Ramalan

Kamis, Januari 30, 2014

Namanya Li Hua atau bekennya Belinda. Ia adalah salah satu mahasiswa asing dari Cina yang kuliah di UGM dan juga dulu pernah menempati salah satu kamar di kosku. Meski hanya mengenal sekedarnya, kemarin Eyang menceritakan sesuatu tentang Bel panggilan Belinda alias Li Hua. Seperti layaknya tradisi menyambut Tahun Baru Cina, Bel juga turut mendatangi klenteng untuk berdoa dan meminta ramalan. Maka sampailah Bel di stand ramalan di dalam klenteng. Ia menggoncang-goncangkan kumpulan potongan bambu berbentuk persegi panjang yang ditaruh ke dalam bambu berbentuk tabung dengan ukuran yang lebih besar. Satu potongan bambu jatuh ke tanah dan Bel memungutnya untuk diberikan kepada si Peramal. 

Maka kata si Peramal kepada Bel,"Hai Nona, apakah yang ingin kau tanyakan berkenaan dengan Imlek tahun ini?".
Bel menunduk namun dengan tersipu-sipu ia menjawab,"Saya mau tanya kapan jodoh saya datang, Baba."
Si Tukang Ramal membaca tulisan di potongan bambu Bel, mencocokkan kiri-kanan dengan kitab dan berbagai diagram. Sambil menghela napas panjang, si Tukang Ramal pun menjawab,"Nona, jodoh anda masih lama datangnya." 
Gubrak.

***

Seperti Bel, saya juga pernah diramal. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA dan sedang naksir berat dengan salah seorang kakak kelas. Di saat yang sama pula, salah seorang kawan saya datang ke sekolah saya untuk reuni. Namanya Nani. Saya dan Nani dulu satu sekolah di SD sampai SMP, namun saat masuk SMA ia memutuskan masuk SMA Negeri 1 Makassar (Smansa) dan saya sendiri tetap melanjutkan di SMA Katolik Rajawali (Chara).

Perpisahan dengan Nani membuat banyak hal yang tidak saya ketahui tentangnya terkuak termasuk fakta bahwa ia bisa meramal, sebuah kemampuan yang tidak pernah ia publikasikan sejak kami masih SD. Percaya atau tidak, ramalan Nani bisa mencapai keakuratan 60% sehingga banyak teman-temannya meminta Nani meramal mereka. Siang itu Nani datang ke Chara mengenakan seragam pramuka dengan rok panjang khas sekolah negeri. Maka berduyun-duyunlan kami bertemu Nani, minta diramal.Setelah sebelumnya berada di antrian ke-6, akhirnya giliran saya tiba. Bahkan setelah saya masih ada tujuh teman yang mengantri, hebat benar si Nani. Nani kemudian meminta telapak tangan kiri saya untuk dibaca. Saya pun santai saja mengingat lima teman sebelumnya mendapat ramalan yang bagus-bagus. Pikir saya ramalannya pasti tak kalah bagus dibanding yang sebelumnya.

Nani mencermati garis tangan saya, dengan telunjuknya ia menelusuri lekuk-lekuk garis tangan saya yang bagaikan aliran sungai itu. Setelah ditelaah dengan saksama, Nani kemudian berkata,"Ini garis tangan paling suram yang pernah saya lihat".
Mendengar itu saya seakan tersambar petir (kebetulan waktu itu pas lagi mendung).
"Maksudnya?," saya masih tak rela.
"Iya, kalau soal jodoh susah sekarang, Mei. Kau bakalan jomblo dalam waktu yang tidak ditentukan".
Saya masih tak percaya dengan pendengaran saya. Saya masih ingin mencerca Nani dengan seribu pertanyaan, tetapi antrian di belakang saya sudah menatap saya seperti ingin membunuh. Hari itu saya pulang dengan seribu awan mendung bertengger di atas kepala. Sahabat saya Tirta yang hari itu diramal baik-baik saja percintaannya mencoba menghibur. Itu cuma ramalan belum tentu terjadi.

