Masa Depan

Jumat, November 29, 2019

Mungkin dua atau tiga bulan sebelum Mami pergi, kami terlibat dalam percakapan yang serius dan dalam. Mami masih belum yakin anak ini akan baik-baik saja kalau ditinggalkan. Sementara itu, saya masih dalam fase menggugat dan menyimpan kemarahan yang luar biasa pada Tuhan. Di saat semua jalan tertutup, bahkan celah untuk terbukanya sebuah jendela pun tak tampak, saya meminta dijodohkan oleh Mami. 

Mami punya banyak teman dan kolega. Salah satu alasan kenapa saya sulit didekati oleh laki-laki lajang di komunitas kami adalah karena Mami. Mereka segan pada Mami dan segan juga padaku. Saya tidak tertarik dengan laki-laki yang tidak bisa diajak berpikir dan merasa. Seganteng, sekaya, atau sehebat apapun dia, kalau saya tak merasakan "klik" atau bahasa administrasinya sesuai dengan visi-misi, saya tak akan akan banyak bicara dengannya. Dan dengan demikian raut mukaku yang tampak seperti "orang yang lagi marah" itu akan muncul. Itu semakin membuat mereka menjauh. Sistem pertahanan diriku memang canggih hehee.

Ada satu laki-laki dewasa mapan yang kusukai sejak SMP. Dia anak teman gerejanya Mami. Usianya sudah kepala 4. Tapi, demi Tuhan, dia tak tampak seperti orang tua. Makin tua dia makin muda kayak Benjamin Button. Dia suka travelling dan fotografi. Orangnya tampaknya pendiam, tapi mungkin karena saya belum berinteraksi dengannya saja. Kuutarakanlah niatku untuk dijodohkan. Rasa-rasanya waktu itu saya sangat putus asa sampai merasa menikah adalah jalan keluar dari persoalan ini. Jalan pedang menjadi akademisi ini sangat berat. Lalu, apa kata Mami? Dia malah menyebut nama kakaknya laki-laki yang kusukai itu sebagai pembanding. Berbeda dengan dia, kakaknya ini jauh lebih bonafide (dan tentu lebih tua). Dia adalah dokter kandungan terkenal di kota kami. Sudah pasti secara finansial tak diragukan lagi. Untuk ukuran dunia, hidup saya kelak akan bahagia dengan materi yang melimpah dan status kehormatan di tengah-tengah masyarakat tampilan. Saya yang waktu itu berada dalam kondisi putus asa, cukup tergiur dengan fantasi itu. 

Ibu-ibu lain tentu akan langsung menyerahkan putri mereka pada lelaki jenis ini. Tetapi, tidak Mamiku. Jawabannya setelah saya mengutarakan niat itu adalah satu kata mutlak: Tidak. "Bisa saja. Mami tinggal bilang pada Mamanya dan beliau pasti setuju. Anak itu sangat dekat dengan ibunya dan akan mematuhi apa kata ibunya. Tetapi kalau saya perhatikan dia anakya manja. Semuanya diatur ibu. Kalau kamu menikah dengan dia, kamu akan menggantikan posisi ibunya. Kamu akan mengurus dia dan memomong dia seumur hidupmu. Kamu akan hidup dalam sangkar emas. Padahal, kau itu aktivis. Hidupmu harus kau berikan pada orang banyak...."

Bagai mendapat tamparan keras, Mami mengingatkan kembali cita-cita saya. Tampaknya saya masih punya harapan untuk bertahan. Tampaknya saya tidak benar-benar putus asa. Tampaknya saya waktu itu hanya sangat lelah dengan penolakan. Begitulah, saya tak jadi menikah dengan lajang paling diincar di kota kami. Pria itu kemudian dijodohkan dengan teman sekolah minggu saya dulu. Agak tidak nyambung mereka sebenarnya. Kudengar bahwa ayah temanku itu memang ingin menjodohkan putrinya dengan dia dan karena dia ingin menyenangkan ibunya, maka jadilah. Saya sendiri tetap tertatih-tatih berjalan di jalan sunyi untuk menjadi Begawan.

Lain Mami, lain pula Daddy. Sebagai mantan cowok kluster 1 di pasar perjodohan, Daddy tahu persis permainan laki-laki. Tak heran kalau dia sangat posesif pada saya. Jika mimpi buruk Mami adalah melihat saya hidup dalam sangkar emas, maka ketakutan Daddy adalah saya menikah dengan laki-laki yang memanfaatkan saya demi kepentingannya. Mimpi buruk Daddy adalah melihat saya menikah lalu bekerja keras untuk menghidupi suami dan keluarga suami saya. Berkali-kali dia mengingatkan bahwa saya anak tunggal. Apa yang menjadi milikku akan menjadi milik suami, begitu kira-kira menurut hukum. Itulah sebabnya di ambang usia 30 tahun yang kata orang masa yang pas untuk menikah, Daddy tak kunjung menyuruh atau memaksa saya menikah. Kalau boleh memilih, Daddy ingin menyimpan saya dalam lemari kaca seperti boneka.

