Aku dan Tuhan

Dan Gunungnya Tidak Pindah

Senin, November 18, 2019

Perempuan yang kusayangi ini tidak pernah banyak bicara. Tetapi, ia selalu hadir menemani. Ia bukan hanya sekedar Tante, ia adalah ibu sambungku. Berbeda dengan Mami yang ceria dan ekspresif, Mami Ice memiliki pembawaan yang kalem dan tenang. Ia tidak akan bercerita kalau tidak ditanya. Kata Mama Ani, kakak Mami Ice, sejak kecil Mami Ice anaknya sabar. Kalau Mami masih bisa fleksibel dan berkompromi untuk hal-hal tertentu, Mami Ice kebalikannya, ia sangat strict dan tegas.

Dunia pelayananku dibentuk di rumah Mami Ice. Bersama Papi Nes, suaminya, dan empat orang putri mereka yang kupanggil Kak Jeane, Kak Yola, Kak Is, dan Kak Ita, aku dan Mami menemukan keluarga. Waktu kecil aku suka dibawa mengikuti mereka pelayanan. Banyak keadaan suka-duka yang dialami dan dihadapi bersama. Ada hubungan yang dibentuk oleh manusia, tetapi ada hubungan yang dibentuk oleh Tuhan. Keluarga kami yang saling mengangkat saudara ini termasuk hubungan yang kedua. Bersama-sama kami tak pernah merasa sendirian. Ketika Papi Nes pergi duluan, Mami menemani Mami Ice. Kemana-mana pergi berpelayanan berdua. 

4 Juni 2018, Mami mengirimkan foto-foto kegiatan mereka di Toraja. Ada satu foto yang menarik perhatianku. Foto Mami dan Mami Ice berdua dengan latar belakang patung Yesus memberkati di Burake. Tak ada firasat apa-apa. 3 Juli 2018 pukul 5.30 WIB, Daddy menelpon dengan suara panik nyaris menangis. Mami tidak sadarkan diri. Aku bingung tetapi mencoba tenang. Mami bukannya baik-baik saja? Daddy memintaku menelpon Mami Ice dan Mami Ely, adiknya Mami Ice. Mereka bertiga adalah “kakak-kakak perempuan” Mami. Mami Ice segera ke rumah. Mami Ice dan Daddy mengambil keputusan membawa Mami ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Aku menelpon Om, kakak kandung Mami satu-satunya. Ia hanya berkata akan datang ke rumah sakit. Tapi sampai Mami pergi, ia tak kunjung datang. 

Malam terakhir sebelum Mami dimakamkan, terjadi ribut-ribut besar. Oma dan Om “menyerang” Daddy di depan umum. Aku segera memeluk Daddy dan menahannya supaya tidak roboh. Ia tidak tidur 3 hari. Fisik dan psikisnya lemah. Oma dan Om ditenangkan oleh seorang sepupu Mami dengan menggunakan bahasa Tana. Tak ada orang Maluku lagi yang berbicara bahasa Tana. Itu adalah bahasa asli Maluku dan dilakukan untuk berkomunikasi dengan leluhur. Ada apa ini? Setelah menenangkan Daddy, aku berlari menghampiri Mami Ice dan memeluknya. Ia tak berkata-kata selain balas memelukku. Aku menangis sesegukan. Ada semacam beban yang diberikan ke pundakku saat itu. Beban yang tak aku mengerti. Di depan jenazah Mami aku berbicara dalam hati. “Mami, salib apa yang kau wariskan padaku?”. 

Dua minggu setelah Mami dikubur, terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup kami sekali lagi. Aku dan Daddy ditemani Mami Ice dan Mami Ely, serta Papi Toni, suami Mami Ely. Kami saling mendoakan dan menguatkan. Satu keluarga sedarah terputus, tetapi satu keluarga tak sedarah menjadi pengganti. Sejak Mami tidak ada, Mami Ice dan Mami Ely praktis menjadi Ibu pengganti. Mereka bergantian menanyakan kabarku. Melibatkanku dalam dunia pelayanan mereka. Kadang-kadang aku merasa seperti menjadi “pengganti” Mami bagi mereka. Tapi, di sisi lain aku menyadari bahwa mereka tak ingin memutuskan tali persaudaraan dengan keluarga kami. 

