Lakkang, Kampung di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Jumat, Maret 23, 2012


Lakkang taken from Google


Sulawesi Selatan terkenal dengan banyak tempat wisatanya yang menimbulkan decak kagum. Kekayaan itu tak hanya tampak dengan panorama pemandangan alam saja namun kebudayaan masyarakatnya. Kita cukup kenyang dengan perjalanan wisata ke Toraja, ke pulau-pulau kecil di sekitar Sulawesi Selatan, maupun pantai Samboang dan pembuatan kapal pinisi-nya di Bulukumba. Tapi tahukah anda, ada sebuah kampung dengan kehidupan masyarakatnya yang masih asri di tengah hiruk-pikuk kota Makassar?

Pemerintah kota Makassar mencanangkan Makassar sebagai kota dunia. Namun, pemerintah hampir lupa bahwa ada sebuah kampung yang terdapat dalam naungan kelurahan Lakkang, kecamatan Tallo, Kota Makassar. Sebuah kampung yang terisolir dari maraknya suasana kota yang mulai menjadi hutan beton. Lakkang adalah sebuah pulau yang terbentuk akibat delta hasil endapan lumpur Sungai Tallo. Diatas tanahnya itulah berdiri sebuah kampung atau desa bernama Lakkang.

Apa yang membuat kampung ini menarik dan berpotensi untuk menjadi destinasi pariwisata selanjutnya?

Makassar sebagai kota terbesar di Indonesia Timur menyimpan mutiara yang belum dikeluarkan dari kerangnya. Cukup sulit untuk menjangkau Lakkang. Satu-satunya transportasi untuk kesana hanya dengan menggunakan perahu mesin yang dermaganya berada di dua titik. Dermaga yang pertama ada di dekat jalan tol dan yang satunya melalui kampung kera-kera di belakang kampus Unhas. Dengan modal Rp 2000-3000, kita bisa mengunjungi Lakkang. Perjalanan bisa memakan waktu 15-30 menit tergantung banyaknya penumpang yang menumpangi perahu.

Saat saya mengunjungi Lakkang, euforia tempatnya mengingatkann saya pada perkampungan Bugis-Makassar di masa lalu. Kampungnya bersih dan masyarakatnya ramah. Rumah-rumah penduduknya pun masih berbentuk rumah panggung (Balla) meski ada beberapa yang sudah mempermak rumahnya menjadi rumah batu. Sebagian masyarakatnya masih menggunakan bahasa makassar dan tidak begitu paham bahasa Indonesia. Selain itu, lingkungannya masih asri. Udaranya bersih dan benar-benar membawa ketenangan. Itulah sebabnya mengapa Lakkang disebut desa berprestasi.

Meski terisolir, namun masyarakatnya tak pantang menyerah. Sistem mata pencaharian sebagian besar masyarakat Lakkang adalah dengan bertani dan memiliki tambak ikan. Hasil tani itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedangkan, hasil tambak biasanya untuk dijual. Budaya Sipakatauki atau memanusiakan manusia juga dipegang oleh masyarakat ini. Saat saya disana, saya melihat bagaimana anak-anak kecil di desa ini belajar mengaji dengan dibimbing oleh seorang kakek. Generasi di desa ini juga semuanya bersekolah. Jarak antara Lakkang yang harus menyebarang sungai hingga sampai ke kota tak menyurutkan semangat mereka untuk menimba ilmu.

Tak ada yang tahu sebab muasal kapan kampung ini ada. Sebab penjajah pun pernah singgah disana. Hal itu dibuktikan dengan adanya bunker bekas peninggalan penjajahan Jepang disana. Konon, di sana ada 8 Bunker. Sudah ada 7 Bunker yang ditemukan, namun sudah ada 4 yang runtuh, dan masih ada 1 yang belum ditemukan hingga sekarang. Bunker Jepang ini juga menjadi daya tarik wisatawan baik dalam maupun manca negara untuk berkunjung ke Lakkang.



salah satu bunker Jepang di Lakkang


Sebagai kampung wisata yang berada di dalam kota, sebaiknya pemerintah dapat melihat potensi yang ada di desa ini. Kesejahteraan masyarakatnya maupun fasilitas umum pun harus lebih diperhatikan lagi. Jika seadainya desa ini benar-benar dijadikan tempat wisata dengan adanya investor yang masuk, kiranya tidak menghilangkan jejak sejarah, keasrian lingkungan, juga nilai-nilai budaya yang sudah tertanam pada masyarakat desa Lakkang.

You Might Also Like

5 comments

  1. Huhu sudah lama saya ingin kesana u.u Apa benar kata orang di sana banyak pohon bambu, dan ada keromantisan tersendiri ketika berjalan di bawah pohon bambu itu, mendengar desau angin dan memandangi daun-daunnya yang berguguran?
    Liat fotonya dong :D

    BalasHapus
  2. Kak dwi : betul sekali kak....sebelum kita menuju bunker jepang, kita akan disuguhi sama hutan bambu yang gesekannya daun2nya seperti melodi yang indah....dalam waktu dekat saya mau kesana lagi kak..mau iku?

    Daus : thank you :)

    BalasHapus
  3. nice review.. mba meike ii kayaknya senang traveling...

    salam kenal ya mba,, aku udah follow..
    Berkunjung juga Ke Blog saya juga ya

    BalasHapus