Life Story

My Grown-Up Christmas List

Rabu, Desember 17, 2014

*pic from tumblr*




Lieber Santa Claus, Sinterklas, atau apapun namamu.

Namaku Meike. Mungkin kau sudah lupa padaku. Sudah 18 tahun berlalu sejak kita pertama kali bertemu. Dulu aku anak kecil berambut ikal berwarna coklat, berkulit putih, bermata sipit, dengan setitik tahi lalat yang terletak di garis senyum. Sekarang, ketika waktu perlahan memakan manusia, rambutku sudah berubah lebih hitam, kulitku tak seputih dulu lagi, mataku masih tetap sipit, dan tahi lalatku sudah besar, kadang-kadang ada sehelai rambut di ujungnya yang akan cepat-cepat kusingkirkan. Nah, mudah-mudahkan kau sudah ingat padaku.

Sesungguhnya aku sudah lupa apa sebenarnya yang aku minta padamu waktu itu. Tapi dalam samar-samar ingatanku, aku membuat banyak daftar, a list. Daftar yang sangat panjang, mungkin saja tentang inginnya aku punya boneka, tas baru, buku gambar, crayon warna-warni (aku tidak suka pakai pensil warna), baju baru, sepatu baru, buku dongeng, dan entah apa lagi. Aku menulis keinginanku di kertas memo milik Daddy. Ada lebih dari 3 lembar sepertiya karena kerta memo itu ukurannya lebih kecil dari kertas HVS. Lalu daftar itu kumasukkan dalam kaos kaki warna putih milikku. Aku tidak punya kaos kaki merah seperti yang muncul di film-film Hollywood. Lalu, kaos kaki itu aku letakkan di kaki pohon terang sambil berharap sebentar malam kau akan datang mengambilnya dan mengabulkan keinginanku. 

Namun, kado natal darimu yang aku terima agak berbeda dari yang kutulis. Seingatku aku menerima sebuah buku dengan Sailoor Moon sebagai covernya, sebuah crayon, dan mungkin sebuah tas. Aku berpikir kau tak mengabulkan semua keinginanku. Mungkin aku tak jadi anak baik selama setahun. Padahal aku telah menukar kesukaanku menghisap jempol demi hadiah-hadiah itu. Kau tahu sendiri betapa sukanya aku menghisap jempol sejak konon dari kandungan. Berpisah dengannya adalah patah hati pertamaku. Tapi, kata Mami aku sudah besar hampir 5 tahun usiaku katanya. Aku tidak boleh isap jari lagi. Saat itu aku berpikir, ketika kita dikatakan "besar" maka kita akan dituntut untuk berkorban.

Kini aku datang lagi padamu. Menulis keinginanku dalam blog yang akan dibaca sejuta umat. Hey, ini zaman digital, sudah semakin canggih. Manusia zaman sekarang bahkan sudah punya pohon terang digital. Mengapa aku tak bisa menulis daftar digital juga?

Keinginanku kali ini bukan tentang yang aku tulis 18 tahun lalu ketika aku masih polos memandang dunia. Saat masih anak-anak kita tahu kesedihan akan sirna dengan membuka kado-kado berisi sesuatu yang diinginkan. Namun, ketika dewasa kita tahu kado-kado yang dibungkus cantik dan ditaruh di bawah pohon Natal tidak mampu menyembuhkan jiwa manusia yang tersakiti. Kita mulai melihat warna dunia: putih, hitam, dan abu-abu. Kadang merah, kadang biru, lebih sering merah muda. Warna-warni itu tergantung dari mana perspektifmu melihat. Maka, aku ingin membuat daftar yang melampui hal-hal yang bersifat materi. Yang tidak bisa dibungkus kertas kado dan dihiasi pita warna-warni. 

Aku ingin setiap peperangan yang terjadi di dunia berhenti. Dari peperangan fisik sampai ekonomi. Jangan lagi ada perpecahan di antara manusia. Terlebih lagi pembunuhan dan penganiayaan yang mengatasnamakan agama, ras, dan etnis.

Aku ingin tidak ada lagi penindasan terhadap negara-negara dunia ketiga yang sumber daya alamnya dieksploitasi gila-gilaan oleh negara-negara maju. Yang warganya menumpang di tanah mereka sendiri, yang pemerintahnya tidak sadar kalau mereka menjual diri pada korporasi.

Aku ingin setiap orang mendapatkan hak-nya. Termasuk hak untuk menikah dan tidak menikah. 

