Sehimpun Puisi

Benturan

Senin, Mei 30, 2011


apa yang harus kulakukan ketika idealisme terbentur dengan hal-hal berbau materi?
apa yang harus kulakukan ketika buku bertemu dengan nasi?
apa yang harus kulakukan ketika angka-angka bisa membeli yang aku butuhkan dan aku tak sanggup menolak?
apa yang harus kulakukan ketika ide-ide diperas, dijual, dan aku pun kenyang?

aku masih kecil.
benturan ini terlalu keras untuk anak seumuranku

salahkah aku?
karena untuk makan hari ini,
pakai baju hari ini,
buku hari ini,
aku harus menjual pikiran?

salahkah?

untuk sebuah angka
aku harus berperan sebagai darah yang ditransfusikan ke tubuh mereka?

aku punya cara sendiri untuk melawan



*ditulis sembari merenung

Life Story

Catatan Random

Jumat, Mei 27, 2011

Terburu-buru.
Mengapa orang selalu terburu-buru? Selalu ingin cepat sampai ke tujuan sampai kadang-kadang menghalalkan segala cara. Mengapa mereka ingin cepat-cepat? Mobil, motor, kendaraan umum, bentor, becak, sepeda, bahkan pejalan kaki terburu-buru ke tujuannya. Jalan raya ini sudah semrawut dan mereka semua berpikir ini adalah jalan tol bebas hambatan. Kalau ingin cepat sampai ke tujuan, mengapa tidak berangkat lebih awal? Kan jadinya tidak grasa-grusu dan kajili-jili di jalanan kan? *random

Saya dan Titah sedang berada di dalam ruangan berukuran 3x4meter. Titah menyisir rambutnya seperti gadis mongoloid abad pertengahan. Di seberangnya, di tempat tidur saya mengetikkan kata-kata ini. *random

Tiba-tiba Erbon masuk dan langsung menyisir rambutnya. Ia mengambil bungkusan berisi baju-baju pelatihan Timelines Baruga Kosmik UH. Memilih satu baju dengan label tertentu dan beranjak keluar. Sementara itu, Titah menyemrotkan parfum milik Widy ke lehernya. Semoga ia merasa segar kembali. *random

Suara-suara peserta, panitia, maupun pengurus berkumandangan silih berganti bagai bunyi kakatua di pagi hari. *random

Titah dan Erbon bercerita tentang Azwar dan tiba-tiba Mymy datang sambil bernyanyi dan berjoget. Mymy kegerahan dan ia butuh air dingin untuk merefresh tubuhnya. *random

Sedangkan saya?
Memperhatikan mereka lalu mengetikkannya disini. *random

Tiba-tiba, Alvidha mengetok pintu dan meminta dikerokin oleh Mymy. Sambil menutup pintu ia berteriak kepadaku, "Da..da..da..Kakak Meike...Aku sayang Kakak Meike deh." *random

Review Buku

Pelajaran Dari Totto-chan

Rabu, Mei 25, 2011



“ Kau harus berkenalan dengan Totto-chan, Meike,”ujar Kak Dwipai padaku saat kami sedang makan berdua di AW. Rasa penasaranku tiba-tiba membuncah. Aku bertekad jika aku menemukannya, aku akan membawanya pulang.

Bersama Alvidha, sobatku, kami berdua kemudian ke toko buku. Benar, ia ada disana. Duduk manis sembari menunggu siapapun yang ingin mengajaknya pergi. Aku lalu mendekat. Totto-chan menatapku penuh goda dibalik sampul plastik yang membungkus tubuhnya. Setelah menimbang-nimbang, aku pun segera menarik tangannya menuju kasir. Aku sudah tak sabar untuk berpetualang dengannya.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengajaknya bercerita. Kuraba-raba permukaannya yang keras. Setiap lembarnya menyentuh kulitku. Kasar tapi aku suka. Aku mencium aromanya. Hmm, bau buku baru yang kusuka. Aku mulai menyelami pikiran kanak-kanaknya yang polos, imajinatif, dan lucu. Hanya dalam semalam saja aku sudah selesai membacanya.

