Love Story

Loving or Unloving Ways?

Sabtu, Oktober 24, 2026

two zebra doves play on the patio (photo: meike)


Seorang psikolog ternama asal Amerika bernama Russell Barkley pernah bilang," The children who need love the most will always ask for it in the most unloving ways". Aku pertama kali mendengar pernyataan itu dari dosenku saat menceritakan pengalamannya membesarkan dan menemani anak tunggalnya yang autis. Di hadapan publik, mereka menjadi teladan bagi banyak orang. Namun, di belakang layar, tak jarang ibunya lelah, frustasi, dan depresi harus menghadapi anaknya yang kadang tantrum dan cemas atas ketidakpastian masa depan mereka. 

Kisah dosenku itu memang kisah yang menginspirasi. Bukan karena itu kisah heroik ibu yang mencintai anaknya, melainkan karena kisah itu menjadi bukti kerapuhan manusia. Kita bisa sangat mencintai seseorang, ingin selalu bersamanya, merindukannya, memahaminya, tapi di saat yang sama kita juga bisa sangat jengkel, marah, kecewa, dan sedih padanya. Kedua sisi emosi dan perasaan itu bisa hidup bersamaan tanpa saling meniadakan. 

Lalu, aku jadi teringat pula filmnya Johnny Depp dan Winona Ryder yang famous di tahun 90-an, Edward Scissorhands. Bagi generasi 90-an, film ini salah satu yang ikonik. Bukan hanya karena film itulah yang  membuat Johnny dan Winona berpacaran dan menjadi pasangan hot masa itu, tetapi juga karena ceritanya yang menganggu sekaligus sedih. Drama gothic fantasi ini bercerita tentang Edward, seorang manusia buatan yang belum selesai sebab penciptanya keburu meninggal. Edward bisa berfungsi selayaknya manusia normal, namun satu-satunya bagian tubuh Edward yang belum selesai dipasangkan ke tubuhnya adalah kedua tangannya. Sebagai pengganti tangan, Edward menggunakan gunting yang panjang, tajam, dan besar. Edward yang tadinya hidup terisolasi turun ke tengah masyarakat karena ingin merasakan kehidupan. Sayangnya, Edward yang tampak berbeda ini tidak serta merta langsung diterima masyarakat sampai akhirnya ia bertemu dengan Kim, gadis yang melihatnya apa adanya dan memperlakukannya dengan baik. Terlepas tangan Edward yang berbentuk gunting dan berpotensi melukai orang lain, Kim bisa melihat kebaikan dan ketulusan Edward. 

Singkat cerita, Kim dan Edward saling jatuh cinta. Sayangnya, cinta saja ternyata tidak cukup. Keduanya ingin berdekatan, tetapi kondisi Edward yang tidak memungkinkan itu kerap menjadi persoalan serius bagi mereka. Tanpa kedua tangan yang bisa menggenggam dan memeluk, mustahil pasangan ini bisa dekat dan melekat. Suatu hari, Edward membuatkan patung es yang indah sebagai dekorasi Natal untuk Kim. Kim yang melihatnya menjadi bahagia sekali. Namun, di tengah proses itu muncul gangguan, Edward yang terkejut jadi tidak bisa mengendalikan tangannya dan tanpa sengaja gunting yang tajam itu menggores tangan Kim hingga terluka dan berdarah. Edward takut sekali kalau ia menyakiti Kim meski ia tidak pernah bermaksud demikian. 

****

Relasi antara Edward dan Kim merupakan metafora tentang relasi intim dengan orang yang memiliki luka attachment atau kelekatan dengan orang lain yang belum pulih. Orang dengan luka attachment sangat takut dengan kedekatan karena kedekatan membuat mereka menjadi rentan dan kerentanan membuat mereka merasa akan mudah dilukai. Semakin tidak dekat dan tidak penting orangnya, orang dengan luka kelekatan bisa berinteraksi dengan normal sesuai konvensi sosial. Namun, semakin dekat dan penting orangnya, kedekatan itu terasa berbahaya. Paradoksnya, mereka juga butuh kedekatan itu dengan orang yang dicintainya. Akibatnya, setiap kali ia ingin dekat dengan orang yang dicintainya, ia langsung merasa takut dan perisainya yang bagai tangan gunting Edward siap melukai pasangannya meski bukan itu maksudnya. Padahal, seperti kata Barkley, orang-orang dengan luka attachment seperti ini justru paling membutuhkan cinta tapi justru sering memintanya dengan cara yang paling tidak penuh cinta. 

