Kisah Perempuan

Fredy S dan Mitos Erotisme

Jumat, April 25, 2014

*koleksi "baru" saya*


Sudah sejak lama saya mencari novel-novel Fredy S bahkan ketika masih kuliah di S1. Akhirnya, setelah mencari sekian lama, saya menemukan dua novel Fredy S berjudul Nilai-Nilai Kesetiaan dan Senja Berkabut Sutera beserta bonus novel Nani Rahaju yang ditulis Motinggo Boesje. Ketiga buku ini terkubur di salah satu sudut kota Jogja yang permai. 

Saya lupa tahun berapa persisnya ketika membaca sebuah novel karya Fredy S atau saya kira Fredy S. Yang jelas waktu saya sudah bisa membaca dan mengerti bahwa isi novel itu banyak dibumbui erotisme. Novel itu saya temukan diatas tumpukan buku kuliah kakak Enni, saudara saya. Keadaan novel itu agak menggenaskan. Sampulnya agak koyak disana-sini. Judulnya pun sudah hampir lupa, yang jelas ada kata "gairah"-nya. Awalnya saya hanya iseng baca-baca(ada memang suatu masa dimana anak kecil ingin membaca segala hal) namun lama-kelamaan, kok isinya jadi "sesuatu" sekali? Maka mengertilah saya mengapa sampulnya koyak disana-sini. Mungkin si Kakak takut kedapatan Ibu.

Well, itu sepenggal memori saya tentang novel-novel yang dikatakan terlarang bagi usia di bawah 17 tahun. Toh pada kenyataannya ketika duduk di bangku SMA dan teknologi sudah mulai canggih, saya dan teman-teman SMA sudah tidak mendapatkan buku-buku Fredy S lagi. Zaman kami dikenal dengan suatu web cerita porno yang disandi dengan judul "Cerita 5". Saya penganut paham "Ketidaktahuan membuat kita ingin mencoba" dan rupanya itu pula yang dianut teman-teman saya yang lain. Kami semua perempuan dan sudah paham bahwa seks adalah makanan tubuh. Persoalannya kami diikat dengan norma dan  budaya untuk menjaga keperawanan sampai menikah nanti. Maka tidak seperti teman-teman laki-laki kami yang sampai berani main ke you-know-what, kami lebih memilih menikmati seks dalam bentuk deskripsi cerita yang menghasilkan fantasi. Meski efeknya hanya sesaat. Toh kami puas juga. Dan setelah itu bosan. 

"Cerita 5" kemudian berganti dengan film-film romantis yang dibumbui adegan erotis. Beberapa teman saya mulai yang paling alim sampai yang paling nakal sekalipun punya folder khusus. Kami tidak menyukai film porno yang terlalu vulgar. Rasanya seperti menonton film edukasi bagaimana orang melakukan fertilisasi. Tidak ada estetiknya. Ah iya, disitulah saya paham bahwa film porno memang film yang berfungsi untuk praktikum (khususnya untuk pasutri), tetapi kami tidak mencari praktek kami mencari esensi tentang apa itu seks. Dan walaupun hasilnya semu, seperti semua anak perempuan yang dididik dalam budaya "timur", kami hanya sanggup menunggu sampai waktunya tiba.

Kembali pada novel Fredy S, saya memang baru baca dua judul diatas. Tapi sama sekali tidak ada adegan yang dibilang erotis-erotis itu. Entah kode erotis saya berbeda dengan mereka yang dulu membacanya tapi jika dibandingkan dengan novel metropop zaman sekarang, malah novel yang sekarang jauh lebih erotis. Selain Fredy S, nama Motinggo Boesje lebih klasik lagi dalam penulisan novel erotis. Boesje memulainya pada dekade 60-an. Maka dalam novel Nani Rahaju itu masih kental dengan penulisan ejaan lama yang campur aduk dengan serapan bahasa Belanda. 

