Life Story

The Poetics of Depression

Rabu, Oktober 14, 2020

Itu adalah judul artikel di salah satu media online tentang Virginia Woolf, salah satu penulis perempuan yang berpengaruh di awal abad ke-20. Tulisan Virginia merupakan narasi diri perempuan yang berada di lapis dalam sehingga layak dikaji untuk membuktikan keberadaan narasi feminin di tengah narasi maskulin yang mendominasi dunia sastra. Kejujuran Virginia menceritakan keresahannya dan depresinya secara puitis menjadi kekuatannya. 

Virginia memang punya sisi gelap. Akumulasi dari rasa kehilangan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya (ibunya, ayahnya, dan saudaranya meninggal dunia dalam waktu berdekatan) membuat dia menderita depresi dan mood swing disorder. Suaminya, Leonard, adalah orang yang paling setia menemani dan menghadapi berbagai serial episode perubahan mood Virginia. Ia bisa sangat marah, sangat sedih, dan menderita serangan panik. Pada akhirnya, Virginia memilih mengakhiri hidupnya. Ia menenggelamkan dirinya di sungai dekat rumahnya. 

***

Bagi orang-orang yang tidak mengalami depresi atau tidak pernah berhadapan dengan mereka yang menderita depresi, dorongan untuk meniada sepertinya tampak konyol. Tapi percayalah, bahwa kesedihan dan kesakitan yang ditanggung mereka itu tidak tertahankan. Kebanyakan mereka yang depresi memilih bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya. Mereka tidak bisa melihat terang. Mereka tidak bisa memiliki harapan. Mereka kesulitan merasakan bahwa mereka dicintai. Mereka selalu merasa lelah, memberi terus-menerus tetapi tidak menerima kembali: entah cinta, respek, atau apresiasi. Orang-orang depresi menderita rasa bersalah, takut, dan melakukan self-abuse karena merasa diri mereka tidak berarti. Mereka percaya bahwa keberadaan mereka tidak penting dan tidak diinginkan di dunia ini. Orang depresi banyak melakukan "penundaan" menuju klimaks rasa sakitnya dengan melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya. Rasa sakit menjadi semacam adiksi. Dengan merasa sakit, maka semakin benarlah perasaan dan pikiran bahwa mereka adalah penyebab malapetaka: ibumu atau ayahmu meninggalkanmu karena kamu bukan anak baik, kekasihmu meninggalkanmu karena kamu tidak sempurna, teman-temanmu menjauh karena kamu tidak memiliki apa-apa, atau apapun pekerjaan atau usaha yang kamu lakukan semuanya sia-sia. 

Orang-orang depresi berjalan dalam jurang yang gelap. Sangat sedikit orang-orang yang menemani mereka dan ketika menemani mereka pun, kita tidak tahu harus berbuat apa. Aku teringat perkataan sahabatku yang berjuang bertahun-tahun dengan sakitnya, "Apakah karena kita begitu ingin dicintai dan diterima sampai kita terus-menerus yang berusaha? yang mengemis?"

***

Aku sekarang menyukai tema kehancuran: kesakitan, penderitaan, kehilangan, ditinggalkan, diabaikan, kesepian, keterpisahan, ketidakpastian, ketidakterdugaan, kerapuhan, kegilaan, dan penantian. Di tengah kehancuran, aku menemukan keindahan. Sebuah paradoks. A happy sad story or a happy horror story.  Rasanya seperti berenang dalam black hole. Jalan kehancuran kupilih (atau dipilihkan?) untuk melakukan ziarah ke dalam diri. Ini adalah jalan sunyi menuju penciptaan yang baru.

