Facing The Giants

Senin, Januari 30, 2012

Kebahagiaan sejati bukan berasal dari dalam dunia. Kebahagiaan yang ditawarkan dunia itu bersifat semu dan hanya sementara. Lantas mengapa saya terus-terus menangisi apa yang hilang ketika nanti saya akan mendapatkan lagi?

Fase kehilangan itu sederhana. Pertama, kita akan mengalami ketidakpercayaan dengan apa yang terjadi. Masih linglung dengan perubahan. Kedua, kita mulai marah. Tidak terima dengan keadaan. Mulai menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Mulai menyalahkan keadaan dan parahnya menyalahkan Tuhan. Ketiga, kita akan larut dalam kesedihan, kepedihan, dan kekecewaan. Airmata adalah bahasa atas kesunyian yang tidak bisa kita katakan. Rasa sakit untuk menginginkan keadaan yang lama semakin mendera. Tapi semakin kita menangis, semakin tidak ada yang terjadi.

Rasul Paulus bilang begini," Aku melupakan apa yang ada di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di depanku" (Filipi 4 : 13b). Saya tengah berjalan dalam kegelapan. Merasa lebih rendah daripada lantai dan tidak tahu apa yang menanti di depan sana. Saya ingin kembali ke belakang. Tapi ketika menengok ke belakang, justru kegelapan semakin pekat sehingga saya tidak mungkin menembusnya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah terus berjalan ke depan. Menanti apa yang disediakan-Nya untuk saya.

You Might Also Like

0 comments