Tentang Apa yang Mereka Sebut "Gereja Gothic Sayidan"

Sabtu, Maret 07, 2015

Gambar 1. Gereja Gothic Sayidan, foto: Meike




Sesuatu yang dianggap misteri, selalu muncul dengan cara yang misterius.

Smartphone memang membuat kita semakin tenggelam dalam pusaran revolusi informasi. Tidak saja karena kita berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda ruang dan waktu (mungkin untuk berkomunikasi dengan arwah kita masih menggunakan cara tradisional: doa dan main jelankung) tapi kita juga dapat mendapatkan informasi apa saja dalam hitungan detik. Termasuk saya, apalagi kalau sedang BAB, saya tak lupa membawa handphone atau buku. Jangan il-feel dulu pada saya. Maksud saya baik sesungguhnya. Kamar mandi kos saya letaknya di luar dan berhadapan langsung dengan taman. Saya hanya ingin memusatkan perhatian pada sesuatu (selain ee' saya) sembari tidak terganggu dengan pikiran yang aneh-aneh (membayangkan kamu diintip lagi boker sama makhluk halus itu tidak menyenangkan, sodara)

Saya sudah lupa apakah saya sekedar iseng atau niat mencari artikel mengenai tempat-tempat angker di Jogja. Dan nyasarlah saya pada sebuah blog. Beberapa tempat disebut-sebut mulai dari Benteng Vreedeburg (ini sebenarnya tempat nongkrong favorit saya, ada kafe bergaya indische di dalam sana), keraton, sampai Ambarukmo Plaza (Amplaz, yang punya singkatan sama dengan Ambon Plaza di Ambon). Nah, entah di urutan ke berapa saya melihat sebuah bangunan gaya gothic yang mengingatkan pada Dom di kota Köln. Bangunan itu disebut Gereja Gothic Sayidan. Letaknya di daerah Gondomanan. Untuk mencapainya harus masuk gang dulu. Kalau mau lihat view bangunannya seperti foto-foto ini masuknya lewat gang Gondomanan sebelah barat. Kalau mau liat view yang kelihatan patung Tuhan Yesus-nya, masuknya lewat gang Gondomanan sebelah timur. Persis di belakang Gereja GKI Gondomanan. Kalau pernah masuk Taman Sari, terutama area Istana Air-nya  suasananya hampir mirip-mirip begitu. Bangunan itu berdiri dengan anggun sekaligus dingin. Ia diapit oleh rumah-rumah sederhana yang ada sekelilingnya. 

Sebenarnya ada beberapa versi cerita yang menjelaskan bangunan ini. Ada yang bilang itu adalah gereja karena memang arsitekturnya seperti gereja-gereja di Eropa abad pertengahan lengkap dengan salib dan patung Tuhan Yesus yang menunjuk ke arah keraton. Tapi, ada juga yang bilang bahwa itu sebenarnya rumah tinggal dan salah satu bagian rumahnya merupakan pabrik batik yang sudah tak terpakai. Rumah itu milik keluarga Tionghoa yang dibangun tahun 1980-an. Arsitektur pintu masuknya memang sangat kental dengan gaya Cina. Sayang sekali, rumah atau gereja itu sudah lama diabaikan oleh pemiliknya. Bangunan cantik itu tidak terlihat mengerikan. Saya justru melihat kesedihan di sana. Ia bagaikan perawan yang kesepian ataukah seorang janda yang ditinggal suami? Selain banyak bagian yang rusak, juga bangunannya sudah dijalari tumbuhan yang merambat. Saat saya mengambil beberapa foto, ada seorang bapak yang sedang naik motor, memelankan laju motornya dan berkata pada saya, "Angker, Mbak". Lalu ia pergi begitu saja (tidak pakai pesawat tempur seperti Iwan Fals).

Saya pikir kesan angker bisa saja diciptakan. Orang Indonesia senang menikmati dan menjual mitos. Mitos-mitos itu kadang-kadang tidak bisa dibuktikan. Sayang sekali juga, para pengunjung hanya bisa menikmati keindahannya dari luar. Pintu gerbangnya sudah dikunci entah sejak kapan. Kata orang-orang yang nekat manjat ke dalam, bercerita, bahwa di dalamnya  ada altar seperti di gereja dan tulisan-tulisan berbahasa Belanda. 

