"Di Radio Aku Dengar Lagu Kesayanganmu"

Jumat, Januari 27, 2017

*photo: tumblr*



Gombloh tahu pasti bahwa mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman yang istimewa. Ia mengabadikannya sebagai lirik pertama dalam lagu “Kugadaikan Cintaku” -lagu yang legendaris itu- untuk membuat kita –generasi hari ini- belajar menghargai insting dan rasa. Setelah buku, radio adalah media yang memberikan kita kesempatan untuk berimajinasi. Suara-suara itu menyapa kita. Menjadi teman yang mengajak berdialog. Mendengarkan lagu di radio adalah bagian dari dialog itu. Suatu kemewahan yang tidak disadari ketika teknologi sudah semakin canggih. Dan kita hampir lupa, bahwa pernah di suatu masa, radio adalah ruang rindu, tempat para pecinta berkumpul. 

 *** 

Seminggu belakangan ini saya kembali mendengarkan radio. Saya lelah dengan tayangan-tayangan dan berita-berita yang ada di TV maupun di media jejaring sosial yang penuh sengkarut persoalan. Saya sama sekali tidak bahagia mengonsumsinya. Lantas saya memutuskan kembali pada radio sebagai salah satu alternatif katarsis. Kamu bertanya kenapa? Hmm…mungkin secara genetik, radio sudah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Mami saya berprofesi sebagai penyiar, maka sejak dalam kandungan saya sudah akrab dengan radio. Saya menyaksikan sendiri betapa rumitnya sistem radio, mulai dari era manual sampai digital. Saya menjadi saksi dari kegilaan fandom terhadap penyiar-penyiar radio. Saya mengenang masa-masa itu sebagai masa-masa terbaik. Musik-musik hebat masih lahir di zaman itu.

Di masa kejayaan radio, orang masih mau berinteraksi dengan akrab dan intim, bukan hanya selintasan dan berlalu begitu saja. Orang masih ingin terhubung satu dengan yang lain. Entah dengan berkirim salam atau menantikan sandiwara radio sambil tak sabar mengikuti kuisnya. Khusus untuk acara kirim salam, menunggu dengan harap-harap cemas adalah kesenangan tersendiri. Apakah si Fulan akan mengirimkan salam malam ini? atau tiba-tiba kita mendengar pesan dari si Anu yang ternyata sudah jadian dengan si Barbie. Yang lucu kadang ada yang mengirim pesan seperti ini,"Dari Donna di Kotabaru, lagunya Jika- Melly ft Ari Lasso, lagunya buat yang merasa aja..."HAHAHAA. Hal yang paling penting, sejauh ini radio masih menyajikan informasi yang beragam, netral, dan berimbang. Beritanya tidak sampai bikin kepala sakit atau naik darah. Bagaimana mungkin kamu bisa marah? jika setelah berita harga bawang naik, Ike Nurjanah menyanyikan lagu Terlena.

***

Bagi saya, mendengarkan lagu di radio adalah pengalaman istimewa, tanpa mereduksi pengalaman mendengarkan lagu di music player yang sekarang sudah mudah, canggih, dan ekonomis. Hanya saja, debar-debar itu tidak ada. Mendengarkan lagu di radio seperti ketika kamu sedang naksir dengan seseorang di sekolah. Pertemuan tak terduga dengannya di kantin atau lapangan basket adalah momen yang membuat hatimu berbunga-bunga. Ketidakterdugaan yang membuat mendengarkan lagu di radio menjadi romantis. Ketika kamu mendengarkan lagu melalui music player semuanya sudah terprediksi, tidak ada lagi kejutan. Kamu tidak akan senyum-senyum dikulum ketika tiba-tiba mendengarkan Rossa menyanyikan Nada-Nada Cinta atau merasa de javu sewaktu mendengar Leon Haines Band menyanyikan For You To Remember. Mendengarkan radio juga seperti pengalaman yang sinematik, bisa di kamar saat hujan turun, di perjalanan ketika menuju tempat rekreasi, di tempat perbelanjaan, di warteg depan Kos, atau pas menunggui ban motor yang sedang ditambal. Lagu-lagu yang diputar di radio dapat menambah referensi musik kita atau kalau kita beruntung justru membangkitkan kenangan lama. Kamu terkejut bahwa memori itu masih ada atau bisa saja merasa heran bahwa getar-getar yang dulu pernah dirasakan untuk seseorang saat mendengarkan lagu itu ternyata bisa pudar. Satu lagu ternyata bisa tumpang tindih dengan kenangan-kenangan yang berbeda dan dengan orang-orang yang berbeda pula. Saya juga akhirnya paham mengapa lirik kedua yang ditulis Gombloh adalah, “kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku?”. Radio membuat kita "mencari". Sore itu, radio yang saya dengarkan memutar lagu Born to Make You Happy-nya Britney Spears. Saya langsung teringat sahabat saya Tirta, yang sekarang tinggal di kota seberang dan sudah hampir dua tahun tak berjumpa. Ia adalah fans fanatik Britney Spears dan sangat suka dengan lagu ini. Saya sekonyong-konyong menghubungi dia, “Tir, lagumu diputar di radio…!!!” 

