Life Story

Mimpi dan Afinitas

Kamis, Oktober 02, 2014

Saya terbangun pukul 01.56 dini hari dengan banyak pertanyaan: Jika kita memimpikan seseorang, apakah seseorang itu - di saat yang sama/mungkin berbeda, juga memikirkan kita, atau setidaknya ia masih menyimpan kita dalam kenangannya? Bahwa mungkinkah mimpi adalah salah satu penghubung terhadap kesatuan afinitas? Bahwa jika kita masih tidak bisa melepaskan bayangan orang itu sesungguhnya orang itu juga merasakan hal yang sama?

Saya selalu percaya bahwa semesta menyediakan segala jawaban, yang harus saya lakukan adalah membaca tanda-tanda 

Life Story

Sekelam Lot, Sekelam Menikah Tanpa Pilihan

Rabu, Oktober 01, 2014

Beberapa hari yang lalu, saya dan Mbak Truly ngobrol ngalor ngidul tentang pernikahan. Obrolan itu memancing saya mengingat tentang sistem perkawinan dalam perspektif Antropologi. Seperti biasa, kami mendiskusikan sesuatu yang akan disambung-sambungkan dengan teori (pada bagian ini biasanya Bu Mery akan mencibir kami, "Ah kalian berdua ini teori terus, prakteknya kapan???" --- lalu kami akan tertawa terbahak-bahak). Melalui sisa-sisa pengetahuan yang mulai terlupa saat mengambil mata kuliah Gender dan Antropologi dulu,  saya kemudian menjelaskan tentang cara-cara perkawinan, misalnya melalui perjodohan, menikah dengan pilihan sendiri, dan kawin lari. Lalu ada jenis-jenis perkawinan dengan istilah-istilah dahsyat khas Antropologi: endogami, eksogami, dan tabu incest.

Secara sederhana, endogami adalah pernikahan dengan anggota kelompok yang sama, misalnya satu suku, agama, atau ras. Eksogami, saudaranya endogami, diartikan sebagai pernikahan dengan anggota di luar kelompok. Orang tua saya jelas masuk kategori eksogami: mereka beda suku dan beda agama. Adik endogami dan eksogami bernama tabu incest atau pernikahan sedarah. Misalnya, paman menikah dengan keponakan, kakak dan adik kandung, antar saudara sepupu, et cetera. Pembicaraan kami kemudian bermuara pada pernikahan incest. Saya dan Mbak Truly bergidik membayangkan hal itu walaupun faktanya dalam masyarakat kita masih ada yang menganut incest marriage, apalagi jika mereka termasuk kalangan bangsawan. 

Masalah incest kemudian membuat diskusi kami menelusuri kitab suci (See...ada studi terdahulunya, kan). Mbak Truly mengatakan bahwa ia teringat salah satu kisah dalam Perjanjian Lama tentang Lot, keponakan Abraham. Saya pun tercekat, karena saya juga mengetahui kisah itu. Sebuah kisah yang sangat "mengganggu" ingatan kanak-kanak saya. Kisah yang sangat kelam dan tragis. Kisah yang membuat sedih sekaligus ngeri. Kisah ini terasa ganjil sampai-sampai jarang diceritakan di sekolah minggu dan jarang pulang diangkat dalam khotbah-khotbah. Kisah Lot adalah salah satu kenyataan paling menyedihkan yang tersurat dalam kitab suci. 

***

Lot, lelaki itu adalah pemuda yang baik. Ketika Abram-sebelum berganti nama jadi Abraham-, pamannya meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk pergi ke tempat yang ditunjukkan Allah, ia pun turut serta. Di tengah-tengah perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian, terjadi suatu perkara yang harus diselesaikan. Baik Lot dan Abram memiliki harta yang banyak sementara tanah yang mereka diami bersama untuk sementara tidak cukup untuk kekayaan mereka berdua. Keadaan itu menimbulkan pertengkaran antara gembala Lot dan gembala Abram. Agar tercipta perdamaian di antara gembala-gembala mereka, Lot dan Abram kemudian berpisah dengan membagi daerah mereka. Abram tetap menetap di Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan padanya. Sementara Lot memilih daerah dekat lembah Yordan yang subur dan banyak airnya. Akan tetapi, tempat itu dekat dengan Sodom.