***

Saya sendiri apakah ingin menikah? Entahlah. Sudah lama kuputuskan untuk tidak bergantung pada institusi pernikahan. Bagi saya, menikah ok, tidak menikah juga tidak apa-apa. Semua relasi tidak selalu goal-nya menuju pernikahan. Ada ikatan-ikatan yang tak terakomodasi oleh institusi buatan manusia. Dengan karakter dan visi-misiku yang bertabrakan dengan kultur patriarki, tampaknya akan sulit bagiku menemukan suami. Kalau menemukan pun, kami akan hidup dalam kompromi seumur hidup atau sesederhana akan bercerai. Saya sudah bilang pada Mami bahwa saya mungkin tidak akan menikah. Bukan karena saya membenci institusi ini atau tidak mau, tapi struktur telah membuat perempuan-perempuan seperti saya ini sulit untuk dicintai dan diterima. Laki-laki yang diberikan kuasa dalam pernikahan akan mendominasi dan memanipulasi kami. Kalau bukan saya yang ditindas, saya yang akan menindas dia. Rumit, kan. Maka, saya mulai mempersiapkan diri untuk menjalani perspektif "saya sendiri dan akan sendiri lagi". Sederhananya, tidak bergantung pada orang. Di antaranya, ada proses dimana kita bertemu dan berpisah dengan orang-orang. Atas segala keadaan itu, saya pelan-pelan membangun support system. Soulmate tidak selalu berbentuk pasangan, kadang mereka muncul dalam bentuk teman, komunitas, hewan peliharaan, atau tumbuhan. 

***

Tadi malam saya curhat-curhatan dengan Makrus. Kami sedang membicarakan kekasih hatinya yang juga dilanda dilema yang sama. Kekasih hatinya itu tipe yang suka bereksplorasi dan menaklukkan. Sementara Makrus adalah tipe devosi, menyerahkan seluruh cintanya untuk satu orang ini. Namun, meskipun pilu, Makrus memahami kalau gadis itu realistis. Ia akan memilih pria yang dapat memberinya masa depan. Tak ada perempuan yang ingin hidup dalam ketidakpastian. Tentu pria tersebut hendaknya memenuhi ekspektasi dan kepentingannya. Begitupun sebaliknya.

Membayangkan memiliki suami dan anak-anak tampaknya menyenangkan (meskipun saya jadi trauma setelah menonton video orang melahirkan).  Kita tak akan kesepian dan akan bahagia. Hmm, tunggu dulu. Siapa yang menjamin kita takkan kesepian meskipun sedang dalam relasi? Dan bukankah tak ada yang mampu membahagiakan kita selain diri kita sendiri? Pertanyaan berikutnya, apakah memang hal itu benar-benar yang saya butuhkan? Mengingat hidup saya sekarang bukan lagi milik saya, saya sudah tak sanggup membayangkan seperti apa hidup saya kelak. Bukan maksudnya tak punya perencanaan hidup, hanya saja ada hal-hal yang tak bisa kita tolak. Yang Mulia Komandan Tertinggi sudah mengambil alih kendali atas hidup saya dan sebagai prajuritnya, saya harus patuh pada perintah Komandan. Masa depan saya ada dalam perencanaanNya. Dan seperti yang sudah Beliau katakan dan tertulis dalam kitab, "Apa yang Kuberikan tidak sama seperti yang dunia ini berikan kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu ."

Saya tidak punya kuasa untuk mengubah atau mengontrol. Saya hanya menjalani semampunya. Tenang, Komandan tidak seotoriter itu. Jika bukan kita yang diubah untuk mengikuti situasi itu, maka situasi itu yang diubah untuk mengikuti kita. Saya dan Juni sudah pernah membahas ini. Siapa yang tak butuh cinta dan afeksi? Tapi kami sadar peran dan posisi kami. Hidup kami kompleks dan tidak mudah. Kami lebih baik memilih sendiri daripada membuat laki-laki yang kami cintai menderita hidup bersama kami. Saya dan Juni mengimani jika memang kami diberikan pasangan, maka orang tersebut adalah anugerahNya. Ia pasti mampu menemani. Komandan pasti akan memberikan pasangan yang sepadan. Supaya kalau yang satu jatuh, yang lain akan menopang. Kalau yang satu terbungkam, yang lain akan meneguhkan supaya ia dapat berteriak lantang. 


You Might Also Like

2 comments

  1. kalau sy sih tipe yang selalu ingin mengalir. bahkan ketika menikah pun, sy hanya punya niat sederhana yakni ingin punya bayi lucu. setelah itu ingin ada adiknya. sekarang, mulai banyak tuntutan hidup. but, kehidupan harus terus mengalir. entah sampai titik mana.

    BalasHapus
  2. Tidak apa-apa Kak. Semua orang berjalan dengan rute-nya masing-masing. Dalam rute itu, kita akan bertemu dengan teman-teman seperjalanan.

    Buat Kak Yus, tampaknya semuanya susah tercapai ya? hehee.

    BalasHapus