Review Buku

Madre

Kamis, Juli 21, 2011


Paket itu datang tanpa diduga.
Ada dua nama yang tertulis di paket itu walaupun yang mengirimkannya berasal dari website online buku di Jakarta. Saya terkejut sekaligus berbunga-bunga karena tahu ini perbuatan siapa. Dan tralala...Madre, novel terbaru dari Dee yang berisi kumpulan cerpennya dalam kurun waktu 5 tahun. Yang kutahu Madre belum ada di Makassar dan kini ia ada di tanganku. . Hmm....what a lovely surprise..^^

Saya suka membaca buku-buku karya Dee. Mulai dari Supernova:Ksatria, Peri, dan Bintang Jatuh, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Rectoverso, dan terakhir Madre yang semalam tadi saya selesaikan. Boleh dibilang saya terlambat mengikuti alur Dee dalam menciptakan tulisan-tulisannya. Buku pertama dari Dee yang saya baca adalah Filosofi Kopi sewaktu masih SMP sedangkan pada saat itu Indonesia sudah lama heboh dengan serial Supernova-nya. Supernova pun yang baru saya baca masih buku pertamanya dan masih berusaha mencari kelanjutannya.

Overall, saya tetap suka dengan kumpulan cerita Dee. Seperti Filosofi Kopi dimana kopi menjadi perumpamaan, kali ini dalam Madre Dee menggunakan roti. Sebuah cerita yang tidak mendayu-dayu melulu dengan percintaan tapi lebih kepada keyakinan akan diri sendiri. More than that, keyakinan kita untuk percaya dalam menjalani hidup. Adapula cerita mengenai percakapan ibu dengan janinnya yang didedikasikan Dee untuk anaknya, Atisha. Lalu ada pencarian tentang makna cinta dan puisi-puisi Dee yang juga bisa dibilang prosa-prosanya yang khas. Tapi yang menjadi favorit saya adalah cerita "Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan" cerpen ini sangat jenius. Bagaimana seorang Dee mengumpamakan Tuhan dan cinta. Madre kemudian ditutup dengan cerpen "Menunggu Layang-Layang" yang pernah dimuat di blog find your true match dari L'oreal dan sudah pula saya baca serta puisi/prosa dari Dee yang berjudul "Barangkali Cinta"

Komentar untuk buku ini, seperti biasa Dee tetap memukau dengan pikiran filosofisnya.

Oiya, sempat saya nge-tweet ke Dee



dan dibalas


What a double surprise.







PS : kap kun ka, Sidharta. This is another sweet little things that you've made for me. ^^

Review Buku

Antologi Puisi "Kaki Waktu"

Rabu, Juli 20, 2011


Pramoedya mengatakan bahwa tulisan-tulisannya adalah anak-anaknya. Maka mengutip kata sastrawan besar Indonesia ini, saya sependapat bahwa tulisan yang lahir dari ide-ide pikiran kita adalah "anak kandung" kita yang pertama.

Antologi puisi "Kaki Waktu" adalah anak pertama saya. Ia terbentuk dari pikiran, hati, dan jiwaku. Dalam proses mengandungnya, saya tidak sendirian. Ada 11 kakak perempuan saya--para penulis perempuan yang hebat-- yang ikut pula mengandungnya. Hingga kemudian bulan demi bulan berlalu dan lahirlah antologi puisi "Kaki Waktu" yang dalam proses persalinannya dibantu oleh penyair terkenal M.Aan Mansyur sebagai kurator dan editornya.

Sebagaimana arti dari antologi maka "Kaki Waktu" juga terdiri dari kumpulan 7 puisi dari masing-masing 12 penulis perempuan. Mereka adalah Andi Tenriola, Dalasari Pera, Darmawati Madjid, Dhida Alwi, Eka Fitriani, Handayani Utamy, Inayah Mangkulla, Madia Gaddafi, Mariati Atkah, Meike Lusye Karolus, Rahiwaty Sanusi, dan Reni Purnama. Puisi-puisi ini adalah pikiran maupun pandangan masing-masing penulis dalam melihat perempuan, hidup, bahkan Tuhan.
Para endorser yaitu:
Aslan Abidin, penyair dan dosen FBS UNM Makassar
Khrisna Pabichara, penulis "Mengawini Ibu"
Nona G.Mochtar, penulis dan berdomisili di Jakarta
Susy Ayu, cerpenis dan penulis buku puisi "Rahim Kata-Kata"

Launching buku antologi puisi ini akan dilaksanakan :
hari/ tanggal : Senin, 25 Juli 2011
tempat : Gedung BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) jl. Dr.Soetomo no.26, Makassar, Indonesia
waktu : 15.00 - 18.00 WITA

****

Sayang sekali saya tidak bisa menghadiri launching antologi puisi "Kaki Waktu" karena sedang tidak berada di Indonesia. Namun, saya berharap launching tersebut dapat berjalan dengan lancar. Semoga antologi ini dapat menyentuh hati semua orang yang membacanya.

