Ladies's Night

Minggu, Oktober 13, 2013


Ini Mbak Indri, tetanggaku di kos-an. Mungkin ke depannya namanya dan beberapa nama penghuni kos yang lain akan sering muncul disini sebagai tokoh baru. Orangnya imut-imut kan padahal dia setahun lebih tua dari saya loh. Saat ini kami sama-sama mengambil program Master di UGM. Bedanya kalau saya transmigran dari Unhas ke UGM, Mbak Indri ini anak UGM sejati. Dulunya ia di FIB UGM, jurusan sastra. Sekarang ambil master di bidang American Studies. 

Oiya, Mbak Indri ini meski besarnya di Jawa tapi masih memiliki darah Bugis dari pihak ayahnya. Dia kepengen banget ke Makassar, makanya kalau ketemu ceritanya pasti gak jauh-jauh dari Makassar mulai dari kulinernya sampai budayanya. 

Beberapa hari ini saya ber-Ladies's night ria dengan Mbak Indri. Seperti hari ini kami makan mie ayam Mas Yudi dan kemudian sebagai dessert makan es krim  di Artemy yang sukses membuat dompet  kempis. Kami cerita ngalor-ngidul mulai dari kasusnya Dinasti Atut ( Mbak Indri ini tinggal di Cilegon dan dari ceritanya saya tahu masyarakat Banten tidak menyukai dinasti ini dan yang lain-lainnya), tentang kuliah yang berusaha disambung-sambungkan antara kajian masyarakat Amerika dan komunikasi, gosipin Lani "Frau" yang dulunya anak FIB UGM tapi sekarang sudah ke Inggris, tentang hidup ( yang ini merupakan hasil observasi kehidupan orang) dan pastinya tentang cinta *tetep ya.

Yang menyamakan kami apa ya selain hobi makan hehe mungkin karena kami sama-sama punya prinsip. Sama-sama gak mau nikah dulu sebelum jadi "orang" ( yang ini ada term and condition-nya ya soalnya jodoh kayak hujan di siang hari bolong). Intinya kami punya cita-cita dan keep fighting untuk mewujudkannya.

Dalam perjalanan pergi maupun pulang dari makan mie ayam Mas Yudi di daerah Sagan, Mbak Indri menunjukkan rumah idamannya di daerah ini. Daerah Sagan di Yogya itu termasuk daerah hijau karena asri dan juga strategis. Banyak banget tempat makan, distro, hotel, bahkan cafe-cafe. Rumah bergaya kolonial yang kuno tapi terawat bertaburan di tiap sudutnya. Mbak Indri punya mimpi untuk membeli rumah disini. Katanya sih harga tanah ( untuk 1 rumah ya harganya itu sekitar 10 M, ya ampun berapa tahun kerja jadi pegawai negeri yaa?). Mimpi itu dia tularkan pada saya karena saya menemukan sebuah rumah bergaya joglo kontemporer ( pokoknya Javanesse banget ) yang cocok untuk tinggal dan membuat keluarga. Tapi mengingat harganya hoaaa mimpinya berubah menjadi balon udara, tinggi membumbung tak tahu ujungnya. 

Entahlah, sejak tinggal di Yogya saya jadi sering "belanja" rumah idaman. Apa ini sindrom perempuan umur 20-an yang bukan lagi memikirkan "pacaran" tapi naik level ke "pernikahan"?

Kok saya jadi merinding ya...



You Might Also Like

0 comments