Aku ingin keadilan ditegakkan. Mereka yang memimpikan keadilan datang ke bumi dalam bentuk hukum yang tidak tunduk pada uang dan kekuasaan.

Aku ingin setiap orang mendapatkan teman. Teman yang mau berjalan di samping mereka di jalan yang tinggi dan rendah, dalam hujan badai dan panas terik. Teman yang memiliki hati yang memahami yang seperti kata Rabindranath Tagore, adalah rumah.

Aku ingin waktu menyembuhkan setiap hati yang luka. Setiap orang berhak mendapatkan kesembuhan meskipun kadang mereka menikmati luka yang tertoreh di hatinya. Biarkanlah hati itu kuat untuk menerima dan memaafkan.

Aku ingin cinta tetap abadi. Kasih sayang tak akan punah meskipun kebencian juga hidup dan merajai hati manusia.

Ini keingianku yang tidak lagi aku tulis di kertas dan kumasukkan dalam kaos kaki. Aku tahu permintaanku tidak dengan segera dikabulkan, this is only life long wish. Mungkin dalam kepercayaan buta kita akan menemukan kebenaran. Percayalah, aku meminta bukan untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang lain sekalipun mereka tak percaya pada Santa Claus atau pada keajaiban sekalipun. 

Life Story

Gili Trawangan-Gili Meno - Gili Air: Sebuah Marathon

Senin, Desember 08, 2014

Pulaunya masih terlihat kecil. Jauh lebih tepatnya. Rasanya seperti mimpi. Dari dalam bis kupotret pulau Gili Trawangan yang masih sekitar 20 menit sampai dengan speed boat kesana. 

*Gili Trawangan dari jauh*



Laut biru dan pasir putih adalah pemandangan yang menyambut saya ketika untuk pertama kali menginjakkan kaki ke pulau kecil (Gili) Trawangan. Ada 3 Gili yang berdekatan dengan pulau Lombok yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Saya dan teman-teman memilih singgah di pulau pertama, Gili Trawangan. Kami akan stay 2 hari sebelum menuju ke Gili Meno dan Gili Air. Jika kau berasal dari daerah yang banyak pantai, maka pemandangan seperti di Gili Trawangan bukan hal yang baru. Bahkan mungkin karang-karang yang ada di ketiga Gili ini tak seindah yang ada di Bunaken, Lovina, Derawan, atau bahkan Samalona. Tapi ada sesuatu yang menarik dari Gili-gili ini. Begitu hening, begitu tenang. Tentu saja sudah terlihat bagaimana investor masuk dan membangun hotel-hotel mewah sehingga kau akan takjub dengan sulapan mereka yang fantastis. Sepintas kau merasa seperti berpindah negara. Ini masih di Indonesia, kan?



*fasilitas yang disediakan hotel untuk berjemur, foto: Dwi Pela atau Herlina*



Tentu saja ini masih di Indonesia. Pulau kecil ini telah disulap sedemikian cantiknya. Kau hanya akan menemukan sedikit wajah Indonesia (di luar penduduk setempat) berwisata disini. Begitu banyaknya wisatawan asing sehingga kau merasa berada di suatu negara yang bukan Indonesia. Kau menjelma hobbit-hobbit karena mereka begitu tinggi dan besar-besar. Ada rasa rendah diri, bahwa mengapa Tuhan menciptakan orang Indonesia tak segagah orang bule. Begitu pula ketika akhirnya saya dan teman-teman lebih memilih penginapan murah meriah yang dibuka oleh penduduk lokal. Di sisi lain, bule-bule itu menginap di hotel-hotel mewah. Tentu juga ada orang Indonesia yang menginap di sana. Tapi kau sudah bisa menebak dari kelas sosial mana mereka.

Sementara para bule menikmati hotel berbintang yang menyediakan kursi-kursi untuk berjemur, kami  menikmati penginapan murah yang masih jauh masuk ke gang-gang. Penginapan atau nama kerennya homestay itu seperti rumah penduduk pada umumnya yang dengan segala upaya disulap agar layak disebut penginapan. Cukup untuk melepas lelah tapi tak cukup untuk mandi karena airnya seasin air laut dan tak ada air panas. Maklum saja harganya juga Rp.150.000/malam yang bisa ditempati oleh 3 orang. Kamar itu terdiri dari satu tempat tidur ukuran king size, 1 kamar mandi dalam, 1 kipas angin, dan 1 handuk. 

