Review Buku

Berkelebat Bersama Olenka

Senin, Januari 31, 2011

" Kemana pun saya lari dia mengejar dan kemana pun saya mengejar dia menjauh..." ( Olenka, hal. 21 )

Jika ada pengarang Indonesia yang baru saja kudengar namanya, pasti nama Budi Dharma berada di urutan teratas. Pertama mendengarnya dari Kak Darma ketika kami berbincang-bincang saat Mubes Kosmik bersama Kak Dwi "Perahu Kertas", Kak Ema, Kak Azmi, dan Mbak Wuri. Dia adalah pengarang Indonesia yang juga berprofesi sebagai dosen sastra. Dulu saya mengira ia seorang penulis asal India atau yang mirip-mirip seperti Ajahn Brahm, ternyata...beliau berasal dari bumi pertiwi.

"Olenka" adalah judul novel karangan Budi Dharma yang berhasil kupinjam dari Kak Ema gara-gara membaca blognya. Waktu itu saya tidak begitu mengingat nama pengarangnya yang tak lain adalah Budi Dharma sendiri. Langsung saja ingin kupinjam. Tapi harus menunggu antrian dari Kak Riana, karena ia yang lebih dulu meminjam. Setelah meredakan rasa tak sabaran akhirnya saya pun bisa melahapnya sampai ludes.

Novel "Olenka" karangan Budi Dharma

"Olenka" bercerita tentang seorang laki-laki bernama Fanton Drummond yang tidak memiliki ambisi apapun dalam hidupnya. Setidaknya itulah yang saya tangkap setelah membaca buku ini. Namun, gairah hidupnya meluap ketika ia tidak bisa berhenti memikirkan Olenka, seorang perempuan yang sering ditemuinya di Tulip Tree. Fanton selalu melihat Olenka ada di dekatnya. Ia bukan berhalusinasi tetapi ia memiliki kontak batin. Afinitas, begitulah disebutkan. Dan Olenka pun juga mengalami hal yang sama. Obesesi Fanton Drummond kian liar mengikuti kemana Olenka pergi hingga membuatnya bertemu dengan Wayne Danton, suami Olenka dan Steven, anak mereka. Ia juga dihadapkan pada pilihan sulit ketika bayangan Olenka menghilang dan muncul Mary Carson atau M.C yang nyata.

Untuk ukuran novel merah-muda, menurut saya novel ini cukup berat. Ejaan yang digunakan pun belum baku. Budi Dharma sukses mendeskripsikan kota-kota yang menjadi setting dalam novel ini lengkap dengan insert mengenai hal-hal yang berhubungan antara Fanton Drummond atau Olenka. Disisipi pula catatan kaki bagi setiap narasi yang memiliki makna sehingga pengetahuan kita pun bertambah. Walaupun novel ini bertokohkan orang-orang bule, tapi Budi Dharma tetap mempertahankan ciri khas bahasa yang digunakan oleh orang Indonesia khususnya Jawa. Hanya di novel ini saya mendapatkan orang Amerika berdialog dengan menggunakan kata-kata "sampean", "demen", atau "gendeng". Dibanding novel-novel era baru, dimana tokohnya orang Indonesia asli tapi ngomongnya kebarat-baratan.

Alur novel ini juga sering lompat-lompat dan mengalir begitu saja dari pemikiran Fanton Drummond sehingga pembaca harus awas terhadap narasi-narasi sebelumnya. Karena jika tidak, maka kita akan kehilangan akar dari apa yang dipercakapkan Fanton. Semakin dalam kita membaca Olenka, kita akan semakin masuk dalam pikiran-pikiran Fanton Drummond. Entah itu pergolakan batinnya dengan Olenka, pandangan miringnya terhadap Wayne Danton, maupun kebimbangan cinta si "tukang sepak" M.C.
"Olenka"
membuat kita ikut-ikutan berkelebat dalam pikiran Fanton Drummond yang zahir akan sosok Olenka.

Budi Dharma

Kebiasaan saya yang selalu membaca novel dari "kata pengantar" sampai "tentang penulis", ternyata bukan hal yang sia-sia. Saya menemukan sebuah mutiara dibalik tulisan Budi Dharma mengenai novelnya ini. Ia menuturkan sesuatu yang membuat saya tercekat. Professor di bidang sastra ini menuliskan," Karena itulah, karya sastra yang baik bukanlah tulisan yang kaya tindakan-tindakan jasmani yang menakjubkan, akan tetapi kaya berkelabatnya sekian banyak pikiran..."