Akhirnya, aku memberanikan dan menguatkan diri untuk memanggil inner child-ku atau kusebut sweet child o'mine seperti judul lagunya Guns N' Roses. Dialah luka batinku di masa kecil yang kubawa sampai dewasa. Dalam bayanganku, dia berwujud anak kecil  berusia kurang lebih 5 tahun berkulit putih dengan mata sipit, rambut ikal kecokelatan, mengenakan kaos warna merah gambar Satria Baja Hitam, celana jeans pendek, sepatu Keds warna merah, dan topi bowler warna biru tua. Kecemasanku adalah produk dari trauma yang dia alami dulu. Dia-lah yang melakukan self abuse bertahun-tahun: pikiran-pikiran jahat dan sedih yang terus-menerus muncul manakala trauma-ku ke-trigger. Dia-lah yang merengek memaksakan keinginannya ketika tidak dituruti. Dia-lah yang akan membanting pintu dan menyakiti dirinya. Kata-katanya selalu terasa benar. Dia adalah si Jenius. Dia sebenarnya lucu dan suka tertawa. Dia yang penyayang dan akan memberikan segalanya kepada yang dicintainya. Tetapi, ketika dia merasa tidak dicintai, dia akan berbalik menyalahkan dirinya karena ada bagian dari dirinya yang tidak diterima, suatu keadaan yang divergent. Dia anak perempuan tetapi ekspresi gender-nya androgini. Dia bisa sangat maskulin sekaligus bisa sangat feminin dan bisa diantara keduanya. Aku pikir traumaku dulu hanya seputar Daddy issue dan Oma (dan aku sudah berdamai dengan itu). Namun, ternyata ada trauma yang tersembunyi. Trauma itu tentang identitasku yang hybrid. Aku harus membunuh identitasku yang satu, untuk bisa diterima di lingkungan tertentu. Kecemasanku membutuhkan validasi. Trauma itu juga dimiliki Mamiku. Tidak, trauma tidak diturunkan secara genetik, melainkan melalui pola asuh dan faktor pendukung seperti lingkungan tempat kita dibesarkan atau perlakuan orang-orang yang berinteraksi dengan kita. 

Inner child-ku itu memandangiku. Ia tampak sangat sedih, sendiri, dan kedinginan. Wajahnya hidup dalam beberapa fotoku yang diambil secara candid, wajah orang yang ditolak. Ia selalu merengut: antara sedih dan marah. Ia sering menggugat. Tapi, suaranya tidak didengarkan. Psikolog bilang aku harus melepaskan inner child-ku. Tetapi, itu tidak mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan atau berpisah dengan dia. Dia adalah bagian diriku. Yang bisa kulakukan adalah berdamai dengannya, menerimanya, dan bekerjasama dengannya. Tentu itu semua tidak bisa dalam sekali waktu. Ini baru tahap awalnya. 

Aku lalu merentangkan tangan, mengundang anak kecil itu mendekat. Ia pelan-pelan menghampiriku. Ia masih kaku, tapi badannya akhirnya tumpah di pelukanku: Meike tidak ditolak, kamu sangat dicintai. Maafkan aku ya...aku mencintaimu, Meike.” 

Seperti kata Kermit, the Frog, "Maybe you don't need the whole world to love you. Maybe you just need one person.”

And that person is you, diri kita sendiri. 



Aku sedang bergandengan tangan dengan inner child-ku sambil mendengarkan lagu ini, "Someday we'll find it, the rainbow connection...the lovers, the dreamers, and me..". 

Love Story

The Answer

Rabu, Oktober 07, 2020

"Your silence in this time of my pilgrimage is nothing but the earthly manifestation of the eternal word of Your love."

(Encounters with Silence by Karl Rahner, SJ, 1966, p.57)



Note: It's a Grace for us

Cerita Lagu

"The Joys of a Maybe"

Rabu, Oktober 07, 2020

 


"Your laugh that I love and who takes me surely having fun with the joys of a maybe

Life without you doesn't exist 

My tears long for you 

I'm afraid to forget everything"


Sohibku Yuseptia memperkenalkan lagu Perancis ini ketika kami sedang bertugas. Seperti para tentara kesepian yang mengingat kekasih mereka, kami pun bernyanyi.

Love Story

Attachment

Minggu, September 27, 2020

Guruku, Bhagawan Eyang Pomo pernah memberi nasehat,”Dalam hidup, kita harus punya sikap prihatin”. Lalu saya bertanya, “Prihatin itu bagaimana, Eyang?”. Eyang menjawab,”Kalau sakit itu diterima. Jangan ditolak, jangan diingkari”. 
 
*** 

Trauma pertama manusia adalah ketika mereka lepas dari rahim Ibu. Itulah rasa sakit pertama kita. Ketika dimuntahkan ke dunia, disitulah tanda keterpisahan itu bermula: rasa sakit dan sedih keluar dari rasa aman dan nyaman bak Adam dan Hawa yang keluar dari Taman Eden. 