Jika kita ingin membaca zaman, maka bacalah novel yang terbit di setiap zaman itu (ini juga berlaku pada lagu). Novel Boesje maupun Fredy S meskipun terpaut 20-30 tahun namun memuat satu pola yang sama: penekanan pada keperawanan perempuan. Perempuan wajar saja terlibat asmara dengan laki-laki. Namun jika laki-lakinya sudah mulai "berani", konflik tokoh perempuannya diperhadapkan dalam dilema untuk menjaga kesuciannya atau melepasnya. Sebagian tetap menjaga namun lebih besar lagi yang terenggut paksa. Usia yang dijangkau dalam novel-novel ini terbilang muda yaitu 17 tahun keatas (muda bagi zaman saya, tapi sudah tua di zaman om-tante-kakak). Bahkan tokoh Nani Rahaju berusia 23 tahun dan kuliah di UGM. Memang corak yang paling terlihat dan bahkan mungkin yang membuat kedua pengarang ini dijuliki penulis novel erotis karena pendeskripsian ceritanya memang mengandung unsur erotis meskipun sama sekali tidak vulgar. Misalnya kata "ujar Nina" yang umum dalam percakapan diganti dengan "desah Nina". Tapi wajar juga sih mengingat film-film 70-80an tokoh-tokohnya kalau ngomong suka mendesah-desah. Adegan yang dibilang erotis itu hanya berpuncak pada ciuman. Bandingkan dengan cerita Antologi Rasa-nya Ika Natassia. Bukan lagi ciuman, tapi gaya seks bebas sudah menjadi barang biasa dalam setting yang dipilih Ika. Maka, jelaslah perbedaan zaman antara kakak-kakak kita dengan kita atau bahkan adek-adek kita nanti. Ada memang degradasi nilai-nilai "ketimuran" yang muncul dalam novel-novel metropop bahkan yang paling mencolok adalah budaya konsumerisme yang dipromosikan di dalamnya (sampai jerit-jerit histeris kalau lihat counter Zara, Jimmy Choo, atau Victoria Secret di Mall namun merunduk seperti putri malu takkala tahu harganya jutaan rupiah). 

Meskipun saya kecewa karena mitos novel erotis Fredy S tidak sesuai ekspektasi saya, paling tidak novel-novel ini sukses membuat saya kembali ke masa ketika saya masih kecil (khusus untuk novel Boesje, saya mendapat gambaran kehidupan sosialita di tahun 60-an). Sebuah nostalgia untuk masa yang tidak akan pernah sama lagi sekalipun gaya fashion tetap berulang.

salam hangat,


Meike

Life Story

Keputusan yang diiringi Katon Bagaskara

Selasa, April 22, 2014

Sejak beberapa hari yang lalu, saya gandrung mendengarkan lagu-lagu ciptaan Katon Bagaskara yang versi dia solo bukan yang sama Kla Project. Lagu-lagu yang saya maksud tidak sebegitu familiar Negeri di Awan, Cinta Selembut Awan, atau Dinda Dimana. Lagu-lagu ini saya temukan acak dari album solo Katon di akhir tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an. Katon Bagaskara memang dikenal dengan lagu-lagunya yang khas, baik musik dan liriknya yang terkenal puitis. Bukan puitis nau-nau seperti lagu populer zaman sekarang. Pendengar lagu-lagu Katon memang orang-orang tertentu dengan selera tertentu yang sudah pasti tidak mainstream. Mereka juga kadang memiliki hobi yang tidak lazim. Agak hobi berpuisi dan berfilsafat barangkali. 

Sebenarnya secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang dari Malioboro bersama Bu Mery, saya mendengarkan lagu Pasangan Jiwa di taksi. Awalnya saya suka karena musiknya yang familiar tapi begitu saya mendengarkan dengan seksama liriknya, saya jadi galau.


kadangkala aku berkhayal 
seorang di ujung sana juga tengah menanti 
tiba saatnya begitu ingin berbagi batin 
mengarungi hari yang berwarna 
di mana dia pasangan jiwaku 
ku mengejar bayangan...(Pasangan Jiwa)