Setelah menyimpan barang, saya dan teman-teman memustuskan jalan-jalan. Betapa inginnya saya berjemur sambil membaca buku di kursi-kursi berjemur itu. Tetapi konon, katanya kursi-kursi itu disediakan untuk tamu yang menginap di hotel/resort di sana. Akan tetapi, jika kau bukan tamu hotel dan ingin berjemur, kau cukup membayar Rp.100.000.

Pantai-pantai disini jarang digunakan untuk mandi-mandi sebagaimana kalau kita ingin mandi-mandi di Tanjung Bayang atau Pantai Parangtritis. Pantai-pantai disini memiliki banyak karang-karang kecil yang jika mengenai telapak kakimu lumayan bikin nyeri, kalau sial bisa berdarah. Lagipula permukaan pantai tidak rata. Bisa-bisa kau jatuh karena landasan yang tadinya dangkal tiba-tiba menjelma jurang atau palung. Miriplah dengan situasi pantai di Maluku. Kebanyakan orang lebih senang snorkling atau diving. Sebagian juga ingin berseluncur. Bisa dihitung juga orang Indonesia yang berseluncur. Kita lebih senang memancing ikan. 

Menjelang sunset saya memutuskan ingin membaca di tepi pantai. Ada satu spot yang dilegitimasi untuk melihat matahari terbenam. Saya membawa karya terbaru Paulo Coelho yang berjudul Adultery dengan niat menyelesaikan beberapa chapter buku itu selama liburan. Tentu saja kemudian buku itu menjelma properti untuk foto-foto ketimbang dibaca. Ada memang saat kita membutuhkan untuk diisi, namun ada saat ketika kita ingin mengeluarkan sesuatu. Namun, jika kau bersinggungan dengan alam, kau hanya ingin menikmatinya secara total. 

Mungkin disaat seperti ini kau dapat memikirkan kemungkinan tak terbatas yang terbentang di seberang lautan sana. Suatu kesadaran yang membuat orang-orang Eropa kemudian memutuskan menjelajahi dunia untuk menemukan dunia baru. Masa depan baru. Kekasih baru.



akjh
*best moment for me*


Ada satu adegan dalam epik Mahabharata, ketika Karna yang merupakan putra Dewa Surya meminta restu ayahnya sebelum perang Bharatayudha. Di momen inilah, Karna bersikukuh untuk menjalankan dharmanya. Ia membuat keputusan laksana Ksatria bahwa ia akan memberikan apa saja yang ada pada dirinya selama ia mampu kepada siapa yang meminta. Dewa Surya datang menampakkan diri pada putranya dan memperingatkan Karna bahwa Dewa Indra akan datang meminta perisai dan anting-anting miliknya. Padahal, perisai dan anting-anting milik Karna inilah yang membuatnya tak terkalahkan dari apapun. Sikap Karna ini membuat saya terharu bagaimana ia mampu melepaskan kemelekatannya pada apapun. Ia percaya pada kemampuannya sendiri bahwa seorang ksatria tidak hanya dilahirkan tetapi menjadi karena kemampuannya. Tetapi tetap saja, manusia tidak bisa mengontrol di luar dirinya. 

Selalu ada kekuatan yang lebih besar dari kita yang tak bisa ditembus oleh akal. Sesuatu itu oleh orang beragama disebut Tuhan.


ugjk
*Menunggu Sunset*



Garis terakhir matahari sudah hilang. Malam kini sebagai raja dari semesta. Kami memiliki agenda untuk berkeliling pulau naik sepeda malam-malam. Saya sejujurnya sudah lupa bagaimana cara mengendarai sepeda. Mau tak mau saya harus menyewa sepeda, mengumpulkan keberanian dan voila...saya bisa juga ternyata meskpun teman-teman saya cukup khawatir dengan gaya saya naik sepeda yang seperti ingin menabrak apapun yang ada di depannya. Saya memang menabrak sepeda orang lain namun bukan karena kebodohan saya naik sepeda tetapi karena sepeda itu memiliki rem yang blong. Pada akhirnya, saya naik sepeda untuk dua orang yang dikemudikan teman saya Gilang. Keliling pulau, malam-malam, liat galaksi bimasakti yang tak bisa diabadikan oleh kamera handphone (pada akhirnya kami sepakat bahwa kamera terbaik adalah mata manusia), liat mercu suar, dan hadiah berupa pegal linu di sekujur tubuh plus pantat yang sakit karena sadel sepeda yang tak bersahabat. Saya butuh olahraga banyak sepertinya.

