Ruth dan Boaz

Selasa, Februari 14, 2017

Akan kuceritakan padamu tentang dongeng yang hampir dilupakan banyak orang. Berbeda dengan kisah cinta populer seperti Romeo dan Juliet, Layla dan Majnun, atau pasangan kekinian Sebastian dan Mia, kisah ini jauh dari romantika pada umumnya. Bagi banyak orang, kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan dan persahabatan. Namun, ada juga yang percaya kisah ini mengingatkan bahwa pertemuan bukanlah hal yang kebetulan. 

 *** 

Pada suatu masa ketika internet belum terpikirkan, tiga perempuan berjalan melalui daerah perbatasan Moab (sekarang masuk daerah Yordania). Perempuan yang paling tua terlihat berjalan mendahului yang lain. Matanya memandang jauh ke depan, mencari-cari negeri kelahirannya yang dibatasi gunung-gunung, hutan-hutan, dan lembah-lembah yang penuh misteri seperti di tanah Papua (barangkali di bawah tanah yang dijejaknya ada kandungan emas yang masih terkubur). Perempuan itu bernama Naomi dan kepedihan tidak pernah jauh darinya. 

Bersama suami dan anak-anaknya, ia meninggalkan tanah kelahiran dan bangsanya di kala negeri mereka sedang mengalami bencana kelaparan. Jika keluarga ini hidup di masa sekarang, maka alasan mereka pergi karena mengungsi dari perang saudara seperti di Suriah. Selama bertahun-tahun, mereka tinggal sebagai orang asing hingga suatu ketika suami dan dua anak laki-lakinya meninggal dunia. Dua perempuan muda yang berdiri di belakang Naomi adalah istri-istri anak-anaknya, perempuan-perempuan asing yang dianggap kafir oleh bangsanya. 

Lalu berkatalah Naomi kepada kedua menantunya, "Tinggalkanlah ibu mertuamu yang renta ini, kembalilah kepada keluarga dan bangsamu, aku membebaskan kalian". Menjawablah menantu pertama. Namanya Orpa. Pada detik pertama, ia menangis terharu tak mau lepas dari ibu mertua, tapi detik berikutnya, ia berpaling dari ibu mertua dan pergi kembali ke negerinya. Kepergian Orpa menyisakan menantu kedua. Perempuan itu juga menangis sedih. Tapi ia tak tega membiarkan ibu mertuanya yang sudah tua itu pulang sendirian ke negerinya. Tak tega ia meninggalkan Naomi tanpa teman. Karena kasihnya, ia memilih mengikuti Naomi meskipun telah dibebaskan. “Bangsamu akan menjadi bangsaku dan Allah-mu akan menjadi Allah-ku”, katanya. Orang-orang kemudian memanggilnya Ruth, yang dalam bahasa Ibrani berarti “teman perempuan” atau bisa juga dimaknai sebagai “persahabatan”. 


Naomi entreating Ruth and Orpah to return to the land of Moab by William Blake (1795)


 *** 

Kepulangan Naomi membawa Ruth menggemparkan orang-orang sekampungnya. Perempuan-perempuan mulai grasak-grusuk bergunjing. Laki-laki tua dan muda memandangi Ruth dengan ingin tahu. Ada tekanan yang mereka rasakan di dalam lingkungan baru itu. Beban itu lebih berat dirasakan Ruth, tidak hanya soal statusnya sebagai janda saja tetapi juga karena identitasnya. Memang ada suatu masyarakat yang memaknai identitas kesukuan dan keagamaannya di atas segala-galanya. Sekalipun Ruth sudah termasuk kaum proselit –yang tidak hanya pindah paspor tapi juga keyakinan- ia masih dianggap orang asing. Sampai hari ini, hal tersebut masih terjadi. Suku, agama, dan kelas sosial sering dipakai sebagai ukuran untuk menentukan kelayakan dan idealitas seorang individu. Manusia dikerdilkan sebatas apa agamanya, darimana ia berasal, dan apakah ia kaya atau miskin. Jika terjadi pernikahan, banyak keluarga melaraskan ketiga elemen ini. Kualitas-kualitas diri si individu tak diperhitungkan lagi. Seseorang ditolak bukan karena ia jahat atau merugikan orang lain, tetapi karena identitas-identitas yang diberikan kepadanya oleh nasib dan negara. 