Banyak orang bisa berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain dalam level kepentingan bersama. Namun, belum tentu ketika masuk dalam relasi interpersonal yang lebih intim seperti persahabatan dan percintaan, manusia bisa merawat hubungan yang sehat, aman, dan stabil. Persoalan keintiman menjadi suatu masalah yang mendasari timbulnya kekerasan di ranah privat. Jika kekerasan di ranah privat masih terus terjadi, maka jangan heran jika kekerasan di ranah publik juga terjadi. Begitulah kira-kira teori Anthony Giddens dalam karyanya yang terkenal Transformation of Intimacy. Keintiman menjadi dasar menuju demokrasi. 

Keintiman bukan persoalan jatuh cinta dan mendapatkan orang yang ditaksir semata. Dalam kuliahnya Mbak Dian Arymami, dosenku dulu di UGM, keintiman melampaui batas-batas seksualitas. Keintiman merupakan “sesuatu yang berada di dalam” tentang apa artinya menjadi manusia dalam relasinya dengan subjek manusia dan non-manusia dan pada ide–ide sosial dalam ruang dan waktu. Keintiman hanya bisa dicapai dengan pengungkapan diri (self disclosure) di antara kedua belah pihak. Keintiman juga tercipta di antara Tuhan dan manusia. Keintiman ini hadir ketika yang Rahasia mengungkapkan dirinya. Jalan ini hanya bisa dicapai dengan rasa

*** 

Hubungan kita dengan manusia lainnya saat dewasa sangat ditentukan dengan proses pengasuhan yang diberikan pengasuh utama kita (entah orang tua, kakek-nenek, om-tante, kakak, atau babysitter) di masa awal tumbuh kembang. Begitulah bunyi teori Attachment yang dikemukakan pakar Ilmu Psikologi, John Bowlby. Dulu saya sempat mendiskusikan hal ini dengan Nara, sahabatku yang seorang peneliti kesehatan jiwa. Sayangnya, waktu itu teori Narsistik dan Borderline Personality Disorder jauh lebih menarik buatku. Namun, teori Narsisitik dan Borderline tampaknya terlalu ekstrim dan kurang tepat dalam membaca konflik hubungan asmara saya. Ada hal-hal yang tidak sinkron dan dapat dipatahkan argumentasinya dengan data yang ada. Seperti Archimedes yang berteriak Eureka!, Attachment theory tampaknya jauh lebih cocok untuk memahami pergumulan asmara sekaligus bisa memahami diri dan pasangan dalam berelasi. 

Berdasarkan teori Attachment, dalam berhubungan intim, manusia terbagi ke dalam empat kategori: secure, anxious, dismissive avoidant, dan fearful avoidant. Sebenarnya, keempatnya ini dalam diri manusia, tetapi selalu ada dua yang dominan. 

Pertama, secure. Orang yang secure terbentuk karena ketika ia masih balita, ia mendapatkan kebutuhan emosi yang cukup dari pengasuhnya. Sang pengasuh selalu “hadir” dan membuat dia merasa aman dan stabil. Ketika dewasa, orang-orang secure akan memiliki hubungan intim dengan pasangannya yang stabil dan sehat secara intelektual, emosional, dan spiritual. Mereka bisa meregulasi emosi dan merespon emosi dirinya dan orang lain dengan konstruktif. Mereka bisa mandiri (independent) sekaligus juga bisa co-dependent dengan pasangannya. Mereka tidak posesif dan membebaskan pasangannya. 

Kedua, anxious. Singkatnya, orang yang anxious atau cemas terbentuk karena sewaktu balita sang pengasuh kadang ada dan kadang tidak ada. Mereka merasa ditolak dan diabaikan. Tetapi, karena pengasuhnya kadang muncul, maka mereka butuh untuk diyakinkan. Ada trust issue disini. Saat berhubungan romantis di masa dewasa, orang-orang anxious sering meminta afirmasi atau validasi dari pasangannya. Pertanyaan, apakah aku dicintai? Apakah aku dirindukan? Apakah dia selingkuh?dll merupakan pertanyaan orang-orang cemas yang dipicu rasa insecure. Orang-orang anxious cenderung menjadi needy, clingy, dan mungkin jadi posesif selama ia tidak mendapat validasi dari pasangannya. 