Kisah lagu ini memang agak mirip lagu klasik Goodnight, My Someone di film The Music Man. Kisah tentang seseorang yang menanti soulmate-nya. Bedanya kalau Pasangan Jiwa-nya Katon masih berupa bayangan maka lagu Goodnight, My Someone membuat kekasih imajiner karena tidak punya makhluk utuh untuk dirindukan. Jangan memandang sebelah mata orang yang masih menantikan pasangan jiwa-nya sebagai orang yang putus asa dan merana. Menurut saya, inilah salah satu keinginan hakiki manusia sebagai makhluk sosial. Kita butuh seseorang untuk berbagi, entah kebahagiaan atau kesedihan. Kita butuh seseorang untuk menjadi lautan bagi sungai-sungai pikiran kita yang terbentuk dari hilir-hulu pengalaman dan pengetahuan. Kita pada dasarnya butuh untuk mengasihi, mencintai. Dan bila kita bertekun, kita akan diizinkan menikah dengan pasangan jiwa itu, karena rupa-rupanya banyak pula orang yang tidak sabaran dan malah menikah dengan pasangan jiwa orang lain. 

Tapi bagaimana kalau pasangan jiwa-nya beda zaman? Jangan-jangan Soekarno sebenarnya jodoh saya, tapi karena saya lahir 90 tahun kemudian, makanya dia gonta-ganti istri karena belum menemukan saya diantara mereka (ngaco!). Saya pernah menanyakan itu pada Pendeta Anra dan beliau dengan tegas menjawab,"dia yang dikehendaki Tuhan, tidak akan bertepuk sebelah tangan". Kemudian saya mikir lagi, semua kepercayaan memiliki pendapat yang sama bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan umat-Nya. Dengan kata lain, Tuhan bertanggung jawab untuk mengizinkan apa pun terjadi di hidup kita. Ada perkara kecil, ada perkara besar. Selesaikanlah perkara yang kecil, maka kau telah menyelesaikan perkara yang besar. Dalam hal ini, saya menyadari bahwa perspektif saya dengan perspektif Tuhan ternyata berbeda. Saya punya rencana dan mimpi-mimpi tentang hidup saya tapi Tuhan juga punya rencana-rencana untuk saya. Saya punya perspektif khusus pada seseorang sebagai perkiraan dialah pasangan jiwa itu. Tapi, Tuhan juga punya perspektif terhadap orang yang saya kira itu dan (mungkin) orang lain yang dia tahu sepadan dengan saya.

Saya teringat ekspresi seorang kawan ketika saya minta dijodohkan dengan kakaknya yang ganteng. Berkali-kali saya merayu teman saya itu untuk dijodohkan dengan kakaknya yang lulusan Amerika itu tetapi ia juga berkali-kali menolak. Meskipun dalam konteks bercanda, wajahnya tetap serius. Alasannya, ia sangat mengenal kakaknya. Kakaknya itu player, dan dia tidak mau kalau suatu saat nanti kakaknya menyakiti saya (so sweet banget yaa..?). Padahal di mata saya, tidak ada yang salah dengan kakaknya. Tapi teman saya ini tetap tidak mau. Berkali-kali dia bilang dia sangat mengenal tabiat kakaknya dan tidak mau saya tersakiti apalagi jika terjadi apa-apa, hubungan saya dengan dia jadi rusak. Karena bagaimanapun dia dan kakaknya juga sangat dekat. Saya kemudian berpikir bahwa mungkin Tuhan juga sama seperti teman saya itu. Misalnya, setiap malam saya berdoa minta dijodohkan dengan si Anu. Tapi seperti teman saya itu, wajah Tuhan pasti akan mengernyit tanda tidak setuju. Tuhan mengenal benar setiap orang, tapi saya tidak. Tuhan mengetahui masa depan dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi 5 menit lagi. Jelas saya kalah. Maka kehendak-Mulah yang jadi.