Suatu ketika saya juga pernah diramal oleh Seseorang. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri memgikuti tes di UGM dan seleksi untuk beasiswa calon dosen. Ia memiliki indera keenam sejak kecil dan karena kemampuan itulah ia bisa melihat arwah orang yang sudah mati dan melihat hasil dari sesuatu. Misalnya orang-orang akan bertanya siapa yang akan menang dari pertandingan sepak bola antara PSM dengan Persija. Jika ia menjawab PSM maka PSM-lah yang akan menang. Percaya tidak percaya ramalannya kebukti. Nah waktu itu Mami iseng-iseng bertanya, Meike jadi sekolah di Jogja atau tidak? Dan jawabannya adalah Belanda dan Amerika. Berulang kali ditanyakan ia selalu menjawab di Belanda atau Amerika. Saya tidak suka dengan jawabannya dan jujur saja agak resah dibuatnya. Lama-kelamaan saya memikirkan ramalan itu, saya memutuskan melihat dari segi positifnya, ya bisa saja suatu hari nanti saya berada di kedua negara itu. Tapi keputusan mengenai mau jadi apa saya di masa depan ada di tangan saya sendiri. Dengan izin Sang Pemilik Hidup, saya membuktikan ramalan itu keliru. 

***

Memang benar bahwa ada sebuah masa dimana ramalan cukup memengaruhi kehidupan manusia. Kita pernah mendengar ramalan Nostradamus tentang akhir dunia, ramalan raja Jayabaya akan datangnya Ratu Adil yang memerintah Nusantara, dan mungkin sedikit lebih modern dan ilmiah adalah ramalan Karl Marx akan matinya Kapitalisme ( namun karena semakin hari kuku kapitalisme semakin kuat mencengkeram sehingga ketimpangan masih terus terjadi maka banyak yang bilang ramalan Marx ini utopis). Lalu ada juga ramalan bintang atau zodiak, sebuah perhitungan dengan menggunakan ilmu astrologi atau perbintangan, orang-orang yang bernaung dalam rasi bintang tertentu akan menjalani kisah sesuai dengan laju bintang tersebut. Tapi benarkah?

Masa remaja saya dihabiskan dengan banyak membaca majalah remaja. Dan dimasa itu pula, ramalan termasuk ramalan bintang menjadi sesuatu yang sangat memengaruhi kehidupan seseorang, khususnya dalam persoalan cinta. Mungkin karena pada waktu itu awal milenium, perpindahan tahun 1900 ke tahun 2000 sehingga masa depan menjadi misteri yang menarik. Kami memang tahu bahwa sebuah ramalan belum tentu terbukti kebenarannya, akan tetapi benar-tidaknya sebuah ramalan tetap memberi andil dalam menambah kegembiraan dan kegalauan seseorang.

Setiap membuka majalah, rubrik zodiak langsung menjadi incaran. Kita akan membaca ramalan bintang kita dulu meneliti bagian karir ( padahal waktu itu masih SMP) dan kemudian beralih ke bagian asmara. Kalau ramalannya bagus, hati senang, kalau jelek, mood bisa rusak. Setelah itu, kita akan membaca zodiak pasangan kita ( alias gebetan). Entah sengaja atau tidak, biasanya space untuk zodiak pasangan hanya khusus persoalan asmara. Kalau bagian asmara pasangannya bagus, wuihh serasa berbunga-bunga sepanjang hari. Pernah juga suatu ketika demam menggunakan kartu tarot merajalela. Tiba-tiba saja banyak teman saya yang jadi peramal dadakan. Gaya mereka sih belum se-gypsi peramal di tivi-tivi, tapi judgement mereka terhadap keadaan seseorang sudah menyamai Mama Laurent.