Ketiga, dismissive avoidant. Ini yang rumit. Mereka yang dismissive avoidant adalah anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan emosi di masa sangat membutuhkan kebutuhan emosi dari pengasuhnya. Entah orang tuanya pada saat itu sedang bekerja atau studi lanjut sehingga tidak bisa secara emosional hadir untuk mereka atau mereka memang ditinggalkan. Akibatnya, si anak merasakan penolakan dan diabaikan. Perasaan inilah yang menjadi trauma. Namun, berbeda dengan mereka yang anxious, dismissive avoidant merepresi luka itu dengan berjarak dengan keintiman. Akibatnya, ketika berhubungan romantis mereka tidak suka jika pasangannya demanding dan cenderung membatasi diri untuk intim dengan pasangannya. Orang-orang dismissive avoidant ini tidak bisa dimiliki, tidak bisa dipakaikan rantai di lehernya. Secara tidak sadar, mereka mensabotase sendiri hubungan mereka sehingga membuat pasangannya yang akhirnya memilih meninggalkan mereka. Orang-orang dismissive avoidant juga kesulitan mengungkapkan perasaannya dan meregulasi emosi yang intens karena sejak kecil sudah terlatih membangun tembok pertahanan diri. Jika orang pada umumnya membangun batasan dengan orang yang tidak terlalu dekat, maka orang avoidant membangun batasan justru dengan orang-orang yang penting dan paling mereka cintai. Tujuannya, mereka tidak mau lagi merasakan luka yang sama yang mereka alami di masa kanak-kanak. 

Keempat, fearful avoidant. Hampir sama dengan dismissive avoidant. Fearful avoidant merupakan gabungan dari anxious dan dismissive avoidant. Orang yang fearful avoidant adalah mereka yang merindukan keintiman sekaligus ingin berjarak dengan keintiman itu. Mereka takut ketika mereka sudah cinta setengah mati, orang yang dicintai akan meninggalkan mereka. Yes, trauma ini karena takut kehilangan. Sama seperti dissmisive avoidant, mereka juga cenderung melakukan sabotase dalam hubungan untuk mengetes pasangannya. Kalau orang non-avoidant mengetes pasangannya dan berharap pasangannya berhasil, maka orang fearful avoidant justru berharap pasangannya gagal. Mereka yang fearful avoidant berharap untuk dikecewakan. Kasarnya, harapan mereka seperti ini: "Nah, bener kan, dia sama saja dengan yang lain. Mereka akhirnya meninggalkanku". Akhirnya, sebagai avoidant, baik yang dismissive maupun fearful memilih membangun dinding es yang tebal untuk melindungi dirinya. 

*** 

Terus, konflik asmaranya apa? 

Hmm..masalah muncul ketika si Mbak yang secure dan anxious ini menjalin hubungan dengan si Mas yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Orang yang ada anxious-nya secara inheren percaya bahwa mereka ditolak sementara orang yang ada avoidant-nya percaya bahwa orang-orang akan meninggalkan mereka. Sisi secure si Mbak diperoleh dari ibunya yang selalu hadir setiap saat baik secara fisik, emosional, dan spiritual. Namun, sisi anxious-nya lahir dari ayahnya yang ternyata seorang avoidant sejati. Di masa awal kembang, sang Ayah bertugas di luar kota. Bahasa cinta sang Ayah adalah act of service, ia suka memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya. Namun, si Mbak akan merasa dicintai kalau diberi quality time. Ia mau berbincang dengan ayahnya tentang apa yang dia jalani dan rasakan dalam percakapan yang mendalam atau paling tidak ayahnya hadir mendukung dia dalam momen-momen di hidupnya. Hal ini bentrok karena Ayahnya punya luka dengan keintiman di masa muda. Menjadi intim dengan orang-orang yang dicintainya sama dengan mengoyak lukanya di masa lalu. Selama bertahun-tahun, si Mbak mencari validasi dari sang Ayah, apakah aku ini dicintai? Apakah aku ditolak? Barulah, ketika ada quality time akhirnya ia memahami bahasa cinta ayahnya. Sungguh, cerita menara Babel tentang pengacauan bahasa memang menjadi sumber konflik manusia. 