***

Orang Jawa terkenal dengan salah satu konsep hidupnya yang disebut nrimo. Secara singkat, nrimo berarti kita tidak menggugat keputusan Gusti Allah apapun yang terjadi. Kita tidak memaksa bahwa kehendak kita yang jadi, tapi biar Gusti Allah yang atur. Bukan berarti nrimo pada segala hal. Ada memang hal-hal yang tidak bisa kita ubah meski kita berusaha dan menggugat setiap saat, hati manusia misalnya. Nrimo membuat kita tidak menuntut apa-apa, penyerahan diri. Jika lebih dalam lagi, nrimo sebenarnya dekat dengan cara hidup yang tidak melekatkan diri pada apapun. Apa saja yang dikasih, kita terima dengan ikhlas. Ibaratnya, kalau Gusti sudah kasih satu ubin untuk dibersihkan, ya kita bersihkan saja satu ubin itu dengan benar, tidak perlu rakus membersihkan halaman rumah orang. 

Lagi-lagi sambil mendengarkan lagu-lagunya Katon (coba dengarkan Semestinya Kau Bahagia, Lara Hati, dan Bawalah Hatimu) saya membuat keputusan untuk nrimo, menerima. Bagi saya, dengan melakukan penyerahan diri seperti itu sebenarnya kita telah berdamai dengan diri kita yang lama. 

Aku dan Tuhan

Cerita Paskah Tahun Ini

Minggu, April 20, 2014

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau” (Lukas 19:41-44).


***

Ini adalah Paskah pertama bagi saya di perantauan. Tanpa orang tua atau ambil bagian dalam kegiatan Paskah di Gereja. Entah mengapa saya diselimuti rasa ganjil, disebut kesepian juga tidak. Biasanya saya akan ikut ambil bagian dalam perayaan Paskah, entah menyanyi di paduan suara atau memainkan fragmen Paskah: menjadi antagonis atau protagonis. Tahun ini saya cukup merayakan Paskah dengan tindakan reflektif. Mengoreksi diri, apakah saya sudah cukup layak menjadi pengikut-Nya. Apakah saya sudah bisa menyangkal diri dan memikul salib dengan teguh?

Hidup terus berjalan dan pengertian akan sesuatu akan berubah seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman.Banyak teman-teman saya yang berbeda keyakinan menanyakan apa sih itu hari Paskah. Saya sendiri cukup sulit menjelaskannya. Persoalannya Paskah itu tidak sesederhana Natal. Paskah menyangkut iman percaya. Dan jika orang tidak percaya, sampai kapanpun mereka tidak akan mengerti. Maka, biarkanlah mereka cukup mengenalnya sebagai hari yang identik dengan telur. 

Kemarin ada seorang teman yang bertanya tentang makna telur dalam perayaan Paskah. Lalu saya menjawab,"Telur itu adalah simbol sebuah keadaan yang tampak mati, tetapi di dalamnya ada sesuatu yang hidup. Telur adalah simbol Tuhan Yesus yang "nampak"nya mati namun sesungguhnya tengah mempersiapkan kehidupan baru". Teman saya itu manggut-manggut, saya juga ikut manggut. Karena keadaan, maka tahun ini saya memutuskan merayakan Paskah dengan bertapa di dalam kamar. Keluar rumah hanya untuk ke Gereja dan cari makan. Maka semua ajakan untuk bersenang-senang saya tolak dengan halus. Namun, ternyata tidak semua hal dapat berjalan seperti yang kita inginkan. 

Di Sabtu Suci yang harusnya dinikmati dengan kesunyian, Bu Mery mengajak saya untuk menemaninya jalan-jalan ke Malioboro. Beliau butuh refreshing setelah sebelumnya proposalnya "ditolak" pembimbingnya. Dimana-mana rasa penolakan itu sama: tidak enak. Sedih, frustasi, putus asa, kesal, dan lain sebagainya. Maka saya berpikir, hanya dengan menemani Bu Mery saja atau dengan kata lain kehadiran saya saja sudah cukup menjadi berkat baginya. Hanya menemani, hanya menjadi teman itu sudah cukup. Tak perlu muluk-muluk untuk menolong sesama. Cukup katakan "iya" ketika ia sangat membutuhkanmu. Karena "tidak" yang diterima disaat kita lagi berbeban berat adalah duri yang beracun. 

