mencintaimu sekaligus membencimu.

Kamu tahu? bahwa setiap malam aku akan menggali ingatan supaya aku bisa bertemu kamu. Aku mengingat setiap cerita yang pernah kita tulis bersama. Kekuatan alam juga membantuku untuk mengingatmu. Sehingga apapun yang pernah menyangkut tentang kamu ataupun tentang kita berdua dulu membuatku buru-buru membalut hati. Takut darahnya merembes lagi.

Kamu tahu? setiap bertemu kamu pikiranku berubah psikopat. Aku ingin mengguncangkan otakmu supaya ingatanmu kembali. Aku ingin merobek-robek wajahmu supaya aku mengenali wajah yang dulu memandangiku. Aku ingin memukulmu agar kamu bisa memaafkan dan menerima dirimu. Aku ingin berteriak di telingamu agar kamu berhenti menyalahkan diri.

Kamu tahu bagaimana rasanya membenci sekaligus mencintai seseorang di saat yang bersamaan? Sama seperti kamu ingin muntah tapi tidak bisa. Sesak. Kupu-kupu di perutku berdisko begitu melihatmu. Jangankan langsung melihatmu, mendengar namamu disebut, mereka langsung triping.

Kamu tahu? Aku ingin memandang matamu lagi atau merasakan bagaimana kamu menyentuhku. Aku kangen bau parfum-mu. Aku ingin memelukmu. Tapi, Aku tidak kenal kamu lagi. Aku tak mau mabuk lagi. Sudah cukup. Aku sudah kena liver.





*ini mau diikutkan #kangenmantanunite tapi udah telat hehe...^^

Cerita Pendek

God Bless Lola

Rabu, Juli 06, 2011


Ia berkaca pada cermin di hadapannya. Dilepasnya satu-persatu pakaian bekas pertunjukkan semalam. Dilihatnya mata yang kini balas menatapnya. Perlahan dihapusnya make-up tebal yang menutupi wajahnya. Kini wajahnya sudah bersih. Tak ada polesan lagi. Kecantikannya kini terlihat alami. Lola berjalan keluar dari kamarnya. Tubuhnya hampir setengah telanjang. Hanya ditutupi korset dan celana dalam. Stocking hitam masih membungkus kakinya berikut stilleto hitamnya. Ia terlihat seksi dan menggoda. Jika Ibunya melihatnya dalam keadaan seperti ini ia akan diteriaki layaknya pelacur di rumah bordil.

Lola mengambil piringan hitam dan memutarnya pada gramaphone tua yang dibeli dari Mrs. Bertha tetangganya dulu. Ia kemudian menuju sisi apartemen yang menghadap ke jendela. Cahaya matahari perlahan merembes melalui gorden putih. Ia berbaring di lantai kayu yang dingin. Dinyalakan sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam dan dihembuskannya. Bibirnya mulai memutih. Sayup-sayup terdengar suara Karen Carpenter bernyanyi...

are we really happy here
with this lonely game we play?

Kringg....Kring...Kring....
Bunyi telepon yang terus-menerus berdering terdengar menyeramkan di telinga Lola. Ia tidak
bisa melarikan. Dari dulu ia tidak pernah diberikan pilihan. Pilihan yang harus terpaksa diambilnya. Dalam minggu ini, sudah 34 kali telepon di apartemennya berdering. Hanya ada satu penelpon yang tak pernah bosan mengganggu hidupnya. Sebenarnya bukan salah Mr. Franco, si rentenir tempat ia meminjam uang tempo hari. Ini adalah kesalahan Cecilia, ibunya yang suka mabuk-mabukkan hingga akhirnya jatuh sakit. Ini adalah salah Marco, kakaknya yang penjudi dan adiknya Marcia yang masih harus disekolahkan. Lalu ada kakak perempuannya, Belinda dengan dua anaknya yang masih kecil. Dua tahun lalu, Belinda resmi bercerai dengan suaminya yang seorang pegawai bank. Dan sekarang, mereka semua bertumpu pada Lola untuk membiayai hidupnya. Ini adalah pilihan Lola untuk menyelamatkan keluarganya setelah ayahnya meninggalkan mereka. Ya, inilah pilihannya. Lebih tepatnya ia tak punya pilihan.