NB : Terima kasih ya Kakak Hit Girl...^^

Love Story

PENCERAHAN

Senin, Januari 31, 2011

*Berdasarkan kontemplasi yang panjang



Saya terbangun pukul 3 subuh dini hari dengan hati yang berkecamuk. Terbangun di saat tidur lagi nyenyak memang sangat menjengkelkan. Apalagi kalau di dalamnya ada seseorang yang mampu menggetarkan jiwa dan raga. Mengenai mimpi itu pernah dituliskan disini.


Saya memimpikan dia lagi. Dia tiba-tiba masuk begitu saja, bermain basket dalam mimpi saya dan tingkahnya sama seperti hampir 5 tahun yang lalu. Padahal apa yang saya mimpikan semula sama sekali tidak berhubungan dengannya. Lagipula saya jarang memikirkannya lagi. Tiba-tiba ingat iya, memikirkan tidak.

Sigmund Freud memiliki analisa mengenai mimpi. Ia menjabarkan bahwa mimpi lahir dari pemenuhan keinginan yang terlarang. Mimpi adalah bentuk kejadian yang sebenarnya diinginkan terjadi dalam keadaan terjaga. Untuk menganalisa mimpi, harus dikaitkan dengan keadaan si Pemimpi. Situasi alam sadarnya yang berbenturan dengan kenyataan yang menyebabkan mimpi itu terjadi. Singkatnya, Mimpi adalah terjadinya kejadian yang tidak bisa diwujudkannyatakan atau keinginan yang tidak ingin dialami. Misalnya, seseorang yang takut mati maka ia akan bermimpi bahwa ia mati. Ada juga orang yang bermimpi jalan-jalan di Paris. Hal itu terjadi karena ia selalu ingin ke Paris dan sebelumnya menonton film yang bersetting di Paris. Ingat film Inception yang dibintangi Leonardo DiCaprio? Ia mengusut sebuah kasus dengan mencari tahu detail informasi dari mimpi sang target. Di samping itu, ia tersungkur dengan kenyataan bahwa istrinya telah meninggal dan untuk bertemu dengan istrinya, ia memilih untuk hidup di dalam mimpi.

Lalu, jika mimpi itu hanya lahir dari kejadian-kejadian nyata, mengapa saya masih memimpikannya ? Mengapa (lebih tepatnya ) saya masih mengharapkannya ? Saya pun teringat perkataan dua orang senior yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri, Kak Darma dan Kak Emma mengenai ke-zahiran yang diketahuinya dari novel Paulo Coelho yang berjudul The Zahir. Dari hasil googling, "Zahir" dalam bahasa Arab berarti terlihat, ada, tak mungkin diabaikan. Pengarang Jorge Luis Borges menjelaskan Zahir adalah seseorang atau sesuatu yang sekali kita mengadakan kontak dengannya atau dengan itu, lambat laun memenuhi seluruh pikiran kita. Sampai kita tidak bisa berpikir tentang hal-hal lain. Keadaan itu bisa merujuk pada kesucian atau kegilaan. Kezahiran berasal dari tradisi Islam dan diperkirakan muncul pada sekitar abad ke-18. (Encyclopaedia of the Fantastic (1953).

And what about me ?
Apakah mimpi-mimpi itu lahir dari kezahiran saya ?
Dia mengisi hati dan pikiran saya hampir 5 tahun. Saya terluka lama dan bangkit kembali. Jatuh cinta lagi kepada orang lain yang bukan dia. Tapi yang terjadi, tetap kembali kepadanya. Teman-teman saya bilang lupakan saja dia. Saya berusaha tapi berujung padanya lagi. Beberapa teman-teman saya yang lain mengatakan bahwa mungkin saya berjodoh dengannya sehingga tidak bisa melupakan seutuhnya. Hubungan saya dengan dia seperti benda padat dan gravitasi. Setinggi-tingginya ke udara tetap akan jatuh ke tanah.