Apa hubungannya dengan saya?

Saya ingin sekali kesana. Saya menyenangi arsitektur selain tentu saja nostalgia. Entah mengapa saya selalu merasa terikat dengan indische wonhaus seperti itu. Tapi saya tidak tahu di mana saya akan menemukan gereja gothic Sayidan ini. Apalagi bangunan ini disebut angker oleh penduduk sekitar. Pernah katanya ada anak arsitektur UGM yang ingin meneliti bangunan ini. Di pinggir gang ia berjumpa dengan anak-anak kecil yang mau mengantarnya ke rumah itu. Sang mahasiswa arsitektur itu akhirnya tiba di depan rumah namun begitu ia berbalik, anak-anak kecil sudah tidak ada. Tapi, cerita ini banyak yang meragukan kebenarannya. Rasionalitas mengajak kita berpikir bahwa di dalam gang ada banyak gang-gang kecil lain, jadi wajar saja kalau anak-anak kecil itu sudah lari-lari entah kemana. Lagipula jarak dari gereja gothic Sayidan dengan pintu masuk gang tidak sebegitu jauh.

Karena penasaran itulah saya ingin kesana. Tapi saya tak tahu alamat dan jalan menuju sana (entah mengapa saya melupakan GPS dan Mas Hendri, mungkin saya sebetulnya takut juga kalau sendiri. entahlah). Saya pernah mengajak beberapa teman dan Mbak Truly tapi tak satu pun terealisasi. Pupuslah keinginan saya jalan-jalan ke gereja gothic Sayidan ini.

***

Dua hari yang lalu, untuk menjaga kewarasan, saya memutuskan mengerjakan beberapa halaman tesis saya di cafe. Favorit saya tetap di Indische Cafe di dalam benteng Vreedeburg itu. Saya butuh ketenangan dan kenangan hehe. Lalu, saya menelpon ojek langganan saya yang setia, Mas Hendri. Sebelumnya saya bilang mau mampir dulu ke shopping untuk membeli pesanan buku seorang kawan. Mas Hendri pun mengantar saya. Tanpa saya perhatikan, ia ternyata melalui jalan-jalan tikus yang ternyata tembus dengan jembatan Sayidan (kalau tahu lagunya Shaggy Dog pasti tak asing dengan "Sayidan"). Melewati jembatan Sayidan bukan pertama kalinya bagi saya. Hanya saja saya tak pernah memperhatikan kiri-kanan kalau melewati jalan itu. Dan...disanalah ia..berdiri dengan angkuh di antara rumah-rumah sederhana penuh sesak. Saya memutuskan untuk berkunjung kesana. Mas Hendri apa boleh buat setia mengantar.



Gambar 2. Patung Tuhan Yesus yang menunjuk ke Keraton, foto: Meike



Gambar 3. Masih surprise dengan arsitekturnya, foto: Meike



Gambar 4. Pintu gerbang dengan arsitektur Cina, foto: Meike



Gambar 5. Tulisan "Ullen Sentalu" di plang pintu, foto : Meike


Setelah melihat secara langsung Gereja Gothic Sayidan. Saya jadi kepikiran tentang bangunan itu. Ada memang semacam misteri dalam rumah itu. Bukan persoalan hantu dan sebangsanya. Tapi lebih seperti teka-teki.

1. Jika penduduk sekitar mengatakan itu adalah rumah sebenarnya sangat aneh juga. Karena arsitekturnya jelas-jelas menunjukkan rumah ibadah. Saya pikir orang Kristen yang paling saleh sekalipun tidak pernah berpikir membangun rumahnya dengan pancang salib dimana-mana dan ditambah patung Yesus sebesar itu di atas rumah. Orang Protestan tentu menolak mentah-mentah, wong di gereja sendiri saja tak satu pun patung biar sebiji. Umat Katolik mungkin saja. Tapi orang Katolik jarang menyimpan patung Yesus, mereka lebih banyak menyimpan patung Bunda Maria. Itu pun patung sebesar itu akan dibuatkan goa (seperti penampakan Maria di goa Lourdes kepada  gadis cilik Bernadetta). Lalu, kalaupun itu gereja, mengapa patung Yesusnya harus dengan gaya menujuk. Patung Yesus yang paling umum dan paling banyak adalah salib dengan tubuh Yesus di sana, patung hati kudus Yesus (yang menunjuk dadanya), dan Yesus memberkati seperti patung Christo Redentor di Rio de Janeiro. Kenapa Yesus harus menujuk dan arahnya harus ke keraton?

