Jeritan Hati Anak Tunggal

Jumat, Juli 23, 2010


Kita semua pasti punya mimpi, punya khayalan yang ingin diwujudkan. Begitu juga dengan saya. Saya punya satu khayalan. Satu mimpi. Punya satu keinginan yang tidak mungkin terwujud. Saya selalu ingin punya kakak.

Saya ingin punya kakak. Entah seorang kakak laki-laki atau perempuan. Tapi itu tidak mungkin terjadi. Saya adalah anak semata wayang. Sudah garis Tuhan saya tidak punya saudara kandung.

Anak tunggal laksana batu karang yang harus tegar kokoh berdiri sendiri walau diterjang ombak dan badai. Anak tunggal harus bisa membela dirinya sendiri. Itulah yang saya alami sejak dilahirkan sampai sekarang.

Saya teringat ketika masih duduk di bangku SD. Saya iri mendengar cerita teman-teman saya tentang kakak-kakak mereka. Kadang mereka memamerkan buku teks turunan dari kakaknya. Sedangkan saya? Tidak pernah ada buku yang diturunkan. Semua buku baru. Hingga kemudian saya suka mengarang cerita tentang figur kakak yang saya inginkan. Kakak Khayalan yang hanya hidup dalam fantasi saya. Karena memiliki kakak kandung adalah hal yang mustahil, saya lalu mengarang sosok kakak sepupu yang sempurna. Sosok idaman itu jatuh dalam karakter kakak sepupu perempuan yang menyayangi saya. Namanya Yaya. Yaya sebenarnya adalah nama panggilannya. Nama lengkapnya Ludwina.

Tentu saja saya memiliki saudara-saudara sepupu asli. Mempunyai kakak dan adik sepupu yang nyata, dapat disentuh, dan berinteraksi dengan saya. Namun, saya lebih sayang pada Yaya, sosok imajiner yang selalu kuceritakan pada teman-teman sebayaku semasa SD. Saya pernah menuliskan nama Yaya di buku teks pelajaran. Lalu memamerkan kepada teman-teman saya bahwa buku itu temurun dari Yaya. Terkadang saat ada teman yang menelepon ke rumah dan kebetulan saya yang mengangkatnya, maka saya berpura-pura menjadi Yaya dan memanggil "Meike" untuk menyampaikan teleponnya. Walaupun di seberang sana, si Teman sudah menebak itu adalah suara saya sendiri.

Tahun berganti, saya semakin dewasa. Tidak mungkin sosok Yaya hidup dalam kondisi dimana saya semakin beranjak remaja. Sebab teman-teman saya mulai meminta ingin bertemu dengan Yaya. Akhirnya, saya pun terpaksa mematikan karakter Yaya dengan mengatakan kepada teman-teman saya bahwa Yaya pergi kuliah ke Amerika. Otomatis mereka tidak bisa bertemu Yaya. Kebohongan saya pun berakhir dengan indah. Saya kembali ditarik ke dunia nyata. Maka, ketika berbagi cerita dengan orang-orang, saudara-saudara sepupu yang nyata-lah yang saya ceritakan. Bukan hasil rekayasa lagi.

Kemudian, datanglah saat itu. Saat saya duduk di kelas 1 SMP. Untuk pertama kalinya saya kena gap dari salah satu geng kakak kelas. Dan kalian tahu, saya sendiri yang membela diri saya. Tidak ada siapa-siapa disana. Teman-teman pun hanya bisa menonton. Saya bahkan tidak meneteskan air mata. Saya hanya merasa takut. Lutut saya lemas dan keringat dingin menjalari tubuh saya. Saya tetap mempertahankan perisai saya. Melindungi diri ini dari serangan cacian yang tertumpah dari mulut kakak-kakak kelas itu. Tidak ada yang membela saya. Lupakan pacar. Saya tidak punya pacar yang tiba-iba datang membela saya laksana pangeran yang datang menolong putrinya. Hanya ada saya sendiri yang membela dirinya. Dan disitulah, saya merindukan sosok kakak. Kakak yang akan datang menolong adiknya. Kakak laki-laki atau kakak perempuan.

Tepat beberapa waktu setelah insiden itu, salah seorang teman saya juga mengalami hal yang sama. Dia juga di gap oleh geng kakak kelas yang kebetulan geng yang sama yang meng-gap saya. Teman saya ini memiliki kakak laki-laki yang memiliki geng cowok yang famous di sekolah. Si Kakak yang waktu itu duduk di kelas 1 SMA (karena SMP dan SMA cuma bersebelahan ) segera menolong adiknya bersama pasukan geng cowoknya. Membuat geng kakak kelas ini ketakutan setengah mati. Saya ada disitu dan melihat semuanya. Sangat kontras dengan kejadian yang menimpa saya. Dimana hanya saya sendiri yang membela diri saya.