Tahun 2019, menjadi tahun yang baru dan ganjil bagi kami. Kami menyadari kami benar-benar kehilangan satu orang yang menjadi pengait di antara kami. Seringkali Mami Ice dan Mami Ely mengajakku bercerita seperti yang mereka selalu lakukan dengan Mami. Aku entah mengapa merasa terobligasi untuk menjadi pihak yang menggantikan Mami. Mereka bercerita banyak hal tentang hidup dan pelayanan mereka. 

September 2019, aku sudah mulai jarang mendapatkan WA dari Mami Ice. Ini aneh. Biasanya hampir tiap minggu ia mengirimkan ucapan selamat dan bertukar kabar. Aku mengirim WA ke Mami Ice, tetapi tak ada balasan. Tante Oce yang kujumpai di gereja kemudian memberi tahu kalau Mami Ice masuk rumah sakit. Katanya sesak napas. Kutanyakan keadaan Mami Ice pada Kak Jean dan Kak Yola. Katanya, Mami Ice akan melakukan operasi kecil. Ada air di paru-parunya yang harus dikeluarkan. Sebelum melakukan operasi, aku melakukan video call dengan Mami Ice. Di seberang sana, ia menatapku dan tersenyum. Ada yang ganjil dengan caranya menatapku. Tatapan matanya adalah tatapan mata sayang. Tetapi, ia seperti “melihat” Mami. Tatapan itu seperti mengucapkan perpisahan. Ia lebih banyak diam. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Tiga hari kemudian, Mami Ely tiba di Jogja dan memintaku menemaninya ke Semarang. Dalam perjalanan itulah, Mami Ely memberi tahu kalau Mami Ice didiagnosis oleh dokter mengidap kanker paru-paru stadium 4. Aku lemas. Aku ingin marah tetapi tidak bisa. Aku ingin tertawa satir, tetapi ini sama sekali tidak lucu. Aku merasakan kehampaan. Aku teringat foto Mami dan Mami Ice di Burake. 

Kutelpon Daddy mengabarkan keadaan Mami Ice. Daddy-lah yang kemudian melaporkan kondisi Mami Ice dengan mengunjunginya di rumah sakit, mengirim foto-foto dan video. Iman dapat menghadapi, tetapi psikis tidak. Di tengah-tengah duka itu dan drama kantor yang semakin kacau, aku kehilangan suaraku sampai tiga minggu. Bagaimana aku bisa mengajar dengan suara nyaris berbisik? Aku tidak bisa sering-sering video call dengan Mami Ice karena kemoterapi yang ia jalani dan suaraku yang habis. Ketika suaraku sudah kembali muncul, aku langsung video call dengannya. Disitu aku mengatakan aku mencintainya dan merindukannya. Aku memohon maaf tidak bisa pulang karena masa calon pegawai tidak membolehkan aku untuk mengambil cuti. Mami Ice bilang tidak apa-apa, ia mengerti aku baru saja memulai perjalananku meniti karir di dunia pendidikan. 

Seminggu setelah itu, Mami Ely mengabari kalau kondisi Mami Ice kritis. Kemoterapi tidak membawa perubahan apa-apa. Subuh itu, dokter bahkan mengatakan ia tak akan bisa melewati sampai malam. 30 Oktober 2019, aku berdoa meminta kemurahan Tuhan. Tidak ada yang mustahil baginya, tetapi biarlah kehendakNya yang jadi. Aku sudah pasrah. Aku mendoakan anak-anak dan saudara-saudara Mami Ice. Rasanya kejadian di pagi hari ketika Mami juga akan pergi terulang lagi. Dalam perjalanan ke kampus, aku memutar lagu kesukaan Mami Ice yang berjudul Never, Never, Never dari Shirley Bassey. Aku berkata dalam hati, “Kalau Mami Ice mau pergi, Meike ikhlas”. Sehabis berkata demikian, WA dari Mami Ely masuk. Mami Ice sudah pergi. Suara Shirley Bassey melengking seiring airmataku yang turun membasahi pipi. “Imposible to live with you, but I know I could never live without you..."