Di masa itu pula, perempuan masih didefinisikan dengan keberadaan laki-laki di sisinya. Ketika menjadi anak gadis, ia adalah milik ayahnya. Ketika menjadi istri, ia adalah milik suaminya. Ketika ia menjanda, ia tidak bisa berbuat banyak dan hidup dari belas kasihan orang. Harta suaminya akan menjadi milik anak laki-lakinya. Jika ia tak punya anak laki-laki, harta itu beralih ke keluarga suaminya. Sungguh! Hidup ini pilih kasih, pembaca. 

Dalam kemiskinannya, Naomi ingin menjual tanah pusaka suaminya. Tanah pusaka sangat penting bagi bangsa Naomi. Bukan hanya karena terkait warisan, tetapi juga identitas. Menjual tanah pusaka, berarti juga menebus Naomi dan Ruth. Tradisi di masa itu mengharuskan apabila seseorang mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka saudaranya harus mengambil jandanya. Sang lelaki yang nanti menjadi penebus tidak hanya harus membeli tanah itu dan menikahi Ruth (karena Naomi sudah terlalu tua), tetapi anak laki-laki yang dihasilkan akan menyambung keturunan dari almarhum suami Ruth agar garis keturunannya tidak punah. Perkawinan levirat/ipar istilahnya. Tanah dan anak adalah harta paling berharga dan utama bahkan bukti identitas diri. Namun, pernikahan jenis ini sangat dilematis karena berhubungan dengan harga diri seorang laki-laki apalagi jika ia hidup dalam budaya patriarki. Siapakah lelaki tak egois yang mau menolong Naomi dan Ruth? Siapakah yang sanggup menolong kedua perempuan yang malang ini? 

*** 

Pada waktu itu sedang berlangsung musim panen. Menurut tradisi bangsa itu, setiap pemilik ladang harus menyisakan sisa panen dan membiarkan orang-orang miskin untuk memungut jelai yang terjatuh saat panen. Untung di masa itu belum ada pabrik semen atau pembangunan bandara baru, kaum petani aman dari penggusuran dan alam pun lestari. Di sanalah Ruth setiap hari bekerja memungut bulir-bulir jelai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mertuanya. Ia sangat rajin sehingga menjadi buah bibir bagi pekerja-pekerja yang ada disana. Berita itu sampai ke telinga Boaz, sang pemilik ladang, yang ternyata masih saudara dengan suami Naomi. Boaz adalah seorang yang kaya raya, masih lajang, berpenampilan menarik, lulusan perguruan tinggi dari negara maju, tak lupa sembahyang, dan memiliki karakter yang jujur, berintegritas, dan penuh kasih. Pendek kata, Boaz ini eligible bachelor. Sudah pasti banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Mulai dari yang cantik jelita, berpendidikan tinggi, hingga dari keluarga terpandang. Siapakah Ruth bila dibandingkan dengan mereka? 



Ruth and Boaz by Barent Fabritius (1660)



Di ladang itulah, Boaz dan Ruth bertemu. Perbuatan Ruth telah mempesona Boaz. Diam-diam Boaz memerintahkan buruh-buruhnya untuk melindungi Ruth dan tidak lupa mencukupkan tempayan-tempayannya. Ruth tak pernah pulang dengan tangan kosong. Setiap pulang dari pengirikan, Ruth menceritakan kebaikan Boaz pada ibu mertua. Naomi yang mengetahui bahwa Boaz masih saudara suaminya melihatnya sebagai kandidat penebus yang didambakan. 

Ruth sendiri tak pernah berpikir untuk mencari suami. Suaminya baru saja meninggal dan tak ada kesedihan sepedih kehilangan kekasih hati. Namun, ia patuh pada Naomi. Pada malam hari, ia masuk ke tenda Boaz dan duduk di kakinya. Boaz kaget. Namun, ia berkata pada Ruth bahwa hak menebus itu ada pada satu orang lagi, jika orang itu menolak maka hak itu akan jatuh kepadanya. Ruth adalah perempuan baik, maka Boaz menyuruh Ruth untuk tinggal sampai pagi karena tak baik jika ia keluar malam-malam. Keesokan paginya, Boaz memberikan enam jelai untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk Naomi. 