Di sinilah kisah tragis itu dimulai. 

Ketika Lot memilih lembah Yordan, Sodom dan Gomora belumlah dibinasakan. Semoga kalian tahu kisah Sodom dan Gomora, kota dimana orang-orangnya sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Biasanya guru sekolah minggu dengan dramatis akan menceritakan bahwa saking jahatnya orang-orang Sodom dan Gomora sampai kesabaran Tuhan habis dan akan menunggangbalikkan kota itu. Guru sekolah minggu tidak pernah dengan tegas menjelaskan dosa-dosa Sodom dan Gomora, kelak saya tahu bahwa dosa-dosa tersebut salah satunya kekerasan, perbuatan cabul, dan homoseksual. 

Tapi...tapi..di sana ada Lot, keponakan Abram yang dikasihi Tuhan. Abram meminta pengampunan atas Sodom dan Gomora. Tetapi Tuhan sudah membuat ketetapan-Nya. Abram terus memohon, ia ingat keponakannya Lot ada di sana. Maka, Tuhan pun berkata pada Abram, kira-kira begini," Jika di dalam Sodom dan Gomora masih ada 10 orang yang berbuat baik maka aku tidak akan menjatuhkan murka-Ku pada mereka". Singkat cerita, (percayalah kisah ini cukup ribet diceritakan kembali, sebaiknya kau membaca kitab Genesis untuk lebih jelas) Tuhan mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk mencari masih adakah orang baik yang ada di Sodom dan Gomora. Tapi hasilnya nihil. Adapun Lot dan keluarganya kemudian diselamatkan, karena selain ia adalah keponakan Abram, Lot-lah yang menyelamatkan malaikat-malaikat itu dalam penyamarannya. 

Lot, istri, dan kedua anak perempuannya kemudian diselamatkan oleh malaikat Tuhan dengan satu syarat: apapun yang terjadi jangan lihat ke belakang. Pada bagian ini anak-anak sekolah minggu akan bernyanyi dengan riang, "Istri Lot lupa dan menoleh ke belakang...hey, jadi tiang garam...jadi tiang garam....". Istri Lot menjadi tiang garam karena ia menoleh ke belakang. Istri Lot belum bisa melepaskan kemelekatannya pada harta bendanya, sehingga ia pun binasa. Anak-anak sekolah minggu senang sekali menyanyikan lagu itu tanpa mengerti betapa tragisnya kejadian yang menimpa Lot. Ia tak hanya kehilangan istrinya, istrinya menjadi tiang rasa asin.

Namun, kejadian tragis itu belum apa-apa. Keselamatan itu ternyata membawa mereka pada suatu pengembaraan yang tak jelas. Tanpa harta benda, tanpa rumah, Lot dan kedua anak perempuannya luntang-lantung sampai kemudian mereka menetap di sebuah goa (karena Lot tidak berani tinggal di pegunungan). Akan tetapi anak-anak Lot yang sudah cukup usia untuk menikah tak melihat kesempatan bertemu dengan laki-laki yang akan meminang mereka. Mereka hidup terisolasi dan tak melihat kemungkinan ada laki-laki yang akan menyetubuhi mereka. They're desperate to get married! 

Satu-satunya laki-laki di tempat itu adalah ayah mereka, bukan ayah tiri tapi ayah kandung! Maka si sulung berkata pada adiknya," Ayah kita telah tua dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menikahi kita, seperti kebiasaan seluruh bumi. Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita". Inilah incest yang menyedihkan itu. Kedua anak perempuan Lot menyetubuhi ayah mereka sendiri dan sialnya Lot tak sadar akan hal itu.

Betapa menyedihkannya melakukan sesuatu tanpa pilihan. Jika anak-anak perempuan itu disuruh memilih tentu mereka tak akan melakukan incest. Tapi mereka sebagai anak yang berbakti dan demi melanjutkan keturunan (seperti yang dilakukan orang-orang di seluruh dunia) rela memikul tanggung jawab itu. Mereka melakukannya karena itu adalah kebiasaan bukan pertemuan cinta sepasang kekasih. Bayangkan, betapa sedihnya pengorbanan yang mereka lakukan. Saya tak sanggup membayangkan si sulung dan bungsu berganti-ganti menaiki ayahnya yang tak sadar (karena mabuk) dan uhhh..... Ini sungguh ironis, mereka dapat menemukan anggur tetapi tidak menemukan satu pun lelaki disana. 