Maka berangkatlah kami pagi-pagi. Jalan kaki dari rumah sampai di tempat pemberhentian bus. Di tengah perjalanan saya melihat seorang nenek tua renta yang sudah bungkuk tengah memikul beberapa potong kayu di atas punggungnya. Dengan bertumpu pada kedua kakinya yang kecil dan tongkat yang terbuat dari kayu, ia berjalan kaki diantara kendaraan yang lalu lalang di belakangnya. Melihat nenek tua berjalan kaki memikul kayu-kayu di punggungnya bukanlah pemandangan lazim di keramaian kota. Pertanyaannya kemudian,"Darimanakah ia mendapat kayu-kayu itu?", "Kemanakah ia hendak pergi?", "Jauhkah rumahnya dari sini?", "Apakah ia akan berjalan kaki sampai ke lereng Merapi dimana terdapat banyak desa-desa dengan penduduk yang masih setia pada alam?". Hati saya langsung jatuh. Saya tidak tahu bagaimana cara menolongnya. Belum tentu pula ia mau menerima uang yang tak seberapa ini. Saya jadi sedih karena saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak mampu. 

 *** 

Sesampainya di Malioboro Mall, saya dan Bu Mery mampir ke Solaria untuk makan siang disana. Solaria sedang ramai siang itu. Untungnya kami masih mendapatkan satu meja yang tersisa. Meja itu berdampingan dengan meja lain yang ditempati satu pasangan muda yang tampaknya sedang bermesraan. Cowoknya mengenakan baju kalos hitam ( wajah dan gayanya mengingatkan saya pada teman saya Kemas) sedangkan si cewek mengenakan terusan lutut tanpa lengan berbahan ketat dengan leher V rendah. Baju itu sangat menonjolkan bagian dadanya. Wajah cewek itu tampak cantik dengan make up tebal yang dikenakannya. Saya jadi bertanya-tanya apakah bila make up-nya dihapus, wajahnya masih akan tetap cantik? 

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan mereka. Sampai saat makanan yang saya pesan sudah tiba dan mata saya menangkap gerakan pasangan itu. Sejujurnya saya tidak terlalu suka memperhatikan orang asing. Hanya saja posisi duduk saya memungkinkan mata saya untuk memperhatikan pasangan itu. Si cowok- seperti kebanyakan cowok-cowok zaman sekarang- yang memiliki selera cewek mirip girlband korea, memandang cewek yang memang nampak seperti anggota SNSD itu dengan penuh nafsu. Dari gerak-geriknya cowok itu tengah berusaha merayu si cewek sambil sesekali melirik ke arah dadanya yang membusung. Piring di depan si cowok sudah licin tandas. Dan demi Tuhan, cowok itu mirip sekali Kemas! 

Si cewek nampak sedang asyik bermain handphone. Lalu mereka berdua foto-foto selfie. Si cewek memesan nasi goreng spesial dan dengan keadaan siang hari yang bikin lapar, ia nyaris tidak menyentuh makanannya. Mungkin lagi diet pikir saya. Tapi kemudian ada yang nampak aneh. Meskipun si cowok menggombal dan banyak gerakan tambahan, si cewek tetap tenang, tidak terlalu menanggapi, singkatnya biasa-biasa saja. Saya biasanya senang melihat pasangan yang sedang kasmaran. Ada letupan dan gelombang tidak biasa di antara mereka. Meski tak berkata-kata sekalipun, bahasa tubuh mereka sudah menyiratkan bahwa ada daya magnet diantara mereka. Dengan hanya melihatnya saja sudah cukup membahagiakan (bagaimana kalau merasakan?). 