Saya dan tiga teman yang lain juga ikutan party yang memainkan lagu-lagu reggae. Bisa ditebak, cuma kami yang masih sadar di ruangan itu dan tentu saja pribumi.


restaurant seafood yang ada di sepanjang jalan di Gili Trawangan


cafe-cafe yang ada di sepajang jalan


*sekitar jam 8 ke atas, cafe dan bar disini akan menyuguhkan live music. 



Pagi itu saya dan teman-teman sudah standby di dermaga untuk aktivitas snorkling di tiga gili. Kami juga akan sekalian pulang hari itu. Maka, kami sudah siap meninggalkan Gili Trawangan dengan tas backpack dan koper (yang jenisnya koper salah satunya milik saya). Kami akan langsung ke Lombok setibanya di Gili Air. Kapal mesin itu tiba sekitar pukul 11. Rombongan kami yang pribumi dan ditambah seorang gadis dari Kalimantan, serta seorang lelaki keturunan Tionghoa yang bekerja di Malaysia, selain itu semuanya bule. Saya dan teman-teman yang berjalan duluan memasuki kapal karena barang-barang kami banyaknya minta ampun. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut yang tentu juga diwarnai dengan suara-suara berisik kami. Kami orang Indonesia, kami sangat ramah dan suka ngobrol, right? Iseng-iseng saya menoleh ke belakang. Saya cukup terpana melihat rapinya antrian di belakang kami. Tak ada yang amburadul. Para bule itu setia menanti rombongan kurcaci di depan mereka masuk duluan. Melihat budaya antri orang asing, kawan, saya jadi sedih. Mengapa kita tak bisa antri untuk hal-hal yang bahkan sederhana?


eehkll
*buddy travel sekaligus buddy thesis*



Kapal berhenti di perairan Gili Meno. Saya tak singgah di pulau ini. Jadi saya tak bisa cerita banyak mengenai Gili Meno selain kabar bahwa pulau ini masih sepi dibanding dengan Gili Trawangan dan banyak diisi pasangan yang lagi honey moon. Keadaan Gili Meno hampir sama dengan Gili Air. 

Saya cukup menemani teman-teman saya lagi snorkling. Betapa sejuknya berendam di air laut yang asin dan biru. Betapa akrabnya mereka dengan dunia bawah. Sementara saya terjebak dengan barang-barang dan trauma yang tak kunjung sembuh. Saya cemburu karena saya tak bisa berenang dan tidak berani, maka saya menerima kepecundangan saya untuk tinggal di atas perahu. Selalu ada yang menjadi penjaga. 


aaskgg
*The young lady and the sea :p*


*para wisatawan yang snorkling yang di Gili Meno*



*salah seorang teman saya, Yue, yang juga ikut snorkling*



Gili Air suatu siang. Ini perhentian terakhir kami yang akan dilanjutkan dengan naik speed boat lagi ke pulau Lombok. Waktu liburan semakin menipis. Tetapi pemandangan laut yang biru, pasir pantai, dan masyarakat Gili Meno yang beramai-ramai menonton sinetron Rhoma Irama membawa sebuah nostalgia sekaligus fatamorgana. Bagaimana bisa? di pulau terpencil seperti ini dengan makanan yang mahal-mahal, dengan bule-bule dari berbagai macam negara, dengan wisatawan domestik yang masih bisa dihitung jari, masyarakat lokal yang seperti parasit di tanahnya sendiri tetap bahagia menikmati drama tak berkesudahan antara Rhoma-Ani-Rika. Lalu ada juga pedagang obat-obat herbal untuk menguatkan penis yang sibuk menawari teman-teman saya. Siang itu ditutup dengan makan mie ayam yang tidak bisa dibilang enak plus bakso yang lebih cocok disebut gumpalan kanji. 

Ah iya, perahu yang akan membawa kami ke Lombok datang tepat pukul 3 sore. Kali ini didominasi orang-orang lokal (plus ternak mereka) yang ingin menyebrang. Tak antri, orang-orang berdesak-desakan. Tak ada keteraturan sebagaimana ketika kami naik perahu pertama kali mengelilingi Gili-Gili ini.

Entah bagaimana definisi adab kali ini.




Perjalanan ini memang cukup singkat dan inilah yang membuat saya ingin kembali lagi kesana. Mungkin datang dengan pasangan (seperti kebanyakan orang yang kesana), mungkin dengan keluarga atau teman. Atau kalaupun sendiri (seperti tidak lazimnya), saya ingin betul-betul menikmati suasana membaca buku di tepi pantai. Itu sudah saya tekadkan. 