Saya tahu dia berbeda. Saya seperti terikat padanya. Walaupun kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang saya alami. Tapi perasaan saya sangat kuat. Proses perkenalan kami yang salah dan perpisahan yang gantung membuat saya larut dalam kegalauan. Setiap orang yang saya temui hampir saya kira dia atau memiripkannya. Semua tempat kenangan yang dulu pernah saya pijaki dengannya seakan membuatnya tambah parah.

Saya tidak pernah mengalami perasaan seperti ini sebelumnya. Saya adalah tipe orang yang jika kamu tidak mau, saya tidak akan memaksa, dan akan mencari yang lain. Kenangan yang diingat hanya yang indah-indah saja. Kita bisa berteman seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Perasaan cinta yang dulu ada, bisa raib begitu saja entah kemana. Tapi dengan dia *OMG* hal itu tidak pernah terjadi. Saya selalu merasa ada yang tidak benar disini. Ada yang aneh. Lebih aneh lagi, saya selalu bahagia bila melihatnya, membicarakannya, memikirkannya, atau memimpikannya.


Namun "Penyakit" ini erat kaitannya dengan pencerahan. Benarkah itu ?
Dengan berat hati, harus saya akui. Saya tidak akan tertarik dengan ilmu pengetahuan, orientasi hidup yang jelas, kuat, peka, bahkan mandiri jika tanpa mengalami rasa sakit. Jika saya larut dalam dunia merah muda, maka saya akan seperti perempuan kebanyakan. Saya akan manja tanpa pernah bisa mandiri. Saya pasti lemah dan tidak bisa bertahan. Saya akan menjadi perempuan yang hanya dinilai dari fisiknya saja, tanpa ada pengakuan kalau saya juga cerdas. Hidup saya akan sia-sia dan tujuan hidup saya tidak akan terpenuhi. Rasa sakit juga mengajarkan saya pada tiga hal : Kerelaan hati untuk memaafkan, keikhlasan untuk menerima kenyataan, dan kesabaran untuk menanti. Dengan merasakan dan merenungi perjalanan hidup saya hingga detik ini, saya menyadari...ternyata hidup saya BERHARGA.

Emas yang murni diperoleh melalui proses pembakaran dan penyaringan. Nabi Ayub pernah berkata " Karena Ia tahu jalan hidupku, seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas..." ( Ayub 23 : 10 ). Kisah Ayub memang sangat menginspirasi semua orang yang di dunia. Ia mendapat cobaan berat dalam hidupnya. Kehidupan mapan yang digenggamnya diganti dengan penderitaan yang tiada tara. Mulai dari kemiskinan, penyakit yang menjijikkan, ditinggalkan sahabat, sampai kematian anak-anaknya. Tapi lihatlah setelah itu, Allah melipatgandakan apa yang hilang dari Ayub. Ayub memperoleh lebih banyak dibanding apa yang dulu dimilikinya.

Dulu saya berpikir cinta itu indah ketika kita bisa SALING mencintai dan memiliki hubungan resmi yang diakui. Cinta itu menyakitkan jika ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan. Ternyata, semakin tersakiti saya semakin sadar bahwa cinta itu indah dalam penderitaannya. Tanpa memiliki ternyata saya masih bisa bahagia. Masih bisa HIDUP. Rasa sakit yang dulu ada ternyata membuat saya kuat. Saya adalah burung phoenix yang mati terbakar dan menjadi abu. Namun, dalam sisa-sisa abu itu saya malah terlahir kembali. Seperti orang-orang suku Saiya dalam komik Dragon Ball, jika ia mati maka ia akan bangkit kembali dan semakin kuat. Dalam Kekristenan ada istilah "lahir baru" untuk menyatakan seseorang yang bertobat dan menerima Kristus.

Sekarang, saya melihat cinta bukan seperti yang dilihat orang lain. Jika cinta pada umumnya dilihat seperti berpacaran, maka saya melihat cinta adalah pom bensin dimana saya sudah kehabisan tenaga untuk bertahan hidup. Cintaku tidak mesti terikat dalam sebuah pengikatan hubungan semata. Cintaku harus melebihi itu. Ia akan melebur bersama orang lain. Ia akan membuat saya lahir baru.

