Kita Tidak Sendiri Lagi, Juni

Rabu, Juni 12, 2019

Cinta adalah pertemuan dan percakapan dua liyan. Dia dapat mengatakan apa yang tidak bisa kamu ucapkan dan kamu dapat mengatakan apa yang tidak bisa dia ucapkan. Dia dapat merasakan apa yang hilang dari dirimu dan kamu dapat merasakan apa yang hilang dari dirinya. Dia memahamimu dan kamu pun memahami dia meski tanpa penjelasan. Kalian akan selalu saling mencari dan pada akhirnya saling menemukan satu sama lain. Entah itu dalam jarak, kisah, lagu, tarian, buku, pesan singkat, angin malam, hujan, dan kering daun pepohonan. Dia tidak akan meninggalkanmu dan kamu tak akan meninggalkan dia sekalipun dia dan kamu punya 1001 alasan untuk saling meninggalkan. Kamu tidak akan segan-segan marah pada dia. Dia tidak akan sungkan untuk mendiamkanmu. Mungkin kamu tak setuju dengan apa yang dia kemukakan dan dia memiliki pandangan berbeda denganmu. Tetapi, kamu dan dia akan belajar menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan. Segala persamaan akan disyukuri tanpa dibandingkan. Di hadapan dia, kamu menjadi dirimu sendiri. Bagimu, dia selalu indah ketika menjadi dirinya sendiri. 

Cinta ini melampaui hasrat-hasrat badaniah. Cinta yang selalu utuh dan tak pernah habis. Cinta ini tidak membutuhkan api karena ia adalah terang itu sendiri. Cinta yang tak kenal warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, pilihan hidup, hingga luka masa lalu. Jika kamu berbahagia, dia akan ikut bahagia dan kamu pun akan ikut bahagia manakala dia berbahagia. Jika dia iri padamu, dia akan belajar menerima kelebihanmu dan menerima kekurangannya, begitupun sebaliknya kamu akan mengakui kelebihannya dan belajar menerima kekuranganmu. Kamu tidak akan terburu-buru menghakimi dia dan dia tidak akan mudah percaya sebelum menanyaimu. Jika yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalian akan menjadi jangkar bagi satu sama lain. Jika kamu terluka, dia akan menangis. Yang tertusuk padanya akan berdarah padamu, begitu kata penyair Sutardji Calzoum Bachri. 

Namanya Junita. Tanpa nama akhir. Satu kata saja seperti Musa. Orang-orang memanggilnya Shaloom, artinya damai sejahtera. Dalam hati dia menyimpan rahasia. Dia percaya dia dipakai Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi orang lain seperti Yohanes Pembaptis. Maka, dia menyerahkan hidupnya untuk bukan lagi menjadi miliknya. Juni adalah cinta dalam wujud persahabatan. Dia hadir menemani saya, seorang Mei, dalam perjalanan hidup yang berliku dan penuh drama. Pertemuan kami bukanlah cinta pada pandangan pertama. Dia tidak menonjol dan tidak senang menonjolkan diri. Saya cukup menonjol dan senang diperhatikan. Dia duduk di belakang, di sudut ruangan, dan diam mengamati. Saya duduk paling depan, baris utama, dan sibuk berbicara. Saya memiliki suatu kebijaksanaan yang belum terasah sementara dia tidak mengharapkan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya. 

Namun, pada suatu ketika, terjadilah pertemuan dan percakapan itu. Suasana asrama UKDW sudah sepi. Angin sepoi-sepoi berhembus mengajak untuk terlelap. Orang-orang sudah pulang dari kegiatan Sekolah Lintas Iman yang kami ikuti bersama. Saya sedang menunggu ojek langganan yang akan menjemput. Juni menghampiri dan duduk di samping saya. Kami bercakap-cakap. Ia menanyakan cita-cita dan mimpi-mimpi saya. Saya menanyakan bagaimana ia sampai di Jogja dan apa rencananya ke depan. Pada saat itulah, jiwa kami berhadapan seperti bercermin. Persahabatan tidak jatuh dari langit. Relasi ini merupakan interaksi dua subyek yang setara. Dalam proses itu, ternyata kami mengenali dan mencintai Pribadi yang sama. Kami memiliki tujuan yang sama meskipun mengambil peran yang berbeda-beda. Rasanya luar biasa berbahagia bertemu sahabat seperjalanan. Kami juga bertemu (kalau bukan dipertemukan) dengan sahabat-sahabat seperjalanan kami yang lain. Sebuah jaringan yang begitu indah berwarna-warni dengan tawa sedih dan airmata bahagia. Kami bersyukur telah merasakan cinta meskipun kami menanggung beban dan kuk dengan hati yang penuh parutan luka. Sungguh berbahagia mengetahui kita tidak sendiri lagi. 

Selamat ulang tahun, Juni.
Jangan takut, Jangan gelisah, Jangan gentar, dan Jangan patah hati. 

You Might Also Like

2 comments

  1. setuju. jangan takut. jangan gelisah

    BalasHapus
  2. Awww... lama ta mi baru dapat komennya lagi kakak Poseidon hehee..

    BalasHapus