Totto-chan mulai bercerita padaku mengenai dirinya. Di saat orang-orang tidak bisa menerima sikapnya yang di luar kebiasaan, ia tetap mempertahankan jati dirinya. Berani-lah menjadi unik. Karena setiap orang pun memiliki kekhasannya masing-masing. Totto-chan mengajariku untuk tidak malu menjadi diri sendiri.

Gadis berpipi merah jambu itu lalu mengajarkan tentang persahabatan. Ia bercerita tentang Yasuaki-chan, teman kelasnya yang terkena polio. Penyakit Yasuaki-chan tidak membuat Totto-chan menjauhinya, malahan sebaliknya ia berusaha agar Yasuaki-chan merasa normal. Aku terharu saat Totto-chan berusaha mengangkat tubuh Yasuaki-chan yang lebih besar darinya agar dapat duduk di lekuk cabang pohon. Totto-chan ingin agar Yasuaki-chan pernah mengalami sekali saja dalam hidupnya untuk duduk di atas pohon.

Totto-chan juga mengajarkan bagaimana arti berkorban ketika ia memilih untuk tidak mengenakan pita kesukaannya atas permintaan Mr.Kobayashi, sang Kepala Sekolah. Miyo-chan, putri Mr.Kobayashi, sangat ingin memiliki pita yang sama dengan milik Totto-chan. Namun, meski sudah dicari kemana-mana, pita tersebut tidak ada. Mr. Kobayashi meminta Totto-chan untuk tidak mengenakannya ke sekolah lagi agar Miyo-chan berhenti meminta kepada ayahnya. Mr.Kobayashi sedih tak dapat memenuhi keinginan putrinya dan itulah yang dilakukan Totto-chan, tidak ingin melihat Mr.Kobayashi sedih.

Sebagai anak perempuan, Totto-chan juga mengalami perasaan suka terhadap lawan jenisnya. Totto-chan menyukai Tai-chan teman sekelasnya yang jago fisika. Karena perasaan sukanya, ia selalu meraut pensil-pensil milik Tai-chan sampai menjadi sempurna meskipun pensilnya sendiri asal-asalan dirautnya. Suatu ketika, Totto-chan berhasil mengalahkan Tai-chan dalam permainan sumo. Karena marah, Tai-chan lalu mengatakan sesuatu yang kasar kepadanya, “ Totto-chan kalau sudah besar, aku takkan menikah denganmu. Aku tak peduli walaupun kau memohon-mohon .” (hal 190-191). Namun Totto-chan tetap saja menyukai Tai-chan. “Aku akan tetap meraut pensil-pensilnya,” kata Totto-chan memutuskan. “Karena aku cinta padanya.” ( hal.192). Aku merasakan ketulusan dalam kalimat Totto-chan disana.

Dari buku ini, aku belajar untuk memahami orang lain. Selain Totto-Chan, tokoh Mr.Kobayashi juga menjadi panutan. Ia selalu mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kebaikannya masing-masing. Seberapa jahatnya pun ia, ia tetap memiliki kebaikan. Menerima semua orang dengan diri mereka masing-masing juga adalah kebaikan. Aku menyukai perkataan Mr.Kobayashi yang selalu dikatakannya kepada Totto-chan, " Totto-chan, kau benar-benar anak yang baik, kau tahu itu, kan?" (hal. 189 )

Pelajaran terakhir yang aku dapatkan adalah ketika Totto-chan ingin sekali memiliki anak ayam. Namun, ayah dan ibunya tidak ingin membelikannya. “Kami tidak ingin kau punya anak ayam yang akhirnya akan membuatmu menangis, “ ujar ayah-ibunya ( hal 109 ). Namun, dengan sedih Totto-chan berkata, “Belum pernah aku sangat menginginkan sesuatu seumur hdpku. Aku takkan pernah lagi minta dibelikan sesuatu. Tapi belikan aku satu anak ayam ya, Ma, Pa!” (hal 109 ). Akhirnya, Totto-chan dibelikan anak ayam itu. Beberapa waktu kemudian anak ayam itu mati. Totto-chan menangisi kepergian anak ayamnya. Itulah pengalaman kehilangan dan perpisahan yang pertama bagi Totto-chan.