Selamat Berlibur,


M


Love Story

Senggigi Menggigil

Jumat, November 28, 2014

*Pantai Senggigi*



Sudah hampir pukul 6 sore, tapi aku masih betah duduk di tepi pantai. Seperti ditusuk paku-paku kenangan, pantatku tak bergeser dari pasir-pasir putih, erat menyatu, membuatku makin khusyuk memandangi sepotong senja dibalik awan kelabu. Langit masih bermuram durja tanda hujan lebat usai melaksanakan tugasnya. Bajuku masih setengah kering. Agak lengket memang tapi siapa yang peduli. Di sana tak ada orang-orang yang mengaku pacar dan cerewet menyuruh ganti baju. Lagipula tak ada baju ganti yang kubawa. Aku hanya membawa sepotong ingatan.

Suasana pantai mulai sepi. Hanya segelintir orang yang bertahan. Ada pedagang mutiara yang menjajakan mutiara-mutiaranya pada pengunjung pantai. Dan meski sudah diusir beberapa kali oleh pengunjung yang itu-itu juga, mereka setia kembali. Ada beberapa pasangan yang asyik bercumbu. Mungkin awalnya mereka ingin melihat matahari terbenam, tetapi justru matahari-lah yang menonton mereka, malu-malu dari balik awan kelabu. Dan, ada sekelompok manusia yang tampak sedang merenung. Mereka umumnya sendirian. Mereka mengambil jarak dari keramaian. Kelompok itu sudah akrab dengan laut.

Tak jauh dari tempatku duduk, seorang perempuan berambut pirang juga duduk menatap lurus ke arah pantai. Jujur saja, aku tak rela berbagi matahari terbenam dengan orang lain. Sudah cukup persaingan dengan manusia-manusia yang resah dan galau di tepi pantai. Pasangan yang sedang bercumbu bukanlah saingan berat. Mereka tak peduli dengan matahari karena mereka punya dunia sendiri yang terselip dalam pelukan pasangannya. Tapi aku dan perempuan bule itu sedang bersaing. Siapa yang paling menarik perhatian dari sang Surya. Awan kelabu keparat itu masih menutup setengah lingkaran dari matahariku yang mulai tenggelam. Sekilas aku melihat perempuan bule itu menangis.

Matahari sudah total terbenam. Pacarku si Matahari sudah berlabuh ke belahan bumi yang lain. Tinggal menanti sebentar lagi sebelum cerminannya muncul mengukir senyum di angkasa. Dengan susah payah aku berdiri, mengebaskan pasir dari celana pendek jeans-ku. Bajuku hampir kering. Sial, kakiku kram. Perempuan bule itu juga berdiri. Ia tersenyum padaku dan meminta untuk difotokan dengan latar pantai dan langit yang mulai gelap. Setelah kuambil fotonya, ia mengucapkan terima kasih. Bahasa Indonesianya cukup lancar. Ia bercerita bahwa ia berasal dari Belgia dan sudah keliling Asia Tenggara. Ia pernah beberapa bulan di Jawa. Ia seorang volunteer.

Kami bercakap-cakap sebelum akhirnya ia menanyakan arah menuju pantai Kuta. Aku tak tahu. Tapi  sebagai orang Indonesia yang ramah pada orang asing, aku menjawab juga dengan menyuruhnya naik angkot sampai terminal. Perempuan bule itu malah menawariku untuk join. Padahal sudah kukatakan keberadaanku di Lombok bukan untuk jalan-jalan ke Pantai Kuta. Tapi ia masih memaksa. Aku mulai meragukan kemampuan bahasa Inggrisku. Atau bisa saja bahasa Inggris perempuan bule itu juga sama kacaunya. Anehnya, ia berkali-kali mengatakan, " I don't wanna be alone..."

Percakapan itu tidak bermuara pada kesepakatan. Ia berkali-kali mengatakan kalau ia tak mau pergi sendiri kesana. Aku memanggil seorang penjual mutiara yang tak jauh berdiri dari sana. Wajah penjual mutiara yang letih itu kembali bersinar. Ia datang dengan harapan satu-dua cincin atau kalungnya laku. Betapa, kecewanya ia ketika tahu bahwa aku memanggilnya hanya untuk menanyakan alur transportasi guna menolong perempuan bule itu.

Perempuan bule itu dengan gigih tetap mengatakan bahwa ia tak mau ke pantai kuta sendiri. Aku meninggalkan percakapan antara si perempuan bule dan penjual mutiara yang mulai memanas. Penjual mutiara berkata, "Carilah travelmate. Kalian join saja supaya ongkosnya murah". Sementara si perempuan bule itu tetap bersikukuh, "I don't wanna be alone". Sebelum aku memasuki resto bar yang terletak tak jauh dari tepi pantai, aku masih mendengar dengan suara lelah si penjual mutiara berkata, "Belilah mutiara ini, cuma 20.000". 