Di sisi lain, si Mas terbentuk menjadi seorang yang dismissive avoidant dan fearful avoidant. Sisi secure si Mbak bisa berdamai dengan sisi avoidant si Mas, tetapi sisi anxious si Mbak membuatnya bersusah hati. Mengharapkan validasi dari orang yang avoidant itu seperti mengharapkan hujan turun di musim panas. Apalagi sisi dismissive si Mas tidak bisa dipaksa. Semakin dipaksa, dia semakin menjauh. Sebagai mekanisme pertahanan dirinya, maka orang-orang dismissive avoidant cenderung mengabaikan emosi. Bagi mereka, emosi itu tanda kelemahan. Si Mas membeku bukan karena tidak mencintai si Mbak, tetapi karena ia butuh untuk merasa “aman” dan tidak kehilangan dirinya. Namun, sisi fearful avoidant-nya memiliki sensitivitas dan merindukan keintiman sekaligus takut ditolak dan ditinggalkan. Lagi-lagi ada trust issue ini. Dari yang biblis menuju profan, inilah makna "diterima tetapi dianggap sepi" (Hosea 3) itu. Si Mas mencintai dalam diam. Ia merindu dalam diam. Si Mas membalikkan makna “diam” yang umumnya dipahami sebagai bentuk penolakan, hukuman, atau penghindaran. Si Mbak didiamkan bukan karena dia ditolak, dibenci, atau dihindari, melainkan karena dia sangat dicintai. Si Mas seperti sang “Mistikus Cinta"-nya Dewa: 
apa yang sedang kurasa
apa yang sedang kau rasa 
adalah cinta yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata

Alexythymia adalah sindrom ketika seseorang tidak dapat mengenali atau menyampaikan perasaannya. Ia tidak punya kata-kata untuk bisa mengungkapkan perasaan yang dia rasakan. Sebagai catatan, keadaan ini berbeda dengan tidak memiliki perasaan. 

Kalau sudah begini, bagaimana? Hubungan ini tampaknya impossible hehehe. 

Sudah benar memang doa mereka dulu. Ajaib memang, mereka mendoakan hal yang sama. Hanya Tuhan saja yang bisa menjadi perantara, penengah, dan pemersatu. Namun, beliau jugalah yang jadi alasan pemisah. Si Mas sebagai anggota kopassus, pasukan elit Yang Mulia Komandan, harus menunaikan misi khusus: disuruh sekolah, belajar berkomunikasi, dan juga berdamai dengan masa kecilnya. Sebaliknya, si Mbak yang seorang anggota Infanteri alias pasukan tempur pejalan kaki disuruh bertempur dulu disini. Banyak urusan dan drama yang harus diselesaikan. Selebihnya, adalah kasih karunia Komandan. 

Untuk melanjutkan hidup, si Mbak harus belajar mengelola rasa anxious-nya dengan mencari tahu dan berfokus pada kebutuhan personalnya. Jika rasa anxious-nya terkelola dengan baik, sisi secure-nya akan mengambil alih dan membuat beban di hatinya terangkat. Begitu juga dengan si Mas. Ia harus belajar menerima bahwa tidak apa-apa berhadapan dengan emosi, itu bukan tanda kelemahan. Tidak apa-apa sekali-kali menjadi rentan. Si Mas harus berani dan percaya bahwa orang-orang yang benar-benar mencintainya tidak akan meninggalkan dia. Dengan begini, si Mas akan pelan-pelan bertransformasi untuk menjadi pribadi yang secure

*** 

Barangkali benar kata Rsi Meike Walmiki kepada Mpu Afif Tantular,” Bukan masa lalu yang menakutkan, tetapi masa depan. Terlalu banyak kemungkinan yang tidak sanggup dibayangkan.” 
Ya. Makanya kita hanya bisa berusaha sebaik-baiknya untuk hari ini”, ujar Mpu Afif Tantular. 
Rsi Meike Walmiki mengangguk,” Ya, seperti kata Yesus, kesusahan sehari cukup sehari, hari esok memiliki kesusahannya sendiri. Kita tidak pernah tahu, apakah besok lusa kita masih ada dunia ini atau tidak. Atau apakah kesempatan itu bisa datang dua kali.”

Life Story

Kakak

Selasa, September 22, 2020

Tidak tahu apa yang mendorongku, tetapi diam-diam aku ingin sekali memiliki anak baptis atau anak serani, istilah lawas yang dalam KBBI merujuk "Kristen", "Indo-Eropa", dan "orang Portugis". Kata di-seranikan kemudian berarti di-kristenkan yang biasanya ditandai dengan dilakukannya sakramen baptis pada seorang anak. Anak-anak yang dibaptis memiliki orang tua rohani yang disebut Papa dan Mama Serani atau disingkat Papa Ani dan Mama Ani. Istilah ini sangat umum, terutama dalam budaya di Indonesia Timur. Dalam bahasa Inggris, Papa-Mama Ani ini disebut Godparents (Godmother dan Godfather). 