Lola menghisap rokoknya lagi. Telepon itu berhenti berdering. Namun, Lola yakin dalam sejam lagi pintu rumahnya akan didobrak. Mr.Franco tidak akan melepaskannya begitu saja meski Lola baru saja membayar setengah dari bunga yang diutanginya. Kemarin, Lucy, anak bungsu Belinda terkena demam berdarah sehingga anak kecil yang baru berumur 4 tahun itu harus segera dirawat di rumah sakit. Obat Cecilia yang harganya lumayan mahal juga harus dibeli setiap kali habis. Lusa nanti, Marcia membutuhkan uang untuk study tour di sekolahnya. Tentu saja, Marcia juga harus membawa uang jajan karena Lola tidak tega melihat adiknya merana tanpa sepeser uang pun. Lalu bagaimana dengan Marco? seperti biasa ia terlibat perkelahian setiap kali kalah main judi. Ia ditahan di kantor polisi dan harus segera dijamin. Jika tidak, Marco akan berakhir di penjara dengan dakwaan. Lola sendiri juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, membayar sewa apartemen kecilnya, serta membeli kosmetik dan pakaian untuk menunjang penampilannya. Maka, Lola dengan berat hati harus berurusan dengan Mr. Franco.

Lola masih berbaring pada lantai kayu apartemennya. Ia masih mengenakan korset, celana dalam, dan stocking hitam. Stiletto hitam juga masih melekat pada kakinya. Lola menghisap rokoknya lagi dalam-dalam. Bibirnya semakin memutih. Matahari semakin tinggi di langit. Lola Morreti hampir mati.

****

Mr. Tony baru saja turun dari mobilnya ketika ia melihat Lola berjalan menuju arah klub.

" Lola," pria separoh baya yang tampan dan kaya raya itu segera berteriak memanggil Lola. Mata Mr. Tony berbinar-binar memandang Lola.

Lola yang tengah sibuk menghitung segala utang dalam pikirannya segera tersadar akan sosok pria yang setiap malam mendatangi klub dan menjadi penggemarnya itu.

" Selamat malam, Mr. Tony," sapa Lola ketika Lola sudah berhadapan dengan Mr. Tony.

" Selamat malam, Lola. Sudah siap untuk malam ini?," tanya Mr. Tony.

" Iya. Saya akan menampilkan yang terbaik," ujar Lola sambil tersenyum.

" God bless you, Lola," Mr. Tony mengucapkan itu sambil mencium pipi Lola dan beranjak pergi.

Lola tersenyum. Ini bukan kali pertama Mr. Tony menciumnya. Mungkin perasaan Mr. Tony belum berubah sedikit pun padanya. Kebaikan tidak akan membuat Lola luluh untuk rela dijadikan simpanan lelaki itu.

Lamat-lamat dari kebisingan tempat itu, terdengar sebuah lagu...

her name was Lola
she was the showgirl
with yellow feathers in her hair and a dress cut down to there
she would merengue and do the cha-cha
and while she tried to be a star, Tony always tended bar



-----THE END----




PS : bikin cerpen lagi malam ini karenan terinspirasi lagu Copacabana dari Barry Manilow

*photo by tumblr

Cerita Pendek

Dim-Dim

Rabu, Mei 04, 2011


Lagi-lagi di sore hari dan pas sehabis hujan. Dim-Dim datang ke rumah dengan mengenakan baju berwarna biru muda. Payungnya yang berwarna kuning tampak kontras dengan bajunya. Lembut menyejukkan mata. Perumahan kelas menengah yang menjadi background terlihat kumuh di belakangnya.

" M, buka pintu dong...," ujarnya menyambutku yang baru saja bangun dari tidur siang. Aku membuka pintu dan malas-malasan mencari kunci untuk membukakan Dim-Dim pagar.

" Darimana Dim?," tanyaku

" Dari rumah, " jawabnya seraya masuk dan langsung menuju kamarku.

"Eh jeng, tamunya nggak dikasih minum?," singgungnya padaku.

" Iya, tunggu, cerewet...,"ucapku setengah mengumpat. Dim-Dim tertawa.

