Life Story

Kita Memiliki Kekuatan, Juni

Jumat, Juni 12, 2020

Meine Liebe Juni, 

Kata-kata memiliki energi. Kata-kata memiliki nyawa. Setiap kata yang kita ucapkan bisa menghidupkan, namun juga bisa mematikan. Kata-kata itu adalah senjata, seperti pedang yang tajam. Pedang itu bersama kita, si “anak panah yang runcing” yang disembunyikan Tuhan di dalam tabungNya. 

Aku takjub melihat bagaimana kata-kata bekerja. Ada percobaan ilmiah yang dilakukan ilmuwan Jepang bernama Masaru Emoto. Ia menguji apakah air dapat bereaksi dengan pikiran-pikiran yang positif dan negatif. Emoto menyiapkan dua gelas air. Setiap hari, air di Gelas A dicurahkan dengan kata-kata positif seperti: cinta, kebahagiaan, harapan, dll. Air di Gelas B setiap hari diberikan dengan kata-kata negatif: seperti benci, buruk, jahat, dll. Hasilnya, ketika dipotret, molekul-molekul air di Gelas A membentuk struktur yang sangat indah sedangkan molekul-molekul air di Gelas B membentuk struktur yang sangat buruk. Kita mungkin bisa meragukan reliabilitas percobaan tersebut, tapi kita juga bisa memikirkannya lebih jauh. Faktanya, 60 % tubuh manusia dewasa berisi air. Setiap kata yang kita ucapkan ternyata memberi efek bagi emosi dan perasaan kita. Jika kita mengawali hari kita dengan kata-kata penuh cinta dan positif, yakinlah kita akan lebih semangat menjalani hari itu meskipun banyak tantangan. Namun, kalau hari kita diawali dengan marah-marah, cibiran, atau hinaan, kerjaan apapun yang kita kerjakan, meskipun tidak ada tantangan, tetap terasa sangat berat. 

Liebe Juni, kamu adalah orang yang memiliki pedang itu. Kamu adalah salah satu anak panah yang disimpan dalam tabungNya. Satu kata dari bibirmu akan sangat berpengaruh dalam menuntun dan menerangi jalan orang-orang yang kamu temui. Pendapatmu akan sangat penting bagi mereka yang mencintaimu. Mereka yang awalnya tidak sanggup lagi berjalan, dapat berlari setelah mendengar kata-katamu. Bagi yang tidak menyukaimu, kata-katamu akan terasa seperti pedang yang menusuk-nusuk jantung mereka. Mereka akan merasa terkoyak-koyak dengan sayatan kata-katamu. Kamu telah menelanjangi mereka dengan kata-kata. 

“Bangkitlah”, “Bangunlah”, “Majulah”, “Jalanlah,” “Pergilah”, “Marilah”, adalah beberapa kata yang sering aku baca di kitab suci. Kata-kata yang mendorong orang-orang bergerak melakukan sesuatu. Sesuatu itu kadang tidak bisa diterima akal sehat dan bertentangan dengan realitas. Ingat kan, bagaimana Tuhan menyuruh Nuh membuat perahu dan dia ditertawakan orang-orang. Tetapi, Nuh tetap meneruskan pekerjaannya sampai selesai. Ya, sesuatu itu kadang membuat kita kesepian. Sesuatu itu kadang membuat kita dibenci dan dijauhi. Hal yang membuat hati sedih adalah kadang-kadang orang-orang yang tidak menerima kita adalah orang-orang yang justru paling kita harapkan menerima kita. Orang-orang yang melarang atau memarahi kita itu justru adalah orang-orang yang paling kita butuhkan pengertian dan dukungannya. 

Setelah Mami pergi dan banyak peristiwa-peristiwa di luar nalar yang terjadi, aku mulai mengasah kemampuan-kemampuan yang celestial, Juni. Aku percaya bahwa iman dan ilmu pengetahuan tidak bertentangan, sebaliknya mereka saling beriringan. Aku menyiapkan waktu khusus memandangi benda-benda langit. Aku tahu kamu juga melakukan itu, kan. Tahukah kamu? saat bulan purnama tiba, air di permukaan laut naik. Begitu juga dengan air di dalam  tubuh kita. Oleh sebab itu, kata temanku yang belajar yoga, mereka tidak boleh melakukan yoga saat bulan purnama. Efeknya nanti bisa buruk pada kesehatan. Yoga dipraktekkan bukan untuk membuat badan langsing. Yoga dipraktekkan untuk membangkitkan energi yang tertidur. Siklus haid kita beriringan dengan siklus bulan purnama, 14 hari kurang lebih. Konon, para perempuan bijak dari abad lampau melakukan pemujaan pada Tuhan dengan cara mensikronkan tubuh mereka dengan alam. Dengan demikian, mereka bisa berdialog dengan alam semesta. Pengetahuan itu didapatkan melalui melihat dengan mata batin, memahami apa yang didengarkan, mendengar apa yang dibaca, dan membaca apa yang tidak terlihat. Hampir semuanya bersandar pada intuisi, atau kalau kata Mami: feeling. Ilmu pengetahuan modern dengan metodologinya kugunakan untuk berani menyangsikan “sesuatu” yang kutemukan itu. Seperti semacam safety belt supaya aku tidak jatuh pada kepercayaan buta. 

