
Seperti lazimnya sebuah surat maka kalimat "kepada yang terhormat" akan saya tulis disini. Tapi ini surat yang tak biasa. Tulisan ini bahkan tidak layak disebut surat. Tak seorang pun Pak Pos yang mau mengantarkannya.
Untuk Kakak-Kakakku,
Pertemuan kita seperti sebuah serendipity. Kalian lebih dahulu meninggalkan kampus sebelum saya masuk menjadi salah satu penghuninya. Namun, seperti Alexander Flemming yang tak sengaja menemukan penicilin, kita akhirnya bertemu dan bersama-sama merajut benang persaudaraan. Kesamaan-kesamaan kita pun terbentuk bukan karena kita sama-sama suka membaca buku atau menulis, tapi kita memang seperti yang ditulis salah satu di antara kalian dalam blognya "Klik". Saya menyukai kata itu.
Jarak membuat kita tidak leluasa bercakap-cakap. Ada keadaan dan situasi yang membuat kita harus memisahkan diri untuk tak selalu bertemu. Namun, kalian berdua tetap kakak perempuan-ku yang kutemukan ketika seluruh alam semesta berkonspirasi membuatku menangis. Rasanya ada benang merah yang mengikat kita. Dan kita pun digiringnya untuk saling bertolong-tolongan, menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Berkaca pada masing-masing pengalaman kita. Menemukan kembali diri kita.
Seperti terkena karma, Pengulangan itu kemudian terjadi kepada saya berbulan-bulan kemudian. Seorang junior juga mempercayai saya untuk menyimpan cerita atas perasaannya. Hal yang sama ketika saya melakukan itu kepada kalian. Beginikah rasanya menjadi seorang kakak?
Saya bingung harus berbuat apa. Saya hanya duduk mendengarkan ia bercerita dan melihat airmata yang mengalir di pipinya. Usapan di punggung dan kata-kata bijak menenangkan tak cukup untuk bisa menghapus kegalauan si adik di hadapanku.
Apakah kalian juga mengalami perasaan yang sama ketika berhadapan denganku Kak?
jauh....jauh sekali dulu, di saat adikmu ini masih hidup dalam dunia merah mudanya dan hinggap pada cinta yang dangkal.
PS : a letter to my sister Kak Darma dan Kak Emma *BIG HUG*

Salah satu hobi saya adalah tidur. Dalam tidur, saya bisa bermimpi tentang apa saja yang saya inginkan. Namun, ketika terbangun mimpi itu menjadi hal yang terlupakan. Cuma menyisakan kabut tipis yang lama-lama mengabur. Unfortunately, jarang sebuah mimpi bisa diwujudkan.
Agnes Monica telah menjadi buah bibir bagi rakyat Indonesia saat ini. Prestasinya sebagai entertainer semakin bertambah dengan masuknya ia sebagai nominasi dalam MTV Europe Music Award. Tidak hanya itu, ia pun menambahkan nama Michael Bolton sebagai penyanyi asing yang bekerja sama dengannya. Berita baiknya, besar kemungkinan Agnes akan mengeluarkan album berskala internasional. It means, ia akan terkenal sejagat raya. Mimpinya sebagai artis Indonesia yang go internasional segera terwujud.
Ya, mimpi.
Agnes Monica mengakui bahwa hal yang dialaminya sekarang adalah perwujudan atas mimpi-mimpinya selama ini. Kamera tidak bohong. Kita bisa melihat dengan jelas wajah Agnes yang tersenyum bahagia di antara bangga dan puas pada dirinya ketika diwawancarai infotaiment. Semuanya berawal dari mimpi. Apa iya?
Semua orang pasti memiliki impian yang ingin diwujudkan. Angan-angan yang hidup dalam dunia imajinasi kita. Agnes Monica sama seperti kita, sama-sama punya mimpi yang ingin diwujudkan. Lalu, bagaimana cara mewujudkan mimpi itu?
Sebagian orang-orang yang membaca buku The Alchemist karangan Paulo Coelho mengesahkan bahwa mimpi adalah kunci kesuksesan seseorang. Tapi saya tidak sependapat dengan mereka. The Alchemist tidak menempatkan mimpi sebagai kunci kesuksesan. Paulo Coelho berbicara tentang keyakinan. Dan keyakinan adalah kunci keberhasilan seseorang. Bukannya mimpi. Memang semuanya berasal dari mimpi. Namun, manusia lupa, mimpi bukanlah apa-apa dan tidak penting tanpa keyakinan.