2. Jika dikatakan bekas pabrik batik mungkin saja karena tulisan Ullen Sentalu yang berkorelasi dengan Museum Ullen Sentalu. Ullen Sentalu merupakan akronim dari bahasa Jawa “ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku” yang artinya adalah “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Lampu blencong adalah penerang yang biasanya digunakan dalam pertunjukan wayang. Blencong seperti pelita dalam bahasa kita. Sejujurnya sewaktu saya mengetahui makna Ullen Sentalu itu saya jadi familiar dengan sesuatu. Ya, saya punya tafsir biblical sendiri. Ullen Sentalu hampir sama seperti tertulis dalam kitab Mazmur 119: 105 yaitu "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku". Museum Ullen Sentalu sendiri adalah museum batik dan juga barang-barang milik keraton. Konon, pemilik museum Ullen Sentalu dekat dengan pihak Keraton.

Untuk menemukan jawaban sepertinya harus memulai dengan museum Ullen Sentalu. Petunjuk pertama sepertinya mengarah ke museum Ullen Sentalu. Data-data yang dikumpulkan akan saya dapatkan dari orang-orang Jogja lama, seperti siapa lagi kalau bukan Eyang Pomo. Tapi, Eyang Pomo ternyata sudah lupa dengan tempat ini. Ia malah mengira yang saya maksud adalah gereja Bintaran yang memang letaknya tak jauh dari sana. Saya disarakan menanyakan itu pada Om Nanang, menantunya, yang banyak tahu tentang tempat-tempat di pulau Jawa.

Singkatnya, rasa penasaran saya belum terpenuhi. Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin obesis saya pada masa lalu yang membuat keinginan itu begitu kuat dan terkadang sangat impulsif.



Kalau rahasia itu tidak dibukakan untukmu, jangan coba-coba untuk mengintip - Ayu Utami, Simple Miracles)



baca kelanjutan kisahnya disini

You Might Also Like

16 comments

  1. Huwaaa cantiknya di >.< bikin penasaran juga!!! Lanjutkan Meike!!! Saya menunggu postingan selanjutnya tentang ini gereja ^^

    BalasHapus
  2. doakan inverstigasiku lançar kak...hehehee.... ^^^

    kangen kak dwi :*

    BalasHapus
  3. Saya juga sangat tertarik dengan hal ini...saya asli jogja tapi kerja di luar jogja...mohon di share kalau sudah ada hasil informasi lebih lanjut tentang bangunan ini...itu sebuah rumah beserta pabrik batiknya atau untuk tempat ibadah...terus kenapa si pemilik membuat arsitektur bangunan sedemikian itu...yang nggak kalah penting yaitu nama si pemilik rimah atau bangunan itu sendiri. Ditunggu ya meike

    BalasHapus
  4. Saya juga sangat tertarik dengan hal ini...saya asli jogja tapi kerja di jakarta...mohon di share kalau sudah ada informasi lebih lanjut tentang bangunan tersebut...bangunan tersebut adalah sebuah rumah tinggal beserta pabrik batiknya atau tempat ibadah...trus alasan si pemilik mendesain bangunan sedemikian itu..yang nggak kalah pentingnya adalah nama si pemilik bangunan itu sendiri...ditunggu ya meike :)

    BalasHapus
  5. duuhhh harus bisa kesitu ih...

    BalasHapus
  6. Beberapa data sudah saya dapatkan...nanti akan saya postingan...terima kasih atensinya :)

    BalasHapus
  7. Aduh tadi saya komen panjang lebar masuk ga ya? Hahaha.. Yaudah diulang aja kalo giu
    Jadi saya juga udah tanya sama om, dia lumayan tau sejarah2 tentang jogja. Pas itu saya tanya tentang gerja itu, dia jawab "itu gereja dipake cuma buat acara pembaptisan.. Ya semacam itu lah" tapi pikir saya ya ga mungkin. Dan itu yg saya tau cuma ada satu pintu dan dikasih gembok. Kalo diliat gemboknya masih agak2 baru ya, soalnya masih blm ada karat banyak. Saya jadi penasaran ingin tanya sama yg jaga tempat itu, paling enggak tanya sama orang yg nggembok pintu itu sejarah tentang gereja tsb. Temen saya yg tinggal di sayidan pun gatau kenapa gerejanya ditutup. Niat pengin manjat/mbobol punti itu agar bisa masuk. Tapi blm tau kapan dan pastinya tidak cuma berdua. Asli serem.
    Kalo saya punya info lagi bakal ngeshare disini;) samasama penasaran soalnya haha