***

Angin malam mulai berhembus. Aku mulai menggigil di pantai Senggigi. Rasa dingin itu tidak hanya menerpa tubuh tetapi juga sesuatu di dalam sana yang mulai meragu namun tetap berharap. Sayup-sayup suara band akustik menyanyikan lagu lama:
...
I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
Ah, what will it take till you believe in me
The way that I believe in you?



mungkin dia sudah lelah.



Ps: Lirik lagu "Just The Way You Are-Billy Joel

Life Story

Lombok dan Drama Malam Pertama

Senin, November 17, 2014

Nusa Tenggara baik yang ada di sebelah Barat maupun Timur adalah pulau-pulau yang tak pernah terpikirkan akan saya kunjungi. Ironisnya, di dalam darah saya mengalir darah Nusa Tenggara Timur, tepatnya tanah Flores, daerah asal ayah saya. Akan tetapi, kali ini takdir membawa saya ke Nusa Tenggara, bukan di sebelah Timur memang, tetapi di sebelah Barat. Saat ini saya hanya beberapa meter saja jauhnya dari Pantai Senggigi, Lombok. 

***

Waktu saya ke Papua untuk mengikuti konferensi Jaringan Antariman, saya berkenalan dengan Syamsul. Secara kebetulan, saya dan Syamsul menaiki feri yang sama ketika kami berkunjung di dua kampung di daerah Sentani. Dia tinggal di Lombok. Ia juga sempat mengutarakan ajakan untuk berkunjung ke Lombok. Saya cuma senyum-senyum saja. Tanda tak yakin tapi siapa yang tahu? masa depan selalu jadi misteri.

Lalu, apa hubungan antara Syamsul dalam cerita perjalanan ini? 
Beberapa bulan kemudian, ISKI atau Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia akan mengadakan konferensi nasional komunikasi. Tentunya sebagai pembelajar komunikasi, saya dan beberapa teman-teman angkatan yang tertarik dengan kajian akademik tak ketinggalan untuk terlibat. Kami mengirimkan paper dan akhirnya diterima untuk dipresentasikan. Coba tebak, ISKI memilih Lombok sebagai tempat pertemuan itu. Maka, di sinilah saya, di Lombok. Masih antara percaya dan tidak percaya.

Perjalanan saya dari Jogja menuju Lombok cukup melelahkan, meskipun saya memilih rute darat dan udara. Saya naik kereta ke Surabaya dan dari Surabaya melanjutkan perjalanan ke Lombok dengan pesawat. Dalam perjalanan kali ini saya bersama Mbak Eka, teman angkatan saya yang menjadi partner in crime. Tentu, setelah konferensi kami akan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan sebelum berkutat kembali dengan proposal tesis masing-masing. 

Saya dan Mbak Eka tiba pas magrib waktu Lombok. Untuk menghemat dana, kami memutuskan naik damri dengan memabayar seharga Rp.30.000 perak. Kalau naik taksi sekitar Rp.150.000 - Rp. 200.000. Tujuan kami akan ke Senggigi karena itu daerah wisata. Karena baik saya dan Mbak Eka belum pernah sekalipun ke Lombok, kami hanya mengandalkan pertolongan Tuhan dan Google. Secara kebetulan kami memiliki teman yang tinggal di Lombok. Siapa lagi kalau bukan Syamsul dan Pak Indra, temannya Mbak Eka. Kami juga memberi tahu mereka bahwa kami akan Lombok.

Namun, dasar perempuan-perempuan tangguh, kami juga tak ingin merepotkan orang. Kami berencana menghubungi mereka setibanya di kota Mataram. Akan tetapi, sebuah peristiwa tak mengenakkan terjadi. Malam itu rupanya kami berdua saja penumpang yang turun di Senggigi. Ketika bus sudah sampai di terminal, saya merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika saya bertanya kepada Pak Supir untuk meyakinkan perhentian selanjutnya adalah Senggigi, si Pak Supir yang duduk di muka mulai menjawab dengan tak pasti, "Ah ya, nanti dilihat ya, Mbak". Ia kemudian menelpon seseorang dengan menggunakan bahasa setempat. Yeah, meskipun tak mengerti bahasa Lombok, entah mengapa saya mengerti maksud si Pak Supir: Ia berencana mengoper kami kepada rekannya yang entah di mana. Bayangkan! Sudah hampir jam 9 Malam, dua anak perawan di sarang bus Damri. Hati macam apa yang tak risau?