Papi J, kini saya paham. Engkau membuat saya patah hati berulang kali bukan karena Engkau membenci saya, tapi karena Engkau menyayangi saya. Seperti Ayub, saya pun mengeluh kepada-Mu. Bahkan menggugat kuasa-Mu. Namun kini saya bersyukur , jika saya tidak mengalami pemurnian ini, saya pasti HANCUR.

Saya sekarang mengerti dengan apa yang dikatakan seorang senior yang saya panggil Kakak Madi yang Fenomenal ketika kami sedang berdiskusi mengenai Filsafat Cinta. Ia mengatakan " Cinta itu harus seperti suara, biarkan suara itu menggema dan didengarkan semua orang dengan frekuensi dan intensitas yang relatif sama. Jangan seperti kue tart yang habis kau bagi..."

Yeah, cinta itu akan saya gemakan. Saya siap untuk jatuh cinta lagi. Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi dan pada siapa. Hanya Pemilik Hidup yang tahu. Saya akan menunggu sambil menebarkan cinta bagi orang-orang disekitar saya. Saya akan melihat cinta sebagai sebuah anugerah, bukan sesuatu yang menyakitkan. Ketika kita merasakan cinta yang sesungguhnya, kita tidak akan menangis melainkan tersenyum bahagia.

Cinta...Itulah alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia.

Cerita Lagu

Selamat Datang Cinta

Kamis, Januari 27, 2011

Lagu lama ciptaan Elfa Secoria ini lagi coba saya nyanyikan dan ternyata susahnya minta ampun. Dasar lagu festival...hahhaa

Beside, the lyrics it's so me !
Yeah, I'm ready to fall in love again. I Hope it soon. Because without loving someone, without thingking about someone or crying with that, and more than anything without feel falling in love, it feels like body without soul. Hollow and unnecessary...


Selamat Datang Cinta - Elfa Singer's

Dulu tiada pernah kusadari
Kini tiada pernah kusesali
Dalam pesona
dalam tatapanmu
Hatiku dan jiwaku
t’lah berpadu bersamamu

Hari-hari indah kulalui
Bunga-bunga cintaku berseri
Hanya denganmu
kuingin membagi
ceritaku, harapanku
bersama hangatnya mentari

Aku tak kuasa
dan tiada mungkin kuhindari
Getar-getar rasa
nada-nada ’smara
di dalam hati ini

Aku tak kuasa
dan tiada mungkin kuhindari
swara dari sanubari
menyapa “s’lamat datang cinta”


Kisah Perempuan

Di Manakah Keadilan di Negaraku ?

Kamis, Januari 27, 2011

Karena terbangun sekitar pukul 4 subuh tadi, saya memutuskan memutar TV untuk mencari hiburan. Tanpa sengaja saya pun menonton siaran ulang program “Mata Najwa” yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi. Dalam episode berjudul “Pidana Sandiwara” ini membahas kasus-kasus pidana yang penyelesaiannya bagaikan sandiwara yang sudah tersetting. Ada aktor utama, aktor pendukung, dan tentunya sutradara. Banyak kasus-kasus yang disulap dengan menghadirkan terdakwa palsu untuk melindungi pelaku sebenarnya yang memiliki kuasa pada saat itu. Cukup mengerikan karena ternyata kinerja aparat penegak hukum sejak zaman orde baru hingga sekarang tetap sama saja kualitasnya. Hukum dimainkan dan keadilan disembunyikan. Orang-orang yang ingin menyuarakan kebenaran dan keadilan pun dihadapkan pada dilema : kebenaran bersuara tetapi maut bisa saja mengintai. Bukankah beberapa kasus pidana yang terkenal seperti kasus Munir, Marsinah, sampai kasus Gayus hingga detik ini belum terselesaikan ? Dalam program “Mata Najwa” yang saya tonton tadi malam lebih intens membahas 2 kasus yang melibatkan orang-orang yang berkuasa di zaman itu. Dua kasus itu adalah kasus pembunuhan mantan peragawati Ditje Budiasih dan kasus pemerkosaan terhadap Sum Kuning, seorang gadis penjual telur yang membuat gempar pada saat itu.