Special Moment

Prepare For My Trip

Selasa, Juli 19, 2011


Saya selalu mencari hal yang besar. Dan jika untuk mendapatkannya harus dengan cara mengorbankan yang lain, maka hal itu akan saya tempuh. Saya terpaksa harus memilih antara menghadiri launching buku antologi puisi saya atau study tour. Saya pun sejenak menjauh dari kegiatan kampus untuk mempersiapkan kesehatan saya. Semua persiapan hampir 100% siap. Semoga perjalanan ini bisa menyenangkan dan memberikan inspirasi. Saya sudah tidak sabar lenggak-lenggok ala Julia Roberts di film Eat, Pray, and Love.

Bagaimanapun ini perjalanan pertama saya ke luar negeri. Sendiri pula ( maksudnya tanpa pengawasan orang tua, sebenarnya sih perginya bareng rombongan). Dengan penguasaan bahasa international yang pas-pas-an dan kenyataan bahwa satu negara yang akan saya datangi nanti memiliki bahasa dan tulisan yang sama sekali tidak saya pahami membuat saya agak sedikit dumba-dumba geleter. Hmm...baiklah mungkin akan kedengarannya akan lucu. Tapi mulai sekarang saya harus belajar menggunakan bahasa isyarat dengan baik. Mudah-mudahan tidak mirp tarzan nanti.

Teknisnya ini kegiatan study tour dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tempat saya menimba ilmu. Namun, karena kuota peserta tidak mencukupi, maka kami yang ikut akan digabung dengan peserta study tour dari mahasiswa pascasarjana Fakultas Ekonomi. Namanya juga nebeng, maka kami mau tidak mau harus mengikuti kegiatan-kegiatan yang notabene berhubungan dengan ekonomi. Yang tadinya mau mengunjungi fakultas ilmu sosial disana eh malah nyasar ke fakultas perniagaan. Tapi, tidak apa-apa, mudah-mudahan dapat teman baru disana walaupun pastinya usianya 2 kali lipat dari usia kami. Hehehe..

Semoga liburan kali ini menyenangkan. I can't wait. ^^

Love Story

salah tanda

Minggu, Juli 17, 2011


Steve : So, you came here all the way just to see me?
Mary : Yes, Sir. "Ask and you shall receive". You know who said that?
Steve : No.
Mary : Jesus.
Steve : Did Jesus tell you to come here?
Mary : Hahaha.... No, You did.
Steve : I did?


Bagi yang sudah menonton film "All About Steve" yang dibintangi Sandra Bullock dan Bradley Cooper pasti ingat dialog di atas. Kalaupun tidak ingat, akan saya ingatkan adegan Mary yang berlari mengejar Steve dengan diiringi backsound lagu I Will Follow Him. Dialog ini memang biasa-biasa saja bahkan cenderung lucu, tapi disinilah letak kesalahpahaman Mary tentang tanda-tanda yang membuatnya yakin Steve adalah jodohnya.

Saat Mary pertama kali melihat Steve, ia merasa semesta alam raya ini berpihak padanya. Ia mengesampingkan logikanya dan menuruti emosionalnya. Mengapa bisa demikian? Mary sudah lama tidak mendapatkan cinta seorang pria. Ketika ada satu yang mengindikasikan tertarik padanya. Ia pun mematok pria tersebut menjadi miliknya. Dan berusaha mengejarnya walaupun terang-terangan pria itu lari darinya.

Apakah kita juga sering menyalahartikan tanda-tanda? Ya. Saya juga pernah salah mengartikan tanda-tanda. Dan ketika kita tahu kebenarannya, rasanya sungguh tidak enak. Kemana perginya semesta yang berpihak pada kita dulu?

Well, sebenarnya ada satu cara untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar tertarik dan mencintaimu. Jika ia melakukan pengorbanan, maka ia melakukannya karena ia mencintai. Maka, sebelum anda terjerumus tolong pastikan kalau ia juga merasakan perasaan yang sama.