Selamat Halloween

Jumat, Oktober 31, 2014

Tulisan ini saya buat setelah beberapa menit terjadinya kejadian ini. 

Ada memang peristiwa-peristiwa yang tidak bisa kita jabarkan dengan rasio. Ada memang sesuatu yang mungkin tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang tetapi sesungguhnya kita tahu pasti melalui perasaan. Lalu tiba-tiba saja kita bergidik ngeri, takut, tetapi juga bersemangat ( beberapa orang malah senang). 

Semua orang pasti memiliki sisi sembrono. Kata sembrono saya pakai untuk suatu kekhilafan kalau sembarangan menaruh barang tidak pada tempatnya. Kesembronoan itu anehnya terjadi pada satu kebiasaan buruk yaitu melemparkan kantong-kantong plastik entah yang dibeli sendiri (biasanya buat buang sampah) atau bekas belanjaan. Saya masih menganalisis apakah ini karena faktor malas atau memang masalah kejiwaan. Mengingat dulu sewaktu kecil saya paling suka membuang kertas-kertas di bawah tempat tidur. Kebiasaan ini berhenti ketika Mami membelikan saya tempat sampah bergambar Mickey Mouse karena dia capek membersihkan bawah kolong tempat tidur saya bertahun-tahun.  Tempat sampah ini masih ada ( mungkin kalau dia manusia sudah kuliah semester 1) sampai Desember tahun lalu. Terakhir pas pulang kemarin, tempat sampah itu sudah tak ada. Dibuang mami mungkin. 

Selama setahun saya tinggal di kamar kos ini, selama itu pula kantong-kantong plastik itu tersimpan dan menggunung. Kebetulan lagi lemari saya bwesar bwanget, maka kesembronoan itu tersimpan rapat bagai pakaian-pakaian di lemari yang ada di film Narnia. 

Tapi malam ini...

Saya tertidur pukul 10 malam (waktu itu masih tanggal 30 Oktober). Ini sebuah keajaiban mengingat saya umumnya tertidur di pukul 2 subuh atau 4 subuh ( tergantung lagi mengerjakan tugas atau nonton film/baca buku). Saya pikir saya sudah tidur pulas karena sampai mimpi dan rasanya memang lama sekali, sampai kemudian terdengar suara gemerisik dari bawah kaki saya. 

Saya terkaget bangun. Bunyinya seperti kepakan sayap bereng-bereng atau bangsa capung. Tapi yang membuat saya khawatir kalau suara itu milik clurut alias tikus kecil yang berkeliaran di rumah ini. Saudara-saudara tahu kan bagaimana jahatnya tikus kecil? Selain merusak barang, ia juga meninggalkan tahinya dimana-mana. Suara itu kemudian terdengar lagi. Sumbernya seperti terdengar dari dalam dus. Kebetulan di bawah tempat tidur memang ada dus sterikaan yang terbuka dan goodie bag milik Sari yang ketinggalan. 

Awalnya saya mengacuhkan. Namun, bunyi itu semakin intens. Dasar orang yang baru bangun tidur, saya tidak terlalu berpikir panjang. Saya bangun dengan malas-malasan dari tempat tidur, menyalakan lampu kamar ( saya suka tidur dalam kegelapan karena menurut Eross S07 gelap melindungi kita dari kelelahan), dan memeriksa dus setrikaan. Tak lupa saya membawa sapu lidi, siapa tahu itu binatang ganas. Saat melongok ke dalamnya, saya tak melihat binatang apapun, jadi saya masukkan setrika yang kalau habis dipakai saya taruh dengan di lantai. Tujuannya lebih logis sih yaitu sebagai penanda kalau ada bunyi-bunyi lagi, dus setrikaan tidak perlu dicek. Kecuali binatangnya memang gaib. Saya lalu memeriksa goodie bag Sari. Sebelum masuk asrama, Sari sempat bersemayam di kamar saya beberapa hari, maka barang-barang ini adalah tanda kelupaannya yang isinya memang sehelai baju yang nyungsep di bawah kolong tempat tidur dan ditemukan ketika menyapu kamar, serta sebuah tempat kue. Goodie bag itu juga termasuk yang dilupakan. Pikiran saya mulai ngaco. Saya takut clurut atau bereng-bereng dan bangsanya ada disitu karena bunyinya memang dari dalam goodie bag. Tapi ternyata nihil saudara-saudara. Saya juga memeriksa di bawah kolong tempat tidur, meja, sampai dalam terpal. Karena tak ada hasil. Saya matikan lampu dan naik ke tempat tidur. 

Tapi bunyi itu kembali terdengar. Beneran sangat mengganggu. Saya acuhkan sambil tetap pasang telinga, mengira-ngira dari mana asal suara terkutuk itu. Dan... ternyata asalnya dari dalam lemari Narnia yang menyimpang plastik-plastik itu. Saya pun bangun dari tempat tidur, menyalakan lampu, dan tak lupa sapu lidi untuk menggeplak binatang usil itu. Di saat itulah, saya mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Percayalah, telinga tidak hanya bisa mendengar tapi juga mengenali. Waktu itu saya baru awal-awal tinggal disini. Eyang-lah yang pertama memberi tahu saya tentang hal ini. Bahwa ia bisa membedakan mana langkah kaki setiap anak kos-nya meskipun ia tak melihat wujudnya. Pendapat ini diverifikasi Mbak Indri yang mengatakan hal yang sama. Dan kini, setelah setahun, kemampuan itu saya warisi juga. Saya bisa membedakan langkah kaki Mbak Truly, Mbak Indri, Eyang, Mbak Par, Bu Mery, Sena, bahkan Bu Nur yang jarang tinggal disini. Tapi langkah ini aneh. Ia tergesa-gesa tetapi juga seperti mengendap-endap. Seperti sedang mengintai. 