Karena kebahagiaan itu menular, biasanya saya juga ikutan senang. Tapi tidak kali ini. Saya merasa ada yang ganjil. Pertama, si cowok memakai pakaian yang terkesan biasa untuk ukuran kencan dengan pacar. Hellooo, sudah naluri manusia untuk selalu nampak sempurna di depan orang yang mereka suka. Kedua, si cewek memakai pakaian yang tidak umum dipakai perempuan Indonesia di siang hari bolong apalagi di tengah kencan dengan pacar, kecuali kalau kamu memang berniat ngajak pacarmu "bobo-bobo ciang" setelah makan. Baju seksi yang dikenakan si cewek pantasnya dikenakan untuk malam hari. Dan kalau mau jujur, baju dengan model seperti yang dikenakannya itu memang mengundang birahi. Tak berapa lama kemudian, mereka pun pergi dari Solaria. Kepergian mereka membuat saya lebih leluasa membicarakan mereka dengan Bu Mery. Dari analisa kami, semua clue mengarah bahwa pasangan tadi mungkin pasangan one night stand. Alasannya:
1. Si cewek memakai baju terlalu seksi. Ada dua jenis seksi, seksi yang elegan dan seksi yang ganjil. Seksi elegan itu akan membuat yang memandang berdecak kagum dan hanya sampai tahap menikmati keseksian itu. Yang memakainya biasanya akan tetap dipandang masih dalam lingkaran perempuan baik-baik. Seksi yang ganjil adalah jenis seksi yang memang mengundang birahi dan membuat orang ingin segera melepaskan nafsu gara-gara melihatnya. Si pemakai membawa aura perempuan nakal, admit it suka tidak suka. Jadi bila bukan si cewek memiliki selera fashion yang buruk, ya kemungkinan besar dia masuk kategori cewek nakal. 
2. Biasanya memang pasangan one night stand begitu. Cowoknya yang blingsatan sementara ceweknya nampak tidak terlalu tertarik!
3. Di area Malioboro ini banyak sekali hotel-hotel dari yang harganya paling murah sampai yang mahal. Mengingat cerita the other side of Jogja yang sempat ramai diberitakan beberapa waktu lalu, semuanya menjadi mungkin.  Sampai disini mengerti kan? 
4. Logikanya, jika ada pasangan yang terlalu "lebay" di depan umum, maka apa jadinya jika tak ada orang?
5. Tidak ada daya magnet di antara  mereka, lebih ke seperti anak bayi dan baby sitter-nya.

Pemandangan itu membuat saya berpikir kembali mengenai bisnis pelacuran yang setua umur peradaban manusia. Ini bukan persoalan gender semata mengingat pelacur perempuan dan laki-laki 11-12 banyaknya. Namun, sampai kapan seks dihargai seperti itu? Memang benar seks adalah kebutuhan dasar manusia. Memang benar seks adalah makanan tubuh yang muncul secara alami dan merupakan anugerah seperti anggota tubuh lainnya bagi manusia. Tapi seperti halnya semua hal di muka bumi ini, ada yang bersifat estetika dan fungsionalis. Seks kemudian dominan jatuh pada tataran fungsional daripada estetikanya. Saya lantas teringat satu kalimat yang tak bisa saya lupakan dalam kitab Assikalaibineng (kitab persetubuhan Bugis kuno, sejenis Kamasutra atau Serat Centini-nya orang Bugis). Disitu tertulis secara singkat," manakala sepasang manusia bersatu (orgasme) maka mereka telah mengintip pintu surga". Lalu saya berpikir, bersatunya dua manusia saja sudah dikatakan "mengintip pintu surga" maka bagaimana dahsyatnya jika manusia yang bersatu dengan Tuhan? Maka bolehkah kita mengatakan bahwa kematian itu sebenarnya nikmat? 

*** 

Sore itu, saya dan Bu Mery menunggu taksi untuk pulang. Tak lama kemudian hujan turun. Dan apesnya, taksi menjadi susah didapat takkala hujan turun di Jogja. Banyak orang berebutan. Taksinya juga aneh, nyala lampu dan mati lampu podo wae, selalu supirnya bilang,"lagi isi". Sore itu ditengah hujan yang cukup deras, kesabaran kami diuji. Taksi yang muncul datangnya dari seberang jalan. Kami pun pindah ke seberang jalan tersebut. Eh, saat posisi sudah sisi jalan yang memungkinkan taksi datang, malah sisi jalan yang kami tinggalkan tadi yang ramai dengan taksi. Saya dan Bu Mery lantas memutuskan jalan kaki ke titik O Km Jogja yang berada di perempatan jalan besar. Harapannya kami lebih mudah menemukan taksi. Nyatanya hasilnya nihil. Hujan semakin lebat. Taksi-taksi yang muncul memiliki jawaban yang sama: sudah punya penumpang. 

