Jam

Senin, Januari 04, 2021

Saya punya semacam ketertarikan khusus pada jam. Terinspirasi film Hugo, yang punya kutipan terkenal tentang dunia yang seperti mesin dan bagaimana kita -sekecil apapun peran kita- adalah penting agar "mesin" dunia bekerja, saya jadi suka ke toko jam hanya untuk mengamati ahli jam memperbaiki jam-jam rusak. Entah mengapa jam saya juga suka rusak. Di momen itulah, saya menikmati pemandangan asyik disana. Betapa lincahnya jari-jari para ahli jam itu memukul, menarik, mengunci, mengganti, dan memotong baut-baut, baterai, atau tali-tali jam. Mesin jam ternyata rumit. Salah atur bisa membuat jamnya terlalu cepat atau terlalu lambat. Ketepatan membuat jam mekanik begitu mempesona. Ada sih jam digital. Sungguh canggih. Tapi, saya lebih suka mendengar suara detak jarum jam. Well, what can I say? I'm just an old fashioned girl. Jam mekanik itu ada iramanya. Ada temponya. Teratur seperti derap kaki kuda atau langkah prajurit yang baris-berbaris.

Saya juga suka melihat jam, menunggu ia bergeser dari detik ke menit, menit ke jam. Gara-gara nonton film Soul kemarin jadi kembali memikirkan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Hidup dengan merasakan hidup itu setiap waktunya. Tidak perlu mengkhwatirkan apa yang akan dihadapi di depan sana. Film ini awalnya biasa saja pas ditonton, tapi pas selesai justru bikin penonton terhenyak. Kadang-kadang kita suka tidak sabaran melewati hari demi hari. Menunggu dengan harap-harap cemas. Ada jenis sakit yang obatnya memang hanya pelukan. Ada jenis sakit yang obatnya hanya cuma ketemuan saja. Ada jenis sakit yang obatnya cuma dengan pesan singkat saja dari dia yang dirindu. 

Ahhh...kangen ini tidak tahu malu. Ia juga membuat waktu berjalan lambat sekaligus berjalan cepat. 

You Might Also Like

0 comments