Sebenarnya saya memiliki 3 saudara sepupu yang kebetulan sekolah di tempat yang sama. Dua orang duduk di kelas 3 SMA dan yang satu duduk di kelas 2 SMP. Namun akhirnya saya tahu. Saya bisa merasakan betapa bedanya saudara kandung dengan saudara sepupu. Ada rasa itu. Rasa segan. Rasa persepupuan berbeda dengan persaudaraan kandung. Jelas sangat jauh berbeda.

Disitulah saya sadar. Saya sendirian.

Tahun berganti. Saya pun mengecap bangku SMA. Banyak kejadian yang terjadi yang mengajarkan saya untuk menjadi tangguh. Di tahun terakhir masa SMA saya, ada satu kejadian yang menimpa sahabat saya. Dia sahabat saya dari SD. Kejadian itu sangat menggemparkan seisi sekolah. Sedihnya kejadian itu melibatkan teman saya yang sama-sama satu geng. Ingatan itu masih jelas. Saya tidak akan lupa minggu-minggu penuh emosional dan air mata itu.

Karena membela sahabat saya ini, saya hampir dipukul oleh preman yang disuruh oleh teman yang menjahati sahabat saya. Sekali lagi, saya membela diri saya sendiri. Puji Tuhan, saat kejadian itu berlangsung ada tante sahabat saya dan seorang sahabat saya yang lain ikut menolong sehingga saya tidak habis babak belur dipukuli. Saat itu pertahanan saya bobol. Saya menangis. Saya orang yang susah menangis. Dan jika sampai saya menangis, hal itu pasti bukan hal yang remeh-temeh dalam hidup saya. Sesuatu yang bisa menguras jiwa dan pikiran saya. Membuat saya tidak berdaya. Lalu dalam sedu-sedan itu saya berpikir seandainya saya punya kakak. Dia pasti akan menolong saya. Dia akan membela saya. Dia tidak akan membiarkan saya menangis. Karena saya adiknya. Sesering-seringnya sesama saudara bertengkar, tetap saja saling menyayangi. Darah memang lebih kental daripada air.

Pandangan saya langsung tertuju pada kakak teman yang jahat ini. Kakak laki-laki yang membela adik perempuan satu-satunya habis-habisan walaupun dia tahu adiknya bersalah. Itulah kakak. Kakak yang ingin sekali saya miliki.

Kadang orang berkata pada saya, " Enak di' jadi anak tunggal ?" pertanyaan itu hanya bisa membuat saya tersenyum mendengarnya.
Mereka jelas tidak tahu rasanya menjadi saya.
Mereka tidak tahu betapa inginnya saya bermain dengan saudara.
Inginnya saya bertengkar dengan kakak atau adik.
Saya ingin punya barang-barang yang diwariskan dari kakak ke saya.
Betapa inginnya saya curhat dengan kakak perempuan ketika saya jatuh cinta dan patah hati.
Dan jika saya punya kakak laki-laki, teman-teman lelaki saya tidak akan berani mengejek dan mengganggu saya.
Laki-laki itu tidak akan berani membuat saya patah hati.
Karena saya punya kakak laki-laki yang pasti akan melindungi dan membela saya.
Kakak laki-laki yang siap dengan pukulan demi membela kehormatan adiknya.
Saya ingin punya kakak yang membantu saya mengerjakan PR atau tugas.
Memiliki kakak yang bisa pulang bersama-sama ke rumah.
Kakak yang akan menjemput saya sehabis berkegiatan.
Kakak yang mengajak saya bercanda.

Tuhan.... saya sendirian dan saya harus bertahan. Saya-lah kakak dan adik untuk diri saya sendiri. Karena saya si ANAK TUNGGAL.

Buat kalian yang memiliki saudara.
Jangan benci kakak laki-lakimu karena dia sering meledekmu.
Percayalah dia tidak akan tega membiarkanmu menangis.
Jangan benci kakak perempuan-mu karena dia cerewet, suka mengatur, dan kau mewarisi barang bekasnya.
Kakak perempuanmu selalu menceritakan perihal tentang dirimu kepada teman-temannya. Tentang betapa sayangnya ia padamu.
Jangan benci adikmu seberapa menjengkelkannya pun dia. Adikmu selalu membanggakan kakak-kakaknya. Seorang adik menjadikan kakak-kakaknya panutan dalam hidupnya.





Dari Meike untuk dirinya sendiri...