Saya bersyukur bahwa Ibu mendidik saya bukan sebagai orang yang AMBISIUS melainkan orang yang penuh dengan KEYAKINAN. Keyakinan tidak bisa dibangun dalam satu malam tapi dia selalu muncul seperti ketika kita menemukan jarum di antara setumpuk jerami.
Ambisius bukanlah pupuk untuk membuat mimpi menjadi kenyataan. Orang-orang yang ambisius akan melakukan apapun, menghalalkan segala cara agar mimpinya terwujud. Tentu saja ada usaha disana, sebuah tindakan. Orang Yunani menyebutnya Homo Homini Lupus, ketika manusia bisa menjadi serigala bagi manusia yang lainnya. Ambisius menjadikan orang melukai sekitarnya atau bahkan dirinya sendiri. Sedihnya, orang-orang yang ambisius tidak menyadari dampak dari apa yang dilakukannya. Saya banyak menemui orang-orang seperti itu dan cara-cara yang mereka lakukan memang menyeramkan.
Kita tidak perlu menjadi orang yang ambisius untuk mewujudkan mimpi kita. Kita perlu keyakinan, agar mimpi-mimpi kita terwujud. Dasar dari keyakinan adalah percaya. Petrus tidak mungkin bisa berjalan di atas air laut jika ia tidak percaya pada Yesus. Bunda Teresa tidak perlu bersusah payah merawat kaum papa jika ia tidak yakin bahwa inilah tugas yang diberikan Tuhan padanya. Joan of Arc tidak mungkin memimpin pasukan perang dan kemudian menyerahkan dirinya untuk digantung kalau bukan karena keyakinan.
Keyakinan adalah pupuk untuk menyuburkan mimpi. Keyakinan adalah air yang menumbuhkan harapan. Keyakinan adalah bibit dari keberanian. Keberanian adalah amphetamine bagi tindakan. Tindakan adalah cara untuk mewujudkan impian. Begitulah cara Santiago membuat orang-orang di padang pasir takjub dan menemukan harta karunnya. Bukan di gurun, tapi di dekat tempat tinggalnya. Dekat dengan dirinya. Hatinya sendiri.
dengan penuh keyakinan,
Meike Lusye Karolus

Roma wasn't built in a day, Roma tidak dibangun dalam semalam. Berawal dari legenda kakak-beradik Remus dan Romulus, Roma akhirnya menjadi kekaisaran yang masyur. Ia menjadi Imperium yang menyatukan seluruh dunia di bawah kakinya.
Saya menyebutnya Rumah. Saya ingat ketika pertama kali datang kesana. Saya tidak boleh sembarangan masuk. Ada banyak penghuni lama selama 2 dekade ia berdiri. Mereka semua menyebutnya juga Rumah. Ada pula yang menganggapnya lebih dari sekedar Rumah.
Sejak masih berdiri di pintu pagarnya sampai sah menjadi penghuni baru, saya dibesarkan, dididik, dan ditempa hingga bisa menjadi seperti saya yang sekarang. Disana pun saya mendapatkann saudara-saudara yang tidak pernah saya miliki. Cinta saya pun berlabuh di Rumah itu, pada salah satu penghuninya.
Tahun-tahun yang dilewati penuh dengan kerikil tajam yang menusuk. Saya dan saudara-saudara saya yang lain dapat bertahan. Kami mencintai Rumah kami. Hingga akhirnya masa itu menghampiri kami. Kehadiran penghuni-penghuni baru yang membuat Rumah kami semakin berwarna. Semua penghuni sepakat itu adalah sebuah proses alami dari pembentukan regenerasi.
Namun, Rumah tetaplah rumah. Ia bisa saja rusak oleh lumut, jamur, atau udara yang lembab. Ngengat atau rayap yang bisa mengikis perabotannya hingga rusak. Rumah juga bisa dilempar dengan batu dari luar. Itu dapat merusak jendelanya atau menghancurkan pintunya. Sebagai penghuni, tentu tidak akan ada yang tinggal diam. Para penghuni tidak akan mau melihat Rumahnya dirusak, dari dalam maupun dari luar. Selalu ada tindakan untuk mencegah maupun mengatasi hal itu.