***

Selama ini saya mencari-cari jawaban atau pembenaran akan persepsi cinta yang saya yakini. Saya (ingin) percaya bahwa orang yang menjadi suami saya nanti adalah soulmate saya. Ia yang dipilihkan Tuhan bagi saya begitu pula sebaliknya. Saya mempercayai bahwa ketika kita mencintai seseorang atau jatuh cinta -meski kedua hal itu sepertinya tampak berbeda-, maka orang itulah yang melengkapi kita. Ia adalah puzzle yang hilang, ia adalah adishakti. Dalam hal ini, saya ingin membawa pernikahan dalam konteks takdir. Pertemuannya adalah jalan Tuhan. Orang menikah karena mereka saling jatuh cinta, saling mencintai. Titik.

Tapi, ada banyak orang yang juga percaya bahwa pernikahan adalah peristiwa budaya. Dua penulis favorit saya Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami mempercayai itu. Pram bilang," cinta itu anak kebudayaan bukan batu dari langit" sementara Ayu berkomentar," karena itu peristiwa budaya jadi ya menikah itu tidak harus, baik tapi tidak harus". Karena saya membaca tulisan mereka, maka secara tidak langsung kata-kata mereka telah menghancurkan fantasi saya tentang true love. Namun, entah mengapa, kepingan-kepingan fantasi itu terus menguat, dan sayup-sayup berbisik, "aku masih tetap percaya".

Begitu banyak orang mengambil keputusan untuk menikah karena itulah hal yang umumnya dilakukan banyak orang. Sebagian menikah karena mereka saling jatuh cinta. Namun, sebagian menikah karena peristiwa budaya, entah dijodohkan atau asal comot yang penting ada. Sebagian dari mereka belajar untuk mencintai, belajar untuk terbiasa dengan orang yang dengannya mereka nikahi dan menghasilkan keturunan. Saya tidak berani mengatakan bahwa itu menyedihkan atau menyenangkan. Tapi sepertinya tak ada passion disana. Tak ada api yang membakar. Semuanya terkesan datar, hening seperti pohon-pohon yang mematung tanpa hembusan angin di malam hari.

Satu-satunya alasan mengapa saya mempertanyakan hal ini adalah karena saya takut, pada suatu saat nanti, anak saya akan bertanya, " Mommy, do you love Daddy?". 


Life Story

Lagi-Lagi Pemikiran Yang Belum Tentu Bijak

Senin, September 29, 2014


*pic notorious pop.com*


Kau boleh tidak suka pada kenyataan ini, tetapi kita hidup dalam dunia yang kompetitif. Persaingan itu bahkan dimulai sejak kau masih berupa kecebong yang dimuntahkan dalam rahim ibumu. Kau harus menjadi yang nomor 1, karena hanya 1 kecebong yang akan jadi bakal anak. Ketika kau sudah pantas disebut manusia, persaingan itu terus berlanjut. Bahkan lebih ngeri, di rahim ibu kau bersaing dengan bakal calon anak ibumu, tapi di dunia ini, kau bersaing dengan anak orang lain yang sudah pasti ada yang lebih cerdas, lebih kaya, atau lebih menarik darimu.

Misalnya saja saat kau baru bangun pagi. Jika kau anak kos, maka kau akan berebut siapa yang lebih dulu menggunakan kamar mandi. Bersyukurlah kalau kos-mu memiliki fasilitas kamar mandi sendiri. Jika tidak, kau harus tabah menanti dalam antrian selanjutnya. Kalaupun toh kau tinggal di rumah sendiri, pastinya kau juga bersaing dengan anggota keluarga yang lain. Tak pernah mengalami hal itu? Taruhan kau pasti pernah berebutan sambil mengendarai kendaraan pribadimu atau menumpang angkutan umum untuk mendahului lampu merah. Ini aneh, tetapi selalu ada kepuasan tersendiri jika berhasil meloloskan diri di detik-detik terakhir pergantian lampu hijau ke merah. 