Sekalipun beriringan, iman dan ilmu pengetahuan berada dalam ranah yang berbeda. Ilmu pengetahuan berada di ranah akal atau rasio. Semuanya bisa diukur dan dibuktikan secara indrawi. Tetapi, iman berada dalam ranah rasa. Sesuatu yang sulit dibuktikan secara indrawi. Ilmu pengetahuan punya batasan. Iman tidak terbatas. Allah tidak bisa dijangkau dengan ilmu pengetahuan, akal kita tidak sampai. Namun, ilmu pengetahuan membantu kita mengenal Allah. Allah dijangkau dengan iman. Dengan iman, kita bisa merasakan “cara kerja” Allah.

Kita diberikan tugas itu. Peran untuk membangun dan meruntuhkan, menanam dan menuai. Menguatkan yang lemah, melembutkan yang keras. Menghibur yang sedih, membalut yang luka. Kita akan melakukan itu semua dengan kekuatan yang terletak pada kata-kata. Energi yang bisa menghidupkan dan mematikan. Oya, satu hal lagi. Kadang-kadang kita juga harus fleksibel untuk sesuatu yang tidak pernah kita duga terjadi. Kita harus selalu siap siaga seperti prajurit di medan perang. Aku teringat kata-kata Lieutenant Mattias di film Frozen 2, “ Be prepared. Just when you think you found your way, life will throw you onto a new path….”. 

Selamat ulang tahun, Juni. Selamat merayakan hari kelahiranmu. Aku bersyukur pada Allah karena menjadikanmu teman seperjalananku. Selamat menantikan kejutan dari si dia (atau sudahkah? Hehehe. Nanti cerita ya). Selamat melayani domba-dombamu. Selamat menjalani masa-masa sebelum pengurapanmu. Selamat menantikannya dengan tekun. 

Aku mencintaimu. 

deine, 
Meike

Mantra Kalimat

10 Years Time

Senin, Mei 25, 2020



In ten years time, I want to live in a house with big windows. I want a kitchen large enough to have a kitchen table with four chairs, but not too roomy to ever feel the depth of my aloneness because I’ll probably be alone. But, I think aloneness won’t feel all-consuming with windows that protect me from the world but still let me watch.

 (Maeve Wiley - Sex Education)

Love Story

Cinta Pertama

Sabtu, Mei 23, 2020

Waktu adalah kotak pandora.

Jika sedang mengalami "struggling for enduring emotional pain", saya akan melakukan perjalanan ke dalam diri. Mengingat hal-hal yang pernah terjadi. Mencoba melakukan dekonstruksi trauma-trauma yang saya curigai sebagai akar "mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan" *sambil nyanyi. 

Nah, kali ini saya berjalan-jalan masuk ke memori saya sampai ke awal mula kehidupan. Kembali mempertanyakan hakikat saya mencintainya. Mengapa dari 7 milyar manusia di muka bumi, saya harus jatuh cinta padanya? Mengapa pula seperti kami punya fantasi dan bahasa yang sama? Ada banyak irisan identitas dan pengalaman yang kayaknya kalau disatukan membentuk ikatan sehingga ketika kami dipertemukan kami saling memahami. Hubungan kami bukanlah sebuah pertemuan, melainkan seperti reuni. Sesuatu yang familiar dengan rasa yang berbeda. Oke. Anggap bagian ini hanyalah asumsi saya untuk membuat drama kisah cinta ini semakin menarik dan melankolis. 