    BalasHapus
  8. Terimakasih. Karena blog ini rasa penasaran saya sedikit terjawab. Saya juga percaya bahwa ada hal yang disembunyikan dibalik bangunan ini. Djogja yang terkenal dengan budaya dan sejarah tak mungki mereka mengabaikan peninggalan yang demikian istimewa ini. Ditunggu postingan selanjutbya

    BalasHapus
  9. Terima kasih karna blog anda bisa mengobatai sedikit rasa penasaran saya akan hal ini. Ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  10. Sedikit komen buat meluruskan. Itu bukan gereja, melainkan rumah yang sekarang sudah tidak dipakai, punya orang tinghoa. Pengalaman orangtua saya mengenal pemiliknya dan sudah pernah msk kedalam. Tidak ada yang aneh dengan rumah itu.

    BalasHapus
  11. Ruby: terima kasih informasinya. semoga ini bisa meluruskan desas-desus yang beredar :)

    BalasHapus
  12. Meike, kalau bisa kenalan sama yang punya rumah dan boleh foto2 dalamnya, update yaa... seru amat ini bangunannya... berantakan giitu aja lucu ya...
    Btw, kafe di dalam benteng namanya apa? Pan kapan, kalau aku ke Jogja lagi, aku kontak kamu yaaa...

    BalasHapus
  13. Mbak Ruth: Pemilik rumahnya katanya udah meninggal dunia, (berdasarkan komentar dari mbak ruby yang sebelum komen mbak ini). Ohh, namanya Indische Cafe, itu salah satu tempat favoritku juga di Jogja. Pasti dong....kabar2 ya mbak. kalau aku ke jakarta juga nanti aku kabari :*

    BalasHapus
  14. Bangunan ini dipake sama Ari Lasso buat video klipnya yang berjudul Perbedaan loooohh

    BalasHapus
  15. Nyasar buka link blog mbak.. Sedikit mengulas memori dr tahun 2003 saat saya tinggal di jogja (kuliah). Dulu saya pun entah knp selama seminggu selalu mimpi sebuah menara kastil yg view didapat dr jembatan. Saya ceritakan hal tsb ke teman, dan dianggap halusinasi saja.. Selang seminggu penuh saya bermimpi, suatu hari ketika jalan dg teman, lewat jembatan sayidan, secara refleks menoleh ke kiri dan whoohaaa itu dia yg di mimpi saya.. Entah apa maksud dr mimpi saya itu, setelah blusukan ke rumah itu, mengucap beberapa patah kalimat, selanjutnya saya tdk pernah mimpi itu lg..

    Misteri yg ada msh saya simpan. Pertanyaan yg sama spt yg mbak sampaikan. Penalaran & logika berseberangan dg realita.. Hehehe

    Knp ada bangunan sebesar & semegah itu yg ketika kita pertanyakan detailnya hanya sekelumit penjelasan yg didapat..

    Ini bangunan yg luar biasa mbak.. Auranya bukan mengerikan, tp berasa penuh air mata kesedihan & kesepian..

    #ratna

    BalasHapus
  16. Iseng buka blog ini, jadi pengen berbagi juga info yang saya dapatkan dari bertanya langsung ke salah seorang kerabat pemilik rumah ini.

    Seperti yg mbak Ruby udah jelasin di komentarnya di atas, bangunan ini bukan gereja tetapi ini rumah tempat tinggal dulunya.
    Kenapa arsitektur bangunannya seperti itu, alasannya karena mereka keluarga seniman jadi tidak aneh kalo bangun rumah agak nyentrik. Rumah ini tidak ditempati lagi sejak orang tua mereka meninggal dunia, tetapi sekarang sedang dalam proses perbaikan katanya sih mau dibuat semacam gedung pameran/pertemuan.

    Semoga info ini bisa membantu menjawab sebagian pertanyaan yang ada. Terimakasih.

    BalasHapus