Ketika saya dan teman-teman sekolah sepakat membuat majalah sekolah ( ikhwal saya mengenal dunia Jurnalistik), kami membuat rubrik tentang ramalan bintang. Pertanyaannya siapa yang akan mengisi rubriknya? Tirta, sahabat saya itu mengajukan diri mengisi rubrik itu. Caranya? Dengan mengarang. Kalau bagian zodiaknya pasti bagus-bagus. Kebetulan Tirta berada dalam rasi bintang Gemini. Maka diluar Gemini, ramalannya pasti jelek. Setelah itu ramalan menjadi sesuatu yang bullshit bagi saya.

Saya tertarik dengan kata-kata Foucault bahwa "pengetahuan adalah kekuasaan". Siapa yang memiliki pengetahuan lebih jelas memiliki kuasa daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan. Guru bisa lebih berkuasa daripada muridnya, karena ia memiliki pengetahuan yang lebih dari muridnya. Orang yang memiliki pengetahuan mampu melegitimasi sesuatu bukan saja oleh argumentasi dirinya, tapi orang-orang di sekitarnya yang takjub dengan apa yang diketahuinya juga ikut membenarkan. Jangankan ramalan, keputusan yang akan diambil suatu organisasi harus meminta persetujuan orang-orang yang dianggap sebagai datuk-datuk organisasi itu. Mereka dianggap pemegang kebenaran, legitimasi dari mereka adalah patron yang harus diikuti. Termasuk legitimasi terhadap orang. Oh yang ini pintar, yang ini cantik, yang disana suka memerah orang, dsb.

Selain itu kita juga suka keburu percaya dan mensugesti diri kita untuk mengimaninya. Bukan rahasia umum lagi kalau pikiran manusia sanggup memengaruhi dirinya. Sakit yang diderita seseorang kebanyakan berasal dari pikirannya. Makanya kita selalu disuruh berpikir positif ketimbang negatif supaya energi positif itu mampu memberika kesegaran bagi jasmani dan rohani. Ingat kan pepatah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kita juga sering dinasehati supaya jangan banyak pikiran. Banyak pikiran menyebabkan stress, kalau orang sudah stress maka banyaklah penyakit yang muncul: sakit kepala-lah, demam-lah, bahkan pada perempuan bisa mengganggu siklus menstruasi.

Lama saya memikirkan ramalan Nani. Apalagi dengan mencocokkan dengan kenyataan yang saya alami, cinta yang layu sebelum berkembang. Namun, lama-kelamaan saya menyadari bahwa segala kejadian yang terjadi dalam hidup saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan ramalan Nani itu. Setiap orang harus menanggung beban-nya masing-masing. Beban itu yang akan membentuk karakter kita, kepribadian kita. Tanpa masalah dan pencobaan, manusia tidak bisa menjadi sebuah bejana yang indah. Beban dan cobaan itu yang memroses, menempa, dan membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Ingatlah bahwa hanya Tuhan yang mampu mengubah hidupmu dan berkuasa akan masa depanmu. Bahkan peramal paling sakti di dunia pun akhirnya mati, ia saja tak mampu mempertahankan hidupnya, mengapa kamu berpikir ia sanggup memengaruhi hidupmu?

Kita pun juga lebih suka mendengar sesuatu yang indah-indah ketimbang yang duka-duka. Pada konteks ramalan, kalau ramalannya bagus kita senang tapi kalau jelek kita tidak terima. Kita kadang lupa bahwa berita baik maupun buruk, anugerah atau bencana, adalah makanan kita sebagai manusia. Dalam segala sesuatu kita harus menerima pemberian-Nya dengan sukacita.Sendiri ataupun bersama dengan orang lain sama saja. Hidup harus dirayakan dengan tetap bersyukur.


Tidak bisa tidur dan menjelang hari Imlek
Gong Xi Fat Chai, xin nian kuai le

You Might Also Like

2 comments

  1. saya pernah diramal sama Nani... doi cuma bilang "bersakit2 dahulu, bersenang2 kemudian", zzzzz....

    BalasHapus