 *** 

Ingatan itu berhenti pada saat saya kelas 1 SD. Ada satu kakak kelas yang saya taksir waktu itu. Huruf nama depannnya A, sama dengan Aquaman. Ciri-cirinya mirip Aquaman atau setidaknya warna kulit mereka sama-sama putih. Entah ada turunan Belanda atau tidak, tapi A ini juga agak kelihatan bule. Dia kelas 6 SD saat itu. Well, saya dan Aquaman memang beda 5 tahun dan sama-sama alumni sekolah Katolik yang didirikan oleh spirit kongregasi yang sama. Kisah cinta itu tentu saja tidak terwujud. A lulus SD, saya naik kelas. Kita tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. 

*** 

Ingatan saya mundur lagi. Kali ini berhenti di tahun 1995. Ada banyak penyanyi hebat yang berjaya di tahun itu. Ingatan itu menguat lagi di tahun 1997. Lagu Kirana dari Dewa 19 menjadi hits dan sering diputar di radio. Saya meminta Mami membuatkan mix tape dengan lagu Kirana dan Sambutlah-Denada di dalamnya. Di masa-masa itu, ada satu manusia yang tak pernah saya lupakan. Heri namanya. 

Entah tulisannya Harry, Heri, atau Hery, tak penting lagi. Di telingaku namanya sesederhana "Heri". Kupanggil dia Kakak Heri. Saya tidak tahu apakah itu nama depan, nama tengah, nama belakang, atau sekedar nama panggilan. Heri adalah teman SMA-nya Kakak Iccank, anaknya Puang Ibu. Puang Ibu adalah orang tua angkatnya Mami. Waktu kecil saya sering dititip di rumah Puang Ibu dan nanti akan dijemput begitu Mami atau Daddy pulang kerja. Nah, Heri dan Kakak Iccank adalah teman segeng di sekolahan. Jadi, sepulang sekolah Heri pasti akan singgah main ke rumahnya Kak Iccank. Rumah Kak Heri pun berdekatan dengan rumah Kak Iccank. Jadi akses itu tak sulit. Disanalah, pertemuan kami terjadi. 

Informasi apa yang bisa kita dapat tentang Heri dari akumulasi ingatan anak kecil pada masa itu? Ia anak orang hebat di kota Makassar. Orang tuanya pejabat. Heri memiliki kakak perempuan (sama dengan Aquaman). Saya tidak tahu apakah Heri hanya dua bersaudara atau lebih. Tapi, yang menarik adalah ibunya. Orang-orang di kota kami meng-highlight figur ibunya Heri dengan kagum dan hormat. Ibunya adalah orang hebat. Perempuan cerdas, tangguh, dan luar biasa (sama seperti ibunya Aquaman). Figur feminis di era itu mungkin. Ibunya kalau tidak salah mantan anggota DPRD, jabatan yang akhirnya juga dipegang oleh kakaknya. Kata Mami yang sempat mewawancarai kakaknya Kak Heri, wajah kakaknya dengan Heri sangat mirip. Apalagi kalau tersenyum. 

Bagaimana ciri-ciri Heri? Seingatku tubuhnya proporsional. Tinggi semampai, berkulit putih bersih, bermata teduh, dan senyumnya tulus. Ia memenuhi kriteria konstruksi ketampanan laki-laki Bugis. Ia mengingatkan kita pada figur Ahmad Dhani waktu masih muda. Rambutnya agak bergelombang, pendek, dan belah tengah. Ya, selain sama-sama bertubuh proporsional dan berkulit putih bersih, Aquaman dan Heri tentu tidak mirip secara wajah. Namun, memang ada sesuatu dalam diri Aquaman yang akhirnya kusadari mengingatkanku pada Heri (atau sebaliknya?). Heri dimataku selalu tampak sendu, lembut, dan puitik. Ada kombinasi maskulin dan feminin dalam dirinya yang mempesonaku. Hal-hal itu yang kutangkap ada pada Aquaman juga.

Aku suka sekali melihat Heri kalau memakai baju seragam SMA. Celana anak SMA tahun 90-an yang gabungan antara baggy atau semi cutbray. Karena kakinya jenjang, Kak Heri memakai model kemeja junkies dan celana semi cutbray, sementara Kak Iccank dengan kemeja junkies dan celana baggy. Begitulah gambaran maskulinitas cowok-cowok cool, tampan, dan kaya pada masanya. Untuk bisa mengingat ini, saya nonton ulang film Catatan Akhir Sekolah

Berhubung mereka adalah cowok-cowok kluster satu, maka mereka tentu selalu dikelilingi banyak perempuan. Pacar-pacar mereka tentu tak ketinggalan ikut nongkrong dan kadang kalau beruntung bisa melihat mereka bercanda ria. Pacar-pacar mereka cantik-cantik semua. Kak Heri tentu punya pacar juga. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku suka memperhatikan Kak Heri dari jauh. Jika ia melihatku, ia akan menegurku. Ia memberiku senyumnya dan berkata dengan sayang, "Adek Meike...,". Aku tak punya banyak kesempatan bercakap-cakap dengannya. Atau tak mengingat percakapan yang mendalam dengannya. Atau aku yang lupa? Entahlah. Lagipula, aku selalu tersipu malu bila dia ada di dekatku. Mungkin di matanya aku adalah anak kecil pemalu. Tak ada yang peduli dengan isi hati anak kecil. 