Sayangnya, mendengarkan radio bukan perkara sepele. Ia datang dari zaman dimana untuk meraih sesuatu itu tidak mudah. Jika di music player kamu hanya tinggal mengetik lagu yang kamu inginkan, maka untuk radio kamu harus tabah mencari frekuensi yang tepat. Ini belum lagi gangguan kresek-krusuk karena gelombang sangat mempengaruhi kejernihan suara. Menemukan stasiun radio yang memutar lagu-lagu yang sesuai dengan selera adalah seperti mencari jodoh. Faktor lainnya, tentu saja penyiarnya. Penyiar adalah Lee Min Ho di drama-drama Korea yang kamu tonton. Suaranya (dan ini sangat relatif) adalah ketertarikan seksual. Isi pembicaraan si Penyiar adalah kepribadiannya. Penyiar adalah salah satu faktor yang membuat kita betah mendengarkan suatu program radio, setia mendengarkan radio itu juga. Pernah suatu hari Mami bilang, setiap kali ia mendengarkan lagu If Tommorow Never Comes-nya Ronand Keating, ia selalu terkenang masa-masa sebelum ia meninggalkan Pro 2. "Itu tidak mudah untuk saya," ujarnya. Beberapa hari belakangan ini si Mami juga ikut mendengarkan radio yang saya putar. Setiap kali ada lagu yang familiar atau ia sukai, ia menjerit kegirangan. Tempo hari Mami bilang kalau nanti ia pensiun, ia akan membeli seperangkat pemutar stereo yang canggih dan records yang ia inginkan. Ia berencana menikmati hari tuanya dengan mendengarkan musik. Saya tertawa terbahak-bahak,” Mam, dimana mau beli CD-nya? Disc Tarra disini sudah pada tutup kali..”. Mami saya kaget. Ia tidak percaya. 

***

Malam itu hujan keras. Saya masih mendengarkan radio yang sama sejak tadi siang. Penyiarnya bersuara bariton yang manly dan ia sedang memutar lagu-lagu Indonesia tahun 80-an. Saat membacakan request-an pendengar, ia terkenang masa lalunya dan suaranya bergetar menahan haru. Saya tertegun, tak peduli gendermu apa, ketika melodi menyentuh hatimu, kamu lebur di dalamnya. Suara pintu depan terbuka. Mami baru saja pulang dari kantor. Beberapa saat kemudian, Ia masuk ke kamar saya bersamaan dengan terputarnya lagu The First Cut Is The Deepest versi Rod Stewart di radio. Saya dan Mami bercakap-cakap sebentar, lalu entah siapa yang duluan menginisiasi, kami sudah berpelukan dan berdansa. Rod Stewart terus bernyanyi dan kami juga ikut bernyanyi. Kami bahagia sekali malam itu hingga tanpa sadar kami menangis haru. Ketika mendengar lagu ini di suatu hari nanti, saya akan mengenangnya sebagai salah satu malam yang romantis antara saya dengan Mami. Tidak ada kata-kata berbunga yang mampu mendeskripsikan perasaan kami malam itu. Kami percaya, kami mengalami momen magis. Momen indah yang takkan terlupakan sampai kapan pun. Kisah ini akan selalu diceritakan sebagai kenangan manis. 

Dan semua itu karena sebuah radio.




You Might Also Like

0 comments