Malam semakin larut. Totto-chan sudah lelap disisiku. Aku pun juga sudah mengantuk. Sebelum tidur aku menggumam, "Sidharta, nanti akan kukenalkan kau pada teman baruku, Totto-chan."





PS : terlihat seperti buku cerita anak-anak namun sebenarnya Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela adalah buku autobiografi dari pengarangnya sendiri Tetsuko Kuroyanagi.

Aku dan Tuhan

Pesan Cinta Raja Salomo

Sabtu, Mei 21, 2011



Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu,
seperti meterai pada lenganmu,
karena cinta kuat seperti maut,
kegairahan gigih seperti dunia orang mati,
nyalanya adalah nyala api,
seperti nyala api Tuhan!

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta,
sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.
sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta,
namun ia pasti akan dihina.

( Kidung Agung 8: 6-7 )






* Kitab Kidung Agung dalam bagian Alkitab Perjanjian Lama ditulis oleh Raja Salomo bin Daud ( a.k.a. Sulaiman ). Kidung Agung banyak bercerita mengenai cinta.

Special Moment

MAYA on TVRI

Sabtu, Mei 21, 2011

Walaupun cuaca agak mendung, tapi saya tetap berangkat menuju kantor TVRI Sulsel di jalan Kakatua Makassar hari ini. Film "Maya" akan diputar dalam program acara Cinema Cinema di TVRI dan saya mewakili crew harus menjadi narasumber untuk menceritakan proses film itu dari awal sampai akhir. Dalam acara ini, saya dipanelkan dengan Kak Iking Siah Sia dari ForFilm. Beliau nantinya yang akan membahas film ini secara teknis.

Sebenarnya bukan saya yang semestinya berada disini. Titah Taroniarta sebagai sutradara yang menjadi narasumber berhalangan hadir. Maka, saya yang berposisi sebagai penulis skenario dan penata musik akhirnya menggantikan dia untuk menjelaskan mengenai film yang kami buat saat mengikuti Indie Movie Class Kifo Kosmik Unhas. Acara ini berdurasi 30 menit dan dimulai pada pukul 4 sore. Banyak dukungan datang dari orang-orang terdekat saya. Teman saya, Erbon, sampai menelpon saya dan mengatakan akan menontonnya sebelum mandi sore. Ada juga sms dukungan dari Indri, spirit semangat dari Titah melalui FB group Cure 09, dan ucapan selamat maupun semangat yang datang dari orang-orang yang melihat status saya di jejaring sosial. Ini bukan kali pertama saya masuk TV, namun ini pertama kalinya saya menjadi narasumber dengan membawa keindividuannya. Tentu dalam hal ini adalah kapasitas saya sebagai orang yang menjadi salah satu dari tim di produksi film ini.

Ada hal yang lucu terjadi ketika session dialog penelpon dengan narasumber ( saya sebagai pembuat film ini ). Rupanya salah seorang figuran di film "Maya" juga menonton dan mengatakan bahwa film ini bagus. Jujur saja yang kaget. Ternyata acara ini ditonton oleh orang lain dan bahkan oleh orang-orang yang pernah mengambil bagian dalam film ini. Sekali lagi terima kasih buat pihak TVRI, Kak Iking, dan Kak Dini yang memberikan rekomendasi sehingga film "Maya" dapat diputar dan disaksikan oleh masyrakat luas.



Bersama Kak Iking Siah Sia dan Pak Arham, presenternya TVRI


Saat mulai On Air


Mulai membahas Film "Maya"


masuk TV situee...:p


saya dan Kak Iking




Tulisan ini untuk semua Crew film "Maya" dan para talent-nya. ^^