Dalam perjalanan menuju bandara, aku menziarahi makam Mami. Sudah setahun lebih dan banyak hal telah terjadi. Tak jauh dari makam Mami, terdapat makam Papi Nes dan Mami Ice. Ya, Mami Ice dan Papi Nes dimakamkan dalam satu liang lahat. Mereka berdekatan. Mereka semua dimakamkan di baris terdepan. Para punggawa gereja yang tak mau duduk di belakang ini sama-sama mendapatkan tempat peristirahatan terbaik di kota kami. Aku meninggalkan Makassar dengan dada yang terasa sakit. Rasanya seperti ditusuk pedang di tempat yang sama untuk kedua kali. Kehilangan tetap kehilangan. Dua ibu dalam kematian yang beruntun. Aku mengimani mereka kini sudah berbahagia di sana. Penderitaan mereka sudah berakhir. Kini mereka sudah berkumpul dan bernyanyi memuji Tuhan tak henti. Tinggal aku berdua dengan Mami Ely. Dengan bahasa kami yang sederhana, kami saling memaknai kepergian orang-orang yang kami cintai. Kami merasakan trauma yang hebat, tetapi kami tetap percaya. Tuhan selalu hadir dan menari bersama kami di dalam badai. 

Catatan: berjarak dari peristiwa itu, dengan psikosomatik yang kuderita dan keenggananku "melapor" tiap minggu padaNya, aku mulai menyadari bahwa peristiwa ini bukan tentang aku. Ini bukan tentang aku yang menggugat dan berteriak,”Kenapa diambil lagi?”. Ini adalah tentang Mami Ice yang memang harus pergi dengan cara demikian. Ia masih diberi kesempatan untuk mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya sangat mencintainya. Sebagian penderita kanker menerima mujizat Tuhan seperti gunung yang berhasil dipindahkan. Namun, dalam kasus Mami Ice, ia tetap percaya sekalipun gunungnya tidak pindah. Itupun juga adalah sebuah mujizat.

Kisah Perempuan

Sylvia

Rabu, Oktober 16, 2019

Artikel itu menyapaku begitu saja dari halaman majalah Tempo yang terbit beberapa tahun silam. Namanya tak asing. Saya belum terlalu mendalami karya-karyanya, tapi suatu saat akan kucoba menghabiskan waktu dengan membaca pemikirannya. Beberapa puisinya pernah kubaca, tapi waktu itu saya tak punya cukup kemampuan dan pengalaman untuk memahaminya. Saya masih terlalu muda dan naif. Hari ini, saya juga masih muda, tapi mungkin tak senaif dulu.

Sylvia Plath, nama besar dalam dunia sastra. Ia adalah salah satu novelis, penyair, dan cerpenis Amerika ternama. Puisi-puisinya banyak dipakai untuk mengontekskan narasi perempuan di masa itu. Ia mungkin dianggap feminis juga. Sylvia mati bunuh diri. Ia memiliki masalah kesehatan mental yang cukup serius. Pernikahan dengan seorang penyair mapan dan memiliki dua anak ternyata tetap membuatnya merasa sendirian. 

Mengapa sesuatu yang bermula begitu indah, bisa berakhir tragis?

"Dying is an art", begitu kata Sylvia dalam puisinya Lady Lazarus

Life Story

Keindahan

Senin, Agustus 26, 2019

Aku menemukan satu keindahan. Ia bersembunyi di sudut emperan toko di jalan Maliboro yang ramai, bising, dan pesing. Ia berwujud seorang lelaki berwajah rupawan, dengan tatapan mata sayu nan sendu. Rambutnya cepak ala Keanu Reeves di film Speed. Ia memakai topi baseball cap dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitam. Ada tindik di telinganya dan banyak tatto di kedua lengan. Tatto-nya agak-agak random: antara tatto macam tutul, tulisan nama "Ilham", arah tanda mata angin, dan abstrak yang tak kutahu apa artinya. Ia sedang menjajakan berbagai macam T-Shirt bertuliskan Yogyakarta atau bergambar Tugu, Malioboro, Keraton, dan Candi-Candi. Oleh-oleh khas yang diincar para turis jika berkunjung ke Yogyakarta.