Persaingan itu begitu mengerikan bahkan kadang meminta pengorbanan. Persahabatan salah satunya, karena sahabat baikmu bisa menjadi saingan utamamu. Andaikan kalian berdua sedang berlari menuju tujuan yang sama, namun ternyata di tengah jalan, sahabatmu itu diberi tumpangan yang membuatnya sampai tujuan lebih cepat daripada dirimu yang menggunakan kaki, tentu kau akan kesal. Pastinya diam-diam kau menginginkan posisinya. Tapi apa daya, setiap orang memiliki jalannya sendiri. Setiap orang memiliki keputusan-keputusannya sendiri. Lalu kau harus mengakui bahwa setiap orang berlari dengan kecepatan yang berbeda. Kau harus mulai mengubah perspektifmu, bukan kau yang bersaing dengan sahabatmu itu atau orang lain, tapi kau sesungguhnya bersaing dengan dirimu sendiri.

Berbahagialah orang yang berhasil mengalahkan dirinya. Karena ia tak perlu menjadi iri hati pada orang lain. Ia sadar, keberhasilan ataupun kekalahan dirinya bukan disebabkan oleh orang lain. Musuhnya adalah dirinya sendiri. Kawannya adalah dirinya sendiri. Sehingga suatu saat nanti jika ia melihat keberhasilan orang lain atau kesempatan emas yang diraih orang lain. Ia tak harus bersungut-sungut sambil menceritakan kedengkiannya pada orang-orang. Ia akan tersenyum dan berkata, "Ya, seharusnya saya bisa seperti dia. Tapi saya malas" atau "Ya dia memang pantas mendapatkannya tetapi saya memilih jalan saya sendiri"

Mungkin ini lebih baik daripada kita hanya melihat keberhasilan orang lain sembari jadi penonton di bangku depan. Kadang untuk memulai suatu pertandingan, kau membutuhkan sedikit keberanian dan lebih banyak kemauan. 


Life Story

Sekeren Otak Gates

Senin, September 29, 2014

Benjamin Gates mungkin adalah satu-satunya karakter fiksi yang ingin kunikahi. Bukan saja karena karakternya yang menurutku bak ksatria intelektual, tetapi juga karena kinerja otaknya yang luar biasa itu. Di film National Treasure, dia menjadi profesor di MIT dan dengan kemampuan analitisnya itu ia mampu menemukan harta karun nasional. Wait...saya tidak jatuh cinta pada penampilan fisiknya, sekalipun diperankan oleh Nicolas Cage ( Cage is not my figure archetype to fall in love with) jadi simpan baik-baik asumsimu untuk menuduh hanya melihat tampilan luar doang.

Kemampuan otak Gates-lah sebenarnya yang membuatku kagum sekaligus iri. Kemampuan yang selama ini malu-malu kucing kuinginkan. Apalagi di saat-saat kau sedang menulis tesis. Sistem di Indonesia memang memaksa orang untuk menulis tesis, suka tidak suka ini adalah fase yang harus dilalui. Kau hanya punya waktu sedikit untuk mencari bahan, menulis, melakukan penelitian, dan melakukan analisis. Kau membutuhkan otak Gates hanya supaya pekerjaan itu cepat selesai dengan hasil yang memuaskan. Percayalah, bersikap masa bodoh tidak menyelamatkanmu dari perasaan tidak enak menjelang tidur. Kau akan terjaga, berpikir yang menyebabkan insomnia, tidur menjelang subuh, bangun menjelang sore, dan sialnya pekerjaanmu tak kunjung selesai. 

Tapi tentu saja, itu hanyalah secuil khayalan saya yang (semoga saja) didengar Tuhan. Lingkungan dan pengalaman telah mendidik saya untuk bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Jika kau ingin lulus tepat waktu maka kau harus kerja keras, tahan mental, penuh perhitungan, dan jangan lupa berdoa. Kerja keras itu (garis bawah) adalah hal yang tak bisa ditawar dan dijauhi. Ini semacam jalan salib yang dilalui supaya suatu saat nanti saya bisa menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Kerja keras itu tak hanya jadi beban pikiran tapi juga beban kantong. Karena tentu saja kau butuh refreshing, jalan-jalan, atau sekedar nongkrong di cafe, paling murah dan paling mujarab adalah melakukan percakapan dengan orang-orang. It keeps you stay waras!