Saya dan Mbak Eka mulai menangkap gelagat mencurigakan. Kami sepakat menghubungi rekan kami masing-masing. Saya menghubungi Syamsul. Syamsul merespon dengan cepat. Ia mengira saya baru turun dari pesawat, sehingga ia menyarankan saya turun di Labuapi, nanti dia akan jemput. Tetapi, saya sudah berada jauh dari Labuapi. Saya dan Mbak Eka berada di bandara lama yang terletak di daerah kota. Mbak Eka juga menghubungi Pak Indra. Bedanya, Pak Indra menghadapinya dengan cukup serius, ia malah ingin berbicara dengan Pak Supir. 

Bus Damri yang disiapkan Pemerintah itu berhenti di bandara lama. Penumpang sudah pada turun semua, kecuali kami. Saya dan Mbak Eka tentu saja mulai panik dan makin gelisah. Apalagi si Pak Supir sudah mulai banyak tidak kosisten ngomongnya. Ia bilang kami akan diturunkan di terminal kembali tetapi damri tak kunjung jalan. Feeling saya dan Mbak Eka sudah tak enak, tanpa koordinasi kami sepakat turun dari damri sekarang. Saya dan Mbak Eka mulai mengangkat koper kami dari bagasi di dalam mobil dengan panik (mana berat lagi!). Mobil tak kunjung dibukakan juga pintunya. Saya dan Mbak Eka sudah meminta dengan nada keras. Mobil itu malah jalan. Kami panik. 

Tiba-tiba saja, ada suara pintu diketuk-ketuk dengan keras. Ada bapak-bapak yang mengejar damri tersebut. Pak Supir terpaksa menghentikan mobil itu. Ternyata bapak itu ingin mengambil tasnya yang tertinggal. Saya dan Mbak Eka langsung tanpa ba-bi-bu langsung turun. Kami bersyukur ada bapak yang tertinggal tasnya itu mengejar damri kami. Tentu ini bukan kebetulan biasa. Si Pak Supir tetap mengejar kami yang berjalan dengan tergesa-gesa. Ia kemudian memohon maaf. Seperti takut untuk dilaporkan. Secara ajaib juga, baik Syamsul dan Pak Indra dalam perjalanan untuk menjemput kami.

***

Rupanya keadaan meningkatkan pariwisata Indonesia, khususnya Lombok dan menciptakan keadaan yang menyenangkan bagi wisatawan menjadi PR besar bagi pemerintah Indonesia. Menurut cerita Pak Indra dan Syamsul, kadang-kadang kalau malam (and only kalau malam) supir damri di Lombok itu suka "nakal". Mereka kadang menambah uang angkutan atau tidak menurunkan penumpang di tujuan yang semestinya. Padahal aturan mengenai itu sangat jelas. Banyak turis asing sering mendapat perlakuan seperti ini dan melakukan komplain besar-besaran. Apa yang menimpa kami memang tidak menyenangkan. Tetapi kami bersyukur, kami masih baik-baik saja, tidak dirampok atau diperkosa seperti ketakutan kami. Setelah itu, Pak Indra mengantarkan saya dan Mbak Eka di hotel yang berada di pusat kota untuk beristirahat. Saya pun sudah menepati janji saya pada Syamsul untuk menghubunginya kalau berada di Lombok. 

***

Begitulah dunia ini berputar pada sebuah lingkaran. Kita tidak pernah tahu alasan apa di belakang seseorang yang kita kenal, meskipun bisa saja orang tersebut menjadi perpanjangan tangan Ilahi untuk menolongmu dari kesulitan. Drama malam pertama kami di kota Lombok memang memberikan cerita tersendiri dan tidak mempengaruhi kesan saya pada Lombok yang seperti pulau-pulau di Indonesia, luar biasa indahnya. Untungnya saya tidak seperti kebanyakan orang yang suka menggeneralisir hal-hal apa saja yang ditonton di televisi. Saya tetap percaya, sebuah kota memiliki warna-warni, termasuk gelap dan kelabu sekalipun. 

Udah ah...saya mau menikmati matahari terbenam di pantai Senggigi dulu.



Cheers,


Meike





PS: Foto-foto dan cerita selanjutnya menyusul ya...