Waktu berlalu. Kehidupan berputar. Heri masuk dalam pusaran kenakalan anak muda di zamannya: narkoba. Tentu karena dia mampu membeli dan pergaulannya di level seperti itu. Entah sejak kapan dia demikian, tapi kita tahu bersama pertengahan tahun 90-an sampai awal 2000-an penggunaan narkoba di kalangan anak muda memang mengerikan. Heri masuk dalam pusaran itu dan menjadi pecandu. Ia menjual barang-barang dari rumahnya dan konon membuat ibunya sangat sedih. Ketergantungan obat membuat Heri berubah. Ia tak menjadi anak manis lagi. Ia menjadi momok yang menyedihkan. Orang-orang mengelus dada dan menyayangkan keadaan Heri," Kasihan anak itu...kasihan ibunya ya?". Seingatku, Kak Heri belum menikah. 

Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP. Saya dan Mami lebaranan di rumah Puang Ibu. Tak lama, Kak Heri datang dan bercakap-cakap dengan kami. Kami tertawa-tawa mendengar dia bercerita tentang masa lalu. Suatu ketika pula, saya dan Mami baru pulang makan dari New York Chicken di jalan Pettarani ketika tiba-tiba ada yang berteriak memanggil kami. Itu ternyata Kak Heri. Dalam gelap malam, saya seperti tak percaya dengan yang saya lihat. Ia tetap tampan di mataku, tapi ia tak bercahaya lagi. Ia menanyakan kami darimana dan mau kemana. Pertanyaan kami yang sama untuknya. Setelah menyapa kami, Kak Heri pergi. Tubuhnya kurus. Ia tampak dekil dan menyedihkan. Pujaan hatiku yang diam-diam kusimpan di relung hatiku. Pujaan hatiku yang kudedikasikan semua lagu-lagu cinta tahun 90-an untuknya. Itulah pertemuan terakhirku dengan Kak Heri. Beberapa waktu kemudian, kami mendengar berita bahwa Kak Heri meninggal dunia karena overdosis. Ia selalu dikenang sebagai orang yang baik. 

*** 

Ada rasa sendu sekaligus lucu ketika ingatan itu kembali dan fakta bahwa nama baptis Aquaman adalah Heri dalam bentuk yang lebih fancy.

Aku dan Tuhan

"Aku Pergi Takkan lama"

Sabtu, Mei 23, 2020

Sudah menjadi kebiasaanku jika langit sedang cerah dan banyak bintang, maka aku akan mencari bintang yang paling terang dan mengklaim-nya sebagai bintangku. Dia yang menemaniku. Seperti malam ini, suatu kegembiraan manakala malam-malam sebelumnya menampakkan langit kelabu. 

 *** 

Ingatanku melayang pada perempuan-perempuan pesisir di kota Makassar. Pertemuanku dengan mereka teramat singkat dan diliputi kesedihan yang menggigit. Waktu itu aku sedang melakukan riset tentang perempuan pencari kerang yang termarginalkan pasca reklamasi pantai. Area laut yang menjadi lahan pencaharian mereka diprivatisasi. Hal itu tidak saja mempengaruhi keadaan ekonomi mereka, tetapi juga jiwa mereka. Mereka terpisah dengan kekasihnya, sang laut yang setia memberi. 

Aku datang ke rumah Ibu Ani, salah satu perempuan pencari kerang dengan niat untuk mewawancarainya sebagai salah satu informan. Sejak reklamasi, ia dan teman-temannya tidak bisa leluasa lagi mencari kerang. Untuk mencukupi kebutuhannya, mereka juga harus membeli ulang dari penjual lain di pasar lelang ikan. Itu berarti modalnya harus banyak dan keuntungannya menjadi berkurang dibandingkan ketika dulu mengandalkan laut. 

Rumah Bu Ani sangat sederhana. Terbuat dari kayu dan beratap seng. Rumahnya berlantai tanah. Jangan mimpi melihat tegel keramik atau marmer. Rumah-rumah khas pesisir memang dibuat seperti itu untuk gampang bertahan dari air dan arah angin. Mungkin juga supaya mudah dibongkar. Disitulah, Ibu Ani tinggal bersama suami dan 8 anaknya. 