Kini, saya harus mengambil keputusan itu. Rumah itu harus saya bersihkan dari rayap dan jamur yang merusaknya. Penghuni yang lain tak mengerti. Upaya itu dianggapnya menyimpang. Namun, saya tidak mau melihat Rumah saya seperti Roma. Hancur dalam semalam dan kemudian menjadi legenda.
No one to blame...
Cintaku kepada Rumah ini bukanlah cinta buta. Saya juga bukanlah Sapardi Djokko Damono yang ingin mencintainya dengan cara yang sederhana. Saya mencintai Rumah ini dengan cara yang berbeda. Biarkan saya memilih dengan tegas warna Biru dan Merah di dalamnya.
This is my way...
Karena seperti Mesias, ia memang tidak diterima di kerajaannya sendiri.

Kebanyakan orang Indonesia melihat fenomena hidup serumah sebelum menikah sebagai tindakan berani yang mengundang komentar sarkastik plus nyinyir. Orang Indonesia kebanyakan ini lalu mulai mengagung-agungkan budaya timur dan memandang rendah budaya barat yang tidak memusingkan itu sebagai tindakan tak bermoral.
Orang Timur melegitimasi bahwa hanya pasangan suami-istri yang boleh serumah, selain itu big No. Sebaliknya, Orang barat menjunjung tinggi kebebasan individu termasuk urusan seks maupun remeh temeh pernikahan. Akibatnya, kebanyakan kita selalu hidup dengan berpegang “apa kata orang nanti” ketimbang “ini adalah pilihan saya.”
Ketika Steve Emmanuel memutuskan hidup serumah dengan Andi Soraya tanpa pernikahan dan dari hubungan mereka menghasilkan anak, kebanyakan orang Indonesia memandang sinis hal itu karena tidak sesuai dengan norma yang ada dalam masyrakat kita. Sedangkan di luar negeri, Jhonny Deep dan pacarnya penyanyi Perancis, Vannesa Paradis sudah hidup bersama selama bertahun-tahun dan tentu saja sudah dikaruniai anak. Perlu dicatat, Jhonny Deep dan Vanessa Paradis bukan satu-satunya pasangan yang memutuskan menjalani kehidupan seperti itu.Di beberapa negara Barat bahkan ada yang memiliki peraturan untuk mengharuskan warganya tinggal serumah selama setahun sebelum menikah.
Indonesia sendiri walaupun mengenakan "label-label" tertentu ternyata memiliki penduduk yang juga melakukan *shamenlaven ( istilah ini saya dapat dari Tante saya yang artinya hidup serumah, entah ini bahasa Belanda atau istilah gaul zaman dia masih ABG) . Fenomena ini pun muncul bukan pada masa millennium maupun globalisasi yang selalu dijadikan kambing hitam. Fakta membuktikan, dari sejak zaman batu pun, shamenlaven sudah banyak dilakukan orang. Ada beberapa di antaranya berakhir pada lembaga perkawinan namun tak sedikit yang berpisah tanpa memiliki kekuatan hukum.
Menurut saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan hubungan shamenlaven terjadi.
- Hubungan yang tidak direstui
- Perbedaan Keyakinan
- Faktor Emosi
- Takut kepada Lembaga Pernikahan
Berlandaskan faktor-faktor ini akhirnya hubungan serumah tapi tak nikah dapat terjadi.
Lalu, apa keuntungan orang melakukan shamenlaven?
Bumi tempat kita berpijak memang hanya berputar pada satu titik tetapi manusia adalah makhluk yang dinamis dengan kehidupan yang nomaden, intinya manusia manusia perlu diikat. Ikatan dapat membuat manusia berkompromi dengan partner-nya, bertanggung jawab, dan sesekali mutlak melakukan negosiasi. Orang-orang yang membenci ikatan akan bergembira dengan kehidupan shamenlaven ini. Mereka melakukan kegiatan ala pasangan suami istri berlandaskan kesepakan bersama. Prinsipnya sama seperti judul lagunya Air Supply, “Goodbye”.
Hal di atas ternyata bertentangan dengan apa yang menjadi cita-cita masa kecil kita. Khususnya kebanyakan perempuan tetap akan memimpikan pernikahan ala negeri dongeng. Selain itu, hubungan shamenlaven tidak memiliki kepastian dan jaminan hukum. Mulai dari harta gono-gini sampai yang terpenting masa depan anak yang lahir tanpa akta kelahiran.