Cerita Lagu

Suatu Pagi Bersama Billy Joel

Rabu, November 12, 2014



Kemewahan bangun pagi patut dirayakan. Apalagi jika kau terlalu banyak tidur menjelang matahari terbit dan bangun menjelang matahari terbenam. Yep, setelah menyelesaikan revisi proposal tesis akhirnya saya bisa tidur dengan tenang. Hari ini, saya bangun jam 6 pagi, berdoa, dan menelpon Mom dan Dad. Keluar kamar dan mengucapkan "Good Morning" pada Eyang yang lagi sarapan. Eyang surprise saya bangun pagi mengingat reputasi saya sebagai Sleeping Beauty di rumah ini. 

Mungkin sudah berbulan-bulan saya tidak merasakan hangatnya matahari pagi, mendengar suara burung-burung, melihat mbok-mbok yang menjajakan jamu (kadang saya tergiur juga, tapi kemudian urung), dan pemandangan mahasiswa-mahasiswa yang berangkat pagi ke kampus. Saya ke burjo yang bersebelahan dengan rumah. Meskipun namanya burjo alias warung bubur kacang ijo tapi sama sekali tidak menjual bubur kacang ijo. Jadi saya memesan semangkuk mie instan dengan telur setengah matang plus teh manis. Tidak mandi, tidak dandan, pake bando sisir dan rambut dijepit ala kadarnya. Sekilas saya mirip batur-batur but still in a good way. 

Belum ada pengunjung di burjo jadi tak ada yang melihat juga. Tapi, 15 menit kemudian datang dua orang laki-laki untuk sarapan disana. Cowok yang pertama tampangnya lumayan ganteng. Cowok kedua meskipun tidak seganteng yang pertama tapi kelihatan lebih maskulin dari yang pertama. Seketika saya menyesal tidak dandan. Sekedar flashback, saya jarang dalam penampilan baik kalau ketemu orang yang menarik atau yang menyukakan hati saya. Mostly, benar-benar awut-awutan. Kalaupun sudah mandi dan pake baju bagus, kadang rambut saya jadi dua kali lebih keriting. Ini beneran loh. Kadang saya pikir keadaan ini seperti disengaja supaya dapat menyaring orang-orang untuk dekat dengan saya. Pada titik ini saya merasa beruntung karena sebenarnya menyedihkan bila orang mencintaimu hanya karena penampilanmu saja dan ketika mengenalmu lebih jauh, mereka kecewa. Tapi begitulah, kadang kebaikan hati tidak datang satu paket dengan tampang yang rupawan. 

Untuk merayakan pagi yang saya sudah lama saya rindukan, saya duduk-duduk di depan teras menemani Eyang sambil dengar lagu She's Always a Woman-nya Billy Joel. Eyang lagi membaca buku tentang bahasa Jerman, sementara saya hanyut dalam kisah lagu Paman Billy. Kebanyakan karya seni diilhami seorang perempuan (ini kalau senimannya laki-laki), saya pikir perempuan-perempuan itu tidak hanya cantik, tapi juga memiliki karakter. Setidaknya lirik lagu She's Always a Woman menceritakan perempuan dengan kepribadian yang berwarna dan betapa si lelaki memujanya karena itu. Tak ada dari lirik lagu ini menceritakan tentang keindahan fisik, melainkan bagaimana perempuan ini memperlakukan dirinya dan orang lain. Penggambarannya pun bukan dalam hal yang baik-baik saja, tapi juga hal-hal yang buruk (ataukah sebuah metafora?). 

Namun yang paling saya sukai karena perempuan yang digambarkan tidak pasrah. Perempuan dalam lagu itu adalah perempuan yang independent dan memiliki kontrol penuh pada keputusan-keputusan yang diambilnya. Kebanyakan perempuan hidup dengan keputusan yang diberikan padanya atau ingin aman sebagai common people. Ia tidak menjadi individu yang bebas, ia selalu menjadi milik yang lain. Well, saya tidak ingin menjadi perempuan seperti itu. Karena saya tahu, selama saya sebagai perempuan hidup berdasarkan apa yang terberi maka selama itu pula saya menjadi objek. Saya tak mau jadi objek, itu sudah lama saya putuskan jauh-jauh hari. 



Note: Lagu She's Always a Woman ada dalam album The Stranger (1977) bersamaan dengan lagu Just The Way You Are. 


After discussing with Mbak Truly, we concluded that this song does not talk about the beauty of a woman, nor a woman of perfection. Rather I saw a description of a broken woman covered in toughness. And he loves her not because of her beauty nor her being broken, but because she is she. And I hope that a man will uncover me from that perspective.