Saya dan Bu Mery bergumam, meminta Tuhan mengirimkan taksi dan meredakan hujan. Tak lama kemudian, seorang bapak penjual jajanan sate jeroan dan ronde yang mangkal di km 0 memberi kantong plastik hitam untuk dipakai menutup kepala kami. Mungkin dia kasihan, mungkin masih ada kasih. Hujan memang belum berhenti dan taksi tak kunjung datang. Banyak mas becak datang silih berganti menawari kami jasanya. Namun, semua mundur teratur saat kami bilang rumahnya terletak di jalan Kaliurang ( yang notabene jauh dari Malioboro, jauh kalau kamu jalan kaki atau mengayuh becak. Saya jadi ingat nenek tua yang memikul kayu bakar lagi). Hujan semakin deras, terima kasih untuk bapak penjual sate jeroan dan ronde yang memberi kantong plastik penutup kepala.

Saya dan Bu Mery menimbang-nimbang lagi. Mau naik bus kota, jauh karena bus-nya mampir di terminal dulu, kami akan tiba lama di rumah. Mau naik trans Jogja, yang antri juga bejibun. Akhirnya kami pindah ke arah jalan menuju Taman Pintar. Karena tak kunjung mendapat taksi setelah sebelumnya berebutan dengan seorang bapak dan seorang ayah dan anak lelakinya, kami memutuskan naik becak sampai ke Mall Malioboro lagi dengan pertimbangan banyak taksi disana. 
Tahukah kau bahwa naik becak di Jogja itu mahal? Karena selain jadi transportasi juga sebagai objek wisata? Akhirnya kami naik becak setelah sebelumnya berpesan pada Mas becak untuk menghentikan taksi yang kebetulan lewat di jalan.

Belum satu meter becak itu jalan, kami akhirnya menemukan taksi. Hujan juga reda. Saya dan Bu Mery langsung pindah ke taksi tersebut. Di dalam perjalanan menuju rumah, saya merenungi lagi. Coba seandainya kami lebih bersabar lagi. Kami tidak perlu kerja dua kali seperti tadi. Tapi pikiran lain juga tiba-tiba berkelebat. Mungkinkah kami lulus ujian kesabaran hari ini? Sehingga Tuhan berbaik hati mengabulkan permintaan kami: taksi dan hujan reda. Sesampai di rumah, saya kembali merenung. Untuk merayakan Paskah tidak perlu larut dalam kesunyian seperti cita-cita semula saya. Tuhan dengan cara-caraNya yang tak terselami akal manusia telah menunjukkan pada saya bahwa Paskah yang sebenarnya ada di luar sana. Bahwa masih banyak manusia yang menderita dan tak berdaya. Bahwa setiap hari kita harus berjuang untuk hidup. Bahwa setiap hari, ada proses yang harus kita lalui. Dan setiap proses itu memiliki lukanya masing-masing. Bahwa kita harus sadar kita tidak boleh sombong karena kita tidak abadi. Dan pada akhirnya, kita memang hanya memerlukan Penebus.Karena kita memang tidak mampu menyelamatkan diri kita sendiri. 

Kejadian hari ini membuat saya teringat akan cerita di kitab suci tentang Yesus yang menangisi kota Yerusalem, menangisi manusia. Apakah saat ini Ia juga masih menangisi kita? 


Selamat merenungi Paskah.

Life Story

Rindu Rambo

Kamis, April 10, 2014

*Rambo*



Mereka yang tidak pernah memiliki binatang peliharaan tidak akan pernah mengerti rasanya kehilangan binatang peliharaan. Dalam konteks ini saya akan bercerita tentang anjing. 