You Might Also Like

18 comments

  1. hahahahahaha......
    bu meike..tahukah anda, buku yang tadi kubaca (waktu dari pagi sampe sore duduk di mace itu) mengisahkan seorang anak perempuan yang mempunyai delapan adik yang harus diurusnya karena masih kecil-kecil. Bayangkan meike, DELAPAN !!!!
    Dan dia pun mengeluh sampai2 ingin pergi jauh dari keluarganya itu
    hehehe saya cuma berbagi saja

    BalasHapus
  2. kalo kau mau saya bisa jdi kakak laki2 mu...

    BalasHapus
  3. @Kak Rahe : Tahukah kak Rahe, anak tunggal walaupun tidak pernah sendiri (dikelilingi banyak teman maupun keluarga) ia selalu merasa kesepian...

    @Inul : hiks..hiks..terharuku Inul......T.T

    BalasHapus
  4. ihh,,jangko sok manja nah :P mau dak ???

    BalasHapus
  5. @Inul : ihh..ihh...jadi baku angkat saudara maki ini ? lahir bulan berapa ko kah? ntar malah sy yg lbh tua...hihihii...

    BalasHapus
  6. we saya 25 MEI 1991.
    kau ???
    pasti sy sedikit lebih tua toh...

    BalasHapus
  7. jangan sedih. bukankah meike punya saya, kakak poseidon?

    BalasHapus
  8. kakak Inul : salah...saya 9 Mei 1991...hehe...

    Kak Yusran : Tidak hanya kakak poseidon tapi bertambah dengan kakak perahu kertas...^^

    BalasHapus
  9. hiks :'(
    aku juga pingin punya kakak ... dan waktu kecil aku juga sering buat kakak khayalan 3-|
    ternyata enggak cuma aku yg pernah merasakan kesedihan ini 3-|

    BalasHapus
  10. Derita anak tunggal, tapi mau bagaimana, memang seperti itu kehidupan kita sebagai anak tunggal yang berusaha menutupi kesedihannya akan sosok seorang kakak. Salam anak tunggal dari anak tunggal

    BalasHapus
  11. Halo Meike
    setelah aku baca blog ini aku langsung nangis krna aku ngerti bgt prasaan mu krna aku juga anak tunggal dan skrg aku lagi ngalamin masa" di mana aku pingin curhat sama kk (khayalan) ku tapi syg nya aku ga punya kk 😭😭😭

    BalasHapus
  12. Perkenalkan saya indra, apa yang kamu alami sama spt aku, aku anak tunggal juga, tp aku bukan kebanyakan org yg mengatakan bahwa anak tunggal itu dimanja, karena sejak kecil aku sdh ditinggal dgn ortu untuk bekerja, yg mengasuhku sejak kecil adalah pembantuku ,ortu jarang sekali punya waktu luang untuk kumpul bersama keluarga, di masa kecil aku pun juga sering berbuat nakal sampai dihukum, setelah aku menginjak umr 17 aku merasa hdp ku sendiri dan beranjak umr 20 aku merasakan depresi , aku depresi karena kesendirian itu, beranjak umur 25 aku depresi ku bertambah menjadi psikis emosi, kadang aku merasa Boring kadang aku bisa bahagia, beranjak umur 26 aku menjadi patah arah dan patah semangat karena memang di keluarga ku jarang sekali komunikasi, sampai pada umur 27 aku ditinggal meninggal oleh ayahku , skrg aku tinggal berdua bersama ibu, namun terkadang yg ada di pikiranku aku tidak bisa menikmati hdp ini, dan sampai di umur 28 saat ini aku msh merasakan hal spt itu, terkadang jika ada tmn depresi jadi hilang..Ok itu saja cerita beban hdp anak tunggal yg aku alami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya juga menangis baca kisah ini. Mana baca nya pas lagi ada mslah gini lgi. Jam 1 pagi gini. Really really true.. perasaan anak tunggal, kesepiannya, kesedihannya, benar2 cma anak tunggal yg paham. Salam anak tunggal.

      Hapus
    2. Tetap bersandar pada Tuhan.. percayalah, Dia akan memberikan kekuatan dan memampuka kita. Dialah teman dan saudara terbaik dlm suka dan duka.
      Semangattttt...
      Salam anak tunggal

      Hapus
  13. semua anak tunggal yuk berpelukan :')

    BalasHapus
  14. saya anak tunggal..juga tidak punya ayah.apa kak meike masih punya ayah

    BalasHapus
  15. Saya jg anak tunggal sejak ,injak usia 20th ,ibu mengadopsi mailo sebagai adik saya , mailo itu anjing jepang , bertapa senang dan sedih nya aku..hikk...hik..hik..

    BalasHapus
  16. Entah ini postingan kapan aku gak fokus baca.. fokus nya sama konten nya dan sambil nangis.. aku di tahap gak kuat dan iri banget sama yg punya saudara kandung. :"( maaf kesannya childish egois or else :"(

    BalasHapus