Orang-orang dengan luka kedekatan adalah mereka yang pernah dilukai oleh orang-orang yang mereka cintai di masa lalu. Entah orang tuanya, saudaranya, teman-temannya, pasangannya, atau masyarakat di masa lalu. Mereka pernah ditolak, ditinggalkan, dan tidak merasa dicintai. Mereka belajar bahwa menjadi diri sendiri atau membuka kerentanan dirinya bisa berbahaya. Maka mereka belajar mengontrol siapa yang bisa dekat dan tidak. Apa yang bisa dibagi dan mana yang tidak. Mereka belajar menyembunyikan dirinya dan kadang bersikap ambivalen untuk melindungi dirinya. Semakin mereka mencintai orang itu, semakin tinggi terasa bahayanya dan apa yang dipertaruhkannya. Maka, seperti kata Barkley lagi, alih-alih membicarakan luka itu dan terbuka, mereka justru bertahan dengan mekanisme yang mereka pelajari dari masa lalu. Mereka menguji atau mengetes pasangannya untuk melihat kalau mereka melakukan sesuatu yang menyakiti atau mengganggu pasangannya: apakah pasangannya akan tetap tinggal atau pergi?. Kalau setelah dites dan pasangannya lolos uji, mereka merasa lega tapi hanya sementara karena mereka akan merasa cemas, merasa kalau ada yang salah. Mereka merasa tidak aman kalau ternyata semua baik-baik saja. Tapi, kalau pasangannya akhirnya pergi meninggalkannya, mereka akan bergumam dalam hati,"Nah, benar kan? dia sama aja kayak yang lain". Padahal, mereka sendiri yang tidak mengambil tanggung jawab dan malah menimpakan "kesalahan" untuk menjaga relasi yang seharusnya dijaga dua orang kepada pasangannya yang malang yang terus diuji tanpa tahu soal ujiannya apa. Ya, begitulah. Mereka juga mendorong pasangannya menjauh dengan menciptakan rasa kelaparan emosional sehingga pasangannya terus-menerus diposisikan untuk mengejar, menjelaskan, atau mengalah. Yang paling ekstrim, mereka mencoba mengendalikan relasi dengan waktu dan cara mereka sendiri meski mereka tahu cara itu menyakiti pasangan mereka yang juga mengalami kondisi yang sulit di hidupnya. 

Apa akibatnya? Seperti dosenku itu, kedua orang yang saling mencintai sekalipun bisa sama-sama merasa lelah, frustasi, cemas, dan depresi. Mencintai dengan luka sama sekali tidak membebaskan. Yang banyak orang gak tahu, luka kadang bikin orang nyaman sehingga gak mau keluar dari sana. Mereka tahu pola-pola itu tidak baik dan sebenarnya bertekad tidak mau melakukannya lagi. Tapi, menariknya mereka tetap juga melakukannya. Orang-orang seperti ini bukan berniat meyakinkan pasangannya. Mereka sebenarnya hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri (lebih tepatnya dirinya yang terluka di masa lalu) bahwa orang atau relasi yang sekarang tidak seperti yang sebelumnya. 

Saking sibuk dan fokusnya melakukan stress test terus-menerus, mereka sampai tidak sadar sudah berapa banyak waktu yang terbuang percuma tanpa merasakan relasi itu dengan cara yang sehat, penuh cinta, dan penghormatan terhadap satu sama lain. 

Lalu, bagaimana caranya untuk pulih? Kalau kata ibuku sih, kita mau jadi orang baik atau jahat itu dari pilihan kita sendiri. Tuhan Yesus juga kalau mau menyembuhkan orang tidak langsung-langsung. Dia kerap bertanya dulu,"Kamu mau sembuh?" dan selalu ditutup dengan kalimat,"Pergilah. Imanmu telah menyelamatkan engkau". 

Nah, apa artinya? Silahkan jawab sendiri.