Aku memandanginya penuh minat. Kureka-reka masa lalunya. Apakah dia mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarganya? Masih adakah ayah dan ibunya? Dimanakah dia tinggal? Apakah dia pernah bersekolah? Apakah dia memiliki saudara? Apakah ia memiliki kekasih? Orang yang seperti apa yang bisa membuatnya jatuh cinta?

Jika saja dia datang dari kelas menengah ke atas, dia pasti akan terlihat cemerlang. Kalau saja dia mendapatkan pendidikan tinggi yang membuatnya mengetahui banyak hal dan mengunjungi banyak tempat, dia pasti sukses dan terpandang. Kalau saja dia bisa bekerja di tempat yang membuatnya memakai dasi atau kemeja Uniqlo, cewek-cewek akan mengelilinginya. Kalau saja dia nongkrong di cafe-cafe urban, dia akan bersenda gurau dengan teman-temannya yang datang dari kelas yang sama dengannya. Kalau harum tubuhnya adalah bau parfum yang menggoda, bukannya mau tengik keringat. Dia lebih cocok hidup di dunia yang kosmopolitan dan sophisticated daripada berjualan kaos di emperan toko seperti ini.

Lalu, aku tercekat.
Aku merasa sedih.
Karena aku berpikiran tidak adil. Aku juga memiliki sejenis kesombongan. Siapa aku yang menilai hidupnya untung atau malang? Siapa aku yang menakar kepedihan dan sukacita yang dialaminya? Siapa aku yang mengatur dia harus menjadi "siapa"? Siapa aku yang merasa hidupku lebih baik dari dia?

Aku malu. Bagaimana aku bisa berbuat adil jika berpikir adil saja aku tidak bisa? Bagaimana bisa aku tulus kalau aku masih memiliki keangkuhan?

Sehimpun Puisi

Kekasih

Kamis, Agustus 22, 2019

Temanku bertemu dengan Kekasihnya 5x dalam sehari
Ia akan mengambil air wudhu setiap waktunya tiba
Lalu masuk di ruang kecil samping kamar kerjaku
Ia memakai bedak, mengoles lipstik tipis2
Harum bunga melati tercium dari parfum yang menguar
Ia memakai mukenanya
Merentangkan sejadah, bersujud sedalam-dalamnya
Kekasihnya ada disana

Aku juga bertemu Kekasihku
Tidak 5x dalam sehari
Tapi kami cukup intens
Dia selalu punya cara untuk menyapaku
Seperti plat H kendaraan bermotor
Yang tertangkap mataku seringkali akhir-akhir ini

Love Story

Pyar Ho Gaya

Minggu, Agustus 11, 2019

Cinta akan terwujud, begitulah arti dari kalimat pyar ho gaya dalam bahasa Hindi. Kalimat ini familiar karena sering muncul di dalam lagu-lagu soundtrack film Bollywood kesukaan kita. Kalau tidak membaca blog Kak Ruth yang membahas kalimat itu, saya mungkin sampai sekarang tidak tahu.  

Kalimat yang sederhana tapi dalam maknanya. Cinta yang mewujud membutuhkan interaksi dan perlu dirawat. Ia seperti bibit yang kemudian akan tumbuh, bertunas, dan makin besar dengan akar-akar yang semakin menancap ke dalam. Cinta bukanlah pertukaran yang transaksional juga bukan pemenuhan fantasi. Karena pertukaran itu sementara dan fantasi akan berganti seiring berjalannya waktu. Ingatlah, akan selalu ada yang baru. 

Di tengah banyaknya drama kehidupan yang makin plot twist, saya harus mengingat baik-baik kalimat ini. Supaya tidak jatuh lagi dalam pola yang sama, kisah yang sama, meskipun orang-orangnya berganti-ganti. Love is supposed to be groovy, right? Bukan dihiasi air mata kecewa terus-menerus. Cinta membutuhkan keterbukaan, kepercayaan, dan respek. Tanpa itu, hal-hal yang tanpa didasari cinta hanyalah sebatas kepentingan belaka.