Kasus Ditje Budiasih

Kasus pembunuhan terhadap Ditje dikenal sebagai kasus pembunuhan yang melibatkan konspirasi tingkat tinggi. Ditje adalah seorang mantan peragawati yang tewas tertembak pada tanggal 8 September 1986. Pembunuhan terhadap Ditje dituduhkan kepada seorang paranormal bernama Muhammad Sirajudin atau dikenal dengan sebutan Pak De. Pak De memang memiki hubungan yang dekat dengan Ditje karena Pak De sendiri adalah guru spiritualnya. Motif pembunuhan yang dituliskan dalam berita acara pemeriksaan menyebutkan bahwa pembunuhan itu terkait masalah utang piutang. Yang anehnya, Pak De yang dituduh menembak ternyata berada di rumahnya pada saat kejadian tersebut. Akhirnya baru diketahui kemudian bahwa Pak De dipaksa mengakui membunuh Ditje atas paksaan oleh orang-orang tertentu. Dalam kasus ini sebenarnya banyak ditemui keganjilan namun tidak ada yang berani membeberkan faktanya. Pembunuhan Ditje ini konon karena motif asmara antara Ditje dengan dua pria dari trah Cendana dan seorang pria pejabat angkatan udara.


Ditje dan Pak De ( sumber : google )


Kasus Sum Kuning

Kasus pemerkosaan kepada Sumariyem atau biasa disebut kasus Sum Kuning ini mengingatkan kita pada sebuah sinetron yang dibintangi Bunga Zaenal dan Evan Sanders yang bercerita tentang seorang gadis desa yang diperkosa beramai-ramai dan dibuang dipinggir jalan. Ternyata cerita sinetron ini terjadi di dunia nyata. Tanggal 21 September 1970, seorang gadis penjual telur bernama Sum Kuning diculik dan diperkosa oleh tujuh orang pemuda. Setelah diperkosa gadis itu kemudian diturunkan begitu saja di jalan. Sum Kuning kemudian melaporkan hal ini pada kepolisian tapi malah dituduh berbohong dan diduga sebagai anggota Gerwani. Proses penyidikan tersebut pun berlangsung tidak dengan cara manusiawi. Seperti halnya sandiwara, polisi kemudian menangkap terdakwa-terdakwa yang diduga melakukan kejahatan tersebut. Ironisnya, terdakwa-terdakwa palsu ini sengaja dihadirkan untuk melindungi pelaku-pelaku sebenarnya yang konon adalah anak-anak pejabat di era itu.

***

Dua kasus di atas adalah sebagian contoh dari keadilan yang disembunyikan di negeri kita. Aparat kepolisian yang diharapkan sebagai tempat menegakkan hukum dan keadilan justru tidak mampu melakukannya. Malahan ikut-ikutan bermain dalam peran sandiwara kasus-kasus pidana ini. Ketakutan pada orang-orang yang memiliki kuasa begitu mengintimidasi mereka. Orang-orang yang memiliki kuasalah yang selalu menjadi sutradara dalam sandiwara yang jauh dari batas keadilan.

Saya lalu berpikir dengan melalui jalur jurnalistik yang saya pelajari. Kasus-kasus di atas dapat muncul di permukaan karena peran-peran pers pada saat itu yang terbilang berani memberitakan kasus-kasus pidana yang melibatkan orang-orang yang berkuasa. Para jurnalis atau wartawan harus berhati-hati agar jangan sampai yang ditulisnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Tak jarang bahwa mereka yang melakukan investigasi berita sudah tahu yang sebenarnya terjadi tetapi urung dituliskan karena takut dipecat atau yang lebih parah kehilangan nyawa. Dengan tugas yang berat itu, saya yakin pemberian upah yang layak patut diberikan kepada para kuli tinta yang memberitakan kebenaran.

Bagaimanapun bobroknya sistem peradilan di Indonesia, kita semua pasti selalu berharap bahwa kinerja aparat penegak hukum di negeri kita dapat menjadi lebih baik lagi dalam menjalankan tugasnya. Ungkapan “ Hukum manusia bisa diputar-balikkan, tapi hukum Tuhan siapa yang sanggup menghindar ” memang ada benarnya. Orang-orang yang sepatutnya dihukum memang bisa lari, tapi siapa yang tahu jika akhirat sudah di ambang pintu. Kita semua pasti tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat keadilan akan muncul kembali di negari tercinta ini. Seperti pula kata Tolstoy, “ Tuhan mengetahui semuanya, tetapi menunggu…”