Kalau mau pake logika dan mengatakan itu adalah satu dari anak kos. Hmm...sepertinya mustahil. Pertama, di bagian dalam rumah ini, khusunya lantai bawah hanya saya dan Bu Nur yang ada. Eyang tidak dihitung karena ia memiliki paviliunnya sendiri dan ia tak pernah keluar dari sana setelah jam setengah 9 malam. Anak-anak kos di lantai atas yaitu Mbak Truly, Sena, dan Mbak Indri akan sangat ketahuan kalau mau ke bawah. Selain bunyi pintu yang ditutup maka akan disusul suara langkah dari arah tangga. Tapi tadi tak ada suara langkah apapun dari tangga maupun pintu yang ditutup. Maka, tersangka selanjutnya adalah Bu Nur. Tapi langkah Bu Nur paling kentara, ia selalu jalan seperti malas-malasan atau alon-alon wae ala orang Jawa. Maka siapakah yang ada di luar itu? Suara burung hantu dari arah jendela mulai bersahut-sahutan. 

***

Akhirnya saya mengecek lemari Narnia. Diam-diam saya berharap ada binatang di dalam sana karena ganjil juga tak menemukan apa-apa setelah lebih dari sekali mencari. Logikanya, jika memang ada binatang di dalam sana, begitu pintu lemari dibuka, binatang itu akan keluar, ya minimal menampakkan wujudnya. Suaranya makhluk itu memang seperti terperangkap. Maka, jika saya mengorek-ngorek lemari itu tentunya membawa pembebasan baginya. 

Saya juga mengecek lemari yang berisi pakaian, memeriksa dus-dus yang ada di dalam sana ( sekali lagi lemari saya bwesar bwanget sampai bisa dijadikan tempat sembunyi kalau main petak umpet (Saya perkirakan bisa memuat 4 orang dewasa dan dua anak kecil untuk sembunyi di dalam lemari itu). Hasilnya tetap nihil. Tak ada tanda-tanda makhluk hidup disana. Saya kembali naik ke tempat tidur. 

Dan... damn! Suara itu terdengar lagi. Suara -kepakan sayap yang terjebak dalam dus- muncul lagi sumbernya kali ini jelas. Dari dalam lemari Narnia yang banyak kantong plastiknya. Saya memeriksa sekali lagi. Tapi tak ada binatang yang muncul. Karena kesal atau lelah diganggu, saya mengeluarkan semua gunungan kantong plastik itu. Saya juga mengeluarkan koper-koper, dus-dus barang elektronik, dan hanger-hanger sampai lemari itu memperlihatkan kepolosan isinya yang sudah muntah di luar.

Lalu saya mulai merapikan lemari itu. Satu-satu, mulai yang paling besar sampai yang paling kecil. Kantong-kantong plastik yang beraneka macam model dan ukurannya juga ditata serapi mungkin. Kini isi lemari itu yang semula acak kadut terlihat enak dipandang. Anehnya, setelah acara bersih-bersih mendadak itu. Suara kepakan sayap dalam dus tak terdengar lagi sampai saat saya menuliskan ini. 

***

Ada suatu kepercayaan yang disebut Panteisme dimana Yang Mahakuasa dapat mewujud pada segala benda, entah benda hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan atau pada benda mati seperti patung, cermin, senjata, atau   bahkan kendaraan seperti motor atau mobil sekalipun. Maka jangan heran agama-agama yang bersifat panteisme seperti Hindu Bali atau Kejawen memberikan sesajen sebagai tanda hormat. 

Tapi saya merasa aneh juga kalau Yang Mahakuasa sampai begitu lebay masuk ke lemari hanya untuk mengingatkan saya menjaga kebersihan. Momennya pas di Hallowen lagi. Kenapa bukan kemarin-kemarin atau besok-besok? Jika urusan kebersihan saja sampai segitunya bagaimana dengan urusan hati? Seandainya ada lelaki yang mematahkan hati saya, sudah pasti namanya masuk daftar penguni Neraka. Nah, maka saya menyebutnya The Other, Yang Lain. Yah, mungkin bukan saya saja seorang penghuni kamar ini. Bukankah orang-orang Jawa kejawen memiliki kebiasaan membersihkan atau meruwat jika orang-orang atau benda-benda itu sudah tak "bersih" lagi? 

Siapapun dia, yang memaksa saya membersihkan kantong-kantong plastik  jam 2 subuh ( sekarang peristiwa itu tampak konyol) pastilah memiliki niat yang baik. Mungkin dia ingin saya aware dengan kebersihan terutama yang menyangkut bagian dalam, yang sengaja disembunyikan. Selama ini saya menjaga kebersihan dan kerapihan kamar di permukaan saja alias level pragmatis. Nah, dia ini ingin saya belajar membersihkan yang lebih dalam, yang esensi barangkali. Kalau dipikir-pikir lagi kok jadi lebay ya? Ah, barangkali ini hanyalah selera humor atau sekedar mengucapkan "Selamat Halloween, Meike..." 

You Might Also Like

0 comments