Biasanya orang yang ditunjuk menjadi orang tua serani adalah orang yang dipercaya oleh orang tua kandung. Mereka mendapat tugas membimbing anak-anak baptis mereka secara spiritual. Jika terjadi apa-apa dengan orang tua kandung, orang tua serani yang kemudian mewakilkan mereka.

Bertahun-tahun aku menunggu, adakah orang yang mau mempercayakan anaknya kepadaku sebagai orang tua rohaninya. Harapanku bertumpu pada keluarga, entah anak-anak dari kakak-adik sepupu atau bahkan teman dan sahabat. Kesempatan itu tak kunjung datang dan aku menyerah untuk tetap mengharapkannya.

***

Aku mengenal pasangan Angel dan Nael sebelum mereka menikah. Kami bertemu pada tahun 2017 di saat AOA Space baru saja di-launching. Saat itu, aku, Tami, dan Angel mengambil bagian dalam pekan seni kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Kami bertiga membacakan puisi. Angel merupakan temannya Tami. Nael adalah pacar Angel saat itu. Aku berkenalan dengan Angel karena aku ingin diramal dengan kartu tarot. Pertemanan kami berjalan dengan akrab. Rupanya kami sama-sama Kristen. Nasib Nael sama sepertiku: berayah Katolik dan beribu aktivis GPIB. Angel adalah seorang Katolik dengan banyak pertanyaan tentang patriarki. Kami memiliki perhatian yang sama pada isu-isu kesetaraan, humanisme, dan spiritualitas. Aku lebih dekat memang dengan Angel. Kami sama-sama penyintas. Kami sama-sama rindu dan ingin dekat dengan Tuhan. 

Tahun 2019, ketika konflik keluargaku terus berlanjut, Angel dan Nael adalah sebagian dari orang-orang yang menolong dan menemaniku. Mereka juga kena imbas, tapi hal itu tidak membuat mereka takut dan menjauhiku. Sebaliknya, ikatan kami semakin kuat. Sebagai sesama perempuan, Angel menemaniku juga dalam menghadapi pergumulan romantikaku yang unik.

***

Ketika akhirnya Nael dan Angel menikah, aku dan teman-teman yang lain turut berbahagia. Namun, berita sedih juga datang. Pertama, Angel dan Nael pindah ke Bali. Kedua, Angel memiliki kista di rahimnya sehingga dalam perhitungan medis, ia dikatakan akan sulit hamil. Lebih dari setahun menikah, Angel dan Nael menikmati rumah tangga mereka dengan ceria. Hingga suatu ketika, Angel memberitahu bahwa ia berencana untuk melakukan operasi pengangkatan kista. Di saat-saat menunggu waktu yang tepat untuk operasi itu, ia mengagetkanku dengan mengatakan bahwa ia baru menggunakan testpack dan hasilnya positif. 

Perasaanku campur aduk. Antara khawatir dan senang. Khawatir karena kesehatan Angel dan ragu apakah itu false pregnancy. Senang karena Angel menawariku untuk menjadi Mama Ani bagi si buah hati. Ketika Angel mendapatkan konfirmasi dari dokter kandungan dengan tes yang lebih akurat, kami begitu bahagia menyambut si kecil. Gila! kami sedang menantikan kehadiran janin yang sedang berperang dengan kista yang terus-menerus ingin memakannya setiap saat. 

Janin itu kami panggil Kakak. Kakak adalah buah cintanya Papa Nael dan Mama Angel. Kakak adalah pejuang kecilku, Mama Ani-nya. Nael bertugas mencari Papa Ani buat Kakak tapi dia menyerah karena menurutnya teman-temannya tidak ada yang beres hehee. Sejak hamil, hubunganku dengan Angel makin dekat. Kami terus berkontak untuk meng-update perkembangan Kakak. Kami sudah punya banyak khayalan. Kami suka mengajak ngobrol Kakak. Bahkan Mama Ani dengan jiwa controlling dan posesifnya sudah mulai mengatur-atur Kakak harus kuliah dimana hihihi. Telpon dan chat yang intens dengan Angel membuatku merasa dekat dengan calon anak baptisku ini. 