Seusai wawancara, Ibu Ani mengambil seember besar penuh berisi kerang sebagai oleh-oleh bagi saya. Saya menolak menerimanya. Pertama, rasanya ada yang tak benar secara etika. Kedua, saya juga tidak memberinya apa-apa jika itu mau dianggap sebagai relasi transaksional. Bukannya sombong atau tidak berterima kasih, tapi saya tahu kerang-kerang itu adalah harta paling berharga Bu Ani. Kerang-kerang itu bisa menambah napas Bu Ani sekeluarga hingga beberapa hari ke depan.  Kerang-kerang itu akan lebih berarti buat Bu Ani daripada buat saya, lebih-lebih karena saya sendiri tidak doyan makan kerang. Namun, Bu Ani tetap bersikeras untuk memberi kerang-kerang itu. Ia bilang ia akan merasa sangat sedih jika saya menolaknya. 

Akhirnya, saya pulang ke rumah dengan membawa seeember penuh kerang yang entah akan dibuat apa. Di rumah, hanya Mami yang makan kerang dan lama-lama dia takut darah tinggi karena makan kerang tiap hari. Akhirnya, Mami mengolah sisa kerang-kerang itu menjadi kerang rica-rica dan membawa ke kantornya. Pulang dari kantor, Mami melaporkan kalau kerang-kerang itu habis dimakan orang-orang dan semuanya senang. Kerang-kerang itu menjadi berkat. 

Sudah beberapa tahun berlalu sejak kejadian itu. Riset itu sendiri sudah dipublikasikan di buku Ekofeminisme IV. Namunyang akhir-akhir ini membuatku teringat peristiwa itu adalah bahwa dalam keterbatasannya, seseorang masih mau memberi. Ia tidak hanya sekedar memberi. Ia memberi sesuatu yang paling berharga dari miliknya untuk orang lain. Ia memberi miliknya yang paling berharga untuk orang asing yang mungkin belum tentu akan kembali menjenguknya. Sebegitu dalamnya ia menghargai orang asing yang mau mendengarkan cerita sedihnya. Dan meskipun orang asing itu sudah lama pergi dari hadapannya dan mungkin Bu Ani sudah lupa juga pada wajahnya, suatu simpul kenangan yang indah tetap mengikat mereka. Suatu pelajaran penting: orang tulus memberi bukan karena mampu, orang tulus memberi karena mengasihi. Seperti tulisan-tulisan itu, yang aku berikan untukmu karena itulah yang terbaik yang aku miliki. 

*** 

Aku menceritakan kisah kerang Bu Ani pada Juni dan Juni membalasnya dengan menceritakan kisah sebelum Yesus naik ke surga. Dalam kisah itu, Yesus meminta makanan pada murid-muridnya dan mereka memberinya sepotong ikan goreng (Lukas 24 : 36 - 49). “Bayangkan, mereka hanya memberinya sepotong ikan goreng”, tak habis Juni menalarnya. Ya, kadang memang kita hanya mampu memberi dalam spontanitas dan kemampuan kita pada momen itu. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan selalu menerima apapun yang kita persembahkan untuknya. 

Itulah pertanyaanku sejak semula. Apa yang bisa kuberikan bagiMu, wahai Engkau yang memiliki segalanya? Dapatkah kita seperti anak kecil dalam lagu Natal “Little Drummer Boy”?. Anak kecil yang mempersembahkan permainan drumnya untuk bayi Yesus. Ia memainkan drum yang terbaik untuk sang Raja. Itulah yang berharga dan yang sanggup ia berikan. 

Sebelum Yesus naik ke surga ia mengucapkan bahwa Ia akan menyertai kita selamanya. Tidak pernah perjalanan ini dijanjikan ringan atau tanpa rintangan. Tapi, Ia selalu beserta kita. Itu janjiNya. Maka, ketika aku menangis, aku harus mengingat bahwa aku sedang menangis bersamaNya. Jika aku tertawa, maka aku pun sedang tertawa denganNya. Hari ini adalah hari KenaikanNya. Ia pergi. Tapi, Ia akan kembali lagi. Seperti lagu yang diciptakan Minggus Tahitoe dan dinyanyikan kembali oleh putranya, Ello, “Aku pergi takkan lama. Hanya sekejap saja ku akan kembali lagi, asalkan engkau tetap menanti…”

Setialah. Berjaga-jagalah.