Boaz Casting Barley into Ruth's Veil by Rembrandt (1645)


*** 

Pada bagian ini kita akan mempelajari karakter Boaz. Wahai lelaki, Boaz ini memiliki kekuasaan, tetapi ia tak menggunakannya serampangan. Dicarinya laki-laki yang memiliki hak sebelum dirinya itu. Ditanyainya apakah ia mau menebus pusaka Naomi dan menikahi Ruth. Si Lelaki itu mau saja menebus Naomi, tetapi ia tak mau menikahi Ruth karena akan menodai keturunannya sendiri. Penolakan Lelaki itu dengan langsung memberikan hak bagi Boaz untuk menikahi Ruth. Tentu kita bisa menebak betapa bahagianya Naomi. Tuhan mendatangkan haknya seperti siang hari melalui ketaatan menantunya. Pusaka Naomi pun selamatlah. Kisah Ruth dan Boaz menjadi bukti bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia tak peduli pada identitasmu. Ia tak peduli apakah kamu difabel atau memiliki keterbatasan. Ia tidak peduli sekalipun kamu adalah orang asing di negeri yang jauh. Pertemuan Ruth dan Boaz sudah termaktub dalam rencana-rencana Ilahi. Dari pernikahan Boaz dan Ruth, lahirlah anak laki-laki bernama Obed. Obed kelak memperanakkan Isai. Isai memperanakkan Daud. Dan kelak dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus. 

 ***

Tidak mudah memiliki sikap setia dalam menjalani hidup. Dalam menghadapi tantangan, seringkali kita akan seperti Orpa yang meski awalnya taat, tapi kemudian menyerah karena keadaan. Ketidakpastian dan rasa tidak nyaman kelak membuat kita harus memilih: berhenti atau tetap lanjut. Di tempat kerja misalnya, kita sering mengalami iklim kerja yang tidak mendukung. Kita mendapati ada rekan kerja yang menusuk dari belakang, memfitnah, atau menghalangi-halangi kita untuk maju. Kita punya pilihan untuk mundur, tapi kita juga punya pilihan untuk tetap tinggal. Ruth punya pilihan untuk meninggalkan Naomi, tetapi ia memilih untuk tinggal bersama ibu mertuanya. Tidak hanya itu saja, demi menyelamatkan garis keturunan Naomi, ia menikahi Boaz. Ada pengorbanan disini. 

Kitab Ruth tidak terlalu banyak memberikan gambaran romantisme dalam hubungan mereka. Namun, kita bisa belajar banyak dari kisah Ruth dan Boaz bahwa pertemuan mereka adalah untuk saling menopang. Ruth merasa mendapat "teman" dengan perhatian yang diberikan Boaz yang memastikan jelai-jelainya selalu ada. Ruth merasa "dihibur dan ditenangkan" bahwa hari esok ia masih menyambung hidup bersama mertuanya. Di sisi lain, Boaz menjadi contoh bahwa laki-laki pun tidak selalu terpikat hanya dengan kecantikan atau kepandaian semata. Bayangkan saja jika kau dicintai hanya karena rupa dan latar belakang yang hebat-hebat saja. Ketika hal yang jasmaniah itu merosot seiring dengan berjalannya waktu, apakah kita masih akan dicintai dengan cara yang sama? 

Boaz bisa memilih perempuan mana pun dari kelas yang lebih tinggi dari seorang Ruth. Namun, ternyata kesetiaan Ruth pada mertuanya dan terlebih pada Allah yang justru memesona hati Boaz. Kita kembali diingatkan bahwa karakter seseorang menjadi elemen penting yang tak bisa disepelekan. Karakter kitalah yang menentukan "siapa" kita dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini, ketika kita melakukan sesuatu dengan tulus, maka getarannya pun akan dirasakan oleh siapa saja, seperti Boaz yang tersentuh dengan apa yang Ruth lakukan. 

***

Selamat Hari Valentine.





PS: berdasarkan diskusi dengan dua perempuan teolog: Kak Audra dan June. 

You Might Also Like

0 comments