***

Redbeard (Janggut Merah) adalah anjing peliharaan Sherlock Holmes yang pernah dibaca Magnussen sebagai (mungkin) adalah kelemahannya. Rambo adalah Redbeard bagi saya. Dan saat ini entah mengapa saya tiba-tiba merindukannya. 

Rambo hilang hampir dua tahun lalu. Tidak diketahui apakah ia masih hidup atau sudah mati. Apakah ia telah beranak-pinak, dipelihara oleh tuan baru yang lebih baik, ataukah telah bertemu dengan Bapa di Surga. 

Ketika saya kehilangan Rambo, saya hampir-hampir tak mendapatkan simpati. Kebanyakan dari mereka tertawa terbahak-bahak atau menganggapnya lelucon ( anjing kok ditangisi...?). Tapi kehilangan tetap saja mendatangkan kesedihan entah pada apa atau siapa. 

Kita pernah dengar dan tahu kisah-kisah persahabatan antara anjing dan manusia. Bahwa anjing ditahbiskan sebagai binatang yang paling setia. Bagi saya, anjing dan tuannya memiliki konektivitas yang tidak pernah dibayangkan mereka yang tak pernah memiliki anjing atau hewan lain. Justru binatanglah yang menstimulus rasa kemanusiaan kita. Se-apatis-apatisnya seseorang, ia tak akan tega membiarkan anjingnya kelaparan. Sekesal-kesalnya seseorang karena kenakalan anjingnya ( misalnya pipis sembarangan), ia juga tak akan tega menunggu sampai matahari terbenam untuk berbaikan. 

Anjing pun demikian, senantiasa mengikuti tuannya. Biar kukatakan sekali lagi, seekor anjing mengenal siapa pemiliknya, siapa tuannya. Kemanapun anjing pergi, ia tahu jalan untuk pulang ke rumahnya ( emangnya domba yang sekali keluar kandang tidak tahu jalan pulang). Anjing yang tak kembali adalah anjing yang dibunuh, diikat, atau dibawa pergi jauh dari sekitar lingkungannya.

Keajaiban lainnya adalah anjing peliharaan memantrai si tuan dengan aromanya. Aroma anjing peliharaan itu sebagai penanda bahwa kita adalah sahabat anjing. Oleh sebab itu, takkan ada anjing manapun yang menyalak galak padamu. Sampai saat ini aroma itu masih melekat pada saya. Setidaknya sampai sekarang anjing-anjing masih ramah pada saya. Aroma itulah seperti azimat yang diberikan Rambo sebelum kepergiannya.

Tahukah kamu? Gonggongan anjing juga adalah identitasnya. Sama seperti sidik jari pada manusia, suara gonggongan anjing tidak ada yang persis sama. Tuan yang baik mengenali gonggongan anjingnya. Anjing pun hanya mengenali identitas yang pertama kali diberikan. Kalau sekali ia dipanggil dengan satu nama takkan gunanya kau memanggilnya dengan nama lain. Anjing nampaknya adalah binatang yang konsisten. 

Di samping kos saya, ada sebuah rumah yang dihuni keluarga yang memelihara anjing. Suara gonggongannya yang kadang terdengar itu membuat saya teringat pada Rambo. Ingat bahwa saya sering lalai mengurusnya. Tahu bahwa waktu tak bisa diputar kembali agar saya bisa kembali mengurusnya dengan baik dan menampar saya bahwa seharusnya kita harus menjalani waktu sebaik-baiknya dengan yang dikasihi sebelum waktu kita telah habis dengannya. Sakit rasanya menyadari bahwa meskipun suatu hari nanti saya akan memiliki binatang peliharaan yang baru, Rambo tetap Rambo dan takkan ada yang bisa menggantikannya. 

Takkan ada anjing lain yang memiliki karakter yang sama seperti Rambo. Rambo hanya ada satu. Takkan ada Rambo II, Rambo III, atau bahkan Rambo IV.