Baiklah sebenarnya saya cuma mau bilang kalau saya kehabisan ide untuk menulis proposal dan agak nelangsa karenanya. ( ditulis sambil nyanyi, " here I am...the one that you love...askin' for another day...understand the one that you love...loves you in so many ways...." dengan penuh emosional)

Archolic

Momen Dimana Kau Memutuskan Menghabiskan Soremu yang Gelisah

Jumat, September 26, 2014

hhf


Salah satu hal yang saya sukai dari hidup di Jogja adalah karena kota ini membawamu ke suatu kenangan akan masa lalu. Keadaan ini sangat cocok dengan jiwa saya yang selalu merasa lahir di masa yang salah. Kalau kau mau, kau bisa mengalami kejadian seperti Gil di Midnight in Paris. Tepat pukul 12 Malam, sebuah dokar akan mengangkutmu dan mengajakmu berjalan keliling Malioboro di tahun 1920-an. Tentu saja ini khayalan saya saja. Tapi siapa tahu. Tekadang membayangkan benturan-benturan dimensi sudah cukup membuat bulu kuduk merinding.

Saya berada di dalam sebuah cafe dengan suasana kolonial yang kental. Ada grand piano di salah satu sudutnya, tapi tak ada yang memainkan. Zaman sekarang benda-benda tersebut lebih banyak jadi pajangan daripada difungsikan. Lebih aneh lagi ketika saya ke salah satu rumah sakit mewah di Makassar. Di sana terdapat grand piano yang terletak di tengah-tengah hall-nya. Dari arah piano itu mengalun suara piano yang merdu, tapi kok tak ada orang yang memainkan ya? Rupanya suara itu berasal dari speaker yang ditaruh di bawah kaki grand piano. Tidakkah ini ironis? Saya taruhan kalau piano itu bisa ngomong ia pasti akan mengeluarkan sumpah serapah.

Untungnya cafe ini tidak melakukan hal yang sama pada piano malang itu. Cafe ini hanya memutar lagu-lagu lama tahun 50-60-an yang terdengar dari speaker. Saat saya menuliskan ini mengalun lagu Crazy dari Patsy Cline, tapi saya yakin bukan Patsy Cline yang nyanyi karena aransemennya musik keroncong, setidaknya di telinga saya seperti itu. Terlepas dari apapun itu, lagu yang bagus memang akan tetap bagus, mau bagaimana pun aransemennya. Orang yang memiliki karakter yang baik, tak akan kalah oleh zaman. 

Kebetulan cafe ini berada dalam kompleks benteng Vredeburg. Konon kata Mbak Truly, Vredeburg berarti perdamaian. Jadi benteng ini adalah simbol perdamaian antara Keraton dan Belanda. Benteng ini dibangun Belanda supaya jika terjadi "apa-apa" mudah menyerang Keraton. Tapi untungnya hal itu tak pernah kesampaian. Letaknya memang sangat strategis, hanya beberapa meter dari kilo 0 kota Jogja dan berhadapan langsung dengan bangunan besar bekas istana Presiden RI ketika republik ini mendaulat Jogja sebagai ibukota negara. Kini, benteng ini menjadi museum dan salah satu bagian bangunannya dijadikan cafe. Cafe yang sepertinya dikhususkan bagi orang-orang yang senang pada masa lalu, seperti saya ini. Setiap saya kesini, cafe ini selalu terasa lengang, selalu tampak serius. Tak ada abg yang grasak-grusuk pecicilan. Bahkan kalau berbicara pun kita seperti berbisik. Kebanyakan yang datang orang-orang dewasa dan turis.

Saya senang menghabiskan waktu disini. Sekedar menulis atau merenung dengan ditemani lagu-lagu lama. Tempat ini memberikan ketenangan sekaligus suasana angker. Lagi-lagi menurut Mbak Truly, ada sekitar 500 tentara Belanda yang pernah menjaga benteng ini. Kau tahu kan, kadang-kadang jiwa manusia tidak benar-benar meninggalkan bumi. Baiklah saya harus kembali melanjutkan menulis proposal tesis saya. Kegelisahan ini harus segera dituntaskan. Cokelat panas yang saya pesan sudah dingin. Dan sayup-sayup mengalun lagu Hawaiian Wedding Song.



Pssttt.....seorang pengunjung, pria berusia sekitar akhir 30-an memainkan instrumen dari grand piano itu. Akhirnya.