Suatu Pagi Bersama Billy Joel

Rabu, November 12, 2014



Kemewahan bangun pagi patut dirayakan. Apalagi jika kau terlalu banyak tidur menjelang matahari terbit dan bangun menjelang matahari terbenam. Yep, setelah menyelesaikan revisi proposal tesis akhirnya saya bisa tidur dengan tenang. Hari ini, saya bangun jam 6 pagi, berdoa, dan menelpon Mom dan Dad. Keluar kamar dan mengucapkan "Good Morning" pada Eyang yang lagi sarapan. Eyang surprise saya bangun pagi mengingat reputasi saya sebagai Sleeping Beauty di rumah ini. 

Mungkin sudah berbulan-bulan saya tidak merasakan hangatnya matahari pagi, mendengar suara burung-burung, melihat mbok-mbok yang menjajakan jamu (kadang saya tergiur juga, tapi kemudian urung), dan pemandangan mahasiswa-mahasiswa yang berangkat pagi ke kampus. Saya ke burjo yang bersebelahan dengan rumah. Meskipun namanya burjo alias warung bubur kacang ijo tapi sama sekali tidak menjual bubur kacang ijo. Jadi saya memesan semangkuk mie instan dengan telur setengah matang plus teh manis. Tidak mandi, tidak dandan, pake bando sisir dan rambut dijepit ala kadarnya. Sekilas saya mirip batur-batur but still in the good way. 

Belum ada pengunjung di burjo jadi tak ada yang melihat juga. Tapi, 15 menit kemudian datang dua orang laki-laki untuk sarapan disana. Cowok yang pertama tampangnya lumayan ganteng. Cowok kedua meskipun tidak seganteng yang pertama tapi kelihatan lebih maskulin dari yang pertama. Seketika saya menyesal tidak dandan. Sekedar flashback, saya jarang dalam penampilan baik kalau ketemu orang yang menarik atau yang menyukakan hati saya. Mostly, benar-benar awut-awutan. Kalaupun sudah mandi dan pake baju bagus, kadang rambut saya jadi dua kali lebih keriting. Ini beneran loh. Kadang saya pikir keadaan ini seperti disengaja supaya dapat menyaring orang-orang untuk dekat dengan saya. Pada titik ini saya merasa beruntung karena sebenarnya menyedihkan bila orang mencintaimu hanya karena penampilanmu saja dan ketika mengenalmu lebih jauh, mereka kecewa. Tapi begitulah, kadang kebaikan hati tidak datang satu paket dengan tampang yang rupawan. 

Untuk merayakan pagi yang saya sudah lama saya rindukan, saya duduk-duduk di depan teras menemani Eyang sambil dengar lagu She's Always a Woman-nya Billy Joel. Eyang lagi membaca buku tentang bahasa Jerman, sementara saya hanyut dalam kisah lagu Paman Billy. Kebanyakan karya seni diilhami seorang perempuan (ini kalau senimannya laki-laki), saya pikir perempuan-perempuan itu tidak hanya cantik, tapi juga memiliki karakter. Setidaknya lirik lagu She's Always a Woman menceritakan perempuan dengan kepribadian yang berwarna dan betapa si lelaki memujanya karena itu. Tak ada dari lirik lagu ini menceritakan tentang keindahan fisik, melainkan bagaimana perempuan ini memperlakukan dirinya dan orang lain. Penggambarannya pun bukan dalam hal yang baik-baik saja, tapi juga hal-hal yang buruk (ataukah sebuah metafora?). 

Namun yang paling saya sukai karena perempuan yang digambarkan tidak pasrah. Perempuan dalam lagu itu adalah perempuan yang independent dan memiliki kontrol penuh pada keputusan-keputusan yang diambilnya. Kebanyakan perempuan hidup dengan keputusan yang diberikan padanya atau ingin aman sebagai common people. Ia tidak menjadi individu yang bebas, ia selalu menjadi milik yang lain. Well, saya tidak ingin menjadi perempuan seperti itu. Karena saya tahu, selama saya sebagai perempuan hidup berdasarkan apa yang terberi maka selama itu pula saya menjadi objek. Saya tak mau jadi objek, itu sudah lama saya putuskan jauh-jauh hari. 



Note: Lagu She's Always a Woman ada dalam album The Stranger (1977) bersamaan dengan lagu Just The Way You Are. 


After discussing with Mbak Truly, we concluded that this song does not talk about the beauty of a woman, nor a woman of perfection. Rather I saw a description of a broken woman covered in toughness. And he loves her not because of her beauty nor her being broken, but because she is she. And I hope that a man will uncover me from that perspective. 

You Might Also Like

0 comments