Di dapur aku bingung ingin berbuat apa. Butuh waktu sepersekian detik untukku mengumpulkan nyawa. Otakku lambat laun bekerja. Di kulkas ada sirup dan minuman soda, tapi rasanya tidak cocok untuk suhu dingin sehabis hujan. Lalu kuputuskan untuk membuat teh panas yang mesti kuobrak-abrik lemari untuk mencari gula. Teh untuk Dim-Dim kuseduh dalam mug bergambar hello kitty, pemberian temanku Hans sewaku ia study ke Jepang.

"Terima kasih, M,"ujarnya padaku.

"Ada perihal apa sampai kau datang ke rumah?," tanyaku.

"Jangan begitu dong, M. Tenang, kita santai-santai dulu-lah," Dim-Dim menyeruput tehnya.

Aku mulai tak sabar. Pasti ada hal penting sampai Dim-Dim datang ke rumah. Namun, tak ada tanda-tanda ia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Kali terakhir Dim-Dim datang ke rumah adalah ketika ia nangis-nangis merutuki mantan pacarnya yang memilih menikah dengan orang lain. Ia terlihat tenang dan baik-baik saja. Tidak seperti kemarin, meraung-raung tidak jelas.

"Dim, ada apa?," aku sudah mulai tak sabar.

Bukannya menjawab pertanyaanku Dim-Dim malah mengambil majalah fashion yang ada ada di dekat kakiku. Membolak-baliknya. Kadang-kadang ia tersenyum. Manis sekali.

"Dominique, apa yang terjadi?," tanyaku lagi menyebut nama lengkapnya.

Wajah Dim-Dim terangkat. Ia menghela nafas sebelum melihat ke arahku. Membalas pandanganku.

"Aku ingin jadi biarawati M....,"ujarnya lirih hampir tak terdengar.

Aku terperangah. Detik berikutnya aku tertawa terpingkal-pingkal.

"Yang benar saja Dim. Kamu mau jadi suster? hahahaaaa....," aku tak bisa menahan tawaku.

Dim-Dim tidak tertawa. Ia menatapku lurus-lurus. Dominique Bernadette, sahabatku, perempuan ateis satu ini tiba-tiba percaya pada Tuhan dan ingin menjadi pelayannya? Apa ini salah satu tanda-tanda akhir zaman?

"Jangan bercanda, Dim. Lihat Gereja dari jauh saja kau sudah buang muka sekarang malah ingin tinggal di dalamnya?," aku melanjutkan tawaku.

"Aku serius M. Aku ingin masuk biara...,"ujarnya lagi. Tampaknya ia sedang serius. Ini ekspresi langka yang baru saja aku lihat lagi dari Dim-Dim. Ekspresi ia sedang serius. Ada tiga kejadian yang membuatku melihat ekspresi ini. Pertama, waktu ia memberi tahu bahwa ayahnya meninggal dunia. Kedua, waktu ia bilang ia tak percaya lagi pada Tuhan. Ketiga, adalah saat ini. Ia bilang ingin menjadi biarawati.

Aku berhenti tertawa. Mencoba mengatur posisi dudukku dan berdehem sekali lagi.

"Ini bukan karena kamu patah hati kan? Bukan karena kamu ditinggal kawin atau putus asa dalam dunia percintaan?," tanyaku memastikan.

"Tidak M. Aku tidak sedang patah hati. Justru sebaliknya. Aku sedang jatuh cinta. Ia mengubah hidupku. Ia menyentuh hatiku, M," seperti ada cahaya yang terpancar dari wajah Dim-Dim ketika ia mengatakannya.

Aku termenung. Dim-Dim tipikal perempuan yang sulit jatuh cinta. Sekali jatuh cinta akan selamanya ia mencinta.

"Oya?, kau jatuh cinta pada siapa?," tanyaku penasaran.

Dim-Dim tersenyum. ia mengarahkan telunjuknya menuju gambar yang terpampang di dinding kamarku. Gambar yang setiap malam sebelum tidur akan aku pandangi sambil bertelut.

Tiba-tiba aku merasa seperti berhadapan dengan Sang Bunda.





*iseng-iseng bikin cerpen sambil lihat bentor-bentor depan rumah yang lagi putar lagu melayu band Malaysia.