***

Di tengah-tengah pergumulan kami, aku dan Angel saling menemani. Hingga apa yang kutakutkan terjadi dan apa yang Angel takutkan terjadi. Detak jantung kakak tidak berdetak padahal usianya sudah menginjak 8 minggu lebih. Aku sendiri putus kontak dengan Aquaman. Di saat-saat itulah, aku dan Angel bertelut, menyerahkan semuanya kepada Bapa. Kami berhadapan dengan mereka yang dicintai. Cinta yang kami rasakan sebagai anugerah. Keduanya telah lama dinanti. Yang satu dengan yang ada di dalam diri dan yang satu dengan yang ada di luar diri. Meskipun itu anugerah, cinta itu ternyata memiliki pilihan dan kehendaknya sendiri. Sebagai orang yang mencintai, kami hanya ingin yang terbaik bagi yang dicintai. Yang satu ada di dalam diri tetapi tidak berdetak. Yang satu ada napasnya, tetapi diam. Kedua-duanya sepertinya ragu dan belum siap. Dua perempuan yang mencintai mereka ini hanya bisa pasrah sambil tetap punya kepercayaan dan pengharapan pada Allah. "Bapa, Lihatlah kami...". Setelah berdoa, kami jauh lebih tenang dan merasa dikuatkan.

***

21 September 2019 adalah hari yang kuingat selalu. Pertemuan secara pribadi dengan Aquaman dan bagaimana kami tenggelam dengan pembicaraan mengenai perasaan kami masing-masing. Itulah momen yang menandai kebersamaan kami. Itupula pertemuan kami secara fisik sebelum dia pergi mengikuti aliran sungai hidupnya. 

21 September 2020, aku pikir akan ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang kuharapkan. Aku menunggu. Adakah tanda-tandanya? Aku jatuh tertidur setelah pulang dari kampus. Tubuhku sedang pendarahan karena menstruasi. Aku sangat kelelahan. Begitu bangun. Aku mendapat WA dari Angel:"Kakak sudah pergi ke Surga..."Intrauterin fetal death, kematian dalam kandungan. Petarung kecil kami akhirnya menyelesaikan pertandingannya. 2 bulan lebih lamanya ia berjuang untuk hidup. Kakak membuktikan dia adalah pejuang sejati. Bagi pejuang, hanya ada dua kata: menang atau mati. Tidak ada kata menyerah apalagi mundur. 

Angel seperti Bunda Maria yang kehilangan putranya. Hancur. Namun, ia masih punya kekuatan untuk menguatkan suaminya Nael yang masih bersedih. Sesiap apapun kita pada perpisahan. Sepasrah apapun kita pada nasib, kita tetap saja terguncang. Kehilangan tetap kehilangan. Dalam kasusku, Aquaman tidak hilang, tetapi saat ini aku merasa ditinggalkan. 

Kami menangis bersama. Angel harus segera dikuretasi untuk mengeluarkan Kakak dari kandungannya. Setelah itu, ia akan dijadwal lagi untuk operasi pengangkatan kista. Tak ada luka lebih dalam dari kehilangan orang yang dikasihi. Cinta itu bertumbuh dalam dirinya dan kini harus terpisah. Tak hanya Angel dan Nael yang kehilangan Kakak. Sebagai Mama Ani-nya yang secara spiritual ikut mengandung dia, rasa kebahagiaan itu seperti dirampas begitu saja. Kesedihan hati dua ibu dalam spektrum yang berbeda.

Siapakah kami ini, Tuhan?. Semuanya bukan milik kami. Bapa lebih tahu yang terbaik, maka jadilah menurut kehendakMu. Aku dan Angel berusaha mengubah kepedihan kami menjadi sukacita. Angel bilang,"Ya, Kakak sekarang main sepak bola disana. Nanti kalau kandungan Mama sudah sehat, Kakak akan kembali lagi. Nanti ketemu sama Mama Ani lagi". 

Yang menakjubkan dari peristiwa ini adalah kami masih memiliki kepercayaan dan kekuatan untuk melangkah lagi. Kami masih punya harapan. Itu membuktikan Tuhan Allah hadir di antara kami. 


Selamat jalan Kakak, anak seraniku yang pertama....sampai bertemu lagi.