Dalam berbagai kepercayaan, dipercaya Tuhan adalah penemu konsep perkawinan/pernikahan. Jadi, bagaimana mungkin anda menikah tanpa disaksikan Tuhan? Angelina Jolie dan Brad Pitt adalah contoh pasangan shamenlaven yang akhirnya memutuskan menikah. Brad Pitt pernah mengatakan,’ saya tidak butuh secarik surat untuk melegalkan hubungan kami.” Belakangan yang terjadi mereka kemudian menikah. Entah ini berkaitan kesejahteraan mereka atau ada hal lain. Di Indonesia sendiri, hubungan shamenlaven lebih merugikan perempuan. Secara mental maupun fisik. Tentus saja di mata masyrakat, tanggapan miring lebih menyerang kepada perempuan ketimbang laki-laki. Disinilah berlaku pameo sarkastis “Laki-Laki tidak ada bekasnya, perempuan itu kentara…”
Well, tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi orang-orang yang melakukan hubungan serumah tapi tak nikah. Tidak menyinggung pihak-pihak tertentu yang sudah atau belum melakukannya. Hubungan serumah tapi tak nikah ini akan menjadi buruk atau baik tergantung siapa yang menjalaninya. Apapun yang anda alami sekarang atau nanti tergantung pada pilihan anda.
Tanggapan mereka melalui Twitter mengenai hubungan serumah tapi tak nikah :





Kamu selalu bilang bahwa setiap pertanyaan berhak mendapatkan jawaban. Lalu, bagaimana dengan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban? Atau nasib pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya?
Ketika kutanyakan hal itu padamu, kamu hanya bilang bahwa itu adalah soal waktu. Hmm...saya kesal setiap kali mendengar kata waktu. Kesal karena waktu begitu tak bisa dibendung. Kesal dengan waktu yang penuh misteri. Ah...saya hanya gadis 20 tahun yang tidak tertarik menjadi orang ke-19 yang mengerti tentang Teori Relativitas Einstein sehingga saya bisa membedah masalah waktu.
Namun waktu sungguh terasa kejam bagi kita akhir-akhir ini. Bukan hanya penuh misteri namun juga berisi siksaan. Siksaan yang membuat banyak orang membenci kata "Sabar" seperti yang kadang-kadang saya alami.
Tentu saya bukan orang suci yang mencintai kata "sabar". Tentu saya juga bukan manusia tanpa cela dan dosa yang tahan dengan kata "sabar". Ketika keadaan tidak sejalan dengan yang diinginkan, maka kata "sabar" adalah kata yang ingin saya hapus dari muka bumi ini.
Jika "sabar" sebegitu dibenci, mengapa ia harus ada? Mengapa para ahli bahasa tidak menghapusnya dari frasa bahasa umat manusia?
Lalu, dengan pengetahuan yang didapat selama 20 tahun, saya menyimpulkan bahwa "sabar" serupa palang kereta api, garis kuning polisi, tali pembatas pada antrian, atau pola pembatas pada sulaman.
Apa jadinya manusia tanpa palang kereta api yang menutup jalan ketika kereta api lewat dan membuka lagi ketika kereta api sudah berlalu? Kita pun tak berani mendekat pada Garis Kuning Polisi untuk memberi batasan akan sesuatu yang masih kurang jelas. Tali Pembatas pada antrian untuk menegaskan aturan agar sebuah barisan terlihat rapi dan teratur. Dan apa jadinya sebuah sulaman tanpa Pola Pembatas?
"Sabar" membuat kita tidak jatuh dalam bahaya. "Sabar" membuat kita awas terhadap sebuah situasi. "Sabar" membuat kita tetap berada dalam aturan Yang Kuasa. "Sabar" memberi kita petunjuk dalam mengambil keputusan yang tepat. "Sabar" ternyata memiliki guna yang tidak dapat disangkal.
Dalam waktu yang tak bisa dibendung, "Sabar" selalu setia mengiringi. Kedua hal ini membentuk persahabatan yang aneh sekaligus ajaib dalam hidup manusia. Dalam hidup aku dan kamu.
PS: ketika untuk menggunakan laptop terasa malas, syukurlah HP qwerty saya bisa dipakai untuk nge-blog...^^