Al dan Bintang di Langit (2)

Rabu, Mei 29, 2019

[sambungan dari Al dan Bintang di Langit (1)]



Pada mulanya, ia adalah daya. Sebuah getaran yang lahir dari kekaguman akan Rahim yang menghadirkannya ke dunia. Rahim itu telah menjadi ibu bagi para perempuan yang berjalan dalam kesunyian hendak mencari kebenaran. Ia adalah darah dagingnya. Ketika Al melihatnya pertama kali, Al mengingat dengan hormat Rahim itu. Pada waktu itu, tak ada yang istimewa. Ia masih suatu rasa yang polos. 

Kali berikutnya, Al bertemu dengannya lagi. Ia menjelma sebuah keindahan. Al terpana. Menemukan 1 liter bensin yang telah membakar api dalam dirinya. Ia membangkitkan memori tentang kakak kelas yang dulu hanya bisa dipandanginya dari jauh. Ia melihatnya bagaikan bintang di langit. Betapa menggiurkannya bisa memiliki bintang di langit. Suatu kebanggaan bila ia bisa memetiknya. Menjadi unggul dari yang lain. Rasa yang tak berdosa itu berubah menjadi nafsu. 

Disinilah Al pada malam ini. Duduk di sebelah sang Bintang di Langit. Tubuh Al seperti terpaku pada kursi kayu yang didudukinya. Al tidak menjadi dirinya sendiri. Ia menjelma seseorang yang tak dikenali para sahabatnya. Dengan nafsu untuk menaklukkan, Al ingin membuktikan diri. Ia lupa sang Bintang tak mengenalnya. Sang Bintang adalah orang asing dan kehadirannya merupakan suatu misteri. Al berbicara tanpa henti. Al bertingkah mencari perhatian. Nafsu yang serampangan menjadi rantai bagi diri Al. Rasa yang polos, yang tadinya memancar indah, menjadi redup dan gelap. Menelan Al bulat-bulat. Pada titik ini, nafsu menjadi syahwat. 

Al kini dikuasai syahwat. Energi negatif memancar dari dalam dirinya. Ia telah menyakiti dirinya dan juga sahabatnya. Sang Bintang semakin jauh dari jangkauan Al. Namun, Al dikenal dan disayangi oleh Bapanya. Sang Bapa memperhatikan Al dan ingin menyelamatkan Al dari dirinya sendiri. Al dan sang Bintang kembali bertemu. Pada perjumpaan itu, Sang Bintang memandang Al sebelah mata. Ia mengeluarkan kata-kata yang jahat pada Al. Al kaget. Ia tersadar. Syahwat ini harus diuji. Ia harus dimurnikan sehingga ia menjelma kembali sebagai rasa yang polos. 

Malam itu Al membalikkan keadaan. Sang Bintang mulai memperhitungkan Al. Malam itu posisi Al menjadi setara. Ia tidak lagi menjadi hamba dari fantasinya. Betapa mengerikannya hubungan yang sejak semula tidak setara. Kita merasa mendapatkan anugerah karena sang Bintang memilih kita. Dalam hubungan itu, selamanya kita akan berada di bawah kendali sang Bintang. Terciptalah relasi tuan dan hamba. Sang Hamba akan menyerahkan apapun untuk memiliki dan menyenangkan sang Tuan. Sang Tuan akan bertindak sesuka hatinya kepada si Hamba dan tak ingin melepaskan karena nikmat kuasa sangat menggetarkan. Hubungan kekerasan yang hanya bisa diputus oleh si Hamba sendiri ketika ia sadar bahwa ia adalah korban kekerasan dan telah diperbudak. Al tidak ingin seorang Bintang di langit. Ia tak mau sebuah relasi tuan-hamba. Ia ingin lawan intelektual yang setara. Seorang teman seperjalanan. 

Semakin Al berinteraksi dengan sang Bintang, semakin tampak kemanusiaannya. Yang indah tak selalu benar dan yang benar tak selalu indah. Al mendapatkan kesadarannya kembali. Dialah sesungguhnya sang Bintang di langit. He is not a star in the sky. I am!. Jika ia jatuh cinta, maka ia harus mencintai dengan percaya diri. 

Sang Bapa tersenyum. Ia adalah sang Cinta. Ia adalah pertanyaan yang menemukan jawaban. Sebuah sinyal yang bersahabat dalam kegelapan. Sebuah rasa untuk setia dan bertahan. Ia menerangi Al ketika Al hangus terbakar asmara. Cinta seharusnya memang menerangi, sebuah energi untuk membebaskan.

Sekarang Al tahu dengan pasti, Sang Cinta ternyata sudah bersama-sama dengan dia sejak semula. Ia tak perlu mencari lagi. 

You Might Also Like

0 comments